Anda di halaman 1dari 32

PENGAUDITAN I (EKA 439 AP)

BAB IV

(Tujuan Pengauditan dan Tanggung Jawab Auditor)

OLEH:
Kelompok 1
A. A Sagung Ani Pradnyadewi Krisna (1607531031) (18)
Ni Putu Gita Darmayanti (1607531144) (25)
A. A Sg Mas Gita PramitA (1607531146) (26)
Putu Laksmi Puspita Yanti (1607531148) (27)
Desak Nyoman Sri Juliartini (1607531149) (28)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS UDAYANA

AKUNTANSI REGULER

2018

1
Tujuan Pengauditan Atas Laporan Keuangan
Satandar Audit 200 berbunyi bahwa tujuan suatu audit adalah untuk meningkatkan keyakinan
penggunaan laporan keuangan yang dituju.
Tahapan yang ditempuh auditor dalam mengembangkan tujuan audit adalah sebagai berikut:
1. Memahami tujuan dan tanggungjawab suatu audit.
2. Membagi laporan keuangan menjadi siklus-siklus.
3. Memahami asersi-asersi manajemen tentang laporan keuangan.
4. Memahami tujuan umum audit untuk golongan-golongan transaski, akun-akun, dan
pengungkapannya.
5. Memahami tujuan khusus audit untuk kelompok golongan transaksi, akun-akun, dan
pengungkapannya.
Tanggungjawab Manajemen
Tanggungjawab untuk mengadopsi kebijakan akuntansi yang tepat, menerapkan pengendalian
internal yang memadai, dan membuat penyajian yang wajar dalam laporan keuangan adalah
taggungjawab manajemen.
SA 200 (Para A2) menyatakan bahwa suatu audit berdasarkan SA dilaksanakan dengan premis
bahwa manajemen dan, jika relevan, pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola, mengakui
dan memahami bahwa mereka memiliki tanggungjawab:
a. Manyususn laporan keuangan, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku,
termasuk jika relevan, penyajian wajar laporan keuangan.
b. Menetapkan dan menjalankan pengendalian internal yang dipandang perlu oleh
manajemen dan jika relevan pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola, untuk
memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang bebas dari kesalahan penyajian
material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan
c. Menyediakan hal-hal di bawah ini bagi auditor:
1. Menyediakan akses ke seluruh informasi yang disadari oleh manajemen dan jika
relevan pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola, relevan dengan penyususnan
laporan keuangan.
2. Informasi tambahan yang mungkin diminta oleh auditor dari manajemen dan jika
relevan, pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola, untuk tujuan audit.

2
3. Akses tidak terbatas ke orang-orang dalam entitas yang dipandang perlu oleh auditor
untuk memperoleh bukti audit.
Tanggungjawab Auditor
Standar auditing (SA 200 Para 11) menyatakan tujuan keseluruhan auditor sebagai berikut:
Dalam melaksanakan audit atas laporan keuangan, tujuan keseluruhan auditor adalah:
a. Memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan secara keseluruhan
bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun
kesalahan, dan oleh karena itu, memungkinkan auditor untuk menyatakan suatu opini
tentang apakah laporan keuangan disusun dalam semua hal yang material, sesuai dengan
kerangka pelaporan keuangan yang berlaku, dan
b. Melaporkan atas laporan keuangan dan mengomunikasikannya sebagaimana ditentukan
oleh SA berdasarkan temuan auditor.
Kesalahan Penyajian Material
Sebagai basis untuk opini auditor, SA mengharuskan auditor untuk memperoleh keyakinan
memadai tentang apakah laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian
material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. Meskipun tidak mudah
untuk mengkuantifikasi ukuran materialitas, auditor bertanggungjawab untuk mendapatkan
keyakinan memadai bahwa persyaratan materialitas ini telah terpenuhi. Konsep materialitas
diterapkan oleh auditor dlaam perencanaan dan pelaksanaan audit, serta dalam pengevaluasian
dampak kesalahan penyajian dalam audit dan kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi, yang
teridentifikasi terhadap laporan keuangan.
Keyakinan Memadai
Keyakinan yang memadai merupakan tingkat keyakinan tinggi. Keyakinan tersebut diperoleh
ketika auditor telah mendapatkan bukti audit yang cukup dan tepat untuk menurunkan risiko
audit ke suatu tingkat rendah yang bisa diterima. Namun, keyakinan memadai bukan merupakan
suatu tingkat keyakinan absolut. Keyakinan ini menunjukkan bahwa auditor bukanlah penjamin
atau pemberi garansi tentang kebenaran laporan keuangan. Jadi suatu audit yang dilaksanakan
sesuai dengan standar auditing, bisa gagal untuk mendeteksi keslaahan penyajian material.
Auditor bertanggungjawab untuk keyakinan memadai, bukan keyakinan absolut, karena
alasan-alasan berikut:

3
1. Kebanyakan bukti audit diperoleh dari pengujia atas suatu sampel dari suatu populasi,
seperti piutang usaha atau persediaan.
2. Akuntansi berisi estimasi yang kompleks, yang secara inheren mengandung
ketidakpastian dan bisa dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di masa datang. Akibatnya
auditor hanya bisa mengandalkan pada bukti yang persuasif, tetapi tidak meyakinkan.
3. Penyajian laporan keuangan yang mengandung kecurangan sangat sulit untuk dideteksi,
terutama bila terdapat kolusi di kalangan manajemen.
Skeptisisme Profesional
Skeptisisme profesional adalah suatu sikap yang mencakup suatu pikiran yang selalu
mempertanyakan, waspada terhadap kondisi yang dapat mengindikasikan kemungkinan
kesalahan penyajian, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan, dan penilaian
penting atas suatu bukti audit.
Aspek Skeptisisme Profesional
Skeptisisme profesional terdiri dari dua komponen utama, yaitu: 1) suatu pikiran yang selalu
mempertanyakan dan 2) sikap waspada atau kritis dalam menilai bukti audit. Walaupun auditor
bersikap percaya bahwa organisasi yang telah diterimanya sebagai klien memiliki integritas dan
jujur, namun dengan selalu berpikiran mempertanyakan akan membantu auditor dalam
menghilangkan bias alami untuk percaya pada klien. Skpetisisme profesional meliputi penilaian
kritais atas bukti-bukti yang mencakup pertanyaan yang menyelidik dan perhatian terhadap
kemungkinan inkonsistensi. Skeptisisme profesional mencakup kewaspadaan terhadap antara
lain hal-hal sebagai berikut:
a. Bukti audit yang bertentangan denagnbukt audit lain yang diperoleh.
b. Informasi yang menimbulkan pertanyaan tentang keandalan dokumen dan tanggapan
terhadap permintaan keterangan yang digunakan sebagai bukti audit.
c. Keadaan yang mengidentifikasian adanya kemungkinan kecurangan.
d. Kondisi yang menyarankan perlunya prosedur audit tambahan selain prosedur yang
disyaratkan oleh SA.
Memperoleh skeptisisme profesional selama audit diperlukan jika auditor berusaha untuk
mengurangi resiko misalnya:
a. Kegagalan dalam melihat kondisi-kondisi tidak lazim.

