Anda di halaman 1dari 170

PERSEPSI MANAJEMEN BADAN USAHA MILIK

NEGARA/DAERAH DAN BADAN USAHA MILIK SWASTA DI


JAWA TIMUR TERHADAP MANAGEMENT AUDIT SEBAGAI
STRATEGI UNTUK MENCEGAH DAN MENDETEKSI
KECURANGAN PADA FUNGSI PEMBELIAN

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN


DALAM MEMPEROLEH GELAR SARJANA EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI

DIAJUKAN OLEH
ANASTASIA
No. Pokok : 040338305

KEPADA
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2005
SKRIPSI

PERSEPSI MANAJEMEN BADAN USAHA MILIK


NEGARA/DAERAH DAN BADAN USAHA MILIK SWASTA DI
JAWA TIMUR TERHADAP MANAGEMENT AUDIT SEBAGAI
STRATEGI UNTUK MENCEGAH DAN MENDETEKSI
KECURANGAN PADA FUNGSI PEMBELIAN

DIAJUKAN OLEH :
ANASTASIA
No. Pokok : 040338305

TELAH DISETUJUI DAN DITERIMA DENGAN BAIK OLEH

DOSEN PEMBIMBING,

Dra. YUSTRIDA BERNAWATI M.Si., Ak.


TANGGAL ………………….

KETUA PROGRAM STUDI

Drs. M. SUYUNUS, MAFIS., Ak.

TANGGAL ………………….

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kepada Tuhan, karena pada akhirnya Skripsi dengan judul

“Persepsi Manajemen Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Usaha Milik

Swasta di Jawa Timur terhadap Management Audit sebagai Strategi untuk Mencegah

dan Mendeteksi Kecurangan pada Fungsi Pembelian” dapat terselesaikan. Skripsi ini

disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana

Ekonomi bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Jurusan

Akuntansi Program Non Reguler.

Hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada

semua pihak yang membantu terselesaikannya skripsi ini. Secara khusus pada

kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Drs. M.Suyunus, MAFIS, Ak. selaku Ketua Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga.

2. Bapak Ardianto SE., M.Si., Ak. selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi Program

Non Reguler Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga.

3. Ibu Dra.Yustrida Bernawati M.Si., Ak. selaku dosen pembimbing yang telah

bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan

sehingga terselesaikannya Skripsi ini.

4. Semua responden. Terima kasih karena sudah menyediakan diri untuk mengisi

kuesioner dan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh penulis.


5. My Parents, Bapa dan Mama. Thanks for all support, love, patient and guidance.

Thanks for always pray for me. Thanks for everything.

6. My Brothers. Ujang, Tata dan Brama. Thanks for always being there…in bad

and good times. Sorry for couldn’t set a good example. It’s been too long to

finish my study. Feels like a maze.

7. My friends. Vita di Jakarta (finally, vit) , Silvi di Kwang Tung, Yesika, Avi, Yuli,

Dita, Evi, Dian, Dori dll . Thanks for share our time together, for support each

other. Rusda (thanks for helping me distribute my questioners), Erwan n Gita

(thanks for the car), Mbak Weni (for helping me calculate the figures), teman-

teman kuliah, temen-temen kos, temen-temen di Jogja (Ita, Eka , Gery, Mbak

Heni dll), temen-temen di West Borneo (Vera, Ajus, Lea dll). Thanks for all.

Thanks for pray for my best..

8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari yang diidealkan, untuk

itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan. Terimakasih.

Surabaya, Desember 2005

Anastasia
ABSTRAKSI

Fungsi pembelian merupakan fungsi yang diangap sangat penting dan rawan
bagi hampir semua perusahaan sehingga bisa menjadi sumber pemborosan apabila
tidak diselenggarakan dengan baik. Kecurangan yang terjadi pada fungsi pembelian
bisa merugikan perusahaan dalam jumlah besar. Lewat management audit, efisiensi,
efektivitas dan ekonomisasi organisasi dievaluasi untuk kemudian menentukan
langkah yang diperlukan atau rekomendasi dalam mengatasi kelemahan sekaligus
mencegah tindakan curang yang dilakukan baik oleh pihak intern maupun ekstern.
Dengan demikian, management audit merupakan strategi yang bisa digunakan untuk
mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.
Management audit selama ini lebih dikenal oleh BUMN/BUMD daripada
BUMS, BUMS lebih familiar dengan audit keuangan. Pada penelitian ini penulis
ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan persepsi antara manajemen
BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap management audit sebagai
strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian. Penulis
meninjau kemungkinan perbedaan persepsi tersebut dari kepemilikan perusahaan,
bidang studi pendidikan manajemen dan level manajemen.
Ditinjau dari kepemilikan perusahaan , responden dalam penelitian ini
diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu BUMN/BUMD dan BUMS. Ditinjau
dari bidang studi pendidikan, responden dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi
empat kelompok, yaitu responden dengan bidang studi pendidikan
Psikologi/Sosiologi, Hukum/Kriminologi, Ekonomi, dan bidang studi pendidikan
lainnya diluar ketiga kelompok tersebut. Ditinjau dari level manajemen, responden
penelitian diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu top management, middle
management, dan lower management.
Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah U-Mann Whitney
untuk hipotesis ditinjau dari kepemilikan perusahaan, dan Kruskall Wallis untuk
hipotesis ditinjau dari bidang studi pendidikan manajemen dan level manajemen.
Hasil uji statistik terhadap hipotesis-hipotesis menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan persepsi manajemen yang signifikan terhadap management audit sebagai
strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian, baik
ditinjau dari kepemilikan perusahaan, bidang studi pendidikan maupun level
manajemen.
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................i

HALAMAN PERSETUJUAN..............................................................................ii

KATA PENGANTAR...........................................................................................iii

ABSTRAKSI.........................................................................................................v

DAFTAR ISI.........................................................................................................vi

DAFTAR TABEL.................................................................................................xi

DAFTAR GAMBAR.............................................................................................xiii

BAB I. PENDAHULUAN....................................................................................1

1.1. Latar Belakang Permasalahan.....................................................................1

1.2. Rumusan Masalah.......................................................................................10

1.3. Tujuan Penelitian.........................................................................................10

1.4. Manfaat Penelitian.......................................................................................11

1.5. Sistematika Skripsi......................................................................................11

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................13

2.1. Landasan Teori............................................................................................13

2.1.1. Persepsi..................................................................................................13

2.1.1.1. Teori proses persepsi.......................................................................15


2.1.2. Manajemen.............................................................................................17

2.1.2.1. Definisi manajemen..........................................................................17

2.1.2.2. Fungsi-fungsi manajemen................................................................19

2.1.2.3. Tipe-tipe manajemen........................................................................20

2.1.3. Auditing..................................................................................................21

2.1.3.1. Definisi auditing...............................................................................21

2.1.3.2. Tipe-tipe audit..................................................................................23

2.1.3.3. Management audit............................................................................25

2.1.3.4. Sistem pengendalian manajemen.....................................................37

2.1.3.5. Efisiensi, efektifitas dan ekonomisasi..............................................38

2.1.3.6. Kecurangan.......................................................................................40

2.1.3.7. Fungsi pembelian..............................................................................49

2.1.3.8. Tujuan management audit fungsi pembelian...................................53

2.1.3.9. Sektor publik....................................................................................54

2.2. Penelitian Sebelumnya................................................................................66

2.3. Hipotesis dan Model Analisis......................................................................68

2.3.2. Model analisis........................................................................................69

BAB III. METODE PENELITIAN.......................................................................71

3.1. Pendekatan Penelitian..................................................................................71

3.2. Identifikasi Variabel....................................................................................71


3.3. Definisi Operasional....................................................................................72

3.4. Jenis dan Sumber Data................................................................................74

3.5. Prosedur Pengumpulan Data.......................................................................75

3.6. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis...............................................................76

3.6.1. Uji instrumen.........................................................................................76

3.6.1.1. Uji validitas.....................................................................................77

3.6.1.2. Uji reliabilitas..................................................................................78

3.6.2. Teknik analisis data...............................................................................79

3.6.3. Uji hipotesis...........................................................................................80

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN..............................................................85

4.1. Gambaran Umum Subyek dan Obyek Penelitian........................................85

4.1.1. Gambaran umum responden..................................................................85

4.1.2. Karakteristik responden.........................................................................88

4.2. Deskripsi Hasil Penelitian...........................................................................92

4.2.1. Data jawaban responden ditinjau dari kepemilikan perusahaan............93

4.2.2. Data jawaban responden ditinjau dari level manajemen.......................95

4.2.3. Data jawaban responden ditinjau dari bidang studi pendidikan............97

4.3. Analisa Data dan Pengujian Hipotesis........................................................10

4.3.1. Uji instrumen.......................................................................................101

4.3.1.1. Uji validitas....................................................................................102


4.3.1.2. Uji reliabilitas.................................................................................104

4.3.2. Analisis data.........................................................................................105

4.3.3. Uji hipotesis.........................................................................................105

Hipotesis 1...........................................................................................106

Hipotesis 2...........................................................................................113

Hipotesis 3...........................................................................................121

4.4. Pembahasan................................................................................................128

4.4.1. Persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur

terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah

dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari

kepemilikan perusahaan
......................................................................................................

128

4.4.2. Persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur

terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah

dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari

level manajemen
......................................................................................................

132

4.4.3. Persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur

terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah

dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari


bidang studi pendidikan
......................................................................................................

136

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN...................................................................141

5.1. Simpulan....................................................................................................141

5.2. Saran..........................................................................................................142

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................144

LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Perbedaan Management Audit dan Financial Audit...........................31

Tabel 2.2. Perbedaan Sektor Publik dan Sektor Swasta......................................57

Tabel 4.1. Deskripsi Responden Menurut Data Pribadi......................................88

Tabel 4.2. Deskripsi Responden Menurut Data Perusahaan...............................91

Tabel 4.3. Data Audit yang Dilaksukan BUMN/BUMD dan BUMS

Sampel
...................................................................................................

92

Tabel 4.4. Distribusi Jawaban Responden BUMN/BUMD


......................................................................................................................

93

Tabel 4.5. Distribusi Jawaban Responden BUMS


......................................................................................................................

94

Tabel 4.6. Distribusi Jawaban Responden Level Top Management


......................................................................................................................

95

Tabel 4.7. Distribusi Jawaban Responden Level Middle Management


......................................................................................................................

96

Tabel 4.8. Distribusi Jawaban Responden Level Lower Management


......................................................................................................................

97

Tabel 4.9. Distribusi Jawaban Responden dengan Bidang Studi

Pendidikan Psikologi/Sosiologi
...................................................................................................

98

Tabel 4.10. Distribusi Jawaban Responden dengan Bidang Studi

Pendidikan Hukum/Kriminologi
...................................................................................................

99

Tabel 4.11. Distribusi Jawaban Responden dengan Bidang Studi

Pendidikan Ekonomi
...................................................................................................

100

Tabel 4.12. Distribusi Jawaban Responden dengan Bidang Studi

Pendidikan Lainnya
...................................................................................................

101
Tabel 4.13. Hasil Uji Validitas (Korelasi produk momen Pearson)
...................................................................................................

102

Tabel 4.14. Hasil Uji U-Mann Whitney Persepsi Manajemen Ditinjau dari

Kepemilikan Perusahaan pada Tiap Determinan


...................................................................................................

106

Tabel 4.15. Hasil Uji U-Mann Whitney Persepsi Manajemen Ditinjau dari

Kepemilikan Perusahaan secara Agregat


...................................................................................................

107

Tabel 4.16. Hasil Uji Kruskal Wallis Persepsi Manajemen Ditinjau dari

Level Manajemen pada Tiap Determinan


...................................................................................................

114

Tabel 4.17. Hasil Uji Kruskal Wallis Persepsi Manajemen Ditinjau dari

Level Manajemen secara Agregat


...................................................................................................

114

Tabel 4.18. Hasil Uji Kruskal Wallis Persepsi Manajemen Ditinjau dari

Bidang Studi Pendidikan pada Tiap Determinan


...................................................................................................

121
Tabel 4.19. Hasil Uji Kruskal Wallis Persepsi Manajemen Ditinjau dari

Bidang Studi Pendidikan secara Agregat


...................................................................................................

122

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Proses Persepsi.................................................................................15


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Permasalahan

Setiap manajer yang mengelola suatu perusahaan, baik itu perusahaan milik

negara atau daerah maupun perusahaan swasta berkeinginan agar pengelolaan

perusahaan berlangsung dengan tingkat efisiensi, efektifitas dan produktifitas yang

setinggi mungkin. Hal tersebut dipicu oleh adanya tuntutan dari pihak-pihak yang

berkepentingan agar perusahaan dikelola sedemikian rupa sehingga terhindar dari

pemborosan dan bisa mencapai tujuan yang diharapkan.


Setiap perusahaan yang bersifat profit oriented bertujuan untuk memperoleh

laba yang maksimal dalam menjalankan usahanya, sedangkan perusahaan

menghadapi berbagai kendala seperti kelangkaan input berupa dana, daya, sarana dan

prasarana sehingga tidak pernah ada alasan apapun yang membenarkan adanya

inefisiensi dalam pengelolaan input tersebut.

Dalam kenyataannya, seringkali tujuan perusahaan untuk mencapai

produktifitas maksimal tersebut terhambat oleh praktik-praktik kecurangan (fraud)

yang terjadi didalam perusahaan. Dari sudut pandang akuntansi dan audit, kecurangan

adalah penggambaran yang salah dari fakta material dalam buku besar atau laporan

keuangan. Pernyataan yang salah dapat ditujukan pada pihak luar organisasi seperti

pemegang saham atau kreditor, atau pada organisasi itu sendiri dengan cara menutupi

atau menyamarkan penggelapan uang, ketidakcakapan, penerapan dana yang salah

atau pencurian atau penggunaan aktiva organisasi yang tidak tepat oleh petugas,

pegawai dan agen. Kecurangan dapat juga ditujukan pada organisasi oleh pihak luar,

misalnya lewat penagihan yang berlebihan, dua kali penagihan, pengiriman material

dengan kualitas yang tidak sesuai, pernyataan yang salah mengenai mutu dan nilai

barang yang dibeli, atau besarnya kredit pelanggan. The Institute of Internal Auditor

di Amerika mendefinisikan kecurangan mencakup suatu ketidakberesan dan tindakan

ilegal yang bercirikan penipuan yang disengaja. Ia dapat dilakukan untuk manfaat dan

atau kerugian organisasi oleh orang diluar atau dalam organisasi.


Penelitian ini menitikberatkan pada kecurangan yang dilakukan oleh pihak

didalam perusahaan, baik itu karyawan maupun manajemen. Perusahaan kecil

maupun perusahaan besar, milik negara atau daerah maupun swasta tidak kebal

terhadap pencurian dan kecurangan. Akan tetapi, seringkali pemilik perusahaan-

perusahaan yang tidak begitu besar tidak percaya bahwa hal itu bisa terjadi kepada

mereka, padahal perusahaan tersebut juga rentan terhadap adanya praktik pencurian

dan kecurangan. Perusahaan-perusahaan dengan skala yang tidak begitu besar

biasanya mempunyai karyawan yang tidak terlalu banyak, sehingga masih kurang

dalam hal pemisahan tugas, pengendalian akuntansi juga masih lemah dan biasanya

ada kepercayaan yang besar dari pemilik kepada karyawannya. Orang-orang yang

melakukan kecurangan dalam perusahaan biasanya tidak tampak seperti seorang

pencuri. Mereka biasanya adalah karyawan-karyawan lama yang telah memperoleh

posisi dan kepercayaan. Bahkan, pada perusahaan dengan sistem dan prosedur yang

baik sekalipun, praktik kecurangan ini bisa terjadi karena faktor-faktor manusiawi

dimana setiap manusia pada kondisi tertentu berpotensi untuk berbuat menyimpang,

disamping karena faktor-faktor yang berasal dari perusahaan itu sendiri.

Aktivitas semua fungsi di perusahaan berpengaruh besar terhadap

keberhasilan perusahaan dan salah satunya adalah fungsi pembelian. Fungsi

pembelian merupakan fungsi yang dianggap sangat penting karena mempengaruhi

berbagai jenis pelaksanaan pada bagian-bagian yang ada dalam perusahaan. Dalam

berbagai perusahaan, fungsi pembelian merupakan permulaan dari proses usaha.


Dalam suatu proses produksi perusahaan memerlukan bahan mentah dan atau bahan

baku. Pengalaman banyak perusahaan menunjukkan bahwa biaya untuk

menghasilkan suatu produk mungkin mencapai sekitar lima puluh persen dari harga

jual produk. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi pembelian dapat menjadi sumber

pemborosan apabila tidak diselenggarakan dengan baik dan sebaliknya merupakan

sumber penghematan yang akan memperbesar laba perusahaan apabila dilakukan

dengan teliti dan cermat. Fungsi pembelian juga meliputi semua pengadaan barang

yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Siagian (2001:209) mengatakan bahwa jika diterima pendapat bahwa fungsi

pembelian merupakan salah satu fungsi terpenting dalam kehidupan suatu perusahaan

dan bahwa seluruh aspek kegiatan pembelian harus terselenggara dengan tingkat

efisiensi yang setinggi mungkin, berarti harus pula diterima pandangan bahwa audit

fungsi pembelian wajar dan tepat dijadikan salah satu sasaran audit. Pada intinya

dapat dikatakan bahwa penyelenggaraan proses audit dengan menjadikan fungsi

pembelian sebagai sasarannya berorientasi pada pencarian dan penemuan fakta dan

informasi tentang seluruh kegiatan pembelian. Informasi yang terungkap akan

digunakan oleh manajemen puncak sebagai masukan untuk pengambilan keputusan,

bukan hanya tentang penyelenggaraan fungsi pembelian di masa yang akan datang

melainkan juga pada berbagai kegiatan lain yang terjadi karena dilakukannya

pembelian tertentu.
Kecurangan yang terjadi pada fungsi pembelian akan mengakibatkan

perusahaan tidak bisa mencapai tujuan perusahaan dengan efektif dan efisien

sehingga bisa merugikan perusahaan dalam jumlah besar. Contoh-contoh kecurangan

yang mungkin dilakukan oleh bagian pembelian adalah membayar tagihan palsu yang

dibuat sendiri, memperbesar jumlah faktur pemasok, membebankan pembelian

pribadi pada perusahaan, dan yang paling sering terjadi adalah mengijinkan

pemberian harga khusus atau hak khusus pada konsumen, atau memprioritaskan

pemasok tertentu dengan tujuan untuk mendapatkan uang suap (kickback). Kasus-

kasus yang terungkap beberapa waktu ini, memperlihatkan bahwa sebagian besar

kecurangan terjadi pada bagian logistik atau pengadaan barang. Kasus-kasus yang

terungkap tersebut sebagian besar berasal dari proyek-proyek pemerintah dan Badan

Usaha Milik Negara atau Daerah dimana terjadi over-invoice/over-price untuk

manipulasi harga yang dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan pribadi bagi

pihak-pihak pelaksana transaksi.

Sudah sejak lama audit digunakan sebagai instrumen untuk mengetahui

tingkat keberhasilan usaha. Pada era Revolusi Industri, seiring dengan perkembangan

industri manufaktur, para pemilik perusahaan mulai menggunakan jasa manajemen

dari pihak luar untuk menjalankan perusahaan. Dengan adanya pemisahan antara

pemilik dan manajemen tersebut, maka pemeriksaan oleh auditor lebih menekankan

pada bagaimana menjaga pemilik perusahaan dari bahaya kecurangan yang

kemungkinan dilakukan oleh manajer dan karyawan. Pada awal pertengahan abad ke-
20, tujuan dari pekerjaan audit mulai bergeser dari untuk mendeteksi kecurangan

menjadi untuk menentukan apakah laporan keuangan sudah memberikan gambaran

yang lengkap dan wajar mengenai posisi keuangan, hasil operasi dan perubahan

posisi keuangan. Pergeseran ini sebagai respon terhadap peningkatan jumlah

pemegang saham dan entitas perusahaan yang menjadi semakin besar. Profesi

akuntansi juga merasakan bahwa audit yang dibuat untuk menemukan kecurangan

terlalu banyak memakan biaya, sementara saat itu sudah terjadi peningkatan dalam

hal penggunaan sampling dan pengendalian internal untuk pelaksanaan pekerjaan

audit. Pengendalian internal yang baik dan surety bonds dianggap lebih baik sebagai

alat proteksi kecurangan dibandingkan audit. Namun, pada awal tahun 1960an

pendeteksian terhadap kecurangan yang material memperoleh porsi yang besar dalam

proses audit. Hal ini antara lain disebabkan karena tekanan kongres untuk tanggung

jawab yang lebih besar terhadap kecurangan maaterial, adanya cukup banyak perkara

hukum yang disebabkan kecurangan manajemen yang tidak terdeteksi oleh auditor

independen dan keyakinan akuntan publik bahwa audit diharapkan untuk bisa

mendeteksi adanya kecurangan yang material. Selanjutnya, pada awal 1990an terjadi

peningkatan permintaan atestasi oleh Akuntan Publik terhadap asersi manajemen

mengenai ketaatan manajemen terhadap hukum dan peraturan serta efektivitas dari

pengendalian internal.

Pemeriksaan (audit) manajemen merupakan suatu pengujian yang independen

atas bukti yang obyektif, yang dilakukan oleh personil yang kompeten, untuk
menentukan apakah manajemen mampu membantu perusahaan mencapai kebijakan

dan tujuannya, memenuhi kewajiban kontraktual dan legal, mempunyai sistem

manajemen yang diintegrasikan untuk melakukannya sedemikian dan secara efektif

mengimplementasikan sistem tersebut.

Pemeriksaan manajemen (management audit) berbeda dengan pemeriksaan

keuangan, sedangkan dalam hal-hal tertentu pemeriksaan ini sama dengan pendekatan

pemeriksaan operasional (Hamilton 1986:1). Tujuan utama pemeriksaan keuangan

adalah untuk membuktikan kewajaran keadaan keuangan perusahaan selama periode

tertentu, sedangkan pemeriksaan operasional dimaksudkan untuk mengevaluasi

sumber-sumber yang dapat melengkapi data keuangan dan untuk menentukan apakah

transaksi-transaksi utama sudah dikendalikan dengan tepat sehingga mereka

menyuplai data yang akurat dan dapat dipercaya. Tujuan dari pemeriksaan

manajemen secara keseluruhan adalah untuk mengevaluasi keberhasilan dan efisiensi

pada perusahaan, yang lingkupnya bisa juga dibatasi pada suatu bagian tertentu atau

fungsi dari organisasi. Pemeriksaan manajemen menurut Hamilton juga bisa

digunakan untuk mengenal tanda-tanda bahaya bagi perusahaan.

Kebanyakan organisasi mempunyai alat untuk melakukan pemeriksaan

keuangan oleh kelompok audit internal, akan tetapi masih sedikit perusahaan yang

melakukan pemeriksaan manajemen. Pemeriksaan manajemen berpandangan

kedepan untuk melihat seberapa baik manajemen mencapai tujuannya dan untuk

melihat kesulitan operasional sebelum fakta. Pemeriksaan manajemen yang dilakukan


secara periodik dapat menunjukkan masalah ketika masalah tersebut masih berskala

kecil. Pemeriksaan manajemen juga merupakan alat manajemen untuk membantu

organisasi dalam mencapai tujuannya. Dengan pemeriksaan manajemen maka

hambatan-hambatan terhadap pencapaian tujuan perusahaan dan pertanyaan-

pertanyaan mengenai apakah organisasi selama ini sudah diselenggarakan dan

dikelola secara efisien dan efektif dapat terjawab, sehingga apabila ditemukan hal-hal

yang sekiranya tidak sesuai dapat segera dilakukan tindakan korektif dan

rekomendasi untuk pemecahan masalah.

Tanggung jawab utama terhadap kecurangan yang terjadi didalam perusahaan

adalah pada manajemen perusahaan. Lewat pemeriksaan manajemen, dilakukan

evaluasi terhadap sistem pengendalian internal yang ada untuk kemudian menentukan

langkah yang diperlukan atau rekomendasi dalam mengatasi kelemahan sekaligus

mencegah tindakan curang yang dilakukan baik oleh pihak intern maupun ekstern.

Sebagian besar kecurangan biasanya ditemukan secara tidak sengaja atau

kebetulan, melalui informan, atau selama audit. Apabila pemeriksaan manajemen ini

dilakukan oleh seorang internal auditor, maka ia harus mempunyai pengetahuan yang

cukup tentang kecurangan dan dapat mengidentifikasi indikator kemungkinan

terjadinya kecurangan. Untuk selanjutnya bukanlah tanggungjawab internal auditor

untuk melakukan investigasi atau penyelidikan terhadap kecurangan tersebut, karena

ada audit khusus untuk penyelidikan yang lebih mendalam terhadap kecurangan.

Akan tetapi, lewat pemeriksaan manajemen yang dilakukan secara perodik sesuai
dengan kebutuhan manajemen, setidaknya praktik-praktik kecurangan bisa terdeteksi

lebih awal, tidak perlu menunggu kecurangan tersebut menjadi material, sehingga

perlu melakukan audit khusus untuk melakukan penyelidikan terhadap kecurangan

yang tentunya akan memakan banyak biaya dan waktu.

Selama ini kasus-kasus yang sering terungkap mengenai kecurangan terjadi

pada BUMN/BUMD dan pemeriksaan non keuangan memang lebih dikenal pada

BUMN/BUMD seperti dikatakan oleh Karni (2000:7) bahwa audit khusus sudah

dikenal luas dalam BUMN/BUMD maupun di lingkungan APBN/APBD. Tuntutan

untuk melakukan management audit sendiri lebih banyak ditujukan kepada sektor

publik, seperti yang dikatakan oleh Sjamsuddin (1995) bahwa sebagai bentuk

pengendalian dan pengawasan BUMN/BUMD pada era globalisasi pemeriksaan

manajemen (management audit) harus ditingkatkan, misalnya terhadap kegiatan atau

segmen yang tidak mencapai sasaran atau secara potensial telah menyebabkan

kerugian atau masih dapat ditingkatkan efisiensi dan efektifitasnya. Arifin (2000)

juga mengungkapkan bahwa tuntutan untuk melakukan value for money audit pada

sektor publik mendesak seiring dengan adanya perubahan, tatanan politik, ekonomi,

serta sosial di Indonesia. Pihak Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI),

seperti dikutip oleh Zuhroh (2001) menyarankan kepada pemerintah agar melakukan

management audit terhadap PT KAI. Menyoroti kinerja manajemen PT Pertamina,

seperti yang diungkapkan oleh Widyahartono (2005), pimpinan DPR meminta


laporan audit dari Departemen Keuangan tidak hanya audit finansial tapi justru

sepatutnya audit manajemen secara menyeluruh.

Berdasarkan hal-hal yang sudah dibahas diatas penulis ingin mengetahui

apakah terdapat perbedaan persepsi manajemen Badan Usaha Milik Negara/Daerah

dan Badan Usaha Milik Swasta di Jawa Timur terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.

Mengapa pemeriksaan manajemen dan bukan pemeriksaan keuangan? Sebab

pemeriksaan keuangan lebih berfokus pada aspek-aspek keuangan khususnya pada

pemberian opini akuntan publik terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan, dan

lebih ditujukan kepada kepentingan pihak eksernal perusahaan. Pemeriksaan

manajemen dimaksudkan untuk menilai kinerja organisasi berdasarkan efisiensi,

efektifitas dan ekonomisasi. Kinerja tersebut bisa dibatasi hanya pada suatu fungsi

tertentu dalam organisasi, dalam hal ini fungsi pembelian karena penulis melihat

fungsi pembelian sebagai area yang rawan terhadap kecurangan yang sulit terdeteksi

lewat pemeriksaan keuangan. Efektifitas yang diharapkan perusahaan bisa terhambat

karena adanya praktek kecurangan. Perlu adanya deteksi terhadap adanya kecurangan

yang terjadi di dalam perusahaan dan pencegahan kecurangan-kecurangan yang

material agar tidak menjadi semakin besar. Sampel badan-badan usaha yang dianalisa

dibatasi untuk wilayah propinsi Jawa Timur.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah, maka permasalahan yang akan dibahas

dapat dirumuskan sebagai berikut : “Apakah terdapat perbedaan persepsi antara

manajemen Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Usaha Milik Swasta di

Jawa Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian?”

