Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KESEHATAN REPRODUKSI DAN KELUARGA

BERENCANA “TWITTER DIGUGAT KARENA DISKRIMINASI


GENDER”

Dosen Pengampu:

Dwi Hendriani, M.Kes.

DISUSUN OLEH:

GUSTI RENI ANGGINI (P07224219019)

PRODI D-III KEBIDANAN SAMARINDA

TINGKAT 2

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN


KALIMANTAN TIMUR

TAHUN 2020/2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga, pada hari
ini saya dapat menyelesaikan makalah saya yang berjudul “twitter digugat karena
diskriminasi gender".Makalah ini telah saya susun dengan maksimal sehingga dapat
memperlancar proses pembuatannya sendiri. Untuk itu, saya menyampaikan banyak
terima kasih kepada Ibu Dwi Hendriani, M.Kes. selaku dosen pengampu mata kuliah
Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana.
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu,
dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar saya
dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata, saya berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
maupun inspirasi terhadap pembaca.

Samarinda, 29 Mei 2020

Gusti Reni Anggini


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ............................................................................................

DAFTAR ISI ..........................................................................................................


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................................
B. Rumusan Masalah .............................................................................................
C. Tujuan ................................................................................................................
BAB II TINJAUAN KASUS
A. Kasus .................................................................................................................
B. Penyelesaian Masalah…………………………………………………………
C. Komentar ...........................................................................................................
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan ........................................................................................................
B. Saran .................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap pekerja memiliki tanggung jawabnya masing-masing kepada


perusahaan tempatnya bekerja. Sebaliknya perusahaan juga berkewajiban
memenuhi hak-hak para pekerjanya. Sayangnya belum semua perusahaan
memenuhi seluruh hak para pekerja. Lebih parah lagi, banyak pekerja tidak
mau tahu dengan hak-hak yang seharusnya mereka peroleh. Beberapa
perusahaan juga belum menyusun peraturan perusahaan secara detail dan
membagikan peraturan-peraturan resmi secara transparan kepada para
pekerjanya. Seperti pekerja pria, pekerja wanita juga memiliki kesempatan
yang sama dalam dunia kerja. Namun perlu dicatat bahwa wanita memiliki
kebutuhan yang berbeda dengan pria sehingga wanita memperoleh hak-hak
khusus. Meskipun sebenarnya banyak perundang-undangan yang mengatur
hak-hak pekerja wanita, tampaknya banyak perusahaan yang “sengaja” tidak
mensosialisasikannya bahkan mengabaikan perundang-undangan tersebut
begitu saja Dewasa ini, diskriminasi terhadap perempuan itu masih sangat
tampak dalam dunia kerja. Banyak sekali wanita yang tidak mendapatkan hak
dalam bekerja. Contohnya bisa kita lihat dalam struktur perusahaan, jarang
sekali kita melihat wanita yang mendapatkan tempat sebagai pemimpin, selain
itu dalam penerimaan pekerja wanita perusahaan-perusahaan banyak
meletakkan syarat-syarat tertentu, seperti berpenampilan menarik,belum
menikah, harus tinggal di asrama dan lain sebagainya. Gaji mereka pun
kadang-kadang berbeda dengan pekerja laki-laki. Diskriminasi terhadap para
pekerja wanita itu terjadi disebabkan oleh beberapa factor seperti kesehatan,
fisik, biologis, sosio kultural dan lain-lain
Gender merupakan perbedaan jenis kelamin yang bukan disebabkan
oleh perbedaan biologis dan bukan kodrat Tuhan, proses sosial budaya yang
panjang. Perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan, selain
disebabkan oleh faktor biologis sebagian besar justru terbentuk melalu proses
sosial dan kultural. Gender bisa dikategorikan sebagai perangkat operasional
dalam melakukan measure (pengukuran) terhadap persoalan laki-laki dan
perempuan terutama yang terkait dengan pembagian peran dalam masyarakat
yang dikonstruksi oleh masyarakat itu sendiri. Istilah gender telah menjadi isu
penting dan sering diperbincangkan akhir-akhir ini. Banyak orang yang
mempunyai persepsi bahwa gender selalu berkaitan dengan perempuan,
sehingga setiap kegiatan yang bersifat perjuangan menuju kesetaraan dan
keadilan gender hanya dilakukan dan diikuti oleh perempuan tanpa harus
melibatkan laki-laki (Wirutomo, 2012).

