Fasilitasi PPKBD
Fasilitasi PPKBD
Pada kesempatan itu juga disampaikan tentang 6 peran bakti IMP oleh Koordinator
PLKB Kecamatan Srandakan (Suripto, S.Sos) yang meliputi Pengorganisasian,
Pertemuan, KIE dan Konseling, Pencatan Pelaporan, Pelayanan Kegiatan serta
Upaya Kemandirian. Dengan adanya kegiatan ini mudah-mudahan kepesertaan KB
khususnya MKJP (metode kontrasepsi jangka panjang) di wilayah kecamatan
Srandakan lebih meningkat lagi.
PEMBINAAN PPKBD DAN SUB PPKBD (PEMBANTU
PEMBINA KELUARGA BERENCANA DESA)
KECAMATAN SITELLU TALI URANG JEHE
Rabu, 11 Juli 2018 bertempat di aula Kantor Camat Sitellu Tali Urang Jehe
Kabupaten Pakpak Bharat telah dilaksanakan pembinaan PPKBD dan Sub PPKBD
(pembantu pembina keluarga berencana desa), PPKBD dan Sub PPKBD merupakan
perpanjangan tangan Penyuluh Keluarga Berencana di Desa, salah tugas dan fungsi
PPKBD dan Sub PPKBD adalah memberikan informasi tentang program KKBPK di
Desa dan di Dusun, pembinaan PPKBD di hadiri oleh PPKBD dan Sub PPKBD
sebanyak 20 orang, sebagai narasumber Camat Sitellu Tali Urang Jehe dan kepala
Puskesmas Sibande, Camat Sitellu Tali Urang Jehe Darliati Ujung, SH menegaskan
bahwa peran PPKBD dan Sub PPKBD di Desa memiliki tugas yang sangat penting
yaitu memberikan informasi tentang Keluarga Berencana di Desa dan di Dusun serta
hadir dalam setiap posyandu guna memberikan informasi yang baik dan berguna bagi
masyarakat. Peranan PPKBD di dalam posyandu berada dalam Pokja IV di meja 5,
PPKBD harus mampu menjelaskan tentang pentingnya keluarga berencana bagi
masyarakat untuk menciptakan keluarga sejahtera.
Kepala Puskesmas dr. Sanata Habeahan dalam pemberian materi menekankan tentang
kepemilikikan jamban dan Safety Tank bagi setiap rumah tangga di kecamatan Sitellu
Tali Urang Jehe dan tugas PPKBD dan Sub PPKBD juga lah untuk menyampaikan
informasi tersebut di Desa masing-masing, selain masalah jamban kepala puskesmas
Sibande juga memberikan materi tentang penyebab diare di masyarakat, diare dapat
disebabkan akibat ketidak bersihan lingkungan keluarga, sehingga diharapkan
PPKBD dan Sub PPKBD dapat memberikan informasi tentang kebersihan yang
dimulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitarnya.
LAPORAN KEGIATAN
PERTEMUAN LENGKAP IMP Tk. DESA/KELURAHAN
( PERTEMUAN PPKBD/SUB PPKBD )
laporanplkb.blogspot.com
A. PENDAHULUAN
Petugas Lapangan KB (PLKB) adalah Pegawai Pemda Kabupaten/Kota yang bertugas
sebagai pengelola dan pelaksana Program KB Nasional di tingkat Desa/Kelurahan.
PLKB lebih dituntut untuk mengembangkan kemampuan dalam berperan sebagai
pengelola program di pedesaan, karena perkembangan Program KB menuntut kepedulian dan
peran serta tokoh masyarakat dan Lembaga Swadaya dan Organisasi Masyarakat ( LSOM ) yang
semakin meningkat.
Menanggapi tuntutan tersebut, telah dikembangkan pola operasional yang mampu
melibatkan sejauh mungkin peran masyarakat melalui langkah-langkah PLKB maupun
mekanisme lapangan yang di dukung oleh komitmen yang tinggi oleh tokoh masyarakat dan
LSOM di pedesaan. Langkah - langkah PLKB dan pola operasional ini memberikan hasil yang
luar biasa, karena tidak saja mampu menjadikan Program KB merupakan kebutuhan masyarakat
tetapi sekaligus melibatkan masyarakat dalam pengelolaan Program KB. Oleh karena Instutsi
masyarakat pedesaan memagang peranan penting dalam menjalankan program keluarga
berencana ditingkat desa, dusun dan RT, karena tanpa IMP pogram KB tidak akan berjalan
secara secara maksimal.
B. DASAR PELAKSANAAN
Dasar pelaksanaan kegiatan Rapat koordinasi (Rakoor) IMP Tk. Desa/kelurahan oleh
PLKB adalah :
1. Surat dari Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Bengkayang Nomor :
814/0146/DINKESKB/2017 tanggal 03 Januari 2017 tentang pelaksanaan tugas dan fungsi
PLKB/PKB.
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Terwujudnya komitmen kebijakan, strategi dan langkah operasional untuk memenuhi cita –
cita untuk menurunkan TFR dan meningkatkan kesejahteraan keluarga di kecamatan jagoi
babang serta dapat menjadi pendorong ataupun pemicu semangat bagi pengelola KB di Desa/
Kelurahan untuk dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilannya dalam membantu dan
memfasilitasi masyarakat untuk dapat berperan aktif sebagai peserta KB.
2. Tujuan Khusus
a) Membentuk suatu kesepakatan antara penanggungjawab dengan Pelaksana dan Pengelola Program
serta Institusi lainnya yang ada di tingkat kelurahan/desa serta meningkatkan kualitas pelayanan KB
dan kesehatan reproduksi.
