Anda di halaman 1dari 32

STUDI LITERATUR REVIEW COVID-19 PADA IBU HAMIL, BAYI DAN BALITA

NAMA : GUSTI RENI ANGGINI

NIM : P07224219019

No Judul Jurnal Tahun Penulis Resume


1 COVID-19 : 16 Maret Dwi Rukma Wabah Corona masih menjadi topik utama di
BAGAIMANA 2020 Santi,SST.,M.K seluruh dunia. Bahkan, sejak di Indonesia ada
PADA IBU HAMIL es yang dinyatakan positif terinfeksi Corona,
DAN BAYINYA? masyarakat kian panik mencari informasi
tentang Corona. para ahli masih mempelajari
pengaruh COVID-19 atau infeksi virus
Corona pada ibu hamil. Namun, diketahui
bahwa adanya perubahan fisiologis pada
sistem imun selama kehamilan dapat membuat
ibu hamil lebih rentan terkena infeksi,
termasuk infeksi virus Corona dan kelompok
ibu hamil lebih berisiko mengalami gejala
penyakit yang berat. Virus yang menyebabkan
COVID-19 berasal dari golongan virus yang
sama dengan virus penyebab severe acut
respiratory syndrome (SARS) dan Middle-
East respiratory syndrome (MERS).
Dilaporkan bahwa, ibu hamil dengan SARS
dan MERS mengalami risiko lebih tinggi
terhadap keguguran dan kelahiran premature.
Hal tersebut sangat dimungkinkan terjadi pada
ibu hamil dengan COVID-19. Melansir Korea
Herald (9/3/2020), terdapat delapan wanita
hamil telah ditempatkan di ruang isolasi
setelah tertular COVID-19 di Daegu dan
Busan. Sementara itu, satu wanita hamil di
Daegu sudah melahirkan dan bayi itu
dinyatakan negatif virus corona. Penularan
utama virus Corona adalah melalui percikan
air liur (droplet infection) pada saat batuk atau
bersin. Tidak ada data dan bukti yang
menyebutkan bahwa penularan virus Corona
melalui ibu ke janin saat kehamilan atau
melahirkan. Menurut WHO, sejauh ini gejala
yang akan dirasakan ibu hamil sama dengan
yang lainnya. Dalam analisis 147 ibu hamil,
hanya ada 8% yang memiliki gejala penyakit
yang parah dan 1% dengan kondisi kritis. Ciri-
ciri awal bila ibu hamil terpapar virus Corona,
antara lain : demam (78%), batuk (44%), nyeri
otot (33%), rasa lemas menyeluruh (22%),
sesak nafas (11%), dan sakit tenggorokan
(22%). Akan lebih dicurigai apabila ada ibu
hamil dengan riwayat bepergian ke daerah
yang terdampak dalam waktu 14 hari terakhir
atau pernah kontak dengan orang yang positif
menderita COVID-19. Oleh sebab itu,
harapannya ibu hamil tidak boleh panik, tetap
tenang dan selalu waspada serta melakukan
upaya pencegahan. Sebagai upaya pencegahan
terhadap paparan virus Corona, ibu hamil
yang sehat perlu melakukan beberapa hal
sebagai berikut :
-Menjaga daya tahan tubuh
Infeksi virus Corona dapat dicegah dengan
daya tahan tubuh yang baik. Supaya daya
tahan tubuh ibu hamil kuat, maka disarankan
untuk mengkonsumsi makanan sehat, seperti
buah, sayur, dan makanan tinggi protein.
Selain itu, tetap konsumsi suplemen atau
multivitamin prenatal sesuai anjuran
dokter/bidan. Olahraga ringan untuk
kehamilan, seperti senam hamil, yoga
kehamilan juga dapat meningkatkan daya
tahan tubuh.
- Melaksanakan perilaku hidup bersih dan
sehat dengan cuci tangan
Membiasakan cuci tangan menggunakan air
dan sabun dapat mencegah infeksi virus
Corona pada ibu hamil. Jika tidak ada air dan
sabun, ibu hamil dapat menggunakan hand
sanitizer. Hand sanitizier dengan kadar
alkohol minimal 60% cukup efektif untuk
membasmi kuman di tangan.
-Menghindari kontak dengan orang yang sakit
dan hindari bepergian ke daerah positif
memiliki kasus COVID-19. Jika diperlukan
pemeriksaan di rumah sakit, ibu hamil
disarankan menggunakan transportasi pribadi.
Pastikan pula mendapatkan prioritas/triage
ketika periksa sebelum tiba rumah sakit.
Perlu diingat bahwa COVID-19 ini bisa
disembuhkan, terbukti dengan banyak kasus
yang sembuh tanpa komplikasi parah,
meskipun penyebarannya sangat cepat dan
sudah meluas ke setiap negara. Hal yang dapat
kita lakukan untuk melindungi diri dan
keluarga tetap sehat adalah selalu menerapkan
pola hidup bersih dan sehat, bahkan nanti
setelah kasus COVID-19 ini terlewati. Serta
membekali diri dengan pengetahuan dan
informasi terbaru terkait COVID-19 yang
akurat dan terpercaya. (JURNAL UIN SUNAN
AMPEL)
2 Studi corona pada 17 April Febriansyah Pandemi virus Corona COVID-19
ibu hamil dengan 2020 mengancam semua orang, tidak terkecuali ibu
gejala ringan yang sedang mengandung. Beberapa riset
menunjukkan bahwa ibu hamil pun punya
risiko yang cukup besar bisa terinfeksi
COVID-19, termasuk dengan gejala ringan.
Center for Desease Control and Prevention
(CDC) mencatat bahwa wanita hamil lebih
rentan terkena semua jenis infeksi pernafasan,
seperti flu. Hal ini di antaranya disebabkan
karena kehamilan mengubah sistem kekebalan
tubuh selain juga mempengaruhi paru-paru
dan jantung. Namun, sejumlah studi terbaru
menunjukkan bahwa sebagian besar ibu hamil
dengan infeksi virus Corona (COVID-19)
"hanya" punya gejala yang ringan bahkan
tidak parah jika dibandingkan dengan populasi
umum. Salah satu riset tentang hal ini
dilakukan oleh Priority Study dari University
of California San Francisco. Penelitian ini
melibatkan sekitar 30 wanita hamil di Cina
yang terpapar COVID-19. Hasilnya
menunjukkan gejala yang relatif ringan,
bahwa semua wanita selamat, mereka
tampaknya tidak cenderung memiliki penyakit
parah, dan tidak ada bukti penularan kepada
bayi selama kehamilan. Penelitian lainnya
yang dipublikasikan oleh American Journal of
Obstetrics & Gynecology pada Maret 2020
mengemukakan bahwa tidak ada bukti konkret
yang menunjukkan bahwa wanita hamil lebih
rentan terhadap COVID-19 dibandingkan
orang lain. Bahkan jika mereka mendapatkan
infeksi, para peneliti menunjukkan bahwa para
ibu hamil ini kemungkinan besar tidak
mendapatkan komplikasi parah dari penyakit,
seperti pneumonia. Dalam laporan tahun 2019,
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan
menggunakan sampel sebagian kecil wanita
hamil dengan COVID-19, menunjukkan
bahwa mayoritas dari mereka tidak memiliki
kasus yang parah. Dari 147 wanita yang
diteliti, 8 persen memiliki COVID-19 parah
dan 1 persen kritis.
