Anda di halaman 1dari 24

RESPONSI KASUS

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS. Sumber Waras

Nama Mahasiswa Annisa Nurditasari Hadiwinata


NIM 406137012
Pembimbing Dr. Melani R Mantu, Sp.A

Tanggal presentasi : 08 Agustus 2014


Anamnesa diperoleh dari : Ibu kandung pasien (Alloanamnesa)
Tanggal pemeriksaan : 03 Agustus 2014
Tanggal masuk rumah sakit : 03 Agustus 2014

IDENTITAS PASIEN
Nama : Azka Trisnawati
Jenis kelamin : Laki-laki
Tanggal lahir : 23 November 2011
Umur : 3 tahun 8 bulan
Agama : Islam
No. Rekam medik : 56-83-28
Dirawat di : RKH 2/208-1

1
Keluhan utama : Kejang

Riwayat perjalanan penyakit

Pasien datang dengan keluhan utama kejang saat 3 jam sebelum masuk
rumah sakit, kejang berlangsung selama 5 menit . Pada saat kejang seluruh tubuh
kaku, tangan menekuk ke dalam, kaki lurus kaku, dan mata mendelik ke atas. Kejang
hanya berlangsung sebanyak 1 kali. Setelah kejang pasien lemas dan tertidur .
Kejang didahului oleh demam , diukur dengan termometer 410 C 1 jam sebelum
demam . Setelah kejang, pasien masih dapat mengenali orang tua nya. Pasien pernah
mengalami kejang demam sebelumnya sebanyak satu kali, saat usia 1 tahun 3 bulan.
Tidak ada riwayat sakit kepala.

Pasien mengalami demam sejak dua hari sebelum masuk rumah sakit .
demam timbul mendadak, suhu langsung tinggii dan terus menerus. Ibu mengukur
suhu pasien dengan termometer digital, didapatkan hasil 41 0 C . Ibu sempat memberi
obat penurun panas berupa proris supp 1x1 tablet dan Brufen sirup 3x1 sendok takar
5 ml. Demam hanya turun sebentar setelah diberi obat , kemudian naik kembali.
Demam disertai menggigil. Tidak ada gusi berdarah, mimisan . tidak nyeri telinga,
tidak keluar cairan dari telinga. Tidak ada riwayat benturan, tidak sakit kepala atau
pusing. Tidak nyeri menelan, pegal, lemas, nyeri tulang, bengkak sendi, gigi
berlubang,. Tidak ada bercak /bentol merah. Mata tidak merah, tidak keluar cairan,
tidak belekan, mata tidak kuning,. Pasien tidak jajan sembarangan , nafsu makan
menurun sejak demam.

Mencret 3 x sejak 12 jam sebelum masuk rumah sakit, sebanyak gelas


aqua setiap sekali mencret. Mencret cair dengan ampas yang lebih sedikit dari
airnya, tidak ada lendir, darah bau busuk, warna kuning. Terakhir kali makan nasi
dengan sayuran yang dimasak ibunya. Air minum matang. Pasien tampak lebih haus,
suka minum air putih . mata tidak tampak cekung , pantat tidak merah, tidak ada
yang mencret di lingkungan pasien.

Muntah 1 x sejak 12 jam sebelum masuk rumah sakit. Muntah tidak


menyemprot, tidak didahului mual,. Muntah sebanyak gelas aqua, isi susu , perut
tidak nyeri. Sebelum muntah hanya minum susu , tidak ada riwayat benturan, tidak
nangis saat muntah , tampak lebih haus, sebelum makan tidak ada aktivitas berat,
mata tidak cekung .

Tidak ada batuk dan pilek.

Riwayat buang air kecil : lancar, berwarna kuning bening, tidak ada darah dan
pasien tidak meringis ataupun menangis saat buang air
kecil.

2
Riwayat buang air besar : lancar, berwarna kuning kecoklatan, konsistensi lunak,
tidak ada darah, tidak ada lendir, frekuensi 2 kali sehari,
pasien tidak meringis ataupun menangis saat buang air
besar.

Riwayat penyakit dahulu

- Pasien dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita saat usia 1 tahun 8 bulan dengan
kejang demam . kejang 3x sehari pada saat itu.

Riwayat keluarga

Pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara


Ayah, Ibu, kakak pasien dalam keadaan sehat
Tidak ada riwayat kejang demam dalam keluarga

Riwayat Kehamilan dan persalinan

ANC : Selama kehamilan, ibu pasien rajin kontrol ke bidan. Ibu


pasien tidak pernah sakit berat selama kehamilan. Ibu pasien
tidak minum jamu-jamuan atau obat-obatan selama
kehamilan.

