0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
551 tayangan94 halaman

BAB 1 Dan 2

Diunggah oleh

Thepul Max
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
551 tayangan94 halaman

BAB 1 Dan 2

Diunggah oleh

Thepul Max
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kawasan Pantai Indah Kapuk 2 atau yang sering dikenal sebagai PIK 2 merupakan
sebuah Kawasan yang berada di daerah perbatasan provinsi Jakarta dan Banten .
Kawasan PIK 2 hadir sebagai suatu solusi kebutuhan property tambahan bagi warga
Indonesia khususnya bagi daerah warga Jakarta. Jakarta merupakan kota metropolitan
dengan luas daerah sekitar 661,52 km² dan dengan jumlah penduduknya yaitu sebanyak
11.063.324 jiwa ( data badan pusat statistic DKI Jakarta thn 2019) yang menjadikan
Jakarta merupakan salah satu kota terpadat di Indonesia dengan perbandingan 16.882
jiwa/km2. Dari permasalahan tersebutlah wilayah Jakarta menjadi tidak relevan dalam
pembangunan property , Sehingga Agung Sedayu Group ( ASG ) menghadirkan
Kawasan PIK 2 sebagai solusi kebutuhan property tanpa memakai wilayah daratan
dengan cara reklamasi.
PIK2 adalah pengembangan besar-besaran yang akan mencapai 2.650 hektar ketika
selesai. PIK2 akan menjadi pusat kekuatan ekonomi yang memiliki daya tarik yang kuat
bagi peluang dan investasi yang menguntungkan dalam berbagai pengembangan properti.
Tidak hanya sebagai perluasan dari wilayah Pantai Indah Kapuk yang sangat sukses, kota
terpadu yang baru ini juga dinilai memiliki potensi yang lebih signifikan dan dilengkapi
berbagai manfaat dan fasilitas yang lebih komprehensif untuk meningkatkan kualitas
hidup, serta membantu memperkuat posisi negara ini sebagai tujuan yang layak bagi
investasi internasional. Seiring dengan perkembangannya, PIK2 akan menghadirkan
berbagai komponen penunjang kehidupan: area perumahan, zona komersial, perhotelan,
sekolah dan universitas swasta, rumah sakit, dan fasilitas rekreasi.
Apartemen Tokyo riverside sebanyak 8 tower yang diperuntukan sebagai salah satu
hunian dikawasan PIK2 yang dimiliki oleh Agung Sedayu Group. Pelaksana pekerjaan
tower 8 tokyo riverside apartemen memiliki keunggulan karena dikerjakan dengan 2
metode yaitu : konvensial dan modern . Metode konvensionalnya hanya mencakup
pekerjaan kolom dan shear wall sedangkan untuk tangga,balok dan dinding dilakukan
dengan metode modern yaitu Precast . Pelaksana proyek pembangunan towerv 8
merupakan KSO antara PT. Indopora TBK dengan anak perusahaannya yaitu PT.
Rekagunatek Persada dan PT. Gema Bahana Utama selaku kontraktor. Proyek ini
mencakup : 1 gedung apartemen dengan 32 lantai dan 1 semi-basement.
1.1.1 Latar Belakang Kerja Praktik
Untuk dapat terjun ke dunia kerja setelah lulus kuliah, setiap mahasiswa harus
memiliki kesiapan dalam menghadapi keprofesianalan pekerjaannya yang sesuai dengan
bidang yang digelutinya. Banyak sekali hal yang menjadi hambatan bagi seseorang yang
belum mengalami pengalaman kerja untuk terjun ke dunia pekerjaan, seperti halnya ilmu
prngetahuan yang diperolehdi kampus bersifat statis ( pada kenyataannya masih kurang
adaptif atau kaku terhadap kegiatan kegiatan dalam dunia kerja yang nyata ), teori yang
diperoleh belum tentu sama dengan praktik kerja di lapangan , dan keterbatasan waktu
dan ruang yang mengakibatkan ilmu pengetahuan yang diperoleh masih terbatas.
Dikarenakan hal di tersebut, maka Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen
Indonesia menetapkan mata kuliah kerja praktek agar para mahasiswa memperoleh ilmu
pengetahuan yang tidak diberikan oleh kampus.
Dengan bobot dua satuan kredit semester (sks), Mata kuliah ini wajib diambil
mahasiswa sebagai syarat kelulusan jenjang srata 1 . Kerja Praktik pada dasarnya
merupakan penerapan disiplin ilmu yang telah diberikan selama tujuh semester yang
telah ditempuh . KP mewajibkan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan kerja
lapangan dengan cara terjun langsung ke lapangan guna melakukan kegiatan yang
berkaitan dengan bidang konstruksi bangunan baik dalam hal praktis maupun profesional.
Dalam pelaksanaannya mahasiswa akan dibimbing oleh pembimbing lapangan maupun
dosen pembimbing.

1.1.2 Maksud dan Tujuan Kerja Praktek


Adapun maksud diadakannya kerja praktek ini adalah sebagai berikut :
 Mahasiswa dapat memperoleh kesempatan untuk menerapkan ilmu
pengetahuan yang telah diperoleh dalam perkuliahan untuk diterapkan dalam
lapangan kerja.
 Mahasiswa dapat mengenal pelaksanaan dan proses pelaksanaa struktur yang
sebenarnya.
 Mahasiswa dapat membandingkan antara teori yang dikerjakan di kampus
dengan praktik kerja di lapangan.
 Mahasiswa dapat memperdalam wawasan terhadap system kerja interdisiplin
secara profesional.
 Mahasiswa pada umumnya dapat melihat pekerjaan yang sedang berlangsung
sekaligus berfungsi sebagai Quality control dalam pembangunan konstruks
 Sedangkan bagi perusahaan tempat kerja praktek, analisis dalam karya tulis ini
dapat berguna dan bermanfaat bagi evaluasi kerja, sehingga dapat
mempertahankan hal-hal yang baik dan mengurangi semua kesalahan di
kemudian hari.
Adapaun tujuan mata kuliah kerja praktik ini adalah sebagai berikut :
 Memberikan gambaran dunia kerja yang sebenarnya kepada mahasiswa
sebagai bekal untuk kemudian hari.
 Untuk menambah pengetahuan,keterampilan, dan pemahaman yang tidak
didapat langsung dalam perkuliahan.
 Memperoleh pengalaman, pengamatan dan pengenalan visual secara langsung
mengenai kondisi yang ada di lapangan.
 Sebagai sarana pelatihan dalam penyusunan laporan untuk suaru penugasan.
 Untuk menyiapkan tenaga kerja yang ahli dan siap pakai dalam industry
konstuksi bangunan tinggi/high rise building.

1.1.3 Maksud Dan Tujuan Proyek


a. Maksud Proyek
Maksud dari proyek pembangunan apartemen Tokyo Riverside tower 8 ini
adalah:
 Membantu masyarakat Jakarta dan sekitarnya memenuhi kebutuhan tempat
tinggal
b. Tujuan Proyek
Adapun tujuan dari proyek pembangunan apartemen Tokyo Riverside tower
Mokkado ini, yaitu:
 Menyediakan hunian tempat tinggal yang exclusive bagi masyarakat yang
ingin mendapatkan tempat hunian yang memiliki nilai lebih.
 Meningkatkan efektifitas waktu dan tenaga untuk masyarakat perkotaan.
 Peningkatan ekonomi masyarakat jangka panjang
1.1.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adlah sebuah cara/metodelogi yang digunakan dalam
mengumpulkan data-data dan informasi guna menyempurnakan isi laporan. Metode
yang digunakan adalah :
1. Wawancara : Bertanya kepada siapapun dalam hal ini pembimbing lapangan
tempat Kerja Praktik.
2. Observasi : Melakukan pengamatan dan pendokumentasian terhadap semua
kegiatan yang di lapangan kerja praktik.
3. Meminta data-data proyek

1.1.5 Sistematika Laporan


Laporan kerja praktik dibagi kedalam beberapa bab dan sub-bab bahasan yang
berbeda-beda namun masih berkaitan satu dengan yang lainnya.Berikut susunan
sistematika laporan kerja praktik :
BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini akan menjelaskan secara singkat mengenai latar belakang kerja
praktik,pengenalan proyek secara detail,K3,manajemen proyek dan administrasi
dokumen proyek

1.1.6 Tempat dan waktu pelaksanaan


Kerja Praktek dilaksanakan dalam kurun waktu tiga bulan terhitung dari tanggal 15
November 2021 hingga 15 Januari 2021. Kerja praktik dilakukan setiap hari
Senin,Rabu dan Jumat dari pukul 08.00 hingga pukul 17.00. lokasi penempatan site
office PT. Rekagunatek Persada di proyek Pembangunan Apartemen Tokyo Riverside
Tower Mokkado yang beralamat di Jalan OTISTA PIK 2 Kelurahan Lemo,
Kecematan Teluk Naga, Kabupaten Tanggerang, Banten.
1.1.7 Data dan Lokasi Proyek

Nama Proyek : Tokyo Riverside Tower Mokkado

Lokasi Proyek : Jalan OTISTA PIK 2 Kelurahan Lemo, Kecematan Teluk


Naga, Kabupaten Tanggerang, Banten.

Gambar 1.0 Lokasi Proyek


Sumber : Google

Kelebihan Pembangunan Apartemen Tokyo Riverside :


a. Lokasi strategis .
Apartemen Tokyo Riverside terletak di Jakarta Utara dan dikembangkan di
atas lahan seluas 10 hektar. Menarikanya, dari total seluruh lahan pembangunan
lebih dari setengahnya atau sekitar 5.5 hektar diperuntukan sebagai fasilitas yang
lengkap bagi penghuninya, seperti adanya sistem transportasi shuttle
bus terintegrasi busway dan LRT seluruh JKT dan akses mobil langsung dari Tol
JORR (Jkt-Tangerang-Banten) yang langsung menghubungkan akses PIK 2-
Bandara yang berjarak 7 Km dengan waktu tempuh hanya 7 menit. 
b. Fasilitas lengkap.
Dengan berbagai fasilitas yang tidak pernah ada di lokasi lain, Selain fasilitas
di dalam apartemennya sendiri seperti Fitness centre, tennis court, children
playground, swimming pool dan yoga lawn. Apartemen Tokyo Riverside ini
terletak di dalam kota mandiri terbaru dengan konsep terbaru difasilitasi dengan
area hijau dan fasilitas seluas 520 Ha, garis pantai terpanjang sebesar 4 km
dan Green Belt yang merupakan area hijau terpanjang yang akan diisi dengan
taman-taman tematik, children playground, duck pond, jembatan pejalan kaki
yang akan menjadi tujuan wisata dari seluruh daerah.
c. Prospek pasar yang luas.
Persembahan terbaru dari pengembang ternama Agung Sedayu Group,
dengan konsep Superblock & Japanese Living Style yang berada di atas lahan
seluas 60 Ha ini, di fasilitasi dengan Universitas (Prasetya Mulya, BINUS Univ,
Stamford Medical USA), Sekolah (IPEKA Intl School, Bina Bangsa School), area
CBD (Mata Elang Intl Stadium,Transmart, Lotte World 2,Ikea), rumah sakit dan
masih banyak lainnya. Semua hal tersebut pun didukung dengan market pasar
seluas 20.000 siswa dan 50.000 karyawan yang akan menjadi calon pengguna
kedepannya.
Batas – batas dari Lokasi Proyek Pembangunan (Tower Mokkado ) pada Proyek
Tokyo Riverside :
A. Utara : Hutan Mangrove Travell
B. Timur : Pantai Muara
C. Selatan : Cluster Residential PIK 2
D. Barat : Jalan Toll JOR ( jkt-tanggerang-banten) dan akses
bandara soekarno-hatta

Gambar : Layout Tower 8


Sumber : Dokumen Proyek
2 Fungsi Bangunan : Apartemen
3 Luas Lantai Dasar : 5366,329 m2
4 Luas Total Tower 8 : 51382,937 m2
5 Luas Lahan Seluruhnya : 8520,1633 m2
6 Tinggi Bangunan : 115,25 m
7 Tinggi Tiap Lantai
a) Ground floor : 5,5 m
b) Lantai 2 : 3,7 m
c) Lantai 3-31 :3 m
d) Lantai 32 (TOP) : 3,2 m
8 Jumlah Lantai : 32 Lantai, 1 Semi-Basement
9 Jenis Konstruksi
a) Pondasi : Tiang pancang dan pile cup
b) Struktur Bangunan : Beton bertulang
10 Pemberi Tugas : PT Mandiri Bangun Makmur
11 Penerima Tugas : PT Rekagunatek Persada
12 Waktu Pelaksanaan : 12 Bulan
13 Masa Pemeliharaan : 12 bulan kalender setelah handover pertama
14 Total Kontrak : Privacy
15 Tipe Kontrak : Lumpsump fix price
16 Sistem Pelelangan : Penunjukan Langsung
17 Sistem Pembayaran : Termin ( monthly payment )
18 Item Pekerjaan : Persiapan, struktur, arsitektur dan MEP
19 Jumlah Pekerja
a) Staf Kantor : 23 orang
b) Bobok : 25 orang
c) Besi : 25 orang
d) MEP : 60 orang
e) Las : 5 orang
f) Staf Keamanan : 4 orang
20 Sumber Listrik : PLN
21 Sumber Air Bersih : PDAM dan air tanah

1.1.6 Data Umum Proyek


Owner : Agung Sedayu Group
a. Konsultan
1. Konsultan Arsitektur : PT Airmas Asri
2. Konsultan Strukstural : PT Gistama Intisemesta
3. Konsultan M.E.P : PT Metakom Pranata
4. Konsultan QS : PT Rekagunatek Persada
5. Konsultan Manajemen : PT. Mandiri Bangun Makmur
6. Konsultan Civil dan infrastruktur : PT Aramsa Infrayasa
7. Konsultan Landscape : Townland
b. Kontraktor
1. Kontraktor Utama : PT Rekagunatek Persada
2. Paket Pile & Pile Test : PT Indopora TBK
3. Bekisting & Aluma : Mandor PT.Rekagunatek
4. Dewatering & Mechanical : Mandor PT.Rekagunatek
5. Galian Tanah & Cor : Mandor PT Indopora TBK
6. Besi : Mandor PT.Rekagunatek
7. Supplier Beton ready mix : PT Adhi Mix
PT Merak Jaya Beton
PT Wika Krakatau Beton
Fasilitas Pendukung
Fasilitas pendukung disekitar Tower Mokkado pada Proyek Tokyo
Riverside, antara lain:
1. Akses Jalan Tol : Tol JORR (jkt-tng-btn) dan akses tol bandara soetta
2. Pusat Kesehatan : Tzu Chi hospital
3. Pusat Pendidikan : IPEKA INTL School
4. Pusat Perbelanjaan : Sedayu Water Town Mall
Fasilitas yang berada dalam Tower Mokkado pada Proyek Tokyo
Riverside, antara lain:
1. CCTV
2. Hunian Apartemen
3. Kolam Renang
4. Taman Yoga
5. Taman
6. Tempat Parkir

1.1.7 Aspek Tata Ruang


Tata ruang pada Tower Mokkado , yaitu:
1. Jumlah lantai : 1 Semi-Basement, 32 lantai dan
rooftop
2. luas Lantai dasar : 5366,33 m2
3. Luas Total Tower 8 : 51382,94 m2
4. Luas Lahan Seluruhnya : 8520,16 m2
5. Fungsi Bangunan : Apartemen, tempat parkir,
dan Pertokoan

Dengan Klasifikasi luas dan fungsi bangunan pada tiap lantai sebagai berikut:

Tabel 1.1 Luas Bangunan Tower Mokkado

Lantai Luas Bangunan Fungsi Bangunan


Lantai GF 5366,33 m2 Pertokoan dan tempat parkir
Lantai 1-2 37283,95 m2 Lobby dan ruang serbaguna
Lantai 2-32 37283,95 m2 Hunian
Rooftop 37283,95 Gondola dan tangka air

