Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

Pemastian Mutu Bahan Obat Tradisional

Prinsip Pemeriksaan Mutu


Batang

Pengampu :
Amalia Eka Putri M.Farm.,Apt

Disusun oleh kelompok 09 :


1. Akbar Putra Rahmada (1913206004)
2. Azriel Restu F (1913206007)
3. Deniatul Masitoh (1913206009)
4. Dewinta Hapsari ( 1913206010)
5. Elen Vikelavianis ( 1913206015)
6. Pera Amelia (1913206036)
7. Meilina Rossa (1913206025)
8. Syavira Millenia T (1913206045)
9. Mochamad Syahrul Fajari (1913206026)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

STIKES KARYA PUTRA BANGSA TULUNGAGUNG 2019/2020

,JL. RAYA TULUNGAGUNG – BLITAR KM.4

SUMBERGEMPOL, TULUNGAGUNG

1
Kata Pengantar

Puji syukur alhamdulilah kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga materi Pemastiam
Mutu Bahan Obat Tradisional tentang prinsip pemeriksaan mutu batang dari awal sampai
terbentuk sediaan bisa selesai pada waktunya.

Terimakasih juga kami ucapkan kepada dosen pembimbing dan teman teman yang
telah berkontribusi dengan memberikan ide idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan
baik dan rapi.Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada pengampu mata kuliah ini karena
telah memberikan bimbingan agar lebih mandiri dalam mengkaji materi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca, dan
dapat diterima baik oleh pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah
yang kami susun masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik
serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik
lagi.

Tulungagung, 04 Maret 2020

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................1

A. Latar Belakang.............................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................1
C. Tujuan Penulisan..........................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................3

A.

BAB III PENUTUP.................................................................................11

A. Kesimpulan...........................................................................11
B. Saran....................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA..................................................................13

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Di Indonesia banyak berbagai macam tumbuhan obat yang telah diteliti oleh para ahli
yang mana sampai sekarang tercantum pada buku-buku maupun artikel obat tradisional.
Tumbuhan obat atau yang biasa dikenal dengan obat herbal adalah sediaan obat baik
berupa obat tradisional , fitofarmaka dan farmasetika, dapat berupa simplisia ( bahan segar
atau yang dikeringkan ) ekstrak, kelompok senyawa atau senyawa murni berasal dari
alam, yang dimaksut dengan obat alami adalah obat asal tanaman.
Farmakognosi merupakan cara pengenalan ciri-ciri atau karakteristik obat yang
berasaldari bahan alam. Farmakognosi mencakup seni dan pengetahuan pengobatan dari
alam yangmeliputi tanaman, hewan, mikroorganisme, dan mineral. Perkembangan
farmakognosi saat ini sudah melibatkan hasil penyarian atau ekstrak yang tentu akan sulit
dilakukan indentifikasi zat aktif jika hanya mengandalkan mata. Dengan demikian, cara
identifikasi juga semakin berkembang dengan menggunakan alat-alat cara kimia dan
fisika.Simplisia merupakan bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apa pun, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah
dikeringkan. Biasanya simplisia berasal dari tumbuhan yang diperoleh dengan cara
menebang atau memungut langsung dari tempat tumbuh alami atau dari tanaman yang
dibudidayakan.
Obat Alam atau yang biasa disebut obat herbal adalah sediaan obat baik berupa oabat
tradisional, fitofarmaka dan farmasetik, dapat berupa simplisia ( bahan segar atau yang
dikeringkan ) ekstrak , kelompok senyawa atau senyawa murni yang berasal dari alam,
yang dimaksut dengan obat alami adalah obat asal tanaman.

B. Rumusan Masalah
a. Tanaman dari batang apa saja yang telah teruji berkhasiat dapat menyembuhkan
penyakit tertentu.
b. Bagaimana prinsip pemeriksaan mutu yang mencakup analisis kualitatif dan uji
kuantitatif.
c. Bagaimana penjaminan bahwa campuran dari batang tersebut mengandung simplisia
sesuai dengan yang tertulis dalam komposisinya.

4
d. Bagaimana pengujian mutu dari awal bahan batang sampai terbentuk sediaan.

C. Tujuan
a. Mengetahui cara pembuatan simplisia yang baik.
b. Menentukan obat herbal dengan kompisisi yang sesuai
c. Bagaimana penjaminan bahwa pencampuran jamu dari beberapa batang mengandung
simplisia sesuai dengan yang tertulis dalam komposisinya
d. Prinsip pemeriksaan mutu
e. Pengujian mutu dari awal sampai terbentuk sediaan

