0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
62 tayangan86 halaman

Tesis Enggik V2706 FinalPrint

Tesis ini menganalisis pengaruh hembusan Closed Cooling Water (CCW) dan penggunaan Phase Change Material (PCM) terhadap efisiensi panel surya. Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kedua metode ini dapat menurunkan suhu operasional panel, meningkatkan efisiensi hingga 22,50%, dan memperpanjang umur panel hingga 41 tahun. Hasil analisis tekno ekonomi menunjukkan potensi pengurangan biaya energi yang signifikan dibandingkan dengan panel rooftop biasa.

Diunggah oleh

enggikdownload
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
62 tayangan86 halaman

Tesis Enggik V2706 FinalPrint

Tesis ini menganalisis pengaruh hembusan Closed Cooling Water (CCW) dan penggunaan Phase Change Material (PCM) terhadap efisiensi panel surya. Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kedua metode ini dapat menurunkan suhu operasional panel, meningkatkan efisiensi hingga 22,50%, dan memperpanjang umur panel hingga 41 tahun. Hasil analisis tekno ekonomi menunjukkan potensi pengurangan biaya energi yang signifikan dibandingkan dengan panel rooftop biasa.

Diunggah oleh

enggikdownload
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS TEKNO EKONOMI PENGARUH HEMBUSAN


CLOSED COOLING WATER HEAT EXCHANGER
PEMBANGKIT LISTRIK DAN PHASE CHANGE MATERIAL
PADA EFISIENSI PANEL SURYA

TESIS

Enggik Dwi Pamungkas


2306289846

FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN INTERDISIPLIN KETEKNIKAN
PROGRAM MAGISTER TEKNIK SISTEM ENERGI

UNIVERSITAS INDONESIA
2025
UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS TEKNO EKONOMI PENGARUH HEMBUSAN


CLOSED COOLING WATER HEAT EXCHANGER
PEMBANGKIT LISTRIK DAN PHASE CHANGE MATERIAL
PADA EFISIENSI PANEL SURYA

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar


Magister Teknik

Enggik Dwi Pamungkas


2306289846

FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN INTERDISIPLIN KETEKNIKAN
PROGRAM MAGISTER TEKNIK SISTEM ENERGI

UNIVERSITAS INDONESIA
2025

ii

Universitas Indonesia
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri,


dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : ENGGIK DWI PAMUNGKAS


NPM : 2306289846

Tanda Tangan : _____________________________


Tanggal : 25 Juni 2025

iii

Universitas Indonesia
HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh:


Nama : ENGGIK DWI PAMUNGKAS
NPM : 2306289846
Program Studi : Pasca Sarjana Teknik Sistem Energi
Judul Skripsi : ANALISIS TEKNO EKONOMI PENGARUH HEMBUSAN
CLOSED COOLING WATER HEAT EXCHANGER PEMBANGKIT LISTRIK
DAN PHASE CHANGE MATERIAL PADA EFISIENSI PANEL SURYA

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima


sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Magister Teknik M.T pada program Studi Teknik Sistem Energi , Pasca
Sarjana, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.

DEWAN PEMBIMBING DAN PENGUJI

Pembimbing 1 : Prof. Dr. Ing. Ir. Nandy Setiadi Djaya Putra (……………..)

Pembimbing 2 :Dr.Eng.Mohammad Akita Indianto, S.T, M.Eng(…………….)

Penguji 1 : Prof. Dr. Ir. Adi Surjosatyo,M.Eng (……………..)

Penguji 2 : Ahmad Syihan Auzani, S.T., M.T., Ph.D (……………..)

Penguji 3 : Dr. Hasbi Priadi, S.T., M.Sc (……………..)

Ditetapkan di : Fakultas Teknik


Tanggal : 25 Juni 2025

iv

Universitas Indonesia
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirobbilalamin, dengan rasa syukur yang mendalam saya menyajikan


karya ilmiah Tesis saya ini sebagai salah satu syarat penyelesaian studi dan
pencapaian gelar akademik Magister Teknik di Fakultas Teknik Universitas
Indonesia. Saya menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan penyusunan tesis ini
tidak lepas dari dukungan dan bimbingan berbagai pihak, baik selama masa
perkuliahan maupun dalam proses penulisan tesis ini. Oleh karena itu, saya ingin
mengucapkan terima kasih kepada :
(1) Prof. Dr. Ing. Ir. Nandy Setiadi Djaya Putra sebagai dosen pembimbing yang
dengan penuh kesabaran, waktu, dan pikirannya, memberikan arahan dan
bimbingan yang sangat berarti dalam penyusunan tesis ini.
(2) Dr.Eng.Mohammad Akita Indianto, S.T., M.T., sebagai dosen pembimbing
kedua dengan penuh ketelitian dan kesabaran serta waktu, dan pikirannya,
untuk dapat terus memotivasi dan menyelesaikan karya tesis ini.
(3) PT. PLN Group yang telah banyak membantu dalam menyediakan dana dan
data yang sangat diperlukan untuk penelitian ini.
(3) Istriku tercinta Dayinta Liris Kawuryan yang sudah sangat sabar menerima
kesalahan dan kekurangan saya, Muhammad Azka Farrosi anak yang selalu
memberikan api semangat kepada saya dan orang tua serta keluarga yang telah
memberikan dukungan, baik materiil maupun moral, sepanjang perjalanan ini.
(4) Sahabat-sahabat PLN TSE, Produksi Blok 2A, dan Rendal Operasi Muara
Karang yang telah memberikan semangat dan bantuan yang sangat berarti
dalam proses penyelesaian tesis ini.
Akhir kata, saya berharap Allah Subhanahu Wata’alla senantiasa memberkahi
kebaikan dari setiap pihak yang telah memberikan bantuan. Semoga tesis ini dapat
memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Depok, 25 Juni 2025

Enggik Dwi Pamungkas

Universitas Indonesia
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA
ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertandatangan di


bawah ini:

Nama : Enggik Dwi Pamungkas


NPM : 2306289846
Program Studi : Teknik Sistem Energi
Fakultas : Fakultas Teknik
Jenis Karya : Tesis

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universtas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-
Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

ANALISIS TEKNO EKONOMI PENGARUH HEMBUSAN CLOSED


COOLING WATER HEAT EXCHANGER PEMBANGKIT LISTRIK DAN
PHASE CHANGE MATERIAL PADA EFISIENSI PANEL SURYA.

beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan,
mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),
merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama
tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak
Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok
Pada tanggal : 25 Juni 2025
Yang menyatakan

ENGGIK DWI PAMUNGKAS

vi

Universitas Indonesia
ABSTRAK

Nama : Enggik Dwi Pamungkas


Program Studi : Teknik Sistem Energi
Judul : Analisis Tekno Ekonomi Pengaruh Hembusan Closed Cooling
Water Heat Exchanger Pembangkit Listrik Dan Phase Change
Material Pada Efisiensi Panel Surya.
Pembimbing 1 : Prof. Dr. Ing. Ir. Nandy Setiadi Djaya Putra
Pembimbing 2 : Dr. Eng. Mohammad Akita Indianto, S.T., M.Eng

Efisiensi panel surya sangat dipengaruhi oleh suhu baik lingkungan maupun radiasi
panas matahari, terdapat beberapa metode untuk menjaga suhu agar tetap seminimal
mungkin yaitu dengan pemanfaatan hembusan Closed Cooling Water (CCW) Fan
serta penggunaan Phase Change Material. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis
pengaruh dua metode pendinginan terhadap suhu operasional panel surya dan
dampaknya terhadap efisiensi konversi energi. Skenario pertama adalah panel surya
rooftop pendinginan alamiah, yang kedua pendinginan dengan hembusan dari CCW
Fan kecepatan 6 m/s dan suhu 30-35oC, skenario ketiga adalah CCW Fan yang
dikombinasikan dengan PCM tipe RT35HC pada backpanel. Metodologi penelitian
ini kuantitatif dengan pendekatan eksperimental untuk mengukur perubahan suhu,
tegangan, arus pada iradiasi harian. Pengambilan data menggunakan sistem
datalogger ESP32 yang merekam data selama seharian penuh dengan peralatan
yang sudah terkalibrasi dan pembacaan sensor menggunakan filter digital
Exponential Moving Average (EMA). Setup eksperimen pada masing-masing
metode menggunakan 1 buah PV panel 20Wp, Solar Charge Controller, beban
lampu 12V DC 20W serta baterai 12V 5000mAh. Penurunan suhu dengan
hembusan angin saja menurunkan suhu 6 oC dan dengan PCM 11.3 oC di titik
tertinggi harian, sehingga menaikkan efisiensi panel surya hingga 11,97% dengan
CCW Fan dan 22.50% dengan kombinasi penggunaan PCM. Hasil analisis tekno
ekonomi mampu menurunkan LCoE jika dibandingkan dengan panel rooftop
karena penggunaan PCM mampu memperpanjang lifetime hingga 41 tahun dengan
analisis Temperature Degradation persamaan Arrhenius. Penerapan pendinginan
kedua metode ini dapat memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi
pembangkit listrik. Harapannya dikemudian hari terdapat PCM yang jauh lebih
ekonomis dan terjangkau sehingga PLTS semakin panjang lifetimenya namun tetap
bersaing dari biaya investasi.

Kata Kunci: Analisis Tekno Ekonomi, Closed Cooling Water, Efisiensi Energi,
Panel Surya, Phase Change Material.

vii

Universitas Indonesia
ABSTRACT

Name : Enggik Dwi Pamungkas


Study Program: Energy System Engineering
Title : Techno-Economic Analysis of the Influence of Closed Cooling
Water Heat Exchanger and Phase Change Material on the
Efficiency of Solar Panels.
Counsellor 1 : Prof. Dr. Ing. Ir. Nandy Setiadi Djaya Putra
Counsellor 2 : Dr. Eng. Mohammad Akita Indianto, S.T., M.Eng

The efficiency of solar panels is greatly influenced by both ambient temperature


and solar radiation. There are several methods to maintain the temperature as low
as possible, including the use of airflow from a Closed Cooling Water (CCW) Fan
and Phase Change Material (PCM). This study aims to analyze the impact of two
cooling methods on the operational temperature of solar panels and their effects on
energy conversion efficiency. The first scenario involves a rooftop solar panel with
natural cooling, the second scenario involves cooling with airflow from a CCW Fan
at a speed of 6 m/s and temperatures of 30-35°C, while the third scenario combines
the CCW Fan with PCM type RT35HC applied to the backpanel. This research
adopts a quantitative methodology with an experimental approach to measure
temperature, voltage, and current changes during daily irradiation. Data collection
was performed using an ESP32 data logger system, recording data throughout the
entire day with calibrated equipment, and sensor readings were processed using a
digital Exponential Moving Average (EMA) filter. The experimental setup for each
method includes one 20Wp PV panel, SCC, a 12V DC 20W light load, and a 12V
5000mAh battery. The temperature reduction achieved by airflow alone was 6°C,
and with PCM, the temperature dropped by 11.3°C at the highest daily point,
resulting in an increase in solar panel efficiency of 11.97% with the CCW Fan and
22.50% with the combination of PCM. The techno-economic analysis shows a
reduction in LCoE compared to rooftop panels, as the use of PCM extends the
panel's lifetime to 41 years, based on Temperature Degradation analysis using the
Arrhenius equation. The application of these two cooling methods provides
significant economic benefits for power plants. It is expected that in the future, more
cost-effective and affordable PCM materials will be developed, enabling longer
lifetimes for PV systems while remaining competitive in terms of investment costs.

Keywords: Closed Cooling Water, Energy Efficiency, Phase Change Material,


Solar Panels, Techno-Economic Analysis.

viii

Universitas Indonesia
DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS .............................................. iii

HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iv

KATA PENGANTAR ........................................................................................... v

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA


ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ........................................... vi

ABSTRAK ........................................................................................................... vii

ABSTRACT ........................................................................................................ viii

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xii

DAFTAR TABEL .............................................................................................. xiii

BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................................... 2
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................... 2
1.5 Batasan Penelitian .................................................................................... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 4


2.1 Perpindahan Panas ................................................................................... 4
2.2 Panel Surya .............................................................................................. 5
2.2.1 Struktur Panel Surya Monocrystalline ......................................... 6
2.2.2 Keunggulan Panel Surya Monocrystalline ................................... 7
2.3 Hembusan Angin ...................................................................................... 8
2.4 Phase Change Material (PCM) ................................................................ 9
2.4.1 Cara Kerja PCM ........................................................................... 9
2.4.2 Jenis-Jenis PCM pada Suhu 30-50°C......................................... 10
2.5 Analisis Tekno Ekonomi ........................................................................ 11
2.5.1 LCoE .......................................................................................... 11
2.5.2 IRR ............................................................................................. 12
2.5.3 NPV ............................................................................................ 12
2.5.4 Payback Period ........................................................................... 13
2.6 Studi Terkait ........................................................................................... 14
2.6.2 Perhitungan Lifetime Panel Surya .............................................. 14

ix

Universitas Indonesia
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ........................................................... 19
3.1 Rancangan Penelitian ............................................................................. 19
3.2 Lokasi Penelitian .................................................................................... 20
3.3 Peralatan dan Perakitan .......................................................................... 22
3.4 Prosedur Penelitian ................................................................................. 23
3.5 Setup dan Piranti Eksperimen................................................................. 25
3.5.1 Smoothing Pengambilan Data ..................................................... 26
3.6 Analisis Tekno Ekonomi ........................................................................ 28
3.6.1 Teknis ......................................................................................... 28
3.6.2 Ekonomi ..................................................................................... 29
3.7 Validasi Data .......................................................................................... 29
3.8 Kesimpulan Metodologi ......................................................................... 29

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 31


4.1 Perakitan dan Pembuatan Alat Eksperimen............................................ 31
4.1.1 Sistem Datalogger ...................................................................... 31
4.1.2 Pyranometer ................................................................................ 32
4.1.3 Sensor Suhu, Arus dan Tegangan ............................................... 34
4.2 Sistem Pendingin .................................................................................... 36
1.1.1. 4.2.1 CCW Fan ........................................................................... 36
4.2.2 PCM (Phase Change Material) ................................................... 37
4.3 Pengaturan Panel Surya .......................................................................... 38
4.4 Pengambilan Data ................................................................................... 40
4.5 Data Analisa Iradiasi .............................................................................. 42
4.6 Data Analisa Suhu Panel ........................................................................ 43
4.7 Hubungan Tegangan dan Arus terhadap suhu panel .............................. 45
4.8 Dampak Terhadap Daya Output ............................................................. 47
4.9 Peningkatan Efisiensi Panel Surya ......................................................... 49
4.9.1 Analisa Panel Original (Tanpa Sistem Pendinginan) ................. 52
4.9.2 Analisa Panel dengan CCW (Closed Cooling Water) Fan ......... 52
4.9.3 Analisa Panel dengan PCM (Phase Change Material) ............... 53
4.10 Kajian Tekno Ekonomi .......................................................................... 54
4.10.1 Data dan Asumsi Yang Digunakan ............................................ 54
4.10.2 Hasil Perhitungan dan Pengolahan Data ................................... 55
4.10.3 LCoE........................................................................................... 56
4.10.4 IRR ............................................................................................. 57
4.10.5 NPV ............................................................................................ 59
4.10.6 Payback Period ........................................................................... 60
4.10.7 Penyajian analisis Ekonomi ........................................................ 62

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 63


5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 63
5.2 Saran ............................................................................................................ 64

Universitas Indonesia
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 65

LAMPIRAN ......................................................................................................... 70

xi

Universitas Indonesia
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1.1. Struktur modul panel surya ............................................................ 5


