Anda di halaman 1dari 17

MIKROBIOLOGI-VIROLOGI

MIKROBA PATOGEN UTAMA

KELOMPOK 3

FADLURROHMAN ( 1904015100 )
DJUWITA SEPTIANI ( 1904015020 )
ADE RAHMANIA TEREZZA ( 1904015018 )
NUR ALIFA AZYYATI ( 1904015266 )

DOSEN : Dra. HURIF BUDI RIANTI, M.SI., Apt.


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR HAMKA
FAKULTAS FARMASI DAN SAINS
2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mikroba terdapat hampir di semua tempat. Di udara mulai dari permukaan


tanah sampai pada lapisan atmosfir yang paling tinggi. Di laut terdapat sampai pada
dasar laut yang paling dalam. Di dalam air, seperti air sungai, selokan, kolam atau air
sawah. Mikroba terdapat di tempat di mana manusia hidup. Terdapat di udara yang
kita hirup, pada makanan yang kita makan, juga terdapat pada permukaan kulit, pada
jari tangan, pada rambut, dalam rongga mulut, usus, dalam saluran pernafasan dan
pada seluruh permukaan tubuh yang terbuka dan dianggap sebagai flora normal
(Entjang, 2003).
Bakteri yang hidup bebas di alam sangat mudah untuk berpindah dari tempat
yang satu ke tempat yang lain. Perpindahan tersebut melalui berbagai macam
perantara seperti air, udara dan benda-benda padat. Perpindahan tersebut dapat
menyebabkan bakteri menempel pada benda-benda apa saja, sehingga dengan mudah
benda-benda mati ataupun mahluk hidup lainnya dapat terkontaminasi bakteri dan
bahkan bakteri tersebut dapat merusak atau menginfeksi apa yang ditempatinya.
Mikroorganisme dapat menyebabkan banyak bahaya dan kerusakan. Hal itu nampak
dari kemampuannya menginfeksi manusia, hewan, serta tanaman, menimbulkan
penyakit yang berkisar dari infeksi ringan sampai kepada kematian.
Mikroorganisme pun dapat mencemari makanan dan menimbulkan perubahan-
perubahan kimiawi di dalamnya, membuat makanan tersebut tidak dapat dimakan
atau bahkan beracun. Kerusakan yang ditimbulkan juga dapat terjadi pada berbagai
bahan seperti kain (tekstil), kulit; struktur berkayu seperti pilar jembatan, rumah-
rumah, instalasi listrik yang terbuat dari plastik serta bahan-bahan organik lainnya
bahkan pula bahan bakar jet (Pelczar dan Chan, 1988).

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian patogen ?


2. Apa saja bakteri patogen asli (alami terdapat pada ikan) ?
3. Apa saja Bakteri patogen tidak asli (akibat kontaminasi) ?
4. Apa saja jenis-jenis patogen ?
5. Bagaimana cara mencegah patogen masuk ke tubuh ?

C. Tujuan
Untuk mengetahui pengertian patogen, contoh dari bakteri patogen asli dan
tidak asli, jenis-jenis patogen dan cara mencegah patogen masuk ke tubuh
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Patogen

Patogenisitas adalah kemampuan organisme untuk menimbulkan penyakit.


Jika mikroba menyerang tubuh, tubuh akan merespons serangan mikroba tersebut dan
timbul gejala gangguan kesehatan atau yang dinamakan penyakit. Jadi, yang
dimaksud dengan mikroba patogen adalah mikroba yang mampu menimbulkan
penyakit. Kemampuan mikroba patogen untuk menyebabkan penyakit dipengaruhi
oleh beberapa hal, yaitu sifat mikroba patogen dan kemampuan tubuh untuk menahan
serangan mikroba.