Hasil Penelitian Terlalu Dini
"Berdasarkan data yang terbatas dari Cina,
kami dapat mengatakan bahwa Anda dapat
memiliki hasil yang baik, tetapi terlalu dini
untuk mengatakan bahwa itu aman," kata
Stephanie Gaw, perinatologis UC San
Francisco, yang terlibat dalam riset Priority
seperti dilansir University of California San
Francisco (UCSF) Gaw mengatakan bahwa
berdasarkan apa yang diketahui tentang
kehamilan dan penyakit pernapasan lainnya, ia
khawatir bahwa wanita hamil mungkin
berisiko lebih tinggi untuk COVID-19.
"Bahkan dengan flu musiman, wanita hamil
lebih mungkin untuk mendapatkannya
daripada populasi umum dan mereka berisiko
lebih tinggi untuk hasil yang lebih parah jika
mereka mendapatkannya," tambah Gaw.
"Kami melihat efeknya pada banyak infeksi
yang berbeda," kata Gaw. "Wanita hamil akan
memiliki gejala yang lebih ringan, tetapi itu
juga berarti bahwa jika seorang wanita hamil
bergejala, dia mungkin lebih sakit daripada
orang yang tidak hamil dengan gejala yang
sama."Perubahan fisik selama kehamilan juga
menekan diafragma dan mengurangi volume
paru-paru secara keseluruhan. Jadi, kata Gew,
ketika ada peningkatan stres pada sistem
pernapasan, ia memiliki cadangan yang lebih
sedikit untuk mengimbangi peningkatan kerja
untuk bernapas.
Bisakah Menular Saat Persalinan?
Satu studi dari Cina yang dipublikasikan Jama
Network pada Maret 2020 melaporkan bahwa
virus tidak muncul dalam sampel yang
diambil dari cairan ketuban atau darah tali
pusar atau pada usap tenggorokan bayi yang
baru lahir. Dari 33 bayi yang lahir dari ibu
dengan COVID-19 yang diteliti, hanya 3 bayi
positif setelah lahir, dan ini mungkin melalui
transmisi dalam rahim. Penelitian lain yang
dipublish Jama Network menunjukkan bahwa
kemungkinan penularan dalam rahim tersebut
berdasarkan peningkatan kadar antibodi
tertentu, itulah ada beberapa bayi baru lahir
dinyatakan negatif terhadap virus. Namun,
para peneliti tetap berhati-hati karena belum
ada cukup bukti yang kuat untuk
mengonfirmasi apakah COVID-19 dapat
ditularkan dalam rahim atau tidak.
"Kemungkinannya pasti ada di sana," jelas
Gaw.
Bisakah Menular Lewat ASI?
Menurut CDC, coronavirus memang belum
terdeteksi dalam ASI, tetapi belum diketahui
apakah ibu dapat menularkan COVID-19
dengan cara ini. Namun CDC menyarankan
jika seorang ibu baru yang menderita COVID-
19 atau mungkin curiga terkena virus,
bicarakan dengan dokter tentang pro dan
kontra menyusui. (JURNAL PRESISI)

3 Ibu hamil positif 24 Maret Dinda Silviana Tidak sedikit yang bertanya-tanya terkait
corona tak tularkan 2020 Dewi tentang risiko penularan virus Corona
covid-19 pada COVID-19 terhadap bayi yang dikandung
bayinya apabila sang ibu positif mengidapnya.
Seorang profesor Cina yang melakukan
penelitian terkait hal itu memberikan kabar
baik, yakni virus tidak menular dari ibu hamil
ke bayi yang dilahirkannya.
Hasil penelitiannya tersebut dimuat dalam
jurnal Frontiers in Pediatrics dan menjadi
penelitian kedua dari Cina untuk
mengonfirmasi bahwa ibu yang terinfeksi
virus Corona 2019 selama kehamilan tidak
menulari bayi mereka.
Dalam penelitian tersebut, empat orang ibu
dilibatkan yang berfokus pada kesehatan bayi
yang baru lahir di Rumah Sakit Union Wuhan
saat terinfeksi.
Hasilnya, tidak ada bayi yang mengalami
gejala serius terkait dengan COVID-19 seperti
demam atau batuk, meski semuanya diisolasi
di unit perawatan intensif neonatal dan diberi
susu formula.
Di sisi lain, tiga dari empat bayi mendapatkan
hasil negatif untuk tes infeksi pernapasan
setelah usap tenggorokan, sementara ibu anak
keempat menolak untuk mengizinkan anak
mengikuti tes tersebut.
Namun, dua bayi mengalami ruam yang tidak
diketahui saat lahir, dan satu bayi memiliki
ulserasi atau lesi berbentuk seperti kawah
pada bagian mulut atau wajah. Bayi tersebut
memiliki ulserasi pada bagian wajahnya.
Meskipun, ruam tersebut menghilang dengan
sendirinya. Sementara satu bayi lainnya,
mengalami takipnea yaitu pernapasan yang
terjadi lebih dari 24 kali per menit. Tidak
mungkin untuk menyimpulkan apakah ada
hubungan antara masalah medis lainnya dan
COVID-19. Studi: Ibu Hamil Positif Corona
Tak Tularkan COVID-19 pada Bayinya
“Kami tidak yakin ruam itu disebabkan oleh
infeksi COVID-19 ibu," kata Dr. Yalan Liu di
Universitas Sains dan Teknologi Huazhong
dikutip dari Eureka Alert.
Dalam penelitian sebelumnya pada sembilan
ibu hamil yang terinfeksi virus Corona 2019,
para peneliti juga tidak menemukan bukti
bahwa infeksi virus dapat menular pada anak.