4
b. Terlalu menyamaratakan kesimpulan ketika menarik kesimpulan tersebut dari observasi
audit.
c. Menggunakan asumsi yang tidak tepat dalam menetapkan sifat, saat, dan luas prosedur
audit serta penilaian atas hasilnya.
Pertimbangan Profesional
Paragraf 16 SA200 menetapkan sebagai berikut:
Auditor harus menggunakan pertimbangan profesional dalam merencanakan dan melakukan
audit laporan keuangan.
Pertimbangan profesional saat audit karena interpretasi ketentuan etika dan SA yang relevan,
serta keputusan yang telah diinformasikan yang diharuskan selama audit tidak dapat dibuat
tanpa penerapaan pengetahuan dan pengalaman yang relevan pada fakta dan kondisi terkait.
Pertimbangan profesional terutama diperlukan dalam membuat keputusan tentang:
a. Materialistis dan risiko audit.
b. Sifat, saat, dan luas prosedur audit yang digunakan untuk memenuhi keperluan SA dan
mengumpulkan bukti audit.
c. Pengevaluasian tentang apakah bukti audit yang cukup dan tepat telah diperoleh, dan
apakah pengevaluasian lebih lanjut dibutuhkan untuk mencapai tujuan SA dan tujuan
keseluruhan auditor.
d. Pengevaluasian tentang pertimbangan manajemen dalam menerapkan kereangka
pelaporan keuangan yang berlaku bagi entitas.
e. Penarikan kesimpulan berdasarkan bukti yang diperoleh, sebagai contoh, penilaian atas
kewajaran estimasi yang dibuat oleh menajemen dalam menyusun laporan keuangan.
Karakteristik pertimbangan profesional yang diharapkan dari seorang auditor adalah
pertimbangan yang dibuat oleh seorang aditor yang pelatihan, pengetahuan, dan
pengalamannya telah membantu pertimbangan-pertimbangan wajar yang dibuatnya.
Pertimbangan perlu dilakukan sepanjang audit. Pertimbangan tersebut harus
didokumentasikan, hal tersebut nantinya berguna untuk seorang audit yang berpengalaman
yang sebelumnya tidak mempunyai hubungan dengan audit tersebut.
Tanggungjawab Auditor untuk Menemukan Kesalahan dan Kecurangan Material
Standar auditing membedakan dua tipe penyajian yaitu kesalahan dan kecurangan. Kedua tipe
ini bisa material dan bisa juga non material. Kesalahan adalah salah saji dalam laporan keuangan

5
yang tidak disengaja. Sedangkan kecurangan adalah salah saji yang disengaja. Contoh kesalahan,
salah dalam melakukan perkalian antara jumlah unit dengan harga per unit dalam membuat
faktur penjualan, salah dalam menerapkan metode harga wajar persediaan untuk persediaan yang
telah lama tidak laku.
Kecurangan adalah suatu tindakan yang disengaja oleh suatu individu atau lebih dalam
manajemen, pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola, karyawan atau pihak ketiga, yang
melibatkan penggunaan tipu muslihat untuk memperoleh suatu keuntungan secara tidak adil atau
melanggar hukum. Kecurangan dibedakan menjadi 1) penyalahgunaan aset, dan 2) pelaporan
keuangan yang mengandung kecurangan. Kecurangan ini lebih sering dilakukan oleh
manajemen, jadi sering disebut dengan kecurangan manajemen. Contohnya, dalam pelaporan
tanggal neraca untuk meningkatkan laba bersih dalam laporan keuangan.
Standar audit tidak membedakan antara tanggungjawab audit untuk mencari kesalahan dan
kecurangan. Baik untuk kesalahan maupun kecurangan suditor harus mendapat keyakinan
memadai tentang laporan keuangan yang bebas dari kesalahan penyajian material. Kecurangan
sering sulit dideteksi karena karyawan dan manajemen yang malakukan kecurangan akan
berusaha menutupinya. Namun, tanggungjawab auditor terletak pada perencanaan dan
pelaksanaan audit dengan tepat guna mendeteksi kesalahan penyajian material, baik yang
disebabkan oleh kesalaahan maupun kecurangan.
Tanggungjawab untuk Pencegahan dan Pendeteksian Kecurangan
SA 240 (paragraf 4) menyebutkan sebagai berikut:
Tanggungjawab utama untuk pencegahan dan pendeteksian kecurangan berada pada dua
pihak yaitu yang bertanggungjawab atas taat kelola entitas dan manajemen. Merupakan hal
penting bahwa manajemen, dengan pengawasan oleh pihak yang bertanggungjawab atas tata
kelola, menekankan pencegahan kecurangan, yang dapat mengurangi peluang terjadinya
kecurangan dan pencegahan kecurangan (fraud deterrence), yang dapat membujuk individu-
individu untuk tida melakukan kecurangan karena kemungkinan akan terdeteksi dan terkena
hukuman. Pengawasan oleh pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola meliputi pertimbangan
tentang potensi pengesampingan pengendalian atau pengaruh tidak patut atas proses pelaporan
keuangan seperti usaha manajemen untuk mengelola laba dengan tujuan untuk memengaruhi
persepsi analis kinerja dan probabilitas entitas.

6
Tanggungjawab Auditor
Paragraf 5 SA 240 meyebutkan:
Auditor yang melaksanakan audit berdasarkan SA bertanggungjawab untuk memperoleh
keyakinan memadai apakah laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian
material, yang disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan. Karena keterbatasana bawaan suatu
audit, maka selalu ada risiko yang tidak terhindarkan bahwa beberapa kesalahan penyajian
material dalam laporan keuangan mungkintidak akan terdeteksi, walupun audit telah
direncanakan dan dilaksanakan dengan baik berdasarkan SA.
Dalam memperoleh keyakinan memadai auditor bertanggungjawab untuk menjaga
skeptisisme profesional selama audit, mempertimbangkan potensi terjadinya pengabaian
pengendalian oleh manajemen, dan mendeteksi kesalahan mungkin tidak akan efektif dalam
mendeteksi kecurangan. Ketentuan dalan SA dirancang untuk membantu audit dalam
mengidentifkasi dan menilai risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh
kecurangan dan dalam merancang proses untuk mendeteksi kesalahan penyajian tersebut.
Karakteristik Kecurangan
Kecurangan, apakah dalam pelaporan keuangan atau penyalahgunaan asset, dapat terjadi
karena dorongan (insentif) atau tekanan untuk melakukan pelaporan keuangan yang mengandung
kecurangan, peluang untuk melakukan kecurangan dan pembenaran atas tindakan tersebut.
Sebagai contoh :
1. Dorongan atau tekanan untuk melakukan pelaporan keuangan yang mengandung
kecurangan dapat timbul ketika manajemen berada dalam tekanan, baik dari pihak luar
maupun idalam entitas, untuk mencapai suatu harapan (dan mungkin tidak realistis) target
laba atau hasil keuangan, terutama jika konsekuensi bagi manajemen yang gagal dalam
mencapai target keuangan mungkin signifikan. Sama halnya bisa juga terjadi pada
individu yang mungkin memiliki dorongan untuk menyalahgunakan asset, misalnya
karena individu tersebut memiliki gaya hidup yang memiliki kemampuannya.
2. Peluang untuk melakukan kecurangan mungkin ada jika individu percaya bahwa
pengendalian internal dapat diabaikannya misalnya, karena individu tersebut berada
dalam posisi yang dipercayai atau memiliki pengetahuan mengenai defisiensi spesifik
dalam pengendalian internal.

7
3. Individu mungkin dapat mengemukakan alasan untuk pembenaran tindakan kecurangan.
Beberapa individu memiliki tingkah laku, karakter atau serangkaian nilai etika yang
memungkinkan mereka secara sadar dan sengaja melakukan tindakan yang tidak jujur.
Namun, mereka yang jujur sekalipun dapat melakukan kecurangand alam lingkungan
yang memberikan tekanan cukup besar kepada mereka.

Pelaporan keuangan yang mengandung kecurangan, dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut :

1. Manipulasi, pemalsuan (termasuk peniruan) atau pengubahan catatan akuntansi atau


dokumentasi pendukung yang menjadi dasar penyusunan laporan keuangan.
2. Pernyataan salah, atau penghilangan secara sengaja atas peristiwa, transaksi atau
informasi signifikan lain dalam lap. keuangan.
3. Penerapan salah yang disengaja atas prinsip akuntansi yang berkaitan dengan jumlah,
klasifikasi, penyajian atau pengungkapan.

