Anda di halaman 1dari 30

Laporan Kasus

HIPERTENSI EMERGENSI

AULIA SHAVIRA
1607101030002

PEMBIMBING:
dr. Muhammad Muqsith, Sp. JP, FIHA
Pendahuluan

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan


masalah yang ditemukan pada masyarakat baik di
Negara maju maupun berkembang termasuk
Indonesia
Dari populasi Hipertensi (HT), ditaksir 70%
menderita HT ringan, 20% HT sedang dan 10% HT
berat
Laporan kasus

Nama : Tn. H
Umur : 47 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Kuta Blang
Suku : Aceh
Agama : Islam
Nomor RM : 1-13-83-02
Masuk RS : 08/08/2017
Tgl Periksa : 10/08/2017
Anamnesis

Keluhan Utama : Nyeri dada

Keluhan Tambahan : Sesak nafas, nyeri kepala


RPS : Pasien datang dengan keluhan nyeri dada dan rasa tidak
nyaman di dada yang memberat sejak 2 jam SMRS. Nyeri dada
disertai dengan sesak. Sesak nafas dirasakan bila beraktivitas ringan
dan tidak hilang dengan istirahat. Pasien juga merasakan nyeri
kepala yang dirasakan terus menerus, kepala terasa berat dibagian
tengkuk. Riwayat nyeri dada sebelumnya tidak ada. Riwayat kaki
bengkak tidak ada.
RPD : - Hipertensi sejak 3 tahun tidak
terkontrol
- DM disangkal
RPK : Ayah dan adik pasien juga menderita penyakit yang sama
RKS : Merokok
Vital Sign (10 agustus 2017)

Tekanan Respiratory Temperatur:


Kesadaran: Heart Rate:
Darah: Rate: 36,7 C
Compos 98x/i
200/100 29x/i
mentis mmHg
PEMERIKSAAN FISIK
MATA
Konjungtiva palp. Inf. Pucat
(-/-), sklera ikterik (-/-), RCL
(+/+)

THORAX
LEHER : TVJ 5 + 2 CmH20 I : Simetris, retraksi (-)
A : Vh (+/+), Wh (-/-), Ronki (-/-)

ABDOMEN
simetris, distensi (-), Soepel,
Lien, Hepar dan Ren tidak COR
teraba, Peristaltik kesan I: iktus kordis tidak terlihat
normal P:iktus kordis teraba di ICS V
linea midclavicular sinistra
EXTREMITAS P:
INFERIOR atas ICS II LMCS
Edema (-/-), akral dingan kanan ICS IV parasternal d
(-/-) kiri2 jari lateral ICS V LMCS,
sianosis (-/-) Auskultasi: BJ I > BJ II, bising (-)
09/08/2017 Hasil Nilai Rujukan Satuan
HEMATOLOGI
Hemoglobin 15,5 14,0 17,0 g/Dl
Hematokrit 46 45 55 %
Eritrosit 5,8 4,7 6,1 106/mm3
Leukosit 13,4 4,5 10,5 103/mm3
Trombosit 370 150 450 103/mm3
MCV 79 80 100 fL
RDW 15,8 11,5 14,5 %
MPV 11,2 7,2 11,1 fL
Eosinofil 2 06 %
Basofil 0 02 %
Neutrofil batang 0 26 %
Neutrofil segmen 74 50 70 %
Limfosit 18 20 40 %
Monosit 6 28 %
GINJAL HIPERTENSI

