Anda di halaman 1dari 15

Skenario 3 (Fraktur)

Skenario Seorang laki-laki umur 25 tahun diantar oleh saudaranya ke UGD rumah sakit. Korban
mengeluh nyeri pada bahu dan paha sebelah kanannya. Sehari sebelumnya korban mengalami
kecelakaan lalu lintas dan sempat dibawa ke sangkal putung sebelum akhirnya dibawa ke UGD.
Dari pemeriksaan fisik tampak luka terbuka di bagian paha kanan sisi dalam, deformitas pada
bahu dan paha kanan.
Tujuan belajar:
1. Mahasiswa mengetahui dan memahami basic medical sciences dari fraktur
Sistem muskuloskeletal adalah suatu sistem yang terdiri dari tulang, otot, kartilago,
ligamen, tendon, fascia, bursae, dan persendian (Depkes, 1995:3). Fraktur merupakan
istilah dari hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat totalmaupun
sebagian. Fraktur disebabkan oleh trauma/tenaga fisik. Fraktur lengkap/tidak lengkap
ditentukan oleh: kekuatan dan sudut tenaga fisik, keadaan tulang itu sendiri, serta
jaringan lunak di sekitar tulang.
2. Mahasiswa mampu melakukan identifikasi bagaimana fraktur bisa terjadi
Terjadinya fraktur dikarenakan, Tulang mempunyai batas elastisitas tertentu, apabila
menerima beban atau gaya yg melampaui batas kemampuannya akan terjadi
diskontinuitas demikian pula sendi.

 Menurut Apley & Solomon (1995: 239), etiologi yang menyebabkan fraktur adalah
sebagai berikut:
1. Traumatik
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan,
yang dapat berupa pukulan, penghancuran, penekukan, penarikan. Bila terkena
kekuatan langsung tulang patah pada tempat yang terkena dan jaringan lunakpun
juga rusak.
2. Kelelahan atau tekanan berulang-ulang
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain, akibat
tekanan yang berulang-ulang. Keadaan ini paling banyak ditemukan pada tibia
fibula, terutama pada atlit, penari
3. Kelemahan dan abnormal pada tulang (patologis)
Fraktur dapat terjadi pada tekanan yang normal jika tulang itu lemah atau tulang
itu sangat rapuh.
 Menurut Apley & Solomon (1995: 244), manifestasi klinis yang muncul pada
fraktur:
1. Kelemahan pada daerah fraktur
2. Nyeri bila ditekan atau bargerak
3. Krepitasi
4. Deformitas
5. Perdarahan (eksternal atau internal)
6. Syok

3. Mahasiswa mampu menentukan tipe dan klasifikasi dari fraktur


KLASIFIKASI FRAKTUR PUSAT PERTUMBUHAN (EPIPHYSEAL PLATE FRACTURE)
MENURUT RANG

Remodeling fraktur pada anak


mempunyai daya lebih besar daripada
orang dewasa terutama di daerah dekat
dengan fisis dan angulasinya sesuai
dengan arah gerakan sendi Perlu Anda
ketahui trauma pada fisis dapat merusak
pusat pertumbuhan tersebut sehingga
dalam pertumbuhan anak itu akan
terhenti sehingga terjadi pemendekan
tulang ekstremitas secara progresif dan
ini tergantung pada umur dan terkenanya
bagian efisis juga. Bila fisis yang rusak
hanya sebagian saja maka yang tidak
rusak tetap bertumbuh normal sehingga
terjadi distorsi pertumbuhannya. Oleh
karena itu Anda harus menerangkan
kepada orang tua penderita akan hal
tersebut bahwa memerlukan follow up
yang lama. Apabila terjadi pada
ekstremitas atas akan terjadi gangguan
kosmetik tapi pada anggota bawah akan
menimbulkan osteartritis.
Klasifikasi Fraktur :

a. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).


1). Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia
luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
2). Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
b. Berdasarkan komplit atau ketidak klomplitan fraktur.
1). Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks
tulang seperti terlihat pada foto.
2). Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:
a) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
b) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang
spongiosa di bawahnya.
c) Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi
pada tulang panjang.
c. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma.
1). Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma
angulasi atau langsung.
2). Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan
meruakan akibat trauma angulasijuga.
3). Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi.
4). Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke
arah permukaan lain.
5). Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya
pada tulang.
d. Berdasarkan jumlah garis patah.
1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.
e. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
1). Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser
dan periosteum masih utuh.
2). Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi
fragmen, terbagi atas:
a) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan
overlapping).
b) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
c) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).
f. Berdasarkan posisi fraktur
Tulang terbagi menjadi tiga bagian :
1. 1/3 proksimal
2. 1/3 medial
3. 1/3 distal
g. Fraktur Kelelahan/stress: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
h. Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak
sekitar trauma, yaitu:
a. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak sekitarnya.
b. Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
c. Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan
pembengkakan.
d. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan ancaman sindroma
kompartement.
4. Mahasiswa mampu mendeskripsikan fraktur berdasarkan beberapa kriteria

