Klasifikasi dan Penyebab Fraktur Tulang
Klasifikasi dan Penyebab Fraktur Tulang
Skenario Seorang laki-laki umur 25 tahun diantar oleh saudaranya ke UGD rumah sakit. Korban
mengeluh nyeri pada bahu dan paha sebelah kanannya. Sehari sebelumnya korban mengalami
kecelakaan lalu lintas dan sempat dibawa ke sangkal putung sebelum akhirnya dibawa ke UGD.
Dari pemeriksaan fisik tampak luka terbuka di bagian paha kanan sisi dalam, deformitas pada
bahu dan paha kanan.
Tujuan belajar:
1. Mahasiswa mengetahui dan memahami basic medical sciences dari fraktur
Sistem muskuloskeletal adalah suatu sistem yang terdiri dari tulang, otot, kartilago,
ligamen, tendon, fascia, bursae, dan persendian (Depkes, 1995:3). Fraktur merupakan
istilah dari hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat totalmaupun
sebagian. Fraktur disebabkan oleh trauma/tenaga fisik. Fraktur lengkap/tidak lengkap
ditentukan oleh: kekuatan dan sudut tenaga fisik, keadaan tulang itu sendiri, serta
jaringan lunak di sekitar tulang.
2. Mahasiswa mampu melakukan identifikasi bagaimana fraktur bisa terjadi
Terjadinya fraktur dikarenakan, Tulang mempunyai batas elastisitas tertentu, apabila
menerima beban atau gaya yg melampaui batas kemampuannya akan terjadi
diskontinuitas demikian pula sendi.
Menurut Apley & Solomon (1995: 239), etiologi yang menyebabkan fraktur adalah
sebagai berikut:
1. Traumatik
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan,
yang dapat berupa pukulan, penghancuran, penekukan, penarikan. Bila terkena
kekuatan langsung tulang patah pada tempat yang terkena dan jaringan lunakpun
juga rusak.
2. Kelelahan atau tekanan berulang-ulang
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain, akibat
tekanan yang berulang-ulang. Keadaan ini paling banyak ditemukan pada tibia
fibula, terutama pada atlit, penari
3. Kelemahan dan abnormal pada tulang (patologis)
Fraktur dapat terjadi pada tekanan yang normal jika tulang itu lemah atau tulang
itu sangat rapuh.
Menurut Apley & Solomon (1995: 244), manifestasi klinis yang muncul pada
fraktur:
1. Kelemahan pada daerah fraktur
2. Nyeri bila ditekan atau bargerak
3. Krepitasi
4. Deformitas
5. Perdarahan (eksternal atau internal)
6. Syok
Ada tiga lokasi pada clavicula yang paling sering mengalami fraktur yaitu pada bagian
midshape clavikula dimana pada anak-anak berupa greenstick, bagian distal clavicula dan bagian
proksimal clavicula. Menurut Neer secara umum fraktur klavikula diklasifikasikan menjadi tiga
tipe yaitu :
Tipe III : Fraktur pada bagian proksimal clavicula. Fraktur yang paling jarang terjadi dari
semua jenis fraktur clavicula, insidensnya hanya sekitar 5%.
Fraktur pada bagian distal clavicula. Lokasi tersering kedua mengalami fraktur setelah
midclavicula.
Ada beberapa subtype fraktur clavicula bagian distal, menurut Neer ada 3 yaitu :
1. Tipe I : merupakan fraktur dengan kerusakan minimal, dimana ligament tidak mengalami
kerusakan.
2. Tipe II: merupakan fraktur pada daerah medial ligament coracoclavicular.
3. Tipe III : merupakan fraktur pada daerah distal ligament coracoclavicular dan melibatkan
permukaan tulang bagian distal clavicula pada AC joint.