1.1.8 Lingkup Struktur


a. Jenis Fondasi : Tiang Pancang 300x300 mm
dan 400x400 mm
b. Beton Struktur : Ready Mix
c. Struktur Bangunan : Beton Bertulang
d. Mutu beton Bangunan
Klasifikasi Bahan Tiap lantai
1. GF (Ground Floor )-lantai 6
Beton fc’ = 35 Mpa , Pada :

• Kolom

• Shear Wall

• Shear Wall Type SW7

Beton fc’ = 30 Mpa , Pada :


• Tangga

2. Lantai 7-32 dan rooftoop


Beton fc’ = 30 Mpa , Pada :

• Kolom

• Shear Wall

• Shear Wall Type SW7

Beton fc’ = 30 Mpa , Pada

c . Pilecap dan Tie Beam = Fc’ 30

d . Tiang Pancang = Fc’ 30 Mpa

e . Tangga dan Parapet = Fc’ 35

f . Beton, Kolom dan Balok Praktis = K-300

g. Lantai Kerja = K-

h . Mutu Baja Tulangan

• Ø ≤ 20 Mm, U40 (Ulir)

• D > 22 Mm, U40 (Ulir)

• M ≥ 4 Mm, U50 (Wiremesh)

1.2 Kesehatan dan Keselamatan kerja


K3 adalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan pengertian pemberian
perlindungan kepada setiap orang yang berada di tempat kerja, yang berhubungan
dengan pemindahan bahan baku, penggunaan peralatan kerja konstruksi, proses
produksi dan lingkungan sekitar tempat kerja. Kegiatan Konstruksi merupakan unsur
penting dalam pembangunan yang dalampelaksanaan kegiatan konstruksi tersebut
menimbulkan berbagai dampak yang tidak diinginkan antara lain yang menyangkut
aspek keselamatan dan kesehatan kerja. Kecelakaan kerja dibagi kedalam 3 jenis yaitu
:
1. Kecelakaan kerja ringan, yaitu kecelakaan kerja yang perlu pengobatan
pada hari itu dan bisa melakakukan pekerjaannya kembali atau istirahat
< 2 hari. Contoh: terpeleset, tergores, terkena pecahan beling, terjatuh
dan kaki terkilir
2. Kecelakaan kerja Sedang, yaitu kecelakaan kerja yang memerlukan
pengobatan dan perlu istirahat selama > 2 hari. Contoh: terjepit, luka
sampai robek, luka bakar.
3. ecelakaan kerja berat, yaitu kecelakaan kerja yang mengalami
amputasi dan kegagalan fungsi tubuh. Contoh: patah tulang.

Gambar 1.1 Struktur Organisasi K3


Sumber : Dokumentasi Pribadi

PT. Rekagunatek Persada selalu melakukan pengendalian dan pemantauan K3L


dengan penerapan prosedur dan standar K3L di proyek pembangunan Tower
Mokkado, Tokyo Riverside Apartemen. Maka dibuatlah peraturan-peraturan untuk
meningkatkan keselamatan kerja, sebagai berikut :

Menggunakan standar APD seperti helm, pakaian sopan, dan safety shoes saat

1. masuk ke area proyek dan selama bekerja di area proyek. Untuk


pekerjaan ketinggian wajib menggunakan body harness.
2. Tidak membuang air besar/kecil dan sampah di sembarang tempat.
3. Dilarang merokok di area kerja.
4. Dilarang membawa senjata tajam, bertindak kasar, berkelahi,
mengonsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang di tempat
kerja.
5. Dilarang menggunakan alat kerja yang rusak dan dapat
membahayakankeselamatan diri dan orang lain.
6. Dilarang menyembunyikan kecelakaan sekecil apa pun dan tidak ada
penyakit bawaan sebelum masuk proyek.
7. Wajib mengikuti semua petunjuk keselamatan proyek dan peraturan
keselamatan umum.
8. Wajib mengikuti Induction, safety talk, dan TBM (Tool Box Meeting)
sebelum bekerja.

1.2.1 Target K3
1. Target Kecelakaan Kerja
Target kecelakaan kerja pada proyek adalah zero accident atau nihil
Kecelakaan .
2. Target Kesehatan Kerja
Target kesehatan kerja pada proyek adalah zero occupational disease atau
nihil
penyakit akibat kerja.
3. Target Lingkungan
Target lingkungan adalah zero polution atau nihil pencemaran
Target-target K3 yang tidak tercapai dilapangan seperti : \
- Tidak tercapainya target kecelakaan kerja
\

Dapat dilihat pada foto diatas pekerja tidak menggunakan helm safety yang dapat
berikat fatal yaitu bagian pengait tower crane dapat mengenai kepalanya selain itu
pekerja diatas tidak menggunakan body harness untuk bekerja dan dapat
mengakibatkan terjatuh dari ketinggian yang sangat tinggi
- Tidak tecapainya target lingkungan

Sampah baik sampah bangunan dan sampah plastic bertebaran di sekitar


lokasi proyek yang dapat berimbas kepada tempat berkumpulny sarang
penyakit seperti nyamuk dan lalat yang dapat berimbas kepada para pekerja
dan tamu disekitar lingkungan proyek.

1.2.2 Kegiatan K3 Di Proyek Tokyo Riverside Tower Mokkado


Kegiatan K3 dilokasi proyek dilakukan oleh HSE dengan tujuan menghindarkan
kecelakaan kerja . Adapun kegiatannya adalah :
1. HSE Safety Induction
Safety induction dilakukan wajib kepada orang yang baru pertama kali
memasuki area proyek. Pada saat safety induction akan diberikan
beberapa peraturan, keadaan di proyek dan pengetahuan tentang
keselamatan di area proyek. Pengenalan alat pelindung diri wajib seperti
rompi, helm, dan sepatu safety juga dilakukan pada safety induction.
Safety induction dilakukan bertujuan untuk mengurangi resiko kecelakaan
kerja yang bisa terjadi di proyek. Setiap orang yang mengikuti safety
induction juga akan didata dan dimintai fotocopy KTP. Setelah
melakukan safety induction akan diberikan stiker safety induction dan
ditempelkan pada helm. Berikut adalah contoh dokumentasi helm yang
telah diberi sticker safety induction. Jadwal pelaksaan : setiap ada
pekerja/tamu baru.
2. Tool Box Meeting (TBM)
Tool box meeting merupakan kegiatan rutin yang diadakan pada hari
Senin, Rabu dan Jumat pukul 08.00. Sebelum memulai bekerja seluruh
pekerja diminta untuk mengikuti tool box meeting. Tool box meeting
adalah

Gambar : pelaksanaan TBM


Sumber : Dokumentasi Proyek

penjelasan untuk mengingatkan pentingnya K3 saat bekerja di proyek.


Berikut adalah dokumentasi kegiatan tool box meeting. Jadwal
Pelaksanaan : 3 x seminggu
3. Inspeksi Alat
Kegiatan inspeksi alat merupakan kegiatan pengecekan terhadap alat-alat
pelindung lokasi kerja seperti :
 Police line

Fungsinya yaitu untuk menutup suatu area dan tidak boleh ada
orang yang melintasi selain petugas yang berwenang.
Gambar 1.2 Police Line
Sumber : Dokumentasi Pribadi

 Jaring polynet

Fungisnya agar material gedung atau proyek bangunan tidak


jatuh, karena sangat berbahaya jika material sampai jatuh ke
kebawah, misal palu jatuh kebawah bisa sangat fatal akibatnya.

Gambar 1.3 Jaring Polynet

Sumber : Dokumentasi Pribadi


 Safety net modul

Untuk menahan benda dari atas agar tidak jatuh kebawah, agar
material gedung atau proyek bangunan tidak jatuh, karena sangat
berbahaya jika material sampai jatuh ke kebawah, misal palu jatuh
kebawah bisa sangat fatal akibatnya, agar material gedung atau
proyek bangunan tidak jatuh, karena sangat berbahaya jika
material sampai jatuh ke kebawah, misal palu jatuh kebawah bisa
sangat fatal akibatnya.

Gambar 1.4 Safety net modul


Sumber : Dokumentasi Pribadi

 Rambu-rambu
Berfungsi untuk menghimbau, memperingati, maupun melarang.
Ditujukan untuk mengatur, dan melindungi keselamatan dan
Kesehatan para pekerja dan orang lain yang berada di tempat kerja
Gambar 1.5 Rambu - Rambu
Sumber : Dokumentasi Pribadi

 Pemasangan Pagar Seng


Tujuan dari pemasangan pagar seng adalah untuk melindungi area
proyek dari lingkungan sekitar agar tidak ada orang yang tidak
berkepentingan dapat masuk kedalam lokasi proyek.

 Pembuatan kolam cuci kendaraan


Bertujuan agar kendaraan yang keluar dari lokasi proyek tetap
bersih dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

4. HSE Patrol
Tujuan dari inspeksi untuk menjaga konsistensi penerapan standar K3L di
proyek. Patrol dilakukan tim HSE proyek, meliputi seluruh area kerja, dan
terhadap area dimana ada pekerjaan yang telah diidentifikasi mempunyai
potensi kecelakaan dan pencemaran harus diberikan perhatian yang lebih.
Tim HSE memberikan perintah langsung secara lisan ditempat untuk
menghentikan pekerjaan jika ditemukan keadaan yang berbahaya. Jadwal
pelaksaan : setiap selasa
5. HSE Training
Kegiatan ini memiliki tujuan untuk meningkatkan keterampilan peserta
agar bisa mencegah insiden yang mungkin terjadi selama operasional
kerja dan mengurangi efek samping yang dihasilkan oleh operasional
perusahaan. Jawal pelaksanaan : 1 x 1 bulan.
6. HSE Meeting
Merupakan kegiatan untuk mengevaluasi program kerja. Jadwal
pelaksanaan : 1 x 1 bulan.
7. Fooging
Penyemprotan untuk menghindari tempat-tempat menjadi lokasi sarang
serangga yang dapat menyebabkan tempat penularan penyakit. Jadwal
pelaksanaan : 1 x 1 bulan
8. Semprot Disinfektan
Dalam rangka menghindari wabah covid-19 terhadap pekerja dilakukan
penyemprotan setiap hari sebelum memasuki lokasi proyek.
9. Cek suhu
Sebagai Langkah awal dalam meminimalisir dan sesuai dengan aturan
protocol Kesehatan .
10. Housekeeping
Melakukan pembersihan secara masal yang melibatkan seluruh pekerja
dan seluruh sub kontraktor di lapangan untuk menciptakan lapangan kerja
yang selalu bersih dan rapih

1.2.3 Tujuan dari K3


berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. 3 (tiga)
tujuan utama penerapan K3 berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tersebut
antara lain :

1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain
di tempat kerja.
2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.
1.2.4 Isrtilah bahaya dalam K3

1. Hazard adalah suatu keadaan yang memungkinkan / dapat

menimbulkan kecelakaan, penyakit, kerusakan atau menghambat

kemampuan pekerja yang ada

2. Danger adalah tingkat bahaya akan suatu kondisi yang sudah

menunjukkan p eluang bahaya sehingga mengakibatkan

suatu tindakan pencegahan.

3. Risk adalah prediksi tingkat keparahan bila terjadi bahaya dalam siklus

tertentu.

4. Incident adalah munculnya kejadian bahaya yang dapat atau telah

mengadakan kontak dengan sumber energi yang melebihi ambang

batas normal.

5. Accident adalah kejadian bahaya yang disertai adanya korban dan/atau


kerugian baik manusian maupun benda.

1.2.5 Alat Pelindung Diri


Alat pelindung diri merupakan bagian dari proteksi diri yang wajib dimiliki oleh
setiap orang yang berada dilungki proyek. Tujuannya adalah untuk meminimalisir
setiap kecelakaan yang terjadi. Alat pelindung diri berupa :

1. Helm
Dalam pekerjaan konstruksi/struktur pemakaian helm sangat diwajibkan agar
meminimalisir dan mencegah adanya benturan akibat benda – benda jatuh ke
kepala.
2. Sepatu Safety
Sepatu safety harus selalu dipakai saat bekerja untuk melindungi kaki dari
kecelakaan seperti tertusuk benda tajam, benturan, terkena cairan bahan kimia,
tertindih beban, atau benturan saat bekerja.

Terdapat 2 macam sepatu safety yang digunakan yaitu :


a. Sepatu safety yang terbuat dari kulit : umum biasa di pakai para staff,
yang dilapisi pelat baja untuk mencegah tusukan benda tajam dan dapat
mengatasi himpitan pada ujung kaki.

A.

B.

b. Sepatu safety yang terbuat dari karet : Umum dipakai biasanya para pekerja
lapangan agar terlindungi dari hempitan beban berat pada kaki dan melindungi
dari benda – benda tajam. Sepatu ini juga bisa di pakai pada keadaan tempat
bekerja yang berair.

3. Safety Belt
Safety belt dipakai untuk kerja di tempat yang tinggi semisal Gedung - gedung
bertingkat, penggunaan Safety Belt ini agar terhindar akan adanya bahaya jatuh.

4. Sarung Tangan

Pemakaian sarung tangan sangat penting dalam bekerja, penggunaan


sarung tangan ini bisa meminimalisir adanya tertusuk benda tajam ataupun
terkena cairan kimia.

5. Kacamata Pengaman
Dalam pekerjaan konstruksi ada pekerjaan yang menyakitkan mata
sebagai contoh proses pekerjaan pengelasan, agar mata dapat terlindungi dari
sinar mematikan maka penting adanya pemakaian kacamata pengaman.

6. Baju kerja
Untuk melindungi badan dan kulit dari kemungkinan yang mengganggu
pekerja dan memberikan pengelihatan tambahan

1.3 Manajemen Proyek dan Struktur Organisasi

1.3.1 Manajemen Proyek


Manajemen Proyek adalah usaha pengerjaan suatu proyek yang dibatasi oleh
anggaran, jadwal, dan mutu dengan tujuan tercapainya proyek tersebut secara efisien dan
efektif. Usaha pengerjaan seperti : planning, organizing dan controlling.

