Anda di halaman 1dari 23

Bab 13 Sistem Biaya Standar

Kelompok 5
Nama Kelompok :
1. ELFIRA FERNANDA B1C118194
2. MELANI PERMATA KASIH B1C118196
3. NIDA B1C118198
4. LILIS SUSISUSANTI B1C118199
5. EVA SRI WULANDARI B1C118201
6. SILVI DAMAYANTI B1C118202
7. VIKY RAHMAWATI B1C118203
8. ILDA WAHYUNINGSIH B1C118204
SELISIH BIAYA OVERHEAD PABRIK
Perhitungan tarif biaya overhead pabrik adalah menggunakan
kapasitas normal, sedangkan pembebanan biaya overhead pabrik
kepada produk menggunakan kapasitas sesungguhnya yang
dicapai. Dalam perusahaan yang menggunakan system biaya
standar, analisis selisih biaya overhead pabrik dipengaruhi pula
oleh kapasitas standar. Oleh karena itu, ada 4 model analisis
selisih biaya overhead pabrik: model satu selisih, model dua
selisih, model tiga selisih, dan model empat selisih
• Model Satu Selisih
Dalam model ini, selisih biaya overhead pabrik dihitung
dengan cara mengurangi biaya overhead pabrik dengan tarif
standar pada kapasitas standar dengan biaya overhead pabrik
sesungguhnya.
• Model Dua Selisih
selisih biaya overhead pabrik yang dihitung dengan model satu selisih
dapat dipecah menjadi dua macam selisih: selisih terkendalikan, dan selisih
volume. Selisih terkendalikan adalah perbedaan biaya overhead
sesungguhnya dengan biaya overhead yang dianggarkan pada kapasitas
standar, sedangkan selisih volume adalah perbedaan antara biaya overhead
yang dianggarkan pada jam standar dengan biaya overhead pabrik yang
dibebankan kepada produk (kapasitas standar dengan tarif standar)
• Model Tiga Selisih
selisih biaya overhead pabrik yang dihitung dengan model satu selisih
dapat dipecah menjadi tiga macam selisih: selisih pengeluaran, selisih
kapasitas, dan selisih efisiensi. Selisih pengeluaran adalah perbedaan biaya
overhead pabrik sesungguhnya dengan biaya overhead yang dianggarkan
pada kapasitas sesungguhnya. Selisih kapasitas adalah perbedaan antara
biaya overhead yang dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya dengan
biaya overhead pabrik yang pabrik yang dibebankan kepada produk pada
kapasitas sesungguhnnya (kapasitas sesungguhnya dengan tarif standar ).
Selisih efisiensi adalah tarif biaya overhead pabrik dikalikan dengan selisih
antara kapasitas standar dengan kapasitas sesungguhnya.
• Model Empat Selisih
Model empat selisih ini merupakan perluasan
model tiga selisih. Dalam model ini, selisih efisiensi
dalam model tiga selisih dipecah lebih lanjut menjadi
dua selisih berikut ini : selisih efisiensi variable dan
selisih efisiensi tetap.
Contoh :
Untuk memproduksi 1 satuan produk diperlukan biaya produksi
menurut standar disajikan sebagai berikut:
Biaya bahan baku 5 kg @Rp1.000 Rp 5.000
Biaya tenaga kerja 20 jam @Rp500 10.000
Biaya overhead pabrik :
Variable 20 jam @Rp400 8.000
Tetap *) 20 jam @Rp300 6.000
Total Rp 29.000

