Anda di halaman 1dari 46

CRITICAL BOOK REVIEW

DISUSUN OLEH :
Grace Debora Br Sembiring (2203111050)
DOSEN PENGAMPU : Elly Prihasty S.Pd.,M.Pd
MATA KULIAH : Teori daan Sejarah Sastra
PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020

DAFTAR ISI
Kata Pengantar………………………………………………………
Daftar isi…………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN………………………………………….
A.Rasionalisasi pentingnya cbr………………………………………
B.Tujuan……………………………………………………………..
C.Manfaat……………………………………………………………
D.Identitas buku……………………………………………………..
BAB II RINGKASAN ISI BUKU……………………………………
A.Buku Utama……………………………………………………………….
B.Buku Pembanding I…………………………………………………….
C.Buku Pembanding II…………………………………………………….
BAB III PEMBAHASAN………………………………………………
A. Pembahasan isi buku……………………………………………
B. Kelebihan dan kekurangan Buku………………………………..

BAB IV PENUTUP……………………………………………………..
A. KESIMPULAN………………………………………………….
B. REKOMENDASI………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………..

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat
rahmat dan kasih karuniaNya maka saya daapat menyelesaikan Critical Book Review mata
kuliah Teori dan sejaarah sastra ini diselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam kesempatan ini saya sebagai penyusun mengucapkan terimakasih kepada teman-
teman dan orangtua yang selalu memberian dukungan kepada saya untuk menyelesaikan tugas
ini, serta kepada ibu Elly Prihasty, S.Pd.,M.Pd selaku dosen pengampu.
Saya menyadaari bahwa dalam penyusunan ini tidak terlepas dari kesalahan dan sangat
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya sangat mengharapka kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi sempurnanya Critical Book Review ini. Saya juga berharap semoga Critical
Book Review ini dapat digunakan mestinya dan bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

Medan,

BAB I
PENDAHULUAN

A.RASIONALISASI PENTINGNYA CBR


Keterampilan membuat CBR pada penulis dapat menguji kemampuan dalam meringkas dan
menganalisi sebuah buku serta membandingkan buku yang dianalisis dengan buku yang lain,
mengenal dan memberi nilai serta mengkritik sebuah karya tulis yang dianalisis

B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah untuk penulisan ini, yaitu:


1. Apa saja yang menjadi isi dari buku utama?
2. Apa saja yang menjadi isi dari buku pembanding?
3. Apa kekurangan dan kelebihan diantara kedua buku tersebut?
C. Tujuan Penulisan Dari rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penulisan ini,
yaitu:
1. Dapat mengetahui isi dari buku utama.
2. Dapat mengetahui isi dari buku pembanding.
3. Dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan antara kedua buku tersebut

BAB II
IDENTITAS BUKU
BUKU UTAMA :
JUDUL : PENGANTAR ILMU SASTRA
PENULIS : JAN VAN LUXEMBURG, MIEKE BALL, WILEM G. WESTSTEIJN
HALAMAN : 233 halaman
PENERBIT : Granmedia
TAHUN TERBIT : 1982
KOTA TERBIT : New York
ISBN :

BUKU PEMBANDING I :
JUDUL : PRINSIP –PRINSIP DASAR SASTRA
PENULIS : Prof.Dr.Hendry Guntur Tarigan
HALAMAN : 250 halaman
PENERBIT : Angkasa Bandung
TAHUN TERBIT : 1984
ISBN : 978-979-665-622-2

BUKU I KETERANGAN BUKU II KETERANGAN


Daftar Isi : BUKU INI Daftar Isi : BUKU INI
Bab I : Sastra Dan TERDIRI DARI 12 Bab I : Prinsip-Prinsip TERDIRI DARI 4
Ilmu Sastra BAB Dasar Puisi BAB
1. Pengantar A. Pengantar ke
2. Pengertian “Sastra” masalah
2.1 Masalah-masalah B. Apa yang disebut
yang timbul bilamana puisi
mau mendefinisikan C. Hakikat puisi
“Sastra” D. Metode puisi
2.2 Definisi-definisi E. Hubungan Hakikat
historik dengan Metode
2.3 Sastra itu apa ? Puisi
Bab II : Sastra Dan F. Maksud dan Tujuan
Kenyataan Puisi
1. Pengantar G. Lahirnya Sebuah
2. Mimesis Puisi
3. Fiksionalitas H. Menikmati dan
4. Sastra dan Menilai Puisi
Masyarakat Bab II :Prinsip-Prinsip
4.1 Marx,Lenin,dan Dasar
Realisme Sosialis Drama
4.2 Lukacs dan brecht A. Pengantar ke masalah
4.3 Perkembangan B. Apa yang disebut
Mutakhir drama
Bab III : Tesk dan C. Drama dan Teater
Komunikasi dalam D. Unsur-unsur Drama
ilmu sastra E. Jenis-jenis Drama
1. Pengantar F. Prinsip Goethe dalam
2. Formalisme Drama
3. Strukturalisme G. Pentas Drama
3.1 Strukturalisme Ceko H. Drama dalam
3.2 Analisa Cerita secara Pendidikan
strukturalisme Bab III : Prinsip-
4.Linguistik dan Ilmu Prinsip Dasar Fiksi
Sastra A. Pengantar ke
5.Semiotik Sastra Masalahj
5.1 Semiotik Sastra ala B. Apakah yang disebut
peirce Fiksi
5.2 Semiotik ala lotman C. Unsur-unsur Fiksi
BAB IV : Kritik dan D. Klasifikasi Fiksi
penafsiran E. Novel
1. Pengantar F. Novelet
2. Empat bentuk kritik G. Cerita Pendek
sastra H. Pertanyaan
2.1 New Criticsm Pembimbing Merensensi
2.2 Merlyn Fiksi
2.3 Nouvelle Critique Bab IV : Prinsip –
2.4 Poststrukturalismme Prinsip dasar
atau Dekonstruksi kritik sastra
3. Penafsiran dalam A. Pengantar kemasalah
Ilmu sastar B. Apa yang disebut
BAB V : Teks dan Kritik Sastra ?
Pembaca C. Prinsip Dasar Kritik
BAB VI : Ilmu Teks Sastra
BAB VII : Jenis – D. Falsafah Kritik Sastra
Jenis Sastra E. Fungsi kritik Sastra
(Genre) F. Jenis-jenis kritik
BAB VIII : Teks – sastra
teks Naratif G. Tipe-tipe Kritikus
BAB IX : Teks – teks sastra
Drama H. Kritikus sastra dan
BAB X : Teks Puisi sarjana sastra
BAB XI : Penulisan I. Kritik sastra dan
Sejarah Sastra dan Apresiasi sastra
Ilmu Sastra J. Kritik sastra dan Esai
Pembandingan K. Syarat-syarat Kritik
sastra
Indonesia
RINGKASAN BUKU I RINGKASAN BUKU II
Daftar Isi : Daftar Isi :
Bab I : Sastra Dan Ilmu Bab I : PRINSIP PRINSIP DASAR
Sastra SASTRA
1. Pengantar PRINSIP PRINSIP DASAR PUISI
Ilmu sastra mmeneliti A. Pengantar ke masalah
sifat-sifat yang terdappat di Coleridge pernah
dalam teks sastra, lagi pula memperingatkan dengan
baagaimana teks-teks tersebut tegas bahwa ‘ Suatu puisi
berfungsi di dalam tidak perlu samar karena
masyarakat(hal:2). Ilmu sastra bukan keopuleran yang
tidak hanya menekuni kaidah- merupakan tujuan utamanya .
kaidah, sistem-sistem, serta Sudah cukup bila karya
modul-modul(hal:3). Seorang tersebut jelas bagi orang
peneliti sastra yang ada minat tertentu saja” ( Tarign ,
terhadap sejarah tidak hanya 1967 :27) , Memang ada
memperhatikan sistem-sistem benarnya pernyataan
serta perkembangan sastra, ia tersebut ,tetapi kita tidak
juga memperhatikan ciri-ciri dapat menyetujui seluruhnya
khas yang terdapat di dalam terlebih kalimat kedua
karya-karya sastra masing- .Mengapa? karena kita
masing. (Luxemburg dan berpendapat bahwa karya
kawan-kawan 1982;3) atau puisi itu ditulis justru
2. Pengertian Ilmu Sastra untuk masyarakat sekalipun
2.1 Masalah-masalah yang pada mulanya untuk orang
timbul bilamana mau tertentu saja (Paragraph 1:2)
mendefinisikan “sastra” B. Apa yang disebut puisi
Pengertian tantang sastra Kata puisi berasal dari
sendiri sering di mutlakkan bahasa Yunani poises yang
dan dijadikan sebuah tolak berarti penciptaan . Akan
ukur universal; padahal perlu tetapi , arti yang semula ini
diperhatikan kenisbian lama kelamaan dipersempit
historik sebagai titik pangkal. ruang lingkupnya menjadi “
(Luxemburg dan kawan- hasil seni sastra yang kata-
kawan 1982;4) katanya disusun menurut
2.2 Definisi-definisi historik syarat-syarat tertentu dengan
Sastra merupakan sebuah menggunakan irama, sajak
ciptaan, sebuah kreasi, buka dan kadang-kadang kata-kata
pertama-tama sebuah imitasi. kiasan ( ensiklopedia
Pengertian-pengertian sastra Indonesia N-Z , tanpa tahun :
yang kami sebut sampai 1147)
sekarang ini mengaandung C. Hakikat puisi
suatu penilaian. (Luxemburg Walaupun dalam menjawab
dan kawan-kawan 1982;5,9) pertanyaan “apakah yang
2.3 Sastra itu apa? disebut puisi” sebelumnya
Sastra bukanlah benda telah kita utarakan sejumlah
yang kita jumpai, sastr adalah keterangan atau batasan ,
sebuah nama yang dengan namun jelas bagi kita betapa
alasan tertentu dalam suatu sulitnya memberi batasan
lingkungan kebudayaan. yang tepat terhadap kata puisi
(Luxemburg 1982;9) tersebut (paragraph 1:9)
D. Metode puisi
Apabila kita perhatikan
benar-benar maka jelaslah
bagi kita bahwa pada
umumnya para penyair
mengatakan lebih banyak
daripada yang dikandung
oleh kata-kata atupun
kombinas kata-kata yang
tersurat pada sajak mereka
Hal terenting diantaranya
adalah
1) Diksi
2) Imaji
3) Kata nyata
4) Majas
5) Ritme dan rima
(paragraph 2 :18)
E. Hubungan hakikat dan
metode puisi
Hakikat dan metode puisi
itu saling bergantung satu
sama lain; yang saatu tidak
terpikirkan tanpa yang satu
lagi; hubungan keduanya
adalah seperti hubungan
tubuh dengan jiwa dan
hubugan jasmani dan rohai
( paragraph 2: 41)
F. Maksud dan tujuan puisi
Agar kita mendapat
gambaran yang lebih jelas
mengenai apa yang dimkasud
denan kata ‘maksud dan
tujuan” , terlebih dahulu akan
kita bicarakan perbedaan
utama antara prosa dan puisi .

