Anda di halaman 1dari 13

1.

Persyaratan Pembukaan Program Studi PJJ

1. 1)  Pemimpin perguruan tinggi yang mengusulkan pembukaan Program Studi


PJJ telah

memiliki Program Studi dalam bentuk tatap muka dengan nama dan jenjang
yang

sama;

2. 2)  Program Studi dalam bentuk tatap muka sebagaimana dimaksud dalam


butir 1)

memiliki peringkat terakreditasi Unggul atau A;

3. 3)  Kurikulum Program Studi PJJ disusun berdasarkan capaian pembelajaran


lulusan

yang sama dengan Program Studi dalam bentuk tatap muka;

4. 4)  Perguruan tinggi yang mengusulkan pembukaan Program Studi PJJ telah


memiliki

sumber daya teknologi informasi dan komunikasi untuk penyelenggaraan PJJ;

5. 5)  Perguruan tinggi yang mengusulkan pembukaan Program Studi PJJ telah


memiliki

rencana unit pengelola PJJ di tingkat perguruan tinggi;

6. 6)  Program Studi PJJ yang diusulkan harus memiliki pengelola paling sedikit
5 (lima)

orang dosen Program Studi PJJ yang diusulkan dengan persyaratan sebagai
berikut:

1. a)  diangkat dan ditempatkan sebagai tenaga tetap pada PT yang


bersangkutan; termasuk dosen penugasan LLDikti, dosen yayasan pada
PTS, dan dosen

kontrak, dalam bidang yang relevan dengan keahlian bidang studinya;

2. b)  ditugaskan oleh pemimpin perguruan tinggi pengusul pada program


studi yang

diusulkan;

3. c)  bersedia bekerja penuh waktu sesuai dengan Ekuivalen Waktu


Mendidik Penuh
(EWMP), yaitu perhitungan beban kerja Dosen setara dengan jam
mendidik atau jam kerja di bidang Tridharma Perguruan Tinggi secara
penuh, yaitu minimum 37,5 (tiga puluh tujuh koma lima) jam per
minggu dan maksimum 56,25 (lima puluh enam koma dua puluh lima)
jam per minggu;

4. d)  tidak menjadi dosen tetap di perguruan tinggi lain atau tenaga tetap
di satuan kerja lain;

5. e)  berusia paling tinggi 58 tahun dalam hal belum memiliki NIDN, 65


tahun untuk dosen Non Guru Besar, 70 tahun untuk dosen dengan
jabatan akademik Guru Besar;

6. f)  belum berusia 35 tahun dalam hal belum berstatus PNS, pada saat
diterima sebagai dosen pada PTN yang akan membuka program studi;

7. g)  Berijazah paling rendah Magister atau Magister Terapan dalam


bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan prodi yang
diusulkan (PTN/PTS) untuk program studi Diploma dan Sarjana;

8. h)  Berijazah Doktor dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi


yang sesuai dengan prodi yang diusulkan (PTN/PTS) untuk program
studi Magister;

9. i)  Belum memiliki NIDN/NIDK atau telah memiliki NIDN/NIDK dari


program studi lain di PTN/PTS yang akan membuka prodi dengan
tetap mempertahankan nisbah dosen dan mahasiswa pada prodi yang
ditinggalkan (1:45 untuk rumpun

Persyaratan dan Prosedur Pembukaan Program Studi Pendidikan Jarak Jauh pada Perguruan Tinggi

ilmu humaniora, rumpun ilmu sosial, dan/atau rumpun ilmu terapan (bisnis, pendidikan,
keluarga dan konsumen, olahraga, jurnalistik, media massa dan komunikasi, hukum,
perpustakaan dan permuseuman, militer, administrasi publik, dan pekerja sosial); 1:30 untuk
rumpun ilmu alam, rumpun ilmu formal, dan/atau rumpun ilmu terapan (pertanian, arsitektur
dan perencanaan, teknik, kehutanan dan lingkungan, kesehatan, dan transportasi);

10. j)  Bukan guru yang telah memiliki Nomor Urut Pendidik dan Tenaga Kependidikan
(NUPTK), dan

11. k)  Bukan aparatur sipil negara atau pegawai tetap pada instansi kerja lain.

7. 7)  Program Studi PJJ yang diusulkan harus memiliki tutor yang cukup sesuai dengan

jumlah mahasiswa yang direkrut di setiap PBJJ, dengan syarat:

1. a)  Diangkat dan ditempatkan sebagai tenaga tidak tetap pada PT yang


bersangkutan.
2. b)  Bekerja paruh waktu, sesuai dengan matakuliah yang ditutorialkan.

3. c)  Berkualifikasi paling rendah sederajat dengan jenjang pendidikan program


studi

yang diusulkan dan menguasai bidang ilmu matakuliah yang ditutorkan.

