Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH

“BUYING ON MARGIN & SHORT SALES”


Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Manajemen Investasi
Oleh Dosen Pengampu Drs. Topo Wijono. M.Si

Disusun oleh :
Manajemen Investasi Kelas C
Amanda Viandari (165030201111108)
Yunita Savitri (165030201111106)
Ainun Oktaviani Putri (165030201111067)
Baryatul Misbah (165030200111031)

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ketika membeli sekuritas, investor memiliki akses yang mudah ke sumber


pembiayaan utang yang disebut broker. pinjaman panggilan Tindakan mengambil
keuntungan dari pinjaman panggilan broker yang disebut buying on margin.

Pembelian saham pada margin berarti investor meminjam bagian dari harga
pembelian saham dari broker. Broker, pada gilirannya, meminjam uang dari bank pada
tingkat call money untuk membiayai pembelian tersebut, dan biaya klien bahwa tingkat
ditambah biaya layanan untuk pinjaman. Semua efek yang dibeli pada marjin harus
dibiarkan dengan perusahaan pialang di nama jalan, karena efek yang digunakan
sebagai jaminan atas pinjaman.

Pada makalah ini akan membahas tentang pemberian fasilitas Margin trading oleh
perusahaan sekuritas, dengan beberapa syarat yang telah ditentukan. Selain itu cara
yang digunakan dalam penjualan saham di mana investor atau trader meminjam dana
(on margin) untuk menjual saham (yang belum dimiliki) dengan harga tinggi dengan
harapan akan membeli kembali dan mengembalikan pinjaman saham ke pialangnya
pada saat saham turun.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian Margin trading?
2. Apa saja syarat untuk melakukan Margin trading ?
3. Bagaimana prosedur margin trading ?
4. Apa pengertian short Selling ?
5. Apa risiko yang didapat dari short selling ?

2
1.3 Tujuan Penulisan

1. Menginformasikan pengertian Margin trading?


2. Menginformasikan syarat untuk melakukan Margin trading ?
3. Menginformasikan prosedur margin trading ?
4. Menginformasikan pengertian short Selling ?
5. Menginformasikan risiko yang didapat dari short selling ?

3
BAB II

PEMBAHASAN
A. Margin Trading

Merupakan terobosan baru yang dilakukan oleh perusahaan efek terhadap para
nasabahnya dalam rangka meningkatkan daya beli nasabah terhadap efek (sekuritas).
Margin trading merupakan pemberian perusahaan efek dimana nasabah (investor)
bernaung untuk membeli efek dan untuk memperbesar keuntungan. Margin trading
berlaku untuk saham.

Dalam praktiknya, pemberian fasilitas Margin trading oleh perusahaan


sekuritas bukan tanpa syarat. Sebelum melakukan fasilitas Margin trading diawali
dengan analisis pada nasabah, seperti :

- minimal investor menjadi nasabah 3 tahun,


- memiliki take record baik, jumlah margin yang diberikan tidak melebihi
sejumlah rekening nasabah di perusahaan efek afiliasinya. Misal, seorang
investor menggunakan 60% dari posisi investasi, sedangkan yang 40%
merupakan modal pinjaman (Margin trading).

Proses Margin trading terjadi, setelah memperoleh persetujuan perusahaan


efek, kemudian perusahaan efek akan meminjamkan sejumlah uang kepada (100% -
margin requirement). Untuk menjamin keamanan dan risiko yang dihadapi oleh
perusahaan efek, perusahaan efek akan menahan efek atau saham yang dibeli sebagai
kolateral (jaminan).

B. Trade of dalam Margin Trading

Fasilitas Margin trading yang merupakan mekanisme dalam yang diberikan


perusahaan sekuritas untuk peningkatan kemampuan daya beli investor, terutama
investor local dalam rangka melaksanakan trading di Pasar Modal. Sebagai bentuk
pemberian fasilitas, Margin trading mengandung manfaat juga risiko. Hal itu karena,
pemberian fasilitas Margin trading berarti pengguna sumber daya yang dimiliki oleh

4
perusahaan efek untuk meningkatkan kemampuan investor sehingga investor mampu
memanfaatkan peluang. Investor juga harus memberikan insentif terhadap perusahaan
efek yang memberikan fasilitas Margin trading. Dengan demikian, terdapat manfaat
baik dari sisi investor maupun perusahaan efek, juga risiko oleh investor maupun
perusahaan efek. Manfaat yang didapatkan oleh perusahaan efek dari Margin trading
melalui pemberian pinjaman, meliputi (Robert Ang, 1995) :

a. Bunga pinjaman
Hal itu karena perusahaan efek fasilitas pinjaman investor dalam rangka
trading, sehingga perusahaan efek (yang memberi fasilitas margin trading)
mengenakan tingkat bunga tertentu yang biasanya lebih tinggi dari bunga
pinjaman dari bank. Dengan pengenaan bunga pinjaman tersebut mampu
menyumbangkan porsi pendapatan lebih dari perusaahan efek, terlebih jika
volume margin trading semakin besar.
b. Peningkatan pendapatan komisi
Dengan pemberian fasilitas margin trading, maka kemampuan nasabah
melakukan transaksi (jual beli) efek menjadi meningkat. Peningkatan transaksi
nasabah (investor) tersebut otomatis akan menigkatkan pendapatan pialang
(perusahaan efek) karena meningkatkan biaya komisi pialang. Komisi pialang
saat ini ditentukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar maximum 1% baik
untuk transaksi beli maupun transaksi jual, sedangkan batas minimum tidak
ditetapkan. Variasi pungutan komisi pialang ini dipengaruhi oleh efisiensi
perusahaan efek. Semakin efisien suatu perusahaan efek, semakin rendah
komisi pialang yang ditetapkan.
c. Keuntungan kompetitif
Margin trading juga dapat dikatakan sebagai usaha strategi yntuk menjamin
hubungan baik (customer loyality) perusahaan efek dengan nasabahnya. Hal itu
karena, pemberian margin trading berarti membantu investor dalam
meningkatkan sumber dana (likuiditas) dalam melakukan investasi. Factor

5
inilah yang memberikan keuntungan kompetitif didalam bersaing dengan
perusahaan efek lain dalam menjaring nasabah baru.