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk memperoleh kesimpulan tentang

terdapat tidaknya perbedaan persepsi manajemen pada Badan Usaha Milik

Negara/Daerah dan Badan Usaha Milik Swasta di Jawa Timur terhadap management

audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :

1. Pembaca, sebagai informasi mengenai ada tidaknya perbedaan persepsi

manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap management

audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian.

2. Peneliti berikutnya, sebagai referensi bahan penelitian dan bahan kajian

penentuan hipotesis lainnya yang berkaitan.


1.5. Sistematika Skripsi

Dalam membahas permasalahan yang ada, penulisan skripsi ini dibagi dalam

beberapa bagian atau bab sebagai berikut :

BAB I :Pendahuluan

Pada bab ini diuraikan latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika skripsi.

BAB II : Tinjauan Kepustakaan

Dalam hal ini diuraikan tentang teori-teori dari berbagai studi

kepustakaan yang berhubungan dengan persepsi, kecurangan,

fungsi pembelian, management audit, hasil penelitian terdahulu

yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan, serta model

analisis penelitian.

BAB III : Metode Penelitian

Pada bab ini dijelaskan tentang pendekatan penelitian, bagaimana

penelitian dilakukan, jenis penelitian, jenis data dan dari mana data

diperoleh, ruang lingkup penelitian serta metode analisis data yang

akan dilakukan.

BAB IV : Hasil dan Pembahasan

Pada bab ini diuraikan analisis pembahasan dari data-data yang

diperoleh dan diolah, kemudian digunakan untuk menjawab

permasalahan yang telah diajukan.


BAB V : Simpulan dan Saran

Pada bab ini akan dikemukakan simpulan dari pembahasan yang

dilakukan, keterbatasan penelitian dan kemungkinan saran-saran

yang diperlukan bagi penelitian selanjutnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Persepsi

Setiap orang mempunyai pendapat atau pandangan yang berbeda dalam

melihat suatu hal (obyek) yang sama. Perbedaan pandangan ini akan dapat ditindak

lanjuti dengan perilaku atau tindakan yang berbeda pula. Pandangan itu disebut
sebagai persepsi. Persepsi seseorang akan menentukan bagaimana ia akan

memandang dunia.

Wagner dan Hollenbeck (1995:136) mengemukakan pendapatnya bahwa:

“We human beings have five senses through which we experience the world around

us; sight, hearing, touch, smell and taste. Perception is the process by which

individuals select, organize, store and interpret the information gathered from these

senses”. Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa kita manusia

memiliki lima indera dimana lewat indera-indera tersebut kita bisa mengalami dunia

yang ada disekitar kita; yaitu lewat indera penglihatan, pendengaran, perasa,

penciuman dan pengecap. Persepsi merupakan proses dimana seseorang memilih,

mengelola, menyimpan dan menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dari

indera-indera tersebut.

Pendapat Wagner dan Hollenbeck tersebut mirip dengan Robbins (2003:160)

yang mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses yang ditempuh individu-individu

untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna

kepada lingkungan mereka. Sejumlah faktor yang mempengaruhi persepsi menurut

Robbins adalah pelaku persepsi, obyek atau target yang dipersepsikan dan situasi. Di

antara karakteristik pribadi dari pelaku persepsi yang lebih relevan mempengaruhi

persepsi adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu dan

pengharapan (ekspektasi). Obyek atau target bisa berupa orang, benda atau peristiwa.

Sifat-sifat obyek atau target itu biasanya berpengaruh terhadap persepsi orang yang
melihatnya. Situasi adalah konteks objek atau peristiwa, yang meliputi unsur-unsur

lingkungan sekitar dan waktu.

Kita semua sadar akan lingkungan kita, namun tidak semuanya sama

pentingnya menurut persepsi kita. Kita menyimak beberapa data dan membuang yang

lainnya. Setiap orang menerima begitu banyak data-data sensoris sehingga tidak

mungkin untuk memprosesnya semua. Otak membawa data-data itu melewati suatu

perceptual filter yang akan menahan beberapa bagian (selective attention) dan

membuang yang lainnya. Perceptual selectivity adalah proses dimana seseorang

menyaring dan memilih berbagai objek dan stimuli yang bersaing untuk memperoleh

perhatian. Orang biasanya akan fokus pada stimuli yang memenuhi kebutuhan

mereka dan konsisten dengan sikap, nilai dan personaliti mereka. Karakteristik dari

stimuli itu sendiri juga akan mempengaruhi proses perceptual selectivity. Orang

cenderung akan memperhatikan stimuli yang menonjol dari stimuli lainnya atau yang

lebih kuat dari stimuli lainnya. Orang juga cenderung akan lebih memperhatikan

segala sesuatu yang familiar dengan mereka (Daft, 2003).

2.1.1.1. Teori proses persepsi

Gambar 2.1 menunjukkan proses persepsi menurut Daft (2003:486):

Gambar 2.1

Proses Persepsi

Organizing the
Observing the Screening the selected data into
senses via the senses information and patterns for
selecting what to interpretation and
process response
Menurut Daft, proses persepsi yang dialami setiap orang akan melalui tahap-

tahap sebagai berikut (2003:486):

1. Observasi informasi yang berasal dari lingkungan lewat panca indera:


perasa, pembau, pendengaran, penglihatan dan peraba.
2. Otak akan menyaring data dan memilih data-data yang akan diproses lebih
lanjut.
3. Data-data yang terpilih tersebut akan diorganisir sedemikian rupa sehingga
mempunyai suatu pola yang memiliki arti untuk kemudian diinterpretasikan
dan direspon.

Teori atribusi Kelley (Zachary dan Kuzuhara, 2005:25) menjelaskan

mengenai proses persepsi dimana seseorang memberikan suatu pendapat atau atribusi

mengenai penyebab perilaku orang lain, yang terdiri atas dua tipe, yaitu:

1. Atr
ibusi Internal
Atribusi internal terjadi ketika seseorang mempersepsikan bahwa penyebab
perilaku orang lain adalah situasi yang berkaitan dengan berbagai aspek dari
orang tersebut seperti personaliti, keahlian, kemampuan, motivasi, intelejensi
dan sebagainya.
2. Atr
ibusi Eksternal
Atribusi eksternal terjadi ketika seseorang mempersepsikan bahwa
penyebab perilaku orang lain berkaitan dengan hal-hal seperti ketidak
beruntungan, waktu, masalah yang tidak terduga dan sebagainya.

Apakah seseorang membuat atribusi internal atau eksternal terhadap suatu

situasi tertentu, dipengaruhi oleh hal-hal berikut (Zachary dan Kuzuhara, 2005:25):
1. Consistency, yaitu seberapa sering seseorang bertindak dengan cara ini
dimasa lalu? High consistency berarti seseorang bertindak dengan cara yang
sama dimasa lalu terhadap situasi yang sama. Low consistency terjadi ketika
seseorang yang bertindak dengan cara tertentu disuatu situasi tertentu tidak
bertindak dengan cara yang sama terhadap situasi yang sama lainnya.
2. Distinctiveness, yaitu seberapa sering seseorang bertindak dengan cara ini
pada situasi yang berbeda? High distinctiveness berarti seseorang bertindak
dengan cara yang sama terhadap situasi lainnya. Low distinctiveness terjadi
ketika seseorang tidak berlaku dengan cara yang sama terhadap situasi yang
berbeda.
3. Consensus, yaitu seberapa sering seseorang bertindak dengan cara yang
sama terhadap situasi yang sama? High consensus terjadi ketika seseorang
bertindak dengan cara yang sama ketika mereka mengahadapi situasi yang
serupa. Low consensus terjadi ketika seseorang tidak bertindak dengan cara
yang sama ketika ia menghadapi situasi yang serupa.

Berdasarkan teori atribusi, maka seseorang akan membuat atribusi internal

ketika situasi yang dipersepsikannya adalah high consistency, high distinctiveness dan

low consensus. Sebaliknya, seseorang akan membuat atribusi eksternal ketika situasi

yang dipersepsikannya low consistency, high distinctiveness dan high consensus.

Setiap orang mempunyai cara pandang yang berbeda terhadap dunia

disekitarnya. Persepsi dipengaruhi oleh harapan kita terhadap sesuatu dan apa yang

kita yakini. Dalam banyak kasus, hal ini bukan mengenai pendapat seseorang benar

dan yang lainnya salah, melainkan hanya karena anda memandang dunia secara

berbeda.

Persepsi berpengaruh dalam pengambilan keputusan dalam organisasi.

Pengambilan keputusan terjadi sebagai reaksi terhadap suatu masalah. Setiap

keputusan menuntut penafsiran dan evaluasi terhadap informasi. Proses perseptual


dari pengambil keputusan individual akan mempunyai hubungan yang besar pada

hasil akhirnya.

2.1.2. Manajemen

2.1.2.1. Definisi manajemen

Penelitian ini digunakan untuk menilai persepsi manajemen. Istilah

manajemen memiliki berbagai pengertian. Secara universal manajemen adalah

penggunaan sumberdaya organisasi untuk mencapai sasaran dan kinerja yang tinggi

dalam berbagai tipe organisasi, profit maupun non profit.

Definisi manajemen yang dikemukakan oleh Daft (2003:4) sebagai berikut:

“Management is the attainment of organizational goals in an effective and efficient

manner through planning, organizing, leading, and controlling organizational

resources”. Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa manajemen

merupakan pencapaian tujuan organisasi dengan cara yang efektif dan efisien lewat

perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan sumberdaya organisasi.

Plunket dkk.(2005:5) mendefinisikan manajemen sebagai “One or more

managers individually and collectively setting and achieving goals by exercising

related functions (planning, organizing, staffing, leading, and controlling) and

coordinating various resources (information, materials, money, and people)”.

Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa manajemen merupakan satu

atau lebih manajer yang secara individu maupun bersama-sama menyusun dan
mencapai tujuan organisasi dengan melakukan fungsi-fungsi terkait (perencanaan,

pengorgnisasian, penyusunan staf, pengarahan dan pengawasan) dan mengkoordinasi

berbagai sumber daya (informasi, material, uang dan orang).

Manajer sendiri menurut Plunket dkk.(2005:5) merupakan people who are

allocate and oversee the use of resources, jadi merupakan orang yang mengatur dan

mengawasi penggunaan sumber daya.

Lewis dkk.(2004:5) mendefinisikan manajemen sebagai: “the process of

administering and coordinating resources effectively and efficiently in an effort to

achieve the goals of the organization.” Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai

arti bahwa manajemen merupakan proses mengelola dan mengkoordinasi sumber

daya-sumber daya secara efektif dan efisien sebagai usaha untuk mencapai tujuan

organisasi.

Menurut Mary Parker Follet yang dikutip oleh Handoko (2000:8), manajemen

merupakan seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini

mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui

pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin

diperlukan.

2.1.2.2. Fungsi-fungsi manajemen


Berikut adalah lima fungsi manajemen yang paling penting menurut Handoko

(2000:21) yang berasal dari klasifikasi paling awal dari fungsi-fungsi manajerial

menurut Henri Fayol, yaitu:

1. Pl
anning
Planning atau perencanaan merupakan pemilihan atau penetapan tujuan-
tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program,
prosedur, metode, sistem anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan.
2. Or
ganizing
Organizing atau pengorganisasian ini meliputi:
a. Pe
nentuan sumber daya-sumber daya dan kegiatan-kegiatan yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi.
b. Per
ancangan dan pengembangan suatu organisasi atau kelompok kerja
yang akan dapat membawa hal-hal tersebut ke arah tujuan.
c. Pe
nugasan tanggung jawab tertentu
d. Pe
ndelegasian wewenang yang diperlukan kepada individu-individu
untuk melaksanakan tugasnya.
3. Sta
ffing
Staffing atau penyusunan personalia adalah penarikan (recruitment), latihan
dan pengembangan, serta penempatan dan pemberian orientasi pada
karyawan dalam lingkungan kerja yang menguntungkan dan produktif.
4. Le
ading
Leading atau fungsi pengarahan adalah bagaimana membuat atau
mendapatkan para karyawan melakukan apa yang diinginkan dan harus
mereka lakukan.
5. Co
ntrolling
Controlling atau pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan alat
untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah
ditetapkan.
Daft (2003:6) membagi manajemen menjadi empat fungsi saja, berikut

penjelasannya:

1. Planning, merupakan fungsi manajemen yang berkenaan dengan


pendefinisian sasaran untuk kinerja organisasi di masa depan dan untuk
memutuskan tugas-tugas dan sumber daya-sumber daya yang digunakan
yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran tersebut.
2. Organizing, merupakan fungsi manajemen yang berkenaan dengan
penugasan, mengelompokkan tugas-tugas ke dalam departemen-departemen
dan mengalokasikan sumber daya ke departemen.
3. Leading, fungsi manajemen yang berkenaan dengan bagaimana
menggunakan pengaruh untuk memotivasi karyawan dalam mencapai
sasaran organisasi.
4. Controlling, fungsi manajemen yang berkenaan dengan pengawasan
terhadap aktivitas karyawan, menjaga organisasi agar tetap berada pada jalur
yang sesuai dengan sasarannya, dan melakukan koreksi apabila diperlukan.

2.1.2.3. Tipe-tipe manajemen

Manajer menggunakan konsep, manusia, dan kemampuan teknis untuk

melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dalam semua organisasi. Namun tidak semua

pekerjaan manajer sama. Manajer bertanggung jawab terhadap departemen yang

berbeda, bekerja pada level hirarki yang berbeda, dan permintaan yang berbeda

dalam mencapai kinerja yang tinggi. Daft (2003:12) mengatakan bahwa perbedaan

tipe-tipe manajemen tersebut dapat dilihat secara vertikal maupun horisontal, berikut

penjelasannya:

1. Ve
rtical differences. Secara vertikal manajer terdiri atas:
a. To
p manager, yaitu seorang manajer yang berada pada hirarki teratas
dalam organisasi dan bertanggung jawab terhadap keseluruhan
organisasi.
b. Mi
ddle manager, yaitu seorang manajer yang bekerja pada level
menengah organisasi dan bertanggung jawab terhadap departemen-
departemen utama.
c. Fr
ont-line manager, yaitu seorang manajer yang berada pada level
manajemen pertama atau kedua dan bertanggung jawab langsung
terhadap produksi barang dan jasa.
2. Ho
rizontal differences. Secara horisontal, manajer dibedakan menjadi:
a. Fu
nctional manager, yaitu seorang manajer yang bertanggung jawab
terhadap sebuah departemen atau melaksanakan sebuah tugas
fungsional tunggal dan memiliki karyawan dengan pendidikan dan
keahlian yang sama.
b. Ge
neral manager, yaitu seorang manajer yang bertanggung jawab
terhadap beberapa departemen yang melaksanakan fungsi-fungsi yang
berbeda.

2.1.3. Auditing

2.1.3.1. Definisi auditing

ASOBAC (A Statement of Basic Auditing Concepts) mendefinisikan auditing

yang dikutip oleh Halim (2001:1) sebagai berikut :

Suatu proses sistematik untuk menghimpun dan mengevaluasi bukti-bukti secara


obyektif mengenai asersi-asersi tentang berbagai tindakan dan kejadian ekonomi
untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria
yang telah ditentukan dan menyampaikan hasilnya kepada para pemakai yang
berkepentingan.

Definisi tersebut diatas dapat diuraikan menjadi tujuh elemen yang harus

diperhatikan dalam melaksanakan audit ( Halim, 2001:2), yaitu :

1. Pr
oses yang sistematik
Auditing merupakan rangkaian proses dan prosedur yang bersifat logis,
terstruktur dan teroganisir.
2. Me
nghimpun dan mengevaluasi bukti secara obyektif
Proses sistematik yang dilakukan merupakan proses untuk menghimpun
bukti-bukti yang mendasari asersi-asersi yang dibuat oleh individu maupun
entitas. Auditor kemudian mengevaluasi bukti-bukti yang diperoleh tersebut.
Obyektif berarti mengungkapkan fakta apa adanya yang senyatanya, tidak
bias atau tidak memihak dan tidak berprasangka buruk terhadap individu
atau entitas yang membuat reprsentasi tersebut.
3. As
ersi-asersi tentang berbagai tindakan dan kejadian ekonomi
Asersi merupakan suatu pernyataan, atau suatu rangkaian pernyataan secara
keseluruhan, oleh pihak yang bertanggungjawab atas pernyataan tersebut.
Asersi-asersi meliputi informasi yang terkandung dalam laporan keuangan,
laporan operasi internal, dan laporan biaya maupun pendapatan berbagai
pusat pertanggungjawaban pada suatu perusahaan.
4. Me
nentukan tingkat kesesuaian
Penghimpunan dan pengevaluasian bukti-bukti dimaksudkan untuk
menentukan dekat tidaknya atau sesuai tidaknya asersi-asersi tersebut
dengan kriteria yang telah ditetapkan. Tingkat kesesuaian tersebut dapat
diekspresikan dalam bentuk kuantitatif maupun kualitatif.
5. Kri
teria yang ditentukan
Kriteria yang ditentukan merupakan standar-standar pengukur untuk
mempertimbangkan asersi-asersi atau representasi-representasi. Kriteria
tersebut dapat berupa prinsip akuntansi yang berlaku umum atau Standar
Akuntansi Keuangan, aturan-aturan spesifik yang ditentukan oleh badan
legislatif atau pihak lainnya, anggaran atau ukuran lain kinerja manajemen.
6. Me
nyampaikan hasil-hasilnya
Hasil-hasil audit dikomunikasikan melalui laporan tertulis yang
mengindikasikan tingkat kesesuaian antara asersi-asersi dan kriteria yang
telah ditentukan. Komunikasi hasil audit tersebut dapat memperkuat atau
memperlemah kredibilitas representasi atau pernyataan yang dibuat.
7. Par
a pemakai yang berkepentingan
Para pemakai yang berkepentingan merupakan para pengambil keputusan
yang menggunakan dan mengandalkan temuan-temuan yang diinformasikan
melalui laporan audit dan laporan lainnya. Para pemakai tersebut meliputi
investor maupun calon investor di pasar modal, pemegang saham, kreditor
maupun calon kreditor, badan pemerintahan, manajemen dan publik pada
umumnya.

Definisi auditing menurut Arens dan Loebbecke (2000:9) sebagai berikut,

“Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about quantifiable

information of an economic entity to determine and report on the degree of

correspondence between the information and established criteria. Auditing should be

done by competent and independent person.” Pendapat tersebut kurang lebih

mempunyai arti bahwa auditing merupakan akumulasi dan evaluasi bukti-bukti

mengenai informasi yang bisa diukur dari suatu entitas ekonomi untuk menentukan

dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi dan kriteria yang dibuat.

Auditing harus dilakukan oleh seseorang yang kompeten dan independen.

Dengan demikian, audit pada dasarnya mempunyai bentuk yang analitis,

yakni memecah-mecah atau menguraikan informasi yang ada dalam ikhtisar

keuangan untuk mencari pembuktian yang dapat mendukung pendapat akuntan

mengenai kelayakan penyajian informasi tersebut.

2.1.3.2. Tipe-tipe audit

Penulis menemukan beberapa pembagian kelompok audit berdasarkan

tujuannya (objective). Berikut adalah tipe-tipe audit menurut Whittington dan Pany

(2001:11), yaitu:

1. Au
dit Laporan Keuangan
Audit atas laporan keuangan biasanya meliputi neraca dan laporan
pendapatan terkait lainnya, laba ditahan dan arus kas. Tujuannya adalah
untuk menentukan apakah laporan keuangan tersebut sudah dibuat sesuai
dengan prinsip akuntansi berlaku umum.

2. Au
dit Ketaatan
Hasil dari audit ketaatan tergantung pada adanya data yang dapat
diverifikasi, kriteria atau standar yang diakui, seperti hukum dan regulasi,
atau kebijakan dan prosedur organisasi.
3. Au
dit operasional
Audit operasional merupakan penelitian atas suatu unit tertentu dalam
organisasi dengan tujuan untuk menilai kinerjanya. Misalnya operasi
departemen penerimaan barang dari suatu perusahaan manufaktur,
dievaluasi efektivitasnya untuk mengetahui keberhasilannya dalam
mencapai sasaran dan tanggung jawab yang ditetapkan. Kinerja tersebut juga
diukur dalam hal efisiensi, yaitu keberhasilannya dalam memanfaatkan
secara optimal sumber daya yang disediakan bagi departemennya .

Karni (2000:4) membagi audit menjadi beberapa kelompok sebagai berikut :

a. Compliance, antara lain :


- Financial auditing
- Legal auditing, Fraud auditing, Forensic Auditing
b. Recommendation, antara lain :
- Operational Auditing
- Management Auditing
- Internal Control System Auditing
c. Quality Assurance, antara lain :
- Evaluator
- Quality Audit

Hamilton (1986:13) membedakan audit berdasarkan tujuannya menjadi tiga

kelompok, yaitu:

1. Fi
nancial audit, yang tujuannya adalah untuk membuktikan kewajaran keadaan
keuangan pada perusahaan selama periode tertentu dengan memeriksa dan
menganalisa laporan keuangan termasuk neraca dan laporan laba/rugi.
2. Op
erational audit, yang tujuannya adalah untuk mengevaluasi sumber yang
menyediakan data keuangan dan juga untuk menentukan apakah dasar-dasar
transaksi telah dikendalikan dengan baik sehingga memberikan data yang
akurat dan andal untuk sumber-sumber internal dan eksternal.
3. M
anagement audit, yang tujuannya adalah untuk mengevaluasi keberhasilan
dan efisiensi organisasi.

2.1.3.3. Management audit

1. Definisi management audit

Management Audit merupakan suatu penilaian dari organisasi manajerial dan

efisiensi dari suatu perusahaan, departemen, atau setiap entitas dan subentitas yang

dapat diaudit. Penekanannya adalah untuk mencapai efisiensi yang lebih besar,

efektifitas, dan ekonomisasi dalam usaha dan organisasi yang lain. Dalam aplikasi

praktis yang berbeda, management audit (pemeriksaan manajemen) dikenal sebagai

“Operational Auditing”, “Value-for-Money Auditing”, “Comprehensive Auditing”,

“Performance Auditing”, dan “Systems Auditing”. Perbedaan antara istilah tersebut

tidak jelas dan sering digunakan secara bergantian (Tunggal, 2003:10).

Management audit memiliki tujuan yang sama dengan operational audit, akan

tetapi untuk sektor swasta lebih dimaksudkan sebagai usaha untuk mengidentifikasi

masalah yang ada dalam organisasi. Istilah “Performance Audit” biasanya digunakan

di Amerika untuk sektor publik, sedangkan istilah “Operational Auditing” digunakan

baik untuk sektor publik maupun swasta atas keseluruhan operasi keuangan dan non

keuangan organisasi. Atas berbagai perbedaan istilah tersebut Parker sebagaimana


dikutip oleh Burrowes dan Persson (2000) mengatakan bahwa istilah–istilah yang

berbeda bisa muncul untuk digunakan atas konsep yang sama, atau jika tidak istilah

yang sama mungkin saja digunakan untuk konsep yang berbeda. Parker

mendefinisikan konsepnya mengenai management auditing sebagai evaluasi atas

manajemen dan fungsi serta kinerja organisasi berkenaan dengan ekonomisasi,

efisiensi dan efektifitas dari area-area operasi, aktifitas dan hasil.

Ketika sebuah organisasi menyelenggarakan perencanaannya pada semua

level manajemen dan selanjutnya mengimplementasikan rencana-rencana tersebut

dalam operasi, perlu dilakukan sesuatu sebagai pengawasan terhadap operasi untuk

memastikan pencapaian atas tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

Definisi management audit menurut Hamilton (1986:11) berikut mendukung

pernyataan tersebut, yaitu :

The management audit technique covers a broad spectrum of procedures,


methods of evaluation, policies and approaches. It is designed to analyze,
evaluate, review and appraise the performance of the firm in relation to either a
set of predetermined standards or some generally accepted rules or guidelines of
the company.

Pendapat Hamilton tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa teknik management

audit meliputi spektrum yang luas dari prosedur, metode evaluasi, kebijakan dan

pendekatan, yang dirancang untuk menganalisa, mengevaluasi, memeriksa dan

menilai kinerja perusahaan terhadap standar yang sudah ditentukan sebelumnya atau

beberapa kebijakan yang diterima umum atau garis pedoman perusahaan.


Ramanathan (1990:298) mengungkapkan pendapatnya mengenai beberapa

definisi management audit yaitu :

1. Management audit adalah suatu pemeriksaan terhadap kondisi dan diagnosa


atas defisiensi dengan rekomendasi sebagai koreksi terhadap hal tersebut.
Pada dasarnya merupakan konsep yang membangun dan objektif dalam
pendekatannya. Tujuannya adalah untuk membantu manajemen dalam
meperbaiki posisinya dalam perusahaan. Hasil akhirnya adalah diagnosa atas
kondisi kesehatan perusahaan dengan perhatian yang lebih difokuskan pada
‘apa’ yang membutuhkan peningkatan dan dengan rekomendasi yang jelas.
2. Management audit merupakan suatu pendekatan dalam penemuan fakta
yang sistematis yang memeriksa, menilai dan melaporkan pemahaman dan
efektifitas dari tujuan, kebijakan, standar, struktur, prosedur dan
pengendalian, untuk menyoroti pergeseran, pemborosan, birokrasi, dll., dan
untuk mengidentifikasi area yang akan diperbaiki. Tujuannya adalah untuk
menyoroti area-area permasalahan sehingga tindakan koreksi bisa dilakukan
oleh karyawan lainnya baik didalam maupun diluar organisasi.

Batra (1997) mendeskripsikan management audit sebagai berikut :

Management audit may be described as the audit for and of management, in the
sense that, as top management does not have direct control over operations, so it
is interested in ensuring that business operations are conducted in an efficient
manner, decisions are based on information and made at appropriate levels of
authority, assets are safeguards, operational efficiency is promoted and that the
business is carried out in accordance with management instructions and
policies….Management audit is being termed as ‘audit of management’. It
signifies that management audit appraises the quality of top management.

Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa management audit merupakan

audit untuk dan atas manajemen, dalam hal ini, karena top manajemen tidak

mempunyai kendali langsung atas keseluruhan operasi, maka ia berkepentingan untuk

memastikan bahwa operasi bisnis dilakukan dengan cara yang efisien, keputusan-

keputusan berdasarkan informasi-informasi dan dibuat oleh otoritas level yang tepat,

aset aman, efisiensi operasional meningkat dan bisnis dilakukan sesuai dengan
instruksi dan kebijakan yang dibuat oleh manajemen….Dalam hal management audit

sebagai audit atas manajemen, maka management audit digunakan untuk menilai

kualitas dari top manajemen.

2. Pentingnya management audit

Berikut adalah pendapat Theo Haiman dalam bukunya, Professional

Management yang dikutip oleh Ramanathan (1990:292) berkaitan dengan munculnya

kebutuhan akan management audit:

In connection with control of overall performance, management audits are


becoming increasingly significant. Just as most companies make it a point to
have their accounts audited at least once a year, some of the more progresive
companies have recognized the importance of management audits. These audits
are substantially different from those performed by public accountants and are
not concerned with the verification of financial data. They are performed either
for the top management, for the stockholders, or for other owners. Management
audits provide a device for surveying the management of the enterprise critically
and objectively from the broadest possible point of view. They start where the
balance sheet audits leave off and are concerned with the examination of the
organization and the operations of the enterprise from every aspect. At times,
such an audit is undertaken by the management itself and even more frequently
outside help is called up on.

Burrowes dan Persson (2000) juga mengungkapkan pendapat dari Banker

yang menyatakan bahwa perusahan-perusahaan saat ini menggunakan ukuran kinerja

non keuangan atas kualitas produk, kepuasan konsumen, dan pangsa pasar untuk

mengevaluasi dan menilai kinerja manajemen karena ukuran-ukuran keuangan atas

kinerja mungkin saja tidak sempurna dan terlalu banyak signal mengenai upaya
manajemen, maka ukuran non keuangan bisa memberikan nilai tambah dengan

mengurangi banyaknya signal tersebut dengan membuat kesimpulan-kesimpulan

mengenai upaya-upaya yang dilakukan manajemen sebagai agent. Salah satu asumsi

principal dalam agency theory adalah bahwa principal dan agent mempunyai tujuan

dan sasaran yang bertentangan (Solomon dan Solomon, 2004:17). Dilihat dari

perspektif agency theory, fungsi audit menyajikan suatu mekanisme tata kelola

perusahaan yang penting dalam membantu shareholders dalam mengawasi dan

mengendalikan manajemen perusahaan.