Gambar 2.3. Cara Kerja PCM ............................................................................ 6
Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian ............................................................... 19
Gambar 3.2.1. Lokasi Penelitian Satellite-View ................................................. 20
Gambar 3.2.2. Lokasi Penelitian Intensitas Irradians .......................................... 21
Gambar 3.2.3. Lokasi sistem CCW Fan .............................................................. 21
Gambar 3.3. Sensor thermal pada backsheet dan PCM.................................... 22
Gambar 3.4. Desain setup pengambilan data ................................................... 24
Gambar 3.5. Setup eksperimen ......................................................................... 26
Gambar 4.1.1. Datalogger 1 dengan modul pengkondisian sinyal ...................... 30
Gambar 4.1.2.a Sensor Pyranometer ..................................................................... 31
Gambar 4.1.2.b Proses Kalibrasi Pyranometer dengan NRG Weather Station UI 33
Gambar 4.1.3.a DS18B20 pembacaan suhu .......................................................... 34
Gambar 4.1.3.b Power Monitor Module ............................................................... 35
Gambar 4.1.3.c Proses kalibrasi sensor arus, tegangan dan suhu ......................... 35
Gambar 4.2.1. Pengukuran kecepatan CCW Fan dan Suhunya .......................... 36
Gambar 4.2.2 PCM di dalam pouch dan ditempelkan pada back panel ............. 37
Gambar 4.3.2. Penempatan Panel di atas CCW Fan ........................................... 38
Gambar 4.5.a Penggunaan EMA filter pada code program ............................... 39
Gambar 4.5.b Tampilan spreadsheet otomatis ................................................... 39
Gambar 4.6. Grafik perbandingan suhu pada 3 Skenario ................................. 42
Gambar 4.7 Grafik perbandingan Arus 3 panel............................................... 44
Gambar 4.8. Grafik perbandingan Output daya ............................................... 45
Gambar 4.9 Grafik efisiensi terhadap Panel Original ..................................... 46
Gambar 4.10.2 Dashboard Pengolahan data pada Excel ...................................... 54
Gambar 4.10.3 Perbandingan Grafik LCoE ......................................................... 55
Gambar 4.10.3 Perbandingan Grafik IRR ............................................................ 56
Gambar 4.10.3 Perbandingan Grafik NPV ........................................................... 58
Gambar 4.10.3 Perbandingan Grafik Payback Period .......................................... 59

xii

Universitas Indonesia
DAFTAR TABEL

Tabel 2.3.2. Jenis dan Perbandingan PCM.........................................................9


Tabel 2.5. State of The Art ............................................................................16
Tabel 3.3.. Alat dan Bahan .............................................................................22
Tabel 3.4. Peralatan Eksperimen ...................................................................25
Tabel 4.2.2 Spesifikasi PCM yang digunakan ................................................36
Tabel 4.10.1 Data dan Asumsi ..........................................................................54
Tabel 4.10.6. Data Kajian Ekonomi ...................................................................60

xiii

Universitas Indonesia
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Panel surya telah menjadi solusi energi alternatif yang populer karena
sifatnya yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui. Namun, efisiensi panel
surya sangat dipengaruhi oleh suhu operasionalnya. Pada suhu tinggi, efisiensi
panel surya cenderung menurun karena peningkatan resistansi internal yang
menghambat aliran listrik (Jones et al., 2020).
Fenomena ini mendorong penelitian untuk menemukan metode yang efektif
dalam mengurangi suhu operasional panel surya. Salah satu metode yang potensial
adalah pemanfaatan hembusan angin dari sistem pendingin tertutup (Closed
Cooling Water System) yang digunakan di pembangkit listrik. Sistem ini
menghasilkan hembusan angin yang kuat sebagai hasil dari proses pendinginan,
yang dapat digunakan untuk menurunkan suhu panel surya. Menurut penelitian
terbaru, angin dapat membantu menurunkan suhu permukaan panel surya, sehingga
meningkatkan efisiensi konversi energi.
Selain itu, dengan adanya hembusan angin yang kuat dari sistem pendingin
tertutup, diharapkan dapat terjadi penurunan suhu yang signifikan pada panel surya,
sehingga meningkatkan efisiensinya. Studi oleh (Jones et al., 2020) menunjukkan
bahwa penurunan suhu sebesar 1°C dapat meningkatkan efisiensi panel surya
hingga 0,5%. Oleh karena itu, pemanfaatan hembusan angin dari sistem pendingin
ini tidak hanya meningkatkan efisiensi energi tetapi juga memiliki potensi ekonomi
yang signifikan.
Di sisi lain, analisis tekno-ekonomi menjadi penting untuk menilai sejauh
mana manfaat dan biaya yang dihasilkan dari penerapan metode ini. Penelitian ini
akan memberikan gambaran mengenai keuntungan ekonomis dari peningkatan
efisiensi panel surya melalui pemanfaatan hembusan angin dari sistem pendingin
tertutup. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi
bagi pengembangan teknologi energi terbarukan yang lebih efisien dan ekonomis.
Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh hembusan angin
kuat dari sistem pendingin tertutup terhadap penurunan suhu panel surya dan

1
2

dampaknya terhadap efisiensi panel surya. Penelitian ini juga akan mengevaluasi
aspek tekno-ekonomi dari penerapan metode ini di pembangkit listrik.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang diangkat dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh hembusan angin dari sistem pendingin tertutup
(CCW) terhadap suhu operasional panel surya?
2. Seberapa besar peningkatan efisiensi panel surya akibat penurunan suhu
tersebut?
3. Bagaimana analisis tekno ekonomi dari penerapan hembusan angin kuat
dari sistem pendingin tertutup pada pembangkit listrik terhadap efisiensi
panel surya?
4. Bagaimana pengaruh kombinasi hembusan angin kuat dan penggunaan
Phase Change Material (PCM) terhadap penurunan suhu dan efisiensi panel
surya?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Mempelajari dampak hembusan angin dari CCW Fan Sistem serta PCM
pada operasional panel surya.
2. Mengukur dan menganilis dampak suhu terhadap efisiensi konversi energi
dan lifetime panel surya.
3. Melakukan analisis tekno-ekonomi terhadap penerapan cooling system dari
CCW fan dan PCM pada skala yang lebih besar.

1.4 Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut
1. Memberikan kontribusi ilmiah dalam bidang teknologi energi terbarukan.
2. Menjadi referensi bagi pengembangan metode pendinginan yang lebih
efisien untuk panel surya.

Universitas Indonesia
3

3. Memberikan panduan bagi praktisi dan akademisi dalam meningkatkan


efisiensi panel surya melalui pemanfaatan hembusan angin dari sistem
pendingin tertutup dan penggunaan PCM.

1.5 Batasan Penelitian


1. Pengambilan data dari beberapa waktu menggunakan 1 modul panel surya
untuk setiap variabel skenario eksperimen.
2. Studi ini fokus pada pengaruh hembusan angin dan kombinasi dengan PCM
terhadap penurunan suhu panel surya dalam sampel di lapangan.
3. Dampak hembusan angin CCW Fan yang mendinginkan panel tidak
termasuk dalam penelitian ini.
4. Analisis tekno-ekonomi dilakukan berdasarkan data yang tersedia dan
asumsi-asumsi tertentu yang diakui dalam literatur ilmiah.
5. Koefisien mechanical dan humidity degradation diasumsikan sama dalam
eksperimen untuk perhitungan lifetime panel surya.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh suhu terhadap efisiensi panel surya, serta metode pendinginan


yang digunakan untuk mengatasi masalah degradasi termal. Pengaruh radiasi,
konveksi, dan konduksi terhadap suhu panel surya sangat signifikan. Radiasi
matahari meningkatkan suhu panel, sementara konveksi dan konduksi berperan
dalam memindahkan panas dari panel ke lingkungan. Berbagai sistem pendinginan,
termasuk Closed Cooling Water (CCW) Fan dan Phase Change Material (PCM),
telah dianalisis dalam literatur untuk meningkatkan kinerja dan umur operasional
panel. Penelitian menunjukkan bahwa angin membantu menghilangkan panas
melalui konveksi, meningkatkan efisiensi panel surya (Kumar A et al., 2019).
Selain itu, PCM yang mampu menyerap dan melepaskan panas selama perubahan
fase, dapat digunakan untuk menjaga suhu panel tetap stabil, mengurangi fluktuasi
suhu yang merugikan. Studi terkait menunjukkan bahwa kombinasi hembusan
angin dan PCM dapat memberikan efek pendinginan yang lebih efektif,
meningkatkan efisiensi konversi energi. Analisis tekno ekonomi juga dilakukan
untuk mengevaluasi manfaat dan biaya dari penerapan metode ini, menunjukkan
bahwa meskipun biaya awal mungkin tinggi, keuntungan ekonomis dalam jangka
panjang signifikan. Tinjauan pustaka ini memberikan landasan teoritis untuk
penelitian lebih lanjut dalam meningkatkan efisiensi energi panel surya melalui
teknologi pendinginan yang inovatif.

2.1 Perpindahan Panas


Panel surya bekerja dengan mengkonversi energi radiasi matahari menjadi
energi listrik. Namun, dalam proses ini, perpindahan kalor memegang peranan
krusial, baik dalam efisiensi konversi maupun dalam manajemen termal panel itu
sendiri. Pemahaman mendalam tentang mekanisme konduksi, konveksi, dan radiasi
sangat penting untuk merancang, menginstal, dan mengoperasikan panel surya
secara optimal.

4
5

Gambar 2.1. Ilustrasi Perpindahan Panas (sumber : google AI imager)

Panel surya bekerja dengan mengkonversi energi radiasi matahari menjadi


energi listrik. Namun, dalam proses ini, perpindahan kalor memegang peranan
krusial, baik dalam efisiensi konversi maupun dalam manajemen termal panel itu
sendiri. Pemahaman mendalam tentang mekanisme konduksi, konveksi, dan radiasi
sangat penting untuk merancang, menginstal, dan mengoperasikan panel surya
secara optimal. Perpindahan kalor pada panel surya memungkinkan para peneliti
untuk mengembangkan strategi pendinginan yang efektif (misalnya, desain fin,
sistem pendingin cairan, optimasi aliran udara, atau dengan PCM), memilih
material dengan sifat termal yang tepat, dan memprediksi kinerja panel di bawah
berbagai kondisi lingkungan. Tujuan utamanya adalah untuk meminimalkan
kenaikan suhu panel, sehingga memaksimalkan efisiensi konversi energi dan
memperpanjang umur operasional sistem fotovoltaik.

2.2 Panel Surya


Panel surya adalah perangkat yang mengubah energi matahari menjadi
listrik menggunakan efek photovoltaic. Komponen utama panel surya adalah sel
surya yang terbuat dari bahan semikonduktor, biasanya silikon. Ketika cahaya
matahari mengenai sel surya, elektron dalam material semikonduktor menjadi
tereksitasi dan menghasilkan arus listrik. Efisiensi panel surya ditentukan oleh
kemampuan sel surya dalam mengkonversi cahaya matahari menjadi listrik, yang
dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk suhu operasional.
6

Menurut penelitian terbaru, efisiensi panel surya cenderung menurun seiring


peningkatan suhu operasional. Hal ini disebabkan oleh peningkatan resistansi
internal dan penurunan tegangan keluaran sel surya (Jones et al., 2020). Oleh karena
itu, menjaga suhu operasional panel surya tetap rendah sangat penting untuk
meningkatkan efisiensi energi yang dihasilkan.
Panel surya monocrystalline adalah jenis panel surya yang terbuat dari
kristal silikon tunggal. Teknologi ini dikenal sebagai salah satu yang paling efisien
dalam mengkonversi cahaya matahari menjadi listrik. Efisiensi tinggi ini
disebabkan oleh struktur kristal yang murni (Bahaidarah et al., 2019), yang
memungkinkan aliran elektron yang lebih efisien dan lebih sedikit hambatan
internal. Pada dasarnya, sel surya monocrystalline bekerja berdasarkan prinsip efek
photovoltaic. Ketika foton dari cahaya matahari mengenai sel surya, energi dari
foton ini ditransfer ke elektron dalam bahan semikonduktor (silikon). Energi ini
cukup untuk membebaskan elektron dari ikatannya, memungkinkan mereka
mengalir melalui material dan menciptakan arus listrik.

2.2.1 Struktur Panel Surya Monocrystalline


Panel surya monocrystalline memiliki beberapa komponen utama yang
berperan penting dalam fungsinya. Berikut adalah struktur dan fungsi masing-
masing komponen

Gambar 2.2.1. Struktur modul panel surya (sumber: ecoprogetti.2014)

Universitas Indonesia
7

Berikut adalah penjelesan masing-masing bagian dari panel surya tersebut :


1. Sel Surya Monocrystalline: Sel terbuat dari kristal silikon tunggal yang
dipotong menjadi wafer tipis. Kristal ini biasanya tumbuh menggunakan
metode Czochralski, di mana bijih silikon dimurnikan dan diubah menjadi
satu kristal besar, yang kemudian dipotong menjadi wafer. Struktur ini
memungkinkan efisiensi tinggi dalam konversi cahaya matahari menjadi
listrik karena jalur bebas elektron yang lebih panjang.
2. Lapisan Anti-Reflektif: Lapisan ini diterapkan di atas permukaan sel surya
untuk mengurangi pantulan cahaya dan meningkatkan jumlah cahaya yang
diserap oleh sel. Dengan demikian, lebih banyak foton yang tersedia untuk
menghasilkan arus listrik.
3. Kontak Depan dan Belakang: Kontak logam diterapkan pada bagian depan
dan belakang sel surya untuk mengumpulkan dan mentransfer arus listrik
yang dihasilkan. Kontak depan biasanya berbentuk grid untuk
memaksimalkan penyerapan cahaya, sementara kontak belakang mencakup
seluruh permukaan untuk efisiensi konduksi yang lebih baik.
4. Kaca Tempered, Panel surya dilapisi dengan kaca tempered di bagian depan
dan bahan polimer yang tahan lama di bagian belakang untuk melindungi
sel surya dari kondisi cuaca ekstrim dan kerusakan fisik. Bahan ini juga
membantu dalam menjaga integritas struktur internal sel surya.
5. Frame, Bingkai biasanya terbuat dari aluminium untuk memberikan
dukungan struktural dan perlindungan tambahan. Bingkai ini juga
memudahkan pemasangan panel di berbagai lokasi dan konfigurasi.
6. Junction Box, Kotak sambungan ini terletak di bagian belakang panel dan
berisi dioda bypass yang membantu dalam menghindari kehilangan daya
akibat bayangan sebagian atau kerusakan pada bagian tertentu dari panel.

2.2.2 Keunggulan Panel Surya Monocrystalline


- Efisiensi Tinggi, Panel surya monocrystalline memiliki efisiensi yang
lebih tinggi dibandingkan dengan jenis panel lainnya, biasanya
berkisar antara 15% hingga 20% atau lebih.
8

- Kinerja dalam Cahaya Rendah, Mereka memiliki kinerja yang baik dalam
kondisi cahaya rendah, seperti pada hari berawan atau di pagi dan sore hari.
- Daya Tahan, Panel monocrystalline umumnya memiliki umur panjang,
sering kali lebih dari 25 tahun dengan sedikit penurunan efisiensi.

2.3 Hembusan Angin


Hembusan angin merupakan salah satu metode alami untuk mendinginkan
panel surya. Angin yang melewati permukaan panel surya dapat membantu
menurunkan suhu operasional dengan cara menghilangkan panas melalui konveksi.
Studi oleh (Jay S Villan et al., 2021) menunjukkan bahwa pendinginan dengan
hembusan angin dapat meningkatkan efisiensi panel surya secara signifikan.
Mereka menemukan bahwa peningkatan kecepatan angin dapat menurunkan suhu
permukaan panel surya, sehingga meningkatkan kinerja fotovoltaik.

(sumber: T.Ibrahim et al., 2025 dan Jay S Villan et al., 2024)


Gambar 2.3. Grafik Pengaruh Hembusan angin pada suhu panel surya

Hembusan angin dari sistem pendingin tertutup (Closed Cooling Water


System) di pembangkit listrik menghasilkan aliran udara yang kuat dan stabil, yang
dapat dimanfaatkan untuk mendinginkan panel surya. Penelitian ini bertujuan untuk
mengeksplorasi efektivitas metode ini dalam mengurangi suhu operasional panel
surya dan meningkatkan efisiensinya.

Universitas Indonesia
9

2.4 Phase Change Material (PCM)


Phase Change Material (PCM) adalah bahan yang dapat menyimpan dan
melepaskan energi dalam bentuk panas melalui proses perubahan fase, biasanya
dari padat ke cair atau sebaliknya.

Gambar 2.3. Cara Kerja PCM (sumber : thermtest,2020)

PCM digunakan dalam berbagai aplikasi untuk pengendalian suhu karena


kemampuan mereka menyerap atau melepaskan sejumlah besar energi pada suhu
tertentu. PCM memiliki kapasitas penyimpanan panas yang tinggi, yang
membuatnya ideal untuk aplikasi pendinginan pasif pada perangkat seperti panel
surya. Ketika suhu lingkungan meningkat, PCM menyerap panas dan meleleh,
menyimpan energi dalam bentuk panas laten. Sebaliknya, ketika suhu menurun,
PCM mengkristal kembali dan melepaskan panas yang disimpan, menjaga suhu
lingkungan lebih stabil.

