Anda di halaman 1dari 37

PRESENTASI KASUS

ANAK DENGAN HIV

Pembimbing :
dr. Meiharty Bahar Zulkifli, Sp.A

Disusun Oleh :
Rizvialdi
030.15.002

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
25 MARET 2019 – 30 MEI 2019
LEMBAR PENGESAHAN

Presentasi kasus yang berjudul:

“Anak dengan HIV”

Yang disusun oleh

Rizvialdi
030.15.002

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing:

dr. Meiharty Bahar Zulkifli, Sp.A

Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak RSUD Budhi Asih

Periode 25 Maret 2019 – 30 Mei 2019

Jakarta, April 2019

Pembimbing

dr. Meiharty Bahar Zulkifli, Sp.A

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan YME, karena berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan
makalah ini.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik bagian Ilmu
Penyakit Anak Studi Pendidikan Dokter Universitas Trisakti di Rumah Sakit Umum Daerah
Budhi Asih
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah ini, terutama :
1. Dr. Meiharty Bahar Zulkifli, Sp.A selaku pembimbing dalam penyusunan makalah,
2. Teman-teman yang turut membantu penyelesaian makalah ini,
3. Serta pihak-pihak lain yang bersedia meluangkan waktunya untuk membantu saya.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Saya mengharapkan
kritik dan saran yang dapat membangun dan bertujuan untuk ikut memperbaiki makalah ini
agar dapat bermanfaat untuk pembaca dan masyarakat luas.

Jakarta, April 2019

Rizvialdi
030.15.002

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................ii
KATA PENGANTAR............................................................................................iii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN......................................................................................5
BAB II. LAPORAN KASUS..................................................................................6
BAB III. TINJAUAN PUSTAKA .........................................................................20
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................35

iv
BAB I
PENDAHULUAN

Infeksi pada bayi atau anak oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus) sebagian besar
ditransmisi secara vertikal dari ibu ke bayinya pada saat proses kehamilan, persalinan, dan
melalui ASI. Transmisi secara horizontal melalui transfusi produk darah atau penularan lain
seperti kekerasan seksual pada anak jarang.1 Infeksi HIV pada anak-anak berkembang lebih
cepat daripada pada orang dewasa, dan hingga setengah dari anak-anak yang tidak diobati
meninggal dalam 2 tahun pertama kehidupan. Perkembangan yang cepat ini berhubungan
dengan beban virus yang lebih tinggi dan penurunan limfosit CD4 yang lebih cepat pada bayi
dan anak-anak dibandingkan pada orang dewasa yang terinfeksi HIV. Tes diagnostik yang
akurat dan ketersediaan obat untuk menghambat replikasi HIV telah secara dramatis
meningkatkan kemampuan untuk mencegah dan mengendalikan penyakit yang
menghancurkan ini.2

Pada tahun 2004, sekitar 640000 anak berusia kurang dari 15 tahun mengalami infeksi
baru HIV. Selain itu, karena sebagian besar ibu yang terinfeksi HIV meninggal karena AIDS,
13 juta anak menjadi yatim piatu dan sekitar 19 juta akan mengalaminya pada tahun 2010.1
Pada tahun 2009, 1,4 juta wanita hamil di negara berpendapatan menengah dan rendah
terdiagnosis HIV.3 Lebih dari 90% infeksi HIV pada bayi dan anak ditransmisikan oleh ibu
selama kehamilan, kelahiran, atau ASI. Tanpa intervensi apapun, 15-45% bayi yang lahir dari
ibu dengan HIV menjadi terinfeksi (5-10% selama kehamilan, 10-20% selama kelahiran, dan
5-20% lewat ASI). Sekitar 50% bayi yang terinfeksi HIV dari ibunya meninggal sebelum usia
2 tahun. Transmisi infeksi HIV dari ibu ke bayi dapat diturunkan jika obat antiretroviral
diberikan pada ibu selama kehamilan dan kelahiran dan bayi setelah kelahiran.3

5
BAB II
LAPORAN KASUS

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RS PENDIDIKAN : RSUD BUDHI ASIH
STATUS PASIEN KASUS
Nama Mahasiswa : Rizvialdi Pembimbing : dr. Meiharty B. Zulkifli, Sp.A

NIM : 030.15.002 Tanda tangan :

IDENTITAS PASIEN 1
Nama : An. A
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 2 tahun 11 bulan
Tempat/ tanggal lahir : Jakarta, 22-04-2016
Suku bangsa :-
Agama : Islam
Pendidikan : Belum Sekolah
Alamat : Kampung Makasar, Jakarta Timur
WALI PASIEN
Ayah Ibu
Nama : Tn. S Nama : Ny. S
Umur : 48 Umur : 42
Pekerjaan : Satpam Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : STM Pendidikan : SMA
Suku bangsa : Betawi Suku bangsa : Betawi
Agama : Islam Agama : Islam
Alamat : Kampung Makasar, Jakarta Alamat : Kampung Makasar, Jakarta
Timur Timur

Hubungan dengan orang tua : Pasien bukan merupakan anak kandung. Kedua orangtua
pasien telah meninggal dan tidak diketahui identitasnya

6
I. ANAMNESIS

Dilakukan secara alloanamnesis dengan Ny. S Dahlia Timur pada tanggal 16 April
2019 pukul 11.45 WIB.
Keluhan utama : Sariawan dan tidak mau makan sejak 2 minggu SMRS
Keluhan tambahan : Demam, batuk, pilek, diare

A. Riwayat Penyakit Sekarang


Sariawan diderita pasien sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit,
sehingga pasien tidak mau makan dan hanya minum susu selama 2 minggu
terakhir. Hal tersebut membuat penurunan berat badan yang drastis pada pasien.
Demam baru dialami pasien sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, suhu naik
perlahan-lahan. Batuk dan pilek dialami sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit,
batuk kering tidak berdahak dan pilek secret putih bening. Diare sudah sejak 1
minggu yang lalu, isi air, ampas tidak ada, lender tidak ada, tidak berbau.
Pasien memiliki riwayat gizi buruk tipe marasmik pada saat pasien berusia
1,5 tahun. Gizi buruk tersebut di tatalaksana sampai pasien mengalami perbaikan
gizi di RSUD Budhi Asih pada tahun 2018. Selama pasien menderita gizi buruk,
pasien juga terdiagnosis TB paru dan pasien telah menyelesaikan pengobatan
selama 9 bulan. Pasien terdiagnosis positif HIV pada saat usia 1,5 tahun.

B. Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita

Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur

Alergi (-) Difteria (-) Penyakit ginjal (-)

Cacingan (-) Diare 2,5 tahun Penyakit jantung (-)

DBD (-) Kejang (-) Radang paru (-)

Otitis (-) Varicella (-) TBC 1,5 tahun

Hipereaktif
Parotitis (-) Operasi (-) (-)
bronkus
Kesimpulan riwayat penyakit yang pernah diderita: Pasien telah menderita TBC paru
pada usia 1,5 tahun, dan pasien baru menderita diare pada saat usia 2,5 tahun

7
C. Riwayat Kehamilan/ Persalinan

Morbiditas kehamilan -
KEHAMILAN
Perawatan antenatal -

Tempat persalinan -

Penolong persalinan -

-
Cara persalinan
Penyulit : -

Masa gestasi -

Berat lahir : -

KELAHIRAN Panjang lahir : -

Lingkar kepala : -

Keadaan bayi Langsung menangis (tidak ada


data)
Kemerahan (tidak ada data)
Kuning (tidak ada data)
Nilai APGAR -
Kelainan bawaan : Tidak ada

Kesimpulan riwayat kehamilan/ persalinan :. Riwayat kehamilan/persalinan Ibu


pasien tidak dapat ditemukan karena wali pasien/Ibu angkat pasien tidak mengetahui
tentang orangtua kandung pasien.

8
D. Riwayat Perkembangan

- Pertumbuhan gigi I : Wali pasien tidak tau, saat usia pasien 1,5
tahun gigi pasien sudah lengkap (Normal: 5-9 bulan)
- Gangguan perkembangan mental : Tidak ada
- Psikomotor :
Tengkurap :- (Normal: 3-4 bulan)
Duduk :- (Normal: 6-9 bulan)
Berdiri : 2 tahun (Normal: 9-12 bulan)
Berjalan : 2 tahun (Normal: 12-18 bulan)
Bicara : 2,5 tahun (Normal: 9-12 bulan)
- Perkembangan pubertas :
Rambut Pubis :-
Payudara :-
Menarche :-
Kesimpulan riwayat pertumbuhan dan perkembangan : Terdapat keterlambatan
perkembangan psikomotor berdiri, berjalan, dan bicara pada pasien. Pasien belum
pubertas

E. Riwayat Makanan

Umur (bulan) ASI/PASI Buah/ Biskuit Bubur Susu Nasi Tim

0–1 ASI - - -

1–4 ASI - - -

4–6 ASI - - -

6–8 ASI - - -

8 – 10 ASI - - -

10-12 ASI - - -

9
Jenis Makanan Frekuensi dan Jumlah

Nasi/ Pengganti Nasi >3x/hari.

Sayur Tidak suka

Daging Daging sapi 1 bulan sekali, daging ayam 3x1 hari

Telur Tidak suka

Ikan Ikan lele 3x1 hari

Tahu Tidak suka

Tempe Setiap hari (1 potong)

Susu 10x / hari

Kesimpulan Riwayat Makanan : tidak diketahui riwayat pasien sebelum pasien


berumur 1,5 tahun. Sebelum sakit, pasien rutin mengkonsumsi makanan dengan kualitas
dan kuantitas cukup dan cenderung berlebih.

F. Riwayat Imunisasi

Vaksin Dasar (umur) Ulangan (umur)

3 4
Hepatitis B Lahir 2 bulan
bulan bulan

Polio Lahir 2 bulan 3 bulan 4 bulan 18 bulan

BCG 1 bulan

DPT 2 bulan 3 bulan 4 bulan 18 bulan

Hib 2 bulan 3 bulan 4 bulan 18 bulan

Campak 9 bulan 18 bulan

Kesimpulan riwayat imunisasi: Imunisasi dasar sudah lengkap.

10
G. Riwayat Keluarga

Jenis Lahir Mati Keterangan


No Usia Hidup Abortus
Kelamin Mati (sebab) Kesehatan
1. - Laki- laki + - - - Sehat
2. - Perempuan + - - - Sehat
Sakit
3. 2,5 tahun Laki-laki + - - -
(Pasien)
Kesimpulan corak reproduksi : Pasi

H. Riwayat Pernikahan

Ayah/wali Ibu/wali

Nama Tn.S Ny.M

Perkawinan ke- 1 1

Umur saat menikah 26 tahun 22 tahun

Pendidikan terakhir STM SMA

Suku Sunda Betawi

Agama Islam Islam

Keadaan kesehatan Sehat Sehat

Kosanguinitas - -

Riwayat Penyakit - -

Riwayat Keluarga : Wali pasien tidak mempunyai riwayat penyakit

I. Riwayat Lingkungan
Pasien tinggal bersama dengan walinya di rumah yang dimiliki oleh wali pasien.
Ventilasi dan pencahayaan baik. Sumber air bersih dan sumber air minum dari sumur.
Rumah pasien terletak di kawasan padat penduduk dan berdempetan antara rumah satu
dengan rumah lainnya.
Kesimpulan Riwayat lingkungan pasien: Rumah pasien berada di kawasan padat
penduduk, air minum dari air sumur yang dimasak, sirkulasi dan pencahayaan baik.

11
II. PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALISATA
KEADAAN UMUM
Kesan Sakit : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Kesan Gizi : kurang

DATA ANTROPOMETRI

Berat Badan : 8,5 kg


Tinggi Badan : 75 cm

STATUS GIZI
- BB / U = Dibawah -3SD → Berat badan sangat kurang
- TB/U = Dibawah -3SD → Pendek
- BB/TB = Diantara -2SD dan - 1SD → Gizi baik
Kesimpulan status gizi : Berat badam pasien sangat kurang, perawakan pendek,
dan status gizi tergolong baik berdasarkan WHO chart
TANDA VITAL
- Nadi : 120x/ menit, kuat, isi cukup, ekual kanan dan kiri,
regular
- Tekanan Darah :-
- Pernapasan : 24 x/ menit
- Suhu : 37,5o C
- SpO2 : 98%

Kepala: Normosefali
Rambut: Rambut hitam, lurus, lebat, distribusi merata, dan tidak mudah dicabut
Wajah: Wajah simetris, tidak ada pembengkakan, luka ataupun jaringan parut
Mata
Sklera ikterik : -/- Nistagmus : -/-
Konjungtiva anemis : +/+ Cekung : -/-
Exophtalmus : -/- Kornea jernih : +/+