Lucia B.Mirrielees
mengatakan bahwa perbedaan
utama antara prosa dan puisi
terletak dalam :
1) Maksud dan tujuan si
pengarang ;
2) Bentuknya; terutama
sekali dalam ritme,rima
dan pola-pola persajakan ;
3) Hubungannya dengan
music atau lagu;, baik
lagu kata ataupun lagu
kalimat ;
4) Pentingnya penjelasan
yang terperinci terhadap
pengertian setiap kata
yang terdapat di
dalamnya;
5) Kuantitas majas ,kata
kias, yang terdapat
didalamnya ; dan
6) Pemakaian referensi
,simbol, serta implikasi-
implikasi
( Mirrielees , 1952: 379-
406) (Paragraph 1 : 42)
G. Lahirnya sebuah puisi
Satu hal yang perlu kita
ketahui bahwa proses
pembuatan atau proses
lahirnya puisi itu tidak lah
sama, meskipun barangkali
tidak bias dianggap sebagai
suatu ketentuan mutlak ,
namun dapatlah dikatakan
bahwa puisi yang singkat
mungkin selesai sekaligus
dalam waktu yang singkat ;
sedangkan puisi yang
panjang-panjang lazim pula
membutuhkan waktu yang
relative lama , berminggu-
minggu bahkan berbulan-
bulan karena memerlukan
penggodokan yang lebih
matang dalam bawah sdar
sang penyair , memerlukan
pengalaman , pengetahuan-
pengetahuan lainnya sebagai
bahan pembantu . ( Paragraph
3:47)
Selanjutnya menurut Stephen
stender usaha menulis puisi
yang berkonsentrasi itu
merupakan kegiatan spiritual
yang dapat membuat seorang
penyair benar-benar lupa
pada saat itu bahwa dia
memiliki jasmani . Menurut
pengakuannya sendiri , ada
dua tipe konsentrasi yaitu :
1) Langsung dan sempurna
dan ;
2) Lamban dan
disempurnakan secara
lambat (Gheselin [et al]
1961:114), (Paragraph
2:50)
H. Menikmati dan menilai
puisi

Apapun yang telah kita bahas , tentu


tidak akan ada manfaatnya jika kita
berhenti sampai disana. Setiap usaha
tentu ada maksud dan tujuannya .
Apabila kita sudah dapat menikmati
suatu puisi, berarti kita sudah dapat
melihat dimana leta keindahannya , dari
segi hakikat maupun metode nya, dan
dari segi isi maupun bentuknya

Komentar bab 1 buku 1: Pada bab ini Komentar bab 1 buku 2 : Pada bab ini tujuan
berjudul Sastra dan ilmu sastra namun pembahasan adalah langkah-langkah untuk
saya tidak mendapatkan jelasnya apa itu menikmati suatu puisi untuk mempelajari
pengertian sastra dan ilmu sastra, keindahannya bisa dibahas dari metode, dan
menyebabkan tidak sinkronnya isi buku hakikat puisi
dengan judul bab.
BAB II : Sastra dan kenyataan Bab II : Prinsip-Prinsip Dasar Drama
Yang disebut umum
manusiawi bukan umum dan a) PENGANTAR KE
bukan manusiawi. Syukurulah MASALAH
pengertian tersebut hanya
merupakan sebuah khayalan, Suatu pementasan bukan memerlukan
tetapi sayang sebuah khayalan audiens yang asal-asal saja, tetapi
yang telah melahirkan audiens yang baik. Bukan soal kuantitas
kesalahpahaman- yang perlu melainkan kualitas audiens,
kesalahpahaman yang dengan kata lainyang diharapkan atau di
mencelakakan ( J.grehof:15) tuntut adalah audiens yang sudah tinggi
1.Pengantar taraf apresiasinya.(Tarigan;68
Dalam bab ini kami
perhatikan tiga hal yang b) APA YANG DISEBUT
berbeda- beda DRAMA?
- Pengertian mimesis
- Masalah
Drama mengutamakan perbuatan,
fiksionalisme
gerak, yang merupakan inti hakikat
- Pendekatan
setiap karangan yang bersifat drama
terhadap sastra
(Tarigan;70
yang langsung
menghubungkan
c) DRAMA DAN TEATER
sastra dan
masyarakat
2. Mimesis Encyclopedia Britanica berpendapat
Pengertian mimesis bahwa Drama adalah terjemahan dari
(Yunani: bahasa yunani Draonai yangberarti
perwujudan/jiplakan) sesuatu yang telah diperbuat; teater
pertama – tama digunakan adalah alihan dari bahasa yunani
dalam teori-teori tentang theatron yang berartintempat menonton.
seni seperti diutarakan (tarigan;73
oleh Plato(428-348) dan
Aristoteles( 384-322) d) UNSUR-UNSUR
Dan dari abad ke abad DRAMA
sangat mempengaruhi
teori-teori mengenai seni Agar kita dapat mengevaluasi suatu
dan sastra di Eropa . lakon, maka terlebih dahulu kita harus
mengenal unsur-unsurnya dengan
3. Fiksionalitas baik(tariga;75
Sejauh ini dalam bab
dua , pertama kita e) JENIS-JENIS DRAMA
memperhatikan pendapat,
bahwa sastra merupakan Uraian singkat mengenai keempat
sebuah cermin/gambar jenis lakon beserta ciri-ciri utamanya
mengenai kenyataan. Bila masing-masing berikut ini akandapat
kita menegaskan bahwa menolongkita untuk dapat menentukan
sebuah teks fiksi jenis drama yang bagaimanakah yang
menciptakan suatu dunia kita tonton iyu. (tarigan;83
ini sendiri yang harus kita
bedakan dari kenyataan. f) PRINSIP GOETHE
Bila kita menegaskan DALAM DRAMA
bahwa sebuah teks fiksi
menciptakan suatu dunia
Perbedaan pendapat terhadap suaatu
ini sendiri yang harus kita
lakon mungkin saja terjadi. Bahkan para
bedakan dari kenyataan.
kritikus profesional sekalipun
Bila kita menegaskan ,
mempunyai pendapat yang beraneka
bahwa sebuah teks fiksi
ragam terhadap suatu lakon, seperti yang
menciptakan suatu dunia
telah dikemukakan oleh kritikus drama
sendiri yang harus kita
terkenal brooks atkinson. (tarigan ;98
bedakan dari kenyataan,
maka seketika timbul
g) PENTAS DRAMA
pertanyaan bagaimana
hubungan antara dunia itu
dengan kenyataan. Agar kita dapat memberi penilaian
4. Sastra dan masyarakat yang wajar, maka di samping
Sastra dapat dipandang pengetahuan mengenai pengertian drama
sebagai suatu gejala sosial. unsur-unsurnya,jenis-jenisnya, serta
Hubungan antara sastra prinsip-prinsip dasar lainnya yang telah
dan masyarakat diteliti kita utaraka dimuka, maka perlu pula
dengan berbagai cara. kita mengetahui serba sedikit mengenai
a.Yang diteliti ialah faktor- dapur pementasan mulai dari awal
faktor di luar teks sendiri sampai dipentaska di panggung
b.Yang diteliti ialah hubungan (tarigan;100
antara aspek- aspek teks sastra
dan susun4.1 Mars,Lenin dan h) DRAMA DALAM
realisme sosialis PENDDIKAN
4. Menurut Marx susunan
masyarakat dalam bidang Kegunaan drama dalam pendidikan
ekonomi yang dinamakan tidak dapat disangkal lagi(tarigan;112
bangunan bawah, menentukan
kehidupan sosial, politik,
intelektual, dan kultural
bangunan atas. Lenin dapat
dipandang Sebagai peletak
dasar bagi kritik, sastra dan
mengembangkan suatu visi
yang jelas tentang sastra dan
mengembangkan suatu visi
yang jelas tentang sastra.
4.1 Aliran realisme sosialis,
sesuia dengan pandangan lenin
mengandalkan adanya suatu
hubungan dialektik antara
sastra dan kenyataaan
masyarakat .
4.2 Lukas dan brecht
Menurut Lukas
kenyataan mempunyai
berbagai tahap. Kulit dunia
luar secara langsung dapat
dihormati tetapi terdapat juga
unsur- unsur dan
kecenderungan yang terus-
meneru berubah
4.3 Perkembangan mutakhir
Kritisi neomarxis lainnya
yang mempunyai keberatan
terhadap pendapat lukacs yang
ortodox itu. Tetapi mereka
tetap setia kepada kritik sastra
marvia, yakni : sastra
mencerminkan kenyataan
dalam masyarakat dan
merupakan sarana untuk
memahaminya.

