Anda di halaman 1dari 12

1.

Organisasi dan Lingkungan


Perusahaan sebagai suatu organisasi bisnis yang tidak dapat mewujudkan
prinsip - prinsip GCG bila tidak didukung oleh fungsi dari sejumlah elemen yang
terdapat di dalamnya. Dalam membenahi fungsi dari sejumlah elemen dalam
perusahaan diperlukan model organisasi. Model organisasi merupakan
representasi dari suatu organisasi yang membantu seseorang untuk lebih
memahami secara jelas dan cepat apa yang diamati dalam organisasi tersebut.
Secara lebih rinci, Burke menjelaskan berbagai kegunaan dari model organisasi:
(i) model membantu untuk meningkatkan pemahaman tentang perilaku organisasi,
(ii) model membantu untuk mengelompokkan data tentang organisasi, (iii) model
membantu menginterpretasikan data tentang organisasi, dan (iv) model membantu
untuk memberikan bahasa yang umum serta singkat tentang organisasi (Falletta,
2005).
Organisasi sebagai suatu sistem yang terbuka mengacu pada pandangan yang
dikemukakan oleh teori organisasi modern yang berkembang sejak tahun 1950-an.
Dalam teori ini, organisasi cenderung dipandang sebagai berikut: (i) organisasi
merupakan suatu sistem yang terbuka, (ii) di dalam organisasi terjadi transformasi
masukan yang menghasilkan keluaran tertentu, masukan diperoleh dari
lingkungannya sedangkan keluaran akan diberikan organisasi kepada
lingkungannya, (iii) di dalam organisasi terdapat elemen-elemen yang penting
yang saling berhubungan satu sama lain, serta (iv) organisasi memiliki tujuan dan
batasan tertentu yang membedakan organisasi tersebut dari lingkungannya
(Reksohadiprodjo dan Handoko, 2004).