Di samping memberikan manfaat bagi perusahaan efek yang menjadi afiliasi


nasabah, margin trading juga mengandung risiko bagi investor. Risiko yang dihadapi
oleh perusahaan efek adalah terjadinya kegagalan dari nasabah didalam membayar
bunga dan kredit. Kendatipun, margin trading yang diberikan tidak melebihi simpanan
atau dana cadangan yang tertananm dalam peruahaan efek (rekening nasabah).

Sama halnya dengan perusahaan efek, margin trading juga memberikan


manfaat dari sisi investor. Hal itu karena, margin trading berarti terdapat pinjaman dari
perusahaan efek kepada investor dalam rangka melakukan trading. Disini, berarti
terdapat peningkatan daya beli investor. Adapun di pihak investor yang menikmati jasa
margin trading mendapatkan manfaat sebagai berikut:

a. Peningkatan Power of Purchase


Dengan adanya pinjaman melalui margin ini, maka daya beli investor terhadap
saham menjadi meningkat yang besarnya tergantung dari besarnya margin yang
diperoleh. Daya beli karena fasilitas margin ini dapat dihitung sengan rumus
Pm (Power of Purchase).
Pm = 100%
m

Dimana :
Pm = Power of Purchase (%)
M = Fasilitas margin yang diperoleh (%)

Contoh kasus:
Nana merupakan nasabah dari perusahaan Efek Gama Securities, mendapatkan
fasilitas margin sebesar 40% dari trading yang dilakukan. Jika Nana

6
mempunyai modal rekening pada Gama Securities sebesar Rp 10.000.000
Berapa besar daya beli N nana ? (dalam persen dan rupiah).
Jawab :

100%
Pm = = 250%
40%

Jadi daya beli Nana : 250% x Rp 10.000.000 = Rp 25.000.000

b. Memperbesar Keuntungan investor


Disamping peningkatan daya beli investor, manfaat lain yang diperoleh adalah
peningkatan keuntungan investasi. Keuntungan yang diperoleh suatu transaksi
margin dipengaruhi oleh beberapa factor.
1. Bunga atas pinjaman margin
2. Capital gains atas efek yang dibeli
3. Total pendapatan termasuk pajak
4. Biaya transaksi termasuk pajak
5. Besarnya margin yang diperoleh
Besarnya keuntungan yang diperoleh dari margin trading dihitung dengan
rumus ROIm yang menggabungkan kelima factor tersebut diatas:

ROI = o - iᵐ + G – c
m
Dimana :
ROI m = Return on Investent (keuntungan investasi ) dari transaksi
margin
O = Other current income (keuntungan lain selain capital gains)
Im = Interest/bunga atas pinjaman untuk margin trading
G = Capital gains (selisih antara nilai beli dan nilai jual)
M = Besarnya margin yang diperoleh

7
C = Cost of transaction (biaya transaksi)

Contoh Kasus :

Nana adalah investor yang menjadi nasabah perusahaan efek Nathasya


securities membeli saham PT. Astra Internasional sebanyak 22 lot dengan harga Rp
1200 per lembar saham. Setelah saham tersebut dipegang oleh Namytha, dalam
perjalanan waktu 4 bulan harga saham meningkat menjadi Rp 1.300 per saham.
Dividen yang diterima Nana adalah sebesar Rp 110 per saham. Ketika melakukan
pembelian saham terkena biaya transaksi sebesar 0,25% dan untuk transaksi penjualan
dikenakan biaya 0,4%. Ny.Nana melakukan pembelian saham menggunakan fasilitas
margin 50% dengan bunga 24% setahun. Berapakah keuntungan yang didapat dari
investasi saham tersebut?

Penyelesaian :

22 lot = 22 x 500 saham = 11.000


lembar saham
pembelian (B) = 11.000 x Rp 1.200 = Rp
13.200.000
Penjualan (S) = 11.000 x Rp 1.300 = Rp
14.300.000
Captain Gain (G) = Rp 14.300.000 – Rp 13.200.000 = Rp
1.100.000
Other income (dividend) = 11.000 x Rp 110 = Rp
1.210.000
Biaya transaksi Pembelian(CB) = 0,25% x B
= 0,3% x Rp 13.200.000 = Rp 39.600

Biaya transaksi penjualan (CS) = 0,4% x S


= 0,4% x Rp 14.300.000 = Rp 57.200

8
Biaya transaksi seluruhnya (C) = CB + CS
= Rp 39.600 x Rp 57.200 = Rp 96.800

Dengan margin 50%, maka modal Nana (m) : 50% x B = 50% x Rp 13.200.000
= Rp 6.600.000

Pinjaman (dh) (100% - 50%) x B : (100% - 50%) x Rp 13.200.000


= Rp 6.600.000

24% x Rp 6.600.00 x 4
Im 3 bulan = = Rp 528.000
12

𝑅𝑝 1.210.000−𝑅𝑝 528.000+𝑅𝑝 1.100.000−𝑅𝑝 96.800


Jadi ROIm = = 25,3 %
𝑅𝑝 6.660.000

Contoh tersebut menunjukkan bahwa dengan margin trading investor dapat


menaikkan daya beli, yang sudah barang pasti dapat meningkatkan potensi untuk
memperoleh keuntungan. Begitu juga sebaliknya, jika terjadi kerugian akibat
pemanfaatan fasilitas margin trading maka juga akan semakin besar kerugian yang
akan diderita. Risiko yang dihadapi oleh investor dengan fasilitas margin trading ini
juga sebanding dengan yang diperoleh, antara lain :

a. Bunga yang harus dibayar kepada perusahaan efek


b. Menambah margin
c. Melikuidasi saham

Tentang bunga, umumnya margin trading membebankan bunga terhadap para


nasabah (investor) yang memanfaatkan margin diatas bunga berjalan (bunga pinjaman
di bank). Hal itu, merupakan upaya margin trading diperoleh dari bank atau sumber
lain yang juga diperkenankan biaya bunga.