Komentar bab 2 buku 1 :Kritik pembahasan Komentar bab 2 buku 2: Pada bab ini juga
dari pendapat Lukacs yang dianggap orthodox dibahas mengenai pendapat-pendapat para ahli
mengenai sastra
BAB III : Tesk dan Komunikasi dalam Bab III : Prinsip-Prinsip Dasar Kritik
ilmu sastra Sastra
i) PENGANTAR KE
1. Pengantar MASALAH
Dalam bab ini dibahas beberapa aliran Pengarang wanita Virginia Wolf mengatakan
yang menempatkan karya sastra dalam bahwa “roman ialah terutama sebuah
pusat perhatian,dan dari sana lalu eksplorasi penghidupan,merenungkan,dan
diikutsertakan seluruh proses komunikasi: melukiskan,dalam bentuk yang
formalisme,strukturalisme,ilmu sastra tertentu,pengaruh,ikatan,kehancuran gerak-
linguistic dan semiotic. gerik hasrat-hasrat manusia.
B.APAKAH YANG DISEBUT FIKSI?
2. Formalisme Kata fiksi diturunkan dari Bahasa
Formalisme yang timbul di Rusia untuk Latin fictio yang berarti
sebagian dapat kita pandang sebagai suatu “membentuk”,membuat,menciptakan.
reaksi terhadap aliran positivism pada abad (Webster’s New Collegiate
ke-19 yang memperhatikan keterangan Dictonary ,1959 : 308)
“biografis”. Selanjutnya Cleanth Brooks menyatakan
bahwa fiksi adalah suatu istilah yang
3. Struturalisme dipergunakan untuk membedakan uraian
Dalam ilmu sastra pengertian yang tidak bersifat historis dari uraian yang
“strukturalisme” sudah dipergunakan bersifat historis,dengan penunjukkan khusus
dengan berbagai cara. Yang dimaksudkan pada sastra
dengan istilah “struktur” ialah kaitan-kaitan j) UNSUR-UNSUR FIKSI
tetap anatara kelompok-kelompok gejala. Brooks dan Warren dalam buku
Kaitan-kaitan tersebut diadakan oleh mereka Understanding Fiction
seorang peneliti berdasarkan observasinya. mengatakan bahwa penulisan fiksi
3.1 strukturalisme ceko perlu memerhatikan prinsip-prinsip
strukturalisme ceko berkembang dan masalah teknis berikut:
pada tahun tiga puluhan abad ini : k) Permulaan dan eksposisi
sama dengan aliran formalis,kaum l) Deskripsi dan alur
strukturalis menyangkal bahwa m) Atmosfer
produk itu tepat sama penyebabnya. n) Seleksi dan sugesti
Dan dari sudut ini struturalisme o) Saat tepat
ceko melawan positivism. p) Klimaks
3.2 analisa cerita secara q) Konflik
strukturalistik r) Komplikasi
Yang merintis jalan bagi analisa s) Pola atau bagan
cerita secarastrukturalistik ialah t) Resolusi
karya Vladimir Propp Morfologija u) Tokoh dan gerak
skazki yang baru padatahun enam v) Pusat minat
puluhan mulai dikenal di Eropa w) Pusat tokoh
Barat dan Amerika Serikat. x) Pusat narasi,sudut pandang
Propp menyajikan sebuah morfologi y) Jarak
mengenai cerita dongeng,artinya ia z) Skala,dan
melukiskan dongeng Rusia menurut aa) Kelajuan ( Brooks & Warren,
bagian-bagiannya,bagaimana 1959 : 644-68)
bagian-bagian itu saling tergantung bb) KLASIFIKASI FIKSI
dan bagaimana hubungan antara Kita juga dapat mengadakan
bagian dan keseluruhan. klasifikasi dari segi maksud dan
tujuan sang pengarang menulis fiksi
4. Linguistic dan Ilmu Sastra itu. Dengan demikian, secara singkat
Pada abad ini selalu terdapat ikatan-ikatan dapat kita katakana bahwa klasifikasi
erat antara ilmu Bahasa dan ilmu sastra. Hal itu dapat dibuat berdasarkan:
tersebut telah kita lihat waktu cc) Bentuk
membicarakan aliran formalism dan dd) Isi, dan
strukturalisme,misalnya bertepatan dengan ee) Kritik sastra
teori lapisan dalam strukturalisme atau Berdasarkan bentuk
berhubungan dengan perhatian bagi Bahasa Berdasarkan bentuknya ,fiksi dapat kita bagi
poitik didalam formalisme.Tetapi ikatan atas lima golongan,yaitu:
antara ilmu Bahasa dan ilmu sastra 1.Novel
sebetulnya jauh lebih tua. Pertalian tersebut 2.Novelette
telah kita jumpai dalam teori tentang 3.Short story
retorika pada zaman Yunani dan Romawi 4.Short short story
kuno. 5.Vignette

5.Semiotic Sastra
Adapun semiotic itu ialah ilmu yang Berdasarkan isi
secara sistematik mempelajari tanda-tanda Klasifikasi berdasarkan isi hanyalah mungkin
dan lambing-lambang,sisitem-sistem dilakukan bila kita telah membaca fiksi
lambing dan proses-proses perlambangan. itu,yaitu bila kita telah mengetahui apa
Menurut pandangan ini sastra merupakan isinya,maksud dan tujuannya. Berdasrkan
sebuah sistem tanda sekunder,semiotic isinya maka dapat kita bagi fiksi itu atas
sastra mempelajari Bahasa alami yang 1.Impresionisme
dipakai dalam sastra,misalnya Bahasa 2.Romantic
Indonesia atau Bahasa inggris,tetapi juga 3.Realisme
sistem-sistem tanda lainnya,untuk 4.Sosialis realisme
menemukan kode-kodenya. 5.Realisme sebenarnya
5.1 semiotik sastra ala Peirce 6.Naturalisme
yang merancangkan secara 7.Eksprisionisme
sisitematik sebuah teori tentang 8.Simbolisme
tanda ialah filsuf Amerika Charles (Lubis, 1960 : 38-45)
Peirce. Kita saling mengadakan Berdasarkan kritik sastra
komunikasi lewat tanda-tanda. Dalam pengategorian novel-yang kami kira
Tanda-tada Bahasa hanya juga berlaku bagi karya fiksi pada umumnya
merupakan salah satu kelompok – Robert Liddell membuat pembagian sebagai
tanda yang kita pergunakan. berikut:
Menurut peirce ada 3 fatkto yang Novel yang menuntut kritik sastra yang serius
menentukan sebuah tanda,yaitu 1.Novel-novel yang baik
tanda itu sendiri,hal yang ditandai Walaupun sang kritikus akan menolak untuk
dan sebuah tanda baru yang terjadi mengadakan suatu ukuran penilaian bagi para
dalam batin si penerima. Tanda itu novelis,untuk memberi ciri-ciri pada karya
merupakan suatu gejala yag dapat mereka,namun sang kritikus sebenarnya dapat
dicerap ataupun suatu gejala yang saja berbicara.
lewat penafsiran dapat dicerap. 2.Novel-novel yang mungkin baik
5.2 semiotik ala lotman Para penulis memang menaruh minat pada
pandangan lotman dapat sensibilitas yang mendalam,dan memang
diringkaskan sebagai berikut: seni inngin mencurahkan perhatian dan
adalah salah satu cara manusia perasaannya dengan baik.
menjalin hubungan dengan dunia 3.Novel-novel yang berada di bawah taraf
sekitarnya. Seni merupakan suatu kritik sastra yang serius
sitem tanda-tanda yang menerima Taraf sedang dan Taraf rendah
informasi,menyimpannya lalu ff) NOVEL
mengalihkannya. Sebuah karya seni gg) Apa yang dimaksud Novel?
merupakan sebuah “teks”. Ini Dalam The American Collage
berlaku bagi setiap bentuk kesenian. Dictionary dapat kita ketahui bahwa
Bagi lotman analisa teks secra novel adalah suatu cerita prosa yang
intratekstual merupakan titik fiktif dalam panjang yang
pangkal dan tugas utama bagi ilmu tertentu,gerak serta adegan kehidupan
sastra. Ia menganalisa sebuah teks nyata yang representative dalam suatu
menurut berbagai tahap atau sub- alur yang kacau (1960 :830)
teks. hh) Jenis-jenis novel
Menurut Mochtar Lubis,cerita
roman itu ada bermacam-
macam,antara lain;
a.Roman avontur
b.Roman psikologis
c.Roman detektif
d.Roman social
d.Roman politik,dan
e.Roman kolektif
Perbedaan novel dan cerita pendekAdapun
perbedaan tersebut sebagai berikut:
Jumlah kata. Cerita pendek jumlah katanya
hanya mencapai 10.000 buah saja, sedangkan
novel lebih dari 35.000 buah
Jumlah halaman. Cerita pendek hanya
mencapai maksimal 30 halaman
kuarto,sedangkan novel minimal 100 halaman
kuarto.
Cerita pendek bergantung pada situasi dan
hanya satu situasi sedangkan novel pada
pelaku dan mungkin lebih dari satu pelaku.
Jumlah waktu. Waktu rata-rata yang
dipergunakan untuk membaca cerita pendek
adalah 10-30 menit, sedangkan untuk novel
yang paling pendek diperlukan waktu
minimal 2 jam .
Seorang novelis haruslah seorang humanis
A. Humanisme (berasal dari Bahasa
Latin : humanitas
kemanusiaan),Humanisme adalah
sikap hidup yang terutama bercorak
duniawi;perhatian terutama
dikerahkan kepada soal-soal yang d
Novelet
Ditinjau dari segi jumlah
katanya,novelet berkisar antara
10.000-35.000 kata ; minimal 10.000
kata,maksimal 35.000 kata. Jadi
novelet ini merupakan penengah
anatara cerita pendek dan novel. Oleh
karena itu, tidak usah heran jika ada
pula yang menganggapnya sebagai
little novel atau “novel kecil”
B. Cerita Pendek
1. Apa yang Disebut Cerita Pendek?
Ellery Sedwigck mengatakan
bahwa “cerita pendek adalah
penyajian suatu keadaan tersendiri
keadaan yang memberikan kesan
yang tunggal pada jiwa pembaca.
Cerita pendek tidak boleh
dipenuhi dengan hal-hal yang
tidak perlu.
2. Ciri-ciri Khas Cerita Pendek
a) Ciri-ciri utama cerita pendek
adalah: singkat, padu, dan
intensif.
b) Unsur-unsur utama cerita
pendek adalah:
adegan,tokoh,dan gerak
c) Cerita pendek harus
mengandung interpretasi
pengarang tentang
konsepsinya mengenai
kehidupan,baik secara
langsung maupun tidak
langsung.
d) Cerita pendek bergantung pada
situasi
Cerita pendek harus mempunyai
seorang pelaku utama
3. Pembagian cerita pendek
Klasifikasi terhadap cerita pendek
dapat dilakukan dari berbagai
sudut pandangan,yang umum
yaitu:
a. Berdasarkan jumlah kata,dan
b. Berdasarkan nilai
Komentar bab 3 buku 1 : Pada abad ini Komentar bab 3 buku 2 : Bab ini membahas
selalu terdapat ikatan-ikatan erat antara ilmu mengenai cerita pendek ataupun sastra dalam
Bahasa dan ilmu sastra. Hal tersebut telah kita bentuk teks lainnya
lihat waktu membicarakan aliran formalism
dan strukturalisme,misalnya bertepatan
dengan teori lapisan dalam strukturalisme atau
berhubungan dengan perhatian bagi Bahasa
poitik didalam formalisme.Tetapi ikatan
antara ilmu Bahasa dan ilmu sastra sebetulnya
jauh lebih tua. Pertalian tersebut telah kita
jumpai dalam teori tentang retorika pada
zaman Yunani dan Romawi kuno.