1.3.2 Struktur Organisasi Proyek dan Hubungan Kerja


Struktur organisasi adalah sebuah sarana yang berguna untuk membantu
dalam proses pencapaian suatu tujuan dalam proyek. Susunan ini bekerja dengan
cara mengatur dan mengorganisasi semua sumber daya yang ada, material atau
bahan-bahan, tenaga kerja dan peralatan serta modal. Dan pastinya menerapkan
sebuah sistem manajemen yang efektif dan efisien serta disesuaikan dengan
kebutuhan pada proyek tersebut.
Hubungan kerja adalah hubungan antara kontraktor daengan pekerja/buruh
(karyawan) berdasarkan perjanjian kerja. Dengan demikian hubungan kerja tersebut
adalah merupakan sesuatu yang abstrak, sedangkan perjanjian kerja adalah sesuatu
yang konkrit, nyata. Dengan adanya perjanjian kerja, maka akan lahir perikatan.
Dengan perkataan lain perikatan yang lahir karena adanya perjanjian kerja inilah
yang merupakan hubungan kerja

Gambar : struktur organisasi proyek apartemen Tokyo riverside


Sumber : Dokumen proyek
Struktur organisasi dan hubungan kerja merupakan hal yang sangat
penting dalam berjalannya suatu project untuk mencapai tujuan. Prinsip yang
terdapat dalam struktur organisasi mengenai kekuasaan atau wewenang, serta
tanggung jawab. Berikut struktur organisasi PT Rekagunatek Persada dalam
pelaksanaan Proyek Apartemen Tokyo Riverside Tower Mokkado

Hubungan Kerja unsur-unsur proyek :

garis perintah

garis koordinasi

Hubungan kerja seperti bagan tersebut yang ada dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Hubungan Pemilik Proyek dengan Kontraktor
Pemilik Proyek memberikan perintah langsung kepada Konsultan manajemen
untuk merealisasikan bangunan yang diinginkan melalui kontraktor dengan gambar
rencana dan peraturan serta syarat-syarat yang telah ditentukan. Pemilik Proyek
memberikan biaya jasa professional kepada Manajemen konsultan tersebut. Namun,
Kontraktor tidak dapat berkoordinasi langsung dengan Pemilik Proyek. Dengan kata
lain, Kontraktor Pelaksana dapat berkoordinasi dengan Konsultan manajemen
melalui Manajemen Konsultan dalam hal ini adalah PT Mandiri Bangun Makmur

Project Manager dan Project Coordinator Manager adalah orang yang ditunjuk
langsung mewakili Pemilik Proyek dan diberi jabatan dan kekuasaan penuh untuk
mengkoordinir seluruh kegiatan pelaksanaan di lapangan sehingga menghasilkan
pekerjaan yang baik menyangkut biaya, mutu, dan waktu. Tugas sebagai Project
Manager untuk saat ini dipegang oleh Lukman Hakim Sutomo sedangkan untuk
Project Coordinator Manager dipegang oleh Winata Tanuwidjaja
2. Hubungan Pemilik Proyek dengan Konsultan Perencana
Konsultan Perencana diberikan tugas untuk membuat gambar rencana serta syarat-
syarat yang sesuai dengan keinginan Pemilik Proyek dan Pemilik Proyek
memberikan biaya jasa atas konsultasi yang diberikan oleh Konsultan seperti :

a. Perencanaan Struktur

b. Perencanaan Arsitektur

c. Perencanaan Mekanikal dan Elektrikal

d. Dewatering

Konsultan perencana pada proyek Apartemen Tokyo Riverside Tower Mokkado


adalah KSO Airmas Asri – Giastama Intisemesta - Metakom Pranata - Rekagunatek
3. Hubungan Manajemen Konstruksi dengan Pemilik Proyek

Adanya ikatan kontrak dan hubungan fungsional . Pemilik Proyek memberikan


tugas kepada Konsultan Pengawas mengawasi jalannya pekerjaan konstruksi di
lapangan untuk dapat mencapai hasil yang maksimum. Konsultan Pengawas juga
akan menyampaikan perubahan-perubahan yang terjadi berkaitan dengan
pelaksanaan di lapangan . Dan Pemilik Proyek dapat membayar atau mengurangi
biaya perubahan .

Pada proyek Pelaksanaan Apartemen Tokyo Riverside tower Mokkado.


Manajemen Konstruksi (MK) dipegang oleh anak perusahaan ASG yaitu PT Mandiri
Bangun Makmur
4. Hubungan Sub-Kontraktor dengan Kontraktor
Sub-kontraktor bekerja langsung dibawah perintah kontraktor dalam sebuah
ikatan kontrak, semua subkontraktor dipilih oleh kontraktor utama. Kontraktor utama
wajib melakukan koordinasi dan pengawasan terhadap pekerjaan yang dilakukan
sub-kontraktor. Sub- Kontraktor hanya memiliki hubungan dengan Kontraktor saja
tanpa ada hubungan dengan elemen-elemen dalam proyek selain Kontraktor. Dalam
Proyek ini subkontrakor adalah PT Indopora TBK sebagai pelaksana bagian pondasi
dan tie beam dan PT. GEMABAHANA UTAMA sebagai supplier precast.

1.3.3 Hirarki Proyek

Sebelum pelaksanaan pembangunan berlangsung, gambar yang telah


diberikan kepada pihak kontraktor pelaksana Yaitu PM PT. REKAGUNATEK
PERSADA yang akan dibuat sebagai gambar kerja pelaksanaan atau gambar
rencana proyek akan diserahkan kepada Chief Engineering dan CEM akan
mengkoordinir atau mengarahkan proses implementasi perencanaan dan
pengendalian proyek agar dapat mendukung pelaksanaan proyek secara efektif
dan efisien .Selanjutnya gambar rencana tersebut akan diolah oleh Planning
Implementation (PI) yang akan bertanggung jawab terhadap penyusunan
Implementasi metode dan segala proses drawing sesuai dengan buku
perencanaan proyek dalam hal ini adalah Pak Fajar . Planning Implementation
akan berkoordinasi dengan Drafter untuk membantunya membuat gambar Shop
Drawing dalam hal ini adalah Pak Fauzi, dan juga bagian Scheduller yang akan
melakukan perencanaan dan pengendalian waktu pelaksanaan proyek, sesuai
metode kerja yang ditetapkan.

Disamping itu pula, Chief Engineering juga akan memberikan tugas


terhadap Manager Quantity Surveyor dalam hal ini adalah Pak Benyamin untuk
dapat bertanggung jawab melakukan perhitungan terhadap volume pekerjaan,
termasuk review dan analisis atas perhitungan yang dilakukan, agar proyek
tetap berjalan secara efektif dan efisien. Quantity Surveyor akan berkoordinasi
dengan bagian Building Information Modeling (BIM) untuk dapat membuat
pemodelan terhadap gambar rencana secara visual yaitu PT. GISTAMAS
INTISEMESTA .

Dari gambar Shop Drawing yang telah dibuat tersebut, akan di


assistensikan kembali kepada Chief Engineering Manager dan kemudian
CEM akan meminta persetujuan untuk dapat disahkan oleh Manajemen
Konstruksi (PT. MANDIRI BANGUN MAKMUR ). Setelah mendapatkan
persetujuan dari MK, gambar Shop Drawing tersebut diserahkan kepada
Project Production Manager, untuk dapat bertanggung jawab dalam
pelaksanaan dilapangan mulai dari membuat rencana kebutuhan manpower,
mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan pekerjaan dilapangan,
mengidentifikasi kebutuhan alat dan bahan, maupun menyusun metode kerja
yang lengkap beserta analisa resiko terhadap pekerjaan dilapangan. PPM
sendiri akan memberikan tugas terhadap Supervisor untuk dapat melakukan
pengawasan maupun pengendalian terhadap pelaksanaan pekerjaan
dilapangan, dan juga bersama dengan Surveyor yang akan melakukan
pekerjaan-pekerjaan survey pengukuran meliputi pengukuran As bangunan,
maupun elevasi bangunan. Supervisor dan Surveyor akan membuat laporan
dari hasil pekerjaan yang telah dilakukan dilapangan, dan akan memberikan
hasil laporan tersebut kepada PPM.
1.3.4 Bentuk Koordinasi antar bagian pada struktur orghanisasi proyek

 Sebelum Pengerjaan dilapangan


Sebelum melaksanakan pekerjaan di lapangan, diadakan dahulu rapat
untuk membahas rencana implementasi dari gambar Shop Drawing yang
sebelumnya sudah mendapatkan cap master oleh Manajemen Konstruksi (PT .
MANDIRI BANGUN MAKMUR). Dari gambar Shop Drawing tersebut,
Project Production Manager akan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
produksi dilapangan meliputi laporan rencana kerja produksi harian, laporan
rencana kebutuhan manpower atau pekerja, kebutuhan material, kebutuhan
peralatan yang dibutuhkan maupun metode kerja dalam pelaksanaan pekerjaan
secara periodik. Untuk dapat mengendalikan ataupun mengawasi pekerjaan
dilapangan, PPM akan menunjuk Supervisor yang akan mengawasi
pelaksanaan pekerjaan dan juga Surveyor yang akan melakukan perhitungan
elevasi bangunan. Dalam hal penyediaan kebutuhan diproyek tersebut, Project
Procurement akan membuat jadwal proses pengadaan bahan sampai dengan
evaluasi harga dan akan menyediakan bahan sesuai permintaan pelaksana
dengan jadwal pekerjaan yang ada. Project Procurement Manager juga akan
dibantu oleh bagian Cost Control, yang akan memastikan berjalannya proyek
sesuai rencana schedule dan biaya sesuai tahapan aktivitas dan juga Cost
Engineer yang akan melakukan pengawasan kualitas yang ditemukan
dilapangan.
Dari hasil laporan tersebut akan diidentifikasikan oleh Project Finance
Manager (PFM), dan akan melakukan penyusunan laporan keuangan proyek.
Project Finance Manager juga akan membuat laporan pengalokasian dana
setiap pelaksanaan pekerjaan diproyek dan juga melakukan proses Termyn
proyek apabila ada tambahan kebutuhan material dilapangan. Project Finance
Manager memiliki beberapa bagian tim yang akan membantu dalam hal
pelaporan keuangan proyek serta kesekretarian dan rumah tangga proyek.
 Pengerjaan Pembesian di lapangan
Pada pengerjaan pembesian, Project Production Manager yaitu Pak David
akan memberikan tugas kepada mandor besi yaitu (PT. REKAGUNATEK),
yang akan membuat pengerjaan pembesian dilapangan. PPM memberikan
arahan agar pembesian yang akan dikerjakan sesuai dengan gambar Shop
Drawing yang telah direncanakan. Selanjutnya Project Production Manager
akan memberikan tugas kepada Supervisor yang akan berkoordinasi dengan
mandor pembesian agar mandor pembesian dapat mempersiapkan lahan untuk
lantai pekerjaan . Setelah persiapan lahan selesai , Supervisor akan
memberikan laporan kepada PPM bahwa persiapan lantai kerja untuk
pembesian sudah selesai.
Pada pengerjaan pembesian yang membutuhkan alat berat Tower Crane
(PT. BIMANTARA CITRA) untuk diangkat keatas seperti pembesian kolomD
dan corewall, mandor akan berkoordinasi dengan operator Tower Crane untuk
membantu mengangkat pembesian yang sudah dikerjakan dibawah. Pada saat
mengangkat pembesian, faktor keamanan dan beban yang akan diangkat sudah
diperhitungkan sebelumnya oleh QHSE dalam hal ini adalah Pak Muhlis untuk
menentukan level resiko K3 dilapangan. Setelah lantai kerja sudah selesai,
bagian Surveyor akan bertugas memeriksa kembali pengukuran elevasi ,
penentuan as bangunan dan pekerjaan marking lainnya.

Setelah Surveyor selesai memeriksa pengukuran elevasi dan marking


yaitu. Supervisor atau Pelaksana di lapangan akan melaporkan kepada Project
Production Manager agar pembesian dapat dicheck kembali. PPM akan
memberikan laporan kepada Quality Control dapat melakukan checklist
terhadap mutu ataupun spesifikasi pembesian apakah sudah sesuai dengan yang
direncanakan. Apabila terdapat kekurangan pada saat dilakukan pengecekan,
Quality Control akan langsung memanggil mandor dan akan memberikan
catatan, agar esok hari dapat dikerjakan perbaikan tersebut.

Selanjutnya Quality Control akan menghubungi Konsultan Manajemen


Konstruksi, agar dapat melakukan checklist bersama terhadap pengerjaan
pembesian di lapangan. MK sendiri juga akan melakukan pengawasan
secara berkala serta memberikan pengarahan apabila terdapat kesulitan dalam
pelaksanaan .
 Pengerjaan Bekisting di lapangan
Setelah pembesian selesai, disamping itu sebelumnya Project Production
Manager sudah memberikan arahan kepada mandor Perancah untuk dapat
memimpin pekerjaan bagian bekisting agar para pekerja dapat menyiapkan
bekisting yang sesuai dengan item pembesian yang telah dirancang.
Selanjutnya Supervisor akan melaporkan hasil nya kepada PPM untuk di
evaluasi. Sama hal nya dengan pengerjaan pembesian, pengerjaan bekisting
juga membutuhkan pengakatan dengan Tower Crane, mandor akan
berkoordinasi dengan operator Tower Crane untuk membantunya mengangkat
bekisting yang telah dibuat, dan bekisting tersebut akan langsung dipasang
dibantu oleh pekerja dilapangan.

Ketika bekisting sudah terpasang sesuai dengan pembesian yang telah


dirancang, bagian Surveyor akan bertugas kembali untuk melakukan
pengecekan apakah sudah sesuai dengan garis marking dan melakukan
pengecekan vertikalitinya menggunakan bandul. Setelah pengecekan selesai,
Supervisor akan berkoordinasi kepada PPM agar dapat dilakukan pengecekan
kembali oleh Quality Control. Proses checklist akan dilakukan kembali oleh
Quality Control agar pasangan bekisting sudah sesuai dengan garis marking
dan vertikalitinya. Jika Quality Control tidak mengijinkan , maka pengerjaan
selajutnya harus ditunda.

 Pengerjaan Pengecoran di lapangan


Setelah pembesian dan pemasangan bekisting semuanya telah selesai,
Project Production Manager akan membuat laporan hasil pengerjaan dan PPM
akan berkoordinasi dengan Project Procurement untuk mempersiapkan jadwal
Beton Ready Mix datang dan juga akan berkoordinasi dengan bagian QHSE
untuk memastikan bahwa proses perjalanan truck beton ready mix dan tetap
bertanggung jawab terhadap K3-Lingkungan, misalnya seperti memastikan
bahwa pengendalian dan pengaturan lalu lintas disekitar proyek tetap aman,
melakukan monitoring apakah jalur melintas di proyek tidak licin. Saat jadwal
untuk pengecoran sudah diberikan, Supervisor atau Pelaksana dilapangan akan
memastikan dan mengawasi para pekerja bagian pengecoran untuk melakukan
pembersihan area pengecoran terlebih dahulu. Saat Truck Beton Ready Mix
sudah di proyek, Supervisor dan Quality Control akan melakukan Uji Slump
bersama-sama. Beton Ready Mix akan dituangkan kedalam tabung cilinder
untuk diambil sampel nya agar dapat uji kembali kuat tekan dari beton ready
mix tersebut. Quality Control akan tetap menjaga kualitas mutu sesuai dengan
spesifikasi yang direncanakan. Pengecoran sendiri akan di diawasi oleh
Supervisor dan juga Surveyor untuk tetap menjaga vertikaliti misalnya tiba-
tiba miring.
 Laporan Supervisor / Pelaksana
Pelaksana akan berkoordinasi kepada atasan untuk melaporkan setiap
proges pekerjaan yang telah di selesaikan dipoyek dan kemudian bersama sama
melakukan evaluasi kembali untuk melakukan pekerjaan berikutnya agar lebih
efektif dan sesuai dengan segala perencanaan yang telah di direncanakan.

 Pengerjaan Precast
Pada proyek pembangunan apartment Tokyo Riverside menggunakan
metode dinding dan balok precast. Proses pengerjaan nya di awali dengan meeting
Bersama direksi dan Owner dalam hal ini adalah MK. Pihak kontraktor diwakili oleh
CEM dan Engineering Bagian untuk dapat mendesign balok dan dinding precast,
Kemudian CEM akan memberikan Shop drawing kepada PT. GEMABAHANA
UTAMA untuk dapat melakukan pengerjaan precast. Kemudian dilakukan marking
balok untuk menentukan posisi pemasangan balok yang dilakukan oleh Surveyor.
Setelah marking selesai dilakukan Instalasi precast yang diawasi selaku engineering
bagian precast. Setelah Terinstal dilakukan pengecekan oleh Quantity Control
sebelum dibuat laporan serah terima proses pengerjaan.

Gambar : alur tanggung jawab produsen precast


Sumber : Dokumentasi Proyek

 Proses Pengupahan tenaga kerja lapangan (kuli)


Proses pengupahan dilakukan secara harian kepada tenaga-tenaga kerja
lepas seperti: pembesian,mechanical,electrical dan plumbing. Prosesnya
adalah melalui mandor-mandor dari sub-contractor dan bekerja sama
dengan bagian QC untuk memonitor apakah benar sudah terlaksanakan
pekerjaan para tukang dan diserahkan kepada bagian keuagngan dalam
hal kepada bagian General Affair bagian finance ( PT REKAGUNATEK) .