Pada sisi lain, sebagaimana dinyatakan tersebut diatas bahwa meskipun


perusahaan efek memiliki revenue opportunity yaitu pendapatan bunga akibat
peminjaman dana untuk margin trading terhadap para nasabahnya dan meningkatkan
brokerage fee akibat kenaikan daya beli nasabah (investor), ternyata mengandung

9
risiko. Bentuk risiko yang berpotensi akan dihadapi perusahaan efek yang memberikan
fasilitas margin trading adalah kemungkinan gagal bayar baik pokok maupun bunga
oleh nasabah. Untuk kepentingan tersebut, pihak perusahaan efek akan memberlakukan
serangkaian pengamanan yaitu dengan initial margin, dan maintenance margin.

Initial margin (margin awal) adalah jumlah ekuitas atau modal minimum yang
harus disediakan oleh investor pada saat terjadinya transaksi pembelian (Robert Ang,1
995). Nilai margin ini merupakan fasilitas yang diberikan oleh perusahaan efek kepada
investor. Sebagai misal, jika investor memperoleh fasilitas margin trading 50%, maka
investor bersangkutan initial (dana awal) yang harus disiapkan oleh investor 50%. Hak
itu karena, maksimum pemberian margin trading tidak melebihi penyiapan dana awal
oleh investor tersebut.

Maintenance margin adalah margin minimum yang harus selalu ada pada
rekening investor setiap waktu (Robert Ang, 1995). Maintenance margin merupakan
upaya awal perusahaan efek untuk berjaga-jaga kemungkinan gagal bayar oleh
nasabah. Maksudnya paling tidak terdapat dana cadangan dalam rekening nasabah pada
bank yang ditunjuk oleh perusahaan efek untuk bejaga-jaga gagal bayar nasabah.
Maintenance Margin memiliki fungsi pengamanan yaitu gagal bayar dan batas rambu
kerugian akibat penurunan harga. Jadi apabila harga saham yang dibeli oleh investor
mengalami penurunan sehingga marginnya telah berkurang dari initial margin dan
turun dibawah maintenance margin maka perusahaan efek akan melakukan aksi yang
disebut dengan margin call (Robert Ang, 1995).

Margin Call adalah suatu pemberitahuan yang dikeluarkan oleh pemberi


fasilitas margin (perusahaan efek) untuk diberikan kepada nasabah guna menambah
modal pada rekening margin nasabah karena posisi marginnya telah berada dibawah
maintenance margin yang mana terjadi karena harga efek yang dibeli mengalami
penurunan harga dalam kisaran waktu yang telah ditentukan (Robert Ang, 1995).
Seandainya dalam waktu yang telah ditentukan, investor tidak menambah modal maka

10
perusahaan efek berhak menjual atau melikuidasi efek yang dimiliki oleh investor
secukupnya untuk mengembalikan margin ke level initial margin (Robert Ang, 1995).

Untuk menentukan posisi Margin dari efek-efek yang dimiliki dalam suatu transaksi
margin, maka dapat digunakan rumus sebagai berikut :

M=Vs-db
Vs

M = Margin
Vs = nilai efek (value of securities)
Db = saldo debet (debit balance), istilah lain dari modal/dana pinjaman untuk margin
trading

Contoh Kasus

Ny. Namiytha Hanum adalah nasabah Gama Securities memperoleh fasilitas margin
sebesar 50%. Berkaitan dengan fasilitas margin tersebut dilaksanakan kontrak yang
mana dalam kontrak disebutkan bahwa maintenance margin sebesar 35 %. Jika
Namytha Hanum membeli saham Telkom sebanyak 22 lot pada harga Rp 9.750 per
saham. Ternyata dalam perjalanan waktu saham TLKM kinerja kurang bagus sehingga
harganya jatuh sampai Rp 7.200 per saham. Berapa posisi margin Namytha Hanum
sekarang? Apa yang harus dilakukan ?

Penyelesaian:

Harga Pembelian : 11.000 x Rp 9.750 = Rp. 107.250.000

Modal : 50% x Rp. 107.250.000 = Rp. 48.450.000

Debit balance (db) : (100-51%) x Rp. 95.000.000 = Rp. 53.625.000

Debit balance (db) ini merupakan istilah dari dana pinjaman untuk margin trading.

Harga efek sekarang (Vs) = 11.000 x Rp. 7.200 = Rp. 79.200.000

11
Margin (m) = M = Vs-db = Rp. 79.200.000 – Rp. 53.625.000
Vs Rp. 79.200.000

= 32,29%

Contoh diatas menunjukkan bahwa posisi Namytha Hanum mengalami penurunan


akibat terjadinya penurunan harga saham yang dibeli dengan menggunakan fasilitas
margin sebesar 32,29%. Hal itu mmenunjukkan bahwa margin yang dimiliki Namytha
hanum sekaranag berada dibawah maintenance margin (35%). Untuk itu Namytha
hanum harus segera menyetor dana untuk mengembalikan modal samppai sampai intial
margin (margin call), sesuai batas waktu yang ditentukan. Apabila Namytha hanum
tidak sanggip menyetor dana untuk mengembalikan sampai initial margin, amak saham
dijual atau dilkuidasi. Seandainya Namytha Hanum mau menyetorkan dana untuk
memenuhi sampai batas initial margin berapa besar penambahan margin yang harus
Namytha Hanum lakukan ?

Initial Margin Namytha Hanum : 50%

Posisi Margin sekarang : 32,29%

Batas rupiah initial margin (51%) dan nilai efek (Vs) sebesar Rp. 48.450.000

Jadi M : 51% dan Vs = Rp. 48.450.000

Jadi jumlah yang ditambahkan agar mencapai intial margin :

M = Vs – db db = Vs – m.Vs
Vs
= Rp. 48.450.000 – 50% x Rp. 48.450.000 = Rp. 24.225.000

Jadi margin call sebesar = Rp 53.625.000 – Rp. 24.225.000

= Rp. 29.400.000

Kasus diatas menujukkan bahwa dengan Namytha hanum menyetor kembali uang
sebesar Rp. 24.225.000 sehingga debit balance (pinjam) kembali semula 51%. Disini

12
jelas bahwa Namytha Hanum mengalami kerugian sebesar Rp. 48.450.000, karena nilai
efek atas modal sendiri sekarang adalah sebsar Rp. 24.225.000 (50% x Rp.
48.450.000), sedangkan uang yang telah disetor atau dikeluarkan adalah Rp.
72.675.000 (Rp. 48.450.000 + Rp. 24.225.000).

