Anda di halaman 1dari 21

Hal. 8 Pasal 5 Poin a.

4 - informasi dan komunikasi


Poin b.2 - pendidikan dan kebudayaan
-1-

SALINAN
MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI
DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 19 TAHUN 2017
TENTANG
PENETAPAN PRIORITAS PENGGUNAAN DANA DESA TAHUN 2018

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI


REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 21 ayat (1)


Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2015 tentang
Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014
tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran
Pendapatan Belanja Negara, perlu menetapkan Peraturan
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana
Desa Tahun 2018;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang


Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5495);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang
Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun
2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik
-2-

Indonesia Tahun 2014 Nomor 123, Tambahan Lembaran


Negara Republik Indonesia Nomor 5539) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47
Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014
tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2015 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5717);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang
Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 168, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5558) sebagaimana
telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 8 Tahun 2016 tentang Perubahan
Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014
tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (Lembar Negara Republik
Indonesia Tahun 2016 Nomor 57, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5864);
4. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 6 Tahun 2015
tentang Organisasi Kementerian dan Tata Kerja
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2015 Nomor 463);
5. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 2 Tahun 2016
tentang Indeks Desa Membangun (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2016 Nomor 300);
6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/ PMK 07/2016
tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran,
Penggunaan, Pemantauan, dan Evaluasi Dana Desa
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor
478);
-3-

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH
TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI TENTANG PENETAPAN
PRIORITAS PENGGUNAAN DANA DESA TAHUN 2018.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Desa adalah Desa dan Desa adat atau yang disebut
dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah
kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas
wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat
berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul,
dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati
dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
2. Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi
Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk
mendanai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan
pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan
pemberdayaan masyarakat.
3. Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul adalah hak
yang merupakan warisan yang masih hidup dan
prakarsa Desa atau prakarsa masyarakat Desa sesuai
dengan perkembangan kehidupan masyarakat.
4. Kewenangan Lokal Berskala Desa adalah kewenangan
untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
Desa yang telah dijalankan oleh Desa atau mampu dan
efektif dijalankan oleh Desa atau yang muncul karena
perkembangan Desa dan prakasa masyarakat Desa.
5. Musyawarah Desa atau yang disebut dengan nama lain
adalah musyawarah antara Badan Permusyawaratan
-4-

Desa, Pemerintah Desa, dan unsur masyarakat yang


diselenggarakan oleh Badan Permusyawaratan Desa
untuk menyepakati hal yang bersifat strategis.
6. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa atau yang disebut
dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan Desa.
7. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
8. Pembangunan Desa adalah upaya peningkatan kualitas
hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya
kesejahteraan masyarakat Desa.
9. Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah upaya
mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan
masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap,
keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta
memanfaatkan sumber daya melalui penetapan
kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang
sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan
masyarakat Desa.
10. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang
selanjutnya disingkat APBN adalah rencana keuangan
tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan
Perwakilan Rakyat.
11. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa yang
selanjutnya disebut RPJM Desa adalah dokumen
perencanaan Desa untuk periode 6 (enam) tahun.
12. Rencana Kerja Pemerintah Desa yang selanjutnya disebut
RKP Desa adalah dokumen perencanaan Desa untuk
periode 1 (satu) tahun.
13. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa yang selanjutnya
disebut APB Desa adalah rencana keuangan tahunan
Pemerintahan Desa.
14. Prioritas Penggunaan Dana Desa adalah pilihan kegiatan
yang didahulukan dan diutamakan daripada pilihan
kegiatan lainnya untuk dibiayai dengan Dana Desa.
-5-

