Anda di halaman 1dari 3

Sejarah kerajaan kunto Darussalam

Kerajaan kunto darussalam yang bercikal bakal dari kerajaan Rokan. Kerajaan kunto
darussalam ini pernah berdiri dalam kurun waktu yang cukup lama. Hal ini ditandai dengan masih
ditemukannya bekas – bekas dari kerajaan ini sampai saat ini. Kerajaan kunto darussalam yang asli
sudah tidak ada pada saat ini, namun ada bangunan yang dibuat menyerupai kerajaan kunto
darussalam tersebut.
                Walaupun bekas – bekasnya sudah tidak dapat lagi di amati secara utuh dan lengkap
karena kurangnya upaya pengamanan dan perawatan, namun dari bekas – bekas yang masih dapat
diamati membuktikan bahwa keberadaan kerajaan kunto darussalam itu
                Kerajaan ini menganut ajaran agama islam yang disebarkan oleh seorang ulama besar
yang bernama Syekh burhanuddin pada abad ke 14, kerajaan samudra pasai dan kerajaan melaka
juga sangat mempengaruhi  dalam membawa ajaran agama islam tersebut ke kerajaan kunto
darussalam.
  Sebelum berdirinya kerajaan kunto darussalam, kerajaan rokan merupakan pendahulu dan
cikal bakal berdirinya kerajaan kunto darussalam tersebut. Kerajaan kunto darussalam berpusat di
kota lama. Kerajaan ini berdiri pada tahun 1878 dan berakhir pada tahun 1942, yaitu ketika
masuknya penjajahan jepang. Raja yang memerintah di kerajaan kunto darussalam sebanyak 8
orang, raja pertama adalah Tengku panglima besar kahar (1878-1884) dan raja terakhir adalah
Tengku ma’ali (1935-1942). Pada masa pemerintahan raja ke 2 yaitu Tengku besar syarif (1884-
1895) kerajaan kunto darussalam mendapat serangan dari Hulubalang siak, namun istana dan
benteng kerajaan dapat dipertahankan. Untuk mempertahankan diri dari serangan luar, pada tahun
1895 raja menandatangani perjanjian dengan belanda, yang memberi izin kepada belanda melayari
sungai rokan menuju ke kuala tanah putih dan bangko guna menyusuri kekuasaan Controleur. Sejak
saat itu bermulalah penjajahan belanda di kerajaan kunto darussalam.    Pada masa raja ke 4 yaitu
Tengku ali tandun ditandatangani perjanjian yang disebut korte verklaring (25 juni 1910). Kerajaan
dirubah menjadi Zelfbestuur van kunto darussalam, dan kemudian raja diberhentikan dan diganti
sesuai dengan keinginan belanda.  Raja ke 6 tengku ali mamad yang menyampaikan gugatan kepada
residen riau  di Tanjung pinang tentang suatu daerah di Siak yang memisahkan diri dari kerajaan
kunto darussalam tahun 1895. Tuntutan itu dipenuhi dan kerajaan siak harus memberi upeti kepada
kerajaan kunto darussalam sebesar f250 (gulden) per-bulan. Raja ke 7 Tengku kamaruddin,
berdasarkan hasil sidang Landraad di non-aktifkan oleh belanda dan diasingkan selama 3 tahun ke
bandung. Raja ini dipersilahkan karena berani melakukan penataan dan perombakan personalia
pemerintahan tanpa izin Belanda, disamping adanya pertentangan kelompok agama yang menganut
paham muda yang berasal dari minangkabau dengan kelompok paham tua (tarikat).
  Tahun 1942 Jepang memasuki kerajaan kunto darussalam dan menghilangkan kekuasaan
raja dengan menangkap raja terakhir yaitu Tengku ma’ali, dan dimasukkan dalam tahanan di Teluk
kuantan. Pada masa pendudukan jepang, kunto darussalam dijadikan status sebagai daerah “Ku”
yang dikepalai oleh “Kuco”, yang wilayah kekuasaannya setara dengan onder district pada zaman
belanda, atau setingkat pada masa kemerdekaan. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia di kunto
darussalam ditempatkan seorang asisten wedana.  Masuknya agama islam di kunto darussalam
berasal dari kuntu-kampar sekitar abad ke 14, ketika banyak pemeluk agama islam berpindah ke
daerah rokan, karena kerajaan kuntu-kampar direbut oleh Adityawarman yang menganut ajaran
Hindu-Budha. Bersamaan dengan ini masuk pula agama islam dari Samudra pasai dan Melaka.
Pengembangan agama islam di kunto darussalam sangat menonjol, dengan bukti adanya makam
seorang ulama besar di Nahir-kunto bernama syekh Burhanuddin yang wafat tahun 1601.
Nama raja yang pernah memimpin kerajaan kunto darussalam
1.       Tengku panglima besar kahar (yang dipertuan besar) pada tahun 1878-1885
2.       Tengku besar syarif (yang dipertuan besar) pada tahun 1884-1895
3.       Tengku ali kasyam (yang dipertuan besar) pada tahun 1895-1905
4.       Tengku ali tandun (yang dipertuan besar) pada tahun 1905-1910
5.       Tengku ischak (yang dipertuan besar) pada tahun 1910-1921
6.       Tengku ali mamad (yang dipertuan besar) pada tahun 1921-1925
7.       Tengku kamaruddin (tengku sultan machmud) pada tahun 1925-1935
8.       Tengku ma’ali (Tengku pangeran) pada tahun 1935-1942
 