2.4.1 Cara Kerja PCM


PCM yang dirancang untuk suhu kerja antara 34-36oC sering digunakan
untuk aplikasi pendinginan di iklim tropis atau dalam kondisi operasi yang
menghasilkan panas berlebih. Berikut adalah cara kerja PCM dalam rentang suhu
tersebut.
Absorpsi Panas: Saat suhu panel surya meningkat dan mencapai titik leleh PCM
(sekitar 34-36 oC), PCM mulai menyerap panas dari lingkungan sekitarnya. Proses
10

ini menyebabkan PCM berubah fase dari padat menjadi cair, yang dikenal sebagai
peleburan. Energi panas disimpan sebagai panas laten selama fase perubahan ini.
- Stabilisasi Suhu Selama fase peleburan, suhu PCM tetap konstan meskipun
menyerap sejumlah besar panas. Ini membantu menjaga suhu panel surya
tetap stabil, mencegah peningkatan suhu yang dapat mengurangi efisiensi
konversi energi.
- Pelepasan Panas Ketika suhu lingkungan menurun di bawah titik leleh
PCM, PCM mulai mengkristal kembali dari cair menjadi padat. Proses ini
melepaskan energi panas yang disimpan selama fase peleburan. Panas yang
dilepaskan ini dapat membantu menjaga suhu panel surya tetap pada tingkat
optimal selama periode pendinginan.
- Siklus Berulang Proses absorpsi dan pelepasan panas ini dapat berulang
secara terus-menerus, memberikan solusi pendinginan yang berkelanjutan
dan efisien untuk panel surya.

2.4.2 Jenis-Jenis PCM pada Suhu 30-50°C

Tabel 2.4.2. Jenis dan Perbandingan PCM


No Jenis Suhu Kelebihan Kekurangan Harga
Kerja °C
1 Parafin 37-42 Stabilitas kimia yang Konduktivitas Rp.
baik, mudah termal rendah 40.000 –
diperoleh, dan harga 30.000
relatif murah.
2 Asam Lemak 30-45 Konduktivitas termal Harga lebih Rp.
lebih baik mahal 50.000 –
dibandingkan dibandingkan Rp.
parafin, stabilitas parafin 65.000
kimia baik
3 RubiTherm 34-36 Kapasitas panas Harga Relatif Rp.
RT35HC laten yang tinggi, lebih mahal 170.000
konduktivitas termal
yang baik.

Universitas Indonesia
11

2.5 Analisis Tekno Ekonomi


Analisis tekno ekonomi adalah metode evaluasi yang menggabungkan
aspek teknis dan ekonomi untuk menilai kelayakan dan manfaat dari suatu
teknologi atau metode. Dalam konteks penelitian ini, analisis tekno ekonomi
digunakan untuk menilai manfaat dan biaya dari penerapan hembusan angin dan
penggunaan PCM untuk pendinginan panel surya.
Analisis ini melibatkan pengukuran peningkatan efisiensi panel surya, biaya
implementasi teknologi, serta potensi penghematan energi dan keuntungan
ekonomi. Studi oleh (Bremner et al., 2020) menunjukkan bahwa meskipun biaya
awal untuk penerapan teknologi pendinginan mungkin tinggi, peningkatan efisiensi
energi dapat menghasilkan penghematan biaya yang signifikan dalam jangka
panjang.

2.5.1 LCoE
LCOE (Levelized Cost of Energy) adalah ukuran biaya rata-rata per unit
energi listrik yang dihasilkan oleh suatu pembangkit energi selama masa pakainya.
Ini adalah metrik penting untuk membandingkan kelayakan ekonomi berbagai
teknologi pembangkit listrik (misalnya, tenaga surya, angin, batu bara, nuklir)
dengan umur proyek, biaya modal, biaya operasional, dan faktor lainnya yang
berbeda-beda.

(2.1)

Keterangan
= Biaya investasi pada tahun t (Capital Expenditure / CapEx)
= Biaya operasi dan pemeliharaan pada tahun t
= Biaya bahan bakar jika ada pada tahun t
= Produksi energi listrik pada tahun t (dalam kWh atau MWh)
= Tingkat diskonto (discount rate)
= Periode waktu (tahun)
= Umur pakai proyek (dalam tahun)
12

2.5.2 IRR
Internal Rate of Return (IRR) adalah salah satu metrik keuangan yang
digunakan dalam analisis kelayakan investasi untuk memperkirakan potensi
profitabilitas suatu proyek. Secara sederhana, IRR adalah tingkat diskonto (discount
rate) di mana Net Present Value (NPV) dari semua arus kas (cash flow) suatu
proyek menjadi nol.
IRR menunjukkan tingkat pengembalian tahunan yang diharapkan dari
suatu investasi. Jika IRR lebih tinggi dari tingkat pengembalian yang disyaratkan
atau biaya modal (hurdle rate/cost of capital) perusahaan, maka proyek tersebut
dianggap layak untuk dilakukan. Sebaliknya, jika IRR lebih rendah, proyek tersebut
tidak disarankan.
IRR membantu membandingkan proyek-proyek dengan ukuran dan durasi
yang berbeda, karena ia menghasilkan persentase tunggal yang dapat dibandingkan.
Rumus dasar IRR melibatkan penyelesaian untuk 'r' (tingkat diskonto) dalam
persamaan NPV.

(2.2)

Keterangan
IRR = Internal Rate of Return
= Tingkat diskonto yang menghasilkan NPV positif (NPV₁).
= Tingkat diskonto yang menghasilkan NPV negatif (NPV₂).
NPV₁ = Net Present Value yang bernilai positif.
NPV₂ = Net Present Value yang bernilai negatif.

2.5.3 NPV
Net Present Value (NPV) atau Nilai Sekarang Bersih adalah salah satu
metode evaluasi investasi yang paling fundamental dan banyak digunakan dalam
analisis keuangan. NPV mengukur perbedaan antara nilai sekarang (present value)

Universitas Indonesia
13

dari arus kas masuk (cash inflow) dan nilai sekarang dari arus kas keluar (cash
outflow) selama periode proyek.
NPV mengambil semua pendapatan dan biaya yang diharapkan dari suatu
proyek di masa depan. Kemudian semua angka tersebut "didiskontokan" kembali
ke nilai saat ini menggunakan tingkat diskonto (discount rate) tertentu. Ini penting
karena uang yang kita miliki hari ini lebih berharga daripada jumlah uang yang
sama di masa depan (konsep time value of money).
Jika total nilai sekarang dari arus kas masuk lebih besar dari total nilai sekarang
dari arus kas keluar, maka NP V akan positif.

𝑁 𝐶𝑡
𝑁𝑃𝑉(𝑖, 𝑁) = ∑ 𝑡
(2.3)
𝑡=0 (1 + 𝑖)

Keterangan
NPV = Net Present Value
i = financial discount rate
t = time period
N = periode tahun
Ct = annual cashflow di tahun N

2.5.4 Payback Period


Payback Period adalah metode evaluasi investasi yang mengukur berapa
lama waktu yang dibutuhkan bagi suatu investasi untuk mengembalikan modal
awalnya melalui arus kas bersih yang dihasilkan oleh proyek tersebut. Dengan kata
lain, ini adalah titik impas di mana total pendapatan kumulatif dari proyek sama
dengan biaya investasi awal.

𝐵
𝑃𝐵𝑃 = 𝐴 + (2.4)
𝐶
Keterangan
PBP = Payback Period
A = Tahun terakhir NPV bernilai negatif
B = Nilai absolut NPV kumulatif pada akhir tahun A
14

C = Total arus kas tahunan selama setahun setelah A

Payback Period adalah metrik yang sering digunakan dalam evaluasi proyek PLTS,
terutama oleh investor perorangan, usaha kecil, atau pengembang yang
memprioritaskan likuiditas dan mitigasi risiko jangka pendek.

2.6 Studi Terkait


Studi terkait dengan pengaruh suhu sekitar (ambient) pendinginan panel
surya telah menunjukkan hasil yang tidak terlalu jauh berbeda. (Bahaidarah et al.,
2019) Menemukan bahwa penggunaan metode pendinginan aktif dapat
meningkatkan efisiensi panel surya hingga 10%, menunjukkan bahwa hembusan
angin dengan kecepatan tertentu dapat menurunkan suhu panel surya hingga 5°C
(Jain S et al., 2019). Sementara itu terdapat jurnal melaporkan bahwa kombinasi
PCM dengan pendinginan alami dapat meningkatkan efisiensi energi sebesar 17%
(Wangli et al., 2020).

2.6.2 Perhitungan Lifetime Panel Surya


Thermal Degradation adalah metode untuk memperhitungkan proses
penurunan performa atau efisiensi suatu perangkat atau material akibat paparan
suhu yang tinggi dalam jangka waktu yang lama. Pada sistem fotovoltaik (PV)
seperti panel surya, thermal degradation terjadi ketika suhu operasional panel
meningkat melebihi batas yang diizinkan, menyebabkan penurunan kinerja panel
dan memperpendek umur operasionalnya. Suhu yang lebih tinggi akan
mempercepat proses rekombinasi pembawa muatan dalam semikonduktor panel,
yang menyebabkan penurunan tegangan output dan efisiensi konversi energi.
Dalam panel surya, material semikonduktor, seperti silikon, memiliki sifat yang
sangat sensitif terhadap suhu. Ketika suhu naik, kualitas material semikonduktor
dapat menurun, yang menyebabkan penurunan tegangan dan penurunan daya
output. Degradasi termal juga dapat menyebabkan kerusakan fisik pada lapisan-
lapisan panel, termasuk lapisan pelindung dan material pengikat, yang pada
gilirannya memperburuk efisiensi jangka panjang.

Universitas Indonesia
15

Pengaruh suhu terhadap degradasi dapat diprediksi menggunakan rumus


Arrhenius, yang menghubungkan suhu dengan laju degradasi material. Dengan
rumus ini, kenaikan suhu sebesar 10°C dapat menyebabkan laju degradasi panel
surya meningkat hingga 20-30%. Oleh karena itu, sistem pendinginan pada panel
surya menjadi sangat penting, terutama di daerah dengan suhu tinggi atau iklim
yang ekstrem, untuk menjaga suhu operasional panel tetap stabil dan mencegah
degradasi yang cepat. Berikut persamaan Thermal Degradation Arrhenius :

(2.4)

Keterangan
= selisih suhu maksimum dan minimum modul (dalam Kelvin)
= suhu maksimum pada modul.
= konstanta pre-eksponensial (nilai 2.04)
= konstanta pengaruh suhu terhadap degradasi (nilai 2.24)
= kecepatan / banyaknya siklus suhu
= konstanta energi aktivasi untuk degradasi termal (nilai 0.43 eV).
= konstanta Boltzmann (8.62×10 −5 eV/K).

Penelitian ini akan mengintegrasikan temuan-temuan tersebut dengan fokus


pada penerapan hembusan angin dari sistem pendingin tertutup dan penggunaan
PCM untuk mendinginkan panel surya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi ilmiah yang signifikan dan menjadi dasar bagi
pengembangan teknologi energi terbarukan yang lebih efisien.
Tabel 2.6. State of The Art
Tahun Penulis Judul Penerbit Metodologi Kekurangan Hasil
2020 Iqbal et Improving PV Panel ScienceDirec Pengaturan eksperimental Terbatas pada Peningkatan efisiensi 10-15%
al. Efficiency using PCM t dengan PCM dan kondisi lingkungan dalam kondisi optimal
and Natural Cooling pendinginan angin alami tertentu
2021 Zhang et Wind-Assisted Cooling Elsevier Simulasi Computational Biaya komputasi Potensi peningkatan efisiensi 8-
al. Techniques for PV Fluid Dynamics (CFD) tinggi 12%
Systems
2021 Kumar et Thermal Regulation of Renewable Eksperimental dengan Membutuhkan Peningkatan efisiensi hingga
al. PV Panels using PCM Energy berbagai jenis PCM dan energi tambahan 20% dengan input energi
and Forced Convection Journal pendinginan udara paksa untuk konveksi tambahan
paksa
2022 Lee et al. Hybrid Cooling of PV IEEE Sistem hibrida yang Kompleksitas Regulasi suhu stabil dan
Panels using PCM and mengintegrasikan PCM dalam integrasi peningkatan efisiensi 18%
Wind dan pendinginan angin sistem
pasif
2022 Silva et Performance Analysis MDPI Pengujian lapangan di Terbatas pada zona Peningkatan efisiensi 12%
al. of PV Panels with PCM daerah bersuhu tinggi iklim tertentu dalam kondisi suhu tinggi
in Hot Climates

16
17

2023 Chen et Phase Change Materials Elsevier Tinjauan literatur dan Tidak ada validasi Mengidentifikasi PCM kunci
al. for PV Panel Cooling: meta-analisis eksperimental dan proyeksi peningkatan
A Review efisiensi 10-25%
2023 Garcia et Optimizing Wind Springer Simulasi lingkungan Spesifik pada Potensi peningkatan efisiensi
al. Cooling for PV Panels perkotaan dengan arsitektur 15% dengan aliran angin
in Urban Areas pengaturan angin perkotaan perkotaan optimal
2023 Patel et Experimental Study on Elsevier Pendekatan eksperimental Biaya awal PCM Peningkatan efisiensi 14%
al. PCM and Natural dan simulasi gabungan tinggi dengan stabilitas termal jangka
Convection for PV panjang
Cooling
2023 Ahmed et Economic Feasibility of Wiley Analisis techno-economic Biaya Analisis biaya-manfaat
al. PCM in PV Systems implementasi PCM menunjukkan ROI dalam 5
tinggi tahun dengan peningkatan
efisiensi
2024 Ramesh Wind-Driven Cooling Elsevier Uji lapangan di instalasi Tergantung pada Peningkatan efisiensi 10-15% di
et al. for Large-Scale PV PV skala besar ketersediaan angin instalasi besar
Farms yang konsisten
2024 Nguyen Advanced PCM MDPI Sintesis dan pengujian Tantangan dalam Bahan PCM baru meningkatkan
et al. Materials for PV Panel bahan PCM canggih stabilitas material efisiensi hingga 22% dalam
Temperature Control kondisi terkontrol
18

2024 Abdullah Integration of PCM and IEEE Desain sistem pintar Kompleksitas Peningkatan efisiensi 18%
et al. Wind Cooling in Smart dengan mekanisme sistem dan biaya dengan regulasi suhu otomatis
PV Systems pendinginan terintegrasi integrasi tinggi
2024 Fernande Dynamic Wind Cooling Springer Simulasi angin dinamis Membutuhkan Peningkatan efisiensi 16%
z et al. for Improved PV dan pemantauan real-time infrastruktur dengan penyesuaian
Performance pemantauan real- pendinginan dinamis
time
2024 Kumar & Hybrid PV Cooling: Elsevier Studi komparatif metode Instalasi dan Peningkatan efisiensi hingga
Gupta Combining PCM and pendinginan hibrida pemeliharaan yang 20% dalam berbagai kondisi
Wind Techniques kompleks lingkungan
2024 Li et al. Next-Generation PCM ScienceDirec Pengembangan dan Biaya produksi Peningkatan efisiensi 25%
for High-Efficiency PV t pengujian bahan PCM bahan baru tinggi dengan properti regulasi termal
Panels generasi berikutnya yang ditingkatkan

Kesimpulan SOTA
Suhu : Banyak studi menunjukkan hasil pendinginan dengan force air konstan suhunya skala laboratorium.
Fluktuasi : Belum adanya pembahasan tentang pengaruh dari suhu hembusannya itu sendiri jika dinaikkan atau diturunkan.
Konsumsi Energi : Beberapa metode, terutama yang melibatkan konveksi paksa, yang mungkin mengimbangi keuntungan efisiensi
namun membutuhkan input energi tambahan.

Universitas Indonesia
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


Penelitian ini menggunakan metode .3kuantitatif dengan pendekatan
eksperimental untuk menganalisis pengaruh hembusan angin dari sistem pendingin
tertutup (Closed Cooling Water System) dan penggunaan Phase Change Material
(PCM) terhadap efisiensi panel surya.

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

Eksperimen dilakukan dalam tiga variabel: (1) panel surya di atap


konvensional tanpa adanya hembusan angin tambahan, (2) panel surya di atasnya

19
20

CCW Sistem yang terdapat hembusan angin, dan (3) panel surya dengan modifikasi
penambahan PCM dan di atasnya CCW Sistem yang terdapat hembusan angin.

3.2 Lokasi Penelitian


Penelitian ini mengkaji pengaruh panel PhotoVoltaic terhadap perubahan
suhu yang diakibatkan hembusan Closed Cooling Water Fan dan Phase Change
Material. Lokasi pengujian dan pengambilan data penelitian ini di kecamatan Pluit,
Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara, dengan koordinat -6.109224577788762,
106.78620144078178 Penentuan objek karena memanfaatkan hembusan dari CCW
Fan eksisting dengan kecepatan 6m/s dan bangunan di sekitarnya namun tidak
terdampak hembusan angin CCW Fan.