C. Prosedur Margin Trading

Untuk memperoleh fasilitas margin nasabah mengajukan formulir kepada perusahaan


efek, dilain pihak perusahaan efek melakukan analisis. Terdapat seperangkat syarat
yang digunakan untuk menganalisis nasabah akan diberikan fasilitas margin atau tidak.
Tahapan untuk mengajukan margin seperti gambar berikut ini :

Nasabah mengajukan aplikasi kepada


Perusahaan efek untuk meminta fasilitas
margin

Formulir menyatakan debit


balance maksimum
Pembuatan
dan
pelaksanaan Pemberian &
Perusahaan efek melakukan kontrak Pemanfaatan
langkah analisa
Margin untuk
Dinyatakan trading
layak

 Berpengalaman minimal 2-3


tahun
 Analisis kualifikasi nasabah,
keuangan & non keuangan
 Menentukan debit balance
 Menentukan inicial margin
requirement
 Menentukan maintenance
margin
 Menentukan call margin jika
13
terjadi force major
 Mentukan batas call margin
Gambar Prosedur Fasilitas Margin Trading

Gambar diatas menunjukkan alur singkat proses pengajuan fasilitas margin nasabah
pada perusahaan efek afiliansinya. Fasilitas margin diawali dari kebutuhan nasabah
yang ingin meningkatkan kemampuan daya beli dalam investasi di efek. Jika nasabah
bermaksud memanfaatkan fasilitas margin yang disediakan perusahaan efek
afiliansinya , maka nasabah (investor) meminta formulir fasilitas margin yang
disiapkan oleh perusahaan efek yang bersangkutan. Formulir tersebut paling tidak
menyebutkan debit balancing.

Formulir yang telah diterima oleh perusahaan efek, selanjutnya perusahaan efek
menganalisis tentang reputasi dan kelayakan nasabah. Berbagai hal yang perlu
dipertimbangkan perusahaan efek terkait dengan kondisi nasabah seperti :

 Lama nasabah telah berafiliasi dengan perusahaan efek bersangkutan. Paling


tidak telah berafiliasi 2-3 tahun.
 Trace Record nasabah tersebut selama berafiliasi
 Kelayakan integritas, keuangan dan non keuangan nasabah,

Jika dipandang telah cukup, serta perusahaa efek perlu memberikan fasilitas margin
selanjutnya harus analisis beberapa faktor terkait dengan pemberian margin, antara
lain:

 Menentukan debit balancing


 Menentukan initial margin requerement
 Menentukan maintenance magin
 Menentukan call magin jika terjadi force mayor

Langkah selanjutnya adalah menganalisis berbagai faktor tersebut kemudian membuat


kontrak dalam rangka pembelian fasilitas margin. Setelah kontrak selesai selanjutnya
diserahkna kepada nasabah.

14
Hal- hal yang perlu didalam draft kontrak margin trading antara lain :

1. Besarnya initial margin requirement


2. Besarnya maintenance margin
3. Besarnya maksimum debit balance
4. Tata cara perubahan margin requirement, maintenance margin dan maximum
debit balance
5. Definisi yang jelas dari istilah-istilah yang digunakan seperti initial margin,
margin requirement maximum debit balance, margin call dsb.
6. Tata cara margin call danlikuidasi saham
7. Besarnya suku bunga pinjaman dan modenya.
8. Penyelesaian perselisihan atau force majeure (kedaan diluar kekuasaan kedua
belah pihak) agar dapat diselesaikan secara musyawarah dan memilih
kedudukan hukum di pengadilan.

Margin Account (Rekening Margin)

Fasilitas margin diberikan kepada nasabah atau investor dari perusahaan efek
afiliasi yang bertujuan untuk meningkatkan daya beli investor terutama investor lokal.
Terdapat dua rekening margin yang biasa digunakan investor pengguna fasilitas
margiin yaitu margin account (rekening margin) dan restricted account (rekening
terbatas).

Margin account adalah rekening yang diberikan kepada nasabah oleh


perusahaan efek lewat bank yang ditunjuk kepada nasabah. Yang telah menandatangani
kontrak margin trading dengan perusahaan efek. Sedangkan restricted account
merupakan margin account yang posisi margin (ekuitas) berada dibawah initial margin
requirement tetapi diatas maintenance margin. Hal ini berarti investor tidak boleh
melakukan transaksi pembelian margin sampai posisi margin kembali ke initial margin.
Untuk mencapai initial margin maka perusahaan harus menyetor dana sampai jumlah
initial margin atau memanfaatkan kenaikan harga saham hingga mencapai initial
margin.

15
Dampak Margin Trading pada hasil Saham

Tanpa MT Dengan Margin Trading

100 equity 80% 65% 50%

Jumlah saham Rp 50 100 100 100 100


dibeli

Pengeluaran investasi 5.000 5.000 5.000 5.000


(Rp)

- Dana Pinjaman 0 1.000 1.750 2.500

Equity dalam 5.000 4.000 3.250 2.500


investasi

A. Posisi Investor
jika :

harga naik Rp
80/saham

- Nilai saham 8.000 8.000 8.000 8.000

Pengeluaran investasi 5.000 5.000 5.000 5.000

Capital gain 3.000 3.000 3.000 3.000

(capital gain/equity) 60% 75% 92,3% 120%

Tanpa MT Dengan Margin Trading

100 equity 80% 65% 50%

16
Jumlah saham Rp 50 100 100 100 100
dibeli

Pengeluaran investasi 5.000 5.000 5.000 5.000


(Rp)

- Dana Pinjaman 0 1.000 1.750 2.500

Equity dalam 5.000 4.000 3.250 2.500


investasi

B. Posisi Investor
jika :

harga turun
Rp20/saham

- Nilai saham 2.000 2.000 2.000 2.000

Pengeluaran investasi 5.000 5.000 5.000 5.000

Capital loss 3.000 3.000 3.000 3.000

(capital loss/equity) 60% 75% 92,3% 120%

Dari tabel diatas, ternyata MT mengandung 3 fase, yaitu :

a. Harga saham akan berubah naik atau turun, apapun posisi pembiayaannya

b. Makin rendah jumlah equity investor, makin besar tingkat hasil yang diperoleh
investor jika harga saham naik

c. Risiko kerugian juga makin besar (dengan tingkat yang sama) jika harga saham turun

Perhitungan Margin Trading

Perhitungan hasil dari margin dilakukan dengan menggunakan 2 rumus, yaitu :

17
1. Rumus Margin Dasar

Besarnya margin dalam suatu transaksi selalu diu- kur relatif terhadap jumlah
equity.

