Anda di halaman 1dari 24

BAB I

LAPORAN KASUS

IDENTITAS

Nama : Ny. A

Usia / Tgl Lahir : 21 Tahun / 26 Desember 1996

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Suku Bangsa : Jawa, indonesia

Status Marital : Menikah

Pendidikan Terakhir : SMP

Pekerjaan : Tidak Bekerja (ibu rumah tangga)

Alamat saat ini : Dampit, Malang

ANAMNESA

A. KELUHAN UTAMA

Terlalu bersemangat dan bicara terus-menerus tidak terkontrol.

B. AUTO ANAMNESA

Pasien perempuan datang ke poli kesehatan jiwa RSJ Dr. Radjiman

Wediodiningrat Lawang dengan memakai baju berwarna biru, memakai

celana jeans berwarna hitam, mengenakan jilbab warna hitam dan tidak

berbau. Roman wajah sesuai usia, tinggi badan ± 160 cm dan perawakan

1
kurus. Pasien tampak tenang, ketika wawancara pasien menjawab sesuai

pertanyaan, dengan pandangan menatap pemeriksa. Ketika ditanya nama,

pasien menjawab “R”, usia 21 tahun, kelahiran 26 Desember 1996, agama

islam, alamatnya di Dampit (Malang). Pasien tau saat ini siang hari, berada

di Rumah Sakit Jiwa Lawang dan pasien diantar kesini oleh suaminya.

Saat ditanya keluhan saat ini, pasien mengatakan berbicara terus-

menerus tidak terkontrol, sangat bersemangat, dan aktifitas berlebihan.

Enam hari sebelumnya mulai muncul keluhan tanpa henti hingga

mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan mengganggu tidur.

Keluhan dimulai sejak ± 7 bulan ini (lebih banyak diam). Pasien

memikirkan cincin yang dihutangkan kepada tetangganya yang meninggal

beberapa waktu yang lalu. Pasien juga memikirkan tetangganya yang

hutang uang arisan kepadanya. Pasien takut cincin dan uang yang

dihutangkannya tidak dikembalikan kepadanya. Selain itu pasien juga

banyak memikirkan ibu kandungnya dan ibu mertuanya yang sedang sakit.

Dirumah pasien juga mengurus ibu kandungnya yang terkena penyakit

stroke. Selain itu pasien juga memiliki anak laki-laki (masih bayi) dan

mengurusnya sendiri.

Pasien mengeluhkan susah dengan keadaan ibunya dan ibu

mertuanya. Beban pikiran pasien juga bertambah jika anak pertamanya

sedang rewel. Pasien menyangkal mendengar suara bisikan yang tidak

dapat di dengar orang lain. Pasien juga menyangkal pernah melihat suatu

2
hal yang tidak dapat dilihat orang lain. Pasien juga tidak mencium bau

yang aneh.

Pasien menyangkal ada suatu kekuatan yang mengendalikan

dirinya atau mempengaruhinya dari luar. Pasien juga tidak mengalami

pengalaman mistik yang tidak wajar. Pasien juga mengatakan tidak peduli

jika ada orang-orang yang membicarakannya, yang penting pasien

bahagia. Pasien merasa sehat dan bersemangat. Makan tiga kali sehari dan

mandi dua kali sehari.

Hubungan pasien dengan tetangga sekitar baik. Masih sering

mengikuti perkumpulan-perkumpulan di daerah tempat tinggalnya seperti

arisan dan pengajian. Pasien tidak ada keinginan untuk bunuh diri dan

tidak ada keinginan untuk melukai orang lain. Pasien mengatakan sejak

kecil tidak pernah memiliki riwayat penyakit serius. Riwayat penyakit

yang sama di keluarga disangkal. Riwayat penyakit fisik lain disangkal.

Riwayat minum-minuman keras serta obat-obatan terlarang disangkal.

Riwayat merokok disangkal.

