Pengaruh PAD dan Dana Perimbangan pada Kemandirian Keuangan Daerah
Pengaruh PAD dan Dana Perimbangan pada Kemandirian Keuangan Daerah
1
Rahmat Saleh
1
Program Studi Akuntansi, Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor
rahmat_saleh@apps.ipb.ac.id
Abstract
Local Financial Independence has become one of the main factors to determine whether
a local government has optimizing their Local Original Revenue earnings or still depend
on their Transfer Revenue, particularly Fiscal Funds from state government, to
implement their governance. The purposes of this research are to study the effect that the
Local Original Revenue has against Local Financial Independence, to study the effect
that the Fiscal Funds has against Local Financial Independence, and to study the effect
that both Local Original Revenue and Fiscal Funds have against Local Financial
Independence. The data analyzing, methods such as Multiple Linear Regression, F-test
and t-test were used to study the effect both independent variables have against the
dependent variable. The findings of the study indicate that Local Original Revenue had
a positive effect against Local Financial Independence, Fiscal Funds had a negative
effect against Local Financial Independence, and Local Original Revenue and Fiscal
Funds simultaneously had effect against Local Financial Independence.
111
112 | J I P A K 2 0 2 0
1. PENDAHULUAN
Penerapan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang tertuang dalam Undang-
Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 telah dilaksanakan sejak 1 Januari 2001.
Pelaksanaan otonomi daerah merupakan babak baru dalam pembangunan dan
pemerataan daerah. Otonomi daerah dan desentralisasi adalah bentuk sistem penyerahan
urusan pemerintahan dan pelimpahan wewenang kepada daerah yang berada
dibawahnya. Otonomi daerah sebagai satu bentuk desentralisasi kebijakan pemerintahan,
pada hakikatnya ditujukan untuk mendekatkan pemerintah dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat secara keseluruhan. Otonomi daerah berupaya untuk lebih
mendekati tujuan-tujuan penyelenggaraan pemerintahan untuk mewujudkan cita-cita
masyarakat yang lebih adil dan makmur. Pemberian, pelimpahan, dan penyerahan
sebagian tugas-tugas kepada pemerintah daerah. Dalam rangka menyelenggarakan
pembangunan dan menyediakan pelayanan publik, pemerintah daerah memiliki
wewenang yang luas dalam merencanakan dan mengalokasikan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) yang diperoleh untuk menyelenggarakan pembangunan. Pendapatan Asli Daerah
terdiri dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang
Dipisahkan, dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah.
Pada tahun 1966-1998 Indonesia menganut sistem pemerintahan orde baru bersifat
sentralisasi dimana segala macam kewenangan diatur oleh pemerintah pusat. Dalam
menjalankan roda pemerintahan sentralisasi terjadi penyerahan wewenang dan
kekuasaan pemerintah daerah secara penuh kepada pemerintah pusat. Hal ini
menimbulkan kesulitan dalam pembangunan nasional secara merata. Karena adanya
pelimpahan kekuasaan sehingga pembangunan pusat pasti lebih baik dan terkendali
dibanding dengan pembangunan daerah terutama daerah yang jauh dari jangkauan.
Dampaknya terjadi ketimpangan dan kesenjangan yang cukup signifikan di setiap
daerah. Hal ini mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional
di daerah tersebut. Ketimpangan pembangunan dan pelayanan yang tidak transparan
tersebut mendorong pemerintah untuk merubah kebijakan yang ada, yaitu merubah
kebijakan sistem sentralisasi menjadi sistem desentralisasi. Kebijakan desentralisasi
timbul karena adanya Kebijakan Otonomi Daerah yang lahir dari Ketetapan MPR Nomor
XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah, Pengaturan, Pembagian dan
Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang berkeadilan serta Perimbangan Keuangan
Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
merupakan landasan hukum bagi dikeluarkannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintah Daerah yang kemudian diperbarui dengan disahkannya UU No. 32 Tahun
2004 dan diperbarui lagi pada Tahun 2014 menjadi UU No. 23 Tahun 2014 dan UU No.
25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah yang kemudian diperbarui menjadi UU No. 33 Tahun 2004.
Salah satu penyelenggaraan desentralisasi yang terkait dengan pemerintah pusat
dan pemerintah daerah yaitu pembentukan daerah otonom dan penyerahan kekuasaan
secara hukum dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah yang isinya memberi
J I P A K 2 0 2 0 | 113
Berikut ini adalah rekapan data realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) yang dilansir dari Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)
Kabupaten Bogor Tahun 2012-2017, bersumber dari website resmi Pemerintah Daerah
Kabupaten Bogor.
Tabel 1
Realisasi APBD Kabupaten Bogor (2012-2017)
(dalam jutaan Rupiah)
Tahun
Keterangan
2012 2013 2014 2015 2016 2017
PENDAPATAN
3.974.405 4.572.332 5.378.009 6.032.958 5.963.861 6.974.632
DAERAH
Pendapatan Asli
1.068.548 1.261.034 1.712.852 2.002.320 2.282.756 2.592.838
Daerah
Pajak Daerah 741.235 882.963 1.131.443 1.289.686 1.520.988 1.786.132
Retribusi Daerah 127.812 145.818 199.527 138.723 136.137 150.541
Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah yang 32.132 13.244 15.109 40.142 43.075 44.338
Dipisahkan
Lain-lain Pendapatan
167.368 219.007 366.772 533.769 582.555 611.825
Asli Daerah yang Sah
Dana Perimbangan 2.048.588 2.310.876 2.498.370 2.583.489 2.692.167 2.742.839
Dana Bagi Hasil
263.488 206.411 252.428 221.902 267.917 269.361
Pajak/Bukan Pajak
Dana Alokasi Umum 1.062.590 1.887.770 2.055.944 2.163.439 1.917.780 1.902.004
Dana Alokasi Khusus 10.289 216.694 189.997 198.148 506.469 571.474
Lain-Lain Pendapatan
857.269 1.000.421 1.166.785 1.447.148 988.937 1.638.955
Daerah yang Sah
Sumber: www.bogorkab.go.id (Data telah diolah, 2019)
Berdasarkan dari data di atas, dapat dilihat bahwa jumlah Pendapatan Transfer
yang lebih besar dibandingkan jumlah Pendapatan Asli Daerah selama enam tahun
berturut-turut. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan Pemerintah Daerah
Kabupaten Bogor terhadap transfer dari pusat, salah satunya dalam bentuk Dana
Perimbangan, masih ternilai cukup tinggi. Walau demikian, upaya Pemerintah Daerah
Kabupaten Bogor dalam melakukan peningkatan Pendapatan Asli Daerah sudah ternilai
cukup baik. Terlihat dari hasil perhitungan Rasio Keuangan Daerah Kabupaten Bogor
Tahun 2012-2017.
