Anda di halaman 1dari 28

1.

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Indonesia sebagai negara berkembang agraris semestinya
mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan dan meningkatkan kualitas
sumber daya manusia (SDM) yang menunjang sistem tersebut. Peningkatan
SDM tidak hanya dibatasi peningkatan produktivitas petani. Namun, juga
peningkatan kemampuan petani untuk lebih berperan dalam proses
pembangunan. Persoalan krusial dalam peningkatan SDM adalah rendahnya
partisipasi petani dalam pengambilan keputusan pembangunan pertanian. Hal ini
antara lain disebabkan oleh tidak adanya suatu organisasi yang memiliki
kekuatan politik untuk memperjuangkan kepentingan petani di forum nasional di
negara berkembang.
Peningkatan SDM selain berkaitan dengan peningkatan produktivitas petani
juga diarahkan pada peningkatan partisipasi politik petani dalam setiap
proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka melalui
organisasi petani. Revitasilasi kinerja kelembagaan dan penyuluhan pertanian
yang aktif akan memberikan kontribusi positif bagi peningkatan SDM pertanian.
Selain itu pemberian ruang yang cukup untuk sektor swasta melalui privatisasi
penyuluhan juga akan mendorong terciptanya penyediaan layanan informasi
pertanian yang lebih kompetitif, efisien, dan efektif.
Lingkungan strategis mencakup lingkungan dan mekanisme produksi,
ekonomi, sosial, dan ekologi. Terkait mekanisme produksi pemberdayaan
semestinya mendorong petani agar mampu memanfaatkan sumber daya
produksi yang dimilikinya sehingga mampu berproduksi secara efisien dan
menjamin pemenuhan pangan serta memperoleh surplus yang dapat
dipasarkan. Masyarakat umumnya memiliki institusi lokal yang sebenarnya
dapat dikaitkan dengan usaha-usaha kerja sama produktif. Gerakan
Kebangkitan Petani hadir untuk pemberdayaan organisasi petani dan peningkatan
wawasan dan keterampilan petani agar efektif dan dapat berlangsung dalam
kurun waktu yang terus menerus

1
Melalui koperasi petani dapat memperbaiki posisi rebut tawar mereka baik
dalam memasarkan hasil produksi maupun dalam pengadaan input produksi
yang dibutuhkan. Posisi rebut tawar (bargaining power) ini bahkan dapat
berkembang menjadi kekuatan penyeimbang (countervailing power) dari
berbagai ketidakadilan pasar yang dihadapi para petani. Dalam hal
mekanisme pasar tidak menjamin terciptanya keadilan, koperasi dapat
mengupayakan pembukaan pasar baru bagi produk anggotanya. Pada sisi lain
koperasi dapat memberikan akses kepada anggotanya terahadap berbagai
penggunaan faktor produksi dan jasa yang tidak ditawarkan pasar.
Dengan bergabung dalam koperasi, para petani dapat lebih mudah
melakukan penyesuaian produksinya melalui pengolahan paska panen
sehubungan dengan perubahan permintaan pasar. Pada gilirannya hal ini
akan memperbaiki efisiensi pemasaran yang memberikan manfaat bagi kedua
belah pihak, dan bahkan kepada masyarakat umum maupun perekonomian
nasional. Dengan penyatuan sumberdaya para petani dalam sebuah koperasi,
para petani lebih mudah dalam menangani risiko yang melekat pada produksi
pertanian, seperti: pengaruh iklim, heterogenitas kualitas produksi dan
sebaran daerah produksi.
Dalam wadah organisasi koperasi, para petani lebih mudah berinteraksi
secara positif terkait dalam proses pembelajaran guna meningkatkan kualitas
SDM mereka. Koperasi sendiri memiliki misi khusus dalam pendidikan bagi
anggotanya. Koperasi atau Kelompok tani merupakan salah satu struktur
kelembagaan yang cukup penting di masa sekarang dan yang akan datang,
dalam upaya pemberdayaan petani dan pemasaran komoditas yang dihasilkan
di wilayahnya, sekaligus menjadi kelembagaan pertanian yang dapat
memberikan jaminan kepastian harga produk pertanian, sehingga harga yang
diterima dapat menguntungkan petani. Bergabungnya petani dalam
kelembagaan koperasi akan menguatkan institusi tersebut sebagai lembaga
perekonomian pedesaan, dimana anggotanya akan memiliki posisi tawar yang
kuat untuk dapat memasarkan hasil pertaniannya, sehingga kesejahteraan
petani mengalami peningkatan hal ini diakibatkan naiknya pendapatan petani

2
yang tergabung dalam kelompok tani atau koperasi. Maka dapat disimpulkan,
bahwa salah satu bentuk kelembagaan yang ideal di pedesaan adalah
koperasi atau kelompok tani, dimana tujuan awal pembentukan dari
koperasi/kelompok tani ini adalah untuk meningkatkan produksi pertanian dan
meningkatkan kesejahteraan petani. Pemberdayaan petani dalam
kelembagaan koperasi, merupakan suatu bentuk alternatif dari model
pembangunan masyarakat pedesaan untuk dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat yang sebagian besar bermatapencarian sebagai
petani/buruh tani. Koperasi dalam hal ini memberikan jaminan keuntungan
bagi anggota baik dari segi sosial dan ekonomi, selain itu yang utama adalah
peningkatan posisi tawar petani dapat ditingkatkan sehingga mereka
mempunyai kekuatan untuk 'menentukan' harga produk pertaniannya.
Disamping itu, koperasi dalam jangka panjang akan memberikan pengetahuan
dan pendidikan yang akan membangun petani-petani yang berorientasi pasar,
serta dengan koperasi juga akan membangun petani dan masyarakat
pedesaan yang memiliki kualitas sumberdaya manusia unggulan yang
mencakup pada peningkatan ke-ahli-an dan keterampilan (bisnis dan
organisasi), pengetahuan, dan pengembangan jiwa kewirausahaan petani itu
sendiri. Sehingga dengan demikian, pemberdayaan ekonomi lokal yang
berbasis pada pembangunan pertanian di perdesaan dapat berjalan dengan
baik.

