Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) diartikan sebagai bayi yang lahir dengan berat
badan yang kurang dari 2500 gram. BBLR merupakan predictor tertinggi angka kematian
bayi, terutama dalam satu bulan pertama kehidupan (Kemenkes,2015). Bayi BBLR
mempunyai risiko kematian 20 kali lipat lebih besar di bandingk 95.6% bayi BBLR
lahir di negara yang sedang berkembang, contohnya di Indonesia. Survey Demografi
dan Kesehatan Indonesia tahun 2014-2015, angka prevalensi BBLR di Indonesia masih
tergolong tinggi yaitu 9% dengan sebaran yang cukup bervariasi pada masing-masing
provinsi. Salah satu Provinsi di Indonesia yang mempunyai angka tertinggi BBLR yaitu
Provinsi Jawa Barat yang merupakan penyumbang ke 14 di antara 33 Provinsi lainnya
kejadian kasus BBLR mencapai 10,8% yang melebihi 0,6% dari angka nasional yaitu
10,2 % (Infodatin anak, 2013).
BBLR disebabkan oleh usia kehamilan yang pendek (prematuritas),dan IUGR (Intra
Uterine Growth Restriction) yang dalam bahasa Indonesia disebut Pertumbuhan Janin
Terhambat (PJT) atau keduanya. Kedua penyebab ini dipengaruhi oleh faktor risiko,
seperti faktor ibu, plasenta,janin dan lingkungan. Faktor risiko tersebut menyebabkan
kurangnya pemenuhan nutrisi pada janin selama masa kehamilan. Bayi dengan berat
badan lahir rendah umumnya mengalami proses hidup jangka panjang yang kurang baik.
Apabila tidak meninggal pada awal kelahiran, bayi BBLR memiliki risiko tumbuh dan
berkembang lebih lambat dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan
normal. Selain gangguan tumbuh kembang, individu dengan riwayat BBLR mempunyai
faktor risiko tinggi untuk terjadinya hipertensi, penyakit jantung dan diabetes setelah
mencapai usia 40 tahun (Juaria dan Henry, 2014)

1.1 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang dan data yang diperoleh mengenai BBLR, maka
penulis tertarik untuk membahas Asuhan Keperawatan Pada Bayi Ny. S dengan Diagnosa
Medis : BBLR di Ruang Perinatologi RSUD Kota Bandung.

1
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Penulis mampu mengetahui gambaran Asuhan Keperawatan Pada Bayi Ny. S
dengan Diagnosa Medis : BBLR di Ruang Perinatologi RSUD Kota Bandung.
1.2.2 Tujuan Khusus
Memberikan pengalaman yang nyata tentang pelaksanaan Asuhan Keperawatan
Pada Bayi Ny. S dengan Diagnosa Medis : BBLR di Ruang Perinatologi RSUD
Kota Bandung meliputi:
1. Mengetahui konsep teori BBLR
2. Mengetahui gambaran pengkajian keperawatan pada bayi dengan berat badan
lahir rendah (BBLR)
3. Mengetahui gambaran rumusan diagnosa keperawatan pada bayi dengan berat
badan lahir rendah (BBLR)
4. Mengetahui gambaran perencanaan keperawatan pada bayi dengan berat badan
lahir rendah (BBLR)
5. Mengetahui gambaran implementasi keperawatan pada bayi dengan berat
badan lahir rendah (BBLR)
6. Mengetahui gambaran evaluasi keperawatan pada bayi dengan berat badan
lahir rendah (BBLR)

1.3 Manfaat
1. Bagi penulis
Meneliti atau melatih penulisan laporan tentang perawatan pasien di rumah,
perawatan yang baik dan benar sesuai dengan askep pada bayi dengan berat badan
lahir rendah (BBLR).
2. Bagi Pasien
Dapat menjalani perawatan yang baik dan benar sesuai dengan askep pada bayi
dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
3. Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung

2
Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman secara umum dalam memberikan
Asuhan Keperawatan Pada Bayi Ny. S Dengan Diagnosa Medis : BBLR di Ruang
Perinatologi RSUD Kota Bandung.
4. Bagi Profesi Keperawatan
Untuk menambah pemahaman dan pengetahuan tentang perkembangan ilmu
keperawatan, terutama kajian asuhan keperawatan pada bayi dengan berat badan lahir
rendah (BBLR).

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian BBLR


Bayi berat lahir rendah adalah keadaan ketika bayi dilahirkan memiliki berat
badannya kurang dari 2500 gram. Keadaan BBLR ini akan berdampak buruk untuk
tumbuh kembang bayi ke depannya (Kementerian Kesehatan RI, 2015). Penyebab BBLR
adalah keadaan ibu hamil yang memiliki masalah dalam kehamilan. Permasalahan dalam
kehamilan inilah yang paling berbahaya karena menjadi penyebab kematian ibu dan bayi
terbesar (Barua, Hazarika & Duta, 2014).

2.2 Klasifikasi BBLR


Menurut Cutland, Lackritz, Mallett-Moore, Bardají, Chandrasekaran, Lahariya,
Nisar, Tapia, Pathirana, Kochhar & Muñoz (2017) dalam mengelompokkan bayi BBLR
ada beberapa cara yaitu:
1. Berdasarkan Harapan Hidupnya :
a. Bayi dengan berat lahir 2500 – 1500 gram adalah bayi berat lahir rendah (BBLR).
b. Bayi dengan berat lahir 1500 – 1000 gram adalah bayi berat lahir sangat rendah
(BBLSR).
c. Bayi dengan berat lahir < 1000 gram adalah bayi berat lahir ekstrim rendah
(BBLER).
2. Berdasarkan Masa Gestasinya :
a. Prematuritas Murni
Bayi dengan masa gestasi kurang dari 37 minggu atau biasa disebut neonatus
dengan berat normal ketika lahir. Dapat disebut BBLR jika berat lahirnya antara
1500 – 2500 gram.
b. Dismaturitas
Bayi dengan berat badan lahir tidak normal atau kecil ketika dalam masa
kehamilan.

4
2.3 Etiologi BBLR
Menurut Nur, Arifuddin & Vovilia (2016), Susilowati, Wilar & Salendu (2016)
serta Gebregzabiherher, Haftu, Weldemariam & Gebrehiwet (2017) ada beberapa
faktor resiko yang dapat menyebabkan masalah BBLR yaitu:
1. Faktor Ibu
a. Usia
Berdasarkan penelitian menunjukkan persentase kejadian BBLR lebih tinggi
terjadi pada ibu yang berumur <20 atau >35 tahun (30,0%) dibandingkan
dengan yang tidak BBLR (14,2%). Hal tersebut sesuai dengan pernyataan
WHO yaitu usia yang paling aman adalah 20 – 35 tahun pada saat usia
reproduksi, hamil dan melahirkan.
b. Paritas
Berdasarkan penelitian ibu grandemultipara (melahirkan anak empat atau
lebih) 2,4 kali lebih berisiko untuk melahirkan anak BBLR, itu dikarenakan
setiap proses kehamilan dan persalinan meyebabkan trauma fisik dan psikis,
semakin banyak trauma yang ditinggalkan akan menyebabkan penyulit untuk
kehamilan dan persalinan berikutnya.
c. Gizi kurang saat hamil
Ibu yang mengalami gizi kurang saat hamil menyebabkan persalinan
sulit/lama, persalinan sebelum waktunya (prematur), serta perdarahan setelah
persalinan. Ibu yang memiliki gizi kurang saat hamil juga lebih berisiko
mengalami keguguran, bayi lahir cacat dan bayi lahir dengan berat badan yang
kurang.
d. Jarak kehamilan
Berdasarkan penelitian ibu yang memiliki jarak kelahiran < 2 tahun berisiko
3,231 kali lebih besar melahirkan anak BBLR di bandingkan dengan ibu yang
memiliki jarak kelahiran > 2 tahun, itu dikarenakan pola hidup, belum
menggunakan alat kontrasepsi dan ibu tidak melakukan pemeriksaan dengan
rutin.

