Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH AKUNTANSI MANAJEMEN

“HARGA TRANSFER”

OLEH

KELOMPOK 5 :

Nilam Nurrahmi Kelilauw B1C1 17 187

Wa Ode Rima Melati Sukma B1C1 18 167

Nur Islamiyah Syam B1C1 18 186

Melani Permata Kasih B1C1 18 196

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2020
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami dengan judul
“HARGA TRANSFER”

Adapun makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan
bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
pembuatan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan
baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan
tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin member saran dan
kritik sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah “HARGA TRANSFER” ini


dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.

Kendari, 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................

DAFTAR ISI.............................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................

1.1 Latar Belakang.........................................................................................


1.2 Rumusan Masalah....................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan......................................................................................

BAB II LANDASAN TEORI..................................................................................

2.1 Harga Transfer..........................................................................................


2.2 Perusahaan Multinasional.........................................................................
2.3 Hubungan Istimewa.................................................................................
2.4 Arm’s Length Standard...........................................................................
2.5 Perusahaan Multinasional dan Aspek Pajaknya .....................................
2.6 Advance Pricing Agreement (APA)........................................................

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Analisis Kasus Harga Transfer Pada PT. Adora....................................

BAB IV PENUTUP.................................................................................................

4.1 Kesimpulan...............................................................................................
4.2 Saran.........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam suatu perusahaan yang organisasinya telah dibagi-bagi menjadi pusat-pusat laba,
transfer barang atau jasa antar pusat laba tersebut menimbulkan masalah penentuan harga
transfer, karena masing-masing pusat laba diukur kinerjanya berdasarkan laba, sehingga setiap
transfer barang atau jasa antar pusat laba akan berdampak terhadap laba masing - masing pihak
yang terkait.

Perusahaan melakukan penetapan harga dengan berbagai cara. Pada perusahaan-


perusahaan kecil biasanya ditetapkan oleh manajemen puncak bukannya oleh bagian
pemasaran.Sedangkan pada perusahaan-perusahaan besar penetapan harga biasanya ditangani
oleh manajer divis dan lini produk.Bahkan disni manajemen punjak juga menetapkan tujuan dan
kebijakan umum penetapan harga serta serta pemberian persetujuan atas ususlan harga dari
manajemen dibawahnya.

Masalah penentuan Harga Transfer dijumpai dalam perusahaan yang organisasinya disusun
menurut pusat – pusat laba, dan antara pusat laba yang dibentuk terjadi transfer barang atau jasa.
Latar belakang timbulnya masalah harga transfer dapat dihubungkan dengan proses diferensiasi
bisnis dan perluna integrasi dalam organisasi yang telah melakukan diferensiasi bisnis.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana analisis kasus harga transfer pada PT. Adora ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui kasus harga transfer yang terjadi pada PT. Adora.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Harga Transfer

2.1.1 Pengertian Harga Transfer

Harga transfer adalah harga produk atau jasa yang ditransfer kepada suatu pusat
pertanggungjawaban di dalam suatu perusahaan yang menggunakan produk atau jasa dari pusat
pertanggungjawaban lainnya dalam suatu perusahaan.jika dua atau lebih pusat laba bertanggung
jawabbersama atas pengembangan, pembuatan, dan pemasaran suatu produk, maka masing-
masing harus membagi pendapatan yang dihasilkan ketika produk tersebut terjual.

