Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH METODE PENAMBANGAN BAWAH TANAH

DOSEN : YUSTINUS HENDRA WIRYANTO,S.Si.,M.T.,M.Sc

Disusun Oleh :

PUTRA HUTASOIT
DBD 117 011

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

FAKULTAS TEKNIK

TEKNIK PERTAMBANGAN

2019
DAFTAR ISI
Cover
Daftar Isi…………………………………………………………………………………. i
Kata Pengantar..................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………….. 1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………. 1
1.3 Tujuan Penulisan……………………………………………………………... 1
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Tambang Bawah Tanah…………………………………………... 2
2.2 Metode Tambang Bawah Tanah……………………………………………… 3
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Faktor Keamanan Tambang Bawah Tanah………………………………….. 5
3.2 Kasus Kecelakaan Pada Tambang Bawah Tanah………………………….. 9
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan…………………………………………………………………. 13
4.2 Saran………………………………………………………………………… 13
Daftar Pustaka

i
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan
rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa selesai pada
waktunya. Terima kasih juga saya ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan
memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun
terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga
kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah
selanjutnya yang lebih baik lagi.

Palangka Raya 3 Juli 2019

Penyusun

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertambangan di Indonesia telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal Ini
terlihat dari semakin banyaknya lokasi tambang baru dan alat-alat tambang yang semakin
canggih.Sistem Penambangan yang biasa digunakan adalah sistem tambang terbuka dan sistem
tambang bawah tanah, namun dalam pembahasan kali ini penyusun lebih mengarah kepada
sistem tambang bawah tanah yaitu sistem penambangan mineral atau batubara dimana seluruh
aktivitas penambangan tidak berhubungan langsung dengan udara terbuka. Hal ini
menimbulkan beberapa masalah maupun kecelakaan yang mungkin terjadi di tambang bawah
tanah mengingat kondisi tambang bawah tanah yang umumnya minim cahaya, resiko runtuhan
serta ventilasi tambang.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu Tambang bawah tanah?
2. Apa saja metode tambang bawah tanah?
3. Bagaimana mencegah terjadinya kecelakaan pada tambang?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Menjelaskan tentang tambang bawah tanah


2. Menjelaskan tentang metode penambangan bawah tanah
3. Menjelaskan cara pencegahan kecelakaan pada tambang bawah tanah

1
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Tambang Bawah Tanah

Secara umum pengertian tambang bawah tanah adalah suatu sistem penambangan
mineral atau batubara dimana seluruh aktivitas penambangan tidak berhubungan
langsung dengan udara terbuka. Jenis-jenis pekerjaan pada tambang bawah tanah antara
lain:

 Penyiapan sarana dan prasarana di permukaan


 Penyiapan sarana dan pekerjaan bawah tanah, meliputi
 Pembuatan jalan masuk utama (main acces pada primary development)
 Pembuatan lubang-lubang sekunder dan tersier (secondary development dan tertiary
development)
 Kegiatan eksploitasi: breaking (loosening) dengan pemboran dan peledakan,
pemuatan(loading), pengangkutan (hauling, tranporting)
 Penanganan dan operasi pendukung: penyanggaan, penerangan, ventilasi,
penirisan,keselamatan kerja, dll).

Keunggulan tambang bawah tanah:

 Tidak terpengaruh cuaca karena bekerja dibawah permukaan tanah.


 Kedalaman penggalian hampir tak terbatas karena tidak berkait dengan SR
 Secara umum beberapa metode tambang bawah tanah lebih ramah lingkungan
(misal:cut and fill, shrinkage stoping, stope and pillar)
 Dapat menambang deposit dengan model yang tidak beraturan
 Bekas penggalian dapat ditimbun dengan tailing dan waste.

Kelemahan tambang bawah tanah:

 Perlu penerangan
 Semakin dalam penggalian maka resiko ambrukan semakin besar.
 Produksi relatif lebih kecil dibandingkan tambang terbuka
2
 Problem ventilasi, bahan peledak harus yang permissible explossive, debu, gas-gas
beracun.
 Masalah safety dan kecelakaan kerja menjadi kendala
 Mining recovery umumnya lebih kecil
 Losses dan dilusi umumnya lebih susah dikontrol

2.2 Metode Tambang Bawah Tanah

1. Open Stope

Open stope adalah salah satu metoda penambangan bawah tanah. Open Stope
adalah penambangan tanpa membuat penyangga-penyangga. Syarat bahan galian yang
dapat ditambang dengan metoda ini adalah atapnya cukup kuat menahan beban tanpa
disangga atau dengan atau bisa disebut juga cukup kompeten.