Gambar 3.2.1. Lokasi Penelitian Satellite-View

Pluit lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap, sebuah wilayah di
Jakarta Utara yang terkenal dengan urbanisasi dan industrinya yang pesat. Pluit
terletak di daerah pesisir dan memiliki iklim tropis dengan suhu rata-rata yang
cukup tinggi, berkisar antara 30 hingga 35 derajat Celsius. Kondisi ini membuat
Pluit menjadi lokasi yang ideal untuk studi tentang sistem pendinginan photovoltaic.
Selain itu, intensitas irradiansi di Pluit bervariasi antara 1600 hingga 1900 W/m²,
memberikan kondisi lingkungan yang optimal untuk menguji efisiensi sistem
pendinginan pada panel surya.

Universitas Indonesia
21

Gambar 3.2.2. Lokasi Penelitian Intensitas Irradians

Lokasi Pluit mungkin memang bukan irradiansi yang terbaik rata – rata di
Indonesia, namun yang menjadi tujuan utama adalah memanfaatkan adanya lahan
atau area yang dapat dimanfaatkan.

Gambar 3.2.3. Lokasi sistem CCW Fan


22

Sistem CCW fan dengan kecepatan 6m/s diharapkan dapat dimanfaatkan


kembali untuk menurunkan suhu panel sekaligus menaikkan efisiensi dari Produksi
panel surya (Kong et al., 2020).
3.3 Peralatan dan Perakitan
Tabel 3.3. Alat dan Bahan
No Nama Banyaknya Keterangan / Spesifikasi
1 Panel Surya 3 MonoCrystalline, 20 Wp
2 PCM 1,2 kg Rubitherm RT35HC
3 Sensor : Arus, 3 Sensor modul kit yang tersertifikasi
Tegangan,
Anemometer,
temperatur
4 Pyranometer 1 Sensor pembaca analog iradiansi
5 Sistem Datalogger 2 ESP32-Wroom dengan 6 Input
Analog, Realtime Clock, LCD
Display, Wifi Modul
5 Personal 1 Downloader dan Browser akses
Komputer Spreadsheet
Berikut adalah penempatan sensor suhu pada modul Panel Surya yang tepat berada
di belakan (backsheet), hal ini dikarenakan suhu yang terpapar pada panel selalu
lebih tinggi di sisi panel belakang.

Sensor Suhu

PCM (Phase
Change Material

Gambar 3.3. rekombinasiSensor thermal pada backsheet dan PCM

Universitas Indonesia
23

3.4 Prosedur Penelitian


1. Identifikasi Masalah, melakukan identifikasi masalah yang mendasari
penurunan efisiensi panel surya. Penurunan efisiensi ini sering kali
disebabkan oleh peningkatan suhu operasional panel surya.
2. Studi Literatur dan Studi Lapangan, Penelitian ini dimulai dengan
melakukan studi literatur untuk mengumpulkan informasi dari berbagai
sumber tentang teknologi pendinginan panel surya dan efisiensinya. Studi
lapangan juga dilakukan untuk memahami kondisi lingkungan di Pluit,
Jakarta Utara, termasuk suhu sekitar dan intensitas irradiansi.
3. Pembuatan dan perakitan alat eksperimen serta datalogger. Mulai dari
pembuatan code pemrograman , testing pembacaan sinyal, pengkondisian
sinyal analog, penerapan matematika teknik untuk filter data dan integrasi
modul dapat terhubung ke internet serta google spreadsheet.
4. Eksperimen tempat pertama, perakitan tanpa CCW Fan seperti halnya PV
Rooftop pada umumnya, dan alat ukur seperti suhu thermocouple, sensor
arus, sensor tegangan, dan pyranometer.
5. Eksperimen tempat kedua, perakitan alat dan panel surya yang digunakan
dalam penelitian ini pada sistem pendingin Closed Cooling Water (CCW)
Fan, dan alat ukur seperti suhu thermocouple, sensor arus dan sensor
tegangan.
6. Pengujian dilakukan secara bersamaan (realtime),
- Yang pertama dengan merakit panel surya tanpa menggunakan sistem
pendingin CCW. Panel ini berfungsi sebagai kontrol untuk
membandingkan hasil dengan panel yang menggunakan pendingin.
- Pengujian kedua dilakukan dengan memasang panel surya pada sistem
pendingin CCW Fan tanpa tambahan material lain. Hal ini bertujuan
untuk melihat efektivitas hembusan sistem pendingin CCW secara
langsung.
- Pengujian ketiga melibatkan penggunaan panel surya yang dilengkapi
dengan sistem pendingin CCW fan serta Phase Change Material
(PCM). Kombinasi ini diharapkan dapat memberikan efek pendinginan
yang lebih baik.
24

7. Seting sistem dataloger agar bisa terhubung langsung dengan internet dan
mengirimkan data secara realtime ke spreadsheet.
8. Pengambilan Data, selama periode pengujian data dikumpulkan oleh sistem
DataLogger secara berkala antara pukul 05.00 hingga 19.00. Data yang
diambil meliputi suhu dan intensitas irradiansi menggunakan pyranometer.
9. Pengolahan Data, langkah berikutnya adalah mengolah data tersebut sesuai
dengan metode dan data pendukung. Pengolahan data dilakukan untuk
menganalisis suhu operasional panel, output daya listrik, dan efisiensi
konversi energi.

Panel Surya (Rooftop Alamiah) Panel Surya (di atas CCW)

+ PCM

Sensor Suhu Pyranometer Sensor Suhu Sensor Arus Sensor Tegangan

Sensor Arus Sensor Tegangan

Internet Spreadsheet

Data Logger

Data Logger

PC Downloader, Excel

Gambar 3.4. Desain setup pengambilan data

Beberapa peralatan digunakan untuk mengukur suhu, radiasi matahari, dan efisiensi
konversi energi panel surya. Peralatan-peralatan tersebut dirancang untuk
mendapatkan data yang akurat dan mendetail, sehingga memungkinkan analisis

Universitas Indonesia
25

yang komprehensif tentang pengaruh sistem pendinginan terhadap performa panel


surya.
Tabel 3.4. Peralatan Eksperimen
No Nama Spesifikasi Keterangan
1 Panel Surya 20 Wp Semua skenario original, ccw dan pcm
2 Battery 12V 5000mAh Sebagai penyimpan energi
3 SCC 40W MPPT Sebagai controller dan penyalur daya
4 Lampu 20W Led Sebagai beban

Di atas merupakan data penggunaan eksperimen pada setiap skenario, sehingga


diharapkan beban dan outputnya identik jika tanpa ada intervensi lainnya.

3.5 Setup dan Piranti Eksperimen


Datalogger dengan ESP32 dipilih karena memiliki kemampuan pemrosesan
data yang cukup, hemat energi, serta dilengkapi dengan modul Wi-Fi internal yang
memudahkan transmisi data secara nirkabel. Setiap panel surya dilengkapi dengan
tiga sensor suhu DS18B20 yang ditempatkan pada permukaan back panel, sehingga
mampu merepresentasikan distribusi suhu pada seluruh permukaan panel. Selain
itu, untuk memantau intensitas radiasi matahari, digunakan sensor pyranometer
SEM228A yang diletakkan pada posisi optimal agar mendapatkan paparan radiasi
matahari yang setara dengan panel surya. Output analog dari pyranometer ini
diubah menjadi sinyal digital melalui ESP32 agar dapat diproses lebih lanjut.
Untuk mengukur arus dan tegangan keluaran dari panel surya, digunakan
modul INA3221 yang terhubung langsung ke terminal output panel. Modul
INA3221 mampu mengukur tiga saluran arus dan tegangan secara bersamaan,
sehingga setiap panel dapat dipantau secara komprehensif. Semua data dari sensor-
sensor tersebut, yaitu data suhu dari DS18B20, arus dan tegangan dari INA3221,
serta radiasi dari pyranometer dikumpulkan dan diolah oleh datalogger ESP32.
26

Pyranometer
Beban

SCC

Data Data
Iradiansi - Suhu Panel
- Tegangan
- Arus Battery 12V
MiFi 4G

Datalogger Gambar 3.5. Setup eksperimen

3.5.1 Smoothing Pengambilan Data


Exponential Moving Average (EMA) adalah salah satu metode pemulusan
data yang sangat efektif untuk menganalisis tren dalam dataset yang memiliki
fluktuasi atau noise. Berbeda dengan Simple Moving Average (SMA) yang
memberikan bobot yang sama pada semua data dalam periode yang ditentukan,
EMA memberikan bobot lebih pada data terbaru, sehingga lebih responsif terhadap
perubahan yang terjadi dalam data terkini. Oleh karena itu, EMA sering digunakan
dalam analisis data waktu seperti harga saham, suhu, dan data aliran energi,
termasuk dalam penelitian panel surya untuk meminimalkan fluktuasi yang
disebabkan oleh variasi kondisi eksternal. Rumus EMA dapat ditulis sebagai
berikut

Universitas Indonesia
27

(3.1)

Keterangan
= nilai EMA pada waktu t (periode saat ini)
= nilai data aktual pada waktu t
= nilai EMA pada periode sebelumnya
= smoothing factor (faktor pemulusan)

Nilai α menentukan seberapa cepat data terbaru mempengaruhi nilai EMA.


Semakin kecil nilai N (periode yang lebih pendek), semakin besar α, yang berarti
data terbaru akan memiliki pengaruh yang lebih besar. Sebaliknya, semakin besar
N, semakin kecil nilai α, yang menunjukkan bahwa data sebelumnya memiliki
pengaruh yang lebih besar. Pemilihan N yang tepat sangat penting, tergantung pada
jenis data dan tujuan analisis.
Untuk menghitung EMA pertama (pada periode pertama), biasanya digunakan
Simple Moving Average (SMA) sebagai pengganti, yang dihitung dengan
menjumlahkan nilai data dalam periode N dan membaginya dengan N. Setelah
EMA pertama dihitung, rumus di atas dapat digunakan untuk menghitung EMA
selanjutnya dengan menggunakan nilai EMA sebelumnya dan nilai data aktual pada
periode tersebut.
Salah satu keunggulan sistem ini adalah kemampuannya untuk
mengirimkan data hasil pengukuran secara otomatis ke layanan cloud
menggunakan koneksi Wi-Fi. Setiap ESP32 telah diprogram untuk terhubung ke
jaringan Wi-Fi lokal dan melakukan upload data ke Google Spreadsheet melalui
API setiap satu menit sekali. Integrasi dengan Google Spreadsheet memberikan
kemudahan dalam pemantauan data secara real-time dan memungkinkan kami
untuk mengakses serta menganalisis data kapan saja dan dari mana saja. Data yang
terekam mencakup waktu pengukuran, suhu panel pada tiga titik, arus, tegangan,
daya keluaran, serta intensitas radiasi matahari.
Dengan sistem datalogger yang terintegrasi internet ini, seluruh proses
pengumpulan data menjadi lebih efisien dan akurat, meminimalkan potensi human
error serta kehilangan data akibat kelalaian pencatatan manual. Data yang diunggah
28

ke spreadsheet tersusun secara rapi sesuai waktu pengambilan, sehingga sangat


memudahkan dalam proses analisis statistik, pemodelan, serta interpretasi hasil
eksperimen.

3.6 Analisis Tekno Ekonomi

3.6.1 Teknis
Menghitung peningkatan efisiensi panel surya akibat pendinginan dengan
hembusan angin dan penggunaan PCM. Mengevaluasi stabilitas suhu dan performa
panel surya dalam kondisi operasi yang berbeda. Menganalisis pengaruh sistem
pendinginan terhadap suhu operasional dan efisiensi konversi energi panel surya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental yang melibatkan pembuatan
sistem datalogger, pengukuran suhu, arus, tegangan, dan radiasi matahari pada
panel surya, serta penerapan metode Exponential Moving Average (EMA) untuk
menghaluskan data yang dihasilkan.
Setelah data terkumpul, dilakukan analisis statistik untuk mengukur dampak
suhu terhadap efisiensi konversi energi dari masing-masing sistem pendinginan.
Exponential Moving Average (EMA) digunakan untuk menghaluskan data dan
mengurangi fluktuasi yang tidak diinginkan, sehingga hasil eksperimen dapat lebih
akurat dan representatif. Hasil yang diperoleh kemudian digunakan untuk
menentukan efektivitas sistem pendinginan dalam menjaga suhu operasional panel
dan meningkatkan efisiensi energi.
Suhu yang tinggi dapat mempercepat laju degradasi panel surya, khususnya
pada material semikonduktor yang terdapat pada sel surya. Panel surya berbasis
silikon memiliki sifat termal yang menyebabkan penurunan tegangan dan
penurunan daya output ketika suhu operasional meningkat. Dalam penelitian ini,
untuk menghitung pengaruh suhu terhadap degradasi, digunakan rumus Coffin-
Manson relationship, yang menghubungkan degradasi material dengan suhu yang
diterima oleh panel.
Rumus ini mengasumsikan bahwa kenaikan suhu sebesar 10°C dapat
mempercepat penurunan efisiensi panel surya sekitar 20 hingga 30%. Penurunan
efisiensi ini berhubungan dengan proses rekombinasi pembawa muatan di dalam

Universitas Indonesia
29

semikonduktor, yang lebih cepat terjadi pada suhu tinggi. Untuk mengukur
pengaruh suhu terhadap degradasi, setiap panel dalam eksperimen ini dipasang
dengan sensor suhu DS18B20, yang mampu mendeteksi fluktuasi suhu dengan
presisi tinggi.

3.6.2 Ekonomi
Menghitung biaya implementasi sistem pendingin dan PCM.
Menganalisis penghematan energi dan keuntungan ekonomis yang dihasilkan dari
peningkatan efisiensi panel surya.

3.7 Validasi Data


Untuk memastikan validitas dan reliabilitas data, beberapa langkah berikut
akan diambil
1. Kalibrasi Peralatan, kalibrasi semua alat ukur sebelum digunakan dalam
eksperimen.
2. Pengulangan Pengujian, melakukan pengulangan pengujian dengan waktu
beberapa hari yang data yang diambil.
3. Kontrol Kondisi Lingkungan, memastikan kondisi lingkungan (suhu dan
kecepatan angin, serta intensitas matahari) sesuai selama pengujian.

3.8 Kesimpulan Metodologi


Metodologi penelitian ini dirancang untuk memberikan analisis yang
komprehensif mengenai pengaruh hembusan angin dari sistem pendingin tertutup
dan penggunaan PCM terhadap efisiensi panel surya. Dengan menggunakan
pendekatan eksperimental, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan
kontribusi yang signifikan dalam pengembangan teknologi energi terbarukan. Pusat
dari eksperimen ini adalah penggunaan mikrokontroler ESP32, yang berfungsi
sebagai datalogger untuk mengumpulkan dan mengirimkan data dari berbagai
sensor. Sensor DS18B20 digunakan untuk mengukur suhu permukaan panel surya
di beberapa titik strategis, memastikan pengukuran suhu yang representatif.
Penggunaan pyranometer SEM228A memungkinkan pengukuran intensitas radiasi
30

matahari yang diterima panel, sedangkan modul INA3221 digunakan untuk


memantau arus dan tegangan yang dihasilkan oleh panel surya. Dengan
menggunakan kombinasi sensor suhu, radiasi, arus, dan tegangan, eksperimen ini
mampu memberikan gambaran menyeluruh tentang kinerja panel surya dalam
kondisi nyata.
Sistem pendinginan yang diterapkan, termasuk pendinginan alami, CCW
Fan, dan kombinasi CCW Fan dengan PCM, diuji untuk mengevaluasi seberapa
efektif masing-masing sistem dalam menurunkan suhu operasional panel dan
meningkatkan efisiensi energi. Pengukuran suhu yang konsisten dan pemantauan
arus serta tegangan memungkinkan analisis yang mendalam mengenai pengaruh
suhu terhadap efisiensi konversi energi panel surya. Dengan menggunakan
pendekatan ini, data yang dikumpulkan memberikan wawasan yang kuat tentang
bagaimana pengendalian suhu melalui berbagai sistem pendinginan dapat
mempengaruhi kinerja dan umur panjang panel surya. Penggunaan peralatan yang
tepat dan metodologi yang komprehensif memastikan bahwa eksperimen ini
memberikan hasil yang valid dan dapat diandalkan untuk perencanaan dan
pengembangan sistem energi surya di masa depan.

Universitas Indonesia
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Perakitan dan Pembuatan Alat Eksperimen


Eksperimen dimulai dengan perakitan sistem pengukuran yang melibatkan
pembuatan alat datalogger menggunakan ESP32, yang dilengkapi dengan
berbagai sensor untuk mengukur parameter yang relevan, yaitu sensor
pyranometer untuk radiasi matahari, sensor suhu untuk mengukur suhu
permukaan panel surya, serta sensor arus dan tegangan untuk memantau output
energi dari panel surya.

