Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan yang maha Esa yang telah memberikan bimbingan dan
rahmatnya kepada kami sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya.
Makalah yang berjudul ”HUKUM PERBANKAN” untuk menyelesaikan salah satu tugas hukum
bisnis yang diberikan oleh Bapak

Makalah ini berisi tentang hukum-hukum perbankan pada bisnis. Makalah ini telah kami
susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih
kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Meski telah disusun secara maksimal, namun kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari kata sempurna. Karenanya, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
pembaca sekalian.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini tentang hukum perbankan dapat bermanfaat
maupun menjadi inspirasi terhadap pembaca sekalian.

Kendari, 30 Maret 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................................... i

DAFTAR ISI..................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1

A. Latar Belakang ............................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 1

C. Tujuan Penulisan ............................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................. 2

A. Pengertian Asas, Fungsi Dan Tujuan Perbankan Di Indonesia .............................. 2

B. Sejarah Hukum Perbankan Di Dunia Dan Di Indonesia.......................................... 2

C. Hubungan Hukum Antara Bank Dengan Nasabah ................................................ 2

D. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Pelanggaran Rahasia Bank ... 2

BAB III PENUTUP ......................................................................................................... 3

A. Kesimpulan .................................................................................................... 3

B. Saran .............................................................................................................. 3

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 4

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Perbankan merupakan salah satu pilar pembangunan ekonomi di Indonesia yang mempunyai fungsi
utama sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat yang diatur dalam Pasal 3 Undang-undang
No 10 tahun 1998 tentang Perbankan. Di dalam sistem hukum Indonesia, segala bentuk praktek
perbankan berdasar kepada prinsip-prinsip yang terkandung dalam ideologi negara Indonesia yakni
Pancasila dan Tujuan Negara Indonesia dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Pengakuan yuridis formal mengenai eksistensi perbankan dimulai sejak lahirnya Undang-Undang Nomor
14 tahun 1967 Tentang Pokok-Pokok Perbankan yang kemudian diubah dengan Undang-Undang Nomor
7 tahun 1992 Tentang Perbankan dan selanjutnya dengan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan. Sebagai badan
usaha, kehadiran bank di masyarakat memiliki peran yang sangat strategis dalam proses pembangunan
nasional. Arti dan peran perbankan terlihat dari pengertian bank itu sendiri yakni badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat
dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak.

Lembaga perbankan merupakan inti dari sistem keuangan setiap negara. Bank adalah lembaga
keuangan yang menjadi tempat bagi orang perseorangan, badan-badan usaha swasta dan negara.
Berkaitan dengan sistem keuangan yang dianut di Indonesia, terdiri dari sistem keuangan moneter dan
lembaga keuangan lainnya. Sistem keuangan moneter terdiri atas otoritas moneter dan sistem Bank
Umum (commercial bank). Otoritas moneter sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 23 tahun
1999 tentang Bank Indonesia jo. Undang-Undang No. 3 tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-
Undang Republik Indonesia No. 23 tahun 1999. Secara tegas menyatakan bahwa Bank Indonesia adalah
penanggung jawab otoritas kebijakan moneter yang biasanya disebut otoritas moneter. Sebagai otoritas
moneter Bank Indonesia berwenang menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter dalam rangka
mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Disamping otoritas moneter, sistem bank umum yang
merupakan bagian dari sistem perbankan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 7 tahun 1992
jo. Undang-undang no. 10tahun 1998 tentang perbankan, ini berarti bahwa sistem moneter
berhubungan erat dengan bank sentral dan lembaga keuangan bank. Selain sistem keuangan bank,
sistem keuangan non bank juga merupakan bagian dari sistem keuangan.