Modern Auditing saat ini penekanannya lebih pada pada pemeriksaan internal

yang digunakan untuk mengevaluasi efisiensi organisasi secara keseluruhan. Hal ini

dilakukan secermat mungkin agar area-area kelemahan bisa diidentifikasi, untuk

kemudian ditunjukkan kepada manajemen, dan selanjutnya ditawarkan rekomendasi

untuk mempercepat proses perkembangan manajemen. Management audit merupakan

konsep yang digunakan untuk maksud tersebut. Management audit digunakan untuk

memastikan seberapa baik manajemen, baik dalam hubungan eksternalnya dengan

pihak luar maupun efisiensi internalnya. Pemeriksaan dilakukan terhadap smoothness

organisasi, mulai dari level teratas sampai level terbawah. Dengan demikian, hampir

setiap aspek manajemen diperiksa, dan rekomendasi yang ditawarkan diharapkan bisa

meningkatkan efisiensi dan profitabilitas (Batra, 1997). Management audit muncul

karena kebutuhan akan penilaian yang independen atas kinerja manajemen pada

berbagai level, termasuk level top manajemen (Ramanathan, 1990:292).


Sedikit perhatian yang diberikan kepada auditing tipe ini. Management audit

pertama kali dikenal di United Kingdom pada tahun 1932, ketika T.G. Rose, yang

dikenal lewat bukunya yang berjudul The Management Audit, mengajukan konsep ini

lewat makalah yang dia presentasikan kepada Institute of Industrial Administration.

Selanjutnya, konsep ini memperoleh perhatian yang lebih besar di USA (Batra,

1997). Management audit dianggap sebagai sebuah fenomena saat ini yang berasal

dari audit keuangan eksternal, audit operasional internal dan konsultasi manajemen.

Kebutuhan akan audit terhadap manajemen, termasuk direktur, muncul sebagai akibat

dari pemisahan antara pemilik dengan pengendalian perusahaan, yang merupakan ciri

dari perusahaan modern saat ini (Burrowes dan Persson, 2000). Operasi-operasi

organisasi meningkat dari segi volume dan kompleksitas. Masalah-masalah

manajerial yang muncul menimbulkan tekanan-tekanan baru pada level manajemen

yang lebih tinggi.

3. Perbedaan management audit dan financial audit

Tunggal (2003:13) mengatakan bahwa pada umumnya, pemeriksaan

manajemen (management audit) memerlukan tenaga tim yang mempunyai berbagai

latar belakang akademis, keterampilan teknis dan pengalaman. Pemeriksaan seperti

ini mencakup suatu ruang lingkup penelaahan yang lebih luas daripada pemeriksaan

keuangan dan pemeriksaan ketaatan (Compliance Audits).


Ada beberapa perbedaan antara management audit dan financial audit

menurut Agoes (1996: 174) yang bisa dilihat pada Tabel 2.1.

TABEL 2.1

PERBEDAAN MANAGEMENT AUDIT DAN FINANCIAL AUDIT

Management Audit Financial Audit


Bisa dilakukan oleh internal auditor atau Harus dipimpin oleh seorang registered
management consultant. Di Indonesia accountant dari sebuah kantor akuntan
management audit juga bisa dilakukan publik.
oleh BPKP dan BPK.

Pada akhir pemeriksaannya auditor Pada akhir pemeriksaannya auditor harus


memberikan laporan kepada manajemen memberikan pendapat mengenai
berupa temuan-temuan audit mengenai kewajaran laporan keuangan yang telah
efektifitas sistem pengendalian disusun manajemen. Auditor juga
manajemen, apakah kegiatan operasi memberikan management letter yang
perusahaan sudah dijalankan secara memberitahukan manajemen mengenai
efisien, ekonomis dan efektif, besera kelemahan-kelemahan dalam struktur
saran-saran untuk memperbaiki pengendalian intern dan saran-saran
kelemahan-kelemahan yang ditemui perbaikannya.
selama pelaksanaan management audit.

Biasanya dilakukan jika manajemen Dilakukan secara rutin (setiap tahun)


merasakan adanya kebutuhan, seperti
laba yang terus menurun, biaya terus
meningkat, banyak pemborosan dan
kecurangan, atau tujuan perusahaan yang
ditentukan tidak tercapai.

IAI belum menyusun standar Pemeriksaan dilakukan dengan


pemeriksaan untuk management audit, berpedoman pada Standar Profesional
namun BPK dan BPKP memiliki Akuntan Publik yang disusun oleh Ikatan
pedoman management audit. Di Akuntan Indonesia (IAI).
Amerika, pedoman pemeriksaan disusun
oleh GAO (Government Audit Office).

Kriteria dalam management audit bisa Kriteria dalam financial audit sudah jelas,
berupa kebijakan yang ditentukan yaitu prinsip akuntansi berlaku umum.
manajemen, peraturan pemerintah,
peraturan asosiasi dan lain-lain
Sumber: Soekrisno Agoes. 1996. Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor Akuntan
Publik. Jakarta: LP-FEUI.

4. Jenis-jenis management audit

Arens dan Loebbecke (2000:756) mengelompokkan management audit

menjadi 3 jenis, yaitu functional, organizational, dan special assignment. Berikut

penjelasan dari masing-masing jenis tersebut :

1. Fu
nctional
Functional audit berkaitan dengan satu atau lebih fungsi didalam organisasi.
Keuntungan dari functional audit adalah diperbolehkannya adanya
spesialisasi oleh auditor. Auditor dalam staff internal audit bisa sangat ahli
dalam sebuah bidang, misalnya fungsi production engineering. Mereka bisa
secara efisisen menghabiskan waktu mereka untuk mengevaluasi fungsi-
fungsi yang berkaitan. Fungsi production engineering berkaitan dengan
fungsi manufacturing dan fungsi-fungsi lainnya dalam organisasi.
2. Or
ganizational
Organizational audit dalam sebuah organisasi berkaitan dengan seluruh unit
organisasi, seperti departemen, cabang atau anak perusahaan. Penekanan
dalam organizational audit adalah seberapa efektif dan efisien fungsi-fungsi
tersebut berinteraksi. Perencanaan organisasi dan metode-metode untuk
mengkoordinasi aktivitas-aktivitas yang ada sangat penting dalam tipe audit
ini.
3. Sp
ecial Assignment
Dalam operational auditing, special assignment biasanya muncul karena
permintaan manajemen. Jenis audit tipe ini cukup luas. Sebagai contoh,
menentukan penyebab tidak efektifnya sistem IT, investigasi terhadap
kemungkinan adanya fraud dalam sebuah divisi, dan pemberian
rekomendasi untuk menurunkan harga pokok produksi.

Menurut Sayle (1988:21) management audit dikelompokkan menjadi tiga

jenis sesuai dengan keragaman departemen mereka dan ruang lingkupnya sebagai

berikut :

1. Int
ernal Audit
Management audit ini dapat dilakukan oleh perusahaan atau departemen,
yang bersangkutan dengan sistem-sistem, prosedur-prosedur atau fasilitas-
fasilitas. Auditor yang mengerjakan dapat dari perusahaan mereka sendiri
(internal auditor) atau dengan menggaji auditor dari luar perusahaan
(external auditor). Internal audit merupakan teknik dimana manajemen
dapat merasakan masalah mereka sendiri dan menilai kinerja organisasi,
kebutuhannya, titik kekuatan, dan kelemahannya. Disebutkan bahwa self
audit merupakan bagian dari internal audit yang dilakukan oleh individual
dalam sistem mereka sendiri, prosedur-prosedur, dan fasilitas-fasilitas agar
dapat menilai kinerja, kebutuhan, kekuatan, dan kelemahannya.
2. Ex
ternal audit
Management audit ini dilakukan oleh perusahaan terhadap pemasok mereka
atau sub pemasok. Auditor dapat dari auditor internal maupun auditor
eksternal. Management audit dikerjakan untuk menilai status kontrak atau
perjanjian yang dibuat perusahaan pemasok atau sub pemasok untuk
menentukan keadaan perusahaan atas barang yang akan diterima sesuai
dengan yang dibayarkannya.
3. Ex
trinsic Audit
Management audit ini dilakukan oleh pelanggan atau badan-badan yang
berkaitan dengan peraturan atau suatu agen inspeksi. Audit ini meliputi
pelanggan dari perusahaan-perusahaan pemasok dan sub pemasok.

Berkaitan dengan keterangan diatas maka management audit yang dilakukan

pada fungsi pembelian termasuk dari jenis internal audit.

5. Tujuan dan manfaat management audit


Menurut Hamilton (1986:1) tujuan dari management audit secara keseluruhan

adalah untuk mengevaluasi efisiensi dan efektifitas dari organisasi. Evaluasi ini bisa

dilakukan pada perusahaan secara keseluruhan atau dibatasi pada lingkup departemen

atau fungsi tertentu dalam organisasi. Evaluasi terhadap kinerja perusahaan ini

dilakukan terhadap standar yang dibuat oleh manajemen atas dan pada saat yang

sama digunakan untuk menilai keefektifan dari standar-standar dan kebijakan-

kebijakan tersebut.

Ramanathan (1990:300) mengatakan bahwa management audit berkaitan

dengan audit efisiensi, dimana tujuan utama dari audit efisiensi ini adalah untuk

memastikan bahwa setiap unit mata uang diinvestasikan dalam modal atau tempat

lain yang memberikan pengembalian yang optimum dan bahwa perencanaan investasi

antara berbagai fungsi dan aspek yang berbeda dirancang untuk memberikan hasil

yang optimum.

Tujuan management audit menurut Agoes (1996:173) adalah sebagai berikut :

1. Untuk menilai kinerja (performance) dari manajemen dan berbagai fungsi


dalam perusahaan.
2. Untuk menilai apakah berbagai sumberdaya (manusia, mesin, dana, harta
lainnya) yang dimiliki perusahaan telah digunakan secara efisien dan
ekonomis.
3. Untuk menilai efektifitas perusahaan dalam mencapai tujuan (objective)
yang telah ditetapkan oleh top management.
4. Untuk dapat memberikan rekomendasi kepada top management dalam
memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam penerapan struktur
pengendalian intern, sistem pengendalian manajemen, dan prosedur
operasional perusahaan, dalam rangka meningkatkan efisiensi,
keekonomisan dan efektifitas dari kegiatan operasi perusahaan.
Siagian (2001:13) mengatakan bahwa kalangan manajemen menunjukkan

sambutannya terhadap perkembangan management audit, karena jika digunakan

dengan tepat maka management audit bisa memberi manfaat yang besar, yaitu:

1. Memungkinkan manajemen mengidentifikasikan kegiatan operasional dalam


perusahaan yang tidak memberikan kontribusi dalam perolehan keuntungan.
2. Membantu manajemen dalam peningkatan produktifitas kerja dari berbagai
komponen organisasi.
3. Memungkinkan manajemen mengidentifikasikan hambatan dan kendala
yang dihadapi dalam mengkoordinasikan berbagai kegiatan dan mengambil
langkah strategik untuk mengatasi dan menghilangkannya.
4. Memantapkan penerapan pendekatan kesisteman dalam menjalankan roda
organisasi.
5. Memungkinkan manajemen pada berbagai tingkat menentukan strategi yang
tepat.
6. Membantu manajemen merumuskan pedoman teknis operasional bagi para
pelaksana berbagai kegiatan dalam perusahaan yang akan membantu para
tenaga kerja operasional melakukan kegiatan masing-masing dengan tingkat
efisiensi dan efektifitas yang lebih tinggi.
7. Mengidentifikasikan dengan tepat berbagai masalah dan tantangan yang
dihadapi dalam manajemen sumber daya manusia.
8. Membantu manajemen menilai perilaku bawahan dalam menyediakan
informasi bagi pimpinan, sesuai dengan kebutuhan pimpinan pada berbagai
hierarki perusahaan.

Berikut adalah beberapa manfaat management audit menurut Tunggal

(2003:14), yaitu:

1. Memberi informasi operasi yang relevan dan tepat waktu untuk pengambilan
keputusan.
2. Membantu manajemen dalam mengevaluasi catatan, laporan-laporan dan
pengendalian.
3. Memastikan ketaatan terhadap kebijakan manajerial yang ditetapkan,
rencana-rencana, prosedur serta persyaratan peraturan pemerintah.
4. Mengidentifikasi area masalah potensial pada tahap dini untuk menentukan
tindakan preventif yang akan diambil.
5. Menilai ekonomisasi dan efisiensi penggunaan sumber daya termasuk
memperkecil pemborosan.
6. Menilai efektivitas dalam mencapai tujuan dan sasaran perusahaan yang telah
ditetapkan.
7. Menyediakan tempat pelatihan untuk personil dalam seluruh fase operasi
perusahaan.

Apabila management audit dilakukan secara berkala, maka management audit

bisa menunjukkan masalah ketika masalah tersebut masih berskala kecil. Dengan

demikian, management audit merupakan alat manajemen yang membantu manajemen

dalam mencapai tujuannya karena tindakan korektif dapat dilakukan untuk

pemecahan masalah apabila ditemukan inefisiensi dan inefektifitas.

6. Tahap-tahap management audit

Pendekatan management audit harus mengikuti langkah-langkah dasar tertentu untuk

setiap pekerjaan meskipun mungkin tujuan dari pemeriksaan tersebut akan

bermacam-macam. Berikut adalah langkah-langkah tersebut menurut Hamilton

(1986:5) :

1. De
finisi ruang lingkup pekerjaan
Management audit bisa dilakukan dalam lingkup yang umum dan audit akan
meliputi suatu penilaian terinci atas tiap-tiap aspek operasional organisasi.
Management audit juga bisa dilakukan atas suatu masalah tertentu untuk
mencari bukti-bukti yang menjadi penyebabnya serta merekomendasikan
tindakan koreksi tertentu.
2. Per
encanaan, persiapan dan organisasi
Ketika suatu lingkup pekerjaan sudah ditentukan, tim audit akan membuat
suatu tindakan perencanaan atas pelaksaanaan pekerjaan. Perencanaan
meliputi langkah-langkah yang harus dilakukan dan estimasi waktu yang
diperlukan untuk mencapai setiap tahap pekerjaan. Tiap sumber bukti yang
berkaitan dengan area yang diperiksa harus dianalisa secara mendalam dan
terus diperbaharui.
3. Pe
ngumpulan fakta dan dokumentasi informasi terbaru
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan informasi data yang berkaitan
dengan area lingkup pekerjaan yang ditentukan. Data bisa diperoleh dari
surat menyurat, kebijakan dan prosedur, serta semua informasi informal
lainnya yang bisa diperoleh secara langsung dari karyawan lewat
wawancara.
4. Ris
et dan analisa
Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam proses management
audit. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan bukti dan fakta-fakta yang
dianggap penting dalam mendukung laporan akhir yang akan diserahkan
kepada top manajemen.
5. La
poran
Tahap ini meliputi ringkasan atas pekerjaan yang dilakukan, gambaran
mengenai ruang lingkup pekerjaan, rincian mengenai temuan-temuan utama
dan diskusi mengenai alternatif-alternatif yang dapat digunakan top
manajemen untuk mengurangi permasalahan yang ada.

Berikut adalah tahapan dalam management audit menurut Leo herbert yang

dikutip oleh Agoes (1996:176), yaitu:

1. Pr
elimenary Survey (Survei Pendahuluan)
Tujuan dari survey pendahuluan adalah untuk mendapatkan informasi umum
dan latar belakang, dalam waktu yang relatif singkat, mengenai semua aspek
organisasi, kegiatan, program, atau sistem yang dipertimbangkan untuk
diperiksa, agar dapat diperoleh pengetahuan atau gambaran yang memadai
mengenai objek pemeriksaan.
2. Re
view and Testing of Management Control System (Penelaahan dan Pengujian
atas Sistem Pengendalian Manajemen)
Tahap ini dimaksudkan untuk mendapatkan bukti-bukti mengenai ketiga
elemen dari tentative audit objective (tujuan pemeriksaan sementara), yaitu
criteria, causes dan effects, dengan melakukan pengetesan terhadap
transaksi-transaksi perusahaan yang berkaitan dengan sistem pengendalian
manajemen dan untuk memastikan bahwa bukti-bukti yang diperoleh dari
perusahaan adalah kompeten jika audit diperluas dalam detailed
examination (pengujian terinci). Criteria merupakan standar yang harus
dipatuhi oleh setiap bagian dalam perusahaan, causes adalah tindakan-
tindakan yang menyimpang dari standar yang berlaku, dan effects adalah
akibat dari tindakan-tindakan menyimpang dari standar yang berlaku.
3. De
tailed Examination (Pengujian Terinci)
Pada tahap ini auditor harus mengumpulkan bukti-bukti yang cukup,
kompeten, material dan relevan untuk dapat menentukan tindakan-tindakan
apa saja yang dilakukan manajemen dan pegawai perusahaan yang
merupakan penyimpangan-penyimpangan terhadap criteria dalam firm audit
objective (tujuan pemeriksaan yang pasti), dan bagaimana effects dari
penyimpangan-penyimpangan tersebut dan besar kecilnya effects tersebut
yang menimbulkan kerugian bagi perusahaan.
4. Re
port Development (Pengembangan Laporan)
Temuan audit harus dilengkapi dengan kesimpulan dan saran dan harus
direview oleh audit manager sebelum didiskusikan dengan auditee.
Komentar dari auditee mengenai apa yang disajikan dalam konsep laporan
harus diperoleh (sebaiknya secara tertulis).

2.1.3.4. Sistem pengendalian manajemen

Melaksanakan management audit berarti auditor akan menilai efektifitas dari

sistem pengendalian manajemen dalam suatu organisasi. Sistem pengendalian

manajemen mencakup seluruh kegiatan manajemen, baik yang menyangkut akuntansi

maupun tidak, baik kegiatan manajemen di dalam maupun di luar perusahaan. Dalam

management audit menurut Agoes (1996:177), sistem pengendalian manajemen yang

digunakan mencakup keseluruhan sistem dari organisasi, termasuk perencanaan,

kebijakan dan prosedur-prosedur yang ditetapkan dan praktek-praktek yang

dijalankan dalam pengelolaan kegiatan perusahaan.


David (2005:127) mengatakan bahwa fungsi pengendalian manajemen

meliputi semua aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk memastikan bahwa operasi

aktual sesuai dengan operasi yang direncanakan. Semua manajer dalam sebuah

organisasi memgang tanggung jawab pengedalian, seperti melaksanakan evaluasi

kinerja dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk meminimalisir inefisiensi.

Fungsi pengendalian manajemen khususnya penting sebagai evaluasi efektivitas

strategi. Pengendalian meliputi empat langkah dasar sebagai berikut:

1. Membuat standar kinerja

2. Mengukur kinerja individual dan organisasional

3. Membandingkan kinerja aktual dengan standar kinerja yang direncanakan

4. Melakukan tindakan koreksi

2.1.3.5. Efisiensi, efektifitas dan ekonomisasi

Meskipun terdapat perbedaan definisi mengenai management audit, pada

intinya terdapat kesamaan tujuan yaitu untuk mengevaluasi efisiensi, efektifitas dan

ekonomisasi organisasi. Efisiensi adalah ukuran dari hubungan antara masukan dan

keluaran, efektifitas adalah ukuran dari keluaran dan ekonomisasi merupakan ukuran

masukan. Berikut adalah beberapa definisi lain mengenai efisiensi, efektivitas dan

ekonomisasi menurut beberapa pakar.

Tunggal (2003:12) mengutip definisi efisiensi, efektifitas dan ekonomisasi

dari Gerald Vinten sebagai berikut :


Economy-doing things cheap

Efficiency-doing things right

Effectiveness-doing the right things

Daft (2003:9) mengatakan bahwa efektivitas adalah the degree to which the

organization achieves a stated goal, dan efisiensi merupakan the use of minimal

resources raw materials, money and people to produce a desired volume of output.

Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa efektivitas adalah tingkat

pencapaian organisasi atas sasaran yang ditetapkan dan efisiensi adalah penggunaan

sumberdaya bahan baku, uang dan manusia secara minimal untuk menghasilkan

output sebanyak yang diharapkan.

Menurut Hans Kartiadi yang dikutip oleh Agoes (1996:180), pengertian

efektifitas, ekonomisasi dan efisiensi dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Efektifitas berarti produk akhir suatu kegiatan operasi telah mencapai


tujuannya baik ditinjau dari segi kualitas hasil kerja, kuantitas hasil kerja
maupun batas waktu yang ditargetkan.
2. Ekonomisasi atau kehematan berarti cara penggunaan sesuatu barang (hal)
secara berhati-hati dan bijak agar diperoleh hasil yang terbaik.
3. Efisiensi berarti bertindak dengan cara yang dapat meminamilisir kerugian
atau pemborosan sumber daya dalam melaksanakan atau menghasilkan
sesuatu.

Berkaitan dengan kebutuhan akan pengukuran efektifitas manajemen, berikut

adalah pendapat Paton dan Littleton yang dikutip oleh Burrowes dan Persson

(2000:87), sebagai berikut:

Accounting exists primarily as a means of computing residuum, a balance, the


difference between costs (as efforts) and revenues (as accomplishments) for
individual enterprises. This difference reflects managerial effectiveness and is of
particular significance to those who furnish the capital and take the ultimate
responsibility.

Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa keberadaan akuntansi yang

utama adalah sebagai alat untuk menghitung residu, saldo, selisih antara beban

(sebagai usaha) dan pendapatan (sebagai pencapaian) untuk perusahaan

perseorangan. Selisih tersebut merefleksikan efektifitas manajemen dan merupakan

hal yang penting khususnya bagi mereka yang menyediakan modal dan memegang

tanggung jawab utama.

2.1.3.6. Kecurangan

1. Definisi kecurangan

Tujuan utama management audit adalah untuk menilai performance

manajemen dan fungsi-fungsi dalam perusahaan, terutama efektifitas, efisiensi dan

kehematan (ekonomisasi). Fraud atau kecurangan merupakan hambatan untuk

penggunaan sumberdaya secara efisien, efektif dan ekonomis, sehingga harus selalu

menjadi perhatian penting manajemen dan dewan direktur organisasi.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia karangan WJS Purwadarminta, kecurangan

berarti tidak jujur, tidak lurus hati, tidak adil dan keculasan (Karni, 2000:49).

Didalam buku Black’s Law Dictionary yang dikutip oleh Tunggal (2001:2)

dijelaskan satu definisi hukum dari kecurangan, yaitu berbagai macam alat yang

dengan lihai dipakai dan dipergunakan oleh seseorang untuk mendapatkan

keuntungan terhadap orang lain, dengan cara bujukan palsu atau dengan menutupi
kebenaran, dan meliputi semua cara-cara mendadak, tipu daya (trick), kelicikan

(cunning), mengelabui (dissembling), dan setiap cara tidak jujur, sehingga pihak

orang lain bisa ditipu, dicurangi atau ditipu (cheated).

The Institute of Internal Auditor di Amerika mendefinisikan kecurangan

mencakup suatu ketidakberesan dan tindakan ilegal yang bercirikan penipuan yang

disengaja. Ia dapat dilakukan untuk manfaat dan atau kerugian organisasi oleh orang

di luar atau dalam organisasi ( Karni, 2000:34).

Tunggal (2001:1) mengutip definisi fraud menurut Michael J.Cormer sebagai

berikut:

Fraud is any behavior by which one person gains or intends to gain a dishonest
advantage over another. A crime is an intentional act that violates the criminal
law under which no legal excuse applies and where there is a state to codify
such laws and endorce penalties in response to their breach. The distinction is
important. Not all frauds are crims and the majority of crimes are not frauds.
Companies lose through frauds, but the police and other enforcement bodies
can take action only against crimes.

Pendapat Cormer tersebut kurang lebih mempunyai arti : bahwa kecurangan

merupakan suatu perilaku dimana seseorang mengambil atau secara sengaja

mengambil manfaat secara tidak jujur atas orang lain. Kejahatan merupakan suatu

tindakan yang disengaja yang melanggar undang-undang kriminal yang secara

hukum tidak boleh dilakukan dimana sebuah negara mengikuti hukum tersebut dan

memberikan hukuman atas pelanggaran yang dilakukan. Perbedaan ini penting,

karena tidak semua kecurangan adalah kejahatan dan sebagian besar kejahatan bukan
kecurangan. Perusahaan menderita kerugian akibat kecurangan, tetapi polisi dan

badan penegak hukum lainnya bisa mengambil tindakan hanya terhadap kejahatan.

Fraud atau kecurangan ini juga perlu dibedakan dengan errors atau

kesalahan. Errors dapat dideskripsikan sebagai unintentional mistakes. Kesalahan

dapat terjadi pada setiap tahap dalam pengelolaan transaksi, yaitu terjadinya

transaksi, dokumentasi, pencatatan dari ayat-ayat jurnal, pencatatan debet kredit,

pengikhtisaran proses dan hasil laporan keuangan. Kesalahan dapat dalam banyak

bentuk, yaitu matematis, kritikal, atau dalam aplikasi prinsip-prinsip akuntansi.

Apabila kesalahan dilakukan dengan sengaja (intentional), maka kesalahan tersebut

merupakan kecurangan atau fraudulent (Tunggal, 2003:301).

Faktor yang membedakan antara kecurangan dan kekeliruan adalah apakah

tindakan yang mendasarinya, yang berakibat terjadinya salah saji dalam laporan

keuangan, berupa tindakan yang disengaja atau tidak disengaja (IAI, 2001:316.2).

Kecurangan yang terjadi di setiap negara mempunyai jenis yang berbeda-beda

karena praktik kecurangan antara lain sangat dipengaruhi oleh kondisi hukum di

negara yang bersangkutan. Negara dengan penegakan hukum yang sudah berjalan

baik dan kondisi ekonomi masyarakat secara umum cukup atau lebih dari cukup,

memiliki lebih sedikit modus operandi praktik kecurangan (Karni, 2000:33).

Berikut adalah berbagai perspektif kecurangan menurut Bologna yang dikutip

oleh Tunggal (2001:7), yaitu:

1. Ke
curangan: perspektif manusia
Kecurangan bagi orang awam, adalah kecurangan yang direncanakan yang
dilakukan pada orang lain untuk mendapatkan keuntungan ekonomi pribadi,
sosial atau politik. Kecurangan adalah penyimpangan persepsi moral yang
kita sebut kebenaran, keadilan hukum, keadilan dan kesamaan.
2. Ke
curangan: perspektif sosial dan ekonomi
Kecurangan dianggap perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial
karena kecurangan dapat menghancurkan hubungan dan kepercayaan antar
manusia. Tanpa kepercayaan, interaksi manusia tersendat dan hubungan
antar manusia tidak berkembang. Perdagangan antar manusia tidak dapat
berkembang jika tidak ada kepercayaan.
3. Ke
curangan: perspektif hukum
Kecurangan dalam arti hukum adalah penggambaran kenyataan materi yang
salah yang disengaja dengan tujuan membohongi orang lain sehingga orang
tersebut mengalami kerugian ekonomi. Hukum dapat memberikan sanksi
sipil dan kriminal untuk perilaku itu. Dengan demikian, kecurangan adalah
bentuk apapun dari kelicikan, penemuan, kebohongan, pengkhianatan,
penutupan atau samaran yang dimaksudkan untuk menyebabkan orang lain
terpisah dengan uang, properti atau hak hukum lainnya dengan tidak adil.
4. Ke
curangan: perspektif akuntansi dan audit
Dari sudut pandang akuntansi dan audit, kecurangan adalah penggambaran
yang salah dari fakta material dalam buku besar atau laporan keuangan.
Pernyataan yang salah dapat ditujukan pada pihak luar organisasi seperti
pemegang saham atau kreditor, atau pada organisasi itu sendiri dengan cara
menutupi atau menyamarkan penggelapan uang, ketidakcakapan, penerapan
dana yang salah atau pencurian atau penggunaan aktiva organisasi yang
tidak tepat oleh petugas, pegawai dan agen. Kecurangan dapat juga
ditujukan pada organisasi oleh pihak luar, misalnya, penjual, pemasok,
kontraktor, konsultan dan pelanggan, dengan cara penagihan yang
berlebihan, dua kali penagihan, substitusi material yang lebih rendah
mutunya, pernyataan yang salah mengenai mutu dan nilai barang yang
dibeli,atau besarnya kredit pelanggan.

