0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan20 halaman

BAB 5 Sept 22

statistik deskrptif

Diunggah oleh

Raya rambu rabani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan20 halaman

BAB 5 Sept 22

statistik deskrptif

Diunggah oleh

Raya rambu rabani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 5 Teknik Sampling

SISTEMATIKA BAB
Pengantar
Teknik Sampling
Sampel Acak
Simple Random Sampling
Stratified Sampling
Cluster sampling
Systematic sampling
Multi Stage Sampling
Sampel Tidak Acak
Convenience sampling
Purposive sampling
Quota sampling
Voluntary sampling
Snowball sampling
Behaviour Sampling
Adaptive sampling
Deviant case sampling
Sequential sampling
Theoretical sampling
Sampel untuk populasi yang tak berhingga dan tak terbatas
SOAL UNTUK LATIHAN

109
5.1 Pengantar
Jika pada suatu penelitian, terdapat banyak unit observasi yang bisa diteliti, namun peneliti
memiliki keterbatasan waktu, sumber daya, dan biaya maka mungkin sebagian saja dari seluruh
subjek tersebut yang perlu diteliti dengan seksama. Cara mengambil sebagain saja dari
keseluruhan objek/subjek penelitian dikenal dengan istilah ‘Sampling’. Pada semua jenis
penelitian, baik yang menggunakan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif, sampling sering
menjadi masalah utama. Bagaimana cara pengampilan sampel yang tepat dan berapa
jumlahnya? Ini adalah dua pertanyaan yang selalu muncul terkait dengan sampling.
Kajian tentang sampling dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu:
1. Teknik sampling,
2. Penentuan ukuran sampel,
3. Distribusi sampling.
Namun pada Bab 5 ini akan dibahas bagian 1 dan 3 sedangkan bagian 2 akan diberikan di bab
7 karena memerlukan pengetahuan tentang statistika inferensial.

5.2 Istilah-istilah dalam Teknik Sampling

Di bagian ini akan diperkenalkan beberapa istilah dalam teknik sampling. Pertama yaitu
populasi, disebut juga dengan universe atau semesta. Populasi adalah seluruh objek penelitian,
meliputi individu, benda, ataupun kejadian. Populasi juga bisa berarti seluruh nilai yang
mungkin, hasil perhitungan/pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik
tertentu dari semua unit observasi yang ingin dipelajari sifatnya. Definisi lain dari populasi
yaitu Keseluruhan unit observasi ingin diteliti yang dibatasi oleh suatu kriterium tertentu.
Contohnya, jika yang ingin diteliti adalah sikap konsumen terhadap suatu produk, maka
populasinya adalah seluruh konsumen produk tersebut. Gambar 5.1 menggambarkan populasi,
sampel, dan teknik sampling.

110
Gambar 5.1. Populasi dan Sampel serta Teknik Sampling

Diperkenalkan juga istilah ‘Populasi Sasaran’ atau ‘Populasi Target’ yaitu Populasi yang akan
menjadi cakupan atau generalisasi Penelitian. Untuk kondisi ini tidak diperlukan pengambilan
sampel. Kemudia ada istilah ‘Populasi Tersembunyi’ yaitu Populasi masyarakat yang terlibat
dalam kegiatan rahasia, tidak disetujui secara sosial, atau kegiatan menyamar, yang sulit untuk
ditemukan dan dipelajari. Contoh populasi tersembunyi adalah kelompok teroris.

Gambar 5.2 Sampel (sumber:?)

Selanjutnya Sampel yaitu bagian yang diambil dari populasi yang harus mencerminkan
karakteristik dan mewakili populasi yang digambarkan dalam Gambar 5.2. Sampel diambil
dari proses sampling. Sedangkan sampling yaitu proses pemilihan sebagian unit observasi yang
ada dalam populasi dengan teknik-teknik tertentu. Karena keterbatasan waktu, dana, dan
tenaga, seringkali tidak bisa dilakukan penelitian terhadap seluruh anggota populasi maka perlu
diambil sampel dengan proses sampling. Gambar 5.3 berikut menggambarkan proses sampling.

111
Gambar 5.3. Proses Sampling (sumber: wikipedia)

Dalam suatu penelitian, populasi perlu diwakili oleh sampel karena ukuran populasi yang
besar, dimana perlu dihemat biaya, sumber daya (manusia dan perlengkapan), waktu, serta
ketelitian.