Transaksi yang terjadi dalam bulan januari 20X1 adalah sebagai


berikut:
1. Jumlah bahan baku yang dibeli adalah 1500 kg @Rp1.100
2. Jumlah produk yang diproduksi dan selesai diproses dalam
bulan januari 19X1 adalah 250 satuan dengan biaya produksi
sesungguhnya sebagai berikut:
a. Biaya bahan baku 1.050 kg @Rp1.100 = Rp 1.155.000
b. Biaya tenaga kerja 5.100 jam @Rp475 = 2.422.500
c. Biaya overhead pabrik = 3.650.000
Atas dasar data di atas, berikut ini disajikan analisis selisih biaya
produksi langsung dan biaya overhead pabrik:
Biaya Bahan Baku
1. Model Satu Selisih
(HSt x KSt) – (HS x KS)
(Rp1000 x 1.250) – (Rp1.100 x 1.050) = Rp 95.000 L
2. Model Dua Selisih
Selisih harga bahan baku
(HSt - HS) x KS
(Rp1.000 – Rp1.100) x 1.050 kg = Rp105.000 R
Selisih kuantitas bahan baku
(KSt - KS) x HSt
(1.250 – 1.050) x Rp1.000 = Rp200.000 L
Total selisih biaya bahan baku Rp 95.000 L
3. Model Tiga Selisih
Selisih harga bahan baku
(HSt – HS) x KS
(Rp1.000 – Rp1.100) x 1.050 = Rp105.000 R
Selisih kuantitas bahan baku
(KSt - KS) x HSt
(1.250 – 1..050) x Rp1.000 = Rp200.000 L
Selisih harga/kuantitas bahan baku
Tidak terdapat selisih harga/kuantitas= 0
Total selisih biaya bahan baku Rp 95.000 L
Biaya Tenaga Kerja
1. Model Satu Selisih
Selisih biaya tenaga kerja
(TUSt x JKSt) – (TUS x JKS)
(Rp500 x 5.000) – (Rp475 x 5.100) = Rp 77.500 L
2. Model Dua Selisih
Selisih tarif upah
(TUSt - TUS) x JKS
(Rp500 – Rp475) x 5.100 jam = Rp127.500 L
Selisih efisiensi upah
(JKSt - JKS) x TUSt
(5.000 – 5.100) x Rp500 = Rp 50.000 R
Total selisih biaya tenaga kerja langsung Rp 77.500 L
3. Model Tiga Selisih
Selisih tarif upah
(TUSt – TUS) x JKSt
(Rp500 – Rp475) x 5.000jam = Rp125.000 L
Selisih efisiensi upah
(JKSt - JKS) x TUS
(5.000 – 5.100) x Rp475 = Rp 47.500 R
Selisih harga/kuantitas bahan baku
Tidak terdapat selisih harga/kuantitas= 0
Total selisih harga/efisiensi upah Rp 77.500 L
Selisih Biaya Overhead Pabrik
1. Model Satu Selisih
Selisih total biaya overhead pabrik
BOP sesungguhnya Rp3.650.000
BOP yang dibebankan:
250 x 20 jam x Rp700 = Rp3.500.000
Selisih total BOP Rp 150.000 R
2. Model Dua Selisih
Selisih tersebut dipecah menjadi dua macam selisih sebagai
berikut:
Selisih terkendalikan
BOP sesungguhnya Rp3.650.000
BOP tetap pada kapasitas normal
5.200 x Rp300 = 1.560.000
BOP variable sesungguhnya Rp2.090.000
BOP variable pada jam standar
5.000 jam x Rp400 = 2.000.000
Selisih terkendalikan Rp 90.000 R
Selisih volume
Jam tenaga kerja pada kapasitas normal 5.200 jam
Jam tenaga kerja standar 5.000 jam
Selisih volume 200 jam
Tarif biaya overhead pabrik tetap Rp300 per jam x
Selisih volume Rp60.000 R

3. Model Tiga Selisih


Selisih biaya overhead pabrik sebesar Rp150.000 tersebut dapat
dipecah menjadi tiga macam selisih berikut ini:
Selisih pengeluaran
BOPsesungguhnya Rp3.650.000
BOP tetap pada kapasitas normal
5.200 jam x Rp300 = 1.560.000
BOP sesungguhnya Rp2.090.000
BOP variable yang dianggarkan
Pada jam yang sesungguhnya dicapai
5.100 jam x Rp400 2.040.000
Selisih pengeluaran Rp 50.000 R
Selisih kapasitas
Kapasitas normal 5.200 jam
Kapasitas sesungguhnya 5.100 jam
Kapasitas yang tidak terpakai 100 jam
Tarif biaya overhead pabrik tetap Rp300 per jam x
Selisih kapasitas Rp30.000 R

