Asuhan Keperawatan untuk Fraktur
Asuhan Keperawatan untuk Fraktur
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN
KEBUTUHAN AKTIVITAS AKIBAT PATOLOGIS SISTEM
MUSCULOSKELETAL: FRAKTUR” Makalah ini disusun sebagai salah satu
tugas dalam mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II.
Kami menyadari bahwa makalah ini tidak akan terwujud tanpa bantuan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ingin menyampaikan terima kasih
kepada Bapak Agus Hariono, SST., MPH yang telah memberikan bimbingan dan
arahan yang berharga selama proses penulisan makalah ini. Ucapan terima kasih
juga kami sampaikan kepada teman-teman dan keluarga yang telah memberikan
dukungan moral dan motivasi.
Penulis
i
DAFTAR ISI
PRAKARTA ........................................................................................................................ i
DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Lingkup Bahasan .................................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 3
A. Konsep Dasar Fraktur ............................................................................................. 3
1. Definisi ................................................................................................................ 3
2. Etiologi ................................................................................................................ 6
3. Patofisiologi ........................................................................................................ 6
4. Manifestasi Klinis ............................................................................................... 7
5. Pemeriksaan Penunjang ...................................................................................... 9
6. Penatalaksanaan ................................................................................................ 10
B. Pathway ................................................................................................................. 13
C. Konsep Asuhan Keperawatan ............................................................................... 14
1. Pengkajian ......................................................................................................... 14
1. Pengkajian Fokus Fraktur ............................................................................. 14
2. Pemeriksaan Fisik ......................................................................................... 14
3. Pemeriksaan Diagnostik ................................................................................ 19
2. Diagnosa Keperawatan pada fraktur .................................................................. 20
3. Masalah Keperawatan Pada Fraktur .................................................................. 20
D. Perencanaan Keperawatan .................................................................................... 23
BAB III PENUTUP .......................................................................................................... 26
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 26
B. Saran ..................................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 27
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1
B. Lingkup Bahasan
1. Konsep dasar fraktur
2. Konsep gangguan kebutuhan aktivitas akibat fraktur
3. Asuhan keperawatan pada gangguan mobilitas fisik akibat fraktur
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mendeskripsikan asuhan Keperawatan pada pasien dengan gangguan
kebutuhan Aktivitas akibat patologis sistem Musculoskeletal: Fraktur
2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan konsep dasar Fraktur
b. Menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan kebutuhan
aktivitas akibat patologis sistem musculoskeletal: Fraktur
c. Mengenali dampak fraktur terhadap aktivitas
d. Mengetahui manifestasi Klinis dan Komplikasi aktivitas Akibat fraktur
e. Memahami Penatalaksanaan aktivitas yang dapat dilakukan pada
Pasien dengan Fraktur
f. Mengetahui prognosis dan Rehabilitasi aktivitas yang dapat dilakukan
pada Pasien dengan Fraktur
g. Mengetahui tantangan dan Penelitian Terkini terhadap pasien
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang
berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
1) Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera
jaringan lunak sekitarnya.
2) Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit
dan jaringan subkutan.
3) Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan
lunak bagian dalam dan pembengkakan.
4) Tingkat 3 : Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak
yang nyata dan ancaman sindroma kompartement.
5) Derajat 1 :
Fraktur terbuka dengan luk kulit kurang dari 1 cm dan bersih,
kerusakan jaringan minimal, biasanya dikarenakan tulang
menembus kulit dari dalam. Konfigurasi fraktur simple, transvers
atau simple oblik.
6) Derajat 2 :
Fraktur terbuka dengan luka lebih dari 1 cm, tanpa ada kerusakan
jaringan lunak kontusio ataupun avulsi yang luas.
4
7) Derajat 3 :
Fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak yang luas,
kontaminasi berat biasanya disebabkan oleh trauma yang hebat,
dengan konfigurasi fraktur kominutif.Fraktur tipe 3 dibagi
menjadi tiga yaitu :
a) Tipe I : Fraktur segmental atau sangat kominutif penutupan
tulang dengan jaringan lunak cukup adekuat.
b) Tipe II : Trauma sangat berat atau kehilangan jaringan lunak
yang cukup luas, terkelupasnya daerah periosteum dan tulang
tampak terbuka, serta adanya kontaminasi yang cukup berat.