15. Tipologi Desa adalah merupakan fakta, karakteristik dan


kondisi nyata yang khas keadaan terkini di Desa maupun
keadaan yang berubah berkembang dan diharapkan
terjadi di masa depan (visi Desa).
16. Desa Mandiri adalah Desa maju yang memiliki
kemampuan melaksanakan pembangunan Desa untuk
peningkatan kualitas hidup dan kehidupan
sebesarbesarnya kesejahteraan masyarakat Desa dengan
ketahanan ekonomi, dan ketahanan ekologi secara
berkelanjutan.
17. Desa Maju adalah Desa yang memiliki potensi sumber
daya sosial, ekonomi dan ekologi, serta kemampuan
mengelolanya untuk peningkatan kesejahteraan
masyarakat Desa, kualitas hidup manusia, dan
menanggulangi kemiskinan.
18. Desa Berkembang adalah Desa potensial menjadi Desa
Maju, yang memiliki potensi sumber daya sosial,
ekonomi, dan ekologi tetapi belum mengelolanya secara
optimal untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat
Desa, kualitas hidup manusia dan menanggulangi
kemiskinan.
19. Desa Tertinggal adalah Desa yang memiliki potensi
sumber daya sosial, ekonomi, dan ekologi tetapi belum,
atau kurang mengelolanya dalam upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat Desa, kualitas hidup manusia
serta mengalami kemiskinan dalam berbagai bentuknya.
20. Desa Sangat Tertinggal adalah Desa yang mengalami
kerentanan karena masalah bencana alam, goncangan
ekonomi, dan konflik sosial sehingga tidak
berkemampuan mengelola potensi sumber daya sosial,
ekonomi, dan ekologi, serta mengalami kemiskinan
dalam berbagai bentuknya.
21. Produk Unggulan Desa dan Produk Unggulan Kawasan
Perdesaan adalah upaya membentuk, memperkuat dan
memperluas usaha-usaha ekonomi yang difokuskan pada
satu produk unggulan di wilayah Desa atau di wilayah
antar-Desa yang dikelola melalui kerjasama antar Desa.
-6-

22. Jaring Komunitas Wira Desa adalah suatu upaya


mengarusutamakan penguatan kapasitas dan kapabilitas
manusia sebagai intisari pembangunan Desa sehingga
masyarakat Desa menjadi subyek yang berdaulat atas
pilihan-pilihan yang diputuskan secara mandiri.
23. Lumbung Ekonomi Desa adalah upaya mengoptimalkan
sumberdaya Desa secara mandiri dalam rangka
mewujudkan kesejahteraan Desa.
24. Lingkar Budaya Desa adalah proses pembangunan Desa
sebagai bagian dari kerja budaya swadaya, gotong royong
yang berdasarkan pada semangat kebersamaan,
persaudaraan dan kesadaran melakukan perubahan
dengan berdasarkan pada nilai, norma dan semangat
Pancasila.
25. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang pembangunan desa dan
kawasan perdesaan, pemberdayaan masyarakat desa,
percepatan pembangunan daerah tertinggal, dan
transmigrasi.

BAB II
TUJUAN DAN PRINSIP

Pasal 2
Penetapan prioritas penggunaan Dana Desa bertujuan
untuk:
a. memberikan acuan bagi penyelenggaraan kewenangan
hak asal usul dan kewenangan lokal berskala Desa yang
dibiayai oleh Dana Desa dalam melaksanakan program
dan kegiatan;
b. memberikan acuan bagi Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota dalam menyusun pedoman teknis
penggunaan Dana Desa; dan
c. memberikan acuan bagi Pemerintah Daerah Pusat dalam
pemantauan dan evaluasi pelaksanaan penggunaan
Dana Desa.
-7-

Pasal 3
Penetapan prioritas penggunaan Dana Desa didasarkan
pada prinsip-prinsip:
a. Keadilan, dengan mengutamakan hak dan kepentingan
seluruh warga Desa tanpa membeda-bedakan;
b. Kebutuhan prioritas, dengan mendahulukan
kepentingan Desa yang lebih mendesak, lebih
dibutuhkan dan berhubungan langsung dengan
kepentingan sebagian besar masyarakat Desa;
c. Kewenangan Desa, dengan mengutamakan kewenangan
hak asal usul dan kewenangan lokal berskala Desa;
d. Partisipatif, dengan mengutamakan prakarsa dan
kreatifitas Masyarakat;
e. Swakelola dan berbasis sumber daya Desa
mengutamakan pelaksanaan secara mandiri dengan
pendayagunaan sumberdaya alam Desa, mengutamakan
tenaga, pikiran dan keterampilan warga Desa dan
kearifan lokal; dan
f. Tipologi Desa, dengan mempertimbangkan keadaan dan
kenyataan karakteristik geografis, sosiologis,
antropologis, ekonomi, dan ekologi Desa yang khas, serta
perubahan atau perkembangan dan kemajuan Desa.