Mikroba patogen yang berasal dari pangan akan bekerja dalam tiga
mekanisme, yaitu secara infeksi, intoksikasi, dan toksikoinfeksi. Pertama infeksi
terjadi bila mikroba patogen masuk ke dalam tubuh akan membentuk koloni dengan
menggunakan fimbri atau faktor adheren lainnya dan dapat menembus (invasi) bagian
organ dalam atau jaringan tubuh menggunakan toksin atau enzim yang dihasilkan dan
dampaknya bersifat lambat. Contoh mikroba yang mengakibatkan infeksi adalah
Salmonella penyebab peyakit salmonellosis. Kedua, intoksikasi disebabkan oleh
terkonsumsinya toksin ekstraseluler yang dihasilkan oleh mikroba yang mencemari
pangan. Intoksikasi tidak memerlukan adanya mikroba hidup pada pangan yang
dikonsumsi karena umumnya toksin mikroba telah dieksresikan ke medium di
sekitarnya (ke dalam pangan) pada saat mikroba tumbuh dan mencemari pangan.
Dampak yang ditimbulkan relatif cepat karena toksin telah tersedia. Contoh mikroba
yang dapat menyebabkan intoksikasi adalah S. aureus karena pengahasil toksin.
Ketiga, toksikoinfeksi adalah terjadinya sekresi racun bila sel mikroba telah berada
dalam tubuh. Contoh mikroba yang mengakibatkan toksikoinfeksi adalah Bacillus
cereus dan Clostridium perfringers.

Kasus infeksi/keracunan produk perikanan sering terjadi akibat mengkonsumsi


makanan yang telah terkontaminasi, baik oleh mikroba patogen penyebab infeksi
maupun mikroba penghasil toksin (intoksikasi). Foodborne diseases yang disebabkan
oleh organisme dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu infeksi makanan dan
keracunan makanan. Infeksi makanan terjadi karena konsumsi makanan mengandung
organisme hidup yang mampu bersporulasi di dalam usus, yang menimbulkan
penyakit. WHO mendefinisikan foodborne diseases sebagai penyakit yang umumnya
bersifat infeksi atau racun yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang dicerna.
Sejumlah salmon beku juga pernah ditarik dari pasaran di Kanada dan New York
karena terindikasi tercemar Listeria monocytogenes. Namun demikian, catatan
frekuensi kejadian keracunan makanan sulit ditelusuri karena kasusnya banyak yang
tidak dilaporkan, kecuali terhadap kasus-kasus yang luar biasa. Hal ini karena
kebanyakan kasus keracunan berupa gangguan pencernaan dengan gejala yang tidak
berlangsung lama, bahkan sering tidak terlihat pada individu denga kondisi
kekebalan/imunitas yang baik.

Adapun beberapa jenis bakteri tertentu berperan sebagai pemicu pembentukan


toksin pada produk perikanan misalnya histamin pada ikan-ikan scombroid seperti
tuna (Thunnus sp.), mahi-mahi (Coryphaena hippurus), sardine (Sardinella
pilchardus) dan makerel (Scomber scombrus). Jenis bakteri pemicu pembentuk
histamin antara lain: Proteus spp., Morganella morganii, Clostridium spp., Escherichia
spp., Salmonella spp., Shigella spp., dan Vibrio harveyii.

Mikroba patogen diketahui memasuki inang melalui organ-organ tubuh antara


lain :