2. Klasifikasi kecurangan
Kecurangan usaha atau internal dapat digolongkan berdasarkan cara

kecurangan disembunyikan. Terdapat dua metode penyembunyian menurut Tunggal

(2001:6), yaitu:

1. On
-book frauds (kecurangan dalam buku)
Pada dasarnya metode penyembunyian kecurangan dalam buku terjadi
dalam usaha. Pembayaran atau aktivitas gelap/haram dicatat, biasanya
dengan keadaan yang mengaburkan/tidak kentara, dalam buku dan catatan
regular perusahaan.
2. Off
-book frauds (kecurangan di luar buku)
Kecurangan di luar buku terjadi di luar aliran utama akuntansi. Biasanya,
apabila kecurangan di luar buku terjadi, perusahaan umumnya mempunyai
rabat pemasok yang tidak tercatat atau penjualan kas yang signifikan.

Karni (2000:35) mengklasifikasikan kecurangan menjadi tiga macam sebagai

berikut:

1. M
anagement Fraud
Kecurangan ini dilakukan oleh orang dari kelas ekonomi yang lebih atas dan
terhormat yang biasa disebut white collar crime, karena orang yang
melakukan kecurangan biasanya memakai kemeja berwarna putih dengan
kerah putih. Penyebutan istilah white collar crime sendiri diangkat oleh
Edwin H. Sutherland yang memberikan batasan tentang white collar crime
sebagai : a violation of criminal law by the person of the upper socio
economic class in the course of his occupational activities (Pranasari dan
Meliala, 1991:107).
2. No
n Management (Employee) Fraud
Kecurangan karyawan biasanya melibatkan karyawan bawahan. Kecurangan
ini kadang-kadang merupakan pencurian atau manipulasi. Kesempatan
meleakukan kecurangan pada karyawan tingkat bawah relatif lebih kecil
dibandingkan kecurangan pada manajemen. Hal ini dikarenakan mereka
tidak mempunyai wewenang, sebab pada umumnya semakin tinggi
wewenang semakin besar kesempatan untuk melakukan kecurangan.
3. Co
mputer Fraud
Kejahatan komputer dapat berupa pemanfaatan berbagai sumber daya
komputer di luar peruntukan yang sah dan perusakan atau pencurian fisik
atas sumber daya komputer itu sendiri. Termasuk juga defalcation atau
embezzlement yang dilakukan dengan memanipulasi program komputer, file
data, proses operasi, peralatan atau media lainnya yang mengakibatkan
kerugian bagi perusahaan/organisasi yang mempergunakan sistem komputer
tersebut.

Ikatan Akuntansi Indonesia (2001:316.2) menyatakan bahwa ada dua tipe

salah saji yang relevan dengan pertimbangan auditor tentang kecurangan dalam audit

atas laporan keuangan, yaitu salah saji yang timbul sebagai akibat dari kecurangan

dalam pelaporan keuangan dan kecurangan yang timbul dari perlakuan tidak

semestinya terhadap aktiva, berikut penjelasannya :

1. Sal
ah saji yang timbul dari kecurangan dalam pelaporan keuangan adalah salah
saji atau penghilangan secara sengaja jumlah atau pengungkapan dalam
laporan keuangan untuk mengelabui pemakai laporan keuangan. Kecurangan
dalam laporan keuangan dapat menyangkut tindakan seperti yang disajikan
berikut ini:
a. Ma
nipulasi, pemalsuan atau perubahan catatan akuntansi atau dokumen
pendukungnya yang menjadi sumber data bagi penyajian laporan
keuangan.
b. Re
presentasi yang salah dalam atau penghilangan dari laporan keuangan
peristiwa, transaksi atau informasi yang signifikan.
c. Sal
ah penerapan secara sengaja prinsip akuntansi yang berkaitan dengan
jumlah, klasifikasi, cara penyajian atau pengungkapan.
2. Sal
ah saji yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva
(seringkali disebut dengan penyalahgunaan atau penggelapan) berkaitan
dengan pencurian aktiva entitas yang berakibat laporan keuangan tidak
disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum. Perlakuan tidak
semestinya terhadap aktiva entitas dapat dilakukan dengan berbagai cara,
termasuk penggelapan tanda terima barang/uang, pencurian aktiva, atau
tindakan yang menyebabkan entitas membayar harga barang atau jasa yang
tidak diterima oleh entitas. Perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva dapat
disertai dengan catatan atau dokumen palsu atau yang menyesatkan dan
dapat menyangkut satu atau lebih individu di antara manajemen, karyawan
atau pihak ketiga.

3. Penyebab kecurangan

Gandhi mengatakan bahwa berbagai kelemahan dalam prosedur dan tata

kerja, salah satunya adalah kelemahan petugas serta pengawasan, yang kerap

dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan ekonomi (Pranasari dan Meliala, 1991:3).

Sistem pengendalian intern yang lemah memang memudahkan terjadinya

kecurangan, akan tetapi sistem pengendalian yang kuat juga tidak menjamin bahwa

kecurangan tidak terjadi. Sistem pengendalian intern tidak dimaksudkan untuk

meniadakan semua kemungkinan terjadinya kesalahan atau penyelewengan, akan

tetapi sistem pengendalian intern yang baik akan dapat menekan terjadinya kesalahan

dan penyelewengan dalam batas-batas biaya yang layak dan kalaupun kesalahan dan

penyelewengan terjadi hal ini dapat diketahui dan diatasi dengan cepat.

Penyebab-penyebab terjadinya kecurangan menurut Tunggal (2003:304)

mengutip dari Venables dan Impey digolongkan menjadi penyebab utama dan

penyebab sekunder, sebagai berikut :

1. Pe
nyebab utama
a. Pe
nyembunyian (concealment)
Kesempatan tidak terdeteksi. Pelaku perlu menilai kemungkinan dari
deteksi dan hukuman sebagai akibatnya.
b. Ke
sempatan/Peluang (opportunity)
Pelaku perlu berada pada tempat yang tepat, waktu yang tepat agar
dapat mendapatkan keuntungan atas kelemahan khusus dalam sistem
dan juga menghindari deteksi.
c. M
otivasi (motivation)
Pelaku membutuhkan motivasi untuk melakukan aktivitas demikian,
suatu kebutuhan pribadi seperti ketamakan/kelobaan/kerakusan dan
motivator yang lain.

d. Da
ya tarik (attraction)
Sasaran dari kecurangan perlu menarik bagi pelaku.
e. Ke
berhasilan (success)
Pelaku perlu menilai peluang berhasil, yang dapat diukur dengan baik
untuk menghindari penuntutan atau deteksi.
2. Pe
nyebab sekunder
a. “A
Perk”
Akibat kurangnya pengendalian, mengambil keuntungan aktiva
organisasi dipertimbangan sebagai suatu tunjangan karyawan.
b. Hu
bungan antar pemberi kerja/pekerja yang jelek
Rasa saling percaya dan menghargai antar pemberi kerja dan pekerja
telah gagal.
c. Pe
mbalasan dendam (revenge)
Ketidaksukaan terhadap organisasi mengakibatkan pelaku berusaha
merugikan organisasi tersebut.
d. Ta
ntangan (challenge)
Karyawan yang bosan dengan lingkungan kerjanya berusaha mencari
stimulus dengan ‘memukul sistem’, yang dirasakan sebagai suatu
pencapaian atau pembebasan dari rasa frustasi.
Sidharta mengungkapkan bahwa salah satu hal yang menyuburkan praktek

kecurangan adalah ketergila-gilaan manusia terhadap uang. Uang mempunyai nilai

tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak ada seorangpun yang tidak butuh

uang. Seyogianya oranglah yang menguasai uang, akan tetapi pada suatu saat dan

tingkat tertentu orang dapat diperbudak oleh uang, sehingga uang beralih menguasai

manusia. Dalam keadaan seperti itu, uang dapat mempengaruhi etika dan moral

(Pranasari dan Meliala, 1991:109).

Menurut Tunggal (2001:10) kecurangan paling sering terjadi apabila

didukung oleh kondisi-kondisi sebagai berikut :

1. Pengendalian intern tidak ada, lemah atau dilakukan dengan longgar.


2. Pegawai diperkerjakan tanpa memikirkan kejujuran dan integritas mereka.
3. Pegawai diatur, dieksploitasi dengan tidak baik, disalahgunakan atau
ditempatkan dengan tekanan yang besar untuk mencapai sasaran dan tujuan
keuangan.
4. Model manajemen sendiri korupsi, tidak efisien atau tidak cakap.
5. Pegawai yang dipercaya memiliki masalah pribadi yang tidak dapat
dipecahkan.
6. Industri dimana perusahaan menjadi bagiannya, memiliki sejarah atau tradisi
korupsi.
7. Perusahaan mengalami masa yang buruk.

Ramos (2003) menyampaikan kondisi yang mendukung terjadinya

kecurangan yang diadaptasinya dari Fraud Detection in a GAAS Audit-SAS No.99

Implementation Guide, sebagai berikut :

Three conditions are present when fraud occurs, are:


1. Incentive/Pressure. Management or other employees may have an
incentive or be under pressure, which provides a motivation to commit
fraud.
2. Opportunity. Circumstances exist-for example, the absence of controls,
ineffective controls, or the ability of management to override controls-that
provide an opportunity for fraud to be perpetrated.
3. Rationalization/Attitude. Those involved in a fraud are able to rationalize
a fraudulent act as being consistent with their personal code of ethics. Some
individual possess an attitude, character or set of ethical values that allows
them to knowingly and intentionally commit a dishonest act.

Isi dari Implementation Guide tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa:

1. Manajemen atau karyawan mungkin didorong atau berada dibawah tekanan yang

memotivasi mereka untuk melakukan kecurangan.

2. Kondisi lingkungan, seperti tidak adanya pengawasan, pengawasan yang tidak

efektif, manajemen yang mengesampingkan pengawasan, merupakan

kesempatan untuk melakukan kecurangan.

3. Mereka yang terlibat dalam kecurangan mungkin menganggap kecurangan sesuai

dengan kode etik mereka. Beberapa orang mungkin memiliki sikap, karakter,

atau nilai-nilai yang memperbolehkan mereka untuk melakukan perbuatan tidak

jujur dengan sengaja.

2.1.3.7. Fungsi pembelian

1. Definisi pembelian

Istilah purchasing atau pembelian sinonim dengan procurement atau

pengadaan barang. Berikut adalah definisi procurement menurut Bodnar dan

Hopwood (2001:323), yaitu:“Procurement is the business process of selecting a

source, ordering, and acquiring goods or services.”


Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti: bahwa pengadaan barang adalah

proses bisnis dalam memilih sumber daya-sumber daya, pemesanan dan perolehan

barang atau jasa.

Brown dkk. (2001:132) mengatakan bahwa secara umum pembelian bisa

didefinisikan sebagai: “managing the inputs into the organization’s transformation

(production process).” Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa

pembelian merupakan pengelolaan masukan ke dalam proses produksi organisasi.

Berikut adalah pendapat Galloway dkk. (2000:31) mengenai fungsi

pembelian, yaitu: “The role of purchasing function is to make materials and parts of

the right quality, and quantity available for use by operations at the right time and at

the right place.” Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa peran fungsi

pembelian adalah untuk mengadakan material dan part pada kualitas yang tepat dan

kuantitas yang tersedia untuk digunakan dalam operasi pada waktu yang tepat dan

tempat yang tepat.

2. Pentingnya fungsi pembelian

Management audit bisa digunakan untuk mengevaluasi organisasi secara

keseluruhan ataupun fungsi tertentu dalam organisasi, untuk menentukan apakah

perusahaan sudah memperoleh efisiensi biaya yang maksimum dari yang telah

dilaksanakan oleh fungsi tersebut selama ini. Penelitian ini menjadikan fungsi

pembelian sebagai sasaran audit.


Fungsi pembelian sering dianggap sebagai bagian yang paling penting dan

berpengaruh, bahkan bisa dikatakan sebagian besar proses bisnis berasal dari kegiatan

pembelian. Alasan yang sangat fundamental untuk membahas fungsi pembelian ialah

karena dalam bidang ini pemborosan mudah terjadi, baik karena perilaku yang

disfungsional maupun karena kurangnya pengetahuan dalam berbagai aspek

pembelian bahan, sarana, prasarana dan suku cadang yang diperlukan perusahaan.

Pandangan ini menurut Siagian (2001:192) mudah dipahami karena dalam

proses produksi perusahaan memerlukan bahan baku. Tidak banyak perusahaan yang

menguasai sendiri bahan baku yang diperlukan untuk diolah lebih lanjut menjadi

produk jadi, sehingga bisa disimpulkan bahwa tidak ada satupun bentuk atau jenis

perusahaan yang tidak terlibat dengan fungsi pembelian. Pengalaman banyak

perusahaan bahwa biaya untuk menghasilkan suatu produk mungkin mencapai sekitar

lima puluh persen dari harga jual produk, menjadikan fungsi pembelian sebagai

sumber pemborosan apabila tidak diselenggarakan dengan baik dan sumber

penghematan yang akan memperbesar laba perusahaan apabila dilakukan dengan

teliti dan cermat.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa pembelian merupakan area yang

penting yang dikemukakan Brown dkk. (2001:131), yaitu:

1. Fungsi pembelian memiliki tanggung jawab untuk mengelola masukan


perusahaan pada pengiriman, kualitas dan harga yang tepat, yang meliputi
bahan baku, jasa dan sub-assemblies untuk keperluan organisasi.
2. Berbagai penghematan yang berhasil dicapai lewat pembelian secara
langsung direfleksikan pada lini dasar organisasi. Dengan kata lain, begitu
penghematan harga dibuat, maka akan mempunyai pengaruh yang langsung
terhadap struktur biaya perusahaan. Sehingga sering dikatakan bahwa
penghematan pembelian 1% ekivalen dengan peningkatan penjualan sebesar
10%.
3. Pembelian dan suplai material mempunyai kaitan dengan semua aspek
operasi manajemen.

Bagaimana cara sebuah perusahaan dalam mengendalikan strategi pengadaan

barangnya akan mempunyai pengaruh langsung terhadap bagaimana perusahaan

tersebut menjalankan bisnisnya. Pembelian yang baik juga perlu menjadi perhatian

untuk organisasi-organisasi non profit dan pemerintah. Berbagai tekanan yang

berkaitan dengan kurangnya dana yang tersedia dan besarnya biaya, mendorong

organisasi-organisasi tersebut untuk beroperasi seefisien mungkin dengan biaya

seminimum mungkin.

Dengan demikian, apapun jenis dan ukuran perusahaannya, pembelian yang

dilaksanakan dengan ekonomis dan efektif amat diperlukan dalam upaya mencapai

kondisi perusahaan yang sehat karena pembelian merupakan kegiatan yang

memerlukan pengerahan sumber daya dalam jumlah besar.

3. Tugas dan tanggung jawab fungsi pembelian

Pada dasarnya peran fungsi pembelian adalah untuk menyediakan barang dan

jasa yang dibutuhkan oleh perusahaan pada waktu, harga dan kualitas yang tepat.

Assauri (1998:162) menjabarkan tanggung jawab bagian pembelian sebagai berikut:

1. Bertanggung jawab atas pelaksanaan pembelian bahan-bahan agar rencana


operasi dapat dipenuhi dan pembelian bahan-bahan tersebut pada tingkat
harga dimana perusahaan akan mampu bersaing dalam memasarkan
produknya.
2. Bertanggung jawab atas usaha-usaha untuk dapat mengikuti perkembangan
bahan-bahan baru yang dapat meguntungkan dalam proses produksi,
perkembangan dalam desain, harga dan faktor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi produk perusahaan, harga serta desainnya.
3. Bertanggung jawab untuk menurunkan investasi atau meningkatkan
perputaran bahan, yaitu dengan penentuan skedul arus bahan ke dalam
pabrik dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi.
4. Bertanggung jawab atas kegiatan penelitian dengan menyelidiki data-data
dan perkembangan pasar, perbedaaan sumber-sumber penawaran (supply)
dan memeriksa pabrik suplier untuk mengetahui kapasitas dan
kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan perusahaan.
5. Bertanggung jawab atas pemeliharaan bahan-bahan yang dibeli setelah
diterima dan bertanggung jawab atas pengawasan persediaan.

Tugas-tugas yang dilakukan bagian pembelian dalam memenuhi tanggung

jawab tersebut diatas antara lain:

1. Melakukan pembelian bahan-bahan secara bersaing atas dasar nilai yang


ditentukan tidak hanya pada harga yang tepat tetapi juga pada waktu yang
tepat, serta jumlah dan mutu yang tepat pula.
2. Membantu pemilihan bahan-bahan dengan melakukan penyelidikan.
3. Melaksanakan usaha-usaha pencarian paling sedikit dua sumber suplai.
4. Mempengaruhi tingkat persediaan terendah.
5. Menjaga hubungan baik dengan suplier.
6. Melakukan kerjasama dan koordinasi yang efektif dengan fungsi-fungsi
lainnya dalam perusahaan.
7. Meneliti keadaan perdagangan pasar.
8. Membeli seluruh bahan-bahan dan perlengkapan yang dibutuhkan tepat
waktu sehingga tidak menganggu rencana produksi dari perusahaan tersebut.

Galloway dkk. (2000:305) mendefinisikan tujuan dan tanggung jawab

departemen pembelian adalah meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Memilih, mengevaluasi dan mengembangkan sumber-sumber untuk bahan


dan jasa yang dibutuhkan oleh perusahaan.
2. Memelihara dan membangun relasi dengan suplier yang berkenaan dengan
kualitas, pengiriman, pembayaran dan pengembalian.
3. Mencari bahan dan produk baru, serta sumber-sumber baru untuk
memperoleh bahan dan produk yang lebih baik yang mungkin bisa
digunakan oleh perusahaan di masa yang akan datang.
4. Melakukan negosiasi dan memperoleh bahan baku, peralatan, barang dan
jasa pada harga yang mencerminkan the best value for money.
5. Ikut berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas untuk reduksi biaya.
6. Memelihara sistem komunikasi yang efektif dan melakukan konsultasi
secara rutin dengan fungsi-fungsi internal.
7. Selalu memberikan informasi mengenai biaya pembelian dan berbagai
perubahan yang mungkin bisa mempengaruhi laba perusahaan dan
perkembangan dimasa mendatang kepada manajemen puncak.

2.1.3.8. Tujuan management audit fungsi pembelian

Management audit pada fungsi pembelian berorientasi pada pencarian dan

penemuan fakta dan informasi tentang seluruh kegiatan pembelian. Informasi yang

terungkap akan digunakan oleh manajemen puncak sebagai masukan untuk

pengambilan keputusan.

Berikut adalah tujuan management audit untuk fungsi pembelian yang

disampaikan oleh Widjayanto (1985:275), yaitu:

1. Memperoleh keyakinan bahwa pembelian dilaksanakan secara ekonomis dan


efektif.
2. Menilai prosedur pembelian untuk memastikan bahwa hanya barang yang
dibutuhkan saja yang dibeli.
3. Menilai ketaatan para pelaksana pembelian terhadap peraturan dan prosedur
yang berlaku.
4. Memberikan saran dan rekomendasi yang diperlukan.

Berikut adalah pendapat Hamilton (1986:42) mengenai tujuan management

audit pada fungsi pembelian, yaitu:“The major objective of the management audit of

the purchasing function is to determine if the company is spending its financial

resources in the most efficient and effective manner possible.”


Pendapat Hamilton tersebut sama dengan yang diungkapkan oleh Ramanathan

(1990:310), yaitu: “The management auditor should examine the purchase function

to see that the most efficient and economical methods of purchasing have been

adopted.”

Kedua pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa tujuan

management audit untuk fungsi pembelian dimaksudkan untuk menentukan apakah

semua sumber keuangan untuk fungsi pembelian sudah digunakan dengan cara yang

paling efisien, efektif dan ekonomis.

2.1.3.9. Sektor publik

1. Definisi sektor publik

Penelitian ini dimaksudkan untuk menilai persepsi manajemen pada

BUMN/BUMD dan BUMS. Salah satu variabel utama yang mungkin akan membuat

perbedaan tersebut adalah karena BUMN/BUMD merupakan perusahaan sektor

publik, sedangkan BUMS merupakan perusahaan sektor swasta. Istilah sektor publik

memiliki pengertian yang bermacam-macam. Hal tersebut merupakan konsekuensi

dari luasnya wilayah publik, sehingga setiap disiplin ilmu memiliki cara pandang dan

definisi yang berbeda-beda. Dari sudut pandang ilmu ekonomi, sektor publik dapat

dipahami sebagai suatu entitas yang aktivitasnya berhubungan dengan usaha untuk

menghasilkan barang dan pelayanan publik dalam rangka memenuhi kebutuhan dan

hak publik (Mardiasmo, 2004:2).


Domain publik memiliki wilayah yang lebih luas dan kompleks dibandingkan

dengan sektor swasta. Keluasan wilayah publik ini tidak hanya disebabkan luasnya

jenis dan bentuk organisasi yang berada didalamnya, akan tetapi juga karena

kompleksnya lingkungan yang mempengaruhi lembaga-lembaga publik tersebut.

Secara kelembagaan, domain publik antara lain meliputi badan-badan pemerintahan

(pemerintah pusat dan daerah serta unit kerja pemerintah), perusahaan milik negara

(BUMN dan BUMD), yayasan, organisasi politik dan organisasi massa, Lembaga

Swadaya Masyarakat (LSM), universitas dan organisasi nirlaba lainnya. Jika dilihat

dari variabel lingkungan, sektor publik dipengaruhi oleh banyak faktor tidak hanya

faktor ekonomi semata, akan tetapi faktor politik, sosial, budaya, dan historis juga

memiliki pengaruh yang signifikan. Sektor publik tidak seragam dan sangat

heterogen (Mardiasmo, 2004:1). Dalam penelitian ini, sektor publik yang menjadi

obyek penelitian peneliti adalah BUMN dan BUMD.

Sifat lembaga pemerintahan berbeda dengan sektor swasta. Berikut adalah

sifat khas lembaga pemerintahan menurut Edward S. Lyn yang dikemukakan oleh

Baswir (2000:9), yaitu:

1. Keinginan mengejar laba tidak inklusif didalam usaha dan kegiatannya.


2. Ia tidak dimiliki secara pribadi akan tetapi secara kolektif oleh seluruh
warga negara, dan pemilikan ini tidak dibuktikan oleh adanya pemilikan
saham yang dapat diperjualbelikan atau diperdagangkan.
3. Sumbangan masyarakat terhadap pemerintah, seperti pajak, tidak ada
hubungannya secara langsung dengan jasa yang diterima masyarakat dari
pemerintah. Demikian pula sebaliknya.
Bastian (2003:60) mengatakan bahwa dari sisi kebijakan publik, sektor publik

dipahami sebagai tuntutan pajak, birokrasi yang berlebihan, pemerintahan yang besar

dan nasionalisasi versus privatisasi. Dalam arti luas, sektor publik disebut bidang

yang membicarakan metoda manajemen negara, sedangkan dalam arti sempit,

diartikan sebagai pembahasan pajak dan kebijakan pajak.

2. Perbedaan dan persamaan sektor publik dan sektor swasta

Mardiasmo (2004:13) mengungkapkan bahwa meskipun sektor publik

memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda dengan sektor swasta, akan tetapi dalam

beberapa hal terdapat persamaan, yaitu:

1. Kedua sektor merupakan bagian integral dari sistem ekonomi di suatu


negara dan keduanya menggunakan sumber daya yang sama untuk mencapai
tujuan organisasi.
2. Keduanya menghadapi masalah yang sama, yaitu masalah kelangkaan
sumber daya (scarcity of resources), sehingga baik sektor publik maupun
sektor swasta dituntut untuk menggunakan sumber daya organisasi secara
ekonomis, efisien, dan efektif.
3. Proses pengendalian manajemen termasuk manajemen keuangan, pada
dasarnya sama di kedua sektor. Keduanya sama-sama membutuhkan
informasi yang handal dan relevan untuk melaksanakan fungsi manajemen,
yaitu: perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian.
4. Pada beberapa hal, kedua sektor menghasilkan produk yang sama, misalnya:
baik pemerintah maupun swasta sama-sama bergerak dibidang transportasi
massa, pendidikan, kesehatan, penyediaan energi, dan sebagainya.
5. Kedua sektor terikat pada peraturan perundangan dan ketentuan hukum lain
yang disyaratkan.

Perbedaan sifat dan karakteristik organisasi sektor publik dan sektor swasta

dapat dilihat pada tabel 2.2. yang dikemukakan oleh Mardiasmo (2004:8).
TABEL 2.2

PERBEDAAN SEKTOR PUBLIK DAN SEKTOR SWASTA

Perbedaan Sektor Publik Sektor Swasta


Tujuan organisasi Nonprofit motive Profit Motive
Sumber pendanaan Pajak, retribusi, utang, Pembiayaan internal: Modal
obligasi pemerintah, laba sendiri, laba ditahan, penjualan
BUMN/BUMD, penjualan aktiva
aset negara, dsb. Pembiayaan eksternal: utang
bank, obligasi, penerbitan
saham
Pertanggungjawaban Pertanggungjawaban kepada Pertanggungjawaban kepada
masyarakat (publik) dan pemegang saham dan kreditor
parlemen (DPR/DPRD)
Struktur organisasi Birokratis,kaku, dan hierarkris Fleksibel: datar, piramid, lintas
fungsional, dsb.
Karakteristik anggaran Terbuka untuk publik Tertutup untuk publik

Sistem akuntansi Lebih banyak menggunakan Akuntansi berbasis akrual


sistem akuntansi berbasis kas
Sumber : Mardiasmo. 2004. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Penerbit Andi.

3. Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah

Dilihat dari segi pihak yang mengelolanya, keuangan negara dapat

dikelompokkan kedalam dua bagian, yaitu yang pengelolaannya dipisahkan dan yang

dikelola langsung oleh negara. Komponen keuangan negara yang pengelolaannya

dipisahkan adalah komponen keuangan negara yang pengelolaannya diserahkan

kepada Badan-badan Usaha Milik Negara dan Lembaga-lembaga Keuangan Milik

Negara.

Ada tiga bentuk BUMN, yaitu Perusahaan Jawatan, Perusahaan umum Negara

dan Perusahaan Perseroan Negara (Baswir, 2000:17). Berikut penjelasannya:


1. Per
usahaan Jawatan atau Perjan adalah perusahaan negara yang memiliki ciri-
ciri sebagai berikut:
a. Be
rsifat memberi pelayanan kepada masyarakat.
b. Sta
tusnya berlainan dengan hukum publik.
c. M
odalnya merupakan bagian dari anggaran pendapatan dan belanja
negara yang dikelola oleh departemen yang membawahinya.
2. Per
usahaan Umum Negara atau Perum adalah perusahaan negara yang memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
a. Be
rsifat melayani kepentingan umum, namun juga diharapkan dapat
memupuk keuntungan.
b. Be
rstatus badan hukum dan diatur berdasarkan ketentuan Undang-
Undang No.19/1969.
c. Sa
mpai tingkat tertentu menerima subsidi dari pemerintah.
d. Sel
uruh modalnya merupakan milik negara yang diambil dari kekayaan
negara yang dipisahkan dan tidak terbagi ke dalam bentuk saham-
saham.
3. Per
usahaan Perseroan Negara atau Pesero adalah perusahaan negara yaang
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Be
rsifat mengejar keuntungan.
b. Be
rstatus badan hukum dan berbentuk Perseroan Terbatas.
c. Ti
dak menerima subsidi dan fasilitas dari pemerintah.
d. Sel
uruh atau sebagian modalnya dimiliki oleh pemerintah serta terbagi ke
dalam bentuk saham-saham.

Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) adalah perusahaan milik pemerintah

daerah yang didirikan dengan Peraturan Daerah berdasarkan Undang-Undang No. 5


tahun 1962, dengan modal seluruhnya atau sebagian merupakan kekayaan daerah

yang dipisahkan (BPS, 2003:1).