Kota Wuhan, Cina, menjadi kota sumber
wabah COVID-19 yang tengah
mengkhawatirkan seluruh masyarakat dunia.
Hingga Senin (23/3/2020) pukul 16.07, kasus
COVID-19 yang telah terkonfirmasi adalah
343.421 yang tersebar di 167 negara menurut
peta global John Hopkins CSSE. Sementara di
Indonesia, pasien positif virus Corona 2019
tersebut telah bertambah 65 orang menembus
angka 579 per Senin (23/3/2020).
“Tambahan kasus 65 orang positif, sembuh 1
orang, total 30 orang, 1 kasus meninggal total
49 orang," kata Achmad Yurianto, Juru Bicara
Penanganan COVID-19, dalam konferensi
pers di kantor BNPB, Jakarta Timur
(23/3/2020). (JURNAL PRESISI)
4 Pregnant women’s 24 April Joshep K, Wanita hamil memiliki pengetahuan yang
knowledge and 2020 Aniukwu, memadai tentang tindakan pencegahan untuk
practice of Bonaventure melindungi terhadap virus yang menyebabkan
preventive measures O.Onozie COVID-19, tetapi praktik tindakan ini buruk.
against COVID‐19 in Sejak munculnya penyakit coronavirus 2019
a low‐resource (COVID-19) di Wuhan, Cina pada Desember
African setting 2019, virus yang menyebabkannya (SARS-
Cov ‐ 2) telah menyebar ke lebih dari 110
negara, termasuk Nigeria. Meskipun dampak
COVID ‐ 19 pada wanita hamil belum jelas,
ada kekhawatiran tentang efek potensial pada
hasil ibu dan perinatal karena penekanan
imunologis yang unik selama
kehamilan.Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) telah merekomendasikan serangkaian
tindakan pencegahan untuk menghentikan
penyebaran penyakit dan mortalitas terkait. Di
Nigeria, langkah-langkah pencegahan ini telah
diadopsi, bersama dengan kampanye media
untuk menyebarluaskan informasi tentang
tindakan-tindakan tersebut kepada umum
publik. Namun, tingkat pengetahuan dan
praktik tindakan pencegahan terhadap
penyebaran virus ini di antara wanita hamil,
yang merupakan kelompok rentan, belum
dievaluasi. Antara 1 Februari dan 31 Maret
2020, kami melakukan penelitian cross-
sectional untuk menentukan pengetahuan dan
praktik langkah-langkah pencegahan untuk
melindungi terhadap virus yang menyebabkan
COVID-19 di antara wanita hamil yang
menghadiri perawatan pranatal di Rumah
Sakit Pendidikan Mengajar Universitas
Federal Alex Ekwueme, Abakaliki, Negara
Ebonyi, Nigeria. Studi ini menerima
persetujuan etis dari Komite Penelitian dan
Etika Rumah Sakit Pendidikan Universitas
Alex Ekwueme, Abakaliki, dan peserta
memberikan persetujuan tertulis. Kuisioner
yang dikelola sendiri yang telah diuji dan
divalidasi yang ber asal dari tinjauan literatur
tentang rekomendasi WHO mengenai
tindakan pencegahan terhadap COVID-19
digunakan untuk mengumpulkan data.
Variabel-variabel yang dinilai adalah usia,
paritas, status perkawinan, area tempat
tinggal, pekerjaan, partisipan. tingkat
pendidikan, tingkat pendidikan suami, dan
pengetahuan dan praktik tindakan pencegahan.
Langkah-langkah yang dinilai oleh pertanyaan
penelitian adalah: (1) sering mencuci tangan
dengan sabun dan air atau menggunakan
pembersih tangan berbasis alkohol; (2)
menjaga jarak setidaknya 1 m dari yang lain;
(3) menghindari menyentuh mata, hidung, dan
mulut dengan tangan; (4) menutupi mulut dan
hidung saat batuk atau bersin; (5) mengenakan
masker di depan umum; dan (6) tinggal di
dalam ruangan.
Dari 284 peserta yang hamil, 173 (60,9%)
memiliki pengetahuan yang memadai tentang
tindakan pencegahan. Namun, praktik
keseluruhan dari langkah-langkah ini di antara
peserta adalah buruk, karena 198 (69,7%)
tidak mempraktikkan langkah-langkah
tersebut.
Faktor yang terkait dengan pengetahuan yang
tidak memadai tentang tindakan pencegahan
adalah usia lebih tua dari 40 tahun (AOR 0,19;
95% CI, 0,23-0,65, P <0,001); paritas 5 atau
lebih (AOR 0,24; 95% CI, 0,21-0,87, P =
0,002); tidak ada pendidikan formal (AOR
6.30; 95% CI, 2.55-6.91, P = 0.004); tempat
tinggal pedesaan (AOR 9,11; 95% CI, 5,67-
20,01, P <0,001); dan menjadi seorang
seniman (AOR 2,82; 95% CI, 0,02-0,77, P =
0,021).
Faktor penentu praktik buruk di antara peserta
adalah usia 31-40 tahun (AOR 2.04; 95% CI,
1,26-5,37, P = 0,022); menikah (AOR 2.99;
95% CI, 1.40–6.33, P = 0.035); paritas 5 atau
lebih (AOR 3.1; 95% CI, 1.32–6.56, P =
0.021); bertempat tinggal di daerah pedesaan
(AOR 2.08; 95% CI, 1.32-4.05, P = 0,031);
dan tidak memiliki pendidikan formal (AOR
6.73; 95% CI, 2.66–18.34, P = 0.002).
Tingkat pengetahuan tentang tindakan
pencegahan di antara para peserta adalah
tinggi. Ini mungkin karena sejak awal kasus
penyakit pertama yang dikonfirmasi,
pemerintah Nigeria telah memulai kampanye
media yang agresif untuk mendidik
masyarakat tentang langkah-langkah
pencegahan untuk mengurangi penularan virus
dari orang ke orang.
Meskipun sebagian besar peserta penelitian
memiliki pengetahuan yang memadai tentang
tindakan pencegahan, tingkat praktik tindakan
ini tetap buruk. Ini dapat dikaitkan dengan
karakteristik sosiodemografi populasi di
negara-negara Afrika sub-Sahara seperti
Nigeria. Paritas yang tinggi, tempat tinggal di
pedesaan, tingkat pendidikan yang rendah, dan
pekerjaan yang membutuhkan kontak fisik
adalah faktor-faktor yang terkait dengan
praktik buruk tindakan pencegahan. Faktor-
faktor ini meningkatkan risiko wanita hamil
terpapar dan tertular virus karena terus
menyebar di Nigeria.