1.2 Profil Usaha

Nama : “Koperasi Tani Harja”


Alamat : Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Bali
No. Telepon : (0361) 97002000

3
1.3 Visi & Misi
A. Visi
Terwujudnya petani yang mandiri dan sejahtera serta kemakmuran
desa. Tercapainya pelestarian lingkungan hidup dalam rangka
mendukung tujuan pembangunan nasional.
B. Misi
1) Menghimpun potensi berbagai pihak terkait dengan pertanian
organik meliputi : birokrat/pemerintahan, peneliti/pakar, pengusaha,
organisasi kemasyarakatan dan petani, untuk mensukseskan program
pembangunan pertanian berbasis organik.
2) Membina kerja sama yang saling menguntungkan di antara berbagai
pihak yang terkait dengan pertanian organic.
3) Membantu Pemerintah dalam menyelamatkan lahan dan
mensukseskan pembangunan pertanian dalam rangka mensejah-
terakan masyarakat tani melalui sistem pertanian organic.

2. Organisasi & Manajemen


2.1 Struktur Organisasi dan Kepengurusan Koperasi
Organisasi diartikan sebagai suatu kumpulan orang- orang yang
bekerjasama yang ditempatkan dalam suatu bagian untuk mencapai suatu
tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dan setiap perusahaan dalam
aktivitas usahanya agar berkembang dengan baik adalah membutuhkan
struktur organisasi yang baik pula. Organisasi yang baik tersebut
bertujuan untuk mengatur orang-orang yang bekerja di dalamnya, angka
struktur organisasi yang efesien adalah jika memudahkan mencapai
tujuan organisasi.
Struktur organisasi bukan sekedar untuk menunjukkan bentuk atau
tipe organisasi melainkan perwujudan hubungan antara fungsi fungsi
wewenang dan tanggung jawab orang-orang yang diberi tugas dan
tanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas tersebut. Dalam

4
menentukan struktur organisasi antara perusahaan yang satu dengan
perusahaan yang lain akan berbeda karena ini sesuai dengan kondisi atau
tipe dari garis wewenang yang telah ditetapkan oelh perusahaan. Dengan
adanya struktur organisasi maka setiap personil yang memiliki jabatan
pada posisi tertentu akan dapat mengetahui tugas dan tanggung
jawabnya, serta kepada siapa ia harus melimpahkan wewenangnya agar
pekerjaan tersebut lebih mudah dikerjakan.
Koperasi sebagai kumpulan dari orang- orang untuk mendirikan
badan usaha berdasrkan kesepakatan, mutlak memiliki satu organisasi
yang kuat demi menopang tumbuh dan berkembangnya koperasi.
Organisasi koperasi ini bersifat terpadu, sehingga satu bagian dengan
bagian lain saling berhubungan dengan pembagian kerja dan fungsi yang
jelas. Mencerminkan satu kehidupan ekonomi yang dilakukan
berdasarkan usaha bersama dengn asas kekeluargaan.
Disetiap koperasi selalu ada organisasi yang terdiri dari:
1. Rapat anggota
2. Pengurus
3. Pengawas
4. Manajer

Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi dalam tubuh


koperasi. Sesuai dengan undang-undang maka rapat anggota memiliki
beberapa tugas khusus untuk menentukan banyak hal seperti : AD/ART,
kebijakan umum koperasi, pemilihan dan pengangkatan baik pengurus
maupun pengawas, membuat perencanaan dan mengesahkan laporan,
pembagian SHU dan beberapa bentuk perubahan organisasi koperasi
Pengurus adalah orang – orang profesional yang bisa ditunjuk dari dalam
anggota maupun dari luar anggota yang dipandang memiliki kemampuan
manajemen untuk mengelola manajemen untuk mengelola koperasi
beserta seluruh badan usahanya. Dalam tugasnya mereka akan diawasi

5
oleh badan pengawas sebagai perpanjangan tangan dari kekuasaan rapat
anggota.
Dari struktur organisasi Koperasi Tani Harja dapat diuraikan tugas
dan wewenang masing- masing fungsi adalah sebagai berikut :
1) Rapat Anggota Tahunan
Rapat anggota tahunan merupakan pemegang kekuasaan tertinggi
dalam tata kehidupan koperasi, yang mempunyai fungsi :
a. Menetapkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga
koperasi
b. Menetapkan kebijaksanaan umum koperasi.
c. Memilih, mengangkat dan memberhentikan badan pemeriksa dan
pengurus.
d. Menetapkan dan mengesahkan rencana kerja dan rencana
anggaran belanja koperasi serta kebijaksanaan pengurus dalam
bidang organisasi dan usaha koperasi.
2) Pengurus Organisasi
Dengan memperhatikan pasal 22 UU No. 25 tahun 1992, maka
pengurus koperasi sedikitnya terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan
Bendahara, dipilih dari anggota dalam suatu rapat anggota dan
jumlahnya sesuai dengan ketentuan dalam anggaran dasar dan
anggaran rumah tangga koperasi. Fungsi pengurus adalah atas
nama koperasi dalam hubungannya dengan pihak ketiga atau pihak
luar sesuai dengan keputusan rapat anggota dengan anggaran
dasar dan anggaran rumah tangga. Masa kepengurusan Koperasi
Tani Harja adalah lima tahun , yaitu sebagai berikut:
Ketua : Pande Putu Gayatri Maharani
Sekretaris : Putu Cindy Arintya Ardana
Bendahara : Putu Adhisty Prajna Putri
a. Ketua, Tugas ketua antara lain:
a) Memimpin dan mengawasi serta mengkoordinir pelaksana
tugas anggota, pengurus dan karywan.

6
b) Memimpin rapa pengurus dan rapat anggota, memberikan
laporan pertanggung jawaban kepada rapat anggota
c) Memberikan keputusan akhir dalam kepengurusan koperasi
dengan memperhatikan usul atau saran dari pemegang fungsi
dibawahnya seperti sekretaris, bendahara dan manajer.
d) Mengesahkan semua surat-surat, meliputi kegiatan organisasi
keluar maupun kedalam dan dilakukan bersama- sama.
b. Sekretaris, tugas sekretaris antara lain:
a) Menyelenggarakan dan memelihara buku- buku oraganisasi.
b) Menyelenggarakan surat masuk maupun surat keluar dibidang
organisasi.
c) Mengadakan hubungan kerja dengan bendahara dalam hal
yang saling berkaitan.
c. Bendahara, tugas bendahara antara lain:
a) Membuat buku besar seperti buku kas, buku bank, buku
piutang, buku besar pembantu dan buku besar lainnya.
b) Membuat neraca lajur, perhitungan SHU, perbandingan serta
perincian pembagian SHU menurut perbandingan simpanan
anggota.
c) Mencari permodalan baik dari luar maupun dari dalam serta
mengatur dan mengawasi penggunaan dana sesuai dengan
anggaran.
3) Badan Pengawas
Badan pengawas berfungsi sebagai pengawas keseluruhan
kehidupan koperasi meliputi organisasi dan usaha serta
pelaksanaan kebijaksanaan pengurus.
Tugas badan pengawas adalah sebagai berikut :
a) Mengawasi semua kebijaksanaan operasional pengurus
yang meliputi bidang- bidang organisasi, usaha dan
keuangan koperasi.

