Anda di halaman 1dari 14

BAB I

Kerangka Berfikir Ilmiah


Hubungan dengan materi lain
1. Pada materi ini membahas tentang ringkasan epistemologi, sedang
materi lain adalah penerapan dari epistemologi.
2. Pada materi ini adalah pengantar memahami Tuhan. Manusia dan alam
semesta sedang materi lainnya adalah penjabaran tentang konsep Tuhan,
manusia, dan alam semesta
Tujuan Instruksional
1. Peserta dapat memahami peran dan fungsi akal
2. Peserta dapat memahamo garis besar filsafat ilmu
3. Peserta dapat memahami aliran-aliran berfikir
4. Peserta dapat memahami dan menggugurkan sophisme dan relatisme
5. Peserta dapat memahami dan menjelaskan logika aristotelian dan logika
dialektik
Defenisi
Pertama yang harus didefinisikan adalah kata defenisi itu sendiri.
Mengapa demikian?. Sebab dengan adanya perbedaan diantara kita dalam
mendefinisikan sesuatu dapat menjadikan diskusi/kesepahaman kita bias,
meskipun kita merujuk satu kata yang sama. Artinya kita harus mengacu pada
makna yang sama.
Lalu apa defenisi dari defenisi?. Defenisi pertama dari kata defenisi
adalah membatasi sesuatu sehingga kita dapat memiliki pengertian terhadap
sesuatu. Misalnya tanah kita berbatasan dengan jalan raya, tetangga, kebun dan
sungai. Maka defenisi tanah kita adalah sebidang tanah yang lataknya
disini…dan berbatasan dengan ini..ini..dan seterusnya. Jadi defenisi dari
defenisi adalah memberikan pengertian/penjelasan tentang sesuatu hal dan
disertai dengan batasan-batasan sehingga hal tersebut menjadi jelas. Dapat
disimpulkan bahwa inti dari defenisi yang pertama ini adalah menjelaskan
sessuatu yang terbatas. Konsekuensinya, jika sesuatu tidak terbatas maka tidaj
dapat didefenisikan.
Defenisi kedua dari kata Definisi adalah menjelaskan sesuatu dengan
beberapa pendekatan sehingga sesuatu itu jelas. Misalnya, jika kita ingin
mendefinisikan kertas, maka kita gunakan bentuk, warna, tekstur, kegunaan,
sumber dan seterusnya, sehingga gambaran tentang kertas bagi kita menjadi
jelas adanya.
Jika kita mencoba mendefinisikan judul diatas (Kerangka Berfikir
Ilmiah) maka kurang llebih seperti berikut:
Kerangka adalah sesuatu yang menyusun atau menopang yang lain
sehingga sesuatu yang lain dapat berdiri, dan berfikir merupakan gerak akal dari
satu titik ke titik yang lain. Atau bisa juga gerak akal dari pengetahuan yang
satu ke pengetahuan yang lain. Pengetahuan pertama kita adalah ketidaktahuan
(kita tahu bahwa dari kita sekarang tidak mengetahui sesuatu), pengetahuan
yang kedua adalah tahu (kemudian kita mengetahui apa yang sebelumnya tidak
kita tahu). Wajar kemudian ada yang mendefenisikan berfikir sebagai gerak
akal dari tidak tahu menjadi tahu. Tapi yang penting (inti pembahasannya)
adanya gerak akal.
Terserah kemudian kita pahami bahwa titik pertama adalah tidak tahu
dan titik kedua adalah tahu, lebih tahu atau malah ketidaktahuan yang baru.
Ilmiah adalah sesuatu hal/pernyataan yang bersifat keilmuan. Cuma disini kita
perlu bedakan ilmiah dalam perspektif kita dan sains barat. Ilmiah dalam sains
barat itu harus melewati pengujian secara empiris. Artinya ilmiah adalah
empiris dalam sains barat. Namun ilmiah yang dimaksudkan dalam
pembahasan kita adalah yang sesuai dengan hukum-hukum pengetahuan,
sedangkan tentang sains akan dibahas dalam materi lain, yakni Islam Iptek.