1. Saluran pernapasan
Saluran pernapasan merupakan jalan termudah bagi mikroorganisme
infeksius. Mikroorganismeterhirup melalui hidung atau mulut dalam bentuk
partikel debu. Penyakit yang muncul umumnya adalah pneumonia, campak,
tuberculosis, dan cacar air
2. Saluran pencernaan
Mikroorganisme dapat memasuki saluran pencernaan melalui bahan
makanan atau minuman dan melalui jari-jari tangan yang terkontaminasi
mikroorganisme patogen. Mayoritas mikroorgansme tersebut akan
dihancurkan oleh asam klorida ( HCl ) dan enzim-enzim dilambung, atau oleh
empedudan enzim di usus halus. Mikroorganisme yang bertahan dapat
menimbulkan penyakit. Misalnya, demam tifoid, disentri amoeba, hapatitis A,
dan kolera. Patogen ini selanjutnya dikeluarkan melalui feses dan dapat
ditransmisikan ke inang lainyya melalui air, makanan, atau jari-jari tangan
yang terkontaminasi.
3. Kulit dan selaput lendir.
Kulit sangat penting sebagai pertahanan terhadap penyakit. Kulit yang tidak
mengalami perlukaan tidak dapat dipenetrasi oleh mayoritas mikroorganisme.
Beberapa mikroorganisme memasukitubuh melalui daerah terbuka pada kulit,
folikel rambut, maupun kantung kelenjar keringat.Mikroorganisme lain
memasuki tubuh inang pada saat berada di jaringan bawah kulit atau
melalui penetrasi atau perlukaan membran mukosa. Rute ini disebut rute pare
nteral. Suntikan, gigitan, potongan, luka, atau pembedahan dapat membuka
rute infeksi parenteral.
4. Rongga Mulut
Pada permukaan rongga mulut terdapat banyak koloni
mikroorganisme. Salah satu penyakit yang umum pada rongga mulut akibat
kolonisasi mikroorganisme adalah karies gigi. Karies gigi diawali akibat
pertumbuhan Streptococcus mutans dan spesies Streptococcus lainnya pada
permukaan gigi. Hasil fermentasi metabolisme, menghidrolisis sukrosa
menjadi komponen monosakarida, fruktosa, dan glukosa. Enzim
glukosiltransferasi selanjutnya merakit glukosa menjadi dekstran. Residu
fruktosa adalah gula utama yang difermentasi menjadi asam laktat.
Akumulasi bakteri dan dekstran menempel pada permukaan gigi dan
membentuk plak gigi. Populasi bakteri plak didominasi
oleh Streptococcus dan anggota Actinomyces. Karena plak sangat tidak
permeable terhadap saliva, maka asam laktat yang diproduksi oleh bakteri
tidak dilarutkan atau dinetralisasi dan secara perlahan akan melunakkan
enamel gigi tepat plak tersebut melekat.

B. Bakteri patogen asli (alami terdapat pada ikan)

1. Clostridium botulinum (botulism)

Clostiridium botulinum merupakan bahaya utama pada makanan kaleng

karena dapat menyebabkan keracunan botulinin. Tanda-tanda keberadaan bakteri

maupun toksin (botulin) pada makanan kaleng antara lain adanya cairan jernih

agak keputihan, kemasan yang retak, tutup dan sambungan kaleng yang kendor,
atau timbulnya bau menyimpang. Botulinin merupakan sebuah molekul protein

dengan daya keracunan yang sangat kuat. Satu mikrogram botulinin sudah cukup

mematikan manusia. Untungnya karena merupakan protein, botulinin bersifat

termolabil dan dapat diinaktifkan dengan pemanasan pada suhu 80 oC selama 30

menit. Garam dengan konsentrasi 8% atau lebih serta pH 4,5 atau kurang dapat

menghambat pertumbuhan C. botulinum, sehingga produksi botulinin dapat

dicegah.

Tanda-tanda keracunan botulinin antara lain tenggorokan kaku, mata

berkunang-kunang, dan kejang-kejang yang menyebabkan kematian karena sukar

bernapas. Biasanya bakteri ini tumbuh pada makanan kaleng yang tidak sempurna

pengolahannya atau pada kaleng yang bocor, sehingga makanan di dalamnya

terkontaminasi udara dari luar. Tindakan pencegahannya antara lain dengan

mengamati secara cermat produk pangan yang di proses dalam kemasan kaleng

atau kemasan vakum dan tidak mengkonsumsi produk dengan kemasan yang

rusak.