BAB IV : KRITIK DAN PENAFSIRAN Bab IV : Prinsip-Prinsip Dasar Kritik


1. Pengantar Sastra
Di tengah-tengah aliran-aliran 1. pengantar ke masalahan
ergosentrik terdapat banyak Semua keritik adalah membangun,selama
perbedaan.Beberapa aliran ini kritik itu bernama kritik,itu tetap
penting yaitu New riticims dan membangun. Paragraf 1 Yang jelas ialah
Nouvelle Critique,kemudian sebuah bahwa tanpa adanya pikiran kritis da tajam
kelompok di negeri Belanda sekitar maka tidak akan kita alami
majalah Merlyn dan beberapa kemajuan.paragraf2
perkembangan mutakhir di Amerika Hlm 186
Serikat. Hal 51 2. Apa Yang Dimaksud Kritik Sastra
Kata keritik yang lazim kita pergunakan
2. Empat bentuk Kritik Sastra dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa
1. New Criticims yunani krinein yang berarti
“Mengamati,membandingkan,dan
Tugas kritik ialah memperlihatkan
menimbang”.Dalam Ensiklopedia Indonesia
dan memelihara pengetahuan yang
dapat kita baca keterangan bahwa “Kritik
khas, unik, dan lengkap seperti
adalah penilaian (penghargaan),terutama
ditawarkan kepada kita dalam sastra
mengenai hasil-hasil seni dan ciptaan-ciptaan
agung. Hal 52
seni.(F-M:817)hlm187
Menurut Wimsatt,jangan
Kritik ialah bandingan dan bendungan ,dan
dicampurbaurkan dengan kesan
seterusnya mengemukakan bahwa dengan
(affect) yang diperoleh oleh
mempunyai pedoman tata keritik itu
pembaca:bila kita mengikuti
(seseorang) dapat membandingkan segala
affective fallacy itu,maka kita
yang dibacanya,apa yang didengarnya dan
terjerumus dalam kritik subyektivis
dilihatnya,bahwa ia dapat membendung
dam impresionis.Hal 51
pikiran dan perasaan umum yang simpang-
Bahasa puisi,lain daripada bahasa
siur itu sesuai dengan batas-batas
ilmiah,tidak merupakan sarana
keindonesiaannya,hingga tidak dapat lagi ia
komunikasi informasi yang
diombang-ambingkan oleh pengaruh yang
disampaikan oleh ilmu pengetahuan
dan mengandaikan adanya satu hendak membalutnya,tidak lekas lagi ia jatuh
relasi saja antara tanda arti,tetapi gelisah dalam kebingungan karena lenyap
dalam sastra tanda yang sama keperibadiannya,melainkan kebal ia menahan
memiliki banyak arti.:52 segala keritik,ibarat karang batu di tengah-
Menurut Brooks kesatuan yang tengah ombak yang terus-terusan
merupakan ciri khas sebuah sajak memukulnya(Andinegoro;1958:7). Hlm188
tidak dapat difrasekan,diuraikan 3.Perinsip Dasar Kritik Sastra
dengan cara “biasa”.
Aliran New Criticism gemar sekali a) sastra adalah suatu cara
meneliti puisi para penyair dari berpikir yang universal,
berbagai zaman yang hasil karyanya karakteristik manusia dalam
dengan sengaja disusun secara segala masa dan tahap
paradoksal,misalnya Donne dan
perkembangan;
T.S.Eliot.Tetapi karya sastra yang
baik bercirikan paradox atau b) tipe berpikir ini tidak akan
ironi.:52 dapat dikembangkan terpisah
dari obyektivitasnya dalam
2. Merlyn beberapa bentuk tulisan yang
Di negeri Belanda majalh Merlyn bertindak sebagai suatu
(nama seorang resi dari legenda lambang yang penting;
Raja Arthur) telah menjadi terkenal c) maksud dan tujuan cara
karena menfsirkan puisi dan novel- berpikir ini adalah membuat
novel Belanda secara
pengalaman lebih intensif dan
ergosentrik.Majalah ini terbit antara
1962-1966 : 54 bermakna;
Bagi kelompok Merlyn itu,sebuah d) pemupukan serta
karya sastra didekati dengan tepat pengembangan sastra haruslah
bila kita mempergunakan analisa dilaksanakan melalui: (a)
structural.Menurut defenisi mereka upaya pada penulisan yang
steruktur ialah cara yang unik segala kreatif, (b) melalui apresiasi,
aspek bentuk da nisi kait mengait. : apropisasi, atau kesepadanan
54
nilai-nilai yang terdapat dalam
Sama seperti New Critics,kelompok
Merlyn telah berjasa sekali dengan karya orang lain.
membuat analisa-analisa cerdas e) nilai sastra suatu puisi, novel,
mengenai puisi yang kelihatan dan drama senantiasa bersifat
mudah,tetapi yang sebetulnya pribadi;
sukar. :56 f) intensitas pengalaman
penikmat ssatra tergantung
3. Nouvell Critique dari beberapa faktor yaitu : (a)
Menurut Roland BarthesTokoh perasaannya pada saat
utama dari Nouvelle Cristique
membaca; (b) paham atau
itu,kritik kritik sastra dikalangan
universitas hanya membuat ikhtisar- tidaknya akan lambang-
ikhtisar lalu membuat lambang yang dipakai; (c)
penilaian.Sedangkan penulisan biasa atau tidaknya akan
sejarah sastra ,menurut interpretasi imajinatif; (d)
Barthes,secara naïf dan kebetulan pengalaman-pengalamannya
menemukan hubungan-hubungan pada masa lalu; (e) kesesuaian
tanpa mengajukan pertanyaan- bahan-bahan yang disajikan
pertanyaan secara terarah ataupun
pada masalah-masalahnya
memperhatikan kaitan-kaitan
structural.: sendiri.
Berlainan dengan kaum New Critics g) dari segi hakikat dan tujuan
di Amerika dan kelompok sastra, nilai-nilai estetika perlu
Merlyn,maka kaum kritisi baru di dialihkan, dan kegunaan suatu
Prancis tidak yakin pada sebuah karya sastra tertentu mungkin
karya sastra dapat ditafsirkan secara saja berbeda dari masa ke
tuntas dan arti yang sesungguhnya masa, dari bangsa ke bangsa,
dapat di diungkapkan.:56
dan dari pribadi ke pribadi.
Menurut Barthes seorang kritikus
merupak subyek yang menambah h) reaksi-reaksi perseorangan
nilai-nilainya sendiri sambil terhadap sastra ini sangat erat
membaca karya sastra tertentu.:57 kaitannya dengan
perkembangan sikap kita
Beberapa dalil dari kelompok terhadap diri dan lingkungan,
Nouvelle Critique menimbulkan sehingga pada akhirnya
masalah-masalah yang dapat tidaklah mungkin suatu sastra
dipertanyakan
tanpa mempertimbangkan
kebenarannya.Deskripsi mereka
mengenai proses interpretasi ,cara implikasi-implikasi moralnya.
bagian dan keseluruhan saling (Vincil C.Coulter,1930: 335-
menentukan,sebetulnya baerbau 6)hlm190
filsafat dan tidak begitu saja dapat
dibuktikan. Tetapi Novelle Cristique 4.Falsafah Kritik Sastra
berjasa sekali karena mereka telah Pandangan terhadap kritik sastra dapat
menelanjangi subyektivitas seorang dilihat dari berbagai sudut. Ada cendikiawan
kritikus mereka memperlihatkan yang mengatakan bahwa kritik sastra dapat
bahwa sebuah penafsiran juga dipandang sebagai :
tergantung pada pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan mengenai i) suatu disiplin teoritis atau
teks yang bersangkutan.:59 ilmu;
j) suatu skill atau keterampilan
4. Poststrukturalisme atau
yang dibimbing oleh perasaan
Dekonstruksi dan dikembangkan melalui
Kaum poststrukturalis,sekelompok pengalaman;
kritikus di Universitas Yale, dengan
k) suatu art dalam pengertian
lebih tegas lagi menolak pandangan
New Criticims.Mereka ingin penganut Aristoteles adalah
mendekonstruksikan teks lalu techne yaitu suatu produksi
merekonstruksikan sebuah teks yang mempunyai maksud
baru.Beberap tokoh dari Kelompok tertentu secara metodis
Yale itu ialah Paul de Man dan (Shipley [ed],1962: 307-8)hlm
J.Hillis Miller. 191
Para dekonstruksionis menolak
pendapat bahwa teks mencerminkan 1.Kritik Sastra Sebagai Suatu Ilmu
kenyataan .Sebaliknya,demikian kita menganggap bahwa kritik sastra itu
mereka tegaskan,teks membangun merupakan suatu ilmu atau suatu
kenyataan .Sebuah novel karangan disiplin teoritis, maka dengan
George Eliot tidak mencerminkan sendirinya kita mengakui bahwa dia
masyarakat inggris pada zaman Ratu mempunyai metode dan teknik
Victoria:kesan seolah-olah penelitian ilmiah tertentu seperti juga
masyarakat itu sungguh halnya dengan ilmu-ilmu lain. Kita
hadir,disebabkan oleh kemampuan mengetahui bahwa pada umumnya
bahasa untuk menghadirkan sesuatu metode-metode ilmiah berlangsung
yang tidak ada, seolah-olah ada melalui beberapa tahap. Tahap-tahap
.Bahasa menciptakan kenyataan. tersebut adalah :
Yang menjadi sasran dekonstruksi
ialah memperlihatkan ,sejauh mana l) pengumpulan data,
seorang pengarang mempergunakan m) pengklasifikasian data,
pola-pola bahasa dan pemikiran
n) pembentukan hipotesis,
guna memberi bentuk kepada suatu
visi tertentu.:60 o) pembuktian hipotesis dengan
Aliran dekonstruksionalisme ramalan data baru, dan
mengatakan,bahwa mereka p) pembentukan prinsip-prinsip
didukung oleh suatu filsasafat ilmiah baru secara konsekuen.
tertentu serta sebuah pandangan (Hughes,1968 :11-12).
mengenai bahasa yang disini tak
dapat kami bahas secara kritis.Gaya kritik itu mempunyai tujuan praktis
Metafora yang dipakai oleh kaum sebagai suatu alat untuk
dekonstruksionisme dapat mengemukakan serta memaparkan
memencilkan kritik sastra ini. Sukar proses kreasi artistik dan apresiasi.
mengalihkan metode ini karena taka ( Joseph T. Shiple).hlm192
da batas bagi usaha mencari-cari
hubungan dengan teks-teks lain. q) Kritik sastra sebagai suatu
Yang dapat dianggap sebagai keterampilan
sumbangan positif dari kelompok ini
ialah perhatian bagi sifat bahasa Walaupun kita menganggap
yang dapat mewujudkan kenyataan bahwa kritik adalah suatu
serta pembukaan kreatif terhadap keterampilan, namun dia tidaklah
tradisi literer. pernah merupakan suatu knack atau
suatu keterampilan yang diperoleh
3. Penafsiran dalam ilmu sastra dengan kebiasaan latihan, dan juga
1. Resepsi dan Penafsiran tidak pernah merupakan suatu art atau
Kita membedakan penerimaan seni dalam pengertian fine art atau
(resepsi)sebuah teks sastra dari puisi. Dalam kehidupan sehari-hari
penafsirannya orang dengan jelas membedakan kata
(interpretasi).Setiap reaksi dari kritik dari kreasi, bahkan tidak jarang
pihak pembaca terhadap sebuah dipertentangkan.
teks ,baik secara langsung atau
tidak langsung merupakan Kata kreasi biasanya dipergunakan
penerimaan. bagi semua hasil sastra. Akan tetapi,
Adapun penfsiran ialah bentuk dalam aspek analitisnya, kritik
khusus mengenai laporan merupakan suatu bagian mutlak dari
penerimaan.Sama seperti dalam proses kreatif dan dalam aspek
proses penerimaan biasa, maka sintetisnya, kritik lebih cenderung kea
pembaca yang menafsirkan rah kreasi sebagai suatu produksi dari
mengartikan sebuah teks,tetapi karya lain. Hlm193
tafsiran-tafsiran selalu disusun
secara sistematik.
Ilmu sastra dalam arti sempit 3. Kritik sastra sebagai “art” atau
tidak menyusun tafsiran- “techne”
tafsiran.Penafsiran termasuk
bidang kritik sastra.:62
Suatu kritik bersifat metodis dalam
pengertian bahwa dia terjadi dalam
peresmian dengan hukum-hukum dan
prinsip-prinsip yang dikembangkan
dalam pandangan-pandangan yang
kompleks dan beraneka ragam melalui
masa berabad-abad yang mempunyai
sendiri-sendiri. Suatu kritik adalah
purposive dalam pengertian bahwa dia
tidak mempunyai maksud khusus
yaitu memelihara kreasi dan
penikmatan keindahan, dengan kata
lain to foster the creation and
enjoyment of beauty. Selanjutnya
kritik itu merupakan suatu produksi,
dalam pengertian bahwa dia turut
mengambil bagian atau berpartisipasi
dalam proses kreasi itu, sekalipun
tidak dengan menyuguhkan karya-
karya seni.
Sekalipun aliran yang kita anut dalam
falsafah kritik sastra berbeda-beda,
tetapi satu kenyataan yang tidak dapat
dipungkiri bahwa kritik sastra erat
sekali kaitannya dengan nilai.( I. A.
Richards).hlm194
5. Fungsi Kritik Sastra
Bahwa kritik mempunyai fungsi yang
amat besar pada masa moderen ini, kiranya
tidak perlu disangsikan lagi.begitu besarnya
fungsi itu .(Vinci C.Coulter,1930 :334) hlm
196
6. Jenis-jenis Kritik Sastra