7
b) Memeriksa dan menilai pelaksanaan kegiatan organisasi
usaha dan keuangan serta memberikan pendapat dan
saran perbaikan.
c) Memeriksa, meneliti ketetapan dan kebenaran catatan-
catatan atau buku-buku organisasi, usaha dan administrasi
keuangan serta membandingkan dengan kenyataan yang
ada seperti keadaan keuangan, persediaan barang serta
semua harta kekayaan koperasi.
d) Membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya
dan disampaikan kepada pengurus dengan tembusan
kepada pemerintah.
4) Manajer
Kekuasaan yang dipegang oleh manajer koperasi di bawah
kendali pertemuan anggota. Mandat Dewan yang hanya dipilih,
diangkat dan diberhentikan oleh anggota. Dewan harus
membuat kebijakan yang tidak menyimpang dari Konstitusi dan
Anggaran Rumah Tangga keputusan pertemuan anggota lain
pada akhir masa jabatannya dan bertanggung jawab atas
pekerjaan mereka kepada anggota.
Tugas dan wewenang manajer koperasi:
a. Kedudukan dan fungsi sebagai pelaksana di bidang usaha
dan bertanggung jawab pada pengurus koperasi
b. Sebagai pelaksana dari kebijakan pengurus
c. Menetapkan struktur organisasi dan manajemen koperasi
serta menjamin kelangsungan usaha
d. Dapat bekerja terus selama tidak bertentangan dengan
anggaran dasar dan rapat anggota
e. Mengembangkan percaya atas kekuatan dan kemampuan
koperasi sendiri dalam kegiatan-kegiatan.

8
Bagan Struktur Organisasi Koperasi Tani Harja

RAPAT ANGGOTA

BADAN PENGURUS
PENGAWAS KOPERASI

MANAJER

UNIT USAHA

3. Aspek Pasar
3.1 Target Pasar
Target pasar kami jelas yaitu ingin mensuplai beras ke lingkungan industri
bisnis makanan dan konsumen langsung yang berada di wilayah Bali.
Berikut ini target yang ingin kami capai di tahun 2020:
1. Industri Bisnis
Kami mensuplai beras ke industri bisnis yang berhubungan dengan
makanan dimana membutuhkan pasokan beras dalam jumlah besar.
Industri bisnis itu seperti :
a. Perhotelan
b. Restoran /Café
c. Rumah sakit
d. Jasa Katering
2. Perusahaan / Perumahan
Kami juga tertarik untuk menyalurkan beras organik kepada Perusahaan
yang memiliki alokasi dana untuk pembelian beras bagi para karyawan /
pegawainya. Dengan suplai beras organik maka kegiatan ini bisa

9
dijadikan alat / model tunjangan perusahaan kepada para karyawannya.
Kami juga siap melakukan penjualan ke lingkungan Perumahan yang mana
bisa diorganisir dengan baik pasokan beras kepada seluruh penghuni di
Perumahan tersebut

4. Aspek Produksi
Potensi sosial ekonomi yang merupakan kekuatan sekaligus modal dasar bagi
pengembangan produksi padi di Indonesia antara lain adalah: (i) beras
merupakan bahan pangan pokok bagi 95 persen penduduk Indonesia, (ii)
usahatani padi sudah merupakan bagian hidup dari petani di Indonesia sehingga
menciptakan lapangan kerja yang besar, dan (iii) kontribusi dari usaha tani padi
terhadap pendapatan rumah tangga petani cukup besar. Sebagai bahan makanan
pokok, beras akan terus mempunyai permintaan pasar yang meningkat, sejalan
dengan pertumbuhan penduduk. Dari sisi petani, selama ada cukup air, petani di
Indonesia hampir bisa dipastikan menanam padi. Karena bertanam padi sudah
menjadi bagian hidupnya, selain karena untuk ketahanan pangan keluarga, juga
sebagai sumber pendapatan rumah tangga
4.1 Produk
Kebiasaan mengkonsumsi beras organik adalah sebuah kebiasaan yang
bijaksana karena akan mengurangi kadar urea dalam darah yang selama
ini telah menumpuk karena kebiasaan mengkonsumsi beras yang dipupuk
dengan urea. Selainya itu juga mengurangi kadar logam berat dalam darah
karena penggunaan insektisida kimiawi. Hal inilah yang dapat mencegah kita
terserang berbagai macam penyakit modern berbahaya yang pada dasa
warsa terakhir ini banyak diderita masyarakat. Oleh karenanya dengan
kebiasaan mengkonsumsi beras organik anda telah meningkatkan standar
kesehatan tubuh anda sekeluarga. Hal tersebut merupakan dampak positif
dari menyajikan harum nasi pulen di meja makan keluarga anda. Adapun
varietas yang dikembangkan oleh Koperasi Tani Harja antara lain :
a. Varietas Batang Lembang

10
Spesifikasi : Butiran panjang, tidak aromatik / tidak wangi, pulen.
Keunggulan : Aman dikonsumsi penderita diabet karena indeks
glikemiknya rendah, hanya 54 (disebut beras sehat). Beras dengan indeks
glikemik > 70 tidak aman dikonsumsi penderita diabet; ditanam dengan
menggunakan pupuk organik cair tanpa pupuk unorganik sehingga beras
yang dihasilkan benar-benar bebas bahan kimia; tekstur berasnya pulen
tida pero sehingga mudah dicerna.
b. Varietas Mentik Susu
Spesifikasi : Butiran bulat kecil, aromatik / wangi, warna beras putih seperti
susu, pulen.
Keunggulan : aroma beras wangi; tekstur berasnya pulen mudah dicerna;
ditanam dengan menggunakan pupuk organik cair tanpa pupuk unorganik
sehingga beras yang dihasilkan benar-benar bebas bahan kimia.
c. Varietas Sintanur
Spesifikasi : Butiran bulat sedang, aromatik / wangi, pulen. Keunggulan
: Kadar amilosa 18%, indeks glikemik 91, aroma beras wangi akan
bertambah wangi saat dimasak sehingga menimbulkan selera makan;
ditanam dengan menggunakan pupuk organik cair tanpa pupuk unorganik
sehingga beras yang dihasilkan benar-benar bebas bahan kimia
d. Beras Hitam Organik
Dari sisi khasiat gizi ternyata pigmen beras yang berwarna hitam
mempunyai khasiat paling baik dibanding beras organik warna lainnya.
Beras organik warna hitam sangat berbeda dibanding ketan hitam, baik rasa,
aroma maupun penampilannya. Sangat spesifik dan unik. Bila sudah
dimasak beras organik warna hitam warnanya benar-benar hitam
pekat. Rasanya enak dan aromanya menimbulkan selera makan.
Menurut penelitian para ahli, beras hitam memiliki khasiat sebagai
berikut :
a) Meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit.
b) Memperbaiki kerusakan sel hati (hepatitis dan chirrosis).
c) Mencegah gangguan fungsiginjal.

