Anda di halaman 1dari 17

 

BAB 1
TINJAUAN PUSTAKA

1.2  Konsep Dasar Teori Craniotomy


1.2.1  Definisi
Trepanasi/kraniotomi adalah suatu tindakan membuka tulang kepala yang
 bertujuan mencapai otak untuk tindakan pembedahan definitif. Kraniotomi adalah
operasi membuka tulang tengkorak untuk mengangkat tumor, mengurangi TIK,
mengeluarkan bekuan darah atau menghentikan perdarahan (Hinchliff Sue, 2011).
Kraniotomi mencakup pembukaan tengkorak melalui pembedahan untuk
meningkatkan akses pada struktur intrakranial (Brunner & Suddarth, 2002).
Kraniotomi adalah insisi pada tulang tengkorak dan membersihkan tulang
dengan memperluas satu atau lebih lubang. Pembedahan craniektomy dilakukan
untuk mengangkat tumor, hematom, luka, atau mencegah infeksi pada daerah
tulang tengkorak. Jadi post kraniotomi adalah setelah dilakukannya operasi
 pembukaan tulang tengkorak untuk mengangkat tumor, mengurangi TIK,
mengeluarkan bekuan darah atau menghentikan perdarahan.

Gambar 1.1 Penampang Lapisan Kranium


 

1.2.2  Indikasi Operasi


Indikasi tindakan kraniotomi atau pembedahan intrakranial adalah sebagai
 berikut :
1.  Penurunan kesadaran tiba-tiba di depan mata
2.  Adanya tanda herniasi/lateralisasi
3.  Adanya cedera sistemik yang memerlukan operasi emergensi, dimana CT
Scan Kepala tidak bisa dilakukan.
4.  Pengangkatan jaringan abnormal baik tumor maupun kanker.
5.  Mengurangi tekanan intrakranial.
6.  Mengevakuasi bekuan darah.
7.  Mengontrol bekuan darah,
8.  Pembenahan organ-organ intrakranial,
9.  Tumor otak,
10. Perdarahan (hemorrage),
11. Kelemahan dalam pembuluh darah (cerebral aneurysms)
12. Peradangan dalam otak
13. Trauma pada tengkorak.

Gambar 1.2 Kraniotomi


 

1.2.3  Manifestas
Manifestasii Klinis
1.  Manifestasi klinik lokal (akibat kompresi tumor pada bagian yang
spesifikdari otak) :
1)  Perubahan penglihatan, misalnya: hemianopsia, nistagmus, diplopia,
kebutaan, tanda-tanda papil edema.
2)  Perubahan bicara, misalnya: aphasia
3)  Perubahan sensorik, misalnya: hilangnya sensasi nyeri, halusinasi
sensorik.
4)  Perubahan motorik, misalnya: ataksia, jatuh, kelemahan, dan paralisis.
5)  Perubahan bowel atau bladder, misalnya: inkontinensia, retensia urin,
dan konstipasi.
6)  Perubahan dalam pendengaran, misalnya : tinnitus
7)  Perubahan dalam seksual
2.  Manifestasi klinik umum (akibat dari peningkatan TIK, obstruksi dari
CSF):
1)  Sakit kepala
2)   Nausea atau muntah proyektil
3)  Pusing
4)  Perubahan mental
5)  Kejang


 