r) Kritik Judisial
Yaitu suatu kritik yang
mengemukakan suatu penlaian
atau penghakiman terhadap
suatu karya sastra, lalu
menghubungkannya dengan
norma-norma teknik penulisan
atau standar tujuan penulisan
karya tersebut. (Coulter,
1930: 336).
Rene Wellek dan Austin
menegaskan bahwa kritik
yudisial menaruh perhatian
pada hukum-hukum/ prinsip
yang dianggap sebagai suatu
yang objektif. Dalam kritik
yudisial, karya sastra yang
menjadi objek kajian lebih
dispesialisasikan tapi dengan
penjelasan yang seluas
mungkin. Di sini dituntut
pengklasifikasian yang lebih
terperinci dan tajam terhadap
para pengarang dan
karyanya.hlm206.
2) Kritik Induktif
Kritik Induktif adalah jenis
kritk sastra yang bertujuan
mengumpulkan fakta-fakta
yang ada hubungan dengan
suatu karya seni, metode,
waktu penciptaan, dan
menyusunnya menjadi
susunan yang rapi serta
melukiskannya dengan
teratur. Ini sesuai dengan
metode induksi yang
mengambil kesimpulan umum
dari fakta-fakta yang khusus.
(Albert [et al],1961 :123)
3) Kritik Impresionistik
Yaitu kritik sastra yang
muncul sebagai produksi dari
aliran individualisme
romantik dan kesadaran akan
diri yang lebih modern. Kritik
ini menghubungkan
pengalaman si penulis dengan
karyanya. Sebaiknya, seorang
kritikus mempunyai gaya yang
bisa membuat hati pembaca
terpikat dalam kedudukannya
sebagai pembimbing juga
penghubung antara pembaca
dan karya sastra.
(Coulter,1930 :336) hlm207.
4) Kritik Historis
Jenis kritik sastra yang mengikuti
segala sesuatu yang terjadi atas suatu
bentuk sastra dalam periode sejarah
sastra. Juga dengan pengelompokan
masa seorang pengarang. Setiap
karya sastra harus diteliti dan
ditelaah dengan hal-hal yang
berhubungan dengan karya sastra
tersebut. Hal-hal yang dapat menjadi
bahan acuan antara lain: naskah,
bahasa dan komposisi karya sastra,
serta perbandingan karya sang
pengarang dengan teman-teman
seangkatannya,. Seorang kritikus
harus paham bahwa karya sastra
merupakan refleksi pengarang pada
kehidupan dan kebudayaannya dan
pengelompokan jenis karya sastra
tersebut serta hubungannya dengan
karya yang sejenis.
Butir –butir penting yang
aberhubungan dengan kritik histories
yakni :
a) Dalam menggarap bahasa suatu
karya sastra, sang kritikus histories
dapat mempertimbangkan dua hal
yaitu:
1) Mengembalikan para pembaca
masa kini pada keadaan bahasa pada
saat karya tersebut ditulis.
2) Memandang bahasa itu sebagai
suatu media komunikasi pada saat itu.
b) Keterangan – keterangan berupa
riwayat hidup merupakan jenis data
yang bernilai dan amat berharga bagi
kritikus histories.
c) Berusaha mendapatkan segala
korelasi antara kehidupan sang
penulis dan karyanya .
d) Bagi kritikus histories, sastra
adalah suara humanitas dan melalui
sastra itu kritikus bukan hanya
berhubungan atau menaruh perhatian
pada literacy (kecakapan baca tulis)
tetapi juga human literacy
(kecakapan baca tulis masyarakat
manusia).
e) Silsilah sastra atau genealogi suatu
karya.
f) Sang kritikus histories dalam kritik
sastranya berhasrat memperoleh
sukses yang gemilang dalam bidang
pemaduan belajar dan penilaian .
5) Kritik Filosofis
Merupakan jenis kritik sastra yang
berusaha untuk mendapatkan dasar
yang paling sesuai bagi penilaian
karya sastra melalui analisis
terhadap hakekat dan fungsi sastra
sebagai suatu cara berpikir mengenai
kehidupan. Kritik ini berusaha
menentukan prinsip yang digunakan
dalam kritik sastra agar pedoman
yang digunakan dalam suatu kritik
jelas dan tegas.
6) Kritik Formalis
Merupakan kritik sastra yang
berpedoman pada teori dasar estetika
yang meletakkan tekanan pada bentuk
karya sastra, struktur, gaya dan efek
psikologisnya. Aristoteles adalah
pencetusnya, kritik ini bertentangan
dengan teori dari Plato yang
menekankan pada aspek isi dan efek
moral/sosial.
Kritik formalis disamakan dengan the
new criticism, karena memang dia
merupakan suatu kritik yang masih
berusia muda., lebih – lebih kalau
dibandingkan dengan kritik –kritik
yang lainnya.
7) Kritik Relativistik
Jenis kritik ini berpedoman pada
anggapan relativisme, yaitu bahwa
penilaian terhadap karya sastra
terantung pada subjek yang
menikmati dan menilainya. Hal ini
terjadi karena selera individu
berbeda-beda, begitu juga dalam hal
menikmati karya sastra sehingga
tidak ada yang bersifat mutlak. Jika
pendapat dari seseorang lebih
mendominasi akan muncul suatu teori
yang absolut meski tidak disadari.
8) Kritik Absolutistik
Kritik jenis ini menegaskan bahwa
alternative bagi hukum kritik adalah
anarki. Ketika seorang kritikus
memberikan penilaian terhadap suatu
karya yang hadir selanjutnya adalah
sebuah kebingungan. Ini dapat
disiasati dengan tetap menggunakan
pendapat masyarakat agar tetap bisa
terwujud komunikasi yang baik.
9) Kritik Interpretatif
Semua jenis kritik sastra bisa
digolongkan sebagai jenis kritik ini
karena hakekat kritik sastra sendiri
adalah memberikan
interpretasi/penafsiran terhadap
suatu karya sastra. Maka,
pengkhususan kritik sastra jenis ini
adalah memperkenalkan standar yang
secara relative tidak ada
hubungannya dengan orang atau hal
tertentu. Di sini akan terlihat
keterkaitan antara teori, sejarah dan
kritik sastra. Tiada satu ilmu yang
dapat berdiri sendiri seratus persen
tanpa bantuan orang lain.
10) Kritik Tekstual
merupakan jenis kritik yang terfokus
pada teks/ naskah suatu karya sastra,
agar pembaca lebih dekat dengan apa
yang ditulis. Dengan berkembangnya
masa, kritik ini ingin menunjukkan
manakah karya yang benar-benar asli
dari beberapa versi karya sastra yang
mungkin muncul.
11) Kritik Linguistik
Jenis Kritik ini menitikberatkan
perhatian pada masalah-masalah
kebahasaan dalam karya sastra
tersebut agar terhindar dari salah
pengertian baik dari sisi fonologi,
morfologi, sintaksis atau semantik. Ini
perlu dilakukan karena setiap bahasa
mengalami perkembangan dalam
kurun waktu yang berlainan.
12) Kritik Biografis
Kritik ini sebenarnya adalah kritik
histories yang wilayahnya
dipersempit yaitu khusus pada
riwayat hidup pengarang beserta
karyanya. Tugasnya adalah
menentukan hubungan yang
signifikan antara pengarang dan
karyanya, asal-usul. Kekuatan yang
mendorong atau tujuan konkrit karya
tersebut.
13) Kritik Komparatif
Banyak hal dalam kritik komparatif
yang segar dan menarik serta
memberi harapan, kritik ini
memperoleh polanya bukan dari
kejadian – kejadian yang
berhubungan dengan waktu, tetapi
justru dari pengelompokan jenis yang
berguna serta gagasan atau ide yang
berpengaruh.
Hal – hal yang dapat
diperbandingkan saja yang akan
digarap Dalam kritik ini yang
diterapkan pada nada, tujuan, dan
cara, bahkan penerapan pada ketiga
hal tersebut lebih daripada terhadap
pokok masalahnya sendiri.
14) Kritik Etis
Kritik etis sangat erat hubungannya
dengan falsafah, keyakinan serta
agama. Tanpa adanya pengetahuan
yang cukup tentang ketiga hal
tersebut akan membuat penilaian
kritik sastra kurang memadai. Pola
pikir seorang kritikus dalam hal-hal
tersebut sangat mempengaruhi
bagaimana ia akan menilai suatu
karya.
15) Kritik Perspektif
Kritik ini adalah studi terhadap
reputasi sang pengarang yang
tercermin dalam karyanya dan
melekat pada hati pembacanya. Kritik
ini berusaha untuk menyelidiki
seorang pengarang dari karya yang
dihasilkan, apakah patut menerima
penghargaan atau patut diabadikan.
16) Kritik Pragmatik
Adalah jenis kritik yang mengarahkan
perhatiannya pada kebergunaan ide,
ucapan, dalil atau teori yang terdapat
dalam suatu karya sastra bagi
masyarakat. Reputasi pengarang
ditentukan oleh bagaimana karyanya
bisa berguna bagi masyarakat.