Persalinan : Pasien lahir normal (partus spontan), ditolong oleh bidan,


usia kehamilan 41 minggu , langsung menangis, tidak kuning,
tidak biru.

Berat badan lahir : 3000 gram

Panjang badan lahir : 48 cm

Bayi Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan (BCB SMK)

Riwayat imunisasi

Pasien mendapat Imunisasi di Puskesmas

BCG : 1 kali, umur 1 bulan. Scar (+) di lengan kanan atas

Hepatitis B : 4 kali, umur 0,2,3,4 bulan.

3
Polio : 4 kali, umur 0, 2, 3, 4 bulan.

DPT : 3 kali, umur 2, 3, 4 bulan.

Campak : 1 kali, umur 9 tahun

Belum mendapat imunisasi lain selain yang dasar

Riwayat tumbuh kembang

Riwayat pertumbuhan : Ibu pasien rutin memeriksa BB dan PB di Posyandu setiap


bulan. Menurut ibu pasien, berat badan dan tinggi badan
pasien bertambah setiap bulannya, tetapi ibu pasien tidak
tahu secara pasti berapa pertumbuhannya.

Riwayat perkembangan : Usia 3 bulan pasien dapat tengkurap dan mengangkat


kepala

Usia 6 bulan pasien sudah bisa duduk tanpa pegangan.

Usia 9 bulan pasien bisa merangkak, sudah bisa berdiri.


dan jalan dituntun

Usia 12 bulan pasien dapat berbicara mama, dan


berjalan lancar

Usia 18 bulan pasien sudah bisa berbicara dalam


kalimat

Usia 3 tahun dapat mengayuh sepeda , berlari

Riwayat makanan

0 4 bulan : ASI eksklusif

4 5 bulan : Susu formula 4 sendok takar dalam 120 cc air matang, 3 kali
sehari selalu habis

6 10 bulan : Susu formula 4 sendok takar dalam 120 cc air matang, 3 kali
sehari selalu habis

Bubur halus dicampur dengan wortel, brokoli, dan mentega


yang dibuat sendiri, diberikan dalam 1 mangkok kecil , 2-3
sendok makan, 2-3kali sehari, selalu habis

4
10-15 bulan : Susu formula 4 sendok takar dalam 120 cc air matang, 3 kali
sehari selalu habis

Nasi Lembek ditambah lauk sup dan sayuran yang dibuat


sendiri , diberikan sebanyak 4-5 sendok makan 2-3 kali sehari

16 bulan - sekarang : Susu formula Dancow 4 sendok takar dalam 120 cc air
matang, 3-4 kali sehari selalu habis

Nasi dan lauk yang dipotong kecil-kecil menu keluarga, 1


mangkok sedang, diberikan 3 kali sehari dan selalu habis

Pemeriksaan Jasmani

Keadaan umum : kesadaran compos mentis, GCS 15 (E4M6V5). Tampak sakit


sedang,

Irritable
Tidak ikterik
Tidak sianosis
Tidak anemis
Tidak dyspnea
Tidak lethargis

Tanda vital

Frekuensi nadi : 98 x/menit, reguler

Suhu tubuh : 40C diukur pada axilla

Frekuensi napas : 24 x/menit, reguler

Data antropologi

Berat badan : 12 kg

Tinggi badan : 93 cm

IMT/U : SD dibawah -1 = normal

Status gizi : gizi kurang

5
Pemeriksaan fisik

Kepala Bentuk dan ukuran normal, tidak teraba benjolan, tidak ada
kelainan di kulit kepala, rambut hitam terdistribusi merata, tidak
mudah dicabut. Ubun-ubun besar telah menutup.

Mata Kedudukan bola mata simetris, palpebra superior et inferior,


dekstra et sinistra tidak edema, tidak cekung, konjungtiva palpebra
dekstra et sinistra tidak anemis, sklera dekstra et sinistra tidak
ikterik. Kedua pupil bulat, isokor, diameter 3mm, Refleks cahaya
kedua mata positif cepat.

Telinga Bentuk normal, kedua liang telinga lapang, tidak ada sekret, tidak
terdapat serumen di kedua telinga, tidak nyeri tekan tragus, tidak
ada nyeri tarik aurikuler, kelenjar getah bening pre-retro-post
aurikuler tidak teraba.

