0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan31 halaman

Asuhan Keperawatan untuk Fraktur

Makalah ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan kebutuhan aktivitas akibat fraktur, yang merupakan masalah umum dalam sistem muskuloskeletal. Penelitian ini mencakup konsep dasar fraktur, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, serta perencanaan dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk meningkatkan mobilitas dan mencegah komplikasi. Tujuan penulisan adalah untuk memberikan wawasan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien dengan fraktur.

Diunggah oleh

Cristiani Tiwi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan31 halaman

Asuhan Keperawatan untuk Fraktur

Makalah ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan kebutuhan aktivitas akibat fraktur, yang merupakan masalah umum dalam sistem muskuloskeletal. Penelitian ini mencakup konsep dasar fraktur, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, serta perencanaan dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk meningkatkan mobilitas dan mencegah komplikasi. Tujuan penulisan adalah untuk memberikan wawasan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien dengan fraktur.

Diunggah oleh

Cristiani Tiwi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN


KEBUTUHAN AKTIVITAS AKIBAT PATOLOGIS SISTEM
MUSCULOSKELETAL: FRAKTUR

Dosen: Agus Hariono, SST., MPH


Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah II

Disusun Oleh Kelompok 2 :


1. Adindah Ramadani (231151001)
2. Cristiani Tiwi (231151005)
3. Jessica Alba Elisabeth (231151016)
4. Lutfi Alisya (231151018)
5. Restu Erlangga (231151027)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PONTIANAK


JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIII KEPERAWATAN SINTANG
2025
PRAKARTA

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN
KEBUTUHAN AKTIVITAS AKIBAT PATOLOGIS SISTEM
MUSCULOSKELETAL: FRAKTUR” Makalah ini disusun sebagai salah satu
tugas dalam mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II.

Kami menyadari bahwa makalah ini tidak akan terwujud tanpa bantuan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ingin menyampaikan terima kasih
kepada Bapak Agus Hariono, SST., MPH yang telah memberikan bimbingan dan
arahan yang berharga selama proses penulisan makalah ini. Ucapan terima kasih
juga kami sampaikan kepada teman-teman dan keluarga yang telah memberikan
dukungan moral dan motivasi.

Kami berharap makalah ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat


bagi pembaca, khususnya dalam meningkatkan kesadaran tentang pentingnya
pencegahan dan penanganan gangguan nutrisi. Kritik dan saran yang membangun
sangat kami harapkan untuk perbaikan di masa mendatang. Akhir kata, semoga
makalah ini dapat memberikan informasi yang berguna dan menambah wawasan.

Penulis

Sintang, 09 Maret 2025

i
DAFTAR ISI

PRAKARTA ........................................................................................................................ i
DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Lingkup Bahasan .................................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 3
A. Konsep Dasar Fraktur ............................................................................................. 3
1. Definisi ................................................................................................................ 3
2. Etiologi ................................................................................................................ 6
3. Patofisiologi ........................................................................................................ 6
4. Manifestasi Klinis ............................................................................................... 7
5. Pemeriksaan Penunjang ...................................................................................... 9
6. Penatalaksanaan ................................................................................................ 10
B. Pathway ................................................................................................................. 13
C. Konsep Asuhan Keperawatan ............................................................................... 14
1. Pengkajian ......................................................................................................... 14
1. Pengkajian Fokus Fraktur ............................................................................. 14
2. Pemeriksaan Fisik ......................................................................................... 14
3. Pemeriksaan Diagnostik ................................................................................ 19
2. Diagnosa Keperawatan pada fraktur .................................................................. 20
3. Masalah Keperawatan Pada Fraktur .................................................................. 20
D. Perencanaan Keperawatan .................................................................................... 23
BAB III PENUTUP .......................................................................................................... 26
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 26
B. Saran ..................................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 27

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fraktur merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang sering terjadi,


baik akibat trauma langsung maupun tidak langsung. Kondisi ini menyebabkan
gangguan pada kebutuhan aktivitas pasien, yang dapat berdampak pada
kualitas hidup serta proses pemulihan secara keseluruhan. Fraktur dapat terjadi
pada berbagai kelompok usia, namun lebih sering ditemukan pada individu
lanjut usia akibat osteoporosis atau pada individu yang mengalami kecelakaan
dan cedera akibat aktivitas fisik yang tinggi.

