MAKALAH
HANTARAN PENGANTIN DI JAWA TIMUR WILAYAH TAPAL KUDA
Mata Kuliah: Kerajinan 2022C
Dosen Pengampu: Dra. Arita Puspitorini M. Pd., dan Nur Ilahi Anjani S. Ked., M. Kes.,
Disusun Oleh:
1. Aprilia Asya An Nabila 22050634061
2. Febi Aulia Magfiroh 22050634062
3. Silvia Qotrunahda 22050634070
4. Haliza Ayu Maulidya 22050634077
5. Aurellia Sekar Larasati 22050634078
6. Nadia Fitri Anggraini 22050634083
S1 PENDIDIKAN TATA RIAS
PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur tim penulis panjatkan kehadirat Allah Ta’ala. atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul, “HANTARAN
PENGANTIN DI JAWA TIMUR WILAYAH TAPAL KUDA” dapat kami selesaikan dengan
baik. Tim penulis berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
pembaca tentang materi yang dibahas. Begitu pula atas limpahan kesehatan dan kesempatan
yang Allah SWT karuniai kepada kami sehingga makalah ini dapat kami susun melalui beberapa
sumber yakni melalui kajian pustaka maupun melalui media internet.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan kami semangat dan motivasi dalam pembuatan tugas makalah ini. Kepada anggota
kelompok kami yang telah memberikan banyak kontribusi bagi kami, serta dosen pengampu
mata kuliah Kerajinan, Dra. Arita Puspitorini M. Pd., dan Nur Ilahi Anjani S. Ked., M. Kes.,.
Harapan kami, informasi dan materi yang terdapat dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca. Tiada yang sempurna di dunia, melainkan Allah SWT. Tuhan Yang Maha Sempurna,
karena itu kami memohon kritik dan saran yang membangun bagi perbaikan makalah kami
selanjutnya.
Demikian makalah ini kami buat, apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, atau pun
adanya ketidaksesuaian materi yang kami angkat pada makalah ini, kami mohon maaf. Tim
penulis menerima kritik dan saran seluas-luasnya dari pembaca agar bisa membuat karya
makalah yang lebih baik pada kesempatan berikutnya.
Surabaya, 13 Januari 2023
Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seserahan adalah simbol tanggung jawab calon pengantin pria terhadap
pasangannya. Seserahan ini juga memiliki filosofi bahwa calon pengantin pria siap
memenuhi kebutuhan calon pengantin wanita dan keluarganya kelak. Tak hanya itu,
seserahan juga menjadi lambang keseriusan sang pria untuk mencintai dan menjadi
pasangan yang setia bagi pengantin wanita. Sebab itulah, seserahan pada umumnya berisi
barang-barang kebutuhan calon mempelai wanita seperti sepaket kosmetik, disertai
pakaian, kain bahan, aksesoris, pakaian tidur, lingerie dan perhiasan.
Setiap barang yang dibawa dalam seserahan memiliki simbol filosofis. Misalnya
saja perhiasan merupakan simbolisasi agar pengantin wanita selalu bersinar dan
bercahaya dalam kehidupan pernikahannya.
Adat seserahan merupakan suatu rangkaian acara penyerahan calon pengantin dari
pihak keluarga laki-laki kepada pihak keluarga perempuan dalam rangka menyambut dan
mempersiapkan calon pasangan tersebut menuju sebuah mahligai pernikahan. Dalam
prosesnya, seserahan melibatkan sejumlah orang dari keluarga mempelai, tetangga,
maupun saudara pengantin.
Adat seserahan ini lazimnya dilaksanakan sehari sebelum pelaksanaan ijab qabul.
Sehingga calon pengantin melewati suatu malam di rumah keluarga calon pengantin
wanita, bergaul dan beradaptasi sebagai calon penghuni baru bagi rumah tersebut,
khususnya bagi calon istrinya.
Tapal kuda adalah nama sebuah kawasan di bagian timur Provinsi Jawa Timur.
Daerah ini mencakupi tujuh kabupaten (Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Lumajang,
Pasurun, Situbondo dan Probolinggo).