Ureum 40 13 43

Creatinine 0,86 0,67 1,17

ELEKTROLIT

Natrium 140 132 146 mmol/L

Kalium 3,6 3,7 5,4 mmol/L

Klorida 104 98 106 mmol/L


EKG
Interpretasi EKG

Irama : Sinus
Heart rate : 97 x/menit
Regularitas : Regular
Aksis : Normoaksis
Gelombang P : 2 kotak kecil = 0,08 detik
Kompleks QRS : 2 kotak kecil = 0,08 detik
Gelombang T : inverted (1, aVL) T Tall (V1,V2,V3)
Interval PR : 5 kotak kecil = 0,2 detik
Hipertrofi : LVH (+), RVH (-)
ST depresi : V4,V5,V6
ST elevasi :-
Q patologis :-
Kesimpulan : irama sinus dan reguler, HR 97x/menit, iskemik
lateral, T tall dan LVH
Diagnosis :
Hipertensi Emergensi
Unstabel angina pectoris
Hipokalemia
tatalaksana
09/08/17 10/08/17 11/08/17
Bedrest
Bedrest
Drip Nitroglicerin 30 mcg/kg/jam Drip Nitroglicerin 30 mcg/kg/jam
Drip Nitroglicerin 30 (via syringepump) (via syringepump)
mcg/kg/jam (via syringepump) SC Fondaparinux 2,5 mg SC Fondaparinux 2,5 mg
Valsartan 2 x 100mg Valsartan 2 x 100mg Valsartan 2 x 100mg
Amlodipin 1 x 5mg Amlodipin 1 x 5mg Amlodipin 1 x 5mg
Bisoprolol 2 x 2,5mg Bisoprolol 2 x 2,5mg Bisoprolol 2 x 2,5mg
Alprazolam 1 x 0,5mg Alprazolam 1 x 0,5mg Alprazolam 1 x 0,5mg
Clopidogrel 1 x 75mg Clopidogrel 1 x 75mg
Aspilet 1 x 80mg Aspilet 1 x 80mg
Atorvastatin 1 x 40mg Atorvastatin 1 x 40mg

TD mmHg TD / mmHg TD / mmHg


HR x/i HR x/i HR x/i
RR x/i RR x/i RR x/i
Prognosis

Quo ad vitam : Dubia ad bonam


Quo ad functionam : Dubia ad malam
Quo ad sanationam : Dubia ad malam
Analisa Kasus

Pasien merupakan penderita hipertensi yang baru


diketahui 3 tahun yang lalu. Pasien tidak meminum
obat hipertensi secara teratur.

Hipertensi emergensi dapat terjadi secara de novo atau komplikasi dari hipertensi
esensial atau hipertensi sekunder. Individu yang berisiko untuk mengalami
hipertensi emergensi adalah, sebagai berikut:
Penderita hipertensi yg tidak meminum obat atau minum obat anti hipertensi
Penggunaan NAPZA
Penderita dengan rangsangan simpatis yg tinggi seperti luka bakar berat, penyakit
kolagen, penyakit vaskuler, trauma kepala.
Penderita hipertensi dengan penyakit parenkim ginjal
Analisa Kasus

Pasien mengalami kenaikan tekanan darah secara mendadak


mencapai 210/100 mmHg dan disertai dengan nyeri dada dan
rasa tidak nyaman di dada.
Pada pasien ini kenaikan tekanan darah mendadak disertai kerusakan organ
target, dimana organ target pada jantung berupa unstable angina pectoris.
Hipertensi kronis yang dialami pasien menyebabkan peningkatan kekakuan arteri,
peningkatan tekanan darah sistolik, dan tekanan nadi melebar. Faktor-faktor ini berperan
untuk menurunkan tekanan perfusi koroner, meningkatkan konsumsi oksigen miokard dan
menyebabkan hipertrovi ventrikel kiri. Selama hipertensi emergensi, ventrikel kiri tidak
mampu mengkompensasi kenaikan tahanan vaskuler akut sistemik. Hal ini dapat
menyebabkan gagal ventrikel kiri dan edema paru atau iskemia miokard.
Tabel I : Hipertensi emergensi ( darurat )
TD Diastolik > 120 mmHg disertai dengan satu atau lebih
kondisi akut.
Pendarahan intra pranial, ombotik CVA atau pendarahan
subarakhnoid.
Hipertensi ensefalopati.
Aorta diseksi akut.
Oedema paru akut.
Eklampsi.
Feokhromositoma.
Funduskopi KW III atau IV.
Insufisiensi ginjal akut.
Infark miokard akut, angina unstable.
Sindroma kelebihan Katekholamin yang lain :
- Sindrome withdrawal obat anti hipertensi.
- Cedera kepala.
- Luka bakar.
- Interaksi obat.
Analisa Kasus

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil


terjadinya leukositosis, hipokalemia. Hasil pemeriksaan EKG
pasien menunjukkan kesimpulan sinus ritme dengan HR 99
kali per menit dengan iskemik lateral, T tall dan left ventricel
hypertropy.

Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan seperti hitung


jenis, elektrolit, kreatinin dan urinalisa. Foto thorax, EKG dan
CT- scan kepala sangat penting diperiksa untuk pasien-pasien
dengan sesak nafas, nyeri dada atau perubahan status
neurologis. Pada keadaan gagal jantung kiri dan hipertrofi
ventrikel kiri pemeriksaan ekokardiografi perlu dilakukan.
Analisa Kasus

Pasien diberikan nitroglicerin mulai 30 mcg/kg/jam via


syringepump. Valsartan 2x100 mg, Amlodipin 1x 5mg, Concor 2x
2,5 mg dan Alprazolam 1 x 0,5mg