2. Vibrio

Vibrio sp. mempunyai sifat-sifat umum yaitu berbentuk batang yang bengkok,
mempunyai satu batang cambuk yang yang terletak pada salah satu ujung
batangnya. Kontaminasi bakteri ini pada manusia dapat terjadi bila
mengkontaminasi makanan dan hasil-hasil laut, akibat penanganan dan perlakuan
yang keliru. Vibrio sp. tersebar di laut dan membutuhkan Na+ untuk
pertumbuhannya. Terdiri dari sejumlah spesies yang patogen bagi manusia.
Penyakit yang ditimbulkan gastro-enteritik yang bervariasi, dari diare ringan
sampai diare berair yang berlebihan (parah). Kebanyakan vibrio menghasilkan
enterotoksin yang kuat. Selain racun kolera, racun lainnya yang diproduksi oleh
V. cholera adalah hemolisin yang mirip dengan tetrodotoxin dan satunya lagi
mirip shiga-toksin. V. cholera yang berasal dari darat atau air tawar, sudah
dikenal sebagai penyebab penyakit muntah berak di Indonesia. Bahan mentah
(sebelum atau yang tidak dimasak), atau kerang yang telah dimasak tetapi
terkontaminasi silang, merupakan pembawa utama V. cholerae. Untuk V.
parahaemolyticus paling sering dikaitkan dengan kontaminasi silang atau
kesalahan waktu/suhu dalam mengolah seafood. Untuk vibrio yang lain,
konsumsi kerang mentah, terutama tiram, adalah penyebab utama infeksi. Vibrio
mudah dihancurkan oleh panas. Jadi dengan cara memasak yang tepat dapat
menghilangkan sebagian besar vibrio. Jenis vibrio yang bersifat pada ikan dan
invertebrata laut adalah Vibrio alginolyticus, V. damsela, V. charchariae,
V.anguilarum, V. ordalli, V. cholerae, V. salmonicida, V. vulnificus, V.
parahaemolyticus, V. pelagia, V. splendida, V. fischeri dan V. harveyii.

3. Aeromonas hydrophila

Aeromonas hydrophila adalah bakteri berbentuk akar, motil, dengan diameter


0,3–1μm dan panjang 1–3,5μm, tanpa fase spora, biasanya tidak mempunyai
kapsul, tumbuh optimum pada 28oC tetapi dapat tumbuh pada suhu ekstrim (4oC
dan 37oC). Sifatnya yang metropolitan di lingkungan perairan memungkinkan
terjadinya kontak pada ikan dan amfibi, dan bahkan memasuki hewan tersebut.
Kontak tersebut dapat menyebabkan infeksi tergantung pada spesiesnya dan
tingkat virulennya. Aeromonas hydrophila telah ditemukan pada berbagai jenis
ikan air tawar di seluruh dunia, dan adakalanya pada ikan laut. Terdapat
pandangan yang berbeda tentang peran yang tepat dari Aeromonas hydrophila
sebagai ikan patogen. Beberapa peneliti menetapkan bahwa organisme ini hanya
sebagai penyerang sekunder pada inang yang lemah, sedang yang lain
menyatakan bahwa Aeromonas hydrophila adalah suatu patogen utama ikan air
tawar. Bakteraemia (bakteria di darah) adalah wujud patogenik paling umum
Aeromonas pada manusia. Gejala ringan berupa demam dan kedinginan, tapi
pada pasien yang sudah terinfeksi berat (infeksi bakteri yang berlebihan) sering
menampakkan gejala sakit perut, mual, muntah-muntah, dan diare. Tidak seperti
gastroenteritis, infeksi Aeromonas bisa bersifat fatal atau berakibat kelemahan
yang serius, seperti amputasi.