5
e. Pola hidup
Ibu yang dia terkena paparan asap rokok dan sering mengkonsumsi alkohol
dapat menyebabkan hipoksia pada janin dan menurunkan aliran darah
umbilikal sehingga pertumbuhan janin akan mengalami gangguan dan
menyebabkan anak lahir dengan BBLR.
2. Faktor Kehamilan
a. Eklampsia / Pre-eklampsia.
b. Ketuban pecah dini.
c. Perdarahan Antepartum.
3. Faktor Janin
a. Cacat bawaan (Kelainan Kongenital)
b. Infeksi dalam rahim

2.4 Ciri-ciri BBLR


Menurut penelirian Triphty (2014) :
a. Rambut tipis halus
b. Tulang tengkorak lunak
c. Kulit tipis dan transparan
d. Berat badan < 2500 gram
e. Reflek-reflek pada pemeriksaan neurologis lemah, terutama pada reflek
menghisap dan menelan
f. Rambut lanugo masih banyak dan jaringan subkutis tipis atau kurang
g. Kulit mengkilap, telapak kaki halus
h. Kepala relatif lebih besar dari pada badannya
i. Umur kehamilan <37 minggu
j. Genetalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh labia mayora,
klitoris menonjol (perempuan), testis belum turun kedalam skrotum, pigmentasi
kurang (laki-laki).
k. Tangisan lemah ( Atikah dan Cahyo, 2010).

6
2.5 Masalah Kesehatan Pada BBLR
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2014) , Chen, Lin, Lu & Chen (2014)
serta Kirk, Uwamungu, Wilson, Hedt-Gauthier, Tapela, Niyigena, Rusangwa,
Nyishime, Nahimana, Nkikabahizi, Mutaganzwa, Ngabireyimana, Mutabazi & Magge
(2017) ada beberapa masalah kesehatan pada BBLR yaitu:
a. Ketidakstabilan suhu tubuh
b. Gangguan Pernafasan
c. Imaturitas neurologis.
d. Gastrointestinal dan nutrisi.
e. Imaturitas.
f. Hipoglikemi
g. Asfiksia
h. Kadar bilirubin tinggi

2.6 Penatalaksanaan
1. Medis
a. Resusitasi yang adekuat, pengaturan suhu, terapi oksigen
b. Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus)
c. Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang cukup
d. Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan antibiotik yang
tepat
2. Penanganan secara umum:
a.   Penanganan bayi
Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin besar
perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi serangan sianosis
lebih besar. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam incubator
b. Suhu tubuh
Mengukur suhu tubuh bayi setiap 6-12 jam sekali, bayi dengan berat lahir
rendah, mempunyai kesulitan dalam mempertahankan suhu tubuh. Bayi akan
berkembang dengan suhu rectal dipertahankan antara 35,50 C- 370 C. Bayi

7
berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan dimana suhu normal
tubuhnya dipertahankan dengan usaha metabolik yang minimal.
c. Inkubator
Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam incubator. Prosedur
perawatan dapat dilakukan melalui “jendela“ atau “lengan baju“. Sebelum
memasukkan bayi kedalam incubator, incubator terlebih dahulu dihangatkan,
sampai sekitar 29,4 0 C, untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan 32,20C untuk bayi
yang lebih kecil. Bayi dirawat dalam keadaan telanjang, hal ini
memungkinkan pernafasan yang adekuat, bayi dapat bergerak tanpa dibatasi
pakaian, observasi terhadap pernafasan lebih mudah.
d. Pemberin oksigen
Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi preterm
BBLR,Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30- 35 % dengan menggunakan
head box, konsentrasi O2 yang tinggi dalam masa yang panjang akan
menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan
kebutaan
e. Pencegahan infeksi
Bayi preterm dengan berat rendah, mempunyai system imunologi yang kurang
berkembang, karena mempunyai sedikit atau tidak memiliki ketahanan
terhadap infeksi. Untuk mencegah infeksi, perawat harus menggunakan gaun
khusus, cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi.
f. Pemberian Nutrisi
Pemberian nutrisi secara dini dianjurkan untuk membantu mencegah
terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI merupakan pilihan pertama,
dapat diberikan melalui kateter ( sonde ), terutama pada bayi yang reflek hisap
dan menelannya lemah. Bayi berat lahir rendah secara relative memerlukan
lebih banyak kalori, dibandingkan dengan bayi preterm.
g. Medikamentosa
Pemberian vitamin k
- Injeksi 1 mg IM sekali pemberian atau

8
- Per oral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir,
umur 3-10 hari, dan umur 4-6 minggu).
Diuretik
- Apabila daya isap belum baik, bayi di coba untuk mnetek sedikit demi
sedikit
- Apabila bayi belum bisa menggunakan OGT
- Apabila bayi belum ada reflek menghisap dan menelan harus di pasang
sonde podding.
Suportif
- Membersihkan jalan nafas
- Memotong dan perawatan tali pusat
- Memberikan obat mata
- Membungkus bayi dengan kain hangat
- Mempertahankan suhu tubuh bayi
- Menyimpan bayi dalam incubator
- Badan bayi harus dalam keadaan kering
- Pantau berat badan bayi secara periodik.

2.7 Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan skor ballard penilaian yang menggambarkan refles dan maturitas
fisik untuk menilai reflek pada bayi untuk mengetahui prematuritas dan
maturitas.
b. Test kocok (shake test) untuk bayi kurang bulan
c. Darah rutin, glukosa darah
d. Kadar elektrolit dan analisa gas darah
e. Foto rontgent diperlukan pada bayi kurang bulan dan mengalami sindrom
gangguan nafas
f. USG kepala terutama pada bayi umur kehamilan <35 minggu.
g. Jumlah darah lengkap: penurunan pada Hb (normal: 12- 24gr/dL), Ht (normal:
33 -38% ) mungkin dibutuhkan.
h. Dektrosik: menyatakan hipoglikemi (normal: 40 mg/dL)

9
i. Jumlah trombosit (normal: 200000 - 475000 mikroliter): Trombositopenia
mungkin menyertai sepsis.
j. EKG, EEG, USG, angiografi: defek kongenital atau komplikasi.

2.8 Komplikasi
a. Sindrom aspirasi meconium
Sindrom aspirasi mekonium adalah gangguan pernapasan pada bayi baru lahir
yang disebabkan oleh masuknya mekonium (tinja bayi) ke paru-paru sebelum
atau sekitar waktu kelahiran (menyebabkan kesulitan bernafas pada bayi).
b. Hipoglikemi simptomatik
Hipoglikemi adalah kondisi ketidaknormalan kadar glokosa serum yang
rendah. Keadaan ini dapat didefinisikan sebagai kadar glukosa dibawah 40
mg/dL. Hipoglikemi sering terjadi pada BBLR, karena cadangan glukosa
rendah ,terutama pada laki-laki.
c. Penyakit membran hialin yang disebabkan karena membrane surfaktan belum
sempurna atau cukup.
d. Asfiksia neonatorum
Asfiksia neonatorum ialah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas
secara spontan dan teratur segera setelah lahir.
e. Hiperbilirubinemia (gangguan pertumbuhan hati)
Hiperbilirubinemia (ikterus bayi baru lahir) adalah meningginya kadar
bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler, sehingga kulit, konjungtiva,
mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning

2.9 Pencegahan
1. Melakukan pengawasan hamil dengan seksama dan teratur.
2. Melakukan konsultasi terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kehamilan
dan persalinan preterm
3. Memberi nasehat tentang : Gizi saat hamil, Meningkatkan pengertian keluarga
berencana internal, Memperhatikan tentang berbagai kelainan yang timbul dan

10
segera melakukan konsultasi, Menganjurkan untuk pemeriksaan tambahan
sehingga secara dini penyakit ibu dapat diketahui dan diawasi/diobati
4. Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama
kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang
diduga berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR
harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan
kesehatan yang lebih mampu.
5. Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam
rahim, tanda-tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama
kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatanya dan janin dalam
kandunganya dengan baik.
6. Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinanya pada kurun waktu reproduksi
sehat (20-34 tahun).
7. Perlu dukungan sektor lain yang terikat untuk turut berperan dalam
meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat
meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi
ibu selama hamil.