Pelaporan keuangan yang mengandung kecurangan seringkali melibatkan pengabaian


pengendalian oleh manajemen walaupun pengendalian tersebut tampak beroprasi dengan
efektif. Kecurangan dapat dilakukan melalui pengabaian pengendalian oleh manajemen
dengan beberapa teknk sebagai berikut :
1. Mencatat jurnal fiktif, terutama menjelang akhir periode akuntansi, untuk memanipulasi
hasil operasi atau untuk mencapai tujuan lainnya.
2. Menyesuaikan asumsi secara tidak tepat dan mengubah pertimbangan yang telah
digunakan untuk mengestimasi saldo akun
3. Menghilangkan, mengakui lebih dahulu atau menunda pengakuan didalam laporan
keuangan atas peristiwa dan transaksi yang telah terjadi selama periode pelaporan.
4. Menyembunyikan, atau tidak mengungkapkan, fakta yang dapat memengaruhi suatu
jumlah yang tercatat dalam laporan keuangan.
5. Menggunakan transaksi yang kompleks yang disusun utuk menyajikan posisi atau kinerja
keuangan entitas yang salah.
6. Mengubah catatan dan ketentuan yang terkait dengan transaksi signifikan dan tidak biasa.
Penyalahgunaan asset mencakup pencurian asset entitas dan seringkali dilakukan oleh
karyawan dalam jumlah yang relative kecil dan tidak material. Namun, hal tersebut juga dapat

8
melibatkan manajemen yang biasanya lebih dapat menutupi atau menyembunyikan
penyalahgunaan dengan cara yang lebih sulit untuk terdeteksi. Penyalah gunaan asset dapat
dilakukan dengan berbagai cara, meliputi :
1. Menggelapkan penerimaan.
2. Mencuri asset fisik atau kekayaan intelektual.
3. Menyebabkan entitas membayar untuk barang dan jasa yang tidak pernah diterima.
4. Menggunakan asset entitas untuk kepentingan pribadi.

TANGGUNGJAWAB AUDITOR TENTANG PERTIMBANGAN ATAS PERUNDANG –


UNDANGAN DALAM AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN
Tanggungjawab untuk Mematuhi Peraturan Peundang – Undangan
Tanggungjawab untuk mematuhi peraturan perundang – undangan adalah merupakan
tanggungjawab manajemen, dengan pengawasan dengan pihak yang bertanggungjawab atas tata
kelola, untuk memastikan bahwa operasi entitas dijalankan dengan berdasarkan ketentuan
peraturan perundang – undangan, termasuk kepatuhan terhadap ketentuan dalam perundang –
undangan yang menentukan jumlah dan pengungkapan yang harus dilaporkan dalam laporan
keuangan suatu entitas.

Prosedur Audit Pada Saat Ketidakpatuhan Teridentifikasi atau Diduga Terjadi


Jika auditor mengetahui informasi mengenai suatu kejadian ketidakpatuhan atau dugaan
ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang – undangan, auditor harus memperoleh :
a) Pemahaman atas sifat ketidakpatuhan dan kondisi terjadinya ketidakpatuhan dan
b) Informasi lebih lanjut untuk mengevaluasi dampak yang mungkin terjadi terhadap
laporan keangan.
Jika auditor menduga kemungkinan terjadi ketidakpatuhan, maka audior harus membahas hal
tersebut dengan manajemen dan, jika relevan, dengan pihak pihak yang bertanggungjawab atas
tata kelola. Jika manajemen atau, jika relevan, pihak pihak yang bertanggungjawab atas tata
kelola, tidak dapat memberikan informasi memadai yang mendukun kepatuhan entitas terhadap
peraturan perundang – undangan dan, dalam pertimbangan auditor, dampak dugaan
ketidakpatuhan tersebut material terhadap laporan keuangan, maka auditor harus
mempertimbangkan keputusan untuk memperoleh advis hukum. Jika informasi tentang dugaan

9
adanya ketidakpatuhan tidak cukup diperoleh, auditor harus mengevaluasi dampak tidak
memadainya bukti audit yang cukup dan teapat tersebut terhadap opini auditor. Auditor harus
melakukan evaluasi atas implikasi ketidakpatuhan terhadap aspek – aspek lain dalam audit,
termasuk penilaian resiko yang dilakukan auditor dan keandalan representasi tertulis.

Pelaporan Atas Ketidakpatuhan yang Diidentifikasi atau Diduga Terjadi


Sesuai dengan SA 705, jika auditor menyimpulkan bahwa ketidakpatuhan berdampak
material terhadap laporan keuangan, dan belum tercermin secara memadai dalam laporan
keuangan, maka auditor dapat menyatakan suatu opini wajar dengan pengecualian atau suatu
opini tidak wajar atas laporan keuangan tersebut.
Jika auditor dihalangi oleh manajemen atau pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola
untuk memperoleh bukti audit cukup dan tepat untuk mengevaluasi apakah ketidakpatuhan yang
mungkin berdampak material terhadap laporan keuangan telah atau kemungkinan telah terjadi,
maka auditor harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian atau pernyataan tidak
memberikan opini atas laporan keuangan karena adanya pembatasan ruang lingkup audit.

PENDEKATAN SIKLUS DALAM PENGAUDITAN


Audit atas laporan keuangan biasanya dilakukan dengan cara memecah laporan keuangan
menjadi segmen segmen atau komponen yang lebih kecil. Dengan pemecahan semacam ini audit
menjadi lebih mudah dilaksanakan, dan mempermudah pembagian tugas diantara para anggota
tim audit. Tiap segmen diaudit secara terpisah, tetapi bukan selesai diaudit, termasuk audit
hubungan antar segmen dengan segmen lainnya, maka hasilnya digabungkan. Selanjutnya ditarik
kesimpulan tentang laporan keuangan sebagai keseluruhan.
Terdapat berbagai cara untuk melakukan segmentasi audit. Salah satu cara adalah dengan
memperlakukan setiap akun dalam laporan keuangan sebagai suatu segmen tersendiri.
Segmentasi dengan cara semacam itu sudah dianggap kuno dan dipandang tidak efisien. Dengan
cara ini, akun yang berkaitan sangat erat seperti peserdiaan dan harga pokok penjualan akan
diaudit secara terpisah.

10
SEGMENTASI AUDIT DENGAN PENDEKATAN SIKLUS
Dewasa ini, cara yang lazim untuk memecah suatu audit adalah dengan menempatkan
jenis (atau kelompok) transaki dan saldo akun yang berkaitan erat dalam segmen yang sama.
Cara semacam ini disebut pendekatan siklus. Sebagai contoh, penjualan, retur penjualan,
penerimaan kas dan penghapusan piutang tak tertagih adalah 4 golongan transaksi yang
menyebabkan akun piutang usaha bertambah atau berkurang. Oleh karena itu, keempat transaksi
tersebut ditempatkan dalam siklus penjualan dan pendapatan. Demikian pula, transaksi
penggajian dan utang gaji merupakan bagian dari siklus penggajian dan personalia.
Dengan menggunakan pendekatan siklus, proses pengauditan bisa berjalan lebih efisien,
karena pendekatan ini mengikuti aliran pencatatan dalam jurnal dan peringkasannya dibuku
besar serta laporan keuangan.
Sepanjang dimungkinkan, pendekatan siklus menggabungkan transaksi – transaksi yang
dicatat dalam jurnal yang berbeda – beda dengan saldo akun buku besar yang dihasilkan dari
transaksi – transaksi tersebut. Auditor bisa memecah aktivitas entitas yang diauditnya menjadi
siklus – siklus. Salah satu contoh siklus yang ditetapkan auditor dalam pengauditan laporan
keuangan adalah :
- Siklus penjualan dan pengumpulan piutang
- Siklus pembelian dan pembayaran
- Siklus penggajian dan personalia
- Siklus persediaan dan penggudangan
- Siklus perolehan modal dan pengembaliannya
HUBUNGAN TRANSAKSI ANTAR SIKLUS

