Anda di halaman 1dari 16

Latar Belakang

Kegiatan pembangunan pada zaman modern baik di daerah kota maupun daerah pedesaan berkembang
secara pesat, hal ini terjadi seiring dengan perkembangan populasi manusia, ekonomi, dan teknologi.
Pembangunan tersebut dapat meliputi konstruksi jembatan, bangunan bertingkat, jalan, maupun
terowongan. Setiap pekerjaan pembangunan membutuhkan jenis bahan bangunan yang berkualitas
agar suatu konstruksi dapat bertahan dalam jangka waktu panjang dan tidak terjadi kerusakan yang
dapat merugikan pihak yang membangun dan menggunakan infrastruktur tersebut.

Peran ahli geologi sangat dibuthkan untuk melakukan eksplorasi sumberdaya batuan yang bernilai
ekonomis dan memiliki kualitas yang baik untuk digunakan sebagai bahan bangunan, sehinga
dibutuhkan pemahaman yang baik udntuk dapat melakukan hal tersebut.

Daerah pegunungan seatan terdiri atas beberapa jeis litologi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan
bangunan, seperti batupasir, zeolite, batugamping batuanbeku, dan pasir. Salah satu daerah yang
memiliki sumberdaya batuan yang dapat dimanfaatkan sebagai sebagai pertambangan batuan adalah
breksi tufan dan batupasir formasi kebobutak pada daerah daerah wa……batuan tersebut telah
dieksploitasi dan digunakan sebagai batu temple untuk irigasi.

Faktor geologi dan keteknikan tidak diperhatikan dalam kegiatan ekspolitasi batuan pada daerah
tersebut. Penelitian untuk menentukan karakteristik petrologi dan sifat keteknikan pada batuan di
daerah tersebut perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat kelayakan dan pemanfaatan sebagai bahan
bangunan.

Perumusan masalah

Bagaimanakah karakteristik petrologi, karakteristik sifat keteknikan sumberdaya breksi tufan dan…. Pada
daerah penilitan, serta bagimana sifat keteknikan batuan untuk digunakan sebagai bahan bangunan.

Manfaat penilitan

Penelitian mengenai petrologi dan sifat keteknikan batuan pada breksi daerah penelitian dapat
digunakan untuk memberikan informasi mengenai karakteristik petrologi , sifat keteknikan sumberdaya
bresi tufan.

Batasan masalah

Penelitian yang akan dilakukan adalah mengenai petrologi fan sifat ketikan bresi tufan dan batu pasir
pada daerah penelitian. Penelitian yang akan dilaksanakan dibatasi pada

a. Kandungan mineralogy dan tekstur batuan yang diamati secara petrografi untuk menentukan
proses pembentukan batuan
b. Sifat keteknikan batuan yang diteliti terbatas pada analisis kekutan batuan, berat jenis, berat
batuan dalam keadaaan kering dan aus dan serapan air
c. Pengaruh tekstur dan komposisi mineral penyusun batuan terhadap sifat keteknikan

Tujuan penelitian

Menentukan petrogenisis breksi tuan pada daerah penilitaian

Menentukan karakteristik sifat keteknikan batuan di daerah penelitian dan pemanfaatnnya

SIFAT KETEKNIKAN BATUAN

Mekanika batuan menurut US national Committee On Rock Mechanics 1984 dalam rai dkk 2014
adalah ilmu yang mempelajari perilaku batuan yang berkaitan dengan gaya yang dialami batuan
tersebut pada lingkungannya. Sedangkan menuurt Hudson dan Harrison 1990 dalam rai dkk 2014
adalah ilmu yang mempelajari respon batuan yang mengalami gaya, baik gaya yang bersifat alami
seperti struktur geologi maupun gaya rekayasa seperti pekerjaan konstruksi. Terdapat sifat
terntentu yang dimiliki oleh batuan dalam kaitaannya dengan ilmu mekanika batuan, sifat tersebut
memiliki parameter-parameter terentu yang dapat ditentukan di lapangan maupun di laboratorium
rai 2014. Parameter dalam sifat fisik batuan tersebut dapat diukur menggunakan pengujian tanpa
merusak maupun pengujian daengan merusak batuan hingga hancur. Sifat fisik batuan terdiri dari
serapan air, densitas, berat jenis dan perubahan volume dalam keadaan kering dan basah.

Sifat batuan yang kedua adalah sifat mekanika batuan , yaitu sifat yang berhubungan dengan
property dai batuan yang dibutuhkan khusu untuk menntukan komponen dari batuan yang
berhubungan dengan pekerjaan keteknikan. Properti batuan yang berkaitan dengan mekanika
batuan diantaranya kekuatan dari batuan dan ketahanan aus.

Kuat tekan batuan dan pengujiannya

Menurut goodman 1989, terdapat beberapa jenis pengujian kuat tekan batuan yang dilakukan
untuk mengetahui nilai dari kekuatan suatu batuan, salah satu metode yang paling umum yang
digunakan dalah uniaxial compressive strength test (uji kuat tekan uniaksial)

Pengujian kuat tekan uniaksial ini dapat menentukan hasil yang berbeda, karena memiliki prosedur
yang beragam. Pengujian dilakukan dengan menekan batuan dari satu arah, sampel batuan tersebut
memiliki bentuk silinder dengan perbandingan panjng dan lebar 2 hingga 2,5

Menurut rai dkk 2014, dalam pengujian kuat tekan uniaksial terdapat tiga jeis pecah abtuan, yaitu
shear failure yang terjadi ketika rekahan tunggal atau bebrapa rekahan mepropagasi ke seulurh
rekahan batuan dan terjadi pergeseran seprangjang rekahan yang terbentuk. Kedua dalah azial
splitting terbentuk jika rekahan yang terjadi searah atau parallel dengan arah tegangan yang
diberikan. Kondisi ini menunujukan bawa ikatan butir batuan akan runtuh jika terkena tarikan
(strain). Terakhir adalah multiple cracking yaitu rekahan terbentuk pada bidang yang tidak beraturan
dan merupakankombinasi dari dua jenis rekahan sebelumnya.