2.10 Patofisiologi

11
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Biodata atau identitas pasien: meliputi nama tempat tanggal lahir jenis kelamin
2. Orangtua meliputi : nama (ayah dan ibu, umur, agama, suku atau kebangsaan,
pendidikan, penghasilan pekerjaan, dan alamat
3. Riwayat kesehatan
a. Riwayat antenatal yang perlu dikaji atau diketahui dari riwayat antenatal pada
kasus BBLR yaitu:
a) Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, hipertensi, gizi buruk, merokok
ketergantungan obat-obatan atau dengan penyakit seperti diabetes mellitus,
kardiovaskuler dan paru.
b) Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya kelahiran multiple,
kelainan kongenital, riwayat persalinan preterm.
c) Pemeriksaan kehamilan yang tidak kontinyuitas atau periksa tetapi tidak
teratur dan periksa kehamilan tidak pada petugas kesehatan.
d) Hari pertama hari terakhir tidak sesuai dengan usia kehamilan (kehamilan
postdate atau preterm).
b. Riwayat natal komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang sangat erat
dengan permasalahan pada bayi baru lahir. Yang perlu dikaji :
a) Kala I : perdarahan antepartum baik solusio plasenta maupun plasenta
previa.
b) Kala II : Persalinan dengan tindakan bedah caesar, karena pemakaian obat
penenang (narkose) yang dapat menekan sistem pusat pernafasan.
c. Riwayat post natal yang perlu dikaji antara lain :
a) Agar score bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua AS (0-3)
asfiksia berat, AS (4-6) asfiksia sedang, AS (7-10) asfiksia ringan.
b) Berat badan lahir : Preterm/BBLR < 2500 gram, untu aterm ³ 2500 gram
lingkar kepala kurang atau lebih dari normal (34-36 cm).
c) Adanya kelainan kongenital : Anencephal, hirocephalus anetrecial
aesofagal.

12
d. Pola nutrisi: Yang perlu dikaji pada bayi dengan BBLR gangguan absorbsi
gastrointentinal, muntah aspirasi, kelemahan menghisap sehingga perlu
diberikan cairan parentral atau personde sesuai dengan kondisi bayi untuk
mencukupi kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga untuk mengkoreksi
dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi disamping untuk pemberian obat
intravena.
e. Pola eliminasi: Yang perlu dikaji pada neonatus adalah BAB : frekwensi,
jumlah, konsistensi. BAK : frekwensi, jumlah
f. Latar belakang sosial budaya: Kebudayaan yang berpengaruh terhadap BBLR
kebiasaan ibu merokok, ketergantungan obat-obatan tertentu terutama jenis
psikotropikaKebiasaan ibu mengkonsumsi minuman beralkohol, kebiasaan ibu
melakukan diet ketat atau pantang makanan tertentu.
g. Hubungan psikologis: Sebaiknya segera setelah bayi baru lahir dilakukan rawat
gabung dengan ibu jika kondisi bayi memungkinkan. Hal ini berguna sekali
dimana bayi akan mendapatkan kasih sayang dan perhatian serta dapat
mempererat hubungan psikologis antara ibu dan bayi. Lain halnya dengan
BBLR karena memerlukan perawatan yang intensif
h. Keadaan umum : pada neonates dengan BBLR keadaannya lemah dan hanya
merintih.kesadaran neonates dapat dilihat dari responnya terhadap rangsangan.
Adanya BB yang stabil, panjang badan sesuai dengan usianya tidak ada
pembesaran lingkar kepala dapat menunjukan kondisi neonatos yang baik.
i. Tanda-tanda vital : neonates post asfiksia berat kondisi akan baik apabila
penanganan asfiksia benar, tepat dan cepat. Suhu normal pada tubuh bayi n (36
C-37,5C), nadi normal antara (120-140 x/m), untuk respirasi normal pada bayi
(40-60 x/m), sering pada bayi post asfiksia berat respirasi sering tidak teratur.
j. Kulit : warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstremitas berwarna biru, pada
bayi preterm terdapat lanugo dan verniks.
k. Kepala : kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom,
ubun-ubun besar cekung atau cembung kemungkinan adanya peningkatan
tekanan intrakranial.

13
l. Mata : warna conjungtiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding
conjungtiva, warna sklera tidak kuning, pupil menunjukan refleksi terhadap
cahaya.
m. Hidung : terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lender.
n. Mulut : bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak.
o. Telinga : perhatiakan kebersihannya dan adanya kelainan.
p. Leher : perhatikan keberhasilannya karena leher neonates pendek.
q. Thorak : bentuk simetris,terdapat tarikan intercostals,perhatikan suara
wheezing dan ronchi,frekwensi bunyi jantung lebih dari 100x/m.
r. Abdomen : bentuk silindris,hepar bayi terletak 1-2 cm dibawah ascus costae
pada garis papilla mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites
atau tumor, perut cekung adanya hernia diafragma,bising usus timbul 1-2 jam
setelah masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI tract belum
sempurna.
s. Umbilicus : tali pusat layu, perhatikan ada perdarahan atau tidak adanya tanda-
tanda infeksi pada tali pusat.
t. Genetalia : pada neonates aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak
muara uretra pada neonates laki-laki, neonates perempuan lihat labia mayir dan
labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan.
u. Anus : perhatikan adanya darah dalam tinja,frekwensi buang air besar serta
warna dari feces.
v. Ekstremitas : warna biru,gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah
tulang atau adanya kelumpuhan syraf atau keadaan jari-jari tangan serta
jumlahnya.
w. Reflex : pada neonates preterm post asfiksia berat rflek moro dan sucking
lemah. Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan
syaraf pusat atau adanya patah tulang.

14
B. Diagnosa Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif b/d imaturitas organ pernafasan
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d obstruksi jalan nafas oleh penumpukan
lendir, reflek batuk
3. Risiko ketidakseimbangan temperatur tubuh b/d BBLR, usia kehamilan kurang,
paparan lingkungan dingin/panas.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan
ingest/digest/absorb
5. Ketidakefektifan pola minum bayi b/d prematuritas
6. Hipotermi b/d paparan lingkungan dingin
7. Resiko infeksi b/d ketidakadekuatan system kekebalan tubuh
8. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi penyakit bayinya

C. INTERVENSI
No Diagnosa Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
1 Pola nafas tidak efektif NOC NIC :
b/d imaturitas organ-    Respiratory status : Airway Management
pernafasan Ventilation -    Buka jalan nafas, guanakan
-    Respiratory status : Airway teknik chin lift atau jaw thrust
Definisi : Pertukaran patency bila perlu
udara inspirasi dan/atau-    Vital sign Status -    Posisikan pasien untuk
ekspirasi tidak adekuat Kriteria Hasil : memaksimalkan ventilasi
Batasan karakteristik: -    Mendemonstrasikan batuk -    Identifikasi pasien perlunya
-    Penurunan tekanan efektif dan suara nafas pemasangan alat jalan nafas
inspirasi/ekspirasi yang bersih, tidak ada buatan
-    Penurunan pertukaran sianosis dan dyspneu -    Pasang mayo bila perlu
udara per menit (mampu mengeluarkan -    Lakukan fisioterapi dada jika
-    Menggunakan otot sputum, mampu bernafas perlu
pernafasan tambahan dengan mudah, tidak ada -    Keluarkan sekret dengan batuk
-    Nasal flaring pursed lips) atau suction
-    Dyspnea -    Menunjukkan jalan nafas -    Auskultasi suara nafas, catat
-    Orthopnea yang paten (klien tidak adanya suara tambahan
-    Perubahan merasa tercekik, irama -    Lakukan suction pada mayo
penyimpangan dada nafas, frekuensi pernafasan -    Berikan bronkodilator bila perlu
-    Nafas pendek dalam rentang normal, -    Berikan pelembab udara Kassa
-    Assumption of 3-point tidak ada suara nafas basah NaCl Lembab

