KUMPULAN RENUNGAN
PEMBINA PRAMUKA
Disunting: Oleh Joko Mursitho
Satu demi satu bata itu disusun rapi, atas selapis ramuan semen oleh seorang
tukang batu yang terampil. Kini susunan bata-bata itu telah merupakan suatu
pondasi, dan diatasnya berdirilah sebuah gedung batu nan megah dan besar,
serta kokoh tempat orang bernaung.
Ya Tuhan…., yang hamba renungkan adalah bata itu…., yang kini berada di
tempat yang gelap, terletak di dasar gedung yang kokoh itu, tiada seorang pun
yang melihatnya,….
Namun bata itu tetap melakukan tugasnya. Dia dibutuhkan oleh bata-bata lain
yang berada di atasnya.
Tuhan…., apakah gerangan bedanya hamba ini. Apakah hamba di atas puncak
atap gedung yang megah itu, atau ada di dasar pondasi gedung yang tidak
dilihat orang.
Selama hamba berdiri dengan penuh keyakinan pada tempat yang benar,
Selama hamba menjadi pengabdi yang setia, hamba adalah juga sepotong bata
yang berharga,…di mana pun juga hamba diletakkan….
Ya Tuhan hamba-Mu mohon perlindungan, dan mohon berkat-Mu, Amin.
Seri jalan lurus pembinaan kawula muda Indonesia ……………………………………..Joko Mursitho
Filsafat padi menunjukkan kepada kita, makin berisi makin merunduk.
Mari kita tundukkan kepala, kita teropong pribadi kita masing-masing sesuai
dengan pertanggungjawaban yang ada pada diri kita.
Pembina adalah manusia dewasa, yang diharapkan dapat memberi bimbingan
tuntunan, pengawasan dan pemberi arah perkembangan generasi muda.
Pembina adalah orang yang dewasa dalam tindak, dewasa dalam pikiran dan
perkataan; karena ia telah dewasa cipta, rasa, karsanya.
Dewasa dalam “cipta” berarti seksama dalam menggunakan pertimbangan-
pertimbangan nalarnya, dan bijaksana dalam menetapkan keputusannya.
Dewasa dalam “rasa” berarti dapat menguasai nafsu perasaannya dan
menyadari sepenuhnya perbedaan-perbedaan perasaan yang dimiliki tiap-tiap
manusia.
Ketertiban dan ketenangan hidup bersama hanya akan terjamin dan
terpelihara, apabila tiap-tiap anggotanya saling menghargai perasaan orang
lain, meskipun perasaan tersebut berbeda dengan perasaannya.
Dewasa dalam karsa berarti matang dan mantap kemauannya dan tidak mudah
terombang-ambing oleh gejolak dunia. Kemantapan kemauan ini dilandasi oleh
keuletan tekad untuk menegaskan kebenaran di jalan Tuhan.
Pembina dewasa adalah mereka yang besar tanggung-jawabnya sebagai
manusia individu, sebagai manusia sosial, dan sebagai makhluk Tuhan.
Sebagai individu ia tidak ingkar akan suara hati-nuraninya. Sebagai makhluk
sosial berusaha menjadi tauladan sesama dan pelopor perkembangan
bangsanya.
Sebagai makhluk Tuhan adalah mematuhi ajaran-ajarannya.
Mari kita tengadahkan kepala kita,
Jauh di sana berdiri ratusan, ribuan anak didik.
Binalah mereka sebagai “ksatria” dan “puteri sejati”, seperti dilukiskan oleh para
Pembina.
Di sanalah ia berdiri…, sopan…dan tenang…. Tetapi tegak seakan-akan
memerintah, mulutnya tersenyum simpul ramah-tamah, tetapi teguh.
2
Alam semesta adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang telah lengkap dan
sempurna hukum-hukumnya.
Hukum alam ini akan tetap berlaku dan berjalan selama alam ini masih ada.
Berbuatlah secara baik dengan tulus dan jujur, sebab yang baik berakibat baik,
dan yang buruk berakibat buruk.
Alam semesta dengan segenap isinya adalah lengkap tiada bagian yang kurang,
dan tiada bagian yang lebih; baik yang nyata dapat dilihat maupun yang tak
dapat dilihat dengan indera atau alat yang bagaimana pun juga.
Otot lengan manusia adalah benda yang dapat kita lihat nyata dengan mata
kepala; tetapi kekuatan lengan dan kekuatan otot yang ada di dalamnya tidak
dapat kita lihat.