Gangguan kebutuhan aktivitas akibat fraktur memerlukan asuhan


keperawatan yang tepat untuk membantu pasien dalam meningkatkan
mobilitas, mengurangi nyeri, serta mencegah komplikasi seperti dekubitus dan
atrofi otot. Asuhan keperawatan yang diberikan meliputi pengkajian tingkat
nyeri, pemantauan tanda-tanda vital, perawatan luka, hingga edukasi pasien
dan keluarga mengenai cara perawatan mandiri di rumah.

Dalam praktik keperawatan, pemahaman yang mendalam mengenai


konsep fraktur, proses penyembuhan, serta intervensi keperawatan yang tepat
sangat diperlukan agar pasien dapat mencapai tingkat kemandirian yang
optimal dalam beraktivitas. Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk
membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan kebutuhan
aktivitas akibat fraktur, sehingga dapat memberikan wawasan bagi tenaga
kesehatan dalam memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien.

1
B. Lingkup Bahasan
1. Konsep dasar fraktur
2. Konsep gangguan kebutuhan aktivitas akibat fraktur
3. Asuhan keperawatan pada gangguan mobilitas fisik akibat fraktur

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mendeskripsikan asuhan Keperawatan pada pasien dengan gangguan
kebutuhan Aktivitas akibat patologis sistem Musculoskeletal: Fraktur
2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan konsep dasar Fraktur
b. Menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan kebutuhan
aktivitas akibat patologis sistem musculoskeletal: Fraktur
c. Mengenali dampak fraktur terhadap aktivitas
d. Mengetahui manifestasi Klinis dan Komplikasi aktivitas Akibat fraktur
e. Memahami Penatalaksanaan aktivitas yang dapat dilakukan pada
Pasien dengan Fraktur
f. Mengetahui prognosis dan Rehabilitasi aktivitas yang dapat dilakukan
pada Pasien dengan Fraktur
g. Mengetahui tantangan dan Penelitian Terkini terhadap pasien

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Fraktur


1. Definisi

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditetukan sesuai


jenis dan luasnya, fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih
besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan pukulan
langsung, gerakan puntir mendadak, gaya remuk dan bahkan kontraksi
otot eksterm (Brunner &Suddarth, 2002 dalam Wijaya & Putri, 2013).

Fraktur adalah terputusnya tulang dan ditentukan sesuai dengan


jenis dan luasnya (Brunner &Suddarth, 2002dalam Wijaya & Putri,
2013). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan atau tulang
rawan yang disebabkan oleh rudapaksa (trauma atau tenaga fisik).

Fraktur adalah patah atau retak pada tulang yang utuh.Biasanya


fraktur disebabkan oleh trauma di mana terdapat tekanan yang
berlebihan pada tulang,baik berupa langsung dan trauma tidak langsung
(Sjamsuhidajat, 2012).Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya
kontinuitas tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan
oleh rudapaksa (Sjamsuhidajat, 2012).
Menurut (Sjamsuhidajat, 2012) fraktur dibagi menjadi 2
berdasarkan ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia
luar yaitu:
a. Fraktur tertutup (closed)
Dikatakan tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar,disebut dengan fraktur bersih ( kulit
masih utuh )

3
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang
berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
1) Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera
jaringan lunak sekitarnya.
2) Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit
dan jaringan subkutan.
3) Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan
lunak bagian dalam dan pembengkakan.
4) Tingkat 3 : Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak
yang nyata dan ancaman sindroma kompartement.

b. Fraktur terbuka (open/compound fraktur). Dikatakan terbuka bila tulang


yang patah menembus otot dan kulit yang memungkinkan / potensial
untuk terjadi infeksi dimana kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka
sampai ke tulang yang patah.
Derjat fraktur terbuka:

5) Derajat 1 :
Fraktur terbuka dengan luk kulit kurang dari 1 cm dan bersih,
kerusakan jaringan minimal, biasanya dikarenakan tulang
menembus kulit dari dalam. Konfigurasi fraktur simple, transvers
atau simple oblik.

6) Derajat 2 :
Fraktur terbuka dengan luka lebih dari 1 cm, tanpa ada kerusakan
jaringan lunak kontusio ataupun avulsi yang luas.