Kemutlakan dan Relativitas
Satu hal yang penting sebelum menjelajahi dunia pemikiran perlu
kiranya kita memahami jawaban dari beberapa pertanyaan berikut : apakah dari
semua yang ada? Apakah ide atau realitas diluar kita ini bersifat mutlak atau
relative? Dalam artian, tiada hal yang pasti seperti dalam kacamata kaum sofis
(Filosophis).
Membahas Sofisme, di Yunani muncul sekolompok orang yang berfikir
bahwa apapun yang ada dalam gagasan kita bersifat relative, semuanya selalu
dihadapkan pada pilihan apakah semuanya mungkin benar atau semuanya
mungkin salah. Ciri khas kaum Sophis adalah berdebat kusir yang kemudian
kembali relativitas. Artinya lebih menekankan kekuatan retorika dibanding
argumentasi.
Secara sosial, kaum sophis ini (Sophis = arif, pandai) menimbulkan
gejolak negatif dimasyarakat pada zamannya, karena tiada lagi yang dapat di
percaya.Memang konsekuensi dari relatifitas adalah hilangnya
kepercyaan.disaat seperti inilah muncullah tokoh socrates(=470-399 sm)yang
menggugurkan asumsi asumsi yang di bangun oleh kaum sophis.
Socrates yaqng dikenal sebagai seorang guru filsafat yunani kuno yang
sangat berpengaruh.Iyamemakaimetode dialektik untuk membimbing orang
memahami suatu pengetahuan dengan mengajukan pertanyaan2 setapak sampai
hal-hal yang meraqgukan terjawab atau m enjadi jelas,jelas mengatakan bahwa
filsafat berasal dari bahasa yunani yang berasal dari kata.philo=cinta dan
sophia=arif.Mungkin disinal kerendah hatian socrates tidak menganggap
dirinya sebagi orang pintar,tapisebagai pecinta kearifan.Disini perlu ditegaskan
bahwa puncak ilmu adalah kearifan.
Ada beberapa kelemahan sofhisme.pertama,kontradiksidengan
dirinya,misalnyapernyataan bahwa.”semua relatif”.Jikadikembalikan,apakah
pernyataan bahwa semuarelatif itu.Relatif atau mutlak kemungkinan jawaban
adalah jika dikatakan tersebut termasuk” relatif”,maka pernyataan ini
menggugurkandirinya.Artinya pernyataan ini juga relatif.kalau relatif artinya
belum dapat di jadikansandaran kemutlakan.sebagai contoh,pernyataan
“dilarang berbahasa indonesia”adalah pernyataan yang menggugurkan dirinya
karena pernyataan itu sendiri berbahasa indonesia.Jika kemudian jawabannya
adalah semua relatif kecuali relatifitas itu,maka mau tidak mau mengakuinya
adanya kemutlakan.Seperti kebingunan Al-Ghasali dalam pencariannya,hanya
satu hal yang dia ragukan adalah keraguan itu sendiri.
Kelemahan kedua adalah sofhismetidak memiliki pijakan teori yang
jelas,sehingga turunan dari prinsip berfikirnya juga menjadi tidak jelas.Setahu
penulis,sofhisme tidak lain dari kebingunan,kegundahan karena tidak memiliki
sistemberfikir yang konfrehensif.Cara kerja sofhis tidak sederhana,menciptakan
antitesa dari sebuah pernyataan dalam bahasa keraguan.Akibatnya adalah
munculnya keraguan baru dan tak mampu menjawab masalah.
Dengan demikian,maka relatifisme tidak dapat dijadikan pegangan
dalam pencaharian intelektual kita.Kita mesti mencari sebuah pijakan yang
kokoh yang kemudian diturunkan dalam sistem berfikir kita
Secuil Tentang Filsafat ilmu
Filsafat berasal dari bahasa Yunani, Philo, yang berarti cinta dan Sophis
yang berarti arif, pandai. Secara bahasa, semula Filsafat lazim diterjemahkan
sebagai cinta kearifan, kepandaian. Namun, cakupan pengertian sophia yang
semula itu ternyata luas sekali. Dahulu Sophia tidak hanya berarti kearifan saja,
melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebijakan
intelektual, pertimbangan sehat, sampai kepandaian pengrajin dan bahkan
kecerdikan dalam memutuskan hal-hal yang praktis.
