Anda di halaman 1dari 52

SINDROM NEFROTIK & TB PARU

dr. Denita Biyanda Utami

Pembimbing: dr. Maria Ekawati, SpA


TOPIK

Ilustrasi Kasus

Ringkasan Pembelajaran

Tinjauan Pustaka
Sindrom Nefrotik
TB Paru

Diskusi
IDENTITAS PASIEN

Nama : An. SAN

No. RM : 20 54 02
Usia : 6 tahun
BB /TB : 18 kg/107 cm
Dry weight : 16 kg (10% dari berat), LPT: 0.69

Tanggal lahir : 26 Oktober 2010

Alamat : Jl. Mawar 11


Pembayaran : Umum

KELUHAN UTAMA

Bengkak pada seluruh tubuh


2 bulan SMRS
ANAMNESIS
2 bulan SMRS:
Bengkak pada Bengkak awalnya
Dibawa ke RS
seluruh tubuh 2 bulan muncul pada bagian
Syarif
SMRS. Bengkak pada mata. Tidak ada
Hidayatullah:
mata hilang timbul, gatal, tidak ada
pada pagi hari lebih riwayat konsumsi
bengkak dari siang makanan yang Anak demam dan
dan malam hari. Kaki menjadi alergen bengkak pada
tidak terlalu bengkak. sebelumnya, nafsu seluruh tubuh,
Sebelumnya pasien makan pasien baik, dilakukan cek lab di
sempat batuk pilek tidak ada penurunan RS Syarif
dan demam BB Hidayatullah, hasil
Dibawa ke proteinuria,
BAB normal, BAK Puskesmas: hipoalbuminemia,
keruh. Pasien lemas hiperkolestrolemia,
Dikatakan demam
dan cenderung tidak dibawa ke RS Dr.
aktif biasa, diberi obat
Suyoto
penurun demam
LAIN-LAIN

Riwayat Penyakit Dahulu & Pengobatan: Sebelumnya


pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit dan hanya
mengkonsumsi obat penurun demam.
Riwayat Alergi: Pasien alergi seafood dan kuning telur

Riwayat Keluarga: Sebelumnya 1 tahun yang lalu adik pasien


yang berusia 5 tahun didiagnosis dengan limfadenitis TB dan
sudah menjalani pengobatan OAT selama 6 bulan. Saat ini
adik pasien dinyatakan sudah sembuh. Kedua orang tua tidak
pernah didiagnosis TB paru dan mengkonsumsi OAT.
LAIN-LAIN

Riwayat sosial: Pasien adalah anak pertama dari dua


bersaudara. Pasien tinggal dengan kedua orang tua dan
dua orang adik yang berusia 5 tahun dan 1 tahun. Ayah
pasien adalah karyawan proyek dan ibu pasien adalah ibu
rumah tangga. Tidak ada tetangga sekitar yang
mengalami keluhan serupa
Pasien umum, BPJS ada tetapi tidak aktif (sudah lama
tidak membayar iuran)
PEMERIKSAAN FISIK (IGD, 8/03/2017)

KU : Compos mentis, tampak sakit sedang


GCS : E4V5M6
Tekanan darah : 116/62 mmHg
Nadi : 80x/menit
SpO2 : 98%
Pernafasan : 20x/menit
Suhu : 36.9o c

Status generalis:
Mata : Edema periorbital dekstra dan sinistra
Tenggorokan : T1/T1, faring tidak hiperemis
Jantung : S1 S2 normal, murmur tidak ada, gallop tidak ada
Paru : Vesikuler +/+, rhonki tidak ada, wheezing tidak ada
Abdomen : membuncit, supel, shifting dullness positif, nyeri tekan tidak ada,
nyeri ketok CVA tidak ada, ballottement negatif
Ekstremitas : akral hangat, CRT<2 s, edema ekstremitas bawah ada, minimal
PEMERIKSAAN PENUNJANG
RS Syarif Hidayatullan (7/3/2017)
Hb : 12.8 g/dL
Ht : 36.1%
Leukosit : 13.400 (N: 5.000 -10.000)
Trombosit : 375.000
Kolesterol : 430 (N < 200)
Total Protein : 3.29 (N: 6.2 8.4)
Albumin : 1.5 (M: 3.5 5.2)

