Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Struktur kepemilikan oleh beberapa peneliti dipercaya mampu mempengaruhi jalannya


perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan
(Indrayani, 2009). Hal ini dikarenakan adanya kontrol yang mereka miliki. Pada perusahaan
yang terdaftar di bursa saham maka konflik keagenan dapat muncul sebagai akibat dari
adanya beberapa kelompok pemegang saham yang memiliki proporsi kepemilikan yang
berbeda-beda. Lambert (2001); Husnan (2001) menyatakan bahwa proporsi kepemilikan
saham merupakan faktor yang dapat menimbulkan konflik antara pemilik dengan
manajemen. Konflik yang biasa terjadi antara manajer dengan pemilik dan asing serta pubik,
tentu akan sangat menghambat kemajuan-kemajuan perusahaan mencapai tujuan utama.
Dengan adanya permasalahan tersebutlah, maka dimunculkan struktur kepemilikan guna
mengubah pandangan antara pengelola perusahaan dan pemilik menuju satu tujuan yang
sama. Sehingga diharapkan akan terjadinya tata kelola perusahaan yang baik yang
memungkinkan kinerja perusahaan sesuai dengan apa yang diharapkan.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1. Apa yang dimaksud dengan struktur kepemilikan?
1.2.2. Apa tujuan dari dibentuknya struktur kepemilikan?
1.2.3. Apa saja jenis-jenis struktur kepemilikan?
1.2.4. Apa saja komposisi dalam struktur kepemilikan?
1.2.5. Apa saja masalah-masalah yang timbul dari kedua model kepemilikan tersebut?

1.3 Tujuan

1.3.1. Mengatahui pengertian struktur kepemilikan.


1.3.2. Mengetahui tujuan dibentuknya struktur kepemilikan.
1.3.3. Mengetahui dan memahami jenis-jenis struktur kepemilikan.
1.3.4. Mengetahui dan memahami komposisi dalam struktur kepemilikan.
1.3.5. Mengetahui dan dapat mengidentifikasi masalah-masalah yang timbul dari kedua
model kepemilikan tersebut.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 STRUKTUR KEPEMILIKAN DALAM CORPORATE GOVERNANCE


Konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham dapat diminimumkan
dengan suatu mekanisme pengawasan yang dapat mensejajarkan kepentingan-kepentingan
yang terkait tersebut. Namun dengan munculnya mekanisme pengawasan tersebut akan
menimbulkan biaya yang disebut sebagai agency cost. Perusahaan yang memisahkan fungsi
pengelolaan dengan fungsi kepemilikan akan rentan terhadap konflik keagenan. Penyebab
konflik antara manajer dengan pemegang saham diantaranya adalah pembuatan keputusan
yang berkaitan dengan 1) Aktivitas pencarian dana (financing decision) dan 2) Pembuatan
keputusan yang berkaitan dengan bagaimana dana yang diperoleh tersebut diinvestasikan.
Ada beberapa alternatif untuk mengurangi agency cost diantaranya adalah, pertama
dengan meningkatkan kepemilikan saham perusahaan (insider ownership) atau kepemilikan
manajerial oleh manajemen dan selain itu manajer merasakan langsung manfaat dari
keputusan yang diambil dan juga apabila ada kerugian yang timbul sebagai konsekuensi dari
pengambilan keputusan yang salah.
Struktur kepemilikan merupakan jenis institusi atau perusahaan yang memegang
saham terbesar dalam suatu perusahaan (Wahyudi dan Pawestri, 2006). Struktur kepemilikan
dapat dijelaskan dari dua sudut pandang, yaitu pendekatan keagenan dan pendekatan
informasi asimetri. Menurut pendekatan keagenan, struktur kepemilikan merupakan suatu
mekanisme untuk mengurangi konflik kepentingan antara manajer dengan pemegang saham.
Pendekatan ketidakseimbangan informasi memandang mekanisme struktur kepemilikan
sebagai suatu cara untuk mengurangi ketidakseimbangan informasi antara insiders dan
outsiders melalui pengungkapan informasi di dalam pasar modal. Melakukan pengungkapan
struktur kepemilikan perusahaan dapat membantu investor mengidentifikasi potensi konflik
kepentingan antar pemegang saham, transaksi kurang wajar antar perusahaan dengan
pemegang saham mayoritas maupun identifikasi terjadinya insider trading (Sutojo dan
Alrdrigde, 2008).
Struktur kepemilikan adalah elemen dasar dalam corporate governance suatu
perusahaan. Keberhasilan penerapan corporate governance tidak lepas dari struktur
kepemilikan perusahaan. Struktur kepemilikan tercermin baik dalam instrumen saham
maupun instrumen hutang, sehingga melalui struktur tersebut dapat ditelaah kemungkinan
bentuk masalah keagenan yang terjadi. Secara umum struktur kepemilikan suatu perusahaan