Disini penulis mengambil pengertiantentang Filsafat yang mempunyai
arti sebagai berfikir radikal, menyeluruh dan sistematis. Maksudnya, dengan
berfikir radikal (bahasa Yunani radix =akar) atau sampai ke akar-akarnya
sehingga melihat sesuatu secara menyeluruh dan tersusun sehingga kita arif
dalam melihat persoalan. Ketika dilekatkan dengan kata ilmu maka berarti
berfikir secara radikal, menyeluruh dan sistematis terhadap ilmu.
Ilmu sendiri dapatdilihat dari dua sudut pandang. Sudut pandang barat,
membedakan ilmu dengan pengetahuan. Ilmu (Science) adalah kumpulan
pengetahuan (knowledge) yang tersistematis. Misalnya ilmu biologi adalah
kumpulan pengetahuan tentang makhluk hidup dan semua yang berkaitan
secara sistematis.
Sudut pandang berikutnya, daloam pemikiran Islam, Ilmu berasal dari
‘ain, lam dan mim, yang satu akar kata dengan ulama, alim dan sebagainya.
Ilmu berarti tahu, artinya ilmu dan pengetahuan dalam konteks ini sama saja.
Mendefenisikan pengetahuan dengan pengetahuan. Mendefenisikan ilmu
dengan ilmu, artinya dalam wilayah pendefinisian ilmu memerlukan kajian
tersendiri. Untuk jelasnya akan pada materi Islam Iptek.
Ada tiga aspek yang menjadi fondasi filsafat ilmu. Pertama
Epistemologi. Epistemologi ialah ilmu yang membahas tentang sumber
pengetahuan berikut kevalidan sebuah sumber (untuk lebih jelasnya baca
lampiran bagian terakhir). Kedua, ontologi, membahas tentang hakikat sesuatu
dalamhal eksistensi. Atau dengan kata lain keberadaan dan keapaan sesuatu.
Ketiga, aksiologi, membahas tentang kegunaan sesuatu itu. Dalam materi ini
kita hanya akan lebih banyak membahas aspek Epistemologi. Sedang aspek
ontologi akan dibahas dalam materi Dasar-dasar kepercyaan.
Sumber Pengetahuan
Berangkat dari adanya kemutlakan yang nantinya menyusun sistem berfikir
kita, maka persoalannya kemudian adalah bagaimana mencari sebuah fakultas
dalam diri kita yang digunakan untuk menilai sesuatu, dimana penilai itupun
masih harus dinilai kebenarannya. Secara umum ada beberapa mazhab
pemikiran yang bisa digolongkan sebagai berikut :
1. Skriptualisme
Skriptualisme adalah sistem berfikir yang dalam menilai
kebenaran digunakan teks kitab. Asumsi dasar yang terbangun adalah
teks dalam kitab mutlakadanya, oleh karenanya dalam penilaian
kebenaran harus sesuai dengan teks kitab. Mempertanyakan teks kitab
sama saja dengan mempertanyakan kemutlakan. Biasanya kaum
skriptual adalah orang yang beragama secara sederhana. Maksudnya,
peran akal dalam wilayah keagamaan sangat sempit bahkan hampir
tidak ada. Akal dianggap terbatas dan tidak mampu menilai, olehnya
kembali lagi ke teks kitab.
Namun dalam wilayah epistemologi, skriptualisme memiliki
beberapa kekurangan-kekurangan antara lain :
1) Tidak memiliki alasan yang jelas, mengapa kita harus
mempercayai kitab tersebut. Kalau yang mutlak adalah
teks kitab, maka pertanyaannya “bagaimana caranya
diantara banyak kitab menilai bahwa kitab in ilah yang
benar”. Kalau kita langsung percaya, maka kitab lain
juga harus kita langsung percaya. Nah, kalau
kontrakdiksi, kitab yang mana yang benar? Artinya,
kelemahan pertamanya adalah butuh sesuatu dalam
membuktikan kebenaran sebuah kitab.