Urin Lengkap
Warna : Sedikit Keruh (N: Jernih)
Hemoglobin : +1
Protein : +3

IGD (8/3/2017)
Ur : 13
Cr : 0.4
FOLLOW UP-PASIEN
Alamanda, 10 Maret 2017

S :
Pasien batuk pilek, masih bengkak di bagian periorbital, namun sudah
berkurang dibanding sebelumnya. BAK warna sedikit kekuningan, demam naik
turun
O :
KU: CM, TSS
N: 123x/menit, S: 35.8o c, P: 18x/menit
Mata : Edema periorbital dekstra dan sinistra
Tenggorokan : T1/T1, faring tidak hiperemis
Jantung : S1 S2 normal, murmur tidak ada, gallop tidak ada
Paru : Vesikuler +/+, rhonki tidak ada, wheezing tidak ada
Abdomen : membuncit, supel, shifting dullness positif, nyeri tekan tidak
ada, nyeri ketok CVA tidak ada, ballottement negatif
Ekstremitas : akral hangat, CRT<2 s, edema ekstremitas ada, minimal
FOLLOW UP-PASIEN
Alamanda, 13 Maret 2017

S :
Pasien batuk, dahak sulit dikeluarkan, bengkak pada periorbital sudah
berkurang, demam sudah tidak ada
O :
KU: CM, TSS BB: 17 kg
T: 110/70, N: 123x/menit, S: 36.8o c, P: 18x/menit
Mata : Edema periorbital dekstra dan sinistra tidak ada
Tenggorokan : T1/T1, faring tidak hiperemis
Jantung : S1 S2 normal, murmur tidak ada, gallop tidak ada
Paru : Vesikuler +/+, rhonki tidak ada, wheezing tidak ada
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan tidak ada, nyeri ketok CVA tidak ada,
ballottement negatif
Ekstremitas : akral hangat, CRT<2 s, edema ekstremitas tidak ada
FOLLOW UP-PASIEN
Alamanda, 14 Maret 2017

S :
Pasien batuk, dahak sulit dikeluarkan, bengkak pada periorbital sudah
berkurang, demam sudah tidak ada
O :
KU: CM, TSS
T: 100/70, N: 123x/menit, S: 36.8o c, P: 18x/menit
Mata : Edema periorbital dekstra dan sinistra tidak ada
Tenggorokan : T1/T1, faring tidak hiperemis
Jantung : S1 S2 normal, murmur tidak ada, gallop tidak ada
Paru : Vesikuler +/+, rhonki tidak ada, wheezing tidak ada
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan tidak ada, nyeri ketok CVA tidak ada,
ballottement negatif
Ekstremitas : akral hangat, CRT<2 s, edema ekstremitas tidak ada
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil lab (9/3/2017, Alamanda)
Hb : 12.1 g/dL
Ht : 38%
Leukosit : 6.600
Trombosit: 371.000
Albumin : 1.5 (N: 4.0 5.2)

Hasil lab (11/3/2017, Alamanda)


Albumin : 1.6 (N: 4.0 5.2)
Tes Mantoux Positif
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil lab (12/3/2017, Alamanda)
Albumin : 1.8 (N: 4.0 5.2)
Urin Lengkap
Protein : +2

Hasil lab (14/3/2017, Alamanda)


Albumin : 2.4 (N: 4.0 5.2)

Pasien pulang paksa tanggal 15/3/2017 rawat jalan


untuk cek urin 3 hari
FOTO THORAX (9/3/2017)

Cor tidak membesar, paru


fokus tidak melebar, tampak
infiltrat di lapangan paru kiri
bawah, sinus costrofrenikus
kanan kiri tajam, diafragma
kanan kiri licin, tulang-tulang
tidak tampak kelainan.
Kesan: cor dalam batas
normal, infiltrate di lapangan
paru kiri bawah, DD/
bronchopneumonia
DIAGNOSIS

Sindrom Nefrotik

TB Paru
RENCANA TATALAKSANA
Infus D10% 10 tpm
Rhinofed syrup (Pseudoephedrine15 mg, terfenadine 20 mg) 3 x cth
(dihentikan ketika pilek sudah tidak ada)
Tempra syrup 1 x 1 cth
Cefspan (Cefixime) 2 x 1 (puyer)
OAT 1 x 1
Vitamin B6 1x1
Prednisone 3 x 3 tab (Prednisone dan OAT diberikan dengan jarak 6
jam)
Albumin 0.5 g/kgBB/hari
Observasi TTV per 6 jam
Hitung diuresis per 24 jam
Diet tinggi protein rendah garam
Cek urine lengkap rutin
RANGKUMAN PEMBELAJARAN
Pasien datang dengan keluhan bengkak pada kedua
mata kurang lebih sejak 2 bulan SMRS. Keluhan disertai
batuk pilek, demam, dan BAK warna keruh