J I P A K 2 0 2 0 | 115
Tabel 2
Rasio Keuangan Daerah Kabupaten Bogor (2012-2017)
Tahun
No. Nama Rasio
2012 2013 2014 2015 2016 2017
1 Kemakmuran (Wealth) PAD 27,70 27,87 28,17 28,33 28,46 28,58
Rasio Ketergantungan Keuangan
2 65,34 66,12 64,99 64,01 60,29 54,22
Daerah (%)
Rasio Kemandirian Keuangan
3 41,15 41,86 49,00 51,85 63,49 68,56
Daerah (%)
Sumber: www.bogorkab.go.id (Data telah diolah, 2019)
Dari hasil perhitungan Rasio Keuangan Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2012-
2017, dapat dilihat bahwa tingkat Kemandirian Keuangan Daerah Kabupaten Bogor
terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Secara keseluruhan, dengan
menghitung rata-rata rasio Kemandirian Keuangan Daerah Kabupaten Bogor selama
enam tahun tersebut, tingkat kemandirian keuangan daerah Kabupaten Bogor sebesar
52,65% dengan tingkat pola hubungan bersifat partisipatif. Tingkat kemandirian
keuangan daerah Kabupaten Bogor terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Artinya selama enam tahun tersebut dari tahun 2012 hingga tahun 2017, peranan
pendapatan transfer semakin berkurang karena daerah Kabupaten Bogor mulai berhasil
meningkatkan optimalisasi pendapatan asli daerahnya. Meski begitu secara keseluruhan
Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor belum sepenuhnya mandiri dalam mengurus
otonomi daerahnya. Terutama jika melihat kondisi daerah Kabupaten Bogor secara
keseluruhan. Kemudian pada hasil perhitungan tingkat kemakmuran (wealth)
Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2012-2017, dapat terlihat bahwa
tingkat kemakmuran PAD Kabupaten Bogor selama enam tahun berturut-turut tidak
begitu tinggi. Dengan menghitung rata-rata Tingkat Kemakmuran (Wealth) Pendapatan
Asli Daerah Kabupaten Bogor dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2017, tingkat
kemakmuran PAD Kabupaten Bogor selama enam tahun tersebut hanya mencapai angka
28,18. Meski demikian, selama enam tahun tersebut juga terjadi peningkatan tingkat
kemakmuran Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bogor yang menandakan adanya upaya
Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor dalam meningkatkan optimalisasi penerimaan
Pendapatan Asli Daerah.
Berdasarkan hasil analisis ketergantungan Keuangan Daerah Kabupaten Bogor
Tahun 2012-2017, kondisi ketergantungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor
terhadap pemerintah pusat dan/atau pemerintah provinsi tergolong fluktuatif dari tahun
ke tahun. Dengan menghitung rata-rata Tingkat Ketergantungan Keuangan Pemerintah
Daerah Kabupaten Bogor periode anggaran 2012-2017, hasilnya adalah sebesar 62,50%.
Artinya selama enam periode anggaran tersebut secara berturut-turut, ketergantungan
Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor terhadap Pendapatan Transfer yang diperoleh dari
pemerintah pusat dan/atau pemerintah provinsi masih ternilai begitu tinggi.
116 | J I P A K 2 0 2 0
Berdasarkan hasil analisis keuangan yang terdapat di atas, dapat disimpulkan dari
tahun 2012 hingga tahun 2017 tingkat Kemandirian Keuangan Daerah Kabupaten Bogor
masih belum mandiri sepenuhnya. Terutama jika dilihat dari kondisi geografis
Kabupaten Bogor yang begitu luas disertai dengan jumlah penduduk yang banyak. Hal
tersebut dikarenakan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor masih belum
memaksimalkan penerimaan Pendapatan Asli Daerah-nya dan masih bergantung kepada
pendapatan transfer khususnya transfer dari pusat yakni Dana Perimbangan. Hal ini
ditandai dengan adanya jumlah Pendapatan Asli Daerah yang masih lebih rendah
dibandingkan dengan jumlah Pendapatan Transfer.
Pembangunan fisik di daerah terjadi cukup pesat, namun tingkat ketergantungan
fiskal antara daerah terhadap pusat juga semakin besar sebagai akibat dari adanya
pembangunan yang dilakukan. Ketergantungan fiskal ini, dapat dilihat dari Pendapatan
Asli Daerah (PAD) yang relatif rendah serta transfer dari pusat yang dominan. Ironisnya,
dalam Undang-Undang telah menitikberatkan otonomi pada kabupaten atau kota, namun
yang mengalami tingkat ketergantungan yang lebih tinggi justru kabupaten atau kota
dibanding provinsi (Afarahim, 2013).