BAB III
PRIORITAS PENGGUNAAN DANA DESA

Pasal 4
(1) Prioritas Penggunaan Dana Desa untuk membiayai
pelaksanaan program dan kegiatan di bidang
pembangunan Desa dan pemberdayaan masyarakat Desa.
(2) Prioritas penggunaan Dana Desa diutamakan untuk
membiayai pelaksanaan program dan kegiatan yang
bersifat lintas bidang.
(3) Program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) antara lain bidang kegiatan produk unggulan Desa
atau kawasan perdesaan, BUM Desa atau BUM Desa
-8-

Bersama, embung, dan sarana olahraga Desa sesuai


dengan kewenangan Desa.
(4) Pembangunan sarana olahraga Desa sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) merupakan unit usaha yang
dikelola oleh BUM Desa atau BUM Desa Bersama.
(5) Prioritas penggunaaan Dana Desa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib dipublikasikan oleh
Pemerintah Desa kepada masyarakat Desa di ruang
publik yang dapat diakses masyarakat Desa.

Bagian Kesatu
Bidang Pembangunan Desa

Pasal 5
Dana Desa digunakan untuk membiayai pembangunan Desa
yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat Desa, peningkatan kualitas hidup manusia serta
penanggulangan kemiskinan dengan prioritas penggunaan
Dana Desa diarahkan untuk pelaksanaan program dan
kegiatan Pembangunan Desa, yang meliputi antara lain:
a. pengadaan, pembangunan, pengembangan, dan
pemeliharaan sarana prasarana dasar untuk pemenuhan
kebutuhan:
1. lingkungan pemukiman;
2. transportasi;
3. energi; dan
4. informasi dan komunikasi.
b. pengadaan, pembangunan, pengembangan, dan
pemeliharaan sarana prasarana pelayanan sosial dasar
untuk pemenuhan kebutuhan:
1. kesehatan masyarakat; dan
2. pendidikan dan kebudayaan.
c. pengadaan, pembangunan, pengembangan, dan
pemeliharaan sarana prasarana ekonomi untuk
mewujudkan Lumbung Ekonomi Desa, meliputi:
1. usaha ekonomi pertanian berskala produktif untuk
ketahanan pangan;
-9-

2. usaha ekonomi pertanian berskala produktif meliputi


aspek produksi, distribusi dan pemasaran yang
difokuskan kepada pembentukan dan pengembangan
produk unggulan desa dan/atau produk unggulan
kawasan perdesaan; dan
3. usaha ekonomi non pertanian berskala produktif
meliputi aspek produksi, distribusi dan pemasaran
yang difokuskan kepada pembentukan dan
pengembangan produk unggulan desa dan/atau
produk unggulan kawasan perdesaan.
d. pengadaan, pembangunan, pengembangan, dan
pemeliharaan sarana prasarana lingkungan untuk
pemenuhan kebutuhan:
1. kesiapsiagaan menghadapi bencana alam;
2. penanganan bencana alam; dan
3. pelestarian lingkungan hidup.
e. pengadaan, pembangunan, pengembangan, dan
pemeliharaan sarana prasarana lainnya yang sesuai
dengan kewenangan Desa dan ditetapkan dalam
Musyawarah Desa.

Pasal 6
Desa dalam perencanaan program dan kegiatan
pembangunan Desa yang dibiayai Dana Desa, dapat
mempertimbangkan tipologi Desa berdasarkan tingkat
perkembangan kemajuan Desa, meliputi:
a. Desa Tertinggal dan/atau Desa Sangat Tertinggal
memprioritaskan kegiatan pembangunan Desa pada:
1. pengadaan, pembangunan, pengembangan, dan
pemeliharaan sarana prasarana dasar; dan
2. pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan
sarana prasarana ekonomi serta pengadaan produksi,
distribusi dan pemasaran yang diarahkan pada upaya
mendukung pembentukan usaha ekonomi pertanian
berskala produktif, usaha ekonomi pertanian untuk
ketahanan pangan dan usaha ekonomi lainnya yang
difokuskan kepada pembentukan dan pengembangan
- 10 -