Pada pemeriksaan fisik didapatkan edema periorbital


dekstra dan sinistra dan ascites

Pada hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan


hipoalbuminemia, protenuria, dan hiperkolestrolemia
RANGKUMAN PEMBELAJARAN
Keluhan utama: bengkak seluruh tubuh
Diagnosis banding:
Gizi buruk: nafsu makan baik, tidak ada penurunan
berat badan, status gizi baik
Urticaria: tidak ada gatal, tidak ada riwayat konsumsi
atau paparan alergen sebelumnya
Jantung: bengkak juga terdapat di bagian mata,
bengkak di bagian kaki minimal
Hepar: selain di bagian perut, bengkak juga terdapat di
bagian mata
Ginjal: bengkak terdapat di bagian mata, pagi lebih
bengkak daripada malam, urin berwarna keruh
RANGKUMAN PEMBELAJARAN
Hasil tes Mantoux positif, terdapat riwayat
paparan TB pada anggota keluarga, demam
lebih dari dua minggu, batuk lebih dari dua
minggu, gambaran foto toraks infiltrat pada
paru kiri bawah. Skor TB pasien: 8
RANGKUMAN PEMBELAJARAN

Berdasarkan hal tersebut, dipikirkan


diagnosis pasien adalah sindrom
nefrotik dengan TB paru.
SISTEM SKORING TB
Tabel 13. Sistemskoring gejaladan pemeriksaan penunjangTB anak
PA R A M E TE R 0 1 2 3 SKOR
K o n ta k d e n g a n p a s ie n T B T id a k je la s L a p o r a n k e lu a r g a , k o n ta k d g n K o n ta k d e n g a n p a s ie n
p a s ie n B T A n e g a tif a ta u tid a k B T A p o s itif
ta h u , a ta u B T A tid a k je la s
U ji T u b e r k u lin N e g a tif P o s itif ( 1 0 m m , a ta u 5 m m
p a d a k e a d a a n im u n o s u p r e s i)
B e r a t b a d a n /K e a d a a n g iz i G iz i k u r a n g : B B /T B < 9 0 % G iz i b u r u k : B B /T B < 7 0 %
( d e n g a n K M S a ta u ta b e l) a ta u B B /U < 8 0 % a ta u B B /U < 6 0 %
D e m a m t a n p a s e b a b je la s 2 m in g g u
B a tu k 3 m in g g u
P e m b e s a r a n k e le n ja r 1 cm
lim fe k o li, a k s ila , in g u in a l J u m la h 1 , T id a k n y e r i
P e m b e n g k a k a n tu la n g / A da pem bengkakan
s e n d i p a n g g u l, lu t u t,
fa la n g
F o to d a d a N o r m a l/ tid a k je la s S u g e s tif T B
JUMLAH SKOR 8
C a ta ta n :
o D ia g n o s is d e n g a n s is t e m s k o r in g d ite g a k k a n o le h d o k te r .
o J ik a d iju m p a i s k r o f u lo d e r m a ( T B p a d a k e le n ja r d a n k u lit ) , p a s ie n d a p a t la n g s u n g d id ia g n o s is tu b e r k u lo s is .

TUBERKULOSIS
o B e r a t b a d a n d in ila i s a a t p a s ie n d a ta n g lih a t ta b e l b e r a t b a d a n p a d a la m p ir a n 5 .
o D e m a m d a n b a tu k tid a k r e s p o n s te r h a d a p te r a p i s e s u a i b a k u P u s k e m a s .
o F o t o d a d a b u k a n a la t d ia g n o s tik u ta m a p a d a T B a n a k .
o S e m u a a n a k d e n g a n r e a k s i c e p a t B C G ( r e a k s i lo k a l tim b u l < 7 h a r i s e t e la h p e n y u n tik a n ) h a r u s d ie v a lu a s i d e n g a n s is te m s k o r in g T B anak.
o A n a k d id ia g n o s is T B jik a ju m la h s k o r 6 ( s k o r m a k s im a l 1 3 ) .
o P a s ie n u s ia b a lita y a n g m e n d a p a t s k o r 5 , d ir u ju k k e R S u n t u k e v a lu a s i le b ih la n ju t
115

