34-BFGB - Instrumen Survei Riset IKM SulSel - 2021
34-BFGB - Instrumen Survei Riset IKM SulSel - 2021
BAB I
PENDAHULUA
A. Latar N
Belakang
1
melayani setiap warga negara dan penduduk untuk memenuhi hak dan
kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan publik. Untuk itu berbagai
terobosan dan perbaikan telah dilakukan oleh penyelenggara pelayanan
publik baik itu instansi pemerintah pusat maupun daerah untuk
meningkatkan kualitas pelayanannya.
2
Menyadari bahwa masyarakat bukan hanya objek pelayanan, namun
juga sebagai subjek yang dilayani, yang dapat memberikan umpan balik
terhadap proses dan hasil pelayanan yang dirasakannya, maka salah satu
upaya yang harus dilakukan dalam perbaikan pelayanan publik adalah
melakukan survei kepuasan masyarakat kepada pengguna layanan
dengan mengukur kepuasan masyarakat pengguna layanan. Peraturan
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No.14
Tahun 2017 mewajibkan setiap penyelenggara pelayanan publik
melakukan survei kepuasan masyarakat secara berkala minimal sekali
setahun.
Kegiatan pelayanan yang diberikan Pemerintah Provinsi akan dinilai
dari tingkat kepuasan masyarakat. Penilaian yang diberikan masyarakat
menentukan ukuran kinerja pelayanan publik. Kegiatan yang dapat
dilakukan untuk mengetahui pelayanan publik adalah dengan mengukur
tingkat kepuasan masyarakat. Salah satu metode yang digunakan untuk
mengetahui kualitas pelayanan suatu organisasi publik adalah dengan
menggunakan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM).
Hasil dari “Survei Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Provinsi
Sulawesi Selatan” ini dijadikan acuan serta bahan pertimbangan dalam
menentukan strategi untuk memperbaiki pelayanan publik di Sulawesi
Selatan. Penentuan strategi dimaksud dilakukan dengan
mempertimbangkan harapan dan yang dirasakan masyarakat terhadap
pelayanan publik di Provinsi Sulawesi Selatan, persepsi kualitas layanan
publik, karakteristik layanan, tingkat kepentingan, tingkat capaian
kepuasan masyarakat (Indeks Kepuasan Masyarakat) dari target indikator
makro pada setiap tahunnya serta tingkat kesenjangan antara persepsi
dan harapan terhadap layanan Publik.
B. Permasalahan
Pelayanan publik yang dilakukan oleh aparatur pemerintah saat ini
dirasakan belum memenuhi harapan masyarakat. Hal ini dapat diketahui
dari berbagai keluhan masyarakat yang disampaikan melalui media massa
dan jejaring sosial. Tentunya keluhan tersebut, jika tidak ditangani
3
memberikan dampak buruk terhadap pemerintah. Lebih jauh lagi adalah
dapat menimbulkan ketidakpercayaan dari masyarakat terhadap
pemerintah.
4
C. Maksud dan Tujuan
1. Maksud
Maksud dari kegiatan ini adalah sebagai studi evaluasi untuk
mendapatkan suatu gambaran / pendapat masyarakat tentang
kecenderungan kepuasan masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan
terhadap pelayanan pemerintah provinsi.
2. Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengukur tingkat kepuasan
masyarakat sebagai pengguna layanan dan meningkatkan
kualitas penyelenggaraan pelayanan publik.
2. Manfaat
a. Mengetahui gambaran kecenderungan kepuasan masyarakat
terhadap kinerja pemerintah dalam penyelenggaraan
pelayanan publik.
b. Mengetahui kelemahan/kekurangan dari masing-masing unsur
dalam penyelenggara pelayanan publik di Pemerintah Provinsi
Sulawesi Selatan.
c. Mengetahui kinerja penyelenggara pelayanan yang telah
dilaksanakan di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
5
d. Sebagai bahan penetapan kebijakan yang perlu diambil dan
upaya yang perlu dilakukan di Pemerintah Provinsi Sulawesi
Selatan.
e. Memacu persaingan positif antara unit penyelenggara
pelayanan di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
f. Masyarakat dapat mengetahui gambaran tentang kinerja
unit penyelenggara pelayanan di Pemerintah
Provinsi Sulawesi Selatan.
