0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan6 halaman

Uas Manajemen Bencana

Diunggah oleh

Abitian Priya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan6 halaman

Uas Manajemen Bencana

Diunggah oleh

Abitian Priya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Abitian Priya Nouvadil

NIM : 195120600111057
Mata Kuliah : Manajemen Bencana
Dosen Pengampu : Muhammad Barqah Prantama, S.AP., M.AP.

LIKUIFAKSI TANAH SAAT GEMPA DAN TSUNAMI


PALU DI SULAWESI TENGAH

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu dari beberapa negara yang terletak di kawasan Zona
Seismic Asia Tenggara, Indonesia adalah salah satu negara yang paling aktifitas seismic-nya dan
merupakan teraktif di dunia. Indonesia kelilingi oleh lempeng Indo-Australia dan Pelat Laut
Filipina yang meretas di bawah lempeng Eurasia, dengan lima pulau besar dan beberapa
semenanjung. Ribuan gempa dan tsunami yang terjadi pada rentan waktu empat ratus tahun
terakhir telah dialami oleh Indonesia (Aydan, 2008). Sumatera dan Jawa merupakan dua pulau
yang paling rentan dampak tsunami karena terletak langsung di depan Lempeng Indo- Australia.
Walaupun tidak sesering Sumatera dan Jawa, tsunami juga pernah terjadi di Pulau Papua dan
Sulawesi. Sulawesi dan beberapa daerah rawan akan subduksinya kini menjadi lebih aktif untuk
belakangan ini, hal ini menyebabkan banyak terjadinya aktivitas kegempaan, terutama dengan
episenter di laut.
Struktur dan kestabilan tanah dapat mengalami kegagalan karena sebuah gempa bumi.
Terdapat dua pokok bagian yang dikategorikan dari kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh
terjadinya gempa bumi, yaitu kerusakan atau berubahnya lingkungan fisik pada tanah itu
sendiri dan kerusakan-kerusakan yang terjadi pada bangunan-bangunan yang ada pada
permukaan tanah itu sendiri. Kerusakan pada bangunan-bangunan yang ada pada permukaan
tanah sering terjadi pada pasca gempa bumi, atau kerusakan fisik bangunan lebih sering terjadi
pasca gempa bumi. Kerusakan-kerusakan tanah secara fisik tersebut misalnya adalah terjadinya
penurunan tanah, tanah longsor, keseimbangan lereng, batu longsor, batu jatuh, dan likuifaksi.
Berbicara mengenai likuifaksi, likuifaksi ini merupakan fenomena yang terjadi saat datang
gempa. Fenomena ini terjadi pada tanah yang merupakan tanah pasir dengan air yang jenuh.
Definisi mengenai likuifaksi merupakan transformasi akan sebuah material yang berbutir dari
bentuk yang solid menjadi mentuk yang cair, hal ini diakibatkan oleh adanya peningkatan pada
tekanan air pori dan tegangan efektif yang berkurang (Marcuson, 1978). Lempung pasiran atau
pasir dan kerikil halus merupakan tanah yang saturasi airnya belum terkonsolidasi dengan
porositas yang rendah, sehingga likuifaksi lebih mungkin terjadi. Penyusutan volume cenderung
akan terjadi pada saat gempa bumi berlangsung atau terjadi, hal ini dikarenakan lapisan pada
pasir yang belum terkonsolidasi. Pengurangan pada effective stress akan terjadi di waktu yang
sama di mana terjadinya peningkatan tekanan air dan pori-pori batuan dan menyebabkan
penurunan pada kekuatan geser batuan. Likuifaksi mengakibatkan keruntuhan daya dukung,
pergerakan tanah lateral, serta beda penurunan pada bangunan seperti yang terjadi Di Kota
Palu dan Donggala Sulawesi Tengah.
Daerah yang sering mengalami gempa dan yang memiliki seismitas tinggi merupakan
daerah Palu, yang berada di Provinsi Sulawesi Tengah. Endapan kuarter yang mana terdiri dari
endapan fluatin dan endapan alluvium mendominasi geologi regional daerah Palu dan
sekitarnya. Potensi likuifaksi akan sering terjadi padadaerah tersebut, karena kondisi alam
tersebut memiliki beberapa potensi yang merugikan, yang mana diantaranya potensi terjadinya
likuifaksi tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 LETAK GEOGRAFIS PULAU SULAWESI