Gambar 4-4 di bawah ini melukiskan hubungan antara kelima siklus di atas dalam
menghasilkan kas. Perhatikan bahwa siklus-siklus tidak memiliki awal dan akhir, kecuali pada
saat awal perusahaan didirikan dan ketika perusahaan dibubarkan. Perusahaan mulai aktivitasnya
dengan mencari modal biasanya dalam bentuk kas. Dalam perusahaan manufaktur, kas
digunakan untuk membeli bahan baku, aset tetap (misalnya, tanah gedung, mesin-mesin,
peralatan, dan sebagainya), dan barang serta jasa lainnya untuk menghasilkan barang (siklus
pembelian dan pembayaran). Kas juga digunakan untuk mendapatkan tenaga kerja dengan tujuan
yang sama (siklus penggajian dan personalia). Pembelian dan pengeluaran kas dan penggajian
dan personalia mempunyai kesamaan, tetapi fungsinya cukup berbeda, sehingga penggajian dan

11
personalia beralasan untuk dijadikan siklus tersendiri. Hasil penggabungan kedua siklus ini
adalah persediaan (siklus persediaan dan penggudangan). Tahap selanjutnya adalah penjualan
persediaan yang menimbulkan tagihan serta penerimaan kas (siklus penjualan dan pengumpulan
piutang). Kas yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk membayar dividen dan bunga, atau
ekspansi modal, dan untuk memulai kembali siklus. Dalam perusahaan jasa, siklus-siklus juga
berhubungan satu sama lain seperti dalam perusahaan manufaktur, walaupun tidak memiliki
siklus persediaan.

Siklus transaksi merupakan hal yang sangat penting dalam mengorganisasi suatu audit.
Dalam banyak hal, auditor memperlakukan setiap siklus terpisah selama audit berlangsung.
Meskipun auditor harus memperhatikan hubungan antar-siklus, namun biasanya auditor
memperlakukan setiap siklus secara independen sejauh dimungkinkan agar audit berjalan efektif.

Gambar 4.4 Hubungan Antara Siklus Transaksi

PENETAPAN TUJUAN AUDIT

Dalam pengauditan laporan keuangan dengan menggunakan pendekatan siklus, auditor


melakukan hal-hal berikut:

(1) pengujian atas transaksi-transaksi yang membentuk saldo-saldo akhir akun,


(2) pengujian audit atas saldo akhir akun,
12
(3) pengujian atas pengungkapan saldo akhir dalam laporan keuangan.

Untuk setiap golongan transaksi tertentu, perlu dipenuhi sejumlah tujuan audit sebelum
auditor dapat menarik kesimpulan bahwa transaksi telah dicatat dengan tepat. Hal tersebut
dinamakan tujuan spesifik audit golongan transaksi. Sebagai contoh, ada sejumlah tujuan
spesifk audit untuk transaksi penjualan, dan ada sejumlah tujuan spesifik audit untuk transaksi
retur penjualan.

Demikian pula, sejumlah tujuan audit tertentu perlu dipenuhi untuk setiap saldo akun. Hal
tersebut dinamakan tujuan spesifik audit untuk saldo. Sebagai contoh, ada sejumlah tujuan
spesifik untuk audit saldo piutang usaha, dan sejumlah tujuan spesifik untuk audit saldo utang
usaha. Tujuan spesifik audit untuk transaksi sedikit berbeda dibandingkan dengan tujuan spesifik
audit untuk saldo walaupun keduanya berkaitan erat.

Tujuan audit kategori ketiga berkaitan dengan penyajian dan pengungkapan informasi
dalam laporan keuangan. Hal ini disebut tujuan spesifik audit penyajian dan pengungkapan.
Sebagai contoh ada tujuan spesifik audit untuk penyajian dan pengungkapan piutang usaha, dan
ada tujuan spesifik audit untuk penyajian dan pengungkapan persediaan

ASERSI-ASERSI MANAJEMEN

SA 315 (Para. 25) menyatakan sebagi berikut:

Auditor harus mengidentifikasi dan menilai risiko kesalahan penyajian material pada:

a) Tingkat laporan keuangan; dan


b) Tingkat asersi untuk golongan transaksi, saldo akun, dan pengungkapan untuk
menyediakan suatu basis bagi perancangan, dan pelaksanaan prosedur audit
lanjutan

Asersi-asersi manajemen adalah pernyataan yang dibuat manajemen secara eksplisit atau
implisit tentang golongan transaksi dan saldo akun yang bersangkutan serta pengungkapan dalam
laporan keuangan. Sebagian besar pernyataan manajemen tersebut bersifat implisit. Sebagai
contoh, apabila dalam neraca PT Nusantara tercantum Kas Rp 950.627.000,00, hal itu berarti
manajemen PT Nusantara menyatakan bahwa kas sebesar Rp950.627.000,00 ada dalam rekening

13
giro PT Nusantara di bank pada tanggal neraca. Kecuali bila diungkapkan lain dalam laporan
keuangan, manajemen juga menyatakan bahwa kas tersebut tidak dibatasi penggunaannya
(unrestricted) dan tersedia untuk penggunaan normal. Manajemen juga menyatakan bahwa
Semua pengungkapan yang disyaratkan berkaitan dengan kas telah diungkapkan dengan akurat
dan dapat dimengerti. Asersi –asersi (pernyataan) serupa ada untuk setiap pos aset, kewajiban,
ekuitas, pendapatan, dan beban dalam laporan keuangan. Asersi-asersi tersebut diterapkan pada
golongan transaksi, saldo akun, serta penyajian dan pengungkapan.

Asersi manajemen berkaitan langsung dengan kerangka pelaporan keuangan yang


digunakan perusahaan (Standar Akuntansi Keuangan Indonesia atau IFRS), karena hal itu
merupakan bagian dari kriteria yang digunakan manajemen untuk mencatat dan mengungkapkan
informasi akuntansi dalam laporan keuangan. Definisi pengauditan pada Bab 1 menyebutkan
bahwa auditing adalah pembandingan antara informasi (laporan keuangan) dengan kriteria yang
telah ditetapkan (asersi asersi yang ditetapkan menurut standar akuntansi). Oleh karena itu,
dalam melaksanakan pengauditan, auditor perlu memahami asersi-arseri manajemen yang secara
implisit maupun eksplisit melekat pada laporan keuangan.

SA 315 (Para. A111) mengelompokkan asersi -arseri menjadi tiga kategori:

1. Aseri asersi tentang golongan transaksi dan kejadian untuk periode yang diaudit.
2. Asersi asersi tentang saldo akun pada akhir periode.
3. Asersi asersi tentang penyajian dan pengungkapan.

Asersi- asersi spesifik yang termasuk untuk setiap kategori dapat dilihat pada Tabel 4-2 di
bawah ini. Asersi asersi dikelompokkan sedemikian rupa, sehingga asersi asersi yang berkaitan
dengan lintas kategori asersi dicantumkan pada baris yang sama.