4. B ATU K

SINDROM NEFROTIK
Definisi

Manifestasi klinis kelainan glomerulus

Ditandai dengan gejala proteinuria masif (> 40


mg/m2/jam), hipoalbuminemia (<2,5 g/dl), edema, dan
hiperkolesterolemia yang dikenal sebagai trias sindrom
nefrotik.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan bengkak pada
kelopak mata, tungkai, skrotum/labia mayora, dan
perut, buang air kecil berkurang
Epidemiologi

Angka kejadian bervariasi antara 2-7 per 100.000 anak

Ditemukan 90% pada kasus anak

Penyakit ginjal anak yang paling sering ditemui di


lingkungan klinis.
Perbandingan kejadian dengan sindrom nefrotik pada laki-
laki dan perempuan adalah 2:1.
Etiologi

Primer dan sekunder


Sekunder akibat dari penyakit sistemik lainnya seperti
SLE, Henoch-Schonlein purpura, keganasan seperti
limfoma dan leukemia, dan infeksi seperti hepatitis, HIV, dan
malaria atau konsumsi obat-obatan.

Primer: Kelainan pada glomerulus dapat disebabkan oleh


minimal change disease, glomerulosklerosis,
glomerulonephritis membranoproliferatif, nefropati C3, dan
nefropati membran.
Gejala Klinis

Proteinuria kelainan utama. Proteinuria disebabkan oleh


peningkatan permeabilitas kapiler terhadap protein
akibat kelainan atau kebocoran glomerulus.
Hipoalbuminemia hilangnya albumin melalui urin dan
peningkatan katabolisme albumin di ginjal.
Hiperlipidemia sintesis yang meningkat atau karena
degradasi yang menurun, atau bahkan keduanya.
Edema penurunan tekanan onkotik intravaskular yang
menyebabkan cairan merembes ke ruang interstisial.
Gejala Klinis

Peningkatan permeabilitas kapiler glomerulus albumin


akan keluar dan menimbulkan albuminuria dan
hipoalbuminemia penurunan pada tekanan onkotik
koloid plasma intravaskular peningkatan cairan
transudate melewati dinding kapiler dari ruang
intravaskular ke ruang interstisial yang akan
mengakibatkan terbentuknya edema.
Pada anak-anak dengan sindrom nefrotik, edema
umumnya terlihat pada kelopak mata dan seringkali
hilang timbul sehingga banyak disangka sebagai alergi
Gejala Klinis
Tatalaksana Medikamentosa

Pemberian steroid yaitu prednison dengan dosis penuh


(full dose) 60 mg/m2LPT/hari (2 mg/kg/hari) dibagi dalam 3
dosis setiap hari selama 4 minggu, dilanjutkan prednison
dengan dosis 2/3 dosis penuh atau 40 mg/m 2LPT/hari, 3
hari dalam seminggu, diberikan secara alternating (selang
sehari) selama 4-8 minggu.
Tatalaksana Suportif

Tatalaksana untuk edema yaitu diet protein normal, diet


rendah garam, dan diuretik.
Diuretik yang digunakan adalah furosemide 1-2
mg/kgbb/hari.
Pemberian albumin juga dilakukan untuk memarik cairan
dari jaringan intersisial dengan dosis albumin 0.5
g/kgBB/hari untuk kadar albumin serum 1-2 g/dL atau 1
g/kgBB/hari untuk kadar albumin serum kurang dari 1
g/dL.
Tatalaksana Suportif

Tekanan darah harus dipantau secara rutin untuk melihat


efek samping prednisone dan apakah pasien
membutuhkan obat anti hipertensi
Edukasi kepada orang tua terkait kondisi anak dan
tatalaksana yang diperlukan. Selain itu, perlu dijelaskan
bahwa diperlukan kontrol terkait pemberian prednisone
yang dapat menimbulkan efek samping

TUBERKULOSIS PARU
Definisi

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi


Mycobacterium tuberculosis yang bersifat
sistemik sehingga dapat mengenai hampir
semua organ tubuh, dengan lokasi
terbanyak di paru sebagai lokasi infeksi
primer yang paling sering ditemui.
Gejala TB
Pada anak, gejala TB berbeda dengan dewasa dan seringkali tidak
khas.