Melalui kegiatan perkreditan dan berbagai jasa lainnya, bank berperan serta dalam mekanisme
pembayaran bagi semua sektor perekonomian. Prasarana perbankan Indonesia setelah reformasi
mengalami perkembangan yang sangat cepat. Untuk mengatasi sengketa atau permasalah hukum yang
terjadi dalam perbankan maka terdapat upaya penyelsaian yang sering dikenallitigas dan non litigasi.
Upaya hukum litigasi merupakan penyelsaian melalui pengadilan, sedangkan non litigasi merupakan
upaya penyelsaian sengketa diluar pengadilan yang terdiri dari mediasi, konsolidasi dan arbitrase. Oleh
karena itu, diatur mengenai alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Di antaranya adalah
arbitrase dan mediasi seperti yang diatur dalam UU No.30 tahun 1999. Pengaturan Mediasi di
pengadilan diatur dalam PERMA No.2 tahun 2003. Sedangkan Mediasi Perbankan diatur dalam PBI No.
8/5/PBI/2006.

1
A. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:

1. Apa Pengertian, Asas, Fungsi Dan Tujuan Perbankan Di Indonesia ?

2. Bagaimana Sejarah Hukum Perbankan Di Indonesia ?

3. Bagaimanakah hubungan hukum antara bank dengan nasabah ?

4. Faktor- faktor apakah yang menyebabkan terjadinya pelanggaran rahasia bank

B. TUJUAN
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengertian dan sejarah Hukum Perbankan di Indonesia.

2. Untuk mengetahui hubungan hukum antara Bank dengan Nasabah,

3. Untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya pelanggaran rahasia bank.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN, ASAS, FUNGSI DAN TUJUAN PERBANKAN DI INDONESIA.

 Pengertian

Secara terminologi “bank” berasal dari bahasa Italy “banca” yang berarti bence yaitu suatu bangku
tempat duduk. Sebab, pada zaman pertengahan pihak banker Italy yang memberikan pinjaman-
pinjaman melakukan usahanya tersebut dengan duduk di bangkubangku di halaman pasar.

Hukum yang mengatur masalah perbankan adalah hukum perbankan. Hukum ini merupakan
seperangkat kaidah hukum dalam bentuk peraturan perundang-undangan yurisprudensi, doktrin, dan
lain-lain sumber hukum, yang mengatur masalah-masalah perbankan sebagai lembaga, dan aspek
kegiatannya sehari-hari, rambu-rambu yang harus dipenuhi oleh bank, perilaku petugas-petugasnya,
hak, kewajiban, tugas dan tanggung jawab para pihak yang tersangkut bisnis perbankan, apa yang boleh
dan tidak boleh dilakukan oleh bank, eksistensi perbankan, dan lain-lain yang berkenaan dengan dunia
perbankan tersebut.

Pada dasarnya hukum perbankan menyangkut segala sesuatu yang berkaitan dengan bank, mencakup
kelembagaan, kegiatan usaha serta cara dan proses melaksanakan kegiatan usahanya, maka pada
prinsipnya hukum perbankan adalah keseluruhan norma-norma tertulis maupun norma-norma tidak
tertulis yang mengatur tentang bank yang mencakup kelembagaan kegiatan usaha, serta cara dan
proses pelaksanaan kegiatan usahanya. Norma tertulis meliputi seluruh peraturan perundang-undangan
yang mengatur mengenai bank. Sedangkan norma-norma tidak tertulis meliputi hal-hal atau kebiasaan-
kebiasaan yang timbul dalam praktek perbankan.

 Asas

Mengenai asas perbankan yang dianut di indonesia dapat dilihat pada pasal 2 Undang-Undang No. 10
tahun 1998 tentang perbankan yang mengemukakan bahwa Perbankan Indonesia dalam melakukan
usahanya berdasarkan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian Yang dimaksud
dengan demokrasi ekonomi adalah demokrasi ekonomi berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945.

Sedangkan mengenai prinsip kehati-hatian dapat kita kemukakan bahwa bank dan orang-orang yang
terlibat di dalamnya terutama dalam membuat kebijakan dan menjalankan kegiatan usahanya harus
selalu mematuhi seluruh peraturan perundang-undangan yang berlaku secara konsisten dengan didasari
oleh itikad baik. Sedangkan kepercayaan masyarakat merupakan kata kunci utama bagi berkembang
atau tidaknya suatu bank, dalam arti tanpa adanya kepercayaan dari masyarakat suatu bank tidak akan
mampu menjalankan kegiatan usahanya.
 Fungsi

Sedangkan fungsi utama bank dapat dilihat dalam pasal 3 undang-undang perbankan yang menyatakan
bahwa fungsi utama Perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat.
Sebagai tempat menghimpun dana dari masyarakat Bank bertugas mengamankan uang tabungan dan
deposito berjangka serta simpanan dalam rekening koran atau giro. Sebagai penyalur dana atau pemberi
kredit Bank memberikan kredit bagi masyarakat yang membutuhkan terutama untuk usaha-usaha
produktif.