Pada gambar dibawah ditunjkan bebrapa klasifikasi yang digunakan dalam memntetukan kekutan
batuan yang dididaat dar niali uji kuat tekan dengan metode uji kuat tekan uniaxial

Klasifikasi nialai kuat tekan batuan (dalam Bieniawski,1976)

Factor-FAKTOR yang mempengaruhi sifat mekanika batuan

sIFAT keteknikan suatu batuan erat hubungannya dengan sifat fisika, sifat mekanika maupun tingkat
pelapkan dari batan tersebut. Sifat fisika dan mekanika yang dilaksakan dijelaskan pada table II.4.
Dalam langer dan knepper Jr 1995, dijelaskan komponen-komponen batuan yang berhubungan
dengan sifat fisika dan tingkat pelapukann.

a. Sifat Pelapukan
Terbentuk dari proses geologi yang dialami oleh batuan tersebut. Factor yang diperhatiakn
dalam mengetahui sifat fisika batuan diantaranta adalah
1. Ukuran partikel serta distribusinya, batuan dengan sifat keteknikan yang bai umumnya
memiliki ukuran butir yang seragam. Namun,batuan dengan ukuran butir yang tidak
seragram dapat dijadikan bahan bangunan yang baik.
2. Bentuk partikel, bentuk partikel menenurut Smith dan collis 1993 dalam langer dan knepper
jr 1995, dikelompokan seperti pada table ii.3
Bentuk partikel Deskripsi
Round Terbentuk dari hasil gesekan selama proses
transportasi batuan
Irregular Memiliki bentuk tidak beraturan, sehingga
terbentuk akibat gesekan dan memiliki sisi
yang rounded
Angular Bentuk sisi yang cukup tajam dan terbentuk
dari gesekan dengan permukaan kasar pada
lapisan planar
Flaky Salah satu dimensinya lebih kecil dari dua
dimensi lainnya
Elongated Salah satu dimensinya lebih besar drapidada
dua dimensi lainya
Flaky dan elongated Seluruh tiga dimensina memiliki ukuran yang
berbeda

3. Porositas, merupakan presentasi pori dari total volume batuan, porositas data berpengaruh
pada kekuatan dan elastisitas suatu bahan bangunan dan dapat mempengaruhi
permeabilitas , daya serap dan ketahanan.
4. Specific gravity, dapat menjadi indicator yang tepat untuk mementukan kualitas bahan
bangunan . tingkat specific gravity yang rendah mengindikasikan batuan yang lemah atau
mudah menyerap air dan berpori. Sehingga bahan bangunan yang baik seharusnya memiliki
nilai specific gravity yang tingg
5. Serapan air, factor ini data diketahui dari perunbahan berat batuan dalam kedaaan basah
dan kering. Batuan yang dapat mdigunkan sebagai bahan bangunan memiliki perubahan
volume yang sangat kecil atau bhakan tidak mengalami perubhan volume saat kedaan
kering dan basah. Pemekaran dan penyusutan dapat menyebabkan rekahan pada saat
batuan dijadikan bahan bangunan
b. Sifat mekanika batuan
1. Ketahanan aus, merupakan kemampuan batuan untuk bertahan terhadap gerusan oleh
material lain. Ketahanan aus seuatu batuan di tentukan material penyusun dan memliki
satuan mm/menit
2. Kekutan, batuan yang memiliki kekuatan buruk maka menghasilakn bahan bangunan yang
buruk pula. Hal ini disebabkan karena batuan yang lemah akan mudah terpecahkan.
Sifat batuan Pengujian sifat Jenis pengujian
keteknikan
Sifat fisika batuan Ukuran pertikel dan Ya Petrografi
distribusi
Bentuk partikel Ya Petrografi
Porositas Tidak -
Specific gravity Ya Ui serapan air
Serapan air Ya Uji serapan air

