Anda di halaman 1dari 12

AKUNTANSI MANAJEMEN LANJUTAN

AUDITING & ASSURANCE


“PERENCANAAN AUDIT LAPORAN KEUANGAN”

OLEH:

1. NANIK MARDIAH (18401240278)


2. VICKY ANGGEL PUTRA (18401240279)
3. FANTA SILVIA WATUNG (18401240280)
4. IDHAM (18401240284)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI

STIESIA SURABAYA

2019
A. LATAR BELAKANG
Kertas kerja merupakan suatu dasar dalam penerapan standar auditing terutama dalam
hal pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Konsep-konsep dasar dalam auditing digunakan
sebagai dasar perencanaan audit. Diantara konsep-konsep yang ada, konsep materialitas dan
risiko termasuk konsep fundamental yang harus dipahami auditor dalam merencanakan dan
melakukan kegiatan audit. Konsep materialitas merupakandasar penerapan standar auditing
terutama standar pekerjaan lapangan dan standarpelaporan. Dengan konsep ini, auditor
menentukan standar hal-hal yang tergolongmaterial atau tidak material. Hal ini menjadi
sangat penting karena pendapat yangdiberikan auditor merupakan pendapat terhadap hal-hal
yang bersifat materialsaja. Maka ruang lingkup pemeriksaan dan penentuan pendapat yang
akan diberikan, bergantung pada interprestasi dan pemahaman auditor terhadap nilai-nilai
yang termasuk dalam hal yang material ataupun tidak material.Sedangkan konsep risiko
merupakan risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari, tidak memodifikasi
pendapatnya sebagaimana mestinya,atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji
material.

Pentingnya konsep materialitas yakni sebagai pertimbangan seorang auditor dalam


menjalankan tugasnya. Di era globalisasi sekarang ini, dimana bisnis tidak lagi mengenal
batas negara, perusahaan membutuhkan laporan keuangan yang dapat dipercaya. Auditor
eksternal yang independen menjadi salah satu profesi yang dicari. Profesi auditor diharapkan
oleh banyak orang untuk dapat menambah kepercayaan pada pemeriksaan dan pendapat yang
diberikan. Oleh karena itu, profesionalisme menjadi tuntutan utama seseorang yang bekerja
sebagai auditor eksternal. Dalam pekerjaan audit, seorang auditor tidak lepas dari salah satu
prosesnya, yaitu Penentuan Risiko Audit. Adanya Risiko Audit diakui dalam pernyataan pada
laporan keuangan bentuk baku bahwa auditor memperoleh “keyakinan memadai” apakah
laporan keuangan bebas dari salah saji material.
A. PENGERTIAN MATERIALITAS
Materialitas merupakan dasar penerapan dasar auditing, terutama standar pekerjaan
lapangan dan standar pelaporan. Oleh karena itu, materialitas mempunyai pengaruh yang
mencakup semua aspek audit dalam audit atas laporan keuangan.
Menurut FASB ( Finally Accounting Standart Board atau Badan standar tentang
prinsip-prinsip akuntansi di Amerika) materialitas yaitu besarnya nilai yang dihilangkan atau
salah saji informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya dapat
mengakibatkan perubahan atas pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan
kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji tersebut.
Oleh karena auditor bertanggung jawab menentukan apakah terdapat salah saji informasi
akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya dapat mengakibatkan perubahan atas
atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap
informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji tersebut. Jika klien menolak
untuk mengoreksi salah saji tersebut, maka auditor harus menerbitkan opini wajar dengan
pengecualian atau tidak wajar, bergantung pada seberapa signifikan salah saji tersebut. Untuk
menentukan hal tersebut, auditor sangat bergantung pada pengetahuan yang mendalam atas
penerapan materialitas.

