HUKUM PERUSAHAAN HKUM4303
NAMA : MARIANUS MARNI MULAN TUKAN
NIM : 044297983
TUGAS 2 SESI 5
1. Prinsip akuntabilitas merupakan salah satu pilar penting dalam sistem kebijakan dan
regulasi dalam dunia usaha. Konsep ini mencerminkan tanggung jawab perusahaan dan
pemegang saham terhadap keberlangsungan operasional perusahaan serta perlindungan
terhadap hak-hak pemegang saham. Dalam konteks Perseroan Terbatas (PT), Undang-
Undang No. 40 tahun 2007 menyelenggarakan pengaturan yang menciptakan hubungan
adil dan transparan antara pemegang saham dengan perseroan terbatas. Pertama, kita
harus memahami prinsip akuntabilitas dalam perseroan terbatas. Prinsip ini mencakup
tugas dan kewajiban perusahaan mengelola keuangannya, menyampaikan informasi
tentang kinerja keuangan dan operasional perusahaan kepada pemegang saham,
memastikan pelaksanaan pengawasan yang efektif, dan memastikan kepatuhan terhadap
peraturan yang berlaku.
Berikut ini beberapa pengaturan dalam UU No. 40 tahun 2007 yang menunjukkan
hubungan antara pemegang saham dengan perseroan terkait prinsip akuntabilitas:
a. Persetujuan Pemegang Saham
Pasal 88 UU No. 40 tahun 2007 mengatur bahwa perusahaan harus memperoleh
persetujuan para pemegang saham dalam RUPS dalam hal pengambilan keputusan
yang berkaitan dengan penggunaan dan/atau pengalokasian laba bersih perusahaan.
Hal ini menunjukkan adanya hubungan langsung antara pemegang saham dengan
perseroan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan prinsip akuntabilitas
dalam proses persetujuan penggunaan laba yang ada.
b. Hak Mengakses Informasi
Pasal 97 UU No. 40 tahun 2007 memberikan hak kepada pemegang saham untuk
mendapatkan informasi tentang laporan keuangan perusahaan. Hal ini mencerminkan
prinsip akuntabilitas dalam menyampaikan informasi yang transparan dan kredibel
Kepada pemegang saham terkait dengan kondisi keuangan dan operasional
perusahaan.
c. Pengawasan Dewan Komisaris
Dalam rangka menjalankan prinsip akuntabilitas, dewan komisaris memiliki tugas
dan tanggung jawab untuk mengawasi serta memberikan nasihat kepada direksi.
Pasal 108 ayat (3) UU No. 40 tahun 2007 mengatur bahwa dewan komisaris wajib
memberi pertimbangan dan persetujuan kepada direksi atas kebijakan penggunaan
laba bersih perusahaan.
d. Transparansi Laporan Keuangan
Pasal 66 dan 68 UU No. 40 tahun 2007 mengharuskan perusahaan untuk
menyampaikan laporan keuangan secara transparan dan akuntabel. Laporan
keuangan harus diaudit oleh akuntan publik yang independen sehingga menjamin
kualitas dan objektivitas informasi yang disampaikan kepada para pemegang saham
dan pemangku kepentingan lainnya. Hal ini membantu menjaga semangat prinsip
akuntabilitas (https://www.budgetnesia.com/pengaturan-dalam-uu-no-40-tahun-
2007-tentang-perseroan-terbatas-yang-menunjukkan-adanya-hubungan-antara-
pemegang-saham-dengan-perseroan-yang-berkaitan-dengan-prinsip-akuntabilitas/)
diakses pada tanggal 16 Mei 2025 pukul 20.03 Wita.
2. Pasal 3 ayat (1) UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dihubungkan dengan
ayat (2):
Bunyi Pasal 3 ayat (1) UU No. 40 Tahun 2007 adalah:
Pemegang saham Perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan
yang dibuat atas nama Perseroan dan tidak bertanggung jawab atas kerugian
Perseroan melebihi saham yang dimiliki.
Bunyi Pasal 3 ayat (2) UU No. 40 Tahun 2007 adalah:
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila:
a. Persyaratan Perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi;
b. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung
dengan itikad buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentingan pribadi;
c. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan
hukum yang dilakukan oleh Perseroan; atau
d. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara
melawan hukum menggunakan kekayaan Perseroan, yang mengakibatkan
kekayaan Perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang Perseroan
(https://www.ojk.go.id/sustainable-finance/id/peraturan/undang-undang/
Documents/5.%20UU-40-2007%20PERSEROAN%20TERBATAS.pdf) diakses
pada tanggal 16 Mei 2025 pukul 20.10 Wita.
Penjelasan Pasal 3 ayat (1) UUPT menjelaskan bahwa pemegang saham hanya
bertanggung jawab sebesar setoran atas seluruh saham yang dimilikinya dan tidak
mencakup harta kekayaan pribadinya. Pengaturan tersebut menunjukkan bahwa
pemegang saham tidak dapat dimintakan pertanggung-jawabkan, kecuali sebatas modal
yang telah ditanamkan ke dalam perseroan. Hal ini juga membatasi bahwa
pertanggungjawaban tidak mencakup harta kekayaan pribadi pemegang saham.