2
menunjuk kepada konfigurasi saham yang dimiliki oleh investor, baik individual di luar
perusahaan. Struktur kepemilikan sangat tergantung bagaimana perusahaan memenuhi
kebutuhan pendanaannya.
Struktur kepemilikan dipercaya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi jalannya
perusahaan yang nantinya dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Agency problem dapat
dikurangi dengan adanya struktur kepemilikan. Struktur kepemilikan merupakan suatu
mekanisme untuk mengurangi konflik antara manajemen dan pemegang saham.

2.2 JENIS-JENIS STRUKTUR KEPEMILIKAN


Struktur kepemilikan ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kepemilikan yang
tersebar (dispersed ownership) dan kepemilikan yang terkonsentrasi (concentrated
ownership).
2.2.1 Kepemilikan Tersebar
Pada model ini perusahaan memiliki pemegang saham yang banyak dengan jumlah
saham yang sedikit. Pemegang saham minoritas ini kurang mengawasi aktivitas perusahaan
dan cenderung tidak terlibat dalam pengambilan keputusan atau kebijakan perusahaan. Oleh
karena itu, pemegang saham tersebut disebut outsider, dan kepemilikan yang tersebar
tersebut disebut sebagai outsider system dan menurut Roche (2005), kepemilikan yang
tersebar ini merupakan model dari negara-negara common law seperti Amerika Serikat dan
Inggris.
Outsider system atau Anglo-American ini merupakan market-based model yang
dikarakteristikkan oleh perusahaan yang individualis dan kepemilikan privat, pasar modal
yang mapan dan likuid, dengan jumlah pemegang saham yang banyak dan konsentrasi
investor yang kecil. Pengendalian perusahaan diwujudkan melalui pasar dan investor luar.
Dalam outsider system ini terdapat anggota dewan yang independen untuk mengawasi
perilaku manajerial agar tetap terkontrol, sehingga menurut Roche (2005), sistem ini lebih
dapat dipertanggungjawabkan, tidak korupsi serta membantu perkembangan pasar modal
yang likuid.
Meskipun demikian, sistem ini memiliki kelemahan, yaitu kepemilikan yang
terkonsentrasi ini hanya tertarik pada maksimalisasi profit jangka pendek, dan mereka
cenderung untuk menyetujui kebijakan dan strategi yang menguntungkan keuntungan jangka
pendek, tetapi tidak mempertimbangkan kinerja perusahaan jangka panjang. Kadang-kadang,
hal ini dapat membuat konflik antara manajer dan pemilik, dan seringnya pergantian
kepemilikan karena pemegang saham melepaskan sahamnya untuk mendapatkan profit pada