B. PERTIMBANGAN AWAL TENTANG MATERIALITAS


Auditor melakukan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas dalam
perencanaan auditnya. Pertimbangan materialitas mencakup pertimbangan kuantitatif yang
berkaitan dengan hubungan salah saji dengan jumlah kunci tertentu dalam laporan keuangan
dan kualitatif yang berkaitan dengan penyebab salah saji.
Dalam perencanaan suatu audit, auditor harus menetapkan materialitas pada dua tingkat
berikut ini :
 Tingkat laporan keuangan, karena pendapat auditor atas kewajaran mencakup laporan
keuangan sebagai keseluruhan.
 Tingkat saldo akun, karena auditor memverifikasi saldo akun dalam mencapai
kesimpulan menyeluruh atas kewajaran laporan keuangan.
Faktor yang harus dipertimbangkan dalam melakukan pertimbangan awal tentang materialitas
pada setiap tingkat dijelaskan berikut ini :
a. Materialitas pada Tingkat Laporan Keuangan
Auditor menggunakan dua cara dalam menerapkan materialitas. Pertama, auditor
menggunakan materialitas dalam perencanaan audit dan kedua, pada saat mengevaluasi
bukti audit dalam pelaksanan audit. Pada saat merencanakan audit, auditor perlu
membuat estimasi materialitas karena terdapat hubungan terbalik antara jumlah dalam
laporan keuangan yang dipandang material oleh auditor dengan jumlah pekerjaan audit
yang diperlukan untuk menyatakan kewajaran laporan keuangan.
Laporan keuangan mengandung salah saji material jika laporan tersebut berisi
kekeliruan atau kecurangan yang dampaknya, secara individual atau secara gabungan,
sedemikian signifikan sehingga mencegah penyajian secara wajar laporan keuangan
tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Dalam keadaan ini, salah saji
dapat terjadi sebagai akibat penerapan secara keliru prinsip akuntansi berterima umum di
Indonesia, penyimpangan dari fakta, atau penghilangan informasi yang diperlukan.
Dalam perencanaan audit, auditor harus menyadari bahwa terdapat lebih dari satu
tingkat materialitas yang berkaitan dengan laporan keuangan. Kenyataannya, setiap
laporan keuangan dapat memiliki dari satu tingkat materialitas. Untuk laporan laba-rugi,
materialitasnya dapat dihubungkan dengan total pendapatan, laba bersih usaha, laba
bersih sebelum pajak, atau laba bersih setelah pajak. Untuk neraca, materialitas dapat
didasarkan pada total aktiva, aktiva lancar, modal kerja, atau modal saham.
Pertimbangan awal auditor tentang materialitas seringkali dibuat enam sampai
dengan sembilan bulan sebelum tanggal neraca. Oleh karena itu, pertimbangan tersebut
dapat didasarkan atas data laporan keuangan yang dibuat tahunan. Sebagai alternatif,
pertimbangan tersebut dapat didasarkan atas hasil keuangan satu tahun atau lebih yang
telah lalu, yang disesuaikan dengan perubahan terkini, seperti keadaan ekonomi umum
dan trend industri.
Sampai dengan saat ini, tidak terdapat panduan resmi yang diterbitkan oleh Ikatan
Akuntan Indonesia tentang ukuran kuantitatif materialitas. Berikut ini diberikan contoh
beberapa panduan kuantitatif yang digunakan dalam praktik:
Laporan keuangan dipandang mengandung salah saji material jika terdapat salah saji
5 % sampai 10 % dari laba sebelum pajak.
Laporan keuangan di pandang mengandung salah saji material jika terdapat salah
saji ½ % sampai 1 % dari total aktiva.
Laporan keuangan di pandang mengandung salah saji material jika terdapat salah
saji 1 % dari total pasiva.
Laporan keuangan di pandang mengandung salah saji material jika terdapat salah
saji ½ % sampai 1 % dari pendapatan bruto.
b. Materialitas pada Tingkat Saldo Akun
Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang mungkin
terdapat dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah saji material. Konsep
materialitas pada timgkat saldo akun tidak boleh dicampuradukkan dengan istilah saldo
akun material. Saldo akun material adalah besarnya saldo akun yang tercatat, sedangkan
konsep materialitas berkaitan dengan jumlah salah saji yang dapat mempengaruhi
keputusan pemakai informasi keuangan.
Saldo suatu akun yang tercatat umumnya mencerminkan batas atas lebih saji
(overstateme) dalam akun tersebut. Oleh krena itu, akun dengan saldo yang jauh lebih
kecil dibandingkan materialitas seringkali disebut sebagai tidak material mengenai risiko
lebih saji. Namun, tidak ada batas jumlah kurang saji dalam suatu akun dengan saldo
tercatat yang sangat kecil. Oleh karena itu, harus disadari oleh auditor, bahwa akun yang
kelihatannya bersaldo tidak material, dapat berisi kurang saji ( understatement ) yang
melampaui materialitasnya.
c. Alokasi Materialitas Laporan Keuangan ke Akun
Bila pertimbangan awal auditor tentang materialitas laporan keuangan
dikuantifikasikan, penaksiran awal tentang materialitas untuk setiap akun dapat diperoleh
dengan mengalokasikan materialitas laporan keuangan kea kun secara individual. Dalam
melakukan alokasi, auditor harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya salah saji
dalam akun tertentu dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memverifikasi akun
tersebut.