Adat istiadat
Dari berbagai sumber yang menyebutkan  bahwa adat ketemanggung berasal dari Datuk
temenggung dan adat Pepatih berasal dari Datuk pepatih nan sebatang. Temenggung dan pepatih
adalah adik beradik seibu dari bapak yang berbeda. Temenggung adalah seorang anak raja,
sedangkan pepatih adalah anak orang biasa. Kedua bersaudara itu adalah pengazas dua institusi adat
melayu yang terbesar. Temenggung mengembangkan cara hidup aristrokatik patrilinier, sedangkan
pepatih mengikuti sistem sosial pemerintahan yang bercorak demokrasi matrilinier.
Inti adat pepatih berangkat dari persukuan yang ditarik dari garis keturunan ibu dan exogamis.
Seorang lelaki berada dalam suku ibunya sampai dia kawin. Setelah menikah maka dia diterima
menjadi suku istrinya sebagai orang semando. Tanah pusaka dikuasai oleh pihak wanita.

  Adat istiadat dalam pernikahan


1.       Meresmikan pertunangan
Sebelum antar tanda dilakukan terlebih dahulu kedua belah pihak merundingkan berpa besarnya
belanja yang harus diantarkan oleh pihak laki –laki. Kewajiban pihak laki –laki yang harus dipenuhi
adalah uang hangus, mahar, antaran secara resmi.
2.        Peralatan perkawinan
Anak raja / pucuk, anak datuk – datuk atau orang yang disamakan dengan itu, pengantin laki –
lakinya dijulang atau ditandu, dikipas oleh dua orang anak yang juga dijulang. Peralatan lainnya
payung dua berapit, gajah berbimbar, tombak penerang, dan diarak beramai – ramai dengan lagu
zikir diikuti marhaban.
Juga diadakan pencak silat. Kedua belah pihak bertarung di dihalaman rumah pengantin perempuan,
berupa silat persahabatan.
3.        Masa bersanding
Sewaktu masa bersanding, pengantin dikawal oleh yang dinamakan gading – gading seorang laki- laki
dan perempuan. Dalam beranding tersebut dilaksanakan pula saling menyuapi antara kedua
pengantin oleh gading –gading.

  Harta pusaka/soko
Pembagian harta warisan orang tua, harta – harta yang tidak bergerak seperti rumah, emas, dan
perak dipulangkan kepada anak perempuan. Sedangkan harta – harta yang bergera diberikan kepada
anak laki – laki. Anak perempuan memegang peranan penting dalam keluarga, karena akan ganti
induk oleh seluruh anak laki – laki.
Peranan pihak perempuan dalam keluarga adalah bila seorang anak laki – laki mendapat hutang,
maka pihak perempuan yang akan membayar hutang/denda anak laki – laki tersebut. Bila di rumah
tidak ada uang, maka pihak perempuan berani menggadaikan sawah untuk menembus hutang yang
dibuat oleh saudara laki – lakinya itu.

Gambar peninggalan

Gambar kerajaan kunto Darussalam Gambar makan syeikhul islam burhanuddin