4
7) Derajat 3 :
Fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak yang luas,
kontaminasi berat biasanya disebabkan oleh trauma yang hebat,
dengan konfigurasi fraktur kominutif.Fraktur tipe 3 dibagi
menjadi tiga yaitu :
a) Tipe I : Fraktur segmental atau sangat kominutif penutupan
tulang dengan jaringan lunak cukup adekuat.
b) Tipe II : Trauma sangat berat atau kehilangan jaringan lunak
yang cukup luas, terkelupasnya daerah periosteum dan tulang
tampak terbuka, serta adanya kontaminasi yang cukup berat.
c) Tipe III : Fraktur terbuka yang disertai dengan kerusakan
pembuluh darah tanpa memperhatikan derajat kerusakan
jaringan lunak

Gambar 1: Jenis-jenis fraktur

5
2. Etiologi
Etiologi dari fraktur menurut (Sjamsuhidajat, 2012)yaitu :

a. Cidera atau benturan (jatuh pada kecelakaan)


b. Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah
menjadi lemah oleh karena tumor, kanker dan osteoporosis
c. Fraktur karena letih
d. Fraktur beban atau fraktur kelelahan terjadi pada orang-orang yang
baru saja menambah tingkat aktivitas mereka, seperti baru diterima
dalam angkatan bersenjata atau orang-orang yang baru mulai
latihan lari.

3. Patofisiologi
Patofisiologi fraktur menurut (Black, Joyce, & Hawks, 2014)
Fraktur biasanya disebabkan karena cedera/trauma/ruda paksa dimana
penyebab utamanya adalah trauma langsung yang mengenai tulang
seperti kecelakaan mobil, olah raga, jatuh/latihan berat. Keparahan
dari fraktur bergantung pada gaya yang menyebabkan fraktur. Jika
ambang fraktur suatu tulang hanya sedikit terlewati, maka tulang
mungkin hanya retak saja bukan patah. Selain itu fraktur juga bisa
akibat stress fatique (kecelakaan akibat tekanan berulang) dan proses
penyakit patologis. Perubahan fragmen tulang yang menyebabkan
kerusakan pada jaringan dan pembuluh darah mengakibatkan
pendarahan yang biasanya terjadi disekitar tempat patah dan kedalam
jaringan lunak disekitar tulang tersebut, maka dapat terjadi penurunan
volume darah dan jika COP menurun maka terjadilah perubahan
perfusi jaringan.

6
Selain itu perubahan perfusi perifer dapat terjadi akibat dari
edema di sekitar tempat patahan sehingga pembuluh darah di sekitar
mengalami penekanan dan berdampak pada penurunan perfusi
jaringan ke perifer. Akibat terjadinya hematoma maka pembuluh darah
vena akan mengalami pelebaran sehingga terjadi penumpukan cairan
dan kehilangan leukosit yang berakibat terjadinya perpindahan,
menimbulkan inflamasi atau peradangan yang menyebabkan
pembengkakan di daerah fraktur yang menyebabkan terhambatnya dan
berkurangnya aliran darah ke daerah distl yang berisiko mengalami
disfungsi neuromuskuler perifer yanng ditandai dengan warna jaringan
pucat, nadi lemah, sianosis, kesemutan di daerah distal.

4. Manifestasi Klinis

Manisfestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi,


deformitas, pemendekan ekstrimitas, krepitus, pembengkakan lokal
dan perubahan warna (Brunner &Suddarth, 2002dalam Wijaya &
Putri, 2013). Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai
fragmen tulang di imobilisasi, spasme otot yang menyertai fraktur
merupkan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan
gerakan antar fragmen tulang.

Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan


cenderung bergerak tidak alamiah bukan seperti normalnya,
pergeseran fraktur menyebabkan deformitas, ekstrimitas yang bisa
diketahui dengan membandingkan dengan ekstrimitas yang normal.
Ekstrimitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal
otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.

7
Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang
sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah
tempat fraktur. Saat ekstrimitas diperiksa dengan tangan, teraba
adanya derik tulang yang dinamakan krepitus yang teraba akibat
gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya (uji krepitus dapat
merusakkan jaringan lunak yang lainnnya lebih berat).
Pembengkakan akan mengalami perubahan warna lokal pada kulit
terjadi sebagai trauma dan pendarahan akibat fraktur.
Komplikasi fraktur menurut (Muttaqin, 2018) antara lain:
a. Kerusakan Arteri. Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai
dengan tidak ada nadi, CRT menurun, synosis bagian distal,
hematoma yang lebar dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan
oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang
sakit, tindakan reduksi dan pembedahan.
b. Sindroma Kompartement. Merupakan komplikasi serius yang
terjadi karena perfusi jaringa dalam otot kurang dari yang
dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Hal ini bisa disebabkan
karena edema atau pendarahan yang menekan otot, penurunan
ukuran kompartement oto karena fasia yang membungkus otot
terlalu ketat, saraf, pembuluh darah atau tekanan dari luar seperti
gips.
c. Fad Emboli Syndrome. Merupakan komplikasi serius yang terjadi
pada kasusfraktur tulang panjang. Fes terjadi karena sel-sel lemak
yang dihasilkan bonemarrow kuning masuk ke aliran darah dan
menyebabkan kadar oksigen dalamdarah menjadi rendah. Hal ini
ditandai dengan ganggguan pernapasan, takikardia, hipertensi,
takipnea dan demam.
d. Infeksi.
Sistem pertahanan tubuh akan rusak bila ada trauma pada jaringan.
Pada trauma ortopedi, infeksi-infeksi dimulai pada kulit
(superficial) dan masuk ke dalam. Hal ini biasanya terjadi pada