2. Supported Stope

Dalam metoda penambangan seperti ini ( Pada umumnya mineral logam ) bawah
tanah dengan cara membuat penyangga-penyangga. Dalam penyanggaan bahan yang
bisa digunakn seperti kayu, besi, beton, atau baut besi ( roof bolting ).

3. Long Wall

Long Wall adalah suatu sistem penambangan bawah tanah untuk endapan batubara
dengan membuat lorong-lorong panjang, secara mekanis dan bagian dari front
penambangan yang sudah selesai ditambang dibiarkan runtuh dengan sendirinya
( caving ).

4. Short Wall

Short wall adalah penambangan bawah tanah untuk endapan batu bara, dengan
membuat lorong-lorong yang ukurannya lebih kecil atau lebih pendek dari long wall.

5. Room and Pillar

Room and pillar merupakan suatu system penambangan bawah tanah untuk
endapan batubara dengan menggunakan penyangga-penyangga yang umumnya dari
kayu, dengan bentuk blok-blok persegi.

3
6. Cut an Fill

Cut and fill adal ah salah satu metoda penambangan, dalam metoda penambangan
ini, dengan cara menggali atau membuat bukaan-bukaan dan kemudian mengisi kembali
dengan material lain bekas bukaan tersebut.

7. Gophering

Dalam metoda penambangan ini dengan membuat bukaan-bukaan berukuran relatif


kecil dan sempit secara tidak beraturan, atau dikenal sebagai lobang tikus.

8. Block Caving

Merupakan suatu sistem penambangan bawah tanah, dengan car meruntukan


bagian yang sudah selesai ditambang (mined out )

4
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Faktor Keamanan Tambang Bawah Tanah

Salah satu karakteristik kegiatan pertambangan adalah padat modal, padat teknologi dan
memiliki risiko yang besar. Kemudian sebagai aktivitas ekstraktif, banyak aktivitas dilakukan
pada kondisi ekstim sehingga potensi terjadinya kecelakaan sangat besar. Kemudian salah satu
acuan utama dalam praktek penambangan yang baik dan benar termasuk di dalamnya
pelaksanaan budaya keselamatan dan kesehatan kerja adalah Kepmentamben No.
555K/MPE/1995 tentang Pedoman Kesehatan Keselamatan Kerja di Wilayah Pertambangan.

Tambang bawah tanah memiliki resiko keselamatan karakteristik dibandingkan dengan


tambang terbuka dikarenakan keterbatasan kondisi yang disesaikan dengan aktivitas bawah
tanahnya. Tingkat resiko yang tinggi ini maka keselamatan kerja haruslah menjadi perhatian
utama dalam pelaksanaan kegiatan tambang.

Di dalam aktivitas pertambangan bawah tanah, potensi bahaya dari aktivitas yang
dilakukan lebih banyak dibandingkan dengan tambang terbuka. Ini dikarenakan kondisi dan
lokasi kerja yang sangat terbatas dibanding tambang terbuka. Beberapa keterbatasan tersebut
adalah:

a) Ruang Kerja yang Terbatas

Bekerja di bawah tanah tentunya jauh berbeda dibanding bekerja normal diatas
permukaan. Dimensi bukaan tunneling mesti dihitung cermat agar efisien dari sudut
biaya, dan aman dilihat dari pertimbangan teknis. Tunneling yang terlalu besar akan
akan membutuhkan biaya tinggi disertai dengan kerumitan-kerumitan teknis. Pekerja
tambang dituntut untuk bekerja dalam lingkungan yang terbatas. Terbatasnya ruang
sudah jelas akan mempertinggi resiko yang dapat mengancam keselamatan. Bahaya
tertabrak kendaraan bergerak (LHD, Wheel Loader, Mine Truck, Jumbro Drill dan lain
sebagainya) dapat saja terjadi akibat keterbatasan ruang gerak.