17) Kritik Elusidatori (Penjelasan)


Adalah jenis kritik yang sifatnya
memberikan penjelasan. Kritik ini
menekankan pada interpretasi arti
atau makna karya sastra.
18) Kritik Praktis
Adalah lawan dari kritik teoritis yang
cenderung ilmiah. Tugas kritikus
adalah menentukan atau menilai
apakah suatu karya sastra bernilai
praktis bagi masyarakat atau tidak.
Tujuannya sama dengan kritik
pragmatis meskipun dengan nama
yang berbeda.
19) Kritik Baru
Bagi para kritikus aliran kritik baru,
tujuan pokok seni adalah
menghasilkan analisis sang kritikus
mengenai seni itu sendiri. Fungsi
kritik adalah melatih kritikus lainnya
untuk melatih kritikus yang lain
dalam suatu urutan akademik bagi
para cendekiawan. Kecenderungan
yang dilakukan para kritikus jenis ini
adalah pemanfaatan sarana-sarana
ilmiah, epigraf dan statistik yang
tidak begitu diperhatikan orang saat
memberikan kritik sastra.
20) Kritik Psikologis
Kritik psikologis adalah salah satu
jenis kritik sastra yang mendalami
segi-segi kejiwaan suatu karya sastra,
yang mencangkup segi-segi kejiwaan
penulis, karya, dan pembaca. Kita
tahu bahwa hubungan antara
psikologi dan kritik sastra adalah
sama tuanya dendan usia kedua
cabang ilmu tersebut. Dan yang
paling berpengaruh terhada kritik
sastra adalah Sigmund Freud dendan
psikoanalisisnya.
21) Kritik Mitopoeik
Kritik Mitopoeik adalah jenis kritik
yang menyangkut penciptaan mitos
dalam suatu karya sastra.kritik
Mitopoeik ini adalah kritik yang
paling baru dan yang paling ambisius
diantara pendekatan-pendekatan
kritik kontemporer dan barang kali
juga yang paling provokatif dalam
tindakan-tindakan dan
kemungkinannya.
22) Kritik Sosiokultural
Kritik sosiokultural adalah
interpretasi sastra dalam aspek-aspek
social ekonomi dan politisinya.yang
merupakan pokok pada kritik ini
adalah interaksi karya sastra dengan
kehidupan dan interaksi ini tidak
hanya mencakup implikasi-implikasi
sosial, ekonomi, serta politis karya
tersebut, tetapi juga dalam pengertian
yang amat luas, mencakup implikasi-
implikasi moral dan kulturalnya

7. Tipe-Tipe Kritikus Sastra


Untuk menetapkan kutub yang permanen
tempat para keritikus bergerak dapat kiranya
memperjelas bahwa tindakan keritik dan
tujuan keritik tidak lah sama pada semua
keritikus,dan juga bahwa tidak ada satu pun
bentuk keritik yang tepat .secara historis
belum pernah ada tipe keritik yang telah
menentukan perinsip-perinsip maszabnya
sedemikian tegas sehinnga mudah dibedakan
dengan tipe lain .(Joseph T.Shipley
(1962:8081).
8.Kritikus Sastra Dan Sarjanah Sastra

Seorang keritikus sastra dapat sekaligus


merupakan seorang sarjana sastra. Bagi
seorang keritikus belum ada pendidikan
formal ,sedangkan bagi sarjana sastra
tersedia pendidikan khusus,yaitu pada
fakultas sastra,yang telah lulus mendapatkan
peredikat sarjanah sastra . Seorang keritikus
tidak lah selamanya harus seorang serjana
formal,seorang sarjana belum tentu seorang
keritikus,dan memang tidak pula merupakan
suatu keharusan.
Contoh yang paling tepat adalah H.B.Jasin
sebagai seorang keritikus merangkap sajana
sastra dan ayip rosidin sebagai keritikus
ulung yang otodidak .

8.Keritik Sastra Dan Apresiasi Sastra

Apresiasi sastra adalah penafsiran kualitas


karya sastra serta pemberian nilai yang
wajar kepadanya berdasarkan pengamatan
dan pengalaman yang jelas, sadar, serta
keritis. (Tarigan;1966:2)
s) Kritik Sastra Dan Esai

Ada penulis yang mengatakan bahwa esai


ialah sepenggal sastra perosa yang ditulis
untuk memberikan suatu eksposisi yang
bersufat peribadi terhadap suatu subjek
(Albert 1961:76)

Ada pula yang memberi keterangan bahwa


pada umumnya esai itu merupakan suatu
karangan biasanya dalam bentuk prosa,yang
sedang panjangnya dan mengenai topik
yang terbatas (Shipley,1962:145)

Komentar bab 4 buku 1:pada buku satu tidak Komentar bab 4 buku 2 : Dalam buku 2
dilengkapi gambar untuk penjelasan dan table tentunya sejarah sastra menggunakan kata kata
gambar tidak disertai.Warna tulisan tidak ada yang sulit dipahami sehingga pembaca sulit
untuk meahami tidak disertakan gambar dan
table pada bahasan yang ditentukan.Warna
tulisan pun tidak menarik.
BAB V
TEKS DAN PEMBACA
1. Pengantar
Pembaca “didalam”
teks,pembaca implisit dan
eksplisit,dibahas dalam pasal
kedua.Bila dibicarakan pembaca diluar
teks,maka harus dibedakan antara
pembaca yang diandaikan dan
pembaca sungguh-sungguh.Pembaca
yang diandaikan dijumpai dalam uraian
tentang puisi dan dalam interpretasi-
interpretasi.
Pembaca yang sesungguhnya
merupakan obyek penelitian resepsi
eksperimental. Yang dilakukan ialah
baik penelitian historic mengenai
dolumen-dokumen maupun penelitian
terhadap para pembaca dari sudut
sosiologi dan psikologi.

2. Pembaca “di dalam” teks


Pembaca implisit merupakan
sebuah konsep pokok dalam estetika
resepsi yang bermaksud
menerangkan,kegiatan mana yang
seharusnya dikembangkan oleh
pembaca agar teks tertentu dapat
ditafsirkan sedemikian rupa sehingga
menjadi teksnya sendiri.

3. Estetika pembaca
Menurut penyair Latin
Horatius,maka penyair ingin membuat
sesuatu yang berfaedah bagi pembaca
atau yang menyenangkan.
Menurut simon lesser sastra
agung berkaitan dengan masalah-
masalah emosional kita
sendiri,sehingga sambil membaca
karya itu kita dapat bertatap muka
dengan masalah-masalah kita sendiri
yang paling mendesak.

4. Penelitian mengenai resepsi


Resepsi iala reaksi pembaca
terhadap sebuah teks.
Sejarah resepsi yang terarah
kepada teks adalah penelitian terhadap
sebuah resepsi sebuah karya oleh
pembaca sepanjang sejarah.

5. Pengolahan teks
Beberapa pengolah teks pantas
diperhatikan secara khusus karena
pengaruhnya terhadap kehidupan
sastra.
Pengajaran sastra mungkin
merupakan bentuk yang paling
berpengaruh dalam pengolahan sastra.
Pengajaran sastra mempergunakan
beberapa sarana bantuan.

