Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa toodler merupakan salah satu periode penting dalam tumbuh

kembang anak, karena pada masa ini pertumbuhan dasar akan mempengaruhi

dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita,

kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional, dan

intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan

selanjutnya. Perkembangan moral dan dasar-dasar kepribadian juga di bentuk

pada masa ini, dalam frase ini juga terdapat masa kritis, dimana diperlukan

rangsangan atau stimulasi yang berguna agar potensi dapat berkembang,

sehingga hal ini perlu mendapatkan perhatian. (Adriana, 2013). Masa toddler

adalah anak usia toddler adalah anak usia 12 – 36 bulan (1-3 tahun) pada

periode ini anak berusaha mencari tahu bagaimana sesuatu bekerja dan

bagaimana mengontrol orang lain melalui kemarahan, penolakan dan tindakan

keras kepala. Hal ini merupakan periode yang sangat penting untuk mencapai

pertumbuhan dan perkembangan intelektual secara optimal (Ayuba, 2015)

Menurut United Nations International Children's Emergency Fund

(UNICEF) pada tahun 2013 diperoleh data bahwa pola asuh ibu yang kurang

terhadap stimulus anak sehingga adanya angka kejadian gangguan

pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia di bawah lima tahun (balita)

masih tinggi, khususnya gangguan perkembangan motorik sebesar 23,5% atau

1
5 juta anak mengalami gangguan. Departemen Kesehatan Republik Indonesia

(Depkes RI) melakukan skrining perkembangan di 30 provinsi di Indonesia dan

dilaporkan bahwa pola asuh ibu yang kurang sehingga adanya terdapat 45,12%

atau 3,3 juta anak mengalami gangguan perkembangan. Penyimpangan

perkembangan. adalah penyimpangan dalam motorik kasar, motorik halus, dan

mental emosional. Hal ini diperkirakan karena kurangnya pemahaman orang

tua atau keluarga dalam menstimulasi, pola asuh dan memantau perkembangan

anak dalam pemilihan alat bermain serta faktor lingkungan, halus atau kasar

menempati prevalensi tertinggi kedua setelah masalah pola asuh ibu yang tidak

baik pada balita (lebih dari 35% atau 3,4 juta anak). Data Maluku dengan pola

asuh ibu yang kurang memperhatikan tumbuh kembang anaknya dalam

bermain terdapat 44,7% atau 28 ribu anak terjatuh, serta pemilihan alat

bermain yang tidak tepat sehingga menyebabkan luka memar akibat

benda/permainan yang keras 9,9 % atau 5,7 ribu anak. (Depkes RI, 2013)

Tumbuh kembang anak adalah suatu proses yang sifatnya kontinu.

Yang dimulai sejak di dalam kandungan hingga dewasa. Di dalam proses

perkembangan anak terdapat masa-masa kritis. dimana pada masa tersebut

diperlukan suatu simulasi yang berlungsi agar potensi si anak berkembang.

Perkembangan anak akan optimal Jika terdapat interaksi sosial yang sesuai

dengan kebutuhan anak di berbagai tahap perkembangannya. (Adriana: 2013).

Kemampuan aktivitas yang lebih banyak bergerak, mengembangkan rasa ingin

tahu dan eksplorasi terhadap benda-benda yang ada disekelilingnya.

Keterampilan motorik seperti berlari, berjalan, melompat menjadi sangat

2
luwes, tetapi otot dan tulang belum begitu sempurna. Melihat karakteristik

perkembangannya, anak usia toddler lebih berisiko terjadi kecelakaan/cedera

(Supartini, 2013). Stimulasi merupakan upaya orang tua atau keluarga untuk

mengajak anak bermain dalam suasana penuh gembira dan kasih sayang.

Aktivitas bermain dan suasana cinta ini penting guna merangsang seluruh

sistem indera, melatih kemampuan motorik halus dan kasa, kemampuan

berkomunikasi serta perasaan dan pikiran anak. Rangsangan atau stimulasi

sejak dini adalah salah satu faktor eksternal yang sangat penting dalam

menentukan kecerdasan anak. Stimulasi merupakan faktor eksternal lain yang

ikut mempengaruhi kecerdasan seorang anak yakni kualitas asupan gizi, pola

pengasuhan yang tepat dan kasih sayangterhadap anak (Adriana, 2013).