 Tujuan

Perbankan di Indonesia memiliki tujuan yang strategis dan tidak semata-mata berorientasi ekonomis
tetapi juga berorientasi kepada hal-hal yang non ekonomis seperti menyangkut masalah stabilitas
nasional yang mencakup stabilitas politik dan stabilitas sosial. Hal ini diatur dalam ketentuan pasal 4
undang-undang perbankan yang berbunyi ‘’Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan
pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas
nasional kearah peningkatan’’.
B. SEJARAH HUKUM PERBANKAN DI DUNIA DAN DI INDONESIA

 Sejarah perbankan zaman Yunani dan Romawi

Sistem perbankan dalam bentuknya yang sederhana telah ada sejak tahun 2000 SM di Babilonia. Pada
waktu itu lemabaga perbankan yang lebih dikenal dengan sebutan Temples of Babylon mempunyai
aktifitas berupa peminjaman emas dan perak dengan tingkat suku bunga 20% setiap bulannya. Pada
zaman Yunani dan Romawi Kuno, praktek pemberian kredit sudah lazim dilakukan. Demikian juga yang
terjadi Assyria, Phoenicia, dan Mesir. Sekitar tahun 500 SM bermunculanlah bankir-bankir professional
di Yunani menurut zaman itu, dan disana terdapat bank yang disebut dengan Greek Temple, yang
mempunyai kegiatan di bidang simpan pinjam dengan para nasabahnya yaitu masyarakat. Pada zaman
Romawi kegiatan perbankan sudah lebih luas yakni berupa simpanan uang dalam deposito, pemberian
kredit dan tukar menukar mata uang.

Selanjutnya sejak tahun 1349, bisnis dari suatu bank sudah dipraktekkan oleh parapedagang kain di
Barcelona. Sampai kemudian di tahun 1401, sebuah bank umum didirikan di Barcelona dengan kegiatan-
kegiatan antara lain penukaran uang, penerimaan deposito, dan diskonto Bill of Exchange. The Bank of
Genoa didirikan pada tahun 1407 dan The Bank of Amsterdam didirikan pada tahun 1609. Sedangkan
pengaturan hukum masalah perbankan sudah ada sejak tahun 1374 pada pemerintahan negara Italy
yang melarang bank untuk melakukan kegiatan trading dalam komoditi yang bersifat spekulatif, atau
melarang investasi yang melebihi 1 ½ kali dari jumlah yang mereka telah diinvestasikan dalam obligasi
pemerintah.

Sejarah Hukum Perbankan di Indonesia

Perkembangan hukum perbankan di Indonesia diklasifikasikan menjadi bebrapa periode yaitu:

o Masa penjajahan Belanda

Sejarah perbankan dan hukum perbankan dimulai sejak zaman VOC. Suatu perusahaan dagang yang
beroperasi sebagai bank yakni dengan berdirinya De Nederlandsce Handel Maatschappij (NHM) pada
tahun 1824. Pada tahun 1827 Belanda secara resmi mendirikan sebuah bank yang disebut De Javasche
Bank yang sekarang menjadi Bank Indonesia, sementara Nederlandsce Handel Maatschappij (NHM)
kemudian menjadi Bank Ekspor Impor Indonesia. Tahun 1857 didirikan bank swasta dengan nama NV
Escompto Bank yang kemudian dinasionalisasikan menjadi Bank Dagang Negara. Zaman pemerintahan
Hindia Belanda Lembaga Perkreditan Desa sudah diakui terutama setelah dikeluarkannya S. 1929 Nomor
357, tanggal 14 September 1929 yang berisikan ketentuan tentang badan-badan perkreditan desa dalam
provinsi-provinsi di Jawa dan Madura diluar wilayah Kotapraja (kabupaten).