12
Enophtalmus : -/- Strabismus : -/-
Lensa jernih : +/+ Lagoftalmus : -/-
Palpebra oedem : -/- Ptosis : -/-
Pupil : isokor
Refleks cahaya : langsung +/+, tidak langsung +/+
Telinga
Bentuk : Normotia
Tuli : -/-
Nyeri tarik aurikula : -/-
Nyeri tekan tragus : -/-
Liang telinga : lapang
Membran timpani : Tidak diperiksa
Serumen : -/-
Refleks cahaya : Tidak diperiksa
Cairan : -/-
Ruam merah : -/-
Hidung
Bentuk : simetris Napas cuping hidung : -/-
Sekret : -/- Deviasi septum :-
Mukosa hiperemis : -/- hipertrofi konka : -/-
Bibir : Sianosis (-), pucat (-), kering (+), stomatitis angularis ujung bibir kanan
Mulut : Trismus (-), bercak putih pada mukosa mulut (+)
Lidah : Normoglosia, bercak putih pada lidah (+)
Tenggorokan :Tonsil T1-T1, hiperemis (-), detritus (-), dinding posterior faring
hiperemis (-), arcus faring tidak hiperemis, uvula terletak ditengah.
Leher : Bentuk tidak tampak kelainan, edema (-), massa (-), tidak teraba
pembesaran tiroid maupun kelenjar getah bening.
Thoraks
Jantung: BJ I & BJ II regular, murmur (-), gallop (-)

13
Paru-paru
Inspeksi : Bentuk thoraks simetris , gerak dinding dada simetris kanan dan
kiri, retraksi intercostal (-) retraksi subcostal (-) retraksi
suprasternal (-)
Palpasi : nyeri tekan (-), benjolan (-), gerak napas simetris kanan dan kiri
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Abdomen
Inspeksi : Tidak tampak distensi , ruam (-), kulit keriput (-), ascites (-)
gerak dinding perut saat pernapasan simetris, gerakan peristaltik
(-), rose spot (-)
Auskultasi : Bising usus (+), frekuensi 1-3x/menit
Perkusi : Timpani pada seluruh regio abdomen. Shifting dullness (-).
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), turgor kulit baik, hepar dan lien tidak
teraba membesar
Kulit : Tidak ikterik, tidak sianosis, tidak lembab, tidak terdapat
efloresensi yang bermakna
Genitalia : Jenis kelamin perempuan
Kelenjar getah bening :
Preaurikuler : tidak teraba membesar
Postaurikuler : tidak teraba membesar
Submandibula : tidak teraba membesar
Supraclavicula : tidak teraba membesar
Axilla : tidak teraba membesar
Inguinal : tidak teraba membesar
Ekstremitas :
Inspeksi : Simetris, tidak terdapat kelainan pada bentuk tulang, sianosis (-
), edema tungkai -/-
Palpasi : Akral hangat pada keempat ekstremitas, sianosis (-), capillary
refill time <3 detik.

14
III. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hematologi 15/04/19

Hasil Satuan Nilai normal

Leukosit (WBC) 8.9 ribu/uL 4,5-12,5


Eritrosit (RBC) 3.6 juta/uL 4,4-5,9
Hemoglobin (HGB) 7.1 g/dL 12,8-16,8
Hematokrit (HCT) 24 % 35-47
Trombosit (PLT) 495 ribu/uL 184-488
MCV 66.1 fL 69-93
MCH 16.9 Pg 22-34
MCHC 30.1 g/dL 32-36
RDW 17.2 % <14

Hematologi 19/04/19

Hasil Satuan Nilai normal

Leukosit (WBC) 6.4 ribu/uL 4,5-12,5


Eritrosit (RBC) 6.8 juta/uL 4,4-5,9
Hemoglobin (HGB) 17.0 g/dL 12,8-16,8
Hematokrit (HCT) 49 % 35-47
Trombosit (PLT) 264 ribu/uL 184-488
MCV 72.3 fL 69-93
MCH 25.0 Pg 22-34
MCHC 34.6 g/dL 32-36
RDW 18.6 % <14
CD 4 Absolut 43 Cell/uL 410-1590

15
Imunoserologi 03/02/2018

Hasil Nilai Normal Catatan

Anti HIV
Memakai prinsip
- Metode I Reaktif Non Reaktif
immunokromatografi
Memakai prinsip
- Metode II Reaktif Non Reaktif
immunokromatografi
Memakai prinsip
- Metode III Reaktif Non Reaktif
immunokromatografi

Imunoserologi 13/02/2018

Hasil Satuan Nilai normal

CD 4 Absolut 29 Cell/uL 410-1590

Imunoserologi 30/08/2018

Hasil Satuan Nilai normal

CD 4 Absolut 156 Cell/uL 410-1590

Imunoserologi 19/04/2019

Hasil Satuan Nilai normal

CD 4 Absolut 43 Cell/uL 410-1590

16
IV. RESUME
Pasien anak laki-laki usia 2 tahun 11 bulan, datang ke IGD RSUD Budhi Asih
dengan keluhan sariawan yang memenuhi mulut dan tidak mau makan pada
tanggal 16 April 2019 dibawa oleh Ibu M, wali pasien. Sariawan diderita pasien
sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit, sehingga pasien tidak mau makan
dan hanya minum susu selama 2 minggu terakhir. Hal tersebut membuat
penurunan berat badan yang drastis pada pasien. Demam baru dialami pasien sejak
4 hari sebelum masuk rumah sakit, suhu naik perlahan-lahan. Batuk dan pilek
dialami sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk kering tidak berdahak dan
pilek secret putih bening. Diare sudah sejak 1 minggu yang lalu, isi air, ampas
tidak ada, lender tidak ada, tidak berbau.
Pasien memiliki riwayat gizi buruk tipe marasmik pada saat pasien berusia
1,5 tahun. Gizi buruk tersebut di tatalaksana sampai pasien mengalami perbaikan
gizi di RSUD Budhi Asih pada tahun 2018. Selama pasien menderita gizi buruk,
pasien juga terdiagnosis TB paru dan pasien telah menyelesaikan pengobatan
selama 9 bulan. Pasien terdiagnosis positif HIV pada saat usia 1,5 tahun.
Pada pemeriksaan fisik pasien tampak sakit sedang, compos mentis, status
gizi terlihat kurang. Nadi: 120x/ menit, kuat, isi cukup, ekual kanan dan kiri,
regular, Pernapasan: 24 x/ menit. Suhu: 37,5 0C. Pada status generalis didapatkan
bercak putih pada lidah dan mukosa mulut, dan stomatitis angularis pada ujung
bibir sebelah kanan. Hasil labratorium adalah sebagai berikut :
Hematologi 15/04/19

Hasil Satuan Nilai normal

Leukosit (WBC) 8.9 ribu/uL 4,5-12,5


Eritrosit (RBC) 3.6 juta/uL 4,4-5,9
Hemoglobin (HGB) 7.1 g/dL 12,8-16,8
Hematokrit (HCT) 24 % 35-47
Trombosit (PLT) 495 ribu/uL 184-488
MCV 66.1 fL 69-93
MCH 16.9 Pg 22-34
MCHC 30.1 g/dL 32-36

17
RDW 17.2 % <14

V. DIAGNOSIS BANDING
- Anemia defisiensi besi
- Anemia defisiensi asam folat
- Tonsilofaringitis
VI. DIAGNOSIS KERJA
ISPA
Anemia
GEA tanpa dehidrasi
Kandidiasis dan stomatitis oral
Stomatitis angularis
B20 on ARV