Dengan demikian orang tua harus mempunyai peran penting dalam

pemilihan jenis permainan maka pengetahuan hal ini merupakan aspek penting

dalam memilih permainan, peran orang tua dalam memilih alat permainan

tidak terlepas kaitannya dengan pengetahuan yang dimiliki oleh orang tua,

terutama ibu, yang menjadi orang terdekat dan pendidik pertama di dalam

lingkungan keluarga. Hal ini menjadi penting karena idealnya, jika

pengetahuan terhadap alat permainan baik maka dalam memilih tidak akan

sembarangan melainkan akan lebih selektif, baik dilihat dari segi keamanan

benda/alat bermain, bentuk yang dapat merangsang perkembangan, warna dan

manfaatnya. Orang tua sebaiknya ikut bermain bersama anak walau terkadang

anak menginginkan untuk bermain sendiri. Anak biasanya juga membutuhkan

kehadiran orang lain saat bermain, maka orang tua perlu hadir untuk membantu

3
sehingga fungsi dari alat permainan tercapai dan dapat ditangkap dengan

maksimal oleh anak (Adriana, 2013).

Berdasarkan hasil penelitian Haslina (2014), tentang hubungan

pengetahuan dan sikap ibu dengan pemilihan alat permainan untuk stimulasi

tumbuh kembang anak usia toddler di paud Al-Khanza Kecamatan Kota Juang

Kabupaten Bireuen terdapat hubungan antara pengetahuan dengan pemilihan

alat permainan dengan nilai P value 0,021< 0,05, dan ada hubungan antara

sikap dengan pemilihan alat permainan dengan nilai P value 0,011< 0,05.

Berdasarkan Pengambilan data awal yang dilakukan penulis pada

tanggal 9 Juni 2018 di Kelurahan Wainitu tentang pengetahuan orang tua

terhadap pemilihan jenis alat bermain yang sesuai kebutuhan anak usia 1-3

tahun. Dalam pengambilan data awal terdapat 48 anak usia 1-3 tahun pada

posyandu beringin 8. Cara yang dilakukan peneliti adalah mendatangi rumah

responden, dimana penulis mendapatkan 17 (30.9%) anak memiliki alat

permainan edukatif yang sesuai dengan usia, sedangkan 31 (69.1%) anak tidak

memiliki alat permainan edukatif yang sesuai usia anak berdasarkan data

diatas, masalah yang terjadi yaitu masih banyak orang tua dalam pemilihan alat

permainan edukatif yang tidak sesuai dengan usia anak di Kelurahan Wainitu.

Dari hasil observasi yang dilakukan maka ada temuan 6 anak usia 1-3

tahun sudah diberikan Handphone untuk bermain, yang seharusnya permainan

tersebut diperuntukkan untuk anak usia sekolah karena dapat mengakibatkan

fungsi motorik anak tidak akan berkembang optimal karena anak hanya duduk

saja, sedangkan tujuan mainan pada anak usia ini adalah meningkatkan fungsi

4
motoriknya, sehingga didapatkan 2 anak usia 15 bulan belum bisa berjalan.

Dalam observasi ini juga terdapat 3 anak usia 24 bulan, dalam pemilihan alat

permainan yang tidak tepat dimana bentuk fisik permainan yang keras sehingga

menciderai anak tersebut dan cacat bawaan anak tersebut membekas sampai

sekarang.

Berdasarkan uraian latar belakang ini maka perlu dilakukan penelitian

tentang “Hubungan pengetahuan orang tua dengan pemilihan jenis alat bermain

bagi anak usia 1-3 tahun pada posyandu beringin 8 OSM Rt/Rw 005/05,

kelurahan Wainitu Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah: apakah ada hubungan pengetahuan orang tua dengan

pemilihan jenis alat bermain bagi anak usia 1-3 tahun pada posyandu beringin

8 OSM Rt/Rw 005/05, kelurahan Wainitu Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan

pengetahuan orang tua dengan pemilihan jenis alat bermain bagi anak usia

1-3 tahun pada posyandu beringin 8 OSM Rt/Rw 005/05, kelurahan

Wainitu Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon.

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengidentifikasi pengetahuan orang tua tentang pemilihan

jenis alat bermain bagi anak usia anak 1-3 tahun,

5
b. Untuk mengidentifikasi pemilihan jenis alat bermain bagi anak usia 1-

3 tahun.

c. Untuk menganalisis hubungan pengetahuan orang tua dengan

pemilihan jenis alat bermain bagi anak usia 1-3 tahun

D. Manfaat Penelitian

1. Teoritis

Hasil penelitian ini dapat memberi sumbangan bagi pengembangan

penelitian hubugan pengetahuan orang tua dalam pemilihan jenis

permainan anak usia 1-3 tahun.

