Anda di halaman 1dari 13

BAB II

PEMBAHSAN

A. PENGERTIAN

Plasenta adalah alat yang sangat penting bagi janin karena merupakan alat
pertukaran zat antara ibu dan anak sebaliknya. Pertumbuhan Plasenta makin
lama makin bear dan luas, umumnya mencapai pembentukan lengkap pada usia
kehamilan sekitar 16 minggu. Jiwa anak tergantung plasenta, baik tidaknya anak
tergantung pada baik buruknya plasenta. Plasenta merupakan organ sementara
yang menghubungkan ibu dengan janin. Plasenta memproduksi beberapa hormon
penting dalam kehamilan yaitu Human Chorionic Gonatropin (HCG) dan Human
Plasenta Lactagen (PHL).

Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan lebih kurang 16 minggu


dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri. Meskipun ruang amnion
membesar sehingga amnion tertekan ke arah korion, namun amnion hanya
menempel saja, tidak sampai melekat pada korion.

Letak plasenta umumnya di depan atau di belakang dinding uterus , agak ke atas
arah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus
uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi. Bila diteliti
benar ,maka sebenarnya plasentanya berasal dari sebagian besar dari bagian
janin, yaitu villi koriales yang berasal dari korion, dan sebagian kecil dari bagian
ibu yang berasal dari desidua basalis.

Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang
berada di desidua basalis. Pada sistole darah di semprotkan dengan tekanan 70-
80 mmHg seperti air mancur ke dalam ruang interviller sampai mencapai
chorionic plate, pangkal dari kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut
membasahi semua villi koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 8
mmHg ke vena-vena di desidua.

Di tempat-tempat tertentu pada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang


lebar (sinus) untuk menampung darah kembali. Pada pinggir plasenta di beberapa
tempat terdapat pula suatu ruang vena yang luas untuk menampung darah yang
berasal dari ruang interviller di atas. Ruang ini di sebut sinus marginalis.

Darah ibu yang mengalir di seluruh plasenta di perkirakan menarik dari 300 ml
tiap menit pada kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan
40 minggu. Seluruh ruang interviller tanpa villi koriales mempunyai volume lebih
kurang 150-250 ml. Permukaan semua villi koriales di perkirakan seluas lebih
kurang 11 m kuadrat. Dengan demikian, pertukaan zat-zat makanan terjamin
benar.
B. BENTUK DAN UKURAN PLASENTA

1) Bentuk bundar/oval

2) Diameter 15-25 cm, tebal 3-5 cm

3) Berat rata-rata 500-600 gram

4) Insersi tali pusat (tempat berhubungan dengan plasenta) dapat ditengah/


sentrali, disamping/ lateralis, atau di ujung tepi/ marginalis.

5) Disisi ibu, tampak daerah-daerah yang agak menonjol (kotiledon) yang


diliputi selaput tipis desidua basalis

6) Disisi janin, tampak sejumlah arteri dan vena besar (pembuluh orion)
menuju tali pusat. Orion diliputi oleh amnion

7) Sirkulasi darah ibu di plasenta sekitar 3000cc/menit (20 minggu) meningkat


600 cc – 7000 cc/menit (aterm).

C. LETAK PLASENTA

Letak plasenta pada umumnya pada korpus uteri bagian depan atau belakang
agak ke arah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukan bagian atas
korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi.

D. Bagian-bagian plasenta

1) Bagian janin (fetal portion)


Terdiri dari :

1. Korion frondosum

2. Vili

Vili plasenta terdiri dari:

1) Vili Korialis

2) Ruang-ruang interviler. Darah ibu yang berada di ruang interviler berasal dari
arteri spiralis yang berada di desidua basalis. Pada sistole, darah dipompa dengan
kekuatan 70-80 mmHg ke dalam ruang interviler, sampai pada lempeng korionik
(chorionic plate) pangkal dari kotiledon-kotiledon. Darah tersebut membanjiri vili
koriales dan kembali perlahan-lahan ke pembuluh balik (vena-vena) di desidua
dengan tekanan 8 mmHg.

3) Pada bagian permukaan janin uri diliputi oleh amnion yang kelihatan licin. Di
bawah lapisan amnion ini berjalan cabang-cabang pembuluh darah tali pusat. Tali
pusat akan berinsersi pada uri bagian permukaan janin.