VII. TATALAKSANA
Non- Medikamentosa
- Tirah baring
- Pantau tanda vital dan hematologi rutin
Medikamentosa
- IVFD kaen IB 3 cc/KgBB/Jam
- Injeksi paracetamol 85 mg k/p
- Candistin drop 4x1 cc
- Ampicilin 2x225mg
- Zinkid 1x20mg
- PRC 2x100cc suhu <38.60C
- ARV Zidovudine 2x2mg
- Ambroxol 3x5mg
- CTM 3x0.5mg
- Salbutamol 3x0.5mg
- Mikonazid untuk stomatitis angularis

18
VIII. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia
Ad fungsionam : dubia
Ad Sanactionam : Dubia ad malam

19
IX. FOLLOW UP
20/04/2019
15/04/2019 18/04/2019
(Pasien Boleh Pulang)

S Demam (+) H ke-4, terus Demam (-), mual (-), muntah (-), Demam (-), mual (-), muntah (-),
menerus, naik turun, batuk dan BAB cair 1x ampas (+), BAK BAB dalam batas normal, BAK
pilek (+), muntah (-), BAB cair 4 dalam batas normal, sariawan (+), dalam batas normal, sariawan
hari, >5x sehari, nafsu makan batuk (+), nafsu makan menurun berkurang, batuk (+), nafsu
menurun makan membaik

O KU : Tampak sakit sedang KU : Tampak sakit ringan KU : Tampak sakit ringan


Kesadaran : CM Kesadaran : CM Kesadaran : CM
HR : 120x/menit HR : 130x/menit HR : 97x/menit
RR : 24x/menit RR : 24x/menit RR : 32x/menit
S : 37,5 S : 36,6 S : 36,7
Status generalis Status generalis Status generalis
Bercak putih pada lidah dan Bercak putih pada lidah dan Bercak putih pada lidah dan
mukosa mulut, bercak merah mukosa mulut, bercak merah pada mukosa mulut berkurang, bercak
pada sudut bibir sebelah kanan sudut bibir sebelah kanan merah pada sudut bibir sebelah
Pemeriksaan Lab kanan berkurang
Leukosit:8.900/uL Pemeriksaan Lab (19/04/2019)
Eritrosit: 3.6 Juta/uL Leukosit: 6.400/uL
Hemoglobin: 7.1 g/dL Eritrosit: 6.8 Juta/uL
Hematokrit: 24% Hemoglobin: 17.0 g/dL
Trombosit: 495.000/uL Hematokrit: 49%
MCV: 66.1 fL Trombosit: 264.000/uL
MCH: 16.9 Pg MCV: 72.3 fL
MCHC: 30.1 g/dL MCH: 25.0 Pg
RDW: 17.2% MCHC: 34.6 g/dL
RDW: 18.6 %
CD 4 Absolut: 43 cell/uL

A ISPA ➢ ISPA ISPA


Anemia Anemia Stomatitis angularis
GEA tanpa dehidrasi Stomatitis angularis Kandidiasis oral
Stomatitis angularis Kandidiasis oral B20 on ARV
Kandidiasis oral B20 on ARV
B20 on ARV

P - IVFD kaen IB 3 - IVFD kaen IB 3 - IVFD kaen IB 3


cc/KgBB/Jam cc/KgBB/Jam cc/KgBB/Jam
- Injeksi paracetamol 85 mg - Injeksi paracetamol 85 mg - Injeksi paracetamol 85
k/p k/p mg k/p
- Candistin drop 4x1 cc - Candistin drop 4x1 cc
- Candistin drop 4x1 cc
- Ampicilin 2x225mg - Ampicilin 2x225mg
- Zinkid 1x20mg - Zinkid 1x20mg
- Ampicilin 2x225mg
- PRC 2x100cc suhu <38.60C - PRC 2x100cc suhu <38.60C - Zinkid 1x20mg
- ARV Zidovudine 2x2mg - ARV Zidovudine 2x2mg - ARV Zidovudine 2x2mg
- Ambroxol 3x5mg - Ambroxol 3x5mg - Ambroxol 3x5mg
- CTM 3x0.5mg - CTM 3x0.5mg - CTM 3x0.5mg
- Salbutamol 3x0.5mg - Salbutamol 3x0.5mg - Salbutamol 3x0.5mg
- Mikonazid untuk stomatitis - Mikonazid untuk stomatitis - Mikonazid untuk
angularis angularis stomatitis angularis

20
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menginfeksi dan mengambil
alih sel-sel sistem kekebalan tubuh. Walaupun HIV menginfeksi berbagai sel, target utamanya
adalah limfosit CD4.4 Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala
atau penyakit yang diakibatkan karena penurunan kekebalan tubuh (limfosit CD4) akibat
adanya infeksi oleh Human Imunodeficiency Virus (HIV). AIDS merupakan tahap akhir dari
infeksi HIV.5

2. Etiologi

HIV-1 dan HIV-2 adalah anggota keluarga Retroviridae dan termasuk dalam genus
Lentivirus, yang termasuk virus sitopatik yang menyebabkan beragam penyakit pada beberapa
spesies hewan. Genom HIV-1 mengandung 2 salinan RNA untai tunggal yang berukuran 9,2
kb. Di kedua ujung genom ada daerah identik, yang disebut terminal panjang pengulangan,
yang berisi gen pengaturan dan ekspresi HIV. Sisa genom meliputi 3 bagian utama: wilayah
GAG, yang mengkodekan protein inti virus (p24, p17, p9, dan p6, yang diturunkan dari
prekursor p55); wilayah POL, yang menyandikan enzim virus (mis., reverse transcriptase
[p51], protease [p10], dan integrase [p32]); dan wilayah ENV, yang mengkode protein amplop
virus (gp120 dan gp41, yang berasal dari prekursor gp160). Protein pengatur lainnya, seperti
tat (p14), rev (p19), nef (p27), vpr (p15), vif (p23), vpu pada HIV-1 (P16), dan vpx pada HIV-
2 (P15) adalah terlibat dalam transaktivasi, ekspresi RNA kurir virus, replikasi virus, induksi
henti siklus sel, promosi impor inti kompleks transkripsi balik virus, downregulasi reseptor
CD4 dan kompleks histokompatibilitas utama kelas I, sintesis DNA proviral, dan pelepasan
dan infektivitas virus.2 Protein virus eksternal utama HIV-1 adalah protein gp120 yang
dikaitkan dengan transmembran glikoprotein gp41; gp41 sangat imunogenik dan digunakan
untuk mendeteksi antibodi HIV-1 dalam tes diagnostik. Glikoprotein gp120 juga membawa
situs pengikatan untuk molekul CD4, reseptor permukaan sel inang yang paling umum dari
limfosit T.2