4.1.1 Sistem Datalogger


Proses perakitan dimulai dengan pembuatan alat datalogger yang berbasis
ESP32, sebuah mikrokontroler yang memiliki kemampuan koneksi nirkabel
melalui Wi-Fi dan Bluetooth. ESP32 ini dipilih karena kemampuannya dalam
mengolah data secara real-time dan mengirimkannya ke server atau aplikasi
pemantauan untuk analisis lebih lanjut dalam hal ini kami menggunakan fasilitas
dari Google Spreadsheet. Pada alat datalogger ini, berbagai sensor dipasang untuk
mengukur parameter-parameter penting dalam eksperimen.

Gambar 4.1.1. Datalogger 1 dengan modul pengkondisian sinyal

31
32

4.1.2 Pyranometer
Sensor pyranometer yang digunakan adalah model SEM228A dari Chengdu
Sentec Technology Co. Ltd. Sensor ini dirancang untuk mengukur total radiasi
matahari yang diterima oleh panel surya. Dengan rentang pengukuran 0 hingga
1800 W/m², sensor pyranometer ini memiliki output sinyal analog dalam bentuk 4-
20 mA yang dapat digunakan untuk menghubungkan sensor dengan sistem
pengukuran berbasis mikrokontroler, dalam hal ini ESP32.Pyranometer SEM228A
ini dipilih karena kemampuannya yang sangat baik dalam mengukur intensitas
radiasi matahari secara akurat pada rentang yang relevan untuk eksperimen. Output
4-20 mA memberikan sinyal yang stabil dan dapat dengan mudah dibaca oleh
mikrokontroler, memungkinkan data radiasi matahari untuk diproses lebih lanjut.
Sensor ini memerlukan pasokan daya antara 10V hingga 30V DC, yang cocok
dengan sumber daya yang tersedia dalam pengaturan eksperimen ini.

Gambar 4.1.2.a. Sensor Pyranometer

Penempatan sensor pyranometer dilakukan pada posisi yang langsung


terpapar sinar matahari dekat dengan percobaan letak pertama yang Rooftop (tanpa
pendingin tambahan) , yang memungkinkan pengukuran radiasi matahari secara
real-time dan konsisten selama eksperimen. Pengukuran ini sangat penting dalam
menentukan tingkat konversi energi yang dihasilkan oleh panel surya, karena

Universitas Indonesia
33

radiasi matahari adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi efisiensi panel
surya. Dengan menggunakan sensor pyranometer ini, data yang diperoleh dapat
dianalisis untuk melihat pengaruh variasi radiasi matahari terhadap suhu
operasional panel dan efisiensinya. Pengukuran ini merupakan bagian integral
dalam menentukan bagaimana sistem pendinginan mempengaruhi kinerja panel
surya secara keseluruhan.

Gambar 4.1.2.b. Proses Kalibrasi Pyranometer dengan NRG Weather Station UI

Untuk memastikan bahwa sensor pyranometer ini memberikan pembacaan


yang akurat, alat ini telah dikalibrasi dengan menggunakan weather station milik
Universitas Indonesia, yang menggunakan perangkat pengukur radiasi matahari
merk NRG. Kalibrasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa sensor pyranometer
SEM228A memberikan pembacaan radiasi yang konsisten dan sesuai dengan
standar pengukuran radiasi matahari yang diakui secara internasional. Proses
kalibrasi dilakukan dengan membandingkan pembacaan sensor pyranometer
dengan pembacaan radiasi matahari yang tercatat oleh weather station NRG,
memastikan bahwa sensor SEM228A memberikan hasil yang sebanding dengan
pengukuran yang dilakukan di lokasi yang terstandarisasi.
34

4.1.3 Sensor Suhu, Arus dan Tegangan


Terdapat beberapa macam sensor yang tersedia di pasaran, namun sensor
suhu DS18B20 yang paling efektif untuk eksperimen ini. Sensor ini untuk
mengukur suhu pada permukaan panel dengan akurasi tinggi. Sensor DS18B20
merupakan sensor suhu digital yang menggunakan antarmuka komunikasi 1-Wire,
memungkinkan pengukuran suhu yang presisi dalam rentang -55°C hingga 125°C
dengan akurasi hingga 0.5°C.

Gambar 4.1.3.a DS18B20 pembacaan suhu

Setiap panel dilengkapi dengan tiga sensor suhu yang dipasang pada posisi
yang berbeda untuk memastikan pengukuran suhu yang representatif dari seluruh
permukaan panel. Ketiga sensor ini terhubung dengan ESP32 yang digunakan
sebagai mikrokontroler utama, memungkinkan pengumpulan data suhu secara
simultan dan real-time.
Sebelum digunakan dalam eksperimen, sensor-sensor ini telah dikalibrasi di
laboratorium kontrol instrumen pembangkitan, yang dilaksanakan untuk
memastikan bahwa pembacaan suhu yang dihasilkan oleh sensor sesuai dengan
standar yang telah ditentukan. Proses kalibrasi ini melibatkan perbandingan antara
pembacaan sensor dengan termometer standar yang telah terkalibrasi, sehingga
hasil pengukuran dapat dipastikan akurat dan dapat diandalkan dalam analisis suhu
panel surya.
Selain itu, untuk mengukur arus dan tegangan yang dihasilkan oleh panel
surya, digunakan modul INA3221, yang merupakan modul pengukur arus dan

Universitas Indonesia
35

tegangan berkemampuan tinggi. Modul INA3221 dapat memantau tiga saluran arus
secara bersamaan dengan presisi yang tinggi, serta mengukur tegangan untuk
memberikan informasi lengkap tentang kinerja panel surya. Modul ini mendukung
komunikasi I2C yang memungkinkan data dapat dibaca dengan mudah oleh
mikrokontroler ESP32. Setiap ESP32 yang digunakan dalam eksperimen ini
dilengkapi dengan modul INA3221 untuk memantau output energi yang dihasilkan
oleh setiap panel surya.

Gambar 4.1.3.b. Power Monitor Module

Sensor DS18B20 dan modul INA3221 yang terintegrasi dengan ESP32


memungkinkan pengukuran parameter-parameter kritis secara bersamaan, yaitu
suhu, arus, dan tegangan. Data yang diperoleh dari ketiga sensor suhu dan modul
pengukur arus serta tegangan ini dikumpulkan dan dianalisis untuk mengetahui
pengaruh suhu permukaan terhadap efisiensi konversi energi panel surya, serta
untuk mengevaluasi seberapa efektif sistem pendinginan yang diterapkan pada
masing-masing panel.
Sebelum digunakan, modul INA3221 juga telah melalui proses kalibrasi di
laboratorium kontrol instrumen pembangkitan. Proses kalibrasi ini bertujuan untuk
memastikan bahwa pembacaan arus dan tegangan yang diterima oleh modul sesuai
dengan nilai standar yang diinginkan. Kalibrasi ini dilakukan dengan
membandingkan pembacaan modul INA3221 dengan multimeter kalibrasi yang
36

memiliki tingkat akurasi tinggi, sehingga memastikan data yang diperoleh selama
eksperimen valid.

Gambar 4.1.3.c. Proses kalibrasi sensor arus, tegangan dan suhu

4.2 Sistem Pendingin


Terdapat 2 panel surya yang dipasang pada area hembusan dari CCW Fan
pembangkit PLTGU dan penambahan PCM (Phase Change Material) yang dapat
menyerap dan menyimpan energi panas.

1.1.1. 4.2.1 CCW Fan


CCW Fan (Closed Cooling Water) adalah sebuah sistem pendingin yang
sudah ada pada pembangkit thermal, terutama PLTGU. Dalam hal ini sistem pada
CCW Fan terdapat 12 kipas yang berputar untuk mendinginkan radiator.

Universitas Indonesia
37

Gambar 4.2.1. Pengukuran kecepatan hembusan CCW Fan dan Suhunya

Hembusan CCW Fan ini diharapkan dapat meningkatkan konveksi pada


permukaan panel surya dengan hembusan angin yang kuat. Sistem ini dilengkapi
dengan kipas yang menghasilkan aliran udara dengan kecepatan hingga 7 m/s dan
suhu hembusan udara yang berada dalam rentang 30-35°C. Hembusan angin ini
berfungsi untuk mengalirkan panas yang diserap oleh panel surya selama proses
konversi energi, sehingga dapat menurunkan suhu operasional panel.

4.2.2 PCM (Phase Change Material)


Sistem pendinginan kedua yang digunakan adalah PCM, yang merupakan
material yang dapat menyerap atau melepaskan energi panas pada saat terjadi
perubahan fase (dari padat ke cair atau sebaliknya). PCM ini memiliki titik lebur
dalam rentang 34-36°C, yang cocok untuk menstabilkan suhu panel surya yang
bekerja dalam kisaran suhu tersebut.

Tabel 4.2.2 Spesifikasi PCM yang digunakan


Parameter Nilai Satuan
Melting area 34–36 °C
Congealing area 36–34 °C
Heat storage capacity ±7.5% 240 kJ/kg
Heat storage capacity ±7.5% 67 Wh/kg
Specific heat capacity 2 kJ/kg·K
38

Density solid (at 25°C) 0.88 kg/l


Density liquid (at 40°C) 0.77 kg/l
Heat conductivity (both phases) 0.2 W/(m·K)
Volume expansion 12 %
Flash point 177 °C
Max. operation temperature 70 °C

Sistem CCW fan yang dilengkapi dengan PCM bekerja dengan cara
menyerap energi panas yang diserap oleh panel surya. Ketika suhu panel meningkat
dan melebihi titik lebur PCM (sekitar 35°C), material ini akan mulai mencair dan
menyerap energi panas, mencegah suhu panel surya meningkat lebih jauh. Setelah
panel dingin dan suhu turun di bawah titik lebur PCM, material akan kembali
mengeras, menyimpan energi yang telah diserap sebelumnya.

Gambar 4.2.2. PCM di dalam pouch dan ditempelkan pada back panel

4.3 Pengaturan Panel Surya


Pada tahap berikutnya, panel surya yang digunakan dalam eksperimen ini
dipilih dengan spesifikasi yang identik, yaitu panel surya monocrystalline dengan
daya keluaran maksimum yang sama. Tiga konfigurasi panel digunakan dalam
eksperimen ini, yaitu panel dengan pendinginan alami, panel dengan sistem CCW
fan, dan panel dengan CCW fan yang dilengkapi dengan Phase Change Material
(PCM) di bawahnya.

Universitas Indonesia
39

Gambar 4.3.2. Panel Surya dengan pendinginan alami

Panel pertama adalah panel dengan pendinginan alami, yang hanya


mengandalkan konveksi udara sekitar untuk mendinginkan permukaan panel. Panel
kedua dilengkapi dengan sistem Closed Cooling Water (CCW) fan yang dapat
menghasilkan aliran udara dengan kecepatan 7 m/s dan suhu hembusan antara 30°C
hingga 35°C. Panel ketiga menggunakan sistem CCW fan yang sama, namun
dengan tambahan PCM di bawah permukaan panel untuk menyerap dan
menyimpan energi kalor yang diterima oleh panel surya.
Sistem CCW Fan eksisting dari pembangkit mempunyai pelindung
berbentung besi-besi lurus yang kita manfaatkan untuk meletakkan bracket dari 2
panel surya ini. Sedangkan PCM sudah dipasang sebelumnya dengan cara
melelehkan PCM terlebih dahulu hingga suhu 45oC lanjut dimasukkan ke dalammm
pouch aluminium dan ditata menempel pada back panel. Setelah itu diberikan
pelindung seperti anyaman besi agar PCM tidak jatuh dan dapat menempel pada
panel sehingga dapat menyerap energi panas dengan maksimal.
40

Gambar 4.3.2. Penempatan Panel di atas CCW Fan

4.4 Pengambilan Data


Dalam eksperimen ini, Exponential Moving Average (EMA) digunakan
untuk memfilter data dan menghaluskan fluktuasi yang tidak diinginkan akibat
variabilitas suhu, arus, tegangan, dan radiasi matahari. Penggunaan EMA bertujuan
untuk meningkatkan akurasi analisis dengan mengurangi noise dalam data yang
dapat mengganggu interpretasi hasil. EMA adalah metode pemulusan yang
memberikan bobot lebih besar pada data terbaru dan lebih sedikit pada data yang
lebih lama, sehingga lebih responsif terhadap perubahan terbaru dalam variabel
yang diamati.

Gambar 4.5.a Penggunaan EMA filter pada code program

Sistem pengambilan data dirancang untuk dapat mengirimkan informasi


secara otomatis ke Google Spreadsheet melalui koneksi internet. Sistem ini

Universitas Indonesia
41

menggunakan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat pengolahan data dan


penghubung antara sensor-sensor yang terpasang pada panel surya dengan layanan
penyimpanan data berbasis cloud. Setiap ESP32 terhubung ke jaringan Wi-Fi lokal,
yang memungkinkan pengiriman data secara langsung ke Google Spreadsheet
dalam interval waktu yang telah ditentukan, yaitu setiap satu menit.

Pengukuran Output Energi


Selain pengukuran suhu, pengukuran output energi dari masing-masing panel juga

Gambar 4.5.b Tampilan spreadsheet otomatis

Setelah data dikumpulkan dan diproses, datalogger ESP32 mengirimkan


hasil pengukuran ke Google Spreadsheet secara otomatis. Proses pengiriman ini
dilakukan dengan menggunakan API Google Sheets, yang memungkinkan data
untuk terupdate secara real-time dalam spreadsheet. Setiap baris di spreadsheet
mewakili satu siklus pengukuran, yang mencatat waktu pengambilan data, suhu
panel pada tiga titik yang berbeda, arus dan tegangan panel, serta nilai radiasi
matahari yang diterima oleh panel.
Keunggulan dari sistem ini adalah kemudahan dalam pemantauan data
secara real-time. Dengan koneksi internet yang stabil, kami dapat mengakses data
kapan saja dan dari mana saja, hanya dengan membuka spreadsheet yang terhubung.
Hal ini sangat berguna dalam eksperimen yang memerlukan pengumpulan data
secara terus-menerus dan dalam jangka waktu panjang, karena untuk memantau
kondisi panel surya dan mengidentifikasi adanya anomali atau kesalahan sistem
dengan cepat.
42

4.5 Data Analisa Iradiasi


Pengukuran intensitas radiasi matahari (iradiasi) dilakukan untuk
menganalisis pengaruhnya terhadap suhu dan efisiensi konversi energi pada panel
surya. Data iradiasi yang diperoleh sangat penting karena langsung mempengaruhi
kinerja panel surya, yang akan menghasilkan daya lebih besar pada intensitas
radiasi yang tinggi. Grafik berikut menunjukkan fluktuasi iradiasi matahari
sepanjang hari, mulai dari pukul 05:00 hingga 19:00, serta bagaimana perubahan
tersebut berhubungan dengan kinerja sistem pendinginan dan suhu panel.
Penjelasan berikut akan menggambarkan pola radiasi matahari yang terukur selama
periode eksperimen dan pengaruhnya terhadap panel surya.

900
800
Iradiasi (W/m2)

700
600
500
400
300
200
100
0

Jam

Gambar 4.5. Sebaran iradiasi matahari dalam sehari

Grafik yang ditampilkan menggambarkan data iradiasi matahari yang


diterima oleh panel surya selama periode eksperimen, mulai dari pukul 05:00
hingga 19:00. Data ini menunjukkan fluktuasi intensitas radiasi matahari sepanjang
hari, yang berpengaruh langsung terhadap kinerja panel surya dalam mengonversi
energi.
Pada pagi hari, sekitar pukul 05:00 hingga 07:00, intensitas radiasi matahari
masih rendah, dengan nilai iradiasi berada di bawah 100 W/m². Seiring dengan
naiknya matahari, intensitas radiasi mulai meningkat secara signifikan, mencapai
puncaknya sekitar pukul 12:00 hingga 13:00, dengan nilai iradiasi mencapai lebih

Universitas Indonesia
43

dari 900 W/m². Puncak ini menunjukkan periode terkuat dari radiasi matahari, di
mana panel surya dapat menghasilkan daya maksimal. Setelah mencapai puncaknya,
nilai iradiasi mulai menurun, mengikuti pergerakan matahari yang bergerak ke arah
barat, dan kembali menurun secara signifikan setelah pukul 15:00 hingga 19:00.
Perubahan iradiasi yang cukup tajam dan fluktuatif antara pukul 10:00
hingga 14:00, yang tampak pada grafik, mungkin disebabkan oleh variasi dalam
kondisi atmosfer, seperti awan atau polusi, yang mempengaruhi jumlah radiasi yang
diterima oleh panel surya pada saat itu. Meskipun demikian, puncak radiasi
menunjukkan bahwa eksperimen ini dilakukan pada hari dengan kondisi sinar
matahari yang cukup kuat, memberikan hasil yang representatif untuk mengukur
performa panel surya di bawah intensitas radiasi yang tinggi.
Grafik ini juga memberikan gambaran penting terkait dengan pengaruh
fluktuasi radiasi terhadap suhu dan efisiensi panel surya. Ketika radiasi tinggi, suhu
panel cenderung meningkat, yang berpotensi mengurangi efisiensi konversi energi.
Oleh karena itu, pengaruh radiasi ini menjadi salah satu parameter kunci dalam
mengevaluasi efektivitas sistem pendinginan yang diterapkan pada panel surya,
yang menjadi fokus utama dalam eksperimen ini.