Rasio kematian ibu Nigeria adalah lebih dari
800 kematian ibu per 100 000 kelahiran hidup
dan sebagian besar kematian ini dapat
dicegah.7 Oleh karena itu, praktik tindakan
pencegahan yang buruk di antara wanita hamil
akan menempatkan perempuan ini pada risiko
tinggi infeksi, yang dapat memperburuk
morbiditas ibu Nigeria dan profil kematian
selama pandemi karena sistem pelayanan
kesehatan yang buruk. Karenanya, wanita
hamil memerlukan perhatian khusus terkait
pencegahan, diagnosis, dan penatalaksanaan.
Ada kebutuhan untuk melembagakan tindakan
untuk meningkatkan praktik tindakan
pencegahan ini di antara wanita hamil. Salah
satu cara untuk mencapai ini adalah bahwa
kampanye media saat ini harus diperluas ke
daerah pedesaan di mana akses ke media
elektronik terbatas. Selain itu, pemberian
dukungan paliatif ekonomi untuk keluarga
yang bergantung pada pendapatan harian
untuk bertahan hidup kemungkinan akan
mendorong perempuan, yang dalam beberapa
kasus adalah pencari nafkah di banyak rumah
tangga, untuk mempraktikkan langkah-
langkah pencegahan ini untuk menghentikan
penyebaran virus di Nigeria.
(INTERNATIONAL JOURNAL OF
GYNECOLOGY & OBSTERTRICS)
5. Effectiveness of a 05 May Enirico Skrining untuk SARS ‐ Cov ‐ 2 di rumah sakit
COVID‐19 screening 2020 Ferrazi,Beatrice masuk menggunakan kuesioner spesifik
questionnaire for Tassis, kurang efektif dari pada swab nasofaring
pregnant women at Giovanna tetapi lebih berkelanjutan, karenanya dapat
admission to an Lunghi, Maria dipertimbangkan dalam konteks dengan
obstetric unit in P. Frattarulo insiden rendah dari virus. baru-baru ini
Milan melaporkan pengujian universal dengan swab
nasofaring untuk mendeteksi infeksi
coronavirus 2 (SARS ‐ Cov ‐ 2) sindrom
pernapasan akut yang parah pada 215 wanita
hamil yang dirawat di Rumah Sakit
Presbyterian Allen di New York, AS. Mereka
mengidentifikasi 33 (15,3%) wanita yang
terinfeksi, di antaranya hanya empat yang
mengalami demam atau gejala yang
menunjukkan penyakit coronavirus 2019
(COVID-19). Temuan ini menunjukkan
bahwa hanya pengujian universal yang dapat
dengan andal mengenali kasus yang terinfeksi.
Namun, pendekatan ini hanya layak dilakukan
di rumah sakit-rumah sakit besar di negara-
negara dengan sumber daya tinggi dengan
fasilitas laboratorium yang efisien. Pendekatan
alternatif patut dipertimbangkan. Fondazione
IRCCS Ca 'Granda Ospedale Maggiore
Policlinico adalah pusat bersalin COVID - 19
yang ditunjuk, berlokasi di Milan, Italia utara,
daerah yang dilanda SARS - Cov ‐ 2.. Sejak
fase awal wabah dan sejalan dengan
rekomendasi lokal, kami memilih skrining
sistematis untuk infeksi SARS-Cov ‐ 2
menggunakan kuesioner khusus pada
penerimaan kebidanan .3 Kasus yang diduga
berdasarkan kuesioner ini menjalani swab
nasofaring dan dikelola sebagai dugaan
COVID-19 kasus sampai hasil tes menjadi
tersedia. Pasien dirawat di area COVID-19
khusus dan dikelola oleh personel yang
terlatih dan dilindungi. Pasien dengan hasil
kuesioner yang tidak biasa dikelola sesuai
dengan standar saat ini.
Untuk memvalidasi pendekatan ini, kami
melakukan swab nasofaring dari 1–9 April
2020 untuk semua wanita hamil yang
membutuhkan
perawatan di rumah sakit. Sebanyak 139
wanita berturut-turut dimasukkan. Secara
keseluruhan, 6 (4,3%) perempuan dianggap
sebagai kasus yang diduga oleh kuesioner
skrining, sedangkan 133 sisanya (95,7%)
tidak. Hasil swab nasofaring positif pada 3
(2,2%) wanita, dua di antara kasus yang
dicurigai dan satu di antara wanita dengan
respon skrining biasa-biasa saja (P = 0,005).
Prevalensi COVID-19 di antara wanita dengan
respon kuesioner yang tidak biasa adalah 0,8%
(95% CI, 0,1-4,1). Temuan kami
menunjukkan bahwa, pada saat penelitian
observasional ini, berkat penguncian awal,
Milan menghadapi fase dan tingkat keparahan
wabah yang berbeda dibandingkan dengan
New York.1 Bahkan jika periode penelitian
tumpang tindih, tingkat usapan positif pada
keduanya daerah yang sangat berbeda (2,2%
vs 15,3%). Kinerja pendekatan penyaringan
kami mungkin kurang efisien di daerah
dengan situasi yang sama seperti New York,
di mana tingkat absolut kasus COVID-19
yang tidak terdeteksi akan jauh lebih tinggi.
Sebagai kesimpulan, kebijakan skrining
sistematis dengan kuesioner spesifik adalah
alat yang dapat dikelola, murah, dan efektif
dalam perawatan kebidanan, setidaknya di
daerah di mana kejadian infeksi SARS-Cov-2
tidak merusak. Namun, itu tidak sempurna.
Jika swab dapat diproses dalam hitungan jam,
kebijakan swab universal lebih disukai.
(INTERNATIONAL JOURNAL OF
GYNECOLOGY & OBSTERTRICS)
6. Expert consensus for 20 maret Chen Pada akhir Desember 2019, beberapa kasus
managing pregnant 2020 Wang,Dubjin pneumonia yang tidak dapat dijelaskan
women and neonates When, Huixia muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina.
born to mothers with Yang, Yun Cao, Pada 12 Januari 2020, WHO secara resmi
suspected or WheiWhei menamakan virus ini "2019 New Coronavirus
confirmed novel Cheng (2019-nCoV)", 1 sekarang bernama COVID-
coronavirus (COVID 19. Pada pukul 10:00 pagi CET pada 24
‐19) infection Februari 2020, WHO mencatat total 79.331
kasus yang dikonfirmasi secara global:
Tiongkok memiliki 77.262 kasus yang
dikonfirmasi dan di luar Cina ada 2.069 kasus.