2. Struktur Kepemilikan Korporasi


Struktur kepemilikan korporasi dibagi menjadi beberapa model kepemilikan,
diantaranya yaitu:
1) Kepemilikan
Tersebar
Pada model ini perusahaan memiliki pemegang saham yang banyak
dengan jumlah saham yang sedikit. Pemegang saham minoritas kurang
mengawasi aktivitas perusahaan dan cenderung tidak terlibat dalam pengambilan
keputusan atau kebijakan perusahaan. Oleh karena itu, pemegang saham tersebut
disebut outsider, dan kepemilikan yang tersebar tersebut disebut sebagai outsider
system dan menurut Roche (2005), kepemilikan yang tersebar ini merupakan
model dari negara-negara common law seperti Amerika Serikat dan Inggris.
Outsider system atau Anglo-American ini merupakan market-based model
yang dikarakteristikkan oleh perusahaan yang individualis dan kepemilikan privat,
pasar modal yang mapan dan likuid, dengan jumlah pemegang saham yang
banyak dan konsentrasi investor yang kecil. Pengendalian perusahaan diwujudkan
melalui pasar dan investor luar. Dalam outsider system ini terdapat anggota dewan
yang independen untuk mengawasi perilaku manajerial agar tetap terkontrol,
sehingga menurut Roche (2005), sistem ini lebih dapat dipertanggungjawabkan,
tidak korupsi serta membantu perkembangan pasar modal yang likuid.
2) Kepemilikan yang Terkonsentrasi (Concentrated Ownership)
Pada model perusahaan yang seperti ini, terdapat dua kelompok pemegang
saham, yaitu pemegang saham mayoritas yang bertindak sebagai pengendali dan
pemegang saham minoritas. Menurut Bae et al. (2003) kepemilikan yang
terkonsentrasi ini merupakan salah satu ciri dari control based model, selain
menekankan pada insider board, pengungkapan yang terbatas,dan ketergantungan
pada keuangan atau sistem perbankan keluarga. Karakteristik perusahaan ini
banyak dijumpai di negara-negara yang sedang berkembang (seperti Indonesia,
Korea) dan Continental European. Masalah keagenan yang timbul terutama
adalah antara pengendali dan pemegang saham minoritas. Masalah keagenan
menjadi semakin makin serius karena seringkali perusahaan yang terdaftar di
bursa merupakan salah satu unit usaha dari grup sehingga masalah self-dealing
yang dapat merugikan pemegang saham minoritas sering terjadi. Karena itu bukan
hanya diperlukan adanya peraturan yang mencegah hal ini tetapi juga harus ada
mekanisme untuk menegakkan peraturan tersebut.
Roche (2005) berpendapat bahwa perusahaan yang kepemilikannya
terkonsentrasi, mempunyai beberapa keuntungan seperti pemegang saham
mayoritas (insider) memiliki kekuatan dan insentif untuk mengawasi manajemen
dengan lebih dekat, sehingga dapat meminimalkan timbulnya mismanajemen dan
kecurangan.Selain itu, karena kepemilikan mereka yang signifikan dan adanya
hak pengendalian, insider cenderung untuk menjaga investasinya dalam
perusahaan untuk jangka waktu yang lama. Kelemahan dari sistem ini antara lain,
pemegang saham mayoritas dapat berkolusi dengan manajemen untuk mengambil
alih aset perusahaan dengan biaya dari pemegang saham minoritas. Ini merupakan
risiko yang signifikan bagi pemegang saham minoritas yang tidak dilindungi
dengan hukum. Hal yang sama, ketika manajer mengendalikan sejumlah besar
saham atau hak suara yang digunakan untuk mempengaruhi keputusan dewan
yang menguntungkan mereka dengan biaya perusahaan. Jadi terdapat masalah
keagenan antara pemegang saham minoritas dengan pengendali (pemegang saham
mayoritas). Selain itu kemungkinan terjadi masalah keagenan antara pemilik dan
kreditur lebih besar daripada tipe perusahaan yang kepemilikannya menyebar.
Samad (2004) dalam penelitiannya pada perusahaan-perusahaan di Malaysia
menemukan bahwa kepemilikan yang terkonsentrasi dapat membuat kinerja
perusahaan menjadi lebih baik, dan komposisi kepemilikan tersebut merupakan
elemen penting untuk memacu kinerja perusahaan yang lebih baik.
3) Kepemilikan Manajerial
Para pemegang saham yang mempunyai kedudukan di manajemen
perusahaan baik sebagai kreditur maupun sebagai dewan komisaris disebut
sebagai kepemilikan manajerial (managerial ownership). Adanya kepemilikan
saham oleh pihak manajemen akan menimbulkan suatu pengawasan terhadap
kebijakan-kebijakan yang diambil oleh manajemen perusahaan. Kepemilikan
manajerial juga dapat diartikan sebagai persentase saham yang dimiliki oleh
manajer dan direktur perusahaan pada akhir tahun untuk masing-masing periode
pengamatan. Masalah teknis tidak akan timbul jika kepemilikan dan pengelolaan
perusahaan tidak dijalankan secara terpisah. Pemegang saham bertujuan untuk
