Anda di halaman 1dari 10

Effect of Dilute Apple Juice and Preferred Fluids vs Electrolyte

Maintenance Solution on Treatment Failure Among Children With Mild


Gastroenteritis

Original Investigation
JAMA. 2016;315(18):1966-1974. doi:10.1001 /jama. 2016.5352
Published online April 30, 2016.
Stephen B. Freedman, MDCM, MSc; Andrew R. Willan,
PhD; Kathy Boutis, MD; Suzanne Schuh, MD
Latar Belakang
Angka kejadian penderita gastroenteritis akut di Amerika 178.800.000 dan
473 832 dirawat.
Terapi gastroenteritis pada anak-anak difokuskan pada pemberian rehidrasi oral
untuk mencegah dan mengobati dehidrasi setiap kali diare. Pendekatan ini telah
muncul terutama dari negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Dalam survei, 62% dari pengasuh menyatakan preferensi untuk rehidrasi intravena
daripada perawatan maintanece cairan elektrolit untuk anak mereka dengan
gastroenteritis.
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita secara acak mencari anak- anak dengan
gastroenteritis dan dehidrasi minimal untuk mengkonsumsi jus apel yang
diencerkan . Kami berhipotesis bahwa memungkinkan anak-anak untuk minum jus
apel yang diencerkan tidak mengakibatkan peningkatan frekuensi kegagalan
pengobatan dibandingkan dengan menggunakan cairan elektrolit rumatan
Metode

Design dan setting


single-center, randomized, single-blind
noninferiority di perawatan anak di RS
diToronto,Ontario, Canada yang menyediakan
perawatan untuk sekitar 55 000 anak setiap
tahunnya, termasuk sekitar 3000 anak-anak
dengan gastroenteritis.
Studi Populasi
Pengamatan dilakukan pada anak-anak dalam waktu 6
hari per minggu, 12 jam per hari, antara bulan Oktober
sampai April dari 2010-2015.
Kriteria inklusi : anak yang berusia 6 bulan sampai 60
bulan dengan 3 atau lebih episode muntah atau diare
sebelumnya dalam 24 jam, kurang dari 96 jam dari
gejala; berat 8 kg (17,7 lb) atau lebih tinggi; dan
dehidrasi minimal.Kualifikasi Dehidrasi diukur dengan
menggunakan 4 item dari 8 point skala klinis dehidrasi .
Anak-anak dengan skala dehidrasi klinis lebih rendah
dari 5 dan refill kapiler reffil kurang dari 2 detik
diklasifikasikan dalam dehidrasi minimal.
Kriteria ekslusi
riwayat penyakit gastrointestinal kronis
(misalnya, penyakit radang usus, celiac
disease) atau penyakit lain (misalnya, diabetes
mellitus, kelainan metabolisme bawaan ),
prematur dengan riwayat persalinan kurang
dari 30 minggu,billous vomiting,
hematemesis, hematochezia, akut abdomen
atau kebutuhan intravena segera untuk
rehidrasi .
Intervensi

Partisipan menerima secara acak jus apel yang


diencerkan dengan rasio 1:1 ( kelompok intervensi =
323) atau pediatric elektrolit rasa apple dengan
pemanis sucralose ( kelompok kontrol = 324 ) dengan
warna yang sama. terapi rehidrasi oral diikuti protokol
institusional.
Anak-anak diberikan cairan 5 ml setiap 2- 5 menit
kemudian dilakukan pengamatan Jika status rehidrasi
tidak memuaskan dapat dilanjutkan pengobatan yang
sama atau cairan lainnya atau rehidrasi intravena
Kegagalan pengobatan didefinisikan dalam
waktu 7 hari dari pendaftaran mendapat
rehidrasi intravena, rawat inap, gejala
berlarut-larut dan 3% atau lebih penurunan
berat badan atau dehidrasi signifikan .
Hasil
Di antara 647 anak-anak secara acak (usia
rata-rata, 28,3 bulan; 331 anak laki-laki
[51,1%]; 441 (68,2%) tanpa bukti dehidrasi),
644 (99,5%) menyelesaikan penelitian.
Anak-anak yang diberikan jus apel yang
dicairkan lebih sedikit menerima rehidrasi
intravena (2.5%vs 9.0%; difference,6.5%;
99%CI, 11.6%to 1.8%) .
Hasil
Anak anak yang mendapatkan cairan rumatan
elektrolit 1.14 kali lebih banyak episode diare nya
dibandingkan dengan anak- anak yang mendapat
jus apel yang diencerkan (RR =1.14 ,P value .60)
Anak anak yang mendapatkan cairan rumatan
elektrolit 1.07 kali lebih banyak episode muntah
nya dibandingkan dengan anak- anak yang
mendapat jus apel yang diencerkan (RR =1.07 ,P
value .39)
KESIMPULAN
Anak-anak dengan gastroenteritis ringan dan
dehidrasi minimal, rehidrasi awal dengan jus
apel encer dibandingkan dengan cairan
elektrolit, mengakibatkan kegagalan
pengobatan yang lebih sedikit.