Tektonik dan Seismisitas
Daerah Palu merupakan salah satu kawasan seismik aktif di Indonesia. Tingginya tingkat aktivitas
kegempaan di kawasan ini tidak lepas dari lokasinya yang berada pada zona benturan tiga lempeng
tektonik utama dunia, yaitu Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Pertemuan ketiga lempeng ini
bersifat konvergen dan ketiganya bertumbukan secara relatif mengakibatkan Daerah Sulawesi
Tengah dan sekitarnya menjadi salah satu daerah yang memiliki tingkat kegempaan yang cukup
tinggi di Indonesia berkaitan dengan aktivitas sesar aktif.
Menurut Hamilton (1979), ada beberapa segmentasi sesar yang sangat berpotensi membangkitkan
gempabumi kuat di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Sesar-sesar tersebut adalah: (a) Sesar
Palu-Koro yang memanjang dari Palu ke arah Selatan dan Tenggara melalui Sulawesi Selatan
bagian Utara menuju ke selatan Bone sampai di laut Banda, (b) Sesar Saddang yang memanjang
dari pesisir Pantai Mamuju memotong diagonal melintasi daerah Sulawesi Selatan bagian tengah,
Sulawesi Selatan bagian selatan, Bulukumba menuju ke Pulau Selayar bagian Timur, dan (c) Sesar
Parit-Parit di Laut Makassar Selatan dan Laut Bone, dan beberapa anak patahan baik yang berada
di darat maupun di laut.
Untuk mengetahui tingkat aktivitas kegempaan di Palu, perlu dilakukan kajian sejarah gempabumi
dan seismisitas. Berdasarkan distribusi seismisitas, tampak klaster aktivitas gempabumi yang cukup
tinggi di sepanjang sesar aktif Palu-Koro hingga memotong Kota Palu. Ditinjau dari kedalaman
gempabuminya, aktivitas gempabumi di zona ini tampak didominasi oleh gempabumi kedalaman
dangkal antara 0 hingga 60 kilometer, yang merupakan cerminan pelepasan tegangan kerak bumi
yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif.
Klaster seismisitas gempabumi dangkal ini terkonsentrasi hampir merata baik di lepas pantai
maupun di daratan. Klaster seismisitas ini merupakan gambaran dari sangat aktifnya kondisi tektonik
di kawasan ini. Kondisi seismisitas ini menunjukkan bahwa daerah Palu dan sekitarnya merupakan
daerah yang rawan terhadap gempabumi dan tsunami. Apalagi kondisi seismisitas dan tektonik yang
ada mendukung untuk terjadinya gempabumi kuat dengan kedalaman dangkal yang dapat
membangkitkan tsunami.
Sejarah Gempabumi
Daerah Palu dan sekitarnya, selain sangat rawan gempabumi juga rawan terhadap tsunami.
Kerawaan gempabumi dan tsunami daerah ini sudah dibuktikan dengan beberapa catatan sejarah
gempabumi dan tsunami yang berlangsung sejak tahun 1927, seperti Gempabumi dan Tsunami
Palu 1927, Gempabumi dan Tsunami Parigi 1938 dan Gempabumi dan TsunamiTambu 1968.
Gempabumi dan Tsunami Palu 1 Desember 1927 bersumber di teluk Palu dan mengakibatkan
kerusakan parah diKota Palu, Palu, Biromaru dan sekitarnya. Gempabumi juga dirasakan dibagian
tengah Pulau Sulawesi yang jaraknya sekitar 230 kilometer. Selain menimbulkan kerusakan sangat
parah, gempabumi ini juga memicu tsunami di Teluk Palu.
Gelombang Tsunami yang tingginya mencapai 15 meter ini terjadi segera setelah terjadi gempabumi.
Banyak bangunan rumah di kawasan pantai mengalami kerusakan parah. Bencana ini menyebabkan
14 orang meninggal, dan 50 orang luka-luka. Tsunami juga menimbulkan kerusakan dipelabuhan.
Tangga dermaga Pelabuhan Talise hanyut akibat terjangan tsunam ini,sementara itu berdasarkan
laporan dasar laut setempat mengalami penurunan sedalam12 meter.
Gempabumi dan Tsunami Parigi 20 Mei 1938 terjadi sangat dahsyat, hingga dirasakan hampir
diseluruh bagian Pulau Sulawesi dan Bagian timur pulau Kalimatan. Daerah yang menderita
kerusakan paling parah adalah kawasan Teluk Parigi. Di tempat ini dilaporkan 942 unit rumah roboh.