2.1.2 Tujuan Harga Transfer

Efektifitas penggunaan berbagai metode perhitungan laba rugi sebagai sarana


pengukuran prestasi manajer divisi pusat laba dan pusat investasi sangat tergantung pada
ketepatan dalam penentuan besarnya harga transfer yang menjadi wewenang divisi tersebut.
Tujuan yang ingin dicapai, dengan diterapkannya kebijaksanaan harga transfer
dalam suatu perusahaan yaitu Untuk perlakuan yang adil dalam penilaian prestasi. Adanya
perlakuan yang seimbang dan tidak membeda-bedakan bagi divisi penjual dan pembeli yaitu
divisi penjual mempunyai hak untuk menjual pada konsumen di dalam maupun diluar
perusahaan dengan harga tertinggi yang paling menguntungkan adalah :
1. Untuk mengurangi beban pajak. Perusahaan akan berusaha menghindari dari kewajiban pajak
dengan memanfaatkan perbedaan tarif pajak antar Negara dengan menggeser jumlah laba
pada Negara yang tariff pajaknya rendah.
2. Untuk mengurangi resiko pertukaran. Harga transfer digunakan untuk mentransfer dana dari
Negara-negara yang dinilai tukarannya rebdah sehingga dapat meminimumkan kerugian
akibat selisih nilai tukar.
3. Meningkatkan laba perusahaan multinasional dari kerjasama. Harga transfer digunakan
perusahaan induk untuk memperkecil laba perusahaan yang didirikan bersama perusahaan
local. Maka perusahaan induk harus terlebih dahulu merancang agar perusahaan kerjasama
tersebut terkait secara operasional dengan perusahaan induk.
4. Menyembunyikan tingkat laba sesungguhnya perusahaan afiliasi. Perusahaan multinasional
berusaha menyamarkan tingkat laba sebenarnya perusahaan afiliasi dengan menetapkan
harga transfer yang tinggi untuk Negara yang tarif pajaknya lebih rendah.
2.1.3 Metode-Metode Dalam Harga Transfer
Tentunya dalam penentuan harga transfer manajemen tidak dapat sembarangan
menentukan harga, secara garis besar harga tersebut sebisa mungkin tidak merugikan salah
satu pihak yang terlibat, selain itu harga transfer dalam praktiknya harus terusdiperhatikan
agar tujuan manajemen sesuai dengan tujuan perusahaan. Prinsip dasarnya adalah bahwa
harga transfer sebaiknya serupa dengan harga yang akan dikenakan seandainya produk
tersebut dijual ke konsumen luar atau dibeli dari pemasok luar. Namun hal tersebut dalam
dunia nyata sangat sulit diterapkan, hanya sedikit perusahaan yang menetapkan prinsip ini.

Metode penentuan Harga Transfer :

a) Metode Variable Cost

Adalah penetapan harga transfer yang sama dengan biaya variabel unit penjualan, Standard +
Laba. Hal ini dilakukan apabila penjual mempunyai kapasitas yang berlebihan. Tujuan
utamanya adalah untuk memuaskan permintaan internal karena harganya cukup rendah.

b) Metode Full Cost,

Adalah penetapan harga transfer berdasarkan pembebanan penuh dan yang paling umum
digunakan karena dapat dipahami dengan baik dan informasinya siap tersedia pada catatan
akuntansi. Kelemahannya adalah termasuk biaya-biaya tetap yang berpengaruh terhadap
keputusan jangka pendek.

c) Metode Market Price,

Adalah penetapan harga transfer berdasarkan harga pasar, dan metode ini paling disukai.
Keunggulannya bahwa harga transfernya cukup obyektif. Kelemahannya bahwa harga pasar
produk/jasa tertentu tidak tersedia.

d) Metode Negotiated Price,

Adalah penetapan harga transfer berdasarkan negosiasi antara 2 (dua) pusat


pertanggungjawaban. Metode ini dilakukan jika terdapat suatu pertentangan yang cukup
signifikan diantara keduanya sehingga dicapai kesepakatan harga oleh kedua belah pihak,
sehingga tidak perlu arbitrasenya. Keterbatasannya adalah mengurangi otonomi unit-unit
tersebut.

2.2 Perusahaan Multinasional


Perusahaan Multinasional (Multinational Corporation/MNC) adalah perusahaan yang
beroperasi melewati lintas batas antarnegara, yang terikat hubungan istimewa, baik karena
penyertaan modal saham, pengendalian manajemen atau penggunaan teknologi; dapat berupa
anak perusahaan, cabang perusahaan, agen, dan sebagainya dengan berbagai motif.