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Formulasi

R/ Alstoniae Cortex (Kulit Pule ) 1g


Alyxiae Cortex (Kulit Pulasari) 1g
Tinosphorae Caulis (Kulit Batang Brotowali) 1g
Chincna calisayae cortex (Kulit Kina Kaliyasa) 1g
Cichonae ledgerianae cortex (Kulit Kina Ledgeriana) 1g
B. Klasifikasi
1. Alstoniae Cortex (Kulit Pule)
Kingdom : Plantae
Ordo : Gentianales
Famili : Apocynaceae
Bangsa : Plumeriae
Subbangsa : Alstoniinae
Genus : Alstonia
Spesies : A. scholaris
Nama binomial : Alstonia scholaris
2. Alyxiae Cortex (Kulit Pulasari)
Nama lain : Pulasari
Nama Tanaman Asal : Apocynaceae
Zat berkhasiat utama : Alkaloida zat pahit, kumarin, zat penyamak.
Penggunaan : Karminativa, Antidemam
Pemerian : Bau dan rasa mirip kumarin, agak pahit
Bagian yang digunakan : Kulit batang dan kulit cabang
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik Nama binomial :
3. Tinosphorae Caualis (Kulit Batang Brotowali)
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Magnoliidae

6
Ordo : Ranunculales
Famili : Menispermaceae
Genus : Tinospora
Spesies : Tinospora tuberculata
4. Cinchonae Ledgeriana Cortex (Kina)
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Keluarga : Rubiaceae
Genus : Chinchona
Spesies : Chinchona spp
5. Chincna calisayae cortex (Kulit Kina Kaliyasa)

C. Penelitian Simplisia
1. Cichonae Ledgerianae Cortex (kulit batang kina ledgeriana)
Analisis Kualitatif
 Uji Organoleptik
Bau khas, terutama kulit bahan, pada penyimpanan lama bau hilang, rasa
pahit dan kelat.
 Uji Makroskopik
Potongan kulit : bentuk pipa , berlengkuk atau pipih, tebal sampai 8 mm dapat
juga dalam bentuk serpih. Pelukaan luar kasar tidak beraturan, mempunyai
kerutan halus mememanjang; kulit yang tidak bergabus berwarna coklat
merah,yang bergabus berwarna coklat kelabu dengan bintikn kelabu muada yang
letaknya tidak beraturan ; di beberapa tempat terdapat lumut kulit permukaan
dalam mempunyai beberapa kerutan halus memanjang dan celah
memanjang,warna coklat sampai coklat merah.bekas patahan melintang berserat
pendek , terutama pada bagian dalam , warna coklat muda
 Uji Mikroskopik
Jaringan gabus terdiri dari beberapa lapis sel gabus. Sel gabus : Berdinding
tipis berwarna coklat : pada penampang melintang dan membujur sel berbentuk
segi empat panjang, pada pengamatan tangensial berbentuk poligonal .korteks :
parenkimatik dengan diding sel berwarna coklat , sebagian besar sel berisi butir
butir pati kecil tunggal, bentuk bulat; tersebar diantar parenkim terdapat sel
idioblas berisi hablur kalsium oksalat bentuk pasir: dikorteks bagian dalam
7
terdapat saluran sekresi yang berbentuk bulat atau lonjong , dinding agak tebal ,
garis tegah sampai lebih kurang 150 µm ,saluran sekresi tersusun dalam deretan
tangensial . floem sekunder :tersusun redial, sel jaringan floem lebih kecil dari
pararenkim korteks ; parenkim floem terdiri dari sel berdinding tipis berwarna
kecoklatan , berisi butir pati ; sel idioblas berisi hablur kalsium oksalat bentuk
pasir. Serabut floem : warna kuning muda,bentuk gelendong ,tebal 25 µm – 90
µm Panjang sampai 1200 µm ,dinding sangat tebal berlapis lapis ,berliknin ,
saluran noktah jelas ,lumen sempit jari jari empulur terdiri dari 1 – 3 deret sel,
umumnya 2 deret sel .
 Uji Histokimia
Identifikasi alkaloida terdiri dari alkaloida kinina, kinidina, sinkonina,
sinkonidina : asam kinat :asam kinatanat : zat merah kina.
Penggunaan simplisia: anti malaria, anti piretik , stomakik.
Analisa Kuantitaif
Kadar abu tidak lebih dari 4 %
Kadar abu yang tidak larut dalam asam. Tidak lebih dari 1%
Kadar sari yang larut dalam air. Tidak kurang dari 5%
Kadar sari yang larut dalam etanol. Tidak kurang dari 8%
Bahan organic asing. Tidak lebih dari 2%
Penetapan kadar. Lakukan penetapan kadar menurut cara yang tertera pada
Cinchanoae Calisayae Cortex
2. Alyxiae Cortex (Kulit Pulasari)
Analisis Kualitatif
 Uji Makroskopik
Potongan : panjang sampai 10 cm, lebar sampai 2,5 cm, tebal sampai 4mm,
berlekuk membujur atau agak datar, rapuh ; permukaan luar halus, rata, warna
putih jernih, kadang-kadang terdapat sisa lapisan luar yang tipis dan berwarna
coklat tua kehitaman; permukaan dalam tidak rata, kasar dengan garis-garis
membiji; bekas patahan tidak rata, berserat, agak berdebu.
 Uji Mikroskopik :
Lapisan luar (bila masih ada) terdiri dari lebih kurang 40 lapisan sel gabus
yang tidak berlignin; pada kulit yang tebal, diantara lapisan sel gabus terdapat
kelompok-kelompok sel batu berbentuk segi empat sampai segi panjang, dinding
tebal, berlignin, lumen sempit. Felogen terdiri dari 2 sampai 5 lapis sel berdinding