8
kasus fraktur terbuka, tetapi dapat juga karena penggunaan bahan
lain dalam pembedahan dan pasca operasi pemasangan pin.
e. Avaskuler nekrosi (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang
rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan
diawali dengan adanyaVolkman’s Ischemia (Smeltzer dan Bare,
2018 &(Muttaqin, 2018)
f. Syok hipovolemik atau traumatik (banyak kehilangan darah dan
meningkatnya permeabilitas kapilar eksternal maupun yang tidak
kehillangan yang bisa menyebabkan penurunan oksigenasi) dan
kehilangan cairan dan dapat terjadi pada fraktur ekstrimitas,
thoraks, pelvis dan vertebra.

5. Pemeriksaan Penunjang

Menurut (Muttaqin, 2018), pemeriksaan pemeriksaan penunjang


pada fraktur yaitu:
1. Anamnesa/ pemeriksaan umum
2. Pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan yang penting adalah
pemeriksaan menggunakan sinar Rontgen (sinar-x) untuk melihat
gambaran tiga dimensi dari keadaan dan kedudukan tulang yang
sulit.
3. CT scan : pemeriksaan bidang tertentu tulang yang terkena dan
dapat memperlihatkan jaringan lunak atau cedera ligament atau
tendon.
4. X - Ray : menentukan lokasi, luas, batas dan tingkat fraktur.
5. Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang lazim
digunakan untuk mengetahui lebih jauh kelainan yang terjadi
meliputi :
a. Kalsium serum dan fosfor serum meningkat pada tahap
penyembuhan tulang.

9
b. Fosfatase alkali meningkat pada saat kerusakan tulang
c. Enzim otot seperti kreatinin kinase, laktat dehydrogenase
(LDH-5), aspratat aminotransferase (AST) dan aldolase
meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
6. Pemeriksaan lain-lain :
a. Biopsi tulang dan otot : pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan di atas, tetapi lebih diindikasikan bila terjadi
infeksi.
b. Elekromiografi : terdapat kerusakan konduksi saraf akibat
fraktur.
c. Artroskopi : didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek
karena trauma yang berlebihan.
d. MRI : menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.
e. Indigium Imaging : pada pemeriksaan ini didapatkan adanya
infeksi pada tulang.

6. Penatalaksanaan

Menurut (Muttaqin, 2018), konsep dasar yang harus


dipertimbangkan pada waktu penanganan fraktur yaitu: rekognisi,
reduksi, retensi dan rehabilitasi.
a. Rekognisi (pengenalan). Riwayat kecelakaan derajat keparahan
harus jelas untuk menentukan diagnosa keperawatan dan tindakan
selanjutnya. Frktur tungkai akan terasa nyeri dan bengkak. Kelainan
bentuk nyata dapat menentukan diskontinuitas integritas rangka.
b. Reduksi (manipulasi). Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk
memanipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin
kembali lagi seperti letak asalnya. Upaya untuk memanipulasi
fragmen tulang sehingga kembali seperti semula. Reduksi fraktur
dapat dilakukan dengan reduksi tertutup, traksi atau reduksi terbuka.

10
Reduksi fraktur dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah
jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena
edema dan pendarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi frktur
menjadi semakin sulit bila cedera sudah mulai mengalami
penyembuhan.

c. Retensi (immobilisasi). Upaya yang dilakukan untuk menahan


fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optiomal.
Setelah fraktur reduksi,fragmen tulang harus diimobilisasi atau
dipertahankan dalam posisi kesejajarantulang sampai penyatuan.
Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna.
Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi
kontinu, pin dan teknik gips atau fiksator eksterna. Implan logam
dapat digunakan untuk fiksasi interna yang berperan sebagai bidai
untuk mengimobilisasi fraktur.