2) Dari kelemahan pertama dapat kita turunkan kelemahan
berikutnya, yakni : terjebak pada subjekfitas. Artinya,
kebenaran sebuah kitab sangat tergantung pada umatnya .
kebenaran Al-qur’an, walau berbicara universal, hanya
dibenarkan oleh umat Islam. Umat Nasrani, Budha dan
sebagainya meyakini kitab kita pada umat lain
sebagaimana kita pun pasti tidak akan menerima teks
kitab umat lain.
3) Kelemahan ketiga adalah teks adalah “tanda” atau simbol
yang membutuhkan penafsiran.kitab tidak bisa
berinteraksi langsung, tetapi melawati proses penafsiran.
Sementara dalam penafsiran sangat tergantung kualitas
intelektual dan spiritual seseorang. Makanya kemudian,
adalah wajar jika sebuah teks dapat dimaknai berbeda.
Sebagai contoh, surah 80:1 dan 2:1
4) Tidak tepat dalam membuktikan Pencipta
2. Idealisme Platonian
Pemikiran plato dapat digambarkan kurang lebih seperti ini.
Sebelum manusia lahir dan masih berada di alam ide, semua kejadian
telah terjadi. Olehnya, manusia telah memiliki pengetahuan. Ketika
terlahir di alam materi ini, pengetahuan itu hilang. Untuk itu yang harus
manusia lakukan kemudian adalah bagaimana mengingat kembali.
Pengetahuan yang kita miliki hari ini kemarin dan akan datang
sebetulnya (dalam perspektif teori ini) tidak lebih dari pengingatan
kembali. Teori ini juga sering disebut sebagai teori pengingatan
kembali. Namun sebagai alat penilaian, teori ini memiliki beberapa
kekuranga.
 Tidak ada landasan yang memutlakan bahwa dahulu kita
pernah berada dalam ide.
 Turunan dari yang pertama, kalaupun (jadi diasumsikan
teori ini benar) ternyata sebelum lahir kita telah memiliki
pengetahuan, maka persoalannya adalah apakah
pengetahuan kita saat ini selaras dengan pengetahuan kita
sewaktu di alam ide. Kalau dikatakan selaras, apa yang
dapat dijadikan bukti.
 Ketiga, tidak diterangkan dimanakah ide dan material itu
menyatu (saat manusia belum dilahirkan), dan mengapa
disaat kita lahir, tiba-tiba pengetahuan itu hilang. Kalau
dikatakan material kita terlalu kotor untuk menampung
ide, maka mengapa saat ini kita bukan saja memiliki ide,
tapi bahkan mampu mengembangkan ide disaat material
kita justru semakin kotor.
3. Empirisme
Doktrin empirisme berlandaskan pada pengalaman dan persepsi
inderawi. Oleh karena itu, kebenaran dalam doktrin ini adalah sesuatu
yang dapat ditangkap oleh indra manusia. Bangunan sains kita pada hari
ini sangat kental oleh indra manusia. Banguan sains kita pada hari ini
sangat kental nuansa empirisnya. Tetapi empirisme memiliki
kekurangan sebagai berikut :
 Indera terbatas. Mata misalnya memiliki dsaya jangkau
penglihatan yang berbeda. Begitupun telingta dan indra
lainnya. Olehnya indra hanya bisa menangkap hal-hal
yang bersifat terbatas atau material pula. Makanya
fenomena penyembahan dan jatuh cinta misalnya, tidak
dapat dijawab dengan tepat oleh kaum empiris.
 Indra dapat mengalami distorsi. Sebagai contoh
terjadinya fatamorgana atau pembiasan benda pada dua
zat dengan kerapatan molekul berbeda. Ketika kita
masukkan pensil dalam gelas berisi air kita akan
melihatnya bengkok karena kerapatan molekul air, gelas
dan udara sebagai medium berbeda. Padahal jika kita
periksa ternyata pensil tetap lurus.
4. Kaum Perasa
Kaum perasa selalu menjadikan perasaannya sebagai tolak ukur
kebenaran. Ciri khas mereka adalah “Yakin saja”. Mereka menganggap
dirinya sebagai orang yang paling mampu mendengar suara hatinya, dan
menjadikan suara hatinya sebagai ukuran kebenaran. Banyak orang
beragama yang seperti ini padahal sistem berfikir macam ini memiliki
kekurangan dalam pembuktian kebenaran sebagai berikut :
 Tidak jelas yang didengar itu adalah suara hati atau justru
sekedar gejolak emosional, atau bahkan (dengan pendekatan
orang beragama) justru bisiskan setan. Jangan sampai hanya
gejolak emosi lantas dianggap suara hati, atau bisikan setan. Ng
Nah, persoalannya bagaimana membedakannya.