Hidung Bentuk normal, tidak ada septum deviasi, mukosa di kedua lubang
hidung tidak hiperemis tidak ada sekret, tidak ada darah, tidak ada
pernapasan cuping hidung.

Mulut Bibir kering, perioral tidak sianosis, mukosa mulut tidak kering,
lidah tidak kotor, tonsil T1-T1 tidak hiperemis, tidak ada detritus,
faring tidak hiperemis.

Leher Trakea di tengah, kelenjar tiroid tidak teraba, kelenjar getah bening
submandibula, supra-infra clavicula, cervical, tidak teraba

Inspeksi :
Bentuk normal, simetris dalam diam dan pergerakan napas
Thoraks Palpasi :
Stem fremitus kanan - kiri, depan - belakang sama kuat
Perkusi :
Sonor, batas paru hepar di ICS VI MCL dextra
Auskultasi :
Suara nafas vesikuler, tidak ada ronki dan wheezing di kedua paru

Inspeksi :
Tidak tampak pulsasi ictus kordis.
Jantung Palpasi :
Pulsasi ictus kordis teraba di ICS V MCL sinistra
Perkusi :
Redup, Batas jantung kanan : Sejajar ICS V Midsternal line
Batas jantung kiri : di ICS V MCL sinistra

6
Batas jantung atas : di ICS II parasternal line sinistra
Auskultasi :
Bunyi jantung I dan II reguler, tidak ada murmur, tidak ada gallop

Abdomen Inspeksi :
Tampak datar
Auskultasi :
Bising usus positif normal 10 kali permenit
Perkusi :
Normo Timpani.
Palpasi :
Supel, hepar tidak teraba, permukaan rata, konsistensi kenyal, tepi
tajam, lien tidak teraba, turgor kulit normal <2 detik.

Anus dan rectum Tidak tampak kelainan dari luar (tidak tampak benjolan).

Genitalia Tidak tampak kelainan dari luar, tidak ada tanda-tanda radang,
tidak ada phimosis.

Anggota gerak Superior et inferior dextra et sinistra tidak edema, tidak terdapat
deformitas, akral hangat. Capillary refill normal (< 2 detik)

Tulang belakang Tidak tampak adanya skoliosis, lordosis, kifosis.

Kulit Turgor kulit baik,

Status neurologis
Rangsang meningeal : Kaku kuduk (-)
Brudzinski I (-)
Brudzinski II (-/-)
Laseq (-/-)
Kerniq (-/-)

Reflek Fisiologis : Biceps +/+, normal


Triceps +/+, normal
Patella +/+, normal
Achilles +/+, normal

Reflek patologis : Babinski -/-


Chaddock -/-
Oppenheim -/-

Pemeriksaan laboratorium

7
Normal 3 Agustus 2014
HEMATOLOGI
Hemoglobin 13-18 g/dl 11,3

Hematokrit 40-52 % 33,1

Eritrosit 4,4-5,9 jt/ul 4,19

Retikulosit 0,5-1,5 % -

Leukosit 4.000-11.000/ul 9.900

Trombosit 150.000-440.000/ul 218.000

LED 0-15 mm/jam 48

SEDIAAN HAPUS

Hitung jenis leukosit

Basofil 0-1 % 0
Eosinofil 1-3 % 2
Batang 2-6 % 2
Segmen 50-70 % 72
Limphosit 20-40 % 23
Monosit 2-8 % 1
ELEKTROLIT

Kalium Darah 3,5-5,0 mmol/L 4,3


Natrium Darah 136-146 mmol/L 132
Chlorida Darah 98-106 mmol/L 96
Calsium Ion 1,15-1,29 mmol/L 1,04

RESUME

Telah diperiksa seorang anak laki-laki, usia 3 tahun 8 bulan datang dengan
keluhan kejang saat 3 jam sebelum masuk rumah sakit, kejang berlangsung selama
5 menit . Pada saat kejang seluruh tubuh kaku, tangan menekuk ke dalam, kaki
lurus kaku, dan mata mendelik ke atas. Kejang hanya berlangsung sebanyak 1 kali.
Setelah kejang pasien lemas dan tertidur, ketika bangun dapat mengenali
orangtuanya. Kejang didahului oleh demam. Pasien pernah mengalami kejang
demam sebelumnya sebanyak satu kali, saat usia 1 tahun 3 bulan. Demam sejak dua
hari sebelum masuk rumah sakit . demam timbul mendadak, suhu langsung tinggi
dan terus menerus. Ibu mengukur suhu pasien dengan termometer digital, didapatkan
hasil 410 C . Ibu sempat memberi obat penurun panas berupa proris supp 1x1 tablet
dan Brufen sirup 3x1 sendok takar 5 ml. Demam hanya turun sebentar setelah diberi