1.2.5  Pemeriksaan Penunjang


Prosedur diagnostik praoperasi dapat meliputi :  
1.  Tomografi komputer (pemindaian CT)
Untuk menunjukkan lesi dan memperlihatkan derajat edema otak
sekitarnya, ukuran ventrikel, dan perubahan posisinya/pergeseran jaringan
otak, hemoragik. Catatan : pemeriksaan berulang mungkin diperlukan
karena pada iskemia/infark mungkin tidak terdeteksi dalam 24-72 jam
 pasca trauma.
2.  Pencitraan resonans magnetik (MRI)
Sama dengan scan CT, dengan tambahan keuntungan pemeriksaan lesi
dipotongan lain.
3.  Electroencephalogram (EEG)
Untuk memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya gelombang
 patologis
4.  Angiografy Serebral
Menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran jaringan otak
akibat edema, perdarahan trauma
5.  Sinar-X
Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur), pergeseran struktur
dari garis tengah (karena perdarahan,edema), adanya fragmen tulang
6.  Brain Auditory Evoked Respon (BAER) : menentukan fungsi korteks dan
 batang otak
7.  Positron Emission Tomography (PET) : menunjukkan perubahan aktivitas
metabolisme pada otak
8.  Fungsi lumbal, CSS : dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan
subarachnoid
9.  Gas Darah Arteri (GDA) : mengetahui adanya masalah ventilasi atau
oksigenasi yang akan dapat meningkatkan TIK
10. Kimia/elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang berperan
dalam meningkatkan TIK/perubahan mental
11. Pemeriksaan toksikologi : mendeteksi obat yang mungkin bertanggung
 jawab terhadap penurunan kesadaran


 

12. Kadar antikonvulsan darah : dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat


terapi yang cukup efektif untuk mengatasi kejang.
1.2.6  Penatalaksanaan
1.  Preoperasi
Pada penatalaksaan bedah intrakranial praoperasi pasien diterapi dengan
medikasi antikonvulsan (fenitoin) untuk mengurangi resiko kejang pasca
operasi. Sebelum pembedahan, steroid (deksametason) dapat diberikan
untuk mengurangai edema serebral. Cairan dapat dibatasi. Agens
hiperosmotik (manitol) dan diuretik (furosemid) dapat diberikan secara
intravena segera sebelum dan kadang selama pembedahan bila pasien
cenderung menahan air yang terjadi pada individu yang mengalami
disfungsi intrakranial. Kateter urinarius menetap di pasang sebelum pasien
dibawa ke ruang operasi untuk mengalirkan kandung kemih selama
 pemberian diuretik dan untuk memungkinkan haluaran urinarius dipantau.
Pasien dapat diberikan antibiotik bila serebral sempat terkontaminasi atau
diazepam pada praoperasi untuk menghilangkan ansietas. Kulit kepala di
cukur segera sebelum pembedahan (biasanya di ruang operasi) sehingga
adanya abrasi superfisial tidak semua mengalami infeksi.
2.  Pasca Operasi
1)  Mengurangi Edema Serebral
Terapi medikasi untuk mengurangi edema serebral meliputi pemberian
manitol, yang meningkatkan osmolalitas serum dan menarik air bebas dari
area otak (dengan sawar darah-otak utuh). Cairan ini kemudian
dieksresikan melalui diuresis osmotik. Deksametason dapat diberikan
melalui intravena setiap 6 jam selama 24 sampai 72 jam; selanjutnya
dosisnya dikurangi secara bertahap.
2)  Meredakan Nyeri dan Mencegah Kejang
Asetaminofen biasanya diberikan selama suhu di atas 37,5 C dan untuk
nyeri. Sering kali pasien akan mengalami sakit kepala setelah kraniotomi,
 biasanya sebagai akibat syaraf kulit kepala diregangkan dan diiritasi
selama pembedahan. Codein, diberikan lewat parenteral, biasanya cukup
untuk menghilangkan sakit kepala. Medikasi antikonvulsan (fenitoin,