 Proses penyaluran logistic

Penyaluran logistic pembanguna proyek dilakukan selama 24 jam . Alurnya


adalah bahan-bahan precast seperti balok ,kolom dan tangga akan
disalurkan melalu bagian warehouse plant dibawa oleh tim logistic (supir)
dengan membawa surat jalan. Setelah sampai kelokasi supir akan
berkoordinasi dengan security dan security akan melaporkan kepada
Supervisor produksi untuk mengecek apakah bahan yang diantar sesuai
atau tidak.Kemudian SPV akan berkoordinasi dengan bagian Operator TC
untuk memindahkan bahan ke tempat yang telah ditentukan.

 Proses perekrutan tenaga kerja harian (tukang-tukang)

Prekrutan dilakukan oleh penanggung jawa bagian-bagian seperti


ME,Plumbing,dan Besi. Alurnya adalah melalui bagian HRD dalam hal ini
adala General Affair yang akan menyerahkan jumlah kebutuhan tenaga
kerja kepada Mandor – mandor Sub. Cont . Kemudian Mandor sub cont
akan berkoordinasi dengan warga-warga sekitar atau kenalan pada proyek
sebelumnya.

1.4 Administrasi dokumen Proyek

1.4.1 Sistem Kontrak (Design Build )


Rancang Bangun atau Design and Build merupakan kontrak konstruksi
pekerjaan yang berhubungan dengan pembangunan suatu bangunan dimana
Penyedianya memiliki satu kesatuan tanggung jawab perancangan dan pelaksanaan
konstruksi.Rancang Bangun ini berbeda dengan metode konvensional dimana
Pengguna Jasa tidak perlu menyiapkan Detail Engineering Design
(DED), melainkan hanya menyiapkan basic design saja. Hal yang menarik lainnya
adalah masa pengadaan (procurement stages) yang dibutuhkan Pengguna Jasa lebih
pendek dan pararel. BPK juga melihat bahwa kelebihan Rancang Bangun dapat
memotong jalur birokrasi dan komunikasi antara perencana dan pelaksana, sehingga
menghemat waktu dan biaya pada praktiknya. Tentu saja hal ini memberikan value
add bagi pengguna jasa dalam perencanaan pengadaan barang dan jasa secara
ekonomis, efektif, dan efisien. Dalam Proyek pembangunan Apartemen Tokyo
riverside antara PT Bangun Makmur Mandiri selaku pemberi tugas dengan PT
Rekagunatek Persada selaku penerima tugas jenis kontrak yang digunakan adalah
jenis Design and Build .
1.4.2 Proses Pelelangan
Pelelangan merupakan serangkaian kegiatan untuk menyediakan barang/jasa dengan
cara menciptakan persaingan yang sehat diantara penyedia barang/jasa yang setara dan
memenuhi persyaratan, berdasarkan metode dan tata cara tertentu yang telah ditetapkan
dan diikuti oleh pihak-pihak yang terkait secara taat asas sehingga terpilih penyedia
terbaik (Ervianto, 2005). Pelelangan dapat dilakukan secara umum/terbuka, terbatas,
tertutup, dan pemilihan/penunjukan langsung.
Sistem pelelangan pada proyek apartemen Tokyo riverside tower mokkado adalah
penunjukan langsung, PT Mandiri Bangun Makmur selaku owner menunjuk langsung
kepada PT Rekagunatek Persada sebagai kontraktor utama. Pelelangan ini berlangsung
sejalan dengan progress pembangunan.
1.4.3 Proses Pembayaran
Proses pembayaran merupakan hal penting dalam sebuah proyek karena berkaitan
dengan pekerjaan. Secara umum proses pembayaran terbagi menjadi dua yaitu :
turn key dan system termin . Sistem turn key adalah metode pembayaran dengan
cara menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu. Sedangkan Termin , adalah metode
pembayaran dengan system progress pekerjaan. Pada proyek ini digunakan system
monthly progress yaitu dengan meminta pembayaran setiap bulannya sesuai
dengan progress yang telah dikerjakan . Berikut contoh dokumen Monthly
progress 5 PT Rekagunatek ;
1.4.4 Dokumen Lelang
Dokumen Lelang Adalah dokumen yang dipergunakan peserta lelang sebagai acuan
untuk mengajukan penawaran harga lelalng. Dokumen lelang terdiri atas:
1.Gambar Lelang
2.Spesifikasi Teknis
3.Spesifikasi Umum
4.Bill Of Quantity
5.Berita Acara Rapat Penjelasan Lelang (Aanwijzing)
6.Addendum Dokumen Lelang (Bilamana ada)
7.Berita Acara Rapat Klarifikasi/Negosiasi
a. Gambar Lelang
Gambar design konsultan perencana yang dipakai sebagai acuan didalam
proses pelelangan untuk pengajuan penawaran harga. Gambar lelang umumnya sesuai
dengan paket pekerjaan yang dilelangkan, adapun gambar yang lazim adalah gambar
struktur, gambar arsitektur, dan gambar mekanikal/elektrikal/plumbing, landscape dan
lain-lain, tergantung jenis paket pekerjaan yang dilelangkan.
b. Spesifikasi Teknis
Dokumen produk konsultan perencana yang memuat ketentuan-ketentuan mengenai
jenis material, metode pengerjaan, syarat-syarat yang dipergunakan dalam
pelaksanaan pekerjaan dan peraturan-peraturan bahan yang digunakan.
c. Spesifikasi Umum
Dokumen produk konsultan perencana /QS yang memuat batasan, pengertian,
peristilahan yang digunakan, hak, kewajiban, tanggung jawab, sanksi, penyelesaian
perselisihan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam pelaksanaan
kontrak bagi para pihak (pihak penerima tugas dan pemberi tugas).
d. Bill Of Quantity
Uraian singkat pekerjaan yang akan dilaksanakan yang biasanya berupa tabel yang
berisi item pekerjaan, suatu pekerjaan, volume/quantitas, harga satuan dan total harga
termasuk perhitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan pajak lain yang berlaku.
e. Berita Acara Rapat Penjelasan Lelang (BA-Aanwijzing).
Notulen rapat yang berisi penjelasan-penjelasan administrasi/teknis dan
ditandatangani bersama antara Panitia Pelelangan, Konsultan Perencana, Konsultan
QS, Pemilik Proyek, dan Wakil-Wakil Peserta Lelang. Ada beberapa hal utama dalam
Rapat Penjelasan Lelang (RPL) yang harus dijelaskan kepada peserta lelang, yaitu:
Aspek administrasi, aspek-aspek utama yang perlu dijelaskan antara lain:
 Metode pelelangan
 Cara penyampaian surat penawaran
 Dokumen-dokumen yang harus dilampirkan dalam dokumen penawaran
 Undangan acara pembukaan dokumen penawaran
 Metode evaluasi
 Hal-hal yang menggugurkan penawaran
 Sistem kontrak yang digunakan
 Ketentuan dengan cara subkontrak sebagai pekerjaan
 Besaran dan masa berlaku jaminan penawaran

Aspek teknis, hal-hal utama yang perlu dijelaskan antara lain:

 Penjelasan terhadap lingkup dan jenis pekerjaan

 Penjelasan gambar-gambar terutama yang terkait dengan paket pekerjaan yang


lain

1. Peninjauan lapangan

Kegiatan peninjaun lokasi proyek dan penjelasan serta informasi penting yang
berkaitan dengan lokasi royek.

2. Dokumen tambahan/Addenda

Penjelasan-penjelasan atau perubahan serta perbaikan dari dokumen lelang,


baik secara tertulis maupun dalam bentuk gambar dan bersifat mengikat dalam
pelaksanaan dalam pelaksanaan pekerjaan nantinya.

f. Addendum Dokumen Lelang (Bilamana ada)


Dokumen perubahan terhadap gambar lelang, spesifikasi teknis, spesifikasi umum,
dan Bill Of Quantity yang sudah diserahkan kepada peserta lelang pada saat
pengambilan dokumen lelang.
Macam-macam addendum

- Addendum Tambah Kurang

Addendum tambah kurang sering disebut sebagai addendum perubahan


lingkup pekerjaan (contract change order). Biasanya, addendum jenis ini
digunakan karena beberapa kondisi yang berbeda.
Misalnya, addendum perubahan nilai kontrak. Atau addendum nilai kontrak
tetap, tapi sasaran berubah. Ada lagi addendum nilai kontrak berubah, target
bertambah. Nah, penambahan atau pengurangan unit perjanjian ini harus
mengacu pada perjanjian awalnya.

-  Addendum Waktu

Biasanya addendum ini muncul karena ada perubahan dalam jangka waktu
perjanjian. Misalnya, karena ada masa pandemic yang tidak produktif, maka
masa sewa sebuah TC diubah. Jika awalnya masa sewa hanya setahun, namun
penyewa tak memperoleh hasil yang memuaskan, maka pemilik dan penyewa
sepakat untuk membuat addendum perpanjang masa sewaTC , namun nilai
kontrak tetap.

- Addendum Harga

Addendum harga adalah perubahan unit harga dalam perjanjian karena adanya
inflasi, atau perubahan yang signifikan. Biasanya addendum jenis ini muncul
dalam masa perjanjian yang panjang, atau kontrak terkait produk yang
memiliki nilai fluktuatif.

g. Berita Acara Rapat Klarifikasi/Negoisasi

Berisi kesepakatan-kesepakatan baik dari aspek administrasi, teknis/lingkup


pekerjaan, biaya, dan waktu penyelesaian.

1.4.5 Dokumen Kontrak


Berbeda dengan dokumen lelang, dokumen kontrak didapatkan dari hasil agenda
lelang sebagai perikatan kontrak antara Owner dengan Kontraktor Pelaksana
Pekerjaan. Namun, jika ada yang perlu ditambahkan, Kontraktor Pelaksana berhak
berkoordinasi dengan Konsultan Perencana.
Dokumen kontak meliputi: Seluruh dokumen lelang, Surat perintah kerja dan
Surat perjanjian kontrak yang disahkan menjadi dokumen kontrak.

 SPK (Surat Perintah Kerja)


Adalah surat perintah kerja yang diberikan oleh Pemilik Proyek/Owner kepada
kontraktor pemenang lelang untuk melaksanakan pekerjaan. Pemenang lelang
membutuhkan tanda tangannya pada SPK tersebut sebagai persetujuan sanggup
melaksanakan perintah tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pada garis
besarnya SPK berisi:

 Tugas dan lingkup pekerjaan

 Tanggal mulai dan berakhirnya pekerjaan

 Harga borongan pekerjaan

 Cara pembayaran Catatan : “Pasal-pasal lain yang dituangkan


dalam Surat Perjanjian Pemborongan”

Gambar : Dokumen Kontrak SP3

Sumber : Dokumentasi Pribadi


1.4.6 Dokumen Lapangan
Dokumen Lapangan adalah seluruh dokumen yang dibuat selama pelaksanaan
pekerjaan dilapangan yang meliputi:
1.Shop drawing / gambar detail pelaksanaan
2.Approval / persetujuan material
3.Metode pelaksanaan
4.Change / variation order (Pekerjaan Perubahan)
5.Master Schedule
6.Program K-3
7.As Build Drawing
8.Construction Drawing

Dengan penjelasan sebagai berikut :


1. Shop Drawing/Gambar Detail Pelaksanaan

Adalah gambar detail pelaksanaan yang harus dibuat oleh kontraktor sebelum
melaksanakan setiap bagian konstruksi tertentu dari gambar kontrak/construction
drawing dan bersifat tidak menimbulkan dampak perubahan biaya.

2. Approval/Persetujuan Material

Adalah surat persetujuan yang ditandatangani oleh Konsultan Pengawas/CM dan


diketahui oleh Konslultan Perencana serat Pemilik Proyek atas material yang
diusulkan oleh kontraktor sebelum dilaksanakan pemesanan/pengadaannya sesuai
dengan spesifikasi teknis yang telah ditentukan.

3. Metode Pelaksanaan
Adalah uraian rencana kerja yang dibuat oleh kontraktor pelaksana.
4. Change/Variation Order

Adalah pekerjaan perubahan yang diakibatkan adanya perubahan CM yang telah


disetujui oleh CM dan pemberi tugas yang dilaksanakan oleh kontraktor sebagai
pekerjaan tambah/kurang.

5. Master Schedule dan Kurva-S


Adalah grafik hubungan antara waktu dan bobot pekerjaan yang berfungsi untuk
untuk memonitor kemajuan pekerjaan.

6. Program K-3
Adalah peraturan yang bertujuan untuk menjamin terjadinya kesehatan dan
keselamatan kerja bagi pekerja selama berlangsungnya proyek.
7. As Built Drawing
Adalah gambar yang dibuat sesuai dengan pekerjaan yang telah dilaksanakan
dilapangan.
8. Construction Drawing
Adalah gambar produk konsultan perencana pada fase setelah pelelangan yang
berstatus sebagai gambar penjelasan atau gambar perubahan terhadap gambar
lelang/gambar kontrak.

1.5 S-Curve/kurva S
Kurva S sendiri adalah sebuah jadwal pelaksanaan pekerjaan yang disajikan
dalam bentuk grafis yang dapat memberikan bermacam ukuran kemajuan pekerjaan
pada sumbu tegak dikaitkan dengan satuan waktu pada sumbu mendatar.

Kurva S ini dapat dipakai untuk pengujian ekonomi dan mengatur


pembebanan sumber daya serta alokasinya, menguji perpaduan kegiatan terhadap
rencana kerja, pembandingan kinerja aktual target rencana atau anggaran biaya
untuk keperluan evaluasi dan analisis penyimpangan. Kriteria kemajuan pekerjaan
ditampilkan dalam bentuk persentase kumulatif bobot prestasi pelaksanaan atau
produksi, nilai uang yang dibelanjakan, jumlah kuantitas atau volume pekerjaan,
kebutuhan berbagai sumber daya dan masih banyak lagi ukuran lainnya.
Penyebab membentuk huruf S di dalam kurva S dikarenakan kegiatan proyek
berlangsung sebagai berikut:
1. Kemajuan pada awalnya bergerak lambat
2. Diikuti oleh kegiatan yang bergerak cepat dalam kurun waktu yang lebih lama.
3. Akhirnya kecepatan kemajuan menurun dan berhenti pada titik akhir. 
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, Kurva S yang baik adalah pelan disaat
awal pekerjaan kemudian cepat di tengah dan santai lagi di akhir jadwal.