Sifat mekanika Ketahanan aus Ya Uji ketahanan aus


batuan Kekuatan Ya Uji kuat tekan
uniaksial
c. Keberadaan kontaminan dalam batuan
Keberadaan kontaminan ataupun mineral pengotor dalam umlah berlebih dapat mempengaruhi
kualitas dari batuan atersebut, diantaranya adalah mengurangi kekuatan dan ketahan batuan,
mempengaruhi kualitas ikatan antara semen dan agregat, dan menghambat hidrasi dari semen.
Contoh dari kontaminan , material organic, klorida, zat kimia, partikel terlarutkan.
d. Tingkat pelapukan batuan
Menurut price 2009, pelapuka adalah perubahan kondisi yang terjadi pada batuan yang
disebabkan proses eksogenik. Pelapukan dari batuan yang disebakan oleh proses eksogenik
Pelapukan dari batuan induk atau bongkah akan mengurangi kekuatan batuan serta sifat fisik
lainnyaterutama pada bagian permukaan. Pada table 2.5 dijelakan klasifikasi pelapukan batuan
dan pengaruhnya terhadap kinerja pada batuan menurut little (1969) dalam dearman 1976
Kelas Tingkat Pelapukan Kenampakan pada Keterangan
batuan
1 Fresh Tidak ada tanda Agregat atau bahan bangunan tidak
pelapukan yang dapat terpengaruh oleh pelapukan.
diamati Kandungan mineral pada batuan
Nampak segar
2 Slightly Weathered Perubahan warna yang Bahan Bangunan secara signifikan
menunjukan pelapukan terpengaruh oleh mineral yang telah
dan ketidak menerusan lapuk.
pada permukaan. Kekutan dan tingkat abrasi batuan
Batuan sedikit lebih berkurang . Muncul mineral alterasi dan
lemah daripada batuan retakan berukuran mikro
segar
3 Moderately Hampir dari setengah Bahan Bangunan secara signifikan
Weathered bagian dari batuan terpengaruh oleh mineral yang telah
terurai menjadi tanah. lapuk. Karakteristik bunyi pada batuan
Batuan segar dari inti berubah. Kehadiran mineral alterasi dan
mulai terlihat. rekan berukuran mikro dalam jumlah
yang banyak.
4 Highly Weathered Sebagian besar batuan Kurang layak dijadikan bahan bangunan
terurai menjadi tanah.
Batuan segar dari bagian
ini mulai terlihat
5 Completely Seluruh batuan telah Tidak layak digunkan sebagai bahan
Weathered terurai menjadi tanah. bangunan
Struktur asli batuan
mulai terlihat
6. Residual soil Seluruh batuan telah Tidak layak digunakan sebagai bahan
terubahkan menjadi banguan
tanah. Struktur ada
batuan dan material
penyusun telah hilang.
Terjadi perubahan
volume yang besar,
namun tanah belum
berpindah

Standarisai pemnfaatan batuan sebagai bahan bangunan


Pemanfaatan batuan sebagai bahan bangunan telah diatur standardnya baik secara
internasional maupun secara nasional, badan yang menerbitkan suatu standard di Indonesia
dalah badan stadarisai nasional (bsn), standard yang diterbitkan oleh badan tersebut disebut
dengan SNI

Terdapat beberrapa klasifikasi yang berkaitan dengan pengujian keteknikan batuan


untuk dimanfaatkan sebagi bahan bangunan, klasifikasi tersebut adalah
1. SNI 03-0394-1989, mutu dan cara uji batu alam untuk bahan bangunan standarisai ini
memilputi definisi, syrat mutu dan cara uji batuan alam untuk bahan bangunan yang
dipergunakan sebagai pondasi, penutup lantai, batu hias atau batu temple, serta batu
tonggak
Berdasarkan SNI yang berhubungan dengan pengujian sifat keteknikan batuan diatas, maka
suatu batuan yang di uji dapat ditentukan aapakah memenuhi standard yang ditentukan
oleh SNI, sehingga batuan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai agregat yang digunakan
untuk pekerjaan konstruksi seperti:
1. Pondasi bangunan
2. Pelapis dari pondasi bangunan dan lapis permukaan
3. Batu hias, penutup lantai atau trotoar
4. Bahan plester dan campuran semen

Faktor factor yang mempengaruhi sifat mekanik batuan

a. Karakteristik intrnsik batuan


Beberapa ahli mengemukakan bahwa sifat mekanik suatu mineral sangat ditententukan
oleh karakteristik intrinsic yaitu sifat sifat fisiknya. Attewell dan Farmer 1976
mengemukakan bahwa karakteristik batuan dapat mempengaruhi kekuatannya yang secara
ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Porositas dan densitas
Porositas berpengaruh terhadap besarnya gaya antar partikrl yang tergantung luas
kontak antar partikelnya. Brotodiharjo 1982 mengemukakan bahwa kuat tekan
umumnya akan berkurang dengan bertambahnya porositas. Hubungan anatara
kekuatan dan densitas dapat dilihat pada gambar