Kasus infeksi COVID-19 yang dikonfirmasi
juga ditemukan di Asia Tenggara, Eropa,
Amerika Utara, dan di tempat lain, menarik
perhatian dunia.Coronavirus lain, seperti
coronavirus sindrom pernafasan akut yang
parah (SARS-CoV) dan coronavirus sindrom
pernafasan Timur Tengah (MERS-CoV) telah
menyebabkan lebih dari 10.000 pasien
terinfeksi di seluruh dunia. Tingkat kematian
infeksi MERS-CoV mendekati 37% .2-5
Tingkat kematian infeksi SARS-CoV adalah
10% pada populasi umum dan setinggi 25%
pada wanita hamil. Cina telah mengadopsi
langkah-langkah pengendalian infeksi untuk
mengisolasi yang terpapar. orang dan kasus
yang dicurigai sesuai dengan standar
internasional. Pejabat kesehatan Tiongkok
terus memperbarui protokol diagnosis dan
perawatan secara teratur dan mendidik serta
memperbarui penyedia layanan kesehatan
publik dan lini depan.Cina mengembangkan
Edisi 5 Standar Diagnostik Komisi Kesehatan
dan Medis Nasional dengan dugaan atau
kemungkinan infeksi COVID-19 sebagai
respons terhadap epidemi baru-baru ini.Pada
tanggal 5 Februari 2020, telekonferensi
multidisiplin yang terdiri dari kedokteran ibu-
janin dan pakar lain di atau dari Cina dan AS
diadakan untuk membahas rekomendasi
khusus untuk manajemen pasien hamil..
Rekomendasi ini cenderung berkembang
seiring perjalanan penyakit baru ini terungkap.
(INTERNATIONAL JOURNAL OF
GYNECOLOGY & OBSTERTRICS)
7. Global interim 04 April Liona C,.Poon, Menanggapi pernyataan Organisasi Kesehatan
2020
guidance on Hiuixia Yang, Dunia (WHO) dan keprihatinan internasional
coronavirus disease Anil Kapur,Nir tentang penyakit coronavirus 2019 (COVID-
2019 (COVID‐19) Melamed 19), FIGO telah mengeluarkan panduan
during pregnancy komprehensif untuk pengelolaan wanita
and puerperium from hamil. Kehamilan adalah keadaan fisiologis
FIGO and allied yang membuat wanita rentan terhadap infeksi
partners: Information pernapasan virus. Karena perubahan fisiologis
for healthcare dalam sistem kekebalan dan kardiopulmoner,
professionals wanita hamil lebih mungkin mengembangkan
penyakit parah setelah infeksi dengan virus
pernapasan. Pada tahun 2009, wanita hamil
menyumbang 1% dari pasien yang terinfeksi
virus influenza A subtipe H1N1, tetapi mereka
menyumbang 5% dari semua kematian terkait
H1N1.Selain itu, SARS-CoV dan MERS-CoV
keduanya diketahui bertanggung jawab atas
komplikasi parah selama kehamilan, termasuk
kebutuhan untuk intubasi endotrakeal, masuk
ke unit perawatan intensif (ICU), gagal ginjal,
dan kematian. 6, 19 Kasus tingkat fatalitas
infeksi SARS-CoV di antara wanita hamil
mencapai 25% .6 Namun, saat ini, tidak ada
bukti bahwa wanita hamil lebih rentan
terhadap infeksi COVID-19 atau mereka yang
infeksi COVID-19 lebih rentan terkena
pneumonia berat. Kehamilan juga dapat
mengubah manifestasi klinis, misalnya
limfositopenia bahkan lebih nyata. Sampai
saat ini, data yang dirangkum dari lima seri
kecil termasuk 56 wanita hamil yang
didiagnosis dengan COVID-19 selama
trimester kedua dan ketiga menunjukkan
bahwa gejala yang paling umum pada
presentasi adalah demam dan batuk; dua
pertiga pasien menderita limfopenia dan
peningkatan protein C-reaktif, dan 83% kasus
memiliki CT scan dada yang menunjukkan
beberapa bercak opacity kaca-tanah di paru-
paru dan di atas dampak infeksi COVID-19
pada wanita hamil, ada kekhawatiran terkait
dengan efek potensial pada hasil janin dan
neonatal; Oleh karena itu, wanita hamil
memerlukan perhatian khusus terkait
pencegahan, diagnosis, dan penatalaksanaan.
Demam umum terjadi pada pasien yang
terinfeksi COVID-19. Data sebelumnya telah
menunjukkan bahwa demam ibu pada awal
kehamilan dapat menyebabkan kelainan
struktural bawaan yang melibatkan tabung
saraf, jantung, ginjal, dan organ lainnya.25-27
Namun, sebuah penelitian baru-baru ini yang
melibatkan 80.321 wanita hamil melaporkan
bahwa tingkat demam pada awal kehamilan
adalah 10%, sementara insiden malformasi
janin dalam kelompok ini adalah 3,7% .28 Di
antara 77 344 kehamilan yang layak dengan
data yang dikumpulkan pada 16-29 minggu
kehamilan, pada 8321 wanita hamil dengan
suhu yang dilaporkan di atas 38 ° C yang
berlangsung 1 –4 hari pada awal kehamilan,
dibandingkan dengan mereka yang tidak
demam pada awal kehamilan, risiko
keseluruhan malformasi janin tidak meningkat
(rasio odds [OR] = 0,99 (95% CI, 0,88-1,12).
Telah dilaporkan bahwa pneumonia virus pada
wanita hamil dikaitkan dengan peningkatan
risiko kelahiran prematur, pembatasan
pertumbuhan janin (FGR), dan mortalitas
perinatal.29 Berdasarkan data berbasis
populasi nasional ditunjukkan bahwa wanita
hamil dengan pneumonia virus lainnya ( n =
1462) memiliki peningkatan risiko kelahiran
prematur, FGR, dan memiliki bayi baru lahir
dengan berat lahir rendah dan skor Apgar
kurang dari 7 pada 5 menit, dibandingkan
dengan mereka yang tidak pneumonia (n =
7310) . Seri kasus 12 wanita hamil dengan
SARS-CoV di Hong Kong, Cina, melaporkan
tiga kematian ibu empat dari tujuh pasien yang
datang pada trimester pertama mengalami
keguguran empat dari lima pasien memiliki
kelahiran prematur; dan dua ibu pulih tanpa
persalinan tetapi kehamilan mereka yang
sedang berlangsung diperumit oleh FGR.