5
b) Cahaya yang terbatas

Bekerja di bawah tanah berarti bekerja tanpa penyinaran yang alami dan di bawah
keterbatasan cahaya. Cahaya bantuan hanya didapat dari penerangan dengan lampu atau
melalui Mine Spot Lamp (MSL). Tetapi jika cahaya bantuan ini dibandingkan dengan
panjang tunneling yang dapat mencapai beberapa kilometer maka penerangan tidak
mungkin dipasang di seluruh tempat. Bekerja dengan cahaya terbatas atau diterangi oleh
MSL tentunya sangat riskan. Oleh karena itu para pekerja tambang bawah tanah tidak
diperbolehkan untuk bekerja sendirian. Setidaknya ditemani oleh satu orang untuk
mengantisipasi jika salah satu MSL tersebut mati.

c) Kondisi batuan yang rawan

Batuan rapuh adalah musuh terbesar miners. Telah dilakukan beragam metode
terapan untuk memperkuat batuan tetapi pekerja tambang tetap harus waspada akan
bahaya ini. Runtuhan batuan, sekecil apapun akan beresiko. Runtuhan batuan kecil
mungkin saja merupakan awal dari aktivitas yang memancing ambrukan lebih besar
lagi. Untuk meminimalkan resiko keselamatan kerja, selain penyanggaan yang harus
teliti dan akurat, berbaga macam prosedur kerja juga diperlukan untuk melengkapi
keamanan aktivitas.

d) Gas berbahaya

Berbagai macam jenis gas berbahaya, tumpah ruah dan banyak terdapat di dalam
tambang bawah tanah. Metan adalah gas berbahaya yang ditemui di tambang batubara
bawah tanah. Sedangkan utuk tambang bijih bawah tanah, gas yang paling berbahaya
adalah carbonmonodioxide (CO). Para pekerja tambang bawah tanah rawan terpapar
dengan gas beracun. Akibat sirkulasi udara terowongan yang terbatas, gas-gas beracun
tidak bisa langsung terlepas ke atmosfer. Beberapa gas beracun ini antara lain CO, CO2,
H2S, NOx, dan SO2. Gas ini dapat terjadi akibat proses peledakan, emisi kendaraan dan
alat berat maupun gas yang terlepas alami oleh kondisi batuan. Pada banyak kondisi,
sulit membuat kadar masing-masing gas itu menjadi benar-benar nol. Oleh karena itu

6
ditetapkanlah ambang batas. Tidak ada satupun pun gas yang boleh melebihi ambang
batas ini. Jika terdapat dalam kadar tinggi, gas-gas ini dapat menyebabkan kematian.

Karbon monoksida bersifat racun karena hemoglobin dalam darah lebih mudah
mengikat gas ini dibanding oksigen. Akibat darah yang justru mengangkut CO, maka
suplai oksigen ke organ vital menjadi berkurang. Salah satu organ yang peka adalah
otak. Kekurangan oksigen pada otak dapat menyebabkan kerusakan otak hingga
mengantar pada kematian.

Aktivitas di bawah tanah hampir selalu dipengaruhi oleh debu baik yang berasal
dari batuan halus, kayu, semen maupun dampak dari lalu lintas alat berat. Debu yang
berbahaya adalah debu silica yang jika terhisap dapat mengendap di pernafasan dan
mengakibatkan penyakit silikosis. Jenis debu yang juga berbahaya adalah debu batubara
dan debu dari bijih radioaktif. Debu-debu ini juga mampu menimbulkan masalah
kesehatan yang serius.