o Masa pemerintahan Jepang

Masa pendudukan Jepang bank-bank yang sudah ada ditutup atau dikuasai olehpemerintah bala tentara
Jepang. Satu-satunya bank yang dikuasai oleh Indonesia adalah Bank Rakyat Indonesia. Tetapi pada
masa pemerintahan Jepang, beberapa bank yang ditutup oleh pemerintah Hindia Belanda kemudian
dibuka kembali, seperti Bank of Taiwan, Yokohama Bank, Mitsui Bank dan Nanpo Kaihatsu Kinko yang
pada tanggal 1 Apri 1943 membuka 4 kantor di pulau Jawa dan Sumatera.

o Masa orde lama

Dalam Sidang Dewan Menteri tanggal 19 September 1945 Indonesia mengambil keputusan untuk
mendirikan sebuah bank sirkulasi berbentuk bank milik Negara. Pelaksanaannya dipercayakan kepada
R.M Margono Djojohadikusumo. Realisasinya pada tanggal 14 Oktober 1945 dengan akta notaris P.M
Soerojo terbentuklah Yayasan Pusat Bank Indonesia.

Tanggal 17 Agustus 1946 diresmikanlah Bank Negara Indonesia 1946, yang didirikan berdasarkan
peraturan pemerintah pengganti undang-undang nomor 2 tahun 1946, pada tanggal 5 Juli 1946. Selain
sebagai bank komersil, BNI ’46 juga berfungsi sebagai bank sentral. Bank pemerintah lainnya adalah
Bank Rakyat Indonesia yang beroperasi berdasarkan peraturan pemerintah nomor 1 tahun 1946.
Disamping berdirinya bank-bank pemerintah pada masa awal-awal kemerdekaan banyak pula berdiri
bank-bank swasta sampai kedaerah-daerah.

Pengaturan dalam undang-undang mengenai perbankan untuk pertama kali diatur dalam Undang-
undang Nomor 11 tahun 1953 tentang undang-undang pokok Bank Indonesia, yang kemudian dicabut
dengan undang-undang nomor 14 tahun 1967. undang-undang nomor 14 tahun 1967 ini kemudian
dicabut kembali dengan undang-undang nomor 7 tahun 1992 dan diubah lagi dengan undang-undang
nomor 10 tahun 1998.

Bank Belanda yang pertama kali dinasionalisasikan adalahNasionale Handels Bank yang merupakan
sebuah perseroan terbatas yang bergerak dibidang pembiayaan perusahaan perkebunan. Lalu
pemerintah menasionalisasikan juaga PT Escompto Bank, untuk keperluan tersebut pemerintah
mendirikan bank Dagang Negara dengan undang-undang nomor 13/prp/1960. Disamping bank-bank
hasil nasionalisasi bank-bank pemerintah Belanda, pada masa tersebut berdiri pula Bank-bank
Pembangunan Daerah yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah.

o Masa orde baru sebelum pakto 1988

Tumbangnya rezim pemerintahan orde lama, maka masalah pembangunan ekonomi dan pembenahan
moneter dikembangkan secara serius. Dengan demikian digunakanlah prinsip anggaran berimbang dan
lalu lintas devisa besar. Oleh karena itu pada tahun 1967 dengan undang-undang nomor 14 tahun 1967
diundangkanlah undang-undang perbankan yang baru, yang diikuti dengan pembuatan undang-undang
tentang bank sentral nomor 13 tahun 1968 yang menggantikan undang-undang pokok Bank Indonesia
tahun 1963. Setelah dibenahi perangkat perundang-undangan pokok tersebut, diterbitkanlah peraturan
perundang-undangan yang bersifat administratif yang sebenarnya lebih merupakan deregulasi.
Beberapa hal yang penting dalam deregulasi juni 1983 ini adalah penghapusan pagu kredit bank-bank
negara dibebaskan untuk menetapkan tingkat suku bunga dan pengurangan jumlah kredit likuiditas.
o Masa orde baru setelah pakto 1988

Setelah deregulasi tahun 1983, deregulasi yang lebih fundamental dilakukan tahun 1988 dengan Paket
Deregulasi Oktober 1988 (pakto 1988). Paket deregulasi 1988 ini memberi kemudahan bagi
pertumbuhan bank-bank swasta hingga tidak mengherankan setelah paket deregulasi ini bank-bank
swasta tumbuh bagai jamur dimusim hujan.