Klasifikasi Fraktur Femur Dan Penatalaksanaan
2. Pemeriksaan Fisik
Terdiri dari pemeriksaan umum untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan
lokal. Gambaran umum terdiri dari :
i. Keadaan umum (kesadaran dan kesakitan)
ii. Vital sign yang tidak normal
iii. Pemeriksaan dari kepala ke ujung kaki/tangan. Diperhitungkan status
neurovaskularnya.
Keadaan lokal teridiri dari:
i. LOOK untuk melihat adanya deformitas, jejas, adanya tulang yang terlihat keluar
dari jaringan lunak, sikatrik, warna kulit, benjolan, pembengkakan, cekungan,
luka kulit, laserasi atau abrasi,perubahan warna di distal luka.
ii. FEEL untuk mengetahui apakah ada respon nyeri dari pasien saat dilakukan
palpasi. Yang perlu diperiksa adalah suhu di sekitar trauma, fluktuasi pada
pembengkakan, nyeri tekan, krepitasi, benjolan dan sifatnya, serta status
neurovascular di bagian distal luka (pulsasi arteri, capillary refill, warna kulit, dan
sensibilitas.
iii. MOVE untuk menilai gerakan abnormal ketika menggerakkan bagian yang
cedera serta ROM.
3. Pemeriksaan Diagnostik
Terdiri dari pemeriksaan radiologi (menggunakan x ray/rontgen) dan pemeriksaan
laboratorium (alkalin fosfat meningkat pada kerusakan tulang; kalsium serum dan
fosfor,Kreatinin Kinase, Laktat Dehydrogenase(LDH 5), Aspartat Aminotransferase
(AST), dan Aldolase meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
DIAGNOSIS BANDING
Fraktur clavicula didiagnosis banding dengan beberapa kelainan yaitu fraktur kosta, fraktur
sternum, dislokasi sendi bahu, dan rotator cuff injury.
1. Fraktur kosta
Penyebab paling sering pada fraktur kosta adalah trauma tumpul pada dinding dada, tergantung
lokasi yang mengalami trauma bisa menyebabkan fraktur 1 tulang costa atau lebih. Pada pasien
dengan fraktur kosta bisa menyebabkan terjadinya pneumotoraks, hematotoraks karena perdarahan
atau cedera pada fleksus brakhialis untuk fraktur kosta I – III. Untuk fraktur kosta I – III gejala
dan tanda bisa mirip dengan fraktur clavicula, harus bisa dibedakan dengan seksama pada
pemeriksaan radiologi .
2. Fraktur sternum
Fraktur sternum paling sering karena trauma pada dada, biasanya disertai dengan trauma pada
jantung dan paru-paru. Untuk mendiagnosis fraktur sternum biasanya dipakai plain photo proyeksi
lateral seperti pada gambar dibawah ini.
Dislokasi sendi pada bahu ada 4 jenis yaitu anterior dislocation, posterior dislocation,
multidirectional instability dan inferior dislocation. Paling sering adalah anterior dislocation
sekitar 85% dari semua dislokasi sendi bahu. Pasien dengan dislokasi sendi bahu juga bisa
mengeluh nyeri, bengkak ataupun susah menggerakkan lengan.
Pasien dengan rotator cuff injury biasanya datang dengan keluhan utama nyeri pada persendian
bahu disertai dengan kekakuan, terbatasnya pergerakan sendi bahu dan krepitasi. Pemeriksaan
yang paling akurat pada kelainan ini adalah MRI.
7. Mahasiswa mampu mengusulkan jenis pemeriksaan penunjang yang tepat dan
lengkap serta mampu menginterpretasikan
Pemeriksaan Penunjang
1. X-ray : untuk menentukan luas/lokasi fraktur.
2. Scan tulang untuk memperlihatkan fraktur lebih jelas, mengidentifikasi kerusakan
jaringan lunak.
3. Arteriogram, dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kerusakan vaskuler.
4. Hitung darah lengkap, homokonsentrasi mungkin meningkat, menurun pada
perdarahan -> peningkatan leukosit sebagai respon terhadap peradangan.