11
d) Mencegah kanker dan tumor.
e) Memperlambat penuaan.
f) Membersihkan kolesterol dalam darah.
g) Mencegah anemia.
h) Dapat menetralkan lemak jahat (LDL)
e. Beras Merah Organik
Berikut adalah keunggulan dan manfaat dari beras organik warna merah:
a) Mencegah sembelit.
b) Baik untuk diet.
c) Mencegah berbagai penyakit saluran pencernaan.
d) Meningkatkan perkembangan otak.
e) Menurunkan kolesterol darah.
f) Mencegah kanker dan penyakit degenaratif.
g) Menyehatkan jantung.
h) Memiliki kandungan vitamin B1 dan mineral lebih tinggi dari pada
beras putih.
i) Mengandung lebih banyak magnesium, yang sangat baik untuk
kesehatan kardiovaskular (jantung).
j) Kaya akan fiber dan asam lemak. Kandungan fibernya yang tinggi
dapat mencegah sembelit, sehingga memperlencar pencernaan.
Sedangkan kandungan fiber yang tinggi juga membuat anda lebih
kenyang dan tidak mudah lapar.
k) Kaya akan asam amino.
l) Salah satu cara memasak beras merah yang diketahui adalah
dengan tehnik Gamma Aminobtyric Acid (GABA) atau Germinated
Brown Rice (GBR) yang dapat meningkatkan hormon
pertumbuhan pada manusia.
m) Dapat mengikat lemak jahat

12
4.2 Proses Produksi
1) Persyaratan Lahan
Lahan hendaknya merupakan bekas tanaman lain atau lahan yang
diberakan, dapat bekas tanaman padi. Ketinggian lahan disesuaikan
dengan daya adaptasi varietas tanaman yaitu antara 200 m dpl sampai
dengan 1.200 m dpl. Varietas padi organik yang dikembangkan oleh
Koperasi Tani Harja umumnya mampu beradaptasi di dataran rendah
dengan catatan kualitas air pada instalasi pengairan belum tercemar
oleh limbah industri. Syarat lain adalah lahan relatif subur dengan Ph
5,4-6, dan memiliki lapisan keras sedalam 30 cm agar sawah tidak lekas
kering. Ditanam pada lahan yang jauh dari kandungan residu, dan
menggunakan aliran sungai dari pegunungan.
2) Perbenihan
Benih sumber yang digunakan hendaknya dari kelas yang lebih
tinggi. Kebutuhan benih sumber per hektar diperkirakan sebanyak 20 kg
benih penjenis untuk menghasilkan benih dasar, 25 kg benih dasar untuk
menghasilkan benih pokok; dan 25 kg benih pokok untuk
menghasilkan benih sebar. Varietas yang dikembangkan oleh Koperasi
Tani Harja antara lain; Long Grain, Sintanur, Mentik Susu, Beras Merah,
dan Beras Hitam. Juga memperhatikan pula aspek kecocokan lahan,
umur tanaman, dan ketahanan terhadap hama serta penyakit.
3) Penyemaian
Ukuran bedeng pesemaian umumnya 5% dari luas lahan
penanaman. Misalnya, lahan penanaman direncanakan seluas satu hektar
maka bedengan persemaian yang diperlukan sekitar 500m2
4) Pasacapanen
Pemanenan padi untuk benih dilakukan setelah padi maksimal
menguning. Waktu panen ditentukan jika umur berbunga telah
mencapai optimal.
5) Perlakuan Pasca Panen

13
Padi yang telah dipanen masih ada beberapa tahap perlakukan
agar siap didistribusikan kepada konsumen. Perlakuan tersebut antara
lain perontokan, pengeringan, penggilingan, pengelupasan, penyortiran
untuk mencapai kualitas beras kepala, pengepakan dan vacuum.

5. Aspek Keuangan
5.1 Sumber Pendanaan
Dalam upaya pengembangan budidaya beras organik, Koperasi Tani Harja
melakukan suatu strategi dan rencana bisnis, salah satu strategi itu adalah
strategi pembiayaan. Terdapat empat kelompok besar sumber pendanaan
1. Dana internal : merupakan dana yang berasal dari internal
Koperasi Tani Harja (cash flow internal: seperti laba dan iuran
pengurus).
2. Dana investor : merupakan sumber dana dari pihak mitra usaha
Koperasi Tani Harja /eksternal yang tertarik berinvestasi pada
bisnis atau usaha yang sedang dan atau akan dijalankan.
3. Dana Suplier : merupakan sumber dana yang tidak secara
langsung terlihat sebagai fisik uang, namun sumber dana dari
suplier berupa fasilitas tempo pembayaran yang lebih panjang.
4. Dana Lembaga Keuangan : lembaga keuangan di maksud dapat
berupa Bank yang berkonsentrasi di bidang pertanian ataupun
lembaga-lembaga pembiayaan lainnya.
Uraian Persentase (%) Jumlah ( Rp )
GT 20% Mitra 50% Bank 30 %
Modal Sendiri 867.024.000 867.024.000
Mitra Usaha 2.167.560.000 2.167.560.000
Bank 1.300.536.000 1.300.536.000
Jumlah 867.024.000 2.167.560.000 1.300.536.000 4.335.120.000

14
5.2 Kebutuhan Modal Investasi
Harga Satuan
No Keterangan Sat / vol (Rp) Jumlah (Rp)