Pulau Sulawesi adalah pulau dengan intensitas penduduk tertinggi di Kawasan Timur
Indonesia. Secara geografis, Pulau Sulawesi yang terletak pada 5.36 LU-7.48 LS dan 117.02-
125.74 BT adalah salah satu pulau paling aman karena letaknya yang tidak langsung
berhubungan dengan dua samudera, yakni Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Sulawesi
dibagi dalam enam propinsi dan mempunyai beberapa gugusan pulau-pulau kecil. Hal ini
membuatnya sebagai salah satu pulau dengan garis pantai terpanjang di Indonesia. Sayangnya,
hal ini juga berarti bahwa Pulau Sulawesi juga rentan terhadap bencana laut, seperti gelombang
tinggi dan tsunami yang terpicu oleh gempa bawah laut. Aktifitas kegempaan bawah laut di
sekitar Pulau Sulawesi akan selalu dipengaruhi oleh aktifitas bentukan-bentukan geologi bawah
laut seperti patahan, palung, trust dan spreading center.

2.2 GEMPA BUMI DAN TSUNAMI DI SULAWESI


Gempa bumi adalah getaran yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari
dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Sulawesi Utara merupakan salah
Satu daerah rawan bencana gempa bumi dan tsunami di Indonesia. Berdasarkan penelitan
Latief et al (2000) dan Lander et al (2003), Sulawesi telah mengalami kejadian tsunami sebanyak
24 kali dalam kurun waktu 300 tahun (1692-2000). Gempa bumi dan tsunami Palu 2018 adalah
peristiwa gempa bumi berkekuatan 7,4 diikuti dengan tsunami yang melanda pantai barat
Pulau Sulawesi, Indonesia, bagian utara pada tanggal 28 September 2018, pukul 18.02 WITA.
Peristiwa tersebut menjadi bencana alam paling mematikan di dunia pada tahun 2018.
Sistem patahan di bagian tengah Sulawesi dimana Kota Palu terdapat terdiri dari kompleks
zona patahan yang berletak dalam pertemuan lempeng Pasifik, Indo-Australia dan lempeng
Eurasia. Dari perhitungan terhadap pergerakan patahan Palu-Koro ini diperoleh data kisaran
pergerakan lempeng, yaitu 35 ± 8 mm per tahun. Sejarah gempa bumi di bagian tengah
Sulawesi telah tercatat sejak abad ke-19, dimana beberapa diantaranya mempunyai magnitude
yang besar. Kegempaan di Sulawesi ini juga ditandai dengan frekuensi tsunami yang tinggi di
bagian Selat Makassar, sebagaimana yang terjadi pada tahun 1927 di Teluk Palu dengan
ketinggian gelombang mencapai 15 m. Secara regional, Palu merupakan daerah gempa aktif
dimana menurut Peta Seismisitas memiliki kedalamaan episentrum kurang dari 150 km.
Menurut klasifikasi zona gempa Indonesia (Firmansyah, J & Irsyam, M, 1999) gempa yang
terjadi di wilayah Palu termasuk dalam tipe zona perubahan (transform zone) yaitu gempa yang
diakibatkan karena dua lempeng tektonik bergerak saling menggelangsar (slide each other),
sejajar namun berlawanan arah. Keduanya tidak saling memberai maupun saling menumpu.
Gempa yang terjadi pada zona ini umumnya merupakan gempa pada kerak dangkal (shallow
crustal earthquakes) yang diakibatkan oleh Sesar Palu-Koro dan Sesar Matano.