Ada tiga lokasi pada clavicula yang paling sering mengalami fraktur yaitu pada bagian
midshape clavikula dimana pada anak-anak berupa greenstick, bagian distal clavicula dan bagian
proksimal clavicula. Menurut Neer secara umum fraktur klavikula diklasifikasikan menjadi tiga
tipe yaitu :

 Tipe I: Fraktur mid klavikula (Fraktur 1/3 tengah klavikula)


- Fraktur pada bagian tengah clavicula
- Lokasi yang paling sering terjadi fraktur, paling banyak ditemui
- Terjadi medial ligament korako-klavikula (antara medial dan 1/3 lateral)
- Mekanisme trauma berupa trauma langsung atau tak langsung (dari lateral bahu)
 Tipe II : Fraktur 1/3 lateral klavikula

- Fraktur klavikula lateral dan ligament korako-kiavikula, yang dapat dibagi:


o type 1: undisplaced jika ligament intak
o type 2: displaced jika ligamen korako-kiavikula ruptur.
o type 3: fraktur yang mengenai sendi akromioklavikularis.

 Tipe III : Fraktur pada bagian proksimal clavicula. Fraktur yang paling jarang terjadi dari
semua jenis fraktur clavicula, insidensnya hanya sekitar 5%.
 Fraktur pada bagian distal clavicula. Lokasi tersering kedua mengalami fraktur setelah
midclavicula.
Ada beberapa subtype fraktur clavicula bagian distal, menurut Neer ada 3 yaitu :

1. Tipe I : merupakan fraktur dengan kerusakan minimal, dimana ligament tidak mengalami
kerusakan.
2. Tipe II: merupakan fraktur pada daerah medial ligament coracoclavicular.
3. Tipe III : merupakan fraktur pada daerah distal ligament coracoclavicular dan melibatkan
permukaan tulang bagian distal clavicula pada AC joint.
Klasifikasi Fraktur Femur Dan Penatalaksanaan

1.) Fraktur intertrokhanter femur


Fraktur intertrokhanter adalah patah tulang yang bersifat ekstrakapsular dari femur.Sering
terjadi pada lansia dengan kondisi osteoporosis. Fraktur ini memiliki prognosis yang baik
dibandingkan dengan fraktur intrakapsular, dimana resiko nekrosis avascular lebih rendah.
2.) Fraktur Subtrokhanter Femur
Adalah fraktur dimana garis patahnya fraktur subtrokhanter femur berada 5 cm distal dari
trokhanter minor. Klasifikasi fielding & Magliato, yaitu sebagai berikut :
1.) Tipe 1: garis fraktur satu level dengan trochanter minor.
2.) Tipe 2: garis patah berada 1-2 inci dibawah dari batas trochanter minor.
3.) Tipe 3: garis patah berada 2-3 inci di distal dari batas trochanter minor
3.) Fraktur suprakondiler femur
Fraktur suprakondiler fragmen bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior.Hal ini
biasanya disebabkan adanya tarikan otot-otot gastroknemius. Biasanya fraktur suprakondiler ini
disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya aksial dan stress
valgus atau varus, dan disertai gaya rotasi.
4.) Fraktur Kondiler Femur
Mekanisme trauma biasanya merupakan kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi
disertai dengan tekanan pada sumbu femur ke atas. Manifestasi klinik didapatkan adanya
pembengkakan pada lutut, hematrosis, dan deformitas pada ekstremitas bawah.
5.) Fraktur Batang Femur
Terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas di kota-kota besar atau jatuh
dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak,
mengakibatkan penderita jatuh dalam syok, salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi
berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang patah. Secara klinik fraktur
batang femur dibagi dalam fraktur batang femur terbuka dan tertutup.