Hasil penelitian-penelitian terdahulu mengenai Pengaruh Dana Perimbangan
terhadap Kemandirian Keuangan Daerah, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Andriani dan Wahid (2018) menunjukkan bahwa Dana Perimbangan berpengaruh
negatif terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah. Andriani dan Wahid (2018)
menyimpulkan bahwa apabila Dana Perimbangan yang diterima lebih kecil dari
Pendapatan Asli Daerah maka akan meningkatkan Kemandirian Keuangan Daerah,
begitu pula sebaliknya. Dan Hasil penelitian Putri dan Sjadili (2013), menyatakan bahwa
dana perimbangan berpengaruh positif terhadap tingkat kemandirian daerah sementara
belanja modal dan pinjaman daerah tidak berpengaruh terhadap tingkat kemandirian
daerah. Sementara pada penelitian-penelitian mengenai pengaruh Pendapatan Asli
Daerah terhadap Kemandirian Keuangan Daerah, mayoritas hasil penelitian menyatakan
bahwa Pendapatan Asli Daerah memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap
Kemandirian Keuangan Daerah. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan variabel,
sampel penelitian, periode penelitian, dan metode-metode penelitian yang digunakan.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Lestari, Dali, dan Abdullah (2016), hasil penelitian
menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif terhadap kemandirian
keuangan daerah. Pendapatan Asli Daerah memiliki peran yang sangat penting dalam
mengukur tingkat kemandirian keuangan daerah. Semakin tinggi realisasi Pendapatan
Asli Daerah maka akan semakin meningkatan persentase reasio kemandirian keuangan
daerah dan sebaliknya Pendapatan Asli Daerah mengalami penurunan dapat
mengakibatkan tingkat kemandirian keuangan daerah mengalami penurunan. Dan hasil
penelitian Marizka (2013) menyatakan Pendapatan Asli Daerah berpengaruh signifikan
positif terhadap tingkat kemandirian keuangan keuangan daerah di Provinsi Sumatera
Barat. Jika Pendapatan Asli Daerah suatu daerah lebih besar dibandingkan dengan
bantuan pemerintah pusat/provinsi dan pinjaman maka daerah tersebut sudah mandiri
dari segi finansialnya, sehingga pemerintah daerah bisa mengurangi pengalokasian dana
J I P A K 2 0 2 0 | 117
perimbangan kepada daerah tersebut. Sebaliknya jika Pendapatan Asli Daerah suatu
daerah lebih kecil dibandingkan dengan pinjaman daerah serta bantuan pemerintah
pusat/provinsi seperti Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan
Dana Bagi Hasil (DBH) maka daerah tersebut dikatakan belum mandiri dari segi
finansialnya karena daerah tersebut masih bergantung pada pemerintah pusat.
Dalam pemaparan latar belakang di atas, dapat diketahui bahwa terjadi
peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diperoleh setiap tahunnya. Di saat
yang bersamaan terjadi juga peningkatan pada Pendapatan Transfer khususnya pada
Dana Perimbangan. Hal ini tentunya memberikan pengaruh bagi Pemerintah Daerah
Kabupaten Bogor yang sedang berupaya meningkatkan kemandirian keuangan
daerahnya. Karena untuk menjadi daerah yang mandiri, Kabupaten Bogor harus
berupaya untuk meningkatkan perolehan Pendapatan Asli Daerahnya. Oleh karena itu,
yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Dana
Perimbangan terhadap Kemandirian Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor
periode 2012-2017. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, adalah untuk
menganalisis pengaruh Pendapatan Asli Daerah terhadap Kemandirian Keuangan
Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor pada periode anggaran 2012-2017, untuk
menganalisis pengaruh Dana Perimbangan terhadap Kemandirian Keuangan Pemerintah
Daerah Kabupaten Bogor pada periode anggaran 2012-2017, dan untuk menganalisis
pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Dana Perimbangan terhadap Kemandirian
Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor pada periode anggaran 2012-2017.
2. TINJAUAN PUSTAKA
oleh keinginan individualnya, tetapi lebih sebagai penerima amanah (penata layanan)
yang memiliki motif yang sejalan dengan tujuan prinsipal.
Pendapatan Daerah
Pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah
nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. (UU No. 23
Tahun 2014 tentang pemerintah daerah). Hak tersebut meliputi semua penerimaan uang
melalui rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana dan tidak perlu dibayar
kembali oleh daerah. Sumber-sumber penerimaan daerah terdiri atas Pendapatan Asli
Daerah, Dana Perimbangan, dan lain lain pendapatan. Tujuan pengelolaan pendapatan
daerah, yaitu untuk mengoptimalkan peneriman pendapatan daerah dari sektor
Pendapatan Asli Daerah, membangun keterbukaan informasi pengelolaan pajak daerah,
meningkatkan kepatuan masyarakat dalam membayar pajak, dan meningkatkan kualitas
sarana dan prasarana kerja penunjang pelayanan kepada masyarakat.
Dana Perimbangan
Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, Dana Perimbangan adalah dana yang
bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai
kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. Menurut Halim (2013),
Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari penerimaan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai
kebutuhan daerah.
Berdasarkan pengertian di atas, Dana Perimbangan adalah penerimaan daerah
berupa sejumlah uang (kas) yang diperoleh suatu daerah dari pemerintah pusat melalui
APBN untuk mendanai pembiayaan-pembiayaan yang dilakukan Daerah tersebut dalam
rangka melaksanakan kegiatan otonomi fiskal dengan baik. Berdasarkan Undang-
Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintah Daerah, Dana Perimbangan terdiri atas: Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi
Umum, dan Dana Alokasi Khusus.