Upaya yang umum dikerjakan untuk mengurangi tingkat resiko akibat terpapar
debu yaitu dengan membuat sistem ventilasi udara yang baik. Sirkulasi udara di
tambang bawah tanah harus dibuat selancar mungkin dengan mengalirkan udara bersih
dan supply oksigen serta membawa keluar udara kotor. Selain itu untuk menambah
keselamatan, para pekerja juga harus dilengkapi dengan respirator (masker) sebagai alat
pelindung kesehatan.

f) Heat and Cold Stress

Wilayah tambang kebanyakan berada di jalur khatulistiwa dengan iklim yang


panas, dan mungkin bisa mencapai 400 C pada udara normal di luar. Berdasarkan
undang-undang kesehatan dan peraturan menteri mengenai bahaya pajanan fisik,
mengenai heat stress tidak berlaku karena hanya membatasi hingga 320 C saja. Di
tambang bawah tanah diusahakan tidak di temui daerah yang bersuhu diatas 320 C oleh
kaerna itu diperlukan system ventilasi yang memadai serta disediakan lokasi pengisian
air minum dan tempat istirahat sementara yang dekat dengan lokasi kerja.

g) Bahan Kimia

7
Pekerja tambang bawah tanah rawan terpapar bahan kimia yang umumnya
disebabkan karena aktivitas charging blasting (akibat penggunaan bahan peledak),
penggunaan oli bor, proses pengisian kembali (backfilling /pastefil) maupun dari
aktivitas shoot crete. Bahan kimia yang rawan terpapar seperti Sianida (CN-), Nitrat
(NOx), Gas Mudah Menguap (Volatile Gases) dan lainnya.

h) Personal Hygiene

Adalah salah satu hal yang paling jarang di awasi. Peralatan dalam mendukung
hygiene personal yang paling penting adalah washtafel dan sabun cuci tangan yang sulit
didapatkan di lokasi underground. Kebanyakan pekerja bawah tanah tidak peduli
terhadap kebersihan hygiene ini, tidak ditemui lokasi pencucian dan bahan pencuci yang
aman di kantin. Pemeriksaan feces dan standarnya harus dilakukan 6 bulan sekali untuk
menghindari kontaminasi kuman diare pada saat pengelolaan makanan.

i.) Kebisingan

Kebisingan ditemukan di banyak lokasi tabang bawah tanah seperti akibat aktivitas
mesin berat, aktivitas blower ventlasi maupun dari aktivitas blasting. Penggunaan APD
yang memadai sangat diperlukan pada kondisi ini. Penggunaan yang direlomendasikan
adalah ear muffler.

j.) Manual Handling

Walau telah banyak menggunakan alat-alat canggih di dunia tambang, cidera akibat
manual handling masih banyak terjadi. Cidera manual handling yang paling banyak
ditemukan pada pakerja dengan menggunakan alat yang berat seperti pada penggunaan
alat bor jackleg. Manual handling umumnya terjadi pada para pekerja yang mengangkat
beban secara manual lebih dari 50 kg dengan perjalanan yang panjang dan berbahaya.

k) Kelembaban

Masalah lembab banyak dijumpai di pertambangan diatas 1000 m dpl dan juga
pertambangan bawah tanah. Lembab dapat memicu penyakit yang disebabkan kuman
yang menyerang kulit dan pernapasan. Selain karena keterbatasan udara bersih bawah
tanah, kelembaban juga diakibatkan banyaknya limpasan dan kebocoran air . Salah satu

8
solusi dalam permasalahan ini adalah diperlukan pengaturan batas lama bekerja di
dalam bawah tanah sesuai tiap meter ke dalamannya dan juga pemberian aliran udara
yang terus menerus akan membantu pengurangan lembab dan pengap.