Uniaxial compressive strength N mm-2 ----- Bulk density Mg m-3

Hubungan antara kekuatan dan bulk density (attewell & farmer, 1976)
2. Ukuran dan Bentuk Butir
Luas kontak interangular akan mengikat dengan berkurangnya ukuran butir rata-rata
dan berkurangnya bentuk menyudutnya sehinnga mempengaruhi besarnya gaya
pengikat antar partikel
3. Mineralogi
Dalam batuan sedimen, kekuatan batuan sangat ditentukan oleh mineral pengikat antar
butirannya (semen). Meriam, dkk dalam Attewell& farmer 1976 mengemukakan bahwa
kuat tarik batuan akan meningkat secara proporsional dengan bertambahnya
kandungan kuarsa pada batuan granitic.
Hubungan ini juga di temukan pada bayuan sedimen seperti batupasir dan batulanau.
Tetapi secara umum belum dapat disimpulkan hubungan secara pasti antara kekuatan
batuan dengan mineralogy atau pertrologinya.
4. Kandungan Air
Cosgrove & Price 1990 mengemukakan bahwa kehadiran air dalam jumlah yang cukup
besar dalam pori-pori batuan mengakibatkan terjadinya kelelahan yang dapat
menurunkan energy permukaan sehingga akan mengurangi kekuatan batuan.
Brotodiharjo 1982 juga menegaskan hal ini denhan mengemukaan bahwa penjenuhan
contoh dalam air ternayata mengurangi harga kuat tekan batuan dibandingkan batuan
kering dalam temperature kamar.
5. Faktor External
Faktor eksternal yang dapat berpengaruh terhadap kekuatan batuan adalah kecepatan
penekanan (rate of loading). JIka kecepatan penekanan meningkat maka akan terjadi
peningkatan kekutan dan modulus keknyalan sehingga regangan pada runtuhan akan
menurun (Stagg&Zienkiewicz,1968) ISRM (1972) dalam Brontodiharjo 1982),
menyarankan ntuk menggunakan batas kecepatan antara 0,5-1,0 Mpa/detik , sedangkan
spesifikasi ASTM menyebutkan bahwa kecepatan penekanan standard berkisar 0,7
Nmm-2s-1
6. Geometri Sampel
Diameter sampel untuk berbentuk silinder juga berpengaruh terhadap kuat tekan
batuan. Pada umumnya harga kuat tekan sampel berkurang karena besar diameternya
(Brotodiharjo,1982) ISRM menetapkan standard diameter contoh sebesar +/- 54mm .
Panjang sampel juga mempengaruhi nilai kuat tekannya. Semakin panjang sampel maka
semakin berkurang harga kuat tekannya.
7. Pelapukan
Kekuatan atau daya dukung batuan dipengaruhi oleh tingkat pelapukannya. Pada
batuan yang mengalami pelapukan, kekuatan ikatan antar butir dari partikel-partikel
batuan cenderung berkurang. Johnson & De Graff (1988) mengemukanan bahwa factor
pelapukan kimia atau alterasi batuan dapat menerunkan nilai compressive strenghth .
Hal ini disebakan oleh adanya perubahan sifat fisis batuan tersebut.
8. Diskontinuitas
Dalam sebuah pekerjaan kontruksi keteknikan, kekuatan dan defoormabilitas batuan
yang terihat adalah kekuatan dan deformabilitas seluruh massa batuan, bukan hanya
sifat indeks dari sampel batuan intact saja(Johnson&De graff, 1988) . Sebuah masa
batuan lebih bersifat heterogen dan anisotropic dibandingkan batuan intact.
Karakteristik anisotropic yang umum dijumpai adalah adanya diskontinuitas fisik batuan
berupa bidang perlapisan, kekar, sesar dan foliasi. Banyak ahli beranggapan bahwa
kekuatan massa batuan lebih menrupakan fungus dari diskontinuitas masssa batuan dari
pada suatu batuan intact.
Suatu diskontinuitas dicirikan oleh adannya orientasi , spasi, kontinuitas, krateristik
permukaan diskontinuitas dan jarak antar permukaan diskontinuitas serta tebal dan
jenis material pengisi (bila ada). Kekuatan massa batuan yang banyak dipengaruhi oleh
tegangan geser pada permukaan diskontinuitas umunnya sangat tergantung pada factor
factor tersebut diatas.
Spasi dikontinuitas mempengaruhi kekuatan masa batuan dan kualitasnya.
Dikontinuitas yang spasinya sangat rapat akan mempengaruhi kekuatan massa batuan,
sebaliknya bila spasi diskontinuitas pada batuan relative besar maka perilaku massa
batuan akan mendekati sifat batuan intactnya (Johnson&De Graff)

Klasifikasi spasi bidang diskontinuitas

Description Spacing mm Joint per meter


Very close spacing <60 >20
Close spacing 60-200 3-20
Moderate spacing 200-600 3-1
Wide Spacing 600-2000 1-1/3
Very wide spacing >2000 <1/3

Faktor yang mempengaruhi karakteristik permukaan diskontinuitas adalah undulasi


(waviness) , bidang diskontinitas, kekrasan (roughness) permukaan dalam skala yang
lebih kecil dan sifat material yang mengisi ruang antar permukaan diskontinuitas
tersebut (john de graff) Waviness dan kekerasan mempunyai pengaruh cukup besar
terhadap kekutan massa batuan terutama menyangkut kesatbilan lereng.
Ruang antar bidang diskontinuitas dapat kosng, terisi sebagian atau terisi sepenuhnya
oleh material-material ternetnu. Material ini dapat mempengaruhi kekuatan batuan.
Dengan terdapatnya material pengisi pada bidang dikontinuitas terjadi pengurangan
kekuatan geser dibandingkan bidang diskontinuitas yang kosong apabila material
pengisinya berupa material dengan sudut gesek dalam yang rendah (lempung,pasir atau
material pengisian deposional, padatan dan pelapukan) Kekuatan massa batuan dapat
bertambah apabila pengisi bidang diskontinuitas itu berupa mineral dengan kekuatan
yang sama dengan batuannya (jhon de graff)