Fiksasi eksterna adalah alat yang diletakkan di luar kulit untuk


menstabilkan fragmen tulang dengan memasukkan dua atau tiga pin
metal perkutaneus menembus tulang pada bagian proksimal dan
distal dari tempat fraktur dan pin tersebut dihubungkan satu sama
lain dengan mengggunakan eksternal bars. Teknik ini terutama atau
kebanyakan digunakan untuk fraktur pada tulang tibia, terapi juga
dapat dilakukan pada tulang femur, humerus dan pelvis (Muttaqin,
2018).Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting
untuk melakukan pemeriksaan terhadap jalan nafas (airway), proses
pernapasan (breathing) dan sirkulasi (circulation), untuk mengetahui
apakah terjadi syok atau tidak. Bila dinyatakan tidak ada masalah,
lakukan pemeriksaan fisik secara terperinci. Waktu terjadi
kecelakaan penting dinyatakan untuk mengetahui berapa lama
sampai di rumah sakit untuk mengetahui berapa lama perjalanan ke
rumah sakit, jika lebh dari 6 jam, komplikasi infeksi semakin besar.

11
Lakukan ammnesis dan pemeriksaan fisik secara cepat, singkat dan
lengkap. Kemudian lakukan foto radiologis. Pemasangan bidai
dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya
kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak. Tindakan pada
fraktur terbuka harus dilakukan secepat mungkin. Penundaan waktu
dapat menngakibatkan komplikasi. Waktu yang optimal untuk
bertindak sebelum 6-7 jam (golden period). Berikan 22 toksoid,
Antitetanus Serum (ATS) atau tetanus human globulin. Berikan
antibioticuntuk kuman gram positif dengan dosis tinggi. Lakukan
pemeriksaan kultur dan resistensi kuman dari dasar luka fraktur
terbuka (Smeltzer, 2018).

12
B. Pathway
Gangguan Kebutuhan Aktivitas akibat patologis sistem muskuloskletal karena
fraktur menyebabkan gangguan mobilitas fisik dapat dilihat pada gambar 1
dibawah ini:

Sumber : WOC (Reeves, C. J.,2001dan Elizabeth, 2000)

Fraktur dapat terjadi akibat trauma atau tekanan berlebih dan patahnya tulang
mengakibatkan gangguan struktur tulang, setelah fraktur fragmen tulang dapat
bergeser ini dapat menyebabkan kelemahan atau kehilangan fungsi pada area
yang terkena dan berdampak sehingga terjadi keterbatasan gerak, imobilisasi
dilakukan untuk mencegah pergeseran lebih lanjut dan mempercepat
penyembuhan, namun imobilisasi yang berekpanjangan dapat mengakibatkan
penurunan kekuatan otot dan kekakuan sehingga mengakibatkan terjadinya
gangguan mobilitas fisik.

13
C. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
1. Pengkajian Fokus Fraktur

1. Riwayat Cedera

 Bagaimana kecelakaan atau cedera terjadi? Apakah pasien terjatuh,


mengalami kecelakaan, atau terkena benturan keras?
 Kapan dan di mana kejadian terjadi?
 Apakah pasien mengalami kehilangan kesadaran saat cedera terjadi?

2. Nyeri Akibat Fraktur

 Berapa tingkat nyeri yang dirasakan pasien? (gunakan skala nyeri


0-10)
 Seperti apa karakteristik nyeri? Apakah terasa tajam, menusuk,
berdenyut, atau tumpul?
 Apakah nyeri bertambah saat bergerak atau disentuh?

2. Pemeriksaan Fisik
Bagian dari pengkajian pada pasien cidera muskuloskeletal
adalah anamnesis danpemeriksaan fisik. tujuan dari survey sekunder
adalah mencari cidera - cidera lain yangmungkin terjadi pada pasien
sehingga tidak satupun terlewatkan dan tidak terobati.Apabilapasien
sadar dan dapat berbicara maka kita harus mengambil riwayat SAMPLE
dari pasien, yaitu Subyektif, Allergies, Medication, PastMedical
History, Last Ate dan Event (kejadian atau mekanismekecelakaan)
Parahita, Putu Sukma. Dkk. (2011). Mekanisme kecelakaan penting
untuk ditanyakan untuk mengetahui dan memperkirakan cedera apa
yang dimiliki oleh pasien, terutama jika kitamasih curiga ada cidera
yang belum diketahui saat primary survey, Selain riwayat SAMPLE,
penting juga untuk mencari informasi mengenai penanganan sebelum

14
pasien sampai di rumah sakit. Pada pemeriksaan fisik pasien, beberapa
hal yang penting untuk dievaluasi adalah (1) kulit yang melindungi
pasien dari kehilangan cairan dan infeksi, (2) fungsi neuromuskular (3)
status sirkulasi, (4) integritas ligamentum dan tulang. Cara
pemeriksaannya dapatdilakukan dengan Look, Feel, Pada Look, kita
menilai warna dan perfusi, luka, deformitas, pembengkakan, dan
memar.