Kerusakan yang ditimbulkan ini meliputi lebih dari 50 % rumah yang ada wilayah tersebut,
sedangkan 184 rumah lainnya rusak ringan.
Di Teluk Parigi dilaporkan 16 orang tewas tenggelam, dan di Ampibabo satu orang tewas tersapu
gelombang tsunami. Dermaga Pelabuhan Parigi hanyut, dan menara suar penjaga pantai
mengalami rusak berat. Binatang ternak dan pohon kelapa juga banyak yang hanyut tersapu
gelombang tsunami. Beberapa ruas jalan di daerah Marantale mengalami retak-retak dengan lebar
50 cm disertai keluar lumpur, bahkan sebuah rumah bergeser hingga 25 meter, namun daerah Palu
mengalami kerusakan ringan. Di daerah Poso dan Tinombo dirasakan getaran sangat kuat, tetapi
tidak menimbulkan kerusakan.
Gempabumi dan Tsunami Tambu 14 Agustus 1968 merupakan gempabumi kuat yang bersumber di
lepas pantai barat laut Sulawesi. Akibat gempabumi tersebut, di Teluk Tambu, antara Tambu dan
Sabang, terjadi fenomena air surut hingga kira-kira 3 meter dan selanjutnya terjadi hempasan
gelombang tsunami.Pada beberapa tebing terjadi longsoran dan terjadi retakan tanah yang disertai
munculnya pancaran air panas.
Di Daerah Sabang dilaporkan bahwa tsunami dating dengan suara gemuruh. Tsunami tersebut juga
menyerang di sepanjang pantai Palu. Menurut laporan, ketinggian gelombang tsunami mencapai 10
meter dan limpasan tsunami ke daratan mencapai 500 meter dari garis pantai. Daerah yang
mengalami kerusakan paling parah adalah kawasan Mapaga. Ditempat ini ditemukan160 orang
meninggal dan 40 orang dinyatakan hilang, serta 58 orang luka parah.
Terakhir, Gempabumi dan Tsunami Toli-Toli dan Palu 1996 (M6.3), menyebabkan 9 orang
tewas,serta kerusakan parah di Desa Bangkir, Toli-Toli, Tonggolobibi, dan Palu. Gempabumi ini juga
memicu tsunami denganketinggian 2 meter dengan limpasan air laut ke daratan sejauh 400 meter
(Suparto et al. 2006).
Tingginya aktivitas gempabumi di Daerah Palu berlangsung hingga sekarang. Dalam beberapa
tahun terakhir, gempabumi kuat masih terjadi dan mengguncang kawasan ini, seperti Gempabumi
Palu-Palu yang terjadi padatanggal 24 Januari 2005 yang menyebabkan satu orang meninggal dan
4 orang luka-luka.
Bagi masyarakat Palu dan sekitarnya, kondisi alam yang kurang bersahabat ini adalah sesuatuyang
harus diterima sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, semua itu adalah risiko yang harus
dihadapi sebagai penduduk yang tinggal di kawasan seismik aktif.
Bagi kalangan ahli kebumian dan instansi terkait dalam penanganan bencana, labilnya Daerah Palu
secara tektonik merupakan tantangan berpikir untuk menyusun strategi mitigasi yang tepat untuk
memperkecil risiko jika sewaktu-waktu terjadi bencana bencana gempabumi dan tsunami di Daerah
Palu dan sekitarnya seperti yang terjadi pada masa lalu.***
DaftarPustaka
Steve, J.M. and Moyra E.J.W., 1998,Biogeographic Implication of the Tertiary paleogeaographic
evolution of Sulawesi and Borneo, SE Asia Research Group, University of Technology,
Perth,Australia.
Suparto, Eka T.P.dan Surono, 2006, Katalog gempabumi merusak di Indonesia tahun 1629-2006
edisi ketiga.
Hamilton, W., 1979,Tectonic of Indonesia Region, Geological Survey Professional Paper,
UnitedStates Government Printing Office, Washington.