4. Listeria

Bakteri ini umumnya ditemukan di alam, lingkungan pengolahan pangan, dan


saluran pencernaan manusia dan hewan. Listeria sp sering terdapat pada seafood,
seperti L. monocytogenes pada salmon asap yang didinginkan (+4°C). Listeriosis
adalah infeksi dengan usus sebagai titik masuk. Masa inkubasi bervariasi dari satu
hari sampai beberapa minggu dan gejala pada orang dewasa adalah demam,
menggigil, kembung seperti gejala flu. Pada anak kecil atau bayi dapat timbul
gejala muntah dan kesulitan bernafas. Strain virulen mampu menggandakan diri
menyebabkan septicemia diikuti oleh infeksi organ lain seperti sistem saraf pusat,
jantung, mata dan dapat menyerang janin ibu hamil. Pada orang dewasa yang
sehat, listeriosis biasanya tidak pernah berkembang, namun mempunyai risiko
tertentu dan dapat mematikan bagi janin, wanita hamil, dan orang dengan
kekebalan rendah. Cara pengolahan untuk mencegah Listericidal terutama adalah
dengan perlakuan panas.

C. Bakteri patogen tidak asli (akibat kontaminasi)

1. Escherichia coli

coli merupakan mikroflora alami aerobik dan hewan berdarah panas yang
terdapat pada saluran pencernaan manusia dan hewan. Beberapa galur E. coli
yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia adalah enterotoksigenik,
enterohaemorrhagik, enteropatogenik, enteroinvasive, dan enteroagregatif.
Enterotoksigenik E. coli merupakan penyebab diare pada wisatawan yang
mengunjungi negara yang standar higienitas makanan dan air minum berbeda dari
negara asalnya. Enterohaemorrhagic E. coli 0157:H7 banyak menyebar melalui
konsumsi air yang telah tercemar limbah pembuangan, dan dijumpai pada daging
mentah atau susu nonpasteurisasi. Kontaminasi enterohaemorrhagic E. coli
0157:H7 yang banyak ditemukan pada sayuran dapat terjadi akibat penggunaan
kotoran sapi sebagai pupuk. Masa inkubasinya selama 3-4 hari dan gejala yang
ditimbulkan antara lain kram perut yang akut disertai diare (terkadang terjadi
pendarahan), mual, muntah, dan demam selama 10 hari. Pada kasus yang berat,
dapat timbul komplikasi Hemolytic Uremic Syndrome (HUS) atau infeksi pada
saluran urin yang dapat menyebabkan gagal ginjal pada anak-anak dan orang tua.
Langkah pencegahannya antara lain dengan tidak mengonsumsi air yang belum di
proses atau susu nonpasteurisasi, memasak makanan dengan benar dan jika
dipanaskan ulang setidaknya hingga suhu internal mencapai 74 oC. Selain itu,
juga tidak menyimpan makanan yang mudah rusak lebih dari 2 jam pada suhu
ruang (28-30 oC).

2. Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus termasuk bakteri yang tidak mampu berkompetensi


dengan mikroba lain. Hal ini disebabkan beberapa faktor, antara lain penggunaan
oksigen oleh bakteri lain, penggunaan sejumlah asam amino oleh Pseudomonas
aeruginosa, serta penggunaan sejumlah vitamin (seperti niasin dan biotin) oleh
Streptococci. Bakteri S.aureus yang perpindah ke dalam pangan olahan (biasanya
perpindahan tersebut melalui pekerja pengolah pangan) dalam beberapa waktu
akan tumbuh. Hal ini disebabkan sedikitnya atau mungkin tidak adanya
kompetitor dari bakteri lain, sehingga S.aureus dapat tumbuh dengan cepat.
Bilamana S.aureus tumbuh dalam kondisi suhu yang sesuai dan dalam jangka
waktu yang cukup, bakteri tersebut mampu menghasilkan enterotoksin. Bakteri
S.aureus dapat memproduksi toksin pada suhu hangat, dengan masa inkubasi
selama 1-8 jam dan gejala yang timbul antara lain mual, muntah, diare, dan kram
pada perut yang berlangsung 1-2 hari, tetapi jarang berakibat fatal.