5. Mahasiswa mampu menjelaskan proses penyembuhan fraktur


Proses penyembuhan fraktur menurut Apley & Solomon (1995: 240), adalah sebagai
berikut :
1. Tahap Pembentukan Hematom
Dimulai setelah fraktur sampai hari ke 5 (lima) terjadi perdarahan, dalam 24 jam pertama
terbentuk darah dan fibrin yang masuk ke daerah fraktur, setelah 24 jam pertama, suplai
darah meningkat ke daerah fraktur dan terbentuk hematom. Hematom berkembang
menjadi jaringan granulasi.
2. Tahap Proliferasi Seluler
Proses ini terjadi sampai hari ke 12 (dua belas). Pada area fraktur, periosteum endosteum
dan sumsum tulang yang mensuplai sel, berubah menjadi fibro kartilago, kartilago hialin
dan jaringan penunjang, fibrosa terjadinya osteogenesis dengan cepat.
3. Tahap Pembentukan Kalus
Enam sampai sepuluh hari setelah cidera, jaringan granulasi berubah menjadi bentuk
prakalus, prakalus menjadi puncak ukuran maksimal pada 14 (empatbelas) – 21 (dua
puluh satu) hari setelah cidera.
4. Tahap Osifikasi Kalus
Ini terjadi sampai minggu ke 12 (dua belas). Membentuk osifikasi dan kalus intermediate
pada minggu ke 3 (tiga) sampai 10 (sepuluh) kalus menutupi tulang.
5. Tahap Konsolidasi
Dengan aktifitas osteoblas dan osteoklast, kalus mengalami pembentukan tulang sesuai
dengan bentuk aslinya

6. Mahasiswa mampu menerapkan langkah langkah penegakkan diagnosis dan


deferensial diagnosis kasus trauma musculoskeletal
DIAGNOSIS FRAKTUR
1. Anamnesis
Diagnosis diawali dengan anamnesis adanya trauma tertentu seperti jatuh, terputar,
tertumbuk, dan berapa kuatnya trauma tersebut. Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat
mekanisme cedera (posisi kejadian) dan kejadian kejadian yang berhubungan dengan cedera
tersebut. Penting ditanyakan kronologi terjadinya fraktur sehingga bisa ditentukan kekuatan yang
terjadi dan bagian tubuh yang terkena, serta dapat mengetahui luka kecelakaan yang lain.
Keluhan utama dari fraktur adalah rasa nyeri, meskipun fraktur yang fragmen patahannya
stabil kadang tidak menimbulkan nyeri.
Anamnesis riwayat penyakit dahulu siapa tau ditemukan kemungkinan penyebab fraktur
dan member petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit penyakit tertentu
seperti kanker tulang dan penyakit Paget menyebabkan fraktur patologis yang sulit membuat
tulang menyambung.
Perlu ditanyakan mengenai keluhan penderita dan lokasi keluhannya. Keluhan klasik
fraktur komplet adalah sakit, bengkak, deformitas, dan penurunan fungsi. Sakit akan bertambah
apabila bagian yang patah digerakkan.
Selain itu, perlu juga ditanyakan riwayat osteoporosis, hipertensi, mengkonsumsi
kortikosteroid, riwayat cedera/fraktur sebelumnya, riwayat sosial ekonomi, pekerjaan, obat
obatan yang dikonsumsi, merokok, riwayat alergi, riwayat pengobatan, dll.

2. Pemeriksaan Fisik
Terdiri dari pemeriksaan umum untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan
lokal. Gambaran umum terdiri dari :
i. Keadaan umum (kesadaran dan kesakitan)
ii. Vital sign yang tidak normal
iii. Pemeriksaan dari kepala ke ujung kaki/tangan. Diperhitungkan status
neurovaskularnya.
Keadaan lokal teridiri dari:
i. LOOK untuk melihat adanya deformitas, jejas, adanya tulang yang terlihat keluar
dari jaringan lunak, sikatrik, warna kulit, benjolan, pembengkakan, cekungan,
luka kulit, laserasi atau abrasi,perubahan warna di distal luka.
ii. FEEL untuk mengetahui apakah ada respon nyeri dari pasien saat dilakukan
palpasi. Yang perlu diperiksa adalah suhu di sekitar trauma, fluktuasi pada
pembengkakan, nyeri tekan, krepitasi, benjolan dan sifatnya, serta status
neurovascular di bagian distal luka (pulsasi arteri, capillary refill, warna kulit, dan
sensibilitas.
iii. MOVE untuk menilai gerakan abnormal ketika menggerakkan bagian yang
cedera serta ROM.

3. Pemeriksaan Diagnostik
Terdiri dari pemeriksaan radiologi (menggunakan x ray/rontgen) dan pemeriksaan
laboratorium (alkalin fosfat meningkat pada kerusakan tulang; kalsium serum dan
fosfor,Kreatinin Kinase, Laktat Dehydrogenase(LDH 5), Aspartat Aminotransferase
(AST), dan Aldolase meningkat pada tahap penyembuhan tulang.

DIAGNOSIS BANDING

Fraktur clavicula didiagnosis banding dengan beberapa kelainan yaitu fraktur kosta, fraktur
sternum, dislokasi sendi bahu, dan rotator cuff injury.