Ada tiga motif utama berdirinya MNC :


 Bermotif memperluas usahanya dalam rangka mencari bahan baku (raw material seeker)
dan menjual produknya ke luar negeri. Bahkan, pemerintah tidak tahu berapa banyak dan
apa saja yang dihasilkan oleh perusahaan asing tersebut (seperti PT Freeport (timah dan
emas) di Irian Jaya, PT Caltex (minyak) di Riau, dan PT Port Newman (minyak) di Batu
Binjai NTB).
 Bermotif mencari pasar (market seeker). Setelah terpenuhinya pasar dalam negara
tersebut,
perusahaan multinasional ini berusaha mencari pasar-pasar baru untuk memasarkan
produknya. Hal ini dapat memperluas jangkauan pemasaran barang tersebut.
 Bermotif menimumkan biaya (cost minimazer), seperti keringanan pajak, tenaga kerja
murah, harga tanah murah, biaya pengolahan limbah dengan syarat ringan, menghindari
adanya batasan kuota di negaranya, dan pelayanan purnajual cepat.

2.3 Hubungan Istimewa

Terdapat hubungan istimewa antara induk perusahaan dengan anak perusahaannya


atau cabang-cabangnya atau perwakilannya yang berada di dalam negeri maupun di luar
negeri, di Indonesia diatur dalam Pasal 18 ayat (3), (3a), dan (4) UU PPh, yang menyatakan
sebagai berikut:
(3) Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan
pengurangan serta menentukan utang sebagai modal untuk menghitung besarnya
Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan
Wajib Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak
dipengaruhi oleh hubungan istimewa dengan menggunakan metode perbandingan harga
antara pihak yang independen, metode harga penjualan kembali, metode biaya-plus, atau
metode lainnya.
(3a) Direktur Jenderal Pajak berwenang melakukan perjanjian dengan Wajib Pajak dan
bekerja sama dengan pihak otoritas pajak negara lain untuk menentukan harga transaksi
antar pihak- pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam
ayat (4), yang berlaku selama suatu periode tertentu dan mengawasi pelaksanaannya
serta melakukan renegosiasi setelah periode tertentu tersebut berakhir.

(4) Hubungan istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (3)sampai dengan ayat (3d), Pasal 9 ayat (1)
huruf f, dan Pasal 10 ayat (1) dianggap ada apabila:
a. Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah 25%
(dua puluh lima persen) pada Wajib Pajak lain; hubungan antara Wajib Pajak dengan
penyertaan paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada dua Wajib Pajak atau lebih; atau
hubungan di antara dua Wajib Pajak atau lebih yang disebut terakhir;
b. Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib Pajak berada di bawah
penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung; atau
c. Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus
dan/atau ke samping satu derajat.
2.4 Arm’s-length Standard

Menurut Arm’s-length standard, harga-harga transfer seharusnya ditetapkan supaya


dapat mencerminkan harga yang akan disusun oleh pihak-pihak yang tidak terkait yang bertindak
secara bebas. Arm’s-length standard diterapkan dalam banyak cara, tetapi metode yang paling
banyak digunakan adalah sebagai berikut:

1. Comparable uncontrolled pricing method

Metode ini mengevaluasi kewajaran harga transfer dengan mengacu kepada tingkat harga
yang terjadi antara unit yang independen atau antara perusahaan multinasional dengan unit yang
independen. Secara teoritis metode ini termasuk yang paling baik, namun dalam pelaksanaannya
terdapat beberapa kendala, misalnya perbedaan kuantitas, kualitas, kondisi, waktu penjualan,
merek dagang, pangsa pasar, dan geografis pasar.

2. Resale pricing method

Metode ini ditetapkan untuk produk yang ditransfer ke anggota group lainnya untuk dijual
kembali. Kewajaran harga transfer didekati dengan pengurangan harga penjualan kepada pihak
independen dengan suatu mark up yang wajar (sebanyak laba dan biaya si penjual).