3
saham lain yang lebih menguntungkan, sehingga hal tersebut dapat melemahkan stabilitas
perusahaan. Investor minoritas ini kurang mengawasi keputusan dewan dan tidak dapat
mempertahankan direktur yang dapat dipercaya, sehingga apabila terdapat direktur yang
mendukung keputusan yang tidak sejalan dengan perusahaan mungkin masih tetap di dewan.
2.2.2 Kepemilikan yang Terkonsentrasi (Concentrated Ownership)
Pada tipe perusahaan yang seperti ini, terdapat dua kelompok pemegang saham, yaitu
pemegang saham mayoritas yang bertindak sebagai pengendali dan pemegang saham
minoritas. Menurut Bae et al. (2003) kepemilikan yang terkonsentrasi ini merupakan salah
satu ciri dari control based model, selain menekankan pada insider board, pengungkapan
yang terbatas, dan ketergantungan pada keuangan atau sistem perbankan keluarga.
Karakteristik perusahaan ini banyak dijumpai di negara-negara yang sedang berkembang
(seperti Indonesia, Korea) dan Continental European. Masalah keagenan yang timbul
terutama adalah antara pengendali dan pemegang saham minoritas.
Masalah keagenan menjadi semakin makin serius karena seringkali perusahaan yang
terdaftar di bursa merupakan salah satu unit usaha dari grup sehingga masalah self-dealing
yang dapat merugikan pemegang saham minoritas sering terjadi. Karena itu bukan hanya
diperlukan adanya peraturan yang mencegah hal ini tetapi juga harus ada mekanisme untuk
menegakkan peraturan tersebut.
Roche (2005) berpendapat bahwa perusahaan yang kepemilikannya terkonsentrasi,
mempunyai beberapa keuntungan seperti pemegang saham mayoritas (insider) memiliki
kekuatan dan insentif untuk mengawasi manajemen dengan lebih dekat, sehingga dapat
meminimalkan timbulnya mismanajemen dan kecurangan. Selain itu, karena kepemilikan
mereka yang signifikan dan adanya hak pengendalian, insider cenderung untuk menjaga
investasinya dalam perusahaan untuk jangka waktu yang lama. Kelemahan dari sistem ini
antara lain, pemegang saham mayoritas dapat berkolusi dengan manajemen untuk mengambil
alih asset perusahaan dengan biaya dari pemegang saham minoritas. Ini merupakan risiko
yang signifikan bagi pemegang saham minoritas yang tidak dilindungi dengan hukum. Hal
yang sama, ketika manajer mengendalikan sejumlah besar saham atau hak suara yang
digunakan untuk mempengaruhi keputusan dewan yang menguntungkan mereka dengan
biaya perusahaan. Jadi terdapat masalah keagenan antara pemegang saham minoritas dengan
pengendali (pemegang saham mayoritas). Selain itu kemungkinan terjadi masalah keagenan
antara pemilik dan kreditur lebih besar daripada tipe perusahaan yang kepemilikannya
menyebar. Samad (2004) dalam penelitiannya pada perusahaan-perusahaan di Malaysia
menemukan bahwa kepemilikan yang terkonsentrasi dapat membuat kinerja perusahaan

4
menjadi lebih baik, dan komposisi kepemilikan tersebut merupakan elemen penting untuk
memacu kinerja perusahaan yang lebih baik.

2.3 KOMPOSISI DALAM STRUKTUR KEPEMILIKAN

Aspek dari struktur kepemilikan perusahaan adalah komposisinya, siapa pemegang


sahamnya, dan lebih penting siapa yang mengendalikan atau pemegang saham signifikannya.
Pemegang saham bisa kepemilikan keluarga atau grup keluarga, kepemilikan Manajerial,
kepemilikan institusi, kepemilikan asing dan kepemilikan pemerintah.
2.3.1 Kepemilikan Keluarga
Kepemilikan saham di negara berkembang sebagian besar dikontrol oleh kepemilikan
keluarga, termasuk perusahaan di Indonesia (Arifin, 2003). Perusahaan seperti ini lebih
efisien daripada perusahaan yang dimiliki publik karena biaya pengawasannya (monitoring
cost) lebih kecil. Perusahaan publik di Indonesia, perusahaan yang dikendalikan keluarga,
perusahaan negara, atau perusahaan yang dikendalikan institusional, memiliki masalah agensi
yang lebih kecil daripada perusahaan yang dikendalikan public atau perusahaan tanpa
pemegang saham pengendali. Perusahaan yang dikendalikan keluarga memiliki masalah
agensi yang lebih sedikit karena terdapat konflik yang lebih sedikit antara prinsipal dan agen,
tetapi terdapat masalah agensi lain yaitu antara pemegang saham mayoritas dengan pemegang
saham minoritas.
Perusahaan dikatakan dimiliki oleh keluarga apabila pimpinan atau keluarga
memiliki lebih dari 20% hak suara. Menurut Harijono (2013), penelusuran kepemilikan
keluarga dilakukan dengan melihat nama dewan direksi dan dewan komi saris Jika
nama dewan direksi dan dewan komisaris cenderung sama dalam beberapa tahun dan
mempunyai saham dalam kepemilikan perusahaan maka bisa saja perusahaan tersebut
termasuk dalam kepemilikan oleh keluarga. Jika perusahaan dimiliki institusi lain, maka
penelusuran kepemilikan dilakukan dengan analisis kepemilikan piramida dan struktur
lintas kepemilikan. Setelah ditelusuri maka dapat diketahui jika saham pengendali perusahaan
tersebut adalah individu, maka bisa dikategorikan sebagai kepemilikan keluarga.
Kepemilikan saham keluarga yang besar mempunyai pengaruh negatif bagi kinerja
perusahaan. Hal ini terjadi karena keluarga cenderung mengambil manfaat pribadi dari
perusahaan dengan semakin banyak nilai saham yang di investasikan maka semakin mudah
untuk mengendalikan perusahaan. Ketika timbul suatu resiko yang sangat tinggi yang dialami