Rerangka Konseptual
Berikut adalah rerangka konseptual mengembangkan hipotesis penelitian:
Pendapatan Asli
Daerah (X1)
Kemandirian
Keuangan
(Y)
Dana Perimbangan
(X2)
Menurut Halim (2013), Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan yang berasal
dari sumber ekonomi asli daerah. Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah, sumber pendapatan daerah terdiri atas, Pendapatan Asli Daerah
meliputi: pajak daerah; retribusi daerah; hasil pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan; dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah; pendapatan transfer; dan lain-
lain pendapatan daerah yang sah. Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah suatu
Pemerintah Daerah akan mengalami kenaikan apabila pemerintah daerah berhasil
meningkatkan penerimaan serta mengeksplor Pendapatan Asli Daerah secara optimal,
yang menunjukkan bahwa pemerintah daerah berhasil meningkatkan kemampuannya
dalam membiayai sendiri urusan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanannya kepada
masyarakatnya sendiri. Apabila penerimaan Pendapatan Asli Daerah mengalami
peningkatan, maka akan diikuti oleh adanya peningkatan tingkat Kemandirian Keuangan
Daerah.
120 | J I P A K 2 0 2 0
Hipotesis Penelitian
Pengaruh Pendapatan Asli Daerah terhadap Kemandirian Keuangan
Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah suatu pemerintah daerah akan mengalami
kenaikan apabila pemerintah daerah berhasil meningkatkan penerimaan serta
mengeksplor Pendapatan Asli Daerahnya secara optimal, yang menunjukkan bahwa
pemerintah daerah berhasil meningkatkan kemampuannya dalam membiayai sendiri
urusan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanannya kepada masyarakatnya sendiri.
Apabila penerimaan Pendapatan Asli Daerah mengalami peningkatan, maka akan diikuti
oleh adanya peningkatan tingkat Kemandirian Keuangan Daerah.
Hal ini didukung dengan adanya beberapa hasil penelitian terdahulu yaitu,
penelitian yang dilakukan oleh Tahar dan Zakhiya (2011), menunjukkan bahwa
Pendapatan Asli Daerah mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap
Kemandirian Keuangan Daerah, kemudian Pemerintah Daerah kabupaten/kota di Pulau
Kalimantan berhasil mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah yang dimiliki untuk
membiayai pengeluaran daerahnya. Pemerintah daerah terus berupaya mencari langkah-
langkah terobosan baru agar Pendapatan Asli Daerah yang diperoleh akan semakin besar.
Pendapatan Asli Daerah yang besar akan menyebabkan Kemandirian Keuangan Daerah
J I P A K 2 0 2 0 | 121
juga besar. Hasil penelitian Kustianingsih, Muslimin dan Kahar (2018), menunjukkan
bahwa Pendapatan Asli Daerah memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap
tingkat kemandirian daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Tengah. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Marizka (2013) menyatakan Pendapatan Asli Daerah
berpengaruh signifikan positif terhadap tingkat kemandirian keuangan keuangan daerah
di Provinsi Sumatera Barat. Jika Pendapatan Asli Daerah suatu daerah lebih besar
dibandingkan dengan bantuan pemerintah pusat/provinsi dan pinjaman maka daerah
tersebut sudah mandiri dari segi finansialnya, sehingga pemerintah daerah bisa
mengurangi pengalokasian dana perimbangan kepada daerah tersebut. Sebaliknya jika
Pendapatan Asli Daerah suatu daerah lebih kecil dibandingkan dengan pinjaman daerah
serta bantuan pemerintah pusat/provinsi seperti Dana Alokasi Umum (DAU), Dana
Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH) maka daerah tersebut dikatakan
belum mandiri dari segi finansialnya karena daerah tersebut masih bergantung pada
pemerintah pusat. Dan Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lestari, Dali, dan Abdullah
(2016), bahwa Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif terhadap kemandirian
keuangan daerah. Pendapatan Asli Daerah memiliki peran yang sangat penting dalam
mengukur tingkat kemandirian keuangan daerah. Semakin tinggi realisasi Pendapatan
Asli Daerah maka akan semakin meningkatan persentase reasio kemandirian keuangan
daerah dan sebaliknya Pendapatan Asli Daerah mengalami penurunan dapat
mengakibatkan tingkat kemandirian keuangan daerah mengalami penurunan.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik hipotesis sebagai berikut.
H1: Pendapatan Asli Daerah memiliki pengaruh positif terhadap Kemandirian
Keuangan
3. METODOLOGI
Jenis Penelitian
Metode penelitian explanatory survey adalah metode yang bertujuan untuk
menguji hipotesis, yang umumnya merupakan penelitan yang menjelaskan fenomena
dalam bentuk hubungan antar variabel. Penelitian ini memiliki tingkatan yang lebih
tinggi jika dibandingkan dengan penelitian deskriptif dan komparatif.
Operasionalisasi Variabel
Operasional diperlukan untuk mengoperasionalisasikan variabel, sehingga
menjadi acuan dalam penggunaan instrument penelitan untuk pengolahan data
selanjutnya.