Gejala TB pada anak antara lain meliputi:


Berat badan turun tanpa sebab yang jelas, atau berat badan tidak
naik dengan adekuat atau tidak naik dalam 1 bulan setelah
diberikan upaya perbaikan gizi yang baik.
Demam lama (> 2 minggu) dan/atau berulang tanpa sebab yang
jelas. Batuk lama > 3 minggu, bersifat non-remitting (tidak pernah
reda atau intensitas semakin lama semakin parah), dan sebab lain
batuk telah disingkirkan.
Napsu makan tidak ada atau berkurang, disertai gagal tumbuh
(failure to thrive).
Lesu, malaise, anak kurang aktif bermain.
Gejala TB
Pemeriksaan fisik yang ditemukan juga seringkali
tidak khas

Pada anak, pemeriksaan penunjang yang umum


dilakukan adalah dengan cara Mantoux
Menyuntikkan 0,1 ml tuberkulin PPD RT 23 2
TU secara intrakutan di volar lengan bawah
dengan arah suntikan memanjang lengan
(longitudinal)
Gejala TB
Reaksi diukur 48-72 jam setelah penyuntikan dan indurasi transversal
diukur dan dilaporkan dalam milimeter berapapun ukurannya.
Positif: indurasi > 10
Negatif: indurasi < 5 mm
Indurasi 5-9 mm meragukan dan perlu diulang dengan jarak waktu
minimal 2 minggu.
Gejala TB
Uji tuberkulin positif menunjukkan adanya infeksi TB dan
kemungkinan TB aktif (sakit TB) pada anak.

Foto toraks juga dapat dilakukan dengan gambaran


sugestif meliputi pembesaran kelenjar hilus atau
paratrakeal, konsolidasi segmen/lobus paru, milier, kavitas,
efusi pleura, atelektasis, atau kalsifikasi.

Pada anak, pengambilan sampel dahak cukup sulit untuk


dilakukan.
Diagnosis TB anak
Diagnosis TB pada anak penurunan berat badan 2 bulan berturut-
turut tanpa sebab yang jelas atau gagal tumbuh, demam tanpa sebab
jelas, terutama jika berlanjut sampai 2 minggu, batuk kronik 3
minggu, dengan atau tanpa wheeze, dan riwayat kontak dengan pasien
TB

Diagnosis TB pada anak sistem skoring TB di Indonesia oleh


IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)

Skor 6 didiagnosis dan harus ditatalaksana sebagai pasien TB


dengan mendapat OAT (Obat Anti Tuberkulosis).

Skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan ke arah TB kuat


pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi
Skoring TB Anak
Tabel 13. Sistemskoring gejaladan pemeriksaan penunjangTB anak
PA R A M E TE R 0 1 2 3 SKOR
K o n ta k d e n g a n p a s ie n T B T id a k je la s L a p o r a n k e lu a r g a , k o n ta k d g n K o n ta k d e n g a n p a s ie n
p a s ie n B T A n e g a tif a ta u tid a k B T A p o s itif
ta h u , a ta u B T A tid a k je la s
U ji T u b e r k u lin N e g a tif P o s itif ( 1 0 m m , a ta u 5 m m
p a d a k e a d a a n im u n o s u p r e s i)
B e r a t b a d a n /K e a d a a n g iz i G iz i k u r a n g : B B /T B < 9 0 % G iz i b u r u k : B B /T B < 7 0 %
( d e n g a n K M S a ta u ta b e l) a ta u B B /U < 8 0 % a ta u B B /U < 6 0 %
D e m a m t a n p a s e b a b je la s 2 m in g g u
B a tu k 3 m in g g u
P e m b e s a r a n k e le n ja r 1 cm
lim fe k o li, a k s ila , in g u in a l J u m la h 1 , T id a k n y e r i
P e m b e n g k a k a n tu la n g / A da pem bengkakan
s e n d i p a n g g u l, lu t u t,
fa la n g
F o to d a d a N o r m a l/ tid a k je la s S u g e s tif T B
JUMLAH SKOR
C a ta ta n :
o D ia g n o s is d e n g a n s is t e m s k o r in g d ite g a k k a n o le h d o k te r .
o J ik a d iju m p a i s k r o f u lo d e r m a ( T B p a d a k e le n ja r d a n k u lit ) , p a s ie n d a p a t la n g s u n g d id ia g n o s is tu b e r k u lo s is .