produk unggulan desa dan/atau produk unggulan


kawasan perdesaan.
b. Desa Berkembang memprioritaskan kegiatan
pembangunan Desa pada:
1. pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan
infrastruktur ekonomi serta pengadaan sarana
prasarana produksi, distribusi dan pemasaran untuk
mendukung penguatan usaha ekonomi pertanian
berskala produktif, usaha ekonomi untuk ketahanan
pangan dan usaha ekonomi lainnya yang difokuskan
kepada pembentukan dan pengembangan produk
unggulan desa dan/atau produk unggulan kawasan
perdesaan; dan
2. pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur serta
pengadaan sarana prasarana sosial dasar dan
lingkungan yang diarahkan pada upaya mendukung
pemenuhan akses masyarakat Desa terhadap
pelayanan sosial dasar dan lingkungan.
c. Desa Maju dan/atau Desa Mandiri memprioritaskan
kegiatan pembangunan pada:
1. Pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan
infrastruktur ekonomi serta pengadaan sarana
prasarana produksi, distribusi dan pemasaran untuk
mendukung perluasan/ekspansi usaha ekonomi
pertanian berskala produktif, usaha ekonomi untuk
ketahanan pangan dan usaha ekonomi lainnya yang
difokuskan kepada pembentukan dan pengembangan
produk unggulan desa dan/atau produk unggulan
kawasan perdesaan; dan
2. pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur serta
pengadaan sarana prasarana sosial dasar dan
lingkungan yang diarahkan pada upaya mendukung
peningkatan kualitas pemenuhan akses masyarakat
Desa terhadap pelayanan sosial dasar dan lingkungan.
- 11 -

Bagian Kedua
Bidang Pemberdayaan Masyarakat

Pasal 7
(1) Dana Desa digunakan untuk membiayai program dan
kegiatan bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa yang
ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas
masyarakat Desa dengan mendayagunakan potensi dan
sumberdayanya sendiri sehingga Desa dapat menghidupi
dirinya secara mandiri.
(2) Kegiatan pemberdayaan masyarakat Desa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diprioritaskan meliputi:
a. peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses
perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan
pembangunan Desa;
b. pengembangan kapasitas di Desa meliputi:
pendidikan, pembelajaran, pelatihan, penyuluhan dan
bimbingan teknis, dengan materi tentang
pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa;
c. pengembangan ketahanan masyarakat Desa;
d. pengelolaan dan pengembangan sistem informasi
Desa;
e. dukungan pengelolaan kegiatan pelayanan sosial
dasar di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan
perempuan dan anak, serta pemberdayaan
masyarakat marginal dan anggota masyarakat Desa
penyandang disabilitas;
f. dukungan pengelolaan kegiatan pelestarian
lingkungan hidup;
g. dukungan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam
dan penanganannya;
h. dukungan permodalan dan pengelolaan usaha
ekonomi produktif yang dikelola oleh BUM Desa
dan/atau BUM Desa Bersama;
i. dukungan pengelolaan usaha ekonomi oleh kelompok
masyarakat, koperasi dan/atau lembaga ekonomi
masyarakat Desa lainnya;
- 12 -

j. pengembangan kerja sama antar Desa dan kerja sama


Desa dengan pihak ketiga; dan
k. bidang kegiatan pemberdayaan masyarakat Desa
lainnya yang sesuai dengan analisa kebutuhan Desa
dan ditetapkan dalam Musyawarah Desa.
(3) Pengembangan kapasitas di Desa sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diswakelola oleh Desa atau badan kerja
sama antar-Desa.
(4) Swakelola oleh badan kerja sama antar-Desa
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan
berdasarkan ketentuan dan mekanisme kerja sama antar-
Desa.

