Anda di halaman 1dari 3

Global Impact Corona, Indonesia Diantara Negara Great Power dan Super Power

Taufiq Rahman, M.AP (Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Negara UNISMA)

Fenomena massif yang menggegerkan jagat global pada dua bulan dekade ini telah masuk di Indonesia,
dimana isu mengenai wabah virus Covid-19 atau SARS Cov-2 beberapa bulan ini tengah menjadi isu
yang sangat viral sekali. Kekhawatiran masyarakat akan adanya kebijakan lock down oleh pemerintah
menjadikan masyarakat dirundung panik dan gelisah. Tiada hari tanpa berita dan isu mengenai fenomena
tersebut, bahkan sikap tegas dan tindakan langsung oleh setiap pemerintah daerah seolah merupakan
sebuah kewajiban dalam pengawasan perkembangan fenomena ini untuk beberapa hari kedepan.
Pemetaan zona wilayah dan penanganan yang cepat serta responsif merupakan agenda dan aktifitas rutin
setiap pemerintah daerah guna menyelamatkan keamanan setiap wilayahnya.

Lalu apa impact global dari isu corana bagi Indonesia yang saat ini berada diantara Negara Great Power
dan Super Power. Tidak bisa dipungkiri fenomena ini berdampak langsung bagi Negara Indonesia untuk
wacana kebijakan ekonomi kedapan ditengah derasnya hujaman rupiah yang kini semakin merangkak
naik dari Kurs US Dollar. Ditengah hamegoni pemerintah dalam wacana pembangunan infrastruktur yang
di dalamannya investor terbesarnya adalah Negara Great Power yakni China yang notabenenya adalah
Negara yang menchallenge Negara Super Power yakni Amerika Serikat membuat Negara Indonesia
berada diposisi yang menarik untuk dijadikan pembahasan. Dan apakah bedanya Negara Great Power
China dan Super Power Amerika Serikat itu sendiri. China besar dalam transaksi perdaganganya dan
China memiliki reserve capital yang kuat. China merupakan Negara dengan haluan ideologi komunis
yang otoriter dimana kata kunci yang harus diperhatikan serta ditekankan di dalamnya adalah kata dan
makna propaganda. Dan kuat sekali penekanan pada implementasi propaganda itu sendiri dimana adanya
tindakan diusirnya tiga orang wartawan wallstreet journal karena memberitakan apa yang terjadi di
Negara China tersebut fakta korban yang terjangkit virus Covid-19 atau SARS Cov-2 adalah sepuluh kali
lebih besar dari apa yang tengah diberitakan oleh media China itu sendiri. Sekali lagi tindakan tersebut
merupakan bentuk otoritarian dan proteksi dari Negara China itu sendiri.

Lalu apakah bedanya dengan Negara Super Power?. Negara Super Power yakni Amerika Serikat
merupakan Negara yang besar dan kuat secara power dominasinya. Power atau kekuatanya terintegrasi
bukan hanya dari trade mark atau daganganya saja yang besar namun juga hagemoni pengaruhnya yang
besar bahkan militernya Negara Amerika Serikat ini telah memiliki sejumlah delapan ratus pangkalan
militer di seluruh dunia dan coba bayangkan jumlah Negara di dunia ini hanyalah seratus Sembilan puluh
dua saja. Lalu secara moneter dollar Negara Amerika Serikat menguasai enam puluh persen transaksi
trade mark perdagangan dunia. Sementara tiga puluh persenya dalah Euro kemudian Yen dan terkhir
adalah Yuan China yang hanya satu koma tujuh persen saja.

