Latar Belakang (News)
Latar Belakang (Data)
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi kronis menular dan menjadi masalah
kesehatan masyarakat dunia termasuk Indonesia sebagai peringkat 2 terbanyak.
Latar Belakang
Sekitar 70% kasus berada dalam usia produktif
Tujuan Program TB di Perusahaan :
▪ Mencegah dan mengendalikan kasus TB di tempat kerja (promotif dan
preventif)
▪ Meningkatkan deteksi, diagnosis dan tatalaksana kasus TB pekerja
(kuratif)
▪ Pekerja sembuh dan tetap produktif pasca infeksi TB (rehabilitatif)
Manfaat Program TB di Perusahaan:
Karena perusahaan merupakan komunitas yang strategis
▪ Kasus lebih ditemukan dengan adanya rutin MCU
▪ Fasilitasi pengobatan oleh perusahaan, baik mandiri maupun berjejaring
▪ Tingkat kepatuhan minum obat lebih tinggi, terkait adanya PMO dan kebijakan
tertentu
▪ Diharapkan bisa menjadi agent of change di luar tempat kerja
Diharapkan berkontribusi dalam menurunkan angka TB di Indonesia
▪ Sosialisasi dan edukasi melalui berbagai media
Health Promotion ▪ Bentuk dan aktivasi TB campaigner
▪ Kampanye PHBS, etika batuk, dll
▪ Pengawasan lingkungan kerja (indoor air quality)
5 Level of Prevention TB:
Specific Protection ▪ Gizi khusus pekerja dengan TB
▪ Active case finding (screening)
▪ Fasilitasi pemeriksaan penunjang diagnosis pasti
Early Diagnosis and
▪ Pengobatan: mandiri, BPJS Kesehatan, berjejaring
Prompt Treatment
▪ Tracing rekan kerja
Anita - 2021 ▪ Persiapan rujukan
▪ Pengobatan tuntas dan teratur
Disability Limitation
▪ Kriteria sembuh
▪ Program return to work bagi pekerja
Rehabilitation
▪ Perbaikan lingkungan kerja
P2TB
Indikator Kesehatan Kerja Sektor Formal (Timkesja Kota Cilegon - 2009)
Manajemen Promotif Preventive Kuratif & Rehabilitatif
Memfasilitasi prog. Melakukan Program MCU Menjalankan jaminan
Pembentukan P2K3
ASI eksklusif (Pra,berkala,khusus) kesehatan karyawan
Memfasilitasi
Melakukan Identifikasi Monitoring lingkungan Menjalankan kerja sama
program kesehatan
Bahaya di tempat kerja kerja sistem rujukan
reproduksi
Meeting Berkala Melakukan konseling Program imunisasi kepada Penanganan penyakit
tentang K3 kesehatan kerja karyawan akibat kerja
Memiliki SOP yang Program pelatihan Menyediakan APD sesuai Menjalankan Sistem
berkaitan dengan Kesja kesehatan kerja bahaya di tempat kerja tanggap darurat
Membuat laporan
Surveilance kesehatan kerja
berkala ke dinas terkait
Melakukan program Menetapkan kawasan bebas
kemitraan (CSR) rokok
Melakukan program gizi
pekerja
Memfasilitasi program olah
raga
Memfasilitasi penang -
gulangan TBC & HIV/AIDS
Melakukan Safety talk
Program TB di Perusahaan
Digabungkan dalam
program Kesja khusus
▪ Medical cost
▪ MOU
Kebijakan dan Komitmen (Contoh)
Kebijakan dengan : Dituangkan dalam PKB :
▪ Kerahasiaan medis Pekerja bersedia mengikuti program – program
▪ Antistigma dan kesehatan kerja yang khusus dan difasilitasi oleh
diskriminasi perusahaan seperti Program ASI Ekslusif, Kesehatan
Reproduksi, P2HIV dan P2TB
Kebijakan dan Komitmen (Contoh)
Pekerja harus melepaskan kerahasiaan penyakitnya dengan program
ini, terutama jika Ingin memutus rantai penularan.
Pendanaan
▪ Terbentuknya kesepakatan bersama (MOU) dalam menanggulangi Tuberkulosis
agar tenaga kerja sehat dan produktif
▪ Melalui CSR dapat dilakukan penganggulangan TB di masyarakat, keluarga
pekerja pada khususnya
Pendanaan (Contoh MOU dengan Puskesmas)
Pelaksanaan - Promotif
Pelaksanaan - Preventif Individu
▪ Deteksi dini kasus melalui
▪ Konseling pekerja
▪ Pemeriksaan Kesehatan Berkala (MCU)
▪ Meliburkan pekerja dengan BTA(+) untuk jangka waktu
yang diperlukan, guna memutus rantai penularan. (Bukan
diskriminasi!!!)