Diskriminasi dapat diartikan sebagai sebuah perlakuan terhadap


individu secara berbeda dengan didasarkan pada gender, ras, agama,umur,
atau karakteristik yang lain. Diskriminasi juga terjadi dalam peran gender.
Sebenarnya inti dari diskriminasi adalah perlakuan berbeda. Akibat pelekatan
sifat-sifat gender tersebut, timbul masalah ketidakadilan (diskriminasi) gender
(Tahar,Fahriar,2012)

B. Rumusan Masalah

a. Bagaimana kasus diskriminasi gender yang dilakukan oleh perusahaan


twitter yang dilakukan terhadap pekerja perempuan ?
b. Bagaimana cara penyelesaian kasus diskriminasi gender pada perusahaan
twitter yang dilakukan terhadap pekerja perempuan?
c. Bagaimana komentar kita terhadap kasus diskriminasi gender pada
perusahaan twitter terhadap pekerja perempuan?
C. Tujuan

a. Untuk mengetahui kasus-kasus diskriminasi gender yang sering


terjadi di dalam dunia kerja khususnya yang terjadi di perusahaan
twitter.
b. Untuk mengetahui bagaimana cara penyelesaian masalah diskriminasi
gender yang sering terjadi di di dalam dunia kerja khususnya yang
terjadi di perusahaan twitter.
c. Untuk mengetahui komentar kita terhadap kasus-kasus diskriminasi
gender di dalam dunia kerja khususnya yang terjadi di perusahaan
twitter.
BAB II

TINJAUAN KASUS

A. Kasus

Twitter Digugat karena deskriminasi gender


(23 maret 2015,09:26 WIB - oleh newswire)

Mantan software engineer perempuan di Twitter menggugat layanan


microblogging tersebut karena diduga lebih berpihak kepada kaum pria dalam
memberikan promosi kerja.Menurut laporan Reuters, seperti dilansir Cnet, Tina
Huang mengklaim bahwa Twitter sering tidak memberikan pekerjaan dan
kesempatan promosi kepada perempuan. Huang mengajukan gugatan class-action
(di mana sebuah kelompok menggugat pihak lain) yang diajukan di pengadilan
negara bagian California di San Francisco. Sebelumnya mantan karyawan
Facebook juga mengajukan dugaan atas dikriminasi dan ketidakseimbangan
gender. Hal yang sama juga terjadi pada perusahaan modal ventura Perkins
Caulfied & Byers di mana hakim pengadilan tinggi San Francisco mengatakan
bahwa Ellen Pao dapat memenangkan gugatan sebesar 16 juta dolar AS jika juri
menemukan kesalahan. Pao mengklaim perusahaan tersebut balas dendam setelah
ia mengeluhkan adanya diskriminasi gender.Menurut data yang dilaporkan
Facebook, Google, Twitter dan perusahaan lain, perusahaan teknologi rata-rata
memiliki 70 persen karywan laki-laki dan berkulit putih. Data ini lah yang
menciptakan diskusi hangat dan saat ini menjadi tuntutan hukum di Silicon
Valley. Huang menuduh Twitter tidak memiliki proses formal dalam pekerjaan
atau promosi. "Promosi untuk posisi senior di Twitter didasarkan pada penilaian
subjektif, oleh komite yang terdiri dari dan tergantung kepada manajemen
Twitter, dan didominasi laki-laki," gugatan tersebut menyatakan.Namun, Twitter
membantah tuduhan Huang. "Huang mengundurkan diri secara sukarela dari
Twitter, setelah pemimpin kami mencoba membujuk dia untuk tinggal," kata juru
bicara Twitter dalam sebuah pernyataan."Dia tidak dipecat. Twitter sangat
berkomitmen untuk menjadi tempat kerja yang beragam dan penuh dukungan, dan
kami percaya fakta-fakta akan menunjukkan Huang diperlakukan dengan adil,"
tambah dia.Huang mendesak "semua mantan karyawan perempuan Twitter
membantah adanya promosi dalam tiga tahun terakhir sebelum pengajuan gugatan
ini" untuk bergabung dengannya.