Geologi daerah penelitiaan


Secara regional daerah penelitian tekah dipetakan oleh Bothe 1929, van bemmelen
(1949) dan Toha dkk (1994) serta raharjo dan sukandarumidi ( 1977) dalam penyusunan
peta geologi lembar yogyakarta. Van bemmelen 1949 mengemukakan bhawa daerah
imogiri dan sekitarnya merupakan bagian dari pegunungan selatan. Dari penelitian
bothe (1929) daerah pegunungan selatan bagian barat secara umum tersusun oleh
batuan yang hamper seluruhnya terbentuk oeh pengendapan gaya berat ( gravity
depositional process) setebal 4000m yang hamper seluruhnya mempunyai kemiringan
kerarah selatan. Selanjutnya dari penelitian merupakan bagian dari pegunungan selatan
dengan kondisi stratigrafinya merupakan bagian dari formasi semilir. Secara umum,
formasi ini tersusun atas batupasir dan batu lanau yang bersifat tufan,ringan dank dang-
kadang dijumpai selaan breksi. Fragmen yang membentuk breksi maupun batupasir,
pada umumnya berupa batuapung yang bersifat asam. Kenampakan di lapangan
menunjukan struktur perlapisan ang baik dan banyak dijumpai struktur turbidit.
Kandungan fosil sangat langka karena pengendapan terjadi sangat secapat da berada
pada lingkungan yang sanagt dalam. Umur pengendapan diperkirakan miosen awal.
Formasi ini diendapkan secara tidak selaras diatas anggota butak dari formasi kebo-
butak.
Berdasarkan penelitian Adhiyaksawan 1999 disebutkan bahwa daerah sindet dan
sekitarnya tersusun oleh morfologi berupa perbukitan bergelombang structural dan
satuan allubial. SAtuan perbukitan bergelombang structural dengan relief yang cukup
terjal dan bentuk lereng scara umum berupa cekungan dan cembungan yang cukup
tejal. Litologi penyusun satuan ini yaitu berupabatupasir dan breksi tuff dengan
dominasi breski tuff. Tingkat pelapukan tergolong sedang-tinggi. Proses eksogenik yang
bekerja berupa erosi, pelapukan, transportasi, dan sedimentasi. SAtuan dataran alluvial
daengan relef yang landau dan lebah berbentuk U. Bentuk lereng satuan morfologi ini
secara umum merupakan bentukan datar dan cenderung lurus.
Litologi penyusun satuan ini yaitu endapan alluvial berukakuran pasir sampai lempung
dengan etebalan bebrapa meter dengan tingkat pelapukan yang cukup tinggi. Endapan
alluvial berukuran pasir sampai lempung tersebut berasal dari abu vulkanik gunung
merapi yang tertransport melalui sungai dan hasil endapan kolovial batupasir tufan dari
satuan perbukitan bergelombang di sekitarnya. Bentukan morfologi pada satuan ini
dipengaruhi oleh control proses eksogenik yang kuat berupa erosi, pelapukan dan
sedimentasi.Sedangkan struktur geologi hasil proses endogenic yang tampak hanya
berupa kekar yang dijumpai setempat-setempat.
Berdasarkan ciri-ciri fisik litologi yang ada dilapangan, didukung dengan penamatan
petrografi maka batuan yang ada didaerah penlitian dari urutan tua ke muda yaitu
satuan breksi dab satuan pasir lempungan. Satuan breksi tuff dengan litologi berupa
breksi tuff berwarna segar abu-abu, warna alapuk abu-abu krem, struktur massif, sortasi
…….. tersusun okeg fragmen batu apung berwarna putih abu-abu, ukuran lapilli (4-32)
dengan matrik.
Struktur geologi yang terdapat pada daerah penelitian berupa kekar. Arah utama kekar
dominan yang terbentuk adalah barat daya-timu laut dan baratlau-tenggra. Kekar yang
terdapat pada daearah penelitian memiliki kerapatan yang berbeda-beda dengan
penyebaran yang tidak merata PAda endapan pasir sampai lemung dan lempung-
bongkah, kekar-kekar tidak di dijumpai