Menurut sejarah daerah Tapal Kuda ini disebut sebagai Blambangan atau dalam
bahasa Jawa disebut daerah ‘brang wetan’ (seberang timur) karena kawasan ini tidak
pernah menjadi bagian dari kerajan Mataram artinya daerah ini tidak dikenal sebelum
imigran dari kawasan Mataram berpindah mengisi kawasan pesisir selatan. Namun kini
istilah Blambangan hanya ditujukan untuk wilayah yang sekarang masuk Kabupaten
Banyuwangi.
Kawasan Tapal Kuda dihuni oleh beberapa etnis. Etnis mayoritas adalah etnis
Pandalungan dan Jawa. Etnis Pandalungan adalah hasil sintesis dari etnis Madura dan
Jawa. Etnis Pandalungan pada umumnya mendiami bagian pantai utara Jawa Timur dan
sebagian pesisir selatan Jawa Timur bagian timur. Mereka tinggal di Kota dan Kabupaten
Pasuruan, Kota dan Kabupaten Probolingo, Lumajang, Jember, Situbondo, dan
Bondowoso. Etnis Jawa sendiri lebih banyak dijumpai di wilayah selatan Tapal Kuda
seperti Lumajang dan Jember bagian selatan dan Banyuwangi bagian selatan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Sejarah Perkembangan dan Tradisi Budaya Hantaran di Wilayah Tapal
Kuda?
2. Bagaimana Jenis/Isi, Bentuk, fungsi dan makna dari Hantaran Pengantin menurut
Sejarah Perkembangannya dan tradisi budaya di wilayah Tapal Kuda?
3. Bagaimana bentuk wadah dan cara pengemasannya serta hiasan yang dipakai sesuai
dengan perkembangan jaman dan tradisi budaya dari jaman dahulu hingga saat ini?
1.3 Tujuan
1. Mendeskripsikan Sejarah Perkembangan dan Tradisi Budaya Hantaran di Wilayah
Tapal Kuda
2. Mendeskripsikan Jenis/Isi, Bentuk, fungsi dan makna dari Hantaran Pengantin
menurut Sejarah Perkembangannya dan tradisi budaya di wilayah Tapal Kuda
3. Mendeskripsikan bentuk wadah dan cara pengemasannya serta hiasan yang dipakai
sesuai dengan perkembangan jaman dan tradisi budaya dari jaman dahulu hingga
saat ini
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Perkembangan dan Tradisi Budaya Hantaran di Wilayah Tapal Kuda
Pernikahan adalah suatu kegiatan sakral yang dilakukan semua manusia dari
zaman ke zaman. Dari zaman dahulu, masyarakat sudah dikenalkan oleh berbagai adat
dan tradisi pada saat melakukan sebuah pernikahan. salah satunya pada hantaran yang
digunakan. Hantaran adalah sebuah perlambang atau pemberian berupa barang-barang
sebagai suatu bentuk penghormatan dari calon pengantin pria kepada calon pengantin
wanita. Hantaran juga diibaratkan sebagai ungkapan rasa cinta dan tanggungjawab. Di
Indonesia, terdapat beragam macam hantaran yang berbeda di setiap wilayahnya. Seperti
halnya di wilayah tapal kuda Jawa Timur. Tapal kuda sendiri adalah salah satu wilayah
bagian yang berada di bagian timur provinsi Jawa Timur. Daerah ini dinamakan Tapal
Kuda karena bentuk dari kawasan ini jika Digambarkan pada peta mirip seperti gambar
tapal kuda. Kawasan tersebut meliputi Pasuruan, Probolinggo, Situbondo (bagian utara),
Lumajang (bagian barat), Bondowoso, Jember (bagian selatan) dan Banyuwangi (bagian
timur).