1. Fraktur kosta

Penyebab paling sering pada fraktur kosta adalah trauma tumpul pada dinding dada, tergantung
lokasi yang mengalami trauma bisa menyebabkan fraktur 1 tulang costa atau lebih. Pada pasien
dengan fraktur kosta bisa menyebabkan terjadinya pneumotoraks, hematotoraks karena perdarahan
atau cedera pada fleksus brakhialis untuk fraktur kosta I – III. Untuk fraktur kosta I – III gejala
dan tanda bisa mirip dengan fraktur clavicula, harus bisa dibedakan dengan seksama pada
pemeriksaan radiologi .

2. Fraktur sternum

Fraktur sternum paling sering karena trauma pada dada, biasanya disertai dengan trauma pada
jantung dan paru-paru. Untuk mendiagnosis fraktur sternum biasanya dipakai plain photo proyeksi
lateral seperti pada gambar dibawah ini.

3. Dislokasi sendi bahu

Dislokasi sendi pada bahu ada 4 jenis yaitu anterior dislocation, posterior dislocation,
multidirectional instability dan inferior dislocation. Paling sering adalah anterior dislocation
sekitar 85% dari semua dislokasi sendi bahu. Pasien dengan dislokasi sendi bahu juga bisa
mengeluh nyeri, bengkak ataupun susah menggerakkan lengan.

4. Rotator cuff injury pada bahu

Pasien dengan rotator cuff injury biasanya datang dengan keluhan utama nyeri pada persendian
bahu disertai dengan kekakuan, terbatasnya pergerakan sendi bahu dan krepitasi. Pemeriksaan
yang paling akurat pada kelainan ini adalah MRI.
7. Mahasiswa mampu mengusulkan jenis pemeriksaan penunjang yang tepat dan
lengkap serta mampu menginterpretasikan

Pemeriksaan Penunjang
1. X-ray : untuk menentukan luas/lokasi fraktur.
2. Scan tulang untuk memperlihatkan fraktur lebih jelas, mengidentifikasi kerusakan
jaringan lunak.
3. Arteriogram, dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kerusakan vaskuler.
4. Hitung darah lengkap, homokonsentrasi mungkin meningkat, menurun pada
perdarahan -> peningkatan leukosit sebagai respon terhadap peradangan.
5. Uji Kretinin : trauma otot meningkatkan beban kretinin untuk klirens ginjal.
6. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfusi atau cedera
hati (Doengoes, 2000 dalam Wijaya & Putri,2013 : 241).
8. Mahasiswa mampu melakukan penatalaksanaan secara umum kasus trauma
muskuloskeletal
Pengelolaan fraktur secara umum mengikuti prinsip penatalaksanaan “4 R” yaitu: rekognisi,
reduksi, retensi, rehabilitasi.

1. Rekognisi adalah pengenalan terhadap fraktur melalui penegakan berbagai diagnosis


yang mungkin untuk memperoleh informasi sebanyak banyaknya tentang fraktur
2. Reduksi/reposisi adalah tindakan untuk mengembalikan posisi fragmen fragmen tulang
yang mengalami fraktur seoptimal mungkin ke keadaan semula
3. Retensi adalah mempertahankan kondisi reduksi selama masa penyembuhan
4. Rehabilitasi bertujuan untuk mengembalikan kondisi tulang yang patah ke keadaan
normal dan tanpa mengganggu proses fiksasi

4 Tujuan Utama Penatalaksanaan Fraktur

1. Untuk menghilangkan rasa nyeri


Nyeri yang timbul bukan karena fraktur itu sendiri, melainkan karena jaringan terluka di
sekitar tulang yang patah tersebut. Untuk mengurangi nyeri dapat diberikan obat
penghilang nyeri dan teknik immobilisasi (tidak menggerakkan daerah yang fraktur)
Teknik immobilisasi dapat dengan pembidaian (benda keras yang ditempatkan di
sekeliling tulang) dan pemasangan gips (bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang
yang patah).

2. Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur


Karena bidai dan gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam waktu yang lama. Untuk
itu diperlukan lagi teknik yang lebih mantab seperti pemasangan traksi kontinu, fiksasi
eksternal, atau fiksasi internal tergantung jenis frakturnya.

3. Agar terjadi penyatuan kembali


Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan
menyatu sempurna dalam waktu 6 bulan. Namun, terkadang terdapat gangguan
penyatuan tulang sehingga dibutuhkan graft tulang (cangkok tulang).

4. Untuk mengembalikan fungsi seperti semula


Immobilisasi yang lama dapat menyebabkan mengecilnya otot dan kakunya sendi. Oleh
karena itu, diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin.