8
obat , kemudian naik kembali. Demam disertai menggigil. Mencret 3 x sejak 12 jam
sebelum masuk rumah sakit, sebanyak gelas aqua setiap sekali mencret. Mencret
cair dengan ampas yang lebih sedikit dari airnya, tidak ada lendir, darah bau busuk,
warna kuning. Terakhir kali makan nasi dengan sayuran yang dimasak ibunya. Air
minum matang. Pasien tampak lebih haus, suka minum air putih . Muntah 1 x sejak
12 jam sebelum masuk rumah sakit. Muntah tidak menyemprot, tidak didahului
mual,. Muntah sebanyak gelas aqua, isi susu , perut tidak nyeri.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan :


Keadaan Umum : tampak sakit sedang, Compos Mentis (GCS 15), tidak sesak
napas, tidak biru, tidak pucat, tidak kuning, status gizi kurang

Frekwensi nadi : 98 x/ menit, reguler, isi cukup

Suhu tubuh : 40 C

Frekwensi napas : 24 x/ menit, reguler, abdominotorakal.

Paru : vesikuler, ronkhi - / - , wheezing - / -

Jantung : Bunyi jantung I dan II normal, Murmur -, Gallop -

Abdomen : soepel, timpani, hepar tidak teraba, permukaan rata, tepi tumpul.

Bising usus + normal.

Pemeriksaan laboratorium

Normal 3 Agustus 2014


HEMATOLOGI
Hemoglobin 13-18 g/dl 11,3

Hematokrit 40-52 % 33,1

Eritrosit 4,4-5,9 jt/ul 4,19

Retikulosit 0,5-1,5 % -

Leukosit 4.000-11.000/ul 9.900

Trombosit 150.000-440.000/ul 218.000

LED 0-15 mm/jam 48

SEDIAAN HAPUS

9
Hitung jenis leukosit

Basofil 0-1 % 0
Eosinofil 1-3 % 2
Batang 2-6 % 2
Segmen 50-70 % 72
Limphosit 20-40 % 23
Monosit 2-8 % 1
ELEKTROLIT

Kalium Darah 3,5-5,0 mmol/L 4,3


Natrium Darah 136-146 mmol/L 132
Chlorida Darah 98-106 mmol/L 96
Calsium Ion 1,15-1,29 mmol/L 1,04

Diagnosa kerja

- Kejang Demam Sederhana

Diagnosa banding

- Epilepsi
- Meningitis
- Esefalitis
- Meningoensefalitis

Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan Darah Rutin (Hb, Ht, Eritrosit, Leukosit, Trombosit)


2. Pemeriksaan Elektrolit (Na, K, Cl)
3. Pemeriksaan Urinalisis
4. Pemeriksaan Feses Lengkap

PENATALAKSANAAN

IVFD RL 1100 cc /24 jam = 15 TPM


Paracetamol syr 3x1 Cth bila suhu > 38,50 C
(10-15 mg/kgBB/x 3-4x sehari. 10x12kg=120 mg )
Diazepam supp 6 mg tiap 8 jam jika suhu >38,50 C
(0,5 mg/kgBB = 12 x 0,5 = 6 mg)

10
ANALISIS KASUS

I. Dasar Diagnosa : KEJANG DEMAM SEDERHANA

Dari anamnesa :

Didapatkan pada seorang anak laki-laki, usia 3 tahun 8 bulan datang dengan
keluhan kejang saat 3 jam sebelum masuk rumah sakit, kejang berlangsung selama
5 menit . Pada saat kejang seluruh tubuh kaku, tangan menekuk ke dalam, kaki
lurus kaku, dan mata mendelik ke atas. Kejang hanya berlangsung sebanyak 1 kali.
Setelah kejang pasien lemas dan tertidur, ketika bangun dapat mengenali
orangtuanya. Kejang didahului oleh demam. Pasien pernah mengalami kejang
demam sebelumnya sebanyak satu kali, saat usia 1 tahun 3 bulan. Demam sejak dua
hari sebelum masuk rumah sakit . demam timbul mendadak, suhu langsung tinggi
dan terus menerus. Ibu mengukur suhu pasien dengan termometer digital, didapatkan
hasil 410 C . Ibu sempat memberi obat penurun panas berupa proris supp 1x1 tablet
dan Brufen sirup 3x1 sendok takar 5 ml. Demam hanya turun sebentar setelah diberi
obat , kemudian naik kembali. Demam disertai menggigil. Mencret 3 x sejak 12 jam
sebelum masuk rumah sakit, sebanyak gelas aqua setiap sekali mencret. Mencret
cair dengan ampas yang lebih sedikit dari airnya, tidak ada lendir, darah bau busuk,
warna kuning. Terakhir kali makan nasi dengan sayuran yang dimasak ibunya. Air
minum matang. Pasien tampak lebih haus, suka minum air putih . Muntah 1 x sejak
12 jam sebelum masuk rumah sakit. Muntah tidak menyemprot, tidak didahului
mual,. Muntah sebanyak gelas aqua, isi susu , perut tidak nyeri.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan :


Keadaan Umum : tampak sakit sedang, Compos Mentis (GCS 15), tidak sesak
napas, tidak biru, tidak pucat, tidak kuning, status gizi kurang

Frekwensi nadi : 98 x/ menit, reguler, isi cukup

Suhu tubuh : 40 C

11
Frekwensi napas : 24 x/ menit, reguler, abdominotorakal.

Paru : vesikuler, ronkhi - / - , wheezing - / -

Jantung : Bunyi jantung I dan II normal, Murmur -, Gallop -

Abdomen : soepel, timpani, hepar tidak teraba, permukaan rata, tepi tumpul.

Bising usus + normal.

Pemeriksaan Laboratorium
Normal 3 Agustus 2014
HEMATOLOGI
Hemoglobin 13-18 g/dl 11,3

Hematokrit 40-52 % 33,1

Eritrosit 4,4-5,9 jt/ul 4,19

Retikulosit 0,5-1,5 % -

Leukosit 4.000-11.000/ul 9.900

Trombosit 150.000-440.000/ul 218.000

LED 0-15 mm/jam 48

SEDIAAN HAPUS

Hitung jenis leukosit

Basofil 0-1 % 0
Eosinofil 1-3 % 2
Batang 2-6 % 2
Segmen 50-70 % 72
Limphosit 20-40 % 23
Monosit 2-8 % 1
ELEKTROLIT

Kalium Darah 3,5-5,0 mmol/L 4,3


Natrium Darah 136-146 mmol/L 132
Chlorida Darah 98-106 mmol/L 96
Calsium Ion 1,15-1,29 mmol/L 1,04

12
Berdasarkan data-data yang tersebut diatas, maka diagnose kerja pasien ini adalah
Kejang-Demam Sederhana, karena :

A. Berdasarkan anamnesis didapatkan :


- Pasien kejang 10 jam setelah demam tinggi
- Lama kejang kurang dari 15 menit (sekitar 5 menit)

B. Pada pemeriksaan fisik dalam batas normal


- Tidak ada deficit neurologis
- Pemeriksaan fisik lainnya dalam batas normal

C. Pada pemeriksaan Laboratorium didapatkan :


- Dari pemeriksaan darah tepi, tidak didapatkan tanda-tanda infeksi, hanya
jumlah hematokrit sedikit dibawah normal.
- Dari pemeriksaan hitung jenis, tidak didapatkan peningkatan.
- Pemeriksaan LED meningkat, menandakan adanya infeksi kronis.
- Pada pemeriksaan elektrolit didapatkan penurunan natrium, clorida dan
kalsium darah

Diagnosa Banding

Meningitis

Anak menjadi lesu, suhu selalu naik. Anak sering muntah, nyeri kepala (pada
anak yang lebih besar), kesadaran bayi / anak menurun dari apatis sampai coma.
Kejang yang terjadi dapat berupa umum, fokal atau twitching. Terdapat kaku-kuduk,
malahan dapat terjadi rigiditas umum. Pada pasien ini tidak ada kaku-kuduk.

Ensefalitis

Suhu mendadak naik, kesadaran dengan cepat menurun. Pada anak besar,
sebelum kesadaran menurun sering mengeluh nyeri kepala. Muntah sering
ditemukan. Kejang-kejang dapat bersifat umum atau fokal, atau hanya twitching saja.
Kejang-kejang dapat berlangsung berjam-jam. Gejala-gejala cerebrum yang beraneka
ragam dapat timbul sendiri-sendiri atau bersama-sama, misalnya paresis atau
paralisis, aphasia dan sebagainya.

13
Pada pasien ini kejang hanya sebentar yaitu 2 menit, tidak ada paralisis.

Epilepsy

Pada epilepsy manifestasi bangkitan kejang dapat bermacam-macam dari


yang ringan seperti rasa tidak enak di perut sampai kepada yang berat (kesadaran
menghilang disertai kejang tonik-klonik). Pada umumnya tidak ada demam, tidak
ada batuk-pilek, kejang terjadi berulang-ulang.