Diperlukan 2 informasi untuk menyelesaikan rumus ini, yaitu :

a. Nilai pasar dari sekuritas yang di margin

b. Jumlah uang yang dipinjam atau margin loan, yang disebut Saldo Debet (debt
balance)

Persamaan rumus margin :

Margin (%) = Nilai Sekuritas - Saldo Debet

Nilai Sekuritas

=(S-D):S

Contoh :Investor hendak membeli 100 saham @ Rp 4.000 per saham dengan
menggunakan 70% margin; yang berarti dana bersumber dari : 70% equity 30%
margin loan.

Investor akan pinjam 30% x Rp 400.000 = Rp 120.000

yang merupakan saldo debet dan sisanya Rp 400.000 - 120.000 = Rp 280.000


merupakan equity dari investor

a. Tingkat margin :

Margin (%) = ( S - D ) : S

= (Rp 400.000 - 120.000) : 400.000

= 70%

18
b. Jika harga saham naik menjadi Rp 6.500 :

Margin (%) = ( S - D ) : S

= (Rp 650.000 - 120.000) : 650.000

= 81,5%

c. Jika harga saham turun menjadi Rp 3.000 :

Margin (%) = ( S - D ) : S

= (Rp 300.000 - 120.000) : 300.000

= 60%

2. Rumus Hasil Modal yang Ditanam

Margin Trading biasanya menyangkut periode investasi pendek (kurang dari setahun).
Investor menggunakan sebagian dana sendiri, sisa- nya memakai dana pinjaman. Oleh
karena itu, dalam menilai hasilnya, perhitung- an tingkat laba hanya menyangkut
bagian dana milik investor sendiri (equity) Dengan menggunakan dana dari hasil
berjalan (dividen) atau bunga, maupun bunga atas margin loan, diperoleh hasil modal
yang ditanam (return on invested capital = ROIC) sbb. :

Return on Invested Capital /ROIC = ( a - b ) + ( p - q ) : r

dimana :a = Penghasilan berjalan yang diterima

b = Pembayaran bunga atas margin loan

p = Nilai pasar sekuritas pada penjualan

q = Nilai pasar sekuritas pada pembelian

r = Jumlah modal sendiri yang diinvestasikan

19
Contoh : Investor akan membeli 100 saham @ Rp 5.000 persaham, karena diprediksi
6 bulan mendatang harga saham akan naik menjadi Rp 7.500 persaham Saham ini
memberi dividen Rp 200 per saham (dengan holding period 6 bulan, investor hanya
menerima divi- den Rp 100 /saham) Investor membeli saham dengan 50% margin dan
membayar bunga 10% untuk margin loan. Jadi investor akan menaruh equity Rp
500.000 dengan harapan nilainya naik menjadi Rp 750.000 dalam 6 bulan.

Karena investor menggunakan margin loan 50% = Rp 250.000 dengan bunga 10%
selama 6 bulan , maka beban bunga investor adalah Rp 250.000 x 10% x 6/12 = Rp
12.500

ROIC yang diharapkan = (Rp 10.000 - 12.500) + Rp 750.000 - 500.000)

250.000

= Rp 247.500 / 250.000 x 100% = 99 %

D. SHORT SELLING

Short selling adalah suatu cara yang digunakan dalam penjualan saham di mana
investor atau trader meminjam dana (on margin) untuk menjual saham (yang belum
dimiliki) dengan harga tinggi dengan harapan akan membeli kembali dan
mengembalikan pinjaman saham ke pialangnya pada saat saham turun.

Saham-saham yang dapat ditransaksikan secara short selling ditentukan oleh BEI,
sedangkan perusahaan sekuritas yang dapat memfasilitasinya ditentukan oleh OJK.
Aturan tentang short selling pertama kali diatur dalam Keputusan Ketua Bapepam No.
Kep-09/PM/1997 tanggal 30 April 1997 tentang Pembiayaan Penyelesaian Transaksi
Efek Oleh Perusahaan Efek Bagi Nasabah (“Peraturan V.D.6”). Bapepam–LK
kemudian merevisi aturan yang diberi Peraturan V.D.6 itu. Revisi itu seiring terjadinya
krisis finansial yang melanda dunia, termasuk Indonesia. Karena krisis, Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia mengalami kejatuhan yang sangat
dalam.

20
Untuk mengantisipasi transaksi yang bisa membuat IHSG makin jatuh, Bapepam
menerbitkan sejumlah aturan termasuk revisi aturan short selling. Transaksi short
selling ini kemudian diatur antara lain dengan Keputusan Ketua Bapepam–LK No.
258/BL/2008 yang kemudian diubah dengan Keputusan Ketua Bapepam–LK No.
556/BL/2008. Sehingga, pada dasarnya transaksi short selling di Indonesia
diperbolehkan. Namun, Bapepam–LK tetap menentukan rambu-rambu transaksi short
selling seperti apa yang dibolehkan. Tujuannya, tentu saja mengamankan pasar modal
dalam negeri selain untuk kepentingan investor minoritas.