Pasien dengan hipertensi emergensi yang melibatkan cardiac emergency dapat diberikan
terapi dengan nitroglycerin. Pada studi yang telah dilakukan, bahwa nitroglycerin terbukti
dapat meningkatkan aliran darah pada arteri koroner. penurunan Mean Arterial Pressure
(MAP) 10% selama 1 jam awal dan 15% pada 2-3 jam berikutnya.
Analisa Kasus

Pasien mendapatkan trombolitik aspilet 1 x 80 mg dan clopidogrel 1x75


mg. Terapi antikoagulan awal yang diberikan adalah fondaparinux
subkutan 2,5 mg dan diberikan atorvastatin 1 x 40mg
Terapi trombolitik pada pasien unstabil angina pectoris adalah aspirin dan clopidogrel. Aspirin dan
clopidogrel dapat mengurangi kematian jantung dan mengurangi infark fatal maupun non fatal dari
51% sampai 72% pada pasien angina tak stabil.
Antikoagulan yang dapat diberikan pada UAP adalah enoxaparin, fondaparinux atau heparin.
Fondaparinux bekerja dengan menghambat secara selektif antithrombin-mediated faktor Xa
sehingga menghambat pembentukan trombin tanpa menganggu molekul trombin yang sudah ada.
Analisa Kasus

Pasien mendapatkan trombolitik aspilet 1 x 80 mg dan


clopidogrel 1x75 mg. Terapi antikoagulan awal yang diberikan
adalah fondaparinux subkutan 2,5 mg dan diberikan
atorvastatin 1 x 40mg

Statin menghambat sintesis kolesterol di hati dan hal ini akan menurunkan kadar LDL dan
kolesterol total serta meningkatkan HDL plasma. Statin juga memperbaiki fungsi endotel,
menstabilkan plak, mengurangi pembentukan trombus, bersifat anti-inflamasi, dan
mengurangi oksidasi lipid.
Hipertensi Emergensi

Hipertensi emergensi adalah peningkatan akut tekanan darah sistolik >


180 mmHg atau diastolik >120 mmHg secara mendadak disertai
kerusakan organ target
Epidemiologi

Angka kejadian krisis HT menurut laporan dari hasil penelitian dekade


lalu di negara maju berkisar 2 7% dari populasi HT, terutama pada
usia 40 60 tahun dengan pengobatan yang tidak teratur selama 2
10 tahun

Angka ini menjadi lebih rendah lagi dalam 10 tahun belakangan ini
karena kemajuan dalam pengobatan HT, seperti di Amerika hanya
lebih kurang 1% dari 60 juta penduduk yang menderita hipertensi
(6,10). Di Indonesia belum ada laporan tentang angka kejadian ini
Patofisiologi

1. Curah jantung dan tahanan perifer


2. Sistem Renin-Angiotensin
3. Sistem Saraf Otonom
4. Disfungsi Endotelium
5. Substansi vasoaktif
6. Hiperkoagulasi
7. Disfungsi diastolik
Faktor Resiko

Faktor Resiko yang tidak dapat dimodifikasi:


1. Keturunan
2. Jenis Kelamin
3. Umur

Faktor Resiko yang dapat dimodifikasi:


1. Merokok
2. Obesitas
3. Stress
4. Aktivitas Fisik
5. Asupan
Diagnosis

Anamnesa
Riwayat hipertensi : lama dan beratnya.

Obat anti hipertensi yang digunakan dan kepatuhannya

Usia : sering pada usia 40 60 tahun.

Gejala sistem syaraf ( sakit kepala, hoyong, perubahan mental, ansietas)

Gejala sistem ginjal ( gross hematuri, jumlah urine berkurang )

Gejala sistem kardiovascular ( adanya payah jantung, kongestif da oedem


paru, nyeri dada )
Riwayat penyakit dahulu
Pemeriksaan Fisik : Ukur Tekanan Darahnya
Pemeriksaan Penunjang :
Darah (rutin, BUN, creatine, elektrolik)
Urinalisa

EKG

Foto dada
Penatalaksanaan

Dari penelitian didapatkan bahwa baik orang yang normotensi maupun


hipertensi, ditaksir bahwa batas terendah dari autoregulasi otak adalah
kira-kira 25% dibawah resting MAP. Oleh karena itu dalam pengobatan
krisis hipertensi, pengurangan MAP sebanyak 2025% dalam beberapa
menit/jam, tergantung dari apakah emergensi atau urgensi penurunan
TD pada penderita aorta diseksi akut ataupun oedema paru akibat
payah jantung kiri dilakukan dalam tempo 1530 menit dan bisa lebih
rendah lagi dibandingkan hipertensi emergensi lainnya
TERIMA KASIH