c) Tipe III : Fraktur terbuka yang disertai dengan kerusakan
pembuluh darah tanpa memperhatikan derajat kerusakan
jaringan lunak
5
2. Etiologi
Etiologi dari fraktur menurut (Sjamsuhidajat, 2012)yaitu :
3. Patofisiologi
Patofisiologi fraktur menurut (Black, Joyce, & Hawks, 2014)
Fraktur biasanya disebabkan karena cedera/trauma/ruda paksa dimana
penyebab utamanya adalah trauma langsung yang mengenai tulang
seperti kecelakaan mobil, olah raga, jatuh/latihan berat. Keparahan
dari fraktur bergantung pada gaya yang menyebabkan fraktur. Jika
ambang fraktur suatu tulang hanya sedikit terlewati, maka tulang
mungkin hanya retak saja bukan patah. Selain itu fraktur juga bisa
akibat stress fatique (kecelakaan akibat tekanan berulang) dan proses
penyakit patologis. Perubahan fragmen tulang yang menyebabkan
kerusakan pada jaringan dan pembuluh darah mengakibatkan
pendarahan yang biasanya terjadi disekitar tempat patah dan kedalam
jaringan lunak disekitar tulang tersebut, maka dapat terjadi penurunan
volume darah dan jika COP menurun maka terjadilah perubahan
perfusi jaringan.
6
Selain itu perubahan perfusi perifer dapat terjadi akibat dari
edema di sekitar tempat patahan sehingga pembuluh darah di sekitar
mengalami penekanan dan berdampak pada penurunan perfusi
jaringan ke perifer. Akibat terjadinya hematoma maka pembuluh darah
vena akan mengalami pelebaran sehingga terjadi penumpukan cairan
dan kehilangan leukosit yang berakibat terjadinya perpindahan,
menimbulkan inflamasi atau peradangan yang menyebabkan
pembengkakan di daerah fraktur yang menyebabkan terhambatnya dan
berkurangnya aliran darah ke daerah distl yang berisiko mengalami
disfungsi neuromuskuler perifer yanng ditandai dengan warna jaringan
pucat, nadi lemah, sianosis, kesemutan di daerah distal.
4. Manifestasi Klinis
7
Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang
sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah
tempat fraktur. Saat ekstrimitas diperiksa dengan tangan, teraba
adanya derik tulang yang dinamakan krepitus yang teraba akibat
gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya (uji krepitus dapat
merusakkan jaringan lunak yang lainnnya lebih berat).
Pembengkakan akan mengalami perubahan warna lokal pada kulit
terjadi sebagai trauma dan pendarahan akibat fraktur.
Komplikasi fraktur menurut (Muttaqin, 2018) antara lain:
a. Kerusakan Arteri. Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai
dengan tidak ada nadi, CRT menurun, synosis bagian distal,
hematoma yang lebar dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan
oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang
sakit, tindakan reduksi dan pembedahan.
b. Sindroma Kompartement. Merupakan komplikasi serius yang
terjadi karena perfusi jaringa dalam otot kurang dari yang
dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Hal ini bisa disebabkan
karena edema atau pendarahan yang menekan otot, penurunan
ukuran kompartement oto karena fasia yang membungkus otot
terlalu ketat, saraf, pembuluh darah atau tekanan dari luar seperti
gips.
c. Fad Emboli Syndrome. Merupakan komplikasi serius yang terjadi
pada kasusfraktur tulang panjang. Fes terjadi karena sel-sel lemak
yang dihasilkan bonemarrow kuning masuk ke aliran darah dan
menyebabkan kadar oksigen dalamdarah menjadi rendah. Hal ini
ditandai dengan ganggguan pernapasan, takikardia, hipertensi,
takipnea dan demam.
d. Infeksi.
Sistem pertahanan tubuh akan rusak bila ada trauma pada jaringan.
Pada trauma ortopedi, infeksi-infeksi dimulai pada kulit
(superficial) dan masuk ke dalam. Hal ini biasanya terjadi pada
8
kasus fraktur terbuka, tetapi dapat juga karena penggunaan bahan
lain dalam pembedahan dan pasca operasi pemasangan pin.
e. Avaskuler nekrosi (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang
rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan
diawali dengan adanyaVolkman’s Ischemia (Smeltzer dan Bare,
2018 &(Muttaqin, 2018)
f. Syok hipovolemik atau traumatik (banyak kehilangan darah dan
meningkatnya permeabilitas kapilar eksternal maupun yang tidak
kehillangan yang bisa menyebabkan penurunan oksigenasi) dan
kehilangan cairan dan dapat terjadi pada fraktur ekstrimitas,
thoraks, pelvis dan vertebra.
5. Pemeriksaan Penunjang
9
b. Fosfatase alkali meningkat pada saat kerusakan tulang
c. Enzim otot seperti kreatinin kinase, laktat dehydrogenase
(LDH-5), aspratat aminotransferase (AST) dan aldolase
meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
6. Pemeriksaan lain-lain :
a. Biopsi tulang dan otot : pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan di atas, tetapi lebih diindikasikan bila terjadi
infeksi.
b. Elekromiografi : terdapat kerusakan konduksi saraf akibat
fraktur.
c. Artroskopi : didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek
karena trauma yang berlebihan.
d. MRI : menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.
e. Indigium Imaging : pada pemeriksaan ini didapatkan adanya
infeksi pada tulang.