C. HUBUNGAN ANTARA MATERIALITAS DENGAN BUKTI AUDIT


Materialitas merupakan satu di antara berbagai faktor yang mempengaruhi
pertimbangan auditor tentang kuantitas (kecukupan) bukti audit. Dalam membuat generalisasi
hubungan antara materialitas dengan bukti audit, perbedaan istilah materialitas dan saldo
akun material harus tetap diperhatikan. Semakin rendah tingkat materialitas, semakin besar
jumlah bukti yang diperlukan. (hubungan terbalik). Semakin besar atau semakin signifikan
suatu saldo akun, semakin banyak jumlah bukti yang diperlukan.

D. PENGERTIAN RISIKO AUDIT


Risiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari, tidak
memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang
mengandung salah saji material. Semakin pasti auditor dalam menyatakan pendapatnya,
semakin rendah risiko audit yang auditor bersedia untuk menanggungnya.
Auditor merumuskan suatu pendapat atas laporan keuangan sebagai keseluruhan atas
dasar bukti yang diperoleh dari verifikasi asersi yang berkaitan dengan saldo akun secara
individual atau golongan transaksi. Tujuannya adalah untuk membatasi risiko audit pada
tingkat saldo akun sedemikian rupa sehingga pada akhir proses audit, risiko audit dalam
menyatakan pendapat atas laporan keuangan sebagai keseluruhan akan berada pada tingkat
yang rendah.