Uang dan benda lainnya dapat kitalihat tetapi kekuatan, keinginan, kehendak,
tidak dapat kita lihat. Mungkinkah kita melihat Tuhan dengan mata-kepala kita?
Sedangkan kita melihat kekuatan yang berada di lengan kita saja kita tidak
bisa.
Barang sesuatu yang kita lihat berdasarkan hukumnya adalah jika kita
mengambilnya haruslah kita tarik pada diri kita sendiri, menyimpannya dan
memeliharanya baik-baik.
Tidak demikianlah halnya tentang barang sesuatu yang tak dapat dilihat. Ia
bertambah besar dan kuat jika senantiasa kita keluarkan, kita praktekkan, kita
lepas, dan kita berikan pada orang lain. Ia adalah ilmu dan amal.
Tambahkan dan perbesarlah kekuatan lenganmu dengan jalan mengeluarkan
tenagamu diwaktu berlatih mengangkat barang yang berat.
Tambahkan dan perbesarlah kekuatan budi kita kepada orang lain, kejujuran
kita, kesetiaan kita, rasa persaudaraan kita, kesopanan kita, keperwiraan kita,
rasa sayang kita terhadap sesama hidup, dengan jalan memberikan segenap
kebaikan budi kita kepada orang lain, karena hanya dengan jalan itulah kita
dapat menambahnya dan melimpahkannya.
3
Pekerjaan pembina adalah:
Darma Bakti, …Darma Bakti untuk kepentingan orang lain, yaitu kepentingan
anak-anak didik kita, untuk kepentingan tanah air dan bangsa kita serta
kepentingan perikemanusiaan.
Pekerjaan darma bakti yang kita lakukan itu adalah berdasarkan keyakinan kita,
bahwa jalan darma bakti yang kita tempuh ini adalah jalan yang baik dan
benar, yang berharga dan bermutu tinggi sebagai sesuatu ibadah kita terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.
Darma bakti adalah darma yang dibaktikan,
Darma bakti adalah perbuatan baik,
Kita memberikan dengan tulus hati tanpa mengharapkan upah, ataupun
balasan apapun juga, untuk maksud dan tujuan yang baik. Dalam melakukan
darma bakti, sering terjadi pertempuran dua macam pada daya positif dan
negatif dalam rohani manusia.
Tingkatkan daya rohani yang positif, dan amalkan dalam darma bakti di bawah
kendali “satya dan darma Pramuka” agar dapat berkah dari Tuhan Yang Maha
Esa.
4
Tuhan itu Maha Sempurna, seluruh ciptaannya merupakan perangkat yang
sempurna,
Tiada bagian yang lebih dan tiada bagian yang kurang. Seluruh ciptaannya
dengan segala bagian-bagiannya berjalan tanpa henti menurut hukum yang
diciptakanNya pula.
Demikianlah kita harus berusaha, yakni bekerja sesempurna mungkin, makin
hari makin lebih baik dari saat yang lalu, justru karena kita tahu bekerja yang
demikian itu adalah cara bekerja yang dikehendaki oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Kita bekerja untuk perikemanusiaan, untuk nusa dan bangsa kita, karena sikap
dan pendirian kita adalah bekerja dan beribadah. Sebagai persembahan bakti
kita terhadap bangsa dan negara dengan ridho Tuhan Yang Maha Esa.
Seperti juga sebuah perangkat arloji, tiada bagian yang lebih, tiada pula bagian
yang kurang penting, demikian pulalah halnya, dengan pekerjaan kita manusia
dalam irama gerak perangkat hidup bersama.
Pekerjaan yang manapun juga, dan apapun juga, baik rendah maupun tinggi,
kecil maupun besar, yang memerlukan kecerdasan intelektual yang tinggi
maupun yang rendah, selama pekerjaan itu kita lakukan menurut hukumnya,
maka pekerjaan itu tak ada yang kurang berharga, ataupun tidak penting, tiada
yang hina ataupun yang rendah; karena pekerjaan itu seluruhnya merupakan
bagian dari perangkat yang besar.
5
Ketika kita diam menenangkan jiwa sejenak, …..lalu bertanya dalam diri. Untuk
apakah aku datang ke tempat ini, dengan meninggalkan tugas dan
pekerjaanku; bahkan meninggalkan keluargaku, kekasihku, isteriku, suamiku,
dan anak-anak tercinta, dan tersayang.