1. Mekanisme
Mekanisme Short Selling

100 saham dijual @ Rp 5.000 persaham

Hasil penjualan bagi investor………………………..….. Rp 500.000

Kemudian, 100 saham dibeli @ Rp 3.000 per saham

Biaya bagi investor ……………………………… …….. .Rp 300.000

Laba Bersih ………… ......Rp 200.000

Jika seorang investor menemukan saham yang diprediksi akan turun harganya
maka hal itu merupakan alasan untuk melakakukan short Selling untuk mengubah
penurunan harga sekuritas menjadi suatu keuntungan namun hal ini memiliki risiko
yang cukup tinggi, karena penurunan harga suatu sekuritas hanya dapat terjadi sejauh
tertentu (paling tidak sama atau hampir sama nol) Dilain pihak kenaikan harganya
tidak terbatas (jika harga sekuritas naik, short selling rugi) Short Selling tidak pernah
memperoleh dividen (karena jangka waktunya cukup pendek) Namun jika dividen
dibayarkan dalam periode transaksi short Sell, maka short Seller harus menyerah -
kannya kepada pemberi pinjaman saham (lender).

Sekuritas untuk short selling bisa dipinjam dari broker atau investor individual
lainnya. Broker meminjamkan sekuritas yang dipegang dalam portofolionya atau

21
dikenal dengan sebagai Street Name Account (akun nama jalan). Street Name Account
adalah sekuritas yang dipegang oleh broker untuk pelanggannya. saham dikeluarkan
atas nama kantor broker tetapi dipegang untuk kepentingan (in trust) account dari
kliennya.

Lender, yaitu pihak yang memberi pinjaman sekuritas dalam transaksi short
sale praktis tetap memiliki seluruh manfaat dan hak kepemilikan sekuritas (kecuali hak
suara/voting right) selama short sale, yaitu :

- Pembayaran dividen

- Hak atas saham pre emptive, jika dikeluarkan

- Saham split atau saham dividen , jika dikeluarkan

Hak-hak tersebut tidak diterima langsung dari perusahaan yang menerbitkan sekuritas,
tetapi melalui short seller yang telah berjanji menjadi pihak surogasi (surrogate firm)
broker yang akan menjamin dipenuhinya kewajiban oleh short seller. Oleh karena itu
dalam transaksi short sele diperlukan margin deposit yang dipegang oleh broker untuk
kepentingan dan perlindungan lender. Dalam short sale, hasil penjualan sekuritas,
bersama dengan margin deposit milik short seller dipegang oleh broker, jadi broker
membentuk dua account, yaitu satu untuk short seller, lainnya untuk lender. Proses
bekerjanya account ini disebut mark-to-the-mark

 Jika harga saham naik, account short seller turun dan dananya ditransfer ke
account lender. Sedang jika harga saham turun, terjadi sebaliknya.
 Pinjaman tanpa bunga dan dividen juga langsung didebit pada account short
.seller dan dikreditir pada account lender.

Bila transaksi short sale berakhir, dana dalam account lender dipakai untuk membeli
saham (saat itu lender diberitahu untuk segera mengembalikan pinjaman tanpa bunga
yang belum kembali pada account). Posisi short sale ditutup bila saham dikembalikan
kepada lender.Dana dalam account short seller setelah dikurangi komisi serta biaya

22
transaksi, tinggal margin deposit dan laba dari transaksi untuk dikembalikan kepada
short seller.

Penjualan "short" saham terdiri dari :

a) Seorang investor melakukan peminjaman saham (ada peraturan yang berbeda-


beda disetiap negara yang membatasi batasan perbandingan jumlah
peminjaman yang dapat dilakukan dengan dana yang tersedia sebagai deposit
pada akun pialang.).
b) Investor menjualnya dan hasilnya dikreditkan kedalam akunnya pada
perusahaan pialang saham.
c) Investor harus "menutup" posisinya dengan cara melakukan pembelian kembali
saham . Apabila harga turun maka ia akan memperoleh keuntungan namun
apabila harga naik maka akan merugi.
d) Investor akhirnya mengembalikan saham tersebut kepada sipemberi pinjaman.
2. Penggunaan Short Selling

Investor melakukan short sale untuk salah satu dari dua alasan :

a. Mencari laba spekulatif bila harga suatu sekuritas diharapkan turun, atau

b. Melindungi laba dan menangguhkan pajak dengan memagari (hedgimg)


posisinya.

Semua short sale dilakukan atas margin, yaitu besarnya penggunaan modal sendiri
(equity deposit) yang harus dilakukan inve tor untuk dapat memulai transaksi, karena
adanya M/R. Dalam short sale tidak diperlukan dana pinjaman , sehingga tidak ada
pembayaran bunga

3. Margin dalam Short Sale

Margin dalam short sale dihitung dengan rumus :

Margin (%) = (Hasil Penjualan + Equity deposit) – Nilai Sekuritas

23
Nilai Sekuritas

Contoh :

Investor ingin melakukan short sale atas 100 saham @ Rp 60 dengan menggunakan
margin yang berlaku 70%.

Dalam hal ini :

Nilai Saham (NS) dan Hasil Penjualan (HP) :

100 x Rp 60 = Rp 6.000

Equity Deposit (ED) : 70% x Rp 6.000 = Rp 4.200

 Jika harga saham naik menjadi Rp 70, maka :

Margin (%) = (Rp 6.000 + 4.200 -7.000 ) : 7.000 = 46%

Nilai HP dan ED tetap yaitu Rp 6.000 dan Rp 4.200 tetapi nilai kolateral berubah
naik menjadi Rp 7.000. Oleh karena harga saham naik, besarnya margin turun, sebab
investor menderita kerugian yang mengakibatkan nilai equity turun.

Karena besarnya margin (46%) turun dibawah M/R (70%) investor menghadapi
restricted account.

