Anda di halaman 1dari 43

TUTORIAL KLINIK

Pembimbing : dr. I.B.Gd Surya Putra P,


Sp.F
Disusun oleh :
Luki / 406127003
Winda Levisa Slamet / 406127021
Alberto Kosasih / 406127022
Anggi Zerlina Darwin / 406127051
Hendy Masjayanto / 406121001
Karlina Liwang / 406121002
Krisma Kristiana / 406121004

Identitas
Nama

: Tn. A
Usia : 45 thn
Alamat
: Sleman - Jogjakarta
Pekerjaan : Wiraswasta
Status
: Menikah

Anamnesis
Seorang

pria berusia 45thn dibawa


ke IGD RSUP Dr. Sardjito oleh warga
sekitar dengan keadaan tidak sadar
pada hari Selasa tanggal 25
November 2014 pukul 23.15.
Menurut pengakuan pasien, pasien
terjatuh saat mengendarai motor
dan pasien tidak memakai helm.
Pasien
mengaku,
tidak
ingat
kejadiannya secara pasti.

RPS
mual
muntah
sakit
kepala

RPD
-

Pemeriksaan Fisik

Airways
bicara
jelas
gurgling
(-)
snoring
(-)

Breathi
ng
nafas
bagus
RR
20x/mnt

Circulati
on
HR :
86x/mnt
TD :
110/63
mmHg
S : 36,5C

GCS
E4M6V5
pupil
isokor
3mm/3m
m
reflek
cahaya +/
+

Mapping Luka
Hematom
pada kedua
kelopak mata

Luka lecet
pada bagian
atas alis kiri
ukuran
2x1cm

Luka lecet
pada bagian
pipi kiri
ukuran
2x1cm

Luka lecet
pada bagian
punggung
tangan kiri
ukuran
3x2cm

Pemeriksaan Penunjang
Radiologi
vertebra
cervicalis AP
dan lateral
Radiologi
thorax AP

USG

Hipolordolik vertebra cervicalis.


Tidak tampak fraktur maupun lithiasis pada
vertebra cervicalis.

Pulmo tidak ada kelainan


Besar cor dalam batas normal
Tidak tampak fraktur pada sistem tulang yang
terfiksasi
Tidak tampak tanda-tanda
hydropneumothoraks

Tidak tampak kelainan pada hepar, vesica


felea, lien, ren, prostat, VU
Tidak tampak contusio pada organ tersebut
Tidak tampak cairan bebas intraabdomen

Hea
d
MSC
T
Scan

Soft
tissue
swelling
ekstracranial
di
regio
maxilaris sinistra
Oedema cerebri
Fraktur os maxilaris sinistra
dan
orbitarium
sinistra
aspek
superolateril
os
frontalis
Hematosinus
maxillaris
sinistra
Ventriculomegali
Tidak tampak tanda-tanda
EDH, SDH, SAH, ICH, IVH

Tindakan dan Pengobatan


Tindakan
Monitor GCS, Keadaan
umum
Bed rest 3x24 jam
Head up 30

Pengobata
n
IVFD D52000cc/24 jam
Injeksi
IV
Injeksi
IV
Injeksi
ampul
Injeksi
mg IV
Injeksi
gr IV

manitol 4x125 cc
piracetam 2x3 gr
ranitidin 2x1
ketorolak 3x30
phenitoin 2x100

Methylprednison 16 mg

ANALISIS KASUS

Kualifikasi Luka pada Visum et


Repertum
Luka ringan / luka derajat I / luka
golongan C

Adalah
apabila
luka
tersebut
tidak
menimbulkan
penyakit
atau
tidak
menghalangi pekerjaan korban. Hukuman
bagi sedang
pelakunya/ menurut
KUHP pasal
352 ayat
Luka
luka derajat
2 / luka
1.
golongan
B
Adalah apabila luka tersebut menyebabkan
penyakit atau menghalangi pekerjaan korban
untuk sementara waktu. Hukuman bagi
pelakunya menurut KUHP pasal 351 ayat 1

Luka berat menurut KUHP Bab IX


pasal 90 adalah:
Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak
memberi harapan akan sembuh sama
sekali atau yang menimbulkan bahaya
maut
Tidak mampu terus menerus untuk
menjalankan
tugas
jabatan
atau
pekerjaan pencarian
Kehilangan salah satu panca indera
Mendapat cacat berat
Menderita sakit lumpuh
Terganggunya
daya
pikir
selama
>4minggu

Aspek Medikolegal
BAB XXI
MENYEBABKAN MATI ATAU LUKA-LUKA KARENA
KEALPAAN

KUHP Pasal 360

(1) Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang


luka berat dihukum penjara selama-lamanya lima tahun
atau hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun.
(2) Barang siapa karena kesalahannya menyebabkan orang
luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit
sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau
pekerjaannya sementara, dihukum dengan hukuman
penjara selama-lamanya sembilan bulan atau hukuman
kurungan selama-lamanya enam bulan atau hukuman
denda setinggi-tingginya tiga ratus rupiah.