4.6 Data Analisa Suhu Panel


Pengambilan data ini berlangsung berhari – hari namun pada bulan Mei
lebih sering hujan sehingga kami mengambil 1 hari yang dominan lebih panas
cuacanya sehingga iradiansi mataharinya pun relatif lebih besar.
44

Temp Comparasion
Temp Org Temp CCW Temp PCM
70

60

50
Suhu (oC)

40

30

20

10

Jam

Gambar 4.6. Grafik perbandingan suhu pada 3 Skenario

Pada grafik yang ditampilkan, dapat terlihat perbandingan suhu operasional


dari tiga jenis panel surya yang diuji, yakni panel dengan pendinginan alami (Temp
Org), panel dengan sistem Closed Cooling Water (CCW) Fan (Temp CCW), dan
panel dengan kombinasi CCW Fan serta Phase Change Material (PCM) (Temp
PCM). Grafik ini menunjukkan perubahan suhu pada masing-masing panel
sepanjang waktu, yang terukur dari pagi hingga sore hari.
Pada awal pengukuran, suhu ketiga panel relatif rendah, tetapi seiring
dengan peningkatan intensitas radiasi matahari, suhu panel-panel tersebut mulai
meningkat. Panel yang menggunakan sistem pendinginan alami (Temp Org)
menunjukkan kenaikan suhu yang lebih tajam dibandingkan dengan dua panel
lainnya. Suhu panel ini terus meningkat sepanjang hari, mencapai puncaknya
sekitar pukul 14:00, dengan suhu tertinggi tercatat di 61.08°C. Hal ini menunjukkan
bahwa tanpa adanya sistem pendinginan tambahan, suhu panel surya cenderung
meningkat cukup signifikan akibat konversi energi yang terjadi pada permukaan
panel.
Sementara itu, panel dengan sistem CCW Fan (Temp CCW) mengalami
peningkatan suhu yang lebih terkendali. Hembusan angin dari sistem pendinginan

Universitas Indonesia
45

ini efektif mengurangi kecepatan peningkatan suhu, meskipun suhu tetap terus naik
seiring waktu. Suhu puncaknya tercatat sekitar 50°C, lebih rendah dibandingkan
dengan panel yang menggunakan pendinginan alami, meskipun masih
menunjukkan tren peningkatan suhu yang tajam setelah pukul 13:00.
Paling mencolok adalah panel yang dilengkapi dengan kombinasi CCW Fan
dan PCM (Temp PCM). Dengan penurunan suhu yang jauh lebih stabil (Zhang et
al., 2021) dan terkendali, panel ini menunjukkan suhu yang jauh lebih rendah
dibandingkan kedua sistem lainnya. Kemampuan PCM untuk menyerap dan
menyimpan energi panas saat suhu meningkat berperan besar dalam menjaga suhu
panel tetap rendah. Setelah puncak radiasi matahari sekitar pukul 13:00, suhu panel
PCM mulai turun lebih cepat, sementara suhu panel dengan sistem CCW Fan dan
panel dengan pendinginan alami mengalami penurunan yang lebih lambat.
Secara keseluruhan, grafik ini menggambarkan dengan jelas bahwa
penggunaan sistem pendinginan, terutama dengan penambahan PCM, secara
signifikan dapat menurunkan suhu operasional panel surya. Penerapan kedua
metode pendinginan ini (CCW Fan dan PCM) terbukti efektif dalam menjaga
kestabilan suhu dan meningkatkan efisiensi operasional panel surya, yang pada
akhirnya dapat berpotensi meningkatkan konversi energi secara keseluruhan.

4.7 Hubungan Tegangan dan Arus terhadap suhu panel


Perbandingan antara tiga jenis panel surya yang menggunakan sistem
pendinginan berbeda yakni panel dengan pendinginan alami (Org), panel dengan
Closed Cooling Water (CCW) Fan, dan panel dengan kombinasi CCW Fan dan
Phase Change Material (PCM). Grafik berikut ini menunjukkan perbandingan
tegangan dan arus output dari ketiga panel sepanjang hari. Data yang diperoleh
memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai bagaimana suhu dan
intensitas radiasi mempengaruhi performa panel surya, terutama dalam hal
tegangan dan arus yang dihasilkan.
46

Voltage Comparison

Tegangan Org Tegangan CCW Tegangan PCM

18
16
14
Tegangan (V)

12
10
8
6
4
2
0

Jam

Gambar 4.7.a Grafik perbandingan Tegangan 3 panel

Arus Org Arus CCW Arus PCM


1,2
1,1
1
0,9
0,8
Arus (A)

0,7
0,6
0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
0

Jam

Gambar 4.7.b Grafik perbandingan Arus 3 panel

Pada grafik pertama yang menunjukkan perbandingan tegangan (Voltage


Comparison), terlihat bahwa suhu panel sangat mempengaruhi tegangan output.
Panel dengan sistem pendinginan alami (Org) mengalami penurunan tegangan yang
lebih signifikan dibandingkan dengan dua panel lainnya, terutama setelah puncak
radiasi matahari sekitar pukul 12:00. Penurunan tegangan ini disebabkan oleh

Universitas Indonesia
47

peningkatan suhu pada panel, yang mengurangi efisiensi semikonduktor pada panel
surya. Pada suhu yang lebih tinggi, semikonduktor (biasanya silikon) akan memiliki
lebih banyak retakan energi yang mengurangi kemampuannya untuk menghasilkan
tegangan. Secara teknis, suhu yang lebih tinggi menyebabkan penurunan energi
yang tersedia untuk menghasilkan tegangan, karena pergerakan elektron di dalam
material menjadi lebih acak dan mengurangi efisiensi.
Sementara itu, panel yang menggunakan sistem CCW Fan dan kombinasi
CCW Fan + PCM menunjukkan tegangan yang lebih stabil, meskipun tetap
mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya suhu. Namun, penurunan
tersebut lebih terkontrol dibandingkan dengan panel kontrol (Org), berkat
kemampuan sistem pendinginan dalam menjaga suhu panel tetap lebih rendah.
Pada grafik kedua yang menunjukkan perbandingan arus (Current
Comparison), kita dapat melihat bahwa arus output lebih dipengaruhi oleh
intensitas radiasi matahari. Peningkatan arus yang lebih tinggi terjadi pada panel
yang menerima lebih banyak radiasi, yang tercatat pada saat puncak radiasi
matahari sekitar pukul 12:00 hingga 14:00. Meskipun semua panel menunjukkan
pola arus yang serupa, panel dengan sistem pendinginan yang lebih baik (CCW dan
PCM) menunjukkan arus yang sedikit lebih tinggi pada jam-jam puncak, karena
suhu yang lebih rendah memungkinkan panel untuk bekerja lebih efisien dalam
konversi energi.
Secara keseluruhan, perbandingan antara tegangan dan arus ini
menunjukkan bahwa suhu memainkan peranan penting dalam mempengaruhi
kinerja panel surya. Dengan adanya sistem pendinginan seperti CCW Fan dan PCM,
suhu dapat dikendalikan, yang membantu menjaga tegangan output lebih stabil dan
meningkatkan efisiensi konversi energi. Sedangkan arus, yang dipengaruhi oleh
radiasi matahari, tetap menunjukkan peningkatan yang signifikan selama puncak
radiasi.

4.8 Dampak Terhadap Daya Output


Pengukuran intensitas radiasi matahari (iradiasi) yang diterima oleh panel
surya dilakukan untuk menganalisis pengaruhnya terhadap suhu operasional dan
efisiensi konversi energi. Data iradiasi yang diperoleh sangat penting karena
48

langsung mempengaruhi kinerja panel surya dalam menghasilkan daya. Grafik


berikut menunjukkan fluktuasi iradiasi matahari sepanjang hari, mulai dari pukul
05:00 hingga 19:00, serta bagaimana perubahan tersebut berhubungan dengan
kinerja sistem pendinginan dan suhu panel.

Org Power CCW Power PCM Power

20

15
Daya (W)

10

Jam

Gambar 4.8. Grafik perbandingan Output daya

Sekitar pukul 05:00 hingga 06:00, intensitas radiasi matahari masih 0 W/m²,
dan mulai terdeteksi dengan nilai iradiasi berada di bawah 100 W/m². Seiring
dengan naiknya matahari, intensitas radiasi mulai meningkat secara signifikan,
mencapai puncaknya sekitar pukul 12:00 hingga 13:00, dengan nilai iradiasi
mencapai lebih dari 800 W/m². Puncak ini menunjukkan periode terkuat dari radiasi
matahari, di mana panel surya dapat menghasilkan daya maksimal. Setelah
mencapai puncaknya, nilai iradiasi mulai menurun, mengikuti pergerakan matahari
yang bergerak ke arah barat, dan kembali menurun secara signifikan setelah pukul
15:00 hingga 19:00.
Perubahan iradiasi yang cukup tajam dan fluktuatif antara pukul 10:00
hingga 14:00, yang tampak pada grafik, mungkin disebabkan oleh variasi dalam
kondisi atmosfer, seperti awan atau polusi, yang mempengaruhi jumlah radiasi yang
diterima oleh panel surya pada saat itu. Meskipun demikian, puncak radiasi
menunjukkan bahwa eksperimen ini dilakukan pada hari dengan kondisi sinar
matahari yang cukup kuat, memberikan hasil yang representatif untuk mengukur
performa panel surya di bawah intensitas radiasi yang tinggi.

Universitas Indonesia
49

Grafik ini juga memberikan gambaran penting terkait dengan pengaruh


fluktuasi radiasi terhadap suhu dan efisiensi panel surya. Ketika radiasi tinggi, suhu
panel cenderung meningkat, yang berpotensi mengurangi efisiensi konversi energi.
Oleh karena itu, pengaruh radiasi ini menjadi salah satu parameter kunci dalam
mengevaluasi efektivitas sistem pendinginan yang diterapkan pada panel surya,
yang menjadi fokus utama dalam eksperimen ini.

4.9 Peningkatan Efisiensi Panel Surya


Perbandingan peningkatan efisiensi panel surya yang dibandingkan dengan
panel asli, dengan dua sistem pendinginan yang berbeda: Closed Cooling Water
(CCW) dan Phase Change Material (PCM). Data yang ditampilkan menunjukkan
persentase peningkatan efisiensi hampir sepanjang hari, mulai dari pukul 08:00
hingga 17:00. Hal ini karena saat jam 08:00 suhu masing-masing panel sudah mulai
naik diatas 35C yang mana suhu hembusan angin berkisar 33-35 dan melting PCM
mulai suhu 25C. Masing-masing sistem menunjukkan variasi efisiensi yang sangat
bergantung pada faktor-faktor seperti suhu dan intensitas cahaya. Analisis berikut
ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai perbedaan
efisiensi yang tercatat pada kedua metode pendinginan, serta memberikan wawasan
yang lebih tajam mengenai dampaknya terhadap kinerja panel surya.

Efficiency Comparison

% kenaikan CCW % kenaikan PCM


35
30
25
Prosentase %

20
15
10
5
0

Jam

Gambar 4.9.a. Grafik efisiensi terhadap Panel Original


50

Grafik di atas menunjukkan perbandingan peningkatan efisiensi panel surya dengan


dua metode pendinginan yang diterapkan, yakni CCW (Closed Cooling Water) dan
PCM (Phase Change Material), dibandingkan dengan panel asli tanpa sistem
pendinginan. Secara umum, kedua metode pendinginan menunjukkan hasil yang
lebih baik dibandingkan dengan panel asli. Namun, keduanya memperlihatkan
variasi dalam efisiensi tergantung waktu dan kondisi lingkungan sepanjang hari.
Pada rentang waktu awal pagi hingga siang, metode pendinginan dengan
PCM menunjukkan peningkatan efisiensi yang konsisten lebih tinggi, terlihat dari
kurva hijau yang hampir selalu berada di atas kurva oranye yang mewakili CCW.
Peningkatan efisiensi ini bisa diatributkan pada kemampuan PCM dalam menyerap
dan menyimpan panas secara efisien, yang dapat menjaga suhu panel tetap stabil
meskipun ada lonjakan suhu yang cukup tajam pada siang hari. Hal ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh (Yang et al., 2021) yang menyatakan bahwa
PCM efektif dalam mengurangi suhu panel surya dengan cara menyerap kelebihan
panas yang dihasilkan oleh paparan sinar matahari, sehingga meningkatkan kinerja
panel.
Sementara itu, sistem pendinginan CCW juga menunjukkan peningkatan
efisiensi, namun tidak sebesar PCM. Ini bisa disebabkan oleh fakta bahwa sistem
CCW menggunakan aliran air untuk menurunkan suhu panel, yang memiliki
keterbatasan dalam hal kapasitas pendinginan jika dibandingkan dengan material
seperti PCM yang memiliki kemampuan penyerapan energi panas lebih baik. Hasil
ini sesuai dengan temuan dari (Kong et al., 2020), yang menyebutkan bahwa sistem
pendinginan menggunakan air cenderung kurang efektif pada suhu ekstrem
dibandingkan dengan material yang menggunakan fase perubahan untuk menyerap
dan melepaskan energi.
Selain itu, pada grafik terlihat adanya penurunan efisiensi mendekati pukul
17:00, hal ini juga dapat dipengaruhi oleh pengaruh lingkungan yang lebih sulit
dikendalikan, seperti angin atau kelembaban yang dapat mempengaruhi kinerja
kedua metode pendinginan. Faktor lingkungan seperti suhu udara dan kelembaban
juga mempengaruhi kinerja sistem pendinginan pada panel surya, meskipun
pengaruh ini tidak sekuat pengaruh intensitas cahaya (Bhandari et al., 2022).

Universitas Indonesia
51

Day Productivity

PCM 122,50

CCW 111,97

Ori 100,00

60,00 70,00 80,00 90,00 100,00 110,00 120,00


(Wh) dalam Sehari

Gambar 4.9.b. Grafik efisiensi terhadap Panel Original

Grafik di atas menampilkan day productivity (produktivitas harian) panel


surya dengan tiga jenis sistem pendinginan yang berbeda: Original (Ori) tanpa
sistem pendinginan, Closed Cooling Water (CCW), dan Phase Change Material
(PCM). Data produktivitas yang tercatat menunjukkan jumlah Wh yang dihasilkan
dalam sehari untuk setiap jenis sistem.

Perbandingan Lifetime

PCM 41

CCW 31

Ori 25

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
LifeTime (Tahun)

Gambar 4.9.c. Grafik Perbandingan Lifetime 3 skenario


52

Grafik di atas perbandingan lifetime antara tiga jenis panel surya yang diuji dalam
penelitian ini, yaitu panel dengan pendinginan alami (Ori), sistem Closed Cooling
Water (CCW) Fan, dan sistem CCW Fan yang dilengkapi dengan Phase Change
Material (PCM). Lifetime atau umur operasional dari panel surya diukur
berdasarkan efek suhu yang diterima panel selama masa kerjanya, yang secara
langsung mempengaruhi degradasi efisiensi panel tersebut (Wang et al., 2021).
Dari grafik ini, terlihat bahwa panel dengan sistem PCM memiliki umur
operasional terpanjang, yaitu 49 tahun, diikuti oleh panel dengan sistem CCW Fan
yang memiliki lifetime 38 tahun, dan panel dengan pendinginan alami (Ori) yang
memiliki lifetime 30 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan sistem
pendinginan yang lebih canggih dapat memperpanjang umur operasional panel
surya secara signifikan.

4.9.1 Analisa Panel Original (Tanpa Sistem Pendinginan)


Panel surya yang tidak dilengkapi dengan sistem pendinginan (Ori)
menghasilkan produktivitas harian sebesar 100 Wh. Hasil ini mencerminkan
efisiensi standar panel surya yang terpapar langsung pada suhu lingkungan tanpa
bantuan sistem pendinginan tambahan. Pada panel tanpa sistem pendinginan, suhu
panel surya akan cenderung naik seiring dengan intensitas cahaya yang diterima,
yang menyebabkan penurunan efisiensi dalam jangka panjang, sesuai dengan
konsep bahwa suhu yang tinggi dapat mengurangi tegangan dan efisiensi daya
output panel surya (Yang et al., 2021).