D. WAKTU, TEMPAT DAN PESERTA
Kegiatan Rapat Koordinasi ( Rakoor ) Program KB tingkat Kecamatan ini dilaksanakan pada hari
Peserta Kegiatan Rapat Koordinasi ( Rakoor ) Program KB Tingkat desa berjumlah 10 orang terdiri
dari :
1) Kepala Desa
2) Perangkat Desa
3) PPKBD/Sub PPKBD
E. MATERI
Materi yang telah disampaikan kepada peserta pertemuan IMP Tk. Desa adalah :
F. PEMBIAYAAN
Pertemuan lengkap IMP Tk. Desa/kelurahan dibiayai dana lini lapangan PLKB tahun 2017.
G. PENUTUP
Demikian laporan kegiatan dan evaluasi Pelatihan Revitalisasi IMP bagi Kader PPKBD dan Kader
Sub PPKBD desa se kecamatan jagoi babang tahun 2017 ini semoga dapat bermanfaat memberikan
PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) adalah kader KB yang merupakan
ujung tombak pelaksanaan program KB di tingkat dusun. Keberadaan PPKBD ini
diharapkan mampu meningkatkan capaian program di bidang Keluarga Berencana dan
Keluarga Sejahtera termasuk di dalamnya cakupan kepesertaan KB, mengaktifkan kembali
kelompok UPPKS dan kelompok Bina Keluarga (BKB,BKR,BKL) yang ada di wilayahnya.
Peran Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) adalah seseorang atau beberapa
orang kader dalam wadah organisasi yang secara sukarela berperan aktif melaksanakan/mengelola
program KB di tingkat desa/kalurahan. Sementara PPKBD adalah seseorang atau beberapa orang kader
dalam wadah organisasi dengan peran yang sama di tingkat dusun/RW.
1. Kepengurusan
b. Menjalin kerjasama dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, generasi muda, dan lembaga
kemasyarakatan lainnya yang ada di desa.
c. Melakukan evaluasi kegiatan Program KB dan dibawa pada pertemuan Rapat Koordinasi Desa
3. Pelayanan Ulang/Rujukan
c. Merujuk peserta KB yang tidak dapat ditanggulangi oleh PPKBD, Sub PPKBD, Posyandu, ketingkat
pelayanan yang lebih tinggi
6. Kegiatan Program KB
a. Melakukan kegiatan Posyandu, Bina Keluarga, UPPKS, dalam mewujudkan keluarga sejahtera bersama
dengan kelompok lainnya
7. Kegiatan Kemandirian
a. Mengajak Peserta KB agar bersedia ber-KB Mandiri melalui arisan, jimpitan iuran menjadi peserta pada
kelompok UPPKS
Berikut susunan pengurus Peran Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) di Desa Wringin
Heru : Sub
Suryana : Sub
Asizeh : Sub
Hoiriaatun : Sub
Huzaimah : Sub
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam artikel yang berjudul “Peran PPKBD dan Sub
PPKBD Cegah 100 Juta Kelahiran Penduduk Indonesia” di laman berita online „Suara Pembaruan‟ pada
Kamis, 28 Juni 2012 Kepala Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri
Syarif mengatakan bahwa, keberhasilan program KB bukan saja kerja pemerintah, melainkan karena
dedikasi PPKBD dan Sub PPKBDdan penyuluh yang terjun langsung di lapangan. Mereka dengan sukarela
mendatangi setiap rumah tangga untuk mengajak orang ber-KB. Sugiri menambahkan lagi, tanpa PPKBD
dan Sub PPKBD dan penyuluh KB penduduk Indonesia sudah mencapai 330 juta jiwa. Saat ini penduduk
Indonesia 237,6 juta, maka PPKBD dan Sub PPKBDini memberikan kontribusi dalam mencegah kelahiran
sekitar 80 juta sampai 100 juta dalam rentan waktu 10 tahun terakhir. Keberhasilan program Keluarga
Berencana (KB) dalam mengendalikan jumlah penduduk di Tanah Air tidak lepas dari peran PPKBD dan
Sub PPKBDmaupun penyuluh lapangan. Kerja keras mereka diakui mampu mencegah 100 juta kelahiran
penduduk Indonesia. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri
Syarief, mengatakan, “Mungkin orang menganggap sepele PPKBD dan Sub PPKBD ini, tetapi tanpa
disadari merekalah yang bekerja keras di lapangan,” tandas Sugiri pada acara temu kader, PLKB,
akseptor KB Lestari terbaik yang mewakili 33 provinsi dalam 2 rangka memperingati Hari Keluarga ke-19
tahun 2012, di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (27/6) malam. Pelaksanaan program KB
membutuhkan keseriusan dalam keterlibatan semua pihak, termasuk petugas lapangan KB sebagai pihak
yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kemampuan petugas
pelaksana penyuluhan. Pelaksana penyuluhan KB adalah para Penyuluh KB (PKB) dan PPKBD dan Sub
PPKBD. Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), jumlah PKB
pada tahun 2014 adalah 22.481 orang. Jumlah ini baru memenuhi 56,2% dari jumlah PKB ideal yang
dibutuhkan yaitu setiap desa mempunyai dua PKB (www.bkkbn.go.id). Sehubungan ketidakcukupan
jumlah PKB, maka dalam menjalankan tugas, dibantu oleh Pembantu Pembina Keluarga Berencana
(PPKBD) dan Sub PPKBD yang merupakan penduduk setempat
https://media.neliti.com/media/publications/124788-ID-kapasitas-kader-dalampenyuluhan-keluarg.pdf
diakses pada 10 Januari pukul 11:52 wib. Kenyataannya di lapangan, PPKBD dan Sub PPKBD yang lebih
banyak berperan dalam kegiatan penyuluhan KB; karena jumlahnya yang lebih banyak dan kedekatan
tempat tinggal menjadikan lebih sering berinteraksi dengan masyarakat. PPKBD dan Sub PPKBD sebagai
pelaksana penyuluh KB di lapangan, disamping mengatasi masalah ketidakcukupan jumlah PKB, juga