8
tipis, didalam lumen kadang-kadang terdapat hablur kalsium oksalat berbentuk
kubus, segi empat atau berbentuk prisma berukuran 10µm sampai 15 µm.
Korteks : jaringan luar terdiri dari 1 sampai 5 lapis sel batu berbentuk segi
panjang sampai bulat panjang, dinding tebal berlapis-lapis, berlignin, lumen
umumnya agak sempit, kadang-kadang mengandung hablur prisma kalsium
oksalat, saluran noktah jelas bercabang; panjang sel batu 15 µm sampai 50 µm,
lebar 10 µm sampai 30 µm. Dibawah lapisan skelrenkim terdapat parenkim
korteks, bentuk sel poligonal, dinding sel tipis, mengandung butir pati tunggal
atau hablur kalsium oksalat berbentuk prisma atau roset, berukuran 15 µm sampai
35 µm; diantara sel parenkim terdapat sel batu berkelompok atau tunggal,
berbentuk isodiametrik sampai segi panjang tidak beraturan, dinding sel tebal,
jernih, berlapis-lapis, berlignin, lumen agak sempit, saluran noktah jelas
bercabang, panjang sel batu 50 µm sampai 175 µm, lebar 10 µm sampai 40 µm.
Analisis Kuantatif
Kadar abu tidak lebih dari 5,5 %
Kadar abu yang tidak larut dalam asam tidak lebih dari 16%.
Kadar sari yang larut dalam air tidak kurang dari 8,5 %
Kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 2%
Bahan organik asing tidak lebih dari 2 %.
3. Chincna calisayae cortex (kulit kina kaliyasa)
Analisis kualitatif
 Uji Organoleptik
Bau khas rasa oahit dan kelat.
 Uji Makroskopik
Potongan kulit berbentuk pipa, berlekuk atau berupa lempeng, tebal 2mm
sampai 5 mm. Permukaan luar kasar, berkerut sehingga membentuk rusuk rusuk
membujur, beralur melintang terputus putus; warna permukaan coklat tua atau
coklat kelabu;dibeberapa tempat terdapat lumut berkerak berwarna kelabu putih
atau kelabu kehijauan ; pada daerah tertentu tidak bergabus , permukaan luar rata
atau berkerut halus, berwarna coklat muda sampai coklat.permukaan dalam
umumnya berkerut halus memanjang ,ada yang kasar , warna coklat sampai coklat
kemerahan .mudah patah , bekas patahan melintang berserat terutama dibagian
dalam, bekass pertahanan membujur rata.
 Uji Mikroskopik