Sehubungan dengan hasil neonatal pada
COVID-19 pneumonia, dalam penelitian oleh
Chen et al.20 semua sembilan kelahiran hidup
memiliki skor Apgar 1 menit 8-9 dan skor
Apgar 5 menit 9-10. Cairan ketuban, darah tali
pusat, dan usap tenggorokan neonatal dari
enam pasien dites untuk SARS-CoV-2, dan
semua sampel dites negatif untuk virus,
menunjukkan tidak ada bukti penularan
vertikal pada wanita yang mengembangkan
COVID-19 pneumonia pada akhir kehamilan .
Dua kasus infeksi COVID-19 neonatal telah
dilaporkan tetapi keduanya kemungkinan
merupakan hasil dari penularan pascanatal.
Studi lain menganalisis 38 kehamilan
menunjukkan bahwa mirip dengan kehamilan
dengan SARS-CoV dan MERS-CoV, tidak
ada kasus yang dikonfirmasi penularan
vertikal SARS-CoV-2 dari ibu dengan
COVID-19 ke janin mereka. 31 Semua
spesimen neonatal diuji, termasuk plasenta
dalam beberapa kasus, negatif oleh reaksi
transkripsi balik rantai polimerase kuantitatif
(qRT-PCR) untuk SARS-CoV-2,31 Pada titik
ini dalam pandemi global infeksi COVID-19
tidak ada bukti bahwa SARS-CoV ‐ 2
mengalami intrauterin atau penularan
transplasental dari wanita hamil yang
terinfeksi ke janin mereka. Sementara ini
meyakinkan, data yang lebih besar diperlukan
untuk secara tegas mengesampingkan
transmisi vertikal transplasenta..
(INTERNATIONAL JOURNAL OF
GYNECOLOGY & OBSTERTRICS)
8. Analysis of vaginal Jing Analisis retrospektif dari catatan medis dan
delivery outcomes Liao,Xiaoyan perbandingan hasil persalinan pervaginam
among pregnant He, Qing Gong, antara 10 wanita hamil dengan diagnosis
women in Wuhan, Lingyun Yang, klinis COVID-19 dan 53 wanita hamil tanpa
China during the Chunhua Zhou, COVID-19 dirawat di Rumah Sakit Zhongnan
COVID‐19 pandemic Jiafu Li Universitas Wuhan antara 20 Januari dan 2
Maret 2020. Hasil laboratorium tes, tes
pencitraan, dan tes asam nukleat SARS-CoV-
2 juga dianalisis pada neonatus yang
dilahirkan oleh wanita hamil dengan diagnosis
klinis COVID-19.
Tidak ada perbedaan signifikan dalam usia
kehamilan, perdarahan postpartum, dan
tingkat reseksi perineum antara kedua
kelompok. Tidak ada perbedaan yang
signifikan dalam berat lahir bayi dan tingkat
asfiksia neonatal antara kedua kelompok.
Neonatus yang dilahirkan oleh wanita hamil
dengan diagnosis klinis COVID-19 yang diuji
negatif untuk infeksi SARS-CoV-2
Kasus pertama penyakit virus corona 2019
(COVID-19) ditemukan di Wuhan pada
Desember 2019. virus menyebar dengan cepat
di Cina dan kemudian secara global. Beberapa
sarjana di Cina telah merangkum manifestasi
klinis COVID-19 dalam hal epidemiologi
pasien, gejala dan pemeriksaan laboratorium,
dan karakteristik pencitraan paru, yang
menunjukkan bahwa hal itu dapat
menyebabkan penyakit paru-paru yang parah.
pada beberapa pasien. Lainnya melaporkan
penularan interpersonal selama periode laten
penyakit.4 Saat ini, pencegahan dan
pengendalian COVID-19 tetap berada dalam
periode kritis secara global.
Sebagai rumah sakit yang ditunjuk untuk
pasien dengan COVID-19, Rumah Sakit
Zhongnan dari Universitas Wuhan di provinsi
Hubei, Cina, menerima dan merawat wanita
hamil dengan COVID-19 yang dikonfirmasi
atau dicurigai. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk menganalisis hasil persalinan
pervaginam wanita hamil dengan diagnosis
klinis COVID-19 di bangsal isolasi kebidanan
dan membandingkan dengan wanita hamil
tanpa COVID-19 di bangsal umum rumah
sakit kami. Kami juga menganalisis prognosis
neonatus yang dilahirkan oleh wanita hamil
dengan diagnosis klinis COVID-19 untuk
menilai efek persalinan pervaginam pada
wanita hamil dan bayi baru lahir. Selanjutnya,
untuk melindungi keselamatan perinatal
kelompok wanita hamil ini dan menghindari
penyebaran COVID ‐ 19 di rumah sakit
(sesuai dengan pedoman nasional untuk
diagnosis dan pengobatan COVID ‐ 19 dan
proses perawatan kasus klinis di rumah sakit
kami), kami juga merangkum pengalaman
persalinan pervaginam wanita hamil dengan
COVID ‐ 19 untuk referensi di masa
mendatang.
Kami secara retrospektif meninjau catatan
medis dari 10 wanita hamil dengan diagnosis
klinis COVID-19 di bangsal isolasi kebidanan
dan 53 wanita hamil tanpa COVID-19 pada
bangsal umum yang dirawat di Rumah Sakit
Zhongnan Universitas Wuhan, Wuhan, Cina,
antara 20 Januari dan Maret 2, 2020. Semua
wanita melahirkan secara normal selama
periode ini. Persetujuan etis diperoleh dari
Komite Etika Medis Rumah Sakit Zhongnan,
Universitas Wuhan (No. 2020078). Penelitian
ini adalah analisis retrospektif dari catatan
medis dan identitas pasien dianonimkan;
dengan demikian, informed consent tidak
diperlukan.
Sebanyak 88 wanita hamil dengan COVID-19
yang dikonfirmasi atau dicurigai dimasukkan
ke bangsal isolasi kebidanan Rumah Sakit
Zhongnan, Universitas Wuhan. Di antara
mereka, 10 wanita hamil dengan diagnosis
klinis COVID-19 diberikan melalui vagina.