Perkembangan perbankan setelah pakto 1988 memang pesat, tetapi kurang terkontrol hingga
menimbulkan berbagai masalah dalam praktek dan prinsip Prudent Banking sama sekali diabaikan.
Akibatnya tahun 1991, Bank Duta sempat limbung karena banyak rugi dalam permainan valas yang tidak
terkendalai, Bank Majapahit megap-megap karena kejahatan yang dilakukan oleh pimpinan sekaligus
pemiliknya dan beberapa bank lain yang hamper limbung.

o Masa setelah krisis moneter 1997

Gejolak moneter dipenghujung 1997 mengakibatkan ditutupnya (dilukidasi) 16 bank yang dilakukan oleh
menteri keuangan dalam keputusannya masing-masing tertanggal 1 november 1997. Terhadap nasabah
keenambelas bank yang telah diluidasi tersebut diberikan talangan oleh Bank Indonesia yakni
mengembalikan secara penuh atas tabungan/deposito dan giro untuk jumlah sampai dengan dua puluh
juta rupiah.

Pemerintah juga menganjurkan pada bank-bank yang terlalu banyak jumlahnya tersebut untuk
melakukan merger hingga dapat bertahan sampai abad 21. Setelah merger, bank-bank pemerintah
menciut menjadi:

a. Bank hasil merger antara Bank dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Ekspor Impor Indonesia dan
Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo)

b. BNI 1946, sedangkan BTN menjadi anak perusahaan BNI 1946

c. Bank Rakyat Indonesia.

Sebelum rencana merger terhadap 3 bank tersebut diatas dilaksanakan, pemerintah mengubah lagi
rencananya untuk menggabungkan kelima bank pemerintah tersebut menjadi hanya satu bank yang
disebut dengan bank Mandiri. Dimulai sejak masa krisis moneter 1997 oleh pemerintah dibentuk Badan
Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), dimana bank-bank yang dalam kondisi tidak sehat dimasukkan
kedalam perawatan BPPN.
C. HUBUNGAN HUKUM ANTARA BANK DENGAN NASABAH

Apabila diperhatikan secara seksama Undang-Undang No.10 Tahun 1998, tidak ditemui ketentuan yang
mengatur secara tegas perihal hubungan hukum antara bank dengan nasabah. Namun dari beberapa
ketentuan dapat disimpulkan , bahwa hubungan hukum antara bank dengan nasabah diatur oleh
suatu perjanjian. Hal ini dapat disimpulkan dari Pasal 1 Angka 5 Undang-Undang No.10 Tahun 1998,
simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian
penyimpanan dan dalam bentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan atau untuk lainnya
yang dipersamakan dengan itu. Jadi simpanan masyarakat di bank dapat berupa :

a) Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek,
billyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindah bukuan (Pasal 1 Angka 6)

b) Deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu,
berdasarkan perjanjian nasabah panyimpan dengan nasabah (Pasal 1 Angka 7).

c) Sertifikat Deposito adalah simpanan dalam bentuk deposito yang sertifikat bukti penyimpannya
dapat dipindahtangankan (Pasal 1 Angka 8).

d) Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tetentu yang
disepakati, tetapi tidak dapat ditarik kembali dengan cek, bilyet giro dan alat lainnya yang dapat
dipersamakan dengan itu ( Pasal 1 Angka 9).

e) Penitipan adalah penyimpan harta berdasarkan perjanjian atau kontrak antara Bank Umum dengan
penitip, dengan ketentuan Bank umum yang bersangkutan tidak mempunyai hak kepemilikan atas harta
tersebut (Pasal 1 Angka 14).