B. Penyelesaian Masalah

a. Upaya mewujudkan kesesuaian dan kesetaraan gendernya

Kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi setiap manusia.


Gender itulah yang pembedaan peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang
tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Peran gender terbagi menjadi peran
produktif, peran reproduksi serta peran sosial kemasyarakatan. Akan tetapi pada
kenyataannya sampai saat ini, perempuan seringkali dianggap lemah dan hanya
menjadi sosok pelengkap. Terlebih lagi adanya pola berpikir bahwa peran
perempuan hanya sebatas bekerja di dapur, sumur, mengurus keluarga dan anak,
sehingga pada akhirnya peran di luar itu menjadi tidak penting. Istilah kesetaraan
gender sering terkait dengan istilah diskriminasi terhadap perempuan,
subordinasi, penindasan, perilaku tidak adil dan semacamnya. Diskriminasi
gender, menyebabkan kerentanan terhadap perempuan dan/atau anak perempuan
serta berpotensi pada terjadinya kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan
dalam berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, banyak bermunculan program
atau kegiatan, terutama dilakukan oleh beberapa LSM, untuk memperbaiki
kondisi perempuan, yang biasanya berupa pelatihan tentang isu-isu gender,
pembangkitan kesadaran perempuan, dan pemberdayaan perempuan dalam
berbagai segi kehidupan ekonomi, sosial dan politik. Namun, hal ini justru
berbanding terbalik dengan realita bahwa perempuan ternyata mempunyai
peranan yang sangat besar dalam berbagai bidang, baik dalam bidang ekonomi,
politik, maupun sosial, bahkan peranan perempuan justru sangat dirasakan oleh
masyarakat luas (Megawangi, 2014).

Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan


ketidakadilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Keadilan
gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki.
Keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi,
marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. Di sisi lain
Islam memandang laki-laki dan wanita dalam posisi yang sama, tanpa ada
perbedaan. Namun yang perlu digaris bawahi adalah kodrat sebagai perempuan
dan laki-laki. Islam memandang kesetaraan gender sebagai keadilan antara laki-
laki dan perempuan, bukan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Konsep
kesetaraan bertolak belakang dengan prinsip keadilan, karena adil adalah
menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan hak kepada yang berhak
menerimanya. Sementara kesamaan adalah menyetarakan antara 2 hal tanpa
adanya perbedaan (Joana:2013).

Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya


diskriminasi antara perempuan dan laki-laki, dan dengan demikian mereka
memiliki akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta
memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. Memiliki akses dan
partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan
sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara
penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. Memiliki kontrol berarti memiliki
kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil
sumber daya. Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan. Hak
untuk hidup secara terhormat, bebas dari rasa ketakutan dan bebas menentukan
pilihan hidup tidak hanya diperuntukan bagi para laki-laki, perempuan pun
mempunyai hak yang sama pada hakikatnya (buletin uny:2013).
Masalah Kesetaraan dan Keadilan Gender bukan saja menjadi perhatian
kaum perempuan, tetapi telah menarik perhatian pars ahli dan politisi Sasongko
(2009) menegaskan bahwa Edward Wilson dan Harvard University (1975)
membagi perjuangan kaum perempuan secara sosiologis atas dua kelompok
besar, yaitu konsep nurture (konstruksi budaya) dan konsep nature (alamiah).

Selain kedua aliran tersebut, terdapat paham kompromistis yang dikenal


dengan keseimbangan (equilibrium). Paham ini menekankan pada konsep
kemitraan dan keharmonisan dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki.

Menurut teori nurture, adanya perbedaan perempuan dan laki-laki pada


hakikatnya adalah hasil konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran
dan tugas yang berbeda. Perbedaan tersebut menyebabkan perempuan selalu
tertinggal dan terabaikan peran dan konstribusinya dalam hidup berkeluarga,
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Perjuangan untuk persamaan dipelopori oleh orang-orang yang konsen


memperjuangkan kesetaraan perempuan dan laki-laki (kaum feminis) yang
cenderung mengejar "kesamaan" atau fifty-fifty yang kemudian dikenal dengan
istilah kesamaan kuantitas (perfect equality). Perjuangan tersebut sulit dicapai
karena berbagai hambatan, baik dan nilai agama maupun budaya.