E. KOMPONEN PENILAIAN RISIKO AUDIT

1. Risiko Bawaan
Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap
suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur
struktur pengendalian intern yang terkait.
Penilaian risiko bawaan merupakan pertimbangan mengenai hal-hal yang mungkin
memiliki dampak yang mendalam terhadap asersi-asersi untuk semua atau banyak akun
dan hal-hal ang hanya berkaitan dengan asersi spesitifk untk suatu akun spesifik.
Risiko bawaan dapat lebih besar untuk beberapa asersi daripada untuk asersi-asersi
lainnya. Risiko bawaan muncul secara independent dari audit laporan keuangan. Oleh
karena itu, auditor tidak dapat mengubah tingkat actual dari risiko bawaan. Akan tetapi,
auditor dapat mengubah tingkat risiko bawaan yang dinilai.
2. Risiko Pengendalian
Risiko pengendalian adalah risiko terjadinya salah saji material dalam suatu asersi
yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh struktur pengendalian
intern entitas.
3. Risiko Deteksi
Risiko deteksi adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mandeteksi salah saji
material yang terdapat dalam suatu asersi.
Risiko deteksi dapat dinyatakan sebagai suatu kombinasi dari risiko prosedur analitis dan
risiko pengujian terinci. Dalam menentukan risiko deteksi auditor juga harus
mempertimbangkan kemungkinan akan membuat suatu kekeliruan.
Dalam perencanaan audit, suatu tingkat risiko deteksi yang direncanakan dapat diterima
untuk prosedur analitis dan pengujian terinci ditentukan untuk setiap asersi yang
signifikan dengan menggunakan model risiko audit.
F. RISIKO AUDIT PADA TINGKAT LAPORAN KEUANGAN DAN TINGKAT SALDO
AKUN
1) Risiko Audit Keseluruhan (Overall Audit Risk)
Pada tahap perencanaan auditnya, auditor pertama kali harus menentukan risiko audit
keseluruhan yang direncanakan, yang merupakan besarnya risiko yang dapat ditanggung
oleh auditor dalam menyatakan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar, padahal
kenyataannya, laporan keuangan tersebut berisi salah saji material.
2) Risiko Audit Individual
Karena audit mencakup pemeriksaan terhadap akun-akun secara individual, risiko
audit keseluruhan harus dialokasikan kepaada akun-akun yang berkaitan. Risiko audit
individual perlu ditentukan untuk setiap akun karena akun tertentu seringkali sangat
penting karena besar saldonya atau frekuensi transaksi perubahan. Dari pengalaman audit
di tahun sebelumnya, auditor dapat menaksir risiko audit atas akun tertentu.

G. HUBUNGAN ANTARA MATERIALITAS, RISIKO AUDIT, DAN BUKTI AUDIT


Berbagai kemungkinan hubungan antara materialitas, bukti audit, dan risiko audit
digambarkan sebagai berikut :
 Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat meterialitas dikurangi,
auditor harus menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
 Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan mengurangi jumlah bukti
audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat.
 Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat menempuh salah
satu dari tiga cara berikut ini :
 Menambah tingkat meterialiras, sementara itu mempertahankan jumlah bukti audit yang
dikumpulkan.
 Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu tingkat materialitas tetap
dipertahankan.
 Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat materialitas secara
bersama-sama.

H. STRATEGI AWAL AUDIT


Tujuan akhir auditor dalam perencanaan dan pelaksanaan proses audit adalah
mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah untuk mendukung pendapatnya,
apakah dalam semua hal yang material, laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai
prinsip akuntansi secara umum. Tujuan ini dicapai dengan mengumpulkan bukti audit tentang
asersi yang terdapat dalam laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen.
Dalam mengembangkan strategi audit awal untuk suatu asersi, auditor menetapkan 4 unsur
berikut ini :
o Tingkat risiko pengendalian taksiran yang direncanakan.
o Luasnya pemahaman atas pengendalian intern yang harus diperoleh.
o Pengujian pengendalian yang harus dilaksanakan untuk menaksir risiko pengendalian.
o Tingkat pengujian substantif yang direncanakan untuk mengurangi risiko audit ke tingkat
yang cukup rendah.
Dalam menentukan strategi audit awal, auditor pada dasarnya menentukan titik berat
pengujian yang akan dilaksanakan oleh auditor terutama pada pengujian substantif atau
terutama pada pengujian pengendalian.
Strategi audit awal dalam perencanaan audit atas asersi individual dan sekelompok asersi.
Strategi yang audit awal dibagi menjadi 2 macam :

1. Pendekatan terutama substantif ( primary substantive approach )


Dalam strategi audit ini, auditor mengumpulkan semua atau hampir semua bukti audit
dengan menggunakan pengujian substantif dan auditor sedikit meletakkan kepercayaan
atau tidak mempercayai pengendalian intern. Pada dasarnya ada tiga alasan mengapa
auditor menggunakan pendekatan ini :
 Hanya terdapat sedikit ( jika ada ) kebijakan atau prosedur pengendalian intern yang
relevan dengan perikatan audit atas laporan keuangan.
 Kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang berkaitan dengan asersi untuk akun
dan golongan transaksi signifikan tidak efektif.
 Peletakkan kepercayaan besar terhadap pengujian substantive lebih efisien untuk
asersi tertentu.