J I P A K 2 0 2 0 | 123
Tabel 3
Operasionalisasi Variabel
Variabel Indikator Ukuran Skala
Pendapatan Asli Kemakmuran = LN (PAD)
Daerah (Wealth) = LN (Pajak Daerah + Retribusi
(Independen/X1) Daerah + Hasil Pengelolaan Rasio
Kekayaan Daerah yang
Dipisahkan + Lain-lain PAD
yang Sah)
Dana Perimbangan Rasio
(Independen/X2) Ketergantungan Total Pendapatan Transfer Rasio
= ×100%
Keuangan Daerah Total Pendapatan Daerah
Kemandirian Rasio Kemandirian
Keuangan Daerah Keuangan Daerah Total PAD Rasio
= ×100%
(Dependen/Y) Total Pendapatan Transfer
Sumber: Mahmudi (2010) dan Minarsih (2015)
Tabel 4
Perkembangan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bogor Periode 2012-2017
(dalam Rupiah)
Tahun Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tingkat Kemakmuran PAD
2012 1.068.548.454.277 27,70
2013 1.261.034.564.121 27,87
2014 1.712.852.487.027 28,17
2015 2.002.320.991.117 28,33
2016 2.282.756.884.283 28,46
2017 2.592.838.501.837 28,58
Rata-rata Tingkat Kemakmuran PAD 28,18
Sumber: www.bogorkab.go.id (Data telah diolah, 2019)
Dari Tabel 4 terlihat bahwa Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bogor dari tahun
2012 hingga tahun 2017 selalu mengalami kenaikan. Dengan rata-rata tingkat
kemakmuran Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bogor periode 2012-2017 sebesar
28,18, dapat terlihat bahwa tingkat kemakmuran Pendapatan Asli Daerah Kabupaten
Bogor dari tahun 2012 sampai dengan 2014 masih belum ternilai makmur dikarenakan
tingkat kemakmuran setiap tahun masih berada di bawah rata-rata selama enam tahun.
Tingkat kemakmuran Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bogor mengalami
peningkatan kemakmuran dalam perolehan Pendapatan Asli Daerah dimulai dari tahun
2015 sampai dengan tahun 2017. Hal ini dikarenakan tingkat kemakmuran Pendapatan
Asli Daerah Kabupaten Bogor setiap tahunnya, dari tahun 2015 sampai dengan tahun
2017, berada di atas nilai rata-rata tingkat kemakmuran Pendapatan Asli Daerah
Kabupaten Bogor selama enam tahun.
J I P A K 2 0 2 0 | 125
Tabel 5
Hasil Pengukuran Ketergantungan Keuangan Daerah Kabupaten Bogor
Periode 2012-2017
Rasio Ketergantungan
Tahun Dana Perimbangan Pendapatan Daerah
Keuangan Daerah (%)
2012 Rp 2.048.587.761.028 Rp 3.974.405.353.193 65,34
2013 Rp 2.310.876.711.691 Rp 4.572.332.366.814 66,12
2014 Rp 2.498.370.936.940 Rp 5.378.009.250.690 64,99
2015 Rp 2.583.489.732.745 Rp 6.032.958.906.738 64,01
2016 Rp 2.692.167.023.139 Rp 5.963.861.895.228 60,29
2017 Rp 2.742.839.370.823 Rp 6.974.632.931.503 54,22
Rata-rata Ketergantungan Keuangan Daerah 62,50
Sumber: www.bogorkab.go.id (Data telah diolah, 2019)
Berdasarkan data pada tabel 5, dapat dilihat bahwa jumlah Dana Perimbangan
Kabupaten Bogor dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2017 lebih tinggi dibandingkan
jumlah Pendapatan Asli Daerah (lihat tabel 4). Ketergantungan keuangan daerah
menunjukkan tentang seberapa besar ketergantungan pemerintah daerah terhadap
pendaptan transfer, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi. Kontribusi
terbesar pendapatan transfer terdapat pada Dana Perimbangan seperti Dana Alokasi
Umum, yaitu salah satu transfer dana pemerintah pusat/provinsi kepada pemerintah
daerah yang bersumber dari pendapatan APBN, yang dialokasikan dengan tujuan
pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuahn pemerintah
daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
Hasil perhitungan rasio ketergantungan keuangan daerah pada Kabupaten Bogor
untuk tahun 2012-2017 menunjukkan bahwa nilai ketergantungan keuangan daerah dari
tahun ke tahun masih tergolong sangat tinggi meski terjadi penurunan dari tahun ke tahun
serta adanya sedikit peningkatan tingkat ketergantungan keuangan daerah dari tahun
2012 menuju tahun 2012. Dengan nilai rata-rata ketergantungan keuangan daerah
sebesar 62,50% selama enam tahun, hasil perhitungan tersebut juga menandakan bahwa
ketergantungan keuangan daerah Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor terhadap
pendapatan transfer, baik dari pemerintah pusat maupun dari pemerintah provinsi, masih
ternilai sangat tinggi.
Tabel 6
Hasil Pengukuran Kemandirian Keuangan Daerah Pemerintah Daerah
Kabupaten Bogor Periode 2012-2017
(dalam jutaan rupiah)
Transfer Pusat Dana Transfer Pusat Transfer Rasio
Tahun PAD
Perimbangan Dana Lainnya Provinsi Kemandirian (%)
2012 1.068.548 2.048.587 263.590 284.738 41,15
2013 1.261.034 2.310.876 356.458 233.900 41,86
2014 1.712.937 2.498.370 469.126 284.738 49,00
2015 2.002.209 2.583.489 865.831 360.011 51,85
2016 2.292.175 2.692.167 326.384 762.111 63,49
2017 2.592.838 2.742.839 379.499 659.561 68,56
Rata-rata Kemandirian Keuangan Daerah 52,65
Sumber: www.bogorkab.go.id (data diolah, 2019)
Dari tabel 6 di atas, dapat terlihat bahwa tingkat kemandirian keuangan daerah
Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Semakin tinggi rasio kemandirian maka menggambarkan semakin tinggi juga
kemandirian pemerintah daerah dalam mengelola daerahnya dan sebaliknya jika rasio
kemandirian menurun maka kemandirian suatu daerah dipertanyakan. Dari data tersebut
dapat disimpulkan bahwa nilai kemandirian tertinggi terjadi pada tahun 2017 dengan
hasil sebesar 68,56% dan nilai kemandirian terendah terjadi pada tahun 2012 yaitu
sebesar 41,15%. Jika dihitung rata-rata tingkat kemandirian keuangan daerah Kabupaten
Bogor selama enam tahun maka hasilnya ialah sebesar 52,65%.