Pasal 3 ayat (2) UUPT mengatur bahwa tanggung jawab terbatas pemegang saham
menjadi tidak berlaku atau sama dengan menjadi tidak terbatas jika terjadi keadaan
beberapa tindakan:
Persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi. Menurut
penjelasan Pasal 14 ayat (2) UUPT, perbuatan hukum perseroan pada kondisi di
atas menjadi tanggung-jawab pendiri yang melakukan perbuataan tersebut secara
pribadi (pemegang saham) dan perseroan tidak bertanggung-jawab terhadap
perbuatan hukum yang dilakukannya oleh pendiri. Perseroan baru dapat
dimintakannya tanggung-jawab setelah memperoleh status badan hukum (lihat:
Pasal 14 ayat 3 UUPT). Dengan demikian, maka tanggung-jawab pemegang
saham tidak mutlak terbebaskan dari tanggung-jawabnya.
Pemegang saham yang bersangkutan, baik langsung maupun tidak langsung,
dengan itikad buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentingan pribadi. Kondisi
ini dapat terjadi, karena pemegang saham dapat mengatur dan mengontrol
perseroan. Dengan kekuasaan yang dimiliki pemegang saham maka menjadikan
perseroan sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan prosedur
yang tidak wajar dan berakibat terjadinya kerugian perseroan, maka
menghapuskan dari tanggung-jawab pemegang saham menjadi tidak terbatas
adalah pilihan tepat dan rasional.
Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum
yang dilakukan oleh Perseroan. Dihapuskannya tanggung-jawab terbatas bagi
pemegang saham yang ketiga ini dilatarbelakangi oleh adanya persenkongkolan
pemegang saham untuk melakukan perbuatan yang melawan hukum dengan
bekerjasama dengan pihak ketiga dan menimbulkan kerugian material perseroan.
Kerugian ini terjadi, karena adanya niat tidak baik pemegang saham, dengan
perantaraan perseroan, maka harus bertanggung-jawab sebagai konsekuensi
kesalahannya. Di dalam praktik tidak terlalu rumit untuk menerapkannya dengan
syarat bahwa fakta-fakta telah menunjukkan keterlibatan pemegang saham dalam
perbuatan yang melawan hukum yang dilakukan perseroan. Dengan dasar bukti
tersebut di atas, maka tanggung-jawabnya pemegang saham menjadilah tidak
terbatas.
Pemegang saham yang bersangkutan baik, langsung maupun tidak langsung,
secara melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan, yang mengakibatkan
kekayaan Perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang Perseroan.
Perbuatan pemegang saham yang keempat ini termasuk kategori menguras atau
mencuri harta kekayaannya perseroan. Akibat hukum perbuatan pemegang saham
ini, maka jelas tanggung-jawab terbatas pemegang saham menjadikan hapus
dengan sendirinya. Untuk itu, dimungkinkan menuntut ganti rugi hingga harta
kekayaan pribadi pemegang saham sebagai bukti pertanggung-jawabannya.
Sebab, di dalam hal ini telah terjadi penyalahgunaan terhadap harta kekayaan
perseroan, yang mengakibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk
dapat melunasi utangnya perseroan dan untuk itu pemegang saham harus mau
bertanggung-jawab untuk itu. Tidak dapat pemegang saham berlindung dibalik
sebatas modal yang telah ditanamkannya kepada perseroan.
Dengan berpegang kepada beberapa hall tersebut di atas, maka tidak selamanya
pemegang saham dapat bertahan dengan prinsip bertanggung-jawab sebatas modalnya
saja, tetapi dapat saja berubah menjadi tidak terbatas. Tanggung jawab pemegang saham
sebesar setoran terhadap seluruh saham yang dimilikinya kemungkinan menjadi hapus
apabila memenuhi salah satu ketentuan Pasal 3 ayat (2) UUPT dan perbutannya itu hanya
dan untuk kepentingan pribadi pemegang saham dan tidak untuk kepentingan perseroan
secara keseluruhan. Kejelasan ini penting untuk menghindari kesalahan menterjemahkan
arti tanggung jawabnya pemegang saham terbatas (limited liability) tersebut di dalam
prakteknya.
3. Prinsip corporate governance apa yang terkandung dalam ketentuan Pasal 3 ayat (1) dan
(2) UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang dapat menghindarkan
Perseroan dari tindak pidana korupsi seperti dalam kasus tersebut:
Roda perekonomian Indonesia ditopang oleh tiga pilar penyangga utama, yaitu Perseroan
swasta, Perseroan milik negara dan koperasi. Pada kelompok Perseroan swasta dikenal
beberapa bentuk badan usaha seperti Perseroan Firma (Fa), Perseroan Komanditer (CV),
dan Perseroan Terbatas (PT). Pada dasarnya terdapat kebebasan bagi para pelaku usaha
untuk menetapkan pilihannya. Kecuali peraturan perundangan-undangan menetapkan hal
sebaliknya.