Pasal 8
Desa dalam perencanaan program dan kegiatan
pemberdayaan masyarakat Desa yang dibiayai Dana Desa,
dapat mempertimbangkan tipologi Desa berdasarkan tingkat
perkembangan kemajuan Desa, meliputi:
a. Desa Tertinggal dan/atau Desa Sangat Tertinggal
memprioritaskan kegiatan pemberdayaan masyarakat
Desa untuk merintis Lumbung Ekonomi Desa yang
meliputi:
1. pembentukan BUM Desa dan/atau BUM Desa
Bersama melalui penyertaan modal, pengelolaan
produksi, distribusi dan pemasaran bagi usaha
ekonomi pertanian berskala produktif dan usaha
ekonomi lainnya yang difokuskan kepada
pembentukan dan pengembangan produk unggulan
desa dan/atau produk unggulan kawasan perdesaan;
2. pembentukan usaha ekonomi warga/kelompok,
koperasi dan/atau lembaga ekonomi masyarakat
Desa lainnya melalui akses permodalan melalui
BUM Desa dan/atau BUM Desa Bersama,
pengelolaan produksi, distribusi dan pemasaran bagi
usaha ekonomi pertanian berskala produktif dan
usaha ekonomi lainnya yang difokuskan kepada
- 13 -

pembentukan dan pengembangan produk unggulan


desa dan/atau produk unggulan kawasan perdesaan;
3. pembukaan lapangan kerja untuk pemenuhan
kebutuhan hidup bagi masyarakat Desa;
b. Desa Berkembang memprioritaskan kegiatan
pemberdayaan masyarakat Desa untuk memperkuat
Lumbung Ekonomi Desa, meliputi:
1. penguatan BUM Desa dan/atau BUM Desa Bersama
melalui penyertaan modal, pengelolaan produksi,
distribusi dan pemasaran bagi usaha ekonomi
pertanian berskala produktif dan usaha ekonomi
lainnya yang difokuskan kepada pembentukan dan
pengembangan produk unggulan desa dan/atau
produk unggulan kawasan perdesaan;
2. penguatan usaha ekonomi warga/kelompok, koperasi
dan/atau lembaga ekonomi masyarakat Desa lainnya
melalui akses permodalan melalui BUM Desa/BUM
Desa Bersama, pengelolaan produksi, distribusi dan
pemasaran bagi usaha ekonomi pertanian berskala
produktif dan usaha ekonomi lainnya yang
difokuskan kepada pembentukan dan pengembangan
produk unggulan desa dan/atau produk unggulan
kawasan perdesaan;
3. peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kerja
terampil dan pembentukan wirausahawan di Desa;
4. pengembangan lapangan kerja untuk pemenuhan
kebutuhan hidup bagi masyarakat Desa;
c. Desa Maju dan/atau Desa Mandiri memprioritaskan
kegiatan pemberdayaan masyarakat Desa untuk
menegakkan Lumbung Ekonomi Desa, meliputi:
1. perluasan/ekspansi usaha BUM Desa dan/atau BUM
Desa Bersama melalui penyertaan modal,
pengelolaan produksi, distribusi dan pemasaran bagi
usaha ekonomi pertanian berskala produktif dan
usaha ekonomi lainnya yang difokuskan kepada
pembentukan dan pengembangan produk unggulan
desa dan/atau produk unggulan kawasan perdesaan;
- 14 -

2. perluasan/ekspansi usaha ekonomi warga/


kelompok, koperasi dan/atau lembaga ekonomi
masyarakat Desa lainnya melalui akses permodalan
melalui BUM Desa dan/atau BUM Desa Bersama,
pengelolaan produksi, distribusi dan pemasaran bagi
usaha ekonomi pertanian berskala produktif dan
usaha ekonomi lainnya yang difokuskan kepada
pembentukan dan pengembangan produk unggulan
desa dan/atau produk unggulan kawasan perdesaan;
3. peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kerja ahli
di Desa; dan
4. perluasan/ekspansi lapangan kerja untuk
pemenuhan kebutuhan hidup bagi masyarakat Desa;
d. Desa Tertinggal dan/atau Desa Sangat Tertinggal, Desa
Berkembang maupun Desa Maju dan/atau Desa
Mandiri memprioritaskan kegiatan pemberdayaan
masyarakat Desa untuk merintis dan mengembangkan
Jaring Komunitas Wira desa, meliputi:
1. pengelolaan secara partisipatif kegiatan pelayanan
sosial dasar di bidang pendidikan, kesehatan,
pemberdayaan perempuan dan anak, serta
pemberdayaan masyarakat marginal dan anggota
masyarakat Desa penyandang disabilitas;
2. pengelolaan secara partisipatif kegiatan pelestarian
lingkungan hidup;
3. pengelolaan kesiapsiagaan menghadapi bencana
alam, penanganan bencana alam, serta penanganan
kejadian luar biasa lainnya;
4. pengembangan kapasitas masyarakat Desa untuk
berpartisipasi dalam mengelola Dana Desa secara
transparan dan akuntabel; dan
5. peningkatan partisipatif masyarakat dalam
memperkuat tata kelola Desa yang demokratis dan
berkeadilan sosial.
e. Desa Tertinggal dan/atau Desa Sangat Tertinggal, Desa
Berkembang maupun Desa Maju dan/atau Desa
Mandiri memprioritaskan kegiatan pemberdayaan
- 15 -