3. Cost plus pricing method

Metode ini mendekati kewajaran harga transfer dengan menambahkan markup yang wajar
pada harga pokok pihak yang mentransfer. Pendekatan ini umumnya dipakai dalam hal
penyerahan barang setengah jadi (semifinished product) atau salah satu anggota group sebagai
subkontaktor dari yang lainnya.
4. Other method
Dalam keadaan tertentu, kombinasi ketiga metode diatas perlu diterapkan atau mungkin
menggunakan metode lain, misalnya alokasi laba yang diperoleh grup perusahaan dalam transaksi
tertentu, kalkulasi tingkat keuntungan yang pantas pada investasi wajib pajak (Frederick D. S.
Choi dan Genhard G. Mueller, 1985).
2.5 Perusahaan Multinasional dan Aspek Pajaknya

Perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia dalam arti perusahaan-perusahaan


multinasional Indonesia yang mempunyai unit (anak perusahaan/ cabang/ perwakilan) di luar
negeri maupun perusahaan-perusahaan multinasional di luar negeri yang mempunyai unit (anak
perusahaan/ cabang/ perwakilan) di Indonesia pada umumnya akan senantiasa berusaha dengan
instrumen harga transfer, mencapai salah satu tujuannya memaksimalkan keuntungan dengan
berupaya meminimalkan beban pajaknya, terutama pajak penghasilan badan (corporation income
tax).

Upaya yang dilakukan dengan pergeseran harga dari negara yang beban pajaknya tinggi
ke negara yang beban pajaknya rendah atau nihil. Selain itu, diadakan pula perjanjian bilateral di
bidang perpajakan, dengan maksud antara lain untuk menghindarkan pengenaan pajak berganda,
sehingga beban pajak dapat ditekan.

Sebagai contoh, pembebanan harga transfer yang rendah untuk anak perusahaan asing
mungkin akan mengurangi pembayaran bea cukai sebagai akibat dari batas-batas internasional,
atau mungkin membantu anak perusahaan untuk bersaing dalam pasar asing dengan
mempertahankan biaya anak perusahaan yang rendah. Di sisi lain, membebankan suatu harga
transfer yang tinggi mungkin membantu MNC mengurangi laba pada negeri yang telah
memperketat kendali pengiriman uang asing, atau mungkin memberikan kemudahan bagi MNC
memindahkan pendapatan dari suatu negara yang memiliki tingkat pajak pendapatan yang tinggi
ke suatu negara dengan tingkat pajak rendah (tax haven country).
indikator dari manipulasi harga transfer, yaitu antara lain:

1. SPT Tahunan PPh Badan melaporkan rugi dalam beberapa tahun berturut-turut
2. Peredaran usaha tinggi tapi laba yang diperoleh kecil
3. Transaksi hubungan istimewa yang cukup besar
4. Rugi yang tidak dapat dijelaskan
Untuk meminimalkan atau mengurangi praktik penghindaran pajak, Direktur Jenderal
Pajak mengeluarkan peraturan baru yang dituangkan dalam Peraturan Dirjen Pajak No.
PER32/PJ/2011 tentang Penerapan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha dalam Transaksi
antara Wajib Pajak dengan Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa sebagai perubahan atas
PER43/PJ/2010.
2.6 Advance Pricing Agreement (APA)

Advanced Pricing Agreement (APA) adalah persetujuan di antara Internal Revenue Service
(IRS) dan perusahaan dengan menggunakan harga-harga transfer, untuk menetapkan harga
transfer yang disepakati. APA biasanya diperoleh sebelum perusahaan terikat dalam transfer.
Maksud dari program APA adalah memecahkan masalah perselisihan harga transfer dengan cara
tepat dan menghindari proses pengadilan yang menghabiskan banyak biaya.