S.aureus terdapat pada rongga hidung, kulit, tenggorokan, dan saluran


pencernaan manusia dan hewan. Bahan makanan yang disiapkan menggunakan
tangan, seperti penyiapan sayuran mentah untuk salad, berpotensi terkontaminasi
S. aureus. Jenis makanan lain yang sering terkontaminasi oleh S. aureus adalah
daging dan produk daging, ayam, telur, salad (telur, tuna, ayam, kentang, dan
makaroni), produk bakeri, pastry, pai, sandwich, serta susu dan produk susu.
Proses pemasakan tidak akan menghancurkan toksin dari bakteri S. aureus. Oleh
karena itu, praktik sanitasi dan higienitas sangat dianjurkan pada proses
pengolahan pangan.
3. Salmonella (Salmonellosis)

Salmonella bersifat patogen pada manusia dan hewan lainnya, dan dapat
menyebabkan demam enterik dan gastroentritis. Diketahui terdapat 200 jenis dari
2.300 serotip Salmonella yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.
Salmonella sp. distribusinya di seluruh dunia, terutama dalam usus manusia dan
hewan serta lingkungan yang tercemar kotoran manusia atau hewan. Gejala
utama salmonellosis adalah diare tidak berdarah, sakit perut, demam, mual,
muntah yang umumnya muncul 12-36 jam setelah konsumsi. Namun, gejala dapat
bervariasi dari tanpa gejala sampai seperti tifus parah. Penyakit ini juga dapat
berlanjut menjadi komplikasi yang lebih serius.

Kontaminasi Salmonella pada kerang yang tumbuh di perairan tercemar telah


menjadi masalah di banyak bagian dunia. Udang tropis hasil budidaya juga sering
mengandung Salmonella sebagai akibat dari rendahnya standar kebersihan, dan
penggunaan kotoran unggas sebagai pupuk/pakan. Kebanyakan udang dimasak
sebelum dikonsumsi, oleh karena itu produk ini risikonya minimal, kecuali bila
terjadi kontaminasi silang di tempat pengolahan. Langkah pencegahannya adalah
dengan memisahkan pangan mentah dari makanan yang telah dimasak. Selain itu,
sebaiknya tidak meninggalkan makanan pada suhu ruang (28-30 oC) selama lebih
dari 2 jam serta diusahakan untuk menyimpan di lemari es dengan suhu kurang
dari 4 oC.

4. Shigella (Shigellosis)
Shigella sp. adalah host khusus yang beradaptasi pada manusia dan primata
tingkat tinggi, dan kehadirannya di lingkungan dikaitkan dengan kontaminasi
tinja. Shigella merupakan bakteri patogen di usus manusia dan primata penyebab
shigellosis (disentri basiler) yang merupaka infeksi usus. Makanan yang sering
terkontaminasi Shigella adalah salad, sayuran segar (mentah), susu dan produk
susu, serta air yang terkontaminasi. Sayuran segar yang tumbuh pada tanah
terpolusi dapat menjadi faktor penyebab penyakit, seperti disentri basiler atau
shigellosis yang disebabkan oleh Shigella. Menurut USFDA (1999), diperkirakan
300.000 kasus shigellosis terjadi di Amerika Serikat setiap tahun. Penyebaran
Shigella dapat melalui orang yang memiliki kebiasaan kebersihan yang buruk,
misalnya orang tersebut menangani pangan cair atau pangan basah yang tidak
dimasak dengan benar. Gejalanya bervariasi dari tanpa gejala atau diare ringan
untuk disentri, ditandai dengan tinja berdarah, sekresi lendir, dehidrasi, demam
tinggi, dan kram perut yang parah. Masa inkubasi 1-7 hari dan gejala dapat
bertahan selama 10-14 hari atau lebih. Kematian pada orang dewasa jarang
terjadi, tetapi pada anak-anak dapat menjadi fatal. Sebagian besar kasus
shigellosis disebabkan penularan langsung dari orang ke orang melalui rute oral-
faecal dan air, terutama di lingkungan dengan standar kebersihan rendah. Namun
makanan, termasuk seafood (cocktail udang, salad tuna), juga dapat menjadi
penyebab shigellosis karena kontaminasi pada bahan mentah, atau pada olahan
yang terinfeksi dan tidak disadari akibat kebersihan pribadi yang buruk.