 

diazepam) diresepkan untuk pasien yang telah menjalani kraniotomi


supratentorial, karena resiko tinggi epilepsi setelah prosedur bedah neuro
supratentorial. Kadar serum dipantau untuk mempertahankan medikasi
dalam rentang terapeutik.
3)  Memantau Tekanan Intrakranial
Kateter ventrikel, atau beberapa tipe drainase, sering dipasang pada
 pasienyang menjalani pembedahan untuk tumor fossa posterior. Kateter
disambungkan ke sistem drainase eksternal. Kepatenan kateter
diperhatikan melalui pulsasi cairan dalam selang. TIK dapat dikaji dengan
menyusun sistem dengan sambungan stopkok ke selang bertekanan dan
tranduser. TIK dalam dipantau dengan memutar stopkok. Perawatan
diperlukan untuk menjamin bahwa system tersebut kencang pada semua
sambungan dan bahwa stopkok ada pada posisiyang tepat untuk
menghindari drainase cairan serebrospinal, yang dapat mengakibatkan
kolaps ventrikel bila cairan terlalu banyak dikeluarkan. Kateter diangkat
ketika tekanan ventrikel normal dan stabil. Ahli bedah neuro diberi tahu
kapanpun kateter tanpak tersumbat. Pirau ventrikel kadang dilakuakan
sebelum prosedur bedah tertentu untuk mengontrol hipertensi intrakranial,
terutama pada pasien tumor fossa posterior
1.2.7  Teknik Operasi
1.   Positioning
Letakkan kepala pada tepi meja untuk memudahkan operator. Head-up
kurang lebih15 derajat(pasang donat kecil dibawah kepala).Letakkan
kepala miring kontralateral lokasilesi/ hematoma. Ganjal bahu satu sisi
saja pada sisi lesi) misalnya kepala miring ke kanan maka ganjal bantal di
 bahu kiridan sebaliknya.


 

2.  Washing
Cuci lapangan operasi dengan savlon. Tujuan savlon: desinfektan,
menghilangkan lemak yang ada di kulit kepala sehingga pori-pori terbuka,
 penetrasi betadine lebih baik. Keringkan dengan doek steril. Pasang doek
sterildi bawah kepala untuk membatasi kontak dengan meja operasi.
3.   Markering
Setelah markering periksa kembali apakah lokasi hematomnya sudah benar
dengan melihat CT scan. Saat markering perhatikan: garis rambut  –  untuk
  untuk
kosmetik, sinus  –   untuk menghindari perdarahan, sutura  –   untuk
mengetahui lokasi, zygoma  –   sebagai batas basis crani, jalannya N VII
(kurang lebih 1/3 depan antara tragus sampai dengan canthus lateralis
orbita).

4.  Desinfeksi
Desinfeksi lapangan operasi dengan betadine. Suntikkan
Adrenalin1:200.000 yang mengandung lidocain 0,5%. Tutup lapangan
operasi dengandoek steril.
5.  Prosedur Operasi
1)  Incisi lapis demi lapis sedalam galea (setiap 5cm) mulai dari ujung.
2)  Pasang haak tajam 2 buah (oleh asisten), tarik ke atas sekitar 60
derajat.
3)  Buka flap secara tajam pada looseconnective tissue. Kompres dengan
kasa basah. Di bawahnya diganjal dengan kasa steril supaya pembuluh


 

darah tidak tertekuk (bahaya nekrosis pada kulitkepala). Klem pada


 pangkal flap dan fiksasi pada doek.

4)  Buka perikranium dengan diatermi. Kelupas secara hati-hati dengan


rasparatorium pada daerah yang akan diburrhole dan gergaji kemudian
dan rawat perdarahan.
5)  Penentuan lokasi burrhole idealnya pada setiap tepi hematom
sesuaigambar CT scan.
6)  Lakukan burrhole pertama dengan mata
mata bor tajam (Hudson’s Brace) 
Brace)  
kemudian dengan mata bor yang melingkar (Conical boor) bila sudah
menembus tabula interna.
7)  Boorhole minimal pada 4 tempat sesuai dengan merkering.
8)  Perdarahan dari tulang dapat dihentikan dengan bone wax. Tutup
lubang boorhole dengan kapas basah/ wetjes.
9)  Buka tulang dengan gigli. Bebaskan dura dari cranium dengan
menggunakan sonde. Masukan penuntun gigli pada lubang boorhole.
Pasang gigli kemudian masukkan penuntun gigli sampai menembus
lubang boorhole di sebelahnya. Lakukan pemotongan dengan gergaji
dan asisten memfixir kepala penderita.
10) Patahkan tulang kepala dengan flap ke atas menjauhi otak dengan cara
tulang dipegang dengan knabel tang dan bagian bawah dilindungi
dengan elevator kemudian miringkan posisi elevator pada saat
mematahkan tulang.