Beberapa syarat sampel yang baik yaitu memiliki akurasi/ketepatan yaitu tingkat
ketidakbiasan/kekeliruan sampel; Presisi yaitu sedekat apa estimasi/penaksiran sampel
terhadap karakteristik populasi. Belum pernah ada sampel yang bisa mewakili karakteristik
populasi secara eksak. Karena dalam setiap proses sampling selalu terdapat kesalahan-
kesalahan yang disebut sampling error.

Berikutnya adalah istilah sensus yaitu pemeriksaan atau pengukuran yang menyeluruh
terhadap semua unit observasi yang ada dalam populasi.
Selain istilah-istilah di atas, juga ada beberapa istilah lain terkait sampling yang akan dijelaskan
sebagai berikut.
• Elemen Sampling: Nama untuk suatu kasus atau unit tunggal dijadikan sampel
• Kerangka Sampling: suatu daftar kasus dalam populasi atau perkiraan terbaik dari hal
tersebut
• Rasio Sampling: jumlah kasus dalam sampel dibagi dengan jumlah kasus dalam
populasi, atau kerangka sampling, atau proporsi populasi dalam suatu sampel
• Galat Sampling: seberapa besar suatu sampel menyimpang dari kemampuannya
merepresentasikan sebuah populasi
• Tabel bilangan acak: daftar bilangan yang tidak berpola, yang digunakan peneliti
dengan tujuan menciptakan proses acak untuk memilih berbagai kasus dan tujuan
randomisasi lainnya

112
• Proporsi: nilai persentase yang merupakan perbandingan frekuensi suatu data
dibandingkan dengan frekuensi total. Dalam konteks populasi, perbandingan suatu
kelompok dalam populasi yang memiliki karakteristik atau atribut tertentu.
Istilah-istilah di atas saling berhubungan dan merupakan himpunan bagian satu sama lain
seperti yang ditunjukkan pada diagram Venn berikut.

Gambar 5.4 Hubungan antara keempat istilah dalam sampling

Keseluruhan proses bisa digambarkan seperti pada Gambar 5.5.

Gambar 5.5. Metode Sampling

113
CONTOH
Seorang penelitia akan melakukan penelitian di sebuah kampus X di Bandung dengan
karakteristik:
1. Mahasiswa angkatan 2020
2. Berasal dari Sumatera Barat
Setelah didata, terdapat 200 mahasiswa yang memenuhi karakteristik sebagai subjek
penelitian. Berarti diperoleh jumlah anggota populasi, N=200. Selanjutnya kerangka
samplingnya adalah daftar nama kedua ratus mahasiswa tersebut. Kemudian diambil sampel
sebanyak 50% yaitu 100 orang secara acak.. Dipilihlah nama 100 mahasiswa dari 200
mahasiswa yang menjadi anggota populasi. Bisa digunakan tabel acak untuk menentukan siapa
saja dari 200 orang tersebut yang akan diambil sebagai sampel. Satu per satu dari sampel ini
disebut elemen sampling.

5.2 Teknik Sampling

Secara umum, teknik atau cara pengambilan sampel dari populasi terbagi menjadi dua yaitu
sampel acak (random sampling/probability sampling) dan Sampel tidak acak (nonrandom
sampling /nonprobability sampling). Ada bermacam-macam jenis teknik sampling yang dibagi
menurut beberapa sudut pandang. Pengelompokkan teknik sampling berdasarkan probability
sampling dan non probability sampling terdapat pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2. Teknik sampling berdasarkan acak atau tidaknya
Sampel acak (random sampling / Sampel tidak acak (nonrandom sampling
probability sampling) /nonprobability sampling)
• Simple random sampling • Convenience sampling
• Stratified random sampling • Purposive sampling
• Cluster sampling • Quota sampling
• Systematic sampling • Voluntary sampling
• Area sampling • Snowball sampling
• Adaptive sampling

Gambar 5.4 menggambarkan perbedaan sampel pada probability sampling dan non probability
sampling.