sejalan dengan pendekatan community-basedservice delivery, yaitu dalam rangka mendekatkan
pelayanan KB kepada masyarakat (Herartri, 2008). Pendekatan berbasis komunitas (community-based)
tersebut, program KB kemudian 3 menjadikan partisipasi komunitas (community participation) atau
peran-serta masyarakat sebagai kebijakan utama, yaitu diantaranya merekrut PPKBD dan Sub PPKBD
sebagai pelaksana penyuluh KB di lapangan (Jurnal, Shanti Devi:2016). Motivasi PPKBD dan Sub PPKBD di
Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung berada pada tingkat sedang. Kebutuhan untuk bersosialisasi
dengan masyarakat dan menambah pergaulan merupakan alasan terbesar yang mendasari responden
menjadi PPKBD dan Sub PPKBD, artinya ada tujuan yang akan dicapai yang memberi dorongan lebih
untuk menjadi kader. Hal ini sejalan dengan pendapat McClelland dan Bird bahwa motivasi terkait
dengan kebutuhan seseorang. Seseorang memiliki motif atau dorongan menjadi PPKBD dan Sub PPKBD
karena ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Dorongan tersebut bisa disebabkan adanya faktor dari luar
PPKBD dan Sub PPKBD maupun faktor internal atau keyakinan dan kepuasan internalnya; artinya ada
tujuan yang akan dicapai yang memberi dorongan lebih kepada PPKBD dan Sub PPKBDuntuk melakukan
kegiatan penyuluhan. Sementara itu, di UPT Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan
Pembangunan Keluarga Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung guna meningkatkan motivasi kerja
dalam penyuluhan KB bagi PPKBD dan Sub PPKBD salah satunya adalah rutin mengadakan pertemun
rutin setiap bulannya dalam bentuk bimbingan kelompok. Dalam kegiatan tersebut Penyuluh Keluarga
Berencana (PKB) berdiskusi dengan para PPKBD dan Sub PPKBD membahas mengenai fenomena dan
masalah yang ditemui di lingkungan masyarakat masingmasing kelompok kerja. Selama bimbingan
kelompok ataupun disebut dengan 4 pembinaan PPKBD dan Sub PPKBD berperan sebagai penyuluh,
motivator, fasilitator dan juga konselor bagi PPKBD dan Sub PPKBD atas permasalahan dan keluhannya.
Melalui interaksi dengan penyuluh, PPKBD dan Sub PPKBD memperoleh pengetahuan/materi dan
wawasan tentang program KB; serta cara/teknik dan metode penyuluhan sehingga dapat diterapkan
dalam kegiatan penyuluhan KB. Penyuluh merupakan pihak yang sering dihubungi dan dimintakan
bantuan oleh PPKBD dan Sub PPKBD, jika mengalami kesulitan serta masalah dalam kegiatan
penyuluhan KB. Namun penyuluh kurang optimal mendorong PPKBD dan Sub PPKBD untuk mencari
cara-cara baru (inovasi) dalam mengupayakan penambahan jumlah akseptor KB serta belum optimal
mendorong PPKBD dan Sub PPKBD untuk mencari informasi dari berbagai sumber informasi tentang
program penyuluhan KB (Wawancara, Kepala UPT 10 Januari 2017). Berdasarkan fenomena di atas,
peneliti tertarik untuk mengetahui dan meneliti lebih jauh mengenai “Bimbingan Kelompok Dalam
Meningkatkan Motivasi Kerja Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) dan Sub PPKBD” di
UPT Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Kecamatan Rancaekek
Kabupaten Bandung. 5 B. Fokus Penelitian Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka fokus
penelitian ini sebagai berikut : 1. Bagaimana motivasi kerja PPKBD dan Sub PPKBD di UPT Pengendalian
Penduduk, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Kecamatan Rancaekek Kabupaten
Bandung? 2. Bagaimana pelaksanaan bimbingan kelompok PPKBD dan Sub PPKBD di UPT Pengendalian
Penduduk, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Kecamatan Rancaekek Kabupaten
Bandung? 3. Bagaimana hasil bimbingan kelompok untuk meningkatkan motivasi kerja PPKBD dan Sub
PPKBD di UPT Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Kecamatan
Rancaekek Kabupaten Bandung? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui motivasi kerja PPKBD dan Sub PPKBD di UPT
Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Kecamatan Rancaekek
Kabupaten Bandung? 2. Untuk mengetahui pelaksanaan bimbingan kelompok bagi PPKBD dan Sub
PPKBD di UPT Pengendalian Penduduk, Keluarga 6 Berencana dan Pembangunan Keluarga Kecamatan
Rancaekek Kabupaten Bandung? 3. Untuk mengetahui hasil bimbingan kelompok dalam meningkatkan
motivasi kerja PPKBD dan Sub PPKBD di UPT Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan
Pembangunan Keluarga Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung? D. Kegunaan Penelitian 1. Manfaat
Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan pengetahuan ilmiah di bidang
bimbingan kelompok program keluarga berencana dan kajian motivasi kerja PPKBD dan Sub PPKBD. Di
samping itu menjadi bahan kajian teoritis pemerintah (BKKBN) dalam proses pembuatan kebijakan dan
program yang tepat bagi peningkatan motivasi kerja PPKBD dan Sub PPKBD. 2. Manfaat Praktis Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi instansi terkait dan masyarakat luas bahwa