Dari ketentuan diatas terlihat bahwa hubungan hukum antara bank dengan nasabah diatur oleh hukum
perjanjian. Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang lain atau
dimana dua orang itu saling berjanji untuk melakukan suatu hal. Perjanjian tersebut menerbitkan suatu
perikatan antara dua orang yang membuatnya.

Hubungan kontraktual bank dengan nasabah yang ternyata mempunyai dasar yang dapat dikaitkan
pada beberapa ketentuan, sesuai dengan perikatan yang dilakukan antara mereka. Dalam kepentingan
perlindungan konsumen perlu dijelaskan tanggungjawab hukum yang dipikul oleh kedua belah pihak.
Dengan demikian harus terbentuk rasa saling mempercayai, sehingga akan terwujud suatu praktek
perbankan yang sehat.

Nasabah dalam hubungan dengan bank, mengharapkan tidak adanya pembedaan perlakuan, dengan
kata lain harus terbentuk perlakuan yang sama. Tetapi saat ini kenyataan yang ada menampakkan
bahwa masih menonjol adanya kesan ada suatu pembedaan perlakuan kepada nasabah. Perlakuan
kepada nasabah besar tampak berbeda dengan perlakuan kepada nasbah kecil, contoh nyata terlihat
dalam pelayanan kredit yang menyangkut agunan, model penagihan kredit macet dan sebagainya.
Adanya hal seperti itu harus diubah sehingga perlakuan kepada nasabah haruslah sama. Dengan
perlakuan yang sama akan dirasakan oleh nasabah bahwa adanya rasa kekeluargaan, adanya keamanan
terhadap uang atau barang berharga yang disimpan untuk dikelola oleh bank, juga kerahasiaan atas
semua data serta informasi yang diketahui dari nasabah tersebut.

Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan nasabah dibedakan menjadi dua macam, yaitu nasabah penyimpan dan
nasabah debitur. Nasabah penyimpan adalah nasabah yang menempatkan dananya di bank dalam
bentuk simpanan berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan. Sedangkan
nasabah debitur adalah nasabah yang memperoleh fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan
prinsip syariah atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang
bersangkutan.

Dalam praktik perbankan nasabah dibedakan menjadi tiga yaitu :

a. Nasabah deposan, yaitu nasabah yang menyimpan dananya pada suatu bank, misalnya dalam
bentuk giro, tabungan, dan deposito.

b. Nasabah yang memanfaatkan fasilitas kredit atau pembiayaan perbankan, misalnya kredit
kepemilikan rumah, pembiayaan murabahah, dan sebagainya.

c. Nasabah yang melakukan transaksi dengan pihak lain melalui bank (walk in customer), misalnya
transaksi antara importir sebagai pembeli dengan eksportir di luar negeri dengan menggunakan fasilitas
letter of credit (L/C).
D. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA PELANGGARAN RAHASIA BANK.

Hukum dibuat untuk menegakkan keadilan meskipun tetap ada ketidaksempurnaan dan mungkin ada
hukum yang tidak adil. Sungguh ironis jika ada hukum yang dibuat secara baik dengan mendasarkan
kepada azas-azas hukum yang tepat, tetapi dalam pelaksanaannya ditafsirkan dan diselewengkan
sehingga meniadakan keadilan dan dijadikan perisai bagi mereka yang memiliki niat jahat. Bank
dianggap bisa digunakan dan memberi jalan bagi mereka yang ingin berbuat kriminal.

Rahasia bank tidak boleh dijadikan alat untuk melindungi pelaku kejahatan. Ketentuan rahasia bank
seharusnya tidak boleh dipegang secara absolut, informasi tentang data bank harus lentur serta
mengingat kepentingan yang lebih besar artinya keterbukaan akan informasi dapat jalan asalkan untuk
kepentingan masyarakat. Jadi keterbukaan informasi dapat didahulukan dibandingkan tetap
mempertahankan kerahasiaan bank sehingga melindungi pelaku kejahatan.