C. HETEROANAMNESIS (Didapat dari suami pasien)

1. Rincian keluhan utama

Suami pasien mengatakan ± 1 minggu ini pasien bicara terus-menerus

tidak terkontrol, sangat bersemangat, aktivitas berlebihan dan

mengganggu waktu tidur. Jika pasien diberi uang, uang tersebut akan

dihabiskan untuk membeli barang. Seperti membeli almari tanpa

3
diketahui oleh suaminya. Disamping itu pasien juga suka menari-nari

sendiri di depan umum jika mendengar lagu. Saat dibawa ke rumah

sakit pasien bicara terus-menerus tanpa henti hingga suara pasien

serak. Keluarga mengatakan jika pasien sering mengatakan bahwa dia

adalah titisan Dewi Sri. Jika pasien mendatangi tetangga yang sakit,

pasien mengatakan bahwa karena dirinya lah tetangga yang sakit

tersebut sembuh. Selain itu pasien juga mengatakan bahwa dirinya

membentuk suatu kepengurusan yang anggotanya ibu-ibu

dikampungnya. Di pengurusan itu pasien melatih ibu-ibu untuk

membuat gantungan kunci untuk selanjutnya dijual. Keluarga

mengatakan saat sebelum kejadian ini aktivitas pasien normal, pasien

tidak tampak lemas, hanya cenderung lebih diam daripada biasanya

dan tidak ada keluhan fisik apapun yang dikeluhkan oleh pasien.

2. Gejala lain yang menyertai keluhan utama

 Suka keluyuran

 Pasien suka tidur di kuburan

 Pasien sering curiga dengan orang disekitarnya

3. Gejala prodomal

 Pasien lebih nyaman menyendiri

 Pasien malas untuk melakukan aktifitas keseharian

4
4. Peristiwa terkait keluhan utama

 Pasien punya rasa curiga ketika banyak orang bergerombolan di

sekitarnya dan merasa mereka semua membicarakannya.

5. Riwayat penyakit dahulu

 Pasien mengatakan pernah rawat inap di tebingsini

 Diabetes Mellitus (-)

 Hipertensi (-)

 Trauma kepala (-)

 Kejang (-)

 Alergi (-)

 Asma (-)

6. Riwayat kehamilan, persalinan, dan perkembangan anak

Kehamilan normal, 9 bulan, di bantu oleh bidan, perkembangan sesuai

anak se usianya.

7. Riwayat sosial dan pekerjaan

 Sosial : Pasien sering bersosialisasi dengan lingkungannya, aktif di

kegiatan sekitarnya (seperti : arisan)

 Pekerjaan : Pasien bekerja sebagai pembersih kuburan

5
a) Faktor kepribadian premorbid

Pasien orang yang terbuka dan suka bersosialisasi dnegan

lingkungan sekitarnya. Pasien suka diperhatikan dan menjadi pusat

perhatian orang disekitarnya.

b) Faktor keturunan

Tidak ada keluarga yang sakit seperti ini.

c) Faktor organik

Tidak ditemukan

d) Faktor pencetus

 Pasien mempunyai masalah dengan keluarganya

 Pasien sering di fitnah oleh keluarganya karena dianggap

keluarganya mengadu domba sama dirinya

6
PEMERIKSAAN

A. STATUS INTERISTIK

Tekanan Darah : 110/60 mmHg Nadi : 85 x/menit

Respirasi : 20x/menit Suhu : 36,5 C

Keadaan Umum : Cukup

Kepala/leher : A/I/C/D : -/-/-/- Pembesaran KGB –

Thorax : Cor = S1 S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)

: Pulmo = ves/ves +/+, rh -/- wh -/-

Abdomen : Soefl, bising usus (+), nyeri tekan (-)

B. STATUS NEUROLOGIK

GCS : E4 V5 M6

Meningeal Sign :Kaku kuduk (-), Kernig (-), Brudzinski I (-),

Brudzinski II (-)

Refleks Fisiologis : BPR +2/+2. TPR +2/+2. KPR +2/+2. APR +2/+2

Reflek Patologis :Babinski (-), Chaddock (-), Hoffman (-),

Trommer(-)

C. STATUS PSIKIATRI

Kesan umum :Pasien perempuan berpenampilan rapi, tidak

berbau, roman wajah sesuai usia, kooperatif,

komunikatif lancar

Kontak : Mata (+) Verbal (+), relevan, lancar

7
Kesadaran : Kualitatif Berubah

Orientasi : Waktu (+), Tempat (+), Orang (+)