5. Uji Kretinin : trauma otot meningkatkan beban kretinin untuk klirens ginjal.
6. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfusi atau cedera
hati (Doengoes, 2000 dalam Wijaya & Putri,2013 : 241).
8. Mahasiswa mampu melakukan penatalaksanaan secara umum kasus trauma
muskuloskeletal
Pengelolaan fraktur secara umum mengikuti prinsip penatalaksanaan “4 R” yaitu: rekognisi,
reduksi, retensi, rehabilitasi.
3) Penanganan fraktur. Pada fraktur terbuka tipe I dengan luka yang kecil, fraktur dapat
direduksi secara tertutup setelah luka dibersihkan, debridement, dan dibiarkan terbuka. Namun
bila luka yang terjadi cukup besar, biasanya dibutuhkan traksi skeletal atau reduksi terbuka
dengan fiksasi skeletal. Secara umum, fiksasi internal dapat digunakan bila tidak menyebabkan
trauma lebih lanjut dan meningkatkan risiko infeksi (Salter,1999).
4) Penutupan luka. Bahkan bila kasus fraktur terbuka mendapatkan penanganan dalam 6 sampai
7 jam pertama dan dengan kontaminasi minimal, immediate primary closure merupakan suatu
kontraindikasi. Setelah 4 hingga 7 hari, bila tidak didapatkan tanda-tanda infeksi dapat
dilakukan delayed primary closure.Penumpukan darah dan serum di dasar luka dapat dicegah
dengan membuat drainase luka yang baik (Olson, 2006; Salter, 1999).
5) Antibiotika. Agar efektif dalam mencegah infeksi, antibiotika harus diberikan sebelum,
selama, dan setelah penanganan luka. Untuk fraktur terbuka tipe 1 dan tipe 2 direkomendasikan
menggunakan cephalosporin generasi pertama. Sedangkan pada fraktur terbuka tipe 3 dengan
derajat kontaminasi yang lebih tinggi, ditambahkan dengan aminoglikosida. Pada fraktur
terbuka dengan kontaminasi organik, ditambahkan penisilin atau metronidazole (Fletcher,
2007). Namun demikian penggunaan antibiotika tidak dapat menjamin sepenuhnya luka akan
bebas dari infeksi. Antibiotik sistemik sulit mencapai jaringan luka yang telah kehilangan
suplai darahnya, oleh karena itu telah dikembangkan berbagai macam metode untuk
memberikan antibiotik secara topikal (Olson, 2006; Salter, 1999).
6) Pencegahan tetanus. Semua pasien dengan fraktur terbuka membutuhkan pencegahan terhadap
komplikasi yang jarang ditemui namun mematikan yaitu tetanus. Bila pasien telah
mendapatkan imunisasi tetanus toxoid, dapat diberikan booster toxoid. Bila tidak didapatkan
riwayat imunisasi tetanus sebelumnya, atau informasi mengenai imunisasi tetanus tidak jelas,
harus diberikan imunisasi pasif dengan menggunakan human immune globulin tetanus 250 unit
(Olson, 2006; Solomon, 2001).
Komplikasi
Komplikasi awal setelah fraktur adalah syok yang berakibat fatal dalam beberapa jam
setelah cedera, emboli lemak, yang dapat terjadi dalam 48 jam atau lebih, dan sindrom
kompartemen, yang berakibat kehilangan fungsi ekstremitas permanent jika tidak ditangani segera.
Komplikasi lainnya adalah infeksi, tromboemboli yang dapat menyebabkan kematian
beberapa minggu setelah cedera dan koagulopati intravaskuler diseminata (KID).