Komentar bab 5 buku 1 :dalam bab ini dibahas mengenai teks dan membaca , pengajaran sastra
mungkin bentuk paling berpengaruh Karena dalam teks sastra factor utama dalam pembelajaran
adalah teks
BAB VI
Ilmu Teks
1. Pengantar
Ilmu sastra meneliti sekelompok t
eks tertentu. Ilmu sastra baru - bar
u ini timbul sejumlah permasalaha
n yang berkaitan dengan sifat-sifat
teks pada umumnya, dalam bab ini
akan dibahas dulu ciri-ciri teks. K
emudian akan diuraikan sarana-sar
ana yang dapat dipergunakan para
pengarang teks untuk mencapaii tu
juannya.
2. Teks itu apa ?
Teks ialah ungkapan bahasa yang
menurut isi, sintaksis, dan pragmat
ik merupakan suatu kasatuan. Dala
m praktek ilmu sastra, kita memba
tasi diri pada teks-teks tertulis. Ala
sannya semata-mata : secara teori
ungkapan bahasa lisan pun, asal m
erupakan suatu kesatuan, termasuk
teks. Pragmatik ialah ilmu mengen
ai perbuatan yang kita lakukan bil
amamana bahasa dipergunakan dal
am suatu konteks tertentu.Jadi, isti
lah ini tidak sinonim dengan prakti
s seperti dimaksudkan dalam peng
gunaan bahasa sehari – hari. Mem
baca sebuah teks merupakan satu t
idakan yang bulat yang berakhir d
engan,”Nah, selesailah sudah aku
membaca cerita ini”. Bagi penyiar,
yaitu pembicara atau pengarang kr
iterium pragmatic yang diperhatik
an ialah bahwa teks diungkapkan
oleh satu orang pembicara saja. Se
cara sintaksik sebuah teks harus m
emperlihatkan kebertautan. Kebert
autan itu antara lain Nampak bila
unsur-unsur penunjuk secara konsi
sten yang dipergunakan. Kesatuan
semantik yang dituntuk sesbuah te
ks ialah tema global.
3. Teks dan Konteks
Teks telah kita definisikan sebagai
suatu pragmatik, sintaksik, dan se
mantik.Untuk menyadari semua fa
ctor yang menentukan sebuah fun
gsi sebuah teks, kita memandang t
eks itu sebagai sebuah pesan dala
m situasi komunikasi. Yang diperg
unakan ialah modul Jakobson yan
g pertama telah di singgung.
Menurut analisa Jakobson setiap t
indak komunikasi terdiri atas ena
m factor: pemancar, penerima, pes
an, kenyataan, atau konteks yang d
iacu oleh pesan, serta saluran yang
menyalurkan pesan.
3.1 Pemancar dan Penerima
Pemancar teks (pesan) ialah pe
ngarang yang menulis teksnya
dengansuatu tujuan tertentu.Pe
nerima pesan ialah si pembaca
yang juga mempunyai maksu
d, misalnya supaya ia merasa
di hibur.
3.2 Konteks
Apa yang di acu oleh teks mer
upakan bagian gambaran meng
enai dunia yang ada dalam ang
an-angan kita. Pesan itu kita k
aitkan dengan sebagian pikira
n, perasaan, dan ide-ide menge
nai segala sesuatu yang ada ata
u yang munkin dapat ada. Bagi
an itu dinamakan konteks pesa
n.Ini berarti bahwa isi teks ber
sifat riil sedangkan teksnyareal
istik.
3.3 Kode dan Kontak
Fungsi teks-teks yang menunju
kkan kepada sesuatu (mengacu
kepada sesuatu) dilaksanakan
berkat sejumlah kaidah, janji,
dan kaidah-kaidah “alami” yan
g merupakan dasar dan alas an
mengapa tanda-tanda itu menu
njukkan kepada isinya. Tanda-
tanda itu merupakan sebuah sy
stem yang dinamakan kode.Sy
arat material agar dapat terjadi
komunikasi ialah salah satu be
ntuk kontak.
3.4 Teks sebagai Pesan
Akhirnya dalam proses komun
ikasi ini teks merupakan pesa
n, yaitu sejumlah tanda yang
menunjukkan kepada arti-arti.
Tentu saja ilmu teks tidak dapa
t membatasi pada jenis-jenis sa
stra, karena tugasnya yang pert
ama ialah merumuskan prinsi
p-prinsip yang berlaku umum.
4. Berbagai Jenis Teks
Teks yang kita miliki dapat dibagi
menurut berbagai cara.Dalam rang
ka teori komunikasi dipilih pemba
gian menurut fungsi. Yang dimaks
ud dengan dungsi sebuah teks iala
h keseluruhan sifat-sifat yang bers
ama-sama menuju tujuan yang sa
ma serta dampaknya.Fungsi dapat
diukur sejauh mana tujuan teks ( y
ang dapat dibaca dari teks) bersatu
padu dengandampaknya (sejauh m
ana ini dapa dilacak.)
4.1 Teks Acuan
Setiap teks mempunyai sebuah
aspek acuan, manun sebuah te
ks baru disebut referensial kala
u fungsi utamanya mengatakan
sesuatu mengenai atau mengac
u kepada konteks, yaitu dunia
rill atau dunia yang mungkin a
da.
4.2 Teks Ekspresif
Ekspresif bila fungsi umata tek
s ialah mengungkapkan perasa
an, pertimbangan, dan sebagai
nya dalam diri seorang pengar
ang.Istilah “teks ekspresif” bia
sanya dikaitkan dengan puisi li
rik, tetapi tidak semua bentuk
puisi dapat di golongkan pada
jenis ini, sedangkan sejumlah
besar teks prosa bersifat ekspr
esif, seperti misalnya surat-sur
at cinta, surat-surat protes, beri
ta-berita singkat pada kartu po
s bergambar.
4.3 Teks Persuasif
Sebuah teks yang fungsi utama
nya ialah mempengaruhi pend
apat, perasaan, dan perbuatan
pembaca disebut persuasif. Te
ks-teks persuasif masih dapat
dibagi menjadi dua, ialah teks-
teks evaluative dan teks-teks d
irektif. Teks evaluatif berfungs
i untuk mempengaruhi pendap
at dan perasaan direktif dimak
sudkan untuk mempengaruhi p
endapat dan perasaan pembac
a. Teks-teks direktif dimaksud
kan untuk mempengaruhi kela
kuan pembaca.
4.4 Teks – teks mengenai teks
Teks-teks mengenai teks-teks
atau secara lebih luas,teks-teks
mengenai bahasa, terdapat dal
am semua buku mengenai ilm
u bahasa dan juga dalam buku
yang andasedang baca ini.
4.5 Teks –teks yang berfungsi soci
al
“Lebih keras, tidak dapat kuta
ngkap” merupakan suatu ungk
apan bahasa yang berfungsi so
cial, yaitu menurut arti terbatas
konflik fisik.Dalam sastra tek
s-teks serupa itu jarang kita da
pati.
5. Garis-garis Besar Retorika
Dalam fungsi sebuah teks tujuan p
engarang dan dampak terhadap pe
mbaca bertemu menjadi satu. Setia
p pengarang mengejar sebuah tuju
an dan berusaha untuk mencapai t
ujuan tersebut.
5.1 Bagian-bagian Teks : Penjabar
an dan fungsi
Retorika klasik teks-teks non s
astra terdiri dari beberapa bagi
an tetap yang tidak berubah.Fu
ngsi exordium ialaah minta per
hatian bagi permasalahan.
5.2 Gaya
Gaya serta berbagai pendapat t
entang gaya dibahas sebagai s
uatu bagian retorika.Ini berarti
bahwa gaya dianggap salah sat
u sarana yang dapat diperguna
kan pengarang untuk mencapai
tujuannya.
Catatan Kepustakaan
Satu-satunya pengarang dalam
bahasa belanda mengenai ilmu
teks terdapatpada Van Dijk (1
978a) yang sangat bermutu.Bu
ku pengarang baku tentangreto
rika klasik ialah karangan laus
berg yang pernah diterbitkan d
alam versi singkat (1963). Hub
ungan antara retorika dan argu
mentasi dengan jelas diuraikan
oleh filsuf belgia, Perelman (1
979).

Komentar bab 6 buku 1 : Pada bab ini dibahas mengenai garis besar retorika dan argumentasi-
argumentasi yang diuraikan oleh filsuf Belgia, Perelman (1979)
BAB VII
JENIS-JENIS SASTRA (GENRE)
1.PENGANTAR
Sering kali pengarang-pengaaraang
berusaha untuk menyelaraskan karya
mereka dengan jenis-jenis kaya sastra
yang sudah ada. Pembagian itu sering kali
pula tidak bersifat deskriptif, melainkan
preskriptif, membuat praturan-peraturan,
sehingga seorang pengarang merasa
bangga bila ia dapat memenuhi peraturan-
peraturan tersebut. (luxemburg da kawan-
kawan1982;107)

2. Kriteria dalam pembagian


2.1. Situasi bahasa
Kriterium yanng paling umum berlaku
adalah situasi bahasa yang hanya
menunjukkan perbedaan dalam “sikap”
saja. Kita dappat mengadakan suatu
pembagian atas dasar situasi bahasa tanpa
memperhatikan isinya. Jenis-jenis
kongkret tidak di akibatkan secara alami
melainkan secara konvensional oleh
“sikap-sikap” tersebut. (Luxeemburg dan
kawan-kawan 1982;109)
2.2. isi abstrak
Adanya riwayat tidak merupakan ciri
khaas bagi sajak-sajak. Isi sebuah sajak
dapat berua apa saja.. (Luxemburg dan
kawan-kawan 1982; 111)
2.3 Tematik
Tematik berbagai jenis sastra ini berubah
dari zaman ke zaman daan menyesuaikan
diri dengan perubahan dalam fungsi,
keadaan, publik, dan medium (luxemburg
1982 ; 114)
2.4 Gaya
Pembagian global menurut puisi dan rosa
sebetulnnya bersifat statistik. (luxemburg
1982; 115)
2.5 akibat pragmatik
Kategori tujuan dan akibat pernah juga
dipergunakan unntuk mengadakan
pembagian teks-teks. Tetapi pembagian
serupa itu pun ada persoalannya.tujuan
dan akibat tidak selalu sama. (luxemburg
1982; 115 0
2.6. Bentuk material atau lahiriah
Masalah-masalah besar yaang timbul bila
kita membahas jenis-jenis sastra
menyebabkan sementraraa teoritisi hanya
ingin bertitik tolak dari wujud lahiriah
teks yang diterbitkan.
3. MANFAAT PEMBAGIAN TEKS
MENURUT JENIS
Manfaat pembagian menurut jenis itu
pertama-tama bersifat historik. Sastra
berkembang dalam kotak-kotak serupa
itu. (Luxemburg 1982; 116)

Komentar bab 7 buku 1 : Pada bab ini membahas mengenai genre sastra, namun berdasarkan
yang saya baca dalam bab ini tidak ada dijelaskan sama sekali apa itu genre sastra dan apa saja
genre sastra
BAB VIII
BAB VIII : Teks-teks Naratif
1. Pengantar
Yang dimaksudkan dengan teks - teks
naratif ialah semua teks yang tidak
bersifat dialog dan yang isinya merupakan
suatu kisah sejarah,sebuah deretan
peristiwa.
Yang termasuk jenis naratif tidak hanya
sastra,melainkan juga setiap bentuk,warta
berita,laporan dalam surat kabar atau
lewat televisi,berita acara,sas-sus,dan
sebagainya.