Nasabah penyimpan adalah sumber dana bagi bank. Oleh karena itu wajar jika undang-undang
mengatur agar bank melindungi nasabahnya. Tetapi disisi lain tentu ada juga nasabah penyimpanyang
berstatus debitur beritikad jahat (bad faith) dengan berlindung di balik rahasia bank melakukan
perbuatan tercela terhadap mitra bisnisnya, misalnya membayar dengan cek atau bilyet giro kosong.
Mitra bisnis yang menerima cek atau bilyet kosong tersebut sudah tentu tidak mungkin mengetahui
saldo simpanan nasabah penyimpan yang berstatus debitur itu karena dilindungi oleh rahasia bank. Hal
semacam itu tentu akan mempengaruhi citra kepercayaan masyarakat terhadap bank. Oleh karena itu
melakukan tindakan black list dan melaporkannya kepada Bank Indonesia selaku pengawas dan
pembina perbankan. Penegakan hukum yang tegas justru meningkatkan kepercayaan masyarakat
terhadap bank.

Jadi mengenai faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya pelanggaran rahasia bank itu ada 2 yaitu
faktor intern dan faktor ekstern :

1. Faktor Intern

Yaitu faktor yang berasal dari dalam bank itu sendiri antara lain moral atau perilaku dari karyawan atau
pejabat bank itu sendiri, dimana jika ia mempunyai moral yang baik maka ia akan memegang teguh
rahasia bank itu sebaliknya jika dia mempunyai moral yang jelek orang seperti inilah yang akan
membongkar rahasia bank itu sendiri. sikap yang buruk dari para karyawan bank atau pejabat bank
seperti adanya rasa iri hati, cemburu ataupun dendam yang membuat para karyawan ataupun pejabat
bank dapat membongkar rahasia bank itu.

2. Faktor Ektern

Yaitu faktor yang berasal dari luar bank itu antara lain adanya persaingan usaha antar bank sehingga
dapat terjadi suatu kerjasama antara pihak bank dengan pihak luar untuk membongkar rahasia bank itu.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Hubungan antara bank dengan nasabah adalah ternyata tidaklah seperti hubungan kontraktual biasa.
Akan tetapi dalam hubungan tersebut terdapat pula kewajiban bagi bank untuk tidak membuka rahasia
dari nasabahnya kepada pihak lain manapun kecuali jika ditentukan lain oleh perundang-undangan yang
berlaku. Hal ini dinamakan rahasia bank. Dengan demikian istilah rahasia bank mengacu pada rahasia
dalam hubungan antara bank dengan nasabah. Nasabah dalam hubungan dengan bank tidak adanya
pembedaan perlakuan baik itu nasabah penyimpan maupun nasabah debitor, semua nasabah itu harus
mendapatkan perlindungan hukum yang sama.

Faktor-aktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran rahasia bank, ada 2 yaitu faktor intern dan
faktor ektern. Faktor intern yaitu faktor yang berasal dari dalam bank itu sendiri antara lain adanya
sikap yang buruk dari para karyawan bank atau pejabat bank seperti adanya rasa iri hati, cemburu
ataupun dendam yang membuat para karyawan ataupun pejabat bank dapat membongkar rahasia bank
itu. Sedangkan faktor ektern adalah faktor yang berasal dari luar bank itu antara lain adanya persaingan
usaha antar bank sehingga dapat terjadi suatu kerjasama antara pihak bank dengan pihak luar untuk
membongkar rahasia bank itu.

Adapun salah satu upaya yang dilakukan sebuah bank untuk menjaga keamanan rahasia bank adalah
apabila ada orang yang menanyakan identitas nasabah atau aktivitasnya di bank selain dari pihak-pihak
yang memang telah diberi kuasa atau wewenang untuk meminta informasi tersebut sebagaimana yang
telah ditentukan Undang-Undang No.10 Tahun 1998 maka bank tidak akan memberikan informasi
apapun. Bank akan merahasiakannya. Dengan melakukan upaya menjaga keamanan rahasia bank
berarti secara tidak langsung juga menjaga keamanan keuangan nasabah karena rahasia bank mencakup
perlindungan terhadap nasabah dan simpanan/keuangannya.