114
Gambar 5.6. (sumber:?)

Selain pengelompokkan berdasarkan acak dan tidak acaknya, teknik sampling juga dapat
dikelompokkan berdasarkan homogen dan heterogen populasinya. Jenis teknik sampling yang
digolongkan homogen di antaranya adalah Convenience sampling, Purposive sampling, dan
Simple random sampling. Sedangkan yang digolongkan pada teknik sampling dengan populasi
heterogen di antaranya Stratified sampling, Quota sampling, Cluster sampling, dan Area
sampling. Untuk teknik sampling Cluster dan Stratified ada sedikit tambahan. Kedua teknik
sampling ini memiliki perbedaan yaitu antar cluster itu homogen dan di dalam cluster
karakteristik subjeknya heterogen. Sedangkan pada stratified, antar stratanya heterogen dan
dalam strata karakteristik subjeknya homogen.

Berdasarkan kepentingan validitas hasil penelitian, teknik sampling bisa dibagi menjadi:
Behaviour sampling yaitu Time sampling dan Event sampling, serta Situation sampling.
Selanjutnya akan dijelaskan masing-masing isi tabel di atas.

5.3.1 Sampel Acak


Sampel acak biasa juga disebut Probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang
memberikan peluang yang sama pada setiap anggota populasi untuk terpilih menjadi anggota
sampel. Probability sampling yang akan di bahas pada bagian ini meliputi simple random
sampling, stratified sampling, cluster sampling, systematic sampling, area sampling, dan multi
stage sampling.

1. Simple Random Sampling


Simple random sampling yaitu cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang
sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Teknik sampling ini adalah teknik yang

115
sederhana, populasi di anggap homogen karena perbedaan antar elemen bukan hal penting dan
tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil penelitian. Misalnya, jika elemen
populasi ada 100 dan yang akan dijadikan sampel 25 maka setiap elemen punya peluang untuk
dipilih sebagai sampel sebesar 25% atau 0,25. Simple Random Sampling di tunjukkan pada
Gambar 5.7 berikut ini.

Gambar 5.7. (sumber:?)


CONTOH
Terdapat populasi beranggota 5 subjek, 𝑁 = 5 yaitu {A, B, C, D, E}. Akan diambil sampel
berukuran 2. Tentukan berapa sampel yang bisa diperoleh jika :
a. tanpa pengembalian;
b. dengan pengembalian.
JAWAB
a. Tanpa pengembalian
Sampel yang diperoleh:
𝑁!
𝐶𝑛𝑁 =
(𝑁 − 𝑛)! 𝑛!
5! 5! 5∙4
𝐶25 = = = = 10
(5 − 2)! 2! 3! 2! 2

Yaitu {AB, AC, AD, AE, BC, BD, BE, CD, CE, DE}

a. Dengan pengembalian
Sampel yang diperoleh:
𝑁 𝑛 = 52 = 25
Yaitu {AA, AB, AC, AD, AE, …, EE}.

116
2. Stratified random sampling
Dilakukan jika populasi heterogen, tetapi dalam setiap stratum homogen. Kemudian diambil
sampel acak dari setiap stratum seperti pada Gambar 5.8. Saat menentukan jumlah sampel pada
tiap stratum, digunakan cara :
• Proporsional
jumlah sampel dalam setiap stratum sebanding dengan persentase jumlah elemen
populasi dalam stratum tersebut.
• Tidak proporsional
terjadi jika jumlah elemen dalam satu atau beberapa stratum terlalu sedikit. Karenanya
setiap stratum harus ada wakilnya walaupun tidak proporsional.

Gambar 5.8. (sumber:?)


CONTOH
Seorang dosen ingin mengetahui respon mahasiswa semester 1 dan semester 3 terhadap buku
ajar yang baru ditulisnya. Karena dugaannya bahwa respon mahasiswa baru dengan mahasiswi
lama akan berbeda, maka dosen tersebut mengambil sampel dengan cara:
• Jumlah mahasiswa seluruhnya adalah 100 orang. Ini merupakan ukuran populasi, 𝑁 =
100.
• Pada populasi tersebut terdapat 60 mahasiswa semester 1 dan 40 mahasiswa semester
3. Secara acak diambil 30% dari setiap angkatan, diperoleh sampel seperti pada Gambar
5.9 berikut

117
Gambar 5.9. Stratified Sampling
Diperoleh sampel dari masing-masing angkatan sebanyak 18 dan 12 orang, atau total 30 orang.
Ini memenuhi 30% dari 100 orang mahasiswa sebagai jumlah anggota populasi.