Selisih efisiensi
Jam standar 5.000 jam
Jam sesungguhnya 5.100 jam
Selisih efisiensi 100 jam
Tarif biaya overhead pabrik Rp700 per jam x
Selisih efisiensi Rp70.000 R
4. Model Empat Selisih
Seperti telah disebutkan diatas, model empat selisih ini
merupakan perluasan model tiga selisih. Selisih dalam model
tiga selisih tersebut dipecah menjadi: selisih efisiensi variable
dan selisih efisiensi tetap dalam model empat selisih ini. Selisih
biaya overhead pabrik dalam contoh sebesar Rp150.000 R
tersebut dipecah menjadi empat macam selisih sebagai berikut:
Selisih pengeluaran Rp 50.000 R
Selisih kapasitas 30.000 R
Selisih efisiensi yang dipecah lebih lanjut menjadi:
Selisih efisiensi variable 100 jam x Rp400 40.000 R
Selisih efisiensi tetap 100 jam x Rp300 30.000 R
Total selisih BOP Rp150.000 R
AKUNTANSI BIAYA STANDAR
Akuntansi Biaya standar dibagi menjadi dua :
1. Metode tunggal (singel plan)
2. Metode ganda (partial plan)

Perbedaan antara dua sistem akuntansi biaya


standar tersebut terletak pada waktu penyajian
informasi mengenai terjadinya penyimpangan antara
biaya standar dengan biaya sesungguhnya kepada
manajemen.
METODE GANDA (PARTIAL PLAN)
Karakteristik metode ganda adalah:
1. Rekening Barang Dalam Proses dengan biaya sesunggunya dan
dikredit dengan biaya standar. Metode ini persediaan bahan baku
dicatat pada biaya sesungguhnya dan persediaan produk jadi
dicatat pada harga harga pokok standar. Harga pokok penjualan
dicatat pada harga pokok standar.
2. Selisih biaya sesungguhnya dari biaya standar dihitung pada akhir
periode akuntansi, setelah harga pokok persediaan produk dalam
proses ditentukan dan harga pokok produk jadinyang ditransfer
ke gudang dicatat dalam rekening Barang dalam proses.
3. Selisih biaya sesungguhnya dari biaya standar merupakan jumlah
total perbedaan antara biaya standar dengan biaya
sesungguhnya. Analisis terhadap selisih tersebut merupakan
bantuan informasi yang tidak tersedia dalam rekening-rekening
buku besar.
Aliran Biaya Standar Dalam Metode Ganda:
Berdasarkan data dalam contoh, berikut ini disajikan jurnal-jurnal
yang dibuat untuk mencatat biaya produksi sesungguhnya, biata
produksi standar dan selisih.
1. Pencatatan biaya bahan baku
BDP biaya bahan baku Rp. 1.155.000
Persediaan bahan baku Rp.1.155.000
(Pemakaian bahan baku sesungguhnya 1.050kg @ Rp1.000 =
Rp1.155.000)
2. Pencatatan biaya tenaga kerja langsung
BDP biaya tenaga kerja langsung Rp. 2.422.500
Gaji dan upah Rp.2.422.500
(Pembebanan biaya tenaga kerja sesungguhnya 5.100jam @
Rp 475 = Rp. 2.422.500)
3. Pencatatan Biaya overhead pabrik
Dalam metode ganda, BOP dicatat dengan menggunakan salah
satu metode berikut ini:
Metode 1. Rekening barang dalam proses didebit dengan biaya
overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dalam periode akuntansi
tertentu dan dikredit dengan biaya standarnya. Dengan demikian,
selisih biaya overhead pabrik dihitung dari saldo rekening barang
dalam proses-biaya overhead pabrik. Jurnal pencatatan biaya
overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi berdasarkan data dalam
contoh 8 adalah sebagai berikut:
a. Pencatatan BOP sesungguhnya terjadi
BOP sesungguhnya Rp3.650.000
Berbagai Rek. Yang dikredit Rp3.650.000
b. Pembebanan BOP sesungguhya ke rekening BDP
BDP BOP Rp.3.650.000
BOP sesungguhnya Rp.3.650.000
Metode 2. Rekening barang dalam proses didebit dengan biaya
overhead pabrik atas dasar tariff standar. Dalam metode ini selisih
biaya overhead pabrik dihitung dari saldo rekening barang dalam
proses-biaya overhead pabrik sesungguhnya. Jurnal pencatatan biaya
overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi berdasarkan data dalam
contoh 8 adalah sebagai berikut:
a. Pencatatan BOP sesungguhnya
BOP sesungguhnya Rp.3.650.000
Berbagai rek. Dikredit Rp.3.650.000
b. Pembebanan BOP kepada produk atas dasar tarif tandar (5.100 jam
x Rp700 = Rp.3.570.000)
BDP BOP Rp. 3.570.000
BOP yang dibebankan Rp.3.570.000
c. Penutupan rekening BOP yang dibebankan
BOP yang dibebankan Rp.3.570.000
BOP yang sesungguhnya Rp.3.570.000
4. Pencatatan harga pokok produk jadi
Persediaan produk jadi Rp.7.250.000
BDP BBB Rp.1.250.000
BDP BTK Rp.2.500.000
BDP BOP Rp.3.500.000
(Biaya bahan baku =Rp5.000x250 un=Rp.1.250.000)
(Biaya tenagakerja=Rp10.000 x 250u = Rp.2.500.000)
(BOP (Rp8.000 + Rp6.000) x 250 u = Rp.3.500.000)
5. Pencatatan harga pokok produk dalam proses
Persediaan produk dalam proses XXX
BDP BBB XXX
BDP BTK XXX
BDP BOP XXX
6. Pencatatan harga pokok produk yang dijual
Harga pokok penjualan XXX
Persediaan produk jadi XXX
7. Pencatatan selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya standar.
a. Selisih bahan baku
Selisih harga bahan baku Rp. 105.000
BDP biaya bahan baku RP. 95.000
Selisih kuantitas bahan baku Rp.200.000
b. Selisih biaya tenaga kerja langsung
Selisih efisiensi upah Rp. 50.000
BDP biaya tenaga kerja Rp. 77.500
Selisih tarip upah Rp.127.500
c. Selisih biaya overhead pabrik
1. Jika pencatatan BOP menggunakan metode I
Selisih pengeluaran Rp. 50.000
Selisih kapasitas Rp. 30.000
Selisih efisiensi Rp. 70.000
BDP BOP Rp.150.000
2. Jika pencatatan BOP menggunakan metode 2
Dengan model tiga selisih dicatat sebagai berikut:
Selisih efisiensi Rp. 70.000
BDP BOP Rp. 70.000
Selisih pengeluaran Rp. 50.000
Selisih kapasitas Rp. 30.000
BOP sesungguhnya Rp. 80.000
Metode tunggal (singel plan)
Pencatatan bahan baku:
1. Selisih harga bahan baku dicatat pada saat
bahan baku dibeli
2. Selisih harga bahan baku dicatat pada saat
bahan baku dipakai
3. Selisih harga bahan baku dicatat pada saat
bahan baku dibeli dan dipakai
Selisih harga bahan baku dicatat pada saat bahan baku
dibeli
Contoh
PT rimendi menggunakan sistem biaya standar. Biaya bahan baku standar
persatuan produk adalah sebagai berikut:
Kuantitas standar 50 kg
Harga standar per kg Rp. 100