 Kalaupun yang terdengar adalah suara hati, maka akan subjektif.
Karena hati orang berbeda. Jika subjektif, maka yang didapatkan
adalah relativitas bukan kemutlakan.
 Tidak punya landasan mengapa kita mesti mengikuti suara hati.
Kalau akal menjustifikasi penggunaan hati berarti tidak
konsisten. Tetapi kalau menggunakan suara hati, maka kembali
ke poin sebelumnya.
5. Rasionalisme
Rasionalisme kurang lebih berarti sebuah pahaman yang
menjadikan akal sebagai ukuran sebuah kebenaran. Rasionalisme disini
bukan sesperti pandangan barat, karena rasionalisme dalam pandangan
barat berarti menggunakan metode ilmiah yang justru berangkat dari
doktrin empirikal.
Menurut Kang Jalal, sesuatu dianggap tidak rasional karena tiga
hal. Pertama tidak empiris. Sesuatu yang tidak dicerna indra manusia
biasanya dinggap tidak rasional. Hal ini umumnya menghinggapi orang
yang sangat empiris. Kedua menyimpang dari rata-rata. Sewaktu perang
Khaibar, kaum muslim menundukkan benteng terakhir kaum Yahudi.
Para sahabat sejum lah 50 laki-laki yang kuat tidak mampu mengangkat
pintu benteng itu, tetapi sayyidina Ali mampu mengangkatnya
sendirian. Ini dianggap tidak rasional, padahal hal ini rasional hanya
tidak seperti kebanyakan. Ketiga tidak tahu. Ketidaktahuan adalah
kelemahan yang orang berusaha tutupi dengan penisbahan stigma
irasional.
Rasionalisme tidak menutup diri dari teks, pengalaman atau
persepsi inderawi, juga perasaan. Akan tetapi kaum rasionalis
menggunakan akal dalam menilai semua yang ditangkap oleh bagian
dari kita. Namun bagi sekelompok orang, akal tidak dapat digunakan
untuk menilai kebenaran.alasannya, akal terbatas. Artinya penggunaan
akal sangat dengan mengakal-akali sesuatu.
Untuk menjawab ini ada banyak hal. Pertama, kata mengakal-
akali sesuatu “memiliki kesan negatif dalam aspek bahasa. Padahal
selama kita sadar (Termasuk ketika mengatakan emngakal-akali) yang
kita gunakan akal. Jadi menggugurkan diri sendiri. Melarang oarng
menggunakan akal disaat dia menggunakan akal. Kedua, kalau tidak
pakai akal, kita menggunakan apa?. Ketiga kalau akal terbatas,dimana
batasnya.
Memang benar bahwa akal terbatas dibanding pencipta-Nya
(selanjutnya dibahas dalam materi Dasar-dasar Kepercayaan), akan
tetapi akal sebagai potensi untuk tahu, dimana batasnya?. Hukum akal
menyakatan sebab selalu mendahului, lebih kuat dari akibat. Jadi
kesadaran akal sebagai ciptaan atau akibat pasti memiliki keterbatasan
dihadapkan dengan penciptanya. Cuma persoalannya adalah sejauh
manakita gunakan akal kita untuk mengetahui.
Dalam kecamata secara filsuf bahwa manusia adalah binatang
berakal. Secara biologis manusia memiliki syarat-syarat kebinatangan
seperti respirasi, eksresi, regenerasi dan sebagainya. Bedanya Cuma
satu, akal. Artinya manusia yang tidak menggunakan akalnya bisa lebih
buruk daripada binatang.