15
position abnormal) -    Atur intake untuk cairan
-    Pernafasan pursed-lip -    Tanda Tanda vital dalam mengoptimalkan keseimbangan.
-    Tahap ekspirasi rentang normal (tekanan -    Monitor respirasi dan status O2
berlangsung sangat lama darah, nadi, pernafasan) Oxygen Therapy
-    Peningkatan diameter -    Bersihkan mulut, hidung dan
anterior-posterior secret trakea
-    Pernafasan rata- -    Pertahankan jalan nafas yang
rata/minimal: paten
Bayi : < 25 atau > 60 -    Atur peralatan oksigenasi
Usia 1-4 : < 20 atau > 30 -    Monitor aliran oksigen
Usia 5-14 : < 14 atau > 25 -    Pertahankan posisi pasien
Usia > 14 : < 11 atau > 24 -    Onservasi adanya tanda tanda
-    Kedalaman pernafasan hipoventilasi
Dewasa volume tidalnya -    Monitor adanya kecemasan
500 ml saat istirahat pasien terhadap oksigenasi
Bayi volume tidalnya 6-8 Vital sign Monitoring
ml/Kg -    Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
-    Timing rasio -    Catat adanya fluktuasi tekanan
-    Penurunan kapasitas vital darah
Faktor yang -    Monitor VS saat pasien
berhubungan : berbaring, duduk, atau berdiri
-    Hiperventilasi -    Auskultasi TD pada kedua
-    Deformitas tulang lengan dan bandingkan
-    Kelainan bentuk dinding -    Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
dada selama, dan setelah aktivitas
-    Penurunan -    Monitor kualitas dari nadi
energi/kelelahan -    Monitor frekuensi dan irama
-    Perusakan/pelemahan pernapasan
muskulo-skeletal -    Monitor suara paru
-    Obesitas -    Monitor pola pernapasan
-    Posisi tubuh abnormal
-    Kelelahan otot -    Monitor suhu, warna, dan
pernafasan kelembaban kulit
-    Hipoventilasi sindrom -    Monitor sianosis perifer
-    Nyeri -    Monitor adanya cushing triad
-    Kecemasan (tekanan nadi yang melebar,
-    Disfungsi bradikardi, peningkatan sistolik)
Neuromuskuler -    Identifikasi penyebab dari
-    Kerusakan perubahan vital sign
persepsi/kognitif

16
-    Perlukaan pada jaringan
syaraf tulang belakang
-    Imaturitas Neurologis

2 Bersihan jalan nafas tidak NOC: NIC :


efektif b/d obstruksi jalan -   Respiratory status : Airway Suction
nafas oleh penumpukan Ventilation -   Auskultasi suara nafas sebelum
lendir, reflek batuk. -   Respiratory status : dan sesudah suctioning.
Airway patency -   Informasikan pada klien dan
Definisi : -   Aspiration Control keluarga tentang suctioning
Ketidakmampuan untuk Kriteria Hasil : -   Minta klien nafas dalam
membersihkan sekresi -   Mendemonstrasikan batuk sebelum suction dilakukan.
atau obstruksi dari saluran efektif dan suara nafas -   Berikan O2 dengan
pernafasan untuk yang bersih, tidak ada menggunakan nasal untuk
mempertahankan sianosis dan dyspneu memfasilitasi suksion
kebersihan jalan nafas. (mampu mengeluarkan nasotrakeal
Batasan Karakteristik: sputum, mampu bernafas -   Gunakan alat yang steril sitiap
-    Dispneu, Penurunan dengan mudah, tidak ada melakukan tindakan
suara nafas pursed lips) -   Anjurkan pasien untuk istirahat
-    Orthopneu -   Menunjukkan jalan nafas dan napas dalam setelah kateter
-    Cyanosis yang paten (klien tidak dikeluarkan dari nasotrakeal
-    Kelainan suara nafas merasa tercekik, irama -   Monitor status oksigen pasien
(rales, wheezing) nafas, frekuensi pernafasan -   Ajarkan keluarga bagaimana
-    Kesulitan berbicara dalam rentang normal, cara melakukan suksion
-    Batuk, tidak efekotif atau tidak ada suara nafas -   Hentikan suksion dan berikan
tidak ada abnormal) oksigen apabila pasien
-    Mata melebar -   Mampu menunjukkan bradikardi,
-    Produksi sputum mengidentifikasikan dan peningkatan saturasi O2, dll.
-    Gelisah mencegah factor yang Airway Management
-    Perubahan frekuensi dan dapat menghambat jalan -   Buka jalan nafas, guanakan
irama nafas nafas teknik chin lift atau jaw thrust
Faktor-faktor yang bila perlu
berhubungan: -   Posisikan pasien untuk
-    Lingkungan : merokok, memaksimalkan ventilasi
menghirup asap rokok, -   Identifikasi pasien perlunya
perokok pasif-POK, pemasangan alat jalan nafas
infeksi buatan
-    Fisiologis : disfungsi -   Pasang mayo bila perlu
neuromuskular, -   Lakukan fisioterapi dada jika
hiperplasia dinding perlu
bronkus, alergi jalan -   Keluarkan sekret dengan batuk
17
nafas, asma. atau suction
-    Obstruksi jalan nafas : -   Auskultasi suara nafas, catat
spasme jalan nafas, adanya suara tambahan
sekresi tertahan, -   Lakukan suction pada mayo
banyaknya mukus, -   Kolaborasikan pemberian
adanya jalan nafas bronkodilator bila perlu
buatan, sekresi bronkus, -   Berikan pelembab udara Kassa
adanya eksudat di basah NaCl Lembab
alveolus, adanya benda -   Atur intake untuk cairan
asing dijalan nafas. mengoptimalkan keseimbangan.
-   Monitor respirasi dan status O2

3 Risiko NOC: NIC :


ketidakseimbangan   Hydration Temperature Regulation
temperatur tubuh b/d   Adherence Behavior (pengaturan suhu)
BBLR, usia kehamilan   Immune Status   Monitor suhu minimal tiap 2
kurang, paparan  Infection status jam
lingkungan dingin/panas   Risk control   Rencanakan monitoring suhu
  Risk detection secara kontinyu
Definisi : Risiko   Monitor TD, nadi, dan RR
kegagalan   Monitor warna dan suhu kulit
mempertahankan suhu   Monitor tanda-tanda hipertermi
tubuh dalam batas dan hipotermi
normal.   Tingkatkan intake cairan dan
Faktor factor resiko: nutrisi
-   Perubahan metabolisme
  Selimuti pasien untuk mencegah
dasar
hilangnya kehangatan tubuh
-   Penyakit atau trauma   Ajarkan pada pasien cara
yang mempengaruhi mencegah keletihan akibat panas
pengaturan suhu   Diskusikan tentang pentingnya
-   Pengobatan pengobatan pengaturan suhu dan
yang menyebabkan kemungkinan efek negatif dari
vasokonstriksi dan kedinginan
vasodilatasi   Beritahukan tentang indikasi
-   Pakaian yang tidak sesuai terjadinya keletihan dan
dengan suhu lingkungan penanganan emergency yang
diperlukan
-   Ketidakaktifan atau   Ajarkan indikasi dari hipotermi
aktivitas berat
dan penanganan yang diperlukan
-   Dehidrasi   Berikan anti piretik jika perlu