Kesepakatan yang dibuat dalam APA terjadi antara wajib pajak dengan otoritas pajak,
bisa terjadi dengan satu otoritas pajak dan juga dengan dua otoritas pajak dari negara yang
berbeda. Apabila APA dilakukan antara wajib pajak dengan otoritas pajak dalam satu negara
maka disebut unilateral APA, sedangkan apabila APA dibuat oleh wajib pajak dengan dua atau
lebih otoritas pajak dari negara yang berbeda maka disebut multilateral APA.

Beberapa manfaat dari diselenggarankannya APA adalah sebagai berikut :

• Memberikan kepastian kepada wajib pajak atas semua penghitungan mengenai harga
transaksi dengan menggunakan metode yang disetujui.

• Memberikan kepastian terhadap kegiatan wajib pajak termasuk kepastian mengenai


kewajiban pajak yang berkaitan dengan harga transfer.

• Mengurangi biaya dan waktu pada saat diaudit, karena selama periode APA berlaku harga
transaksi yang telah disepakati oleh wajib pajak dan otoritas pajak.

• Dapat mencegah praktik harga transfer yang tidak benar dan semata-mata hanya untuk
menghindari pajak.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Analisis Kasus Transfer Pricing PT. Adaro

Adanya kasus transfer pricing antara PT. Adaro Indonesia dengan anak perusahaanya yaitu
Coaltrade services International Pte Ltd, telah menunjukan bahwa adanya indikasi
penyalahgunaan sistem harga transfer yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. Sistem harga
transfer sejatinya merupakan suatu harga jual khusus yang dipakai dalam pertukaran antar
divisional untuk mencatat pendapatan divisi penjual (selling division) dan biaya divisi pembeli
(buying divison) (Henry Simamora, 1999:272) serta terkadang digunakan untuk mengevaluasi
kinerja divisi dan memotivasi manajer divisi penjual dan divisi pembeli menuju
keputusankeputusan yang serasi dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan. (Joshua Ronen
and George McKinney, 1970:100-101). Namun praktik yang dilakukan oleh perusahaan,
khususnya perusahaan multinasional sering tidak sesuai dengan apa yang seharusnya mereka
lakukan atau tidak sesuai dengan mekanisme sistem harga transfer yang sesungguhnya. Dimana
perusahaan melakukan praktik transfer pricing ini hanya untuk menghindari pungutan pajak
dalam negeri supaya penghasilan perusahaan atau pemegang saham menjadi lebih tinggi.
Menurut Zain (2003:297-298), kebijakan transfer pricing multinasional bertujuan:
1. Memaksimalkan penghasilan global
2. Mengamankan posisi kompetitif anak/cabang perusahaan dan penetrasi pasar
3. Evaluasi kenerja anak/cabang perusahaan manca negera
4. Penghidaran pengendalian devisa
5. Mengontrol kredibilitas asosiasi
6. Meningkatkan bagian laba joint ventura
7. Reduksi resiko moneter
8. Mengamankan cash flow anak/cabang di luar negeri
Menurut teori diatas seharusnya transfer pricing dilakukan untuk tujuan perusahaan
Namun dalam kasus Adaro ini praktik transfer pricingnya dilakukan untuk memfasilitasi para
pemegang saham untuk mendapatkan keuntungan sebesar besarnya, bukan untuk memfasilitasi
perusahaan mendapatkan keuntungan. Ketika para individu atau pemegang saham ini hanya
memfokuskan pada keuntungan individu tanpa memperhatikan keuntungan perusahaan, maka
tujuan dari dilaksanakanya sistem harga transfer inipun menjadi tidak bisa dicapai serta sistem
harga transfer yang dijalankan pun menjadi disfungsional.
Timpangnya harga transfer yang dilakukan antara Adaro dengan anak perusahaanya
apabila dibandingkan dengan harga pasar batubara secara internasionla sebenarnya juga telah
melanggar UU perpajakan yang berlaku di indonesia. Dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang
Perpajakan No. 11 Tentang Pajak Pertambahan Nilai mengatur tentang transaksi yang
berhubungan dengan transfer pricing. Pasal ini berbunyi : Dalam hal harga jual atau
penggantian dipengaruhi oleh hubungan istimewa, maka harga jual atau penggantian dihitung
atas dasar harga pasar wajar pada saat penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak itu
dilakukan. Oleh karena itu, sebenarnya dibutuhkan peran langsung dari pemerintah untuk
mencegah terjadinya kasus Adaro ini di perusahaan-perusahaan besar di indonesia lainya.
Apabila pemerintah kurang tanggap dalam mengantisipasi praktik-praktik penyalahguanaan
sistem harga tranfer ini maka sangat wajar bila kedepanya pendapatan negara dari sektor pajak
akan berkurang karena perusahaan- perusahaan yang lain tentunya juga akan meniru cara yang
dilakukan oleh PT. Adaro Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah seharusnya semakin ketat dalam
melakukan pengawasan terhadap sitem harga transfer yang dilakukan oleh perusahaan-
perusahaan di indonesia . Adanya berbagai undang-undang yang mengatur mekanisme harga
tranfer antar anak perusahaan yang masih dalam satu grup perusahaan seharusnya bisa
mempermudah pemerintah unutk mencegah kasus adaro ini terulang. Keberadaan Undang-
Undang Perpajakan No. 10 Tahun 1994 , Surat Edaran Dirjen Pajak N0. SE-04/PJ.7/1993, dan
undang- Undang lainya seharusnya bisa memberikan kekuatan bagi pemerintah untuk melakukan
pengawsan serta koreksi terhadap transaksi-transaksi perusahaan yang menyalahi aturan. Ketika
seluruh elemen baik itu elemen dari pemerintah, ataupun perusahaan telah berkomitmen
menjalankan kewajibanya masing-masing maka akan sangat mmudah untuk mencegah sistem
harga transfer yang dijalankan oleh perusahaan- perusahaan di dalam negeri menjadi
disfungsional serta mencegah praktik penghindaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan-
perusahaan dalam negeri melalu transaksi yang tidak wajar (non arm’s length price).
BAB IV