memaksimumkan kekayaannya dengan melihat nilai sekarang dari arus kas yang
dihasilkan oleh investasi perusahaan sedangkan manajer bertujuan pada
peningkatan pertumbuhan dan ukuran perusahaan. Tujuan manajer ini dilandasi
oleh dua alasan, yaitu:
1) Pertumbuhan yang meningkat akan memberikan peluang bagi manajer
bawah dan menengah untuk dipromosikan. Selain itu, manajer dapat
membuktikan diri sebagai karyawan yang produktif sehingga dapat
diperoleh penghargaan lebih dari wewenang untuk menentukan
pengeluaran (biaya-biaya)
2) Ukuran perusahaan yang semakin besar memberikan keamanan pekerjaan
atau mengurangi kemungkinan lay-off dan kompensasi yang semakin
besar.
Semakin besar proporsi kepemilikan manajemen pada perusahaan, maka
manajemen cenderung berusaha lebih giat untuk kepentingan pemegang saham
yang tidak lain adalah dirinya sendiri. Kepemilikan saham manajerial akan
membantu penyatuan kepentingan antar manajer dengan pemegang saham.
Kepemilikan manajerial akan mensejajarkan kepentingan manajemen dengan
pemegang saham, sehingga manajer ikut merasakan secara langsung manfaat dari
keputusan yang diambil dan ikut pula menanggung kerugian sebagai konsekuensi
dari pengambilan keputusan yang salah. Argumen tersebut mengindikasikan
mengenai pentingnya kepemilikan manajerial dalam struktur kepemilikan
perusahaan.
Kepemilikan manajerial berhasil menjadi mekanisme corporate
governance yang dapat mengurangi konflik kepentingan antara manajer dan
berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Semakin besar
kepemilikan saham manajerial dapat mencegah tindakan opportunistic manajer.
Hubungan antara kepemilikan manajerial dengan discretionary accruals. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa adanya hubungan negatif antara kepemilikan
manajerial dengan discretionary accruals. Penelitian yang menguji hubungan
kepemilikan manajerial dengan discretionary accrual dan kandungan informasi
laba menemukan bukti bahwa kepemilikan manajerial berhubungan secara negatif
dengan discretionary accrual. Hasil penelitian tersebut juga manyatakan bahwa
kualitas laba meningkat karena kepemilikan manajerial tinggi.
4) Kepemilikan Institusioanal
Kepemilikan suatu perusahaan dapat terdiri atas kepemilikan institusional
maupun kepemilikan individual atau campuran keduanya dengan proporsi
tertentu. Investor institusional memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan
investor individual, diantaranya yaitu:
1) Investor institusional memiliki sumber daya yang lebih daripada investor
individual untuk mendapatkan informasi.
2) Investor institusional memiliki profesionalisme dalam menganalisa
informasi, sehingga dapat menguji tingkat keandalan informasi
3) Investor institusional, secara umum, memiliki realsi bisnis yang lebih kuat
dengan manajemen.
4) Investor institusional memiliki motivasi yang kuat untuk melakukan
pengawasan lebih ketat atas aktivitas yang terjadi di dalam perusahaan.
5) Investor institusional lebih aktif dalam melakukan jual beli saham
sehingga dapat meningkatkan jumlah informasi secara cepat yang
tercermin di tingkat harga
Adanya pemegang saham seperti institusional ownership memiliki arti
penting dalam memonitor manajemen. Adanya kepemilikan oleh institusional
seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan-perusahaan investasi dan
kepemilikan oleh institusi-institusi lain akan mendorong peningkatan pengawasan
yang lebih optimal. Mekanisme monitoring tersebut akan menjamin peningkatan
kemakmuran pemegang saham. Signifikasi institusional ownership sebagai agen
pengawas ditekankan melalui investasi mereka yang cukup besar dalam pasar
modal. Apabila institusional merasa tidak puas atas kinerja manajerial, maka
mereka akan menjual sahamnya ke pasar.
Perubahan perilaku institusional ownership dari pasif menjadi aktif dapat
meningkatkan akuntabilitas manajerial sehingga manajer akan bertindak lebih
hati-hati dalam pengambilan keputusan. Meningkatnya aktivitas institusional
ownership dalam melakukan monitoring disebabkan oleh kenyataan bahwa
adanya kepemilikan saham yang signifikan oleh institusional ownership telah
meningkatkan kemampuan mereka untuk bertindak secara kolektif. Dalam waktu
yang sama, biaya untuk keluar dari investasi yang mereka lakukan menjadi
semakin mahal karena adanya resiko saham akan terjual pada harga diskon.
Kondisi ini akan memotivasi institusional ownership untuk lebih serius dalam
mengawasi maupun mengoreksi semua perilaku manajer dan memperpanjang
jangka waktu investasi.