Draft

1. Kerapatan dan berat satuan


Kerapatan dan berat satuan ini merupaan sifat dasar (fundamental properties) yang
mempengaruhi sifat keteknikan suatu material. Baik kerapatan maupun berat
satuan , keduanya dihitung dalam keadaan bsah dan dalam keadaan kering
Dalam kondisi kering dan basah kedua jenis bauan tersebut memiliki nilai kerapatan
serata satuan berat yang berbeda hal ini dikarenakan Breksi tuff mempunyai ukuran
butir yang bervariasi dengan sortasi butir yang buruk sedangkan batu pasir
mempunyai ukuran butir yang relative segaram yang tersortir dengan baik.
Material-material dengan ukuran butir bervariasi dan sortasi buruk memiliki
kerapatan yang tinggi karena fraksi-fraksi yang lebih kecil dapat mengisi rongga-
rongga diantara butiran yang lebih besar. Selaindisebabkan oleh factor keseragaman
butirannya juga disebabkan oleh pengaruh berat massa atau partikel keseragaman
butirannya juga disebabkan oleh pengaruh dari berat massa atau partikel komponen
penyusunnya. Pada batupasir tufan, tuff yang terkandung didalamnya tersebar
secara merata pada seluruh bagian, pada breksi tuff tdak tersebar secara merata
melainkan hanya sebagai fragmen penyusun breksi dengan matrik berupa batupasir
berukuran sedang. Hal inilah ang meyebabkan reksi tuff mepunyai nilai kerapatan
dan berat satuan yang lebih besar.
2. Berat Jenis
Menurut Krynine & judd 1957 dan good man 1989 bahwa nilai berat jenis padatan
dari suatu batuan ditentukan oleh rata-rata berat jenis butiran ataupun mineral-
mineralnya penyusunya. Beerat jenis suatu mineral selain ditentukan oleh berat
jenis rata-rata penyusnya juga dipengaruhi oleh kemungkinan adanya ruang pori-
pori antar butirannya.
Hal ini dimunkinkan ditentukan oleh adanya ruang pori-pori antar butir, karena
berat jenis selain ditentukan oleh berat jenis rata-rata mineral penyusun juga
ditentukan oleh adanya ruang pori-pori antar butirannya
3. Porositas dan Angka Pori
Dari nilai porositas dan angka pori untuk kedua jenis sampel batuan tersebut diatas
terlihat bahwa breski tuff mempunyai nilai porositas dan angka pori yang kebih
rendah dibandingkan batupasir tufan , Breksi tuf merupakan batuan dsedimen
dengan ukuran butir yang bervariasi dan tersemntasi dengan baik. Hal ini
memberikan pengepakan yang rapat dan nilai porositas yang rendag pada breksi
tuff tersebut, sedangkan batupasir mempunyai ukuran butir yang relative seragam
dan sedikit mengandung material yang realtif seragam dan sedikit mengandung
material penyemen yang ditunjukan oleh sifanya yang rapuh. Hal ini cendurng
memberikan pengepakan yang longgar dan jumlah pori yang tinggi.
Berbeda dengan nilai kerapatan, nilai porositas terlihat cenderung berkurang. Hal ini
disebakan karena sekamin rapatnya rongga antar butiran akibat pembebanan dan
juga adanya intensitas terhadap pelapukan batuan yang semakin berkurang.
4. Keausan
Keausan dilihat dari nilai keausan yang rendah , sampel mempunyai ciri fisik batuan
yang ketahannya terhdap gerusan cukup tinggi yaitu mempunyai nilai kerapatan dan
berat satuan yang tinggi, berat jenis yang tinggi,porositas,angka pori dan serapan air
yang rendah pula. Dengan demikian batuan ini relative mempunyai iakan butir yag
sangat kuat karena batuan yang bersifat massif dan padat.
5. Serapan Air
Sifat mekanik
Dalam pembahsan ini sifat mekanik yang akan dibahas adalah kuat tekan batuan
(UCS) . Sifat mekank ini merupakan sifat dasar yang perlu diketahui untuk
mendaptkan informasi geoteknis batuan.
Pengujian lab berupa uji kuat tekan uniaxial ini dilakukan dengan tujuan umtuk
,emdaptkan informasi mengenai geomekanika batuan. Selain itu data tersebut juga
memeperlihatkankapasitas batuan untuk mengalami regangan selama adanya
pembebanan. HAsil pengujian kuat tekan batuan sebelum mapun setelah terkoreksi
secara rinci dapat dilihat pada atbel. Hasil pengujian kuat tekan batuan menunjukan
nilai yang bervariasi. Besar kecilnya nilai kuat tekan inisanagat dipengaruhi olehsifat
fisik batuan itu sendiri, seerti pengaruh factor mineralogy, ukuran butir, serta
porositas. Selain adanya pengarih sifat fisik batuan, nilai kuat tekan dapat
dipengaruhi oleh factor lingkungan seperti kadar air batuannya, jenis cairan dan
temepratur. Dari segi factor mineralogy menunjukan bahwa batuanbatuan yang
mengandung kuarsa sebagai bahan penyemenan merupakan yang palin kuat
diantara batuan sedimen, disusul oleh kalsit dan mineral besi dan yang paling lemah
adalahmineral lempung, Umumnya makin tinggi kadar kuarsanya, makin tinggi pula
nilai kuat tekannya (Price,1996) Bila dilihat dari segi ukuran butirnya , mka kecil
ukuran butirnya semakin tinggi nilai kuat tekannya dan dari nilai porositas batuan
maka makin kecil nilai kuat tekannya. (Price , 1966). Kadar air mempunyai pengaruh
yang bervariasi terhadap hasil pengujian kuta tekan (Brotodiharjo,1982) menuliskan
bjawa penyentuhan sampel batuan dalam air ternyata mengurangi harga kuat tekan
dibandingkan denan kuat tekan sampel batuan kering dalam temperature kamar.
Jenis carian yang digunakan untuk kuat tekan sampel untuk menjenuhkan sampel
batuan juga akan mempengaruhi niali kuat tekan batuan tersebut. Pengaruh
temperature terhadap hasil pengujian kuat tekan adalah semakin tinggi pengeringan
sampel ma niali kuat tekan semakin tinggi (Simpson&Fergus)dalam brotodiharjo
1982

BATUAN PIROKLASTIK

Batuan piroklastik merupakan batuan yang terbentuk dari erupsi vulkanik, fragmen
batuan piroklastik dapat berasal dari erupsi maupun material erupsi yang suda
mengalami transport. Saat magma bergerak menuju permukaan, magma dapat
mengalami kontak dengan air, sehingga mengalami erupsi yang menghasilkan
fragmen hidroklastik (fisher dan scminke,1984) Fragmen batuan piroklastik dapat
terbentuk sebagai fallout deposit atau endapan piroklastik yang mengalami
transport oleh udara maupun air dan langsung jatuh ke permukaan, serta
pyroclastic flow atau deposit yang mengalir di permukaan baik didaerat maupun di
lautan. Proses pembentukan batuan piroklastik oleh hasil erupsi gunung api
eksplosif terlihat dalam illusrtrasi gambar….