Syok hipovolemik atau traumatik, akibat pendarahan (baik kehilangan dara eksterna
maupun tak kelihatan ) dan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak dapat terjadi pada
fraktur ekstremitas, toraks, pelvis,dan vertebra karena tulang merupakan organ yang sangat
vaskuler, maka dapaler terjadi kehilangan darah dalam jumlah yang besar sebagai akibat
trauma,khususnya pada fraktur femur pelvis. Penanganan meliputi mempertahankan volume
darah,mengurangi nyeri yang diderita pasien, memasang pembebatan yang memadai, dan
melindungi pasien dari cedera lebih lanjut.
Sindrom Emboli Lemak. Setelah terjadi fraktur panjang atau pelvis,fraktur multiple,atau
cidera remuk dapat terjadi emboli lemak, khususnya pada dewasa muda 20-30th pria pada saat
terjadi fraktur globula lemat dapat termasuk ke dalam darah karma tekanan sumsum tulang lebih
tinggi dari tekanan kapiler atau karma katekolamin yang di lepaskan oleh reaksi setres pasien akan
memobilitasi asam lemak dan memudahkan terjadiya globula lemak dalam aliran darah. Globula
lemak akan bergabung dengan trombosit membentuk emboli, yang kemudian menyumbat
pembuluh darah kecil yang memasok otak, paru, ginjal dan organ lain awitan dan gejalanya, yang
sangat cepat, dapat terjadi dari beberapa jam sampai satu minggu setelah cidera gambaran khansya
berupa hipoksia, takipnea, takikardia, dan pireksia
Infeksi= Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada
kasus fraktur terbuka, tapi bias juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin
dan plat.
Avaskuler nekrosis Avaskuler nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak
atau terganggu yang bias menyebabkan nekrosis tulang dan di awali dengan adanya Volkman’s
Ischemia
Pencegahan Primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan upaya menghindari terjadinya trauma benturan,
terjatuh atau kecelakaan lainnya. Dalam melakukan aktifitas yang berat atau mobilisasi yang cepat
dilakukan dengan cara hati – hati, memperhatikan pedoman keselamatan dengan memakai alat
pelindung diri.
Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan untuk mengurangi akibat – akibat yang lebih serius dari
terjadinya fraktur dengan memberikan pertolongan pertama yang tepat dan terampil pada
penderita. Mengangkat penderita dengan posisi yang benar agar tidak memperparah bagian tubuh
yang terkena fraktur untuk selanjutnya dilakukan pengobatan. Pemeriksaan klinis dilakukan untuk
melihat bentuk dan keparahan tulang yang patah. Pemeriksaan dengan foto radiologis sangat
membantu untuk mengetahui bagian tulang yang patah yang tidak terlihat dari luar. Pengobatan
yang dilakukan dapat berupa traksi, pembidaian dengan gips atau dengan fiksasi internal maupun
eksternal.
Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier pada penderita fraktur yang bertujuan untuk mengurangi terjadinya komplikasi
yang lebih berat dan memberikan tindakan pemulihan yang tepat untuk menghindari atau
mengurangi kecacatan. Pengobatan yang dilakukan disesuaikan dengan jenis dan beratnya fraktur
dengan tindakan operatif dan rehabilitasi. Rehabilitasi medis diupayakan untuk mengembalikan
fungsi tubuh untuk dapat kembali melakukan mobilisasi seperti biasanya. Penderita fraktur yang
telah mendapat pengobatan atau tindakan operatif, memerlukan latihan fungsional perlahan untuk
mengembalikan fungsi gerakan dari tulang yang patah. Upaya rehabilitasi dengan
mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan mempertahankan reduksi dan imobilisasi antara
lain meminimalkan bengkak, memantau status neurovaskuler, mengontrol ansietas dan nyeri,
latihan dan pengaturan otot, partisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari, dan melakukan aktivitas
ringan secara bertahap.