 

11) Setelah nampak hematom epidural, bersihkan tepi-tepi tulang dengan


spoeling dan suctioning sedikit demi sedikit. Pedarahan dari tulang
dapat dihentikan dengan bone wax.
12) Gantung dura (hitch stitch) dengan benang silk 3.0 sedikitnya 4 buah.
13) Evakuasi hematoma dengan spoeling dan suctioning secara gentle.
Evaluasi dura, perdarahan dari dura dihentikan dengan diatermi. Bila
ada perdarahan dari tepi bawah tulang yang merembes tambahkan
hitchstitch pada daerah tersebut kalau perlu tambahkan spongostan di
 bawah tulang. Bila perdarahan profus dari bawah tulang (berasal dari
arteri) tulang boleh di-knabel untuk mencari sumber perdarahan
kecuali dicurigai berasal dari sinus.
14) Bila ada dura yang robek jahit dura dengan silk 3.0 atau vicryl 3.0
secara simpul dengan jarak kurang dari 5mm. Pastikan sudah tidak ada
lagi perdarahan dengan spoeling berulang-ulang.
15) Pada subdural hematoma setelah dilakukan kraniektomi langkah
selanjutnya adalah membuka duramater.
16) Sayatan pembukaan dura seyogianya berbentuk tapal kuda (bentuk U)
 berlawanan dengan sayatan kulit. Duramater dikait dengan pengait
dura, kemudian bagian yang terangkat disayat dengan pisau sampai
terlihat lapisan mengkilat dari arakhnoid. (Bila sampai keluar cairan
otak, berarti arachnoid sudah turut tersayat). Masukkan kapas
 berbuntut melalui lubang ssayatan
ayatan ke bawah
b awah duramater
dura mater di dalam ruang
subdural, dan selanjutnya dengan kapas ini sebagai pelindung terhadap
kemungkinan trauma pada lapisan tersebut.
17) Perdarahan dihentikan dengan koagulasi atau pemakaian klip khusus.
Koagulasi yang dipakai dengan kekuatan lebih rendah dibandingkan
untuk pembuluh darah kulit atau subkutan.
18) Reseksi jaringan otak didahului dengan koagulasi permukaan
otakdengan pembuluh-pembuluh darahnya baik arteri maupun vena.
19) Semua pembuluh darah baik arteri maupun vena berada di permukaan
diruang subarahnoidal, sehingga bila ditutup maka pada jaringan otak
dibawahnya tak ada darah lagi


 