3. Cluster sampling
Unit samplingnya adalah kelompok, bukan individu. Elemen dalam setiap kelompok boleh
heterogen. Bisa juga populasi heterogen dikelompokkan menjadi homogen.
Contoh:
• Dalam 1 perusahaan terdapat divisi-divisi (homogen). Dalam 1 divisi terdapat banyak
pegawai dengan karakteristik berbeda (heterogen).
• Dalam 1 perusahaan terdapat pegawai laki-laki dan perempuan (heterogen). Pegawai
laki-laki dan perempuan dengan latar belakang pendidikan S1, S2, dan S3 (heterogen).

Gambar 5.10. Cluster Sampling

Cluster sampling digambarkan pada Gambar 5.10 di atas. Untuk sampling cluster dibagi lagi
menjadi tahap-tahapan seperti pada Gambar 5.11. berikut.

Gambar 5.11. Single stage cluster dan two stage cluster (sumber:?)

118
4. Systematic Sampling
Digunakan jika populasi berukuran besar dan pengambilan sampel dilakukan secara manual.
Misalnya akan dipilih 5000 unit sampel dari 100.000 elemen. Proses sampling akan sangat
memakan waktu. Dengan cara sistematis, populasi dibagi menjadi kelas-kelas interval.
Kemudian pada setiap interval, dipilih elemen, misalnya ke 25. Pengambilan sampel pada
sistematik sampling bisa juga dilakukan dengan mengambil sampel dengan kelipatan dari nilai
tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan 4. Untuk ini, kita tentukan dahulu secara acak untuk
sampel pertama, misalnya sampel pertama yang dipilih secara acak adalah sampel no 3, dengan
menggunakan kelipatan 4, maka sampel yang dipilih adalah 3, 7, 11, 15, dst. seperti
digambarkan pada Gambar 5.12. berikut.

Gambar 5.12. Sistematik Sampling (sumber:?)

CONTOH
Seratus orang mahasiswa di sebuah program studi akan menjadi responden penelitian.
Diambil 10 mahasiswa sebagai sampel dengan pengambilan secara sistematik. Caranya:
• Seluruh subjek/unit observasi diberi nomor urut 1-100.
• Seluruh anggota populasi dibagi menjadi 10 kelompok dengan kelompok A berisi
nomor 1-10, kelompok B berisi nomor 11-20, dan seterusnya.
• Ambil 1 unit sampel dari kelompok A secara acak. Misal terambil sampel nomor 6.
Untuk kelompok B diambil sampel yang berada segaris dengan sampel nomor 6, begitu
seterusnya untuk kelompok C dan selanjutnya.
• Diperoleh sampel seperti berikut:
Kelompok A B C D E F G H I J
Nomor 6 16 26 36 46 56 66 76 86 96
terpilih

Jadi sampel yang diambil secara acak hanyalah sampel pertama. Sampel selanjutnya diambil
secara sistematis dengan suatu pola terhadap sampel pertama.

119
5. Multi Stage Sampling
Multi stage sampling adalah gabungan dari beberapa teknik sampling di atas. Pada multi stage
sampling, populasi dibagi menjadi beberapa kelompok dan kemudian kelompok ini dibagi lagi
dan dikelompokkan ke dalam berbagai sub kelompok (strata) berdasarkan kesamaan. Satu atau
lebih cluster dapat dipilih secara acak dari setiap strata. Proses ini berlanjut sampai cluster tidak
dapat dibagi lagi. Misalnya negara dapat dibagi menjadi negara, kota, perkotaan dan pedesaan
dan semua wilayah dengan karakteristik yang sama dapat digabung bersama untuk membentuk
strata. Untuk lebih jelasnya, multistage sampling ini di ilustrasikan pada Gambar 5.13. berikut.

Gambar 5.13. (sumber:?)

5.3.2 Sampel Tidak Acak


Setiap elemen populasi tidak mempunyai peluang yang sama untuk terambil menjadi sampel.
Elemen populasi yang terpilih bisa disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang
sudah direncanakan peneliti. Misalnya, sampel diambil dari yang berdekatan rumah dengan
peneliti maka untuk yang rumahnya jauh, peluang untuk menjadi sampel adalah nol.