5
oleh perusahaan, maka pemilik akan cenderung lebih menyelamatkan uang yang mereka
investasikan daripada memperbaiki kinerja perusahaan.
Anderson dan Reeb (2004) yang melakukan penelitian di Indonesia menemukan
bahwa kepemilikan keluarga berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan perusahaan hal
ini disebabkan karena perlindungan hukum terhadap investor dalam struktur kepemilikan
sangatlah lemah sehingga timbul masalah agensi yang dapat mengganggu kinerja
perusahaan.
2.3.2 Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial adalah pemegang saham dari pihak manajemen (dewan
direksi dan dewan komisaris) yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan.
Kepemilikan manajerial diukur dengan menggunakan rasio antara jumlah saham yang
dimiliki manajer atau direksi dan dewan komisaris terhadap total saham yang beredar.
Kepemilikan manajerial dapat mengurangi masalah agensi karena kinerja manajer
akan lebih baik seiring dengan peningkatan kepemilikan saham dalam perusahaan tersebut.
Manajer akan berusaha lebih giat untuk memperbaiki kinerja perusahaan, yang akhirnya
dapat meningkatkan nilai perusahaan dan meningkatkan kekayaannya sendiri.
Seiring meningkatnya kepemilikan manajerial akan menyelaraskan kepentingan
manajer dengan kepentingan pemegang saham. Sehingga terdapat insentif bagi manajer untuk
memaksimalkan nilai perusahaan ketika kepemilikan manajerialnya meningkat. Hal ini akan
efektif untuk mengontrol insentif manajer yang meningkat. Kepemilikan saham oleh
manajer akan mendorong penyatuan kepentingan antara prinsipal dan agen sehingga
manajer bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham dan dapat meningkatkan
kinerja perusahaan. Kepemilikan saham manajerial akan mendorong manajer untuk
berhati-hati dalam mengambil keputusan karena mereka ikut merasakan secara langsung
manfaat dari keputusan yang diambil dan ikut menanggung kerugian sebagai
konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah.
2.3.3 Kepemilikan Institusi
Kepemilikan saham institusional adalah saham perusahaan yang dipegang oleh
institusi lain. Institusi merupakan sebuah lembaga yang memiliki kepentingan besar terhadap
investasi yang dilakukan termasuk investasi saham. Perusahaan dengan kepemilikan
institusional yang besar (lebih dari 5%) mengindikasikan kemampuannya untuk memonitor
manajemen.
Kepemilikan institusional merupakan proporsi kepemilikan saham oleh institusi
seperti LSM, Perusahaan swasta, perusahaan efek, dana pensiun, perusahaan asuransi,