3.2 Kasus Kecelakaan Pada Tambang Bawah Tanah

a. Kasus 1

Kasus kecelakaan :Kecelakaan Tambang Batu Bara di China, 2 Tewas, 20


Terperangkap

Lokasi kecelaan : Tambang batu bara di propinsi Shandong, di bagian timur China

Kantor berita Xinhua hari Minggu (21/10) melaporkan sedikitnya dua orang tewas
dan 20 lainnya masih terperangkap di dalam sebuah tambang batu bara di propinsi
Shandong, di bagian timur China, setelah terjadinya ledakan yang menghancurkan
sebagian terowongan pertambangan.
Batu-batu di sekitar tambang itu retak dan roboh tidak lama setelah ledakan terjadi
hari Sabtu (20/10) sekitar jam 11 malam. Sebagian saluran air di dalam terowongan itu
juga hancur dan pecahan-pecahan batu yang roboh menewaskan dua orang.
Lebih dari 300 penambang berada di dalam terowongan ketika musibah itu terjadi.
Sebagian besar berhasil keluar menyelamatkan diri, namun 20 lainnya masih terperangkap
di bawah tanah.
Insiden itu “tidak ada hubungannya dengan operasi pekerjaan itu,” ujar seorang
pejabat di Biro Pengawas Keselamatan Tambang Batu Bara di Shandong kepada
Associated Press. Ditambahkannya, 140 petugas penyelamat kini telah berada di lokasi
1. Tanggapan
Tanggapan saya dari kasus di atas adalah di jelaskan adanya suatu retakan yang
menyebabkan terowongan ambruk dan menutup akses jalan keluar masuk dan
terperangkapnya pekerja di dalam terowongan tersebut. Ini adalah suatu kesalahan dari
ahli geotek yang kurang memerhatikan kondisi batuan di tambang bawah tanah
tersebut, yang mengakibatkan retakan tersebut tidak mendapat penyanggah yang
mencegah terjadinya runtuhan terowongan tambang bawah tanah tersebut.

9
2. Solusi
Melihat kecelakaan di atas maka tenaga kerja dan ahli geotek harus
memerhatikan kondisi dalam terowongan berupa kemungkinan adanya runtuhan,.
Solusi yang tepat menurut saya adalah:
1. Meningkatkan program K3 di dalam tambang bawah tanah,
2. Perlu adanya tinjauan setiap harinya terkait kejanggalan-kejanggalan dalam
terowongan, seperti memeriksa kondisi batuan pada terowongan apabila terdapat
retakan untuk segera menyiapkan penyanggah pada titik retak.
3. Sebaiknya untuk meninjau setiap saat kondisi batuan pada area tambang bawah
tanah yang untuk mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan berupa runtuhan
terowongan.
4. Tinjauan kepada ahli geotek untuk selalu waspada dalam nenyikapi kondisi
terowongan.

b. Kasus 2
Kasus kecelakaan : Ledakan Gas di Tambang Batu Bara China
Lokasi : Tambang batubara Chongqing, China
Waktu kecelakaan : Senin 31 Oktober 2016 waktu setempat

Tiga belas orang ditemukan tewas setelah ledakan gas di sebuah tambang batu bara China.
Beberapa lainnya tak diketahui nasibnya.

"Sementara lebih dari 20 orang diperkirakan masih terperangkap," kata media


pemerintah, Xinhua seperti dikutip Selasa (1/11/2016).

Ledakan tambang di China itu terjadi sebelum tengah hari pada Senin 31 Oktober 2016 waktu
setempat, demikian di dilaporkan Xinhua News Agency.

Tim penyelamat bekerja sepanjang malam di tambang swasta Jinshangou di wilayah


Chongqing. Dua penambang berhasil lolos sebelumnya.

Xinhua sebelumnya melaporkan jumlah korban tewas mencapai 15 orang akibat ledakan
tersebut. Namun Wakil Wali Kota Chongqing, Ma Huaping mengoreksi totalnya,

10
mengatakan dalam konferensi pers pada Selasa pagi bahwa baru ada 13 jasad yang ditemukan
sejauh ini.

"Kami masih bekerja keras mencari 20 penambang yang hilang, dan akan mengerahkan upaya
terbaik kami selama masih ada secercah harapan," kata Ma.

Xinhua melaporkan, bahwa 400 pekerja berusaha menyelamatkan banyak penambang yang
tertimbun puing-puing yang memblokir beberapa lorong tambang.

Insiden Berulang

Ledakan gas di dalam tambang sering disebabkan ketika api atau percikan listrik menyatu
dengan kebocoran gas dari lapisan batubara. Seharusnya ada sistem ventilasi untuk mencegah
gas menjadi terperangkap.

Kini Badan Administrasi Keselamatan Kerja Negara memerintahkan penyelidikan terkait


ledakan itu, menambahkan bahwa mereka yang bertanggung jawab harus benar-benar
dihukum.

"Para pejabat lokal di Chongqing juga memerintahkan penutupan sementara tambang batubara
yang memproduksi kurang dari 90.000 ton per tahun," demikian diberitakan Xinhua.

Industri pertambangan China telah lama tercatat sebagai pekerjaan mematikan di dunia. Kepala
Administrasi Keselamatan Kerja Negara setempat mengatakan, awal tahun ini tengah berjuang
keras untuk memperbaiki soal keamanan di tambang.