Tabel 4.2 Arseri-arseri Manajemen untuk Setiap Kategori Arseri

Arseri-arseri tentang Arseri-arseri tentang Saldo Arseri-arseri tentang


Golongan Transaksi Akhir Akun Penyajian dan Pengungkapan
Keterjadian- Transaksi dan Keberadaan- Aset, liabilitas, Keterjadian serta hak dan
kejadian yang telah dan ekuitas sungguh-sungguh kewajiban- peristiwa,
terbukukan telah terjadi dan ada transaksi, dan hal-hal lainnya

14
berkaitan dengan entitas yang diungkapkan, telah
terjadi dan berkaitan dengan
entitas.
Kelengkapan- Seluruh Kelengkapan- Seluruh asset, Kellengkapan- Seluruh
transaksi dan kejadian yang liabilitas, dan ekuitas yang pengungkapan yang
seharusnya terbukukan, telah seharusnya terbuukan, telah seharusnya tercantum dalam
dicatat dicatat. laporan keuangan telah
disajikan.
Keakurasian- Jumlah-jumlah Penilaian dan Keakurasian dan penilaian –
dan data lain yang berkaitan pengalokasian- Aset, Informasi keuangan dan
dengan transaksi dan peristiwa liabilitas dan ekuitas informasi lainnya
yang tellah dibukukan, telah tercantum dalam laporan diungkapkan secara wajar dan
dicatat dengan tepat. keuangan dengan jumlah yang pada jumlah yang tepat.
tepat dan semua penyesuaian
penilaian atau pengalokasian
yang terjadi dibukukan dengan
tepat.
Klasifikasi- Transaksi dan Klasifikai dan
peristiwa telah dibukukan keterpahaman – Informasi
dalam akun yang tepat keuangan disajikan dan
dijelaskan dengan tepat, dan
pengungkapan disajikan
dengan jelas
Pisah batas- Transaksi dan
peristiwa teah dibukukan pada
periode akuntansi yang benar
Hak dan kewajiban – Entitas
memiliki atau mengendalikan
hak atas asset , dan memiliki
kewajiban atas liabilitas.

15
ASERSI – ASERSI TENTANG GOLONGAN TRANSAKSI DAN KEJADIAN
Manajemen membuat berbagai asersi tentang transaksi. Asersi – asersi tersebut juga diterapkan
pada kejadian lain yang tercemin dalam catatan akuntansi, seperti misalnya pencatatan depresiasi
atau pengakuan kewajiban pensiun.
Keterjadian
Asersi keterjadian berhubungan dengan apakah transaksi yang telah dibukukan dan dicantumkan
dalam laporan keuangan sungguh-sungguh terjadi pada periode akuntansi yang bersangkutan.
Sebagai contoh, manajemen menyatakan bahwa transaksi penjualan yang telah dicatat
mencerminkan pertukaran barang dan jasa yang sungguh-sungguh terjadi.
Kelengkapan
Asersi ini berhubungan dengan apakah seluruh transaksi yang seharusnya dicantumkan dalam
laporan keuangan benar-benar telah dibukukan. Sebagai contoh , manajemen menyatakan bahwa
seluruh penjualan barang dan jasa telah dicatat dan dicantumkan dalam laporan keuangan.
Asersi kelengkapan mengarah pada kejadian-kejadian yang berlawanan dengan asersi
keterjadian. Asersi kelengkapan berhubungan dengan kemungkinan penghilangan transaksi yang
seharusnya dicatat, sedangkan asersi kejadian berhubungan dengan kemungkianan
dimasukknnya transaksi yang tidak seharusnya dicatat.
Keakurasian
Asersi keakurasian berhubungan dengan apakah transaksi-transaksi telah dibukukan dengan
jumlah yang benar. Contoh pelanggaran asersi keakurasian.
Penggoloan
asersi klasifikasi berhubungan dengan apakah transaksi telah dibukukan tepat dalam akun yang
tepat. Pencatatan transaksi pembayaran gaji pegawai dalam bagian administrasi yang dibukukan
sebagai harga pokok penjualan.
Pisah batas
Asersi pisah batas berhubungan dengan apakah transaksi-transaksi dibukukan pada periode
akuntansi tepat.

16
ASERSI – ASERSI TENTANG SALDO AKHIR
Asersi-asersi tentang saldo akun akhir tahun berhubungan dengan keberadaan, kelengkapan,
penilaian dan pengalokasian, dan hak dan kewajiban.
Keberadaan
Asersi keberadaan berhubungan dengan apakah asset, liabilitas,dan ekuitas yang dicantumkan
dalam neraca benar-benar ada pada tanggal neraca.
Kelengkapan
Asersi ini berhubungan dengan apakah seluruh akun dan jumlah seluruh jumlah yang seharusnya
dicantumkan dalam laporan keuangan sungguh-sungguh telah tercantum. Sebagai contoh ,
manajemen menyatakan bahwa utang wesel di neraca telah mencakup seluruh kewajiban yang
seharusnya dilaporkan pada tanggal neraca.
Penilaian dan pengalokasian
Asersi penilaian dan pengalokasian berhubungan dengan apakah asset liabilitism dan ekuitas
telah dimasukkan dalam laporan keunagan dengan jumlah yang tepat , termasuk semua
penyesuaian penilaian agar jumlah asset mencerminkan nilai bersih bisa direalisasi.
Hak dan kewajiban
Asersi ini berhubungan dengan apakah asset adalah hak entitas dan apakah liabilitas merupakan
kewajiaban entitas pada tanggal neraca.
ASERSI – ASERSI TENTANG PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
Dengan semakin meningkatnya komplesitas transaksi dan semakin bertambahnya kebutuhan
akan pengungkapan atas transaksi-transaksi tersebut, makan asersi penyajian dan pengungkapan
menjadi bertambah penting.
Keterjadian dan Hak & kewajiaban
Asersi ini berhubungan dengan apakah kejadian yang diungkapkan telah terjadi dan merupakan
hak dan kewajiban dari entitas,
Kelengkapan
Asersi ini berhubungan dengan apakah seluruh pengungkapan yang diisyarakatkan telah
dicantumkan dalam laporan keuangan.
Keakurasian dan penilaian
Asersi keakurasian dan penilaian berhubungan dengan apakah informasi keuangan telah
diungkapkan dengan wajar dan dengan jumlah yang tepat.

17
Klasifikasi dan keterpahaman
Asersi ini berkaitan dengan apakah jumlah-jumlah telah digolongkan dengan tepat dalam laporan
keuangan dan catatan kaki, dan apakah penjelasan atas saldo dan pengungkapannya dapat
dipahami. Sebagai contoh , manajemen menyatakan bahwa persediaan barang dagangan yang
dicantumkan dalam neraca benar-benar ada dan tersedia untuk dijual pada tanggal neraca.
Penilaian dan pengalokasian
Asersi penilaian dan pengalokasian berhubungan dengan apakah asset, liabilitis, dan ekuitas
telah dimasukkan dalam laporan keuangan dengan jumlah yang sangat tepat, termasukk semua
penyesuaian penilaian agar jumlah asset mencerminkan nilai bersih bisa direalisasi.
Hak dan kewajiban
Asersi ini berhubungan dengan apakah asset adalah hak entitas dan apakah liabilitas meupakan
kewajiban entitas pada tanggal neraca.
ASERSI – ASERSI TENTANG PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
Dengan semakin meningkatnya kompleksitas transaksi dan semakin bertambahnya kebutuhan
akan pengungkapan atas transaksi-transaksi tersebut, maka asersi penyajian dan pengungkapan
menjadi bertambah penting.
Keterjadian dan hak & kewajiban
Asersi ini berhubungan dengan apakah kejadian yang diungkapkan telah terjadi dan merupakan
hak dan kewajiban dari entitas.
Kelengkapan
Asersi ini berhubungan dengan apakah seluruh pengungkapan uang diisyaratkan telah
dicantumkan dlama laporan keuangan.
Keakurasian dan penilaian
Asersi keakurasian dan penilaian berhungan dengan apakah informasi keuangan telah
diungkapakan dengan wajar da dengan jumlah yang tepat.
Klasifikasi dan keterpahaman
Asersi ini berkaitan dengan apakah jumlah-jumlah telah digolongkan dengan tepat dalam laporan
keuangan dan catatan kaki , dan apakah penjelasan atas saldo dan pengungkapannya dapat
dipahami.