Dalam bulan januari 20X1:


• jumlah produk yang dihasilkan = 2000 satuan
• yang mengkonsumsi bahan baku sebanyak 120.000 kg
• Kuantitas bahan baku yang dibeli = 150 kg
• Harga beli Rp. 90/kg

Perhitungan selisih biaya bahan baku adalah sebagai berikut:


Selisih harga pembelian bahan baku:
Harga pembelian standar: 150.000 X Rp 100 Rp. 15.000.000
Harga pembelian sesungguhnya: 150.000 X Rp 90 Rp. 13.000.000
Selisih harga pembelian bahan baku Rp 1.500.000 L

Selisih pemakaian bahan baku:


Pemakaian standar: 2.000 x 50 kg x Rp 100 Rp.10.000.000
Pemakaian sesungguhnhya: 120.000 kg x Rp 100 Rp.12.000.000
Selisih pemakaian bahan baku Rp. 2.000.000 R
Selisih harga bahan baku yang dipakai:
Kuantitas bahan baku yang dipakai sesungguhnya pada
harga standar : 120.000 kg x Rp 100 Rp. 12.000.000
Kuantitas bahan baku yang dipakai sesungguhnya pada
harga sesungguhnya: 120.000 kg x Rp 90 Rp. 10.800.000
Selisih harga bahan baku yang dipakai Rp. 1.200.000 L

Jurnal yang dibuat oleh PT Rimendi pada saat pembelian dan pemakaian
bahan baku adalah sebagai berikut:
Persediaan bahan baku Rp. 15.000.000
utang dagang Rp.13.500.000
Selisih Harga pembelian bahan baku Rp. 1.500.000
(untuk mencatat pembelian bahan baku)

Barang dalam proses-bahan baku Rp.10.000.000


Selisih pemakaian bahan baku Rp.2.000.000
persediaan bahan baku Rp.12.000.000
(untuk mencatat pemakaian bahan baku)