masyarakat Desa untuk merintis dan mengembangkan


Lingkar Budaya Desa, meliputi:
1. membentuk dan mengembangkan budaya hukum
serta menegakkan peraturan hukum di Desa;
2. membentuk dan mengembangkan keterbukaan
informasi untuk mendorong masyarakat Desa yang
partisipatif dan komunikatif; dan
3. penguatan adat istiadat, seni, tradisi dan budaya
Desa.

Pasal 9
(1) Ketentuan lebih lanjut mengenai prioritas penggunaan
Dana Desa untuk program dan kegiatan bidang
pembangunan Desa dan pemberdayaan masyarakat Desa
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 7
tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai prioritas penggunaan
Dana Desa dan tipologi Desa sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 dan Pasal 8 tercantum dalam Lampiran II
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.

Pasal 10
(1) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menyusun Pedoman
Teknis Penggunaan Dana Desa dengan
mempertimbangkan kebutuhan Desa, karakteristik
wilayah dan kearifan lokal Desa, serta keterbatasan
waktu penyelenggaraan perencanaan pembangunan
Desa.
(2) Ketentuan tentang prioritas penggunaan Dana Desa
untuk program dan kegiatan bidang pembangunan Desa
dan pemberdayaan masyarakat Desa sebagaimana
dimaksud dalam Lampiran I menjadi dasar penyusunan
petunjuk teknis prioritas penggunaan Dana Desa bagi
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
- 16 -

BAB IV
MEKANISME PENETAPAN PRIORITAS
PENGGUNAAN DANA DESA

Pasal 11
Mekanisme penetapan prioritas penggunaan Dana Desa
merupakan bagian dari perencanaan pembangunan Desa
yang sesuai dengan kewenangan Desa dengan mengacu
pada perencanaan pembangunan daerah kabupaten/kota.

Pasal 12
(1) Penggunaan Dana Desa untuk prioritas bidang
Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, menjadi prioritas
kegiatan, anggaran dan belanja Desa yang disepakati dan
diputuskan melalui Musyawarah Desa.
(2) Hasil keputusan Musyawarah Desa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) sebagai acuan bagi penyusunan
Rencana Kerja Pemerintah Desa dan APB Desa.
(3) Penetapan prioritas penggunaan Dana Desa dilaksanakan
dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa.
(4) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menyampaikan
informasi tentang pagu indikatif Dana Desa sebagai
informasi penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa
sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
(5) Rencana Kerja Pemerintah Desa dan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Desa.

Pasal 13
(1) Dalam hal pemetaan tipologi Desa berdasarkan tingkat
kemajuan Desa untuk penyusunan prioritas penggunaan
Desa, Pemerintah Desa menggunakan data Indeks Desa
Membangun.
(2) Informasi penggunaan data Indeks Desa Membangun
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
diinformasikan secara terbuka oleh Pemerintah Daerah
- 17 -

Kabupaten/Kota dan menjadi acuan dalam penyusunan


Pedoman Teknis Penggunaan Dana Desa, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB V
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 14
Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota membina dan mengawasi penetapan
prioritas penggunaan Dana Desa.

Pasal 15
(1) Dalam menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota menyediakan pendampingan
dan fasilitasi.
(2) Pendampingan dan fasilitasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan oleh Orgaisasi Perangkat Daerah yang
menangani urusan pemberdayaan masyarakat dan Desa,
ditingkat daerah kabupaten/kota.