Ada beberapa manfaat dari Kurva-S yang dapat diaplikasikan di proyek, yaitu:
Sebagai alat yang dapat membuat prediksi atau forecast penyelesaian proyek
1. Sebagai alat untuk mereview dan membuat program kerja pelaksanaan proyek
dalam satuan waktu mingguan atau bulanan. Biasanya untuk melakukan percepatan
2. Sebagai dasar perhitungan eskalasi proyek
3. Sebagai alat bantu dalam menghitung cash flow
4. Untuk mengetahui perkembangan program percepatan
5. Untuk dasar evaluasi kebijakan manajerial secara makro
Proses Pembuatan S – Curve
 Memiliki denah proyek atau bangunan
Gambar denah bangunan atau Shopdrawing yang sebelumnya disediakan oleh
Pemilik Proyek dan setujui oleh Manajemen Kontruksi akan dipelajari oleh
Quantity Surveyor (QS) yang bertujuan untuk mengetahui item-item pekerjaan
apa saja yang akan dikerjakan beserta tahapannya. QS akan menentukan metode
apa yang tepat dan efisien untuk digunakan dalam pekerjaan tersebut
 Mengetahui lama waktu pelaksanaan proyek dari start hingga finish sesuai
dengan kontrak atau keinginan owner
 Menyesuaikan spesifikasi atau mutu yang akan digunakan bangunan
 Menentukan / menguraikan jenis pekerjaan dengan ketentuan dalam RKS
(Rencana Kerja dan Syarat-syarat)

 Menghitung Volume Satuan Pekerjaan, dengan pedoman AHS-SNI atau analisa


harga satuan pekerjaan
Analisa perhitungan ini dilakukan untuk mendapatkan kebutuhan biaya harga
satuan upah, bahan, material, dan sewa alat berat per satuan volume pekerjaan.
AHSP sendiri berisi uraian hasil kali koefisien dengan harga satuan. Dari hasil
tersebut dijumlah dan menjadi harga satuan. Untuk nilai Koefisien diatur dalam
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia
Nomor 28/PRT/M/2016 tentang Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan
Bidang Pekerjaan Umum dan untuk Harga Satuan Pekerjaan dan Bahan
tergantung dari Peraturan Gubernur dari tiap daerah
 Merencanakan RAB dari masing-masing item pekerjaan dengan Rumus (Volume
Satuan Pekerjaan(m3) x AHS-SNI= …………(Rp/m3
 Menentukan durasi satuan tiap item pekerjaan, dengan metode CPM (Critical
Path Metode)untuk mengetahui durasi lama keseluruhan dari proyek dari start
hingga finish. durasi setiap item pekerjaan dalam satuan hari, minggu, atau bulan.
 Menentukan parameter – parameter dalam Bar-Chart
a. Item Pekerjaan, telah ditentukan terlebih dahulu pada tahap sebelumnya

b. Bobot item pekerjaan, untuk setiap item pekerjaan ditentukan bobotnya denga
cara berikut:

Harga Satuan Pekerjaan


x 100 % = ……. %
Harga Total Pekerjaan

 Menghitung bobot masing – masing pekerjaan

menghitung bobot (persentase), dari masing masing kegiatan tersebut,


yaitu perbandingan antara biaya masing-masing item pekerjaan tersebut
terhadap biaya total.
 Menghitung bobot item pekerjaan (durasi pekerjaan)
Bobot Pekerjaan
Bobot Item =
Durasi
 Mendistribusikan bobot kegiatan tersebut (secara merata), yaitu dengan
membagi bobot dengan durasi masing-masing item pekerjaan tersebut, sehingga
diperoleh bobot persatuan waktu.
 Menentukan jadwal (waktu penyelesaian) dari masing masing item pekerjaan
tersebut
 Pada Rencana Kumulatif yang nantinya akan menjadi series/value adalah total
rencana bobot per minggu ini di + dengan minggu lalu hingga mendapat nilai
100% pada minggu terakhir.
 Untuk kolom realisasi biasanya pengisianya dengan realisasi progress fisik
mingguan pekerjaan
 Menjumlahkan bobot kegiatan yang terdistribusi tersebut secara kumulatif
untuk setiap satuan waktu, yaitu dari waktu permulaan proyek sampai
dengan waktu penyelesaian proyek, secara berurutan hiingga mencapai
100%
 Menuliskan nilai hasil penjumlahan tersebut pada bagian bawah diagram
batang.
 Plot titik titik pada diagram batang sesuai dengan nilai hasil penjumlahan
untuk masing masing waktunya.
 Menghubungkan titik titik yang sudah diplot tersebut maka diperoleh
kurva S.
Durasi yang telah ditentukan sebelumnya dalam satuan waktu merupakan
sumbu horizontal dan bobot kumulatif merupakan sumbu vertical, sehingga kurva-
S dapat digambarkan atau diplot dalam Bar-Chart tersebut. Biasanya pada kurva-S
membentuk awalan yang relative landai dan semakin curam saat mendekati 100%.

1.6 Contoh pembuatan S-Curve


Suatu pekerjaan struktur bangunan apartemen dari lantai 24-25 dengan rincian sebagai
berikut :
Menghitung RAB Pekerjaan

RENCANA ANGGARA BIAYA        


PEKERJAAN STRUKTUR BANGUNAN LANTAI 24  
PROYEK APARTEMEN TOKYO RIVERSIDE  
   
N VOLUM SATUA HARGA
O URAIAAN PEKERJAAN E N SATUAN JUMLAH
I Pekerjaan Kolom        

  Kolom beton K1 uk. 80x80 cm 1.918 M3 17.262.000


9.000.000,00
  Kolom beton K2 uk. 40x40 cm 0,48 M3 2.160.000
4.500.000,00
  jumlah 19.422.000
II Pekerjaan Balok precast  
Balok beton K1 uk. 50x50 cm 0.14 M3 9.800.000
  7.000.000,00
Balok beton K2 uk. 35x35 cm 0,12 M3 5.400.000
  4.500.000,00
  jumlah 15.200.000
III Pekerjaan Shear wall  
Shear Wall type 1 5 M3 75.000.000
  15.000.000,00
Shear Wall type 2 2 M3 15.000.000
  7.500.000,00
  jumlah 90.000.000
IV Pekerjaan lantai  
slab beton lantai uk 4,3x8,7x0,2 m 2,7 M3 8.100.000
  3.000.000,00
slab beton lantai uk 2,75x8,7x0,2 m 2 M3 5.000.000
  2.500.000,00
  jumlah 13.100.000
  Pekerjaan Tangga darurat  
1 Tangga darurat 6,25 M3 18.750.000
  3.000.000,00
  jumlah 18.750.000
           

ANALISA HARGA SATUAN

A. 4.1.1.22 Pemasangan 1 kolom ukuran 80cmx80cmx3m    


No. Uraian Kode Satuan Koeefisien Harga Jumlah Harga
Satuan
A TENAGA          
  Pekerja L.01 OH 0,660 70.000,00 46.200,00
  Tukang kayu L.02 OH 0,330 80.000,00 26.400,00
  Kepala Tukang L.03 OH 0,033 90.000,00 2.970,00
  Mandor L.04 OH 0,033 80.000,00 2.640,00
Jumlah Tenaga Kerja 78.210,00
B BAHAN          
  Kayu Klas III   m3 0,040 2.500.000,00 100.000,00
  Paku 5 - 10 cm   kg 0,400 15.000,00 6.000,00
  Minyak Bekesting   liter 0,200 10.000,00 2.000,00
  Balok Kayu Klas II   m3 0,015 3.000.000,00 45.000,00
  Plywood tebal 9 mm   Lbr 0,350 140.000,00 49.000,00
  Dolken kayu ᴓ 8 - 10 cm   Batan 198 7.560,00 1.500.000
- panjang 4 m g
Beton f’c 40 MPa m3 1,92 5.000.000 9.600.000
Baja BJTS 420 m 40 150.000 5.960.000

HARGA BAHAN 14.672.000

C Jumlah overhead+profit 15%xB 2.589.300


(15%)
JUMLAH HARGA BAHAN 17.262.000

A. 4.1.1.23 Pemasangan 1 balok    


No. Uraian Kode Satuan Koeefisien Harga Jumlah Harga
Satuan
A TENAGA          
  Pekerja L.01 OH 0,660 70.000,00 46.200,00
  Tukang bekisting L.02 OH 0,330 80.000,00 26.400,00
  Kepala Tukang L.03 OH 0,033 90.000,00 2.970,00
  Mandor L.04 OH 0,033 80.000,00 2.640,00
Jumlah Tenaga Kerja 78.210,00
B BAHAN PRE CAST          
  Beton fc’ 40   M3 0,14 7.000.0000 8.000.000
  BJTS 420   M3 30 150.000 1.600.000

Harga Bahan 8.177.850

C Jumlah over head + 15%xB 1.443.150


profit (15%)
Jumlah Harga Bahan 9.621.000

A. 4.1.1.24 Pemasangan 1m2 untuk Plat lantai    


4,3x8,7x0,12 m
No. Uraian Kode Satuan Koeefisien Harga Jumlah Harga
Satuan
A TENAGA          
  Pekerja L.01 OH 0,660 70.000,00 46.200,00
  Tukang kayu L.02 OH 0,330 80.000,00 26.400,00
  Kepala Tukang L.03 OH 0,033 90.000,00 2.970,00
  Mandor L.04 OH 0,033 80.000,00 2.640,00
Jumlah Tenaga Kerja 78.210,00
B BAHAN          
  Plat lantai tebal 12 mm   Lbr 30,53 140.000,00 1.920.000
  Beton fc’ 40   Batan 6,000 7.560,00 6.000.000
Agregat halus dan kasar g
Harga Bahan 7.000.000

C Jumlah over head + 15%Xb 1.218.150


profit (15%)
Jumlah Harga Bahan 8.121.000
A. 4.1.1.25 Pemasangan 1 buah Tangga precast
No. Uraian Kode Satuan Koeefisien Harga Jumlah Harga
Satuan
A TENAGA          
  Pekerja L.01 OH 0,660 70.000,00 46.200,00
  Tukang bekisting L.02 OH 0,330 80.000,00 26.400,00
  Kepala Tukang L.03 OH 0,033 90.000,00 2.970,00
  Mandor L.04 OH 0,033 80.000,00 2.640,00
Jumlah Tenaga Kerja 78.210,00
B BAHAN          
  Beton fc’ 40   M3 6,25 1.440.000 9.000.000
Agregat halus dan kasar
BJTS 420 M 51 150.000 7.750.000

Bordes M2 2.000.000

Harga Bahan 15.937.500

C Jumlah over head + 15%Xb 2.812.500


profit (15%)

Jumlah Harga Bahan 18.750.000

Perhitungan Kebutuhan Jumlah Pekerja


KEGIATAN AKTIVITAS ANALISA WAKTU
A Pekerjaan Persiapan B 2
B Pekerjaan Kolom C, D 4
C Pekerjaan Balok E 4
D Pekerjaan Tangga E 4
E Pekerjaan Shearwall F 2
F Pekerjaan Lantai - 4

6 6
C

0 0 0 2 2 6 12 16 16 20
STARTR A B E F

6 10
D

A. Jumlah pekerja
Faktor pertama yang dibutuhkan untuk dapat mengerjakan item pekerjaan tiap
m3 sesuai waktu yang ditentukan.
Sebagai Contoh untuk pengerjaan Bekisting kolom C11 :
Dengan Nilai koefisien yang di gunakan :
No. Uraian Kode Satuan Koeefisie
n
A TENAGA      
  Pekerja L.01 OH 0,660
  Tukang kayu L.02 OH 0,330
  Kepala Tukang L.03 OH 0,033
  Mandor L.04 OH 0,033

Jadi, total koefisien tenaga kerja adalah 1,056 OH. Artinya, untuk mengerjakan
bekisting kolom membutuhkan 1,056 pekerja/hari.
Jika volume bekisting kolom C11 (0,8x0,8x3)x28 = 105,6 m2, maka
kebutuhan pekerja untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut adalah:
Volume pekerjaan x Indeks Upah(OH )
Jumlah pekerja =
Durasi (Day)
105 ,6 x 1, 056
Jumlah pekerja = =3,98 = 4 orang/hari atau dalam kata lain
28 days
membutuhkan 4 orang pekerja untuk mengerjakan 55 kolom dengar ukuran 80 cm x 80
cm.

pengerjaan balok membutuhkan 1,056 pekerja/hari.


Jika volume balok C11 (0,5x0,5x8,7)x105 = 228,375 m2, maka kebutuhan
pekerja untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut adalah:
Volume pekerjaan x Indeks Upah(OH )
Jumlah pekerja =
Durasi (Day)
228,375 x 1 ,056
Jumlah pekerja = =8,6 = 9 orang/hari atau dalam kata lain
28 days
membutuhkan 9 orang pekerja untuk mengerjakan 105 balok dengar ukuran 50 cm x 50
cm.

pengerjaan shear wall membutuhkan 1,056 pekerja/hari.


Jika volume shear wall C11 (3x4.7x3)x5 = 211,5 m2, maka kebutuhan pekerja
untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut adalah:
Volume pekerjaan x Indeks Upah(OH )
Jumlah pekerja =
Durasi (Day)
211,5 x 1 , 056
Jumlah pekerja = =15,9 = 16 orang/hari atau dalam kata lain
14 days
membutuhkan 16 orang pekerja untuk mengerjakan 5 buah shear wall dengar ukuran
3m x 4,7 x 3 m.

pengerjaan tangga darurat membutuhkan 1,056 pekerja/hari.


Jika volume tangga darurat C11 6,25x5 = 31,25 m2, maka kebutuhan pekerja
untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut adalah:
Volume pekerjaan x Indeks Upah(OH )
Jumlah pekerja =
Durasi (Day)
31,25 x 1, 056
Jumlah pekerja = =1,17 = 2 orang/hari atau dalam kata lain
28 days
membutuhkan 2 orang pekerja untuk mengerjakan 5 buah tangga darurat .

pengerjaan slab lantai membutuhkan 1,056 pekerja/hari.


Jika volume slab lantai C11 (4,3x8,7x0,2)x50 = 374,1 m2, maka kebutuhan
pekerja untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut adalah:
Volume pekerjaan x Indeks Upah(OH )
Jumlah pekerja =
Durasi (Day)
374,1 x 1 , 056
Jumlah pekerja = =14,1 = 15 orang/hari atau dalam kata lain
28 days
membutuhkan 15 orang pekerja untuk mengerjakan 50 buah slab lantai.

Jadi total pekerja dalam 1 lantai adalah 46 pekerja dalam waktu 20 minggu/5 bulan
Gambar kurva S tower 8 apartemen Tokyo riverside
BAB II
PERALATAN DAN MATERIAL
2.1 Uraian Umum

Peningkatan pembangunan proyek konstruksi Indonesia dipengaruhi oleh


berbagai hal, salah satunya adalah dalam hal pengadaan bahan/material dan peralatan
merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan suatu konstruksi yang
mengacu pada mutu dan efisiensi waktu pekerjaan. Dalam meningkatkan daya saing ini
tentunya diperlukan suatu sistem yang efektif dan efisien dalam segala aspek pelaksanaan
proyek konstruksi. Penyediaan bahan bangunan dan alat kerja pada proyek konstruksi
memerlukan manajemen yang baik untuk menunjang kelancaran pekerjaan.

Dalam proyek konstruksi, bahan dan peralatan merupakan bagian terbesar dari total
biaya proyek. Sehingga sudah semestinya bila perusahaan kontraktor menaruh perhatian
besar terhadap proses pengadaannya. Pengadaan material dan peralatan ini bukan hanya
sebatas pembelian saja, tetapi mempunyai lingkup yang lebih luas, mulai dari identifikasi
kebutuhan, menjaga inventori, pemanfaatan produksi, sampai pada penerimaan dan
penyimpanan barang di lokasi proyek, termasuk juga dalam menyiapkan dan menangani
dokumen yang diperlukan. Apabila pihak kontraktor kurang memberikan perhatian
terhadap pengadaan bahan material bangunan di lapangan, maka akan berakibat menyusut
atau hilangnya material dalam jumlah yang cukup signifikan, kelebihan dalam pemesanan
bahan, keterlambatan kedatangan material yang telah dipesan, serta berkurangnya laba
yang didapat oleh perusahaan kontraktor, bahkan dapat mendatangkan kerugian yang
signifikan.