pelaksanaan bimbingan kelompok memberikan dampak positif terhadap peningkatan motivasi PPKBD
dan Sub PPKBD. 7 E. Landasan Pemikiran 1. Hasil Penelitian Sebelumnya Dari penelitian Neni Tahun 2011
mengenai “Proses Bimbingan Kelompok Dalam Meningkatkan Kinerja Karyawan RSUD Al-Ihsan” dapat
diambil kesimpulan bahwa penerapan bimbingan dalam meningkatkan kinerja karyawan RSUD Al-Ihsan
dinilai cukuo baik, dalam prosesnya penerapan bimbingan kelompok terhadap karyawan RSUD Al-Ihsan
melibatkan unsur pembimbing, terbimbing (objek bimbingan) secara kelompok, materi tentang aqidah,
fiqih, ibadah dan muamalah serta metode yang digunakan adalah metode langsung dengan
menggunakan teknik monolog dan dialog serta media yang digunakan cukup refresentatif. Selanjutnya,
hasil yang dicapai dari bimbingan kelompok dalam meningkatkan kinerja karyawan di RSUD Al-Ihsan
berada pada kualifikasi sangat tinggi, yaitu berada pada interpretasi 81,256% hal itu menunjukkan
bahwa melalui bimbingan kelompok dapat menjadi salah satu metode dalam meningkatkan kinerja dan
motivasi kerja karyawan. Selain itu, dalam penelitian Nano Waryuno 2005 mengenai “Peranan Pimpinan
Baitul Wa Tamwil (BMT) Dalam Memotivasi Kerja Karyawan BMT Al-Amanah” menunjukkan bahwa salah
satu cara dalam meningkatkan motivasi kerja karyawan adalah melalui peranan pimpinan. Melalui
peranan pimpinan dalam kegiatan pembinaan keagamaan secara rutin maka motivasi kerja karyawan
BMT Al-Amanah semakin meningkat. Karyawan dalam bekerja tidak hanya mencari pemuasan
kebutuhan materi belaka, tetapi ada tujuan yang lebih utama yaitu untuk mencari nilai ibadah dan
keridlaan di sisi Allah 8 2. Landasan Teoritis a. Pengertian Bimbingan Secara etimologis kata bimbingan
merupakan terjemahan dari bahasa Inggris “guidance”. Kata “guidance” adalah kata dalam bentuk
masdhar (kata benda) yang berasalal dari kata kerja “to guide” artinya menunjukkan, membimbing, atau
menuntun orang lain ke jalan yang benar (M. Arifin dalam Amin, 2013:3). Jadi, kata “guidance” berarti
petunjuk, pemberian atau tuntunan kepada orang lain yang membutuhkan. Sesuai dengan istilahnya,
maca secara umum dapat diartikan sebagai suatu bantuan atau tuntunan. Namun, walaupun demikian
tidak berarti semua bentuk atau tuntunan adalah bimbingan (Amin, 2013:3). Definisi bimbingan yang
terdapat dalam Year‟s Book Of Education 1995, menyatakan bahwa : Guidance is a process of helping
through their own effort to discover and develop their potentialities both for personal happiness and
social usefulness. Bimbingan adalah suatu proses membantu individu menjalani usahanya sendiri untuk
menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan
kemanfaatan sosial (Amin, 2013:4). Menurut Natawidjaja dalam Lilis Satriah (2015:1) mengemukakan
bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara
berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, 9 sehingga dapat dan sanggup
mengarahkan dirinya, dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan
lingkungan madrasah, keluarga, masyarakat, dan kehidupan pada umumnya. Winkel dalam Lilis Satriah
(2013:4) mendefinisikan bimbingan sebagai usaha untuk melengkapi individu dengan pengetahuan,
pengalaman dan informasi tentang dirinya sendiri, memahami dan menggunakan secara efisien dan
efektif, segala kesempatan yang dimiliki untuk perkembangan pribadinya, menentukan pilihan dan
menetapkan tujuan dengan tepat, serta menyusun rencana yang realistis, untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungan tempat mereka hidup. Menurut Rusmana dalam Lilis Sastriah (2015:4)
mengemukakan bahwa bimbingan memiliki beberapa karakteristik antara lain : (a) merupakan upaya
pemberian bantuan; (b) diberikan kepada orangorang dari berbagai rentang usia; (c) diberikan oleh
tenaga ahli; (d) bertujuan untuk perbaikan bagi orang yang dibimbing yaitu mengatur kehidupan sendiri,
mengembangkan atau memperluas pandangan, menetapkan pilihan, mengambil keputusan, memikul
beban kehidupan, menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan; (e) merupakan bagian dari
pendidikan secara keseluruhan, dan (f) diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi.
Berdasarkan pengertian bimbingan yang telah dikemukakan oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa
bimbingan mengandung unsur-unsur pokok-pokok yaitu sebagai berikut : 1) Bimbingan adalah sebuah
proses, artinya bimbingan tidak bersifat instan sekali jadi langsung sukses, melainkan dilakukan setahap
demi setahap sesuai dengan dinamika yang terjadi di dalam proses bimbingan itu sendiri. 2) Bimbingan
bertujuan untuk membantu individu memahami dan mengembang potensi diri, melengkapi
pengetahuan dan pengalaman, serta meningkatkan kemampuannya. 10 3) Bimbingan diberikan kepada
individu maupun kelompok dari berbagai rentang usia, akhirnya sasaran bimbingan adalah individu
secara perseorangan ataupun individu dalam kelompok, baik anakanak, remaja, dewasa, maupun lansia.