Berikut adalah fungsi dan peran BUMD dalam menunjang penyelenggaraan

pemerintah daerah :

1. Melaksanakan kebijakan pemerintah daerah di bidang ekonomi dan


pembangunan.
2. Pemupukan dana bagi pembiayaan pembangunan.
3. Mendorong peran serta masyarakat dalam bidang usaha.
4. Memenuhi barang dan jasa bagi kepentingan masyarakat.
5. Menjadi perintis kegiatan yang tidak diminati masyarakat.

Tujuan utama sektor publik adalah pemberian pelayanan publik, namun tidak

berarti organisasi sektor publik sama sekali tidak memiliki tujuan yang bersifat

finansial. Organisasi sektor publik juga memiliki tujuan finansial, akan tetapi hal

tersebut berbeda baik secara filosofis, konseptual dan operasionalnya dengan tujuan

profitabilitas pada sektor swasta. Tujuan finansial pada sektor swasta diorientasikan

pada maksimasi laba untuk memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham,

sedangkan pada sektor publik tujuan finansial lebih pada maksimasi pelayanan

publik, karena untuk memberikan pelayanan publik diperlukan dana.

4. Audit sektor publik

Audit sektor publik berbeda dengan audit pada sektor bisnis atau audit sektor

swasta. Audit sektor publik dilakukan pada organisasi pemerintahan yang bersifat

nirlaba seperti sektor pemerintahan daerah (pemda), BUMN, BUMD dan instansi lain

yang berkaitan dengan pengelolaan aset kekayaan negara. Mekanisme audit dapat
menggerakkan makna akuntabilitas di dalam pengelolaan sektor pemerintahan,

BUMN atau instansi pengelola aset negara lainnya.

Berikut adalah beberapa hal yang mendasari kebutuhan akan proses auditing

pada sektor publik yang disampaikan oleh Bastian (2003:4), yaitu:

1. Kendali saat ini ada ditangan masyarakat. Masyarakat memiliki hak yang bebas

untuk mengakses informasi mengenai pengelolaan sumber daya publik.

2. Kompleksitas laporan keuangan. Semakin kompleks laporan keuangan yang

dihasilkan tingkat kesalahan semakin tinggi pula.

3. Pihak manajemen Pemda memiliki kecenderungan ingin sukses dan

meminimalisir kesalahan pemerintahannya, sehingga perlu diverifikasi

kebenarannya dari laporan keuangan yang disajikan oleh mereka.

4. Kontrol dan kredibilitas. Pemeriksaan akan informasi keuangan penting untuk

menghindari adanya kesalahan penyajian dan pengungkapan.

5. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan. Proses audit akan memberikan nilai

tambah bagi pemenuhan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan.

6. Identifikasi terhadap kelemahan sistem.

Nichols seperti yang dikutip oleh Mardiasmo (2004:23) mengatakan bahwa

perusahaan publik tidak luput dari tudingan sebagai sarang korupsi, kolusi,

nepotisme, inefisiensi, dan sumber pemborosan negara. Rendahnya kinerja

perusahaan publik diperkuat dengan bukti ambruknya sektor bisnis pemerintah di


banyak negara sehingga menimbulkan pertanyaan publik mengenai kemampuan

pemerintah dalam menjalankan perusahaan publik secara ekonomis dan efisien.

Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah di Indonesia juga

masih banyak yang tidak dijalankan secara efisien. Inefisien yang dialami oleh

BUMN dan BUMD tersebut antara lain disebabkan adanya intervensi politik,

sentralisasi, rent seeking behaviour, dan manajemen yang buruk.

1) Tipe-tipe audit sektor publik

Audit sektor publik adalah jasa penyelidikan bagi masyarakat atas organisasi

publik dan politikus yang sudah mereka bayar. Menurut Bastian (2003:52), audit

sektor publik terdiri atas tiga tipe, yaitu:

1. Audit Keuangan (Financial Audit)

2. Audit Kinerja (Performance Audit)

a. Audit Ekonomi dan Efisiensi

b. Audit Program

3. Audit Investigasi (Special Audit)

Comptroller General of the United States dalam Government Auditing

Standards mengidentifikasikan audit pemerintahan menjadi dua tipe, berikut adalah

penjelasannya yang dikutip oleh Boynton dan Kell (1996:852):

1. Financial audit (audit keuangan), yang terdiri dari:

a. Financial statements audit


b. Financial related audit

2. Performance audit (audit kinerja), yang terdiri dari:

a. Economy and efficiency audit

b. Program audit

2) Management audit sektor publik

Sektor publik sering dinilai sebagai sarang inefisiensi , pemborosan, sumber

kebocoran dana, dan institusi yang selalu merugi. Tuntutan baru muncul agar sektor

publik memperhatikan pengelolaan organisasi yang mendasarkan pada konsep

ekonomisasi, efisiensi dan efektivitas.

Tuntutan terhadap sektor publik untuk lebih memberi penekanan pada value

for money dibandingkan audit terhadap keuangan dan regulasi terjadi di banyak

negara. Di UK dan USA tuntutan terhadap audit efisiensi dan value for money untuk

peningkatan akuntabilitas pada sektor publik muncul dari para pembayar pajak dan

politikus. Penelitian yang dilakukan oleh Auditing Practices Board menemukan

bahwa 60% dari pengguna laporan keuangan mengharapkan agar auditor bisa

memberikan kepastian bahwa perusahaan yang diaudit tersebut telah terkelola secara

kompeten. Di Jepang, bahkan sudah sejak lama audit kinerja terhadap pemerintah

dilakukan. Dalam The 1891 Guidelines for Field Investigation by Auditor, peran

auditor lebih luas daripada audit keuangan tradisional dimana ia juga diminta untuk

mempertimbangkan apakah pembelian yang dilakukan memang diperlukan, terlalu


mahal atau tidak penting, karena pemerintah dianggap terbiasa melakukan

pengeluaran yang terlalu berlebihan sedangkan saat itu Jepang sedang mengalami

kesulitan fiskal. Auditor juga diharuskan untuk menilai operasi, pengendalian dan

tepat tidaknya metode pembelian yang digunakan (Burrowes dan Persson, 2000).

Di tengah berbagai kritik bahwa keberadaan sektor publik tidak efisien dan

jauh tertinggal dengan kemajuan dan perkembangan yang terjadi di sektor swasta,

lembaga sektor publik masih memiliki kesempatan yang luas untuk memperbaiki

kinerjanya dan memanfaatkan sumberdaya secara ekonomis, efisien, dan efektif.

Istilah “akuntabilitas publik, value for money, reformasi sektor publik, privatisasi,

good public governance,” telah begitu cepat masuk kedalam kamus sektor publik

(Mardiasmo, 2004:17). Bahkan istilah pemeriksaan khusus terhadap kasus-kasus

yang diperkirakan mengandung unsur penyimpangan yang merugikan Pemerintah

Pusat, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik

Daerah sudah dikenal luas di lingkungan pemerintahan dan BUMN/BUMD (Karni,

2000:117).

Sektor publik mengenal yang namanya audit kinerja (perfomance audit), yang

merupakan pemeriksaan secara objektif dan sistematik terhadap berbagai macam

bukti, untuk dapat melakukan penilaian secara independen atas kinerja entitas atau

program/kegiatan Pemerintah yang diaudit. Audit kinerja dimaksudkan untuk dapat

meningkatkan tingkat akuntabilitas Pemerintah dan memudahkan pengambilan


keputusan oleh pihak yang bertanggung jawab untuk mengawasi dan memprakarsai

tindakan koreksi (Bastian, 2003:55).

Istilah audit kinerja pada sektor publik menurut peneliti sama dengan

management audit pada sektor swasta. Seperti dikemukakan oleh Parker yang dikutip

oleh Burrowes dan Persson (2000:89) mengenai konsep management audit yang

memiliki banyak istilah. Apabila evaluasi dilakukan atas manajemen dan fungsi serta

kinerja organisasi berkenaan dengan ekonomisasi, efisiensi dan efektivitas, maka

istilah tersebut merupakan konsep management audit. Management Audit saat ini

digunakan sebagai strategi untuk meningkatkan kinerja perusahaan publik (Batra,

1997:151).

3) Tujuan management audit sektor publik

Tujuan dari audit ekonomi dan efisiensi menurut Bastian (2003:56) adalah:

1. Me
nentukan apakah entitas telah memperoleh, melindungi dan menggunakan
sumber dayanya secara hemat dan efisien.
2. Me
nentukan penyebab timbulnya ketidakefisienan.
3. Me
nentukan apakah entitas tersebut telah mematuhi perundang-undangan yang
berkaitan dengan kehematan dan efisiensi.

Tujuan dari audit program mencakup penentuan:

1. Tingkat pencapaian hasil program yang diinginkan atau manfaat yang telah
ditetapkan oleh undang-undang atau badan lain yang berwenang.
2. Efektivitas kegiatan entitas, pelaksanaan program, kegiatan, atau fungsi
instansi lain yang bersangkutan.
3. Apakah entitas yang diaudit telah menaati peraturan perundang-undangan
yang berkaitan dengan pelaksanaan program/kegiatannya.

Mardiasmo menggunakan istilah value for money audit atau 3E’s audit

(economy, efficiency, and effectiveness audit) terhadap audit kinerja untuk sektor

publik, dan banyak penulis dan buku-buku yang berkenaan dengan sektor publik yang

menggunakan istilah value for money audit untuk audit kinerja. Sama seperti yang

dikemukakan Bastian, value for money audit ini juga terdiri atas audit ekonomi dan

efisiensi dan audit program atau audit efektivitas.

Berikut adalah hal yang perlu dipertimbangkan dalam audit ekonomi dan

efisiensi menurut The General Accouting Office Standards yang dikutip oleh

Mardiasmo (2004:181), yaitu apakah entitas yang diaudit telah:

1. Mengikuti ketentuan pelaksanaan pengadaan yang sehat.


2. Melakukan pengadaan sumber daya (jenis, mutu, dan jumlah) sesuai dengan
kebutuhan pada biaya terendah.
3. Melindungi dan memelihara semua sumber daya yang ada secara memadai.
4. Menghindari duplikasi pekerjaan atau kegiatan yang tanpa tujuan atau
kurang jelas tujuannya.
5. Menghindari adanya pengangguran sumber daya atau jumlah pegawai yang
berlebihan.
6. Menggunakan prosedur kerja yang efisien.
7. Menggunakan sumber daya (staf, peralatan dan fasilitas) yang minimum
dalam menghasilkan atau menyerahkan barang/jasa dengan kuantitas dan
kualitas yang tepat.
8. Mematuhi peraturan persyaratan perundang-undangan yang berkaitan
dengan perolehan, pemeliharaan, dan penggunaan sumber daya negara.
9. Melaporkan ukuran yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai
kehematan dan efisiensi.

Tujuan pelaksanaan audit program atau audit efektivitas adalah untuk:

1. Menilai tujuan program, baik yang baru maupun sudah berjalan, apakah
sudah memadai dan tepat.
2. Menentukan tingkat pencapaian hasil suatu program yang diinginkan.
3. Menilai efektivitas program dan atau unsur-unsur program secara
terpisah/sendiri-sendiri.
4. Mengidentifikasi faktor yang menghambat pelaksanaan kinerja yang baik
dan memuaskan.
5. Menentukan apakah manajemen telah mempertimbangkan alternatif untuk
melaksanakan program yang mungkin dapat memberikan hasil yang lebih
baik dengan biaya yang lebih rendah.
6. Menentukan apakah program tersebut saling melengkapi, tumpang tindih,
atau bertentangan dengan program lain yang terkait.
7. Mengidentifikasi cara untuk dapat melaksanakan program tersebut dengan
lebih baik.
8. Menilai ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku
untuk program tersebut.
9. Menilai apakah sistem pengendalian manajemen sudah cukup memadai
untuk mengukur, melaporkan, dan memantau tingkat efektivitas program.
10. Menentukan apakah manajemen telah melaporkan ukuran yang sah dan
dapat dipertanggungjawabkan mengenai efektivitas program.

2.2. Penelitian Sebelumnya

Penelitian sebelumnya yang menjadi acuan oleh peneliti adalah milik Indriani

dengan judul “Manfaat dan Fungsi Komite Audit dalam Mewujudkan Tata

Pengelolaan Perusahaan yang Baik: Persepsi Manajemen Perusahaan Go Public”.

Persamaannya adalah pada latar belakang yang kurang lebih serupa dan metode

penelitian, dimana alasan penelitian tersebut adalah karena melihat bahwa banyak

perusahaan go public di Indonesia yang dikelola dengan buruk, banyak kecurangan

dan korupsi yang disebabkan oleh adanya perbedaan persepsi dan kurangnya

pemahaman terhadap manfaat fungsi komite audit. Penelitian ini juga tidak jauh

berbeda, peneliti ingin mengetahui persepsi manajemen perusahaan terhadap

management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada
fungsi pembelian. Management audit merupakan audit terhadap efisiensi, efektivitas

dan ekonomisasi pengelolaan perusahaan, yang pada akhirnya nanti diharapkan bisa

mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik. Management audit diharapkan bisa

mendeteksi dan mencegah kecurangan pada fungsi pembelian yang merupakan

sarang pemborosan perusahaan apabila tidak dikelola dengan baik. Perbedaannya

adalah pada apa yang dibahas, dimana penelitian sebelumnya pada Komite Audit

sedangkan penelitian ini pada management audit, lebih spesifik lagi yaitu pada fungsi

pembelian.

Penelitian lain yang juga mirip dengan Indriani dan menjadi acuan peneliti

adalah milik Mei Indrayani, dengan judul :”Persepsi Manajemen Perusahaan terhadap

Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance di Indonesia”. Penelitian tersebut

dilakukan Mei Indrayani karena ia merasa bahwa banyak manfaat yang akan

diperoleh jika perusahaan menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance

(GCG). Akan tetapi di Indonesia pada umumnya perusahaan belum mengetahui dan

memahami konsep GCG, sehingga pelaku dunia usaha mempunyai persepsi yang

mungkin berbeda. Sama seperti milik Indriani kesamaan dengan penelitian ini adalah

pada obyek penelitian, yaitu manajemen perusahaan dan sama-sama ingin

mengetahui ada tidaknya perbedaan persepsi manajemen. Perbedaannya adalah pada

topik yang dibahas, Mei Indrayani membahas mengenai good corporate governance

sedangkan penelitian ini membahas topik management audit.


Penelitian lain yang menjadi acuan di peroleh dari majalah Media Akuntansi

dan ditulis oleh Johan Arifin dengan judul “Korupsi dan Upaya Pemberantasannya

Melalui Strategi di Bidang Auditing”. Artikel tersebut mengatakan bahwa hasil jajak

pendapat menunjukkan bahwa instansi/lembaga pemerintahan oleh masyarakat

dianggap paling banyak korupsinya. Untuk itu perlu dilakukan upaya pemberantasan

korupsi, khususnya pada instansi pemerintahan lewat strategi di bidang auditing.

Artikel tersebut membahas sebab-sebab terjadinya korupsi, sebab-sebab kegagalan

penanggulangan korupsi dan strategi di bidang auditing untuk memberantas korupsi,

salah satunya adalah value for money audit yang merupakan management audit.

Diharapkan dengan diterapkannya value for money audit tindakan yang mengarah

atau memicu tindakan korupsi dapat terdeteksi sedini mungkin dan dapat diantisipasi

dengan cepat. Persamaannya dengan penelitian ini adalah keduanya membahas

mengenai strategi dibidang auditing untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan,

meskipun penelitian Johan Arifin lebih spesifik pada sektor pemerintahan. Penelitian

Johan Arifin membahas hampir semua tipe auditing, sedangkan penelitian ini spesifik

pada management audit terutama pada fungsi pembelian dan masalah yang ingin

diketahui adalah pada persepsi manajemen.

2.3. Hipotesis dan Model Analisis

2.3.1. Hipotesis penelitian


Berdasarkan permasalahan, tujuan penelitian dan landasan teori yang telah

dijelaskan, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

1. Terdapat perbedaan persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa

Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari kepemilikan

perusahaan.

2. Terdapat perbedaan persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa

Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari level manajemen.

3. Terdapat perbedaan persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa

Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari bidang studi

pendidikan manajemen.

2.3.2. Model analisis

Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan serta kepentingan

pengujian hipotesis maka dalam menganalisis data digunakan metode statistik non

parametik untuk menguji perbedaan, yaitu Uji U-Mann-Whitney dan Uji Kruskal-

Wallis. Uji U-Mann-Whitney digunakan untuk mengetahui perbedaan persepsi antara

dua kelompok independen, sedangkan uji Kruskal-Wallis digunakan untuk


mengetahui perbedaan persepsi lebih dari dua kelompok responden (Siagian dan

Sugiarto, 2002:318).

Agar instrumen yang dipersiapkan untuk mengumpulkan data benar-benar

mengukur yang ingin diukur, dilakukan uji validitas dan reliabilitas (Umar, 2003). Uji

validitas instrumen penelitian ini menggunakan pendekatan construct validity dan

teknik korelasi produk momen Pearson dengan tingkat signifikansi 5%. Uji

reliabilitas menggunakan uji koefisien korelasi alpha Cronbach.

Model analisis dengan menggunakan uji beda statistik non parametik ini

dipilih karena peneliti tidak mengasumsikan bahwa data yang diperoleh terdisribusi

normal yang merupakan syarat utama dari dari statistik parametik dan karena jenis

data yang digunakan adalah data ordinal, sehingga lebih sesuai apabila menggunakan

statistik non parametik.

Untuk mengukur variabel penelitian maka kepada responden diajukan

beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan persepsi manajemen terhadap

management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada

fungsi pembelian, diukur dengan menggunakan teknik skala Likert dan data yang

digunakan adalah data ordinal.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah kuantitatif

untuk menguji hipotesis yang telah ditentukan.

3.2. Identifikasi Variabel

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel dependen (Y), yaitu persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian.

2. Variabel independen (X), yang terdiri atas:

a. Kepemilikan perusahaan (X1), yaitu:

1) Perusahaan BUMN/BUMD

2) Perusahaan BUMS

b. Level manajemen (X2), yaitu:

1) Top management

2) Middle Management
3) Lower Management

c. Bidang studi pendidikan manajemen (X3), yaitu:

1) Psikologi/Sosiologi

2) Hukum/Kriminologi

3) Ekonomi

4) Lainnya

3.3. Definisi Operasional

Penelitian ini ingin melihat perbedaan persepsi manajemen perusahaan di

Jawa Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian. Faktor yang dianggap berpengaruh

oleh peneliti adalah kepemilikan perusahaan, level manajemen dan latar belakang

bidang studi pendidikan. Berikut penjelasannya:

1. Persepsi manajemen

Persepsi manajemen merupakan variabel tergantung (Y) yang dipengaruhi oleh

banyak faktor. Robbins (2003:160) mengatakan bahwa persepsi akan

dipengaruhi oleh faktor dari pelaku persepsi, objek atau target dan situasi. Ada

atau tidaknya perbedaan persepsi akan dinyatakan dari hasil penilaian kuesioner.

2. Kepemilikan perusahaan

Kepemilikan perusahaan sebagai variabel bebas X1 merupakan faktor yang

apabila dikaitkan dengan teori persepsi termasuk dalam faktor situasi yang akan
mempengaruhi persepsi seseorang. Kepemilikan perusahaan dalam penelitian ini

ditinjau dari apakah perusahaan tersebut termasuk BUMN/BUMD (sektor

publik) atau BUMS (sektor swasta).

3. Level Manajemen

Level manajemen sebagai variabel bebas X2 merupakan faktor yang apabila

dikaitkan dengan teori persepsi termasuk dalam faktor yang berasal dari pelaku

persepsi. Perbedaan level manajemen sedikit banyak akan mempengaruhi motif,

minat, kepentingan dan ekspetasi seseorang terhadap suatu masalah tertentu,

karena lingkup otorisasi dan tuntutan yang dihadapi juga berbeda. Peneliti

meninjau responden dari level manajemen, yaitu apakah responden termasuk

dalam jajaran top management, middle management atau lower management.

4. Bidang studi pendidikan

Bidang studi pendidikan responden sebagai variabel bebas X3 merupakan faktor

yang apabila dikaitkan dengan teori persepsi termasuk faktor yang berasal dari

pelaku persepsi. Bidang studi pendidikan merupakan salah satu karakteristik

pribadi pelaku persepsi. Peneliti meninjau responden dari bidang pendidikan,

yaitu apakah responden berlatar belakang bidang pendidikan Psikologi/Sosiologi,

Hukum/Kriminologi, Ekonomi dan lainnya, diluar bidang pendidikan yang telah

disebutkan. Bidang-bidang tersebut dipilih karena dianggap mempunyai

perspektif yang berbeda dalam melihat kecurangan.


3.4. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dengan skala

Likert.

Dalam penelitian ini jenis data yang diperoleh adalah data subyek. Data

subyek menurut Indriantoro dan Supomo (2002:145) adalah jenis data penelitian yang

berupa opini, sikap, pengalaman atau karakteristik seseorang atau sekelompok orang

yang menjadi subyek penelitian (responden). Data subyek merupakan data penelitian

yang dilaporkan sendiri oleh responden secara individual atau secara kelompok. Data

subyek selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan bentuk tanggapan (respon) yan

diberikan, yaitu lisan (verbal), tertulis dan ekspresi. Data subyek dalam penelitian ini

termasuk dalam klasifikasi respon tertulis. Respon tertulis diberikan sebagai

tanggapan atas pertanyaan tertulis (kuesioner) yang diajukan oleh peneliti.

Sumber data ada dua bagian, yaitu data primer dan data sekunder. Sumber

data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang

diperoleh secara langsung dari sumber asli. Data primer menurut Silalahi (2003:57)

dapat berupa opini dari individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu

benda (fisik), kejadian atau kegiatan dan hasil pengujian. Indriantoro dan Supomo

(2002:147) mengatakan bahwa data primer secara khusus dikumpulkan oleh peneliti

untuk menjawab pertanyaan penelitian.


3.5. Prosedur Pengumpulan Data

Populasi adalah sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang

mempunyai karakteristik tertentu. Populasi dalam penelitian ini adalah manajemen

perusahaan BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur. Teknik pengambilan sampel

yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pemilihan sampel bertujuan

(purposive sampling). Teknik ini termasuk dalam metode pemilihan sampel

nonprobabilitas atau secara tidak acak dimana elemen-elemen populasi tidak

mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel (Indriantoro dan

Supomo, 2002). Pada penelitian ini pemilihan sampel dilakukan berdasarkan

pertimbangan (judgement sampling). Elemen populasi yang dipilih sebagai sampel

dibatasi pada elemen-elemen yang dapat memberikan informasi berdasarkan

pertimbangan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui persepsi manajemen,

untuk itu subyek yang dianggap tepat dipilih sebagai sampel adalah para manajer,

yaitu top management, middle management dan lower management.

Penelitan yang dilakukan ini menggunakan metode survei dengan

menggunakan kuesioner untuk pengumpulan data. Singarimbun dan Effendi (1995:3)

mengatakan bahwa pengertian survei pada umumnya dibatasi pada penelitian yang

datanya dikumpulkan dari sampel atas populasi untuk mewakili seluruh populasi.

Dengan demikian penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari
satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang

pokok.

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data dengan membuat daftar

pertanyaan yang akan dijawab oleh responden yang sudah ditentukan. Metode

pengumpulan data yang menggunakan kuesioner memberikan tangung jawab kepada

responden untuk membaca dan menjawab pertanyaan (Indriantoro dan Supomo,

2002:154).

Kuesioner pada penelitian ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berisi

sejumlah pertanyaan yang bersifat umum tentang identitas responden dan identitas

perusahaan responden, dan bagian kedua berisi sejumlah pertanyaan yang berisi

sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan fungsi pembelian, kecurangan dan

management audit. Kuesioner bisa dilakukan secara personal atau lewat pos. Pada

penelitian ini kuesioner dilakukan secara personal, yaitu dengan cara langsung

mendatangi responden atau menitipkan kuesioner pada orang tertentu.

3.6. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis

3.6.1. Uji instrumen

Keabsahan suatu hasil penelitian sosial sangat ditentukan oleh alat pengukur

yang digunakan untuk mengukur variabel yang akan diteliti, untuk itu alat pengukur

perlu diuji dengan menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas.


3.6.1.1. Uji validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat pengukur yang disusun

telah memiliki validitas atau tidak. Validitas data pengukuran ditentukan oleh proses

pengukuran yang akurat. Suatu instrumen pengukur dikatakan valid jika instrumen

tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Pendekatan yang digunakan untuk

mengukur validitas dalam penelitian ini adalah construct validity.

Construct validity merupakan konsep pengukuran validitas dengan cara

menguji apakah suatu instrumen mengukur konstuk sesuai dengan yang diharapkan.

Konstruk merupakan kerangka dari suatu konsep. Apabila terdapat korelasi antara

komponen-komponen konstruk yang satu dengan yang lainnya, maka konstruk

tersebut memiliki validitas. Teknik korelasi yang digunakan adalah korelasi produk

momen Pearson dengan tingkat signifikansi 5%. Koefisien korelasi dilambangkan

dengan r. Koefisien korelasi merupakan suatu ukuran yang menggambarkan kekuatan

hubungan linear antara dua gugus variabel.

Berikut adalah formulasi koefisien korelasi produk momen Pearson:

N ∑ xy − ( ∑ x )( ∑ y )
rxy =
[N ∑ x ][ N ∑ y
……………………………(1)
2
− (∑ x)
2 2
− ( ∑ y )]
2

dimana :

x = butir item
y = skor total keseluruhan butir item
n = jumlah sampel
rxy = korelasi produk momen

3.6.1.2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui keandalan instrumen yang

digunakan. Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana alat pengukur

dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Reliabilitas menunjukkan konsistensi suatu

alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah reliabilitas konsistensi

internal dengan teknik Cronbach’s Alpha atau “koefisien alpha (á)” dari Cronbach.

Teknik ini digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 0-1,

tetapi merupakan rentangan antara beberapa nilai, misalnya 0-10 atau 0-100 atau

bentuk skala 1-3, 1-5, atau 1-7 dan seterusnya. Konsep reliabilitas menurut

pendekatan ini adalah konsistensi diantara butir-butir pertanyaan atau pernyataan

dalam suatu instrumen.

Berikut adalah formulasi uji reabilitas dengan Cronbach’s Alpha:

 k   ∑σ b 
2

r11 =  1 −  …………………………………………………….(2)
 k − 1  σ t2 

dimana:

r11 = reliabilitas instrumen


k = banyak butir pertanyaan
σt2 = varian total
Σσb2 = jumlah varian butir
3.6.2. Teknik analisis data

Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan secara induktif,

yaitu pembahasan penelitian yang dimulai dari pengumpulan data terlebih dahulu

kemudian melakukan pembahasan atas permasalahan yang telah dirumuskan.

Berikut adalah tahap-tahap persiapan data yang dilakukan untuk memudahkan

proses analisis data dan interpretasi hasilnya, yaitu:

1. Pengeditan (Editing)

Pengeditan merupakan proses pengecekan dan penyesuaian yang diperlukan

terhadap data penelitian untuk memudahkan proses pemberian kode dan

pemrosesan data dengan metode statistik. Data penelitian yang diperoleh lewat

metode survei perlu diedit dari kemungkinan kekeliruan dalam proses pencatatan

yang dilakukan oleh pengumpul data, pengisian kuisioner yang tidak lengkap

atau tidak konsisten. Tujuan pengeditan adalah untuk menjamin kelengkapan,

konsitensi dan kesiapan data penelitian dalam proses analisis.

2. Pemberian Kode (Coding)

Pemberian kode merupakan proses identifikasi dan klasifikasi data penelitan ke

dalam skor numerik atau karakter simbol. Proses pemberian kode akan

memudahkan dan meningkatkan efisiensi proses entri data ke dalam komputer.


3. Pemrosesan Data (Data Processing)

Pemrosesan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknologi komputer,

dengan menggunakan program aplikasi SPSS (Stastitical Package for the Social

Sciences).

Penelitian ini dilakukan untuk menguji ada tidaknya perbedaan persepsi

manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.

Responden diklasifikasikan berdasarkan jenis usaha, yaitu apakah termasuk kategori

BUMN/BUMD atau BUMS; berdasarkan level manajemen, yaitu apakah termasuk

top management, middle management atau lower management dan berdasarkan latar

belakang pendidikan, yaitu apakah berlatar belakang bidang pendidikan

Psikologi/Sosiologi, Hukum/Kriminologi, Ekonomi, atau lainnya.