Apakah aku datang mengikuti bagian ini hanya sekedar ingin berkumpul
dengan orang banyak?
Bukan….! Tujuanku sudah jelas, untuk membina diri, meningkatkan diri agar
menjadi pembina dewasa.
Berusaha menimba ilmu pengetahuan, keterampilan, meningkatkan kualitas
perilaku.
Aku ingin menjadi dewasa, dalam tutur-kata dan perbuatan, dewasa dalam
tindak-tanduk, cita, rasa, karsa, dan karya. Pembina yang bisa dijadikan seri-
tauladan.
Pembina yang dapat mengendalikan emosi, menyadari sepenuhnya perbedaan
sikap dan perasaan yang dimiliki setiap manusia.
Pembina yang dari sinar mata dan hatinya selalu memancarkan kasih sayang.
Sebuah harapan…….yang kudambakan….
Andaikan aku tidak mungkin menjadi pucuk cemara di puncak bukit sana,
biarlah saya menjadi perdu di sisi bukit.
Bila tidak dapat menjadi perdu yang baik di sisi bukit, biarlah saya menjadi
rumput yang menghiasi jalan raya, atau tumbuhan rambat yang sedap
dipandang mata bangsa. Namun andaikan aku tak kuasa menjalani sebagai
tumbuhan rambat biarlah akau menjadi serat yang terkuat, yang bisa dianyam
menjadi tali persatuan umat.
Memang tidak semua kita jadi nahkoda, karena siapakah nanti yang akan
menjadi awak kapal.
Setiap orang memiliki perannya masing-masing, ada peran yang besar dan ada
yang kecil. Ada tugas besar, ada tugas kecil, namun semua tugas adalah mulia
bila kita kerjakan dengan sebaik-baiknya.
Bila tidak bisa menyelesaikan tugas lewat jalan tol, jadilah kami meniti jalan
setapak.
Bila tidak bisa menjadi mentari dalam memberikan keadilan, biarlah jadi kita
bintang.
6
Berhasil dan gagal dalam tugas sebuah ukuran, tetapi apapun jalan kita …..
jadilah yang terbaik.
7
(Oleh: Joko Mursitho)
Ketika kami tegak di sini…., melingkari bongkahan bara unggun yang mulai
padam, kami … bagaikan tiang-tiang bayangan hitam
Suatu bentuk yang sangat rapuh….., mudah goyang tertiup arah cahaya nafsu.
Tetapi ketika tangan-tangan ini semua kita pertautkan…..,
Kita bentuk rantai persaudaraan yang kokoh…..,
Kita dapat merasakan denyut jantung saudara-saudaraku di sebelah kiri dan
kanan..,
Bahkan….., ketika jiwa kita lebih hening….., kita rasakan degup-degup seluruh
jantung kehidupan saudara-saudaraku seluruhnya dalam lingkaran ini.
Lingkaran persaudaraan…..telah kita bentuk, kami ini bagaikan mata rantai……,
yang satu sama lain saling memperkuat, …..satu sama lain saling memberikan
arti.
Letak rantai yang terlemah adalah rantai yang merasa dirinya terkuat.
Kini kami bukan bayang-bayang lagi……, tetapi kami unsur kehidupan yang
memiliki arti. Kami ini mata rantai Republik ini……., kami ini garda terdepan
perekat ikatan persatuan anak negeri.
Kami tidak pernah peduli terdiri dari suku apa mata rantai ini….., terbuat dari
agama apa mata rantai ini, terdiri dari golongan kaya atau miskin, ksatria
ataupun sudra kami tidak pernah peduli.
Kami telah menyatu….., Kami adalah tonggak merah-putih negeri ini.
Dengarlah detak hati nurani kita yang terdalam……, biar bumi ini terbelah
sungai bumi, atau laut, benua atau samudera ……kita tetap satu darah. Kita
harus menjadi darah terbersih dari bangsa ini, yang bisa mencuci darah-darah
kotor yang telah salah bekerja…., darah kotor yang telah letih dan lemah. Kami
ini darah-darah segar generasi yang senantiasa beredar, mengalir menurut
hukum negeri ini…….. menyelesaikan sisa peredaran hidup menurut janji dan
ketentuan moral……satya yang terpateri dan diamalkan, darma yang teguh dan
dibaktikan.
Di susun di Barito Utara, 24 Agustus 2007.