18
-   Pemberian obat penenang
-   Paparan dingin atau
hangat/lingkungan yang
panas
4 Ketidakseimbangan NOC: NIC :
nutrisi kurang dari -   Nutritional Status : Nutrition Management
kebutuhan tubuh b/d -   Nutritional Status : food -    Kaji adanya alergi makanan
ketidakmampuan and Fluid Intake -    Kolaborasi dengan ahli gizi
ingest/digest/absorb -   Nutritional Status : untuk menentukan jumlah kalori
nutrient Intake dan nutrisi yang dibutuhkan
Definisi : Intake nutrisi -   Weight control pasien
tidak cukup untuk Kriteria Hasil : -    Anjurkan pasien untuk
keperluan metabolisme -   Adanya peningkatan berat meningkatkan intake Fe
tubuh. badan sesuai dengan tujuan -    Anjurkan pasien untuk
Batasan karakteristik : -   Berat badan ideal sesuai meningkatkan protein dan
-    Berat badan 20 % atau dengan tinggi badan vitamin C
lebih di bawah ideal -   Mampu mengidentifikasi -    Berikan substansi gula
-    Dilaporkan adanya intake kebutuhan nutrisi -    Yakinkan diet yang dimakan
makanan yang kurang -   Tidak ada tanda tanda mengandung tinggi serat untuk
dari RDA (Recomended malnutrisi mencegah konstipasi
Daily Allowance) -   Menunjukkan peningkatan -    Berikan makanan yang terpilih (
-    Membran mukosa dan fungsi pengecapan dari sudah dikonsultasikan dengan
konjungtiva pucat menelan ahli gizi)
-    Kelemahan otot yang -   Tidak terjadi penurunan -    Ajarkan pasien bagaimana
digunakan untuk berat badan yang berarti membuat catatan makanan
menelan/mengunyah harian.
-    Luka, inflamasi pada -    Monitor jumlah nutrisi dan
rongga mulut kandungan kalori
-    Mudah merasa kenyang, -    Berikan informasi tentang
sesaat setelah mengunyah kebutuhan nutrisi
makanan -    Kaji kemampuan pasien untuk
-    Dilaporkan atau fakta mendapatkan nutrisi yang
adanya kekurangan dibutuhkan
makanan Nutrition Monitoring
-    Dilaporkan adanya -    BB pasien dalam batas normal
perubahan sensasi rasa -    Monitor adanya penurunan berat
-    Perasaan badan
ketidakmampuan untuk -    Monitor tipe dan jumlah
mengunyah makanan aktivitas yang biasa dilakukan
-    Miskonsepsi -    Monitor interaksi anak atau

19
-    Kehilangan BB dengan orangtua selama makan
makanan cukup -    Monitor lingkungan selama
-    Keengganan untuk makan
makan -    Jadwalkan pengobatan  dan
-    Kram pada abdomen tindakan tidak selama jam
-    Tonus otot jelek makan
-    Nyeri abdominal dengan -    Monitor kulit kering dan
atau tanpa patologi perubahan pigmentasi
-    Kurang berminat -    Monitor turgor kulit
terhadap makanan -    Monitor kekeringan, rambut
-    Pembuluh darah kapiler kusam, dan mudah patah
mulai rapuh -    Monitor mual dan muntah
-    Diare dan atau -    Monitor kadar albumin, total
steatorrhea protein, Hb, dan kadar Ht
-    Kehilangan rambut yang -    Monitor makanan kesukaan
cukup banyak (rontok) -    Monitor pertumbuhan dan
-    Suara usus hiperaktif perkembangan
-    Kurangnya informasi, -    Monitor pucat, kemerahan, dan
misinformasi kekeringan jaringan konjungtiva
Faktor-faktor yg -    Monitor kalori dan intake
berhubungan: nuntrisi
Ketidakmampuan -    Catat adanya edema, hiperemik,
pemasukan atau hipertonik papila lidah dan
mencerna makanan atau cavitas oral.
mengabsorpsi zat-zat gizi -    Catat jika lidah berwarna
berhubungan dengan magenta, scarlet
faktor biologis, psikologis
atau ekonomi.

5 Ketidakefektifan pola NOC : NIC :


minum bayi b/d -   Breastfeeding Breastfeeding assistance
prematuritas Estabilshment : infant -    Fasilitasi kontak ibu dengan
-   Knowledge : breastfeeding bayi sawal mungkin (maksimal
-   Breastfeeding 2 jam setelah lahir)
Maintenance -    Monitor kemampuan bayi untuk
Kriteria Hasil : menghisap
-   Klien dapat menyusui -    Dorong orang tua untuk
dengan efektif meminta perawat untuk
-   Memverbalisasikan tehnik menemani saat menyusui
untk mengatasi masalah sebanyak 8-10 kali/hari
menyusui -    Sediakan  kenyamanan dan
20
-   Bayi menandakan privasi selama menyusui
kepuasan menyusu -    Monitor kemampuan bayi
-   Ibu menunjukkan harga untukmenggapai putting
diri yang positif dengan -    Dorong ibu untuk tidak
menyusui membatasi bayi menyusu
-    Monitor integritas kulit sekitar
putting
-    Instruksikan perawatan putting
untukmencegah lecet
-    Diskusikan penggunaan pompa
ASI kalau bayi tidakmampu
menyusu
-    Monitor peningkatan pengisian
ASI
-    Jelaskan penggunaan susu
formula hanya jika diperlukan
-    Instruksikan ibu untuk makan
makanan bergizi selama
menyusui
-    Dorong ibu untuk minum jika
sudah merasa haus
-    Dorong ibu untuk menghindari
penggunaan rokok danPil KB
selama menyusui
-    Anjurkan ibu untuk memakai
Bra yang nyaman, terbuat dari
cootn dan menyokong payudara
-    Dorong ibu untukmelanjutkan
laktasi setelah pulang
bekerja/sekolah

6 Hipotermi b/d paparan NOC : NIC :


lingkungan dingin -   Thermoregulation Temperature regulation
-   Thermoregulation : -   Monitor suhu minimal tiap 2
neonate jam
Kriteria Hasil: -   Rencanakan monitoring suhu
-   Suhu tubuh dalam rentang secara kontinyu
normal -   Monitor TD, nadi, dan RR
-   Nadi dan RR dalam -   Monitor warna dan suhu kulit
rentang normal -   Monitor tanda-tanda hipertermi
dan hipotermi
21
-   Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
-   Selimuti pasien untuk mencegah
hilangnya kehangatan tubuh
-   Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan akibat panas
-   Diskusikan tentang pentingnya
pengaturan suhu dan
kemungkinan efek negatif dari
kedinginan
-   Beritahukan tentang indikasi
terjadinya keletihan dan
penanganan emergency yang
diperlukan
-   Ajarkan indikasi dari hipotermi
dan penanganan yang diperlukan
-   Berikan anti piretik jika perlu
Vital sign Monitoring
-   Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
-   Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
-   Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau berdiri
-   Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
-   Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
selama, dan setelah aktivitas
-   Monitor kualitas dari nadi
-   Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
-   Monitor suara paru
-   Monitor pola pernapasan
abnormal
-   Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
-   Monitor sianosis perifer
-   Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
-   Identifikasi penyebab dari