Masing-masing badan usaha tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda satu dengan
lainnya, khususnya dalam masalah prinsip tanggung jawabnya. Pada firma dikenal
prinsip tanggung jawab renteng dan tidak terbatas. Pada Perseroan Komanditer (CV)
dikenal dua macam prinsip tanggung jawab, yaitu bagi sekutu komplementer mempunyai
tanggung jawab renteng tidak terbatas, sementara bagi sekutu komanditer mempunyai
tanggung jawab terbatas. Sedangkan pada Perseroan Terbatas (PT) bertanggung jawab
terbatas pada saham yang dimiliki. Hal tersebut dapat dilihat dari makna kata “Perseroan”
yang menunjuk pada modalnya yang terdiri dari sero (saham) dan kata “terbatas”
menunjuk pada tanggung jawab pemegang saham yang tidak melebihi nilai nominal
saham yang diambil bagian dan dimilikinya. Sebagaimana ditentukan dalam dalam Pasal
3 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, menyatakan
bahwa :
Pemegang saham Perseroan tidak bertanggungjawab secara pribadi atas perikatan yang
dibuat atas nama Perseroan dan tidak bertanggungjawab atas kerugian Perseroan melebihi
nilai saham yang telah diambilnya. Perseroan Terbatas istilah aslinya adalah Naamloze
Venootschaap (NV) dimana NV lahir dari hukum dagang Belanda (WvK) akan tetapi ada
diantara pakar hukum lainnya menyebutkan bahwa NV lahir dari Veregining Oost
Indische Compaigne (VOC) yang tujuannya adalah menghimpun modal dari masyarakat
dalam jumlah yang sangat besar. NV secara harfiah dapat diartikan “Perseroan tanpa
nama”. Maksudnya adalah PT itu tidak boleh mempunyai nama yang diambil dari nama
pesero atau beberapa pesero, melainkan memperoleh namanya dari tujuan Perseroan.
(Pasal 36 KUHD). Untuk menjamin agar tidak terjadinya tindak pidana korupsi pada PT
maka sebuah PT perlu menerapakn prinsip dasar Good Coorporate Governance sebagai
berikut:
a. Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham (The Rights of Shareholders)
Kerangka normatif corporate governance harus melindungi hakhak pemegang
saham. Hak-hak dasar pemegang saham meliputi hak untuk:
Menjamin keamanan metode pendaftaran kepemilikan;
Mengalihkan dan memindahkan saham yang dimilkinya;
Memperoleh informasi yang relevan tentang Perseroan secara berkala dan
teratur;
Ikut berperan dan memberikan suara dalam RUPS memilih anggota dewan
komisaris dan direksi;
Memperoleh keuntungan Perseroan.
b. Persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham (The Equitable
Treatment of Shareholders). Kerangka corporate governance harus menjamin
adanya perlakuan yang sama terhadap seluruh pemegang saham, termasuk
pemegang saham minoritas dan asing. Seluruh pemegang saham harus memilki
kesempatan untuk mendapatkan penggantian atas pelanggaran dari hak-hak
mereka:
Seluruh pemegang saham baik pemegang saham mayoritas maupun
minoritas harus diperlakukan sejajar.
Melarang praktik-praktik insider trading dan self-dealing.
Anggota Direksi dan Dewan Komisaris harus mengungkapkan (disclose)
suatu fakta material dalam transaksi dan permasalahan yang mempengaruhi
Perseroan.
c. Peranan stakeholders yang terkait dengan Perseroan (The Role of Stakeholders in
CG).
Kerangka corporate governance harus memberikan pengakuan terhadap hak-hak
stakeholders, seperti yang ditentukan dalam undang-undang dan mendorong
kerjasama yang aktif antara Perseroan dengan para stakeholders tersebut dalam
rangka menciptakan kesejahteraan, lapangan kerja dan kesinambungan usaha.
d. Keterbukaan dan transparansi (Disclosure dan Transparency)
Kerangka corporate governance harus menjamin adanya pengungkapan yang tepat
waktu dan akurat untuk setiap permasalahan material yang berkaitan dengan
Perseroan, pengungkapan ini meliputi informasi mengenai keuangan, kinerja
Perseroan, kepemilikan dan pengelolaan Perseroan.
e. Akuntabilitas Direksi dan Dewan Komisaris (The Responsibilities of The Board).
Kerangka corporate governance harus menjamin adanya pedoman strategis
Perseroan, pengawasan yang efektif terhadap manajemen yang dilakukan oleh
Direksi dan Dewan Komisaris terhadap Perseroan dan pemegang saham
(https://lib.ui.ac.id/file?file=digital/old5/119215-T%2025246-Aspek%20hukum-
Tinjauan%20literatur.pdf) diakses pada tanggal 16 Mei 2025 pukul 20.25 Wita.