4. d)  Telah mengikuti pelatihan tutor baik di institusi pengusul maupun institusi

lainnya dan ditunjukkan dengan kepemilikan sertifikat sebagai tutor.

5. e)  Menandatangani surat kesediaan sebagai tutor.

8. 8)  Perguruan tinggi yang mengusulkan pembukaan Program Studi PJJ telah memiliki
paling sedikit 5 (lima) mata kuliah penciri program studi yang disediakan secara
daring dan dapat diakses pada saat penilaian;

9. 9)  Perguruan tinggi yang mengusulkan pembukaan Program Studi PJJ telah memiliki
sumber daya manusia yang diperlukan untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh
sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

10. 10)  Tenaga kependidikan paling sedikit berjumlah 2 (dua) orang untuk melayani 1
(satu) Program Studi, dengan ketentuan:

1. Paling rendah berijazah diploma tiga;

2. Berusia paling tinggi 56 (lima puluh enam) tahun;

3. Bersedia bekerja penuh waktu selama 37,5 (tiga puluh tujuh koma lima) jam
per minggu;

 11)  Program Studi dikelola oleh unit pengelola Program Studi dengan
organisasi dan tata kerja yang disusun berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan (untuk PTN) atau disusun dan ditetapkan oleh Badan
Penyelenggara (untuk PTS)

12)Dalam hal Program Studi yang akan dibuka termasuk jenis pendidikan vokasi, Perguruan
Tinggi/Badan Penyelenggara telah memiliki perjanjian kerjasama dengan dunia usaha
dan/atau dunia industri sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentang:

 Pemanfaatan tenaga ahli yang dimiliki oleh dunia usaha dan/atau dunia industri;

 Pemanfaatan laboratorium yang dimiliki oleh dunia usaha dan/atau dunia industri;

dan/atau

 Tempat magang yang disediakan oleh dunia usaha dan/atau dunia industri.

1. Prosedur Pembukaan Program Studi PJJ


Pembukaan program studi PJJ merupakan penambahan jumlah program studi pada
perguruan tinggi yang memiliki izin pendirian dan telah memiliki program studi tatap
muka sama jenjang dan jenis. Prosedur pembukaan program studi PJJ adalah sebagai
berikut:

Persyaratan dan Prosedur Pembukaan Program Studi Pendidikan Jarak Jauh pada Perguruan Tinggi

1. 1)  Pemimpin perguruan tinggi meminta Rekomendasi dari Lembaga Layanan


Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) di wilayah perguruan tinggi dan di masing-
masing wilayah jangkauan Pusat Belajar Jarak Jauh (PBJJ). Permintaan
rekomendasi oleh pimpinan perguruan tinggi kepada LLDIKTI diajukan
dengan melampirkan dokumen sebagai berikut:
1. a)  Akta notaris pendirian Badan Penyelenggara beserta semua
perubahannya, jika pernah dilakukan perubahan (untuk PTS);
2. b)  Surat keputusan pejabat yang berwenang tentang pengesahan
Badan Penyelenggara sebagai badan hukum, misalnya Surat Keputusan
Menkumham untuk Yayasan (untuk PTS);
3. c)  Surat Keputusan izin pendirian perguruan tinggi beserta semua
perubahannya (untuk PTS);
4. d)  Rekam jejak Perguruan Tinggi;
5. e)  Tingkat kejenuhan program studi yang akan dibuka di wilayah
LLDIKTI;
6. f)  Pertimbangan Senat perguruan tinggi;
7. g)  Persetujuan Badan Penyelenggara (untuk PTS);
8. h)  Kerja sama dengan dunia usaha atau industri untuk program
pendidikan vokasi.
2. 2)  LLDIKTI di wilayah perguruan tinggi memberi rekomendasi tentang:
• rekam jejak Badan Penyelenggara PTS yang akan membuka program studi
(khusus

untuk PTS);
• bebas konflik internal di tingkat Badan Penyelenggara dan/atau konflik
antar PTS

(khusus untuk PTS).

3. 3)  LLDIKTI di masing-masing wilayah jangkauan PBJJ memberi


rekomendasi tentang:

• tingkat kejenuhan program studi yang akan dibuka oleh perguruan tinggi tersebut di
wilayah LLDIKTI;

• tingkat keberlanjutan program studi yang akan dibuka jika diizinkan oleh
Pemerintah;