▪ Memotivasi pekerja bertanggung jawab terhadap
keluarganya, sebagai kontribusi terhadap program
pemerintah
mutualisme, menurunkan risiko terhadap pekerja
Pelaksanaan - Preventif Komunitas
▪ Melakukan pemetaan risiko TB di tempat kerja, dengan
paremeter:
▪ Wilayah perusahaan: Prevalensi TB tinggi
▪ Sektor industri: padat karya, kesehatan
▪ Jumlah karyawan
▪ Tempat tinggal karyawan: asrama, rumah kost
▪ Melakukan scoring/klasifikasi:
▪ Risiko tinggi Wajib membuat Program TB di Tempat
Kerja
▪ Risiko rendah
Pelaksanaan – Kuratif - Rehabilitatif
Penatalaksanaan Pasien TB dengan strategi DOTS
▪ Pemeriksaan Fisik, Rontgen, BTA, TCM, pendapat ahli (SpP)
▪ Pengobatan dengan OAT (meyakinkan manajemen untuk
menghilangkan stigma ‘obat mahal’)
▪ Pengawasan minum obat: oleh tim UPKK (Unit Pelayanan
Kesehatan Kerja) perusahaan
▪ Evaluasi hasil pengobatan tahap pertama (2 minggu),
sebagai syarat return to work
Monitoring dan Evaluasi Program
▪ Perlu dilakukan evaluasi program dengan menggunakan
indikator sesuai dengan juknis dan regulasi yang berlaku
▪ Dibuat checklist indikator penilaian seperti P2HIV, GP2SP
▪ Belum ada pelaporan kasus TB pekerja ke puskesmas
atau dinas kesehatan dari perusahaan
diharapkan laporan hanya dilakukan jika ada kasus positif?
laporan menggunakan format yang sudah ada
(Disnaker, KKP pelabuhan)
Mari
Berperan
Peran dokter kesehatan kerja dalam Pencegahan dan
penanggulangan TB di Tempat Kerja
Memetakan masalah dan merencanakan program sebagai langkah awal
Penanggulangan TB di Tempat kerja
Mensosialisasikan TB kepada manajemen guna mendapat komitmen
manajemen, dan dituangkan dalam kebijakan
Mensosialisasikan TB untuk meningkatkan awareness pekerja (dituangkan
dalam PKB)
Anita - 2021
Berkoordinasi dengan pelayanan kesehatan pemerintah (PKM) untuk
pemeriksaan dahak secara mikroskopik
Bersama manajemen memfasilitasi pemberian OAT dengan PMO internal di
UPKK Perusahaan.
Melakukan pencatatan dan pelaporan sebagai monitoring dan evaluasi
Dr. HS – Industri rokok Dr. DA – Industri Garmen
IDKI cabang Jatim IDKI cabang Jateng
▪ Promotif & Preventif: ▪ Promotif & Preventif:
Sosialisasi,Poster, edukasi Sosialisasi,Poster, edukasi
keluarga dirumah keluarga dirumah
▪ Kuratif berjejaring dengan ▪ Kuratif berjejaring dengan
PKM, PMO ditempat kerja PKM, PMO ditempat kerja
▪ 2 bulan awal pengobatan ▪ 2 bulan awal pengobatan
pekerja diliburkan pekerja diliburkan
▪ Penyesuaian kerja dengan ▪ Penyesuaian kerja dengan
kondisi pekerja selama kondisi pekerja selama
proses terapi proses terapi
Dr. EM – Industri Makanan Dr. MP – Industri Chemical
IDKI cabang DKI IDKI cabang Banten
▪ Promotif & Preventif: ▪ Promotif & Preventif:
Sosialisasi, poster Sosialisasi, Poster, edukasi
▪ Kuratif mandiri dengan keluarga dirumah
medical budget ▪ Kuratif mandiri dengan
▪ Pernah merujuk ke PKM, budget khusus penyakit
tidak mendapat feedback kronis, pelaporan ke PKM dan
▪ Belum menjadi program Disnaker
khusus ▪ 2 minggu awal pengobatan
pekerja diliburkan
▪ Belum menjadi program
khusus
Dr. LS – Industri Pertambangan Dr. ET – Industri Chemical
IDKI cabang Kaltim IDKI cabang Banten
▪ Promotif & Preventif: ▪ Promotif & Preventif: Sosialisasi,
Sosialisasi, poster Poster, edukasi keluarga
▪ Screening lewat MCU dirumah
▪ Kuratif berjejaring dan ▪ Program Mutualisme dengan
mandiri dengan medical PKM dan Dinkes
budget ▪ Kuratif berjejaring dengan PKM,
▪ Menginformasikan PKM di PMO tim UPKK
daerah kadang terkendala ▪ Membuat kesepakatan dengan
stok OAT pekerja terkait kepatuhan
▪ 2 minggu awal pengobatan
pekerja diliburkan
Masalah & Saran
Masalah:
▪ Pekerja luar wilayah (kesulitan fasilitasi obat dari puskesmas)
▪ Pekerja mobile (risiko putus pengobatan)
▪ Pekerja kontrak (risiko putus pengobatan)
▪ Sistem rujukan belum optimal (kebijakan puskesmas masih berbeda – beda)
▪ Sebagian masih memilih pengobatan di luar puskesmas, dan sebagian menjadi DO
saat terkendala biaya
Saran:
▪ Dibuat pedoman Manajemen Program TB di tempat kerja (termasuk media
edukasi)
▪ Dibuatkan juknis pelayanan pasien TB untuk fasyankes yang berlaku nasional
▪ Dibuat aplikasi online untuk pemantauan status pengobatan, yang bisa di akses
oleh pekerja, faskes dan UPKK
▪ Faskes swasta diminta melaporkan kasus TB terhadap puskesmas wilayahnya dan
menginformasikan status pegobatan pasiennya.