2) Bagian maternal / Ibu(maternal portion)

Terdiri atas desidua kompakta yang terbentuk dari beberapa lobus dan kotiledon
(15-20 buah). Desidua basalis pada uri matang disebut lempeng korionik (basal),
di mana sirkulasi utero plasenter berjalan ke ruang-ruang intervili melalui tali
pusat. Jadi, sebenarnya peredaran darah ibu dan janin adalah terpisah.
Pertukaran terjadi melalui sinsitial membran yang berlangsung secara osmosis
dan alterasi fisika-kimia.
3) Tali pusat

Mesoderm connecting stalk yang juga memiliki kemampuan angiogenik,


kemudian akan berkembang menjadi pembuluh darah dan connecting stalk
tersebut akan menjadi tali pusat.Pada tahap awal perkembangan, rongga perut
masih terlalu kecil untuk usus yang berkembang, sehingga sebagian usus terdesak
ke dalam rongga selom ekstraembrional pada tali pusat. Pada sekitar akhir bulan
ketiga, penonjolan lengkung usus (intestional loop) ini masuk kembali ke dalam
rongga abdomen janin yang telah membesar. Kandung kuning telur (yolk-sac) dan
tangkai kandung kuning telur (ductus vitellinus) yang terletak dalam rongga
korion, yang juga tercakup dalam connecting stalk, juga tertutup bersamaan
dengan proses semakin bersatunya amnion dengan korion. Setelah struktur
lengkung usus, kandung kuning telur dan duktus vitellinus menghilang, tali pusat
akhirnya hanya mengandung pembuluh darah umbilikal (2 arteri umbilikalis dan 1
vena umbilikalis) yang menghubungkan sirkulasi janin dengan plasenta. Pembuluh
darah umbilikal ini diliputi oleh mukopolisakarida yang disebut Wharton’s jelly.

E. MACAM-MACAM PLASENTA

a) Berdasarkan bentuknya

1. Plasenta normal

2. Plasenta membranasea

3. Plasenta suksenturiata

4. Plasenta spuria
5. Plasenta bilobus

6. Plasenta trilobus

b) Berdasarkan dinding rahim

1. Plasenta adhesiva

2. Plasenta akreta

3. Plasenta inkreta

4. Plasenta perkreta

F. FUNGSI PLASENTA

Fungsi plasenta ialah mengusahakan janin tumbuh dengan baik. Untuk


pertumbuhan ini di butuhkan adanya penyaluran zat asam, asam amino, vitamin
dan mineral dari ibu ke janin, dan pembuangan CO2 serta sampah metabolisme
janin ke peredaran darah ibu.

Dapat di kemukakan bahwa fungsi plasenta adalah :

1. Sebagai alat yang memberi makanan pada janin (nutritif)

2. Sebagai alat yang mengeluarkan bekas metabolisme (ekskresi)

3. Sebagai alat yang memberi zat asam, dan mengeluarkan CO2 (respirasi)

4. Sebagai alat yang membentuk hormon

5. Sebagai alat menyalurkan berbagai antibodi ke janin, dan


6. Mungkin hal-hal yang belum di ketahui.

Perlu di kemukakan bahwa plasenta dapat pula di lewati kuman-kuman dan obat-
obatan tertentu. Penyaluran zat makanan dan zat lain dari ibu ke janin dan
sebaliknya harus melewati lapisan trofoblas plasenta. Cepatnya penyaluran zat-
zat tersebut tergantung pada konsentrasinya di kedua belah lapisan trofoblas,
tebalnya lapisan trofoblas, besarnya permukaan yang memisahkan, dan jenis zat.

E . TAHAP-TAHAP PEMBENTUKAN PLASENTA

1. Stadium berongga (lacunar stage).

Pada hari 8-9, perkembangan trofoblas sangat cepat, dari selapis sel tumbuh
menjadi berlapis-lapis. Terbentuk rongga-rongga vakuola yang banyak pada
lapisan sinsitiotrofoblas (selanjutnya disebut sinsitium) yang akhirnya saling
berhubungan.

2. Sirkulasi uteroplasenta/sistem sirkulasi feto-maternal.

Pertumbuhan sinsitium ke dalam stroma endometrium makin dalam kemudian


terjadi perusakan endotel kapiler di sekitarnya, sehingga rongga-rongga sinsitium
(sistem lakuna) tersebut dialiri masuk oleh darah ibu, membentuk sinusoid-
sinusoid. Peristiwa ini menjadi awal terbentuknya sistem sirkulasi
uteroplasenta/sistem sirkulasi feto-maternal.