Karena itu, aliran nurture melahirkan paham sosial konflik yang


memperjuangkan kesamaan proporsional dalam segala aktivitas masyarakat
seperti di tingkatan manajer, menteri, militer, DPR, partai politik, danbidang.
Untuk mencapai tujuan tersebut, dibuatlah program khusus (affirmatifaction)
guna memberikan peluang bagi pemberdayaan perempuan yang kadang kala
berakibat timbulnya reaksi negatif dan kaum laki-laki karena apriori terhadap
perjuangan tersebut.
Menurut teori nature, adanya perbedaan perempuan dan laki-laki adalah
kodrat sehingga tidak dapat berubah dan bersifat universal. Perbedaan biologis
ini memberikan indikasi dan implikasi bahwa di antara kedua jenis tersebut
memiliki peran dan tugas yang berbeda. Manusia, baik perempuan maupun laki-
laki, memiliki perbedaan kodrat sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Dalam kehidupan sosial, ada pembagian tugas (division of labour), begitu


pula dalamkehidupan keluarga karena tidaklah mungkin sebuah kapal
dikomandani oleh dua nakhoda. Keharmonisan hidup hanya dapat diciptakan bila
terjadi pembagian peran dan tugas yang serasi antara perempuan dan laki-laki,
dan hal ini dimulai sejak dini melalui pola pendidikan dan pengasuhan anak
dalam keluarga.

Aliran ini melahirkan paham struktural fungsional yang menerima


perbedaan peran, asal dilakukan secara demokratis dan dilandasi oleh
kesepakatan (komitmen) antara suami-isteri dalam keluarga, atau antara
perempuan dan laki-laki dalam kehidupan masyarakat.

Disamping kedua aliran tersebut, terdapat paham kompromistis yang


dikenal dengan keseimbangan (equilibrium) yang menekankan pada konsep
kemitraan dan keharmonisan dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki.
Pandangan ini tidak mempertentangkan antara kaum perempuan dan laki-
lakikarena keduanya harus bekerjasama dalam kemitraan dan keharmonisan
dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan berbangsa. Karena itu,
penerapan kesetaraan dan keadilan gender harus memperhatikan masalah
kontekstual (yang ada pada tempat dan waktu tertentu) dan situasional (sesuai
situasi/keadaan), bukan berdasarkan perhitungan secara matematis
(jumlah/quota) dan tidak bersifat universal.
b. Peran Pemerintah Terhadap Pekerja Wanita

Peran utama pemerintah adalah membuat peraturan-peraturan yang


mengatur penghapusan diskriminasi terhadap pekerja wanita tersebut. Seperti
pasal 5 dan 6 Undang-undang No. 13 Tahun 2003 yang mengatakan bahwa
dalam dunia kerja basicly tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Pasal 81 Undang-undang No. 13 tahun 2003 yang mengatakan bahwa pekerja
wanita dalam masa haid terdapat dysmenorrhoea dan memberitahu pada
perusahaan tidak wajib bekerja pada hari 1 dan 2 dalam masa haid. Selain itu
pemerintah dapat meminimilisasikan deskriminasi itu dengan cara :

1. Melakukan pembinaan terhadap Tenaga Kerja Wanita.

2. Penempatan dan pekerjaan yang tepat bagi Tenaga Kerja Wanita.

3. Perlindungan bagi Tenaga Kerja Wanita dan penyediaan fasilitas yang


diperlukan.