Daerah Tapal Kuda memiliki kebudayaan yang mendapat pengaruh dari budaya
Madura, Jawa, dan Islam atau yang dapat disebut dengan kebudayaan Pendalungan atau
ada yang menyebutnya medalungan, pandhelungan. Hal tersebut tentunya berkaitan
dengan tradisi budaya yang tersebar di wilayah Tapal Kuda, termasuk mengenai hantaran
pernikahan. Hantaran tersebut digunakan sebagai syaratakan terikatnya seorang
mempelai perempuan dengan calon mempelai laki-laki. Tompengan adalah salah satu
acara dalam rangkaian perkawinan di daerah Tapal Kuda yang menggunakan sebuah
hantaran sebagai perlambangakan calon mempelai laki-laki mengikat calon mempelai
perempuan. Acara ini diadakan setelah keduanya melakukan prosesi masangngen-angen.
Acara Tompengan yaitu pihak keluarga laki-laki beserta kerabat dekat dan para tetangga
datang kerumah pihak perempuan untuk nale’e atau mengikat pihak perempuan dengan
membawa tumpeng, seperangkat pakaian perempuan yang biasanya terdiri dari sepotong
kain kebaya, sepotong samper (kain panjang) atau semacam selendang, sabuk, kerudung,
satu sets pakaian dalam, sepasang sandal, serta perlengkapan paes (berhias, bersoleh atau
make up wajah), seperti bedak, pensil alis, lipstick, shampo, sabun, parfum, odol, sikat
gigi, dan sisir. Untuk keluarga yang berstatus social mampu atau kaya ditambah dengan
perhiasan emas, seperti kalung lengkap dengan permata atau liontin, gelang, anting-
anting serta cincin, sebagai peningset (pengikat), sèrèh-pènang (daun sirih dan buah
pinang) seperangkat makanan dan kue sumbangan dari para kerabat dan para tetangga
pihak laki-laki. Seperangkat makanan yang dibawa berupa nasi beserta lauk-pauk dan
bermacam-macam kue. Dua jenis makanan yang selalu ada dalam acara lamaran adalah
adalah ketopak, ketupat dan lepet. Ketopak dan lepet memiliki artian adanya harapan dari
keluarga pihak laki-laki akan mendapatkan kunjungan balasan dari pihak keluarga
perempuan. Kunjungan balasan tersebut sangat diharapkan oleh pihak keluarga laki-laki,
karena pada saat kunjungan balasan itu hari dan tanggal perkawinan akan ditentukan oleh
kedua belah pihak. Lalu dengan kue yang dibawa, setelah keluarga pihak laki-laki
pulang, kue dibagikan kepada para kerabat dekat dan para tetangga pihak perempuan
sebagai bentuk pemberitahuan kepada para tetangga bahwa putrinya sudah ada yang
mengikat atau bertunangan.
Setelah acara Tompengan, dilanjutkan dengan acara Mabali atau mengembalikan.
Acara tersebut diadakan sebagai bentuk balasan dari pihak calon mempelai perempuan.
Biasanya pada acara ini pihak perempuan membawa hantaran berupa seperangkat
pakaian pria dan seperangkat makanan. Pakaian pria yang dibawa biasanya berupa
sepotong baju, kain sarung, dan songkok. Jenis kue khas yang dibawa oleh pihak
keluarga calon mempelai perempuan dalam kunjungan balasan ke keluarga pihak laki-
laki adalah kue sarabbhi atauserabi. Kue serabi terbuat dari tepung beras, santan, gula,
dan sedikit garam dan dipanaskan dalam Loyang tertutup. Kue serabi adalah lambing alat
kelamin perempuan yang mengandung makna simbolis bahwa rombongan yang dating
adalah pihak keluarga calon mempelai perempuan. Di samping itu, kue khas yang dibawa
adalah apem. Kue ini digunakan sebagai simbol dan harapan mudah-mudahan hubungan
di antara mereka memperoleh barokah atau berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tahapan tersebut dikenal oleh masyarakat di Tapal Kuda sebagai bhan-gibhan.
Pada zaman sekarang, beberapa masyarakat Tapal Kuda masih menggunakan
tradisi hantaran tersebut akan tetapi ada juga yang disamakan dengan tradisi hantaran
jawa.