2.2 Peralatan Yang Digunakan


Adapun alat-alat yang digunakan pada pekerjaan di proyek Apartemen
TOKYO RIVERSIDE Tower 8 adalah sebagai berikut:
Alat -alat yang diamati :
2. Bar Cutter
3. Tower Crane
4. Genset
5. Lift proyek
6. Bar bender
7. Air Compressor
8. Truck Mixer
9. Concrete Vibrator
10. Concrete Bucket
11. Total Station
12. Waterpass
13. Bekisting

1. Bar Cutter
Bar Cutter adalah alat yang berfungsi sebagai pemotong besi tulangan sesuai
dengan ukuran yang dibutuhkan. Dalam pengoperasiannya bar Cutter dibutuhkan 2
orang orang pekerja. Satu pekerja memegang besi tulangan agar tidak berubah ukuran
yang telah ditentukan kemudian satu orang pekerja yang lain menekan tombol yang
terdapat pada alat tersebut.
Gambar :Bar Cutter

sumber : Dokumen Pribadi

2. Tower Crane
Tower Crane merupakan alat berat yang sering terdapat pada area
pembangunan sebuah proyek bangunan bertingkat. Fungsi dari tower crane sendiri
adalah untuk mempermudah pendistribusian material dan alat yang akan digunakan
dari lantai bawah menuju lantai atas. Pada suatu proyek tower crane menjadi alat yang
paling utama dalam proyek gedung bertingkat karena sebagai transportasi vertikal
yang memegang peranan penting dalam menentukan kecepatan kerja. Tower crane
juga digunakan sebagai pengangkut concrete bucket pada saat pengecoran kolom dan
dinding yang terletak pada ketinggian yang sulit dicapai serta mengangkut peralatan
dan material yang dibutuhkan untuk pekerjaa struktur. Seluruh operasional proyek
dipengaruhi oleh oleh berfungsinya tower crane, untuk kelancaran jalannya proses
pembangunan proyek.
Tower crane mampu menjangkau tempat yang jauh, mempunyai kapasitas
angkut yang sangat besar,serta dapat diatur mengikuti ketinggian sebuah bangunan.
Pada umumnya tower crane di kendalikan oleh seorang operator pada setiap tower
crane. Pada Proyek Apartemen TOKYO RIVERSIDE , digunakan 2 tower crane ,
memiliki kemampuan berputar 360°dengan panjang lengan 65 m yang terletak pada
sisi utara dan selatan area proyek, penempatan ini juga berdekatan pada area fabrikasi
tulangan besi yaitu sebelah utara, dan berdekatan dengan gudang dan fabrikasi
Aluma.
Penggunaan Tower Crane harus disesuaikan dengan beban maksimum yang
mampu dipikul, pada Tower Crane yang digunakan pada proyek mampu mengangkat
dengan kapasitas maksimum 1,8 ton. Sumber tenaga Tower Crane ini adalah
menggunakan tenaga listrik.

Gambar : Tower Crane


Sumber : Dokumentasi Pribadi
Gaya – gaya yang terdapat pada Tower Crane ini adalah Gaya vertical, gaya
horizontal, gaya gesek , gaya tekan , gaya Tarik.
Beberapa hal yang menjadi perhatian saat akan rental tower crane :
1. Luas Lokasi Bangunan
Seberapa luas lokasi pembangunan yang akan menggunakan tower
crane? Prinsipnya semakin luas lokasi, maka kebutuhan tower crane
semakin bertambah. Tower crane memiliki bagian lengan (jib), berguna
untuk mengangkat beban. Karena sifatnya bisa berputar 360 derajat,
penempatan beberapa tower crane tak boleh saling mengganggu sehingga
bisa menjangkau semua bagian pembangunan.
2. Tinggi Bangunan
Tinggi bangunan berpengaruh pada ketinggian tower crane yang
dibutuhkan. Tower crane memiliki panjang 6 m hingga 12 m setiap ruas
atau section. Untungnya tower crane mudah dibongkar-pasang sehingga
ketinggian bisa disesuaikan.

Demi keamanan, kontraktor harus mengatur ketinggian tower crane dengan


tinggi bangunan. Berikan jarak sekitar 6 meter antara tower crane dengan ketinggian
maksimum. Hal ini berkaitan dengan fungsinya sebagai pengangkut barang. Jika
tower crane lebih tinggi daripada bangunan, kontraktor harus memberikan sabuk
pengaman (collar frame) di setiap bagian bangunan.
Selain itu, kontraktor juga harus memperhatikan beberapa hal saat akan
mengangkat material demi mencegah crane jatuh. Perhatikan faktor penting, seperti
kekuatan angin, ayunan beban, kecepatan saat memindahkan material, dan pergerakan
mesin tower crane.

BAGIAN-BAGIAN TC

a. Jib
Biasa disebut “lengan” tower crane dan dapat di gerakkan secara
horizontal sampai 360 derajat. Material yang dipakai untuk membuat jib
mencangkup kabel baja (sling) yang mampu menahan hingga mengangkut
alat-alat lain nya.
b. Counter Weight
Komponen tower crane ini posisi nya tepat berada dibelakang jin.
Counter Weight terbuat dari beton yang memiliki fungsi sebagai pemberat
hingga penyeimbang. Sehingga, alat-alat proyek yang diangkut oleh alat berat
tersebut tetap stabil dan tidak mendadak jatuh.
c. Mast Section
Bagian ini termasuk bagian paling penting, karena memiliki peran
mengatur ketinggian tower crane yang dipakai dalam proyek. Untuk
memasangnya, kontraktor memerlukan bantuan alat hidrolik dengan posisi
secara vertical.
d. Joint pin
Pada joint pin, operator yang mengoperasikan tower crane bisa
mengatur pergerakan alat tersebut. Ada dua tombol yang disediakan, antara
lain tombol beban maksimum dan tombol momen beban. Kedua tombol
tersebut digunakan operator untuk mengatur beban yang diangkut tower crane
tidak melampaui batas normal.
E. Collar Frame/anchorages frame
Bagian ini termasuk bagian penting lainnya, karena collar frame
merupakan sabuk pengaman yang diikatkan ke bangunan berdasarkan
kekuatan bracing. Langkah tersebut diaplikasikan agar bangunan stabil walau
ada tekanan atau tarikan yang terjadi.

 Berikut tahapan cara memasang tower crane :


A. Pemasangan/erection Base Section
B. Pemasangan/erection Mash section, (jumlah mash section yang akan di pasang
pada suatu proyek akan disesuaikan dengan kondisi area disekitar proyek, pada
proyek ini awal pemasangan mash section hanya 2 buah saja).
C. Pemasangan/erection Climbing frame, (fungsinya untuk mengangkat joint pin ke
atas sehingga terdapat ruang kosong diantara joint pin dan mast section )
D. Pemasangan/erection Sliwing Unit.

E. Pemasangan/erection Operator Cab


F. Pemasangan/erection Tower head
G. Pemasangan/erection Machinery arm, machinery arm ini berfungsi sebagai
counter jib, penempatan motor sling TC dan posisi penempatan ballast block.

H. Pemasangan/erection Counter Weiht, (berfungsi sebagai pemberat / ballast)


I. Pemasangan/erection Jib Section.
J. Pemasangan/erection Trolley
K. Setelah pemasangan/erection bagian-bagian pada tower cran telah terpasang,
maka selanjutnya melakukan pemasangan instalasi Mekanikal dan Elektrikal,
yang terdiri dari Genset silent, Panel sampai dengan Kabel Power
L. Untuk pengoperasian Tower crane harus ada surat Ijin Pengoperasian. baru setelah
Ijin Pengoperasian sudah ada, baru kemudian dilakukan Loading Test, sampai
dinyatakan bahwa Tower Crane tersebut siap untuk dioperasikan.
 Proses menaikkan ketinggian tower crane :
Untuk menyesuaikan perencanaan konstruksi sehingga mobile crane sudah tidak
digunakan lagi karena tower crane menggunakan sistem hidrolik yang dapat bergerak
secara vertikal.
A. Gunakan climbing crane untuk mengangkat joint pin ke atas sehingga terdapat
ruang kosong diantara joint pin dan mast section
B. Kemudian gunakan boom untuk mengangkat sebuah mast section untuk kemudian
diletakkan pada ruang kosong diantara joint pin dan mast section
C. Kedua tahapan tesebut akan terus berlanjut sehingga diperoleh ketinggian yang
diinginka sesuai perencanaan sebelumnya. Perlu anda ketahui bahwa tower crane
harus lebih tinggi sekitar 4-6 meter dari ketinggian maksimum proyek gedung
yang sedang dikerjakan.
 Cara menurunkan dan membongkar tower crane hampir sama dengan cara
menaikkannya:
A. Gunakan climbing crane untuk mengangkat joint pin ke atas sehingga terdapat
ruang kosong diantara joint pindan mast section
B. Ambilah sebuah mast section menggunakan boom untuk kemudian
menurukannya yang dilepas dari tower crane
C. Kedua proses diatas akan terus dilakukan hingga proses menurunkan dan
pembongkaran selesai dikerjakan. Tower crane akan membutuhkan mobile crane
kembali seperti tahapan memasang, pada saat tower crane berada pada posisi
dibawah yang terjangkau oleh mobile crane.

 desain pondasi tower crane untuk mengetahui gaya-gaya yang bekerja :


Data perhitungan tower crane
- Type TC = PONTAIN MC 235 B
- Counter Weight = 20,2 ton
- Max Angkut = 10 ton
- Jib Length = 66,7 m
- Panjang counter weight = 14,5 m
- Jarak max angkut = 10,2 m
- Maximal beban ujung = 3,3 ton
- Lebar section TC = 1,9 m
- Mutu Beton Fc’= 29 Mpa = 350 kg/cm
- Mutu Baja Fy = 400 Mpa
- Diameter tulangan = 22 mm

Penyelesaian :
1. Reaksi Tumpuan
a. Reaksi Horizontal
∑H = 0
P1 + RaH = 0
RaH = -1 ton ()
∑MB = 0
3
10Ra + P1.2 + q.3.( +10 ¿ + P2 . 8 + RaH . 4 = 0
2
10Ra – 1.2 + 3.3.(11,5) + 2.8 + 1.4 = 0
48,5
Ra = = 4,85 Ton
10
∑MA = 0
3
10Rb + P1.2 + q.3.( +10 ¿ + P2 . 2 - RaH . 0 = 0
2
3
10Rb + 1.2 + 3.3.( +10 ¿ + 2 . 2 - 0 = 0
2
1,5
Rb = = 0,15 Ton
10
Kontrol
∑V = 0
Ra + Rb – q1.3 – P1 – P1 = 0
0,15 + 4,85 – 1.3 – 2 = 0 (OK)

Diagram bidang momen


MA = 0 Ton meter
MC = RaH . 2 = 1 .2 = 2 T.m
MDA = RaH . 4 – P1 . 2 = 1,4 -1,2 = 2 T.m
3 3
MDE = - q1 . 3 . ( ) = 1 . 3 . ( ) = -4,5
2 2
MDB = MDA + MDE = 2 – 4,5 = -2,5
MF = MDB + Ra . 2 = -2,5 + 1,85 . 2 = 1,2 T.m

Diagram bidang lintang

DA = RA H = 1

DC = RA H – P 1 = 1 - 1 = 0

DD = Ra2 = RaV – q.3 – P2 = 4,85 – 3 = 1,85

DF = Ra2 - P2 = 4,85 – 3 – 2 = -0,15

DB = Ra2 - P2 + Rb = RaV – q,3 – P2 + Rb

= 4,85 – 3 – 2 + 0,15 = 0

BEBAN TOWER CRANE ( TERSEDIA DIDALAM BROSUR TC )


- Kondisi TC Dalam keadaan Beroprasi
Momen yang bekerja (M) = 1730 KN.m
Gaya Horisontal (H) = 32 Kn
Gaya axial (V) = 636 Kn
Momen Torsi = 0 Kn.m
- Perencanaan pondasi TC
Direncanakan ukuran poer pondasi : 4,5 x 4,5 x 3,3 m
- Berat Pondasi TC
= 4,5 x 4,5 x 3,3 x 2400 kg/m3
= 160380 Kg
=160,38 Kn
- Total gaya axial yang bekerja
636 + 160,38 = 796,38 Kn
- Kontrol terhadap guling
∑M = 0
V.M + VL/2 + H.d/2 = 0
M.L = ( M +H.d/2)2/V
H 1,25 L = (1730 + 21,6)2/160,38
H= 3503,2/160,3
H = 4,48 m
Jadi B=H=4,48 = 4,5 m
D = 3,3 ( kedalaman maximum tc )
Jadi ukuran pondasi TC = 4,5 x 4,5 x 3,3 m

3. Genset
Genset merupakan alat penting dalam proses konstruksi, mesin ini berfungsi
sebagai solusi Emergency pada saat listrik padam.
Gambar : Generator (Genset)
Sumber : Dokumentasi Pribadi
4. Lift Proyek
Lift proyek adalah alat transportasi pada proyek Gedung bertingkat,
penggunaan lift proyek untuk mengangkut beban pekerja , alat kerja , material
konstruksi secara vertical.
Lift proyek terdapat 2 bagian yaitu section dan keranjang , section merupakan
bagian yang digunakan sebagai rangka yang terhubgung dengan lantai kerja dasar
yang berupa pondasi yang di cor. Keranjang merupakan wadah untuk menunjang
kebutuhan konstruksi yang disertai puli, motor electric , serta limit switch sebagai
safety device.

Gambar : lift proyek


Sumber : dokumentasi pribadi
5. Bar bender
Bar Bender adalah alat yang digunakan untuk membengkokan besi tulangan.
Cara kerja alat ini yaitu dengan meletakkan tulangan diantara 2 celah besi pada meja
kerja, kemudian tentukan dan atur sudut/ derajat tekukan yang dibutuhkan setelah itu
tekan tombol yang terdapat pada mesin dan mesin akan bergerak otomatis.

6. Air Compressor
Merupakan alat penghembus udara bertekanan tinggi yang sering digunakan
untuk membersihkan area pengecoran dari sisa-sisa material sebelum dilakukan
pengecoran.Alat ini mampu mengeluarkan udara dengan tekanan yang sangat tinggi
sehingga partikel yang relatif sangat kecil dapat dibersihkan.

Gambar : Air Compressor

7. Truck Mixer
Merupakan kendaraan khusus berupa mobil truck yang dilengkapi dengan
mixer (molen) yang berfungsi untuk mengangkut beton siap pakai (ready mix) dari
batching plan (tempat pembuatan beton) menuju lokasi proyek.
Truck mixer yang digunakan pada Pada Proyek Apartemen TOKYO
RIVERSIDE , memiliki kapasitas 6 m³ - 8 m³. Truck mixer dapat berputar 2 arah, jika
beton masih diaduk didalam maka mixer akan berputaar ke kanan, sedangkan jika
adukan akan dikeluarkan kedalam bucket maupun concrete pump, maka mixer akan
berputar ke arah kiri.

8. Concrete Vibrator
Alat ini digunakan untuk memadatkan beton pada saat proses pengecoran

berlangsung agar beton yang dihasilkan tidak memiliki rongga udara, tidak keropos

dan juga bergradasi baik. Concrete Vibrator ini memiliki selang yang panjang untuk

mencapai jarak yang jauh dan digerakkan oleh mesin.

Alat ini digunakan pada saat pengecoran agar beton yang disalurkan padat dan

tidak berongga. Dan pada saat penggunaan alat ini tidak boleh menyentuh tulangan

karena akan membuat tulangan bergeser. Jikapun menyentuh tidak boleh dibiarkan

terlalu lama.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan alat ini antara lain :

1. Shaft vibrator dimasukkan dalam adukan beton dengan posisi vertikal

2. Shaft vibrator diusahakan untuk tidak perlu lama mengenai tulangan baja

3. Penggetaran dilakukan sekitar 10-15 detik untuk satu posisi.

4. Shaft vibrator dicabut perlahan-lahan dari adukan sehingga bekasnya dapat

menutup lagi.
9. Concrete Bucket

Concrete bucket adalah alat bantu untuk menampung beton ready mix ke
tempat pengecoran, concrete bucket biasanya digunakan pada pengecoran kolom dan
shear wall sehingga lebih mudah dan efisien karena concrete bucket diangkut oleh
Tower Crane sehingga menjangkau tempat-tempat yang sangat sulit.
Cara kerja concrete bucket yaitu, beton ready mix dituangkan ke wadah lalu

ketika sudah penuh, bucket diangkat menggunakan tower crane lalu ketika sampai ke

titik pengecoran pekerja yang berdiri menarik tuas pembuka lubang, beton dituangkan

melalui pipa tremi yang berada dibawah wadah sehingga beton mengalir langsung ke

dalam bekisting. kapasitas concrete bucket yang digunakan adalah 0,8m3 dan 1,2m3.