Analisis Data
Analisis Statistik Deskriptif
Analisis dilakukan dengan membandingkan nilai minimum, nilai maksimum, dan
rata-rata. Tabel berikut adalah statistik deskriptif dari variabel independen yaitu
Pendapatan Asli Daerah dan Dana Perimbangan dan variabel dependen yaitu
Kemandirian Keuangan Daerah.
Tabel 7
Analisis Statistik Deskriptif
Std.
N Minimum Maximum Mean
Deviation
PAD 6 2770,00 2858,00 2818,5000 34,27390
Dana Perimbangan 6 5422,00 6612,00 6249,5000 454,07609
Kemandirian Keuangan 6 4115,00 6856,00 5265,1667 1125,40684
Valid N (listwise) 6
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 23 (2019)
Dalam Tabel 7, menunjukkan bahwa jumlah data dalam penelitian ini adalah
sebanyak 6 sampel (N). Berdasarkan perhitungan selama periode 2012-2017, variabel
independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Pendapatan Asli Daerah (X1) dan
J I P A K 2 0 2 0 | 127
Dana Perimbangan (X2), sedangkan variabel dependen dari penelitian ini adalah
Kemandirian Keuangan Daerah (Y). Dari 6 data Pendapatan Asli Daerah, nilai terendah
(minimum) sebesar 2770,00 dan tertinggi (maximum) sebesar 2858,00. Sedangkan rata-
rata (mean) sebesar 2818,5000 dengan standar deviasi 34,27390. Dari 6 data Dana
Perimbangan, nilai terendah (minimum) adalah 5422,00 dan nilai tertinggi (maximum)
6612,00. Nilai rata-rata (mean) sebesar 6249,5000 dan standar deviasi 454,07609.
Sedangkan Kemandirian Keuangan Daerah memiliki 6 data dengan nilai terendah
(minimum) adalah 4115,00 dan nilai tertinggi (maximum) 6856,00. Nilai rata-rata
(mean) sebesar 5265,1667 dan standar deviasi 1125,40684.
Uji Determinasi
Analisis koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh
kemampuan variabel independen (independent variables) yaitu Pendapatan Asli Daerah
dan Dana Perimbangan (bersama-sama) dalam menjelaskan variabel dependen
(dependent variable), yaitu Kemandirian Keuangan Daerah Berikut ini adalah hasil
output SPSS untuk uji determinasi.
128 | J I P A K 2 0 2 0
Tabel 8
Uji Determinasi
Model R R Square Adjusted R Square
1 0,988 0,976 0,959
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 23 (2019)
Berdasarkan Tabel 8, model regresi dalam penelitian ini memiliki nilai R sebesar
0,988; R2 sebesar 0,976; dan adjusted R2 sebesar 0,959. Nilai R sebesar 0,988
menunjukkan korelasi yang sangat kuat antara variabel independen dengan variabel
dependennya. Adjuted R2 sebesar 0,959 atau 95,9% menunjukan bahwa variasi dari
Kemandirian Keuangan Daerah dapat dijelaskan oleh Pendapatan Asli Daerah dan Dana
Perimbangan. Sedangkan sisanya yakni sebesar 4,1% (100%-95,9%) dipengaruhi
variabel independen lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.
Uji F
Uji F bertujuan untuk mengetahui apakah variabel Pendapatan Asli Daerah dan
Dana Perimbangan secara simultan mempunyai pengaruh terhadap Kemandirian
Keuangan Daerah. Berikut ini adalah hasil output SPSS untuk uji F.
Tabel 9
Uji F
Model F Sig Kesimpulan
1 60,003 0,004 Ha diterima
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 23 (2019)
Dapat dilihat dari Tabel 9, menunjukkan hasil perhitungan regresi dengan nilai F-
hitung sebesar 60,003 dengan taraf signifikan sebesar 0,004, sedangkan nilai F-tabel
adalah sebesar 9,552. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai F-hitung > F- tabel
(60,003 > 9,552) artinya secara keseluruhan yakni Pendapatan Asli Daerah dan Dana
Perimbangan Kabupaten Bogor secara bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan
terhadap variabel Kemandirian Keuangan Daerah.
Uji T
Uji T dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh dari variabel independen
(independent variable) secara parsial terhadap variabel dependen (dependent variable).
Berikut ini adalah hasil output SPSS untuk uji T.
J I P A K 2 0 2 0 | 129
Tabel 10
Uji T
Variabel Beta Nilai thitung Sig Kesim
Konstanta -38171,365 -2,419 0,094 pulan
PAD 18,104 3,680 0,035 Ha diterima
Dana Perimbangan -1,214 -3,271 0,047 Ha diterima
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 23 (2019)
Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 10, hasil uji signifikasi parameter
individual (Uji Statistik T), yaitu sebagai berikut:
a. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah terhadap Kemandirian Keuangan Daerah
Berdasarkan signifikansi, jika signifikansi < 0,05 maka Ha diterima, dan jika
signifikansi > 0,05 maka Ha ditolak. Dilihat dari hasil pada tabel 10 terlihat bahwa
Pendapatan Asli Daerah memiliki nilai Sig. 0,035 dan thitung sebesar 3,680. Karena
signifikansi pada uji T lebih kecil dari 0,05 (0,035 < 0,05) dan nilai t hitung > ttabel
(3,680 > 3,18245) maka Ha diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
Pendapatan Asli Daerah secara parsial berpengaruh positif terhadap Kemandirian
Keuangan Daerah.
b. Dana Perimbangan terhadap Kemandirian Keuangan Daerah Berdasarkan
signifikansi, jika signifikansi < 0,05 maka Ha diterima, dan jika signifikansi > 0,05
maka Ha ditolak. Dilihat dari hasil pada tabel 4, terlihat bahwa Dana Perimbangan
memiliki nilai Sig. 0,047 dan t hitung sebesar -3,271. Karena signifikansi pada uji T
lebih kecil dari 0,05 (0,047 < 0,05) dan nilai thitung < ttabel (-3,271 < 3,18245) maka
Ha diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Dana Perimbangan
berpengaruh negatif terhadap Kemandirian Keuangan Daerah.