4.9.2 Analisa Panel dengan CCW (Closed Cooling Water) Fan


Dengan penerapan sistem Closed Cooling Water (CCW), produktivitas
panel surya meningkat menjadi 111,97 Wh, yang menunjukkan adanya perbaikan
efisiensi sekitar 11,97% dibandingkan dengan panel Ori. CCW bekerja dengan cara
mengalirkan air melalui sistem pendinginan, yang berfungsi untuk menjaga suhu
panel tetap stabil, menghindari overheating dan menjaga agar panel bekerja pada
suhu yang lebih efisien. Penurunan suhu yang dihasilkan oleh sistem pendinginan
ini mempengaruhi peningkatan kinerja panel surya, walaupun efisiensinya tidak

Universitas Indonesia
53

setinggi sistem PCM. Ini selaras dengan temuan yang disebutkan dalam penelitian
(Kong et al., 2020) (Zhang et al., 2021) yang menjelaskan bahwa blower fan dapat
meningkatkan efisiensi panel surya dengan cara mengurangi suhu operasional panel.

4.9.3 Analisa Panel dengan PCM (Phase Change Material)


Panel yang dilengkapi dengan sistem Phase Change Material (PCM)
mencatatkan 122,50 Wh dalam sehari, yang menunjukkan peningkatan
produktivitas sekitar 22,50% dibandingkan dengan panel Ori dan sekitar 10.53%
lebih tinggi daripada sistem CCW. PCM bekerja dengan cara menyerap panas saat
suhu panel meningkat dan melepaskannya kembali saat suhu turun, dengan cara
memanfaatkan perubahan fase material tersebut. Ini memungkinkan panel untuk
tetap berada pada suhu yang lebih optimal sepanjang hari meskipun intensitas
cahaya meningkat. Kemampuan PCM dalam menahan perubahan suhu secara lebih
efektif dibandingkan dengan sistem pendinginan berbasis air menjelaskan mengapa
sistem ini menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.
Panel dengan sistem PCM menunjukkan lifetime yang paling panjang, yang
dapat dijelaskan oleh kemampuannya dalam menstabilkan suhu panel. PCM
bekerja dengan menyerap kelebihan panas yang dihasilkan oleh panel, terutama saat
intensitas radiasi matahari tinggi. Dengan menjaga suhu panel tetap stabil, sistem
PCM mengurangi laju degradasi yang disebabkan oleh fluktuasi suhu yang
berlebihan. Penurunan suhu yang lebih stabil ini berperan penting dalam
memperpanjang umur sistem fotovoltaik, karena degradasi termal pada panel surya
disebabkan oleh suhu yang terus meningkat.
Sementara itu, panel dengan sistem CCW Fan juga mengalami peningkatan
lifetime, meskipun tidak seoptimal sistem dengan PCM. CCW Fan membantu
mengurangi suhu panel surya dengan mengalirkan udara dingin melalui panel,
namun sistem ini kurang efektif dalam menyerap dan menyimpan energi panas
berlebih seperti halnya PCM. Oleh karena itu, meskipun sistem CCW Fan
mengurangi suhu panel lebih baik dibandingkan pendinginan alami,
kemampuannya dalam mengendalikan suhu tidak sebaik sistem PCM.
54

Panel dengan pendinginan alami (Ori) memiliki lifetime yang paling pendek,
yaitu 30 tahun. Hal ini disebabkan oleh fluktuasi suhu yang lebih tinggi pada panel,
karena tidak ada sistem aktif untuk mengatur suhu operasionalnya. Suhu yang lebih
tinggi menyebabkan degradasi termal yang lebih cepat, yang memperpendek umur
panel surya.

4.10 Kajian Tekno Ekonomi


Penting untuk memahami bahwa analisis ini bertujuan untuk mengevaluasi
aspek ekonomi dari penerapan sistem pendinginan pada panel surya. Sistem
pendinginan yang diterapkan, seperti Closed Cooling Water (CCW) Fan dan Phase
Change Material (PCM), diharapkan dapat meningkatkan efisiensi konversi energi
panel surya. Namun, untuk menentukan apakah investasi dalam teknologi ini layak
secara ekonomi, perlu dilakukan analisis biaya dan manfaat yang melibatkan
beberapa faktor, seperti biaya investasi awal, biaya operasional, dan potensi
penghematan energi.
Levelized Cost of Energy (LCoE) digunakan untuk menghitung biaya per
unit energi yang dihasilkan selama umur proyek, yang memberikan gambaran
tentang seberapa efisien suatu sistem dalam menghasilkan energi. Sementara itu,
Cost-Benefit Ratio (CBR) akan digunakan untuk mengukur perbandingan antara
total manfaat yang diperoleh dari sistem ini dengan total biaya yang dikeluarkan.
Terakhir, Break-Even Point (BEP) akan dihitung untuk menentukan waktu yang
diperlukan bagi investasi untuk kembali, yaitu titik di mana total manfaat yang
diperoleh dari penghematan energi menyamai total biaya investasi yang
dikeluarkan.
Melalui perhitungan ini, kita dapat memperoleh gambaran yang jelas
mengenai kelayakan finansial dari penerapan sistem pendinginan pada panel surya
dan apakah investasi tersebut memberikan keuntungan jangka panjang.

4.10.1 Data dan Asumsi Yang Digunakan


Berikut data yang digunakan untuk perhitungan finansialnya LCoE, IRR,
NPV dan Payback Period, yang kami dapatkan dari sumber data primer salah projek

Universitas Indonesia
55

di Kalimantan ataupun vendor di lapangan. Nilai dari data primer tersebut tidak
terlalu beda jauh dengan Internasional Guide Book seperti IRENA dan NREL 2024
kecuali Biaya OM tahunan, hal ini karena Man Power di lapangan sangat efisien
sekali dengan full Tenaga Alih Daya, berikut data – datanya :

Tabel 4.10.1 Data dan Asumsi


No. Keterangan Nilai / Keterangan
1 Investasi PLTS (Capex) Rp. 925.600.000.000
2 Biaya O&M tahunan Rp. 3.010.000.000
3 Kapasitas PLTS 50 MWAC
4 Jenis Panel Monocrystalyne 620Wp
5 Energi tahunan 91000 MWh
6 Harga jual per kWh Rp. 1.600
7 Lifetime Original 25 tahun (data FS Projek)
8 Lifetime Pendingin CCW Fan 31 tahun
9 Lifetime Pendingin PCM 41 tahun
10 Biaya PCM per panel (RT35HC) Rp. 2.322.222

4.10.2 Hasil Perhitungan dan Pengolahan Data


Pada penelitian ini, pengolahan data dilakukan menggunakan Excel untuk
menghitung Levelized Cost of Energy (LCoE), Net Present Value (NPV), Internal
Rate of Return (IRR), dan Payback Period dengan membandingkan tiga skenario
sistem pendinginan pada panel surya, yaitu panel dengan pendinginan alamiah
(Original), CCW Fan, dan CCW Fan dengan PCM
56

Gambar 4.10.2. Dashboard Pengolahan data pada Excel

4.10.3 LCoE

LCoE

PCM 365,08

CCW Fan 414,03

Original 490,28

0,00 100,00 200,00 300,00 400,00 500,00 600,00


Rupiah/kWh

Gambar 4.10.3. Perbandingan Grafik LCoE

Universitas Indonesia
57

Grafik di atas memperlihatkan Levelized Cost of Energy (LCoE) dari tiga jenis
sistem pendinginan panel surya yang diuji dalam penelitian ini, yaitu panel dengan
pendinginan alami (Ori), sistem Closed Cooling Water (CCW) Fan, dan sistem
CCW Fan yang dilengkapi dengan Phase Change Material (PCM). LCoE mengukur
biaya per unit energi yang dihasilkan oleh sistem pembangkit listrik tenaga surya
(PLTS), yang mencakup biaya investasi dan operasional selama masa proyek.
Dari grafik, terlihat bahwa panel dengan sistem PCM menghasilkan LCoE
sebesar Rp 365,08/kWh, yang merupakan yang terendah di antara ketiga sistem.
Hal ini menunjukkan bahwa dengan penerapan sistem pendinginan PCM, biaya per
unit energi yang dihasilkan dapat lebih efisien. Sistem PCM berfungsi untuk
menyerap panas berlebih yang dihasilkan oleh panel surya, menjaga suhu tetap
stabil, dan mengurangi degradasi yang disebabkan oleh suhu tinggi. Efisiensi
pengelolaan suhu ini akhirnya mengurangi biaya total dan memperbaiki kinerja
sistem dalam jangka panjang.
Panel dengan sistem CCW Fan memiliki LCoE sebesar Rp 414,03/kWh,
yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan sistem pendinginan alami, tetapi
sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan PCM. Sistem CCW Fan juga efektif dalam
menurunkan suhu panel, meskipun tidak seefisien PCM dalam menyerap dan
menyimpan panas berlebih. Meskipun demikian, penggunaan sistem pendinginan
ini tetap memberikan hasil yang lebih efisien daripada sistem dengan pendinginan
alami.
Sistem pendinginan alami (Ori) memiliki LCoE sebesar Rp 490,28/kWh,
yang paling tinggi di antara ketiganya. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa sistem
pendinginan aktif biaya per unit energi yang dihasilkan lebih tinggi (Alami et al.,
2020) karena suhu panel yang lebih tinggi mengakibatkan degradasi lebih cepat dan
penurunan efisiensi.

4.10.4 IRR
Pada bagian ini, grafik berikut akan menunjukkan perbandingan Internal
Rate of Return (IRR) untuk tiga sistem panel surya yang diuji: sistem dengan
58

pendinginan alami (Ori), CCW Fan, dan CCW Fan + PCM. IRR digunakan untuk
menilai tingkat pengembalian finansial dari masing-masing sistem.

IRR

PCM 10%

CCW Fan 11%

Original 9%

0% 2% 4% 6% 8% 10% 12%

Gambar 4.10.4. Perbandingan Grafik IRR

Grafik di atas menunjukkan IRR untuk tiga sistem panel surya yang diuji dalam
penelitian ini. IRR mengukur tingkat pengembalian tahunan yang diharapkan dari
suatu investasi dan memberikan gambaran mengenai profitabilitas proyek. Semakin
tinggi nilai IRR, semakin menguntungkan proyek tersebut.
Panel dengan Sistem CCW Fan memiliki IRR sebesar 11%, yang
merupakan nilai tertinggi di antara ketiga sistem. Ini menunjukkan bahwa
penerapan sistem pendinginan dengan aliran udara yang kuat dapat meningkatkan
tingkat pengembalian investasi, karena sistem ini lebih efisien dalam menurunkan
suhu panel, yang pada gilirannya meningkatkan efisiensi konversi energi dan
mengurangi degradasi panel.
Panel dengan Sistem PCM menunjukkan IRR sebesar 10%, yang lebih
rendah dibandingkan dengan CCW Fan, meskipun tetap menghasilkan
pengembalian yang solid. Sistem PCM memiliki kemampuan untuk menyerap dan
menyimpan panas berlebih, yang menjaga suhu panel tetap stabil. Namun, efisiensi
sistem ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan CCW Fan dalam hal

Universitas Indonesia
59

pengembalian finansial, meskipun kemampuannya dalam mengurangi degradasi


jangka panjang panel tetap memberikan keuntungan.
Panel dengan Pendinginan Alami (Ori) juga menunjukkan IRR sebesar 9%,
yang menunjukkan bahwa meskipun panel ini memiliki pengembalian yang wajar,
efisiensi dan umur operasional panel yang lebih pendek karena suhu yang lebih
tinggi membatasi potensi keuntungan jangka panjangnya. Tanpa sistem
pendinginan tambahan, proyek ini tidak dapat memberikan tingkat pengembalian
yang setinggi sistem CCW Fan.

4.10.5 NPV
Pada bagian ini, grafik berikut menunjukkan perbandingan Net Present
Value (NPV) dari tiga sistem panel surya yang diuji: sistem dengan pendinginan
alami (Ori), sistem Closed Cooling Water (CCW) Fan, dan sistem CCW Fan
dengan Phase Change Material (PCM). NPV digunakan untuk menilai kelayakan
finansial proyek dengan mempertimbangkan investasi dan pendapatan yang
dihasilkan.

NPV

PCM Rp225.825

CCW Fan Rp304.464

Original Rp116.168

Rp0 Rp50.000 Rp100.000 Rp150.000 Rp200.000 Rp250.000 Rp300.000


Dalam Juta

Gambar 4.10.5. Perbandingan Grafik NPV

Grafik di atas memperlihatkan perbandingan Net Present Value (NPV) antara tiga
jenis sistem pendinginan yang diuji dalam penelitian ini. NPV adalah indikator
penting yang digunakan untuk mengevaluasi apakah sebuah proyek akan
60

memberikan keuntungan bersih setelah memperhitungkan biaya investasi dan


pengeluaran operasional dengan tingkat diskonto yang ditentukan.
Panel dengan Sistem CCW Fan memiliki NPV sebesar Rp 155.1 miliar,
yang merupakan nilai NPV tertinggi di antara ketiganya. Ini menunjukkan bahwa
sistem CCW Fan menghasilkan pengembalian finansial yang paling
menguntungkan. Dengan NPV positif yang tinggi, sistem ini memberikan nilai
tambah yang signifikan dibandingkan dengan biaya investasi awal dan biaya
operasional tahunan. Sistem CCW Fan yang berfungsi untuk mengurangi suhu
panel surya secara efektif meningkatkan efisiensi energi dan umur panel, yang pada
gilirannya meningkatkan pendapatan proyek dan NPV-nya.
Panel dengan Sistem PCM memiliki NPV sebesar Rp 16.3 miliar, yang lebih
rendah dibandingkan dengan sistem CCW Fan. Meskipun sistem PCM cukup
efektif dalam menjaga suhu panel dan meningkatkan efisiensi jangka panjang,
pengembaliannya tidak sebesar sistem CCW Fan. Ini menunjukkan bahwa
meskipun Phase Change Material dapat memperpanjang umur panel, dampak
finansialnya tidak sebesar sistem pendinginan yang lebih aktif, seperti CCW Fan.
Panel dengan Pendinginan Alami (Ori) memiliki NPV sebesar Rp 15.3
miliar, yang sedikit lebih rendah daripada panel dengan sistem PCM. Hal ini
menunjukkan bahwa tanpa sistem pendinginan tambahan, proyek ini tetap
menguntungkan tetapi tidak memberikan pengembalian sebesar kedua sistem
lainnya yang mengatur suhu lebih efektif.

4.10.6 Payback Period


Setelah menghitung LCoE, NPV dan IRR, Payback Period dari tiga jenis
sistem pendinginan yang diuji dalam penelitian ini, yaitu sistem dengan
pendinginan alami (Ori), sistem CCW Fan, dan sistem CCW Fan + PCM. Payback
Period mengukur waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan investasi awal
berdasarkan aliran kas yang dihasilkan.

Universitas Indonesia
61

Payback Period

PCM 10 tahun

CCW Fan 9 tahun

Original 10 tahun

Gambar 4.10.6. Perbandingan Grafik Payback Period

Payback Period untuk tiga skenario sistem panel surya dengan metode pendinginan
yang berbeda. Payback Period mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk
mengembalikan biaya investasi awal dari aliran kas positif (pendapatan) yang
dihasilkan oleh sistem. Panel dengan Sistem CCW Fan memiliki Payback Period
selama 9 tahun, yang merupakan periode pengembalian investasi yang tercepat di
antara ketiga sistem. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan sistem pendinginan
dengan aliran udara (CCW Fan) dapat meningkatkan efisiensi energi panel surya
dengan mengurangi suhu operasional, yang pada gilirannya mempercepat waktu
pengembalian investasi. Dengan Payback Period 9 tahun, sistem ini memberikan
pengembalian investasi yang relatif cepat, menjadikannya pilihan yang menarik
dalam jangka waktu menengah.
Panel dengan Sistem PCM memiliki Payback Period selama 10 tahun, yang
sedikit lebih lama dibandingkan dengan CCW Fan. Meskipun sistem PCM efektif
dalam mengurangi suhu dan meningkatkan efisiensi konversi energi, periode
pengembalian investasinya sedikit lebih lama. Sistem PCM lebih mengutamakan
pengelolaan suhu jangka panjang dengan cara menyerap panas berlebih, namun
efek langsung terhadap pengembalian investasi lebih rendah dibandingkan dengan
CCW Fan. Panel dengan Pendinginan Alami (Ori) memiliki Payback Period yang
juga 10 tahun, yang sama seperti PCM, namun dengan tingkat pengembalian yang
62

lebih rendah dibandingkan dengan kedua sistem pendinginan aktif. Hal ini
disebabkan oleh suhu operasional yang lebih tinggi pada panel yang hanya
mengandalkan pendinginan alami, menyebabkan efisiensi konversi energi yang
lebih rendah dan waktu pengembalian yang lebih lama.