Kadang orang merancukan antara akal dan otak. Katanya,
otaklah yang berfikir. Untuk menjawab hal ini sederhana. Seandainya
otak yang berfikir, maka tentu kerbau adalah makhluk yang cerdas
karena volume otaknya lebih besar dari manusia. Ternyata kedokteran
modern menemukan bahwa dalam otak terdapat sel yang disebut
neuron. Neuron inilah yang mengkoordinasikan kerja syaraf dalam
tubuh disisi kanan diatur melalui tulang belakang menuju otak kiri
begitupun sebaliknya. Artinya otak tidak ada hubunganya dengan akal.
Otak tidak lebih dari sebuah organ seperti jantung, paru-paru dan
sebagainya. Dalam diri kita ada beberapa fakultas pengetahuan,
diantaranya :
 Indra. Yang menangkap warna, bentuk, bunyi, bau dan
sebaianya. Perbedaannya dengan empirisme. Empirisme
menjadikan indra sebagai/tolak ukur sedang rasionalisme
menjadikan indra sebagai sumber pengetahuan namun
bukan utama.
 Khayal. Hasil peresekutuan ide yang tidak memiliki
realitas eksternal. Misalnya manusia dan monyet yang
kesemuanya memiliki realitas eksternal, namun jika
digabungkan menjadi kera sakti yang memiliki realitas
internal (Dalam Ide) tapi tidak realitas eksternal.
 Wahmi. Berkaitan dengan perasaaan. Benci, cinta, rindu,
jengkel bdan sebagainya.; ilmu secara wahmiyah seperti
pada kaum perasa diatas. Cuma perbedaanya wahmi
masih bisa dikontrol, bukan sebagai patokan utama.
 Akal. Fakultas dalam diri kita sebagai yang mengontrol
semuanya.
Kita telah sampai pada pentingnya akal dalam menilai sesuatu.
Namun persoalannya lagi bahwa ternyata akal pun masih bisa salah.
Artinya akal tidak mutlak. Untuk menjawab. Hal ini, kita kembali ke
pendefenisian awal. Berfikir adalah gerak akal. Hal ini berarti
menandakan adanya proses. Analogi sederhana. Motor adalah akalnya.
Mengendarai motor adalah menggerakkan motor dari satu titik ke titik
lain, atau berfikir. Dalam proses itu harus menaati aturan yang ada. Jika
kita tidak menaati atiran seperti lampu lalu lintas dan rambu-rambu
maka akan terjadi kecelakaan. Berfikir dengan menaati rambu-rambu
atau aturan berfikir akan menyebabkan kecelakaan berfikir.
Jadi terjadi kesalahan berfikir bukan akal yang salah, tapi
penggunaannya yang tidak tepat. Untuk itu kita harus mengetahui
bagaimana aturan berfikir yang mutlak adanya, yang itupun harus
dinilai keberannya.
Seseorang pemikir telah membantu kita menyusun prinsip atau
aturan berfikir tersebut yang sering disebut logika aristotelian atau
logika formal sebagi berikut :
1. Prinsip identitas. Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu hanya sama
dengan dirinya sendiri. Secara matematis dirumuskan x = x.
2. Prinsip Non Kontradiksi. Prinsip ini menyatakan bahwa tiada
sesuatu pun yang berkontradiksi. Sesuatu berbeda dengan bukan
dirinya. Jika diturunkan melalui rumus matematika x tidak sama
dengan x
3. Prinsip kausalitas. Prinsip ini menyatakan bahwa tidak ada
sesuatupun yang kebetulan. Setiap sebab melahirkan akibat.
Rumusnya s a
4. Prinsip keselarasan. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap akibat
selaras sebabnya. Rumus s a
Pembuktian
Logika formal ditentang oleh kaum marxian dengan logika dialektiknya.
Mereka memahami bahwa logika formal hanyalah prinsip non kontradiksi,
karena mereka memahami adanya kontradiksi internal pada materi. Sebelumnya
kita jawab ada baiknya jika kita sedikit bahas tentang logika dialekti.