18
TUJUAN AUDIT ATAS GOLONGAN TRANSAKSI
Tujuan audit atas golongan transaksi yang ditetapkan auditor , mengikuti dan berhubungan erat
dengan asersi-asersi manajemen untuk golongan – golongan transaksi. Ada perbedaan Antara
tujuan umum audit golongan transaksi dan tujuan spesifik audit transaksi untuk tiap-tiap
golongan transaksi. Enam tujuan umum audit transaksi yang akan dibahas dibawah ini berlaku
untuk semua golongan transaksi dan dirumuskan secara umum. Tujuan spesifik audit transaksi
juga diterapkan untuk setiap golongan transaksi, tetapi dirumuskan secara lebih khusus sesusai
transaksi yang diaudit.
TUJUAN UMUM AUDIT TRANSAKSI
Keterjadian – transaksi yang dibukukan benar-benar terjadi. Tujuan audit ini berkaitan
dengan apakah transaksi yang dibukukan sungguh-sungguh telah terjadi. Tujuan audit yang
ditetapkan auditor ini sejalan dengan asersi yang ditetapkan manajemen untuk golongan
transaksi yaitu asersi keterjadian.
Kelengkapan-transaksi yang terjadi telah dibukukan. Tujuan audit ini berhubungan dengan
apakah semua transaksi yang seharusnya dibukukan ke dalam jurnal , sungguh-sungguh telah
dibukukan. Tujuan audit ini sejalan dengan asersi manajemen untuk golongan transaksi yaitu
asersi kelengkapan. Tujuan audit keterjadian dan tujuan audit kelengkapan mempunyai sasaran
yang berkebalikan. Keterjadian berkaitan dengan potensi terjadinya lebih saji, sendangkan
kelengkapan berkaitan dengan terjadinya kurang saji.
Keakurasian- transaksi telah dicatat dengan jumlah yang benar. Tujuan audit ini berkaitan
dengan keakurasian informasi untuk transaksi-transaksi akuntansi dan merupakan satu bagian
dari asersi keakurasian untuk golongan transaksi. Dalam hal transaksi penjualan, tujuan ini
menjadi tidak tercapai apabila kuantitas barang yang dikirim berbeda dengan kuantitas menrut
faktur , atau harga barang yang tercantum dalam faktur tidak sesuai dengan barang
sesungguhnya, atau terjadi kekeliruan dalam mengalihkan atau menjumlahkan dalam faktur, atau
digunakan jumlah yang salah dalam membuat jurnal.
Posting dan pengikhtisaran- transaksi yang diacatat telah dimasukkan dengan benar ke
dalam master master file dan dibuat ikhtisarnya dengan benar. Tujuan ini berhubungan
dengan keakurasian transfer informasi dari catatan transaksi dalam jurnal ke buku besar dan
buku pembantu. Tujuan ini juga merupakan bagian dari asersi keakurasian untuk golongan
transaksi.

19
Penggolongan – transaksi yang dicatat dalam jurnal klien digolongkan dengan tepat.
Tujuan ini berhubungan dengan apakah transaksi telah dibukukan dalam akun yang tepat.
Ketepatan waktu-transaksi telah dibukukan pada tanggal yang tepat. Tujuan audit ini
berhubungan dengan apakah transaksi telah dilakukan pada tanggal yang tepat.
TUJUAN SPESIFIK AUDIT TRANSAKSI
Setelah tujuan umum audit untuk transaksi ditetapkan, selanjutnya dpatlah ditentukan tujuan
spesifik audit transaksi untuk setiap golongan transaksi yang material. Golongan-golongan
transaksi spesifik tersebut biasanya meliputi penjualan,penerimaan kas, pembelian barang dan
jasa, penggajian, dan sebagainya.
HUBUNGAN ANTARA ASERSI MANAJEMEN DENGAN TUJUAN AUDIT
TRANSAKSI
Asersi manajemen Tujuan umum audit Tujuan spesifik audit
transaksi transaksi-transaksi penjualan
Keterjadian Keterjadian Penjualan yang telah
dibukukan adalah untuk
transaksi pengiriman barang
bukan keoada pembeli fiktif.
Kelengkapan Kelengkapan Transaksi penjualan yang
terjadi dibukukan
Keakurasian Keakurasian Penjualan yang telah
dibukukan adlaah untuk
jumlah barang yang telah
dikrim danbtelah difaktur
serta dibukukan dengan
benar
Posting dn peringkasan Transaksi penuulaan telah
dimasukkan dengan benar
dalam master file dan
diringkas dengan benar
Penggolongan Penggolongan Transaksi penjualan telah
digolongkan dengan benar

20
Pisah batas saat Transaksi penjualan
dibukukan pada tanggal
yang tepat.

TUJUAN AUDIT SALDO AKUN


Tujuan saldo akun serupa dengan tujuan audit golongan transaksi .tujuan audit ini juga
mengikuti asersi-asersi manajemen dan memberikan kerangka kerja untuk membantu auditor
dalam mengumpulkan bukti kompeten yang cukup untuk saldo-saldo akun yang bersangkutan.
Tujuan audit saldo akun juga terbagi atas tujuan umum audit saldo akun dan tujuan spesifik audit
saldo akun.
Dalam menerpakn tujuan audit saldo akun untuk mengaudit saldo akun, auditor
,mengumpulkan bukti untuk memeriksa rincian yang mendukung saldo akun, tidak semata-mata
memeriksa rincian yang mendukung saldo akun itu sendiri.
TUJUAN UMUM AUDIT SALDO AKUN
Keberadaan. Tujuan ini berhubungan dengan apakah jumlah yang dicantumkan dalam laporan
keuangan memang seharusnya dimasukkan.
Kelengkapan. Tujuan ini berhubungan dengan apakah semua jumlah yang seharusnya
dimasukkan telah diikutsertakan dengan jumlah yang benar.
Keakurasian. Tujuan ini berkaitan dengan apakah jumlah yang dicantumkan telah dinyatakan
dalam jumlah yang benar.
Penggolongan. Tujuan ini menyangkut penentuan apakah hal-hal yang dimasukkan dalam daftar
oleh klien telah dimasukkan dalam akun yang benar di buku besar.
Pisah batas. Dalam melakukan pengujian tentang pisah batas saldo-saldo akun, tujuan auditor
adalah menentukan apakah transaksi telah dibukukan dan dimasukkan ke dalam saldo akun pada
periode yang tepat.
Sebagai tujuan audit saldo akun berkaitan dengan asersi penilaian
danpengalokasian. Tujuan Ketepatan waktu dalam audit atas transaksi bersangkutandengan
ketepatan waktu pembukuan transaksi sepanjang tahun, sedangkan tujuanpisah batas untuk
tujuan audit saldo akun hanya untuk transasksi yang terjadimendekati akhir periode.
Kecocokan. Saldo-saldo akun yang tercantum dalam laporan
keuanngandidukung oleh catatan rinci di dalam master file dan daftar yang dibuat klien.Tujuan

21
kecocokan berkaitan dengan apakah daftar saldo yang rinci telah dibuatdengan tepat dan teliti,
dijumlah dengan benar, serta cocok dengan saldo di bukubesar. Kecocokan juga merupakan
bagian dari asersi penilaian dan pengalokasianuntuk saldo akun.
Nilai Bersih Bisa Direalisasi. Tujuan ini berkaitan dengan apakah suatau saldoakun
telah diturunkan dari biaya perolehan historis (cost) menjadi nilai bersih bisadirealisasi atau bila
standar akuntansi mengharuskan menjadi nilai pasar. Tujuanini hanya diterapkan pada akun aset
dan juga merupakan suatu bagian dari asersipenilaian dan pengalokasian untuk saldo akun.
Hak dan Kewajiban. Kewajiban harus benar-benar merupakan utang perusahaan.Hak
milik selalu dikaitkan dengan asetr, sedangkan kewajiban selalu berkaitandengan utang.
Tujuan ini sejalan dengan asersi manajemen tenteng hak dankewajiban untuk saldo
akun.
TUJUAN SPESIFIK AUDIT SALDO AKUN
Tujuan spesifik audit dapat dikembangkan setelah ditentukan tujuan umum auditsaldo
akun. Paling sedikit satu tujuan spesifik audit saldo akun harus dimasukkan untuk setiap tujuan
umum audit saldo akun, kecuali bila auditor berkeyakinanbahwa tujuan umum audit saldo akun
tidak relevan atau tidak penting untuk saldoakun tertentu. Di sisi lain terdapat lebih dari satu
tujuan spesifik audit saldo akununtuk tujuan umum audit saldo akun. Sebagai contoh, tujuan
spesifik audit saldoakun untuk hak dan kewajiban atas persediaan pada sebuah
perusahaan manufaktur bisa meliputi(1) perusahaan harus memiliki hak
kepemilikan atas semua barang yang tercantum dalam daftar persediaan, dan (2)
persediaan tidak dijadikan jaminan atas pinjaman kecuali diungkapkan dalam
lapiran.
TUJUAN AUDIT ATAS PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
Tujuan audit ini dibagi menjadi dua, yaitu tujuan audit saldo akun untuk persediaan yang
terdiri dari beberapa tujuan, yaitu keberadaan, kelengkapan, keakurasian, penggolongan,pisah
batas, kecocokan, nilai bisa direalisasi, dan hak dan kewajiban. Yang kedua adalah tujuan audit
atas penyajian dan pengungkapan utang weselyang terdiri atas keterjadian dan hak
dankewajiban, kelengkapan, keakurasian dan penilaian, serta penggolongan dan kejelasan.

