0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
210 tayangan27 halaman

Gigit Ular Berbisa: Gejala dan Penanganan

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Gigitan ular berbisa di Indonesia dapat menyebabkan efek lokal dan sistemik yang berbahaya, seperti perdarahan dan kegagalan organ. Penatalaksanaannya meliputi pemberian antivenin, menghentikan penyebaran racun, dan perawatan gejala seperti gangguan pernafasan dan sirkulasi.

Diunggah oleh

Ratika Ayu Piliang
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
210 tayangan27 halaman

Gigit Ular Berbisa: Gejala dan Penanganan

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Gigitan ular berbisa di Indonesia dapat menyebabkan efek lokal dan sistemik yang berbahaya, seperti perdarahan dan kegagalan organ. Penatalaksanaannya meliputi pemberian antivenin, menghentikan penyebaran racun, dan perawatan gejala seperti gangguan pernafasan dan sirkulasi.

Diunggah oleh

Ratika Ayu Piliang
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

GIGITAN

ULAR BERBISA
Mayor CKM dr. Tri

GIGITAN ULAR BERBISA


Di Indonesia data pasti mengenai
gigitan ular berbisa belum ada dan
penelitian tentang ular dan bisa
belum berkembang
Banyak jenis ular dan bisanya belum
diketahui sifat bisanya ular di Irian.

Ular termasuk :
-kelas reptilia
-ordo squamata
-sub ordo serfentes.

Jenis ular berbisa 4 famili


1.
2.
3.
4.

Elapidae/ Viperidae
Hydropidae
Crotalidae
Colubridae hanya terdapat di Afrika

2000 spesies ular, berbisa sekitar 250 spesies

ULAR BERBISA INDONESIA


HEMOTOKSIK
Trimeresurus albolaris (ular hijau)
Ankystrodon rhodostoma (ular tanah)

NEUROTOKSIK

Bungarus fasciatus (ular welang)


Naya sputatrix (cobra)
Ular laut

Bisa Ular
Berasal dari modifikasi kelenjar ludah, suatu
polipeptida yang bersifat enzimatik:

Fosfolipase A, Hyaluronidase, ATP-ase, 5-Nukleotida,


kolinesterase,fosfomonoesterase,RNA-ase, DNA-ase

Masuk kedalam tubuh korban melalui alur yang


terdapat dalam taring atau disemprotkan
Cairan jernih s/d dengan keruh
-BD 1,03-1,12
-Viskositas
1,5-2,5
-PH
5,5 - 7
Tetap aktif bila disimpan dlm suhu kamar

Dua komponen kimia bisa ular yang


penting

1. Komponen enzym

Proteinase memp.efek anti koagulan


Hyaluronidase mempermudah penetrasi
zat zat toksin
Kholinesterase mencegah penumpukan
acetylcholin pada neuromuscular junction
Fosfolipase A, terjadinya hemolisa dan
pengeluaran histamin bertambah dan
bersifat neurotoksin.

Efek komponen enzym tidak mematikan

2. Komponen protein dan polipeptida

Hemotoksin perdarahan di tempat gigitan, pteki/


ekhimosis, hematemesis melena, hemoptoe,
hematuri, otak, DIC
Neurotoksin hypertonik, fasikulasi, paresis,
paralisis otot pernafasan, otot laring, ptosis,
ophtalmoplegi, reflek abnormal, kejang, koma
Cardiotoksin kerusakan membrana basalis dari
otot jantung, hypotensi, henti jantung
Sitotoksin pengeluaran histamin bertambah
Miotoksin terjadinya rhabdomyolisis
mengakibatkan myoglobinuri dan gagal ginjal
akut

Efek komponen protein dan polpeptida


mematikan

GEJALA KLINIS
Gejala klinik tergantung pada
efek bisa ular :
Gejala lokal

edema, nyeri, nyeri tekan, ekhimosis


(dalam 30 menit 24 jam)

Gejala sistemik

hipotensi, kelemahan, berkeringat,

menggigil, mual, muntah, nyeri kepala

Bisa ular jenis hemotoksin


Lokal :
terjadi perdarahan terus menerus pada
luka gigitan disertai edema dan Erytema,
kemudian timbul bulla dan gangren.

Sistemik :
demam ,hipotensi ,batuk darah ,
hematemesis melena ,hematurie, dan
gagal ginjal akut, DIC

A case of severe venom poisoning by a western diamondback


rattle snake ( Crotalus atrox ) at four days following the bite .
Note the soft tissue swelling, and hemorrhagic and serum-filled
vesicles. (Courtesy of David Hardy, MD.)

Klasifikasi Parrish
Klasifikasi Parrish membagi 4 grade untuk menentukan jumlah
SABU yang diberikan

Grade 0 oedem dan erytem 12 jam pertama


dibawah 2,5 cm
Grade I ------------------------------------------2,5 cm - 12,5 cm
Grade II -----------------------------------------15 cm - 30 cm
Grade III ----------------------------------------> 30 cm
Grade IV ---------------------------------------melewati 1 extremitas.