 Jika harga saham turun menjadi Rp 50, maka :

Margin (%) = (Rp 6.000 + 4.200 -5.000 ) : 5.000 = 104%

4. Hasil atas Modal yang Ditanam

Dalam short Sale tidak ada dana yang dipinjam dan tidak ada bunga yang harus dibayar,
sehingga hasil yang diperoleh berasal dari equity deposit. Hanya saja short seller harus
membayar dividen kepada lender yang akibatnya mengurangi laba . Rumus hasil atas
modal yang ditanam

Rumus hasil atas modal yang ditanam (return in invested capital) sbb. :

24
ROIC = ( HP – BP – D) : ED

Dimana :

HP = Hasil Penjualan

BP = Biaya Pembelian Sekuritas

D = Dividen yang dibayar short seller

Contoh :

Seorang investor ingin menggunakan 70% margin untuk short sale saham seharga Rp
60 yang diprediksi akan turun menjadi Rp 40 dalam waktu 6 bulan. Perusahaan
membayar dividen Rp 2 per saham setahun atau Rp 1 per saham untuk 6 bulan

Perhitungan hasil persaham menghasilkan :

ROIC = Rp 60 – Rp 40 – (6/12 x Rp 2) : (70% x Rp 60)

= Rp 19 /42 x 100% = 45%

5. Spekulasi

Karena short seller bertaruh terhadap perilaku pasar , maka short selling merupakan
teknik spekulasi yang tinggi dan menghadapi risiko yang cukup besar.

Contoh : Seorang investor telah menemukan suatu saham yang diprediksi akan merosot
harganya dari Rp 50 menjadi Rp 30 dalam waktu 8 bulan mendatang. Ia memutuskan
untuk melakukan short selling 300 saham dengan menggunakan margin 50%

Spekulasi dengan short Sale :

Short sale awal : 300 saham dijual @ Rp 50 …………… Rp 15.000

Short sale tutup : 300 saham diobeli @ Rp 30 ………… Rp 9.000

Laba bersih …………….. Rp 6.000

25
Equity deposit 50% x Rp 15.000 Rp 7.500

ROIC : Rp 15.000 – 9.000 : 7.500 = 80%

Apabila harga saham memang turun menjadi Rp 30 investor akan memperoleh ROIC
sebesar 80% . Tetapi jika ternyata harga saham naik, maka seluruh atau sebagian besar
investasinya Rp 7.500 akan habis.

6. Melindungi laba yang telah diperoleh

Short sale bisa digunakan untuk melindungi laba yang telah diperoleh dari transaksi
sebelumnya Teknik ini disebut hedging atau shorting-against – the box

Transaksi I :
-Membeli 100 saham @ Rp 20 = Rp 2.000
Harga saham naik menjadi Rp 50
Laba dalam transaksi ini :
- Nilai saham saat ini 100 saham x Rp 50 ………… Rp 5.000
- Biaya transaksi 100 saham x Rp 20 …………… (Rp 2.000)
Laba Bersih …………………. Rp 3.000

Transaksi II:
Short Sale 100 saham @ Rp 50
A. Harga saham naik menjadi Rp 80
Laba dalam transaksi I dan II :
- Nilai saham saat ini 100 saham x Rp 80 …………… Rp 8.000
- Biaya transaksi 100 saham x Rp 20 ……………... (Rp 2.000)
Laba …….……………………. Rp 6.000
Kurang : Rugi Short Sale :
Short Sale awal 100 saham x Rp 50 = Rp 5.000

26
Short sale tutup 100 saham x Rp 80 = ( 8.000) = Rp 3.000
Laba Bersih ……………….. Rp 3.000
B. Harga saham turun menjadi Rp 30
Laba dalam transaksi I dan II :
- Nilai saham saat ini 100 saham x Rp 30 …………… Rp 3.000
- Biaya transaksi 100 saham x Rp 20 ……………... (Rp 2.000)
Laba …….……………………. Rp 1.000
Tambah : Laba Short Sale :
Short Sale awal 100 saham x Rp 50 = Rp 5.000

Short sale tutup 100 saham x Rp 30 = ( 3.000) = Rp 2.000

Laba Bersih ……………….. Rp 3.000

Dalam transaks1 pertama diperoleh capital gain Rp 3.000. Investor tidak ingin menjual
saham itu sekarang, tetapi ia juga tidak mau kehilangan laba itu. Dengan melakukan
short sale, investor dapat “mengunci” laba Rp 3.000 tersebut. Meskipun harga saham
naik atau turun, investor tetap terjamin akan laba itu.

7. IImbal jasa
Pialang dalam memfasilitasi penyerahan dari nasabah penjual "short" akan
mengenakan sejumlah imbal jasa untuk layanan yang diberikannya dalam bentuk
"komisi" standar sebagaimana yang dikenakan dalam transaksi sekuriti. Apabila
dalam posisi "short" ternyata harga meningkat maka uang tersebut akan
dipindahkan dari akun tunai nasabah ke akun "margin". Apabila harga kian
meningkat dan nasabah tidak memiliki dana yang cukup guna menutup posisi
tersebut maka nasabah akan diberi pinjaman yang disebut "pinjaman margin" yang
akan dikenakan bunga pinjaman.

27
8. Risiko Short Selling

a) Risiko pergerakan pasar. Pergerakan pasar sangat sulit diprediksi. Investor yang
menggunakan strategi short sell akan selalu terekspos terhadap arah pergerakan
pasar yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

b) Potensi kerugian tidak terbatas. Secara teori, potensi kenaikan harga saham itu
tidak terbatas (dapat melebihi 100%). Berhubung short sell mengalami
kerugian jika harga saham meningkat, berarti potensi kerugian dari short selling
itu tidak terbatas dan dapat melebihi jumlah modal. Di sisi lain, penurunan
harga saham maksimal sebesar 100%, yang berarti potensi keuntungan short
sell terbatas pada 100%.

Risiko pembayaran bunga. Ketika investor ‘meminjam’ saham ke


perusahaan sekuritas untuk dijual, tentu ada kompensasi yang harus diberikan,
yaitu dalam bentuk pembayaran bunga. Semakin lama investor menahan posisi
short sell maka semakin besar pula bunga yang harus dibayar. (Untuk membatasi
risiko ini biasanya investor akan memberikan stop-loss order kepada sekuritasnya.
Stop loss order adalah intruksi langsung ‘menutup’ posisi short sell dalam kondisi
tertentu, untuk membatasi risiko).