Tanggapa dan Solusi


1. Tanggapan
Tanggapan saya pada kecelakaan ini adalah kurangnya perhatian akan
keselamatan kerja, dimana keselamatan kerja menjadi hal paling utama dan terutama
pada tambang bawah tanah. Pada kasus di atas dijelaskan bahwa kecelakaan terjadi
bermula ketika adanya percikan api dekat dengan gas yang mengalami kebocoran
sehingga di sambar percikan api tersebeut dan menghasilkan ledakan. Suatu tambang
bawah tanah adalah lokasi pekerjaan yang mempunyai daya kecelakaan yang cukup

11
tinggi dan perlu di perhatikan sebelum melakukan kegian produksi. Apalagi akan
membahayakan keselamatan tenaga kerja yang berada di dalam terowongan tambang
bawah tanah. Pada kasus tersebut di katakan bahwa, ventilasi yang memprihatinkan
karena kekuatan udara ventilasi tidak dapat menyapu bersih gas-gas berbahaya di
dalam area pekerjaan. Apabila gas-gas beracun ini tidak di keluarkan maka akan
membahayakan tambang bawah tanah tersebut.
2. Solusi
Melihat kecelakaan di atas maka tenaga kerja yang bekerja di bidang K3 harus
memerhatikan kondisi dalam terowongan baik itu masalah kebocoran gas, instalasi
listrik yang sesuai dan juga tidak lepas dari rancangan ventilasi tambang yang
memadai. Solusi yang tepat menurut saya adalah:
5. Meningkatkan program K3 di dalam tambang bawah tanah,
6. Perlu adanya tinjauan setiap harinya terkait kejanggalan-kejanggalan dalam
terowongan, seperti memeriksa tabung gas yang di pergunakan.
7. Peninjauan instalasi listrik dan kerusakannya dalam tambang bawah tanah untuk
mencegah pemicu adanya korsleting atau percikan api yang dapat
membahayakan bahan-bahan yang mudah terbakar.
8. Meningkatkan kualitas ventilasi tambang, yaitu dari rakitan, udara segar dan
kelancaran ventilasi lainnya agar dapat menyapu bersih gas-gas beracun dan
berbahaya apalagi gas yang mudah terbakar atau meledak

12
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Kegiatan penambangan memang tidak lepas dari berbagai jenis kecelakaan yang
disebabkan oleh kesalahan manusai atau mesin. Sebagai suatu sistem program yang dibuat
bagi pekerja maupun pengusaha, kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan dapat
menjadi upaya preventif terhadap timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan
kerja dalam lingkungan kerja.. Tujuan dari dibuatnya sistem ini adalah untuk mengurangi
biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja
terutama pada pekerjaan tambang di bawah tanah dan mengurangi angka kecelakaan akibat
defisiensi oksigen.

4.2 Saran

Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan karena sakit
dan kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian diri sendiri maupun kerugian ekonomi (lost
benefit) suatu perusahaan atau negara olehnya itu kesehatan dan keselamatan kerja harus
dikelola secara maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan tetapi seluruh masyarakat.

13
DAFTAR PUSTAKA

Pertambangan, Ilmu Geologi. http://dynosidiq.blogspot.com/p/tambang-bawah-tanah.html (


diakses pada tanggal 01 juli 2019 pukul 15:37 )
Tambang, Info. http://infotambang.com/tambang-bawah-tanah-ii-p331-86.html ( diakses pada
tanggal 02 juli 2019 pukul 17:07 )
Sriwijaya, Miner http://rizkimartarozi.blogspot.com/2011/03/metode-tambang-bawah-
tanah.htmlv ( diakses pada tanggal 02 juli pukul 17:10 )
Universitas Pembangunan Nasional ’10, Miners. http://waiiand-
miner.blogspot.com/2012/06/tambang-bawah-tanah.html ( diakses pada tanggal 03 juli
2019 pukul 13:10 )
https://id.wikipedia.org/wiki/Kecelakaan_kerja
https://www.liputan6.com/global/read/2640770/ledakan-gas-di-tambang-batu-bara-china-13-
tewas

14