UU No.22 Tahun 2009 Tentang


Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
Pasal 310
(2) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor
yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu
Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan
Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud
dalamPasal 229 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara
paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah).
(3) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor
yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu
Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud
dalamPasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).

Pasal

314
Selain pidana penjara, kurungan, atau
denda, pelaku tindak pidana Lalu Lintas
dapat dijatuhi pidana tambahan berupa
pencabutan Surat Izin Mengemudi atau
ganti kerugian yang diakibatkan oleh
tindak pidana lalu lintas.

Jenis-jenis Luka
Berdasarkan mekanisme
terjadinya luka :

Kekeras
an
Tumpul

Kekeras
an Tajam

Luka
memar
(contusio)

Luka Iris
(Incised
wound)

Luka lecet
(abaration
)

Luka
tusuk
(Stab
wound)

Luka
robek
(laceratio
n)

Luka memar (contusio)


Perdarahan dalam jaringan lunak karena
rupturnya vasa darah akibat kekerasan tumpul.
Dapat juga terjadi pada organ dalam.

Luka lecet (abrasion)


Rusaknya lapisan superfisial kulit akibat gesekan
dengan permukaan yang keras, atau akibat
tekanan.

Luka robek (laceration)


Robeknya jaringan lunak, terdapat jembatan
jaringan dalam luka (pemisahan jaringan ikat
tidak utuh). Luka terbuka, tepi tidak teratur.

Luka iris (Incised wound)


Akibat irisan benda tajam pada
permukaan kulit. Panjang luka
lebih
besar
daripada
kedalaman luka.

Luka tusuk (Stab wound)

Akibat benda tajam yang


masuk
ke
dalam
kulit.
Kedalaman luka lebih besar
daripada panjang luka pada

Cedera Kepala
Pasien

mengalami oedema cerebri


Adalah
keadaan
patologis
terjadinya
akumulasi cairan di dalam jaringan otak
sehingga meningkatkan volume otak.
Cedera akan mengganggu pusat persarafan
dan peredaran darah di batang otak dengan
akibat tonus dinding pembuluh darah
menurun sehingga cairan lebih mudah
menembus dindingnya. Penyebab lain
adalah benturan yang dapat menimbulkan
kelainan langsung pada dinding pembuluh
darah sehingga menjadi lebih permeabel.

Kesimpulan
Korban

akibat kecelakaan lalu lintas,


jenis kelamin laki-laki, usia 45 tahun.
Mengalami benturan kepala, mual (+),
muntah(+), dan sakit kepala (+).
Terdapat
hematom
pada
kedua
kelopak mata.
Terdapat luka lecet pada bagian atas
alis kiri ukuran 2x1cm.
Terdapat luka lecet pada bagian pipi
kiri ukuran 2x1cm.
Terdapat luka lecet pada bagian
punggung tangan kiri ukuran 3x2cm.

Sekian,
Terima Kasih

Pertanyaan
1.

2.
3.
4.
5.

Apakah kecelakaan ini berupa


kecelakaan tunggal atau ada kecelakaan
lain?
Apakah pada kasus ini perlu dibuat
visum hidup?
Dalam kasus ini, apakah pasien sebagai
korban atau kesalahan sendiri?
Jika pasien merupakan tersangka,
hukuman apa yang diberikan?
Penanganan awal apa yang harus
dilakukan saat pasien datang?

Kecepatan motornya apakah


tinggi atau tidak sehingga
terjadi kecelakaan ini?
7. Apakah perlu inform consent
untuk penanganan awal?
6.

Brain Storming
1.

2.

Ditanyakan kepada yang mengantar/


saksi. Mencari bukti misalnya
menggunakan CCTV. Atau dari penyidik
yang datang ke TKP
Pada kasus forensik klinik perlu dilakukan
visum hidup. Misalnya KLL, keracunan,
penganiayaan, KDRT, pelecehan seksual.

* KLL tunggal tidak perlu dilakukan visum


3.

Tergantung dari informasi yang didapat


misalnya dari jawaban saksi, CCTV,
penyidik, dll

UU lalu lintas dan KUHP psl 338


(tidak direncanakan), psl
340(dengan rencana)
5. Primary survey dan Secondary
survey
6. Dari segi forensik, melihat jenis dan
keparahan luka. Identifikasi helm
7. Keadaan emergency / life saving
tidak memerlukan inform consent.
4.

Learning Objektif
Bagaimana prosedur
permintaan visum klinik ?
2. Bagaimana pengelolaan kasus
forensik klinik secara umum?
3. UU lalu lintas dan KUHP 338 dan
340 ?
1.

8 hal yang harus diperhatikan saat pihak


berwajib meminta kepada dokter VeR dari korban
hidup:

Harus tertulis, tidak boleh secara lisan.

Langsung menyerahkannya kepada dokter, tidak


boleh dititip melalui korban atau keluarganya. Juga
tidak boleh melalui jasa pos.

Bukan kejadian yang sudah lewat sebab termasuk


rahasia jabatan Dokter.