Daya ingat : Sewaktu (+), Pendek (+), Panjang (+)

Persepsi : Halusinasi visual +, Auditorik +

Proses Berpikir : Bentuk Pikiran : Non-realistik, Arus Pikiran :

Flight of idea, Isi Pikiran : Waham curiga

Afek/mood : afek  Datar , Mood  eutimia

Kemauan : ADL menurun, Sosial menurun, Pekerjaan

menurun

Psikomotor : Meningkat (Hiperaktivitas)

RESUME

Pasien perempuan berpenampilan rapi tidak berbau, roman wajah

sesuai usia dan kooperatif untuk diajak bicara. Pasien memakai baju

berwarna hijau, celana pendek berwarna hitam. Kontak mata dan verbal

(+) lancar dan relevan, diketahui saat pemeriksa bertanya kepada pasien

dan pasien dapat menjawab semua pertanyaan sesuai dengan apa yang

ditanyakan. Kesadaran pasien kualitatif berubah diketahui dari sikap

pasien seperti terlalu bersemangat dan jarang tidur. Tidak didapatkan

orientasi waktu, tempat, orang, dapat diketahui dari pasien mengetahui

saat ini siang hari, berada di RSJ Dr. Radjiman Wediodingrat Lawang dan

diantar kesini oleh liponsos, serta yang memeriksa pasien adalah dokter.

Daya ingat sewaktu masih baik, dapat dilihat dari pasien dapat mengulang

kata-kata yang sudah pemeriksa sebutkan. Daya ingat jangka pendek baik,

8
dapat dilihat dari pasien dapat menjelaskan tadi pagi sarapan dengan sayur

asem, sambal, telur dan tempe. Daya ingat jangka panjang masih baik

karena pasien masih mengingat tanggal lahirnya. Pada pasien ini

didapatkan gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik dan halusinasi

visual. Proses berpikir bentuknya non-realistik dapat dilihat dari pasien

suka tidur di kuburan karena ada yang membisiki dan menyuruhnya dan

mengikutinya, Arus pikiran koheren dapat dilihat dari antara kata satu dan

kata selanjutnya selalu berkesinambungan. Isi pikiran waham curiga dapat

dilihat dari pasien bahwa dirinya menganggap orang orang disekitarnya

telah membicarakannya tentang suatu hal yang jelek. Afek datar dan mood

eutimia, pasien tampak biasa biasa saja. Kemauan pasien menurun dapat

dilihat dari pekerjaan dan sosial pasien yang menurun dan bermalas

malasan. Psikomotor meningkat, dapat dilihat dari aktivitas pasien yang

berlebihan dan bersemangat.

DIAGNOSIS BANDING

Psikotik akut lir skizofrenia

DIAGNOSIS MULTIAKSIAL

Axis I : F 20.03 (Skizofrenia paranoid berulang)

Axis II : Ciri kepribadian skizoid

Axis III : Tidak ditemukan

Axis IV : primary support group

9
Axis V : GAF scales saat ini 50-41

GAF scale satu tahun terakhir : 70-61

RENCANA TINDAK LANJUT

Anti Psikotik : Haloperidol 5 mg (1 – 0 – 1 ) P.O

PROGNOSIS

BAIK BURUK

Umur 21 tahun

Status Pernikahan Menikah

Pekerjaan Bekerja

Pendidikan SMP

Kepribadian Premorbid Kepribadian terbuka

Faktor Pencetus Jelas (masalah

ekonomi)

Faktor Keturunan Tidak ada

Onset Akut

Gejala Gejala negatif

Insight Baik

10
Pengobatan Terlambat diobati

Dubia ad malam

Dubia ad bonam

11
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI BIPOLAR

Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (sekurang-kurangnya dua

episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada

waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek dan pada waktu lain berupa

penurunan afek disertai pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Yang

khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode.

Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2

minggu sampai 4-5 bulan, Episode depresi cenderung berlangsung lebih lama

(± 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada lansia. Kedua

macam episode itu seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh

stress atau trauma mental lain (adanya stress tidak esensial untuk penegakan

diagnosis).

B. EPIDEMIOLOGI

Dapat dikatakan insiden gangguan bipolar tidak tinggi, berkisar

antara 0,3-1,5%. Namun, angka itu belum termasuk yang misdiagnosis.