2. Praktis

a. Bagi Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat memberi masukan keilmuan bagi Fakultas

Kesehatan, Program Studi Keperawatan. Dimana dapat memberikan

sumber pengetahuan bagi perawat untuk memahami kondisi sebagai

orang tua dalam memberikan stimulus yang baik dan benar.

b. Bagi orang tua

Meningkatkan pengetahuan orang tua tentang jenis permainan, alat

permainan yang sesuai dengan usia anak yang dapat memberikan

stimulus untuk tumbuh kembang anak, terutama dalam rangka

peningkatan kemampuan dan ketrampilan orang tua agar mereka dapat

mendidik dan membimbing anak-anak mereka dengan menggunakan

alat bermain yang sesuai.

6
c. Bagi peneliti

Peneliti dapat memperoleh pengetahuan bagaimana cara memilih alat

bermain yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak.

d. Bagi Perawat

Bagi perawat bisa menambah pengetahuan yang baik dan benar dalam

memilih alat bermain bagi anak usia toodler, juga sebagai motivator

bagi para orang tua dalam memilih jenis alat permainan. Serta

efisiensinya ialah perawat dapat memberikan masukan yang tepat

kepada orang tua sehingga orang tua tidak bingung dalam memilih jenis

alat permainan.

Anda mungkin juga menyukai

  • Lampiran 5 & 6 - KUESIONER & Lembar Observasi Prinnnnnnn
    Lampiran 5 & 6 - KUESIONER & Lembar Observasi Prinnnnnnn
    Dokumen13 halaman
    Lampiran 5 & 6 - KUESIONER & Lembar Observasi Prinnnnnnn
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Abstrak
    Abstrak
    Dokumen1 halaman
    Abstrak
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab Iii
    Bab Iii
    Dokumen11 halaman
    Bab Iii
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • COVER & Hajud
    COVER & Hajud
    Dokumen1 halaman
    COVER & Hajud
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab I
    Bab I
    Dokumen9 halaman
    Bab I
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Daftar Pustaka
    Daftar Pustaka
    Dokumen1 halaman
    Daftar Pustaka
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Kuisioner
    Kuisioner
    Dokumen3 halaman
    Kuisioner
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Konsep Bermain
    Konsep Bermain
    Dokumen9 halaman
    Konsep Bermain
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab Iii
    Bab Iii
    Dokumen11 halaman
    Bab Iii
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab I
    Bab I
    Dokumen9 halaman
    Bab I
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab I
    Bab I
    Dokumen7 halaman
    Bab I
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab Ii
    Bab Ii
    Dokumen11 halaman
    Bab Ii
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Lampiran 5 & 6 - KUESIONER & Lembar Observasi Prinnnnnnn
    Lampiran 5 & 6 - KUESIONER & Lembar Observasi Prinnnnnnn
    Dokumen13 halaman
    Lampiran 5 & 6 - KUESIONER & Lembar Observasi Prinnnnnnn
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab I
    Bab I
    Dokumen7 halaman
    Bab I
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • MPKP Print
    MPKP Print
    Dokumen19 halaman
    MPKP Print
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab Iii
    Bab Iii
    Dokumen9 halaman
    Bab Iii
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab Ii
    Bab Ii
    Dokumen22 halaman
    Bab Ii
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab I
    Bab I
    Dokumen7 halaman
    Bab I
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab Iii
    Bab Iii
    Dokumen7 halaman
    Bab Iii
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • ABSTRAK
    ABSTRAK
    Dokumen1 halaman
    ABSTRAK
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab Iii
    Bab Iii
    Dokumen6 halaman
    Bab Iii
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Laporan Pendahuluan Dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawat Waham
    Laporan Pendahuluan Dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawat Waham
    Dokumen5 halaman
    Laporan Pendahuluan Dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawat Waham
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • 09 Daftar Gambar
    09 Daftar Gambar
    Dokumen1 halaman
    09 Daftar Gambar
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • PPN 24 - Chrisna Matahelumual - Penugasan III - Stase Gerontik
    PPN 24 - Chrisna Matahelumual - Penugasan III - Stase Gerontik
    Dokumen14 halaman
    PPN 24 - Chrisna Matahelumual - Penugasan III - Stase Gerontik
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab I
    Bab I
    Dokumen7 halaman
    Bab I
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab Iv
    Bab Iv
    Dokumen13 halaman
    Bab Iv
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab Ii
    Bab Ii
    Dokumen20 halaman
    Bab Ii
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Cover
    Cover
    Dokumen1 halaman
    Cover
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • BAB V Kesimpulan
    BAB V Kesimpulan
    Dokumen2 halaman
    BAB V Kesimpulan
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat
  • Bab Iv
    Bab Iv
    Dokumen13 halaman
    Bab Iv
    Enjel Tuasella
    Belum ada peringkat