Sabu yang diberikan :

Grade 0 tidak diberikan


Grade I ---- Sabu 10 cc
Grade II --- Sabu 30 40 cc
Grade III dan IV Sabu diatas 50 cc

Klasifikasi Schwartz
DERAJAT

VENERASI

LUKA

NYERI

EDEMA/
ERYTEMA

SISTEMIK

+/-

< 3 cm/
12 jam

+/-

3-12 cm/
12 jam

II

+++

12-25 cm/
12 jam

III

+++

> 25 cm/
12 jam

IV

+++

+++

>1
ekstremita
s

Neurotoksik,
mual, pusing,
syok

++
Ptekhie,syok,
ekhimosis

++
GGA, koma,
perdarahan

Bisa ular jenis neurotoksin


Lokal :
-Rasa sakit minimal dan oedem sedikit
Sistemik :
-Ptosis bilateral
-sulit bicara dan menelan
-salivasi
-diplopia
-mual dan muntah
-paralisa otot otot pernafasan, terjadi gagal nafas
-kejang dan koma

DIAGNOSIS

GIGITAN ULAR? APAKAH BERBISA?

Ular dapat ditangkap


-Pupil makin bulat tidak berbisa
-Bertaring berbisa
Bentuk luka gigitan
-Semisirkuler tidak berbisa
-Vulnus punctum dan luka robek
berbisa

Comparison of pit vipers and nonvenomous snake s. Rattle in D (top


panel) applies to rattle snake s only. ( A to D, From Sullivan JB,
Wingert WA, Norris RL: North American venomous reptile bite s. In
Auerbach PS [ed]: Wilderness Medicine: Management of Wilderness
and Environmental Emergencies, 3rd ed. St. Louis, MosbyYear Book,
1995, p 684.)

PENATALAKSANAAN
1. Menghambat / menghalangi

absorbsi bisa ular ke sirkulasi darah

2. Menetralisir bisa ular yang ada di


sirkulasi darah

3. Mengatasi efek lokal dan sistemik

AB-C

AIR WAY
BREATHING
CIRCULATION

INFUS KRISTALOID
SAMPEL DARAH 5 10 CC

Menghambat masuknya
bisa ular ke sirkulasi darah
Pembalutan proksimal dari luka gigitan dengan
elastik verban ,dengan torniquet / manset
dengan tekanan antara sistole dan diastole
Istirahat total bagian yang digigit
Kompres dengan Es
Insisi dan penghisapan bermanfaat bila
dibawah 30 menit
Bila ada,apus luka dengan VENOM
DETECTION

Netralisir dengan SABU


SABU polivalen untuk :
-ular kobra
-ular tanah
-bungarus fasciatus
-bungarus candidus.

Kapan SABU diberikan ?

bila ada :

1. Ptosis bilateral
2. Oedem dan Erytem berdasarkan Parriss
Class.
3. Gejala keracunan sistemik

Sabu
Serum kuda yang dikebalkan,
Polivalen, tiap 1 ml:
10-50 LD50
bisa Ankystrodon
25-50 LD50
bisa Bungarus
25-50 LD50
bisa Naya Sputatrix
Fenol 0,25% v/v

Dosis Sabu
Bisa bersifat neurotoksin
- diberikan SABU 20 cc dan
dapat diulang setiap 4 jam,
tergantung dari
keadaan
penderita
Bisa bersifat hemotoksin
- berdasarkan klasifikasi Parrish .

Schwartz, Way
0-I : Tidak diberi SABU, nilai dalam 12
jam, bila derajat naik, beri

SABU
II : 3 4 vial
III : 5 15 vial
IV : beri paenambahan 6 8 vial

Cara pemberian SABU


intra vena
Perinfus dilarutkan dalam 500 cc Na Cl 0,9
% atau Dextrose 5 % dengan kecepatan
40 -80 gtt/ menit, maximal 100 cc/24 jam

Skin test !!! Alergi


diberikan adrenalin 0,5 mg subcutan
dan hidrokortison 100 mg iv.
INFILTRASI SABU SEKITAR LUKA NO !!!

Mengatasi
Efek Lokal dan sistemik
Monitor ketat pernafasan, kardiovaskuler,

status neurologis, balans cairan


Laboratorium : PTT, APTT, d-Dimmer, Hb,
Ht, leuko, Thrombosit, elektrolit (K), CK,
fungsi ginjal, ulangi 3 jam paska
pemberian SABU
Pemberian kortikosteroid 100-150 mg
hidrokortison mencegah oedem dan
hipotensi.
Analgeltik dan sedatif
Fasciotomi ( pada sindroma kompartemen)

Resusitasi pernafasan bila terjadi

gagal nafas, resusitasi cairan,


Antibiotik spektrum luas, ATS dan
Toksoid.
Transfusi bila terjadi penurunan Hb
Pemberian diuretika ,Hemodialise
bila terjadi gagal ginjal
Pemberian anti koagulan bila terjadi
DIC.

Fasciotomy of the forearm compartments in a victim of severe


rattle snake bite to the hand. The intracompartmental
pressures were documented to be exceedingly elevated in this
patient despite limb elevation and large doses of antivenom.
(Courtesy of Robert Norris, MD.)

Anda mungkin juga menyukai