3. Governance: Pemisahan Kepemilikan dan Pengendalian


Terdapat dua konsep dasar pada pemisahan kepentingan dan pengendalian yaitu:
1) Konsep Pertama
Pada dasarnya konsep perusahaan modern mulai muncul pada saat
perusahaan tersebut dimiliki oleh banyak pihak, tidak lagi dimiliki oleh
perorangan ataupun hanya dimiliki beberapa pihak saja. Kebutuhan modal usaha
dan pengembangan bisnis mungkin menjadi salah satu alasan mengapa
kepemilikan perusahaan dibuka kepada banyak pihak. Pada mulanya pada saat
perusahaan masih belum berkembang (tertutup), pemilik masih merangkap juga
sebagai manajer perusahaan yang menjalankan usaha sehari-hari. Namun seiring
dengan berkembangnya kepemilikan pada banyak pihak (diverse ownership),
maka para pemilik perusahaan harus menyerahkan pengendalian perusahaan
kepada pihak lain, dalam hal ini management yang akan menjalankan kegiatan
sehari-hari.
Inilah awal konsep “separation of ownership and control”- pemisahan antara
kepemilikan dan pengendalian. Pemisahan ini kemudian dikenal dengan teori
“agency theory/agency relationship”, dimana terdapat pihak principal yang
mendelegasikan kewenangan mengelola perusahaan kepada agent dan untuk
bertindak mewakili kepentingan principal. Adanya pemisahan antara kepemilikan
dan pengendalian ini juga menimbulkan permasalahan yang dikenal sebagai
“agency problem”, yaitu adanya perbedaan kepentingan antara pemilik dan
manajemen. Pemilik mengharapkan perusahaannya bisa tumbuh dalam jangka
panjang, sedangkan manajemen dalam menjalankan tugasnya lebih berorientasi
kepada jangka pendek, sesuai dengan kontrak masa kerjanya, dan penyalahgunaan
wewenang untuk kepentingan pribadi yang dibebankan kepada perusahaan.
Secara teoritis, agency theory and agency problem merupakan cikal bakal
tumbuhnya ilmu corporate governance. Secara sederhana corporate governance
bisa diartikan bagaimana mekanisme perusahaan dikelola dan dijalankan serta
mempelajari hubungan antara berbagai pihak yang terkait dengan perusahaan.
Dari sinilah muncul berbagai macam pengaturan terhadap perusahaan yang
dikenal sebagai “good corporate governance” untuk melindungi kepentingan
shareholders dan stakeholders.
2) Konsep Kedua
Dalam konteks ini, konsep “separation of ownership and control” adalah
terkait dengan struktur atau kepemilikan perusahaan publik. Kalau dalam konsep
pertama lebih bersifat kepada asal mula teori pemisahan kepemilikan dan
pengendalian dalam suatu perusahaan, maka dalam makna kedua ini lebih terkait
dengan struktur kepemilikan perusahaan publik yang sudah modern dan bersifat
komplek. Dalam konsep kedua ini, terdapat dua pengertian fundamental terkait
dengan kepemilikan perusahaan, yaitu Ownership Right (OR) dan Control Right
(CR). Ownership Right (OR) mengacu kepada besarnya kepemilikan suatu pihak
terhadap perusahaan yang diukur dari jumlah uang/modal yang telah
diinvestasikan dalam perusahaan, yang sering kita lihat sebagai persentase
kepemilikan. Atas dasar investasi ini, maka pemodal berhak mendapatkan Cash
Flow Right (CFR) dalam bentuk dividen atas sahamnya. Dalam kerangka
pengertian ini, maka Ownership Right (OR) juga sering disebut sebagai Cash
Flow Right (CFR). Control Right (CR) mengacu kepada kekuatan mengontrol
perusahaan yang tercermin pada kekuatan suara dalam penentuan kebijakan
strategis perusahaan dalam sebuat rapat umum pemegang saham, sehinggga
Control Right (CR) sering juga disebut sebagai Voting Right (VR).
Secara teori, seharusnya cash flow right dan voting right adalah sama
dikarenakan saham menganut prinsip one-share-one-vote principle. Artinya
persentase kepemilikan suatu pihak yang tercermin dari jumlah nominal
investasinya adalah sama dengan persentase suara yang dimiliki pihak tersebut
dalam rapat pengambilan keputusan. Ini adalah konsep yang fair, dimana uang
yang dikeluarkan untuk investasi dalam perusahaan memberikan hak yang
sebanding dalam mengontrol perusahaan melalui kekuatan suara dalam rapat.
Namun demikian, terdapat kondisi atau penyimpangan dimana ownership
right/cash flow right adalah tidak sama dengan control right/voting right. Yang
terjadi adalah control/voting right melebihi dari ownership/cash flow right.
Adanya voting right yang lebih besar dari cash flow right mencerminkan
ketidakadilan, dimana ada pemegang saham yang memperoleh control (suara)
lebih besar dibanding persentase kepemilikan (investasi)-nya. Atau dengan kata
lain, investasi sedikit pada perusahaan namun mendapat hak voting yang lebih
besar.
Penyimpangan inilah yang juga kemudian dikenal sebagai makna lain dari
konsep “separation of ownership and control”. Bahwa antara ownership (cash
flow right) dan control (voting right) terdapat penyimpangan atau perbedaan
(deviation/separation). Terdapat dua sebab yang menyebabkan penyimpangan ini
yaitu:
1) Pertama, memang terdapat perbedaan kelas saham (misal adanya saham
preferen yang memang menyimpang dari prinsip one-share-one-vote).
Biasanya ini terjadi pada perusahaan negara (BUMN), dimana
diterbitkan saham preferen dalam bentuk gold shares/kelas A yang
dimiliki oleh pemerintah.
2) Kedua, penyimpangan dilakukan melalui pengaturan struktur
kepemilikan terhadap suatu perusahaan, yaitu melalui pyramidal
structure, cross-holding dan konglomerasi. Sebab kedua inilah yang
memang sengaja diciptakan oleh para pemilik/pengendali/family clan,
terutama terhadap perusahaan publik melalui pengaturan struktur
kepemilikan, untuk memperoleh manfaat voting right yang lebih besar
dari cash flow right. Tentunya pihak pemegang saham yang dirugikan
adalah pemegang saham lainnya yang berkurang voting right-nya
dibandingkan dengan control right-nya. Pemegang saham lainnya disini
bisa merupakan pemegang saham publik atau pemegang saham
minoritas lainnya.