2. Teks dan Juru Bicara


Dalam teks-teks naratif situasi Bahasa
tercampur,artinya juru bicara utama,si
pencerita atau tukang dongeng,kadang-
kadang atau sering atau bahkan hampir
selalu,menyuruh orang lain
berbicara,yaitu para juru bicara
sekunder,para pelaku.
2.1 mengutip
juru bicara primer,sang juru
cerita,melaporkan. Sebagian laporan itu
merupakan kata -kata yang diucapkan
para pelaku,ia mengutip kata-kata
mereka. Teks pelaku itu dicangkokkan
didalam teks sang pencerita. Proses
mengutip ini tidak dapat diputarbalikkan.
Seorang pelaku tidak dapat
mempersilahkan pencerita untuk
meneruskan ceritanya. Andaikata itu
terjadi,maka kita mersa heran.
2.2 penampilan
Perbedaan-perbedaan yang sampai
sekarang ini dibuat berhubungan dengan
laporan -laporan langsung mengenai
ungkapan Bahasa. Tetapi ungkapan
Bahasa para actor dapat juga ditampilkan
secara tidak langsung. Juru cerita primer
tetap bertindak sebagai juru bicara. Ia
tidak hanya bertanggung jawab mengenai
kata-kata yang dipilihnya bagi seorang
actor serta cara ia menafsirkan kata-kata
itu. Ia juga bertanggung jawab atas kata-
kata itu sendiri. Penampilan tidak
langsung dapat berbeda-beda.
2.2 pendengar
kadang-kadang pendengar primer hampir
identic dengan pencerita primer.
Pendengar-pendengar tersier ialah para
pelaku yang disapa oleh berbagai
pencerita tersier. Dalam dialog-dialog
pencerita dan pendengar silih berganti.
3.Cerita, visi terhadap dunia rekaan
Dalam sebuah cerita unsur-unsur
peristiwa disajikan dengan cara tertentu.
Kepada kita disajikan suatu visi terhadap
deretan peristiwa itu. Bagaimana visi
itu,dari siapa visi itu berasal? Itulah
pertanyaan-pertanyaan yang dibahas
dalam pasal itu.
3.1 fokalisator
yang merupakan subjek fokalisasi ialah
fokalisator,orang atau lembaga atau
lingkungan dari mana deretan peristiwa
itu dipandang. Fokalisasi dapat dilakukan
ole seorang tokoh dalam cerita atau oleh
juru cerita itu sendiri. Menceritakan
sesuatu selalu menyangkut fokalisasi.
Kita hanya dapat menceritakan
sesuatu,kalua kita mempuyai suatu visi
terhadap apa yang ingin kita ceritakan. Ini
berrati bahwa fokalisator primer selalu
dapat disamakan dengan pencerita primer.
3.3 obyek yang difokalisasi,susunan
dunia rekaan
tokoh-tokoh,benda-benda,pemandangan
alam,peristiwa-peristiwa, pokoknya
semua unsur yang bersama-sama
merupakan dunia rekaan,dapat
difokalisasi. Oleh karena itu semua unsur
itu disajikan kepada kita dengan sebuah
tafsiran yang pasti tidak netral.

4. Alur
yang dinamakan alur ialah konstruksi
yang dibuat pembaca mengenai sebuah
deretan peristiwa yang secara logic dan
kronologik saling berkaitan yang
diakibatkan atau dialami oleh para pelaku.
Alur sebuah cerita dapat disimpulkan
dari data yang disajikan dalam teks.
4.1 peristiwa-peristiwa
yang disebut peristiwa ialah peralihan dari
keadaan yang satu kepada keadaan yang
lain. Denagn berpedoman pada definisi
ini kita dapat membedakan kalimat-
kalimat yang menyajikan sebuah
peristiwa dari kalimat-kalimat deskriptif
dan dari kalimat-kalimat yang
mengungkapkan hal-hal yang
umum,kalimat-kalimat diskursif.

4.2 para pelaku


alur itu dapat dipandang sebagai suatu
usaha atau perjuangan yang
terarah.seseorang memperjuangkan
sesuatu,ia berusaha untuk memperoleh
sesuatu yang menguntungkan atau sesuatu
yang merugikan.
Hubungan pertama dan utama yang perlu
dicatat ialah hubungan antara pelaku yang
memperjuangkan tujuannya. Dan tujuan
itu sendiri,hubungan antara pejuang dan
tujuan.
Perjuangan itu sendiri tidak cukup untuk
mencapai tujuan. Ada kekuasaan yang
menghalangi atau memustahilkan itu.
Pelaku yang diuntungkan perjuangan
apabila berhasil,menerima tujuan itu
sebagai hadiah dari kekuasaan.
Komentar bab 8 buku 1 :Dalam bab ini dibahas mengenai tujuan dan kekuasaan yang
menghalani dan memustahilkan hal-hal yang dibahas dalam bab tersebut
Bab IX
Teks-Teks Derama

1.Pengantar
Teks Derama iyalah semua tek yang
bersifat dialog-dialog yang isinya
membentangkan sebuah alur .
(hlm 158 )
2.Situasi Bahasa
Dalam sebuah derama dialog merupakan
situasi utama .dialog-dialog merupakan
bagian terpenting sebuah derama dan
sampai taraf tertentu juga berlaku bagi
monolog-monolog. (Hlm 160)
2.1.Dialog
Unit-unit dialog disebut juga giliran
bicara ,diucapkan oleh seorang pelaku
yang mempunyai fungi dalam alur .(Hlm
160)
2.2 Mutlakkah Drama ityu ?
Yang dimaksudkan dengan istilah
“mutlak” iyalah bahwa komunkasi bahasa
yang ekspresif hanya berlaku lewat pelau,
seperti telah dipaparkan . (hlm 164)
2.3 Teks samping
Teks yang diucapkan oleh para pelaku
dibungkus dalam atau dicangkokkan pada
teks samping. Bagi pada pembaca teks
samping itu lebih penting dari pada untuk
para penonton . (hlm 166)
3. Penajian
Dalam sebuh derama alur tidak
diceritakan, melainkan secara fisual
dipanggungkan ini ada pengaruh bagi
penyajian unsur-unsurnya. (hlm 167)
3.1 Peristiwa-peristiwa
Dari beberapa segi derama terikat oleh
konvensi ,yaitu kata sepakat implisi serta
para penonton sehingga apa yang
dipentaskan terjadi sekarang dan disini
juga .(hlm 168)
3.2 Penggarapan Waktu
Bahwa sebuah cerita atau deretan
peristiwa dipentaskan diatas panggung
mwnyebabkan penggarapan waktu
bersifat kronologi,yang terjadi lebih
dahulu juga dipentaskan lebih dahulu.
(hlm 169)
3.3 Tokoh-tokoh
Tokoh-tokoh iyalah sifat-sifat peribadi
seorang pelaku sedangkan istilah aktor
atau pelaku bila kita membahas instansi
atau peran yang bertindak dalam
hubungan alur cerita. (hlm 171)
3.4 Ruang
Dalam derama naturalistik, ruang ditiru
secara mendetail menurut ruang fiktif dan
ini pada gilirannya mirip dengan
kenyataan .(HLM 172)
4.Teori Derama Dan Peraket Derama
Lebih dari pada cabang-cabang lain
didalam ilmu sastra,maka teori derama
kini sering dituduh bersifat rusak dan
normatif. Ini disebabkan karna terlampau
lama dipertahankan teradisi yang
terpangkal pada alitoletes yang mengikat
derama akan norma-norma tertentu. (hlm
173)

Komentar bab 9 buku 1 : Bab ini membahas tentang cabang-cabang dalam ilmu sastra maka teori
drama yang dibahas dalamgrup ini sering dituduh bersifat rusak dan normative
BAB X

Komentar bab 10 buku 1 :


BAB XI :PENULISAN SEJARAH
SASTRA DAN ILMU SASTRA DAN
ILMU SASTRA PERBANDINGAN

1.Pengantar
Dalam pengantar ilmu sastra pada
umumnya tidak akan dibahas fakta-fakta
dari sejarah sastra itu sendiri, pun pula
tidak dengan pengaturan fakta itu,
melainkan dengan prinsip-prinsip yang
mendasari penulisan sejarah sastra
2.Penulisan sejarah sastra pada abad ke-
19
Bagi penulisan sejarah sastra menurut
pandangan positivme hypolyte taine-
lah(1828-1893) yang sangat berpengaruh.
Ia membedakan tiga faktor , yang
menentukan pribadi seorang pengarang.
Ialah ras ,lingkungan dan momen

3. Formalisme , strukturalisme ,dan


sejarah resepsi
“Seni sebagai suatu prosede” viktor
sjklosuski mengemukakan dorongan
pertaman bagi teorinya mengenai evolusi
sastra. Sjklouski bertitik tolak dari
pengalaman umum bahwa pengamatan
berkaitan dengan semacam automatisme.
Sjklouvski berpendapat bahwa tugas khas
kesenia ialah mengajak manusia melihat
dunia yang meliputinya dengan begitu
cara baru seperti semua bentuk, maka
bentuk kesenian pun tunduk kepada
automatisme pengamatan.
Strukturalisme
Bagi sklovski karya sastra merupakan
penjumlahan prosede, vodieka
memandang karya sastra sebagai suatu
tanda yang berfungsi estetik. Dasar teori
vodicka ialah estetika sedangkan jans
bertitik tolak pada tradisi jerman dalam
bidang hermeneutika
4.Ilmu sastra perbandingan
Ilmu sastra perbandingan (ISP). ISP
meliputi sastra dalam kerangka
supranasional, ilmu ini terutama
mempelajari gejala-gejala sastra kongkret
yang kait- mengait dalam perkembangan
sejarah.

Komentar bab 11 buku 1: Pada penutupan bab ini dibahas mengenai keluar nya teori-teori pada
ilmu sastra yang dibahas dari terciptanya teori tersebut sampai pada pembaharuan teori-teori
sastra
B.KELEBIHAN DAN KELEMAHAN BUKU
KELEBIHAN :
1. Banyak menggunakan pendapat para ahli
2. Pembahasan dipaparkan secara sistematis
3. Cakupan buku cukup luas dan cukup jelas terutama pada buku 2
KEKURANGAN :
1. Banyak bahasa atau kata-kata yang sulit dipahami
2. Banyak bab yang tidak sesuai isi dengan judul
3. Tidak terdapat contoh-contoh pada materi yang dijelaskan
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dalam kehidupan sehari-hari pada umumnya orang menyukai sastra. Kata-kata mutiara,
ungkapan-ungkapan yang bersifat persuasive yang merupakan salah satu ciri khas
keindahan bahasa sastra sering kali digunakan orang dalam situasi berkomunikasi.
Kenyataan ini menunjukan bahwa terdapat kecenderungan orang kearah bersastra.

B. SARAN
Semoga CBR ini dapat mengembangkan pengetahuan mengenai teori sejarah sastra yang
baik untuk materi pembelajaran bagi mahasiswa, dan selanjutnya menjadi manfaat untuk
para pembaca.