Usia berkisar 27-36 tahun. Jumlah kehamilan
berkisar dari 1-4, jumlah kelahiran berkisar
antara 0–2, dan usia kehamilan berkisar antara
36 + 2 minggu / hari hingga 40 + 2 minggu /
hari. Lima dari 10 pasien mengalami demam
rendah beberapa hari sebelum persalinan,
empat pasien memiliki gejala pernapasan
ringan, dan satu pasien tidak mengeluh
ketidaknyamanan tertentu. Data dari tes
laboratorium menunjukkan bahwa 9 dari 10
wanita hamil memiliki rasio limfosit yang
rendah. Semua 10 pasien memiliki CT scan
dada yang menunjukkan temuan khas dari
beberapa bayangan kaca-tambal sulam.
Selama periode yang sama, 53 wanita hamil
tanpa COVID-19 melahirkan secara normal di
bangsal umum. Umurnya berkisar antara 21–
37 tahun. Jumlah kehamilan berkisar dari 1-4,
jumlah kelahiran berkisar dari 0-1, dan usia
kehamilan berkisar antara 31 + 1 minggu /
hari hingga 42 minggu. Wanita hamil dengan
diagnosis klinis COVID-19 lebih tua dari
mereka yang tanpa COVID-19 (P = 0,042).
Wanita hamil dengan diagnosis klinis
COVID-19 memiliki lebih banyak kehamilan
daripada mereka yang tanpa COVID-19 (P =
0,009). Tidak ada perbedaan yang signifikan
secara statistik dalam usia kehamilan (P =
0,921) atau jumlah pengiriman (P = 0,118)
antara kedua kelompok. Tidak ada perbedaan
yang signifikan secara statistik dalam ketuban
pecah dini, kelahiran prematur, asfiksia
neonatal, polusi cairan ketuban, perdarahan
postpartum, atau tingkat reseksi lateral
perineum antara kedua kelompok.
Penelitian ini melaporkan data klinis dari 10
wanita hamil dengan diagnosis klinis COVID-
19. Berdasarkan temuan kami, hasil persalinan
pervaginam seperti volume kehilangan
perdarahan postpartum, tingkat reseksi
perineum, jumlah darah, berat lahir neonatus,
dan tingkat asfiksia neonatal mirip dengan
wanita hamil tanpa COVID-19. Tidak ada
bukti yang menunjukkan bahwa persalinan
pervaginam dapat menyebabkan hasil buruk
pada wanita hamil dengan diagnosis klinis
COVID-19 dan infeksi pada neonatus.
COVID ‐ 19 sangat menular. Karena
perubahan patofisiologis selama kehamilan,
wanita hamil dengan pneumonia dapat dengan
mudah berkembang menjadi penyakit parah
dan risiko hasil kehamilan yang merugikan
meningkat. Selama wabah COVID-19,
persalinan sesar dengan anestesi umum telah
menjadi mode pengiriman yang disukai untuk
memastikan proses pengiriman yang
terkontrol, menghindari masalah pernapasan
darurat, dan mengurangi risiko paparan
infeksi. Namun, efek dari langkah-langkah ini
belum sepenuhnya terbukti.7-9 Selama
pandemi COVID-19, memilih kelahiran sesar
tidak perlu dapat menyebabkan efek buruk
jangka panjang. Penelitian ini menunjukkan
bahwa 10 pasien diklasifikasikan berdasarkan
diagnosis klinis dengan tipe COVID-19 biasa
dalam kombinasi dengan hasil pemeriksaan
laboratorium dan pencitraan. Saat masuk,
wanita-wanita ini sudah mulai persalinan dan
kepala janin bertunangan. Oleh karena itu,
kami percaya bahwa tidak ada indikasi untuk
kelahiran sesar.
(INTERNATIONAL JOURNAL OF
GYNECOLOGY & OBSTERTRICS)
9. Critically ill pregnant 5 may Jianwei Li, COVID-19 dapat menyebabkan penurunan
patient with COVID‐ 2020 Yichun Wang, tajam dalam oksigen darah, dapat
19 and neonatal YingChun menyebabkan perubahan mendadak dalam
death within two Zeng, lingkungan janin, dan mungkin dapat
hours of birth Tingsong,xingfe menyebabkan kematian neonatal.
i Pan,Mingang Sementara sebagian besar wanita hamil
Jia, Famh he, dengan penyakit coronavirus 2019 (COVID-
Liusheng 19) tampaknya mengalami perjalanan klinis
Hou,Bingfei Li, yang lebih ringan, laporan ini menggambarkan
Shuming He, kasus kritis COVID-19 pada wanita hamil.
dunjin Chen. Kami membahas identifikasi, diagnosis,
perkembangan penyakit, dan hasil pengobatan
pada seorang wanita hamil berusia 31 tahun
yang dirawat di Rumah Sakit Rakyat Xiaolan
di Zhongshan pada usia kehamilan 35 + 2
minggu tanpa diketahui komorbiditas atau
riwayat penyakit kronis. Timbulnya gejala
pada pasien dimulai dengan sakit tenggorokan
dan batuk kering selama 4 hari, diikuti oleh
demam dan dispnea selama setengah hari.
Pasien mengalami pemburukan penyakit yang
cepat. Persalinan sesar darurat dilakukan di
samping tempat tidur, tetapi neonatus
meninggal dalam waktu dua jam setelah
kelahiran.
Meskipun pasien tidak memiliki riwayat
penyakit kronis, keparahan COVID-19
meningkat dengan cepat - mulai dari dispnea
hingga sindrom gangguan pernapasan akut
dan syok septik dalam waktu 12 jam. Kondisi
pasien memburuk, dengan penurunan yang
terus-menerus dalam jumlah sel darah putih
dan limfosit. Indikator inflamasi protein C-
reaktif, prokalsitonin, dan interleukin 6
semuanya meningkat secara signifikan,
sedangkan tingkat saturasi oksigen perifer
menurun secara progresif. Dengan keadaan
ini, jumlah sel darah putih dan limfosit
COVID-19 pasien harus dipantau secara ketat.
Perubahan jumlah limfosit dan saturasi
oksigen, analisis gas darah, dan pencitraan
peradangan paru harus dinilai sebagai
biomarker awal untuk memprediksi prognosis
pasien sakit kritis dengan COVID-19. Infeksi
dengan sindrom pernafasan akut yang parah
coronavirus 2 (SARS-CoV-2) menyebabkan
pasien hamil ini menderita beberapa disfungsi
organ, termasuk jantung, hati, dan ginjal.