Penilaian inspeksi dalam tubuh perlu dilakukan untuk


menemukan pendarahan eksternal aktif, begitu pula dengan bagian
punggung. Bagian distal tubuh yang pucat dan tanpa pulsasi
menandakan adanya gangguan vaskularisasi. Ekstremitas yang bengkak
pada daerah yang berotot menunjukkan adanyacrush injury dengan
ancaman sindroma kompartemen. Parahita, Putu Sukma. Dkk. (2011).

Pada pemerikasaan Feel, kitamenggunakan palpasi untuk


memeriksa daerah nyeri tekan, fungsi neurologi, dan krepitasi. Pada
periksaan Move kita memeriksa Range of Motion dan gerakan
abnormal.Pemeriksaan sirkulasi dilakukan dengan cara meraba pulsasi
bagian distal dari fraktur danjuga memeriksa capillary refill pada ujung
jari kemudian membandingkan sisi yang sakit dengan sisi yang sehat.
Jika hipotensi mempersulit pemeriksaan pulsasi, dapat digunakanalat
Doppler yang dapat mendeteksi aliran darah di ekstremitas. Pada pasien
dengan hemodinamik yang normal, perbedaan besarnya denyut nadi,
dingin, pucat, parestesi danadanya gangguan motorik menunjukkan
trauma arteri. Selain itu hematoma yangmembesar atau pendarahan
yang memancar dari luka terbuka menunjukkan adanya trauma arteria.
Parahita, Putu Sukma. Dkk. (2011)
Pemeriksaan neurologi juga penting untuk dilakukan mengingat
cedera muskuloskeletal juga dapat menyebabkan cedera serabut syaraf
dan iskemia sel syaraf. Pemeriksaan fungsi syaraf memerlukan kerja

15
sama pasien. Setiap syaraf perifer yang besar fungsi motoris dan
sensorisnya perlu diperiksa secara sistematik sebagai berikut :

1) Keadaan umum : dikaji GCS pasien


2) System Integumen : kaji ada tidaknya eritema, bengkak, oedema, nyeri
tekan.
3) Kepala : kaji bentuk kepala, apakah terdapat benjolan, apakah ada nyeri
kepala
4) Leher : kaji ada tidaknya penjolankelenjar tiroid, dan reflek menelan.
5) Muka : kaji ekspresi wajah pasien wajah, ada tidak perubahan
fungsi maupun bentuk. Ada atau tidak lesi, ada tidak oedema.
6) Mata : kaji konjungtiva anemis atau tidak (karena tidak terjadi perdarahan)
7) Telinga : kaji ada tidaknya lesi, nyeri tekan, dan penggunaan
alat bantu pendengaran.
8) Hidung : kaji ada tidaknya deformitas, dan pernapasan cuping hidung.
9) Mulut dan Faring : kaji ada atau tidak pembesaran tonsil, perdarahan
gusi, kaji mukosa bibir pucat atau tidak.
10) Paru :
(a) Inspeksi : kaji ada tidaknya pernapasan meningkat.
(b) Palpasi : kaji pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
(c) Perkusi : kaji ada tidaknya redup atau suara tambahan.
(d) Auskultasi : kaji ada tidaknya suara nafas tambahan.

11) Jantung
(a) Inspeksi : kaji ada tidaknya iktus jantung.
(b) Palpasi : kaji ada tidaknya nadi meningkat, iktus teraba atau tidak.
(c) Perkusi : kaji suara perkusi pada jantung
(d) Auskultasi: kaji adanya suara tambahan.