6
Jurusan Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan dan telah
berpegalaman dalam pelaksanaan survey persepsi publik.
Tugas utama sebagai ketua adalah memimpin dan
mengkoordinir seluruh kegiatan anggota tim kerja dalam
pelaksanaan pekerjaan sampai selesai.
7
b. Tenaga Ahli bidang hukum, 1 orang
Ahli hukum disyaratkan minimal strata dua (S2) Jurusan hukum
berpengalaman dalam pelaksanaan pekerjaan dibidangnya.
c. Ahli Ilmu Pemerintahan, 1 orang
Ahli ilmu pemerintahan disyaratkan minimal strata satu (S1)
Jurusan Ilmu Pemerintahan dan berpengalaman dalam
pelaksanaan pekerjaan dibidangnya.
d. Surveyor, Tenaga Pendukung, 7 orang
Surveyor, Tenaga Pendukung disyaratkan minimal sarjana strata
satu (S1), berpengalaman dalam mengelola pelaksanaan
pekerjaan dibidang survey sekurang-kurangnya 3 Tahun.
4. Keluaran
a. Dokumen Laporan Pendahuluan
b. Dokumen Draft Laporan Akhir
c. Dokumen Laporan Akhir
5. Produk Laporan
Produk-produk laporan yang harus diserahkan oleh pelaksana kepada
Pemberi Tugas/Pengguna Anggaran :
a. Buku Laporan Pendahuluan format word document sejumlah
2 eksemplar/buku bentuk A-4;
b. Buku Draft Laporan Akhir format word document sejumlah
2 eksemplar/buku bentuk A-4;
c. Buku Laporan Akhir format word document sejumlah 5
eksemplar/buku bentuk A-4;
d. Master Buku Laporan berupa CD (Compact Disk) sebanyak 3
keping
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
8
1. Pengertian Pelayanan Publik
9
maupun jasa publik.
10
Peningkatan kualitas pelayanan publik mengandung makna
adanya perubahan mutu, kondisi, dari keadaan sekarang ke mutu
yang lebih baik. Jadi kualitas dalam hal ini bersifat dinamis
menyesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi
masyarakat. KEPMENPAN Nomor 63 tahun 2003 tentang
Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik
mengelompokkan tiga jenis pelayanan dari instansi pemerintah
serta BUMN/BUMD. Pengelompokan jenis pelayanan tersebut
didasarkan pada ciri-ciri dan sifat kegiatan serta produk
pelayanan yang dihasilkan, yaitu:
11
administratif dan pelayanan jasa.
b. Karakteristik Pelayanan
12
Pada dasarnya cukup banyak karakteristik suatu pelayanan
dimana karakteristik pelayanan mempunyai kekuatan untuk
mempengaruhi tingkat kepuasan dan penampilan kerja pegawai.
Hal ini dapat dilihat pada berbagai perumusan karakteristik yang
dibuat oleh para ahli. Zeithaml, Berry dan Parasuraman (Fandy
Tjiptono dan Anastasia Diana, 2003: 27) mengidentifikasikan lima
karakteristik yang digunakan oleh para pelanggan dalam
mengevaluasi kualitas jasa, yaitu:
14
petugas pelayanan selalu bersikap sopan dan menguasai
pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk
menanggapi setiap pertanyaan atau masalah pelanggan.
Jaminan ini mencakup kemampuan, kesopanan, dan sifat
dapat dipercaya yang dimiliki para staf, bebas dari bahaya,
resiko atau keragu-raguan.