Risiko kematian terus membayangi penderita bipolar. Biasanya kematian

itu dikarenakan mereka mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri. Risiko

bunuh diri meningkat pada penderita bipolar yang tidak diterapi yaitu 5,5

per 1000 pasien. Sementara yang diterapi ’hanya’ 1,3 per 1000 pasien.

12
Gangguan pada lelaki dan perempuan sama, umumnya timbul di usia

remaja atau dewasa. Hal ini paling sering dimulai sewaktu seseorang baru

menginjak dewasa, tetapi kasus-kasus gangguan bipolar telah didiagnosis

pada remaja dan bahkan anak-anak.

C. Klasifikasi

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder - V

(DSM - V), gangguan bipolar dibagi menjadi empat jenis yaitu gangguan

bipolar I, gangguan bipolar II, gangguan siklotimia, dan substansi atau

obat lainnya yang menginduksi gangguan bipolar. Pada laporan kasus ini

akan dibahas secara spesifik gangguan afektif bipolar episode kini manik

tanpa gejala psikotik.

D. GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR EPISODE MANIK TANPA

GEJALA PSIKOTIK

Suasana perasaan (mood) meninggi tidak sepadan dengan keadaan

individu, dan dapat bervariasi antara keriangan (seolah-olah bebas dari

masalah apapun) sampai keadaan eksitasi yang hampir tak terkendali.

Eliasi (suasana perasaan yang meningkat) itu disertai dengan energi yang

meningkat, sehingga terjadi aktivitas berlebihan, percepatan dan

kebanyakan bicara, dan berkurangnya kebutuhan tidur. Pengendalian yang

normal dalam kelakuan sosial terlepas, perhatian yang terpusat tak dapat

dipertahankan, dan seringkali perhatian sangat mudah dialihkan. Harga

13
diri membumbung, dan pemikiran yang serba hebat dan terlalu optimistis

dinyatakan dengan bebas.

Mungkin terjadi gangguan persepsi, seperti apresiasi warna

terutama yang menyala atau amat cerah (dan biasanya indah), keasyikan

(mengikat perhatian) pada perincian sehalus-halusnya mengenai

permukaan dan penampilan barang, dan hiperakusis subjektif. Individu itu

mungkin mulai dengan berbagai rencana yang tidak praktis dan boros,

membelanjakan uang secara serampangan, atau menjadi agresif, bersifat

cinta kasih, atau berkelakar dalam situasi yang tidak tepat. Suasana

perasaan (mood) yang tampil pada beberapa episode manik lebih banyak

mudah tersingggung dan curiga, daripada elasi. Serangan pertama paling

banyak muncul pada usia antara 15-30 tahun, namun dapat terjadi pada

setiap usia antara akhir masa kanak sampai dasawarsa ketujuh atau

kedelapan.

Pedoman diagnosis berdasarkan pedoman diagnosis gangguan jiwa

(PPDGJ-III), mania tanpa gejala psikotik:

1. Episode harus berlangsung sekurang-kurangnya 1 minggu, dan cukup

berat sampai mengacaukan seluruh atau hampir seluruh pekerjaan

dan aktivitas sosial yang biasa dilakukan.

2. Perubahan afek harus disertai dengan energi yang bertambah

sehingga terjadi aktivitas yang berlebihan, percepatan dan

kebanyakan bicara, kebutuhan tidur yang berkurang, ide-ide perihal

kebesaran/ ”grandiose ideas” dan terlalu optimistik.

14
3. Ditambah dengan paling sedikit 4 gejala berikut ini: (a) Peningkatan

aktivitas (ditempat kerja, dalam hubungan sosial atau seksual), atau

ketidak-tenangan fisik, (b) Lebih banyak berbicara dari lazimnya atau

adanya dorongan untuk berbicara terus menerus, (c) Lompat gagasan

(flight of ideas) atau penghayatan subjektif bahwa pikirannya sedang

berlomba (mania dengan gejala psikotik), (d) Rasa harga diri yang

melambung tinggi (grandiositas, yang dapat bertaraf sampai

waham/delusi), (f) Berkurangnya kebutuhan tidur, (g) Mudah teralih

perhatian, yaitu perhatiannya terlalu cepat tertarik kepada stimulus

luar yang tidak penting atau yang tak berarti, (h) Keterlibatan

berlebih dalam aktivitas-aktivitas yang mengandung kemungkinan

resiko tinggi dengan akibat yang merugikan apabila tidak

diperhitungkan secara bijaksana, misalnya berbelanja berlebihan,

tingkah laku seksual secara terbuka, penanaman modal secara bodoh,

mengemudi kendaraan (mengebut) secara tidak bertangguang jawab

dan tanpa perhitungan.