6. Penatalaksanaan
10
Reduksi fraktur dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah
jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena
edema dan pendarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi frktur
menjadi semakin sulit bila cedera sudah mulai mengalami
penyembuhan.
11
Lakukan ammnesis dan pemeriksaan fisik secara cepat, singkat dan
lengkap. Kemudian lakukan foto radiologis. Pemasangan bidai
dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya
kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak. Tindakan pada
fraktur terbuka harus dilakukan secepat mungkin. Penundaan waktu
dapat menngakibatkan komplikasi. Waktu yang optimal untuk
bertindak sebelum 6-7 jam (golden period). Berikan 22 toksoid,
Antitetanus Serum (ATS) atau tetanus human globulin. Berikan
antibioticuntuk kuman gram positif dengan dosis tinggi. Lakukan
pemeriksaan kultur dan resistensi kuman dari dasar luka fraktur
terbuka (Smeltzer, 2018).
12
B. Pathway
Gangguan Kebutuhan Aktivitas akibat patologis sistem muskuloskletal karena
fraktur menyebabkan gangguan mobilitas fisik dapat dilihat pada gambar 1
dibawah ini:
Fraktur dapat terjadi akibat trauma atau tekanan berlebih dan patahnya tulang
mengakibatkan gangguan struktur tulang, setelah fraktur fragmen tulang dapat
bergeser ini dapat menyebabkan kelemahan atau kehilangan fungsi pada area
yang terkena dan berdampak sehingga terjadi keterbatasan gerak, imobilisasi
dilakukan untuk mencegah pergeseran lebih lanjut dan mempercepat
penyembuhan, namun imobilisasi yang berekpanjangan dapat mengakibatkan
penurunan kekuatan otot dan kekakuan sehingga mengakibatkan terjadinya
gangguan mobilitas fisik.
13
C. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
1. Pengkajian Fokus Fraktur
1. Riwayat Cedera
2. Pemeriksaan Fisik
Bagian dari pengkajian pada pasien cidera muskuloskeletal
adalah anamnesis danpemeriksaan fisik. tujuan dari survey sekunder
adalah mencari cidera - cidera lain yangmungkin terjadi pada pasien
sehingga tidak satupun terlewatkan dan tidak terobati.Apabilapasien
sadar dan dapat berbicara maka kita harus mengambil riwayat SAMPLE
dari pasien, yaitu Subyektif, Allergies, Medication, PastMedical
History, Last Ate dan Event (kejadian atau mekanismekecelakaan)
Parahita, Putu Sukma. Dkk. (2011). Mekanisme kecelakaan penting
untuk ditanyakan untuk mengetahui dan memperkirakan cedera apa
yang dimiliki oleh pasien, terutama jika kitamasih curiga ada cidera
yang belum diketahui saat primary survey, Selain riwayat SAMPLE,
penting juga untuk mencari informasi mengenai penanganan sebelum
14
pasien sampai di rumah sakit. Pada pemeriksaan fisik pasien, beberapa
hal yang penting untuk dievaluasi adalah (1) kulit yang melindungi
pasien dari kehilangan cairan dan infeksi, (2) fungsi neuromuskular (3)
status sirkulasi, (4) integritas ligamentum dan tulang. Cara
pemeriksaannya dapatdilakukan dengan Look, Feel, Pada Look, kita
menilai warna dan perfusi, luka, deformitas, pembengkakan, dan
memar.
15
sama pasien. Setiap syaraf perifer yang besar fungsi motoris dan
sensorisnya perlu diperiksa secara sistematik sebagai berikut :
11) Jantung
(a) Inspeksi : kaji ada tidaknya iktus jantung.
(b) Palpasi : kaji ada tidaknya nadi meningkat, iktus teraba atau tidak.
(c) Perkusi : kaji suara perkusi pada jantung
(d) Auskultasi: kaji adanya suara tambahan.
12) Abdomen
(a) Inspeksi : kaji kesimetrisan, ada atau tidak hernia
(b) Auskultasi : kaji suara Peristaltik usus pasien
16
(c) Perkusi : kaji adanya suara
(d) Palpasi : ada atau tidak nyeri tekan
13) Ekstremitas
(a) Atas : kaji kekuatan otot, rom kanandan kiri, capillary refile,
perubahan bentuk tulang
(b) Bawah : kaji kekuatan otot, rom kanan dan kiri, capillaryrefile, dan
perubahan bentuk tulang
17
diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan,dan
kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Paul Krisanty.