1. Convenience sampling
Convenience Sampling adalah sampling yang dipilih dengan alasan kemudahan saja. Dikenal
juga dengan istilah accidental sampling atau captive sampling. Siapapun yang yang dijumpai
saat itu yang memenuhi karakteristik populasi, bisa dijadikan sampel. Jenis sampel ini sangat
baik jika dipakai untuk penelitian misalnya jajag pendapat. Pada beberapa kasus, hasilnya

120
kurang objektif dan tidak representatif. Convenience Sampling digambarkan pada Gambar
5.14. berikut

Gambar 5.14. Convenience Sampling

2. Purposive sampling
Teknik sampling ini disebut juga Judgemental Sampling. Pada teknik sampling ini, sampel
diambil berdasarkan pertimbangan ahli atau si peneliti yang menganggap sampel tersebut bisa
memberikan informasi yang terbaik untuk penelitian. Purposive sampling cocok digunakan
untuk kasus unik yang sangat informatif namun peneliti menemui kesulitan dalam akses (susah
menjangkau) anggota populasinya namun menghindari teknik Snowball (akan dijelaskan di
bawah) untuk menjaga independensi antar sampel. Teknik sampling ini menggunakan teknik
sampel stratifikasi secara proporsional tetapi tidak dipilih secara acak melainkan karena
kebetulan saja, ditunjukkan dengan Gambar 5.15. berikut.

Gambar 5.15. Purposive Sampling


3. Quota Sampling

121
Quota Sampling mengambil sejumlah kasus dari masing-masing kategori yang sudah
ditentukan, yang dimaksudkan agar tercermin perbedaan dalam populasi. Pada teknik sampling
kuota (quota sampling) peneliti akan mengidentifikasi kategori-kategori yang relevan dari
individu, misalnya usia, gender, dan sebagainya. Selain itu, peneliti memutuskan berapa jumlah
sampel yang akan diambil dari tiap kategori. Jumlahnya harus sama untuk tiap kategori. Quota
Sampling ditunjukkan pada Gambar 5.16. berikut ini.

Gambar 5.16. Quota Sampling

4. Voluntary sampling
Voluntary sampling adalah teknik sampling dimana elemen populasi mengajukan dirinya untuk
menjadi sampel bisa karena populasi tersembunyi (Ilustrasi pada Gambar 5.17). Misalnya,
penelitian tentang obat baru di bidang farmasi.

Gambar 5.17. Voluntary Sampling


5. Snowball sampling

122
Snowball sampling disebut juga network, chain referral atau respondent-driven sampling.
Teknik ini digunakan jika peneliti tidak tahu banyak tentang populasi penelitiannya. Peneliti
hanya tahu satu atau dua individu yang layak menjadi sampel. Kemudian diminta pada sampel
pertama untuk membawa temannya, dan seterusnya. Misalnya penelitian terhadap kelompok
sosial yang ekslusif (tertutup) seperti pecandu narkoba, kelompok gay, dan lainnya. Snowball
sampling ditunjukkan dengan Gambar 5.18 berikut ini.

Gambar 5.18. Snowball Sampling (sumber:?)

Pada Teknik sampling Snowball, yang disebut sebagai sampel adalah individu yang disebutkan
sebagai teman dekat oleh setidaknya satu orang lain dalam kelompok tersebut.

6. Behavior sampling
Behavior sampling adalah pengambilan sampel berupa perilaku. Behavior sampling terdiri dari
dua cara, yaitu (1) Time sampling, yaitu jarak waktu antar observasi dibuat acak agar diperoleh
sampel perilaku yang representatif, dan (2) Event sampling, yaitu peneliti memaksimumkan
kesempatan mengobservasi suatu peristiwa untuk memperoleh informasi yang cukup tentang
sampel perilaku. Pada time sampling, jarak waktu antar observasi bisa diatur secara sistematis,
secara acak, atau keduanya. Dari kedua cara ini, cara event sampling dianggap lebih efisien.