22
perubahan vital sign

7 Resiko infeksi b/d NOC : NIC :


ketidakadekuatan system -   Immune Status Infection Control (Kontrol
kekebalan tubuh. -   Knowledge : Infection infeksi)
control -    Bersihkan lingkungan setelah
Definisi : Peningkatan -   Risk control dipakai pasien lain
resiko masuknya Kriteria Hasil : -    Pertahankan teknik isolasi
organisme patogen -   Klien bebas dari tanda dan -    Batasi pengunjung bila perlu
Faktor-faktor resiko : gejala infeksi -    Instruksikan pada pengunjung
-   Prosedur Infasif -   Menunjukkan kemampuan untuk mencuci tangan saat
-   Ketidakcukupan untuk mencegah timbulnya berkunjung dan setelah
pengetahuan untuk infeksi berkunjung meninggalkan
menghindari paparan -   Jumlah leukosit dalam pasien
patogen batas normal -    Gunakan sabun antimikrobia
-   Trauma -   Menunjukkan perilaku untuk cuci tangan
-   Kerusakan jaringan dan hidup sehat -    Cuci tangan setiap sebelum dan
peningkatan paparan sesudah tindakan keperawtan
lingkungan -    Gunakan baju, sarung tangan
-   Ruptur membran amnion sebagai alat pelindung
-   Agen farmasi -    Pertahankan lingkungan aseptik
(imunosupresan) selama pemasangan alat
-   Malnutrisi -    Ganti letak IV perifer dan line
-   Peningkatan paparan central dan dressing sesuai
lingkungan patogen dengan petunjuk umum
-   Imonusupresi -    Gunakan kateter intermiten
-   Ketidakadekuatan imum untuk menurunkan infeksi
buatan kandung kencing
-   Tidak adekuat pertahanan -    Tingktkan intake nutrisi
sekunder (penurunan Hb, -    Berikan terapi antibiotik bila
Leukopenia, penekanan perlu
respon inflamasi) Infection Protection (proteksi
-   Tidak adekuat pertahanan terhadap infeksi)
tubuh primer (kulit tidak -    Monitor tanda dan gejala infeksi
utuh, trauma jaringan, sistemik dan lokal
penurunan kerja silia, -    Monitor hitung granulosit,
cairan tubuh statis, WBC
perubahan sekresi pH, -    Monitor kerentanan terhadap
perubahan peristaltik) infeksi
-   Penyakit kronik -    Batasi pengunjung
-    Saring pengunjung terhadap
23
penyakit menular
-    Partahankan teknik aspesis pada
pasien yang beresiko
-    Pertahankan teknik isolasi k/p
-    Berikan perawatan kuliat pada
area epidema
-    Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
-    Ispeksi kondisi luka / insisi
bedah
-    Dorong masukkan nutrisi yang
cukup
-    Dorong masukan cairan
-    Dorong istirahat
-    Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai resep
-    Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
-    Ajarkan cara menghindari
infeksi
-    Laporkan kecurigaan infeksi
-    Laporkan kultur positif

8 Kecemasan orang NOC : NIC :


tua berhubungan dengan -   Kontrol kecemasan Anxiety Reduction
kondisi penyakit bayinya -   Koping (penurunan kecemasan)
kriteria hasil: -   Gunakan pendekatan yang
Orang tua atau keluarga menenangkan
mengekspresikan perasaan -   Nyatakan dengan jelas harapan
dan keprihatinan mengenai terhadap pelaku pasien
bayi dan prognosis serta -   Jelaskan semua prosedur dan
memperlihatkan apa yang dirasakan selama
pemahaman dan prosedur
keterlibatan dalam asuhan. -   Temani pasien untuk
memberikan keamanan dan
mengurangi takut
-   Berikan informasi faktual
mengenai diagnosis, tindakan
prognosis
-   Libatkan keluarga untuk
24
mendampingi klien
-   Instruksikan pada pasien untuk
menggunakan tehnik relaksasi
-   Dengarkan dengan penuh
perhatian
-   Identifikasi tingkat kecemasan
-   Bantu pasien mengenal situasi
yang menimbulkan kecemasan
-   Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
-   Kelola pemberian obat anti
cemas

BAB III
PEMBAHASAN

Asuhan Keperawatan Pada By. S dengan Bayi Berat Badan Rendah (BBLR) diruangan
Perinatologi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung

25
3.1 Pengkajian Keperawatan
1. Identitas
a. Identitas Klien :
Nama : Bayi Ny. S
Tanggal Lahir : 23 Desember 2019
Umur : 30 hari
Jenis Kelamin : perempuam
Berat Badan Lahir : 1290 gram
Panjang Badan Lahir : 39 cm
Tanggal Masuk RS : Desember 2019
Tanggal Dikaji : 25 Januari 2020
Diagnosa Medis : BBLR
No.Medrek : 087322
b. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn.R
Umur : 30 Tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl, adipatiukur kp. Balgede rt 08/11 baleendah, bandung
Hubungan dengan Klien : Ayah Kandung

2. Aalasan Masukk Rumah Sakit


Bayi lahir dengan section saesarea lahir dengan usia keahiran 32 minggu dengan berat
badan bayi 1290 gram

3. Keluhan Utama
Ibu bayi mengeluh bayi nya saat lahir memiliki berat badan rendah yaitu 1290 gram

4. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien di rawat di incubator, tangisan lemah, gerakan lemah, bibir kering tidak ada
kejang , BAB dan BAK positif.

b. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran


1) Prenatal

26
Bayi Ny.S pada saat dalam kandungan sering melalukan pemeriksaan rutin
kehamilanya ke bidan dan dokter kandungan, tidak ada masalah saat masa
kehamilan janin sehat, namun dokter kandungan mengatakan kemungkinan
bayinya akan kecil.
2) Natal
Pada saat mau melahirkan Ny.S melahirkan diusia kehamilan 32 minggu karena
Ny.S mempunyai riwayat hipertensi saat hamil jadi harus di lakukan section
caesarea dengan berat badan bayi 1290 gram
3) Post Natal
Ny.S mengatakan saat lahir anaknya saat lahir tidak langsung menangis APGAR
score 1 : 7 5 : 4
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Menurut Ny. S dikeluarganya tidak ada yang mengalami atau mempunyai riwayat
dengan lahir berat badan rendah, baru Ny. S baru pertama kalinya mempunyai anak
dengan bayi lahir rendah.
d. Kebutuhan Dasar
a. Kebutuhan Nutrisi
By S diberikan ASI sesuai dengan dosis kebutuhanya sesuai dengan berat badan
bayi saat dikaji diberikan nutrisi sebanyak 45 cc melalui melalui OGT setiap 4
jam sekali klien tidak terpasang infus.

b. Kebutuhan Istirahat Tidur


Bayi S tampak berbaring tidur dalam incubator, bayi tampak tertidur dan istirahat
dengan nyaman di dalam incubator yang suhunya telah disesuaikan sehingga bayi
tampak nyaman.
c. Kebutuhan Personal Hygiene
By S dimandikan sehari 1 kali pada pagi hari, selain itu juga mengganti
pampersnya jika penuh dengan BAB atau BAK .
d. Kebutuhan Eliminasi
By L tampak sering BAB dan BAK, dengan warna feses putih kekuningan dengan
konsistensi lembek dan bergerindil.

5. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Umum
 Keadaan Umum : Bayi dalam inkubator dalam kondisi mata tertutup dalam
kesadaran yang compomentis

27
 Tanda – Tanda Vital
Nadi : 121x/menit
Respirasi : 69x/menit
Suhu : 35,5 C
b. Pemeriksaan Antropometri
 Berat Badan : 1666 gram
 Panjang Badan : 43 cm
 Lingkar Kepala : 11 cm
 Lingkar Dada : 23 cm
 Lingkar Lengan : 7 cm
c. Pemeriksaan Head To Toe
 Reflex
Bayi memiliki reflek moro yang baik, reflek menggenggam baik, dan reflek
menghisap lemah
 Kepala
Fontanel lunak, tidak cekung, tidak menonjol kulit kepala tampak bersih,
pertumbuhan rambut sedikit warna rambut merata berwarna hitam tidak tampak
kemerahan pada bagian kulit kepala.
 Mata
Mata tampak simetris, konjungtiva tampak sedikit anemis dan tampak tidak
terdapat kemerahan, refleks pupil mengecil ketika diberikan rangsang cahaya.
Terlihat skrela berwarna putih
 Hidung
Hidung tampak simetris, tidak terdapat polip, tidak tampak cuping hidung
 Mulut dan Bibir
Bentuk mulut dan bibir simetris tidak terdapat kemerahan, mulut tidak tampak
sianosis, mulut tampak kering Tampak terpasang OGT (Oral Gastric Tube).
Palatum tampak bersih tidak terdapat bercak putih pada area palatum dan tidak
terdapat refleks rooting (mencari putting susu) ketika diberi rangsangan pada area
mulut atau bibir, dan ada refleks sucking (menghisap), ketika di berikan
rangsangan tampak reflek swolling (menenlan) sedikit sedikit saat diberikan ASI
melalui sonde.
 Telinga