1.1 Bagaimana Gempa Bumi Terjadi?
Interior Bumi
Bumi terdiri dari beberapa lapisan pembentuk bumi, yaitu terdiri atas kerak bumi dan inti
bumi. Sementara diantara keduanya terdapat Lithosfer, dimana benua dan lautan terdapat di atas
lithosfer. Arus-arus konveksi dalam lapisan mantel teratas merupakan gaya-gaya utama yang
mengontrol terjadinya gerakan-gerakan lempeng dan oleh karena itu merupakan latar belakang
terjadinya gempa bumi (Santosa, 2008). Pada bagian dalam lithosfer terdapat cairan yang begitu
panas dimana sifat panas itu merambat. Maka cairan tersebut merambat ke bagian atas lithosfer
hingga mengalami pendinginan di permukaan kulit bumi yaitu di lautan maka akan membentuk
kerak lautan muda yang nantinya akan menggeser kerak lautan sebelumnya kedalam benua dan
mengakibatkan menunjam ke dalam mantel. Akibat daripada ituterjadilah perputaran lapisan
mantel yang sangat lambat dikarenakan konveksi.
Pergerakan yang lambat akan mengakibatkan gerakan yang sangat besar antar lempengan-
lempengan di bumi. Karena pada saat kedua lempeng saling bertumbukan, lempeng kulit bumi
lautan akan menembus lempeng benua yang lain. Lempeng-lempeng yang menembus ke dalam
mantel maka disebut sebagai zona subduksi. Komponen-komponen pada zona subduksi yaitu
palung, cekung busur muka, struktur tinggian, jalur busur gunung api dan cekungan busur
belakang. Ketika lempeng samudra dan lempeng samudra saling bertemu akan menghasilkan
suatu rangkaian busur gunung api (volcanic arc) yang arahnya sejajar dengan palung (trench).
Salah satu akibat dari tumbukan antar lempeng samudra dan lempeng benua adalah terbentuknya
kepulauan Indonesia. Lempeng-lempeng tektonik yang bertemu di wilayah Indonesia meliputi
lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik. Zona subduksi adalah zona
aktif gempa bumi sehingga lajur gempa bumi di Indonesia membentang sepanjang tidak kurang
dari 5.600 km mulai dari Andaman sampai ke Busur Banda Timur (Nugroho, Widiantoro dan
Ibrahim, 2007). Zona subduksi yang berada di wilayah Indonesia yaitu hampir seluruh
bagiannya, dari sepanjang selatan pulau Sumatra hingga ke selatan Pulau Jawa, kemudian Nusa
Tenggara hingga ke Maluku, yang merupakan menjadi wilayah rawan terjadi gempa bumi karena
tumbukan antar lempeng.
Gambar 1.36 Komponen-komponen pada zona subduksi (lempeng samudra dan lempeng benua) : palung (trech), struktur
tinggian (structural high), cekungan busur muka (forearc basin), jalur busur gunung api (volcanic arc), dan cekungan busur
belakang (backarc basin) (Noor, 2009).
Gempa Bumi
Gempa bumi dapat didefinisikan bergetarnya permukaan tanah karena pelepasan energi
secara tiba-tiba akibat dari pecah/slipnya massa batuan dilapisan kerak bumi. (Widodo, 2012).
Gempa bumi dapat dibedakan dari penyebabnya seperti gempa runtuhan, gempa vulkanik,
gempa ledakan, dan gempa tektonik. Kajian teori ini lebih membahas gempa tektonik yaitu
gempa yang disebabkan oleh gerakan lempeng tektonik. Gempa bumi dapat diukur dengan alat
seismometer atau alat seismograf, alat ini dapat mencatat getaran yang ada di bumi dan
ditempatkan diberbagai titik yang rawan gempa. Skala magnitudo dari gempa bumi adalah
Richter yang berkisar 1-10. Skala lain yaitu MMI (Intensitas modifikasi mercalli) yang diukur
berdasarkan kerusakan
gempa dan memiliki skala 1-12. Penyebaran pusat gempa tektonik ini erat kaitannya dengan
batas-batas lempeng.
Seismologi merupakan ilmu geofisika yang mempelajari tentang gempa bumi. Seismologi
berasal dari dua kata Yunani, seismos berarti getaran dan logos yang berarti ilmu pengetahuan.
Ilmu ini mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan gempa bumi. Secara sederhana seismologi
diartikan sebagai ilmu yang mempelajari fenomena getaran di dalam bumi, atau ilmu mengenai
gempa bumi (Sukanta, 2010). Seismologi digunakan dalam rekayasa struktural untuk membantu
dalam desain bangunan tahan gempa dan prospeksi mineral daneksplorasi minyak dan gas alam
(Aki, 1980; Richards,1980). Menurut BMKG, gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi
akibat pelepasan secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi.