6
bank dan perusahaan-perusahaan investasi. Kepemilikan institusional diukur dengan
menggunakan rasio antara jumlah lembar saham yang dimiliki oleh institusi terhadap
jumlah lembar saham perusahaan yang beredar secara keseluruhan (Ujiyantho dan
Pramuka, 2007).
Kepemilikan institusional pada umumnya memiliki proporsi kepemilikan dalam
jumlah yang besar sehingga proses monitoring terhadap manajer menjadi lebih baik. Tingkat
kepemilikan institusional yang tinggi akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih
besar oleh pihak investor institusional sehingga dapat menghalangi perilaku opportunistic
manajer.
Institutional shareholders memiliki insentif untuk memantau pengambilan keputusan
perusahaan. Hal ini akan berpengaruh positif bagi perusahaan tersebut, baik dari segi
peningkatan nilai perusahaan maupun peningkatan kinerja usaha. Kepemilikan
institusional memiliki peranan yang penting dalam meminimalisasi konflik keagenan
yang terjadi diantara pemegang saham dengan manajer. Keberadaaan investor institusional
dianggap mampu mengoptimalkan pengawasan kinerja manajemen dengan memonitoring
setiap keputusan yang diambil oleh pihak mana jemen selaku pengelola perusahaan.
Kepemilikan institusional ditunjukkan dengan tingginya persentase saham perusahaan yang
dimiliki oleh pihak institusi.
2.3.4 Kepemilikan Asing
Berdasarkan teori keagenan, perbedaan kepentingan antara manajer dan
pemegang saham mengakibatkan timbulnya konfik yang biasa disebut agency conflict.
Konflik kepentingan yang sangat potensial ini menyebabkan pentingnya suatu mekanisme
yang diterapkan yang berguna untuk melindungi kepentingan pemegang saham.
Kepemilikan asing merupakan porsi outstanding share yang dimiliki oleh investor atau
pemodal asing (foreign investors) yakni perusahaan yang dimiliki oleh perorangan, badan
hukum, pemerintah serta bagian-bagiannya yang berstatus luar negeri terhadap jumlah
seluruh modal saham yang beredar (Farooque et al., 2007).
Kepemilikan asing merupakan proporsi saham biasa perusahaan yang dimiliki
oleh perorangan, badan hukum, pemerintah serta bagian- bagiannya yang berstatus luar
negeri. Atau perorangan, badan hukum, pemerintah yang bukan berasal dari Indonesia.
Kepemilikan asing dalam perusahaan merupakan pihak yang dianggap concern terhadap
peningkatan good corporate governance.

7
2.3.5 Kepemilikan Pemerintah
Kepemilikan pemerintah adalah jumlah kepemilikan saham oleh pihak pemerintah
(government) dari seluruh modal saham yang dikelola . Berdasarkan teori keagenan,
perbedaan kepentingan antara manajer dan pemegang saham mengakibatkan timbulnya
konfik yang biasa disebut agency conflict. Konflik kepentingan yang sangat potensial ini
menyebabkan pentingnya suatu mekanisme yang diterapkan yang berguna untuk melindungi
kepentingan pemegang saham.
Perusahaan pemerintah yang dikendalikan oleh para birokrat memiliki tujuan yang
didasarkan pada kepentingan politis dan bukan untuk menyejahterakan masyarakat dan
perusahaan itu sendiri. Dalam teori keagenan dijelaskan hubungan antara pemegang saham
dengan pihak manajer, pemerintah sebagai pemegang saham pengendali seharusnya bisa
mengawasi atau mengkontrol kinerja dari manajer, tetapi seringkali pemerintah justru
mempunyai tujuan lain selain meningkatkan kinerja.

2.4 PEMISAHAN KEPEMILIKAN DAN KEPENGURUSAN


2.4.1 Keterbatasan Model Perusahaan Kewirausahaan
Para wirausahawan, secara umum memiliki tiga kepemilikan sekaligus yang meliputi
: (1).Kepemilikan perusahaan itu sendiri yang menyangkut asset-aset yang digunakan dalam
proses produksi, (2).Kepemilikan kompetensi yang meliputi kualitas SDM, model
pengelolaan, dan struktur organisasi yang akan menentukan kualitas serta kuantitas proses
produksi, (3).Kepemilikan atas hak remunerasi atas pengelolaan perusahaan yang umumnya
secara sederhana dapat dipahami sebagai fungsi dan keutungan perusahaan. Model
kewirausahaan baik untuk perusahaan dalam kategori kecil dan menengah. Namun, tidak
cocok digunakan dalam perusahaan berskala besar. Karena, perusahaan jenis ini
membutuhkan dana operasional yang besar yang sulit dipenuhi dengan modal sendiri, dan
perusahaan dengan skala besar, tidak mungkin lagi dikelola secara pribadi. Dalam kondisi
tertentu dibutuhkan tenaga-tenaga professional yang memiliki tingkat kompetensi memadai
untuk mengelola perusahaan. Sehingga perusahaan berskala besar harus beralih ke
perusahaan model manajerial.