Proses Tanam :
1 Pupuk Organik 8 liter 55.000 440.000
2 Bibit Padi Unggul 25 kg 8.000 200.000
3 Tenaga Lapangan 1 org/4 bln 100.000 400.000
Proses Panen :
1 Pembelian gabah 8.000 kg 3.500 28.000.000
2 Biaya angkut ke gudang 8.000 kg 100 800.000
3 Biaya gudang gabah 8.000 kg 150 1.200.000
Proses Produksi Beras :
1 Biaya Pengeringan gabah 8.000 kg 200 1.600.000
2 Biaya Penggilingan gabah 8.000 kg 250 2.000.000
3 Biaya Sortir beras 4.800 kg 100 480.000
4 Pembelian Karung beras @ 25 kg 192 bh 2.625 504.000
5 Biaya angkut ke gudang beras 4.800 kg 200 960.000
6 Biaya gudang 4.800 kg 300 1.440.000
Proses Pemasaran
1 Biaya Packing @ 5 kg ( 4.080 kg ) 816 bh 350 285.600
2 Biaya Vacuum @ 5 kg ( 4.080 kg ) 816 bh 100 81.600
3 Biaya distribusi beras 4.800 kg 200 960.000
Biaya Overhead
1 Gaji Karyawan 1 orang 4 bln 750.000 3.000.000
2 Biaya Telpon, Adm & Umum 4 bulan 250.000 1.000.000
Total modal usaha 1 ha 43.351.200
Total modal usaha 100 ha 4.335.120.000
Total modal usaha 100 ha - selama 6 26.010.720.000
MT / 2 tahun.

15
5.3 Rencana Perlengkapan
Inventaris / Perangkat Jumlah Harga Jumlah Harga
Kerja Merk Unit (000) (000)
Kantor - 1 unit 200.000 200.000
Truk Mitsubishi HD1200PS 2 unit 219.000 438.000
Pick Up Colt T120SS 1 unit 75.000 75.000
Suzuki Jeep Katana GX 1 unit 45.000 45.000
Sepeda motor Honda Bebek 5 unit 8.000 40.000
Sepeda motor Honda matic 2 unit 14.000 28.000
Personal Komp Rakitan 1 unit 3.000 3.000
Laptop Hewlett Packard 1 unit 6.500 6.500
Laptop Acer EEPC N550 1 unit 4.000 4.000
Mesin Telefax Panasonic KX-FP701 1 unit 1.500 1.500
Grain Moisture Meter MC7825G 2 unit 4.800 9.600
PUTS Versi 1.1 3 unit 3.000 9.000
GPS Garmin MAP 76 CSX 3 unit 3.200 9.600
Handsprayer Fulsfog K10SP 2 unit 15.000 30.000
Pompa air irigasi Kubota 2 unit 8.000 16.000
Mesin perontok sorghum Honda 3 unit 3.000 9.000
Meubelair - 1 set 9.000 9.000
Power trasher Kubota 1 unit 20.000 20.000
Hand Tractor Kubota SP1000 3 unit 21.000 63.000
Sealer Mikashindo 2 unit 450 900
Vacuum Mikashindo 1 unit 12.000 12.000
Terpal Plastik 8 m x 12 m Gajah 3 buah 1.500 4.500
Alat Ubin - 3 unit 250 750

Total nilai inventaris sekretariat : 1.034.350

16
5.4 Rancangan Peralatan
NO JENIS PERLENGKAPAN JUMLAH
1. Meja Komputer 3 buah
2. Komputer 3 set (dengan CPU, mouse, keyboard)
3. Rak Map 3 buah
4. Lemari 2 buah
5. Printer 2 buah
6. Kursi 5 buah

5.5 Rancangan Kesekretariatan


NO KETERANGAN JUMLAH HARGA TOTAL HARGA
1. Proposal 10 Rp 20.000,00 Rp 20.000,00

2. Surat-surat dan 50 Rp 2.000,00 Rp 100.000,00


Undangan

3. Laporan 15 Rp 25.000,00 Rp 375.000,00


Pertanggungjawaban

Total Rp 495.000,00

5.6 Pendirian
NO KETERANGAN TOTAL HARGA
1. Sewa Tempat Rp 25.000.000,00

2. Sarana dan Prasarana Rp 10.000.000,00

3. Program Rp 5.000.000,00

Total Rp 40.000.000,00

17
5.7 Rancangan Sumber Pendapatan
Dengan budidaya padi organik seluas 100 hektar, maka analisa usaha
dalam 1 (satu) MT adalah sebagai berikut :
a) Produksi gabah sebesar 800.000 kg.
b) Dikonversi 60 % rendemen sebesar 480.000 kg.
c) Sortasi untuk menghasilkan beras kepala menyisihkan 15%, dari
d) 480.000 kilogram hasil padi broken sebesar 72.000 kg
e) Sisa beras kepala setelah sortasi sebesar 408.000 kg.
f) Harga jual setelah packing & vacuum senilai Rp. 12.000,- / kg.
Total biaya produksi : Rp. 4.335.120.000,-
Total penjualan : Rp. 5.076.000.000,- Sisa
Laba : Rp. 740.880.000,-
B/C Ratio : 14,5 %

5.8 Rancangan Simpanan Anggota


Simpanan pada Koperasi Tani Harja terdiri dari tiga yaitu:
1) Simpanan Pokok, adalah simpanan yang hanya dibayar sekali oleh
anggota yaitu pada awal keanggotaan koperasi. Simpanan ini tidak
bisa diambil oleh anggota kecuali anggota yang bersangkutan keluar
dari koperasi. Besaran simpanan pokok pada Koperasi Tani Harja
adalah Rp 50.000,00.
2) Simpanan Wajib, adalah simpanan yang dibayar setiap bulan dan
besarnya simpanan wajib ditetapkan oleh seluruh anggota koperai.
Simpanan wajib tidak bisa diambil oleh anggota kecuali anggota
tersebut keluar dari koperasi. Besaran simpanan wajib pada
Koperasi Tani Harja adalah Rp 10.000,00.
3) Simpanan Sukarela, adalah simpanan yang sifatnya sukarela yang
besarannya bebas sesuai kehendak anggota. Simpanan sukarela
dapat diambil pada saat dibutuhkan sesuai kesepakatan anggota
atau dapat digunakan untuk berinvestasi.