9
Jaringan gabus terdiri dari banyak lapisan sel gabus bentuk persegi empat
memanjang atau agak pipih ,dinding tipis berwarna kuning kecoklatan sebagian
dari sel jaringan gabus berisi zat berwarna coklat terutama sel yang terletak lebih
dekat dengan permukaan.korteks : sel parenkimatik , bentuk poligonal memanjang
:bagian luar terdiri dari banyak lapisan sel ,kadang kadang agak termampat ,
dinding agak tebal, tidak berlignin , warna coklat kemerahan ; sel berisi butir pati
tunggal bentuk bulat atau bulat memanjang ; pada jaringan ini berisisel idioblas
berisi hablur kalsium oksalat bentuk pasir ; jaringan kortek bagian dalam terdiri
dari banyak lapisan sel berdinding tipis , warna kuning kecoklatan , sel berisi butir
peti tunggal berbentuk bulat atau bulat panjang berukuran sampai 30um : pada
jaringan ini terdapat sel idioblas berisi hablur kalsium oksalat bentuk pasir juga
terdapat saluran sekresi bentuk bulat atau bulat panjang dan berisi tanin.floem :
parenkim floem terdiri dari sel sel kecil berdinnding tipis warena kuning
kecoklatan sampai coklat, sel idio blas berisi hablur kalasium oksalat bentuk
pasir ; serabut floem banyak , warna kuning muda , dinding sangat tebal , berlapis
lapis , berlignin , saluran noktah bercabang cabang atautidak , lumen sempit atau
lebar , tunggal atau berkelompok , lebar 20 um sampai 75 um panjang sampai
1500um : jari jari empulur terdiri dari satu sampai tiga deret sel .
 Uji Histokimia
a. Pada serbuk kulit ditetesi asam sulfat P terjadi warna coklat
b. Pada serbuk kulit ditetesi asam klorida pekat P terjadi warna kuning
c. Pada serbuk kulit ditetesi hidroksida P 5% b/v terjadi warna coklat tua
4. Tinosphorae caulis (Kulit Batang Brotowali)
Analilis Kualitatif
 Uji organoleptik
Tidak berbau, rasa sangat pahit.
 Uji makroskopik
Potongan batang, warna hijau keclokatan, permukaan tidak rata, bertonjolan,
beralur
alur membujur, lapisan luar mukdah terkupas.
 Uji mikroskopik
Epidermis terdiri dari 1 lapis sel berbentuk segiempat memanjang, dinding tipis
dengan kutikula agak tebal. Dibawah epidermis terdapat beberapa lapis sel gabus,
bentuk segiempat memanjang, dinding agak tebal. Kambium gabus terdiri dari
beberapa lapis sel berdinding tipis. Korteks parenkimatik dengan sel sel berbentuk
10
membulat titik. Mengandung butir butir pati. Minyak atau hablur kalsium oksalat
berbentuk prisma. Disebelah luar tiap berkas pengangkut terdapat serabut sklerenkim
berbentuk lengkungan; pada batang yang tua lengkungan lengkungan tersebut
bersambung satu dengan yang lain, sehingga merupakan seludang sklerenkim yangt
tidak terputus yang pada lapis terluarnya disertai serabut haplur yang berisi haaablur
kalsium oksalat berbentuk prisma. Empulur parenkimatik berisi butir pati, sel getah
dan berkas empuluh kolateral. Parenkim diantara floem dan serabut sklerenkim
kadang kadang termampat atau terkoyok. Butir pati di korteks dan empulur berbentuk
hampir bulat, panjang atau lonjong, umumnya lonjong. Sel sel getah terdapat dalam
deretan membujur diantara sel parenkim. Berkas empuluh kolateral, terpisah satu
dengan yang lain oleh jaringan parenkim.
 Uji histokimia
a. A.serbuk batang ditetesi asam sulfat P terjadi warna coklat hitam
b. B.serbuk batang ditetesi larutan natrium hidroksida P 5% b/V terjadi warna
coklat
c. C.serbuk batang ditetessi larutan kalium hidroksida P 5% b/v terjadi warna
coklat
d. D.serbuk battang ditetesi amonia 25 P terjadi warna coklat
Identifikasi kimia : pati, glikosida pikroretosida, alkoloida, berberin, dan palamatin,
zat pahit pikroretin, harsa.
Analisis Kuantitatif
Kadar abu tidak lebih dari 7,2%
Kadar abu yang tidak larut dalam asam tidak lebih dari 0,9%
Kadar sari yang larut dalam etanol tidak lebih dari 15,4%
Kadar sari yang larut dalam etanol tidak lebih dari 4,4%
Bahan organik asing tidak lebih dari 2%
5. Alstoniae Cortex (kulit pule)
Anilisis Kualitatif
 Uji Organoleptic
Tidak berbau; rasa pahit yang tidak mudah hilang
 Uji Makroskopik
Kulit batang dan cabang terdiri dari potongan potongan mengulang atau
kadang kadang berbentuk pipa, tebal sampai kurleb 3mm. Permukaan luas sangat
kasar, tidak rata. Mudah mengelupas, banyak retak retak membujur dan melintang;
warna permukaan hijau kelabu, coklat muda atau coklat kehitaman; lentisel
11
berbentuk lonjong, warna putih kelabu. Terletak melintang. Permukaan dalam
bergaris halus. Juga terdapat retak retak melintang; warna permukaan kuning
kecoklatan sampai coklat kelabu tua. Mudah dipatahkan, berkas patahan kasar dan
agak berserat.
 Uji Mikroskopik
Jaringan gabus terdiri dari banyak jalur sel gabus berdinding tipis yang
berseling dengan jalur sel yang berdinding agak tebal, berlignin dan bernoktah,
sebagian sel mempunyai dindding yang bewarna kecoklatan; pada penampang
melintang dan membujur sel gabus umumnya berbentuk segipanjang. Pada
pengamatan tangensial berbentuk poligonal. Kambium gabus terdiri dari beberapa
lapis sel berdinding tipis, didalam lumen kadangb kadang terdapat hablur kalsium
oksalat berbentuk prisma. Korteks sekunder: lebar, parenkimatik, dinding lapis. Sel
parenkim korteks mengandung butir pati hablur kalsium oksalat berbentuk prisma;
butir pati berbentuk bulat, umumnya butir pati tunggal, kadang kadang butir pati
majemuk; hablur kalsium oksalat terutama banyak terdapat dalam sel parenkim
dibagian luar; dalam jaringan parenkim terdapat banyak saluran getah. Sel batu:
tersebar, jaringan tunggal, umunya berkelompok atau berupa jalur jalur sel batu
yang terputus putus, sel batu yang terdapat dikorteks bagian luar berebntuk persegi
panjang sampi membulat tidak beraturan, dinding tebal berlignin, lumen agak lebar,
kadang kadanf mengandung hablur kalsium oksalat berbentuk prisma. Saluran
noktah jelas: sel batu yangbterdaot di korteks bagian tengah lebih besar dari sel
batu di korteks bagian luar, bentuk sel batu persegi panjang sampai poligonal tidak
beraturan, dinding sel sangat tebal berlabis lapis, berlignin, lumen umunya sempit,
saluran noktah jelas bercabang cabang; diantara kelompok sel batu terdapat sel sel
besar berisi zat amrov yang jernih dan tidak bewarna pada penambahan bahan
sudah III LP, dinding sel berlignin. Diantara parenkim korteks bagian dalam
terdapat serabut, umumnya tunggal, dinding serabut tebal, berlignin, garis tengah
serabut lebih kurang 4,5 um lumen sempit, floem sekunder: banyak pembuluh tapis
dan sel pengikut, parenkim floem lebih kecil dari parenkim korteks, parenkim
floem berisi butir pati atau hablur kalsium oksalat serupa dengan yang terdapat di
dalam korteks; saluran getah tersebar. Jari jari empulur terdiri dari 1 atau 2 deret
sel, berisi butir pati.
 Uji histokimia :
a. Serbuk kulit ditetesi asam sulfat terjadi warna coklat ungu
b. Serbuk kulit ditetesi asam sulfat 10N terjadi warna kuning
12
c. Serbuk kulit ditetesi asam klorida pekat terjadi warna coklat
d. Serbuk kulit ditetesi larutan natrium hidroksida P 5% b/v terjadi warna coklat
kekuningan
e. Serbuk kulit ditetesi amonia 25 % terjadi warna kuning
f. Serbuk kulit ditetesi besi (III ) klorida LP terjadi warna hijau muda
Identifikasi kimia : alkoloida ekitamina, ekitenina, alsonina, akiserina, ekitina,
ekiretina ditamina, ekitamidina, ekiteina.