Diagnose Gizi

Status Gizi

BB/U : SD dibawah -2 = gizi kurang

TB/U : SD dibawah -1 = perawakan normal

BB/TB : SD dibawah -1 = normal

BMI/U : SD dibawah -1 = normal

Kebutuhan gizi berdasarkan BB ideal menurut TB sekarang yaitu 13,5 kg

Energi : 13,5 x 102 kkal/hari = 1377 kkal/hari

Protein : 15% = 15/100 x 1377 kkal = 206,55/4 x 1 g = 51,63 g/hari

Lemak : 25% = 25/100 x 1377 kkal = 344,25/9 x 1 g = 38,25 g/hari

Karbohidrat : 60% = 60/100 x 1377 kkal = 826,2/4 x 1 g = 206,55 g/hari

Pemeriksaan penunjang

1. Punksi Lumbal

14
Dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis atau ensefalitis,
karena pada pasien usia 10 bulan sulit untuk menegakan diagnose
meningitis secara pasti.
2. Pemeriksaan Darah Rutin (Hb, Ht, Eritrosit, Leukosit, Trombosit)
Dilakukan untuk mengetahui adanya factor-faktor resiko lain yang dapat
menyebabkan terjadinya demam dan kejang pada pasien.
3. Pemeriksaan Elektrolit (Na, K, Cl)
Dilakukan untuk mengetahui apakah ada kelainan yang berhubungan
dengan keseimbangan metabolic-elektrolit pasien.
4. Pemeriksaan Urinalisis
Dilakukan untuk mengetahui apakah ada infeksi yang berasal dari saluran
kemih.
5. Pemeriksaan Feses Lengkap
Dilakukan untuk mengetahui apakah ada infeksi yang berasal dari saluran
pencernaan.

Penatalaksanaan

Non medikamentosa:

1. Istirahat
2. Edukasi keluarga
Edukasi keluarga diperlukan agar dapat memantau keadaan anak bila terjadi
demam sehingga bila terjadi demam yang tinggi keluarga dapat memberikan
pencegahan dan pertolongan pertama dengan obat penurun panas agar pasien tidak
terjadi kejang.

Medikamentosa

Simptomatik

Antipiretik : Paracetamol 3 x 75 mg i.v

15
(diberikan untuk mencegah demam meningkat dengan dosis : 10 15
mg/kgBB/kali, maksimal 5 kali pemberian).

Bila kejang : Diazepam 2,5 mg i.v per rectal. (Bila kejang belum teratasi,
pemberian Diazepam dapat diulangi dengan dosis yang sama 3 menit
kemudian).

(diberikan untuk menghentikan kejang dan untuk menurunkan risiko


berulangnya kejang. Hati-hati terhadap efek sampingnya yaitu depresi napas).

Prognosis

Quo ad vitam : ad bonam

Karena dengan terapi yang adekuat diharapkan tidak ditemukan


komplikasi yang dapat menyebabkan kematian.

Quo ad fungsionam : ad bonam

Karena jarang ditemukan kerusakan organ yang menetap akibat


kejang demam sederhana.

Quo ad sanationam : dubia ad bonam

Karena dapat terjadi kekambuhan apabila penyebab demam pada


pasien belum diketahui dan tidak ditangani dengan benar.

16
Tinjauan Pustaka

Definisi kejang demam

Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu rectal di atas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang
demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada anak,
terutama pada golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun. Terjadinya bangkitan kejang
demam bergantung kepada umur, tinggi serta cepatnya suhu meningkat. Factor
hereditas juga mempunyai peranan.

Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures, kejang demam adalah


suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun,
berhubungan dengan demam tetapi tidak terbukti adanya infeksi intracranial atau
penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi berumur kurang
dari 4 minggu tidak termasuk. Derajat tingginya demam yang dianggap cukup untuk
diagnosis kejang demam ialah 38C atau lebih, tetapi suhu sebenarnya pada waktu
kejang sering tidak diketahui.

Klasifikasi

a. Kejang Demam Sederhana ( Simple febrile seizure)


Kejang demam yang berlangsung singkat kurang dari 15 menit dan umumnya
akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik tanpa
gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam
sederhana merupakan 80% diantara seluruh kejang demam.
b. Kejang Demam Kompleks (Complex febrile seizure)
Kejang demam dengan salah satu cirri berikut ini :
1. Kejang lama > 15 menit.
2. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang
kejang parsial.
3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

17
Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang
berulang lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan kejang anak tidak sadar. Kejang
lama terjadi pada 8 % kejang demam.

Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang didahului
kejang parsial.

Kejang Multipel adalah kejang lebih daripada 1 kali kejang per episode demam.

Kejang demam berulang adalah kejang demam yang timbul pada lebih dari satu
episode demam.

Factor yang penting pada kejang demam ialah demam, umur, genetic,
prenatal, dan perinatal. Demam sering disebabkan infeksi saluran pernapasan atas,
otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak
selalu timbul pada suhu yang paling tinggi, kadang-kadang demam yang tidak begitu
tinggi sudah dapat menyebabkan kejang. Bila kejang telah terjadi pada demam yang
tidak tinggi, anak mempunyai risiko tinggi untuk berulangnya kejang.

Kejang demam sangat tergantung kepada umur, 85% kejang pertama sebelum
berumur 4 tahun, terbanyak di antara 17-23 bulan. Hanya sedikit yang mengalami
kejang demam pertama sebelum berumur 5 -6 bulan atau setelah berumur 5-8 tahun.
Biasanya setelah berumur 6 tahun pasien tidak kejang demam lagi, walaupun pada
beberapa pasien masih dapat mengalami sampai umur lebih dari 5-6 tahun. Kejang
demam diturunkan secara dominan autosomal sederhana. Banyak pasien kejang
demam yang orangtua atau saudara kandungnya menderita penyakit yang sama.
Factor prenatal dan perinatal dapat berperan dalam kejang demam.

Manifestasi Klinis

Umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang


klonik atau tonik-klonik bilateral. Seringkali kejang berhenti sendiri. Kejang dapat
diikuti oleh hemiparesis sementara (hemiparesis Todd) yang berlangsung beberapa
jam sampai beberapa hari. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh
hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama lebih sering

18
terjadi pada kejang demam yang pertama. Kejang berulang dalam 24 jam ditemukan
pada 16% pasien.

Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan


dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di
luar susunan saraf pusat.

Misalnya :

- Tonsillitis
- OMA (otitis media akut)
- Bronchitis
- Furunkulosis , dll.

Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam,


berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, tonik,
klonik, fokal, atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang
berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa
detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf.

Bila menghadapi penderita dengan kejang demam, pertanyaan yang sering timbul
adalah dapatkah diramalkan dari sifat kejang atau gejala yang mana kemungkinan
lebih besar untuk menderita epilepsy?

Pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana (menurut criteria


Livingston):

1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun.


2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit.
3. Kejang bersifat umum.
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam.
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal.
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal
tidak menunjukan kelainan.
7. Frekuensi bangkitan kejang di dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.

Kejang demam yang tidak memenuhi salah-satu atau lebih dari ketujuh criteria
Livingston diatas digolongkan pada epilepsy yang diprovokasi oleh demam. Kejang

19
kelompok kedua ini mempunyai suatu dasar kelainan yang menyebabkan timbulnya
kejang (penyebabnya intrakranium), sedangkan demam hanya merupakan factor
pencetus saja.

Perjalanan Penyakit

Beberapa hal yang harus dievaluasi adalah mortalitas, perkembangan mental,


dan neurologis, berulangnya kejang demam dan risiko terjadinya epilepsy
dikemudian hari. Mortalitas pada kejang demam sangat rendah, hanya sekitar 0,64-
0,74%.

Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien


yang sebelumnya normal. Kelainan neurologis yang terbanyak ialah hemiparesis,
disusul diplegia, chorea-atetosis atau rigiditas deserebrasi. Kelainan ini biasanya
terjadi pada pasien dengan kejang lama atau kejang berulang baik umum maupun
fokal. 11% pasien kejang menunjukan hiperaktivitas walaupun tidak diberi
pengobatan fenobarbital.

Gangguan intelek dan gangguan belajar jarang terjadi pada kejang demam
sederhana. IQ lebih rendah ditemukan pada pasien kejang demam yang berlangsung
lama dan mengalami komplikasi. Risiko retardasi mental menjadi 5 kali lebih besar
apabila kejang demam diikuti terulangnya kejang tanpa demam.

Angka kejadian epilepsy pada pasien kejang demam kira-kira 2-3 kali lebih
banyak dibandingkan populasi umum, dan pada pasien kejang demam yang berulang
kemungkinan terjadinya epilepsy 2 kali lebih sering dibandingkan dengan pasien
yang tidak mengalami berulangnya kejang demam.