7. Situation sampling
Karena perilaku bisa berubah kapan saja maka pengambilan sampel berdasarkan situasi
dilakukan dalam situasi yang berbeda, lokasi yang berbeda, dan kondisi subjek yang berbeda.
Dengan demikian peneliti bisa memperoleh beragam informasi tentang subjek. Dengan
pengambilan sampel berdasarkan situasi, peneliti dapat secara signifikan meningkatkan
validitas eksternal dari temuan-temuan pengamatan (observasi). Misalnya anak yang

123
bersekolah asrama mungkin akan memperlihatkan perilaku yang berbeda antara ketika berada
di asrama dengan saat ia pulang ke rumah orangtuanya.

8. Adaptive sampling
Teknik sampling ini disebut juga rancangan respon-adaptif, dimana peneliti dapat
menyesuaikan kriteria pemilihan sampel selama penelitian berlangsung, berdasarkan hasil
penelitian pendahuluan. Teknik sampling adaptif banyak dipakai pada penelitian di bidang
Medis, misalnya pada percobaan pemakaian obat baru. Biasanya ada dua kelompok yaitu
kelompok eksperimen, yang mendapatkan obat baru, dan kelompok kontrol sebagai
pembanding. Jika obat baru kelihatannya aman dan manjur, jumlah sampel pada kelompok
eksperimen bisa saja ditambah. Adaptive sampling ditunjukkan pada Gambar 5.19 berikut.

Gambar 5.19. Adaptive Sampling

9. Deviant case sampling


Teknik sampling ini disebut juga Extreme Case atau Typical Case, digunakan jika peneliti ingin
mencari responden dengan pola yang berbeda dengan yang sudah ada. Teknik sampling ini
mirip dengan teknik sampling purposive yaitu ketika peneliti menggunakan beberapa teknik
untuk memperoleh responden dengan karakteristik tertentu. Hanya saja, deviant case sampling
ini tujuannya adalah mencari hal-hal yang unik dan tidak biasa. Ini perbedaannya dengan
purposive sampling. Misalnya penelitian yang sudah ada itu adalah terhadap kelompok remaja
yang mengalami depresi yang berasal dari keluarga berantakan dengan orangtua bercerai
(broken home). Pada deviant case sampling akan diambil kelompok remaja yang mengalami
depresi namun berasal dari keluarga yang baik-baik saja dengan orangtua lengkap.

10. Sequential Sampling

124
Teknik sampling ini mirip dengan purposive sampling. Perbedaannya, dalam purposive
sampling, peneliti coba menemukan sebanyak mungkin responden yang memiliki karakteristik
relevan dengan masalah penelitian. Dalam sequential sampling, peneliti terus mengumpulkan
responden hingga jumlah informasi baru atau keragaman responden yang baru terpenuhi.
Kasus dikumpulkan terus hingga mencapai titik jenuh. Sequential sampling ditunjukkan
dengan Gambar 5.20. berikut ini.

Gambar 5.20. Sequential sampling (sumber:?)


Sebagai contoh untuk teknik sampling ini, misalnya akan diteliti sekitar 50 anak muda putus
sekolah namun sukses dalam bidang entrepreneur (orang yang mampu melakukan perombakan
sistem ekonomi lewat inovasi). Jika peneliti bisa menggali segala sesuatu yang berkaitan
dengan kelompok sampel ini maka tidak perlu lagi dicari tambahan kelompok lain dengan
kondisi dan latar belakang yang sedikit berbeda.

11. Theoretical Sampling


Teknik sampling ini digunakan untuk melakukan proses pengumpulan data untuk
memperumum teori dalam rangka penyusunan teori baru. Biasanya dipakai pada penelitian
kualitatif. Yang menjadi sampel biasanya individu, situasi, peristiwa, atau periode waktu.
Namun pengertiannya agak berbeda dibandingkan teknik sampling lainnya karena ‘sampling’
mengacu pada populasi yang sudah memenuhi karakteristik sebagai subjek penelitian. Sebagai
contoh, misalnya peneliti mengamati dan meneliti sekelompok orang yang bekerja di suatu
tempat dalam waktu tertentu. Peneliti bisa mengatur periode waktu yang lain untuk
mengembangkan teori tertentu yang ingin dibuktikan, atau untuk mengevaluasi teori tertentu
apakah masih berlaku atau tidak pada sekelompok orang tersebut.