Uji statistik U-Mann-Whitney digunakan untuk melihat apakah terdapat

perbedaan persepsi manajemen ditinjau dari kepemilikan perusahaan. Uji statistik

Kruskal-Wallis digunakan untuk melihat apakah terdapat perbedaan persepsi

manajemen ditinjau dari level manajemen dan latar belakang pendidikan.

3.6.3. Uji Hipotesis

Hipotesis 1:
Hipotesis pertama menggunakan uji hipotesis U-Mann-Whitney untuk

membandingkan persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur

terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi

kecurangan pada fungsi pembelian di tinjau dari kepemilikan perusahaan, yaitu

apakah BUMN/BUMD atau BUMS.

1. Menentukan Ho

Ho: Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management

audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada

fungsi pembelian ditinjau dari kepemilikan perusahaan. (μ1 = μ2)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada

fungsi pembelian ditinjau dari kepemilikan perusahaan. (μ1 ≠ μ2 )

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji statistik

a. Hitung peringkat gabungan kedua populasi.

b. Hitung R1 dan R2, yaitu peringkat tiap populasi.

c. Hitung Ua dan Ub dengan rumus

n1( n1 + 1)
Ua = n1n 2 + − R1 ………………………………………………
2

(3)
n 2( n 2 + 1)
Ub = n1n 2 + − R 2 …………………………………………….
2

(4)

U = selisih Ua dan Ub, dimana:

R1 = jumlah peringkat kelompok 1


R2 = jumlah peringkat kelompok 2
n1 = sampel kelompok 1
n2 = sampel kelompok 2

4. Aturan pengambilan kesimpulan: tolak Ho bila U < tabel U

5. Menarik kesimpulan

Hipotesis 2:

Hipotesis kedua menggunakan uji hipotesis Kruskal Wallis untuk melihat perbedaan

persepsi manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah

dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari level manajemen,

yaitu top management, middle management dan lower management.

1. Menentukan Ho

Ho: Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management

audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada

fungsi pembelian ditinjau dari level manajemen. (μ1 = μ2 = μ3)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada

fungsi pembelian ditinjau dari level manajemen. (μ1 ≠ μ2 ≠ μ3)


2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

a. Beri peringkat gabungan

b. Hitung nilai H dengan rumus:

12  Ri 2 
H = ∑  − 3( n +1) …………………………………………(5)
n( n +1)  ni 

dimana,

Ri = jumlah peringkat setiap kelompok


ni = besarnya sampel setiap kelompok
n = jumlah sampel semua kelompok

c. Hitung nilai kritis H berdasar tabel Chi-Square (X2), dimana:

α = 0,05
df = K-1 (K adalah jumlah kelompok yang diteliti)
df = 3-1=2
Jadi, nilai kritis H berdasar tabel (X(0,05,2)) adalah 5,991

4. Aturan pengambilan keputusan: tolak Ho bila H > X(0,05,2)

5. Menarik kesimpulan

Hipotesis 3:

Hipotesis ketiga menggunakan uji hipotesis Kruskal Wallis untuk melihat perbedaan

persepsi manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah

dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari bidang studi

pendidikan, yaitu Psikologi/Sosiologi, Hukum/Kriminologi, Ekonomi, dan bidang

studi pendidikan lainnya.


1. Menentukan Ho

Ho: Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management

audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan

pada fungsi pembelian ditinjau dari bidang studi pendidikan.

(μ1 = μ2 = μ3 =μ4)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada

fungsi pembelian ditinjau dari bidang studi pendidikan manajemen.

(μ1 ≠ μ2 ≠ μ3 ≠ μ4)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

a. Beri peringkat gabungan

b. Hitung nilai H dengan rumus:

12  Ri 2 
H = ∑  − 3( n +1) …………………………………………(6)
n( n +1)  ni 

dimana,

Ri = jumlah peringkat setiap kelompok


ni = besarnya sampel setiap kelompok
n = jumlah sampel semua kelompok

c. Hitung nilai kritis H berdasar tabel Chi-Square (X2), dimana:

α = 0,05

df = K-1 (K adalah jumlah kelompok yang diteliti)

df = 4-1=3
Jadi, nilai kritis H berdasar tabel (X(0,05,3)) adalah 7,815

4. Aturan pengambilan keputusan: tolak Ho bila H > X(0,05,3)

5. Menarik kesimpulan

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Subyek dan Obyek Penelitian

4.1.1. Gambaran umum responden

Penelitian ini merupakan penelitian untuk mengetahui persepsi manajemen

Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah dan Badan Usaha Milik

Swasta di Jawa Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah

dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian. Responden dalam penelitian ini

adalah manajemen perusahaan BUMN/BUMD dan BUMS yang menempati posisi

sebagai top management, middle management dan lower management.

Data yang diperoleh dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan Jawa

Timur menyebutkan bahwa berdasarkan data tahun 2005 di Provinsi Jawa Timur

terdapat 53 BUMN (tidak termasuk kantor-kantor cabang). Sedangkan jumlah

BUMD di Jawa Timur berdasarkan statistik keuangan BUMD yang dikeluarkan oleh

Badan Pusat Statistik Jakarta sebanyak 86 unit usaha. Secara keseluruhan jumlah
industri besar dan sedang menurut Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi

Jawa Timur sebanyak 14.400 unit usaha.

Responden dalam penelitian ini berjumlah 84 responden yang berasal dari 35

Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Usaha milik Swasta di Kota Surabaya,

Kabupaten Gresik dan Kabupaten Sidoarjo. Ketiga kota tersebut dipilih sebagai

sampel karena mempunyai karakteristik yang bisa mewakili karakteristik dari Badan

Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Usaha Milik Swasta di Jawa Timur pada

umumnya. Cukup banyaknya wilayah khusus industri pada Kota Surabaya,

Kabupaten Gresik dan Kabupaten Sidoarjo juga merupakan pertimbangan peneliti

dalam memilih kota untuk dijadikan sampel dilihat dari segi efisiensi biaya dan

waktu. Lokasi-lokasi yang terpusat memudahkan peneliti dalam mencapai responden,

karena dengan metode langsung minimal peneliti harus mendatangi responden

sebanyak dua kali.

BUMN/BUMD dan BUMS yang menjadi sampel penelitian bergerak di

bidang usaha yang bermacam-macam, baik manufaktur, dagang maupun jasa. Berikut

adalah uraian jenis-jenis usaha yang dilakukan BUMN/BUMD dan BUMS sampel

penelitian:

1. Industri gelas 5. Industri spring bed

2. Distributor farmasi 6. Kontraktor furniture

3. Industri Pestisida 7. Konstruksi bangunan, sipil dan

4. Ekspor impor farmasi baja


8. Jasa surveyor 18. Industri semen

9. Asuransi kesehatan 19. Industri logam

10. Asuransi tenaga kerja 20. Industri elektronik

11. Percetakan 21. Industri kemasan

12. Industri cold storage 22. Distributor alat berat

13. Industri karpet 23. Industri karpet mobil

14. Industri botol plastik 24. Industri textil

15. Industri dry cell 25. Industri perhiasan emas

16. Industri resin sintetik 26. Industri telekomunikasi

17. Industri kereta api

Pengumpulan data responden dalam penelitian ini dilakukan dengan dua cara

yaitu metode langsung dan melalui perantara. Metode langsung dipilih dengan alasan

untuk efektifitas waktu dan agar peneliti dapat melakukan pendekatan secara

langsung dengan pihak responden dan memberikan penjelasan seperlunya. Pada

metode langsung peneliti mendatangi responden di perusahaan yang terpilih sebagai

sampel. Sebagian besar data responden dalam penelitian ini dikumpulkan lewat

metode langsung.

Metode perantara merupakan metode pengumpulan data melalui orang

tertentu yang pada umumnya memiliki hubungan dengan responden, misalnya

karyawan/staff, kerabat atau keluarga dari responden. Respon yang diperoleh lewat

metode perantara ini lebih baik dari pada metode langsung, baik dari segi waktu
maupun tingkat pengembalian kuesioner. Hal tersebut dikarenakan lewat metode

perantara peneliti memotong rantai birokrasi yang cukup panjang seperti halnya pada

metode langsung. Akan tetapi untuk mengumpulkan data lewat metode perantara

peneliti harus mempunyai relasi yang cukup banyak, yang dapat membantu dalam

pendistribusian kuesioner kepada responden.

4.1.2. Karakteristik responden

Komposisi dan klasifikasi atau karakteristik responden yang menjadi sampel

penelitian menurut data pribadi dapat diketahui pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1
Deskripsi Responden Menurut Data Pribadi

Deskripsi Responden
Klasifikasi Responden Jumlah (responden) Persentase (%)
Jenis Kelamin
• Perempuan 29 34,52
• Laki-laki 55 65,48
Total 84 100
Departemen/Divisi/Bagian
• SPI/Internal Audit 8 9,52
• Akuntansi/Keuangan 26 30,95
• Pembelian/Pengadaan 7 8,33
• Penjualan 5 5,95
• Personalia dan Umum 21 25,00
9 10,71
• Produksi/Engineering
8 9,52
• Lain-lain
Total 84 100
Level Manajemen
• Top Management 24 28,57
• Middle Management 31 36,90
• Lower Management 29 34,52
Total 84 100
Lama Jabatan
• < 5 tahun 53 63,10
• 5 – 10 tahun 24 28,57
• > 10 tahun 7 8,33
Total 84 100
Strata Pendidikan
• SLTA 6 7,14
• Sarjana Muda/Diploma 9 10,71
• S1 61 72,62
• S2 8 9,52
Total 84 100
Bidang Studi Pendidikan
• Psikologi/Sosiologi 5 5,95
• Hukum/Kriminologi 8 9,52
• Ekonomi 45 53,57
• Lain-lain 26 30,95
Total 84 100
Sumber : Data primer diolah

Kuesioner yang dikembalikan oleh responden sebanyak 87 eksemplar, akan

tetapi setelah melalui proses pengeditan maka hanya 84 eksemplar yang dinyatakan

layak untuk dianalisa lebih lanjut.

Dari Tabel 4.1 dapat diketahui komposisi dan klasifikasi atau karakteristik

responden menurut jenis kelamin, departemen, level manajemen, lama jabatan, strata

pendidikan dan bidang studi pendidikan responden. Terlihat dari tabel bahwa

sebagian besar responden adalah laki-laki (65,48%).

Dilihat dari departemen/divisi/bagian, sebagian besar responden berasal dari

departemen Akuntansi/Keuangan (30,95%). Hal ini dikarenakan pada saat

mendistribusikan kuesioner ke perusahaan peneliti biasanya akan langsung diarahkan

kepada departemen yang menangani bidang yang dianggap relevan dengan bidang

penelitian, meskipun peneliti tidak mengharuskan kuesioner untuk diisi oleh

departemen tertentu.

Dari level manajemen, terbaca dari tabel bahwa sebagian besar responden

berada pada level middle management (36,90%). Sebagian besar perusahaan

kesulitan untuk meminta kesediaan top management untuk menjadi responden,


terutama dikarenakan kesibukan yang tinggi dan beban tanggung jawab yang besar.

Top management biasanya akan mendelegasikan pengisian kuesioner ke manajemen

yang lebih rendah setelah sebelumnya memberikan disposisi persetujuan.

Sebagian besar responden dalam penelitian ini menempati posisi jabatannya

kurang dari 5 tahun (63,10%). Planned progression atau pemindahan karyawan

dalam saluran-saluran yang ditentukan melalui tingkatan-tingkatan organisasi yang

berbeda, penugasan sementara, rotasi jabatan dan promosi merupakan beberapa

metoda yang biasa digunakan untuk pengembangan karier didalam perusahaan.

Metoda pengembangan karier tersebut dikenal dengan istilah metoda on the job,

dengan demikian maka posisi manajemen tertentu seringkali diisi untuk jangka waktu

yang tidak terlalu panjang karena manajemen akan dipindahkan untuk melalui

jabatan-jabatan yang bermacam-macam dan berbeda-beda.

Strata pendidikan responden dalam penelitian ini sebagian besar adalah S1

(72,62%). Sangat tingginya responden dengan tingkat pendidikan S1 dikarenakan

rata-rata perusahaan saat ini mensyaratkan jenjang pendidikan minimal S1 dalam

merekrut karyawannya, terutama apabila mereka akan ditempatkan dalam posisi

manajemen. Promosi jabatan dalam perusahaan juga seringkali mensyaratkan jenjang

pendidikan tertentu.

Dilihat dari segi bidang studi pendidikan, sebagian besar responden berlatar

belakang bidang studi pendidikan ekonomi (53,57%). Penyebabnya adalah responden

yang mengisi kuesioner penelitian sebagian besar berasal dari departemen yang
menangani bidang yang relevan dengan penelitian yang diambil, yaitu departemen

Akuntansi/Keuangan, SPI/Internal Audit dan Pembelian/Pengadaan. Responden-

responden dari departemen-departemen tersebut sebagian besar berlatar belakang

bidang studi pendidikan ekonomi yaitu akuntansi, manajemen dan administrasi niaga.

Deskripsi responden penelitian menurut data perusahaan tempat responden

bekerja dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2
Deskripsi Responden Menurut Data Perusahaan

Data Responden
Klasifikasi Perusahaan Jumlah (orang) Persentase (%)
Kepemilikan Usaha
• BUMN/BUMD 36 42,86
• BUMS 48 57,14
Total 84 100
Bidang Usaha
• Manufaktur 47 55,95
• Jasa 32 38,10
• Dagang 5 5,95
Total 84 100
Sumber: Data primer diolah

Dari Tabel 4.2 terlihat bahwa sebagian besar responden berasal dari Badan

Usaha Milik Swasta (57,14%). Lebih banyaknya BUMS yang menjadi responden

dibandingkan BUMN/BUMD dikarenakan lokasi BUMS yang lebih terpusat

sehingga lebih mudah dicapai oleh peneliti. Lokasi BUMN/BUMD cenderung

terpencar di lokasi-lokasi yang berjauhan sehingga lebih sulit untuk dicapai.

Bidang usaha yang dilakukan perusahaan pada sebagian besar responden

adalah manufaktur (55,95%). Banyaknya responden dari perusahaan manufaktur


dikarenakan cukup besarnya jumlah perusahaan manufaktur di Jawa Timur. Dilihat

dari keadaan industri menurut kelompok industrinya, terdapat 2957 unit usaha untuk

kelompok industri logam, mesin, elektronika dan aneka dan 11443 unit usaha untuk

kelompok industri kimia, agro, dan hasil hutan di Jawa Timur menurut data

Departemen Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur pada tahun 2003.

Responden dalam penelitian ini sejumlah 84 orang yang berasal dari 35

BUMN/BUMD dan BUMS. Dari 35 perusahaan tersebut, 13 perusahaan merupakan

BUMN/BUMD dan 22 perusahaan merupakan BUMS. Dilihat dari audit yang pernah

dilakukan, sebanyak 76,9% BUMN/BUMD pernah melakukan management audit

dan hanya 40,91% BUMS yang pernah melakukan management audit. Perinciannya

bisa dilihat pada tabel 4.3 berikut ini.

Tabel 4.3
Data Audit yang Dilakukan BUMN/BUMD dan BUMS Sampel

Audit yang pernah dilaksanakan


Tidak
Kepemilikan Jumlah Keuangan Manajemen Lainnya
Pernah
Usaha (persh.)
Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah
% % % %
(persh.) (persh.) (persh.) (persh.)
13 12 92,3 10 76,9 6 46,2 1 7,70
BUMN/BUMD
0 0 0
BUMS 22 19 86,3 9 40,9 8 36,3 1 4,80
6 1 6
Total 35 31 19 14 2
Sumber : Data primer diolah

4.2. Deskripsi Hasil Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat 3 (tiga) variabel independen yang diteliti, yaitu

kepemilikan perusahaan, level manajemen dan bidang studi pendidikan manajemen.


Peneliti akan menguji apakah terdapat perbedaan persepsi manajemen

BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur tehadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian diinjau

dari variabel-variabel tersebut. Secara keseluruhan terdapat 51 item pertanyaan yang

dikelompokkan dalam empat determinan, yaitu pemahaman tentang konsep

managament audit, pemahaman tentang kecurangan, pemahaman mengenai fungsi

pembelian, dan pemahaman mengenai management audit dan kecurangan pada fungsi

pembelian. Data skor jawaban yang diperoleh dari masing-masing pertanyaan untuk

tiap variabel dapat dideskripsikan pada setiap uraian berikut ini.

4.2.1. Data jawaban responden ditinjau dari kepemilikan perusahaan

Ditinjau dari kepemilikan perusahaan, dalam penelitian ini responden

diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yaitu Badan Usaha Milik Negara/Daerah

dan Badan Usaha Milik Swasta.

4.2.1.1. Responden Badan Usaha Milik Negara/Daerah

Distribusi jawaban responden Badan Usaha Milik Negara/Daerah terhadap

keempat determinan pertanyaan kuesioner dideskripsikan pada Tabel 4.4 berikut ini.

Tabel 4.4
Distribusi Jawaban Responden BUMN/BUMD

No Determinan SS S TT TS STS Total


1 Pemahaman tentang konsep management
191 287 39 45 14 576
audit
2 Pemahaman tentang kecurangan 138 236 49 32 13 468
3 Pemahaman mengenai fungsi pembelian 115 221 38 20 2 396
4 Management audit dan kecurangan pada
131 213 31 20 1 396
fungsi pembelian
Total 575 957 157 117 30 1836
Sumber: Data primer diolah

Dari Tabel 4.4 terlihat bahwa secara keseluruhan responden BUMN/BUMD

mempunyai persepsi yang positif terhadap management audit sebagai strategi untuk

mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian. Dari 1836 total jumlah

jawaban terhadap 51 item pernyataan yang dijawab oleh 36 responden, sebagian

besar responden menyatakan setuju (52,12%) dan sangat setuju (31,32%). Dengan

demikian 83,44% pernyataan memperoleh respon positif dari responden.

4.2.1.2. Responden Badan Usaha Milik Swasta

Distribusi jawaban responden Badan Usaha Milik Swasta terhadap keempat

determinan pertanyaan kuesioner dideskripsikan pada Tabel 4.5 berikut ini.

Tabel 4.5
Distribusi Jawaban Responden BUMS

No Determinan SS S TT TS STS Total


1 Pemahaman tentang konsep
169 447 70 78 4 768
management audit
2 Pemahaman tentang kecurangan 124 392 58 46 4 624
3 Pemahaman mengenai fungsi pembelian 123 308 46 23 0 528
4 Management audit dan kecurangan pada
69 407 50 30 0 528
fungsi pembelian
Total 485 1544 214 177 8 2448
Sumber: Data primer diolah

Dari Tabel 4.5 terlihat bahwa secara keseluruhan responden BUMS

mempunyai persepsi yang positif terhadap management audit sebagai strategi untuk
mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian. Dari 2448 total jumlah

jawaban terhadap 51 item pernyataan yang dijawab oleh 48 responden, sebagian

besar responden menyatakan setuju (63,07%) dan sangat setuju (19,81%). Dengan

demikian 82,88% pernyataan memperoleh respon positif dari responden.

4.2.2. Data jawaban responden ditinjau dari level manajemen

Ditinjau dari level manajemen, responden dalam penelitian ini

diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu responden dengan level manajemen

top management, middle management dan lower management.

4.2.2.1. Responden level top management

Distribusi jawaban responden level top management terhadap keempat

determinan pertanyaan kuesioner dideskripsikan pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6
Distribusi Jawaban Responden Level Top Management

No Determinan SS S TT TS STS Total


1 Pemahaman tentang konsep
89 228 26 36 5 384
management audit
2 Pemahaman tentang kecurangan 59 195 34 19 5 312
3 Pemahaman mengenai fungsi pembelian 43 185 24 11 1 264
4 Management audit dan kecurangan pada
28 203 20 13 0 264
fungsi pembelian
Total 219 811 104 79 11 1224
Sumber: Data primer diolah

Dari Tabel 4.6 terlihat bahwa secara keseluruhan responden level top

management mempunyai persepsi yang positif terhadap management audit sebagai


strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian. Dari

1224 total jumlah jawaban terhadap 51 item pernyataan yang dijawab oleh 24

responden, sebagian besar responden menyatakan setuju (66,26%) dan sangat setuju

(17,89%). Dengan demikian 84,15% pernyataan memperoleh respon positif dari

responden.

4.2.2.2. Responden level middle management

Distribusi jawaban responden level middle management terhadap keempat

determinan pertanyaan kuesioner dideskripsikan pada Tabel 4.7 berikut ini.

Tabel 4.7
Distribusi Jawaban Responden Level Middle Management

No Determinan SS S TT TS STS Total


1 Pemahaman tentang konsep
137 276 36 44 3 496
management audit
2 Pemahaman tentang kecurangan 88 237 41 34 3 403
3 Pemahaman mengenai fungsi pembelian 98 198 25 20 0 341
4 Management audit dan kecurangan pada
71 226 27 16 1 341
fungsi pembelian
Total 394 937 129 114 7 1581
Sumber: Data primer diolah

Dari Tabel 4.7 terlihat bahwa secara keseluruhan responden level middle

management mempunyai persepsi yang positif terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian. Dari

1581 total jumlah jawaban terhadap 51 item pernyataan yang dijawab oleh 31

responden, sebagian besar responden menyatakan setuju (59,27%) dan sangat setuju
(24,92%). Dengan demikian 84,19% pernyataan memperoleh respon positif dari

responden.

4.2.2.3. Responden level lower management

Distribusi jawaban responden level lower management terhadap keempat

determinan pertanyaan kuesioner dideskripsikan pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8
Distribusi Jawaban Responden Level Lower Management

No Determinan SS S TT TS STS Total


1 Pemahaman tentang konsep
134 230 47 43 10 464
management audi.t
2 Pemahaman tentang kecurangan 115 196 32 25 9 377
3 Pemahaman mengenai fungsi pembelian 97 170 37 14 1 319
4 Management audit dan kecurangan pada
101 167 32 19 0 319
fungsi pembelian
Total 447 763 148 101 20 1479
Sumber: Data primer diolah

Dari Tabel 4.8 terlihat bahwa secara keseluruhan responden level lower

management mempunyai persepsi yang positif terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian. Dari

1479 total jumlah jawaban terhadap 51 item pernyataan yang dijawab oleh 29

responden, sebagian besar responden menyatakan setuju (51,59%) dan sangat setuju

(30,22%). Dengan demikian 81,81% pernyataan memperoleh respon positif dari

responden.

4.2.3. Data jawaban responden ditinjau dari bidang studi pendidikan


Ditinjau dari bidang studi pendidikan, responden dalam penelitian ini

diklasifikasikan ke dalam empat kelompok, yaitu responden dengan bidang studi

pendidikan Psikologi/Sosiologi, Hukum/Kriminologi, Ekonomi dan bidang studi

lainnya, diluar ketiga kelompok tersebut.

4.2.3.1. Responden dengan bidang studi pendidikan Psikologi/Sosiologi

Distribusi jawaban responden dengan latar belakang bidang studi pendidikan

Psikologi/Sosiologi terhadap keempat determinan pertanyaan kuesioner

dideskripsikan pada Tabel 4.9 berikut ini.

Tabel 4.9
Distribusi Jawaban Responden dengan Bidang Studi Pendidikan
Psikologi/Sosiologi

No Determinan SS S TT TS STS Total


1 Pemahaman tentang konsep
23 46 3 7 1 80
management audit
2 Pemahaman tentang kecurangan 18 35 5 6 1 65
3 Pemahaman mengenai fungsi pembelian 14 36 4 1 0 55
4 Management audit dan kecurangan pada
15 35 3 2 0 55
fungsi pembelian
Total 70 152 15 16 2 255
Sumber: Data primer diolah

Dari Tabel 4.9 terlihat bahwa responden dengan bidang studi pendidikan

Psikologi/Sosiologi mempunyai persepsi yang positif terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.

Dari 255 total jumlah jawaban terhadap 51 item pernyataan yang dijawab oleh 5

responden, sebagian besar responden menyatakan setuju (59,61%) dan sangat setuju
(27,45%). Dengan demikian 87,06% pernyataan memperoleh respon positif dari

responden.

4.2.3.2. Responden dengan bidang studi pendidikan Hukum/Kriminologi

Distribusi jawaban responden dengan latar belakang bidang studi pendidikan

Hukum/Kriminologi terhadap keempat determinan pertanyaan kuesioner

dideskripsikan pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10
Distribusi Jawaban Responden dengan Bidang Studi Pendidikan
Hukum/Kriminologi

No Determinan SS S TT TS STS Total


1 Pemahaman tentang konsep
40 61 10 14 3 128
management audit
2 Pemahaman tentang kecurangan 31 50 15 8 0 104
3 Pemahaman mengenai fungsi pembelian 22 54 7 5 0 88
4 Management audit dan kecurangan pada
18 49 13 8 0 88
fungsi pembelian
Total 111 214 45 35 3 408
Sumber: Data primer diolah

Dari Tabel 4.10 terlihat bahwa responden dengan bidang studi pendidikan

Hukum/Kriminologi mempunyai persepsi yang positif terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.

Dari 408 total jumlah jawaban terhadap 51 item pernyataan yang dijawab oleh 8

responden, sebagian besar responden menyatakan setuju (52,45%) dan sangat setuju

(27,21%). Dengan demikian 79,66% pernyataan memperoleh respon positif dari

responden dengan bidang studi pendidikan Hukum/Kriminologi.


4.2.3.3. Responden dengan bidang studi pendidikan Ekonomi

Distribusi jawaban responden dengan latar belakang bidang studi pendidikan

Hukum/Kriminologi terhadap keempat determinan pertanyaan kuesioner

dideskripsikan pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11
Distribusi Jawaban Responden dengan Bidang Studi Pendidikan Ekonomi

No Determinan SS S TT TS STS Total


1 Pemahaman tentang konsep
206 394 56 53 11 720
management audit
2 Pemahaman tentang kecurangan 150 333 56 34 12 585
3 Pemahaman mengenai fungsi pembelian 136 293 44 20 2 495
4 Management audit dan kecurangan pada
120 320 39 16 0 495
fungsi pembelian
Total 612 1340 195 123 25 2295
Sumber: Data primer diolah

Dari Tabel 4.11 terlihat bahwa secara keseluruhan responden dengan bidang

studi pendidikan Ekonomi mempunyai persepsi yang positif terhadap management

audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian. Dari 2295 total jumlah jawaban terhadap 51 item pernyataan yang

dijawab oleh 45 responden, sebagian besar responden menyatakan setuju (58,39%)

dan sangat setuju (26,67%). Dengan demikian 85,06% pernyataan memperoleh

respon positif dari responden.


4.2.3.4. Responden dengan bidang studi pendidikan lainnya

Distribusi jawaban responden dengan latar belakang bidang studi pendidikan

lainnya yaitu bidang studi pendidikan selain Psikologi/Sosiologi, Hukum/Kriminologi

dan Ekonomi terhadap keempat determinan pertanyaan kuesioner dideskripsikan pada

Tabel 4.12.

Tabel 4.12
Distribusi Jawaban Responden dengan Bidang Studi Pendidikan Selain
Psikologi/Sosiologi, Hukum/Kriminologi dan Ekonomi

No Determinan SS S TT TS STS Total


1 Pemahaman tentang konsep
91 233 40 49 3 416
management audit
2 Pemahaman tentang kecurangan 63 210 31 30 4 338
3 Pemahaman mengenai fungsi pembelian 66 170 31 19 0 286
4 Management audit dan kecurangan pada
47 192 24 22 1 286
fungsi pembelian
Total 267 805 126 120 8 1326
Sumber: Data primer diolah

Dari Tabel 4.12 terlihat bahwa secara keseluruhan responden dengan bidang

studi pendidikan lainnya diluar ketiga kelompok yang sudah disebutkan seperti

Teknik, Manajemen Informatika, Sastra, Teknologi Pertanian dan Administrasi

Negara mempunyai persepsi yang positif terhadap management audit sebagai strategi

untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian. Dari 1326 total

jumlah jawaban terhadap 51 item pernyataan yang dijawab oleh 26 responden,

sebagian besar responden menyatakan setuju (60,71%) dan sangat setuju (20,14%).