1. 4)  Setelah permohonan rekomendasi diterima, LLDIKTI akan melakukan


evaluasi legalitas badan penyelenggara berupa pemeriksaan kesesuaian
dokumen. Dalam hal legalitas badan penyelenggara belum sesuai, maka
LLDIKTI meminta pengusul untuk mengusulkan penyesuaian badan
penyelenggara kepada Ditjen Kelembagaan Iptek dan Dikti.
2. 5)  LLDIKTI akan memberikan rekomendasi jika hasil evaluasi atas dokumen
telah memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan.
3. 6)  Apabila jangkauan Program Studi PJJ berada di luar wilayah Indonesia,
perguruan tinggi wajib memenuhi persyaratan yang diperlukan dan memiliki
rekomendasi dari kedutaan besar atau perwakilan di wilayah jangkauan
program studi PJJ sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. 7)  Pemimpin perguruan tinggi menyusun dokumen sesuai persyaratandengan
ketentuan sebagai berikut:
a) Dokumen proposal dibuat dalam file pdf;
b) Dokumen lampiran dipindai (scan) dan disimpan dalam bentuk pdf;

c) Dikirim secara digital ke Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan


Dikti melalui sistem informasi pada laman: http://silemkerma.ristekdikti.go.id

Persyaratan dan Prosedur Pembukaan Program Studi Pendidikan Jarak Jauh pada Perguruan Tinggi

Catatan:

Pemimpin perguruan tinggi bertanggungjawab atas kebenaran data dan informasi


yang dimuat dalam semua dokumen di atas. Pemimpin perguruan tinggi yang
memberikan data dan informasi yang tidak benar, dikenakan sanksi pidana
berdasarkan Pasal 242 ayat (1) juncto ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

1. 8)  Pembukaan Prodi PJJ oleh perguruan tinggi negeri badan hukum


dilaporkan kepada Menteri melalui Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu
Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
2. 9)  Direktorat Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti menugaskan Tim
Evaluator untuk melakukan evaluasi dan verifikasi semua dokumen
persyaratan.
3. 10)  Berdasarkan hasil evaluasi dan verifikasi, Direktur Jenderal Kelembagaan
IPTEK dan Dikti dapat menugaskan Tim Evaluator untuk melakukan visitasi
ke perguruan tinggi pengusul pembukaan Program Studi PJJ dan ke PBJJ yang
diusulkan. Visitasi dilakukan ke perguruan tinggi penyelenggara dan PBJJ.
4. 11)  Berdasarkan rekomendasi tentang izin pembukaan Program Studi PJJ dari
Tim Evaluator, Direktur Jenderal mengajukan usul tertulis penerbitan izin
pembukaan Program Studi PJJ.
5. 12)  Menteri menetapkan izin Program Studi PJJ pada perguruan tinggi
bersangkutan untuk disampaikan kepada perguruan tinggi.
6. 13)  Setelah penetapan izin Program Studi PJJ pada perguruan tinggi oleh
Menteri sebagaimana dimaksud pada angka 12), perguruan tinggi dapat
menyelenggarakan Program Studi PJJ.

FORMAT SURAT USUL PENYATUAN PERGURUAN TINGGI SWASTA (DUA ATAU


LEBIH BADAN PENYELENGGARA)

KOP SURAT BADAN PENYELENGGARA YANG MENGUSULKAN PENYATUAN PTS


Nomor Lampiran Perihal

KEPADA

: Kota, Tanggal-Bulan-Tahun :
: Usul Penyatuan PTS

Yth. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia di Jakarta

Dengan hormat Dengan ini :

Badan Penyelenggara
Nomor Akta Notaris Pendirian SK Pengesahan Akta Pendirian Alamat

: ... : ... : ... : ...

mengajukan usul Penyatuan PTS:


a. ..., yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara ... b. ..., yang
diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara ... c. Dst

ke PTS ....... yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara ...

Untuk melengkapi usul tersebut, berikut disertakan lampiran:


1. Data perguruan tinggi yang akan disatukan (lihat terlampir);

2. Akta Notaris Pendirian masing-masing badan penyelenggara PTS yang akan

disatukan, beserta semua Akta Perubahan yang pernah dilakukan;


3. SK dari Kemenkumham tentang pengesahan masing-masing badan
penyelenggara PTS yang akan disatukan sebagai badan hukum, beserta
semua Akta Perubahan yang

pernah dilakukan;

4. Akta Notaris tentang perjanjian penyatuan dua atau lebih PTS menjadi 1
(satu) PTS;
5. SK Pendirian masing-masing PTS;
6. SK Perubahan masing-masing PTS (jika ada);
7. SK Pembukaan semua Prodi;
8. SK Akreditasi BAN-PT dan/atau LAM;
9. Rekomendasi LLDIKTI (Rekomendasi dari masing-masing LLDIKTI apabila 2
(dua)

atau lebih PTS yang akan disatukan berada dalam wilayah koordinasi lebih
dari 1 (satu) LLDIKTI).

Atas perhatian Bapak, kami ucapkan terima kasih.