5) Empati,
Empati berarti memahami masalah para pelanggan dan
bertindak demi kepentingan pelanggan, serta memberikan
perhatian personal kepada para pelanggan dan memiliki jam
operasi yang nyaman. Empati dalam pelayanan meliputi
kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang
baik, dan memahami kebutuhan para pelanggan.
16
masing bagian tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang
cukup penting, yaitu sebagai berikut:
1) Faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan internal
(interaksi pegawai organisasi), yaitu pola manajemen umum
organisasi, penyediaan fasilitas pendukung, pengembangan
sumber daya manusia, iklim kerja dan keselarasan hubungan
kerja, serta pola insentif.
2) Faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan eksternal
(pelanggan eksternal), yaitu pola layanan dan tata cara
penyediaan layanan, pola layanan distribusi jasa, pola layanan
penjualan jasa, dan pola layanan dalam penyampaian jasa.
18
Kepuasan pelanggan atas layanan, kinerja pelayanan dan
kualitas pelayanan saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Kualitas pelayanan akan menentukan seberapa besar kepuasan
pelanggan dan mencerminkan kinerja dari pelayanan. Konsep
kualitas meliputi usaha memenuhi harapan pelanggan, mencakup
produk jasa, manusia, proses dan lingkungan. Selain itu kualitas
merupakan kondisi yang selalu berubah, misalnya apa yang
dianggap berkualitas saat ini mungkin dianggap kurang
berkualitas pada masa mendatang.
Lovelock dalam Fandy Tjiptono (2004: 59), menyebutkan
“Kualitas pelayanan merupakan tingkat keunggulan yang
diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut
untuk memenuhi harapan pelanggan”. Selanjutnya Fandy
Tjiptono (2004: 121) menyebutkan:
2. Kepuasan Pelanggan
a. Pengertian Kepuasan Pelanggan
19
Kata kepuasan (satisfaction) menurut Fandy Tjiptono dan
Gregorius Chandra (2005: 195) berasal dari bahasa Latin “satis”
yang berarti cukup baik, memadai, dan “factio” yang berarti
melakukan atau membuat.
20
Kepuasan bisa diartikan sebagai “upaya pemenuhan sesuatu”
atau “membuat sesuatu memadai”. Berikut pengertian Kepuasan
pelanggan menurut beberapa ahli, meliputi:
Menurut Nasution M. N. (2001: 45), “Kepuasan pelanggan
adalah suatu keadaan di mana kebutuhan, keinginan, dan
harapan pelanggan dapat terpenuhi melalui produk yang
dikonsumsi”.
Schnaars (Harbani Pasolong, 2010: 221)
menyebutkan bahwa:
22
1) Sistem Keluhan dan Saran
Setiap perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan
(customer- oriented) perlu memberikan kesempatan seluas-
luasnya bagi para pelanggannya untuk menyampaikan saran,
pendapat, dan keluhan. Media yang bisa digunakan adalah
kotak saran, kartu komentar, saluran telepon khusus
(customer hot lines), dan lain-lain.
3) Ghost Shopping
Metode ini dilakukan dengan cara mempekerjakan beberapa
orang (ghost shopper) untuk berperan atau bersikap sebagai
pelanggan potensial produk perusahaan dan pesaing. Lalu
ghost shopper tersebut menyampaikan temuan-temuannya
mengenai kekuatan dan kelemahan produk perusahaan dan
pesaing berdasarkan pengalaman mereka.
23
3. Indeks Kepuasan Masyarakat
a. Pengertian Indeks Kepuasan Masyarakat
Kepuasan masyarakat terhadap kinerja pelayanan
pemerintah perlu untuk terus diukur dan dibandingkan. Salah
satu cara yang dapat dilakukan untuk mengukur kepuasan
masyarakat terhadap pelayanan pemerintah adalah dengan
menggunakan Indeks Kepuasan Masyarakat. Peraturan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(PermenPAN RB) Nomor 14 Tahun 2017 Tentang Pedoman
Penyusunan Survei Kepuasan Masyarakat Unit Penyelenggara
Pelayanan Publik menyebutkan Indeks Kepuasan Masyarakat
adalah hasil pengukuran dari kegiatan Survei Kepuasan
Masyarakat berupa angka. Angka ditetapkan dengan skala 1
(satu) sampai dengan 4 (empat).
