Anda di halaman 1dari 39

PENDAHULUAN

Hospes imunokompromis rentan terhadap infeksi dari bakteri


patogen, penyakit mikrobakteria, virus oportunistik atau jamur, dan
parasit. Selain itu, infeksi tertentu berkaitan dengan onset imun
supresi, durasi imun kompromis, atau jenis imun supresi. Beberapa
patogen, seperti neurosistiserkosis, juga ditemukan pada hospes non
imunokompromis.
LEUKOENSELOPATI
MULTIFOKAL PROGRESIF
(JC VIRUS)
Vignette Klinis
Seorang laki-laki usia 65 tahun dengan riwayat limfoma folikuler
yang awalnya diobati dengan kemoterapi konvensional selama 4
tahun dengan diberikan 3 seri rituximab sebagai terapi
pemeliharaan karena ada perubahan klonal persisten dalam
sumsum tulangnya. Pasien mengalami konfusi, disartria, dan afasia
setelah seri ketiga. Pada MRI ditemukan lesi non-enhancing di lobus
posterior dan frontal serta semiovale sentrum kiri. Pemeriksaan
darah perifer PCR positif JC virus, tetapi hasil CSF negatif.
Vignette Klinis

Biopsi otak menunjukkan perubahan karakteristik dari


leukoenselopati multifokal progresif (PML). Pemeriksaan darah
perifer menunjukkan hasil jumlah CD4 100. Terapi cidofovir tidak
efektif karena kondisi pasien yang memburuk bersamaan dengan
afasia dan konfusi, inkontinensi urin dan fekal, paralisis flaccid dari
tangan kiri, disertai dengan efek massa pada hasil radiologi. Pasien
meninggal 3 bulan setelah manifestasi.
EPIDEMIOLOGI
JC virus adalah human genom DNA double-
polyomavirus stranded

JC virus penyebab PML menyebabkan


dari PML, penyakit defisit fokal neurologis
demielinasi yang jarang tanpa tanda-tanda
pada pasien peningkatan tekanan
imunosupresan intrakranial

PML paling sering


dikenali sebagai
penyakit AIDS, karena
ditemukan pada pasien
imunokompromis,
DIAGNOSIS

MRI CSF EEG

lesi hipodense, non- PCR digunakan EEG bisa


enhancing pada untuk memperkuat menunjukkan
white matter DNA virus JC dalam keterlambatan
serebral. sampel CSF fokal atau mungkin
membedakan (sensitivitas berkisar normal di awal
tumor otak, 60-100%). PML.
terutama limfoma, Hitung sel CSF
atau abses pada biasanya normal.
immunokompromis
DIAGNOSIS
Diagnosis pasti

Diagnosis pasti khas pada biopsi otak: multipel fokus asimetris


demielinasi dari berbagai tahap evolusi dalam white matter
serebral.
Oligodendrosit efek sitopatik, pembesaran inti sel, hilangnya pola
kromatin normal, dan akumulasi intranuklear homogen basofilik.
Mikroskop elektron poliomavirus pada inti oligodendrosit (lihat
Gambar 51-1).
TERAPI

Pengobatan akan lebih baik pada pasien PML yang diobati dengan
natalizumab, pasien yang diterapi dengan steroid mengalami
pemulihan berarti secara klinis. PML biasanya berkembang parah
hingga mengakibatkan kematian.
CRYPTOCOCCUS
Vignette Klinis

Seorang pria berusia 34 tahun dengan riwayat lama sakit kepala


yang terus-menerus makin memberat baru-baru ini. Sakit kepala
disertai fotofobia intermiten, mual dan muntah. Dua minggu
sebelumnya, lesi ulserasi di pipinya tidak berhasil diobati dengan
doksisiklin untuk kemungkinan infeksi rickettsia. Pasien juga
mengalami penurunan berat badan seberat 20 pon.
Pasien letargi tapi masih mampu menjawab pertanyaan
sederhana. Suhu 39,4 C (102,9 F). Kekakuan nuchal ringan
ditemukan. Tidak ditemukan kelainan neurologis fokal.
Vignette Klinis

