Anda di halaman 1dari 22

HUBUNGAN DAERAH WAJAH

DENGAN DAERAH INTRACRANIAL

MAKBRURI
1506805572
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
FK UNIVERSITAS INDONESIA
OVER VIEW
1. SUSUNAN BASIS CRANII
2. FISSURA DAN FORAMINA BASIS CRANII
3. STRUKTUR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
WAJAH
4. STRUKTUR YANG MELALUINYA & YANG
BERHUBUNGAN DENGAN WAJAH
5. TRACHEA
SUSUNAN BASIS CRANII
DASAR CAVITAS CRANII DIBAGI MENJADI 3:
1. FOSSA CRANII ANTERIOR
2. FOSSA CRANII MEDIA
3. FOSSA CRANII POSTERIOR
Di dalam fossa ini terdapat foramen dan fisura yang dilewati oleh
struktur yang berhubungan dengan daerah wajah
1. Fossa Cranii Anterior
Dasar Fossa Cranii Anterior dibentuk oleh
1. Tulang frontale
2. Tulang ethmoidale
3. Dua bagian tulang sphenoidale di posterior,corpus (garis tengah) dan
ala minor (lateral).

Fossa Cranii anterior berada di atas cavitas nasi dan orbita, dan diisi oleh
lobus frontalis
1. Fossa Cranii Anterior
Di anterior, crista tulang kecil di garis tengah, berbentuk baji (crista frontalis).
Posterior dari crista frontalis terdapat Foramen Caecum. Foramen cavitas nasi
dengan sinus sagitalis superioris (venae emisssariae ke cavitas nasi)

Posterior dari crista frontalis terdapat tulang berbentuk baji yang menonjol ke
superior (crista galli). Tulang ethmoidale membentuk sebagian besar cavitas
nasi, Crista Galli Ethmoidale melekat dengan falx cerebri yang memisahkan
kedua hemisperium cerebri
1. Fossa Cranii Anterior
Lateral dari crista galii terdapat lamina cribrosa, struktur seperti
saringan memungkinkan serabut n.olfactorius melalui
foraminanya dari mucosa nasi Bulbus Ofactorius.

Pada tiap-tiap sisi ethmoidale, dasar fossa cranii anterior dibentuk


oleh lempeng yang tipis dari tulang frontale (pars orbitalis tulang
frontale)
2. Ala Minor Sphenoidale
Kedua ala minor sphenoidale mengarah ke lateral dari
corpus sphenoidale & membentuk batas yang jelas antara
bagian lateral fossa cranii anterior dan fossa cranii media
Tepat di anterior dari setiap processus clinoideus anterior
(bagian medial ala minor yang meluas) terdapat lubang
melingkar (canalis optikus) yang dilalui arteri ophtalmica
dan n.opticus saat keduanya keluar dari cavitas cranii untuk
memasuki orbita.
3. Fosssa Cranii Media
Fossa cranii media terdiri dari bagian-bagian tulang sphenoidale dan
tulang temporale.

Sebuah celah diagonal fissura orbitalis superior memisahkan ala


major sphenoidale dari ala minor. Posterior dari ujung medial fissura
orbitalis superior pada dasar fossa cranii media terdapat Foramen
Rotundum (dilalui oleh n.Maxillaris) V2 yang lewat dari fossa cranii
media menuju fossa pterygopalatina
3.Fossa Cranii Media
Posterolateral dari foramen rotundum terdapat lubang
besar berbentuk foramen ovale. Nervus mandibularis (V3),
N.Petrosus Minor (yang membawa serabut-serabut dari
plexus tympanicus yang berasal dari n.glossopharyngeus
(IX), arteri meningea media melalui foramen ini
3. Fossa Cranii Media
Posterolateral dari foramen ovale terdapat foramen
spinosum yang kecil, Lubang ini menghubungkan fossa
infratemporalis dengan fossa cranii media.

Posteromedial dari foramen ovale terdapat lubang canalis


caroticus membulat di intracaraniale, inferior dari
foramen ini terdapat foramen lacerum yang tertutup oleh
sumbat cartilaginosa.
3. Fossa Cranii Media
Batas posterior fossa cranii media dibentuk oleh facies anterior pars petrosa dari pars
petromastoidea os. Temporale.