11. Mahasiswa mampu melakukan perencanaan program rehabilitasi pasien pasca trauma
muskuloskeletal
Follow up penderita Anda perlu memperhatikan keluhan, kondisi umum penderita
(anemis, kurang protein dsb.) dan pemeriksaan daerah fraktur tersebut yaitu luka operasi (tanda-
tanda infeksi, wound breakdown dsb. ), aligment dari tulang tersebut, temperatur daerah operasi,
sakit tekan, gerakan abnormal pada daerah itu, dan gerakan sendi-sendi di dekat tulang tersebut.
Pemeriksaan X-ray dillakukan pasca operasi, pada minggu ke 4, 8, 12 untuk menilai
pembentukan kalus. Kemudian penderita diberikan resep obat untuk mencukupi kebutuhan
penyembuhan fraktur dan kerusakan jaringan lunak disekitamya akibat trauma maupun tindakan
pembedahan. Penderita diperintahkan melakukan latihan aktif sendi-sendi disekitar itu guna
menjaga lingkup gerak sendi dan mencegah terjadi atrofi otot. Penentuan jalan menggunakan
tungkai bawah yang mengalami fraktur disesuaikan masa proses penyembuhan fraktur itu
sendiri. Hal-nal yang sangat spesialistik sebaiknya disarankan berkonsultasi ke ahli bedah
orthopaedi atau mengirimkan penderita ke ahli tersebut.
Pada penderitan yang dilakukan reposisi dan gip follow-upnya hampir sama.
Perbedaannya yaitu adanya keutuhan gip yang terpasang dan adanya sendi-sendi yang terfiksir
oleh gip, disamping memfokuskan perhatian tempat penonjolan tulang dengan kemungkinan
terjadi kulit yang lecet akibat penekanan gip dan sindrom kompertemen. Pembukaan gip juga
didasarkan masa penyembuhan fraktur.
Pada penderita traksi sebagai terapi perlu dinilai beban traksi yang dibutuhkan guna
mencapai panjang ideal tulang tersebut, terutama pada tungkai bawah. Perbedaan 1 - 2 cm
dianggap memadai / dapat diterima. Penilaian alignmen, tanpa rotasi, kondisi kulit tempat
masuknya steinman pin demikian traksi kulit harus dinilai secara kontinu. Pada traksi balan
penderita dapat melakukan latihan aktif sendi. Penghentian traksi sesuai dengan tujuannya. Agar
tidak lama di rumah sakit, Anda dapat melepas traksi tersebut dan diganti dengan gip atau brace
setelah union klinis tercapai
12. Mahasiswa mengetahui bagaimana melakukan rujukan pasien ke ahlinya
13. Mahasiswa mampu melakukan perencanaan transportasi untuk mendapatkan
definitive treatment.
Terminologi / Sinerai
1. Fraktur adalah terputusnya diskontinuitas struktur tulang.
2. Fraktur torus (buckle) adalah fraktur yang mengelilingi tulang itu tapi tidak komplit.
Biasanya di daerah metafisis radius distal.
3. Fraktur greenstick adalah fraktur inkomplit pada satu sisi kortek saja dan biasanya pada
anak-anak karena tulangnya masih fleksibel
4. Fraktur kominutif adalah fraktur yang terdiri dari tiga atau lebih fragmen.
5. Fraktur oblik yaitu fraktur dengan garis fraktur membentuk sudut 30 derajat atau lebih
dengan aksis panjang tulang
6. Fraktur spiral adalah fraktur yang disebabkan oleh trauma rotasi sehingga garis fraktumya
memutar.
7. Fraktur transversal yaitu fraktur yang mempunyai garis fraktur membentuk sudut kurang
dari 30 derajat.
8. Penyambungan primer (primary bone healing) adalah penyambungan ujung-ujung fragmen
terjadi akibat hasil reposisi yang anatomis dengan fiksasi kaku.
9. Penyambungan sekunder (secondary bone healing) adalah proses penyambungan fraktur
dengan pembentukan kalus dan diakhiri dengan proses remodeling.
10. Pusat pertumbuhan (Physis / epiphyseal plate) adalah daerah pertumbuhan tulang pada
tulang immature