18
No Jenis Simpanan Jumlah Simpanan Jumlah Anggota Jumlah Bulan Total Simpanan
1 Pokok Rp 50,000 240 1 Rp 12,000,000
2 Wajib Rp 10,000 240 12 Rp 28,800,000
3 Sukarela Rp 10,000 240 12 Rp 28,800,000
Total Rp 69,600,000

5.9 Sisa Hasil Usaha


Di Indonesia, dasar hukum pembagian SHU adalah pasal 5 ayat 1 UU.
No.25 tahun 1992 yang menyatakan bahwa: “Pembagian SHU kepada
anggota dilakukan tidak semata-mata berdasarkan modal yang dimiliki
seseorang dalam koperasi, tetapi juga berdasarkan perimbangan jasa
usaha anggota terhadap koperasi”. Oleh karena itu SHU koperasi yang
diterima oleh anggota bersumber dari dua kegiatan ekonomi yang
dilakukan anggota sendiri, yaitu:
a. SHU Atas Jasa Modal
Pembagian SHU atas jasa modal mencerminkan anggota sebagai
pemilik ataupun investor, karena jasa atas modalnya (simpanannya)
tetap diterima dari koperasinya sepanjang koperasi tersebut
menghasilkan SHU pada tahun buku yang bersangkutan.
b. SHU Atas Jasa Usaha
SHU ini mencerminkan bahwa anggota koperasi selain pemilik juga
sebagai pemakai (pelanggan). Secara umum SHU koperasi dibagi
sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan pada AD/ART yang meliputi:
1) Untuk Cadangan koperasi
2) Untuk Jasa anggota
3) Honor pengurus
4) Gaji karyawan
5) Dana untuk pendidikan
6) Dana sosial
7) Dana pembangunan lingkungan

19
SHU per anggota dihitung dengan rumus:

SHU = JU + JM

Ket:
SHU : Sisa Hasil Usaha
JU : SHU yang diperuntukkan bagi jasa usaha anggota koperasi
JM : SHU yang diperuntukkan bagi jasa usaha modal anggota

6. Analisis SWOT
6.1 Analisa
1. Kekuatan (Strength)
1) Memiliki Mitra Rice plant Unit yang mendukung
Walaupun Gerakan Kebangkitan Petani belum memiliki peralatan
pertanian yang sangat mendukung seperti, alat penggaris lahan,
traktor, mesin perontok malai padi, dan mesin pembersih bulir
padi. Kami melakukan kerja sama dengan beberapa mitra usaha
untuk mencapai tersedianya kelengkapan peralatan pertanian.
2) Memiliki Jaringan Organisasi yang aktif dan dinamis
Gerakan Kebangkitan Petani memiliki ketua dan anggota yang
mau bekerja dan berusaha. Seluruh pegiat dan praktisi
pertanian berperan aktif dalam mencari informasi yang dapat
membantu kegiatan pertanian, baik kepada Dinas Pertanian
maupun kepada pihak yang lebih mengetahui tentang pertanian.
Para pengurus dan anggota tidak takut menerima perubahan
dan aktif dalam melakukan sesuatu yang baru. Bahkan para
pengurus bersedia menjadikan sebagian lahannya sebagai lahan
percobaan. Keberadaan demplot padi organik ini diharapkan
mampu meyakinkan para petani bahwa pertanian padi organik
menguntungkan, apalagi didukung dengan bantuan benih unggul,
pupuk dan pestisida organi gratis dan hasil panen dibeli di atas
harga pasar lokal.

20
3) Telah mengikuti pelatihan teknologi budidaya pertanian ramah
lingkungan
Koperasi Tani Harja sering mendapatkan kesempatan untuk
mengikuti pelatihan baik dalam daerah maupun luar daerah.
Koperasi Tani Harja biasanya menjadi utusan dari kelompok
tani untuk mengikuti pelatihan di luar daerah. Pelatihan yang
telah diikuti adalah pelatihan tentang usahatani terpadu dan
teknologi budidaya pertanian ramah lingkungan. Pelatihan
tentang cara pembuatan kompos, bokashi, pestisida organik, dan
pupuk cair organik.
4) Telah mengikuti pelatihan budidaya padi yang baik
Selain mengikuti pelatihan usahatani konservasi terpadu dan
teknologi pertanian ramah lingkungan, Koperasi Tani Harja
telah mendapat pelatihan budidaya padi yang baik. Dalam
pelatihan ini semua anggota diikutsertakan karena kegiatannya
dilakukan di Desa Tambakboyo. Pelatihan ini meliputi: luas
persemaian yang baik, pemilihan benih, pengenalan hama
penyakit dan pemberantasannya, penggunaan pupuk
berimbang, dan penanaman dengan teknologi legowo.
Pelatihan yang telah dilakukan meningkatkan pengetahuan petani
dalam budidaya padi dan hal tersebut juga dapat dilakukan pada
pertanian padi organik. Sehingga hal ini merupakan salah satu
kekuatan Koperasi Tani Harja.
5) Lokasi usaha yang strategis
Lahan pertanian yang diolah para petani mitra merupakan lahan
yang terletak di sekitar dusun petani. Lahan pertanian yang dekat
memudahkan petani dalam mengontrol pertumbuhan tanaman
padi dan adanya serangan hama. Jarak yang dekat ini juga
menghemat waktu yang dibutuhkan menuju lahan pertanian dan
tidak menjadi kendala bagi petani untuk mengantarkan pupuk
kandang/kompos ke lahan pertanian. Selain itu, lahan yang dekat

21
dengan rumah petani juga akan menghemat biaya pengangkutan
setelah panen.

2. Kelemahan (Weakness)
Kelemahan yang terdapat pada Gerakan Kebangkitan Petani terdiri dari
enam faktor yaitu: modal kerja yang terbatas, mayoritas lahan petani
merupakan lahan sewaan, petani kurang mampu mengimplementasikan
budidaya organik, pemasaran yang kurang efisien, kurang konsistennya
anggota organisasi terhadap tugas- tugasnya, dan sumberdaya manusia
petani yang kurang kompeten.
1) Modal kerja yang terbatas
Kegiatan produksi yang dilakukan oleh Koperasi Tani Harja
bersumber pada modal swadaya pengurus. Walaupun tidak setiap
pengurus membayar iuran yang telah ditetapkan bersama.
Akibatnya Koperasi Tani Harja tidak memiliki modal yang cukup
untuk memberi stimulan untuk kehidupan sehari-hari petani selama
masa penantian panen. Sehingga kadang terjadi petani mendatangi
pengumpul untuk mendapat bantuan hutang. Namun hal ini tidak
cukup membantu karena biasanya pengumpul akan memberikan
bantuan dengan bunga yang tinggi.
2) Mayoritas lahan petani merupakan lahan sewa
Gerakan Kebangkitan Petani mengusahakan lahan seluas 13,8 ha.
Dari total lahan yang diusahakan sebanyak 50,7 persen atau
sebanyak 7 ha merupakan lahan sewaan dan 49,3 persen atau 6,8 ha
merupakan lahan milik anggota. Status kepemilikan lahan yang
didominasi oleh lahan sewaan merupakan salah satu kelemahan yang
terdapat dalam kelompok dalam pengembangan padi organik. Hal ini
menjadi salah satu pertimbangan para petani untuk menerapkan
budidaya padi organik karena petani harus membayar sewa lahan
kepada pemilik lahan.