Dkk. 2016).
h. Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah
“pencitraan” menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan
gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka
diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan
tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk
memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu
disadari bahwa permintaan x- ray harus atas dasar indikasi kegunaan
pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan.
Hal yang harus dibaca pada x-ray:
Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya
seperti:
1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang
lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan
kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja
tapi pada struktur lain juga mengalaminya.
18
2) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh
darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat
trauma.
3) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena
ruda paksa.Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan
secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang
yang rusak.
3. Pemeriksaan Diagnostik
e) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
f) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang
diakibatkan fraktur.
g) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena
trauma yang berlebihan.
h) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi
pada tulang.MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur
19
2. Diagnosa Keperawatan pada fraktur
1) Nyeri Akut b.d Agen cedera fisik di tandai dengan pasien tampak
meringgis, gelisah.
2) Resiko Infeksi b.d kerusakan integritas kulit.
3) Gangguan Mobilitas Fisik b.d kerusakan integritas struktur tulang di
tandai dengan pasien nyeri saat bergerak.
4) Defisit perawatan diri: mandi berhubungan dengan gangguan
muskuloskeletal
5) Gangguan integritas kulit/jaringan b.d kelembabpan di tantai dengan
pasien tanpak nyeri, perdarahan, kemerahan
6) Risiko Disfungsi Neorovaskuler perifer b.d fraktur, penekanan klinis
(balutan)
7) Resiko pedarahan b.d trauma dan tindakan pembedahan.
20
Gangguan Mobilitas Fisik D.0054
Kategori: Fisiologis
Subkategori: Aktivitas/Istirahat
Definisi
Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara
mandiri.
Penyebab
1. Kerusakan integritas struktur tulang
2. Perubahan metabolisme
3. Ketidakbugaran fisik
4. Penurunan kendali otot
5. Penurunan massa otot
6. Penurunan kekuatan otot
7. Keterlambatan perkembangan
8. Kekakuan sendi
9. Kontraktur
10. Malnutrisi
11. Gangguan muskuloskeletal
12. Gangguan neuromuskular
13. Indeks masa tubuh diatas persentil ke-75 sesuai usia
14. Efek agen farmakologis
15. Program pembatasan gerak
16. Nyeri
17. Kurang terpapar informasi tentang aktivitas fisik
18. Kecemasan
19. Gangguan kognitif
20. Keengganan melakukan pergerakan
21
21. Gangguan sensoripersepsi
objektif
1. Kekuatan otot menurun
2. Rentang gerak (ROM) menurun
Objektif
1. Sendi kaku
2. Gerakan tidak terkoordinasi
3. Gerakan terbatas
4. Fisik lemah
22
D. Perencanaan Keperawatan
23
Tujuan Dan Kriteria
NO Diagnosa Hasil Intervensi Rasional
4. Untuk Monitor
kondisi umum
4. Monitor
pasien selama
kondisi umum
melakukan
selama
mobilisasi untuk
melakukan
mendeteksi tanda-
mobilisasi.
tanda kelelahan
atau
ketidaknyamanan.
Terapeutik
Terapeutik
1. Fasilitasi 1. Untuk
memfasilitasi
aktivitas
aktivitas mobilitas
mobilitas fisik
fisik dengan alat
dengan alat
bantu jika
bantu
diperlukan.
2. Fasilitasi
2. Untuk membantu
melakukan pasien dalam
pergerakan melakukan
jika perlu pergerakan jika
pasien mengalami
kesulitan.
3. Untuk membantu
3. Libatkan
pasien
keluarga kalau meningkatkan
perlu untuk
24
Tujuan Dan Kriteria
NO Diagnosa Hasil Intervensi Rasional
Edukasi
Edukasi
1. Jelaskan tujuan 1. Agar pasien dan
Dan prosedur keluarga agar
mobilisasi memahami
2. Anjurkan manfaatnya.
melakukan 2. Untuk mencegah
mobilisai dini komplikasi akibat
imobilisasi.
3. Ajarkan
3. Untuk
mobilisasi
meningkatkan
sederhana yang
kemandirian
harus dilakukan
dalam bergerak.
(duduk)
25
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
26
DAFTAR PUSTAKA
PPNI, Tim Pokja SDKI DPP. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Defenisi Dan Indikator Diagnostik. 1st ed. Jakarta Selatan: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
PPNI, Tim Pokja SIKI DPP. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia,
Defenisi Dan Tindakan Keperawatan. 1st ed. Jakarta Selatan: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
PPNI, Tim Pokja SLKI DPP. 2019, Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
Defenisi Dan Kriteria Hasil Keperawatan. Ist ed. Jakarta Selatan: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
R. Sjamsuhidajat. Jong, W. 2012. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC
Smeltzer, S.C. (2018). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
27
28