4) Bimbingan dilakukan oleh seorang ahli yang memiliki kompetensi dan kepribadian yang terpilih, dan
telah memperoleh pendidikan serta latihan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling
(Satriah, 2015:5). Prayitno mengemukakan bahwa kelompok merupakan kumpulan sejumlah orang yang
mempunyai tujuan, keanggotaan, kepemimpinan dan aturan yang diikuti (Satriah, 2015:21). Sementara
itu, secara umum kelompok diartikan sebagai kumpulan beberapa orang yang memiliki norma dan
tujuan tertentu, memiliki ikatan bantin antara satu dengan yang lainnya, meski tidak resmi, tetapi
memiliki unsur kepemimpinan di dalamnya (Hartinah, 2009:21). Pengertian bimbingan kelompok
menurut Prayitno (2004) adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang, dengan
memanfaatkan dinamika kelompok. Artinya, semua peserta dalam kegiatan kelompok saling
berinteraksi, bebas mengeluarkan pendapat, menanggapi, memberi saran, dan sebagainya. Halhal yang
dibicarakan dalam kelompok semuanya bermanfaat untuk diri peserta sendiri, dan untuk peserta
lainnya. Sukardi (2005:48) menyatakan bahwa layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk
memungkinkan seseorang secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber
(terutama pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun
sebagai pelajar, anggota keluarga, maupun anggota masyarakat”. Wibowo (2005:17) menuturkan
bahwa, bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok, dimana pimpinan kelompok
menyediakan informasiinformasi dan mengarahkan diskusi agar anggota kelompok menjadi lebih sosial,
11 untuk membantu anggota-anggota kelompok dalam mencapai tujuan bersama (Satriah, 2015:6).
Berdasarkan pengertian yang dikemukakan para ahli di atas, bimbingan kelompok mengandung makna
sebagai berikut : a) Bimbingan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang
dengan memanfaatkan dinamika kelompok. b) Bimbingan kelompok menimbulkan interaksi antar
anggota kelompok dengan saling mengeluarkan pendapat, memberikan tanggapan, saran, dan
sebagainya. c) Bimbingan kelompok dipandu oleh pemimpin kelompok yang menyediakan informasi-
informasi bermanfaat untuk dapat membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. b.
Pengertian Motivasi Kerja Menurut Mursi (1998), motivasi adalah keadaan internal individu yang
melahirkan kekuatan, kegairahan dan dinamika, serta mengarahkan tingkah laku pada tujuan. Salah satu
variabel yang mempengaruhi kinerja adalah motivasi kerja karyawan yang ditunjukkan dengan
dukungan aktivitas yang mengarah pada tujuan organisasi (Sulistiyani dan Rosidah, 2003). Heidjrachman
dan Husnan, (2002), membagi motivasi menjadi dua, yaitu motivasi positif dan motivasi negatif.
Motivasi positif adalah proses mempengaruhi orang dengan memberikan kemungkinan mendapatkan
hadiah sementara motivasi negatif adalah proses mempengaruhi seseorang melalui kekuatan ketakutan
seperti kehilangan pengakuan, uang atau jabatan. Sedangkan menurut Nawawi (2000), ada dua bentuk
motivasi yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Menurut Robbins (2006), motivasi adalah
proses yang ikut berperan menentukan intensitas, arah, dan ketekunan individu dalam usaha mencapai
sasaran.Berdasarkan pengertian di atas, motivasi adalah hal yang mempengaruhi seseorang untuk
mengerjakan 12 sesuatu untuk mencapai hasil yang optimal, dan merupakan sebuah konsep penting
dalam studi tentang kinerja individu dalam organisasi. Mc Cormick dalam Mangkunegara (2000:94)
menyatakan pendapatnya tentang motivasi kerja sebagai berikut: Motivasi kerja didefinisikan sebagai
kondisi yang berpengaruh untuk membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang
berhubungan dengan lingkungan kerja. c. PPKBD dan Sub PPKBD PPKBD dan Sub PPKBD adalah anggota
masyarakat yang telah mendapatkan pendidikan serta menjalankan tugasnya dengan sukarela (BKKBN,
1993: 5). Sedangkan sejumlah PPKBD dan Sub PPKBD adalah seseorang atau sejumlah orang yang
memiliki pengetahuan atau keterampilan khusus di bidang tertentu, serta mau dan mampu
menyebarluaskan kemampuan serta pengetahuannya kepada sasaran secara teratur dan terencana
(BKKBN, 1997:16). 3. Kerangka Konseptual Istilah bimbingan kelompok merupakan salah satu bagian dari
layanan bimbingan penyuluhan Islam atau disebut dengan Irsyad. Bimbingan kelompok (Group
guidance) terdiri dari kata „bimbingan‟ dan „kelompok‟, kata bimbingan secara bahasa merupakan
terjemahan dari kata kerja to guide yang artinya mengarahkan, memandu, mengelola dan mengarahkan
sedangkah kata bimbingan dalam term bimbingan penyuluhan Islam adalah suatu pekerjaan pemberian
bantuan psikologis kepada seseorang untuk mengatasi masalah yang dihadapinya sesuai dengan
ketentuan dan petunjuk Allah SWT. 13 Menurut Thohari Musnawar (2010:6) bimbingan adalah proses
pemberian bantuan terhadap individu agar mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah,
sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan dia akhirat, yang seluruh seginya bedasarkan
ajaran Islam, artinya berlandaskan AlQuran dan Sunnah Rasul. Motivasi melakukan suatu tindakan dan
motif untuk beprestasi sangat diperlukan oleh tenaga manajemen, baik tenaga pengelola, pelaksana,
penyuluh maupun tenaga teknis, dalam rangka mengacu kegiatan suatu organisasi pada semua lini.