Analisis Kuantitatif
Kadar abu tidak lebih dari 6,5%
Kadar abu yang tidak larut dalm asam tidak lebih dari 3%
Kadar sari yang larut dalm air tidak kurang dari 11%
Kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 5,5%
Bahan organik asing tidak lebih dari 2%
D. Pembuatan Simplisia
1. Pengumpulan Bahan Baku
 Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda antara lain tergantung
pada:
 Bagian tanaman yang digunakan.
 Umur tanaman yang digunakan.
 Waktu panen.
 Lingkungan tempat tumbuh.
 Waktu panen sangat erat hubungannya dengan pembentukan senyawa aktif di
dalam
 bagian tanaman yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian
tanaman tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar.
2. Sortasi Basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan
asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar
suatu tanaman obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun,
akar yang telah rusak, serta pengotoran lainnya harus dibuang. Tanah mengandung
bermacam-macam mikroba dalam jurnlah yang tinggi, oleh karena itu pembersihan
simplisia dari tanah yang terikut dapat mengurangi jumlah mikroba awal.
3. Pencucian

13
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainnya yang
melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih, misalnya air
dari mata air, air sumur atau air PAM. Bahan simplisia yang mengandung zat yang
mudah larut di dalam air yang mengalir, pencucian agar dilakukan dalam waktu
yang sesingkat mungkin. Menurut Frazier (1978), pencucian sayur-sayuran satu
kali dapat menghilangkan 25% dari jumlah mikroba awal, jika dilakukan pencucian
sebanyak tiga kali, jumlah mikroba yang tertinggal hanya 42% dari jumlah mikroba
awal. Pencucian tidak dapat membersihkan simplisia dari semua mikroba karena air
pencucian yang digunakan biasanya mengandung juga sejumlah mikroba. Cara
sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah rnikroba awal
simplisia. Misalnya jika air yang digunakan untuk pencucian kotor, maka jumlah
mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat bertambah dan air yang terdapat
pada permukaan bahan tersebut dapat menipercepat pertumbuhan mikroba. Bakteri
yang umum terdapat dalam air adalah Pseudomonas, Proteus, Micrococcus,
Bacillus, Streptococcus, Enterobacter dan Escherishia. Pada simplisia akar, batang
atau buah dapat pula dilakukan pengupasan kulit luarnya untuk mengurangi jumlah
mikroba awal karena sebagian besar jumlah mikroba biasanya terdapat pada
permukaan bahan simplisia. Bahan yang telah dikupas tersebut mungkin tidak
memerlukan pencucian jika cara pengupasannya dilakukan dengan tepat dan bersih.
4. Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan. Perajangan
bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan
dan penggilingan. Tanaman yang baru diambil jangan langsung dirajang tetapi
dijemur dalam keadaan utuh selama 1 hari. Perajangan dapat dilakukan dengan
pisau, dengan alat mesin perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau
potongan dengan ukuran yang dikehendaki.
Semakin tipis bahan yang akan dikeringkan, semakin cepat penguapan air,
sehingga mempercepat waktu pengeringan. Akan tetapi irisan yang terlalu tipis juga
dapat menyebabkan berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang mudah
menguap. Sehingga mempengaruhi komposisi bau dan rasa yang diinginkan. Oleh
karena itu bahan simplisia seperti temulawak, temu giring, jahe, kencur dan bahan
sejenis lainnya dihindari perajangan yang terlalu tipis untuk mencegah
berkurangnya kadar minyak atsiri. Selama perajangan seharusnya jumlah mikroba
tidak bertambah. Penjemuran sebelum perajangan diperlukan untuk mengurangi