20) Perlengketan jaringan otak dilepaskan dengan koagulasi. Tepi bagian


otak yang direseksi harus dikoagulasi untuk menjamin jaringan otak
 bebas dari perlengketan. Untuk membakar permukaan otak, idealnya
dipergunakan kauter bipolar. Bila dipergunakan kauter monopolar,
untuk memegang jaringan otak gunakan pinset anatomis halus sebagai
alat bantu kauterisasi.
21) Pengembalian tulang. Perlu dipertimbangkan dikembalikan/tidaknya
tulang dengan evaluasi klinis pre operasi dan ketegangan dura. Bila
tidak dikembalikan lapangan operasi dapat ditutup lapis demi lapis
dengan cara sebagai berikut:
(1)  Teugel dura di tengah lapangan operasi dengan silk 3.0 menembus
keluar kulit.
(2)  Periost dan fascia otot dijahit dengan vicryl 2.0.
(3)  Pasang drain subgaleal.
(4)  Jahit galea dengan vicryl 2.0.
(5)  Jahit kulit dengan silk 3.0.
(6)  Hubungkan drain dengan vaum drain (Redon drain).
(7)  Operasi selesai.
22) Bila tulang dikembalikan, buat lubang untuk fiksasi tulang, pertama
 pada tulang yang tidak diangkat (3-4 buah). Tegel dura ditengah tulang
yang akan dikembalikan untuk menghindari dead space. Buat lubang
 pada tulang yang akan dikembalikan sesuai dengan lokasi yang akan di
fiksasi (3-4 buah ditepi dan 2 lubang ditengah berdekatan untuk teugel
dura). Lakukan fiksasi tulang dengan dengan silk 2.0, selanjutnya tutup
lapis demi lapis seperti diatas.
1.2.8  Komplikasi Pasca Operasi
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada pasien pascabedah
intrakranial atau kraniotomi adalah sebagai berikut :  
1.  Peningkatan tekanan intrakranial
2.  Perdarahan dan syok hipovolemik
3.  Ketidakseimbangan cairan dan elekrolit
4.  Infeksi

10 
 

5.  Kejang
6.  Edema cerebral.
7.  Perdarahan subdural, epidural, dan intracerebral.
8.  Hipovolemik syok.
9.  Hidrocephalus.
10. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (SIADH atau Diabetes Insipidus).
11. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
12. Tromboplebitis post operasi biasanya timbul 7 – 
7 –  14
 14 hari setelah operasi.
13. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding
14. Pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli keparu-paru,
hati dan otak. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi,
ambulatif. (Brunner & Suddarth, 2002).
1.2.9  Perawatan Pasca bedah
Monitor kondisi umum dan neurologis pasien dilakukan seperti biasanya.
Jahitan dibuka pada hari ke 5-7. Tindakan pemasangan fragmen tulang atau
kranioplasti dianjurkan dilakukan setelah 6-8 minggu kemudian.
1.2.10  Follow-Up
CT scan kontrol diperlukan apabila post operasi kesadaran tidak membaik
dan untuk menilai apakah masih terjadi hematom lainnya yang timbul kemudian.

1.3  Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Post Kraniotomi


1.3.5  Pengkajian
1.  Primary Survey
1)  Airway
(1)  Periksa jalan nafas dari sumbatan benda asing (padat, cair) setelah
dilakukan pembedahan akibat pemberian anestesi.
(2)  Potensi jalan nafas, meletakan tangan di atas
ata s mulut atau hidung.
(3)  Auscultasi paru keadekuatan expansi paru, kesimetrisan.
2)  Breathing
(1)  Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama
 jantung, sehingga terjadi perubahan pada pola napas, kedalaman,
frekuensi maupun iramanya, bisa berupa Cheyne Stokes atau

11 
 

Ataxiabreathing. Napas berbunyi, stridor, ronkhi, wheezing (


kemungkinan karena aspirasi), cenderung terjadi peningkatan
 produksi sputum pada jalan napas.
(2)  Perubahan pada pernafasan (rata-rata, pola, dan kedalaman). RR <
10 X /menit depresi narcotic, respirasi cepat, dangkal gangguan
kardiovascular atau rata-rata metabolisme yang meningkat.
(3)  Inspeksi: Pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu
 pernafasan diafragma, retraksi sternal efek anathesi yang
 berlebihan, obstruksi.
3)  Circulating:
(1)  Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah
 bervariasi.Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan
transmisi rangsangan parasimpatik ke jantung yang akan
mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat, merupakan tanda
 peningkatan tekanan intrakranial. Perubahan frekuensi jantung
(bradikardia, takikardia yang diselingi dengan bradikardia,
disritmia).
(2)  Inspeksi membran mukosa: warna dan kelembaban, turgor kulit,
 balutan.
4)  Disability : berfokus pada status neurologi
(1)  Kaji tingkat kesadaran pasien, tanda-tanda respon mata, respon
motorik dan tanda-tanda vital.
(2)  Inspeksi respon terhadap rangsang, masalah bicara, kesulitan
menelan, kelemahan atau paralisis ekstremitas, perubahan visual
dan gelisah
5)  Exposure
Kaji balutan bedah pasien terhadap adanya perdarahan
2.  Secondary Survey : Pemeriksaan fisik
1)  Abdomen.
Inspeksi tidak ada asites, palpasi hati teraba 2 jari bawah iga, dan limpa
tidak membesar, perkusi bunyi redup, bising usus 14 X/menit. Distensi