Komponen batuan piroklastik


Terdapat beberapa istilah yang harus diketahui dalam mempelajari batuan
piroklastik, istilah vulkaniklastik yang dikenal Fisher 1961 dalam fisher Schimnke
1984, menjelaskan bahwa vulkanikklastik adalah seluruh material vulkanik yang
terbentuk dari proses fragmentasi, yang mengalami tranportasi oleh agen
transportasi dan kemudian terdeposisi pada lingkungan yang berbeda dan dapat
bercampr dengan fragmen non vulkanik. Kemudian teprhra yang merupakan
akumulasi piroklastik tanpa memperlihatkan ukuran butirnya, tephra disebut juga
sebagai material piroklastik.
Batuan piroklastik utamanya disusun oleh fragmen vulkanik dan abu (ash) vulkanik.
Kehadiran fragmen pada batuan piroklastik dapat berasal dari sumber yang berbeda
dan memiliki tipe yang berbeda pula. Menurut fisher dan Schimnke 1984, jenis dari
fragmen vulkanik adalah epiklastik yaitu hasil erosi dan pelapukan batuan vulkanik
yang telah ada sebelumnya, autoklastik yaitu fragmentasu dari hasil perpindahan
materil vulkanik naupun letusan dari gas yang terkandung dalam lava, serta
allokalastik yaitu batuan vulkanik yang telah terbentuk sebelumnya dan kemudian
tersingkap kembali ke permukaan akibat proses geologi, proses ini dapat terjadi
dengan atau tanpa instrusi magma.
Abu vulkanik juga hadir dalam batuan piroklastik dalam jenis yang berbeda,
komponen penyusun abu vulkanik dapat terdiri dari vitric yang merupakan gelas
vulkanik dengan komposisi utama adalah silica SIO2 komponen gelas terdiri atas
gelembung-gelembung yang terbentuk dari magma asam, kemudian crystal yang
terdiri atas rock forming mineral seperti kuarsa, biotit, plagioklas, dan K-feldspar,
olivine, piroksen, dan amphibole,keberadaan mineral yang memiliki batas Kristal
euhedral dalam batuan piroklastik dan material sedimen (ross dkk.,1928 dalam
fisher dan schimnke 1984) dan partikel litik yang berasal dari material yang
terlontarkan oleh gunung api saat mengalami erupsi dan dapat berbentuk juvenile
atau litik yang terbentuk langsung dari eruspi magma dan terdiri atas partikel pada
hasil pelelehan, cognate yaitu partikel litek yang telah terbentuk dari erupsi gunung
api yang sama pada periode sebelumnya, dan accidental yaitu litik yang berasal dari
basement vulkanik dan memiliki komposisi yang beragam.
Abu vulkanik yang telah terkonsolidasi seteah terekspos di permukaan dinamakan
dengan tuf, tuf dibagi menjadi tuf halus dan tuf kasar berdasaran dari ukuran
kristalnya.

Jenis dan klasifikasi batuan piroklastik


Batuan piroklastik dinamakan berdasarkan banyak kriteria, namun yang paling
sering digunakan adalah berdasarkan ukuran butir komponen batuan tersebut
(fisher dan ). Klasifikasi batuan pirokasltik menurut fisher dan… dijelaskan pada
table dibawah

Ukuran Jeis Jenis deposit batuan piroklastik


fragmen fragmen Mainly Mainly
batuan unconsolidated; consolidated
piroklastik tephra ; piroklastic
rock
64mm Block, Agglomerat, Agglomerat,
bomb bed of blocks pyroclastic
or bomb , block breccia
tephra
Lapillus Layer, bed of Lapilistone
lapilli or lapilli
tephra
2mm Coarse ash Coarse ash Coarse (ash)
tuff
1/16 mm Fine ash Fine ash (dust) Fine ash
gram (dush (ash) tuff
gram) (dust tuff)

Klasifikasi batuan piroklastik (fisher , dengan modifikasi)

Berdasarkan klasifikasi pada table diatas, maka batuan pirokasltik dapat dibagi
menjadi :
a. Ukuran fragmen >64

Ukuran fragmen batuan >64 mm disebut dengan block maupun bomb. Block
memiliki fragmen berbentuk angular-sbangular yang terdiri atas cognate dan
accidental material yang berasal dari basement gunung api, sedangkan bomb
adalah istilah untuk batuan piroklastik yang terlempar dari gunung api dalam
kondisi meleleh secara parsial dan kemudia mengalami pengerasan saat berada
di daerat. Umumnya bomb dihasilkan oleh magma yang bersifat asam hingga
intermediet

Jenis Batuan pada deposit block maupun bomb dalam bentuk yang belum
terkonsolidasi adalah agglomerate, lapisan block maupun bomb, dan block
tephra. Sedangkan batuan piroklastik dengan ukuran fragmen tersebut adalah
agglomerate dan pirokasltik breccia.

b. Ukuran fragmen 2-64 mm


Batuan piroklastik dengan ukuran fragmen 2mm hingga 64 mm disebut dengan
lapiluus atau lapilli. Lapili dapat terdiri atas material volkanik berjenis juvenile,
cognate , maupun accidental. Batuan yang tersusun atas 75% atau lebih lapilli
disebut sebagi lapilistone maupun lapiii-tuff. Lapili umumnya memiliki banetuk
angular hingga subround.

c. Ukuran fragmen < 2mm


Batuan piroklastik dengan ukuran 1/16-2mm disebut dengan coarse ash grain.
Batuan yang memiliki fragmen dengan ukuran tersebut disebut dengan coarse
(ash) tuff.

d. Ukuran fragmen 1/16mm


Jenis batuan piroklastik dengan ukuran paling halus adalah yang memiliki
fragmen dengan ukuran 1/16mm, batuan ini tesusun oleh abu vulkanik dengan
ukuran 1/16mm. Batuan dengan ukuran fragmen tersebut dinamakan dengan
fine (Ash) tuff.