Pada alat ini juga dilengkapi dengan tempat pijakan bagi pekerja. Pipa tremie adalah

pipa yang berfungsi untuk pengaturan tinggi jatuh beton pada saat pengecoran.
10. Total Station

Total Station adalah alat untuk menentukan koordinat serta mengecek elevasi

suatu elemen struktur. Bentuk dari alat total station dilihat sekilas hampir sama

dengan theodolite. Perbedaan mendasar antara total station dan theodolite adalah

total station memiliki prosesor dan memori yang dapat digunakan untuk menyimpan

daat koordinat maupun mengolah angka koordinat. Sedangkan theodolite tidak

memiliki prosesor dan memori seperti total station.

11. Auto - Level/Waterpass

Auto level merupakan alat ukur untuk mengetahui beda tinggi pada suatu area

antara titik satu dengan titik lainnya. Automatic level termasuk jenis alat ukur

otomatis. Automatic level mempermudah dalam mencari beda tinggi, namun

diperlukan perumusan dengan pengurangan antar bacaan depan dan bacaan belakang.

Biasanya alat automatic level didirikan pada suatu titik lalu diarahkan pada dua buah

rambu yang berdiri secara vertikal.

12. Bekisting

Bekisting adalah cetakan sementara yang digunakan untuk menahan beton


selama beton dituangkan dan dibentuk sesuai dengan bentuk yang telah direncanakan.
Pada proyek ini terdapat 2 jenis bekisting yang dipakai yaitu bekisting knock down,
bekisting konvensional.
A. Bekisting Knock down
Bekisting ini terbuat dari Pelat baja dan besi hollow. Untuk 1 unit
bekisting memakan biaya yang jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan
bekisting konvesional, namun kelebihan dari bekisting ini adalah tahan lama
dan pemakaiannya yang dapat digunakan berkali-kali pada tipe ukuran kolom
yang sama hingga pekerjaannya selesai, jadi penggunaan bekisting ini jauh
lebih efisien.

B. Bekisting Konvensional
Bekisting konvensional adalah bekisting sederhana yang terbuat dari

wheeler. Penggunaan bekisting ini terbilang ekonomis karna bahan-bahannya yang


mudah didapat dan tidak terlalu mahal, juga fabrikasinya yang mudah dan dapat
disesuaikan dengan ukuran dan bentuknya. Bekisting ini digunakan pada pekerjaan
shearwall, dinding STP, balok, dan kolom praktis. Kekurangan bekisting ini adalah
penggunaannya yang memiliki batasan karena dinding bekisting yang terbuat dari
plywood yang harus diganti jika sudah tidak layak pakai.

13. Percah system PCH (Perth Construction Hire)

PCH adalah suatu konstruksi sementara atau metode yang digunakan untuk
mendukung atau menyangga cetakan beton (concrete form) struktur atas.
PCH berfungsi untuk mengatur elevasi dari bekisting balok dan pelat lantai.
Letak jack base berada dibagian paling bawah paling bawah pada rangkaian
PCH, sedangkan U-head berada di bagian paling atas pada rangkaian PCH.
 Standard PCH
 Ledger PCH
 Suri-suri
 Beam Bracket

Bagian-bagian PCH

Metode pemasangan PCH :

a. Jackbase dipasang sesuai dengan titik-titik penting tepat pusat beban


merata yang akan ditahan oleh percancah.
b. Support disambungkan dengan bagian atas jackbase, ketinggian
support dapat diatur sesuai dengan ketinggian yang diinginkan.
c. Ledger dipasang menghubungkan support yang satu dengan yang
lain.
d. Pada bagian atas support, dipasang u-head sebagai penopang primary
beam.
Pemasangan Balok LVL dan Bekisting
  LVL (Laminated Veneered Lumber) merupakan balok kayu dengan ukuran
tertentu. LVL dalam proses konstruksi U-Residence ini terdiri dari primary
beam dan secondary beam. Primary beam merupakan balok penyangga
utama yang berukuran lebih besar daripada secondary beam. Primary
beam ini diletakkan di atas U-head dengan jarak tertentu.
Di atas primary beam, kemudian dipasang secondary beam. Setelah kedua
jenis balok penahan  dipasang, kemudian bekisting yang terbuat dari triplek
dipasang di atas secondary beam. Sebelum pengecoran, bagian permukaan
bekisting kemudian dilapisi dengan mould oil supaya beton tidak menempel
dengan bekisting, sehingga bekisting mudah dilepaskan.

2.2 Material Yang Digunakan


a. Beton Ready Mix
Beton Ready Mix adalah beton siap pakai yang dibuat pabrik dengan mutu
sesuai dengan pesanan dan persyaratan yang telah ditetapkan. Beton ready mix
haruslah berasal dari perusahaan ready mix yang di setujui dari batching plan
terdekat proyek. Dalam proyek Apartemen TOKYO RIVERSIDE ini beton
ready mix dipesan dari PT Adhi Mix, PT Merak Jaya Beton ,PT Wika
Krakatau Beton dengan syarat slump yang telah ditentukan.

Keuntungan pemakaian beton ready mix antara lain:


1. Menghindari kotornya proyek karena penimbunan material.
2. Mempercepat pekerjaan pembetonan
3. Mengurangi jumlah pekerja
4. Menjamin mutu hasil pengecoran sesuai persyaratan
Kelemahan pemakaian beton ready mix adalah:
1. Bila ada kelebihan beton akibat pemesanan, maka menjadi tanggung jawab
pihak kontraktor
2. Jika pada saat pengecoran terjadi pembatalan akibat cuaca seperti hujan lebat
atau hal lain, maka adukan yang terlalu lama disimpan dalam mixer (melebihi
waktu yang ditentukan) harus dibuang, karena dipastikan akan terjadi setting.
Hal ini menjadi tanggung jawab kontaktor sebagai pemesan.
3. Keterlambatan saat pengecoran akibat terhambatnya transportasi
pengangkutan saat diperjalanan dapat menyebabkan terjadi setting (beton mulai
mengeras).
b. Semen Portland
Semen digunakan sebagai bahan pengikat yang baik untuk agregat
pada beton bertulang. Semen harus bersifat hidrolis yang berarti apabila
bercampur dengan air akan mengalami pengerasan. Pada proyek ini digunakan
untuk pasangan batu bata, plesteran, pekerjaan lantai kerja dan repair
kerusakan beton setelah pengecoran. Semen yang sudah terlanjur menggumpal
tidak dapat lagi digunakan, maka penggunaan semen diusahakan menurut
urutan datangnya dan tidak terlalu lama berada di gudang dan dijaga agar tidak
lembab.

Untuk keperluan pembuatan campuran beton, semen harus memenuhi syarat-syarat


sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai berikut:
1. Waktu ikat awal tidak boleh kurang dari 60 menit.
2. Pengikatan awal semen normal 60-120 menit
3. Air yang digunakan memenuhi syarat air minum, yaitu bersih dari zat organis yang
dapat mempengaruhi waktu ikat awal semen.
4. Suhu ruangan 23°C.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan dan penyimpanan semen


antara lain:
 Harus menggunakan satu merk semen yang sama, tidak boleh berbeda-beda.
 Semen yang didatangkan ditandai dan dipisahkan, agar pemakaian semen
dilakukan sesuai urutan kedatangan semen.
 Semen diletakkan diatas papan kayu dengan ketinggian 15 cm dari lantai gudang
untuk menghindari kelembaban.
 Semen ditumpuk tanpa menyinggung dinding gudang dengan jarak bebas 30 cm.
Semen ditumpuk tidak boleh lebih dari 10 kantong atau melebihi 2m untuk
 menghindari mengerasnya semen dibagian bawah karena tekanan.
 Tempat penyimpanan harus terlindung dari cuaca yang merusak dan memiliki
ventilasi yang cukup untuk sirkulasi udara.
c. Air
Air yang digunakan sebagai media untuk adukan pasangan, plesteran, beton
dan penyiraman guna pemeliharaannya (Curing) harus air tawar yang bersih, tidak
mengandung minyak, garam, asam dan zat organik lainnya yang telah dinyatakan
memenuhi syarat sebagai air untuk keperluan pelaksanaan konstruksi oleh
laboratorium.
Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung
minyak,asam, alkali, garam–garam, bahan–bahan organis atau bahan– bahan lain
yang merusak beton dan baja tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih
yang dapat diminum.
d. Besi Tulangan
Besi tulangan berfungsi sebagai penahan tegangan tarik pada struktur. Karena
beton mempunyai kuat tekan yang tinggi, namun mempunyai kuat tarik yang rendah.
Untuk itu diperpadukan antara beton dan baja membentuk suatu struktur beton
bertulang yang kuat dan kokoh.
Pada proyek Apartemen TOKYO RIVERSIDE ,seluruh bagian struktur
menggunakan baja tulangan berulir, karena fungsinya yang lebih kuat untuk menahan
geser, dalam hal ini yaitu gaya yang diakibatkan oleh gempa.

BAB III

PERHITUNGAN STRUKTUR DASAR PERANCANGAN STRUKTUR


BANGUNAN GEDUNG BETON BERTULANG DENGAN SNI 1726:2019
& SNI 2847:2019

Perencanaan struktur bertujuan untuk menghasilkan suatu struktur yang stabil, kuat,
awet, mampu menahan beban layan, dan memenuhi tujuan lainnya seperti ekonomis dan
kemudahan pelaksanaan. Untuk mecapai tujuan perencanaan tersebut, perencanaan
struktur harus mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah berupa Standar
Nasional Indonesia (SNI), dan setiap perancangan struktur gedung bangunan minimal
harus mengikuti SNI atau peraturan-peraturan lain yang bisa dibuktikan secara teoritis.

Dalam perencanaan bangunan gedung ini digunakan beton bertulang, karena beton
merupakan material yang kuat dalam kondisi tekan tapi lemah dalam kondisi Tarik sehigga
dibutuhkan tulangan yang dapat mencegah kondisi tarik. Kuat tarik beton bervariasi mulai
dari 8% ̶14% kuat tekannya. Dengan sifat tersebut, beton dimanfaatkan sebagai material
pembentuk struktur yang baik seperti beton bertulang, dimana dalam struktur tersebut
beton dan tulangan baja yang kuat terhadap tarik bekerja sama menahan gaya-gaya yang
ada. Agar bangunan struktur beton bertulang dapat berfungsi dengan baik, perancang
struktur wajib mendesain elemenelemen dengan tepat. Elemen yang sering digunakan
dalam struktur beton bertulang yaitu, pelat lantai, balok, kolom, dinding dan fondasi.
Berikut merupakan peraturan-peraturan yang digunakan :

NO. PERATURAN TENTANG


1 SNI 2847-2013 Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung
2 SNI 1727-2013 Beban minimum untuk perancangan bangunan gedung dan
struktur lain
3 SNI 1726-2012 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
Bangunan Gedung dan Non Gedung
4 SNI 2847-2019 Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung
5 PPIUG 1983 Peraturan Pembebanan Indonesia untuk gedung 1983
FLOW CHART PERENCANAAN GEDUNG BETON BERTULANG

A. DATA PERENCANAAN
 Data Primer apartemen Tokyo Riverside Tower 8

Tipe Bangunan Apartemen


Elevasi Bangunan SFL.+ 96.150
Jumlah lantai 32
Material Beton Bertulang

 Data Sekunder apartemen Tokyo Riverside Tower 8


Spesifikasi mutu beton :

Kolom, core wall,shear wall 40 Mpa


Plat dan tangga 35
Pile Cap ,Tie Beam 30 Mpa
Tiang Pancang 35
Spesifikasi mutu baja tulangan :

12 : BJTS 420 GRADE B


D13,D16,D19,D22,D25,29
WIREMESH (M) : 4mm U50

 Gambar LAYOUT 3D Bangunan Tower 8 apartemen Tokyo Riverside

 Data Tanah
Data tanah didapat sesuai kondisi eksiting di kawasan PIK2 , Jakarta Utara,
DKI Jakarta. Didapat hasil perhitungan nilai N-SPT sesuai dengan klasifikasi
situs tanah pada SNI 1726:2012 yaitu termasuk tanah sedang (SD).
 Data Gempa
Wilayah PIK2, Jakarta Utara, DKI Jakarta masuk kedalam wilayah gempa 3.
Peta zonasi gempa didapatkan melalui website yang sesuai dengan peraturan
SNI 1726:2012. Gedung Rusunawa masuk kedalam kategori resiko gempa II
menurut SNI 1726:2012. Data gempa rencana didapat dari situ
http://puskim.pu.go.id Desain Spektra Indonesia. Didapat data untuk daerah
PIK2, Jakarta Utara, sebagai berikut:

Variabel Nilai

   
PGA (g) 0.344 PSA (g) 0.398
SS (g) 0.637 SMS (g) 0.822
S1 (g) 0.286 SM1 (g) 0.523
CRS 0.979 SDS (g) 0.548
CR1 0.939 SD1 (g) 0.349
FPGA 1.156 T0 (detik) 0.127
FA 1.290 TS (detik) 0.636
B. FV 1.828 PRELIMENARY DESIGN
 Perencanaan PLAT (Lantai 26)
Data Pembebanan pada plat lantai
a. Beban Mati ( DL / Dead Load )
- Mutu Beton (fc’) = 35 Mpa
- Mutu Baja (fy) = 500 Mpa
- Tebal Pelat lantai ( 200 mm) = 0.2 m
- Berat jenis beton = 24 kN/m2 (PPURG 1987)
- Berat Plafon & Penggantung = 0.2 kN/m2 (PPURG 1987)
- Berat jenis Spesi = 22 kN/m2 (PPURG 1987)
- Instalasi ME = 0,5

b. Beban Hidup ( LL / Live Load )

Menurut SNI 1727 : 2013 hal 26, beban hidup untuk rumah susun/apartement
sebesar 1,92 𝑘𝑁/𝑚2.