12 
 

abdominal dan peristaltic usus adalah pengkajian yang harus dilakukan


 pada gastrointestinal.
2)  Ekstremitas
Mampu mengangkat tangan dan kaki. Kekuatan otot ekstremitas atas
4-4 dan ekstremitas bawah 4-4, akral dingin dan pucat.
3)  Integumen. Kulit keriput, pucat, turgor sedang
4)  Pemeriksaan neurologis
5)  Bila perdarahan hebat/luas dan mengenai batang otak akan terjadi
gangguan pada nervus cranialis, maka dapat terjadi :
(1)  Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian,
konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku
danmemori).
(2)  Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia,
kehilangan sebagian lapang pandang, foto fobia.
(3)  Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada
mata.
(4)  Terjadi penurunan daya pendengaran, keseimbangan tubuh.
(5)  Sering timbul cegukan oleh karena kompresi pada nervusvagus
menyebabkan kompresi spasmodik diafragma.
(6)  Gangguan nervus hipoglosus. Gangguan yang tampak lidah jatuh
kesalah satu sisi, disfagia, disatria, sehingga kesulitan menelan.
1.3.6  Diagnosa Keperawatan
Keperawatan
Post Operasi
1.   Nyeri berhubungan dengan
dengan prosedur bedah
2.  Bersihan jalan napas inefektif berhubungan dengan penumpukan secret
di jalan napas
3.  Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan adanya
trauma kepala.
4.  Resiko tinggi cedera berhubungan dengan trauma intracranial
5.  Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi
6.  Cemas berhubungan dengan ancaman kematian
1.3.7  Intervensi Keperawatan

13 
 

Post Operasi
1.  Nyeri berhubungan dengan adanya prosedur tindakan bedah.
Tujuan : Pasien tidak mengalami nyeri, antara lain penurunan nyeri pada
tingkat yang dapat diterima
Kriteria hasil :
a.  Tidak menunjukkan tanda-tanda nyeri
 b.   Nyeri menurun sampai tingkat yang dapat
dapat diterima
Intervensi :
1)  Berikan pereda nyeri dengan manipulasi lingkungan (misal ruangan
tenang, batasi pengunjung).
R : Mengurangi stressor yang dapat memperparah nyeri
2)  Berikan analgesik sesuai ketentuan
R : Mengurangi nyeri
3)  Cegah adanya gerakan yang mengejutkan seperti membentur tempat
tidur
R : Meminmalkan rasa nyeri yang muncul
4)  Cegah peningkatan TIK
R : Mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pasien
2.  Bersihan jalan napas inefektif berhubungan dengan penumpukan
secret di jalan napas
Tujuan :jalan napas kembali efektif.
Kriteria hasil :
a.  Klien dapat bernapas dengan baik tanpa alat bantu
 b.  Status kesadaran meningkat
Intervensi :
1)  Monitor status respirasi
R : mengetahui kepastian kepatenan jalan napas.
2)  Bebaskan jalan nafas
R : membantu klien dalam hal bernapas
3)  Auskultasi suara nafas
R : untuk mengetahui adanya secret di jalan napas
4)  Berikan oksigensesuai program