4. Struktur Kepemilikan dan Mekanisme Pengendalian


Menurut Grosfeld dan Hashi, (2003) menyatakan bahwa struktur kepemilikan
perusahaan, derajat kepemilikan dan identitas pemegang saham mayoritas
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap corporate governance dan kinerja
perusahaan. Mekanisme corporate Governance merupakan suatu aturan main,
prosedur dan hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan
dengan pihak yang melakukan control/pengawasan terhadap keputusan
tersebut.Mekanisme governance diarahkan untuk menjamin dan mengawasi
berjalannya sistem governance dalam sebuah organisasi (Walsh dan Seward,
1990). Walsh dan Seward (1990) menyatakan bahwa terdapat 2 mekanisme untuk
membantu menyamakan perbedaan kepentingan antara pemegang saham dan
manajer dalam rangka penerapan GCG, yaitu mekanisme pengendalian internal
perusahaan dan mekanisme pengendalian eksternal berdasarkan pasar.
Mekanisme pengendalian internal adalah pengendalian perusahaan yang
dilakukan dengan membuat seperangkat aturan yang mengatur tentang mekanisme
bagi hasil, baik yang berupa keuntungan, return maupun risiko – risiko yang
disetujui oleh principal dan agen.Salah satu pilihan mekanisme pengendalian
internal untuk menyamakan kepentingan saham dan manajer adalah kontrak
insentif jangka panjang (Walsh dan Seward, 1990: Jensen, 1993).Kontrak jangka
panjang ini dilakukan dengan memberikan insentif pada manajer apabila nilai
perusahaan atau kemakmuran pemegang saham meningkat, salah satunya dengan
cara memberi kepemilikan saham kepada manajer (Jensen dan Meckling, 1976;
Fama, 1980).Dengan demikian, manajer akan termotivasi untuk meningkatkan
nilai perusahaan atau meningkatkan pemegang saham karena hal tersebut juga
akan meningkatkan kekayaan manajer sendiri. Mekanisme pengendalian eksternal
adalah pengendalian perusahaan yang dilakukan oleh pasar.
Menurut teori pasar untuk pengendalian perusahaan (market for corporate
control), pada saat diketahui bahwa manajemen berperilaku menguntungkan diri
sendiri, kinerja perusahaan akan menurun yang direflesikan oleh nilai saham
perusahaan.Pada kondisi tersebut, kelompok manajer lain akan menggantikan
manajer yang sedang memegang jabatan.Dengan demikian bekerjanya market for
corporate bias menghambat tindakan menguntungkan manajer sendiri (Jensen dan
Meckling, 1976).