Untuk meningkatkan motivasi kerja dalam proses manajemen hendaknya diperhatikan acuan-acuan
mengenai pemberian pujian, pemuasaan kebutuhan psikologis, penggunaan motivasi intrinsik,
penguatan tindakantindakan yang berhasil, upaya mendorong motivasi kepada individu lainnya,
pemahaman terhadap tujuan organisasi, penetapan tugas berdasarkan diri sendiri, dorongan dan pujian
dari pihak luar, teknik dan prosedur manajerial yang bervariasi, minat-minat khusus staf, pengurangan
kegiatan yang tidak diminati, hindari situasi kecemasan dan gejala frustasi untuk meningkatkan
pekerjaan, hindari timbulnya demoralisasi dalam pekerjaan, stabilisasi emosional bawahan,
pendayagunaan tekanan kelompok secara efektif, pengembangan kreativitas (Hamalik, 1993:82). Upaya-
upaya lainnya yang dapat dipertimbangkan dalam pelaksanaan guna memperkuat motivasi kerja dalam
rangka pendayagunaan sumber daya manusia untuk kegiatan organisasi pada smeua jenjang adalah
penugasan yang mengacu pada masa depan, penugasan berdasarkan kemampuan prasyarat 14 individu
yang bersangkutan, penggunaan prosedur-prosedur kerja yang relatif baru, penyediaan kesempatan
bagi setiap orang untuk berperan aktif. Penyelenggaraan program pelatihan secara bertahap dan
berkesinambungan, kurangi tindakan yang bersifat memaksa dan kembangkan kreativitas setiap individu
atau pun kelompok dan pada akhirnya perlu diciptakan kondisi kerja dalam arti luas yang dapat
menyenangkan unsur-unsur ketenagaan yang ada (Hamalik, 1993:83). Ada dua prinsip yang dapat
digunakan untuk meninjau motivasi, yaitu : a. Motivasi dipandang sebagai suatu proses. Pengetahuan
tentang proses ini akan membantu kita menjelaskan kelakuan yang kita amati dan untuk memperkirakan
kelakuan-kelakuan lain orang tersebut. b. Kita menemukan karakter dari proses ini dengan melihat
petunjukpetunjuk yang tampak tingkah lakunya. Berdasarkan pemaparan di atas, untuk mengetahui
proses bimbingan kelompok dalam meningkatkan motivasi kerja PPKBD dan Sub PPKBDkeluaga
berencana idealnya harus mengetahui motif-motif yang berhubungan dengan pemahaman dan
pengetahuan PPKBD dan Sub PPKBD mengenai tugas-tugasnya serta mendalami aspek-aspek yang
berhubungan dengan penilaian yang menjadi indikatornya dalam proses bimbingan kelompok yang
berdampak pada motivasi kerja yang dihasilkan. 15 Oleh karena itu, proses bimbingan kelompok sebagai
metode dalam meningkatkan motivasi kerja PPKBD dan Sub PPKBD membahas berkisar pada masalah-
masalah begaimana kemampuan pembimbing dalam menyesuaikan materi dengan situasi dan kondisi
sasaran serta tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian, dibutuhkanlah keterampilan pembimbing
dalam melaksanakan bimbingan kelompok agar dapat terlaksana secara baik dan dapat meningkatkan
motivasi kerja kader. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam kerangkat berikut. Skema 1.1 : Kerangka
Konseptual Bimbingan Kelompok Dalam Meningkatkan Motivasi Kerja PPKBD dan Sub PPKBD Proses
Bimbingan Kelompok: 1. Pembimbing/Penyuluh 2. Terbimbing 3. Materi 4. Metode 5. Media
Penggerakkan Motivasi Kerja : 1. Kebermakaan 2. Modeling 3. Komunikasi terbuka 4. Penugasan
mengaca ke masa depan 5. Kemampuan prasyarat 6. Novelty 7. Praktek yang aktif dan bermanfaat 8.
Latihan berbagi 9. Kurangi secara sistematik tindakan bersifat paksaan 10. Kondisi kerja yang
menyenangkan 16 F. Langkah-langkah Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di UPT
Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Kecamatan Rancaekek
Kabupaten Bandung. Adapun penulis memilih lokasi tersebut karena di sana terdapat fenomena yang
menarik dan relevan dengan rencana penelitian serta tersedia data dan informasi yang akurat serta
menunjang pelaksanaan penelitian. 2. Metode Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini
adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif, metode ini bertujuan untuk memaparkan terjadinya
proses bimbingan kelompok yang dilakukan di UPT Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan
Pembangunan Keluarga Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung upaya meningkatkan motivasi kerja
PPKBD dan Sub PPKBD. Sedangkan pendekatan kualitatif bertujuan untuk menganalisis proses
bimbingan kelompok dalam meningkatkan motivasi kerja PPKBD dan Sub PPKBD. 3. Jenis Data dan
Sumber Data a. Jenis Data Jenis data pada penelitian ini adalah jenis data kualitatif. Adapun jenis data
yang akan diteliti mencakup data-data tentang : 1) Motivasi kerja PPKBD dan Sub PPKBD. 2) Proses
pelaksanaan bimbingan kelompok bagi PPKBD dan Sub PPKBD. 17 3) Hasil bimbingan kelompok bagi
PPKBD dan Sub PPKBD. b. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini terbagi kepda dua bagian,
yaitu: 1) Sumber data primer, yaitu responden yang terlibat langsung dan memiliki data yang
dibutuhkan. Dalam hal ini data pokok diperoleh dari penyuluh keluarga berencana Kecamatan
Rancaekek Kabupaten Bandung. 2) Sumber data sekunder, pihak kedua yang terlibat dalam kegiatan
yang akan diteliti yaitu PPKBD dan Sub PPKBD. 4. Teknik Pengumpulan Data Sugiyono (2012:63)
menyatakan bahwa secara umum terdapat empat macam teknik pengumpulan data, diantaranya adalah
observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik
triangulasi data yaitu dengan menggabungkan tiga teknik pengumpulan data, yaitu observasi,
wawancara dan dokumentasi. a. Observasi Pada penelitian ini, teknik observasi yang digunakan adalah
observasi terus terang atau tersamar. Menurut Sugiyono (2012:66) peneliti dalam pengumpulan data
menyatakan terus terang kepada sumber data, bahwa peneliti sedang melakukan penelitian. Sehingga
sejak awal subjek yang diteliti mengetahui dari awal sampai akhir aktivitas penelitian. tetapi suatu saat
peneliti juga tidak terus 18 terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari jika suatu
saat data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan. Kemungkinan jika dilakukan dengan
terus terang, maka peneliti tidak diijinkan untuk melakukan observasi. b. Wawancara Penelitian ini
menggunakan teknik wawancara mendalam (in depth interview) berupa wawancara semi terstruktur.