CSF pasien tampak berkabut dengan tekanan terbuka yang tinggi,


29 WBC (22% neutrofil, limfosit 54%, dan 20% monosit), protein 50 mg
/dL, dan glukosa 9 mg /dL (glukosa serum bersamaan 125).
Pewarnaan tinta India CSF pasien menunjukkan beberapa bentuk
ragi yang terenkapsulasi. Antigen kriptokokus positif 1: 1024. Tes HIV
negatif; namun, jumlah CD4-nya rendah (100 sel /mm3).
Sebelumnya, ia membantu ayahnya memelihara burung merpati.
Meskipun diberikan amfoterisin B dan 5-flucytosine intravena,
flukonazol oral, dan spinal taps harian, pasien mengalami
penurunan penglihatan karena efek peningkatan tekanan
intrakranial. Pada pasien kemudian ditemukan sel B limfoma.
EPIDEMIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS

Penyakit Afebris dan nuchal Keterlibatan saraf


kriptokokus rigid yang minimal. kranial
berkembang pada Gejala sakit berkurangnya
pasien yang sehat kepala ringan, ketajaman visual
maupun mual, mudah (papilledema),
imunokompromis. tersinggung, diplopia, dan
Meningitis kronis somnolen, dan wajah mati rasa,
yang paling umum. kecanggungan demensia
secara klinis muncul sekunder.
selama berbulan-
bulan.
DIAGNOSIS

Pemeriksaan CSF leukositosis limfositik (jumlah WBC 40-400 /mm3),


Peningkatan konsentrasi protein CSF, dan penurunan tingkat
glukosa pada 50% pasien.
Meski pewarnaan tinta India dapat menentukan organisme, PCR
belum tersedia. Aglutinasi lateks mendeteksi antigen kapsul
kriptokokus (dalam serum dan CSF) sangat membantu dalam
memantau respon terapi.
TERAPI Pengobatan paling baik dilakukan
dengan setidaknya 2 minggu
amfoterisin intravena dengan atau
tanpa flucytosine.

Flukonazol oral diberikan paling


sedikit 6 minggu.

Terapi pemeliharaan untuk pasien


baik dengan HIV atau AIDS sampai
pemulihan sistem imun dengan
terapi antiretroviral kombinasi.
LISTERIOSIS
EPIDEMIOLOGI

Listeria monocytogenes adalah bakteri batang gram positif yang


menyerang pada neonatus dan orang dewasa immunokompromis.
Bakteri ini tersebar luas dan terisolasi di tanah, air, pakan ternak,
serta limbah.
MANIFESTASI KLINIS Sakit kepala
Organisme ini harus selalu
dicurigai pada pasien AIDS
ataupun yang menerima
terapi prednison jangka demam
panjang atau azathioprine
yang menderita meningitis
akut. Manifestasi neurologis
meningismus
serupa meningitis akut bakteri.

dan gejala
fokal
mendomin
asi

kejang
DIAGNOSIS

Identifikasi CSF bakteri batang gram positif yang berhubungan


dengan leukositosis polimorfonuklear dan bersamaan dengan
tingkat glukosa rendah pada (50% glukosa serum) merupakan
meningitis bakteri yang tidak biasa (lihat Gambar. 51-2).
TERAPI
NOCARDIOSIS
EPIDEMIOLOGI

Nocardia berada di tanah dan membusuk pada tanaman. Bakteri


ini adalah satu dari dua mikroorganisme jinak yang dapat
menyebabkan cerebritis fokal terutama pada pasien imunosupresi.
Ketika Nocardia asteroides menyebabkan abses otak masuk
melalui saluran pernafasan. Fokus paru awal bersifat supuratif dan
tidak terlokalisasi infeksi menyebar ke otak.