12) Abdomen
(a) Inspeksi : kaji kesimetrisan, ada atau tidak hernia
(b) Auskultasi : kaji suara Peristaltik usus pasien

16
(c) Perkusi : kaji adanya suara
(d) Palpasi : ada atau tidak nyeri tekan

13) Ekstremitas
(a) Atas : kaji kekuatan otot, rom kanandan kiri, capillary refile,
perubahan bentuk tulang
(b) Bawah : kaji kekuatan otot, rom kanan dan kiri, capillaryrefile, dan
perubahan bentuk tulang

d. Riwayat kesehatan Sekarang


Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari
fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan
terhadap pasien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut
sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian
tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme
terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain (Paul
Krisanty. dkk. 2016).

e. Riwayat Kesehatan Dahulu


Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur
dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung.
Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s
yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk
menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki
sangat beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga
diabetes menghambat proses penyembuhan tulang.

f. Riwayat kesehatan Keluarga


Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang
merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti

17
diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan,dan
kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Paul Krisanty.
Dkk. 2016).

g. Riwayat dan mekanisme trauma


Dilakukan pengkajian riwayat terjadinya trauma dan mekanisme
atau bagaimana trauma terjadi.

h. Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah
“pencitraan” menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan
gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka
diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan
tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk
memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu
disadari bahwa permintaan x- ray harus atas dasar indikasi kegunaan
pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan.
Hal yang harus dibaca pada x-ray:

Bayangan jaringan lunak.


 Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau
biomekanik atau juga rotasi.
 Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.

 Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.

Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya
seperti:
1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang
lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan
kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja
tapi pada struktur lain juga mengalaminya.

18
2) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh
darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat
trauma.
3) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena
ruda paksa.Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan
secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang
yang rusak.

3. Pemeriksaan Diagnostik

a) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahappenyembuhan


tulang.
b) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang danmenunjukkan
kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.
c) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase(LDH-5),
Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada
tahap penyembuhan tulang.
d) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan
mikroorganisme penyebab infeksi.

e) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
f) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang
diakibatkan fraktur.
g) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena
trauma yang berlebihan.
h) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi
pada tulang.MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur

19
2. Diagnosa Keperawatan pada fraktur

1) Nyeri Akut b.d Agen cedera fisik di tandai dengan pasien tampak
meringgis, gelisah.
2) Resiko Infeksi b.d kerusakan integritas kulit.
3) Gangguan Mobilitas Fisik b.d kerusakan integritas struktur tulang di
tandai dengan pasien nyeri saat bergerak.
4) Defisit perawatan diri: mandi berhubungan dengan gangguan
muskuloskeletal
5) Gangguan integritas kulit/jaringan b.d kelembabpan di tantai dengan
pasien tanpak nyeri, perdarahan, kemerahan
6) Risiko Disfungsi Neorovaskuler perifer b.d fraktur, penekanan klinis
(balutan)
7) Resiko pedarahan b.d trauma dan tindakan pembedahan.

3. Masalah Keperawatan Pada Fraktur

Berdasarkan Lingkup Bahasaan maka masalah keperawatan yg diambil


yaitu: Nomor 3 Gangguan Mobilitas Fisik b.d kerusakan integritas
struktur tulang di tandai dengan pasien nyeri saat bergerak.

20
Gangguan Mobilitas Fisik D.0054
Kategori: Fisiologis
Subkategori: Aktivitas/Istirahat

Definisi
Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara
mandiri.

Penyebab
1. Kerusakan integritas struktur tulang
2. Perubahan metabolisme
3. Ketidakbugaran fisik
4. Penurunan kendali otot
5. Penurunan massa otot
6. Penurunan kekuatan otot
7. Keterlambatan perkembangan
8. Kekakuan sendi
9. Kontraktur
10. Malnutrisi
11. Gangguan muskuloskeletal
12. Gangguan neuromuskular
13. Indeks masa tubuh diatas persentil ke-75 sesuai usia
14. Efek agen farmakologis
15. Program pembatasan gerak
16. Nyeri
17. Kurang terpapar informasi tentang aktivitas fisik
18. Kecemasan
19. Gangguan kognitif
20. Keengganan melakukan pergerakan

21
21. Gangguan sensoripersepsi

Gejala dan Tanda Mayor


Subjektif
1. Mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas

objektif
1. Kekuatan otot menurun
2. Rentang gerak (ROM) menurun

Gejala dan Tanda Minor


Subjektif
1. Nyeri saat bergerak
2. Enggan melakukan pergerakan
3. Merasa cemas saat bergerak

Objektif
1. Sendi kaku
2. Gerakan tidak terkoordinasi
3. Gerakan terbatas
4. Fisik lemah