21
Gambar 1 : Virus HIV

3. Epidemiologi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2009, 2,5 juta
anak di seluruh dunia hidup dengan infeksi HIV-1, 90% di antaranya berasal dari Afrika Sub-
Sahara. Sementara antara 2004 dan 2009 jumlah global anak yang lahir dengan HIV menurun
sebesar 24% dan kematian akibat penyakit terkait AIDS di antara anak-anak <15 tahun
menurun sebesar 19%, masih 370.000 anak (<15 tahun) yang baru terinfeksi HIV di 2009 saja.
Tren-tren ini mencerminkan perluasan layanan yang lambat tapi pasti untuk mencegah
penularan HIV ke bayi dan peningkatan akses ke perawatan untuk anak-anak. Di seluruh dunia,
50% orang yang terinfeksi HIV adalah wanita, yang sebagian besar telah terinfeksi melalui
kontak heteroseksual selama masa subur mereka. Hingga 2009, diperkirakan 16,6 juta anak
telah menjadi yatim piatu karena AIDS, yang didefinisikan sebagai salah satu atau kedua orang
tua meninggal karena AIDS.2

Pada tahun 2004, sekitar 640000 anak berusia kurang dari 15 tahun mengalami infeksi
baru HIV. Selain itu, karena sebagian besar ibu yang terinfeksi HIV meninggal karena AIDS,
13 juta anak menjadi yatim piatu dan sekitar 19 juta akan mengalaminya pada tahun 2010. 1
Pada tahun 2009, 1,4 juta wanita hamil di negara berpendapatan menengah dan rendah
terdiagnosis HIV.3 Lebih dari 90% infeksi HIV pada bayi dan anak ditransmisikan oleh ibu
selama kehamilan, kelahiran, atau ASI. Tanpa intervensi apapun, 15-45% bayi yang lahir dari
ibu dengan HIV menjadi terinfeksi (5-10% selama kehamilan, 10-20% selama kelahiran, dan
5-20% lewat ASI). Sekitar 50% bayi yang terinfeksi HIV dari ibunya meninggal sebelum usia
2 tahun. Transmisi infeksi HIV dari ibu ke bayi dapat diturunkan jika obat antiretroviral
diberikan pada ibu selama kehamilan dan kelahiran dan bayi setelah kelahiran.3 Menurut

22
RISKESDAS pada tahun 2017 jumlah pengidap HIV di Indonesia sebesar 10,376. Dari jumlah
tersebut 308 diantaranya merupakan kelompok usia 0-14 tahun.6

4. Penularan

Penularan HIV-1 terjadi melalui kontak seksual, paparan parenteral terhadap darah,
atau penularan vertikal dari ibu ke anak. Rute utama infeksi pada populasi anak adalah
penularan vertikal, yang menyebabkan hampir semua kasus baru. Tingkat penularan HIV dari
ibu ke anak bervariasi di berbagai bagian AS dan di antara negara-negara. AS dan Eropa telah
mendokumentasikan tingkat penularan pada wanita yang tidak diobati antara 12-30%. Tingkat
penularan di Afrika dan Haiti lebih tinggi (kisarannya 25-52%). Pengobatan perinatal dari ibu
yang terinfeksi HIV dengan obat antiretroviral telah secara dramatis menurunkan angka ini
menjadi <2% pada wanita hamil yang menggunakan terapi efektif.2 Penularan HIV secara
vertikal dapat terjadi sebelum (intrauterin), selama (intrapartum), atau setelah melahirkan
(melalui menyusui).2

Persentase tertinggi anak yang terinfeksi HIV memperoleh virus intrapartum,


dibuktikan oleh fakta bahwa 60-70% bayi yang terinfeksi tidak menunjukkan virus yang
terdeteksi hingga setelah usia 1 minggu. Mekanisme penularan tampaknya adalah pajanan
terhadap darah yang terinfeksi dan sekresi cervicovaginal di jalan lahir, di mana HIV
ditemukan pada titer tinggi selama kehamilan terlambat dan persalinan. Sebuah daftar
internasional kembar yang terpajan HIV menemukan bahwa bayi kembar pertama yang lahir 3
kali lebih mungkin terinfeksi, mencerminkan semakin lama waktu si kembar A terpajan saluran
kelahiran.2

Menyusui adalah salah satu jalur penularan vertikal. Virus yang bebas dan terkait sel
telah terdeteksi dalam ASI dari ibu yang terinfeksi HIV. Risiko untuk penularan melalui
menyusui pada wanita yang terinfeksi secara kronis adalah sekitar 9-16% tetapi 29-53% pada
wanita yang tertular HIV pascanatal, menunjukkan bahwa viremia yang dialami ibu selama
infeksi primer setidaknya tiga kali lipat risiko penularan. Tampaknya masuk akal bagi
perempuan untuk mengganti susu formula bayi untuk ASI jika mereka diketahui terinfeksi HIV
atau berisiko terhadap pajanan seksual atau parenteral yang terus menerus terhadap HIV.
Namun, WHO merekomendasikan bahwa di negara-negara berkembang di mana penyakit lain
(diare, pneumonia, malnutrisi) secara substansial berkontribusi pada tingkat kematian bayi
yang tinggi, manfaat menyusui melebihi risiko penularan HIV, dan perempuan yang terinfeksi

23
HIV di negara berkembang harus menyusui bayi mereka setidaknya selama 6 bulan pertama
kehidupan.2

HIV dapat menginfeksi banyak jenis sel. Penyebaran HIV di luar organ limfoid ke otak,
sumsum tulang belakang, paru-paru, usus besar, hati, dan ginjal biasanya terjadi terlambat
selama sakit. Tabel 1 memberikan sebagian daftar sel yang rentan terhadap infeksi HIV.7

Sistem kekebalan tubuh anak yang terinfeksi HIV mengalami perubahan yang serupa
dengan yang terjadi pada orang dewasa. Aktivasi sel B terjadi pada sebagian besar anak di awal
infeksi, dibuktikan dengan adanya hipergamaglobulinemia (> 1,750 g / L) dengan tingkat
antibodi anti-HIV-1 yang tinggi. Ini mencerminkan kedua disregulasi supresi sel-T sintesis
antibodi sel-B serta peningkatan CD4 + aktif dari respon humoral B-limfosit. Juga, ketika
penyakit HIV berkembang melalui penekanan kekebalan yang lebih parah dan penipisan sel
CD4 +, jumlah CD8 + meningkat, menghasilkan penurunan keseluruhan rasio CD4 +: CD8 +.7