MANIFESTASI KLINIS

Berbagai tanda klinis fokal muncul pada situs sekuestrasi organisme


di otak. Apabila tidak ada abses yang berdekatan, meningitis
jarang terjadi.
DIAGNOSIS
TERAPI

Sulfonamida adalah obat pilihan, terapi


dilanjutkan minimal 3 bulan atau beberapa
minggu setelah tampak resolusi klinis dari lesi.
TOXOPLASMOSIS
Vignette Klinis

Seorang wanita berusia 41 tahun dengan riwayat penyakit HIV


didiagnosis sejak 14 tahun sebelumnya dan menderita pneumonia
Pneumocystis jirovecii 6 tahun sebelumnya, dengan rejimen AZT,
lamivudine, dan nelfinavir. Pasien riwayat 6 minggu bicara kacau
yang hilamg timbul, ketidakmampuan untuk membentuk atau
menemukan kata-kata, kehilangan beberapa memori jangka
pendek baru-baru ini serta sakit kepala frontal kiri. Dua malam
sebelum masuk rumah sakit, pasien mengalami kelemahan
anggota gerak sebelah kanan sementara. Malam berikutnya,
pasien mengalami kejang tonik-klonik umum. Saat ujian, pasien
mengalami kesulitan mencari kata dengan ucapan yang tidak jelas
dan sedikit kehilangan sensasi di lengan kanannya. Suhu tubuhnya
37,8 C (100,1 F).
Vignette Klinis

CT scan dan MRI otak menunjukkan sisa lesi parietal kiri 3 - 5 cm.
Jumlah CD4 total adalah 4 / mm3 dan muatan virus HIV adalah
79.000; IgG toksoplasma sebanyak 1627 IU /mL Pengobatan dimulai
dengan pirimetamin dan sulfadiazine disertai fenitoin. Tiga minggu
kemudian, MRI otak menunjukkan peningkatan yang signifikan
pada lesi dengan resolusi enhancement dan midline shift. Genotip
HIV ditemukan strain virus yang resisten terhadap ketiga kelas agen
antiretroviral tersebut.
EPIDEMIOLOGI
Toxoplasma gondii adalah parasit yang menginfeksi
kebanyakan spesies mamalia (Gambar 51-4).

Manusia dapat memperoleh infeksi T. gondii dengan


menelan, transmisi transplasental, transfusi darah, atau
transplantasi organ.

Enzim-enzim pada usus manusia melepaskan trofozoit T.


gondii, yang menyebabkan toksoplasmosis klinis.
MANIFESTASI KLINIS
4 sindrom klinis T. gondii utama: kongenital, okular,
limfadenopati, dan neurologis berat atau penyakit yang
terjadi pada 50% pasien imunkompromis.

Ensefalitis difus, meningoensefalitis, atau lesi massa serebral


adalah kelainan neurologis yang dominan pada pasien
AIDS atau HIV lanjut yang menderita toksoplasmosis.

Massa fokal terkadang banyak jumlahnya, yang mengarah ke


gejala potensial multifokal tergantung pada situs klinis yang
terlibat.
DIAGNOSIS
MRI otak dengan gadolinium adalah teknik diagnostik paling sensitif untuk pasien HIV
atau AIDS.
Pasien HIV dengan lesi massa multipel toxoplasma Tanpa kecuali, jumlah limfosit CD4-helper pada
biasanya menunjukkan perbaikan yang berarti pasien dengan AIDS kurang dari 100 / mm3 (normal
setelah 2 minggu terapi. adalah 800 / mm3).

CSF terdapat pleocytosis limfositik ringan, dan peningkatan protein; tingkat glukosa
tetap normal.

Diagnosis pasti bila terjadi peningkatan empat kali lipat pada titer IgG atau satu titer
IgM tinggi. Pemeriksaan CSF tidak diperlukan.

Uji antibodi fluorescen tidak langsung yang mengukur antibodi IgG adalah prosedur
diagnostik yang paling banyak digunakan.
TERAPI