Factor risiko terjadinya epilepsy adalah :

1. Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologis atau
perkembangan.
2. Adanya riwayat kejang tanpa demam (epilepsy) pada orang tua atau saudara
kandung.
3. Kejang berlangsung lama lebih dari 15 menit atau kejang fokal.

20
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam,


tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau
keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan
laboratorium yang dapat dikerjakan misalnya pemeriksaan darah tepi, elektrolit dan
gula darah.

Punksi Lumbal

Pemeriksaan cairan cerebrospinal dilakukan untuk menegakan atau


menyingkirkan kemungkinan meningitis. Risiko terjadinya meningitis bakterialis
adalah 0,6 6,7 %.

Pada bayi kecil seringkali sulit untuk menegakan atau menyingkirkan


diagnosis meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas. Oleh karena itu punksi
lumbal dianjurkan pada:

1. Bayi kurang dari 12 bulan (sangat dianjurkan)


2. Bayi antara 12 18 bulan (dianjurkan)
3. Bayi > 18 bulan (tidak rutin)

Bila yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal.

EEG (Elektroensefalografi)

Pemeriksaan EEG (Elektroensefalografi) tidak dapat memprediksi


berulangnya kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsy pada
pasien kejang demam. Oleh karenanya tidak direkomendasikan. Pemeriksaan EEG
masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas. Misalnya :
kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.

Radiologis

Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti CT-scan (computed tomography


scan) atau MRI (magnetic resonance imaging) jarang sekali dikerjakan, tidak rutin
dan hanya atas indikasi seperti :

21
1. Kelainan neurologic fokal yang menetap (hemiparesis).
2. Paresis Nervus VI
3. Papiledema

Tata Laksana

Pada tatalaksana kejang demam ada 3 hal yang perlu diperlukan :

1. Pengobatan Fase Akut


2. Mencari dan mengobati penyebab
3. Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam

Pengobatan Fase Akut

Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu pasien sedang kejang :

- Pakaian yang ketat dibuka


- Pasien dimiringkan apabila muntah untuk mencegah aspirasi.
- Jalan napas harus bebas agar oksigenasi terjamin.
- Penghisapan lendir dilakukan secara teratur, diberikan oksigen, kalau perlu
intubasi.
- Awasi tanda vital (kesadaran, suhu, tensi, napas, dan fungsi jantung)
- Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres air dingin dan pemberian
antipiretik.
- Diazepam adalah pilihan utama dengan pemberian secara intravena atau
intrarektal. (Dosis : 0,3 0,5 mg/kgBB)

Mencari dan Mengobati Penyebab

Pemeriksaaan cairan cerebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan


kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama.
Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus
yang dicurigai mengalami meningitis atau bila kejang demam berlangsung lama.
Pada bayi kecil sering manifestasi meningitis tidak jelas, sehingga pungsi lumbal
harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6 bulan, dan dianjurkan pada pasien
berumur kurang dari 18 bulan. Pemeriksaan laboratorium lain perlu dilakukan untuk
mencari penyebab.

22
Pengobatan Profilaksis

Pencegahan berulangnya kejang demam perlu dilakukan karena menakutkan


dan bila sering berulang menyebabkna kerusakan otak yang menetap.

Ada 2 cara profilaksis :

1. Profilaksis intermittent pada waktu demam.


2. Profilaksis terus-menerus dengan antikonvulsan tiap hari.

A. Profilaksis Intermittent

Anticonvulsant hanya diberikan pada waktu pasien demam dengan ketentuan


orangtua pasien atau pengasuh mengetahui dengan cepat adanya demam pada
pasien. Obat yang diberikan harus cepat diabsorpsi dan cepat masuk ke otak.

Diazepam : 0,5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis pada waktu pasien


demam.

E.S : ataksia, mengantuk dan hipotonia.

B. Profilaksis terus-menerus dengan anticonvulsant tiap hari.

Fenobarnital : 4-5 mg/kgBB/hari, menunjukan hasil yang bermakna untuk


mencegah berulangnya kejang demam.

E.S fenobarbital : iritabel, hiperaktif, pemarah dan agresif

Asam Valproat : 15-40 mg/kgBB/hari. E.S : Hepatotoksik.

Fenitoin dan Carbamazepin tidak efektif untuk pencegahan kejang demam.

Profilaksis terus-menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang


demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak tetapi tidak dapat
mencegah terjadinya epilepsy di kemudian hari.

23
24