 Analisis Pembebanan

1. BEBAN MATI (DEAD LOAD )

2
No Jenis Beban Mati Berat satuan Tebal (m) Q (kN/m )
3
1 Berat sendiri plat lantai (kN/m ) 24,0 0,2 4,800
3
2 Berat finishing lantai (kN/m ) 22,0 0,05 1,100
2
3 Berat plafon dan rangka (kN/m ) 0,2 - 0,200
2
4 Berat instalasi ME (kN/m ) 0,5 - 0,500
Total beban mati, QD = 6,600
2. BEBAN HIDUP (LIVE LOAD )

2
Beban hidup pada lantai bangunan = 192 kg/m
2
® QL = 1,9 kN/m

3. BEBAN RENCANA TERFAKTOR

2
Beban rencana terfaktor, Qu = 1.2 * QD + 1.6 * QL = 10,992 kN/m

Gambar plat lantai (ditinjau berdasarkan bentang terpanjang)

 Perhitungan Momen plat lantai Tipe SG9


Perhitungan analisa mekanika (momen) plat digunakan metode koefisien pkat
agar lebih mudah. Contoh perhitungan dilakukan plat tipe SG 9
Rasio bentang panjang dan pendek plat lantai tipe SG 9:
- Panjang plat bentang arah X, lx = 8150 cm
- Panjang plat bentang arah Y, ly = 4300 cm
- Tebal plat lantai 200 mm
- Keofisien momen plat , ly/lx = 5050/5525 =0,53 =1 Maka dikategorikan
plat 2 arah karena ly/lx<2 Dengan beban perlu Qu = 10,092 kN/m2, maka

momen perlu plat lantai: Lapangan X, Clx= 52


Lapangan Y, Cly = 52
pe
M

Tumpuan X, Ctx = 21
Tumpuan Y, Cty = 21

4. MOMEN PLAT AKIBAT BEBAN TERFAKTOR

2
Momen lapangan arah x, Mulx = Clx * 0.001 * Qu * Lx = 37,966 kNm/m
2
Momen lapangan arah y, Muly = Cly * 0.001 * Qu * Lx = 37,966 kNm/m
2
Momen tumpuan arah x, Mutx = Ctx * 0.001 * Qu * Lx = 15,332 kNm/m
2
Momen tumpuan arah y, Muty = Cty * 0.001 * Qu * Lx = 15,332 kNm/m
Momen rencana (maksimum) plat, ® Mu = 37,966 kNm/m
2
4 Berat instalasi ME (kN/m ) 0,5 - 0,500
Total beban mati, QD = 6,600
T
2. BEBAN HIDUP (LIVE LOAD )
pe
M
2
Beban hidup pada lantai bangunan = 192 kg/m
2
® QL = 1,9 kN/m

3. BEBAN RENCANA TERFAKTOR

2
Beban rencana terfaktor, Qu = 1.2 * QD + 1.6 * QL = 10,992 kN/m

4. MOMEN PLAT AKIBAT BEBAN TERFAKTOR

2
Momen lapangan arah x, Mulx = Clx * 0.001 * Qu * Lx = 37,966 kNm/m
2
Momen lapangan arah y, Muly = Cly * 0.001 * Qu * Lx = 37,966 kNm/m
2
Momen tumpuan arah x, Mutx = Ctx * 0.001 * Qu * Lx = 15,332 kNm/m
2
Momen tumpuan arah y, Muty = Cty * 0.001 * Qu * Lx = 15,332 kNm/m
Momen rencana (maksimum) plat, ® Mu = 37,966 kNm/m

D. PENULANGAN PLAT

Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = -


Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = 0,814285714
Faktor bentuk distribusi tegangan beton, ® b1 = 0,814285714
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc'/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0,0264
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [ 1 – ½* 0.75 * rb * fy / ( 0.85 * fc') ] = 8,2596
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc' / fy * [ 1 - Ö [ 1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc' ) ] = 0,0032
Rasio tulangan minimum, rmin = 0,0025
Rasio tulangan yang digunakan, ® r= 0,0032
2
Luas tulangan yang diperlukan, As = r * b * d = 557 mm
2
Jarak tulangan yang diperlukan, s = p / 4 * Æ * b / As = 141 mm
Jarak tulangan maksimum, smax = 2 * h = 400 mm
Jarak tulangan maksimum, smax = 200 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 141 mm
Diambil jarak sengkang : ® s= 140 mm
Digunakan tulangan, Æ 10 - 140
2 2
Luas tulangan terpakai, As = p / 4 * Æ * b / s = 561 mm
E. KONTROL LENDUTAN PLAT
2
Mpa = N/mm
Modulus elastis beton, Ec = 4700*√ fc' = 27806 MPa
Modulus elastis baja tulangan, Es = 2,10E+05 MPa
Beban merata (tak terfaktor) padaplat, Q = QD + QL = 8,520 N/mm
Panjang bentang plat, Lx = 8150 mm
Batas lendutan maksimum yang diijinkan, Lx / 240 = 33,958 mm
3 3
Momen inersia brutto penampang plat, Ig = 1/12 * b * h = 666666667 mm
Modulus keruntuhan lentur beton, fr = 0.7 * √ fc' = 4,141255848 MPa
Nilai perbandingan modulus elastis, n = E s / Ec = 7,55
Jarak garis netral terhadap sisi atas beton, c = n * As / b = 4,237 mm
Momen inersia penampang retak yang ditransformasikan ke beton dihitung sbb. :
3 2 4
Icr = 1/3 * b * c + n * As * ( d - c ) = 123573794 mm
yt = h / 2 = 100 mm
Momen retak : Mcr = fr * Ig / yt = 27608372 Nmm
Momen maksimum akibat beban (tanpa faktor beban) :
2
Ma = 1 / 8 * Q * Lx = 70739963 Nmm
Inersia efektif untuk perhitungan lendutan,
3 3 4
Ie = ( Mcr / Ma ) * Ig + [ 1 - ( Mcr / Ma ) ] * Icr = 155858886 mm
Lendutan elastis seketika akibat beban mati dan beban hidup :
4
de = 5 / 384 * Q * Lx / ( Ec * Ie ) = 112,939 mm
Rasio tulangan slab lantai : r = As / ( b * d ) = 0,0032

Faktor ketergantungan waktu untuk beban mati (jangka waktu > 5 tahun), nilai :
z= 2,0
l = z / ( 1 + 50 * r ) = 1,7237
Lendutan jangka panjang akibat rangkak dan susut :
4
dg = l * 5 / 384 * Q * Lx / ( Ec * Ie ) = 194,675 mm
Lendutan total, dtot = de + dg = 307,615 mm
Syarat : dtot ≤ Lx / 240
307,615 > 33,958 ® AMAN (OK)
Gambar Detail Penulangan Plat Lantai

 Perencanaan Balok ( Lantai 26)


Gambar Shop DWG balok lt.26

Diketahui:

- Balok G20-75 : 450 mm x 650 mm


- Balok G7-5 : 400 mm x 400 mm
- Balok G28-62 : 650 mm x 650 mm
A. DATA BALOK LANTAI

BAHAN STRUKTUR
Kuat tekan beton, fc' = 35 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 400 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 240 MPa
DIMENSI BALOK
Lebar balok b= 450 mm
Tinggi balok h= 650 mm
Diameter tulangan (deform) yang digunakan, D= 20 mm

Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 10 mm


Tebal bersih selimut beton, ts = 70 mm

MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA


Momen rencana positif akibat beban terfaktor, Mu+ = 75,932 kNm
-
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, Mu = 75,932 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 170,554 kN
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak
ke ni yi ni * yi
1 4 90,00 360,00
2 0 0,00 0,00
3 0 0,00 0,00
n= 4 S [ ni * yi ] = 360
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 90,00 mm
90,00 > 70  perkirakan lagi d' (NG)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 560,00 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 37,547 mm
-6
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10 = 272,050 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 217,640 kNm
≥ +
Syarat : f * Mn Mu
217,640 > 75,932  AMAN (OK)

2. TULANGAN MOMEN NEGATIF

-
Momen negatif nominal rencana, Mn = Mu / f = 94,915 kNm
Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 50 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 600,00 mm
6 2
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) = 0,5859
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0,00148
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0,00370
Rasio tulangan minimum, r min = 1.4 / fy = 0,00350
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0,00370
2
Luas tulangan yang diperlukan, As = r * b * d = 998 mm
2
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) = 3,178
Digunakan tulangan, 4 D 20
2 2
Luas tulangan terpakai, As = n * p / 4 * D = 1257 mm
Jumlah baris tulangan, nb = n / n s = 0,67
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak
ke ni yi ni * yi
1 4 90,00 360,00
2 0 0,00 0,00
3 0 0,00 0,00
n= 4 S [ ni * yi ] = 360
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 90,00 mm
90,00 > 50  perkirakan lagi d' (NG)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 560,0 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 37,547 mm
-6
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10 = 272,050 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 217,640 kNm
≥ -
Syarat : f * Mn Mu
217,640 > 75,932  AMAN (OK)

3. TULANGAN GESER

Gaya geser ultimit rencana, Vu = 170,554 kN


Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0,60
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 240 MPa
-3
Kuat geser beton, Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10 = 257,349 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 154,410 kN
 Perlu tulangan geser
Tahanan geser sengkang, f * Vs = Vu - f * Vc = 16,144 kN
Kuat geser sengkang, Vs = 26,907 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
2 2
Luas tulangan geser sengkang, Av = n s * p / 4 * P = 157,08 mm
3
Jarak sengkang yang diperlukan : s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) = 812,63 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 280,00 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 250,00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 250,00 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 250 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 250
Dari hasil perhitungan Diatas jumlah tulangan yang digunakan sama dengan gambar
shop drawing yang diberikan Pembimbing lapangan. Berikut Rinciannya

Hasil hitungan tulangan longitudinal balok G20-75 seperti tabel berikut :


Letak tulangan
Posisi ujung balok
Tumpuan Lapangan tumpuan
Atas 7D22 3D22 7D22
Bawah 4D22 3D22 4D22

Gambar Detetail Penulangan Balok G20-75


 Perencanaan Kolom (Lantai 25-26)

Denah Kolom A52


Diketahui:
- Dimensi Kolom A52: 550 mm x 700 mm
- F’c : 30 Mpa
- Fy : 400 Mpa
- Tebal Plat : 200 mm
Balok yang ditopang oleh kolom A52 :
- Balok G20-75 : 450 mm x 650 mm
- Balok G7-5 : 400 mm x 400 mm
- Balok G28-62 : 650 mm x 650 mm
DATA KOLOM
Kuat tekan beton, fc' = 35 MPa
Tegangan leleh baja, fy = 400 MPa
Lebar kolom, b= 700 mm
Tinggi kolom, h= 550 mm
Tebal brutto selimut beton, ds = 100 mm
Jumlah tulangan, n= 16 buah
Diameter tulangan, D= 19 mm
PERHITUNGAN DIAGRAM INTERAKSI
Modulus elastis baja, Es = 2,E+05 MPa
β1 = 0,85 untuk fc'  30 MPa
β1 = 0.85 - 0.008 (fc' - 30) untuk fc' > 30 MPa
Faktor distribusi tegangan, β1 = 0,81
2 2
Luas tulangan total, As = n * p / 4 * D = 4536 mm
Jarak antara tulangan, x = h - 2*d s = 350,00 mm
Rasio tulangan, r = As / Ag = 1,18%
Faktor reduksi kekuatan,
f = 0,65 untuk Pn ≥ 0.1 * fc' * b * h Untuk : 0 ≤ Pn ≤ 0.1 * fc' * b * h
f = 0,80 untuk Pn = 0 f = 0.65 + 0.15 * ( Pno - Pn ) / Pno

No Luas masing-masing tulangan Jarak tulangan thd. sisi beton


2
1 As1 = 2/4 * As = 2268 mm 450 mm
2
2 As2 = 2/4 * As = 2268 mm 100 mm
2
As = 4536 mm
-3
Pada kondisi tekan aksial sentris (Mno = 0) : Pno = 0.80*[ 0.85*fc' *b*h + As*(fy - 0.85*fc')]*10 = 10507 kN
-3
0.1 * fc' * b * h *10 = 1347,5 kN
Pada kondisi balance : ` c = cb = 600 / (600 + fy) * d1 = 270,0 mm
Pada kondisi garis netral terletak pada jarak c dari sisi beton tekan terluar :
Regangan pada masing-masing baja tulanganεsi
: = 0.003 * ( c - di ) / c
Tegangan pada masing-masing baja tulangan :
Untuk | εsi | <maka
fy / E:fssi = esi* Es
Untuk | εsi | maka
fy / E:fssi =| εsi | / esi* fy
Jumlah interval jarak grs netral = 112 → Dc = 4,9107

URAIAN PERHITUNGAN PERSAMAAN UNIT


-3
Gaya-gaya internal pada masing-masing baja tulangan : Fsi = Asi * fsi * 10 1814,4 kN
-3
Resultan gaya internal baja tulangan : Cs = [ S Fsi ]*10 1,81 kN
Momen akibat gaya internal masing-masing baja tulangan : Msi = Fsi*(h/2 - di) 10,37 kNmm
Momen total akibat gaya internal baja tulangan : Ms = S Msi 165,89 kNmm
Tinggi blok tegangan tekan beton, a = β1 * c 218,7 mm
-3
Gaya internal pada beton tekan : Cc = 0.85 * fc' * b * a * 10 4554,43 kN
Momen akibat gaya internal tekan beton : Mc = Cc * (h - a) / 2 75,44x10^4 kNmm
Gaya aksial nominal : Pn = Cs + Cc 4556,24 kN
Momen nominal : Mn = (Mc + Ms)*10-3 754,61 kNm
Gaya aksial rencana : Pu = f * Pn 2961,556 kN
Momen rencana : Mu = f * Mn 490,49 kNm

Grafik antara Momen nominal dengan Gaya aksial

1000
950
900
850
800
750
700
650
600 b= 700 mm
550 h= 550 mm
. () (kN )

500
16 D 19
fPn

450
400 fc' = 35 MPa
350
fy = 400 MPa
300
250
200
150
100
50
0
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40 42 44 46 48 50

fM
. () n (kNm )
 Merencanakan Tulangan Sengkang

Berdasarkan pada persyaratan peraturan SNI 2847:2013 untuk kolom pasal 7.10.5.1
tulangan sengkang harus memiliki diameter minimum 10 mm untuk mengikat tulangan
memanjang dengan diameter 32 mm atau kurang, sedangkan untuk tulangan
memanjang dengan diameter diatas 32 mm harus di ikat dengan sengkang berdiameter
minimum 13 mm. Sedangkan pasal 7.10.5.2 menyebutkan bahwa jarak vertikal
sengkang atau sengkang ikat tidak boleh melebihi 16 kali diameter tulangan
memanjang, 48 kali diameter sengkang/sengkang ikat, atau dimensi terkecil dari
penampang kolom. Tabel 7.1 pada buku Perancangan Struktur Beton Bertulang SNI
2847:2013 Agus Setiawan memperlihatkan ketentuan syarat jarak maksimum
sengkang/ sengkang ikat pada kolom.

Dipilih sengkang persegi berdiameter 13 mm, syarat jarak maksimum ditentukan dari
nilai terkecil antara:

1. 48 x (d sengkang) = 48. 13 = 624 mm


2. 16x ( d tulangan utama ) = 16.19 = 304 mm
Dimensi terkecil tulangan utama = 100 mm
Maka digunakan jarak tulangan sengkang D13-1

Karena kolom menggunakan sistem tulangan sambungan stek dengan posisi


sambungan ada pada daerah lapangan kolom maka dipasang tulangan sengkang D13-
100 mm.
Diketahui :
Penampang kolom = 550 x 700 mm
Selimut beton = 100 mm
Diameter tulangan = 19 mm
Diameter tulangan sengkang = 13 mm
Maka jarak bersih antar tulangan memanjang sumbu x adalah:

= 700 – 100 – 100 – 13 – 13 – (16 x 5)

= 394 mm

Maka jarak bersih antar tulangan memanjang sumbu y adalah:

= 550 – 100 – 100 – 13 – 13 – (16 x 5)

= 244 mm

Jarak bersih antar tulangan memanjang didapat nilai > 150 mm, maka menggunakan
tulangan pengikat menurut peraturan SNI 2847 : 2013. Tetapi tulangan pengikat
dipasang diantara 2 tulangan yang bukan berada pada sudut sengkang.

Berdasarkan SNI 03-2847-2002 Untuk ketahanan terhadap gempa, jarak maksimum


tulangan utama kolom struktur penahan beban gempa adalah (350 mm – db – ds),
untuk pengikatan sengkang sepihak/pengikat silang/teis:

350 mm – 22 mm – 10 mm = 318 mm

Maka digunakan tulangan pengekang arah X 2D13 – 100 dan arah Y 1D13 – 100.

Berdasarkan hasil analisis perhitungan di dapat tulangan utama sebesar 16D19 dan
tulangan sengkang D13-100 sedangkan dilapangan dipakai tulangan utama 16D19
dan tulangan sengkang D13-100. Diketahui jumlah besi hasil perhitungan lebih
sedikit dibandingkan jumlah besi yang terpasang dilapangan, tetapi memiliki diameter
yang sama dengan diameter yang digunakan dilapangan. Hal ini disebabkan
dilakukannya penyederhanaan dalam perhitungan yang tidak mempertimbangkan
beban-beban lain seperti beban gempa, angin serta faktor lain yang hanya diketahui
dan dapat disempurnakan detailnya oleh konsultan perencanaan struktur atau sistem
komputerisasi.
Gambar detail Kolom A52
Display Tabel Analisa Output Frame balok Balok G20-75 : 450 mm x 650 mm , Balok G7-5 :
400 mm x 400 mm , Balok G28-62 : 650 mm x 650 mm , didapatkan dari Software SAP2000.

Pemodelan 3D bangunan kolom , plat , balok LT. 28 - 26 dengan SAP 2000


Hasil momen Dengan menggunakan Sap 2000
Hasil momen Dengan menggunakan Sap 2000

Anda mungkin juga menyukai