22
23
BAGAIMANA MEMENUHI TUJUAN AUDIT
Auditor harus mendapatkan bukti audit yang memadahi untuk mendu
k u n g s e m u a a s e r s i manajemen dalam laporan keuangan, hal ini dilakukan dengan mengakumulasi bukti-
bukti untukmendukung kombinasi yang tepat dari tuj uan audit terkait transaksi dan
tujuan audit terkaitsaldo. Untuk melakukan ini, auditor menjalankan sebuah proses audit yang
merupakan sebuahmetodologi yang sangat jelas untuk pengorganisasian sebuah audit untuk
meyakinkan bahwabukti yang dikumpulkan memad ai dan tepat serta semua tujuan
audit yang diperlukan telahdinyatakan dengan jelas dan terpenuhi. Jika klien merupakan
perusahaan publik, auditor juga harus merencanakan untuk mencapai tujuan yang
dikaitkan dengan efektivitas pengendalian internal terhadap pelaporan keuangan.
Tujuan audit tentang presentasi dan pengungkapan sangat erat hubungannya dengantujuan audit
saldo akun.
Auditor harus memutuskan tujuan audit yang tepat dan bukti yang harusdikumpulkan
untuk memenuhi tujuan – tujuan tersebut untuk setiap audit. Untuk melakukan halitu, auditor
harus mengikuti suatu proses audit yang terdiri dari 4 tahap, yaitu :
1. Perencanaan dan Perancangan Suatu Pendekatan Audit (Tahap I)
1.1 Mendapatkan pemahaman tentang entitas dan lingkungannya

24
1.2 Memahami pengendalian internal dan menetapkan risiko pengendalian
1.3 Menetapkan risiko kesalahan penyajian material
2. Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Golongan Transaksi (Tahap II)
3. Prosedur Analitis dan Pengujian Rinci Saldo (Tahap III) 4.Penyelesaian Audit dan
Penerbitan Laporan Audit (Tahap IV).

PERENCANAAN DAN PERANCANGAN SUATU PENDEKATAN AUDIT (TAHAP I)


Ada berbagai cara yang dapat ditempuh auditor dalam mengumpulkanbukti audit untuk
memenuhi tujuan akhir suatu audit yaitu member pendapat ataslaporan keuangan. Dua hal
penting yang harus selalu dipertimbangkan auditordalam setiap audit adalah memilih :
1. Bukti yang cukup dan tepat harus dikumpulkan untuk memenuhi tanggungjawab
professional auditor
2. Biaya pengumpilan bukti harus seminimal mungkin.
Persoalan pengumpulan bukti audit yang cukup dan tepat serta
pengendalian biaya audit adalah dua hal yang penting dalam membuat
perencanaan suatu penugasan. Perencanaan harus menghasilkan suatu pendekatan audit
yang efektif pada tingkat biaya yang masuk akal. Perencanaan dan
perancangan suatu pendekatan audit dapat dipecah menjadi beberapa bagian.

25
MENDAPATKAN PEMAHAMAN TENTANG ENTITAS DAN LINGKUNGANNYA
Agar dapat menetapkan risiko salah saji dalam laporan keuangan secara memadai dan
membuat kesimpulan atas informasi yang diperoleh selama audit berlangsung, auditor harus
memiliki pemahaman yang cukup tentang bisnis klien dan lingkungan yang
bersangkutan, termasuk pengetahuan tentang strategi dan proses.Auditor harus mempelajari
model bisnis klien, melaksanakan prosedur reviewanalitis dan membuat perbandingan
dengan competitor. Auditor juga harus memahami persyartaan akntansi yang unik untuk
bidang klien usaha. Sebagaicontoh, apabila mengaudit sebuah perusahaan asuransi, auditor harus
memahamibagaimana menghitung loss reserves.

PENILAIAN RESIKO PENGENDALIAN


Empat penilaian spesifik yang harus dibuat untuk melaksanakan penilaian :
1. Menilai apakah laporan keuangan bisa diaudit
2. Menentukan penialian resiko pengendalian didukung oleh bukti yang dapat dipercaya
3. Menilai apakah mungkin bahwa penilaian resiko pengendalian yang lebih rendah dapat
didukung.
4. Menentukan penilaian resiko pengendalian yang sesuai

PENETAPAN RESIKO PENGENDALIAN


KEPENTINGAN KLIEN DAN AUDITOR
Dalam perancangan sistem pengendalian, manajemen diharapkan memiliki kepentingan yang
sama dengan auditor dalam mengevaluasi sistem, seperti juga kepentingan tambahan dan
kepentingan lainnya.

Kepentingan Klien
Alasan disusun sistem pengendalian untuk mencapai tujuan perusahaan. Sistem terdiri
dari kebijakan dan prosedur yang dirancang manajemen untuk memberikan keyakinan yang
memadai bahwa sasaran perusahaan dapat dicapai. Kebijakan dan prosedur ini sering disebut
pengendalian.

26
Manajemen mempunyai lima kepentingan dalam menyusun sistem pengendalian:
1. Menyediakan data yang andal dalam pelaporan keuangan
2. Mengamankan aktiva dan catatan.
3. Mendorong efisiensi dan efektifitas operasi
4. Mendorong ketaatan terhadap kebijakan manajemen.
5. Manaati hukum dan eraturan yang berlaku
Kepentingan auditor
Studi atas struktur pengendalian intern dan penetapan risiko pengendalian adalah penting
bagi auditor dan masuk dalam standar audit yang berlaku umum (standar pekerjaan
lapangan). "Pemahaman yang memadai tentang struktur pengendalian intern harus diperoleh
untuk merncanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang dilakukan".
Auditor seharusnya menekankan pada pengendalian keandalan data untuk tujuan pelaporan ke
pihak luar perusahaan. Selain itu, menekankan pengendalian atas golongan transaksi bukan saldo
akun.
KONSEP DASAR
Tiga konsep dasar yang mendasari penilaian atas struktur pengendalian intern dan
penetapan risiko pengendalian:
1. Tanggung jawab manajemen untuk menetapkan dan melakukan pengendalian atas
satuan usaha tersebut.
Management harus mengadakan dan mengelola terhadap pengendalian entitas.
Management juga harus konsisten dalam menggunakan konsep untuk menyusun
laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum.
2. Keyakinan memadai , dan bukan keyakinan absolut bahwa laporan keuangan
dinyatakan wajar yang harus dikembangkan perusahaan, dengan
mempertimbangkan antara biaya dan manfaat.
3. Keterbatasan bawaan, bahwa struktur pengendalian intern tidak dapat dikatakan
sangat efektif, meski disertai kehati-hatian dalam perancangan dan
implementasinya, masih tergantung pada orang yang mengoperasikannya.
4. Keandalan laporan keuangan