24
5. Patogenesis

Gambar 2 : Daur hidup virus HIV7

A. Melekatnya virus dan masuknya virus

Protein amplop gp120 dan gp41 berikatan dengan reseptor sel CD4 + dan ko-reseptor
di luar sel CD4 + dan makrofag. Reseptor kemokin CCR5 dan CXCR4 memfasilitasi masuknya
virus. Virus tropik sel-T membutuhkan CXCR4 untuk mengikat, dan strain makrotropik dari
virus membutuhkan CCR5. R5 adalah virus yang paling umum ditularkan selama infeksi akut,
dan kemudian selama infeksi X4 adalah virus yang paling umum. Kehadiran mutasi tidak aktif
homozigot dari alel CCR5 telah menyebabkan resistensi terhadap infeksi oleh virus R5.
Penggabungan protein dan reseptor dan koreseptor menggabungkan membran HIV dengan
membran sel CD4 +, dan virus memasuki sel CD4 + dan makrofag. Membran HIV dan protein
amplop tetap berada di luar sel CD4 +, sedangkan inti virus memasuki sel CD4 +. Enzim sel

25
CD4 + berinteraksi dengan inti virus dan merangsang pelepasan RNA virus dan enzim virus
membalikkan transcriptase, integrase, dan protease.7

B. Reverse Transcription

RNA HIV harus dikonversi menjadi DNA sebelum dapat dimasukkan ke dalam DNA
sel CD4 +. Penggabungan ini harus terjadi agar virus berkembang biak. Konversi RNA HIV
ke DNA dikenal sebagai reverse transcription dan dimediasi oleh enzim reverse transcriptase
HIV. Hasilnya adalah produksi untai tunggal DNA dari viral RNA. Satu untai DNA baru ini
kemudian mengalami replikasi menjadi DNA HIV berlipat ganda.7

C. Integration

Setelah reverse transcription terjadi, DNA virus dapat memasuki inti sel CD4 +. Enzim
integrase virus kemudian memasukkan DNA virus ke dalam DNA sel CD4 +. Proses ini dikenal
sebagai integrasi. Sel CD4 sekarang telah diubah menjadi pabrik yang digunakan untuk
menghasilkan lebih banyak HIV.7

D. Replikasi

DNA baru, yang telah dibentuk oleh integrasi DNA virus ke dalam sel CD4 +,
menyebabkan produksi DNA messenger yang memulai sintesis protein HIV.7

E. Bertunas

Protein HIV dan viral RNA, semua komponen yang diperlukan untuk membuat virus
baru, berkumpul di membran sel CD4 + untuk membentuk virus baru. Virus-virus baru ini
mendorong bagian dinding sel yang berbeda dengan bertunas. Banyak virus dapat mendorong
melalui dinding satu sel CD4 +. Virus baru ini meninggalkan sel CD4 + dan mengandung
semua komponen yang diperlukan untuk menginfeksi sel CD4 + lainnya.7

F. Maturasi

Virus baru memiliki semua komponen yang diperlukan untuk menginfeksi sel CD4 +
lain tetapi tidak dapat melakukannya sampai matang. Selama proses ini, enzim protease HIV
memotong protein HIV yang panjang dari virus menjadi unit fungsional yang lebih kecil yang

26
kemudian berkumpul kembali untuk membentuk virus yang matang. Virus sekarang siap untuk
menginfeksi sel lain.7

6. Manifestasi Klinis

Anak-anak yang terinfeksi HIV sering memiliki penyakit parah ketika pertama kali
dievaluasi, atau mereka dapat mengembangkan AIDS dari waktu ke waktu, seperti halnya
orang dewasa yang terinfeksi HIV. Bayi dan anak kecil biasanya memiliki jumlah CD4 + lebih
tinggi daripada orang dewasa. Jumlah CD4 + normal pada anak-anak bervariasi berdasarkan
usia, tetapi sama dengan nilai orang dewasa pada saat anak tersebut berusia 6 tahun. Kategori
imunologis dan klinis digunakan untuk mengevaluasi status penyakit HIV pada anak-anak dan
untuk membuat keputusan pengobatan.7

Infeksi primer mengacu pada waktu ketika HIV pertama kali memasuki tubuh. Pada
saat infeksi primer dengan HIV, darah seseorang membawa viral load yang tinggi, artinya ada
banyak virus individu di dalam darah. Jumlah salinan virus per mililiter plasma atau darah
dapat melebihi 1 juta. Orang dewasa yang baru terinfeksi sering mengalami sindrom retroviral
akut. Tanda dan gejala sindrom retroviral akut termasuk demam, mialgia (nyeri otot), sakit
kepala, mual, muntah, diare, keringat malam, penurunan berat badan, dan ruam. Tanda-tanda
dan gejala-gejala ini biasanya terjadi 2-4 minggu setelah infeksi, mereda setelah beberapa hari,
dan sering salah didiagnosis sebagai influenza atau mononukleosis infeksiosa. Gejala pembeda
penting yang sering tidak ada adalah adanya pilek atau hidung tersumbat.7

Selama infeksi primer, jumlah CD4 + dalam darah sangat menurun tetapi jarang turun
menjadi kurang dari 200 sel / μL. Virus ini menargetkan sel CD4 + di kelenjar getah bening
dan timus selama waktu ini, membuat orang yang terinfeksi HIV rentan terhadap infeksi
oportunistik dan membatasi kemampuan timus untuk memproduksi limfosit T. Tes antibodi
HIV menggunakan uji immunosorbent enzim -inkedinkink atau immunoassay enzim dapat
menghasilkan hasil positif atau negatif tergantung pada waktu serokonversi. PCR DNA dan
RNA PCR akan positif, tetapi konfirmasi dengan analisis Western blot dapat menghasilkan
hasil yang tidak ditentukan karena serokonversi dapat memakan waktu hingga 2-8 minggu
untuk terjadi. Waktu rata-rata untuk konversi adalah 25 hari.7

27
Bagi anak dengan diagnosis HIV atau sangat diduga mendapat infeksi HIV, sistem
stadium klinis membantu mengetahui derajat kerusakan system kekebalan dan untuk
merencanakan pilihan pengobatan dan perawatan. Tahap ini menentukan kemungkinan
prognosis HIV dan sebagai panduan tentang kapan mulai, menghentikan atau mengganti terapi
antiretroviral pada anak dengan infeksi HIV.8

Tahapan klinis HIV pada anak menurut WHO adalah sebagai berikut:8,11

28
Tabel 1 : Stadium Klinis menurut WHO8,9

Anak yang sudah terdiagnosis HIV dari hasil laboratorium termasuk pada stadium 1
jika tidak terdapat gejala infeksi HIV atau dengan limfadenopati generalisata. Anak termasuk
stadium 2 jika terdapat 2 gejala atau lebih selain dari stadium 3 dan 4. Anak termasuk stadium
3 jika terdapat kondisi simtomatis selain pada gejala yang ada pada stadium 1 dan 2. Stadium
4 termasuk anak-anak dengan infeksi oportunistik (mis. Kandidiasis saluran pernapasan bawah
atau esofagus, kriptosporidiosis (> 1 bulan), infeksi mikobakteri atau sitomegalovirus,
Pneumonia pneumonia, atau toksoplasmosis serebral [mulai> 1 bulan]), berulang infeksi
bakteri (sepsis, meningitis, pneumonia), ensefalopati, keganasan, dan penurunan berat badan
yang parah (wasting).2