Logika dialektik adalah prinsip berfikir kaum marxian yang didalamnya
ada 4 poin (yang penulis ingat 2 poin saja, karena buku yang membahas hal ini
hilang). Pertamaa Negasi der Negation isinya adalah bahwa dalam satu materi
kontradiksi internal. Misalnya biji jagung. Pada ruang dan waktu yang
bersamaan terjadi dialektika antara biji jagung sebagai tesa dan benih sebagai
anti tesa. Jika antitesanya kuat maka antitesanya menjadi sintesa. Jadi biji
jagung = bukan biji jagung. Kalau memang sesuatu berbeda dengan dirinya
maka kotoran = makanan dan sesterusnya. Jika demikian akan terajdi
kehancuran. Nah bagaimana dengan kasus biji jagung. Biji jagung memiliki
potensi menjadi benih yang untuk pengaktualannya membutuhkan faktor
eksternal seperti air, tanah dan cahaya. Jika syarat terpenuhi, maka potensi itu
akan mengaktual. Artinya bukan kontradiksi internal, tapi gerak substansi yang
tergantung pada faktor eksternal.
Jika dijawab seperti diatas, kaum marxian akan mempertahan
pendapatnya dengan mengatakan 1 kg pasir beda dengan 1 kg pasir karena kita
yang pertama dan kedua pastilah memiliki selisih meski sangat kecil. Atau,
kita sekarang beda dengan kkita dahulu, maknanya diri kita berbeda dengan diri
kita. Sanggahan ini dapat dibantah dengan cara bahwa kita membahas masalah
eksistensi yang tetap. Mengapa, karena esensi selalu berubah (esensi terbagi
subtansi dan aksiden dan keduanya mengalami perubahan). Kedua, jika kita
ingin memberikan penjelasan tetntang eksistensi dengan contoh esesnsi, maka
kita katakan bahwa sesuatu itu dibandingkan dengan dirinya sendiri pada ruang
dan waktu yang sama. Contoh diri kita detik ini dibanding dengan detik itu
sendiri. Mereka biasanya menjawab bahwa jika sesuatu dibandingkan pada saat
yang sama tidak ada waktu. Ketiadaan waktu menyebabkan ketiadaan materi.
Artinya kita tidak dapat membanding sesuatu pada dirinya sendiri pada waktu
itu. Ini adalah lelucon. Mengapa, kalau tidak bisa, buktinya tadi kita bisa.
Kedua, yang tidak ada bukan waktu (+) tetapi selisih ( +). Buktinya sesuatu
pada waktu tertentu tetap ada. Jadi prinsip negasi der negationn tidak rasional.
Prinsip kedua adalah Quantity to Quality, jumlah menuju kualitas.
Contoh air pada suhu 0 derajat celcius berada pada kualitas padat. Pertambahan
kuantitas panas akan menyebabkan mencairnya es atau perubahandari kualitas
padat menjadi kualitas cair. Penambahan kuantitas atau perubahan dari kualitas
padat menuju kualitas cair. Penambahan kuantitas panas menjadi 100 derajat
celcius akan menyebabkan perubahan dari cair ke gas. Prinsip ini sama dengan
gerak substansi dalam filsafat. Jadi prinsip kedua bukan menggugurkan prinsip
non kontradiksi, tetapi justru membenarkan. Artinya prinsip ini bersifat logis
dan niscaya.
Pembuktian Berikutnya
Jikaa seorang anak kecil menangis karena mainannya diambil, tetapi mainanya
kita beri pada yang lain, maka ia tetao akan menangis, karena ia tahu bahwa
dirinya sama dengan dirinya sendiri, bukan orang lain. Bahkan kambing jika
kita beri emas dan rumput ia tidak akan mengambil emas karena rumput =
rumput dan emas = emas. Artinya justru prinsip ini berlaku universal.
Pembuktian Kausalitas dan Keselarasan
Ketika kita menangkap sesuatu maka akal kita akan mengatakan bahwa tidak
mungkin dia ada dengan sendirinya, pasti ada penyebabnya. Dan akibat pasti
selaras dengan sebabnya. Tidak mungkin benih jagung menyebabkan
tumbuhnya pohon kurma. Semua yang ada di alam ini adalah bukti kemutlakan
prinsip yang niscaya lagi rasional ini. Tapi untuk jelasnya silahkan baca buku
logika atau kajian.
Penutup
Inti dan tujuan materi ini adalah pesesrta Basic Training memahami secara garis
besar mazhab pemikiran dan memiliki kerangka berfikir dalam menganalisis
setiap persoalan serta tidak terjebak pada kejumudan berfikir.

Wallahu a’lam Bishshoab