2. Pendekatan tingkat risiko pengendalian taksiran rendah ( lower level of control risk
approch )
Dalam pendekatan ini, auditor meletakkan kepercayaan moderat atau pada tingkat
kepercayaan penuh terhadap pengendalian, dan sebagai akibatnya auditor hanya
melaksanakan sedikit pengujian substantif.

I. STRATEGI TEMBAHAN AUDIT


1. Pendekatan Substantif Utama yang Menekankan Pada Prosedur Analitis
Menurut pendekatan substantive utama yang menekankan pada prosedur analitis,
auditor menspesifikasikan komponen-komponen strategi audit berikut:
 Memperoleh pengetahuan yang luas mengenai proses bisnis klien yang releven
dengan asersi.
 Auditor mengantisipasi bahwa dia dapat memperoleh bukti kompeten dari prosedur
analitis untuk mendukung suatu penilaian risiko sedang atau rendah dari bukti
tersebut.
 Gunakan suatu tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai pada
tingkat yang tinggi (atau pada tingkat maksimum).
 Rencanakan untuk memperoleh suatu pemahaman minimum mengenai bagian
relevan dari pengendalian intern.
 Rencanakan untuk memperoleh suatu pemahaman minimum mengenai bagian
relevan dari pengendalian intern.
 Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.
 Rencanakan pengujian substantive atas transaksi dan saldo yang lebih sempit
sebagai akibat dari pengurangan risiko yang diberikan dari pengurangan risiko yang
diberikan prosedur analitis.

2. Penekanan pada Risiko Bawaan dan Prosedur Analitis


 Risiko bawaan dinilai pada tingkat di bawah maksimum.
 Gunakan tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan untuk dinilai serendah
mungkin.
 Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai pada tingkat
yang tinggi (atau pada tingkat maksimum).
 Rencanakan untuk memperoleh pemahaman minimum mengenai bagian yang
relevan dari pengendalian intern.
 Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.
 Rencanakan pengujian substantive atas transaksi dan saldo yang lebih sempit
sebagai akibat dari pengurangan risiko yang diberikan dari pengurangan risiko
bawaan dan prosedur analitis yang lebih rendah.

Auditor wajib memperoleh pemahaman mengenai pengendalian internal yang relavan


bagi auditnya. Meskipun kebanyakan pengendalian yang relavan dengan audit, sangat
berhubungan dengan pelaporan keuangan, namun tidak semua pengendalian yang
berhubungan dengan pelaporan keuangan adalah relavan dengan audit.

Dengan kearifan profesionalnya, auditor menilai apakah suatu pengendalian secara


individu atau dalam kombinasi dengan pengendalian lain, adalah relavan dengan
auditnya (ISA 315.12 alinea A42 – A65).

1. Menyananyakan kepada Manajemen dan Pihak lain


Kutipan dari ISA 240 tentang prosedur “Menanyakan kepada manajemen dan pihak
lain”, termasuk menanyakan masalah kecurangan, diantaranya:
ISA 240.17
Auditor wajib menanyakan kepada manajemen tentang:
a. Penilaian oleh manajemen mengenai risiko salah saji yang material dalam laporan
keuangan karena kecurangan, termasuk tentang sifat, luas dan berapa seringnya
penilaian tersebut dilakukan; (A12 – A13)
b. Proses yang dilakukan manajemen untuk mengidentifikasi dan menanggapi risiko
kecurangan dalam entitas itu, termasuk risiko kecurangan yang diidentifikasi oleh
manajemen atau yang dilaporkan kepada manajemen, atau risiko kecurangan mungkin
terjadi dalam jenis transaksi, saldo akun, atau pengungkapan; (A14)
c. Komunikasi manajemen dengan TCWG mengenai proses yang dilakukan manajemen
untuk mengidentifikasi dan menanggapi risiko kecurangan dalam entitas itu;
d. Komunikasi manajemen dengan karyawan, jika ada, tentang pandangan manajemen
mengenai praktik-praktik bisnis dan prilaku etis.
ISA 240.18
Auditor wajib mananyakan kepada manajemen dan pihak lain di dalam entitas (jika
perlu), untuk menentukan apakah mereka mengetahui kecurangan yang terjadi, yang
disangka terjadi atau yang dituduhkan, yang mempunyai dampak pada entitas. (A15 –
A17)
Prosedur bertanya digunakan auditor dalam hubungannya dengan prosedur penilaian
risiko lainnya, untuk mengidentifikasi risiko salah saji yang material. Perhatian utama
dalam pertanyaan yang diajukan adalah pemahaman mengenai setiap aspek yang wajib
diketahui.