PENUTUP

4. 1 Kesimpulan

Harga transfer adalah harga produk atau jasa yang ditransfer kepada suatu pusat
pertanggungjawaban di dalam suatu perusahaan yang menggunakan produk atau jasa dari pusat
pertanggungjawaban lainnya dalam suatu perusahaan.jika dua atau lebih pusat laba bertanggung
jawabbersama atas pengembangan, pembuatan, dan pemasaran suatu produk, maka masing-
masing harus membagi pendapatan yang dihasilkan ketika produk tersebut terjual.

Transaksi transfer pricing adalah transaksi yang terjadi antara pihak – pihak yang mempunyai
hubungan istimewa, sehingga harga yang terjadi tidak bersifat arm’s length. Implementasi
transfer pricing cenderung dilakukan oleh perusahaan multinasional dengan tujuan untuk
penghindaran pajak.

Implikasi pajak yang signifikan dari transaksi transfer pricing adalah berkurangnya atau
hilangnya potensi penerimaan pajak yang seharusnya diperoleh .

Dan menurut kelompok kami dengan adanya transfer pricing bisa menghemat dan
meminimalkan beban pajak.

4.2 Saran

Berdasarkan pembahasan di atas dan simpulan yang telah di kemukakan sebelumnya,


pada bagian ini penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:

1 Penulis berharap dari adanya tugas ini dapat memberikan manfaat yang banyak bagi para
pembaca.

2 Mohon dimaklumi, jika dalam makalah kami ini masih terdapat banyak kekeliruan, baik
bahasa maupun pemahaman. Kami berharap kritik dan saran dari pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

Hansen D.R dan Maryanne M. Mowen. “Akuntansi Manajemen edisi 4 jilid 1”. Jakarta : Penerbit
Erlangga.

Prof. Drs.H.Lili M. Sadeli, M.Pd. dan Drs. H. Bedjo Siswanto,M.Si., “Akuntansi Manajemen”, (Jakarta:
PT.Bumi Aksara, 2004)