22
3) Petani kurang mampu mengimplementasikan budidaya padi organic
Sejak Orde Baru membentuk pola tanam kimia, kegiatan budidaya
padi dilakukan dengan mengandalkan pupuk dan pestisida kimia. Petani
belum pernah mengusahakan padi secara organik dikarenakan
belum menguasai budidaya padi secara organik. Meskipun Koperasi
Tani Harja telah menyelenggarakan beberapa pelatihan yang
berhubungan dengan pertanian organik ternyata
belum mampu mengimplementasikannya di lapangan. Hal ini
diakibatkan teknologi ini membutuhkan kerjasama yang baik
diantara para anggota.
4) Pemasaran yang kurang efisien
Sistem pemasaran produk dilakukan Koperasi Tani Harja masih
kurang efisien karena sebagian dijual berupa gabah kepada
pedagang besar, dan sebagian berupa beras curah kepada
perusahaan mitra yang benefitnya kurang signifikan untuk
pengembangan organisasi. Dikarenakan pasar yang lebih potensial,
yaitu beras kepala kemasan @ 2 kg, @ 3 kg, dan @ 5 kg kurang bisa
diakses oleh Koperasi Tani Harja. Kekuatan modal kami belum
memungkinkan untuk memasok pasar modern karena memerlukan
modal yang besar dalam sistem pembayaran berjangka panjang.
5) Kurang konsistennya pengurus organisasi terhadaptugas-
tugasnya
Beberapa pengurus kurang mampu menghasilkan kinerja
yang memuaskan. Kondisi ini kurang memunculkan sinergitas
pengurus yang berakibat pada kinerja yang kurang efisien. Overlap
tugas yang harus dilakukan oleh pengurus aktif mengakibatkan
tidak semua anggota mendapat informasi terkait kegiatan yang
akan dilakukan atau adanya program baru.
6) Sumberdaya manusia petani kurang kompeten
Tingkat pendidikan para petani aggota Koperasi Tani Harja
didominasi oleh lulusan SMA sebanyak 59 persen. Namun tingkat

23
pendidikan yang cukup tinggi kurang mendukung kualitas sumberdaya
petani. Anggota Koperasi Tani Harja masih kurang kompeten. Hal
ini dapat dilihat dari ketidaksediaan anggota melakukan regenerasi
dan sulit untuk menerima perubahan teknologi. Para petani juga
kurang mampu mengelola sumber daya berupa finansial terutama
pemanfaatan hasil panen. Selain itu, petani juga mudah untuk
diperdaya oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan kelompok ini
berkembang. Contohnya para tengkulak yang membeli hasil panen
dengan harga yang melambung tinggi tetapi sebenarnya hanya
ingin merusak harga pasar lokal.

3. Peluang (Opportunity)
Berdasarkan identifikasi lingkungan eksternal, Gerakan Kebangkitan
Petani memiliki delapan peluang, yaitu: hubungan yang baik dengan dinas
pertanian, kawan jaringan pertanian di Bali, tersedianya sarana produksi
pertanian organik seperti pupuk, bibit, dan pestisida organik yang sudah
bersertifikat, meningkatnya pendidikan dan kesadaran masyarakat akan
pentingnya gizi untuk hidup sehat, peluang pasar yang masih luas baik
domestik maupun mancanegara, potensi sumberdaya alam yang
mendukung, dan adanya Program pemerintah Go Organic 2010.
1) Hubungan baik dengan Dinas Pertanian setempat
Dinas Pertanian merupakan suatu instansi yang bertanggung jawab
dalam hal pertanian, baik dalam penelitian maupun dalam
pengembangannya. Dinas Pertanian bertanggung jawab terhadap
keadaan dan perkembangan kelompok tani. Koperasi Tani Harja telah
menjalin hubungan yang baik dengan Dinas Pertanian
kabupaten/kota setempat. Adanya hubungan baik ini sangat
membantu kedua belah pihak. Koperasi Tani Harja telah mendapatkan
banyak penyuluhan terkait budidaya padi dari Dinas Pertanian.

24
2) Adanya jaringan pertanian yang memahami pertanian organik dan mau
membinapetani
Keberadaan konsultan pertanian yang memahami pertanian
organik akan sangat mendukung pengembangan padi organik. Saat ini
Koperasi Tani Harja sangat terbantu dengan kawan – kawan jaringan
yang memahami pertanian organik dan mau membina petani. Beliau
adalah Bapak Ir. Sutimin dari Kabupaten Semarang dengan pengalaman
pengembangan organik di Thailand dan Korea Selatan, Bapak Ir. Hasto
Sugeng Bintoro yang berasal dari Semarang dan telah 25 tahun
berpengalaman di bidang pupuk dan padi organik.
3) Tersedianya sarana produksi pertanian organik seperti pupuk, bibit, dan
pestisida organik yang sudah bersertifikat
Kegiatan budidaya organik sama halnya dengan kegiatan budidaya
anorganik yang membutuhkan sarana produksi pertanian
(saprotan) seperti bibit, pupuk, dan pestisida. Perbedaanya terletak
pada sifat saprotan yang digunakan dimana budidaya anorganik
menggunkan saprodi yang bersifat anorganik sedangkan budidaya
organik bersifat alami. Saprotan ini juga sudah mendapat sertifikasi
dari lembaga yang berwenang. Sertifikasi ini menjamin keaslian
saprotan organik sehingga para petani tidak perlu meragukan
keaslian saprotan tersebut. Tersedianya saprotan organik dan
sudah bersertifikat sangat mendukung pengembangan padi organik di
Gerakan Kebangkitan Petani
4) Peluang pasar yang masih luas baik domestik maupun
mancanegara
Sebagian besar masyarakat kelas menengah ke atas menaruh
perhatian yang sangat besar terhadap produk organik. Baik dalam
negeri maupun luar negeri permintaan terhadap produk organik
diprediksikan akan mengalami peningkatan. Salah satu contohnya dikutip
dari koran kompas 4 Juni 2009 menginformasikan bahwa Direktur Green
Agro Trade di Klinik Konsultasi Bisnis (KKB) Yogyakarta Lilik A Raharja