Pengurus Badan Penyelenggara Ketua,

FORMAT SURAT USUL PERUBAHAN BENTUK PERGURUAN TINGGI SWASTA

Nomor : Kota, Tanggal-Bulan-Tahun Lampiran :


Perihal : Usul Perubahan Bentuk PTS

KEPADA

Yth. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia di Jakarta
KOP SURAT BADAN PENYELENGGARA

Dengan hormat Dengan ini :

Badan Penyelenggara Nomor Akta Notaris Pendirian


SK Pengesahan Akta Pendirian

Alamat

: ... : ...

: ...

: ...

mengajukan usul perubahan bentuk, dari PTS berbentuk ... dengan nama ... menjadi
PTS berbentuk ... dengan nama ...

Untuk melengkapi usul tersebut, berikut disertakan lampiran: 1. Data perguruan


tinggi (format terlampir);

2. Akta Notaris Pendirian badan penyelenggara PTS, beserta semua Akta


Perubahan

yang pernah dilakukan;

3. SK dari Kemenkumham tentang pengesahan badan penyelenggara PTS


sebagai

badan hukum beserta semua Akta Perubahan yang pernah dilakukan;


4. SK Pendirian PTS;
5. SK Perubahan PTS (jika ada);
6. SK pembukaan semua program studi;
7. SK Akreditasi BAN-PT dan/atau LAM;
8. Instrumen usulan pembukaan prodi baru jika diperlukan;
9. Suratpernyataankomitmenpemenuhansyaratminimumakreditasperguruantingg
i;

10.Rekomendasi LLDIKTI.

Atas perhatian Bapak, kami ucapkan terima kasih.

Pengurus Badan Penyelenggara Ketua,

PEMBENTUKAN FAKULTAS KEDOKTERAN

Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan


Pemerintah (PP) Nomor 52 Tahun 2017 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013
tentang Pendidikan Kedokteran (tautan: PP Nomor 52
Tahun 2017).

Pembentukan Fakultas Kedokteran dan Fakultas


Kedokteran Gigi Menurut PP ini, perguruan tinggi yang
akan membuka program studi kedokteran wajib
membentuk Fakultas Kedokteran. Demikian juga
perguruan tinggi yang akan membuka program studi
kedokteran gigi wajib membentuk Fakultas Kedokteran
Gigi. Fakultas Kedokteran dapat membuka program studi
kedokteran gigi, Fakultas Kedokteran Gigi  tidak dapat
membuka program studi kedokteran,” bungi Pasal 3 ayat
(3,4) PP ini. Pembentukan Fakultas Kedokteran atau
Fakultas Kedokteran Gigi  sebagaimana dimaksud paling
sedikit harus memiliki:
1. Studi kelayakan dan naskah akademik;
2. Rencana strategis, termasuk rencana induk penelitian,
dan pengabdian masyarakat;
3. Rancangan kurikulum yang mengacu pada Standar
Nasional  Pendidikan Kedokteran;
4. dosen yang memenuhi jumlah, jenis keilmuan, dan
kualifikasi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Selain itu
5. tenaga kependidikan sesuai dengan ketentuan;
6. lahan dengan status hak milik/hak pakai/hak guna
bangunan atas nama badan penyelenggara perguruan
tinggi;
7. gedung untuk penyelenggaraan pendidikan yang
memenuhi standar kualitas;
8. laboratorium biomedis, laboratorium kedokteran klinis,
laboratorium bioetika/humaniora kesehatan, serta
laboratorium kedokteran komunitas dan kesehatan
masyarakat yang digunakan untuk kegiatan pendidikan,
penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi kedokteran;
9. perencanaan sistem seleksi dan jumlah penerimaan
calon mahasiswa dengan jumlah sesuai dengan
ketentuan.
10. Rumah Sakit Pendidikan atau memiliki rumah sakit
yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Pendidikan dan
Wahana Pendidikan Kedokteran yang dibuktikan
dengan dokumen perjanjian kerjasama;
11. sumber pendanaan dan perencanaan anggaran untuk
penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi dan
pengembangan ilmu pengetahuan teknologi kedokteran
dan kedokteran gigi;
12. Sistem penjaminan mutu internal;
13. hasil evaluasi tim independen yang dibentuk oleh
Menteri; dan
14. rekomendasi dari menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

Selain persyaratan sebagaimana dimaksud,


pembentukan Fakultas Kedokteran atau Fakultas
Kedokteran Gigi oleh perguruan tinggi swasta harus
memiliki:
a. pengesahan badan penyelenggara yang berbadan
hukum nirlaba; b. bank garansi atas nama badan
penyelenggara; dan
c. laporan keuangan badan penyelenggara yang telah
diaudit oleh kantor akuntan publik.
“Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
pembentukan Fakultas Kedokteran dan Fakultas
Kedokteran Gigi sebagaimana dimaksud diatur dengan
Peraturan Menteri,” bunyi Pasal 5 PP ini.
Sumber: https://setkab.go.id/inilah-ketentuan-
pembentukan-fakultas-kedokteran-fakultas-kedokteran-
gigi-dan-program-internsip/