Lateral dari impresio trigeminalis dan pada permukaan anterior pars petrosa tulang
temporale terdapat sulkus kecil berbentuk garis yang lewat dalam jurusan superolateral
dan berakhir dalam suatu foramen (sulcus nervi petrosi majoris dan hiatus canalis nervi
petrosi majoris) Nervus petrosus major adalah cabang nervus facialis (VII)

Anterolateral dari sulkus nervi petrosi majoris terdapat hiatus canalis untuk nervi petrosis
minoris cabang dan n.glossopharyngeus.

Terdapat tegmen tympani di anterior dan lateral dari eminentia arcuata


4. Fossa Cranii Posterior
Sebagian besar fossa cranii posterior terdiri dari bagian bagian os.temporale
dan tulang occipitale, dengan sedikit konstribusi dari tulang sphenoidale dan
tulang parietale

Dilateral fossa sebuah foramen berbentuk oval (meatus acusticus internus)


melintasi separuh bagian facies posterior partis petrosae tulang temporale.
Nervus facialis (VII), nervus vestibulocochlearis (VIII), dan arteria labyrinth
melalui struktur ini. Inferior dari meatus acusticus internus terdapat foramen
jugulare (n.glossopharyngeus (IX), n.vagus (X) dan n.Accessorius (XI) melalui
foramen jugulare ini.
trachea
Windpipe
4.5in (11.5cm) in length and nearly 1 in (2.5cm) in
diameter
descends from the larynx through the neck and
into the mediastinum
Extends from the cricoid cartilage (C6) to its
bifurcation at the sternal angle of Louis (T4/5).
It ends by dividing into the two main bronchi
(primary bronchi) in the midthorax
Cervical
Anteriorly the isthmus
of thyroid gland, inferior
thyroid veins, sternohyoid
and sternothyroid
muscles;
Laterally the lobes of
thyroid gland and the
common carotid artery;
Posteriorly the
oesophagus with the
recurrent laryngeal nerve
lying in the groove
between oesophagus and
trachea.
Thoracic
In the superior mediastinum its
relations are:
Anteriorly started of the
brachiocephalic (innominate)
artery and left carotid artery,
both arising from the arch of
the aorta, the left
brachiocephalic (innominate)
vein, and the thymus;
Posteriorly oesophagus
and left recurrent laryngeal
nerve;
to the left arch of the
aorta, left common carotid
and left subclavian arteries,
left recurrent laryngeal nerve
and pleura;
to the right n.vagus,
azygos vein and pleura
The right vagus
nerve enters
the superior
mediastinum and
lies between the
right
brachiocephalic
vein and the
brachiocephalic
trunk It
descends in a
posterior direction
toward the trachea
tracheal wall contains : 16 to 20 C-shaped rings of hyaline cartilage joined to
one another by intervening membranes of fibroelastic connective tissue.
trachea is flexible enough to permit bending and elongation, but the cartilage
rings prevent it from collapsing and keep the airway open despite the pressure
changes that occur during breathing
The open posterior parts of the cartilage rings, which abut the esophagus,
contain smooth muscle fibers of the trachealis muscle and soft connective
tissue
Contraction of the trachealis muscle decreases the diameter of the trachea
microscopic structure : the wall of
the trachea consists of several
layers common to many tubular
organs of the body: the mucosa
(cilia), submucosa (mucus), and
adventitia.
During coughing and
neezing, this action helps
to expel irritants from the
trachea by accelerating the
exhaled air to a speed of
165 km/h (100 mph)
A ridge on the internal
aspect of the last tracheal
cartilage, called the carina
The mucosa that lines the
carina is highly sensitive to
irritants, and the cough
reflex often originates
here.
tracheostomy
is performed to open the airway when the upper respiratory tract is
obstructed
surgeon makes a vertical incision between the second and third tracheal rings
in the anterior neck a tube is then inserted to keep the airway open
Based on one of three indication recognized:
a. Presence of an upper airway obstruction due to a foreign body, trauma, swelling,
etc.
b. Difficulty breathing due to advanced pneumonia, emphysema or severe chest wall
injury.
c. Respiratory paralysis, as may result from head injury, polio or tetanus infection.
In the emergency procedure called
cricothyroid tracheotomy, a breathing tube is
inserted through an incision made through
the cricothyroid ligament of the larynx