2. Prosedur Analitikal
Prosedur analitikal sebagai prosedur penilaian risiko membantu mengidentifikasi hal-
hal yang mempunyai implikasi terhadap laporan keuangan dan audit. Sebagai contoh,
segala sesuatu yang bersifat luar biasa, seperti transaksi atau peristiwa luar biasa, angka-
angka yang terlalu tinggi, rasio yang melenceng dan tren yang ganjil.
Disamping sebagai prosedur penilaian risiko, prosedur analitikal juga dapat digunakan
sebagai prosedur audit selanjutnya dalam:
a. Memperoleh bukti mengenai asersi laporan keuangan. Ini adalah prosedur analitikal
substantif;
b. Melakukan riviu menyeluruh atas laporan keuangan pada atau menjelang akhir audit.
Hasil prosedur analitikal dibandingkan dengan informasi yang dikumpulkan untuk:
a Mengidentifikasi risiko salah saji yang material mengenai asersi yang
terkandung dalam unsur-unsur laporan keuangan yang signifikan;
b. Membantu merancang sifat, waktu, dan luasnya prosedur audit selanjutnya.

3. Observasi (Pengamatan) dan Inspeksi


Observasi atau pengamatan dan inspeksi (Observation and Inspection) mempunyai
dua fungsi:
a. Mendukung prosedur inquiries (bertanya) kepada manajemen dan pihak-pihak lain;
b. Menyediakan informasi tambahan mengenai entitas dan lingkungannya.

Pemahaman Industri Bisnis Klien


Pemahaman yang menyeluruh atas bisnis dan industry klien dan pengetahuan atas
operasional perusahaan merupakan hal yang penting untuk melakukan audit dengan
memadai. Standar kedua pekerjaan lapangan menyatakan : Auditor harus mendapatkan
pemahaman yang memadai atas entitas dan lingkungannya, termasuk pengendalian
internalnya, untuk menilai resiko salah saji material dalam laporan keuangan, baik
disebabkan karena kesalahan atau kecurangan, dan untuk merancang sifat waktu dan
keluasan prosedur audit yang lebih lanjut. Sifat bisnis dan industry klien memengaruhi
risiko bisnis klien dan risiko salah saji material dalam laporan keuangan. Auditor
mempertimbangkan beberapa factor yang telah meningkatkan pentingnya pemahaman
atas bisnis dan industry klien dengan menggunakan suatu pendekatan system strategis
untuk memahami bisnis klien. Beberapa factor tersebut diantaranya, yaitu :
1. Teknologi informasi menghubungkan klien perusahaan dengan pelanggan dan
pemasok utamanya. Akibatnya, auditor harus memiliki pengetahuan yang lebih
mengenai pelanggan dan pemasok utama dan risiko - risiko terkait.
2. Klien yang telah memperluas usahanya secara global, sering kali melalui modal
ventura dan aliansi strategis.
3. Teknologi yang mempengaruhi proses pengendalian internal klien, meningkatkan
kualitas dan ketepatan waktu informasi keuangan.
4. Makin pentingnya sumber daya manusia dan aset tak berwujud lainnya telah
meningkatkan kompleksitas akuntansi dan pentingnya penilaian dan estimasi
manajemen.
5. Auditor perlu memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap bisnis dan industry
klien untuk memberikan jasa yang memiliki nilai tambah pada kliennya