Antara lapisan dalam sitotrofoblas dengan selapis sel selaput Heuser, terbentuk
sekelompok sel baru yang berasal dari trofoblas dan membentuk jaringan
penyambung yang lembut, yang disebut mesoderm ekstraembrional. Bagian yang
berbatasan dengan sitotrofoblas disebut mesoderm ekstraembrional
somatopleural, kemudian akan menjadi selaput korion (chorionic plate).Bagian
yang berbatasan dengan selaput Heuser dan menutupi bakal yolk sac disebut
mesoderm ekstraembrional splanknopleural. Menjelang akhir minggu kedua (hari
13-14), seluruh lingkaran blastokista telah terbenam dalam uterus dan diliputi
pertumbuhan trofoblas yang telah dialiri darah ibu. Meski demikian, hanya sistem
trofoblas di daerah dekat embrioblas saja yang berkembang lebih aktif
dibandingkan daerah lainnya.

3. Terbentuknya rongga selom ekstraembrional (extraembryonal coelomic


space) atau rongga korion (chorionic space).

Di dalam lapisan mesoderm ekstraembrional juga terbentuk celah-celah yang


makin lama makin besar dan bersatu, sehingga terjadilah rongga yang
memisahkan kandung kuning telur makin jauh dari sitotrofoblas. Rongga ini
disebut rongga selom ekstraembrional (extraembryonal coelomic space) atau
rongga korion (chorionic space).

Di sisi embrioblas (kutub embrional), tampak sel-sel kuboid lapisan sitotrofoblas


mengadakan invasi ke arah lapisan sinsitium, membentuk sekelompok sel yang
dikelilingi sinsitium disebut jonjot-jonjot primer (primary stem villi). Jonjot ini
memanjang sampai bertemu dengan aliran darah ibu.

4. Terbentuknya tali pusat


Pada awal minggu ketiga, mesoderm ekstraembrional somatopleural yang
terdapat di bawah jonjot-jonjot primer (bagian dari selaput korion di daerah
kutub embrional), ikut menginvasi ke dalam jonjot sehingga membentuk jonjot
sekunder (secondary stem villi) yang terdiri dari inti mesoderm dilapisi selapis sel
sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas.

Menjelang akhir minggu ketiga, dengan karakteristik angiogenik yang dimilikinya,


mesoderm dalam jonjot tersebut berdiferensiasi menjadi sel darah dan pembuluh
kapiler, sehingga jonjot yang tadinya hanya selular kemudian menjadi suatu
jaringan vaskular (disebut jonjot tersier/tertiary stem villi) .

Selom ekstraembrional/rongga korion makin lama makin luas, sehingga jaringan


embrional makin terpisah dari sitotrofoblas/selaput korion, hanya dihubungkan
oleh sedikit jaringan mesoderm yang kemudian menjadi tangkai penghubung
(connecting stalk). Mesoderm connecting stalk yang juga memiliki kemampuan
angiogenik, kemudian akan berkembang menjadi pembuluh darah dan connecting
stalk tersebut akan menjadi tali pusat.

5. Sirkulasi feto-maternal.

Setelah infiltrasi pembuluh darah trofoblas ke dalam sirkulasi uterus, seiring


dengan perkembangan trofoblas menjadi plasenta dewasa, terbentuklah
komponen sirkulasi utero-plasenta. Melalui pembuluh darah tali pusat, sirkulasi
utero-plasenta dihubungkan dengan sirkulasi janin. Meskipun demikian, darah ibu
dan darah janin tetap tidak bercampur menjadi satu (disebut sistem
hemochorial), tetap terpisah oleh dinding pembuluh darah janin dan lapisan
korion.
Dengan demikian, komponen sirkulasi dari ibu (maternal) berhubungan dengan
komponen sirkulasi dari janin (fetal) melalui plasenta dan tali pusat. Sistem
tersebut dinamakan sirkulasi feto-maternal.

6. Plasenta “dewasa”

Pertumbuhan plasenta makin lama makin besar dan luas, umumnya mencapai
pembentukan lengkap pada usia kehamilan sekitar 16 minggu. Plasenta
“dewasa” / lengkap yang normal :

1. bentuk bundar / oval,

2. diameter 15-25 cm, tebal 3-5 cm,

3. berat rata-rata 500-600 g,

4. insersi tali pusat (tempat berhubungan dengan plasenta) dapat di tengah /


sentralis, di samping / lateralis, atau di ujung tepi / marginalis,

5. di sisi ibu, tampak daerah2 yang agak menonjol (kotiledon) yang diliputi
selaput tipis desidua basalis,

6. di sisi janin, tampak sejumlah arteri dan vena besar (pembuluh korion)
menuju tali pusat. Korion diliputi oleh amnion,

7. sirkulasi darah ibu di plasenta sekitar 300 cc/menit (20 minggu) meningkat
sampai 600-700 cc/menit (aterm).