Meskipun pasien dikelola dengan
menggunakan perawatan sistematis dan terapi
penyelamatan yang tepat waktu, neonatus
meninggal dalam waktu 2 jam setelah
kelahiran. Ini mungkin disebabkan oleh
memburuknya kondisi ibu dengan cepat, yang
pada akhirnya menyebabkan kematian
neonatus. Kasus ini juga menunjukkan bahwa
COVID-19, yang menyebabkan penurunan
tajam dalam oksigen darah, dapat
menyebabkan perubahan tiba-tiba di
lingkungan janin intrauterin dan mungkin
mengakibatkan kematian neonatal.
Kemungkinan komplikasi parah dari infeksi
SARS-CoV-2 dapat menyebabkan kematian
neonatal karena badai inflamasi yang
disebabkan oleh infeksi memicu respons imun
sistemik, yang juga dapat menyerang organ
janin. Pemeriksaan biokimia darah tali pusat
saat lahir mengungkapkan peningkatan yang
nyata dalam enzim miokard, menunjukkan
bahwa miokardium janin rusak parah.
Mempertimbangkan hipoksia berat,
kemungkinan kerusakan kekebalan tidak dapat
dikesampingkan, yang mungkin menyebabkan
kesulitan dalam resusitasi dan akhirnya
kematian bayi baru lahir. Kasus kritis karena
hipoksia ibu dan sirkulasi yang tidak stabil
dapat membahayakan janin untuk waktu yang
singkat dan dapat menyebabkan kematian
janin dalam rahim.
(INTERNATIONAL JOURNAL OF
GYNECOLOGY & OBSTERTRICS)
10 Be aware of 24 April He Fang, Pan Mengikuti tindakan pencegahan berbasis
.
misdiagnosis- 2020 standar dan transmisi sangat penting dalam
Xingfei,Qiu
influenza A H1N1 in diagnosis banding infeksi COVID-19. Seorang
Yingwei,Chen
a pregnant patient wanita berusia 21 tahun (primipara) pada usia
with suspected Dunjin 33 minggu + 6 hari dirawat di Rumah Sakit
Covid-19 Afiliasi Ketiga Universitas Kedokteran
Guangzhou pada 3 Februari 2020. Tidak ada
hasil skrining pranatal yang abnormal. Dia
mengeluh gejala dingin pada 29 Januari 2020.
Setelah demam 39 ° C pada 31 Januari, dia
pergi ke klinik setempat, di mana tekanan
darahnya 170/110 mm Hg. Jumlah sel darah
putihnya adalah 10,92 × 109 / L, jumlah
limfosit total adalah 0,85 × 109 / L,
hemoglobin 9,8 g / dL, dan jumlah trombosit
adalah 56 × 1010 / L dan diberikan
acetaminophen. Pada 2 Februari, pasien
mengalami batuk dengan dahak dan demam
38,8 ° C. Parameter serumnya adalah sebagai
berikut: ALT, 154 U / L; AST, 298 U / L;
kreatinin, 187 μmol / L; asam urat, 752 μmol /
L; jumlah trombosit, 25 × 1010 / L; protein
urin, 2+. Pemindaian tomografi komputer
menunjukkan adanya pneumonia. Dia
membantah sejarah perjalanan ke Hubei dalam
waktu 14 hari. Dengan demikian, dia
didiagnosis dengan sindrom HELLP dan
pneumonia dan dirujuk ke rumah sakit kami
dengan masker. Setelah dicurigai terinfeksi
dengan coronavirus 2 sindrom pernapasan
akut (SARS-CoV-2), pasien dikarantina.
Penyeka nasofaring dikumpulkan untuk
mendeteksi SARS-CoV-2 menggunakan
reaksi rantai transkripsi polimerase terbalik
waktu nyata (qRT ‐ PCR). Tanda-tanda vital
ibu dan saturasi oksigen normal di unit isolasi,
tetapi tekanan janin muncul. Pengiriman
darurat Caesar dilakukan di ruang tekanan
negatif. Bayi perempuan yang sehat dilahirkan
dengan berat 1960 g, skor Apgar 5 dan 7 pada
1, 5 menit masing-masing. Sang ibu kemudian
dipindahkan ke ruang isolasi di ICU untuk
ventilasi dibantu dan diberi oseltamivir dan
cefoperazone pada tanggal 4 Februari. Pada
pagi hari tanggal 5 Februari, indeks
oksigenasinya turun menjadi kurang dari 200
dari sekitar 300 pada 4 Februari dengan
demam tinggi 39,5 ° C. Penyeka
nasofaringnya negatif untuk SARS-CoV-2,
tetapi positif untuk influenza H1N1. Serat
bronkoskopi dilakukan pengambilan sampel
dahak. Pada 6 Februari, pasien diekstubasi dan
terus ditingkatkan melalui manajemen medis
yang sedang berlangsung. Hasil metagenomics
next generation sequencing (mNGS) pada
botak mengindikasikan Infeksi
Staphylococcus aureus.
Pada bulan-bulan awal 2020, perhatian dunia
difokuskan pada pandemi COVID-19. Wanita
hamil dianggap rentan terhadap infeksi
pernapasan ini dan berisiko mengalami
pneumonia berat. Selama pandemi influenza
A (H1N1) 2009, ada 34 kasus yang
dikonfirmasi atau kemungkinan dan 6
kematian virus di antara wanita hamil selama
bulan pertama wabah dan enam kematian
wanita hamil selama dua bulan pertama.1
Kasus ini diduga COVID-19 untuk demam /
gejala pernafasannya, pengurangan jumlah
limfosit dan gambaran pencitraan.2 Riwayat
epidemiologis sangat penting tetapi rumit
untuk diselidiki. Kasus didiagnosis
berdasarkan pedoman sementara WHO3 dan
dikonfirmasi tergantung pada tes patogen.
Satu studi melaporkan bahwa di antara 53
pasien dengan dugaan COVID-19, 20
dikonfirmasi positif: 14 positif pada RT-PCR
pertama, 3 positif pada RT-PCR kedua, dan 3
didiagnosis menggunakan mNGS. Dengan
demikian, diagnosis yang keliru dan kesalahan
diagnosis mudah terjadi pada permulaan awal.
Deteksi PT ‐ PCR dan mNGS kedua mungkin
memakan waktu lebih lama, terutama di
daerah pedesaan seperti kasus ini. Mengingat
SARS ‐ CoV ‐ 2 yang sangat menular, dokter
kandungan harus mengambil tindakan
pencegahan pribadi meskipun pneumonia
dapat disebabkan oleh patogen lain sampai
infeksi dengan SARS ‐ CoV ‐ 2.
(INTERNATIONAL JOURNAL OF
GYNECOLOGY & OBSTERTRICS)