28
Telinga tampak simetris tidak terdapat kelaianan bentuk dan ukuran, telinga
tampak bersih dengan adanya sedikit serumen. Tidak terdapat gangguan
pendengaran apapun.
 Leher
Leher tampak normal tanpa adanya pembesaran kelenjar tiroid maupun kelenjar
getah bening, leher tampak mampu bergerak bebas tanpa hambatan dan tampak
tidak terjadi peningkatan jugularis.
 Dada
Dada tampak simetris dengan pergerakan yang sama, tidak terdengar adanya suara
nafas tambahan terdapat retraksi dada terdapat penggunaan otot bantu pernafasan
puting susu berukuran kecil dan tampak simetris tanpa adanya pengeluaran.
 Abdomen
Bentuk perut simetris dan tampak bulat mendatar bergerak serentak dengan
pergerakan dada saat bernafas. Tidak terdapat distensi abdomen, bising usus (+)
 Genitalia dan Anus
 Bahu,Lengan dan Tangan
Kedua tangan tampak sama panjang dengan jumlah jari yang komplit, tangan
tampak terbuka dan kuku tangan tampak bersih dan sedikit Panjang tampak
refleks moro bayi menggerakan jari – jari dan melebarkan jarinya kemudian
adanya juga refleks gaspring (menggenggam) ketika diberikan sentuhan pada
tangan nya tampak menggenggam tangan. Pengecekan CRT < 3 detik
 Kulit
Kulit tampak berwarna kemerahan dan mengkilap sedikit keriput tidak terdapat
pembengkakan dan tidak terdapat bercak tanda lahir. Terdapat adanya lanugo.
 Tungkai dan Kaki
Tungkai dan kaki tampak simetris dengan panjang kaki yang sama panjang, kedua
tungkai tampak dapat bergerak dengan bebas tanpa hambatan apapun selain itu
tampak terdapat refleks babinski ketika ditekan area dasar kaki bayi tampak
menggerakan kaki ke atas dengan jari –jari membuka ektremitas bawah teraba
dingin dingin .
 Spinal dan Punggung
Punggung tampak simetris tanpa adanya luka dan kelainan tulang apapun, tidak
terdapat kemerahan pada area punggung.

d. Pemeriksaan Perkembangan

29
e. Observasi Tanda-Tanda Vital
Sabtu 25 januari 2020
Jam Suhu Respirasi Nadi SpO
Jam 07.00 36,1 39 119 96
Jam 08.00 36,4 32 114 98
Jam 09.00 35,5 69 121 95
Jam 10.00 36,1 40 138 99
Jam 11.00 36,4 42 159 94
Jam 12.00 36,8 44 159 90
Jam 13.00 36,1 39 135 98
Jam 14.00 36,3 42 140 99

Observasi Tanda-Tanda Vital


Minggu 26 Januari 2020
Jam Suhu Respirasi Nadi SpO
Jam 07.00 36,0 50 122 96

30
Jam 08.00 36,4 69 128 98
Jam 09.00 35,8 66 128 95
Jam 10.00 36,1 62 155 99
Jam 11.00 36,4 67 148 94
Jam 12.00 36,2 65 138 90
Jam 13.00 36,0 59 148 98

6. Pemeriksaan Penunjang
Tangga 06/01/2020 jam 12.04

Jenis pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Interprestasi


Hemoglobin 15,4 g/dL 10,3–24,6 g/dL Normal
PCV 45% 50-70 % Kurang
Eritrosit 4,20 juta/ul 3,2-6,8 juta/ul Normal
MCV 107 1L 98-122 L Normal
MCH 37 Pg 33-41 Pg Normal
MCHC 34 gr/dl 31-35 gr/dl Normal
Leukosit 12.500 / mm2 5.000-38.000 103/ul Normal
Trombosit 440.000manual mm2 150.000-440.0000 Normal
103/ul
GD sewaktu 60 mg% 100-140mg/dl Kurang
Bilirubin total 3,11 mg% 0,3-1,0 % Tinggi
Bilirubin direct 2,14 mg% 0-0,4 mg% Tinggi
Bilirubin indirect 0,97 mg% 0,3-1,9 % Normal
Natrium 133 mEq/L 135-145 mEq/L Normal
Kalium 4,9 mEq/L 3,5-5 Meq/L Normal
Clorida 104 mEq/L 98-108 Normal
Calcium 9,6 mEq/L 8 Tinggi

31
3.2 Analisa Data

Data Etiologi Masalah


DS : - Faktor ibu, plasenta, janin Hipotermi
DO :
- Nadi :121x/menit BBLR
- Respirasi :69x/menit
- Suhu : 35,5 C Jaringan lemak subkutan
- BB : 1666 gram lebih tipis
- Ektremitas bawah
teraba dingin Kehilangan panas melalui
kulit

Hipotermi

DS : - Faktor ibu, plasenta, janin Ketidakseimbangan nutrisi


DO : kurang dari kebutuhan tubuh
- Bayi terpasang OGT BBLR
- Bayi tidak dapat
menghisap putting Prematuritas
susu ibunya
- BB : 1666 gram Fungsi organ belum baik
- Bibir tampak kering
- Pemberian OGT 45 Reflek menelan belum
cc sempurna

Ketidak seimbangan nutrisi


kurang dari kebutuhan tubuh

3.3 Diagnosa Keperawatan

32
1. Hipotermi bd imaturitas termoregulasi
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
prematuritas ketidakmampuan mengabsorbsi

3.4 Intervensi

No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


1. Hipotermi Setelah dilakukan 1. Monitor suhu 1. Observasi keadaan
tindakan 3x24 jam minimal 2 jam suhu
diharapkan hipotermi 2. Monitor warna 2. Mengetahui tandanya
klien teratasi dengan dan suhu kulit infeksi
kriteria hasil : 3. Tingkatkan intake 3. Meningkatkan
1. Suhu tubuh 36,5- cairan dan nutrisi kebutuhan tubuh
37,5 C 4. Berikan 4. Untuk menurunkan
2. Akral hangat antipiretik jika demam pada pasien
perlu Pasang Menghangatkan suhu
inkubator tubuh pasien agar tetap
optimal
2. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan 1. Lakukan 1. Deteksi adanya
nutrisi kurang dari tindakan keperawatan observasi BAB kelainan pada eliminasi
kebutuhan selama 3x24 jam dan BAK jumlah, bayi
kebutuhan nutrisi klien frekuensi serta 2. Menentukan derajat
terpenuhi dengan konsistensi. dehidrasi dari turgor
kriteria hasil 2. Monitor turgor dan mukosa mulut
- Bayi dapat dan mukosa mulut 3. Mengetahui
minum personde 3. Monitor intake keseimbangan cairan
- Berat badan tidak dan output tubuh
turun sampai 4. Beri ASI/PASI 4. Kebutuhan nutrisi
10% sesuai kebutuhan terpenuhi secara
- Suhu tubuh 5. Lakukan kontrol adekuat
dalam batas berat badan setiap 5. Penambahan dan
normal (36,5- hari penurunan dapat di
37,5) monitor

3.5 Implementasi

33
Hari / Tgl Jam Tindakan DP Paraf
Sabtu, 25 07.10 1. Memonitor suhu setiap 2 jam sekali 1
januari 2020 Hasil : 36,1 C
09.00 35,5 C
11.00 36,4 C
13.00 36,3 C
08.00 2. Pantau mesin incubator pasien 1
Hasil : mesin incubator menyala dengan pemberian
suhu sesuai dengan penyetelan.
09.00 3. Memberikan ASI sesuai dengan kebutuhan bayi 2
& Hasil : ASI diberiak dengan sonde sebanyak 45 cc
13.00 4. Menimbang BB bayi
10.00 Hasil : 1666 gram 2
5. Mengobservasi TTV
09.00 Hasil : S : 35,5 C R : 69x/mnt, N : 121x/mnt, SPO :
95 2
6. Memberikan nutrisi dengan adekuat
09.00 Hasil : nutrisi dapat diserap dengan baik 45 cc oleh 2
& bayi dan habis
13.00