9. Mahasiswa mampu melakukan manajemen penatalaksanaan fraktur tertutup dan


terbuka
A. Penatalaksaan pada klien dengan fraktur tertutup adalah sebagai berikut:
1. Terapi non farmakologi, terdiri dari :
a. Proteksi, untuk fraktur dengan kedudukan baik. Mobilisasi saja tanpa reposisi,
misalnya pemasangan gips pada fraktur inkomplet dan fraktur tanpa kedudukan
baik.
b. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips. Reposisi dapat dalam anestesi umum
atau lokal.
c. Traksi, untuk reposisi secara berlebihan.
2. Terapi farmakologi, terdiri dari :
a. Reposisi terbuka, fiksasi eksternal.
b. Reposisi tertutup kontrol radiologi diikuti interial.
Terapi ini dengan reposisi anatomi diikuti dengan fiksasi internal. Tindakan pada fraktur terbuka
harus dilakukan secepat mungkin, penundaan waktu dapat mengakibatkan komplikasi. Waktu
yang optimal untuk bertindak sebelum 6-7 jam berikan toksoid, anti tetanus serum (ATS) / tetanus
hama globidin. Berikan antibiotik untuk kuman gram positif dan negatif dengan dosis tinggi.
Lakukan pemeriksaan kultur dan resistensi kuman dari dasar luka fraktur terbuka. (Smeltzer,
2001).
Tata Laksana Fraktur Tertutup
Prinsip penanganan fraktur adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula
(reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan patah tulang
(imobilisasi).
1. Pada fraktur dengan dislokasi fragmen patahan yang minimal, cukup dilakukan
dengan proteksi saja, misalnya dengan menggunakan mitela. Contoh kasusnya adalah
fraktur iga, fraktur klavikula pada anak.
2. Imobilisasi luar tanpa reposisi. Contohnya fraktur tungkai bawah tanpa dislokasi yang
penting
3. Reposisi dengan cara memanipulasi yang diikuti imobilisasi. Ini dilakukan pada
fraktur dengan dislokasi fragmen yang berarti, seperti pada fraktur tulang radius distal
4. Reposisi dengan traksi terus menerus selama masa tertentu lalu diikuti imobilisasi.
Hal ini dilakukan pada patah tulang yang bila direposisi akan terdilokasi kembali di
dalam gips, biasanya fraktur yang dikelilingi oleh otot yang kuat (tulang femur).
5. Reposisi yang diikuti dengan imobilisasi dengan fiksasi luar (fiksator eksterna)
6. Reposisi secara non operatif diikuti dengan pemasangan fiksator tulang secara
operatif, misalnya reposisi fraktur kolum femur
7. Reposisi secara operatif diikuti dengan fiksasi interna (Open Reduction Internal
Fixation, ORIF)
8. Eksisi fragmen patahan tulang dan menggantinya dengan protesis.

B. Penatalaksaan pada klien dengan fraktur terbuka adalah sebagai berikut :


Pada fraktur terbuka terdapat hubungan antara daerah fraktur dengan lingkungan luar
melalui luka, hal ini menyebabkan risiko untuk terjadi infeksi menjadi sangat tinggi. Dengan
demikian penanganan fraktur terbuka tidak hanya bertujuan untuk memicu penyembuhan fraktur
dan pengembalian fungsi, namun juga bertujuan untuk mencegah infeksi (Salter, 1999). Fraktur
terbuka termasuk kasus gawat darurat oleh karena itu beberapa prinsip dalam penanganannya
harus diperhatikan untuk mencapai tujuan penatalaksanaan fraktur terbuka.
1) Pembersihan luka. Kontaminan yang dapat berupa tanah, material pakaian, maupun
material lainnya harus diirigasi dengan larutan saline dalam jumlah besar. Material yang
masih menempel setelah irigasi harus diambil hingga bersih (Salter, 1999).
2) Debridement. Jaringan yang telah kehilangan suplai darahnya dapat menghambat proses
penyembuhan luka dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman. Oleh karena
itu, jaringan yang sudah mati seperti kulit, lemak subkutan, fasia, otot, dan fragmen tulang
yang kecil harus dieksisi (Salter, 1999). Disarankan untuk mengambil bahan hapusan untuk
kultur kuman pada tahap ini. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam tahap ini
antara lain:
a. Eksisi tepi luka. Tapi luka dieksisi hingga tepi kulit yang sehat.
b. Ekstensi luka. Pembersihan luka yang baik membutuhkan pemaparan yang adekuat.
Perlu diberhatikan dalam membuat ekstensi luka agar tidak mengganggu rencana
pembuatan flap untuk penutupan luka lebih lanjut.
c. Pembersihan luka. Semua benda asing harus disingkirkan dari luka. Larutan saline dalam
jumlah besar digunakan untuk mengirigasi luka. Hindari memasukan cairan irigasi
melalui sebuah lubang kecil karena dapat mendorong benda asing lebih dalam.
d. Pembuangan jaringan mati. Jaringan otot yang sudah mati harus dapat dikenali, ciri-
cirinya antara lain warna keunguan dengan konsistensi lembek, otot gagal berkontraksi
saat diberikan stimulus, dan tidak berdarah saat dipotong.
e. Saraf dan tendon. Secara umum otot dan tendon yang terpotong dibiarkan begitu saja
tanpa dimanipulasi hingga luka benar-benar bersih dan tenaga yang ahli tersedia, maka
saraf dan tendon tersebut dapat disambung kembali.