Wawancara semi terstruktur menurut Sugiyono (2012:73-74) di dalam pelaksanaannya lebih bebas
dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan
permasalahan secara lebih terbuka, pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya.
Dalam melakukan wawancara, peneliti menggunakan bantuan pedoman wawancara untuk
memudahkan dan memfokuskan pertanyaan yang akan diutarakan. Peneliti juga menggunakan alat
bantu rekam untuk memudahkan dalam proses pengolahan data. c. Studi Dokumentasi Sugiyono
(2012:82-83) mengungkapkan bahwa dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang. Hasil penelitian
juga akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang
telah ada. Untuk menunjang pengumpulan data dokumentasi, subjek menggunakan alat bantu berupa
kamera untuk memudahkan peneliti dalam mengumpulkan beberapa dokumentasi. 19 5. Teknik Analisis
Data Menurut Sugiyono (2012:89) analisis data adalah proses mencari dan menyusun data secara
sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasi data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun
ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga
mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Miles dan Huberman (Sugiyono, 2011: 91)
mengemukakan terdapat tiga langkah dalam analisis data, yaitu reduksi data, display data dan verifikasi
data. a. Reduksi data Menurut Sugiyono (2012:92) mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal
yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Sehingga data yang telah
direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan
pengumpulan data. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih
jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila
diperlukan. b. Dislpay data Setelah data di reduksi, maka langkah selanjutnya dalam analisis data ini
adalah display data atau penyajian data. Miles dan Huberman (Sugiono, 2012:95) menyatakan bahwa
yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang
bersifat naratif. Dengan 20 mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang
terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. c. Verifikasi
data Langkah selanjutnya dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Kesimpulan mungkin dapat menjawab fokus penelitian yang difokuskan sejak awal, tetapi mungkin juga
tidak, karena masalah dan fokus penelitian bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti di
lapangan. Apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh buktibukti yang valid
dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang
dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian Dalam artikel yang berjudul “Peran PPKBD dan Sub PPKBD Cegah 100 Juta Kelahiran
Penduduk Indonesia” di laman berita online „Suara Pembaruan‟ pada Kamis, 28 Juni 2012
Kepala Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarif
mengatakan bahwa, keberhasilan program KB bukan saja kerja pemerintah, melainkan karena
dedikasi PPKBD dan Sub PPKBDdan penyuluh yang terjun langsung di lapangan. Mereka dengan
sukarela mendatangi setiap rumah tangga untuk mengajak orang ber-KB. Sugiri menambahkan
lagi, tanpa PPKBD dan Sub PPKBD dan penyuluh K
Pertemuan rutin IMP Kecamatan Playen biasanya dilaksanakan pada tanggal 8 setiap
bulannya. Namun karena padatnya acara di bulan April ini, kegiatan tersebut baru dapat
dilaksanakan pada hari Jumat (27/4) bertempat di Balai Penyuluhan Keluarga Berencana
Kecamatan Playen. Kegiatan yang sudah berjalan selama 2 tahun tersebut pada awalnya diikuti
oleh Penyuluh KB bersama PPKBD dari 13 desa di Kecamatan Playen. Mulai bulan Februari
2018 lalu, bersamaan terbentuknya Forum IMP tingkat desa, peserta pertemuan rutin IMP dari
setiap desa ditambah menjadi 2 orang yaitu ketua Forum IMP (PPKBD) dan sekretaris Forum
IMP.
Untuk bulan April ini kegiatan tersebut menjadi semakin semarak karena yang dihadirkan dari
masing-masing desa sebanyak 3 orang, terdiri atas ketua, sekretaris, dan bendahara Forum
IMP tingkat desa. Hal ini bertujuan untuk dapat memberikan pembekalan kepada pengurus
Forum IMP tersebut. Disamping itu ke depan diharapkan forum ini bisa menjadi ajang untuk
saling berbagi pengalaman tentang kegiatan dalam program Keluarga Berencana. Dengan
bertambahnya kader IMP yang dilibatkan, maka kegiatan yang dilakukan akan lebih berdaya
guna dan berhasil guna.
Acara pertemuan rutin IMP Kecamatan Playen dimulai pada pukul 09.30 WIB. Sebagaimana
biasanya, acara dibuka dengan berdoa dilanjutkan menyanyikan lagu Mars Keluarga
Berencana. Kemudian sesi pembekalan terkait dengan peran dan tugas Forum IMP tingkat
desa yang disampaikan oleh Koordinator Penyuluh KB Kecamatan Playen, Drs Edy Pranoto
dan Penyuluh KB Kecamatan Playen, Sukartini.
Drs Edy Pranoto menyampaikan bahwasanya pengurus Forum IMP tingkat desa memiliki peran
dan tugas sebagaimana terkandung dalam enam peran bhakti IMP, yaitu pengorganisasian,
pertemuan rutin, pencatatan, KIE dan konseling, pelayanan kegiatan, serta kemandirian.
Dalam hal pengorganisasian, IMP tingkat desa terdiri atas PPKBD, Sub PPKBD, dan Ketua
Kelompok KB yang memiliki tugas sesuai wilayah masing-masing. Ketua Forum IMP selaku
PPKBD bertugas mengkoordinasikan kegiatan di tingkat desa dengan dibantu sekretaris dan
bendahara Forum IMP. Sekretaris tugas utamanya berkaitan dengan administrasi umum, yaitu
melakukan register serta pencatatan dan pelaporan kegiatan. Sedangkan bendahara mengurusi
administrasi keuangan.