Kriteria ICD–10 untuk episode mania (World Health Organization,

1992) tanpa gejala psikotik:

1. Elevasi mood atau perasaan dan iritabilitas.

2. Peningkatan energi dan overaktivitas.

3. Berbicara terus menerus.

4. Jangka waktu tidur menjadi pendek.

5. Disinhibisi sosial.

15
6. Perhatiannya mudah teralih.

7. Grandiositas.

8. Gemar menghambur-hamburkan uang atau hidup foya-foya.

9. Agresif.

E. ETIOLOGI

1. Faktor Biologi

 Herediter

Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) tipe

bipolar (adanya episode manik dan depresi) memiliki

kecenderungan menurun kepada generasinya, berdasar etiologi

biologik. 50% pasien bipolar memiliki satu orangtua dengan

gangguan alam perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar

(depresi saja). Jika seorang orang tua mengidap gangguan bipolar

maka 27% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam

perasaan. Bila kedua orangtua mengidap gangguan bipolar maka

75% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan.

Keturunan pertama dari seseorang yang menderita gangguan bipolar

berisiko menderita gangguan serupa sebesar 7 kali. Bahkan risiko

pada anak kembar sangat tinggi terutama pada kembar monozigot

(40-80%), sedangkan kembar dizigot lebih rendah, yakni 10-20%.

 Genetik

16
Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan

bipolar dengan kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat

diselidiki lokus mana dari kromosom tersebut yang benar-benar

terlibat. Yang menarik dari studi kromosom ini, ternyata penderita

sindrom Down (trisomi 21) berisiko rendah menderita gangguan

bipolar.

 Neurotransmiter

Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan

gejala bipolar, peneliti mulai menduga adanya hubungan

neurotransmiter dengan gangguan bipolar. Neurotransmiter tersebut

adalah dopamine, serotonin, dan noradrenalin. Gen-gen yang

berhubungan dengan neurotransmiter tersebut pun mulai diteliti

seperti gen yang mengkode monoamine oksidase A (MAOA),

tirosin hidroksilase, catechol-Ometiltransferase (COMT), dan

serotonin transporter (5HTT).

 Kelainan Otak

Kelainan pada otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit

ini. Terdapat perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat

dengan penderita bipolar. Melalui pencitraan magnetic resonance

imaging (MRI) dan positron-emission tomography (PET),

didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang

pada korteks prefrontal subgenual. Selain itu ditemukan volume

yang kecil pada amygdala dan hipokampus. Korteks prefrontal,

17
amygdala dan hipokampus merupakan bagian dari otak yang terlibat

dalam respon emosi (mood dan afek).

2. Faktor Psikososial

 Peristiwa Kehidupan dan Stres Lingkungan

Satu pengamatan klinis yang telah lama yang telah direplikasi

adalah bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih

sering mendahului episode pertama gangguan suasana perasaan

daripada episode selanjutnya. Hubungan tersebut telah dilaporkan

untuk pasien gangguan depresif berat dan gangguan bipolar I.

 Teori Kognitif

Menurut teori kognitif, interpretasi yang keliru (misinterpretation)

kognitif yang sering adalah melibatkan distorsi negatif,

pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme, dan

keputusasaan. Pandangan negatif yang dipelajari tersebut

selanjutnya menyebabkan perasaan depresi. Seorang ahli terapi

kognitif berusaha untuk mengidentifikasi hal yang negatif dengan

menggunakan tugas perilaku, seperti mencatat dan secara sadar

memodifikasi pikiran pasien.