8
2.4.2 Masalah Dalam Model Manajerial
Masalah dalam model manajerial timbul karena terpisahnya pengelolaan perusahaan
dan kepemilikan dan menyebabkan tidak sinkronnya kepentingan pemilik dan pengelola
perusahaan. Dalam kasus perusahaan memiliki pemegang saham yang majemuk masalah
keagenan (agency problem) akan muncul bukan saja antara pemilik modal dan pengelola
(keagenan I), melainkan juga antara pemegang saham minoritas dengan pemegang saham
mayoritas (keagenan II)
Ada beberapa mekanisme untuk menekan masalah keagenan tipe I, seperti :
1. Sistem penggajian (remuneration system): diyakini, sistem penggajian yang baik
akan menekan sifat oportunis para pengelola perusahaan, sebagaimana dijelaskan
dalam teori biaya transaksi (transaction cost theory).
2. Sistem pengawasan internal: untuk mengawasi jalannya perusahaan yang
dilakukan oleh pihak lain, para pemilik modal menugaskan dewan pengawas yang
membawahi para pengelola perusahaan di bawah CEO (chief executive officers).
3. Sistem pengawasan eksternal (pasar): pengawasan melalui sistem pasar bisa
terjadi karena control yang dilakukan oleh para investor itu sendiri dengan cara
jual beli kepemilikan (saham), dan control bisa terjadi lewat mekanisme akuisisi
yang dilakukan atas alasan keterpaksaan karena kinerja perusahaan cenderung
buruk dan sulit diselamatkan sehingga mengundang perusahaan lain untuk
mengakuisisi.
4. Pasar eksekutif: mekanisme pengawasan dan control terhadap kinerja para
eksekutif dalam menjalankan perusahaan terjadi akibat ketatnya persaingan pasar
para eksekutif.
5. Konsentrasi kepemilikan: dalam berbagai studi ditunjukan bahwa konsentrasi
kepemilikan diyakini akan meningkatkan control terhadap manajer.

9
BAB III

PENUTUP

Konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham dapat diminimumkan


dengan suatu mekanisme pengawasan yang dapat mensejajarkan kepentingan-kepentingan
yang terkait yaitu dengan dibentuknya struktur kepemilikan. Struktur kepemilikan ini dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu kepemilikan yang tersebar (dispersed ownership) dan
kepemilikan yang terkonsentrasi (concentrated ownership).
Aspek dari struktur kepemilikan perusahaan adalah komposisinya, siapa pemegang
sahamnya, dan lebih penting siapa yang mengendalikan atau pemegang saham signifikannya.
Pemegang saham bisa kepemilikan keluarga atau grup keluarga, kepemilikan Manajerial,
kepemilikan institusi, kepemilikan asing dan kepemilikan pemerintah.
Penerapan struktur kepemilikan model kewirausahaan lebih cocok digunakan kepada
perusahaan berskala kecil karena pengelolaannya masih sederhana. Sementara itu untuk
perusahaan berskala besar membutuhkan dana yang lebih besar, pengelolaannya lebih
kompleks sehingga lebih membutuhkan tenaga-tenaga profesional untuk mengelolanya.
Karena itulah perusahaan-perusahaan besar lebih cocok menggunakan struktur kepemilikan
manajerial.

10
REFRENSI

Aprianingsih, Asri (2016). Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance, Struktur


Kepemilikan, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kinerja Keuangan Perbankan Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Inonesia Periode 2011-2014. Skripsi Universitas Negeri
Yogyakarta: Tidak Diterbitkan.

Prasetyantoko, Dr. A. 2008. CORPORATE GOVERNANCE (Pendekatan Institusional). PT.


Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Sutojo, Siswanto. Aldridge, E John. Good Corporate Governance-Tata Kelola Perusahaan


Yang Sehat. Jakarta: PT Damar Mulia Pustaka.

Unja, Mia. 2012. Struktur Kepemilikan Perusahaan. Artikel Online.


https://www.academia.edu/7563033/Kepemilikan_Imediat?auto=download.
(Diakses pada 08 Oktober 2017).

11