25
kewalahan dalam memenuhi permintaan beras organik dari pedagang
besar di Pasar Induk Cipinang Jakarta. Beliau diminta menyediakan
beras organik sebanyak 20 ton per minggu sementara itu pihak
eksportir juga memintanya menyediakan beras organik sebanyak 20
ton per minggu. Dalam kurun 10 tahun terakhir, ketertarikan
masyarakat global terhadap pertanian organik meningkat tajam, sejak
tahun 1997 trend pasar organik mencapai USD 10 milyar, tahun 1998
meningkat menjadi USD 13 milyar, dan tahun 2003 mencapai USD 27
miliar.
Tahun 2010 tren pasar organik dunia diharapkan mencapai
sekitar USD 100 miliar. Masyarakat Cheska menghabiskan 15,9 juta
dolar AS untuk membeli produk organik. Sementara di Swiss, sekitar
10% - 15% rumah tangga membeli produk organik secara teratur.
Swiss merupakan pembeli produk organik terbesar di dunia dengan
menghabiskan 160 Swiss Franc atau sekitar Rp 1,2 juta per orang
setiap tahunnya untuk produk- produk organik tertentu. Pertumbuhan
permintaan pangan organik juga terjadi di Canada, pada periode
2007-2011 permintaan produk organik diprediksi mencapai 17,41%.
Padahal, permintaan tahun sebelumnya hanya 3% - 4%. Media organik
Inggris juga mengemukakan bahwa penjualan produk organik di
Asia meningkat 20% setiap tahunnya (Falik, 2008).
5) Potensi sumberdaya alam yang mendukung
Wilayah Provinsi Bali memiliki sumber daya alam yang sangat
mendukung kegiatan pertanian seperti irigasi. Irigasi merupakan
salah satu kebutuhan vital dalam pertanian. Sumber pengairan (irigasi)
mengalir sepanjang tahun. Selain irigasi yang melimpah, daerah
lumbung Bali juga memiliki potensi sumber daya alam lainnya seperti
tersedianya berbagai macam tumbuhan yang dapat diolah menjadi
pupuk organik/kompos sehingga membantu petani menghemat
pengeluaran untuk membeli pupuk organic
6) Adanya program pemerintah Go Organic 2010

26
Adanya program pemerintah Go Organic 2010 telah menjadi
peluang dalam pengembangan padi organik Gerakan Kebangkitan
Petani, hal ini dapat dilihat dari adanya dukungan pemerintah
untuk mencapai tujuan sebagai salah satu negara pengekspor
pangan organik dengan adanya kebijakan meningkatkan produksi
padi organik dalam negeri. Tahun 2013 sasaran produksi padi
organik mencapai 2.336.000 ton dan pada tahun 2014 meningkat
menjadi 2.948.000 ton (Deptan, 2007).

4. Ancaman (Threat)
Ancaman yang dihadapi Gerakan Kebangkitan Petani terdiri dari tiga
faktor yaitu: perubahan cuaca yang tidak menentu, banyaknya
peredaran padi organik palsu, dan maraknya konversi lahan pertanian.
1) Perubahan cuaca yang tidak menentu
Kondisi cuaca yang tidak menentu di Indonesia saat ini patut
menjadi ancaman untuk diperhitungkan, begitu pula halnya dengan
wilayah Provinsi Bali. Salah satu penyebab perubahan cuaca yang
tidak menentu adalah pemanasan global. Pemanasan global terjadi
karena konsentrasi gas-gas rumah kaca yang terus menerus bertambah
di udara seperti CO2, asam nitrat, metan dan clorofuorocarbon.
Karbondioksida dihasilkan oleh penggunaan batu bara, minyak
bumi, gas, penggundulan, dan pembakaran hutan. Asam nitrat
dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri. Sedangkan metan
disebabkan oleh aktivitas industri dan pertanian kimia.
Clorofuorocarbon mampu merusak lapisan ozon, bila lapisan ini menipis
maka sinar ultraviolet yang masuk ke permukaan bumi tidak tersaring
terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan suhu permukaan bumi
meningkat. Penggundulan hutan mengurangi penyerapan karbon oleh
akar pohon, akibatnya emisi karbon meningkat drastis sehingga
mengubah iklim mikro lokal dan siklus hidrologis. Terkadang curah
hujan terlalu tinggi dan masa kemarau yang terlalu panjang. Hal ini

27
mengakibatkan petani tidak bisa lagi mempelajari alam dan kurang
mampu untuk menentukan masa tanam yang paling baik.
2) Banyaknya peredaran produk padi organik palsu
Produk organik memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan
produk anorganik. Hal ini disebabkan kandungan gizinya lebih tinggi,
lebih sehat untuk dikonsumsi dan ketersediaannya di pasar tidak
sebanyak produk anorganik. Oleh sebab itu, konsumen juga perlu
mendapat jaminan dan perlindungan bahwa produk yang dibelinya
benar-benar organik. Jaminan terhadap produk organik bertumpu
pada pemberian label. Pemberian label biasanya didahului dengan
kegiatan inspeksi oleh suatu lembaga sertifikasi yang telah
terakreditasi. Namun lemahnya pengawasan terhadap jaminan produk
organik yang beredar di pasaran, memungkinkan para produsen beras
anorganik dalam memalsukan produknya. Hal ini bertujuan untuk
mendapat keuntungan yang lebih tinggi.
3) Maraknya konversi lahan pertanian
Secara nasional lahan pertanian semakin sempit. Penyempitan lahan
pertanian ini diakibatkan adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi
lahan non produktif seperti: industri, pertokoan, perkantoran
ataupun perumahan. Konversi lahan ini terjadi karena meningkatnya
laju pembangunan sementara sektor pertanian dianggap semakin
kurang menarik bagi para pelakunya. Hal ini akan mengakibatkan
lahan yang tersisa kurang produktif, luasnya sempit, dan terpencar.
Bahkan, petani banyak yang beralih profesi atau bekerja sampingan
sebagai buruh bangunan, pedagang, atau sopir angkot.

28