2.2 Jenis/Isi, Bentuk, fungsi dan makna dari Hantaran Pengantin menurut Sejarah
Perkembangannya dan tradisi budaya di wilayah Tapal Kuda
Hantaran adalah oleh-oleh atau buah tangan yang diberikan keluarga pihak
pengantin pria kepada keluarga pengantin wanita atau sebaliknya. Karena itulah, hantaran
bisa juga disebut 'pengetuk pintu'. Jadi, hantaran dalam pernikahan diberikan oleh kedua
belah pihak di mana masing-masing saling memberi dan menerima atau tukar menukar
hantaran. Hantaran untuk pernikahan ini biasanya berupa berbagai macam makanan dan
sembako yang dikemas menarik. Isinya bisa kue basah, buah-buahan, panganan
tradisional, beras, gula, dan lain-lain.
Ada beberapa hantaran makanan tradisional yang wajib ada dalam acara
pernikahan seperti kue wajik, jenang, jadah, dan kue lapis. wajik merupakan kue dengan
durasi pembuatannya yang cukup lama, dimana memiliki makna agar hubungan yang
terjalin atau berjalan lama dan selalu dikaruniai rasa sabar yang luar biasa. jenang
merupakan makanan dengan pembuatan yang cukup lama dan keuletan yang ekstra untuk
mengaduknya agar benar-benar jadi menjadi sumber filosofi bahwa kedua mempelai
tidak boleh mudah menyerah ketika menjalani kehidupan rumah tangga. selanjutnya ada
jadah, jadah merupakan makanan tradisional yang memiliki makna agar hubungan dan
ikatan antara kedua mempelai selalu lengket, tidak mudah terputus begitu saja meski
keadaan rumah tangga terkadang mengalami pasang-surut. terakhir ada kue lapis, dimana
kue ini adalah simbol suami dan istri memiliki hubungan yang akrab dalam pernikahan
dan selalu melengkapi satu dengan yang lainnya.
Adapun seserahan atau hantaran yang memiliki makna terdalam untuk kedua
mempelai agar selalu memegang teguh ajaran agama, biasanya bagi umat muslim akan
ada seserahan berupa Al-Qur'an, sajadah, mukenah, dan tasbih. tak hanya itu dalam acara
pernikahan biasanya tak lepas dari seserahan berupa perhiasan. Seserahan dalam bentuk
perhiasan biasanya berisi kalung, liontin, gelang, ataupun cincin dengan rangka yang
mewah. Seserahan ini juga memiliki makna tersendiri yaitu agar mempelai wanita
tampak lebih bersinar, bercahaya, dan bersih seperti perhiasan yang digunakan. namun,
hantaran tersebut tetap menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Selain itu, ada pula pemikiran bahwa setiap perkawinan/pernikahan menimbulkan
kewajiban bagi seorang suami untuk membayar maskawin atau mahar kepada sang istri,
baik berupa perhiasan (emas) ataupun uang. Seusai akad nikah, suami langsung
menyerahkan maskawin kepada istrinya, dan apabila istri tidak ikut hadir pada akad
nikah (berada di kamar atau tidak duduk bersama pada saat acara akad nikah), maka mas
kawin dapat diserahkan melalui wali nikahnya.
2.3 Bentuk wadah dan cara pengemasannya serta hiasan yang dipakai sesuai dengan
perkembangan jaman dan tradisi budaya dari jaman dahulu hingga saat ini
Dari masa ke masa banyak sekali kemajuan yang terjadi sesuai berkembangnya
jaman, banyak sekali perubahan perubahan yang menghadirkan sesuatu yang baru,
perubahan yang ada disebabkan berkembannya jaman ini dapat merubah di semua hal
seperti tekhnologi, budaya, dll. Perubahan yang ada ini juga berdampak pada tradisi
hantaran dalam sebuah pernikahan.