Berdasarkan Tabel 10, persamaan regresi dalam menguji hipotesis adalah sebagai
berikut:
Y= -38.171,365 + 18,104PAD - -1,214DanaPerimbangan
Interpretasi dari persamaan regresi linear berganda tersebut adalah sebagai berikut:
1. Nilai Konstanta sebesar -38.171,365, artinya apabila semua variabel independen yaitu
Pendapatan Asli Daerah dan Dana Perimbangan nilainya adalah 0, maka
pengungkapan Kemandirian Keuangan nilainya adalah - 38.171,365.
2. Koefisien regresi variabel Pendapatan Asli Daerah bernilai positif sebesar 18,104, hal
ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan Pendapatan Asli Daerah sebesar satu persen
dengan asumsi variabel lain bernilai tetap, maka Kemandirian Keuangan Daerah akan
mengalami kenaikan sebesar 18,104.
3. Koefisien regresi variabel Dana Perimbangan bernilai negatif sebesar 1,214, hal ini
menunjukkan bahwa setiap kenaikan Dana Perimbangan sebesar satu persen akan
diikuti penurunan Kemandirian Keuangan Daerah sebesar 1,214 dengan asumsi
variabel lain bernilai tetap
130 | J I P A K 2 0 2 0
Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pengujian yang telah dilakukan dalam penelitian ini,
maka dapat diambil kesimpulan, yaitu Pendapatan Asli Daerah secara parsial
berpengaruh terhadap Kemandirian Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor
Periode 2012-2017. Dana Perimbangan secara parsial berpengaruh negatif terhadap
Kemandirian Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor Periode 2012-2017. Dan
Seluruh variabel independen (Pendapatan Asli Daerah dan Dana Perimbangan)
mempunyai kemampuan dalam mempengaruhi Kemandirian Keuangan Daerah secara
132 | J I P A K 2 0 2 0
Implikasi
Implikasi dalam bidang praktis yaitu berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa
Pendapatan Asli Daerah dan Dana Perimbangan berpengaruh terhadap Kemandirian
Keuangan Daerah. Hal ini menunjukan bahwa kondisi Pendapatan Asli Daerah dan Dana
Perimbangan dapat mempengaruhi Kemandirian Keuangan. Dimana tingkat
Kemandirian Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor selama enam tahun
tersebut yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dengan rata-rata sebesar
52,65%, sejalan dengan terjadinya peningkatan jumlah Pendapatan Asli Daerah yang
diperoleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor dari tahun ke tahun, dengan rata-rata
sebesar 28,18, serta terjadinya penurunan jumlah Dana Perimbangan yang diperoleh
Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor selama enam tahun tersebut, meski jika dihitung
rata-rata tingkat Ketergantungan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor selama
enam tahun tersebut sebesar 62,50% yang artinya masih ternilai sangat tinggi. Dengan
terjadinya fenomena-fenomena tersebut pada Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor dari
tahun 2012 hingga tahun 2017 mengindikasikan bahwa jumlah Pendapatan Asli Daerah
dan Dana Perimbangan yang diperoleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor, baik
jumlahya tinggi maupun jumlahnya rendah, memiliki pengaruh terhadap tingkat
Kemandirian Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor. Sedangkan implikasi di
bidang keilmuan, yaitu hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi materi yang
berhubungan dengan sektor publik atau kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan
topik penerimaan, anggaran belanja modal dan kemandirian keuangan daerah. Terlebih
bagi peneliti-peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian pada topik yang sama.
Saran
Saran yang dapat disampaikan didasarkan atas hasil penelitian diatas dan merujuk
pada beberapa keterbatasan penelitian ini, antara lain penelitian ini hanya meneliti selama
enam tahun yaitu 2012-2017, pemilihan variabel bebas pada penelitian ini hanya sebatas
variabel Pendapatan Asli Daerah dan dana perimbangan untuk menjelaskan variabel
kemandirian keuangan, sedangkan sebenarnya banyak variabel lain yang dapat mengukur
kemandirian keuangan yang tidak termasuk pada penelitian ini. Maka saran yang dapat
disampaikan untuk penelitian berikut adalah sebagai berikut:
a. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengadakan penelitian di daerah lain dan
dengan cakupan sampel yang lebih luas, misalnya Provinsi Jawa Barat, Provinsi
Jawa Timur, dll, dengan tujuan dapat mengetahui daerah mana saja yang sudah
mandiri maupun belum.
b. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk menambah variabel independen lain
seperti belanja modal dan penerimaan Pemerintah Daerah lainnya.
J I P A K 2 0 2 0 | 133
Di samping itu, hasil penelitian ini juga dapat memberikan saran untuk masyarakat
luas terutama kepada Pemerintah Kabupaten Bogor yang perlu mengoptimalkan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui Intensifikasi yaitu upaya memperbesar
Pendapatan Asli Daerah melalui peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM),
pemanfaatan sarana dan prasarana secara terintegrasi dan peningkatan pelayanan publik
yang memadai. Ekstensifikasi Pendapatan Asli Daerah, khususnya ekstensifikasi
Retribusi Daerah, yaitu upaya memperluas objek dan subjek retribusi dalam rangka
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan kemandirian daerah. Mengingat bahwa
komposisi jumlah Dana Perimbangan yang diterima oleh Pemerintah Daerah cukup
dominan, sebaiknya alokasi Dana Perimbangan diberikan pada sektor-sektor
pembangunan agar penggunaannya menjadi efisien sehingga akan mendorong
pertumbuhan ekonomi dan secara tidak langsung akan meningkatkan kinerja pemerintah.