4. Mengembangkan motivasi khusus kewanitaan.

5. Mendukung program Keluarga Berencana.

c . Kebijakan Hukum Melarang Diskriminasi

Undang-undang dasar kita yang dirumuskan tahun 1945 sejak semula


telah mencantumkan dalam pasal 27(1) bahwa semua orang mempunyai
kedudukan yang sama di muka hukum. jadi sejak tahun 1945 di Negara kita
prinsip kesetaran pria dan wanita di depan hokum telah di akui. Undang-undang
perkawinan(undang-undang no. 1 tahun 1974, pasal 31 (1 ) memuat kalimat-
kalimat yang menyatakan bahwa hak dan kedudukan istri adalah seimbang
dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan
hidup bersama di masyarakat. Kebijakan menghapus diskriminasi terhadap
wanita bertujuan untuk (antara lain,mengutip beberapa butir di bawah ini:
1. membuat peraturan perundang-undangan yang tepat dan peraturan
lainya termasuk sangsi-sangsinya dimana perlu melarang semua
diskriminasi terhadap wanita.
2. Menegakkan perlindungan hukum terhadap hak-hak wanita atas dasar
yang sama dengan kaum pria dan untuk menjamin melalui pengadilan
nasional yang kompeten dan badan-badan pemerintah lainnya.
3. Tidak melakukan suatu tindakan atau praktek diskriminasi terhadap
wanita dan untuk menjamin bahwa pejabat-pejabat terhadap wanita ,
dan untuk menjamin bahwa pejabat-pejabat pemerintah dan lembaga-
lembaga Negara akan bertindak sesuai dengan kewajiban ini.
4. Membuat peraturan-peraturan yang tepat untuk mengubah dan
menghapuskan undang-undang, peraturan-peraturan, kebiasaan-
kebiasaan dan praktek-praktek yang ada, yang merupakan diskriminasi
terhadap wanita.

C. Komentar

Menurut saya tindakan diskriminasi terhadap kaum perempuan yang


dilakukan oleh perusahaan twitter merupakan ketidakadilan untuk hak-hak
perempuan dalam bekerja, karena perempuan seharusnya juga memiliki
kesempatan yang sama di dalam dunia kerja. Diskriminasi gender menyebabkan
tidak meratanya seseorang wanita untuk  mendapatkan  kesempatan kerja yang
sama untuk mendapat pengakuan, penghargaan atas pencapaian kinerja ataupun
prinsip yang adil dalam melakukan penilaian kinerja, selain itu  pekerja  wanita
juga akan mengalami  gangguan psikologis karena sering dikucilkan, diintimidasi,
dihina, diperlakukan tidak adil dan lain sebagainya.

Jadi hal yang harus dilakukan dalam penanganan kasus diskriminasi


gender di dalam dunia kerja contohnya seperti pada kasus yang terjadi di
perusahaan twitter adalah memberikan keadilan dan kesempatan untuk
perempuan dalam memimpin suatu peerjaan. Serta harus ada perhatian dari
pemerintah dengan membuat peraturan-peraturan yang mengatur penghapusan
diskriminasi terhadap pekerja wanita.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Diskriminasi kerja terhadap perempuan merupakan suatu hal yang
sudah sejak lama terjadi dan segala usaha untuk menanggulangi hal
tersebut belumlah berhasil secara penuh, oleh sebab itu perlu adanya
kesadaraan akan pentingnya perlindungan terhadap para pekerja
perempuan dan pemerintah pun semestinya mau bersikap tegas serta
menegakkan perlindungan hukum terhadap hak-hak para pekerja
perempuan agar segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan benar-
benar dapat dihilangkan dan tidak terjadi kembali dimasa yang akan
datang.

B. Saran
Semoga dengan adanya makalah ini ,tidak hanya perempuan
,bahkan tiap orang lebih menghargai sesama,lebih menghargai kesetaraan
gender agar tidak ada lagi diskriminasi gender.kami mohon kritik dan
saran yang membangun untuk terciptanya makalah yang lebih baik dalam
tentunya akan bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA

Fahriah Tahar, Pengaruh Diskriminasi Gender dan Pengalaman Terhadap


Profesionalitas Auditor, Skripsi, 2012,

Fakih, Mansour. 2012. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

Fulthoni, Buku Saku Untuk Kebebasan Beragama Memahami Diskriminasi,


(Jakarta:The Indonesian Legal Resource Center, 2009),

Gomes, Faustino Cordoso. 2015. Manajemen Sumber Daya Manusia.Yogyakarta:


ANDI.

Hamidi. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Malang: UMM Press.

Herdiansyah, Haris. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu-Ilmu

Sosial. Jakarta:Salemba Humanika.

http://eprints.ums.ac.id/33035/2/BAB%201.pdf

https://m-bisnis-
com.cdn.ampproject.org/v/s/m.bisnis.com/amp/read/20150323/280/414582/twitter-
digugat-karena-diskriminasi-gender?
amp_js_v=a3&amp_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA
%3D#aoh=15912239745536&referrer=https%3A%2F
%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s