29
7. Diagnosis1

a. Anamnesis

(Anamnesis risiko ibu dan ayah dapat dilewatkan sampai pada konsultasi pasca tes
HIV)

- Ibu atau ayah memiliki risiko untuk terinfeksi HIV (riwayat narkoba suntik,
promiskuitas, pasangan dari penderita HIV, pernah mengalami operasi atau
prosedur transfusi produk darah)
- Riwayat morbiditas yang khas maupun yang sering ditemukan pada penderita
HIV. Riwayat kelahiran, ASI, pengobatan ibu, dan kondisi neonatal

b. Pemeriksaan Fisik

Gejala klinis yang dapat dijadikan dasar untuk pemeriksaan laboratorium HIV:

- Demam berulang/berkepanjangan
- Berat badan turun secara progresif
- Diare persisten
- Kandidosis oral
- Otitis media kronik
- Gagal tumbuh
- Limfadenopati generalisata
- Kelainan kulit
- Pembengkakan parotis

Infeksi oportunistik yang dapat dijadikan dasar untuk pemeriksaan lab. HIV:

- Tuberkulosis
- Herpes zoster generalisata
- Pneumonia P. jiroveci
- Pneumonia berat

30
c. Pemeriksaan Penunjang

Umur pasien <18 bulan:

- Bila tersedia dan mampu, lakukan pemeriksaan PCR RNA (DNA)


sebagai pemeriksaan yang paling akurat untuk anak usia kurang dari 18
bulan. Diagnosis infeksi HIV dapat ditegakkan bila dua hasil tes virologi
terhadap dua sampel darah berbeda menunjukkan hasil positif.
- Bila status ayah dan ibu tidak diketahui, dapat dilakukan pemeriksaan
antibodi antiHIV, sebaiknya dengan ELISA dan menggunakan 3 reagens
yang berbeda, diikuti dengan pemeriksaan konfirmasi (immunoblot atau
imunoflouresens). Jika hasil negatif, maka kemungkinan besar bayi
tidak terinfeksi HIV, sedangkan bila hasil positif maka belum tentu bayi
terinfeksi karena antibodi maternal dapat terdeteksi hingga usia 18
bulan.
- Pada bayi yang masih mendapat ASI, interpretasi tes HIV menjadi tidak
akurat. Periode jendela yang dipakai untuk dapat mengintepretasi
dengan tepat adalah 6 minggu setelah ASI dihentikan. Tes HIV tetap
dapat dilakukan tanpa harus menyetop pemberian ASI.

Bila anak >18 bulan, cukup dengan pemeriksaan antibodi HIV saja. –

- Pemeriksaan konfirmasi infeksi HIV: Westernblot atau PCR RNA/DNA


- Tentukan status imunosupresi dengan pemeriksaan hitung mutlak dan
persentase CD4+ .
- Lakukan pemeriksaan darah tepi lengkap, SGOT/SGPT, dan
pemeriksaan lain sesuai indikasi.
- Lakukan pemeriksaan infeksi oportunistik yang sering terjadi bersamaan
dengan infeksi HIV (tuberkulosis, hepatitis B, dan C).
- Pemeriksaan lain (laboratorium, pencitraan, dan lain-lain) dan
konsultasi ke ahli terkait disesuaikan dengan kondisi infeksi
oportunistik.

31
8. Penatalaksaan1,10

Tata laksana awal adalah memberi konseling pada orangtua mengenai infeksi HIV,
evaluasi dan tata laksana infeksi oportunistik, pemberian nutrisi yang cukup, pengawasan
tumbuh kembang, dan imunisasi.

Pencegahan infeksi oportunistik


1. Pneumonia Pneumocystis carinii
Pemberian kotrimoksasol 4-6 mg/kg/hari satu kali sehari, diberikan setiap hari. Yang
terindikasi untuk mendapatkan kotrimoksasol profilaksis adalah bayi terpapar umur <12
bulan yang statusnya belum diketahui, umur 1-5 tahun bila CD4 kurang dari 500 (<15%),
umur 6-11tahun bila CD4 <200 (<15%), dan yang pernah didiagnosis terkena PCP. Obat
pengganti adalah Dapson 2 mg/kg/hari (maksimal 100 mg/hari).

2. Tuberkulosis
Secara aktif mencari kemungkinan kontak erat dengan penderita TB aktif dan melakukan
uji tuberkulin bila terdapat kecurigaan. Pemberian profilaksis INH masih diperdebatkan
untuk negara endemis TB.

3. Infeksi yang bisa dicegah dengan imunisasi

Bila memungkinkan (setelah pengobatan ARV selama 6 bulan) dilakukan tindakan


imunisasi untuk melengkapi jadwal yang belum dipenuhi, tidak dengan vaksin hidup
kecuali campak.

Pemenuhan nutrisi dan pemantauan tumbuh kembang


Infeksi HIV meningkatkan enteropati, karenanya asupan makro dan mikronutrien perlu
diperhatikan. Pada stadium lanjut dan sudah terjadi emasiasi, perbaikan nutrisi harus dilakukan
dengan hati-hati, secara individual. Perbaikan nutrisi terjadi lebih lambat dibandingkan dengan
penderita malnutrisi tanpa infeksi HIV.
Setelah manajemen awal nutrisi dan penanganan infeksi oportunistik, penilaian dan
stimulasi diperlukan untuk tumbuh kembang optimal. Penilaian menyeluruh diperlukan untuk
mengetahui apakah stimulasi mampu diberikan oleh orangtua atau penggantinya karena pada

32
kasus HIV dalam keluarga, masalah stigmatisasi dan sosial dapat menyebabkan pemberian
stimulasi perkembangan terganggu.