Dengan demikian 80,85% pernyataan memperoleh respon positif dari responden.

4.3. Analisa Data dan Pengujian Hipotesis


4.3.1. Uji Instrumen

Sebelum dilakukan analisa terhadap data jawaban responden, dalam penelitian

ini dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas terhadap instrumen yang digunakan

untuk mengukur variabel yang akan diteliti agar hasil penelitian yang diperoleh

benar-benar sesuai dengan tujuan penelitian.

4.3.1.1. Uji validitas

Uji Validitas digunakan untuk mengukur tingkat kevalidan item-item

pernyataan dalam kuesioner. Suatu item pernyataan dianggap valid apabila

pernyataan tersebut mampu mengukur apa yang hendaknya diukur dan mampu

mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan dalam penelitian. Apabila terdapat

korelasi antara komponen-komponen konstruk yang satu dengan yang lainnya, maka

konstruk tersebut memiliki validitas.

Secara sederhana, hasil uji validitas disajkan dalam Tabel 4.13 berikut ini:

Tabel 4.13
Hasil Uji Validitas (Korelasi produk momen Pearson)

r-kritis
Item Koefisien
No Determinan (taraf Ket.
Pertanyaan Korelasi
sig.5%)
1 Pemahaman tentang
1 – 16 0.305-0.557 0.2172 Valid
kosep management audit
2 Pemahaman tentang 17 – 26,
0.231-0.581 0.2172 Valid
kecurangan 28-29
3 Pemahaman mengenai
30 - 40 0.289-0.598 0.2172 Valid
fungsi pembelian
4 Management audit dan
kecurangan pada fungsi 41 - 51 0.322-0.683 0.2172 Valid
pembelian
Sumber : Data primer diolah

Teknik korelasi yang digunakan adalah korelasi produk momen Pearson

dengan tingkat signifikansi 5%. Secara statistik, angka korelasi yang diperoleh harus

dibandingkan dengan angka kritik Tabel korelasi nilai –r yang bisa dilihat pada

Lampiran 1. Angka korelasi diperoleh lewat pengolahan data dengan menggunakan

program SPSS versi 12, hasil lengkapnya bisa dilihat pada lampiran.

Dengan taraf signifikansi sebesar 5% dan jumlah responden sebanyak 84

orang, diperoleh angka kritis r-tabel adalah 0,2172 pada Df = 82. Dari tabel diatas

dapat dilihat bahwa secara keseluruhan dari 51 item pernyataan sebanyak 50 item

dinyatakan valid. Dengan demikian 50 item pernyataan tersebut memiliki construct

validity, karena terdapat konsistensi internal dalam pernyataan-pernyataan tersebut.

Konsistensi internal menunjukkan bahwa item-item pernyataan tersebut mengukur

aspek yang sama.

Item pernyataan no. 27 pada determinan pemahaman tentang kecurangan

selanjutnya tidak ikut diuji karena dinyatakan tidak valid setelah melalui uji validitas,

kaarena angka korelasi yang diperoleh dibawah angka kritis r-tabel, yaitu 0,153. Isi

item pernyataan no. 27 adalah manajemen atau karyawan mungkin didorong atau

berada dibawah tekanan yang memotivasi mereka untuk melakukan kecurangan.

Kemungkinan pernyataan tersebut masih kurang baik susunan kata-kata atau

kalimatnya atau bermakna ambigu sehingga menimbulkan penafsiran yang berbeda.


Selanjutnya, 50 item pernyataan yang dinyatakan valid harus diuji

reliabilitasnya untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dan dapat dipercaya.

4.3.1.2. Uji reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui keandalan instrumen yang

digunakan. Uji reliabilitas dilakukan hanya untuk pernyataan yang dinyatakan valid

saja. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah instrumen pengukur memiliki

konsistensi bila digunakan mengukur gejala yang sama.

Uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik

Cronbach’s Alpha. Pengolahan data untuk uji reliabilitas ini menggunakan program

SPSS versi 12. Teknik Cronbach’s Alpha merupakan pengukuran reliabilitas dengan

menggunakan pendekatan reliabilitas konsistensi internal. Peneliti memilih untuk

menggunakan pendekatan reliabilitas konsistensi internal karena dengan pendekatan

ini peneliti hanya perlu melakukan sekali pengujian terhadap skor jawaban responden

yang dihasilkan dari penggunaan instrumen pengukur. Konsep reliabilitas menurut

pendekatan ini adalah konsistensi diantara butir-butir pernyataan dalam suatu

instrumen. Suatu instrumen akan semakin reliabel apabila koefisien alphanya

semakin mendekati nilai 1. Setelah dilakukan uji reliabilitas, ke 50 item pernyataan

yang duji tersebut dinyatakan reliabel dengan koefisien alpha 0,928 karena nilainya

diatas nilai batas untuk reliabilitas yang dapat diterima. Meskipun bukan merupakan
standar mutlak, nilai batas yang umumnya digunakan untuk reliabilitas yang bisa

diterima adalah 0,70. Hasil pengujian secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 2.

4.3.2. Analisis Data

Setelah data dinyatakan valid dan reliabel maka data dapat dianalisa untuk

menjawab permasalahan penelitian. Proses selanjutnya adalah analisa data untuk

menjawab pertanyaan penelitian, yaitu apakah terdapat perbedaan persepsi

manajemen BUMN/BUMD di Jawa Timur terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.

Dalam penelitian ini ada tiga variabel independen yang dianggap peneliti

berpengaruh terhadap persepsi manajemen yang dihasilkan, yaitu kepemilikan

perusahaan, bidang studi pendidikan dan level manajemen. Metode pengujian yamg

digunakan dalam penelitian ini adalah uji statistik non parametik U-Mann Whitney

dan Kruskal Wallis. Uji U-Mann Whitney digunakan untuk menganalisa perbedaan

antara dua kelompok, sedangkan uji Kruskal Wallis digunakan untuk menguji

perbedaan lebih dari dua kelompok responden. Pengolahan data untuk menguji

perbedaan menggunakan program SPSS versi 12.

Pada setiap hipotesis, dilakukan analisa terhadap masing-masing determinan

pernyataan dalam kuesioner dan secara agregat terhadap keseluruhan item pernyataan

dalam kuesioner. Dengan demikian, terdapat lima sub hipotesis pada tiap-tiap
hipotesis, yaitu terhadap determinan pemahaman tentang konsep management audit,

determinan pemahaman tentang kecurangan, determinan pemahaman mengenai

fungsi pembelian, determinan management audit dan kecurangan pada fungsi

pembelian dan terhadap item-item pernyataan secara keseluruhan.

4.3.3. Uji Hipotesis

Hipotesis 1: Terdapat perbedaan persepsi manajemen BUMN/BUMD dan

BUMS di Jawa Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk

mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari

kepemilikan perusahaan

Ditinjau dari kepemilikan perusahaan, peneliti mengklasifikasikan responden

kedalam dua kelompok yaitu responden BUMN/BUMD dan responden BUMS.

Untuk melihat ada tidaknya perbedaan persepsi manajemen dilihat dari kepemilikan

perusahaan digunakan uji hipotesis U-Mann-Whitney. Uji ini digunakan untuk

mengetahui apakah terdapat perbedaan ukuran pemusatan antara dua kelompok.

Deskripsi secara ringkas hasil pengujian untuk tiap determinan disajikan dalam

Tabel 4.14, sedangkan hasil pengujian secara agregat disajikan dalam Tabel 4.15.

Tabel 4.14
Hasil Uji U-Mann Whitney Persepsi Manajemen Ditinjau dari Kepemilikan
Perusahaan Pada Tiap Determinan
Mean Rank Uji Statistik
Determinan Mann Sig. (2
BUMN/D BUMS Z_Score
Whitney tailed)
Pemahaman tentang
konsep management 46.49 39.51 720.500 -1.301 0.193
audit
Pemahaman tentang
43.75 41.56 819.000 -0.408 0.683
kecurangan
Pemahaman mengenai
40.47 44.02 791.000 -0.663 0.508
fungsi pembelian
Management audit dan
kecurangan pada fungsi 47.75 38.56 675.000 -1.718 0.086
pembelian
Sumber : Data primer diolah

Tabel 4.15
Hasil Uji U-Mann Whitney Persepsi Manajemen Ditinjau dari Kepemilikan
Perusahaan Secara Agregat

Mean Rank Uji Statistik


Mann Sig. (2
BUMN/D BUMS Z_Score
Whitney tailed)

45.28 40.42 764.000 -0.904 0.366

Sumber : Data primer diolah

A. Terhadap determinan pemahaman tentang konsep management audit

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari kepemilikan perusahaan. (μ1=μ2)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari kepemilikan perusahaan. (μ1≠μ2)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji U-Mann Whitney

sebesar 720,500 dan hasil uji Z sebesar -1,302. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel

4.14. Karena n1 = 36 dan n2 = 48, dengan demikian kedua sampel masing-


masing lebih besar dari 10, maka kita bisa menggunakan hasil uji Z (Clave,

2001).

4. Aturan pengambilan keputusan:

• tolak Ho bila U < tabel U atau

• tolak Ho jika |Z hitung| > Zα/2

5. Dengan menggunakan tingkat signifikansi pengujian 0,05, maka nilai tabel Zα/2 =

Z0,05/2 = Z0,025 = 1,96. Tabel Z bisa dilihat pada Lampiran 3.

Kesimpulan: karena |Z hitung | = 1,302 < Z0,025 = 1,96, maka belum cukup bukti

untuk menolak Ho, jadi Ho diterima.

Dengan demikian dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari kepemilikan perusahaan

terhadap determinan pemahaman tentang konsep management audit.

B. Terhadap determinan pemahaman tentang kecurangan

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari kepemilikan perusahaan. (μ1=μ2)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari kepemilikan perusahaan. (μ1≠μ2)


2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji U-Mann Whitney

sebesar 819,000 dan hasil uji Z sebesar -0,408. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel

4.14.

4. Aturan pengambilan keputusan:

• tolak Ho bila U < tabel U atau

• tolak Ho jika |Z hitung| > Zα/2

5. Dengan menggunakan tingkat signifikansi pengujian 0,05, maka nilai tabel Zα/2 =

Z0,05/2 = Z0,025 = 1,96. Tabel Z bisa dilihat pada Lampiran 3.

Kesimpulan: karena |Z hitung| = 0,408 < Z0,025 = 1,96, maka belum cukup bukti

untuk menolak Ho, jadi Ho diterima.

Dengan demikian dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari kepemilikan perusahaan

terhadap determinan pemahaman tentang kecurangan.

C. Terhadap determinan pemahaman mengenai fungsi pembelian

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari kepemilikan perusahaan. (μ1=μ2)


Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari kepemilikan perusahaan. (μ1≠μ2)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji U-Mann Whitney

sebesar 791,000 dan hasil uji Z sebesar -0,663. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel

4.14.

4. Aturan pengambilan keputusan:

• tolak Ho bila U < tabel U atau

• tolak Ho jika |Z hitung| > Zα/2

5. Dengan menggunakan tingkat signifikansi pengujian 0,05, maka nilai tabel Zα/2 =

Z0,05/2 = Z0,025 = 1,96. Tabel Z bisa dilihat pada Lampiran 3.

Kesimpulan: karena |Z hitung| = 0,663 < Z0,025 = 1,96, maka belum cukup bukti

untuk menolak Ho, jadi Ho diterima.

Dengan demikian dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari kepemilikan perusahaan

terhadap determinan pemahaman mengenai fungsi pembelian.


D. Terhadap determinan management audit dan kecurangan pada fungsi

pembelian

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari kepemilikan perusahaan. (μ1=μ2)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari kepemilikan perusahaan. (μ1≠μ2)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji U-Mann Whitney

sebesar 675,000 dan hasil uji Z sebesar -1,718. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel

4.14.

4. Aturan pengambilan keputusan:

• tolak Ho bila U < tabel U atau

• tolak Ho jika |Z hitung| > Zα/2

5. Dengan menggunakan tingkat signifikansi pengujian 0,05, maka nilai tabel Zα/2 =

Z0,05/2 = Z0,025 = 1,96. Tabel Z bisa dilihat pada Lampiran 3.

Kesimpulan: karena |Z hitung| = 1,718 < Z0,025 = 1,96, maka belum cukup bukti

untuk menolak Ho, jadi Ho diterima.


Dengan demikian, dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari kepemilikan perusahaan

terhadap determinan pemahaman tentang konsep management audit.

E. Secara agregat terhadap keseluruhan item pertanyaan kuesioner

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari kepemilikan perusahaan. (μ1=μ2)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari kepemilikan perusahaan. (μ1≠μ2)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji U-Mann Whitney

sebesar 764,00 dan hasil uji Z sebesar -0,904. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel

4.15.

4. Aturan pengambilan keputusan:

• tolak Ho bila U < tabel U atau

• tolak Ho jika |Z hitung| > Zα/2


5. Dengan menggunakan tingkat signifikansi pengujian 0,05, maka nilai tabel Zα/2 =

Z0,05/2 = Z0,025 = 1,96. Tabel Z bisa dilihat pada Lampiran 3.

Kesimpulan: karena |Z hitung| = 0,904 < Z0,025 = 1,96, maka belum cukup bukti

untuk menolak Ho, jadi Ho diterima.

Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari kepemilikan perusahaan

secara agregat terhadap keseluruhan item pernyataan kuesioner. Keseluruhan item

pernyataan dalam kuesioner digunakan untuk mengukur persepsi manajemen

BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian, maka

ditinjau dari kepemilikan perusahaan tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen

BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.

Hipotesis 2: Terdapat perbedaan persepsi manajemen BUMN/BUMD dan

BUMS di Jawa Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk

mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari level

manajemen

Ditinjau dari level manajemen dalam penelitian ini responden diklasifikasikan

kedalam tiga kelompok, yaitu responden dengan level manajemen top management,
middle management dan lower management. Alat uji yang digunakan untuk

mengetahui perbedaan persepsi dari masing-masing kelompok adalah uji Kruskal

Wallis. Deskripsi secara ringkas hasil pengujian terhadap tiap-tiap determinan

disajikan dalam Tabel 4.16 dan secara agregat pada Tabel 4.17.

Tabel 4.16
Hasil Uji Kruskal Wallis Persepsi Manajemen Ditinjau dari Level Manajemen
Pada Tiap Determinan
Mean Rank Kruskal Wallis
Determinan Chi-
Top Middle Lower Sig.
Square
Pemahaman tentang konsep
41.60 45.40 40.14 0.748 0.688
management audit
Pemahaman tentang kecurangan 37.98 42.29 46.47 1.601 0.449
Pemahaman mengenai fungsi
38.21 44.34 44.09 1.051 0.591
pembelian
Management audit dan kecurangan
37.10 43.85 45.52 1.733 0.420
pada fungsi pembelian
Sumber : Data primer diolah

Tabel 4.17
Hasil Uji Kruskal Wallis Persepsi Manajemen Ditinjau dari Level Manajemen
Secara Agregat
Mean Rank Kruskal Wallis
Top Middle Lower Chi-Square Sig.

37.94 44.34 44.31 1.177 0.555

Sumber : Data primer diolah

A. Terhadap determinan pemahaman tentang konsep management audit

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari level manajemen. (μ1=μ2=μ3)


Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari level manajemen. (μ1≠μ2≠μ3)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

a. Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji Kruskal Wallis

nilai H sebesar 0,748. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel 4.16.

b. Nilai kritis H berdasar tabel Chi-Square (χ2), dimana:

α = 0,05

df = K-1 (K adalah jumlah kelompok yang diteliti) = 3-1 = 2

Jadi, nilai kritis H berdasar tabel (χ2 (0,05,2)) adalah 5,991. Tabel bisa dilihat

pada Lampiran 4.

4. Aturan pengambilan keputusan: tolak Ho bila H > χ2(0,05,2)

5. Kesimpulan: karena H = 0,748 < χ2(0,05,2)= 5,991 maka belum cukup bukti untuk

menolak Ho, jadi Ho diterima.

Dengan demikian dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari level manajemen

terhadap determinan pemahaman tentang konsep management audit.


B. Terhadap determinan pemahaman tentang kecurangan

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari level manajemen. (μ1=μ2=μ3)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari level manajemen. (μ1≠μ2≠μ3)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

a. Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji Kruskal Wallis

nilai H sebesar 1,601. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel 4.16.

b. Nilai kritis H berdasar tabel Chi-Square (χ2), dimana:

α = 0,05

df = K-1 (K adalah jumlah kelompok yang diteliti) = 3-1 = 2

Jadi, nilai kritis H berdasar tabel (χ2 (0,05,2)) adalah 5,991. Tabel bisa dilihat

pada Lampiran 4.

4. Aturan pengambilan keputusan: tolak Ho bila H > χ2(0,05,2)

5. Kesimpulan: karena H = 1,601 < χ2(0,05,2)= 5,991 maka belum cukup bukti untuk

menolak Ho, jadi Ho diterima.

Dengan demikian dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan


mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari level manajemen

terhadap determinan pemahaman tentang kecurangan.

C. Terhadap determinan pemahaman akan fungsi pembelian

1. Ho:Tidak ada perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari level manajemen. (μ1=μ2=μ3)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari level manajemen. (μ1≠μ2≠μ3)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

a. Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji Kruskal Wallis

nilai H sebesar 1,051. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel 4.16.

b. Nilai kritis H berdasar tabel Chi-Square (χ2), dimana:

α = 0,05

df = K-1 (K adalah jumlah kelompok yang diteliti) = 3-1 = 2

Jadi, nilai kritis H berdasar tabel (χ2 (0,05,2)) adalah 5,991. Tabel bisa dilihat

pada Lampiran 4.

4. Aturan pengambilan keputusan: tolak Ho bila H > χ2(0,05,2)


5. Kesimpulan: karena H = 1,051 < χ2(0,05,2)= 5,991 maka belum cukup bukti untuk

menolak Ho, jadi Ho diterima.

Dengan demikian dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari level manajemen

terhadap determinan pemahaman mengenai fungsi pembelian.

D. Terhadap determinan management audit dan kecurangan pada fungsi

pembelian

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari level manajemen. (μ1=μ2=μ3)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari level manajemen. (μ1≠μ2≠μ3)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

a. Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji Kruskal Wallis

nilai H sebesar 1,733. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel 4.16.

b. Nilai kritis H berdasar tabel Chi-Square (χ2), dimana:

α = 0,05
df = K-1 (K adalah jumlah kelompok yang diteliti) = 3-1 = 2

Jadi, nilai kritis H berdasar tabel (χ2 (0,05,2)) adalah 5,991. Tabel bisa dilihat

pada Lampiran 4.

4. Aturan pengambilan keputusan: tolak Ho bila H > χ2(0,05,2)

5. Kesimpulan: karena H = 1,733 < χ2(0,05,2)= 5,991 maka belum cukup bukti untuk

menolak Ho, jadi Ho diterima.

Dengan demikian dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari level manajemen

terhadap determinan management audit dan kecurangan pada fungsi pembelian.

E. Secara agregat terhadap seluruh item-item pernyataan kuesioner

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari level manajemen. (μ1=μ2=μ3)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari level manajemen. (μ1≠μ2≠μ3)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik
a. Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji Kruskal Wallis

nilai H sebesar 1,177. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel 4.17.

b. Nilai kritis H berdasar tabel Chi-Square (χ2), dimana:

α = 0,05

df = K-1 (K adalah jumlah kelompok yang diteliti) = 3-1 = 2

Jadi, nilai kritis H berdasar tabel (χ2 (0,05,2)) adalah 5,991. Tabel bisa dilihat

pada Lampiran 4.

4. Aturan pengambilan keputusan: tolak Ho bila H > χ2(0,05,2)

5. Kesimpulan: karena H = 1,177 < χ2(0,05,2)= 5,991 maka belum cukup bukti untuk

menolak Ho, jadi Ho diterima.

Dengan demikian dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari level manajemen secara

agregat terhadap keseluruhan item pernyataan kuesioner. Karena keseluruhan item

pernyataan dalam kuesioner digunakan untuk mengukur persepsi manajemen

BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian, maka

kesimpulannya ditinjau dari level manajemen tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.
Hipotesis 3: Terdapat perbedaan persepsi manajemen BUMN/BUMD dan

BUMS di Jawa Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk

mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari

bidang studi pendidikan

Ditinjau dari bidang studi pendidikan dalam penelitian ini responden

diklasifikasikan kedalam empat kelompok, yaitu responden dengan latar belakang

bidang studi pendidikan Psikologi/Sosiologi, Hukum/Kriminologi, Ekonomi dan

bidang studi pendidikan lainnya. Alat uji yang digunakan untuk mengetahui

perbedaan persepsi dari masing-masing kelompok adalah uji Kruskal Wallis.

Deskripsi secara ringkas hasil pengujian untuk tiap-tiap determinan disajikan dalam

Tabel 4.18 sedangkan hasil pengujian untuk item-item pertanyaan secara agregat

disajikan dalam Tabel 4.19.

Tabel 4.18
Hasil Uji Kruskal Wallis Persepsi Manajemen Ditinjau dari Latar Belakang
Bidang Studi Pendidikan Pada Tiap Determinan
Mean Rank Kruskal Wallis
Determinan Psikologi/ Hukum/ Lain- Chi-
Ekonomi Sig.
Sosiologi Kriminologi lain Square
Pemahaman tentang
konsep management 45.40 41.38 45.18 37.65 1.667 0.644
audit
Pemahaman tentang
39.10 45.44 44.72 38.40 1.326 0.723
kecurangan
Pemahaman mengenai
46.40 39.75 46.20 36.19 3.029 0.387
fungsi pembelian
Management audit dan
kecurangan pada 43.80 31.63 47.51 36.92 4.918 0.178
fungsi pembelian
Sumber : Data primer diolah
Tabel 4.19
Hasil Uji Kruskal Wallis Persepsi Manajemen Ditinjau dari Latar Belakang
Bidang Studi Pendidikan Secara Agregat
Mean Rank Kruskal Wallis
Psikologi/ Hukum/
Ekonomi Lain-lain Chi-Square Sig.
Sosiologi Kriminologi
40.30 39.44 46.71 36.58 3.045 0.385
Sumber : Data primer diolah

A. Terhadap determinan pemahaman tentang konsep management audit

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari level manajemen. (μ1=μ2=μ3=μ4)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari level manajemen. (μ1≠μ2≠μ3≠μ4)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

a. Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji Kruskal Wallis

nilai H sebesar 1,667. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel 4.18.

b. Nilai kritis H berdasar tabel Chi-Square (χ2), dimana:

α = 0,05

df = K-1 (K adalah jumlah kelompok yang diteliti) = 4-1 = 3

Jadi, nilai kritis H berdasar tabel (χ2 (0,05,3)) adalah 7,815. Tabel bisa dilihat

pada Lampiran 4.

4. Aturan pengambilan keputusan: tolak Ho bila H > χ2(0,05,3)


5. Kesimpulan: karena H = 1,667 < χ2(0,05,)= 7,815 maka belum cukup bukti untuk

menolak Ho, jadi Ho diterima.

Dengan demikian dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari bidang studi pendidikan

responden terhadap determinan pemahaman tentang konsep management audit.

B. Terhadap determinan pemahaman tentang kecurangan

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari level manajemen. (μ1=μ2=μ3= μ4)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari level manajemen. (μ1≠μ2≠μ3≠μ4)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

a. Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji Kruskal Wallis

nilai H sebesar 1,326. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel 4.18.

b. Nilai kritis H berdasar tabel Chi-Square (χ2), dimana:

α = 0,05

df = K-1 (K adalah jumlah kelompok yang diteliti) = 4-1 = 3


Jadi, nilai kritis H berdasar tabel (χ2 (0,05,2)) adalah 7,815. Tabel bisa dilihat

pada Lampiran 4.

4. Aturan pengambilan keputusan: tolak Ho bila H > χ2(0,05,3)

5. Kesimpulan: karena H = 1,326 < χ2(0,05,3)= 7,815 maka belum cukup bukti untuk

menolak Ho, jadi Ho diterima.

Dengan demikian dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari bidang studi terhadap

determinan pemahaman tentang kecurangan.

C. Terhadap determinan pemahaman akan fungsi pembelian

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari level manajemen. (μ1=μ2=μ3=μ4)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari level manajemen. (μ1≠μ2≠μ3≠μ4)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

a. Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji Kruskal Wallis

nilai H sebesar 3,029. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel 4.18.
b. Nilai kritis H berdasar tabel Chi-Square (χ2), dimana:

α = 0,05

df = K-1 (K adalah jumlah kelompok yang diteliti) = 4-1 = 3

Jadi, nilai kritis H berdasar tabel (χ2 (0,05,3)) adalah 7,815. Tabel bisa dilihat

pada Lampiran 4.

4. Aturan pengambilan keputusan: tolak Ho bila H > χ2(0,05,3)

5. Kesimpulan: karena H = 3,029 < χ2(0,05,3)= 7,815 maka belum cukup bukti untuk

menolak Ho, jadi Ho diterima.

Dengan demikian dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari bidang studi pendidikan

responden terhadap determinan pemahaman mengenai fungsi pembelian.

D. Terhadap determinan management audit dan kecurangan pada fungsi

pembelian

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari level manajemen. (μ1=μ2=μ3=μ4)

Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari level manajemen. (μ1≠μ2≠μ3≠μ4)


2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

a. Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji Kruskal Wallis

nilai H sebesar 4,918. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel 4.18.

b. Nilai kritis H berdasar tabel Chi-Square (χ2), dimana:

α = 0,05

df = K-1 (K adalah jumlah kelompok yang diteliti) = 4-1 = 3

Jadi, nilai kritis H berdasar tabel (χ2 (0,05,3)) adalah 7,815. Tabel bisa dilihat

pada Lampiran 4.

4. Aturan pengambilan keputusan: tolak Ho bila H > χ2(0,05,3)

5. Kesimpulan: karena H = 4,918 < χ2(0,05,3)= 7,815 maka belum cukup bukti untuk

menolak Ho, jadi Ho diterima.

Dengan demikian dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari bidang studi pendidikan

terhadap determinan management audit dan kecurangan pada fungsi pembelian.

E. Secara agregat terhadap seluruh item-item pernyataan kuesioner

1. Ho:Tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian ditinjau dari level manajemen. (μ1=μ2=μ3=μ4)


Ha: Terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

ditinjau dari level manajemen. (μ1≠μ2≠μ3≠μ4)

2. Taraf nyata/signifikansi: α = 0,05

3. Uji Statistik

a. Dengan menggunakan program SPSS 12 diperoleh hasil uji Kruskal Wallis

nilai H sebesar 3,045. Hasil ini bisa dilihat pada Tabel 4.19.

b. Nilai kritis H berdasar tabel Chi-Square (χ2), dimana:

α = 0,05

df = K-1 (K adalah jumlah kelompok yang diteliti) = 4-1 = 3

Jadi, nilai kritis H berdasar tabel (χ2 (0,05,3)) adalah 7,815. Tabel bisa dilihat

pada lampiran.

4. Aturan pengambilan keputusan: tolak Ho bila H > χ2(0,05,3)

5. Kesimpulan: karena H = 3,045 < χ2(0,05,3)= 7,815 maka belum cukup bukti untuk

menolak Ho, jadi Ho diterima.

Dengan demikian dari hasil uji hipotesis tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan

mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian ditinjau dari bidang studi pendidikan

secara agregat terhadap keseluruhan item pernyataan kuesioner. Karena keseluruhan

item pernyataan dalam kuesioner digunakan untuk mengukur persepsi manajemen

BUMN/BUMD di Jawa Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk


mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian, maka kesimpulannya

ditinjau dari bidang studi pendidikan tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen

terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi

kecurangan pada fungsi pembelian.

4.4. Pembahasan

4.4.1. Persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap

management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan

pada fungsi pembelian ditinjau dari kepemilikan perusahaan

Berdasarkan uji hipotesis dengan menggunakan uji U-Mann Whitney

diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen yang

signifikan ditinjau dari kepemilikan perusahaan, baik untuk tiap-tiap determinan

pernyataan maupun secara agregat untuk keseluruhan item-item pernyataan

kuesioner. Dengan demikian BUMN/BUMD dan BUMS memiliki persepsi yang

cenderung homogen.