14 
 

R : agar kebutuhan oksigen terpenuhi


5)  Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat sesuai indikasi
R : pemberian obat saluran napas bertujuan untuk melonggarkan jalan
napas dan mengeluarkan secret.
3.  Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan adanya
trauma kepala.
Tujuan : perfusi jaringan serebral kembali normal
Kriteria Hasil :
a.  Kesadaran membaik
 b.  Proses penyembuhan luka baik
Intervensi :
1)  Monitoring TTV klien perjam
R : untuk mengetahui keadaan status umum klien.
2)  Monitor status neurologi
R : mengetahui adanya resiko peningkatan TIK
3)  Posisikan kepala klien head up 300 
R : membantu dalam mengurangi TIK
4)  Kolaborasi pemberian manitol sesuai therapi
R : manitol mencegah terjadinya peningkatan TIK
4.  Resiko tinggi cedera berhubungan dengan trauma intrakranial
Tujuan : Pasien mengalami stress minimal pada sisi operasi
Kriteria hasil :
a.  Stress minimal pada sisi operasi
 b.  Pasien tetap pada posisi yang diinginkan
Intervensi:
1)  Konsul dengan ahli bedah mengenai pemberian posisi, termasuk
derajat fleksi leher.
R : Memberikan posisi yang tepat sehingga mengurangi risiko cedera
2)  Posisikan pasien datar dan miring, bukan terlentang atau tinggikan
kepala
R : Mengurangi peningkatan TIK

15 
 

3)  Balikkan pasien miring kanan dan miring ke kiri dengan hati-hati / 2
 jam
R : Mencegah cedera
4)  Hindari posisi trendelenburg
R : Mencegah peningkatanTIK
5.  Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi
Tujuan : Pasien tidak mengalami infeksi atau tidak terdapat tanda-tanda
infeksi pada pasien.
Kriteria hasil :Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
Intervensi:
1)  Pantau tanda / gejala infeksi
R : Mencegah terjadinya infeksi
2)  Rawat luka operasi dengan teknik steril
R : Mencegah invasi bakteri
3)  Memelihara teknik isolasi, batasi jumlah pengunjung
4)  Ganti peralatan perawatan pasien sesuai dengan protapmikroorganisme
R : Mencegah organisme pathogen masuk
6.  Cemas berhubungan dengan ancaman kematian
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kecemasan
hilang atau berkurang.
Kriteria hasil :
1)  Monitor intensitas kecemasan
2)  Rencanakan strategi koping untuk mengurangi stress
3)  Gunakan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan
4)  Kondisikan lingkungan nyaman
Intervensi:
1)  Sediakan informasi yang sesungguhnya meliputi diagnosis, treatment
dan prognosis
R : Memberikan informasi selama perawatan yang didapatkan pasien
2)  Tetap dampingi klien untuk menjaga keselamatan pasien dan
mengurangi
R : Memberikan rasa aman dan nyaman

16 
 

3)  Instruksikan pasien untuk melakukan ternik relaksasi


R : Memberikan rasa aman dan nyaman
4)  Bantu pasien mengidentifikasi situasi yang menimbulkan ansietas.
R : Mengurangi ansietas
1.3.8  Implementasi
Pelaksanaan merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan
yang telah disusun ( Mubaraq, 2006)
Pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditnjuk untuk
membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan, peningkatan kesehatan
dan menfasilitas koping.
Implementasi juga berdasarkan intervensi yang telah ditentukan kemudian
disesuaikan dengan respond an kondisi klien saat itu. Implementasi dilakukan
dengan mengacu pada tujuan intervensi pada setiap diagnosa.
1.3.9  Evaluasi
Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan
keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan antara
 proses dengan pedoman atau rencana proses tersebut ( Mubaraq, 2006)
2006)
Hasil yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan meliputi:
1.  Pasien tidakmengalami nyeri, antara lainpenurunan nyeri padatingkat yang
dapat diterima
2.  Pasien mengalami stress minimal pada sisi operasi
3.  Pasien tidak mengalami infeksi atau tidak terdapat tanda-tanda infeksi
 pada pasien.
4.  Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kecemasan hilang
atau berkurang.

17 

Anda mungkin juga menyukai