Forum IMP tingkat desa juga memiliki tugas untuk melakukan KIE KB, baik di tingkat desa,
dusun, maupun kelompok kegiatan yang dalam pelaksanaannya bersinergi dengan Penyuluh
KB. Kaitannya dengan pelayanan alokon, saat ini Penyuluh KB sudah tidak diperkenankan
untuk droping pil dan kondom melalui jalur desa. Sesuai prosedur yang berlaku saat ini untuk
akseptor KB pil dan kondom dapat mendapatkan alokon di puskesmas atau pustu. Bagi peserta
BPJS dengan membawa persyaratan yang telah ditentukan, sedangkan bagi yang bukan
peserta BPJS akan dikenakan tarif sesuai Perda Kabupaten Gunungkidul.
Materi pembekalan ke dua diberikan oleh Sukartini. Selaku Petugas PUM, apa yang
disampaikan terfokus pada masalah pendanaan kegiatan tingkat desa yang bersumber dari
APBN dan DAK Kabupaten Gunungkidul. Bahwa pada tahun ini terdapat beberapa kegiatan di
tingkat desa yang dibiayai dari APBN, seperti pertemuan IMP, rapat koordinasi tingkat desa,
dan penggerakan program KKBPK. Meskipun frekuensi dari pendanaan tersebut belum
diketahui, namun ketika dananya cair akan diberikan ke desa melalui Forum IMP. Karena dana
tersebut untuk kegiatan di tingkat desa, maka untuk kelengkapan SPJ seperti daftar hadir,
notulen, surat tugas, dan nota warung agar disiapkan oleh Forum IMP tingkat desa.
Sesuai informasi dari DP3AKBPM dan D Kabupaten Gunungkidul bahwa pada tahun ini
kegiatan KIE KB oleh PPKBD juga akan mendapat dukungan operasional dari DAK Kabupaten
Gunungkidul. Apabila dana tersebut sudah cair, nantinya dapat digunakan untuk operasional
KIE KB atau penyuluhan ke dusun-dusun. Oleh karena itu setiap melakukan kunjungan ke
tingkat dusun agar dicatat dalam buku notulen, sehingga apabila diperlukan untuk kelengkapan
SPJ akan mudah disiapkan.
Sesi terakhir acara pertemuan IMP, waktu diberikan kepada ketua Forum IMP Kecamatan
Playen untuk menyampaikan tanggapan. Ketua Forum IMP Kecamatan Playen, Ismini
menyatakan bahwa seluruh pengurus Forum IMP tingkat desa siap turun ke dusun-dusun untuk
melakukan penyuluhan program KB. Ismini mengatakan bahwa selama ini, ada maupun tidak
ada dukungan dana dari pemerintah, PPKBD bersama pengurus kader desa secara berkala
melakukan kunjungan ke dusun-dusun untuk mengetahui kegiatan program KB. Dengan
melakukan penyuluhan ke dusun-dusun diharapkan dapat mencapai targer peserta KB baru
yang telah memberikanb ditetapkan tadi. Selaku ketua kelompok UPPKS Dusun Mendongan,
tidak lupa Ismini memberikan motivasi kepada kader IMP yang mengelola UPPKS agar
menggiatkan kembali kegiatan kelompoknya.
Pada pukul 11.15 WIB acara pertemuan rutin IMP Kecamatan Playen diakhiri. Setelah acara
ditutup, dilanjutkan dengan undian arisan dan nyambel bawang bersama yang disiapkan oleh
Penyuluh KB bersama PPKBD dari beberapa desa.(*) [sabrur/slamet, playen]
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Keberhasilan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan
Keluarga
(KKBPK)
dalam mengendalikan tingkat kelahiran dan meningkatkan
kualitas masyarakat Indonesia
dalam lebih dari tiga dekade tidak lepas dari
peran Penyuluh Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan
Keluarga (Penyuluh KKBPK). Penyuluh KKBPK yang menjadi ujung
tombak di
lapangan berperan penting menjabarkan cita
-
cita dari Pembangunan Nasional
maupun Program KKBPK.
Tugas utama Penyuluh KKBPK adalah melakukan penyuluhan atau memberikan
informasi dan edukasi tentang program KKBPK dalam rangka meningkatkan
pengeta
huan, sikap dan prilaku kepada individu, keluarga atau masyarakat
diberbagai forum.
Selain itu, Penyuluh KKBPK juga dituntut mampu
menggerakan seluruh komponen masyarakat untuk mendukung dan berperan
serta dalam program KKBPK di lini lapangan. Selain itu d
alam melaksanakan
tugasnya Penyuluh KKBPK memiliki standar langkah kerja yang dikenal dengan
10
(sepuluh)
Langkah Kerja Penyuluh KKBPK, yaitu:
1.
Pendekatan Tokoh Formal
2.
Pendataan dan Pemetaan
3.
Pendekatan Tokoh Informal
4.
Pembentukan Kesepakatan
5.
Pemantapan Kes
epakatan
6.
Komunikasi Informasi dan Edukasi
7.
Pembentukan Group Pelopor
8.
Pelayanan KB
9.
Pembinaan Peserta KB
10.
Evaluasi, Pencatatan dan Pelaporan
Langkah kerja Penyuluh KKBPK di atas diharapkan dapat meningkatkan
capaian program KKBPK saat ini.
Penyuluh KKBPK
juga terbiasa dalam
pekerjaan di bidang data maupun inovasi terhadap pelaksanaan kegiatan
-
kegiatan di lini lapangan. Dalam standar kompetensi Penyuluh KKBPK 19 unit
kompetensi teknis, 13 unit kompetensi manajerial dan 2 unit kompetensi
sosial kultural men
dorong setiap mendorong setiap Penyuluh untuk
berkinerja
secara profesional, kompeten
dan tersistematik
.