Dilihat dari rata-rata peringkat (mean rank) pada Tabel 4.14, terlihat bahwa

responden BUMN/BUMD memiliki rata-rata peringkat yang lebih tinggi terhadap

determinan pemahaman tentang konsep management audit yaitu 46,49 dibandingkan

dengan BUMS yaitu 39,51. Begitu pula terhadap determinan management audit dan

kecurangan pada fungsi pembelian yaitu 47,75 untuk BUMN/BUMD dan 38,56 untuk

BUMS. Pada determinan pemahaman akan kecurangan BUMN/BUMD memiliki


rata-rata peringkat yang lebih tinggi dibandingkan BUMS meskipun perbedaannya

relatif kecil, yaitu 43,75 untuk BUMN/BUMD dan 41,56 untuk BUMS. Sedangkan

untuk determinan pemahaman mengenai fungsi pembelian, rata-rata peringkat

BUMS lebih tinggi, yaitu 44,02 dibandingkan BUMN/BUMD yaitu 40,47.

Dilihat secara agregat, yaitu terhadap keseluruhan item pernyataan kuesioner,

tampak bahwa BUMN/BUMD memiliki rata-rata peringkat yang lebih tinggi

dibandingkan BUMS yaitu 45,28 untuk BUMN/BUMD dan 40,42 untuk BUMS.

Dengan demikian, diterimanya Ho pada uji hipotesis bukan berarti sama

sekali tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

dilihat dari kepemilikan perusahaan. Tabel 4.14 dan Tabel 4.15 memperlihatkan

bahwa BUMN/BUMD memiliki persepsi yang lebih positif dibandingkan BUMS.

Akan tetapi, perbedaan tersebut tidak signifikan setelah diuji secara statistik dengan

menggunakan uji U-Mann Whitney.

Persepsi manajemen BUMN/BUMD yang lebih positif terhadap management

audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian kemungkinan disebabkan karena BUMN/BUMD lebih mengenal

management audit dibandingkan BUMS. Tampak pada Tabel 4.3 bahwa 76,90% dari

jumlah BUMN/BUMD yang menjadi sampel pernah melaksanakan management

audit diperusahaannya dan hanya 40,91% BUMS yang menjadi sampel pernah

melaksanakan management audit.


Terhadap BUMN/BUMD pemerintah memang menetapkan bentuk dan

sasaran lain dari general audit, yaitu berupa pemeriksaan operasional/management

audit, pelaporan evaluasi kinerja, pemeriksaan pinjaman luar negeri dan pemeriksaan

kasus-kasus khusus. Tuntutan tersebut merupakan salah satu penyebab

BUMN/BUMD lebih mengenal management audit dibandingkan BUMS. Seperti

yang dikemukakan oleh Sjamsuddin (1995) bahwa sebagai pengendalian dan

pengawasan pada era globalisasi BUMN/BUMD perlu meningkatkan pelaksanaan

management audit, misalnya terhadap kegiatan atau segmen yang tidak mencapai

sasaran atau secara potensial telah menyebabkan kerugian atau masih dapat

ditingkatkan efisiensi dan efektifitasnya. Kesemuanya itu dimaksudkan untuk

memenuhi kepentingan masyarakat luas.

Management audit bukan merupakan tuntutan bagi BUMS, sehingga sebagian

besar responden BUMS lebih mengenal audit keuangan dibandingkan management

audit. Sehingga meskipun responden memberikan respon pemahaman yang positif,

akan tetapi secara rata-rata masih kurang dibandingkan BUMN/BUMD meskipun

perbedaan tersebut tidak signifikan. Hal ini berbeda dengan audit keuangan yang rata-

rata dilakukan oleh sebagian besar BUMN/BUMD (92,30%) dan BUMS (86,36%).

Audit keuangan banyak dilakukan karena memang merupakan ketentuan bank dalam

hal pemberian kredit, ketentuan tender, penawaran, pendaftaran rekanan, persyaratan

bagi perusahaan yang akan melakukan merger, pengambilalihan, penjualan atau

pembubaran perusahaan, merupakan ketentuan perusahaan/organisasi yang diatur


dalam anggaran dasar, serta diperlukan dalam rencana kerja sama, pemberian lisensi,

paten dan sebagainya.

Persepsi manajemen BUMN/BUMD yang lebih positif dibandingkan dengan

BUMS sesuai dengan teori persepsi Robbins (2003:160) yang mengatakan bahwa

pengalaman masa lalu pelaku persepsi merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi persepsi. Karena rata-rata BUMN/BUMD mempunyai pengalaman

pernah melaksanakan management audit, maka manajemen BUMN/BUMD

mempunyai persepsi yang lebih positif dibandingkan manajemen BUMS.

Akan tetapi Daft (2003) mengatakan bahwa karakteristik dari stimuli itu

sendiri juga akan mempengaruhi proses perceptual selectivity. Orang biasanya akan

fokus pada stimuli yang memenuhi kebutuhan mereka dan konsisten dengan sikap,

nilai dan personaliti mereka. Dengan demikian, persepsi manajemen BUMN/BUMD

dan BUMS yang cenderung homogen dan positif terhadap management audit dimana

perbedaan yang ada tidak signifikan disebabkan karena karakteristik dari

management audit itu sendiri yang mungkin sesuai dengan kebutuhan dan konsisten

dengan nilai dan personaliti manajemen responden. Meskipun belum pernah

melaksanakan atau bahkan belum pernah mendengar tentang management audit, akan

tetapi dari proposal penelitian dan kuesioner yang diajukan serta dari tanya jawab

singkat yang dilakukan dengan peneliti responden bisa memperoleh gambaran umum

mengenai management audit. Dari gambaran umum tersebut responden memberikan

respon yang positif terhadap management audit untuk mencegah dan mendeteksi
kecurangan pada fungsi pembelian. Rata-rata responden berpendapat bahwa fungsi

pembelian memang merupakan fungsi yang krusial dan rawan terhadap

penyelewengan, bahkan beberapa calon responden menolak untuk mengisi kuesioner

karena penelitian berkaitan dengan bidang yang dianggap rawan untuk

diinformasikan kepada pihak luar.

Dengan demikian, secara ringkas disimpulkan bahwa persepsi manajemen

BUMN/BUMD dan BUMS tidak berbeda dilihat dari kepemilikan perusahaan

terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi

kecurangan pada fungsi pembelian. Baik manajemen BUMN/BUMD maupun BUMS

mempunyai persepsi yang positif dan cenderung homogen. Lebih banyaknya jumlah

BUMN/BUMD yang melaksanakan management audit dibandingkan BUMS lebih

karena tuntutan lingkungan, yaitu masyarakat dan pemerintah karena BUMN/BUMD

merupakan perusahaan sektor publik. Lingkungan menuntut perusahaan sektor publik

untuk memperhatikan pengelolaan yang mendasarkan pada konsep ekonomisasi,

efisiensi dan efektifitas.

4.4.2 Persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap

management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan

pada fungsi pembelian ditinjau dari level manajemen

Berdasarkan uji hipotesis dengan menggunakan uji Kruskal Wallis diperoleh

kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen yang signifikan


ditinjau dari level manajemen, baik untuk tiap-tiap determinan pernyataan maupun

secara agregat untuk keseluruhan item-item pernyataan kuesioner. Dengan demikian

dilihat dari level manajemen, baik top management, middle management maupun

lower management memiliki persepsi yang cenderung homogen.

Dilihat dari rata-rata peringkat (mean rank) pada Tabel 4.16, terlihat bahwa

responden middle management memiliki rata-rata peringkat yang lebih tinggi

terhadap determinan pemahaman tentang konsep management audit yaitu 45,40

dibandingkan dengan top management (41,60) dan lower management (40,14).

Begitu pula terhadap determinan pemahaman mengenai fungsi pembelian, middle

management memiliki rata-rata peringkat yang lebih tinggi yaitu 44,34 dibandingkan

top management (38,21) dan lower management (44,09). Pada determinan

pemahaman akan kecurangan lower management memiliki rata-rata peringkat yang

lebih tinggi yaitu 46,47 dibandingkan top management (37,98) dan middle

management (42,29). Begitu pula untuk determinan management audit dan

kecurangan pada fungsi pembelian, rata-rata peringkat lower management juga lebih

tinggi, yaitu 45,52 dibandingkan top management (37,10) dan middle management

(43,85).

Dilihat secara agregat, yaitu terhadap keseluruhan item pernyataan kuesioner,

tampak bahwa middle management memiliki rata-rata peringkat yang lebih tinggi

yaitu 44,34 meskipun perbedaannya sangat tipis dengan lower management (44,31).

Secara agregat, top management memiliki rata-rata peringkat paling kecil yaitu 37,94.
Dengan demikian, diterimanya Ho pada uji hipotesis bukan berarti sama

sekali tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

dilihat dari level manajemen. Tabel 4.16 dan Tabel 4.17 memperlihatkan bahwa

meskipun sangat kecil, terdapat perbedaan persepsi dilihat dari rata-rata peringkat

yang dihasilkan. Akan tetapi, perbedaan tersebut tidak signifikan setelah diuji secara

statistik dengan menggunakan uji Kruskal Wallis.

Robbins mengatakan bahwa sikap, motif, kepentingan dari pelaku persepsi

merupakan karakteristik pribadi yang mempengaruhi persepsi. Perbedaan level

manajemen tentunya mengakibatkan perbedaan sikap, motif dan kepentingan karena

manajer bertanggung jawab terhadap departemen yang berbeda, bekerja pada level

hierarki yang berbeda, dan permintaan yang berbeda dalam mencapai kinerja yang

tinggi. Hal tersebut mengakibatkan perbedaan persepsi manajemen ditinjau dari level

management meskipun perbedaannya kecil.

Karena perbedaan rata-rata peringkatnya sangat kecil, yaitu 44,34 untuk middle

management dan 44,31 untuk lower management maka bisa dikatakan bahwa middle

management dan lower management memiliki persepsi yang relatif sama dan lebih

positif dibandingkan dengan top management (37,94).

Dari teori kita mengetahui bahwa salah satu tujuan management audit

menurut Agoes (1996:173) adalah untuk dapat memberikan rekomendasi kepada top
management dalam memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam

penerapan struktur pengendalian intern, sistem pengendalian manajemen, dan

prosedur operasional perusahaan, dalam rangka meningkatkan efisiensi dan

efektifitas dari kegiatan operasi perusahaan. Efektifitas manajemen merupakan hal

yang penting khususnya bagi mereka yang memegang tanggung jawab utama.

Dengan demikian, seharusnya level top management diharapkan mempunyai persepsi

yang lebih positif dibandingkan middle management dan lower management.

Pada kenyataannya dari hasil penelitian, meskipun perbedaannya tidak

signifikan, middle management dan lower management justru mempunyai persepsi

yang lebih positif. Lingkup management audit pada penelitian ini dibatasi pada fungsi

pembelian. Dilihat dari rentang manajemen middle management dan lower

management lebih dekat dengan permasalahan yang sifatnya lebih spesifik,

sedangkan top management lebih pada organisasi secara keseluruhan. Dengan

demikian middle management dan lower management akan lebih memahami

permasalahan dan mengetahui strategi yang tepat untuk mengatasinya dalam hal ini

kecurangan pada fungsi pembelian, sehingga mereka memiliki persepsi yang lebih

positif bahwa management audit memang bisa digunakan untuk mencegah dan

mendeteksi masalah kecurangan pada fungsi pembelian.

Meskipun dilihat dari rata-rata peringkat terdapat perbedaan, akan tetapi dari

uji statistik Kruskal Wallis tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen yang

signifikan ditinjau dari level manajemen. Dalam suatu perusahaan, memang


seringkali terdapat berbagai kebutuhan yang saling bertentangan dari kelompok-

kelompok yang berbeda. Akan tetapi, manajer perlu melakukan penyeimbangan

terhadap berbagai kebutuhan yang saling bertentangan agar sejalan dengan visi dan

misi serta sasaran yang ingin dicapai perusahaan. Dengan demikian, apapun level

manajemennya, manajer-manajer tersebut mempunyai sasaran utama yang sama. Hal

tersebut kemungkinan menyebabkan tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen

yang signifikan ditinjau dari level manajemen.

4.4.3. Persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap

management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan

pada fungsi pembelian ditinjau dari bidang studi pendidikan.

Berdasarkan uji hipotesis dengan menggunakan uji Kruskal Wallis diperoleh

kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen yang signifikan

ditinjau dari latar belakang bidang studi pendidikan, baik untuk tiap-tiap determinan

pernyataan maupun secara agregat untuk keseluruhan item-item pernyataan

kuesioner. Dengan demikian dilihat dari bidang studi pendidikan, baik

Psikologi/Sosiologi, Hukum/Kriminologi, Ekonomi dan bidang studi pendidikan

lainnya memiliki persepsi yang cenderung homogen.

Dari Tabel 4.18 terlihat bahwa rata-rata peringkat untuk determinan

pemahaman akan konsep management audit responden bidang studi pendidikan

Psikologi/Sosiologi mempunyai rata-rata peringkat yang paling tinggi, yaitu 45,40


selanjutnya berturut-turut bidang studi pendidikan Ekonomi (45,18),

Hukum/Kriminologi (41,38) dan bidang studi pendidikan lainnya (37,65).

Bidang studi pendidikan Psikologi/Sosiologi juga mempunyai rata-rata

peringkat yang lebih tinggi untuk determinan pemahaman akan fungsi pembelian,

yaitu 46,40 selanjutnya berturut-turut bidang studi pendidikan Ekonomi (46,20),

Hukum/Kriminologi (39,75), dan bidang studi pendidikan lainnya (36,92).

Responden bidang studi Hukum/Kriminologi mempunyai persepsi yang lebih

positif terhadap pemahaman akan kecurangan dilihat dari rata-rata peringkatnya,

yaitu 45,44, selanjutnya berturut-turut adalah bidang studi pendidikan Ekonomi

(44,72), Psikologi/Sosiologi (39,10) dan bidang studi pendidikan lainnya (38,40).

Untuk determinan management audit dan kecurangan pada fungsi pembelian

responden bidang studi pendidikan Ekonomi mempunyai persepsi yang lebih positif

dilihat dari rata-rata peringkatnya, yaitu 47,51 selanjutnya berturut-turut adalah

bidang studi pendidikan Psikologi/Sosiologi (43,80), bidang studi pendidikan lainnya

(36,92) dan bidang studi pendidikan Hukum/Kriminologi (31,63).

Dilihat secara agregat dari Tabel 4.19, yaitu terhadap keseluruhan item

pernyataan kuesioner yang merefleksikan persepsi manajemen terhadap management

audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian, tampak bahwa bidang studi pendidikan Ekonomi mempunyai persepsi

yang lebih positif karena memiliki rata-rata peringkat yang paling tinggi yaitu 46,71
dibandingkan Psikologi/Sosiologi (40,30), Hukum/Kriminologi (39,44) dan bidang

studi pendidikan lainnya (36,58).

Dengan demikian, diterimanya Ho pada uji hipotesis bukan berarti sama

sekali tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

dilihat dari bidang studi pendidikan manajemen. Tabel 4.18 dan Tabel 4.19

memperlihatkan bahwa meskipun sangat kecil, terdapat perbedaan persepsi dilihat

dari rata-rata peringkat yang dihasilkan. Akan tetapi, perbedaan tersebut tidak

signifikan setelah diuji secara statistik dengan menggunakan uji Kruskal Wallis.

Bidang studi pendidikan Psikologi/Sosiologi mempunyai rata-rata peringkat yang

paling tinggi untuk determinan pemahaman akan konsep management audit dan

pemahaman akan fungsi pembelian kemungkinan karena sebagian responden berasal

dari departemen Sumber Daya Manusia dimana dalam pelaksanaan pekerjaannya

mereka harus menghadapi karyawan dan calon karyawan dari berbagai latar

belakang pendidikan, divisi, departemen dan level manajemen sehingga mereka

mempunyai pemahaman yang cukup terhadap bidang yang berada diluar

spesialisasinya. Sehingga meskipun management audit dan fungsi pembelian bukan

merupakan bidang yang mereka tangani, mereka mempunyai pemahaman yang

memadai. Sebagian lagi dari responden bidang studi pendidikan Psikologi/Sosiologi

ini memegang posisi yang berkaitan dengan pembelian, pemasaran dan pengadaan
barang sehingga mereka mempunyai pemahaman yang baik mengenai fungsi

pembelian. Bagian pemasaran bisa mempunyai pemahaman yang baik mengenai

fungsi pembelian, karena kedua bagian ini memang saling berhubungan. Seorang

staff purchasing dalam sebuah perusahaan akan banyak berhubungan dengan bagian

sales yang berasal dari perusahaan lain, begitu pula sebaliknya.

Responden bidang studi pendidikan Hukum/Kriminologi mempunyai rata-rata

peringkat yang paling tinggi untuk determinan pemahaman mengenai kecurangan.

Secara langsung atau tidak langsung kecurangan akan merugikan pihak lain. Dalam

perspektif hukum kepentingan-kepentingan manusia (hidup, milik, kebebasan dan

lain-lain) perlu dilindungi karena kepentingan tersebut kerap kali diancam atau

dilanggar oleh pihak lain sehingga hukum perlu mengamankannya dan bila perlu

dengan paksa.

Responden bidang studi pendidikan Ekonomi mempunyai rata-rata peringkat yang

paling tinggi untuk determinan management audit dan kecurangan pada fungsi

pembelian. Begitu pula apabila dilihat secara agregat, yaitu terhadap keseluruhan

item dalam kuesioner yang merefleksikan persepsi manajemen terhadap management

audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi

pembelian. Hal ini karena sebagian besar responden dengan bidang studi Ekonomi

berada pada departemen yang berkaitan dengan bagian pembelian, pemasaran,


akuntansi/keuangan, audit dan sistem pengawasan internal sehingga lebih dekat

dengan permasalahan dan lebih memahami bagaimana mengatasi permasalahan

tersebut dengan menggunakan strategi management audit. Disamping itu, responden

bidang studi pendidikan ekonomi lebih familiar dengan masalah auditing dalam hal

ini management audit terutama karena sebagian besar spesialisasi responden bidang

studi pendidikan ekonomi adalah akuntansi.

Daft (2003) mengatakan bahwa orang cenderung akan memperhatikan segala

sesuatu yang familiar dengan mereka. Karena responden bidang studi Ekonomi lebih

familiar dengan masalah management audit dan bagaimana management audit bisa

digunakan untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian, maka

mereka mempunyai persepsi yang lebih positif. Disamping itu, orang juga akan fokus

terhadap stimuli yang memenuhi kebutuhan mereka serta konsisten dengan sikap,

nilai dan personaliti mereka. Bidang studi yang diambil seseorang di bangku kuliah

akan membentuk sikap, nilai dan personaliti seseorang yang akan mempengaruhinya

dalam mempersepsikan sesuatu.

Akan tetapi, meskipun terdapat perbedaan persepsi manajemen ditinjau dari

bidang studi pendidikan, nilainya sangat kecil dan tidak signifikan. Sehingga setelah

dilakukan uji statistik, disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi

manajemen ditinjau dari bidang studi pendidikan. Persepsi manajemen bidang studi

pendidikan Psikologi/Sosiologi, Hukum/Kriminologi, Ekonomi dan lainnya

cenderung homogen. Hal ini mungkin dikarenakan sebagian responden tidak


menempati departemen yang sesuai dengan bidang studi pendidikan yang diambilnya,

sehingga persepsi lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan responden saat ini.
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Persepsi manajemen ditinjau dari kepemilikan perusahaan dilakukan dengan

menggunakan uji U-Mann Whitney. Dari hasil uji statistik diperoleh kesimpulan

bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen yang signifikan ditinjau dari

kepemilikan perusahaan. Manajemen BUMN/BUMD dan manajemen BUMS

memiliki persepsi yang positif dan cenderung homogen terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.

Persepsi manajemen ditinjau dari level manajemen dilakukan dengan

menggunakan uji Kruskal Wallis. Dari hasil uji statistik diperoleh kesimpulan bahwa

tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen yang signifikan ditinjau dari level

manajemen. Top management, middle management dan lower management memiliki

persepsi yang positif dan cenderung homogen terhadap management audit sebagai

strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.

Persepsi manajemen ditinjau dari bidang studi pendidikan dilakukan dengan

menggunakan uji Kruskal Wallis. Dari hasil uji statistik diperoleh kesimpulan bahwa

tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen yang signifikan ditinjau dari bidang

studi pendidikan. Responden bidang studi Psikologi/Sosiologi, Hukum/Kriminologi,

Ekonomi dan lainnya memiliki persepsi yang positif dan cenderung homogen
terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi

kecurangan pada fungsi pembelian.

Dengan demikian, dari hasil uji statistik diperoleh kesimpulan bahwa ditinjau

dari kepemilikan perusahaan, level manajemen, maupun bidang studi pendidikan

tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa

Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi

kecurangan pada fungsi pembelian. Meskipun terdapat perbedaan dilihat dari rata-rata

peringkat, namun perbedaan tersebut tipis dan tidak signifikan.

5.2. Saran

Dalam penelitian ini, hipotesa peneliti bahwa terdapat perbedaan persepsi

manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap management audit

sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian

di tolak. Meskipun terdapat perbedaan, jumlahnya tidak signifikan.

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah waktu pengumpulan data yang

singkat sehingga peneliti hanya bisa mencapai responden yang lokasinya tidak terlalu

jauh. Tiga kota yang dijadikan sampel yaitu Surabaya, Gresik dan Sidoarjo memang

dipilih karena peneliti menganggap bahwa kota-kota tersebut memiliki karakteristik

yang bisa mewakili karakteristik perusahaan-perusahaan yang ada di Jawa Timur.

Akan tetapi, untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk memperbanyak jumlah

kota/kabupaten yang akan dijadikan sampel untuk meningkatkan generalisasi hasil


penelitian karena banyaknya kota dan kabupaten yang termasuk dalam wilayah

propinsi Jawa Timur yaitu 29 kabupaten dan 9 kota.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen berupa

pertanyaan tertutup, diukur dengan menggunakan teknik skala Likert dan data yang

digunakan adalah data ordinal. Peneliti menyarankan agar peneliti selanjutnya juga

menggunakan teknik wawancara tatap muka agar bisa memperoleh jawaban yang

lebih mendalam, masukan-masukan dari responden, dan agar peneliti bisa

memberikan penjelasan memadai apabila terdapat pernyataan-pernyataan dalam

kuesioner yang kurang dipahami oleh responden.

Meskipun tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen BUMN/BUMD dan

BUMS terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi

kecurangan pada fungsi pembelian, namun untuk pelaksanaannya ditiap perusahaan

harus tetap mempertimbangkan kebutuhan dan manfaat biaya dari pelaksanaan

management audit tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Soekrisno. 1996. Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh KAP. Jakarta: LP-
FEUI.

Arrens, Alvin A. and James K. Loebbecke.1997. Auditing: An Integrated Approach.


Seventh Edition. London: Prentice Hall International.

Arifin, Johan. 2000. Korupsi dan Upaya Pemberantasannya Melalui Strategi di


Bidang Auditing. Media Akuntansi, No. 13 (September).

Assauri, Sofyan. 1998. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Jakarta: LP-
FEUI.

Bastian, Indra. 2003. Audit Sektor Publik. Jakarta: Visi Global Media.

Baswir, Revrisond. 2000. Akuntansi Pemerintahan Indonesia. Edisi Ketiga.


Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Batra, G.S. 1997. Management Audit as a Service to Public Enterprise Management:


a Study of Management Audit and the Memorandum of Understanding (MOU)
Systems in India. Managerial Auditing Journal. (12/3): 148-155

Bodnar, George H. and William S. Hopwood. 2001. Accounting Information Systems.


Eight Edition. New Jersey: Prentice Hall International.

Boynton, William C. and Walter G. Kell. 1996. Modern Auditing. Sixth Edition.
Canada: John Wiley & Sons.

Burrowes, Ashley and Marie Persson. 2000. The Swedish Management Audit: a
Precedent for Performance and Value for Money Audits. Managerial Auditing
Journal. (15/3): 85-96.

Clave,Mc.,James, P. George Benson and Terry Sincien. 2001. A First Course in


Business Statistics. Eighth edition. London: Prentice Hall.

Daft, Richard L. 2003. Management. Sixth Edition. Ohio: Thomson South-Western


West.
David, Fred. R. 2005. Strategic Management. Tenth Edition. 2005. New Jersey:
Prentice Hall.

Galloway, Less., Frank Rowbotham and Masoud Azhashemi. 2000. Operation


Management in Context. Great Britain: Butterworth-Heinemann.

Halim, Abdul. 2001. Auditing: Dasar-Dasar Audit Laporan Keuangan. Edisi Kedua
(Revisi). Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Hamilton, Alexander. 1986. Management Audit. Alexander Hamilton Institute.

Handoko, T. Hani. 2000. Manajemen. Edisi Kedua. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

IAI Kompartemen Akuntan Publik. 2001. Standar Profesional Akuntan Publik.


Jakarta: Salemba Empat.

Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis untuk
Akuntansi dan Manajemen. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Karni, Soejono. 2000. Auditing: Audit Khusus dan Audit Forensik Dalam Praktik.
Jakarta: LP-FEUI.

Lewis, Pamela S., Stephen H. Goodman and Patricia M. Fandt. 2004. Management:
Challenges for Tomorrow Leaders. Fourth Edition. Ohio: Thomson South-
Western.

Mardiasmo. 2004. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Plunket, Warren R., Raymond F. Attner, and Gemmy S. Allen. 2005. Management:
Meeting and Exceeding Customer Expectations. Eighth Edition. USA: Thomson
South-Western.

Pranasari, Kiki dan Adrianus Meliala (Ed.). 1991. Praktek Pemberian Keterangan
yang Tidak Benar (Fraudulent Misrepresentation): suatu modus penyimpangan
ekonomi. Jakarta: UI-Press.

Ramanathan, A.R. 1990. Cost and Management Audit. New Delhi: Tata McGraw-
Hill.

Ramos, Michael. 2003. Auditors’ Responsibility for Fraud Detection. Journal of


Accountancy. Januari 2003: 28-35.
Robbins, Stephen P. 2003. Perilaku Organisasi. Edisi Kesembilan. Terjemahan.
Jakarta: Penerbit Indeks.

Sayle, Allan J. 1988. Management Audits, the Assesment of Quality Management


Systems. Second Edition. McGraw-Hill.

Siagian, Sondang P. 2001. Audit Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.

Siagian, Dergibson dan Sugiarto. 2002. Metode Statistika untuk Bisnis dan Ekonomi.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Silalahi, Gabriel Amin. 2003. Metodologi Penelitian dan Studi Kasus. Sidoarjo:
Citramedia.

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi (Ed.).1995. Metode Penelitian Survai. Edisi
Revisi. Jakarta: LP3ES.

Sjamsuddin, Sjarfin. 1995. Pengendalian dan Pengawasan pada Era Globalisasi.


Himpunan Makalah : Rapat Koordinasi BPKP dan Direksi BUMN/BUMD serta
Munas FK-SPI BUMN/BUMD ke V. Jakarta.

Solomon, Jill and Aris Solomon. 2004. Corporate Governance and Accountability.
England: John Wiley & Sons.

Tunggal, Amin Widjaja. 2001. Audit Kecurangan: Suatu Pengantar. Jakarta:


Harvarindo.

------------.2003. Audit Manajemen Kontemporer. Edisi Revisi. Jakarta: Harvarindo.

Umar, Husein. 2003. Metode Riset Perilaku Organisasi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.

Wagner, John A. and John R. Hollenbeck. 1995. Management of Organizational


Behaviour. Second Edition. New Jersey: Prentice-Hall International.

Whittington, O. Ray and Kurt Pany. 2001. Principles of Auditing and Other
Assurances Services. Thirteenth Edition. New York: McGraw-Hill.

Widjayanto, Nugroho. 1985. Pemeriksaan Operasional Perusahaan. Jakarta: LP-


FEUI.
Widyahartono, Bob. 2005. Telaah-Krisis Kepercayaan Selalu Merisaukan. Antara
News, (Oktober).

Zachary and Loren W. Kuzuhara. 2005. Organizational Behaviour. First Edition.


USA: Thomson South-Western.

Zuhroh, Diana. 2001. Audit Manajemen Kereta Api. Media Akuntansi. Edisi 22
(November-Desember), p: 17-19