28
9. Short Selling & Dampak Pada Pasar Saham
Walaupun memiliki risiko unik tersendiri, short selling juga dianggap
memberi kontribusi memberi keseimbangan saat pasar saham dalam kondisi
‘terlalu’ bullish yang meningkatkan potensi market bubble (kondisi dimana
harga saham cenderung lebih tinggi dari nilai fundamentalnya). Selain sebagai
penyeimbang, aktivitas short sell juga meningkatkan likuiditas saham di
pasar. Dengan adanya short sell, saham akan lebih sering diperdagangkan dan
meningkatkan likuiditas pasar secara keseluruhan. Disisi lain, short sell dapat
membuat investor yang tidak etis untuk menyebarkan “berita palsu” atas
saham tertentu dengan tujuan harga saham tersebut turun.

10. Efek yang Dapat Ditransaksikan & Dijaminkan Dalam Transaksi Marjin
atau Transaksi Short Selling

a) Efek yang dapat ditransaksikan dalam Transaksi Marjin adalah Efek


Marjin.
b) Efek yang dapat ditransaksikan dalam Transaksi Short Selling adalah
Efek Short Selling.
c) Bursa menetapkan Efek Marjin dan atau Efek Short Selling
sebagaimana dimaksud dalam ketentuan no 1. dan no. 2. di atas
berdasarkan kriteria sebagai berikut:

i. Efek tersebut telah tercatat di Bursa, dengan ketentuan: apabila


Efek tersebut telah tercatat di Bursa selama 6 (enam) bulan atau
lebih, maka:
- Efek tersebut ditransaksikan di Bursa dengan rata-rata nilai
transaksi harian di Pasar Reguler dalam 6 (enam) bulan terakhir
minimal adalah Rp 10.000.000.000,- (sepuluh miliar rupiah);

29
- minimal nilai transaksi harian di Pasar Reguler adalah Rp
1.000.000.000,- (satu miliar rupiah).

apabila Efek tersebut telah tercatat di Bursa kurang dari 6 (enam) bulan,
maka:
- Efek tersebut ditransaksikan di Bursa dengan rata-rata nilai
transaksi harian di Pasar Reguler minimal mencapai Rp
50.000.000.000,- (lima puluh miliar rupiah) untuk periode sekurang
kurangnya 3 (tiga) bulan sejak dicatatkan hingga periode review
oleh Bursa;
- minimal transaksi harian Rp 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah).

ii. Efek tersebut harus ditransaksikan setiap Hari Bursa, kecuali


Efek tersebut dikenakan suspensi paling lama 10 (sepuluh) Hari
Bursa dalam jangka waktu:
- 6 (enam) bulan terakhir untuk Efek yang tercatat selama 6 (enam)
bulan atau lebih; atau
- sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sejak tercatat hingga periode
review, untuk Efek yang tercatat kurang dari 6 (enam) bulan.
iii. Price Earning Ratio (PER) tidak lebih dari 3 (tiga) kali market
PER.
iv. kapitalisasi pasar dari saham dengan kepemilikan di bawah 5%
(lima perseratus) dari jumlah saham tercatat lebih besar dari Rp
1.000.000.000.000,- (satu triliun rupiah) berdasarkan data akhir
bulan dalam periode data review.
v. jumlah pemegang saham sekurang-kurangnya 600 (enam ratus)
pemegang saham berdasarkan data akhir bulan selama periode
data review.
vi. Khusus untuk Transaksi Short Selling total saham dengan
kepemilikan di bawah 5% (lima perseratus) dari jumlah saham

30
tercatat minimal 20% (dua puluh perseratus) yang dihitung
selama:
vii. 6 (enam) bulan terakhir hingga periode review oleh Bursa untuk
Efek yang telah tercatat di Bursa selama 6 (enam) bulan atau
lebih di Bursa.
viii. sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sejak tercatat hingga periode
review oleh Bursa untuk Efek yang telah tercatat di Bursa
kurang dari 6 (enam) bulan.

d) Bursa menetapkan Efek Jaminan berdasarkan kriteria sebagai berikut:


i. memenuhi persyaratan menjadi Efek Marjin dan atau Efek Short
Selling sebagaimana dimaksud dalam ketentuan no. 3 di atas; dan
atau
ii. termasuk dalam daftar saham yang diperhitungkan dalam Indek LQ-
45;
iii. Surat Berharga Negara (SBN), dan Obligasi Korporasi yang
diterbitkan di Indonesia, tercatat di Bursa, dan sekurang-kurangnya
memiliki rating A+ atau yang setara.

e) Efek Jaminan sebagaimana dimaksud ketentuan no.4. di atas dihitung


berdasarkan nilai pasar wajar.

f) Bursa menetapkan daftar Efek Marjin, Efek Short Selling dan atau Efek
Jaminan serta mengumumkan kepada publik dan melaporkan kepada
Bapepam dan LK pada hari kerja terakhir setiap bulannya.

g) Dalam hal terdapat informasi material yang terkait dengan suatu Efek
Marjin, Efek Short Selling dan atau Efek Jaminan yang kemungkinan
dapat mempengaruhi integritas dan atau likuiditas pasar, Bursa
melakukan review dan selanjutnya dapat menetapkan untuk:

31
i. tidak mencantumkan Efek tersebut dalam daftar Efek Marjin, Efek
Short Selling dan atau Efek Jaminan; atau
ii. mengeluarkan Efek tersebut dari daftar Efek Marjin, Efek Short Selling
dan atau Efek Jaminan. meskipun Efek Perusahaan Tercatat tersebut
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam ketentuan no. 3. dan atau
no.4. di atas.

h) Dalam hal terjadi peristiwa material yang mempengaruhi kondisi


seluruh Efek yang tercatat di Bursa, Bursa berwenang untuk tidak
menerbitkan daftar Efek Marjin, Efek Short Selling dan atau Efek
Jaminan serta mengumumkan kepada publik dan melaporkan kepada
Bapepam dan LK pada Hari Bursa yang sama.
i) Bursa dalam menetapkan Efek Marjin, Efek Short Selling dan atau Efek
Jaminan dapat meminta pertimbangan kepada Komite Perdagangan.

32
BAB III PENUTUP

1.1 Kesimpulan

33
DAFTAR PUSTAKA

34