Gempa bumi terjadi karena patahnya atau bergesernya lempeng tektonik. Gempa bumi sangat
dipengaruhi oleh pergerakan batuan dan lempeng pada sesar. Sesar adalah celah pada kerak bumi
yang terletak pada perbatasan antara dua lempeng tektonik.
Proses Terjadinya Gempa Bumi
Gempa bumi yang terjadi ada banyak jenisnya, secara umum ada gempa bumi tektonik dan
vulkanik, namun gempa bumi tektonik mendominasi kejadian gempa yang
terjadi. Proses terjadinya gempa bumi tektonik dikelompokkan kedalam teori pergeseran sesar
dan teori kekenyalan elastisitas.
Teori pergeseran sesar dimulai pada pergerakan interior bumi saat gaya konveksi mantel
yang menekan kerak bumi. Karena kerak sifatnya rapuh, maka mengakibatkan pergeseran pada
sesar. Dari pergeseran sesar, muncullah gempa bumi berupa aliran energi yang merambat ke
permukaan. Sedangkan pada teori kekenyalan elastisitas terjadi pada saat gempa yang
disebabkan oleh pergeseran atau patahan pada sesar baik itu sesar naik atau sesar turun. Patahan
terjadi karena batuan mengalami tekanan terus-menerus. Apabila batuan sudah mulai jenuh,
maka batuan akan patah untuk melepaskan energi dari tekanan dan tarikan tersebut. Pada saat
menerima tekanan maka akan terbengkok tapi saat mendapat tarikan akan kembali seperti
semula. Hal itu yang disebut dengan teori kekenyalan elatisitas.
Dinamika bumi memungkinkan terjadinya Gempa bumi. Di seluruh dunia
tidak kurangdari 8000 kejadian Gempa Bumi terjadi tiap hari, dengan skala kecil yaitu
kurangdari Magnitud 2 sampai skala besar dengan kekuatan sekitar Magnitud 9.5 yang secara
statistik hanya terjadi satu kali dalam 20 tahun di dunia. Dari kejadian Gempa Bumi dunia,
kurang lebih 10% nya terjadi di Indonesia. Dinamika bumi digambarkan dengan pergerakan
lempeng-lempeng yang menyusun kerak bumi. Pergerakan lempeng samudera terjadi karena ada
proses naiknyamagma ke permukaan (sea-floor spreading) secara terus menerus dari dalam kulit
bumi di zona pemekaran samudera. Proses ini mendorong lempeng samudera yang mengapung
pada lapisan yang bersifat padat tetapi sangat panas dan dapat mengalir secara perlahan. Pada
saat lempeng samudera
menyusup ke bawah lempeng benua terjadi gesekan yang menghambat proses penyusupan
(Gambar 1.37).
Gambar 1.37 Pergeseran lempeng di Bumi. Magma, gunung berapi, dan gempa bumi yang dihasilkan pada zona
subduksi (atas) di mana lempeng samudera padat didorong di bewah lempeng benua yang lebih ringan. Ketika benua
pada dua lempeng bergerak memenuhi permukaan, gunung baru yang dihasilkan (tengah). Dalam beberapa situasi,
lempeng depan dapat terganggu dan gerakan lempeng dapat berhenti. Kedua benua kemudian menjadi satu bersama-
sama membentuk lempeng yang lebih besar, dan zona subduksi baru dapat dibentuk di tempat lain (bawah) (Lang,
2011).
Perlambatan gerak penyusupan tersebut menyebabkan adanya akumulasi energi di zona
subduksi dan zona patahan. Akibatnya, pada zona tersebut akan terjadi tekanan, tarikan, dan
geseran. Pergerakan lempeng-lempeng di dunia memungkinkan adanya interaksi antara lempeng
yang satu dengan lainnya. Gempa terjadi bukan karena tumbukan dua lempeng, seperti
diibaratkan dua mobil saling bertabrakan yang asalnya saling jauh kemudian bertabrakan
(terjadi crash). Untuk zona subduksi, gempa terjadi karena interaksi antar dua lempeng yang
saling menekan sehingga terakumulasi energi yang cukup besar. Gempa itu sendiri terjadi karena
kondisi batuan pada lempeng ataupun litosfer patah.