JOKO MURSITHO
8
Oleh: Joko Mursitho
Dalam lingkaran ini hilangkanlah dahagamu,
Dalam lingkaran ini hilangkanlah dukamu,
Dalam lingkaran ini raihlah kebanggaanmu,
Karena kita telah menjadi rantai dan jeruji satya dan darma,
Kita telah ikatkan tali persaudaraan, kita telah getarkan semangat berkorban,
Hilangkan niat buruk kita, yang hanya memikirkan pujian karena pekerjaan
yang telah kita lakukan,
Mari kita tarik benang sebab akibat,
Kesuksesan kita, bukan karena kita sendiri,
Tetapi karena pekerjaan teman-teman lainnya,
Jangan risau ketika bukan engkau yang dihargai, bukan engkau yang dielukan,
Karena Tuhan melihat, tangan kita telah bekerja melalui kebenaran yang
difirmankannya,
Karena Tuhan melihat tangan dan jiwa kita telah meluruskan langkah-langkah
mereka,
Ada yang kecewa, ada yang tidak suka, ketika kita telah mencapainya,
Tapi itu hal biasa, karena mereka masih manusia biasa,
Terkadang ia iri, dengki, kemudian mengadu yang bukan-bukan kepada atasan
kita,... biar dia dianggap yang paling setia, dan paling berjasa.
Teruslah berjalan, karena dia bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa.
Teruslah berjalan walau kegelapan menghadang,
Karena kita yakin kita telah menuju cahaya-Nya,
Waktu dan tempat akan menunjukkan siapa mereka,
Karena mereka adalah benalu kehidupan, benalu Gerakan Pramuka, yang
mencari hidup dan keuntungan pribadi karenanya.
Tapi kamu adalah ilalang-ilalang yang tidak bisa ditempeli benalu itu,
Kamu tetap akan bertahan walau kader-kadermu dicabut, dicampakkan,
Walau namamu dibusukkan, kamu akan terus menurunkan generasi ilalang
yang punya rasio dan rasa. Generasi ilalang yang punya budi dan nurani.
Biarlah kamu dipandang rendah,
9
Biarlah kamu dipandang kecil,
Karena kamu hanyalah ilalang,
Kadang kamu dibakar,
Kadang kamu dinjak-injak,
Tapi tak ingatkah bahwa kamu lebih sering dijadikan atap untuk berteduh,
memayungi mereka?;
Tak ingatkah bahwa kamu lebih sering dijadikan alas tidur, ... untuk Pramuka
pengembara,
Biarlah dalam perkaderan ini engkau tetap menjadi ilalang, yang senantiasa
meneruskan generasimu,
Biarlah sang bayu bertiup menggontai dahan dan bungamu,
Biarlah sang angin sahabatmu itu, menaburkan bungamu ke tempat lain,
karena di sana tunasmu akan tumbuh.
Kita tidak malu sebagai ilalang di tempat yang rendah,
Karena seharusnya ada orang-orang yang malu menjadi benalu di tempat yang
tinggi.
Iklas bakti bina bangsa ber budi bawa laksana.
Amin.
Nangro Aceh Darussalam, 8 Januari, 2009.
10
Oleh: Joko Mursitho
Andaikan alam selalu ramah walau diperlakukan oleh manusia sesuka hatinya,
Andaikan manusia tidak pernah merasa menderita walau disakiti, diperas,
diperbudak, ditindas oleh manusia lainnya,
Andaikan keluhuran budipekerti manusia adalah lilin cair yang mudah kita
bentuk,
Andaikan tangan kami dapat menjangkau seluruh bumi Nusantara, dan mampu
mengubah manusia serta tatanannya seperti yang tertera pada adi cita bangsa,
Andaikan manusia senantiasa mengamalkan dasadarma kita.
Maka tak perlu ada aku berdesis panjang di sini,
Tak perlu pula ada engkau tertegun mendengar ungkapan hati ini di situ,
Ketika tarikan nafas panjang mengisi rongga, dari udara yang disediakan Sang
Khaliq untuk kita,
Biarkanlah hatiku, hatimu melebur mencari relung kebenaran,
Mengalir ke muara hening bersama riak kesadaran,
Seribu langkah berderap,
Seribu tunas tumbuh,
Dari tangan-tangan kita para Pembina Pramuka,
Tak perlu sejarah mencatat apa yang kita perbuat,
Namun kita terus berkutat,
Sampai jantung tiada berdetak
Barangkali, apakah kami cukup pantas, sebagai sang penabur,
Biar sampai batas umur,
Kami telah dan akan terus membentuk kader umat secara teratur, ...
bagaikan ombak samudera yang senantiasa berdebur.