F. MANIFESTASI KLINIS

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) V,

perbedaan gangguan bipolar I dan II adalah pada gangguan bipolar I

memiliki episode manik sedangkan pada gangguan bipolar II mempunyai

18
episode hipomanik. Beberapa ahli menambahkan adanya bipolar III dan

bipolar IV namun sementara ini yang 2 terakhir belum dijelaskan.

Gangguan bipolar I dibagi lagi menjadi beberapa bagian menurut

perjalanan longitudinal gangguannya. Namun hal yang pokok adalah

paling tidak terdapat 1 episode manik di sana. Walaupun hanya terdapat 1

episode manik tanpa episode depresi lengkap maka tetap dikatakan

gangguan bipolar I. Adapun episode-episode yang lain dapat berupa

episode depresi lengkap maupun episode campuran, dan episode tersebut

bisa mendahului ataupun didahului oleh episode manik. Gangguan bipolar

II mempunyai ciri adanya episode hipomanik. Gangguan bipolar II dibagi

menjadi 2 yaitu tipe hipomanik, bila sebelumnya didahului oleh episode

depresi mayor dan disebut tipe depresi bila sebelum episode depresi

tersebut didahului oleh episode hipomanik

Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan

Jiwa (PPDGJ) III, gangguan ini bersifat episode berulang yang

menunjukkan suasana perasaan pasien dan tingkat aktivitasnya jelas

terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian

suasana perasaan serta peningkatan energi dan aktivitas (mania atau

hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan serta

pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Yang khas adalah terdapat

penyembuhan sempurna antar episode. Episode manik biasanya mulai

dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan,

sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama., rata-rata 6 bulan.

19
Episode pertama bisa timbul pada setiap usia dari masa kanak-kanak

sampai tua. kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30

tahun. Semakin dini seseorang menderita bipolar maka risiko penyakit

akan lebih berat, kronik bahkan refrakter.

Episode manik dibagi menjadi 3 menurut derajat keparahannya

yaitu hipomanik, manik tanpa gejala psikotik, dan manik dengan gejala

psikotik. Hipomanik dapat diidentikkan dengan seorang perempuan yang

sedang dalam masa ovulasi (’estrus’) atau seorang laki-laki yang dimabuk

cinta. Perasaan senang, sangat bersemangat untuk beraktivitas, dan

dorongan seksual yang meningkat adalah beberapa contoh gejala

hipomanik. Derajat hipomanik lebih ringan daripada manik karena

gejalagejala tersebut tidak mengakibatkan disfungsi sosial. Pada manik,

gejala-gejalanya sudah cukup berat hingga mengacaukan hampir seluruh

pekerjaan dan aktivitas sosial. Harga diri membumbung tinggi dan terlalu

optimis. Perasaan mudah tersinggung dan curiga lebih banyak daripada

elasi. Tanda manik lainnya dapat berupa hiperaktifitas motorik berupa

kerja yang tak kenal lelah melebihi batas wajar dan cenderung non-

produktif, euphoria hingga logorrhea (banyak berbicara, dari yang isi

bicara wajar hingga menceracau dengan 'word salad'), dan biasanya

disertai dengan waham kebesaran, waham kebesaran ini bisa sistematik

dalam artian berperilaku sesuai wahamnya, atau tidak sistematik,

berperilaku tidak sesuai dengan wahamnya. Bila gejala tersebut sudah

20
berkembang menjadi waham maka diagnosis mania dengan gejala psikotik

perlu ditegakkan

G. TERAPI

1. Non-farmakologi

 Konsultasi

Suatu konsultasi dengan seorang psikiater atau psikofarmakologis


selalu sesuai bila penderita tidak menunjukkan respon terhadap
terapi konvensional dan medikasi.
 Diet
Terkecuali pada penderita dengan monoamine oxidase inhibitors
(MAOIs), tidak ada diet khusus yang dianjurkan. Penderita
dianjurkan untuk tidak merubah asupan garam, karena
peningkatan asupan garam membuat kadar litium serum menurun
dan menurunkan efikasinya, sedangkan mengurangi asupan garam
dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan
toksisitas.
 Aktivitas
Penderita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan
olahraga/aktivitas fisik. Jadwal aktivitas fisik yang reguler harus
dibuat. Baik aktivitas fisik dan jadwal yang reguler meupakan
kunci untuk bertahan dari penyakit ini. Namun, bila aktivitas fisik
ini berlebihan dengan peningkatan respirasi dapat meningkatkan
kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas litium.
 Edukasi
Terapi pada penderita gangguan bipolar melibatkan edukasi awal
dan lanjutan. Tujuan edukasi harus diarahkan tidak hanya