DAFTAR PUSTAKA
Afarahim. (2013). Pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Dana Perimbangan terhadap
Kemandirian Keuangan Daerah di Kabupaten Indragiri Hilir Periode 2005-2010.
Thesis. Universitas Terbuka.
Anas, M. I. (2018). Analisis Pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Dana Perimbangan
terhadap Kemandirian Keuangan Daerah di Kabupaten Solok Selatan (Tahun 2005
Sampai 2018). Skripsi. Universitas Andalas.
Davis, J. H., & Donaldson, L. (1991). Stewardship Theory or Agency Theory: CEO
Governance and Shareholder Reterns. Australian Journal of Mangement. 16.1.
Ghozali, I. (2016). Aplikasi Analisis Multivariete Dengan Program IBM SPSS 23 (Edisi
8) Cetakan ke VIII. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Halim, A., & Kusufi, M. S. (2007). Akuntansi sektor publik: akuntansi keuangan daerah.
Jakarta: Salemba Empat.
Hutasoit, R. K. M. (2017). Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil, Dana
Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus terhadap Tingkat Kemandirian
Keuangan Daerah pada Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat.
Skripsi. Universitas Sumatera Utara.
http://www.bogorkab.go.id/ [Diakses 9 Maret 2019]
Lestari, Anita, Nasrullah Dali, and Muntu Abdullah. (2016). Pengaruh Dana Alokasi
Umum (Dau) Dan Pendapatan Asli Daerah (Pad) Terhadap Belanja Modal Dan
Kemandirian Keuangan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Progres
Ekonomi Pembangunan 1(2):44–55.
Mahmudi. (2010). Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah: Panduan bagi
Eksekutif, DPRD, dan Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan Ekonomi,
Sosial, dan Politik. Edisi Kedua. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
134 | J I P A K 2 0 2 0
Maimunah, Siti Maimunah, and Niken Puspita Rahajeng. (2015). Pengaruh Analisis
Financial Leverage Terhadap Peningkatan Earning Per Share (EPS). JIAFE (Jurnal
Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi) 1(1):38–43.
Marizka, Reza. (2013). Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil, Dana
Alokasi Umum Dan Dana Alokasi Khusus Terhadap Tingkat Kemandirian
Keuangan Daerah Pada Kabupaten Dan Kota Di Sumatera Barat.” Skripsi 1–22.
Mentayani, I., Hayati, N., & Rusmanto (2012). Flypaper Effect pada Dana Alokasi
Umum dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Daerah pada Kota dan
Kabupaten di Propinsi Kalimantan Selatan. Jurnal Spread, Vol 2, No. 1 April 2012.
Minarsih, Ratna Ayu. (2015). Pengaruh Size, Wealth, Leverage, Belanja Daerah Dan
Intergovernmental Revenue Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Di
Jawa Tengah.
Mulya, R., & Bustamam, B. (2016) Pengaruh Flypaper Effect pada dana alokasi umum
(DAU) dan pendapatan asli daerah (PAD) terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota
Banda Aceh (Studi Empiris pada Pemeritah Kota Banda Aceh Tahun 2008-2014).
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi (JIMEKA), Vol. 1, No. 2, (2016)
Halaman 190-198.
Kustianingsih, Nurafni, Muslimin Muslimin, and Abdul Kahar. (2018). Pengaruh
Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi
Khusus (DAK) Terhadap Tingkat Kemandirian Daerah Pada Pemerintah Daerah
Kabupaten Kota Di Provinsi Sulawesi Tengah. Katalogis 6(6):82–91.
Priyatno, D. (2012). Cara kilat belajar analisis data dengan SPSS 20. Yogyakarta: Andi
Offset.
Purnama, W. A. (2016). Pengaruh Komponen PAD, Leverage, dan Dana Perimbangan
terhadap Kemandirian Keuangan Pemerintah Daerah (Studi pada Kabupaten/Kota
di Provinsi Lampung). Skripsi. 2016.
Putri, F. G. M. (2013). Pengaruh dana perimbangan, belanja modal, dan pinjaman daerah
terhadap tingkat kemandirian daerah: studi empiris pada Pemerintah
Kabupaten/Kota di Indonesia periode 2006-2010= The effect of intergovernmental
transfer, capital expenditure, and regional loan to level of local independence:
empirical studies on Local Government in Indonesia period 2006-2010.
Santoso, F. (2018). Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, Likuiditas,
dan Leverage terhadap Kemandirian Keuangan Daerah Seluruh Kabupaten/Kota di
Indonesia Tahun 2015-2016. Skripsi. Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Siregar, S. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif: Dilengkapi Perhitungan Manual &
SPSS. Edisi Pertama. Cetakan ke, 1.
Setianegara, F. (2016). Faktor–Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kemandirian
Keuangan Daerah pada Pemerintahan Kabupaten dan Kota di Provinsi Bengkulu
tahun 2010–2013. Skripsi. Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: ALFABETA.
Sujarweni, V.W. (2014). SPSS Untuk Penelitian. Yogyakarta. Penerbit Pustaka Baru
Press
Undang-Undang Republik Indonesia No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Tahar, Afrizal, and Maulida Zakhiya. (2011). Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Dan
Dana Alokasi Umum Terhadap Kemandirian Daerah Dan Pertumbuhan Ekonomi
Daerah. Jurnal Akutansi Dan Investasi 12(1):88–99.