D. Jenis-jenis Patogen

Patogen yang berbahaya memiliki beberapa jenis. Mikroorganisme parasit ini


bisa menggunakan tubuh inangnya untuk melipatkan diri, menyebabkan penyakit dan
bisa menular, berikut jenis-jenis patogen yang berbahaya untuk kesehatan.

1. Virus

Virus terdiri dari beberapa kode genetik seperti, DNA atau RNA, yang
dilindungi oleh lapisan protein. Ketika Anda terinfeksi, virus dapat menyerang
sel inang di dalam tubuh Anda, kemudian menggunakan komponen sel inang
untuk bereplikasi dan menghasilkan banyak virus.
Setelah virus menggandakan diri, virus-virus baru ini akan dilepaskan dan
menginfeksi tubuh ke area yang sudah terinfeksi. Beberapa jenis virus yang
masuk ke dalam tubuh adalah dorman dan hanya bisa menyerang jika daya tahan
tubuh seseorang sedang rendah. Namun, sebaliknya banyak juga virus yang dapat
langsung menyerang dan menyebabkan infeksi di mana-mana.

Bahkan, beberapa virus berpotensi untuk mati untuk sementara waktu,


kemudian dapat menggandakan diri kembali. Ketika kondisi ini terjadi, penderita
akan terlihat pulih dari infeksi virus, kemudian kembali jatuh sakit. Virus tidak
dapat diobati dengan antibiotik, obatnya tergantung dengan jenis virus itu sendiri
atau menunggu imunitas menguat sehingg tubuh melawan virus tersebut.

Dokter akan berusaha untuk mengatasi gejala yang ditimbulkan sehingga daya
tubuh akan meningkat dan virus tidak menyebar. Contoh penyakit yang
disebabkan oleh virus adalah flu, meningitis, cacar air, hepatitis hingga HIV
AIDS.

2. Bakteri

Bakteri merupakan mikroorganisme yang terbuat dari sel tunggal. Jenisnya


pun sangat beragam, memiliki bentuk yang berbeda-beda dan memiliki
kemampuan untuk di lingkungan apapun, termasuk di dalam tubuh manusia.
Namun tidak semua bakteri dapat menyebabkan penyakit, yang dapat
menyebabkan penyakit disebut bakteri patogen.

Tubuh Anda bisa lebih rentan terhadap infeksi bakteri ketika sistem kekebalan
tubuh Anda terganggu oleh virus. Infeksi terhadap bakteri dapat diobati dengan
antibiotik. Namun menurut WHO, antibiotic digunakan secara sembarangan, bisa
menyebabkan bakteri menjadi kebal. Contoh penyakit yang disebabkan oleh
bakteri yaitu, radang tenggorokan, radang saluran kantung kemih dan TBC.

3. Jamur

Jamur memiliki banyak spesies, namun beberapa diantaranya diketahui bisa


menyebabkan penyakit. Beberapa jenis jamur dapat Anda temui di mana saja,
termasuk di dalam ruangan, di luar ruangan, dan kulit manusia sekalipun. Jamur
dapat menyebabkan infeksi ketika mereka tumbuh terlalu cepat. Sel yang terdapat
pada jamur mengandung inti sel atau nukleus dan komponen lainnya yang
dilindungi oleh membran dan dinding sel yang tebal.

Jamur yang sudah masuk dan melakukan infeksi akan cenderung sulit diatasi.
Hal ini dikarenakan ada banyak membran tebal yang melindungi inti jamur. Salah
satu cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan mengamati sebelum jamur
tersebar ke mana-mana. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh jamur adalah
infeksi vagina, sariawan dan kurap

4. Parasit

Parasit bisa diibaratkan seperti hewan kecil yang masuk dan bisa hidup di
tubuh inangnya. Tiga jenis utama parasit dapat menyebabkan penyakit pada
manusia, seperti:

 Protozoa: organisme sel tunggal yang dapat hidup dan berkembang biak di
tubuh Anda.
 Helminths: organisme bersel banyak yang dapat hidup di dalam atau luar
tubuh dan umumnya dikenal sebagai cacing.
 Ektoparasit: organisme bersel banyak, contohnya seperti nyamuk dan kutu.
Parasit bisa menyebabkan gangguan pencernaan, penyakit menular seksual,
malaria dan cacing usus.