21
langsung pada penderita, namun juga melalui keluarga dan sistem
disekitarnya serta meningkatkan kualitas hidupnya.
2. Farmakologi

Pengobatan yang tepat tergantung pada stadium gangguan bipolar yang

dialami penderita. Pilihan obat tergantung pada gejala yang tampak,

seperti gejala psikotik, agitasi, agresi, dan gangguan tidur. Antipsikosis

atipikal semakin sering digunakan untuk episode manik akut dan

sebagai mood stabilizer. Antidepresan dan ECT juga dapat digunakan

untuk episode depresi akut (contoh, depresi berat). Selanjutnya, terapi

pemeliharaan/maintenance dan pencegahan juga harus diberikan.

Tabel 1. FDA-Approved Bipolar Treatment Regimens

Nama Generik Nama Manik Mixed Maintenance Depresi


Dagang
Valproate Depakote X
Carbamazepine Equestro X X
extended release
Lamotrigine Lamictal X
Lithium X X
Aripiprazole Abilify X X X
Ziprasidone Geodon X X
Risperidone Risperdal X X
Quetiapine Seroquel X X
Chlorpromazine Thorazine X
Olanzapine Zyprexa X X X
Olanzapine/fluoxetine Symbyax X
Combination

22
H. KOMORBID

Sebagian besar penderita bipolar tidak hanya menderita bipolar saja tetapi

juga menderita gangguan jiwa yang lain (komorbid). Penelitian oleh

Goldstein BI dkk, seperti dilansir dari Am J Psychiatry 2006,

menyebutkan bahwa dari 84 penderita bipolar berusia diatas 65 tahun

ternyata sebanyak 38,1% terlibat dalam penyalahgunaan alkohol, 15,5%

distimia, 20,5% gangguan cemas menyeluruh, dan 19% gangguan panik

I. PROGNOSIS

 Pasien dengan gangguan bipolar I mempunyai prognosis lebih buruk.


Di dalam 2 tahun pertama setelah peristiwa awal, 40-50% tentang
pasien mengalami serangan manik lain.
 Hanya 50-60% pasien dengan gangguan bipolar I yang dapat diatasi
gejalanya dengan lithium. 7% pasien ini, gejala tidak terulang. 45%
Persen pasien mengalami lebih dari sekali kekambuhan dan lebih dari
40% mempunyai suatu gejala yang menetap.
 Faktor yang memperburuk prognosis : Riwayat pekerjaan yang
buruk/kemiskinan, Disertai dengan penyalahgunaan alcohol, Disertai
dengan gejala psikotik, Gejala depresi lebih menonjol, Jenis kelamin
laki-laki
 Prognosis lebih baik bila : Masih dalam episode manik, Usia lanjut,
Sedikit pemikiran bunuh diri, Tanpa atau minimal gejala psikotik,
Sedikit masalah kesehatan medis

23
DAFTAR PUSTAKA

Ingram, Timbury, Mowbray, Editor Peter A.Catatan kuliah psikiatri. Edisi ke-6.

Kaplan, Harold I, Benjamin J. Sadock, ahli bahasa Wicaksana M.Ilmu kedokteran

jiwa darurat. Jakarta : Binarupa Aksara.2002.h.73-8.

Maslim R. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ III, pedoman

diagnostik F30-39 : gangguan suasana perasaan/mood (gangguan afektif).

Jakarta, Bagian Ilmu Kedokteran jiwa FK – Unika Atmajaya.2001.h.58-69.

Sadock, Benjamin J, Virgina A. Kaplan & Sadock's synopsis of psychiatry:

behavioral sciences/clinical psychiatry.10th Edition. New York : Lippincott

Williams & Wilkins.2007.p.777-857.

Oegondo S. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisis. Jakarta: Pusat Penerbit

Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas

Indonesia. 2005.h.35-7.

24