27
Management memiliki tanggung jawab secara hukum dan professional bahwa
informasi yang disajikan secara wajar sesuai denagan syarat prlaporan seperti
GAAP.
5. Operasi yang efisien dan efektif
pengendalian perusahaan adalah untuk mendorong efisiensi da efektifitas
penggunaan sumber daya, termasuk personel, untuk mengoptimalkan tujuan
perusahaan.
6. Taat pada huukum
Pengendalian internal digunakan untuk memastikan bahwa perusahaan tidak
melanggar hukum yang ada.
TUJUAN RINCIAN PENGENDALIAN INTERNAL
Tujuh tujuan pengendalian intern yang harus diterapkan pada transaksi yang material :
1. Keabsahan transaksi yang dicatat.
2. Otorisasi yang pantas.
3. Kelengkapan pencatatan.
4. Penilaian transaksi secara pantas.
5. Klasifikasi transaksi secara pantas.
6. Transaksi dicatat secara tepat waktu.
7. Posting dan pengikhtisaran.
KOMPONEN STRUKTUR PENGENDALIAN INTERNAL
1. Lingkungan Pengendalian
Terdiri dari tindakan, kebijakan dan prosedur yang mencerminkan sikap menyeluruh
manajemen puncak, direktur dan komisaris, dan pemilik satuan usaha terhadap
pentingnya pengendalian. Sub elemen yang harus dipertimbangkan auditor meliputi :
a. Integritas dan Nilai-Nilai Etis
b. Komitmen untuk Kompetensi
c. Filosofi Manajemen dan Gaya Operasi.
d. Struktur Organisasi.
e. Dewan Direksi atau Komite Audit
f. Penilaian Pelimpahan Wewenang dan Tanggung Jawab.
g. Kebijakan Sumber Daya dan Prakteknya

28
1. Penilaian Risiko Manajemen
Penilaian risiko untuk L/K ialah identifikasi manajemen dan analisis risiko yang relevan
untuk menyiapkan L/K yang sesuai dengan GAAP.
Proses penilaian resiko :
a. Identifikasi factor
b. Memperkirakan resiko yang paling mungkin terjadi
c. Mempersiapkan tindakan untuk mengendalikan resiko
Suatu manajemen harus menyusun rencana / metode untuk menanggulangi resiko yang mungkin
akan timbul, dipengaruhi oleh:
1. keefektifan dan keefisienan operasi
2. persiapan dari pernyataan keuangan yang dapat dipercaya
3. ketaatan pada hukum dan peraturan
Hal-hal yang dapat meningkatkan resiko:
1. pergantian dalam lingkungan operasi
2. anggota baru
3. sistem informasi baru atau dirubah
4. pertumbuhan yang cepat
5. teknologi baru
6. produk dan aktifitas baru
7. restrukturiasi perusahaan
8. operasi luar negeri
Aktifitas Pengendalian
Manajemen harus membuat kebijakan dan prosedur untuk membuat laporan keuangan
secara objektif. Komponen ini meliputi macam-macam kegiatan seperti perjanjian, pemberian
hak, pembuktian (verifikasi), dan rekonsiliasi yang dilakukan untuk menunjukkan resiko-resiko
yang diidentifikasi oleh manajemen.
Tipe aktifitas pengendalian yaitu:
1. Pemisahan tugas yang cukup
2. Otorisasi yang pantas atas transaksi dan aktivitas.
3. Dokumen dan catatan yang memadai.
4. Pengendalian fisik atas aktiva dan catatan.

29
PEMAHAMAN STRUKTUR PENGENDALIAN INTERNAL DAN PENETAPAN
RESIKO PENGENDALIAN
SAS 55 (AU 319) menghendaki auditor untuk mendapat pemahaman terhadap struktur
pengendalian intern klien, yang luasnya setidaknya mencukupi untuk merencanakan pemeriksaan
yang memadai, dalam hal 4 masalah spesifik perencanaan:
1. Auditability.
Auditor harus memperoleh informasi tentang integritas managemen dan kemampuan
yang luas dalam pencatatan akuntansi untuk melengkapi bukti yang tersedia untuk
mendukung neraca laporan keuangan.
2. Salah saji potensial dan material.
Auditor diwajibkan untuk mengidentifikasi kesalahan dan penipuan yang mungkin
mempengaruhi laporan keuangan dan untuk menilai resiko yang mungkin terjadi dalam
jumlah yang material.
3. Penemuan resiko
Informasi tentang pengendalian internal digunakan untuk menilai resiko pengendalian
untuk setiap keobjektifan yang mempengaruhi rencana penemuan resiko dan bukti audit.
4. Perancangan pengujian.
Dari setiap informasi yang dihasilkan, auditor harus diijinkan untuk membuat rencana
pengujian yang efektif dari neraca laporan keuangan.
Auditor harus mempertimbangkan aspek rancangan dan aspek operasi untuk ketiga elemen sbb:
1. Pemahaman lingkungan pengendalian.
2. Pemahaman sistem akuntansi.
3. Pemahaman prosedur pengendalian.
Auditor harus melakukan penetapan dan keputusan tertentu seperti :
1. Menetapkan apakah laporan keuangan dapat diaudit.
2. Menetapkan tingkat risiko pengendalian yang didukung oleh pemahaman yang diperoleh.
3. Menetapkan apakah diharapkan tingkat risiko pengendalian yang lebih rendah dapat
didukung.
4. Memutuskan tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan yang pantas untuk digunakan.

30
MENETAPKAN RISKO KESALAHAN PENYAJIAN MATERIAL
Auditor menggunakan pemahaman tentang bidang usaha dan strategi bisnis klien,serta
efektivitas pengendalian, untuk menetapkan risiko kesalahan penyajian material dalam laporan
keuangan. Penetapan ini selanjutnnya akan mempengaruhi rencana audit dan sifat, saat serta
luasnya prosedur audit. Sebagai contoh, apabila klien meningkatkan penjualan dengan menerima
pelanggan baru yang peringkat kreditnya rendah, maka auditor harus menetapkan risiko salah
saji yang lebih tinggi untuk nilai bersih bisa direalisasi piutang usaha dan merencanakan untuk
memperluas pengujian dibidang ini.
PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN SUBTANTIF GOLONGAN
TRANSAKSI (TAHAP II)
Sebelum auditor memutuskan untuk menurunkan risiko pengendaliandirencanakan,
seandainya pengendallian internal dinilai efektif, auditor pertama-tama harus menguji
efektivitas pengendalian tersebut. Prosedur untuk jenispengujian semacam ini
disebut pengujian pengendalian. Sebagai contoh,pengendalian internal klien
mensyaratkan dilakukan verifikasi oleh petugas independen atas semua harga jual per unit
atas barang yang dijual sebelum faktur dikirimkan pembeli. Pengendalian ini secra langsung
mempengaruhi tujuan audit transaksi tentang keakurasian atas penjualan. Auditor bisa menguji
efektivitas pengendalian ini dengan memeriksa file transaksi penjualan untuk membuktikan
bahwa harga jual perunit sungguh-sungguh telah diverifikasi. Auditor juga menilai catatan
transaksi yang dibuat klien dengan melakukan verifikasi atas jumlah-jumlah rupiah
transaksi, suatu proses yang disebut pengujian subtantif transaski. Sebagai contoh, untuk menguji
keakurasian transaksi penjualan, auditor bisa menggunakan perangkat lunak computer untuk
membandingkan antara harga jual per unit yang tercantum dalam arsip faktur 41 dengan suatu
file electronics yang berisi harga jual per unit yang telah diotorisasi manajemen perusahaan

31
DAFTAR PUSTAKA

AL, Haryono Jusup, 2014, Auditing, Buku I BP. STIE YKPN, Yogyakarta

32