Menilai kemungkinan pemberian ARV


1. Menilai kesiapan pasien dan orangtua/wali
2. Menghindari risiko resistensi obat
3. Memperhitungkan kemungkinan risiko interaksi obat-obat
4. Memperhitungkan kemungkinan risiko obat-makanan
5. Posologi dan formulari obat untuk anak
6. Memperhitungkan risiko pemberian obat pada koinfeksi TB dan hepatitis

Tabel 2 : Rekomendasi WHO untuk memulai terapi ARV pada bayi dan anak1,9

33
Rekomendasi rejimen inisial (first line) untuk kasus yang belum pernah mendapat ARV
sebelumnya.
Anak usia ≤3 tahun :
- Zidovudine (AZT)+Lamivudine (3TC)+Nevirapine (NVP) ATAU
- Stavudine (D4T)+Lamivudine (3TC)+Nevirapine (NVP)

Anak usia ≥3tahun dan berat badan ≥10 kg


- Zidovudine (AZT)+Lamivudine (3TC)+NVP atau Efavirenz (EFV)
- Stavudine (D4T)+Lamivudine (3TC)+NVP atau Efavirenz (EFV)

Tabel 3 : Dosis obat ARV1


Pemantauan
Setelah pemberian ARV, pasien diharapkan datang setiap 1-2 minggu untuk
pemantauan gejala klinis, penyesuaian dosis, pemantauan efek samping, kepatuhan minum
obat, dan kondisi lain. Setelah 8 minggu, dilakukan pemantauan yang sama tetapi dilakukan 1
bulan sekali. Pemeriksaan laboratorium yang diulang adalah darah tepi, SGOT/SGPT, CD4
setiap 3 bulan, dapat lebih cepat bila dijumpai kondisi yang mengindikasikan untuk dilakukan.

34
9. Pencegahan

Kemoprofilaksis ZDV diberikan pada wanita hamil sejak usia kehamilan 4 minggu,
selama persalinan dan kelahiran, dan pada bayi baru lahir selama 6 minggu pertama kehidupan
dan mengurangi transmisi vertikal hingga 75% bila dibandingkan dengan pasangan ibu-bayi
yang diobati dengan plasebo. ART ibu telah didokumentasikan untuk mengurangi tingkat
penularan HIV-1 perinatal menjadi <2% dan <1% jika tingkat viral load ibu <1000 pada saat
persalinan. Oleh karena itu, CDC merekomendasikan bahwa perempuan diobati dengan
rejimen ART terlepas dari viral load atau jumlah CD4 selama kehamilan, dengan kolaborasi
antara spesialis HIV dan dokter kandungan. Seksio sesarea (seksio sesarea) sebagai strategi
pencegahan diperiksa dalam meta-analisis multinasional, yang menunjukkan bahwa kombinasi
seksio sesarea elektif dan pengobatan ZDV ibu mengurangi penularan sebesar 87%. Namun,
data ini diperoleh sebelum ART, dan manfaat tambahan seksio elektif untuk ibu yang diobati
dengan ART tidak jelas. Pada perempuan yang viral loadnya pada saat persalinan adalah>
1.000, manfaat potensial dari operasi caesar harus dipertimbangkan untuk lebih mengurangi
risiko penularan vertikal.2

10. Prognosis

Dengan pemberian antiretroviral, angka morbiditas dan mortalitas akan menurun.1


Dalam pengaturan dengan akses siap untuk diagnosis dini dan terapi antiretroviral,
perkembangan penyakit menjadi AIDS telah berkurang secara signifikan. Sejak munculnya
ART pada pertengahan 1990-an, mortalitas pada anak yang terinfeksi perinatal telah menurun>
90% dan usia rata-rata saat kematian meningkat dua kali lipat dari ~ 9 tahun di era sebelum
ART hingga> 18 tahun pada 2006. Bahkan dengan hanya pengurangan sebagian viral load,
anak-anak mungkin memiliki manfaat imunologis dan klinis yang signifikan. Secara umum,
indikator prognostik terbaik adalah penekanan viral load dalam darah secara terus-menerus dan
pemulihan jumlah limfosit CD4 + yang normal. Jika penentuan viral load dan limfosit CD4
tersedia, hasilnya dapat digunakan untuk mengevaluasi prognosis. Adalah tidak biasa untuk
melihat perkembangan yang cepat pada bayi dengan viral load <100.000. Sebaliknya, viral load
yang tinggi (> 100.000) dari waktu ke waktu dikaitkan dengan risiko yang lebih besar untuk
pengembangan penyakit dan kematian. Persentase limfosit CD4 adalah indikator prognostik
lain, dan tingkat kematian lebih tinggi pada pasien dengan persentase limfosit CD4 <15%.
Untuk mendefinisikan prognosis secara lebih akurat, disarankan untuk menggunakan
perubahan pada kedua penanda (persentase limfosit CD4 dan viral load dalam plasma).2
35
Anak-anak dengan infeksi oportunistik (Pneumocystis pneumonia, MAC),
ensefalopati, atau wasting syndrome memiliki prognosis terburuk, dengan 75% meninggal
sebelum usia 3 tahun. Demam persisten dan / atau sariawan oral, infeksi bakteri serius
(meningitis, pneumonia, sepsis), hepatitis, anemia persisten (<8,0 g / dL), dan / atau
trombositopenia (<100.000 / mm 3) juga menunjukkan hasil yang buruk, dengan> 30% dari
anak-anak tersebut meninggal sebelum usia 3 tahun. Sebaliknya, limfadenopati, splenomegali,
hepatomegali, limfonitis interstitial limfoid, dan parotitis adalah indikator prognosis yang lebih
baik.2

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Pudjiadi AH, Hegar B, Handyastuti S, dkk. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter
Anak Indonesia Jilid II. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2009. Hal. 143-149.
2. Kliegman, Stanton, Geme ST, Schor, Behrman. Nelson Textbook of Pediatrics 19th
edition. Philadelphia: Elsevier. 2011. Pg: 1157-1177.
3. UNICEF. Prevent mother-tochild transmission of HIV. 2010. Diunduh dari
http://www.childinfo.org/hiv_aids_mother_to_child.html.
4. WHO. Pediatric HIV Supplementary Facilitator Guide. Swirtzerland: WHO. 2014.
5. Djoerban Z, Djauzi S. HIV/AIDS di Indonesia. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Simadibrata MK, Setiati S, eds. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 4th ed. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI 2006
6. Ditjen P2P Kementrian Kesehatan RI. Laporan Situasi Perkembangan HIV-AIDS &
PIMS di Indonesia Januari-Maret 2017. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI. 2017.
7. Nancy R. Calles, MSN, RN, PNP, ACRN, MPH Desiree Evans, MD, MPH DeLouis
Terlonge, MD. HIV Curriculum for The Health Proffesional. Texas: Baylor
International Pediatric AIDS Initiative. 2010.
8. WHO Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta:
WHO Indonesia. 2009.
9. World Health Organization-Regional Office for South-East Asia. HIV/AIDS facts and
figures. Diakses 1. dari http://www.who/searo/HIV-AIDS/FactsandFigure.htm
10. The Working Group on Antiretroviral and Medical Management of HIV-infected
Children. The National 2. Resources and Services Administration, and The National
Institute of Health. Guidelines for the use of antiretroviral agents in pediatric HIV
infection July 29 2008. Diakses dari http://www.aidsinfo.org
11. World Health Organization. Interim WHO Clinical Staging of HIV/AIDS and
HIV/AIDS Case Definitions For Surveillance. WHO: African Region. 2005.

37