Pasal 16
(1) Dalam rangka pelaksanaan pembinaan dan pengawasan,
bupati/walikota menyelenggarakan pemantauan dan
evaluasi penggunaan Dana Desa.
(2) Pemantauan dan evaluasi penggunaan Dana Desa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilimpahkan
kepada Organisasi Perangkat Daerah yang menangani
urusan pemerintahan bidang Pemberdayaan Masyarakat
dan Desa.
(3) Camat atau sebutan lain melakukan tugas pembinaan
dan pengawasan dalam penetapan prioritas penggunaan
dana Desa melalui fasilitasi penyusunan perencanaan
pembangunan partisipatif dan program pemberdayaan
masyarakat Desa.
- 18 -

(4) Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa


melaksanakan tugas pemantauan dan evaluasi
penggunaan Dana Desa, dibahas dalam Musyawarah
Desa disesuaikan dengan format laporan Desa yang
berlaku secara berkala.
(5) Hasil pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) dilakukan penilaian oleh Organisasi
Perangkat Daerah yang berwenang dan disampaikan
kepada Bupati dan Menteri melalui sistem pelaporan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

BAB VI
PELAPORAN

Pasal 17
(1) Bupati/walikota menyampaikan laporan penetapan
prioritas penggunaan dana Desa disertai dengan softcopy
kertas kerja penghitungan Dana Desa setiap Desa kepada
Menteri c.q. Direktur Jenderal Pembangunan dan
Pemberdayaan Masyarakat Desa.
(2) Laporan penetapan prioritas penggunaan Dana Desa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun sesuai
dengan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran II
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
(3) Penyampaian Laporan penetapan prioritas penggunaan
Dana Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan paling lama 1 (satu) bulan sejak APB Desa
ditetapkan.

BAB VII
PARTISIPASI MASYARAKAT

Pasal 18
(1) Masyarakat dapat ikut serta memantau dan mengawasi
penetapan prioritas penggunaan Dana Desa yang
akuntabel dan transparan dengan cara:
- 19 -

a. menyampaikan pengaduan masalah penetapan


prioritas penggunaan Dana Desa;
b. melakukan pendampingan kepada Desa dalam
menetapkan prioritas penggunaan Dana Desa sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
dan/atau
c. melakukan studi dan publikasi penerapan prioritas
penggunaan Dana Desa.
(2) Pengaduan masalah penetapan prioritas penggunaan
Dana Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
dilakukan melalui:
a. Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi pada
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal,
dan Transmigrasi dengan alamat pengaduan Call
Center: 1500040 yang dikelola oleh Satuan Tugas yang
menangani Dana Desa, Short Message Service: 0812
8899 0040/0877 8899 0040, Facebook: kemendesa.1/
Twitter: KemenDesa; dan/atau
b. website Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online
Rakyat (LAPOR) yang dikembangkan oleh Kantor Staf
Presiden.

BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 19
Dalam hal terjadi Indeks Desa Membangun dinyatakan tidak
berlaku, penetapan prioritas penggunaan Dana Desa
berdasarkan tipologi tingkat perkembangan Desa diatur
dengan Peraturan Menteri.

Pasal 20
Dalam hal terjadi perubahan RKP Desa, perubahan
perencanaan program dan/atau kegiatan yang dibiayai Dana
Desa dibahas dan disepakati dalam Musyawarah Desa.
- 20 -

BAB IX
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 21
Pada saat Peraturan Menteri ini berlaku, Peraturan Menteri
Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
Nomor 22 Tahun 2016 tentang Penetapan Prioritas
Penggunaan Dana Desa Tahun 2017 (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2016 Nomor 1883) sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2017
tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor
22 Tahun 2016 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan
Dana Desa Tahun 2017 (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2017 Nomor 552), dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.

Pasal 22
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
- 21 -

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan


pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya
dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 22 September 2017

MENTERI DESA,
PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN
TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

EKO PUTRO SANDJOJO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 29 September 2017

DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

WIDODO EKATJAHJANA

Salinan sesuai aslinya


Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
Plt. Kepala Biro Hukum, Organisasi, dan Tata Laksana

R. Hari Pramudiono

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2017 NOMOR 1359