14
pewarnaan akibat reaksi antara bahan dan logam pisau. Pengeringan dilakukan
dengan sinar matahari selama satu hari.
5. Pengeringan
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah
rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi
kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau
perusakan simplisia. Air yang masih tersisa dalam simplisia pada kadar tertentu
dapat merupakan media pertumbuhan kapang dan jasad renik lainnya.Enzim
tertentu dalam sel, masih dapat bekerja, menguraikan senyawa aktif sesaat setelah
sel mati dan selama bahan simplisia tersebut masih mengandung kadar air tertentu.
Pada tumbuhan yang masih hidup pertumbuhan kapang dan reaksi enzimatik yang
merusak itu tidak terjadi karena adanya keseimbangan antara proses-proses
metabolisme, yakni proses sintesis, transformasi dan penggunaan isi sel.
Keseimbangan ini hilang segera setelah sel tumbuhan mati. Sebelum tahun 1950,
sebelum bahan dikeringkan, terhadap bahan simplisia tersebut lebih dahulu
dilakukan proses stabilisasi yaitu proses untuk menghentikan reaksi enzimatik. Cara
yang lazim dilakukan pada saat itu, merendam bahan simplisia dengan etanol 70%
atau dengan mengaliri uap panas. Dari hasil penelitian selanjutnya diketahui bahwa
reaksi enzimatik tidak berlangsung bila kadar air dalam simplisia kurang dari 10%.
Pengeringan simplisia dilakukan dengan menggunakan sinar matahari atau
menggunakan suatu alat pengering. Hal-ha1 yang perlu diperhatikan selama proses
pengeringan adalah suhu pengeringan, kelembaban udara, aliran udara, Waktu
pengeringan dan luas permukaan bahan. Pada pengeringan bahan simplisia tidak
dianjurkan menggunakan alat dari plastik. Selama proses pengeringan bahan
simplisia, faktor-faktor tersebut harus diperhatikan sehingga diperoleh simplisia
kering yang tidak mudah mengalami kerusakan selama penyimpanan. Cara
pengeringan yang salah dapat mengakibatkan terjadinya “Face hardening”, yakni
bagian luar bahan sudah kering sedangkan bagian dalamnya masih basah. Hal ini
dapat disebabkan oleh irisan bahan simplisia yang terlalu tebal, suhu pengeringan
yang terlalu tinggi, atau oleh suatu keadaan lain yang menyebabkan penguapan air
permukaan bahan jauh lebih cepat daripada difusi air dari dalam ke permukaan
tersebut, sehingga permukaan bahan menjadi keras dan menghambat pengeringan
selanjutnya. “Face hardening” dapat mengakibatkan kerusakan atau kebusukan di
bagian dalarn bahan yang dikeringkan.