Sistem ekonomi dunia yang dinamakan dengan global supply chain pada intinya dikuasai oleh Negara
super power sebagai contoh kasus pada saat ini misalnya adalah di sektor komoditi dunia otomotif dimana
setiap part dari berbagai kendaraan tersebut ada yang diproduksi dari kostarika, ada yang dari Rumania,
ada yang dari Thailand, dan berbagai belasan Negara lainya. Lalu dengan dibuat shut downnya Negara
Great Power seperti China selama satu bulanan ini dan mungkin bisa mencapai tiga bulan kedepan akan
memicu terjadinya disfungsi global supply chain dari Negara Great Power itu sendiri dan sampai
kapankah isu tentang corona itu akan segera berlalu masih belum menemui titik terang. Usut punya usat
ternyata berdasarakan temuan riset pasar sekitar dua puluh persen dari part kendaraan yang dibuat oleh
berbagai Negara Negara tadi adalah produk komoditi China. Hal ini membuat supply komoditi kendaraan
dari berbagai Negara tadi macet lalu terhenti untuk beberapa bulan kedepan sebagai contoh Thailand
dianggap gagal mengirim produk part kendaraan tersebut ke Indonseia apabila sampai terjadi force
majore. Bahkan mungkin selama satu bulan kedepan jangan jangan astra motor pun tidak mengeluarkan
mobil baru lagi dikarenakan part onderdil dari Kostarika, part onderdil dari Vietnam, part onderdil dari
Thailand ternyata macet dan tidak bisa dikirim ke Indonesia dikarenakan pertumbuhan ekonomi di
Negara Great Power China supply demandnya sedang diserang habis. Maka dari itu strategi agar supaya
Negara Great Power China tetap bisa survive dengan eksistensinya bagaimana dan langkah apa yang
harus diupayakan. Negara Great Power China mempunyai reserve currency dollar yang banyak dan
karena itu pula dia Negara Great Power China akan memanfaatkan senjata tersebut sebagai proxy
pertahananya.

Misalnya adalah tindakan Negara Great Power China ke Indonesia dimana dia Negara Great Power China
telah memiliki invest disana sebagai FDI (Foreign Direct Investment). Dan ingat bahwasanya FDI
(Foreign Direct Investment) otak mereka dalam bekerja adalah bagaimana mendapatkan dollar dan kalau
bisa produknya harus ekspor keluar dari Negara tersebut. Intinya produk dari komoditi tadi adalah untuk
ekspor supaya mendapatkan dollar, itu merupakan wajib seperti apa yang dilakukan oleh Negara Super
Power Amerika Serikat. Lalu apakah yang akan dilakukan oleh Negara Super Power Amerika Serikat
agar supaya investasi direct tadi tidak menghasilkan dollar dan mengalami disfungsi. Langkah ini
dilakukan dengan mencoret Negara yang menjadi teman Negara Great Power China dari status Negara
berkembang menjadi Negara maju. Kalau Negara berkembang melakukan ekspor ke Negara Super Power
Amerika Serikat pajaknya dikenakan dengan harga murah katakanlah sekitar lima persen sebagai pajak
masuk ke Amerika Serikat namun kalau sudah menjadi Negara maju pajak ekspor yang dikenakan
menjadi dua puluh persen naiknya. Dengan strategi ini maka Negara Great Power China menjadi tidak
mau untuk meletakan uang investasi di Negara Indonesia dan begitupula di dua puluh empat Negara
teman dari Negara Great Power China yang tadinya telah dikepung oleh Negara Super Power Amerika
Serikat.

Mengapa demikian, karena investasi yang tadinya digunakan sebagai sebagai proxy untuk menghasilkan
dollar menjadi tidak ada gunanya karena barang menjadi mahal. Dan kita Negara Indonesia menjadi serba
salah karena sok genit dengan China eh ternyata tidak mendapatkan banyak manfaatnya dan ibarat sebuah
wanita seksi Negara Indonesia sudah lima tahun ini cuma diperes peres susunya seperti sapi tapi tidak
segera dikawin kawin. Dan kini dengan Negara Super Power Amerika mulai sok genit namun sayangnya
Negara Super Power Amerika sayangnya sudah tidak melihat Indonesia sebagai wanita seksi lagi sudah
ternoda karena telah diperes peres susunya oleh Negara Great Power China. Ke-geeran Indonesia yang
merasa sok seksi dengan mempunyai sumber alam yang bagus tetapi menjadi tidak bagus karena sikap
genitnya. Namun Negara Super Power Amerika sekarang sudah pacaran dengan Malaysia, dengan
Thailand, dengan Vietnam, dan dengan India.

Lalu apakah solusi kedapan wahai para pejabat Negara?. Ekonomi kita ini bisa mengalami tekor terus dan
membawa ke jurang kemiskinan. Mengutip pendapat Khalifah Umar Bin Khatab kemiskinan itu dekat
kekufuran. Ini bukan meledek atau guyonan hanyalah opini dari akademisi muda dan para pedagang kecil
yang pengen hidup damai di NKRI tercinta ini. Mari kita duduk bersama dimana momentum ini adalah
saat yang tepat untuk Indonesia bangkit dan menjadi Negara berdikari dengan hempasan sayap
Garudanya sesuai dengan dawuh KH. Anwar Iskandar wakil Ro’is Syuriah NU Jawa Timur “ Burung
garuda terbang angkasa, kalian para pemuda harapan bangsa.