2.3 LIKUIFAKSI
Gempa tak hanya diikuti gelombang laut raksasa, tapi juga fenomena tanah bergerak. Salah
satu dampak yang disebabkan oleh gempa bumi adalah fenomena hilangnya kekuatan lapisan
tanah akibat getaran yang disebut dengan likuifaksi. Liquifaksi merupakan bencana yang bisa
merusak kondisi infrastruktur sehingga pengetahuan terhadap potensi dan kerawanan liquifaksi
sangat penting terutama dalam merencanakan tata ruang khususnya di daerah Palu dan
sekitarnya. Likuifaksi biasanya terjadi pada tanah pasir yang bersifat lepas. Liquifaksi akan
menjadi masalah jika terjadi pada kawasan budidaya seperti area pemukiman, prasarana fisik
dan industri. Masalah tersebut adalah efek penurunan dan perpindahan lateral tanah yang
mengenai konstruksi bangunan fisik seperti tanah pondasi pada pemukiman, industri, jembatan
dsb yang menurunkan tingkat kestabilannya. Dari beberapa pemantauan yang dilakukan oleh
para ahli, terdapat beberapa kasus likuifaksi yang terjadi di beberapa daerah di Sulawesi Utara.
Untuk itu sangat penting untuk menganalisis potensi likuifaksi agar aman terhadap bahaya
likuifaksi apabila terjadi gempa besar. Palu merupakan salah satu daerah yang sering terjadi
Gempa dan mempunyai seismisitas tinggi. Geologi regional daerah Palu dan sekitarnya
didominasi oleh endapan kuarter yang terdiri atas endapan fluviatil dan alluvium. Kondisi alam
tersebut memiliki beberapa potensi yang merugikan di antaranya adalah potensi liquifaksi.
BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Indonesia adalah negara yang terletak di kawasan Zona Seismic Asia Tenggara dan
merupakan negara yang memiliki aktifitas seismik yang tinggi dan teraktif di dunia. Indonesia
berada di antara lempeng Indo-Australia dan Pelat Laut Filipina di bawah lempeng Eurasia. Oleh
karena itu, Indonesia telah mengalami ribuan gempa dan tsunami yang terjadi pada rentan
waktu empat ratus tahun terakhir. Gempa bumi dapat mempengaruhi kegagalan struktur dan
kestabilan tanah. Kerusakan yang diakibatkan kegegalan tersebut terbagi ke dalam dua kategori
yaitu kerusakan yang diakibatkan oleh terjadinya gempa bumi dan kerusakan yang terjadi pada
bangunan yang ada pada permukaan tanah.
Pulau Sulawesi adalah pulau yang terletak pada 5.36 LU-7.48 LS dan 117.02-125.74 BT
secara geografis dan dinilai sebagai pulau paling aman karena tidak langsung berhubungan
dengan dua samudera. Namun hal ini tidak bisa dibenarkan karena Pulau Sulawesi juga rentan
terhadap bencana laut, seperti gelombang tinggi dan tsunami yang terpicu oleh gempa bawah
laut. Oleh karena hal itu, Berapa bagian pulau Sulawesi yakni Sulawesi Utara merupakan salah
Satu daerah rawan bencana gempa bumi dan tsunami di Indonesia.
Pada tahun 2018, Kota palu yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah diguncang gempa dan
mengakibatkan tsunami serta pergeseran tanah atau yang disebut sebagai likuifaksi. Likuifaksi
adalah fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat getaran yang disebut dengan
likuifaksi. Liquifaksi juga dapat mengakibatkan kerusakan pada kondisi infrastruktur tanah
ataupun bangunan yang ada diatasnya.
DAFTAR PUSTAKA

Tijow, K. C., Sompie, O. B., & Ticoh, J. H. (2018). ANALISIS POTENSI LIKUIFAKSI TANAH
BERDASARKAN DATA STANDART PENETRATION TEST (SPT) STUDI KASUS: DERMAGA
BITUNG, SULAWESI UTARA. Jurnal Sipil Statik, 6(7).
Mangunpraja, D. M., & Prihatiningsih, A. (2019). Analisis Perbaikan Tanah Sebagai Bentuk
Mitigasi Bencana Likuifaksi Yang Dapat Diaplikasikan Masyarakat di Palu. JMTS: Jurnal
Mitra Teknik Sipil, 2(4), 95-104.
Baeda, A. Y., & Husain, F. (2012). Kajian Potensi Tsunami Akibat Gempa Bumi Bawah Laut di
Perairan Pulau Sulawesi. Jurnal Teknik Sipil ITB, 19(1), 75-82.
Pakpahan, S., Ngadmanto, D., Masturyono, M., Rohadi, S., Rasmid, R., Widodo, H. S., &
Susilanto, P. (2015). Analisis Kegempaan di Zona Sesar Palu Koro, Sulawesi Tengah.
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, 6(3), 253-264.

Anda mungkin juga menyukai