Minggu 26 1. Memonitor suhu setiap 2 jam sekali 1


januari 2020 07.00 Hasil : 36,0 C
09.00 35,8 C
11.00 36,4 C
13.00 36,0 C
08.00 2. Pantau mesin incubator pasien 1
Hasil : mesin incubator menyala dengan pemberian
suhu sesuai dengan penyetelan.
09.00 3. Memberikan ASI sesuai dengan kebutuhan bayi 2
& Hasil : ASI diberiak dengan sonde sebanyak 45 cc
13.00 4. Menimbang BB bayi
10.00 Hasil : 1666 gram 2
5. Mengobservasi TTV

34
09.00 Hasil : S : 35,8 C R : 66x/mnt, N : 128x/mnt, SPO :
95 2
6. Memberikan nutrisi dengan adekuat
09.00 Hasil : nutrisi dapat diserap dengan baik 45 cc oleh 2
& bayi dan habis
13.00

Senin 27 07.00 1. Memonitor suhu setiap 2 jam sekali 1


januari 2020 09.00 Hasil : 36,5 C
11.00 36,1C
13.00 36,6 C
08.00 36,7 C
2. Pantau mesin incubator pasien 1
Hasil : mesin incubator menyala dengan pemberian
09.00 suhu sesuai dengan penyetelan.
& 3. Memberikan ASI sesuai dengan kebutuhan bayi 2
13.00 Hasil : ASI diberiak dengan sonde sebanyak 45 cc
10.00 4. Menimbang BB bayi
Hasil : 1668 gram 2
09.00 5. Mengobservasi TTV
Hasil : S : 36,5C R : 64x/mnt, N : 130x/mnt, SPO :
2

35
09.00 93
& 6. Memberikan nutrisi dengan adekuat 2
13.00 Hasil : nutrisi dapat diserap dengan baik 45 cc oleh
bayi dan habis

3.6 Evaluasi

Hari / Tgl Dx Catatan Perkembangan Paraf


Senin 27, januari 1 S:
2020 O:
- Bayi tampak meangis dan bergerak gerak
dalam incubator
- Suhu tubuh bayi 36,6 c
- Bayi tampak nyaman dengan suhu dalam
incubator
- Akral hangat

A : - Suhu tubuh bayi L belum teratasi sebagian

P:
- Intervensi dilanjutkan

I:
- Pemasangan incubator masih tetap
dilanjutkan

E:
- Mengobservasi suhu tubuh bayi S minimal
2 jam sekali

R:
Mengidentifkasi hasil suhu tubuh per 2 jam sekali

Senin 27 januari 2 S:
2020 O:
- Bayi mengalami penaikan berat badan

36
- BB bayi 1668 gram

A:
- Nutrisi teratasi sebagian

P:
- intervensi dilanjutkan

I:
- pemberian terapi nutrisi via sonde masih
dilanjutkan dan terus timbang berat badan

E:
- Mengidentifikasi hasil penimbangan berat
badan dan intake yang diberikan kepada
bayi Sgan kebutuhan bayinya

BAB IV
PEMBAHASAN

37
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada bayi Ny. S yang dilaksanakan dari
tanggal 25 Januari 2020, penulis tidak menemukan perbedaan antara konsep teori dengan
praktek yang ditemukan dilapangan, dalam penyusunan ini penulis tidak terlalu banyak
mendapatkan hambatan maupun kesulitan, hal ini disebabkan adanya faktor pendukung
diantaranya, adanya bimbingan dari perawat senior dalam penyusunan asuhan keperawatan
pada bayi Ny. S.
Adapun hal yang menghambat seperti jarangnya kontak dengan keluarga bayi Ny. S dalam
pengumpulan data pada bayi Ny. S, perbedaan yang muncul yaitu sebagai berikut :
4.1 Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara
menyeluruh (Jitowiyono 2012). Penulis terlebih dahulu melakukan pendekatan
teraupetik sekaligus membina hubungan saling percaya dengan keluarga. Dalam
pengkajian didapatkan data obyektif yang dilakukan melalui, observasi pada bayi Ny. S
dengan monitor dengan pemeriksaan fisik klien dan studi dokumentasi dengan melihat
rekam medik bayi Ny. S diruangan. Data subyektif diperoleh melalui keluarga klie
yang datang ke rumah sakit, mencari keterangan dari perawat ruangan, rekam medis,
dan dokumentasi dari tim kesehatan lainnya.
4.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata
maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Jitowiyono 2012). Pada
konsep teori terdapat 8 diagnosa yang biasanya muncul pada bayi dengan berat badan
lahir rendah. Pada proses pengumpulan data kemudian data dikelompokkan dan
dianalisa sehingga muncul masalah keperawatan yang dijadikan diagnosa keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien yaitu :
1. Hipotermi bd imaturitas termoregulasi
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
prematuritas ketidakmampuan mengabsorbsi

4.3 Intervensi Keperawatan


Dalam menyusun intervensi keperawatan, penulis menyesuaikan dengan kondisi klien
saat itu dan didukung oleh jurnal penelitian yang sesuai dengan masalah keperawatan
yang terjadi pada klien. Adapun perencanaan yang dibuat sesuai berdasarkan diagnosa
pada penanganan bayi Ny. S yaitu :

38
1. Hipotermi bd imaturitas termoregulasi
- Monitor suhu minimal 2 jam
- Monitor warna dan suhu kulit
- Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
- Berikan antipiretik jika perlu pasang incubator
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
- Deteksi adanya kelainan pada eliminasi bayi
- Menentukan derajat dehidrasi dan turgor dan mukosa mulut
- Monitor intake dan output
- Beri ASI/PASI sesuai kebutuhan
- Lakukan kontrol berat badan setiap hari.

4.4 Implementasi
Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan
kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan
kesehatan klien (Judha & Nazwar, 2011).
Pelaksanaan asuhan keperawatan ini dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah
dibuat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien. Adapun hal-hal yang
mendukung penulis dalam tahap ini adalah adanya bimbingan dari perawat ruangan
dalam melakukan tindakan keperawatan sesuai rencana yang telah disusun.
4.5 Evaluasi
Tahap evaluasi merupakan tahap akhir dari asuhan keperawatan yang dilakukan
dengan mengacu pada tujuan yang terdapat pada perencanaan,dimana tahap ini berguna
untuk menilai kemajuan atau bahkan kemunduran dari status kesehatan klien setelah
diberikan asuhan keperawatan.

BAB V
PENUTUP

39
5.1 Kesimpulan
BBLR merupakan prediktor tertinggi angka kematian bayi, terutama dalam satu bulan
pertama kehidupan, BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) diartikan sebagai bayi yang lahir
dengan berat badan yang kurang dari 2500 gram. Dalam menyusun asuhan keperawatan
mengenai berat badan lahir rendah, perlu mengkaji secara komperhensif, menyusun
analisa data, merencanakan tindakan keperawatan, melakukan tindakan keperawatan
hingga menyusun evaluasi mengacu pada tujuan yang terdapat pada perencanaan,dimana
tahap ini berguna untuk menilai kemajuan atau bahkan kemunduran dari status kesehatan
klien setelah diberikan asuhan keperawatan.

5.2 Saran
1. Bagi penulis
Meneliti atau melatih penulisan mengenai asuhan keperawatan berat badan lahir
rendah dengan baik dan benar.
2. Bagi Pasien
Dapat menjalani perawatan yang baik dan benar sesuai dengan askep pada bayi dengan
berat badan lahir rendah.
3. Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung
Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman secara umum dalam memberikan
asuhan keperawatan mengenai berat badan lahir rendah.
4. Bagi profesi keperawatan
Untuk menambah wacana dan pengetahuan tentang perkembangan ilmu keperawatan,
terutama kajian asuhan keperawatan pada bayi dengan berat badan lahir rendah.

40
41