E. Cara Mencegah Patogen Masuk Ke Tubuh


 Menjaga kebersihan dengan rutin mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan
aktivitas
 Mendapatkan vaksin untuk mencegah datangnya penyakit
 Konsumsi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh
 Sebelum memasak pastikan sudah mencuci bahan makanan dengan bersih, untuk
menghindari bakteri atau cacing yang terdapat pada sayuran, buah dan daging yang
ingin dimasak.
 Tidak saling bertukar barang dengan orang lain
 Jauhi daerah yang sedang mengalami wabah penyakit.
F. Kajian Religius
            Alloh SWT menciptakan jasad – jasad renik di dunia ini sesuai dengan
fungsinya masing – masing. Sebagaimana dengan firman Alloh SWT, surat Al –
Furqaan ayat 2 dan surat An – Nur ayat 45 yang artinya:
 Arti surat Al – Furqaan ayat 2 : ” yang kepunyaan – NYA – lah kerajaan langit dan
bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi – NYA dalam
kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan
ukuran – ukurannya dengan sera[i – rapinya. ”
Maksudnya : Segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi – Nya
perlengkapan – perlengkapan dan persiapan – persiapan, sesuai dengan naluri, sifat –
sifat, dan fungsinya masing – masing dalam hidup.
 Arti surat An – Nur ayat 45 : ”Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari
air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian
berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki.
Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu.”
Al – Baqarah (2) : ayat 164
 Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam
dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia,
dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan
bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan
pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh
(terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
Alloh SWT memberikan cobaan kepada umat – Nya yang berupa penyakit,
dan Alloh pula yang menyembuhkannya. Sebagaimana yang difirmankan Alloh SWT
dalam Alqur’an surat Asy – Syu’araa’ ayat 78 – 80 yang artinya :
“(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan
Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit,
Dialah Yang menyembuhkan aku.”

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Patogenesis adalah mekanisme infeksi dan mekanisme perkembangan
penyakit. Infeksimerupakan invasi inang oleh mikroba yang memperbanyak dan
berasosiasi dengan jaringan inang.
Bakteri dapat merusak sistem pertahanan inang dimulai dari permukaan kulit,
saluran pencernaan, saluran respirasi, saluran urogenitalia. Mikroorganisme patogen
dapat memasuki tubuh inang melalui berbagai macam jalan, misalnya melalui
membran mukosa, kulit ataupun
rute parental. Banyak bakteri dan virus memiliki akses memasuki tubuh inang melalui 
membran mukosa saluran pernapasan, gastrointestinal, saluran genitourinari,
konjungtiva, serta membran penting yang menutupi bola mata dan kelopak mata.

B. Saran
Bakteri makhluk kecil yang jarang kita sadari keberadaanya. Maka jika
terjangkit salah satu penyakit dari bakteri kita jangan meremehkan gejala awal yang
dialami karena umumnya gejalaawalnya sangat biasa. Karena jika diremehkan bisa
saja menjadi akut. Harus mengikuti tahap-tahap pencegahan yaitu dengan menjaga
kebersihan diri .

DAFTAR PUSTAKA
Budiyanto MAK, 2001. Peranan Mikroorganisme dalam Kehidupan Kita. Malang :
Universitas Muhammadiyah Malang.
Budiyanto MAK, 2010. Hand out – 10 Mikrobiologi Lingkungan, Pertanian, dan Peternakan.
Malang : UMM Press.
Dwijoseputro, 1990. Dasar – Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.
Fardiaz S, 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.