3) Penanganan fraktur. Pada fraktur terbuka tipe I dengan luka yang kecil, fraktur dapat
direduksi secara tertutup setelah luka dibersihkan, debridement, dan dibiarkan terbuka. Namun
bila luka yang terjadi cukup besar, biasanya dibutuhkan traksi skeletal atau reduksi terbuka
dengan fiksasi skeletal. Secara umum, fiksasi internal dapat digunakan bila tidak menyebabkan
trauma lebih lanjut dan meningkatkan risiko infeksi (Salter,1999).

4) Penutupan luka. Bahkan bila kasus fraktur terbuka mendapatkan penanganan dalam 6 sampai
7 jam pertama dan dengan kontaminasi minimal, immediate primary closure merupakan suatu
kontraindikasi. Setelah 4 hingga 7 hari, bila tidak didapatkan tanda-tanda infeksi dapat
dilakukan delayed primary closure.Penumpukan darah dan serum di dasar luka dapat dicegah
dengan membuat drainase luka yang baik (Olson, 2006; Salter, 1999).

5) Antibiotika. Agar efektif dalam mencegah infeksi, antibiotika harus diberikan sebelum,
selama, dan setelah penanganan luka. Untuk fraktur terbuka tipe 1 dan tipe 2 direkomendasikan
menggunakan cephalosporin generasi pertama. Sedangkan pada fraktur terbuka tipe 3 dengan
derajat kontaminasi yang lebih tinggi, ditambahkan dengan aminoglikosida. Pada fraktur
terbuka dengan kontaminasi organik, ditambahkan penisilin atau metronidazole (Fletcher,
2007). Namun demikian penggunaan antibiotika tidak dapat menjamin sepenuhnya luka akan
bebas dari infeksi. Antibiotik sistemik sulit mencapai jaringan luka yang telah kehilangan
suplai darahnya, oleh karena itu telah dikembangkan berbagai macam metode untuk
memberikan antibiotik secara topikal (Olson, 2006; Salter, 1999).

6) Pencegahan tetanus. Semua pasien dengan fraktur terbuka membutuhkan pencegahan terhadap
komplikasi yang jarang ditemui namun mematikan yaitu tetanus. Bila pasien telah
mendapatkan imunisasi tetanus toxoid, dapat diberikan booster toxoid. Bila tidak didapatkan
riwayat imunisasi tetanus sebelumnya, atau informasi mengenai imunisasi tetanus tidak jelas,
harus diberikan imunisasi pasif dengan menggunakan human immune globulin tetanus 250 unit
(Olson, 2006; Solomon, 2001).

10. Mahasiswa mampu menjelaskan komplikasi dari fraktur, pencegahannya dan


penatalaksanaannya

Komplikasi
Komplikasi awal setelah fraktur adalah syok yang berakibat fatal dalam beberapa jam
setelah cedera, emboli lemak, yang dapat terjadi dalam 48 jam atau lebih, dan sindrom
kompartemen, yang berakibat kehilangan fungsi ekstremitas permanent jika tidak ditangani segera.
Komplikasi lainnya adalah infeksi, tromboemboli yang dapat menyebabkan kematian
beberapa minggu setelah cedera dan koagulopati intravaskuler diseminata (KID).
Syok hipovolemik atau traumatik, akibat pendarahan (baik kehilangan dara eksterna
maupun tak kelihatan ) dan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak dapat terjadi pada
fraktur ekstremitas, toraks, pelvis,dan vertebra karena tulang merupakan organ yang sangat
vaskuler, maka dapaler terjadi kehilangan darah dalam jumlah yang besar sebagai akibat
trauma,khususnya pada fraktur femur pelvis. Penanganan meliputi mempertahankan volume
darah,mengurangi nyeri yang diderita pasien, memasang pembebatan yang memadai, dan
melindungi pasien dari cedera lebih lanjut.
Sindrom Emboli Lemak. Setelah terjadi fraktur panjang atau pelvis,fraktur multiple,atau
cidera remuk dapat terjadi emboli lemak, khususnya pada dewasa muda 20-30th pria pada saat
terjadi fraktur globula lemat dapat termasuk ke dalam darah karma tekanan sumsum tulang lebih
tinggi dari tekanan kapiler atau karma katekolamin yang di lepaskan oleh reaksi setres pasien akan
memobilitasi asam lemak dan memudahkan terjadiya globula lemak dalam aliran darah. Globula
lemak akan bergabung dengan trombosit membentuk emboli, yang kemudian menyumbat
pembuluh darah kecil yang memasok otak, paru, ginjal dan organ lain awitan dan gejalanya, yang
sangat cepat, dapat terjadi dari beberapa jam sampai satu minggu setelah cidera gambaran khansya
berupa hipoksia, takipnea, takikardia, dan pireksia
Infeksi= Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada
kasus fraktur terbuka, tapi bias juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin
dan plat.
Avaskuler nekrosis Avaskuler nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak
atau terganggu yang bias menyebabkan nekrosis tulang dan di awali dengan adanya Volkman’s
Ischemia