G. Faal Plasenta
Plasenta alat yang sangat penting bagi janin karena merupakan alat pertukaran
zat antara ibu dan anak atau sebaliknya, jiwa anak tergantung plasenta. Baik
tidaknya anak tergantung pada baik buruknya faal plasenta. Supaya janin dapat
tumbuh dengan sempurna, dibutuhkan penyaluran darah yang membawa zat
asam, asam amino, vitamin, dan mineral dari ibu kepada janin, begitu pula
pembuangan karbondioksida dan limbh metabolisme janin ke sirkulasi ibu.

Faal plasenta antara lain :

1. Nutrisi : Memberikan bahan makanan pada janin.

2. Ekskresi : Mengalirkan keluar sisa metabolisme janin.

3. Respirasi : Memberikan O2 dan mengeluarkan CO2 janin.

4. Endokrin : Menghasilkan Hormon-hormon (Hcg, HPL, Estrogen


progesterone, dsbg).

5. Imunologi : Menyalurkan berbagai komponen antibody ke janin

6. Farmakologi : Menyalurkan obat-obatan yang mungkin diperlukan janin,


yang diberikan melalui ibu.

7. Proteksi : Barrier terhadap infeksi bakteri dan virus, zat-zat toksik..

I. Struktur Plasenta
Plasenta terletak di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas kearah
fundus uteri, dikarenakan alasan fisiologis, permukaan bagian atas korpus uteri
lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplementasi. Plasenta berasal
dari sebagian besar dari bagian janin, yaitu villi koriales atau jonjot chorion dan
sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari desidua basalis.

Plasenta mempunyai dua permukaan, yaitu permukaan fetal dan maternal.

Ø Permukaan fetal adalah permukaan yang menghadap ke janin, warnanya


keputih-putihan dan licin. Hal ini disebabkan karena permukaan fetal tertutup
oleh amnion, di bawah nampak pembuluh-pembuluh darah.

Ø Permukaan maternal adalah permukaan yang menghadap dinding rahim,


berwarna merah dan terbagi oleh celah-celah yang berasal dari jaringan ibu.
Jumlah celah pada plasenta dibagi menjadi 16-20 kotiledon.

Penampang plasenta terbagi menjadi dua bagian yang terbentuk oleh


jaringan anak dan jaringan ibu. Bagian yang terdiri dari jaringan anak disebut
membrana chorii, yang dibentuk oleh amnion, pembuluh darah janin, korion dan
villi. Bagian dari jaringan ibu disebut piring desidua atau piring basal yang terdiri
dari desidua compacta dan desidua spongiosa.

J. Sirkulasi Darah Plasenta

Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada
di desidua basalis. Pada sistosel darah disemprotkan dengan tekanan 70-80
mmHg seperti air mancur ke dalam ruang interviler sampai mencapai chorionic
plate, pangkal kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut membasahi semua villi
koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 80 mmHg menuju ke vena-
vena di desidua.

Darah ibu yang mengalir di seluruh plasenta diperkirakan naik dari 300 ml tiap
menit pada kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan 40
minggu. Seluruh ruang interviller tanpa villi koriales mempunyai volume lebih
kurang 150-250 ml. Permukaan semua villi koriales diperkirakan seluas lebih
kurang 11 m2. Dengan demikian pertukaran zat-zat makanan terjamin benar.

Pada kehamilan 36 minggu sebagian besar sel-sel sitotrofoblas tak ada lagi,
akan tetapi antara sirkulasi ibu dan janin selalu ada lapisan trofoblas. Terjadi
klasifikasi pembuluh-pembuluh darah dalam jonjot dan pembentukan fibrin di
permukaan beberapa jonjot. Kedua hal terakhir ini mengakibatkan pertukaran
zat-zat makanan, zat asam, dan sebagainya antara ibu dan janin mulai terganggu.

Deposit fibrin ini dapat terjadi sepanjang masa kehamilan sedangkan


banyaknya juga berbeda-beda. Jika banyak, maka deposit ini dapat menutup villi
dan villi itu kehilangan hubungan dengan darah ibu lalu berdegenerasi, timbullah
infark.