25
8) Penanganan Pengaduan, Saran dan Masukan
9) Sarana dan Prasarana.
26
BAB III
METODOLOGI
PELAKSANAAN
A. Tahapan Pelaksanaan
Tahapan Pelaksanaan kegiatan adalah melalui tahapan perencanaan,
persiapan, pelaksanaan, pengolahan dan penyajian hasil survei yang
mencakup langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menyusun Instrumen Survei.
2. Menetukan besaran dan Teknik penarikan sampel.
3. Menentukan responden. Jumlah responden disesuaikan dengan
jenis layanan,
4. Melaksanakan survei
5. Mengolah hasil survei.
6. Menyajikan dan melaporkan hasil survei
B. Metode Survei
1. Wawancara
Pengumpulan data primer dilakukan melalui survei, yaitu dengan
melakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner.
3. Kendali Mutu
Pewawancara adalah tenaga yang sudah terlatih, dan berpengalaman
dalam survei opini publik. Juga dilakukan workshop terhadap seluruh
pewawancara.
27
4. Metode Analisis
Analisis data dilakukan dengan menggunakan skala Likert. Skala
Likert adalah suatu skala psikometrik yang umum digunakan dalam
kuesioner (angket), dan merupakan skala yang paling banyak
digunakan dalam riset berupa survei. Skala Likert dikembangkan
oleh Rensis Likert. Skala Likert adalah skala yang dapat digunakan
untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau
sekelompok orang terhadap suatu jeni layanan publik. Pada skala
likert responden diminta untuk menentukan tingkat persetujuan
mereka terhadap suatu peryataan dengan memilih salah satu dari
pilihan yang tersedia.
28
BAB IV
INSTRUMEN SURVEI
29
8. Penanganan Pengaduan, Saran dan Masukan
Penanganan pengaduan, saran dan masukan adalah tata cara
pelaksanaan penanganan pengaduan dan tindak lanjut.
30
9. Sarana dan Prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat
dalam mencapai maksud dan tujuan; Prasarana merupakan
penunjang utama terselenggaranya suatu proses.
B. Bentuk Jawaban
Bentuk jawaban pertanyaan dari setiap unsur pelayanan secara
umum mencerminkan tingkat kualitas pelayanan, yaitu dari yang sangat
baik sampai dengan tidak baik. Untuk kategori tidak baik diberi nilai
persepsi 1, kurang baik diberi nilai persepsi 2, baik diberi nilai persepsi 3,
sangat baik diberi nilai persepsi 4. Penilaian terhadap unsur prosedur
pelayanan, bila:
1. Diberi nilai 1 (tidak mudah) apabila pelaksanaan prosedur pelayanan
tidak sederhana, alurnya tidak mudah, loket/tahapan untuk
memperoleh layanan terlalu banyak, sehingga prosesnya tidak
efektif.
2. Diberi nilai 2 (kurang mudah) apabila pelaksanaan prosedur
pelayanan masih belum mudah, sehingga prosesnya belum efektif.
3. Diberi nilai 3 (mudah) apabila pelaksanaan prosedur pelayanan
dirasa mudah, sederhana, tidak berbelit-belit tetapi masih perlu
diefektifkan.
4. Diberi nilai 4 (sangat mudah) apabila pelaksanaan prosedur
pelayanan dirasa sangat mudah, sangat sederhana, sehingga
prosesnya mudah dan efektif.
32
Untuk memperoleh nilai IKM unit pelayanan digunakan pendekatan
nilai rata- rata tertimbang dengan rumus sebagai berikut:
Tabel 2.1
Kategori Hasil Pengukuran IKM
33
BAB V
PENUTU
P
34