Kondisi Klinis Terkait


1. Stroke
2. Cedera medula spinalis
3. Trauma
4. Fraktur
5. Osteoarthritis
6. Ostemalasia
7. Keganasan

22
D. Perencanaan Keperawatan

Tujuan Dan Kriteria


NO Diagnosa Hasil Intervensi Rasional

1. Gangguan Mobiltas fisik


mobilitas fisik
membaik dengan
berhubungan
dengan gangguan kriteria hasil : Observasi Observasi
muskuloskeletal
dibuktikan 1. Pergerakan
dengan 1. Identifikasi ada 1. Untuk
keterbatasan ekstermitas
nya nyeri atau mengientifikasi
gerak meningkat
keluhan fisik adanya nyeri atau
2. Kekuatan lain nya keluhan fisik
otot meningkat lainnya sebelum
melakukan
3. Rentang gerak
mobilisasi.
meningkat
2. Identifikasi 2. Untuk
toleransi fisik mengientifikasi
tingkat toleransi
fisik pasien
terhadap aktivitas.
3. Monitor frekuensi
3. Monitor
jantung dan
frekuensi jantun tekanan darah
dan tekanan sebelum memulai
darah sebelum mobilisasi.
memulai
mobilisasi

23
Tujuan Dan Kriteria
NO Diagnosa Hasil Intervensi Rasional

4. Untuk Monitor
kondisi umum
4. Monitor
pasien selama
kondisi umum
melakukan
selama
mobilisasi untuk
melakukan
mendeteksi tanda-
mobilisasi.
tanda kelelahan
atau
ketidaknyamanan.

Terapeutik
Terapeutik

1. Fasilitasi 1. Untuk
memfasilitasi
aktivitas
aktivitas mobilitas
mobilitas fisik
fisik dengan alat
dengan alat
bantu jika
bantu
diperlukan.
2. Fasilitasi
2. Untuk membantu
melakukan pasien dalam
pergerakan melakukan
jika perlu pergerakan jika
pasien mengalami
kesulitan.
3. Untuk membantu
3. Libatkan
pasien
keluarga kalau meningkatkan
perlu untuk

24
Tujuan Dan Kriteria
NO Diagnosa Hasil Intervensi Rasional

membantu pasie pergerakan jika


dalam diperlukan.
meningkatkan
pergerakan

Edukasi
Edukasi
1. Jelaskan tujuan 1. Agar pasien dan
Dan prosedur keluarga agar
mobilisasi memahami
2. Anjurkan manfaatnya.
melakukan 2. Untuk mencegah
mobilisai dini komplikasi akibat
imobilisasi.

3. Ajarkan
3. Untuk
mobilisasi
meningkatkan
sederhana yang
kemandirian
harus dilakukan
dalam bergerak.
(duduk)

25
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Jadi Fraktur merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang sering


terjadi, baik akibat trauma langsung maupun tidak langsung. Kondisi ini
menyebabkan gangguan pada kebutuhan aktivitas pasien, yang dapat
berdampak pada kualitas hidup serta proses pemulihan secara keseluruhan.
Fraktur dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, namun lebih sering
ditemukan pada individu lanjut usia akibat osteoporosis atau pada individu
yang mengalami kecelakaan dan cedera akibat aktivitas fisik yang tinggi

B. Saran

Dapat memberikan sarana untuk dilakukan tindakan keperawatan sebagai


salasatu intervensi keperawatan sehingga dapat berjalan secara optimal dalam
menurunkan tingkat masalah pada pasien post op fraktur. Perlu adanya
pengawasan secara konsisten dalam pemberian tindakan keperawatan
sehingga tindakan keperawatan yang diberikan dapat berjalan optimal.

26
DAFTAR PUSTAKA

Akademi Ahli Bedah Ortopedi Amerika. Fiksasi Internal untuk Fraktur (


https://orthoinfo.aaos.org/en/treatment/internal-fixation-for-fractures/ ) .
Diakses pada 10/03/2025.
Brunner &Suddarth, 2002 dalam Wijaya & Putri, 2013. Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta : EGC
Muttaqin 2018. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskletal.
Jakarta: EGC.

PPNI, Tim Pokja SDKI DPP. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Defenisi Dan Indikator Diagnostik. 1st ed. Jakarta Selatan: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

PPNI, Tim Pokja SIKI DPP. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia,
Defenisi Dan Tindakan Keperawatan. 1st ed. Jakarta Selatan: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

PPNI, Tim Pokja SLKI DPP. 2019, Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
Defenisi Dan Kriteria Hasil Keperawatan. Ist ed. Jakarta Selatan: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

R. Sjamsuhidajat. Jong, W. 2012. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC
Smeltzer, S.C. (2018). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

27
28

Anda mungkin juga menyukai