TUBERKULOSIS
o B e r a t b a d a n d in ila i s a a t p a s ie n d a ta n g lih a t ta b e l b e r a t b a d a n p a d a la m p ir a n 5 .
o D e m a m d a n b a tu k tid a k r e s p o n s te r h a d a p te r a p i s e s u a i b a k u P u s k e m a s .
o F o t o d a d a b u k a n a la t d ia g n o s tik u ta m a p a d a T B a n a k .
o S e m u a a n a k d e n g a n r e a k s i c e p a t B C G ( r e a k s i lo k a l tim b u l < 7 h a r i s e t e la h p e n y u n tik a n ) h a r u s d ie v a lu a s i d e n g a n s is te m s k o r in g T B anak.
o A n a k d id ia g n o s is T B jik a ju m la h s k o r 6 ( s k o r m a k s im a l 1 3 ) .
o P a s ie n u s ia b a lita y a n g m e n d a p a t s k o r 5 , d ir u ju k k e R S u n t u k e v a lu a s i le b ih la n ju t
115

4. B ATU K
Tatalaksana TB Anak
Berdasarkan hasil skoring TB, skor 6, dapat didiagnosis dan harus
ditatalaksana sebagai pasien TB dengan mendapat OAT (Obat Anti
Tuberkulosis) selama dua bulan dan dievaluasi

Apabila respons positif atau membaik, terapi TB dilanjutkan dan apabila


tidak ada respons maka harus dicari penyebabnya sambil meneruskan
terapi TB.
Tatalaksana TB Anak
Pengobatan TB dibagi dalam 2 tahap yaitu tahap awal/intensif (2 bulan
pertama) dan sisanya sebagai tahap lanjutan.

Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat pada


fase awal/intensif (2 bulan pertama) dan dilanjutkan dengan 2
macam obat pada fase lanjutan (4 bulan, kecuali pada TB berat).

OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada tahap intensif maupun
tahap lanjutan.

Paket OAT anak berisi obat untuk tahap intensif, yaitu Rifampisin (R),
Isoniazid (H), Pirazinamid (Z), sedangkan untuk tahap lanjutan, yaitu
Rifampisin (R) dan Isoniasid (H).
Dosis OAT Anak

transaminase, hepatitis,
neuritis perifer,
hipersensitivitas
Rifampisin 10 20 600 mg Warna sekresi urin
kuning, mual, muntah,
hepatitis, flu like
reaction
Pirazinamid 30 40 2g Hepatotoksisitas,
hipersenstivitas
Etambutol 15 -25 2,5 g Neuritis optikal
(reversibel), gangguan
visus, gangguan warna,
gangguan saluran cerna
Streptomisin 15 40 1g Ototoksisitas,
neurotoksisitas
Dosis OAT Anak
Tersedia bentuk Kombinasi Dosis Tetap = KDT (Fixed Dose
Combination = FDC) untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam
meminum obat. Tablet KDT untuk anak tersedia dalam 2 macam tablet,
yaitu:
Tablet RHZ yang merupakan tablet kombinasi dari R (Rifampisin),
H (Isoniazid) dan Z (Pirazinamid) yang digunakan pada tahap
intensif.
Tablet RH yang merupakan tablet kombinasi dari R (Rifampisin)
dan H (Isoniazid) yang digunakan pada tahap lanjutan.

Jumlah tablet KDT yang diberikan harus disesuaikan dengan berat


badan anak dan komposisi dari KDT tersebut.
TUBERKULOSIS
O b a t h a r u s d ib e r ik a n s e c a r a u t u h , tid a k b o le h d ib e la h
O A T K D T d a p a t d ib e r ik a n d e n g a n c a r a : d ite la n s e c a r a u tu h a ta u d ig e r u s s e s a a t s e b e lu m
d im in u m .
Dosis OAT Anak
Bila paket KDT belum tersedia, dapat digunakan paket OAT Kombipak Anak.
Dosisnya seperti pada tabel berikut ini.