Mengapa batuan dapat patah, mekanisme patahan yang terjadi dapat dijelaskan bahwa
dikarenakan batuan tadi mengalami tekanan
ataupun tarikan secara terusmenerus, apabila elastisitas batuan sudah jenuh, maka batuan akan
patah untuk melepaskan energi dari tekanan dan tarikan tersebut. Saat menerima tekanan, batuan
akan terbengkokkan dan setelah melepaskan tekanannya batuan akan kembali ke bentuk semula,
ini dikenal dengan Elastic Rebound Theory. Pelepaskan energi tekanan yang sudah tertumpuk
ini terjadi selama kurun waktu tertentu (Scolz,2004). Gempa yang terjadi di zona subduksi akibat
patahan pada lapisan batuan ataulithosfer ini dapat berupa gempa dangkal (shallow
earthquake), menengah (intermediate earthquake), dan dalam (deep earthquake). Berdasarkan
hasil penelitian para peneliti kebumian, disimpulkan bahwa hampir 95 persen lebih Gempa
Bumi alamiah yang cukup besar terjadi di daerah batas pertemuan antar lempeng yang menyusun
kerak bumi dan di daerah patahan atau fault.
Secara tahapan dapat di jelaskan seperti berikut ini:
a. Tahap pertama dua lempeng saling bertumbukan di zona subduksi terjadi tegangan geser
b. Tahap kedua lempeng yang berada diatas mulai mengalami tekukan sehingga terbentuk bukit di
atasnya sementara itu tegangan geser terus bertambah. Pada tahap ini kecepatan gelombang
seismik menurun.
c. Tahap ketiga terjadi retakan-retakan pada batuan dan mencapai batas keseimbangan. Pada tahap
ini gelombnag seismik meningkat lagi.
d. Tahap keempat terjadilah gempa bumi akibat dari batuan yang pecah, Slip atau batuan yang
terkunci menjadi terlepas dan sejumlah energi akan dilepaskan. Kemudian energi ini akan
merambat ke segala arah dalam bentuk gelombang longitudinal (gelombang P) dan gelombang
transversal (gelombang S) rambatan gelombang ini yang akan menghancurkan bangunan-
bangunan di atasnya
e. Tahap kelima terjadi keseimbangan baru pada saat selesai gempa bumi.
Pada saat terjadi gempa bumi, energi gempa tersebut merambat dalam bentuk gelombang
seismik (Gambar 1.39). Gelombang P dan S memberikan petunjuk untuk interior bumi. Bahwa
tidak ada gelombang S langsung mencapai sisi jauh menunjukkan bahwa inti bumi cair. Ukuran
gelombang bayangan S memberitahu ukuran inti luar. Energi gelombang seismik akibat adanya
gempa bumi merambat dengan jangkauan tertentu. Gelombang seismik sebagai bentuk rambatan
energi gempa ini dapat direkam menggunakan alat yang disebut seismograf. Gambat 1.39
menunjukkan salah satu bentuk gelombang seismik pada saat gempa bumi di Meksiko.
Gambar 1.39 Perambatan gelombang seismik melalui interior Bumi saat terjadi gempa bumi (Seeds, 2007).
Gambar 1.40 Sebuah seismograf di utara Kanada merekam gelombang seismik dari gempa bumi di Meksiko.
Getaran pertama, gelombang P, tiba 11 menit setelah gempa, tetapi gelombang S butuh waktu 20 menit untuk
melakukan perjalanan (Lang, 2011).
Struktur internal bumi ditentukan oleh kecepatan yang berbeda-beda dari gelombang gempa
(Gambar 1.41). Ada dua jenis gelombang yang berjalan melalui Bumi. Gelombang tersebut
dikenal sebagai kompresi gelombang P (atau gelombang "dorong dan tarik") dan gelombang
geser S (atau gelombang "goyang"). Gelombang P bergerak hampir dua kali lebih cepat daripada
gelombang S, dan gelombang P melewati fluida inti luar, yang tidak bisa dilakukan gelombang S.
Batas antara mantel dan inti ditandai dengan penurunan terjal dalam kecepatan gelombang P
pada kedalaman sekitar 2.890 kilometer. Gelombang S tidak merambat melampaui batas ini. Inti
luar cair dipisahkan dari inti padat pada radius 1.220 kilometer di mana gelombang P mengalami
peningkatan kecepatan