15
Suhu pengeringan tergantung kepada bahan simplisia dan cara
pengeringannya. Bahan simplisia dapat dikeringkan pada suhu 300 sampai 90°C,
tetapi suhu yang terbaik adalah tidak melebihi 60°C. Bahan simplisia yang
mengandung senyawa aktif yang tidak tahan panas atau mudah menguap harus
dikeringkan pada suhu serendah mungkin, misalnya 300 sampai 450 C, atau dengan
cara pengeringan vakum yaitu dengan mengurangi tekanan udara di dalam ruang
atau lemari pengeringan, sehingga tekanan kira-kira 5 mm Hg. Kelembaban juga
tergantung pada bahan simplisia,cara pengeringan, dan tahap tahap selama
pengeringan. Kelembaban akan menurun selama berlangsungnya proses
pengeringan. Berbagai cara pengeringan telah dikenal dan digunakan orang. Pada
dasarnya dikenal dua cara pengeringan yaitu pengeringan secara alamiah dan
buatan.
 Pengeringan Alamiah.
Tergantung dari senyawa aktif yang dikandung dalam bagian tanaman yang
dikeringkan, dapat dilakukan dua cara pengeringan :
a. Dengan panas sinar matahari langsung. Cara ini dilakitkan untuk
mengeringkan bagian tanaman yang relatif keras seperti kayu, kulit kayu,
biji dan sebagainya, dan rnengandung senyawa aktif yang relatif stabil.
Pengeringan dengan sinar matahari yang banyak dipraktekkan di Indonesia
merupakan suatu cara yang mudah dan murah, yang dilakukan dengan cara
membiarkan bagian yang telah dipotong-potong di udara terbuka di atas
tampah-tampah tanpa kondisi yang terkontrol sepertl suhu, kelembaban dan
aliran udara. Dengan cara ini kecepatan pengeringan sangat tergantung
kepada keadaan iklim, sehingga cara ini hanya baik dilakukan di daerah
yang udaranya panas atau kelembabannya rendah, serta tidak turun hujan.
Hujan atau cuaca yang mendung dapat memperpanjang waktu pengeringan
sehingga memberi kesempatan pada kapang atau mikroba lainnya untuk
tumbuh sebelum simplisia tersebut kering. F’IDC (Food Technology
Development Center IPB) telah merancang dan membuat suatu alat
pengering dengan menggunakan sinar matahari, sinar matahari tersebut
ditampung pada permukaan yang gelap dengan sudut kemiringan tertentu.
Panas ini kemudian dialirkan keatas rak-rak pengering yang diberi atap
tembus cahaya di atasnya sehingga rnencegah bahan menjadi basah jika
tiba-tiba turun hujan. Alat ini telah digunakan untuk mengeringkan

16
singkong yang telah dirajang dengan demikian dapat pula digunakan untuk
mengeringkan simplisia.
b. Dengan diangin-anginkan dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari
langsung. Cara ini terutama digunakan untuk mengeringkan bagian tanaman
yang lunak seperti bunga, daun, dan sebagainya dan mengandung senyawa
aktif mudah menguap.
 Pengeringan Buatan
Kerugian yang mungkin terjadi jika melakukan pengeringan dengan sinar
matahari dapat diatasi jika melakukan pengeringan buatan, yaitu dengan
menggunakan suatu alat atau mesin pengering yang suhu kelembaban, tekanan dan
aliran udaranya dapat diatur. Prinsip pengeringan buatan adalah sebagai berikut:
“udara dipanaskan oleh suatu sumber panas seperti lampu, kompor, mesin disel
atau listrik, udara panas dialirkan dengan kipas ke dalam ruangan atau lemari yang
berisi bahan yang akan dikeringkan yang telah disebarkan di atas rak-rak
pengering”. Dengan prinsip ini dapat diciptakan suatu alat pengering yang
sederhana, praktis dan murah dengan hasil yang cukup baik.
Dengan menggunakan pengeringan buatan dapat diperoleh simplisia dengan
mutu yang lebih baik karena pengeringan akan lebih merata dan waktu pengeringan
akan lebih cepat, tanpa dipengaruhi oleh keadaan cuaca. Sebagai contoh misalnya
jika kita membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari untuk penjemuran dengan sinar
matahari sehingga diperoleh simplisia kering dengan kadar air 10% sampai 12%,
dengan menggunakan suatu alat pengering dapat diperoleh simplisia dengan kadar
air yang sama dalam waktu 6 sampai 8 jam.
Daya tahan suatu simplisia selama penyimpanan sangat tergantung pada jenis
simplisia, kadar airnya dan cara penyimpanannya. Beberapa simplisia yang dapat
tahan lama dalam penyimpanan jika kadar airnya diturunkan 4 sampai 8%,
sedangkan simplisia lainnya rnungkin masih dapat tahan selama penyimpanan
dengan kadar air 10 sampai 12%.
6. Sortasi Kering
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan
simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-
bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masill
ada dan tertinggal pada sirnplisia kering. Proses ini dilakukan sebelum sirnplisia
dibungkus untuk kernudian disimpan. Seperti halnya pada sortasi awal, sortasi
disini dapat dilakukan dengan atau secara mekanik. Pada simplisia bentuk rimpang
17
sering jurnlah akar yang melekat pada rimpang terlampau besar dan harus dibuang.
Demikian pula adanya partikel-partikel pasir, besi dan benda-benda tanah lain
yang tertinggal harus dibuang sebelum simplisia dibungkus.
7. Pengawetan
Simplisia nabati atau simplisia hewani harus dihindarkan dari serangga atau
cemaran atau mikroba dengan penambahan kloroform, CCl4, eter atau pemberian
bahan atau penggunaan cara yang sesuai, sehingga tidak meninggalkan sisa yang
membahayakan kesehatan.
8. Wadah
Wadah adalah tempat penyimpanan artikel dan dapat berhubungan langsung
atau tidak langsung dengan artikel. Wadah langsung (wadah primer) adalah wadah
yang langsung berhubungan dengan artikel sepanjang waktu. Sedangkan wadah
yang tidak bersentuhan langsung dengan artikel disebut wadah sekunder.
Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan
didalamnya baik secara fisika maupun kimia, yang dapat mengakibatkan
perubahan kekuatan, mutu atau kemurniannya hingga tidak memenuhi persyaratan
resmi.
Wadah tertutup baik: harus melindungi isi terhadap masuknya bahan padat dan
mencegah kehilangan bahan selama penanganan, pengangkutan, penyimpanan dan
distribusi.