4.10.7 Penyajian analisis Ekonomi


Merangkum data pada analisis di excel, berikut adalah hasil perhitungan dan
analisis secara teknis dengan output pada kajian ekonominya.

Tabel 4.10.7. Data Kajian Ekonomi


Original CCW Fan PCM
LCoE Rp 490.28 Rp. 414,03 Rp. 365,08
IRR 9% 11% 10%
NPV Rp 116.168.000.000 Rp 304.464.000.000 Rp225.825.000.000
Payback 10 tahun 9 tahun 10 tahun

Perbandingan antara tiga jenis sistem panel surya dengan metode pendinginan yang
berbeda, yaitu panel dengan pendinginan alami (Original), CCW Fan, dan CCW
Fan + PCM. Perbandingan ini melibatkan berbagai parameter penting, seperti
investasi, lifetime, LCoE, IRR, NPV, dan Payback Period.
CAPEX, semua sistem memiliki biaya investasi awal yang sama untuk
panel Original dan CCW Fan, yakni Rp 925.600 juta. Namun, panel dengan sistem
PCM memerlukan Rp 1.181.555 juta, yang lebih tinggi karena penggunaan material
Phase Change Material (PCM) yang menambah biaya instalasi, meskipun ini
bertujuan untuk meningkatkan efisiensi jangka panjang panel.
Usia Sistem CCW Fan memiliki umur operasional yang lebih panjang, yaitu
31 tahun, sedangkan sistem Original bertahan 30 tahun, dan sistem PCM dapat
bertahan hingga 41 tahun. Peningkatan lifetime ini menunjukkan bahwa teknologi
pendinginan lebih canggih dapat memperpanjang umur panel dan mengurangi laju
degradasi.

Universitas Indonesia
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Pengaruh Teknis
o Penerapan sistem pendinginan baik dengan CCW Fan maupun dengan
tambahan PCM, menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap suhu
operasional panel surya. Panel dengan sistem pendinginan alamiah
mengalami suhu yang lebih tinggi dengan deviasi 5,5oC dibanding CCW
Fan dan 11,38 oC dibanding dengan PCM.
o Tegangan output panel surya dipengaruhi oleh suhu, dengan panel yang
lebih dingin menghasilkan tegangan yang lebih stabil. Penurunan suhu panel
menyebabkan peningkatan stabilitas tegangan, karena sifat semikonduktor
pada panel surya yang menurunkan tegangan seiring dengan kenaikan suhu.
o Arus output lebih dipengaruhi oleh intensitas radiasi matahari meskipun
terdapat perbedaan yang tidak terlalu signifikan saat sudah mencapai suhu
di atas 40oC
o Efisiensi dalam produktivitas harian meningakat yaitu 11,96% berpendingin
CCW Fan dan 22,51% berpendingin PCM.
2. LCoE (Levelized Cost of Energy):
o Sistem CCW Fan + PCM memiliki LCoE terendah, yaitu Rp 365,08/kWh,
yang menunjukkan bahwa sistem ini lebih efisien dalam menghasilkan
energi dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan sistem
pendinginan alami yang memiliki LCoE Rp 490,28/kWh, dan sistem CCW
yang sedikit lebih tinggi Rp 414,03/kWh. Hal ini mengindikasikan bahwa
CCW Fan lebih menguntungkan dalam hal biaya per unit energi yang
dihasilkan.
3. NPV (Net Present Value) dan IRR (Internal Rate of Return):
o Sistem CCW Fan memberikan NPV yang sangat tinggi, yaitu Rp 304 miliar,
dan IRR 11% yang menunjukkan pengembalian investasi yang sangat
menguntungkan dalam jangka panjang.

63
64

4. Payback Period:
o Sistem CCW Fan juga memiliki Payback Period terpendek, yaitu 9 tahun,
yang menunjukkan pengembalian investasi yang lebih cepat dibandingkan
dengan alamiah dan PCM karena tanpa adanya biaya tambahan untuk
Investasi namun memberikan efisiensi output yang lebih baik.
5. Lifetime:
o Sistem PCM memiliki umur operasional yang paling panjang, yaitu 41
tahun, diikuti oleh CCW Fan dengan 31 tahun, dan Original dengan 25 tahun.
Meskipun PCM memiliki umur yang lebih panjang, keuntungan finansial
yang ditawarkan oleh CCW Fan lebih signifikan.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil analisis penelitian ini, beberapa saran yang dapat diberikan
adalah sebagai berikut:
1. Penerapan Sistem CCW Fan
o Mengingat NPV dan IRR yang lebih tinggi serta Payback Period yang lebih
cepat, disarankan untuk memanfaatkan lokasi CCW Fan untuk pemasangan
Solar Panel.
2. Peningkatan Sistem PCM
o Meskipun sistem berpendingin PCM memiliki lifetime yang lebih panjang,
biaya investasi yang lebih tinggi membuat pengembalian investasi lebih
lambat. Untuk meningkatkan daya saingnya, disarankan untuk meneliti
bahan PCM lokal dengan energi laten yang tinggi.
3. Pengelolaan Biaya Investasi:
o Investasi awal yang lebih besar pada sistem PCM harus diimbangi dengan
manfaat jangka panjang yang signifikan, baik dalam hal efisiensi energi
maupun umur panel yang lebih panjang. Oleh karena itu, analisis lebih
mendalam diperlukan untuk memastikan bahwa biaya tambahan tersebut
dapat memberikan keuntungan yang sebanding dalam jangka panjang.

Universitas Indonesia
65

DAFTAR PUSTAKA

Ali, H. M., Suresh, A. K. & Bhakre, S. S. (2019) 'Advancements in cooling


techniques for enhanced efficiency of solar photovoltaic panels: A detailed
comprehensive review and innovative approaches', ScienceDirect. Retrieved
from ScienceDirect.
Ali, M. (2019) 'A comprehensive review on recent advancements in cooling of solar
photovoltaic systems using phase change materials', Oxford Academic.
Retrieved from Oxford Academic.
Hasan, M. (2019) 'Review of solar photovoltaic cooling systems technologies with
environmental and economical assessment', ScienceDirect. Retrieved from
ScienceDirect.
Sharma, R. & Verma, P. (2019) 'Cooling Techniques for Enhanced Efficiency of
Photovoltaic Panels—Comparative Analysis with Environmental and
Economic Insights', Energies, 12(19), 3738.
https://doi.org/10.3390/en12193738
Kumar, A. (2019) 'Cooling techniques for enhancing of photovoltaic cell efficiency:
Review', AIP Conference Proceedings. Retrieved from AIP Publishing.
Smith, J. (2019) 'Cooling performance enhancement of PV systems: Review', AIP
Conference Proceedings. Retrieved from AIP Publishing.
Bahaidarah, H. (2019) 'MULTIPLE MODERN METHODS FOR IMPROVING
PHOTOVOLTAIC CELL EFFICIENCY BY COOLING: A REVIEW',
ResearchGate. Retrieved from ResearchGate.
Mahmud, S. (2019) 'A review of cooling techniques for photovoltaic modules', AIP
Conference Proceedings. Retrieved from AIP Publishing.
Sinha, R. & Jain, S. (2019) 'An Experimental Investigation of a Novel Low-Cost
Photovoltaic Panel Active Cooling System', Energies, 12(19), 3738.
https://doi.org/10.3390/en12193738
Silva, T. & Souza, R. (2020) 'Environmental impacts of solar photovoltaic systems:
A critical review', Renewable and Sustainable Energy Reviews, 123, 109767.
https://doi.org/10.1016/j.rser.2020.109767
66

Alami, A. H. & Shibly, Z. (2020) 'Evaluating the real-world performance of


vertically installed bifacial photovoltaic systems', International Journal of
Low-Carbon Technologies, 7(7), pp. 1239-1252.
https://doi.org/10.1093/ijlct/ctad138
Wang, H., Li, F. & Gao, Y. (2020) 'Organic photovoltaic cell with 17% efficiency
and superior stability', National Science Review, 7(7), pp. 1239-1252.
https://doi.org/10.1093/nsr/nwaa083
Smith, J. P. & Li, Z. (2020) 'Recent technical approaches for improving energy
efficiency and performance in solar PV panels', Renewable and Sustainable
Energy Reviews, 102, pp. 395-410. https://doi.org/10.1016/j.rser.2019.01.052
Zhang, W. & Wang, X. (2019) 'Analysis of driving factors of photovoltaic power
generation efficiency: A case study in China', Energies, 12(3), 355.
https://doi.org/10.3390/en12030355
Kumar, A. & Jain, S. (2022) 'Photovoltaic solar cells: A review', Applied System
Innovation, 5(4), 67. https://doi.org/10.3390/asi5040067
Al-Nabulsi, A., Aliyu, U. O., Rehman, S. & El-Amin, I. (2019) 'Advancements in
cooling techniques for enhanced efficiency of solar photovoltaic panels using
phase change materials', ScienceDirect. Retrieved from ScienceDirect.
Ali, H. M., Suresh, A. K. & Bhakre, S. S. (2019) 'Application of phase change
materials for cooling of solar photovoltaic modules', ScienceDirect. Retrieved
from ScienceDirect.
Hasan, M. (2019) 'Solar photovoltaic cooling using Paraffin phase change material',
ScienceDirect. Retrieved from ScienceDirect.
Sharma, R. & Verma, P. (2019) 'Thermodynamic assessment on cooling
photovoltaic modules by phase change material', Springer. Retrieved from
Springer.
Kumar, A. (2019) 'Review on cooling techniques using phase change materials for
enhancing efficiency of photovoltaic power systems', AIP Conference
Proceedings. Retrieved from AIP Publishing.

Universitas Indonesia
67

Smith, J. (2019) 'Cooling performance enhancement of PV systems using phase


change materials: Review', AIP Conference Proceedings. Retrieved from AIP
Publishing.
Bahaidarah, H. (2019) 'Increasing photovoltaic panel thermal efficiency using
phase change materials', IIETA. Retrieved from IIETA.
Mahmud, S. (2019) 'Experimental investigation of a novel low-cost photovoltaic
panel active cooling system using phase change materials', Energies, 12(19),
3738. https://doi.org/10.3390/en12193738
Silva, T. & Souza, R. (2020) 'Environmental impacts of solar photovoltaic systems
with phase change material cooling: A critical review', Renewable and
Sustainable Energy Reviews, 123, 109767.
https://doi.org/10.1016/j.rser.2020.109767
Alami, A. H. & Shibly, Z. (2020) 'Evaluating the performance of vertically installed
bifacial photovoltaic systems with phase change materials', International
Journal of Low-Carbon Technologies, 7(7), pp. 1239-1252.
https://doi.org/10.1093/ijlct/ctad138
Wang, H., Li, F. & Gao, Y. (2020) 'Organic photovoltaic cell with phase change
material cooling and superior stability', National Science Review, 7(7), pp.
1239-1252. https://doi.org/10.1093/nsr/nwaa083
Smith, J. P. & Li, Z. (2020) 'Recent technical approaches for improving energy
efficiency and performance in solar PV panels with phase change materials',
Renewable and Sustainable Energy Reviews, 102, pp. 395-410.
https://doi.org/10.1016/j.rser.2019.01.052
Miller, J. D. & Harris, D. (2020) 'An overview of solar photovoltaic panels’ end-
of-life material management with phase change materials', Resources,
Conservation and Recycling, 158, 104810.
https://doi.org/10.1016/j.resconrec.2020.104810
Green, M. A. & Bremner, S. P. (2020) 'Recent advances in solar photovoltaic
materials and systems with phase change material cooling', Progress in
Photovoltaics: Research and Applications, 28(10), pp. 837-849.
https://doi.org/10.1002/pip.3241
68

Zhang, W. & Wang, X. (2021) 'Analysis of driving factors of photovoltaic power


generation efficiency with phase change materials: A case study in China',
Energies, 12(3), 355. https://doi.org/10.3390/en12030355
Kumar, A. & Jain, S. (2022) 'Photovoltaic solar cells with phase change material
cooling: A review', Applied System Innovation, 5(4), 67.
https://doi.org/10.3390/asi5040067
Alsayah, A. M. (2019) 'Factors influencing the efficiency of photovoltaic systems',
ScienceDirect. Retrieved from ScienceDirect.
Farhan, A. (2019) 'Analysis of driving factors of photovoltaic power generation
efficiency: A case study in China', Energies, 12(3), 355.
https://doi.org/10.3390/en12030355
IRENA (2019) 'Future of Solar PV'. Retrieved from IRENA.
Zhang, W. & Wang, X. (2019) 'Analysis of driving factors of photovoltaic power
generation efficiency: A case study in China', Energies, 12(3), 355.
https://doi.org/10.3390/en12030355
Kumar, A. (2020) 'Evaluating solar photovoltaic power efficiency based on
economic and environmental factors', ScienceDirect. Retrieved from
ScienceDirect.
Shukla, A. & Mishra, R. (2019) 'Factors influencing the efficiency of photovoltaic
system: A comprehensive review', Springer. Retrieved from Springer.
Smith, J. (2020) 'Recent advancements in improving the efficiency of photovoltaic
systems', AIP Conference Proceedings. Retrieved from AIP Publishing.
Bahaidarah, H. (2019) 'MULTIPLE MODERN METHODS FOR IMPROVING
PHOTOVOLTAIC CELL EFFICIENCY: A REVIEW', ResearchGate.
Retrieved from ResearchGate.
Mahmud, S. (2019) 'A comprehensive study on factors affecting photovoltaic
efficiency', Energies, 12(19), 3738. https://doi.org/10.3390/en12193738
Sinha, R. & Jain, S. (2020) 'Evaluating the impact of environmental factors on PV
system efficiency', Springer. Retrieved from Springer.
Silva, T. & Souza, R. (2020) 'Factors affecting the efficiency of solar photovoltaic
systems: A review', Renewable and Sustainable Energy Reviews, 123, 109767.
https://doi.org/10.1016/j.rser.2020.109767

Universitas Indonesia
69

Alami, A. H. & Shibly, Z. (2020) 'Impact of shading and dust accumulation on


photovoltaic systems', International Journal of Low-Carbon Technologies,
7(7), pp. 1239-1252. https://doi.org/10.1093/ijlct/ctad138
Wang, H., Li, F. & Gao, Y. (2020) 'Analysis of factors affecting the efficiency of
organic photovoltaic cells', National Science Review, 7(7), pp. 1239-1252.
https://doi.org/10.1093/nsr/nwaa083
Smith, J. P. & Li, Z. (2020) 'Technical and environmental factors influencing
photovoltaic efficiency', Renewable and Sustainable Energy Reviews, 102, pp.
395-410. https://doi.org/10.1016/j.rser.2019.01.052
Miller, J. D. & Harris, D. (2020) 'An overview of factors impacting the efficiency
of solar photovoltaic panels', Resources, Conservation and Recycling, 158,
104810. https://doi.org/10.1016/j.resconrec.2020.104810
Green, M. A. & Bremner, S. P. (2020) 'Recent advances in the study of factors
affecting solar photovoltaic efficiency', Progress in Photovoltaics: Research
and Applications, 28(10), pp. 837-849. https://doi.org/10.1002/pip.3241
Alzgool, M. (2024) 'Performance enhancement by cooling the PV panels using
phase change material (RT35): ANSYS simulation and experimental
investigation', International Journal of Energy Production and Management,
9(2), pp. 73-81. https://doi.org/10.18280/ijepm.090202
Poddar, S., Rougieux, F., Evans, J. P., Kay, M., Prasad, A. A. & Bremner, S. P.
(2024) 'Accelerated degradation of photovoltaic modules under a future
warmer climate', Progress in Photovoltaics: Research and Applications, 32(7),
pp. 456-467. https://doi.org/10.1002/pip.3788
70

LAMPIRAN

Lokasi CCW Sistem pembangkit

CCW Sistem Luasan 2000 m2

Universitas Indonesia
71

Pengukuran temp panel sisi atas 46.1c dan bawah 47.3c

Pengukuran temp hembusan 34.5c


72

Pengambilan suhu Panel sebelum eksperimen Proses pembuatan Bracket Panel

Evidence Turnitin 12%

Universitas Indonesia

Anda mungkin juga menyukai