Terminologi Komplikasi Proses Penyambungan Fraktur


1. Malunion yaitu Proses penyambungan fraktur berjalan normal tapi terdapat angulasi atau
rotasi maupun sedikit deformitas yang mempunyai potensi akan gangguan fungsi atau
terjadi pemendekan tulang (discrepancy) yang tidak dapat ditolerir maka akan mengganggu
fungsi ekstremitas tersebut.
2. Delayed union adalah proses penyembuhan yang terus berjalan dengan kecepatan yang
lebih lambat dari keadaan normal dan merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Union ini gagal terjadi dalam
waktu yang diperkirakan. Perbedaannya dengan penyambungan lambat dapat dilihat pada
radiograph terjadi perubahan abnormal di tulang pada delayed union. disebabkan karena
penurunan suplai darah ke tulang.
3. non-union yaitu fraktur gagal terjadinya penyambungan. Kegagalan fraktur ini untuk
berkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan.
Nonunion di tandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk
sendi palsu atau pseuardoarthrosis.
a. Hypertrophic non-union atau disebut juga elephant foot appearance, dimana
ujung fragmen fraktur pada radiograph terlihat sklerotik dan melebar. Garis fraktur
masih teriihat jelas dengan disertai gap yang berisi kartilago atau jaringan fibrus.
Adanya peningkatan densitas tulang menunjukan vaskularisasi disitu baik. Oleh
karena itu perbaikan fiksasi akan terjadi mineralisasi jaringan fibrus dan kartilago
di gap tersebut menjadi tulang dan bone induction.
b. Atrophic non-union di tempat fraktur tidak terjadi kegiatan sel-sel, sehingga
ujung-ujung terlihat menyepit, bunder, osteoporortik dan umumnya avaskular.
Oleh sebab itu perlu pemasangan fiksasi yang kaku, membuang jaringan fibrus
diantra fragmen, dekortikasi dan grafting.
Pencegahan Fraktur
Pencegahan fraktur dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Pada umumnya fraktur
disebabkan oleh peristiwa trauma benturan atau terjatuh baik ringan maupun berat. Pada dasarnya
upaya pengendalian kecelakaan dan trauma adalah suatu tindakan pencegahan terhadap
peningkatan kasus kecelakaan yang menyebabkan fraktur.

Pencegahan Primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan upaya menghindari terjadinya trauma benturan,
terjatuh atau kecelakaan lainnya. Dalam melakukan aktifitas yang berat atau mobilisasi yang cepat
dilakukan dengan cara hati – hati, memperhatikan pedoman keselamatan dengan memakai alat
pelindung diri.

Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan untuk mengurangi akibat – akibat yang lebih serius dari
terjadinya fraktur dengan memberikan pertolongan pertama yang tepat dan terampil pada
penderita. Mengangkat penderita dengan posisi yang benar agar tidak memperparah bagian tubuh
yang terkena fraktur untuk selanjutnya dilakukan pengobatan. Pemeriksaan klinis dilakukan untuk
melihat bentuk dan keparahan tulang yang patah. Pemeriksaan dengan foto radiologis sangat
membantu untuk mengetahui bagian tulang yang patah yang tidak terlihat dari luar. Pengobatan
yang dilakukan dapat berupa traksi, pembidaian dengan gips atau dengan fiksasi internal maupun
eksternal.

Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier pada penderita fraktur yang bertujuan untuk mengurangi terjadinya komplikasi
yang lebih berat dan memberikan tindakan pemulihan yang tepat untuk menghindari atau
mengurangi kecacatan. Pengobatan yang dilakukan disesuaikan dengan jenis dan beratnya fraktur
dengan tindakan operatif dan rehabilitasi. Rehabilitasi medis diupayakan untuk mengembalikan
fungsi tubuh untuk dapat kembali melakukan mobilisasi seperti biasanya. Penderita fraktur yang
telah mendapat pengobatan atau tindakan operatif, memerlukan latihan fungsional perlahan untuk
mengembalikan fungsi gerakan dari tulang yang patah. Upaya rehabilitasi dengan
mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan mempertahankan reduksi dan imobilisasi antara
lain meminimalkan bengkak, memantau status neurovaskuler, mengontrol ansietas dan nyeri,
latihan dan pengaturan otot, partisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari, dan melakukan aktivitas
ringan secara bertahap.

11. Mahasiswa mampu melakukan perencanaan program rehabilitasi pasien pasca trauma
muskuloskeletal
Follow up penderita Anda perlu memperhatikan keluhan, kondisi umum penderita
(anemis, kurang protein dsb.) dan pemeriksaan daerah fraktur tersebut yaitu luka operasi (tanda-
tanda infeksi, wound breakdown dsb. ), aligment dari tulang tersebut, temperatur daerah operasi,
sakit tekan, gerakan abnormal pada daerah itu, dan gerakan sendi-sendi di dekat tulang tersebut.
Pemeriksaan X-ray dillakukan pasca operasi, pada minggu ke 4, 8, 12 untuk menilai
pembentukan kalus. Kemudian penderita diberikan resep obat untuk mencukupi kebutuhan
penyembuhan fraktur dan kerusakan jaringan lunak disekitamya akibat trauma maupun tindakan
pembedahan. Penderita diperintahkan melakukan latihan aktif sendi-sendi disekitar itu guna
menjaga lingkup gerak sendi dan mencegah terjadi atrofi otot. Penentuan jalan menggunakan
tungkai bawah yang mengalami fraktur disesuaikan masa proses penyembuhan fraktur itu
sendiri. Hal-nal yang sangat spesialistik sebaiknya disarankan berkonsultasi ke ahli bedah
orthopaedi atau mengirimkan penderita ke ahli tersebut.
Pada penderitan yang dilakukan reposisi dan gip follow-upnya hampir sama.
Perbedaannya yaitu adanya keutuhan gip yang terpasang dan adanya sendi-sendi yang terfiksir
oleh gip, disamping memfokuskan perhatian tempat penonjolan tulang dengan kemungkinan
terjadi kulit yang lecet akibat penekanan gip dan sindrom kompertemen. Pembukaan gip juga
didasarkan masa penyembuhan fraktur.
Pada penderita traksi sebagai terapi perlu dinilai beban traksi yang dibutuhkan guna
mencapai panjang ideal tulang tersebut, terutama pada tungkai bawah. Perbedaan 1 - 2 cm
dianggap memadai / dapat diterima. Penilaian alignmen, tanpa rotasi, kondisi kulit tempat
masuknya steinman pin demikian traksi kulit harus dinilai secara kontinu. Pada traksi balan
penderita dapat melakukan latihan aktif sendi. Penghentian traksi sesuai dengan tujuannya. Agar
tidak lama di rumah sakit, Anda dapat melepas traksi tersebut dan diganti dengan gip atau brace
setelah union klinis tercapai
12. Mahasiswa mengetahui bagaimana melakukan rujukan pasien ke ahlinya
13. Mahasiswa mampu melakukan perencanaan transportasi untuk mendapatkan
definitive treatment.
Terminologi / Sinerai
1. Fraktur adalah terputusnya diskontinuitas struktur tulang.
2. Fraktur torus (buckle) adalah fraktur yang mengelilingi tulang itu tapi tidak komplit.
Biasanya di daerah metafisis radius distal.
3. Fraktur greenstick adalah fraktur inkomplit pada satu sisi kortek saja dan biasanya pada
anak-anak karena tulangnya masih fleksibel
4. Fraktur kominutif adalah fraktur yang terdiri dari tiga atau lebih fragmen.
5. Fraktur oblik yaitu fraktur dengan garis fraktur membentuk sudut 30 derajat atau lebih
dengan aksis panjang tulang
6. Fraktur spiral adalah fraktur yang disebabkan oleh trauma rotasi sehingga garis fraktumya
memutar.
7. Fraktur transversal yaitu fraktur yang mempunyai garis fraktur membentuk sudut kurang
dari 30 derajat.
8. Penyambungan primer (primary bone healing) adalah penyambungan ujung-ujung fragmen
terjadi akibat hasil reposisi yang anatomis dengan fiksasi kaku.
9. Penyambungan sekunder (secondary bone healing) adalah proses penyambungan fraktur
dengan pembentukan kalus dan diakhiri dengan proses remodeling.
10. Pusat pertumbuhan (Physis / epiphyseal plate) adalah daerah pertumbuhan tulang pada
tulang immature