Tabel 15a. Dosis OAT Kombipak-fase-awal/intensif padaanak


J E N IS O B A T B B < 10 K G B B 10 20 K G B B 20 32 K G
( K O M B IP A K )
Is o n ia z id 50 m g 100 m g 200 m g
R ifa m p is in 75 m g 150 m g 300 m g
P ir a z in a m id 150 m g 300 m g 600 m g

Tabel 15b. Dosis OAT Kombipak-fase-lanjutan pada anak


J E N IS O B A T B B < 10 K G B B 10 20 K G B B 20 32 K G
( K O M B IP A K )
Is o n ia z id 50 m g 100 m g 200 m g
R ifa m p is in 75 m g 150 m g 300 m g

Pada keadaan TB berat, baik pulmonal maupun ekstrapulmonal seperti TB


milier, meningitis TB, TB sendi dan tulang, dan lain-lain:
Suportif
Edukasi kepada orang tua terkait TB dan pengobatan
selama 6 bulan yang tidak boleh terputus

Selama pengobatan TB harus kontrol setiap bulan

Edukasi terkait efek samping OAT (Rifampicin dapat


mengakibatkan air seni berwarna merah)

Pemberian asupan gizi yang adekuat untuk keberhasilan


terapi TB
Sindrom Nefrotik & TB Paru
Anak dengan sindrom nefrotik mudah terkena infeksi akibat dari
penurunan imunitas (cell-mediated immunity), gangguan fungsi limfosit
T, dan penggunaan kortikosteroid.

TB dapat muncul sesudah atau bersamaan dengan sindrom nefrotik


sehingga dapat mempengaruhi respon kortikosteroid dan/atau
mempercepat proses gangguan ginjal pada pasien.

Skrining TB sebelum memulai penggunaan kortikosteroid adalah


langkah yang penting pada tatalaksana pasien anak dengan
sindrom nefrotik
DISKUSI
Indikasi pulang pada pasien sindrom nefrotik adalah protein
negatif pada urin selama 3 hari berturut-turut
Pasien pulang paksa namun tetap kontrol ke poli untuk cek
urin hasil negatif selama 3 hari berturut-turut
Tatalaksana untuk sindrom nefrotik: Prednisone
Penghitungan dosis Prednisone: full dose 2
mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis
Dosis per hari 32 mg (2 x 16), dibagi 3 dosis (pagi,
siang, malam):
Pagi diberikan 3 tablet, siang 3 tablet, malam 2 tablet,
masing2 4 mg total pemberian 8 x 4 mg: 32 mg
DISKUSI
Albumin diberikan dengan dosis 0.5 g/kgBB/hari

Diet diberikan diet protein dan rendah garam. Pasien juga


mengkonsumsi putih telur dan ikan gabus
Pemberian ikan gabus pada pasien sindrom nefrotik
dapat meningkatkan kadar albumin serum

Pasien diberikan OAT kemudian dievaluasi selama 2 bulan

Vitamin B6 diberikan untuk mengurangi efek samping OAT


(INH)
Daftar Pustaka
1. Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED. Pedoman pelayanan medis ikatan
dokter anak Indonesia. Jakarta: IDAI. 2009

2. Pais P, Avner ED. Nephrotic Syndrome. In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BM, editors. Nelson
textbook of pediatrics. 20th ed. Elsevier Health Sciences; 2016.

3. Wirya W. Sindrom Nefrotik. In: Alatas H,Tambunan T, Trihono PP, Pardede SO, editors. Buku Ajar Nefrologi Anak.
Jakata: Balai Penerbit FKUI; 2002. p. 381-422.

4. World Health Organization. Country Office for Indonesia Pedoman pelayanan kesehatan anak di rumah sakit rujukan
tingkat pertama di kabupaten/ WHO ; alihbahasa, Tim Adaptasi Indonesia. Jakarta : WHO Indonesia, 2008

5. Gaur S, Iyengar A. Tuberculosis in nephrotic syndrome and chronic kidney disease: an appraisal. Pediatric Infectious
Disease. 2012 Apr 1;4(2):57-60.

6. Kusumawardhani T, Mexitalia M, Susanto JC, Kosnadi L. Pemberian diet formula tepung ikan gabus (Ophyocephalus
striatus) pada penderita sindrom nefrotik, Sari Pediatri, Vol. 8, No. 3, Desember 2006: 251 - 256

TERIMA KASIH