Selain batuan batuan piroklastik, terdapat juga klasfikasi mengenasi batuan berjenis mix atau campuran
anatara piroklastik dan epiklastik. Klasifikasi batuan pada jenis campuran, tidak hanya didasarkan pada
ukuran material pada batuan, namun juga didasarkan dari komposisi penusun batuan. Sehingga
keberadaan material epiklastik yang cukup dominan (> 25%) , memiliki penamaan yang berbeda
daripada batuan piroklastik. TAtacara penamaan batuan mix pirokasltik dan epiklastik dijelaskan pada
table dibawah ini.

Klasifikasi batuan campuran (mixed) piroklastik-epiklastik (fisher dan schminke)

Tektur dan struktur batuan piroklastik

Batuan piroklastik memiliki tekstur piroklastik, batuan ini memiliki komposisi berupa fragmen batuan,
pumice dan abu vulkanik. Abu vulkanik memiliki ukuran yang sangat halus, sehingga dalam identifikasi
batuan yang umumnya digunakan adalah kandungan pumice dan fragmen batuan.

Struktur batuan piroklastik dapat membantu dalam interpretasi lapangan, hal yang harus diperhatikan
dalam struktur batuan piroklastik diantaranya adalah geomteri lapisan, hubungan anatara satu lapisan
dan lapisan lainya, bentuk dari perlapisan batuan seperti laminasi dan cross bedding, tanda di
permukaan dan lainya ( fisher dan schimnek)

Perlapisan batuan piroklastik memiliki jenis yang hampir sama dengan batuan sedimen, disebut dengan
perlapisan apabila memilii ketebalan lebih dari 1 cm dan disebut dengan laminasi apabila memiliki
ketebalan kurang dari 1cm.
Pada suatu perlapisan batuan batuan piroklastik dapat ditemui tingkatan perlapisan atau graded
bedding yang bersifat dvertikal dalam satu lapisan batuan. Tingkatan perlapisan tersebut dapat
terbentuk pada matrix maupun fragmen batuan, terdapat beberapa jeis bentuk tingkat perlapisn seperti
yang dijelaskan pada gambar dibawah….

Terdapat beberapa jenis graded bedding yang ditunjukan oleh gambar dibawah, pada jenis A dan B,
perlapisan menunjukan hasil perpindahan material satu aliran, dengan jenis A disebut dengan normal
grading dan jenis B disebut dengan reverse grading. Pada jenis D,G,dan H perlapisan terbentuk oleh
lebih dari satu proses pengendapan dengan jarak waktu yang dekat. Perlapisan yang ditunukan pada
jenis C dan D disebut dengan symmetric grading dengan ururatan halus ke kasar maupun sebaliknya.

Gambar:jjenis graded bedding pada batuan piroklastik, anda panah mengarah pada butir berukuran
halus (Fisher dan Schimnke , 1984)

Struktur batuan piroklastik lainya adalah crossbeding, merupkan stratifikasi batuan pirokasltik yang
perlapisannya membentuk sudut terhadap lapisan dibawahnya. STurktur cross bedding, menurut fisher
dan schimnke terbentuk oleh perpindahan butir di sepanjang permukaan yang terpindah oleh angina
ataupun air, sehingga berkembang bentukan ripple atau gelembur maupun dune dalam ukuran yang
berbeda.

Jenis struktur yang terakhir adalah perlapisan massif , strukutr ini memiliki definisi sebagai sebuah tubuh
bauan yang tebal dan tidak memiliki laminasi maupun pensejajaran ukuran butir(grading). Tubuh batuan
massif memiliki ciri terikat homoen, mengandung material berukuran lapilli dan fragmen berukuran
block yang mengambang bersamaan degan matrix berukuran lebih halus (fisher dan schimke , 1984)

Klasifikasi batuan sedimen dalam pengematan petrografi

Klasifikasi batupasir silisiklastik

Klasifikasi batupasir siliklastik yang umumnya digunakan dalam penetuan nama batuapasir adalah
klasifikasi batupasir menurut pettijohn dkk 1987 (Tucker,2001). Klasifikasi ini merupakan sebuah
klasifikasi sederhana, yang membedakan batupasir menjadi dua kelompik utama berdasarkan tekstur
dan kompisisi mineral penyusun batuan… Kelompok batuasir dibedakan menjadi arenites, yaitu
batupasir yang hanya terdiri atas grain atau butir mineral dan wackes, yaitu batupasir yang mengandung
matrix lebih dari 15%.

Penamaan arenites dan wackes dibedakan lagi berdasrkan kandungan mineral kuarsa, feldspar,
dan fragmen batuan. Berdasarkan kandungan komposisi mineral dominan dalam batupasir maka dapat
diketahui juga batuan awal yang membentuk batupasir terebut. Sebagai contoh quartzarenite memiliki
kandungan mineral kuarsa mencapai >95%, menunjukan batuan ini terbentuk dari batuan ortho
quartzite yang merupakan batuan metamorf derajat rendah (tucker,2001)

Klasifikasi ini juga menitik beratkan pada kehadiran matrix dalam batupasir. Namun, kebedaradaan
matrix dalam batupasir pada klasifikasi ini tidak dapat menjelaskan sumber batuan tersebut. Menurut
tucker 2001 hal ini dapat disebabkan karena keberadaan matrix dalam suatu batupasir dapat terbentuk
bersamaan dengan butir sedimen atauun terbentuk dari hasil alterasi buir sedimen yang tidak stabil
dalam proses diagenesis ataupun sementasi.