Sampel untuk populasi yang tak berhingga dan tak terbatas

125
Ketika akan melakukan survei, seorang peneliti akan dihadapkan pada pertanyaan “berapa
sampel yang diperlukan?”. Jawabannya akan bergantung kepada beberapa hal, di antaranya
tujuan, alamiah, dan ruang lingkup penelitian. Selain itu, peneliti juga perlu memperkirakan
hasil seperti apa yang ia harapkan dari penelitian yang akan dilakukan. Semua hal ini perlu
direncanakan dengan hati-hati dan matang agar penelitian menghasilkan data yang baik dan
representatif serta bisa digunakan untuk menjawab masalah penelitian.

Terdapat tiga macam data yang dihasilkan dari suatu penelitian, sesuai dengan skala
pengukuran yaitu data nominal, ordinal, dan interval atau rasio. Tentang skala pengukuran data
sudah dijelaskan di Bab 1. Metode statistik yang sesuai untuk penentuan ukuran sampel,
bergantung pada jenis data yang dihasilkan dari penelitian.

Di bagian ini akan dbahas tentang ukuran (jumlah( sampel yang harus diambil dari sebuah
populasi, namun tidak diketahui secara pasti berapa banyak anggota populasinya. Kondisi ini
dikenal juga dengan ‘populasi tidak terbatas’ atau ‘populasi tidak terdefinisi’. Untuk kondisi
ini digunakan salah satunya rumus Lemeshow. Rumus ini nantinya akan menghasilkan sebuah
tabel yang bisa dijadikan acuan untuk pengambilan jumlah sampel dari suatu populasi tak
terbatas atau tdak terdefinisi, dengan syarat sampel harus dipilih secara acak. Jika sampel tak
acak maka tabel ini tidak valid. Rumus Lemeshow ini akan diberikan secara rinci dalam
pembahasan Estimasi Parameter di Bab 7.

126
SOAL LATIHAN
Bagian I.
Jelaskan apa yang kamu ketahui tentang hal-hal berikut dan berikan contoh.

1. Populasi
2. Unit Observasi
3. Sampling
4. Jelaskan perbedaan random sampling dan non-random sampling.
5. Teknik sampling Stratified
6. Teknik sampling Quota
7. Teknik sampling Convenience
8. Teknik sampling Snowball
9. Situation sampling
10. Deviant case sampling
Bagian II.
1. Diberikan sekelompok data populasi {4, 5, 6, 3, 9, 10, 11, 2, 4, 7}. Tentukanlah jumlah
sampel berukuran 3 yang diperoleh jika dilakukan pengambilan sampel dengan
pengembalian dan ‘tanpa’ pengembalian.
2. Terdapat 1000 mahasiswa yang akan diteliti minatnya terhadap kewirausahaan. Jika faktor
‘gender’ diperhitungkan dan diperoleh ‘kluster’ berdasarkan gender dengan proporsi 40%
dan 60%, tentukan cara pengambilan sampel hingga diperoleh 100 mahasiswa.
3. Dari 100 orang mahasiswa yang sudah terpilih di soal 1, ingin dikerucutkan lagi menjadi
kelompok kecil yang terdiri dari 20 orang. Jika diambil sampel pertama dengan nomor urut
4, gunakan sampling Sistematis untuk memperoleh 19 sampel lainnya.
4. Dari 2000 peserta rekrutmen sebuah perusahaan nasional, tahap 1 akan diloloskan sejumlah
pelamar yang sudah memenuhi persyaratan administratif untuk lanjut ke tahap 2. Jika
galat/selisih estimasi yang diinginkan tidak lebih dari 8%, hitung berapa jumlah pelamar
yang akan lolos pada tahap 1.
5. Pada sebuah perusahaan, karyawannya bisa dikelompokkan berdasarkan tingkat
pendidikan, yaitu
Pendidikan terakhir Jumlah
Strata 2 (S2) 30
Strata 1 (S1) 45

127
SMU 600
SMK 800

Akan diadakan pelatihan manajemen yang pesertanya terdiri dari 5% untuk masing-masing
tingkat pendidikan. Tentukan teknik sampling yang dipakai dan jumlah karyawan yang akan
menjadi peserta pelatihan.

128

Anda mungkin juga menyukai