Terjadi sebuah revolusi dalam hantaran pernikahan ini memberikan suasana baru
dan kesan yang baru atau asing. Di wilayah tapal kuda yang mencangkup lumajang,
situbondo, bondowoso, dan banyuwangi tidak terjadi perubahan yang terlalu signifikan,
perubahan yang ada dalam hantaran pernikahan ini seperti wadah atau keranjang hantaran
mulai berubah, di jaman dahulu rata rata memakai keranjang yang di beri hiasan biasa
seperti pita atau kain yang dibentuk sebagai bunga akan tetapi sekarang mayoritas
memakai kotak yang sudah terhias cantik. Selain dari segi wadah, terdapat perubahan di
kualitas atau model hantaran, di jaman dahulu masih memakai model hantaran yang
terlihat jadul, akan tetapi pada jaman sekarang sudah memakai model yang lebih
mengikuti trend yang ada.
Begitu pula untuk cara pengemasannya seperti yang terlihat pada gambar, banyak
perbedaan antara hantaran yang dibuat pada zaman dulu dan sekarang, seperti contoh di
daerah Lumajang isi dari hantaran tersebut adalah makanan daerah yang dimana makanan
daerah tersebut di kemas oleh daun pisang dan dibalut lagi dengan kain sebagai hiasan
agar lebih menarik dan warnanya yang mencolok, setelah itu ditata dengan rapi dan
ditaruh kedalam kerinjing atau tempat kotak biasa, dan bagaimana untuk zaman yang
sudah modern sekarang?, untuk model hantaran di zaman sekarang manusia di berbagai
daerah sudah berkembang dan memiliki pikiran yang imajinatif oleh karena itu mereka
memanfaatkan itu untuk ide hantaran pernikahan, untuk pengemasannya sudah lebih
terlihat cantik dan elegan, dengan cara membuat cetakan makanan dengan berbagai
macam bentuk, seperti daun-daunan, bunga, karakter, dan bentuk-bentuk lainnya dan
tidak lupa untuk diberi pewarna makanan agar warnanya lebih mencolok, setelah sudah
jadi hasilnya akan di letakkan pada tempat hantaran/kotak yang transparan agar lebih
terlihat jelas makanan yang dibentuk berbagai macam bentuk tadi, selanjutnya diluar
kotak juga dihiasi sehingga terkesan lebih mewah.
Beberapa gambar perbandingan hantaran di jaman dulu dengan sekarang :
1. Hantaran Pernikahan Daerah Lumajang (dulu)
HantaranPernikahan Daerah Lumajang (sekarang)
2. HantaranPernikahan Daerah Situbondo (dulu)
HantaranPernikahan Daerah Situbondo (sekarang)
3. HantaranPernikahan Daerah Bondowoso (dulu)
HantaranPernikahan Daerah Bondowoso (Sekarang)
4. HantaranPernikahan Daerah Banyuwangi (dulu)
HantaranPernikahan Daerah Banyuwangi (sekarang)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hantaran adalah sebuah perlambang atau pemberian berupa barang-barang
sebagai suatu bentuk penghormatan dari calon pengantin pria kepada calon pengantin
wanita. Tompengan adalah salah satu acara dalam rangkaian perkawinan di daerah Tapal
Kuda yang menggunakan sebuah hantaran sebagai perlambangakan calon mempelai laki-
laki mengikat calon mempelai perempuan dimana pihak keluarga laki-laki beserta kerabat
dekat dan para tetangga datang kerumah pihak perempuan untuk nale’e atau mengikat
pihak perempuan dengan membawa tumpeng, seperangkat pakaian perempuan yang
biasanya terdiri dari sepotong kain kebaya dsb. Selain itu, erjadi sebuah revolusi dalam
hantaran pernikahan dimana akan memberikan suasana baru dan kesan yang baru atau
asing, mulai dari segi wadah, terdapat perubahan di kualitas atau model hantaran, di
jaman dahulu masih memakai model hantaran yang terlihat jadul, akan tetapi pada jaman
sekarang sudah memakai model yang lebih mengikuti trend yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.merdeka.com/gaya/hantaran-seserahan-dan-mahar-apa-bedanya.html
Bambang Wibisono, Akhmad Haryono. (2016) WACANA PERKAWINAN DI TAPAL KUDA,
penerbit tapal kuda jember.
https://karanganyarnews.pikiran-rakyat.com/pr-1904397717/hantaran
https://www.gramedia.com/best-seller/macam-seserahan-di-acara-pernikahan/