Ada alasan mengapa korban dibawa kepada dokter.

Ada identitas korban.


Ada identitas pemintanya.
Mencantumkan tanggal
permintaan.
Korban diantar oleh polisi
atau jaksa.

Dalam surat permintaan Visum et Repertum,


kelangkapan data-data jalannya peristiwa dan
data lain yang tercantum dalam formulir, agar
diisi selengkapnya, karena data-data itu dapat
membantu Dokter mengarahkan pemeriksaan
mayat yang sedang diperiksa.

Pengelolaan

kasus forensik klinik


secara umum, HARUS memiliki
surat permintaan dilakukannya
visum dari penyidik untuk dokter.

Pemberitaan untuk kasus


forensik klinik
Secara Umum
Riwayat
kejadian
(hasil
anamnesis)
Pemeriksaan
Fisik
Pemeriksaan
Penunjang
Terapi

Pada kasus

DILAKUKAN

UU Lalu Lintas no 22 tahun 2009


PASAL 48
Persyaratan Teknis dan Laik Jalan
Kendaraan Bermotor
(1) Setiap Kendaraan Bermotor
yang dioperasikan di Jalan harus
memenuhi persyaratan teknis dan
laik jalan.

(2) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) terdiri atas:
a. susunan;
b. perlengkapan;
c. ukuran;
d. karoseri;
e. rancangan teknis kendaraan sesuai dengan
peruntukannya;
f. pemuatan;
g. penggunaan;
h. penggandengan Kendaraan Bermotor; dan/atau
i. penempelan Kendaraan Bermotor.

(3) Persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) ditentukan oleh kinerja minimal Kendaraan Bermotor
yang diukur sekurang-kurangnya terdiri atas:
a. emisi gas buang;
b. kebisingan suara;
c. efisiensi sistem rem utama;
d. efisiensi sistem rem parkir;
e. kincup roda depan;
f. suara klakson;
g. daya pancar dan arah sinar lampu utama;
h. radius putar;
i. akurasi alat penunjuk kecepatan;
j. kesesuaian kinerja roda dan kondisi ban; dan
k. kesesuaian daya mesin penggerak terhadap berat
Kendaraan.

(4) Ketentuan lebih lanjut


mengenai persyaratan teknis dan
laik jalan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dan ayat (3) diatur
dengan peraturan pemerintah.

PASAL 57
Perlengkapan Kendaraan Bermotor
(1) Setiap Kendaraan Bermotor yang
dioperasikan di Jalan wajib dilengkapi
dengan perlengkapan Kendaraan
Bermotor.
(2) Perlengkapan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) bagi Sepeda Motor berupa
helm standar nasional Indonesia.

KETERTIBAN DAN KESELAMATAN


PASAL 105
Setiap orang yang menggunakan
Jalan wajib:
a. berperilaku tertib; dan/atau
b. mencegah hal-hal yang dapat
merintangi, membahayakan
Keamanan dan Keselamatan Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan, atau
yang dapat menimbulkan
kerusakan Jalan.

PASAL 106
(1) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan
Bermotor di Jalan wajib mengemudikan
kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.
(2) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan
Bermotor di Jalan wajib mengutamakan
keselamatan Pejalan Kaki dan pesepeda.
(3) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan
Bermotor di Jalan wajib mematuhi ketentuan
tentang persyaratan teknis dan laik jalan.

(4) Setiap orang yang mengemudikan


Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mematuhi
ketentuan:
a. rambu perintah atau rambu larangan;
b. Marka Jalan;
c. Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas;
d. gerakan Lalu Lintas;
e. berhenti dan Parkir;
f. peringatan dengan bunyi dan sinar;
g. kecepatan maksimal atau minimal; dan/atau
h. tata cara penggandengan dan penempelan
dengan Kendaraan lain.

(5) Pada saat diadakan pemeriksaan


Kendaraan Bermotor di Jalan setiap
orang yang mengemudikan Kendaraan
Bermotor wajib menunjukkan:
a. Surat Tanda Nomor Kendaraan
Bermotor atau Surat Tanda Coba
Kendaraan Bermotor;
b. Surat Izin Mengemudi;
c. bukti lulus uji berkala; dan/atau
d. tanda bukti lain yang sah.

(8) Setiap orang yang mengemudikan


Sepeda Motor dan Penumpang Sepeda
Motor wajib mengenakan helm yang
memenuhi standar nasional Indonesia.
(9) Setiap orang yang mengemudikan
Sepeda Motor tanpa kereta samping
dilarang membawa Penumpang lebih
dari 1 (satu) orang.

Kejahatan Terhadap Nyawa


KUHP

pasal 338
Barang siapa dengan sengaja merampas
nyawa orang lain diancam karena pembunuhan
dengan pidana penjara paling lama 15 tahun.

KUHP

pasal 340
Barang siapa dengan sengaja dan rencana
terlebih dahulu merampas nyawa orang lain,
diancam karena pembunuhan dengan rencana,
dengan pidana mati atau pidana penjara
seumur hitup atau selama waktu tertentu,
paling lama 20 tahun.