5. Struktur Kepemilikan di Asia, Asia Tenggara dan Indonesia


1) Struktur Kepemilikan di Asia
Di kawasan Asia, pada umumnya pemisahan antara kepemilikan dan
kepengelolaan perusahaan tidak terlalu berkembang. Bisnis lebih bersifat
kekeluargaan sehingga kelompok-kelompok usaha besar yang berkembang selalu
dikendalikan oleh anggota keluarga dari hubungan darah atau hubungan
perkawinan. Hal tersebut sangat terasa dalam sistem Keiretsu di Jepang, Chebol di
Korea, dan Konglomerasi di Indonesia. Dalam sistem Anglo-Saxon, pemisahan
antara pemilik dan pengelola perusahaan umumnya cukup tegas. Pemilik modal
menyerahkan sepenuhnya pengelolaan perusahaan kepada para professional.Hal
tersebut bisa terjadi karena adanya dukungan sistem pasar modal yang kuat
sehingga kepemilikan perusahaan bisa dijualbelikan dengan baik.
Di Korea, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, kontrol keluarga terhadap
perusahaan begitu tinggi. Kontrol para pemilik perusahaan dilakukan melalui
struktur piramida dan kepemilikan silang diantara beberapa perusahaan.Model ini
nampaknya sangat umum terjadi di semua negara di kawasan Asia Tenggara.Jadi
pada dasarnya, pemisahan antara pemilik dan pengelola sangat jarang terjadi di
kawasan tersebut.Ditambah lagi, pemisahan antara kontrol dan manajerial juga
jarang terjadi karena para pemilik menguasai hak suara dengan model
kepemilikan silang yang dipertahankan untuk mempertahankan posisi suara.
2) Struktur Kepemilikan di Asia Tenggara
Dalam perkembangan kapitalisme industrial berikutnya, ternyata yang
lebih menjadi masalah bukan lagi masalah keagenan tipe pertama, melainkan tipe
kedua. Dalam kasus di berbagai Negara di kawasan Asia Tenggara, kepemilikan
biasanya memiliki ciri-ciri:
1. Saham mayoritas umumnya dipegang di tangan keluarga dan Negara.
2. Pemegang saham pengontrol memiliki hak suara (control right) yang melebihi
kepemilikan (cash flow right) karena sistem kepemilikan yang bersifat
pyramidal, atau karena mereka menempatkan para manajer dari anggota
keluarga di perusahaan-perusahaan yang di kontrolnya.
3) Struktur Kepemilikan di Indonesia
Peraturan perundang-undangan Indonesia adalah peraturan berdasarkan
civil law. Artinya, hukum dijalankan berdasarkan aturan-aturan yang telah dibuat.
Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan perusahaan adalah Undang-
Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Undang-Undang No. 19
Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Peraturan Bapepam
LK sebagai otoritas pengawas pasar modal bagi perusahaan terbuka No. 8 Tahun
1995. UU PT menyebutkan bahwa organ perusahaan terdiri dari Rapat Umum
Pemegang Saham, Dewan Direksi, dan Dewan Komisaris. RUPS memiliki
kekuasaan tertinggi dalam pengambilan keputusan di perusahaan, misal untuk hal
penambahan modal, perubahan modal, pemilihan eksekutif perusahaan, dan lain-
lain. Struktur ini juga diterapkan dalam BUMN berbentuk perseroan.
Sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas, perusahaan publik
diharuskan mengeluarkan laporan tahunan yang telah diaudit. Laporan tersebut
terdiri dari laporan keuangan, laporan manajemen, pernyataan perusahaan terkait
dengan tata kelola perusahaan, dan terkait dengan tanggung jawab sosial
perusahaan. Selain itu, informasi terkait dengan kepemilikan saham dan eksekutif
perusahaan (direksi dan komisaris) juga harus dipublikasikan, misalnya kebijakan
remunerasi perusahaan.
Informasi kepemilikan saham yang wajib dipublikasikan adalah
kepemilikan saham di atas 5% dan kepemilikan oleh eksekutif perusahaan.
Perusahaan tidak wajib mengungkapkan kepemilikan di bawah nilai tersebut
karena dianggap tidak material, kecuali untuk kepemilikan Direksi dan Komisaris
karena menunjukkan kontrol akan perusahaan. Di Indonesia, struktur kepemilikan
biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Saham mayoritas umumnya dipegang di tangan keluarga dan negara.
Dalam kasus perusahaan keluarga, pemisahan antara kontrol dan
kepemilikan sebenarnya tidak terjadi karena biasanya para pengelola
perusahaan adalah anggota keluarga dari pemilik perusahaan.
2. Pemegang saham pengontrol memiliki hak suara yang melebihi
kepemilikan karena sistem kepemilikan yang bersifat pyramidal, atau
karena mereka menempatkan para manajer dari anggota keluarga di
perusahaan-perusahaan yang dikontrolnya.
3. Kepemilikan bank secara signifikan tidak begitu lazim. Terdapat hubungan
antara struktur kepemilikan dengan pemilihan Dewan Pengawas.
DAFTAR PUSTAKA
Hudanusantara. 2010. Good Corporate Governance. Diakses dari: http://hudanusantara-
end.blogspot.com/2010/11/good-corporate-governance_2805.html Pada tanggal
10 Maret 2019
Jensen, Michael C. dan W.H. Meckling. 1976. Theory of the Firm: Managerial Beharvior,
Agency Cost and Owership Stucture. Journal of Financial Economics 3. Hal.
305-360.
Kompasiana. 2018. Struktur Kepemilikan Perusahaan di Indonesia. Diakses dari:
https://www.kompasiana.com/inezlius/551ff41f81331198019dfb7a/praktik-good-
corporate-governance-terkait-struktur-kepemilikan-perusahaan-di-indonesia. Pada
tanggal 10 Maret 2019
Prasetyantoko, A. 2008. Corporate Governance: Pendekatan Institusional. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Sutojo, Siswanto. E. John Aldridge. 2008. Good Corporate Governance Tata Kelola
Perusahaan Yang Sehat. Jakarta: PT Damar Mulia Pustaka.