9. Suhu Penyimpanan
 Dingin : suhu tidak lebih dari 80C, Lemari pendingin mempunyai suhu antara
20C– 80C, sedangkan lemari pembeku mempunyai suhu antara -200C dan
-100C.
 Sejuk : suhu antara 80C dan 150C. Kecuali dinyatakan lain, bahan yang harus
di simpan pada suhu sejuk dapat disimpan pada lemari pendingin.
 Suhu kamar : suhu pada ruang kerja. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang di
atur antara 150C dan 300C.
 Hangat : hangat adalah suhu antara 300C dan 400C.
 Panas berlebih : panas berlebih adalah suhu di atas 400C.

10. Tanda dan Penyimpanan

18
Semua simplisia yang termasuk daftar narkotika, diberi tanda palang medali
berwarna merah di atas putih dan harus disimpan dalam lemari terkunci. Semua
simplisia yang termasuk daftar obat keras kecuali yang termasuk daftar narkotika,
diberi tanda tengkorak dan harus disimpan dalam lemari terkunci.
11. Kemurnian Simplisia
Persyaratan simplisia nabati dan simplisia hewani diberlakukan pada simplisia
yang diperdagangkan, tetapi pada simplisia yang digunakan untuk suatu
pembuatan atau isolasi minyak atsiri, alkaloida, glikosida, atau zat aktif lain, tidak
harus memenuhi persyaratan tersebut.
Persyaratan yang membedakan strukrur mikroskopik serbuk yang berasal dari
simplisia nabati atau simplisia hewani dapat tercakup dalam masing–masing
monografi, sebagai petunjuk identitas, mutu atau kemurniannya.
12. Benda Asing
Simplisia nabati dan simplisia hewani tidak boleh mengandung organisme
patogen, dan harus bebas dari cemaran mikro organisme, serangga dan binatang
lain maupun kotoran hewan. Simplisia tidak boleh menyimpang bau dan warna,
tidak boleh mengandung lendir, atau menunjukan adanya kerusakan. Sebelum
diserbukkan simplisia nabati harus dibebaskan dari pasir, debu, atau pengotoran
lain yang berasal dari tanah maupun benda anorganik asing.
Dalam perdagangan, jarang dijumpai simplisia nabati tanpa terikut atau
tercampur bagian lain, maupun bagian asing, yang biasanya tidak mempengaruhi
simplisianya sendiri. Simplisia tidak boleh mengandung bahan asing atau sisa yang
beracun atau membahayakan kesehatan. Bahan asing termasuk bagian lain
tanaman yang tidak dinyatakan dalam paparan monografi.

D. Pemalsuan Dan Penurunan Mutu Simplisia


Pemalsuan umumnya dilakukan secara sengaja, sedangkan penurunan mutu
mungkin dilakukan secara tidak sengaja.
Simplisia dianggap bermutu rendah jika tidak memenuhi persyaratan-
persyaratan yang telah ditetapkan, khususnya persyaratan kadarnya. Mutu rendah ini
dapat disebabkan oleh tanaman asal, cara panen dan pengeringan yang salah, disimpan
terlalu lama, kena pengaruh kelembaban, panas atau penyulingan.
Simplisia dianggap rusak jika oleh sebab tertentu, keadaannya tidak lagi
memenuhi syarat, misalnya menjadi basah oleh air laut, tercampur minyak pelumas
waktu diangkut dengan kapal dan lain sebagainya.
19
Simplisia dinyatakan bulukan jika kwalitasnya turun karena dirusak oleh
bakteri, cendawan atau serangga. Simplisia dinyatakan tercampur jika secara tidak
sengaja terdapat bersama-sama bahan-bahan atau bagian tanaman lain

20
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dikatakan lain, berupa bahan yang telah
dikeringkan. Simplisia dibedakan menjadi simplisia nabati, simplisia hewani
dan simplisia pelikan (mineral)

B. Saran
Menurut pendapat semua kelompok dalam makalah ini yang
meliputi prinsip pemeriksaan mutu yang meliputi batang dari bahan-
bahan sekitar dengan uji yang terbatas disekeliling kami, kepentingan
dalam pemilihan bahan dari batang yang cukup sulit dikarenakan
keterbatasan buku yang tersedia, dan begitupun kualitas dari bahan
bahan yang kami ambil juga sangat diperlukan. Dengan adannya uji
dari penelitian ini yang memanfaatkan bahan simplisia sebagai obat
tradisional senantiasa memperhatikan kualitas kebersihannya.

21
DAFTAR PUSTAKA

22