Sibolangit, 5 Januari 2009
11
Oleh: Joko Mursitho
Kecil, mungil, menyendiri,
Tegak, mandiri, di tengah sawah,
Tempat berlindung petani, menjaga padi,
Tempat berlindung siapa saja yang melewatinya,
Gubug bukan rumah megah di tengah kota,
Karena rumah megah itu hanya dipakai sendiri untuk yang punya,
Gubug bersifat terbuka, ia membiarkan angin berhembus dari arah mana ia
suka,
Gubug sederhana, dan berjiwa sosial,
Gubug membawa ketenteraman dan perdamaian, bagi siapa saja yang
menyambanginya.
Sebagai Pembina biarlah kita kecil,
Tetapi bersih apa yang kita pikirkan,
Jelas apa yang kita lakukan,
Ikhlas apa yang kita kerjakan,
Damai apa yang kita timbulkan.
Japakeh, NAD, January 8th 2008.
12
Oleh: Joko Mursitho
Mengalun di desa yang sunyi,
Bersama sang bayu yang berdesah..,
Mengalir indah bagaikan riak-riak kehidupan,
Suara seruling itu bertegur sapa,
Halus....,
Lirih.....,
Menggema....,
Suara seruling itu, bertutur tentang sejarah, tentang rakyat jelata, tentang
petani, tentang pengembara, tentang para senopati, dan juga berkisah tentang
raja-raja.
Ia merajut kelembutan
Suara seruling bambu yang merdu,
berjabat rasa......., berjabat kalbu.
Walau dia hanyalah bambu kecil,
Tapi dia mendegupkan jantung pendengarnya,
Dia membuat kita manja,
Dia membuat kita lega,
dia punya makna.............,
Ketika untaian nada-nada yang tersusun dirangkai para pujangga,
Suara seruling itu bagai suara seorang guru anindita,
Lagumu mengalunkan cinta para Pembina kepada adik-didiknya.
Memberi pelajaran kehalusan budi,
Mengajarkan kecintaan terhadap sesama,
Mengajarkan cinta alam dan semesta isinya,
Biarkan ia terkadang bersuara sendu,
ia ingin menyuarakan tembang rakyat, yang tertindas,
menyampaikan pesan kepada pejabat, kepada narpati,
Karena besuk pagi ia akan menyuarakan semangat rakyat,
13
Karena besuk pagi ia mendendangkan suara gembira,
Menyemangati orang-orang miskin untuk bergiat mengolah sumberdaya,
Karena para penindas akan engkau sadarkan,
Karena para pejabat akan engkau tanamkan rasa cinta kasih.
Seruling, biarlah engkau tetap menjadi seruling,
Karena engkau bukan hanya bambu biasa, tapi kamu buluh perindu,
Karena kamu penerus budaya terindah bangsaku.
Karena engkau akan menyuarakan kasih sayang sepanjang masa.
Dikala hujan berdetik di Jakarta, 28 Februari 2009.
14
Hati anggota racana,
Hati seorang kembara,
Yang tegak, tangguh bagaikan benteng baja.
Semangat racana, adalah jiwa pembangun yang senantiasa nyala membara.
Setiap jengkal kami menapak, setiap langkah kami berjalan selalu
membekaskan kebaikan.
Jiwa darma sakti, jiwa pramuka sejati,
Kami hidup bukan dari Gerakan Pramuka,
Kamilah yang menghidupi Gerakan Pramuka.
Pusaka Racana,
Adalah ketangguhan mental kami,
Untaian jiwa kami dalam membangun bangsa.
Kekuatan Racana berada dalam genggaman perilaku yang diamalkan.
Berprasangka baik adalah kebiasaan kami,
Menghargai pendapat orang lain adalah adat kami,
Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa adalah tindakan kami, karena....
Merah putih bukan sekedar bendera kami.....tetapi adalah darah kami.
Anggota Racana,
Tidak perlu untaian bunga,
Karena kami sendiri adalah bunga pertiwi.
Kami ini anak negeri ini,
Yang rela berkorban demi negeri,
Dari tangan kami,
Akan aku bangun monumen kesejahteraan.
Inilah arti Darma Sakti bagi kami.
(4 Agustus 2010).
15